"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, March 22, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 8



Kami berbaring di atas ranjangku saling diam, Audrey memang tak ingin memperlihatkan tangisan yang kini pasti sedang menggelembung dalam tenggorokannya. Dia adalah wanita kuat, dia hanya pernah sekali saja menangis di depanku, saat dia membuatku marah karena sikapnya yang posesif. Kami sudah menyepakati hubungan apa yang akan kami jalani namun Audrey tak pernah bisa memisahkan antara perasaan dan nafsunya.


Dia menganggapku sebagai kekasihnya, sebagai pacarnya, bahkan dia memiliki foto kami saat sedang tidur berpelukan, yang di pamerkannya pada teman-temannya. Entah kapan dia mengambil foto itu. Meski disana dia dengan bijak menutupi wajahku dengan kain. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Aku tahu dia menyukaiku, bahkan mungkin lebih. Tapi aku tak mungkin bersamanya, aku tidak memiliki perasaan yang kuperlukan untuk menikahinya. Katakanlah aku berengsek, aku memang berengsek, bajingan busuk yang licik. Tapi aku tak pernah berbohong dengan wanita-wanita yang kutiduri itu. Beginilah aku, selama ini aku melakukannya seperti ini, setidaknya saat aku ada di Jakarta.

“Kalau begitu, puaskanlah aku sekali ini, Lee. Untuk yang terakhir kalinya, sebelum kau pergi bersama dengan wanita yang kau cintai itu” bisiknya lirih disampingku.

“Kau tahu itu tak mungkin, Drey. Aku tak akan melakukannya denganmu, atau dengan siapapun selain dia” jawabku muram.

“Apakah kau sudah melakukannya dengan wanita itu? Apakah kau sudah menidurinya?” tanyanya lagi, kini suaranya meninggi, dia terlihat tak dapat menerima kenyataan bila aku mengorbankan diriku demi seorang wanita yang bahkan belum pernah kutiduri.

Hidup bukan hanya sekedar untuk mengejar nafsu belaka, Audrey.. Hidupku bukan hidupmu, hidupku tak seperti hidupmu, jangan pernah kau banding-bandingkan. Hidupku bukan hanya diwarnai oleh nafsu birahi, karena juga ada gairah, cinta, semangat hidup, ketakutan.. yang mana hidupmu hanya dipenuhi nafsu. Kau bisa melepaskan cinta dan semangat hidupmu bila nafsumu tak terpuaskan, tapi aku tak akan seperti itu. Aku tak bisa melepaskan cintaku hanya demi nafsu, walaupun kau biasanya adalah penghias ranjangku.

“Aku tak perlu menjawab pertanyaan itu, Drey. Kau harus pulang, aku ingin beristirahat. Besok banyak pekerjaan menungguku” kuselimuti tubuhku dan berbaring miring memunggunginya, selama ini beginilah caraku untuk mengusirnya bila dia datang tanpa undangan kerumah ini. Hanya Audrey satu-satunya wanita yang tahu rumah ini, satu-satunya wanita yang keluar masuk seenaknya, wanita yang juga dilihat koh Franz saat berkunjung kerumahku dulu.

“Lee.. Tegakah kau melihat seorang perempuan pulang sendirian pukul dua belas malam? Ditengah kota Jakarta yang semakin berbahaya ini? Bagaimana bila sesuatu terjadi padaku? Bagaimana bila seseorang atau sebuah mobil mencegat mobilku, dan menculikku, memperkosaku dan membunuhku, lalu tubuhku dimutilasi dan kau.. kau tak bisa mengenaliku lagi. Bagaimana orang tuaku akan mengenaliku?? Tegakah kau, Lee?” dia membuatku merasa bersalah bila mengeluarkan kata-kata ini, dia memang berhasil membuatku simpati padanya. Aku juga tak ingin sesuatu terjadi padanya, saat ini ibukota memang sangat mengerikan pada malam hari, terutama untuk seorang wanita yang bepergian sendirian di malam hari.

“...Kau bisa tidur di kamar sebelah” itulah tawaran terakhirku untuknya.

“Tidak!! Aku akan tidur disini, sambil memelukmu. Jangan usir aku, Lee. Untuk menghormati hubungan kita selama dua tahun ini, biarkanlah aku tidur disisimu, malam ini saja. Aku berjanji, setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi, aku akan hidup dengan baik, seperti yang selalu kau katakan padaku. Aku akan menurutimu, sekarang biarkan aku memelukmu seperti ini, memelukmu seperti dulu.. saat kau masih bergairah dengan tubuhku, saat tubuhku ini masih mampu membuatmu terangsang, ah ya.. mungkin tubuhku sudah tak secantik dulu, sudah tak seseksi dulu.. tapi kau adalah laki-laki pertamaku, Lee.. laki-laki pertama yang bisa masuk ke dalam hatiku” lalu Audrey mendesakkan wajahnya pada punggungku yang telanjang, dia mendekap dadaku dengan posesif, kuhela nafasku dengan berat. Ahh... semoga benar apa yang dia katakan, semoga dia tak menggangguku lagi.

“Tidurlah” sahutku kemudian sebelum memejamkan mataku, aku kelelahan.

Keesokan paginya Audrey telah pergi dari rumahku, entah kapan dia pergi dia tak pernah memberitahuku. Dia datang dan pergi sesuka hatinya, dasar wanita. Fiuhh.. setelah sarapan pagi, mengatur barang-barang yang perlu kubawa pulang nanti, mempersiapkan barang-barang lain yang telah di pak rapi tinggal menunggu petugas ekspedisi untuk mengambilnya, lalu pergi ke rumah RW untuk mengurus surat domisili dan berpamitan dengan tetangga sekitar yang kukenal. Mungkin nanti malam aku akan menemui Lidya terlebih dahulu, kebetulan dia bekerja malam ini disebuah bar yang dulu menjadi langgananku di saat-saat Clara memutuskan hubungan kami.

Malam ini bar itu tak terlalu ramai dengan pengunjung, hanya beberapa pasang manusia sedang duduk-duduk di meja dibawah lampu remang-remang. Aku memesan sebuah bir dan meminta untuk bertemu dengan Lidya, tak lama kemudian wanita itu datang. Dia masih secantik yang kuingat, tubuhnya yang sintal masih terbayang dalam lekuk baju ketatnya, memperlihatkan buah dadanya yang membusung besar.

“Hey..hey.. pak dokter.. matanya menatap kemana nih? Nakal ya?” sapa Lidya manja padaku. Usianya baru dua puluh sembilan tahun, aku menggaulinya sejak dia berusia delapan belas tahun, hubungan putus sambung yang cukup lama, dia adalah wanita pertama yang menjadi tempat pelampiasan depresiku setelah ditinggal Clara.

“Hm.. Ya, kau memang tak berubah, justru makin seksi” pujiku pada tubuhnya. Lidya mengecup pipiku, kebiasaan yang selalu dilakukannya bila aku mampir ke tempat ini. Aku memang tak sering bertemu dengannya lagi semenjak sibuk dengan pekerjaanku di rumah sakit, hubunganku dengan Lidya hanya berjalan selama dua tahun yang stabil. Lalu aku akan menemuinya sesekali untuk sekedar melepas kangen padanya.

Sebagai balasan dari pujianku, Lidya menelusupkan tangannya pada punggungku. Ahh.. salah satu kebiasaannya yang sudah kuhafal pula. Bagaimana tidak, berhubungan dengan wanita yang sama selama sebelas tahun lebih, dia bahkan hampir seperti seorang istri bagiku, namun demikian, Lidya juga bukan orang yang tepat untukku. Dia bukanlah wanita baik-baik, saat aku pertama mengenalnya pun dia sedang berhubungan dengan dua orang laki-laki lain yang tak pernah kulihat. Dia sangat merahasiakan identitas laki-laki itu dan aku memang tak pernah ingin tahu.

“Apa yang membuatmu kemari setelah dua tahun lebih tak mengunjungiku, Lee?” tanyanya padaku.

Kunyalakan rokokku dan menghisapnya dengan nikmat, aku teringat bagaimana wanita-wanita ini memanggil namaku. Ya.. mereka semua memanggilku dengan sebutan Lee.. lebih mudah bagi mereka untuk mendesahkan nama itu saat tubuh kami saling tindih di atas ranjang.

Lidya.. dia adalah tipe wanita pasif, namun desahan dan rintihannya mampu membuat darahku berdesir tiap kali mendengarnya. Dia akan membuatku memperlakukannya dengan kasar, wanita ini sangat suka dikasari, aku tak tahu bila ini adalah suatu kelainan. Dia sangat senang bila kuperintah, memperlakukannya seperti seorang korban pemerkosaan. Sshh.. begitu banyak karakter yang berbeda dari wanita-wanita yang kugauli ini. Tapi.. merupakan suatu pengayaan jiwa bagiku dengan mengetahui sifat-sifat dan keinginan wanita-wanita ini di atas ranjang. Mereka tak pernah malu mengutarakan isi hati mereka, mengungkapkan apa yang mereka inginkan saat berhubungan intim.

Lidya bersedia melupakan hubungan kami tanpa banyak protes seperti Audrey, dia mencium lembut pipiku sebelum aku pergi. Dia juga mengucapkan selamat dan memberikan doanya padaku. Aku akan merindukan sosok Lidya, wanita yang membuatku merasa sebagai seorang psycho di atas ranjang, dengan kekuasaan berlebih terhadap tubuh wanita.

Bisa kuingat dulu, ketika kami terbangun keesokan harinya, seluruh pakaian Lidya akan habis terkoyak oleh tanganku, bukannya aku tak menyadari apa yang kulakukan, namun dia mempengaruhiku untuk memperlakukannya seperti itu. Tubuhnya akan merah-merah penuh lebam dengan bekas cakaran serta gigitanku. Tubuhku pun tak luput dari terkaman kuku-kukunya yang tajam, bahkan cupang bisa memenuhi tubuhku keesokan harinya.

Tiga hari sudah aku di Jakarta, selain mengunjungi rumah sakit tempatku bekerja dulu, aku mencoba menghubungi Arnetta dan Cory namun tak ada kabar dari mereka, mungkin mereka sudah menikah atau pindah ke tempat lain. Dan aku tak akan mengusik hidup mereka lagi. Kemudian tinggal seorang wanita lagi, Cezka, peranakan Indo Uzbekistan ini kukenal saat mengantarkan seorang profesor ke sebuah klab malam yang tak akan kusebutkan namanya di Jakarta.

Saat itu Cezka dan seorang temannya dipilih oleh Profesor untuk menemani kami, hah.. semoga kau tak mengira hanya karena profesi kami sebagai dokter dan profesor atau orang terhormat kemudian sikap kami akan seketika terhormat juga, kami hanyalah manusia biasa, yang memerlukan pelepasan stres karena pekerjaan yang melelahkan.

Cezka masih menemaniku minum-minum saat profesor telah meninggalkan kami untuk mencari sebuah hotel. Malam itu aku sebenarnya tak berencana untuk melakukan apa-apa dengan wanita ini, namun dia menggodaku bahkan memberikanku sebuah oral yang luar biasa di dalam kamar private itu. Sejak saat itulah kami selalu berhubungan dan aku akan memakainya pada sabtu malam setelah praktekku usai.

Aku akan menjemput Cezka ke tempatnya bekerja dan menghabiskan malam hingga esok pagi di sebuah kamar hotel berbintang. Begitulah.. kehidupanku hanya seputar pekerjaan dan seks. Sungguh monoton namun mampu mengangkat frustasi yang terus bertambah setiap harinya. Tapi sudah enam bulan lebih aku mampu bertahan tanpa seks, dan aku berharap rekor ini bisa tetap tak terpecahkan, karena aku benar-benar ingin berubah.

Cezka kini sudah membuka salon dan mempekerjakan beberapa pegawai di salonnya yang terlihat cukup ramai saat aku berkunjung kesana. Dia menyambutku dengan senang, senyumnya yang ramah mengingatkanku bagaimana aku memintanya untuk berhenti menjadi wanita penghibur di kelab malam itu. Aku memberikannya sejumlah uang dan saran agar dia membuka sebuah usaha untuk dirinya tepat dua tahun yang lalu, ketika terakhir kalinya aku menemuinya. Nampaknya dia mengikuti saranku dan kini usahanya cukup sukses, dalam waktu tak lama lagi, Cezka akan membuka salon Cezka dua di daerah Jakarta timur. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Kami berpelukan cukup lama sebelum kutinggalkan tempat itu, masalahku telah beres dengan wanita-wanita ini. Aku bisa bernafas lega karena masa laluku bukanlah bebanku lagi. Meskipun nanti aku harus memberitahukan calon istriku mengenai hidupku di masa lalu, setidaknya dia akan tahu bahwa aku bersungguh-sungguh dalam merubah hidupku, bahwa aku tak ingin seperti dulu lagi. Sudah cukup bermain-mainnya, kini fokus utamaku selain pekerjaan adalah menangkap hati Camelia.  


35 comments:

  1. Asiiikkk
    Liam udah insap deh
    Beresin masa lalu dan fokus ngedapetin Neng
    Hihihi
    Makasih mb shin :D

    ReplyDelete
  2. Loh kok Udah Part 8 sist ... Kayaknya kemaren aq baru baca Part 4 dech... Ya ampuuuunnnn ngebut ngebut aq bacanya nih hihihi


    makasih sist kasih aku kejutan hahaa sukaaaa dech ..

    ReplyDelete
  3. Uwahhh Liam insafffff
    Mmg bnr" suami yg baik ya, mau berkomitmen gt... Pdhl biasanya cowo" itu pada tkt berkomitmen :)


    Ayo post lg mbak shin ! Fightinggggg !! :D

    ReplyDelete
  4. Wahhhh gak sabar nunggu kelanjutannya. Makasih mba shin

    ReplyDelete
  5. Menangkap hati camelia.. Arggh aku jadi kangen david dan cah-nya.
    Makasi mba shin

    ReplyDelete
  6. Agh liam ternyata "setia" ya :p setiap tikungan ada :D

    Biasanya badboy jd suami yg baik (katanyaaaa)

    Mbak rikwes bikinin drama badgirl yg jd baik n cowonya tipe goodboy...kayanya seru tuh... :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha... hmm.. entah ya, aku gk tahu kl jiwaku bisa bikin cewek kyk gt.. ahahhaha

      Delete
  7. Liam insyaf yippie... Makasih mb Shin..;-)

    ReplyDelete
  8. thanks mbk shin :) baca dlu ah....

    ReplyDelete
  9. Replies
    1. gak usah ngomong sist ketik aja iihhiih wkwkkwkwkw :kaburr:

      Delete
  10. yaampun liam.
    player yg tobat nh ceritanya.


    makash mb shin..

    muach

    ReplyDelete
  11. Bisa koment (yes!) :D
    Patah hati ama liam... banyak banget ternyata pacarnya xixixixi
    untung udah putus (iyakan mbak shin?)


    Makasih mbak shin *lope*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya lah kan dah tau endingnya ihihi.. sama2 sista :D :pole:

      Delete
  12. liam so sweet bgt...
    dah bener2 insaf ternyata...

    hmmh... hmmh...
    siapin fisik buat belah duren sama neng :-D

    ReplyDelete
  13. Liam si otak mesum sadar.. Kejar Camelia... Smngat.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahhaha gak bisa ngejar, bisanya lompat...

      Delete
  14. thanksss shinnnnn i loph u
    liammmmm <3
    playboy insap ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha ada tuh kyknya udah judul novel kyk gt gak?

      Delete
  15. sukur deh cewek2 liam mau mengerti dan menerima insafnya liam jadi playboy. aku kira bakalan ada konflik panas diantara2 cewek itu, tapi setidaknya semua selesai dibelakang, sebelum liam memulai kisah cinta baru dengan neng.

    makasih mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha cerita ringan kok masak dibuat konflik berkepanjangan? bikin di cerita lain aja hahahaha

      sip sip sama2 sista.. jd kalong rupanya ya? ahahhaa

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.