"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, March 23, 2013

"My Name Is Cong?!" - Chapter 9



Saat ini aku sedang mengikuti seminar di sebuah ballroom hotel bintang lima di Jakarta Pusat, aku khusus datang sebagai pembicara, biasanya memang seperti inilah pekerjaanku selain membedah pasien dan membuka praktek. Terkadang juga aku diundang untuk memberikan sedikit ceramah pada fakultas-fakultas kedokteran baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Setelah acara presentasi yang memakan waktu tak kurang dari lima jam, akhirnya waktu rehat tiba. Ketua panitia mengajakku duduk di meja yang telah disiapkan untuk kami. Untuk menghormati rekan-rekan lain, aku terpaksa menunda keinginanku untuk makan, karena hampir setiap menit ada saja rekan sesama dokter yang bersilaturahmi menyalami tanganku. Ahh.. sungguh aku sangat lapar, aku mungkin bisa menelan seekor sapi saat ini bila hingga lima menit lagi mereka tak kunjung berhenti mendatangiku.


Nampaknya ketua panitia melihat keenggananku, diapun dengan sopan menghalau orang-orang itu dan membawaku ke tempat duduk, bahkan meminta maaf atas nama mereka. Yahh.. aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa, begitulah resikonya menjadi orang terkenal, aku harus siap memasang wajah ramah dan tersenyum setiap saat, bukannya wajah yang kupasang adalah bohong, namun ada kalanya aku ingin memasang wajah kelelahan, karena itulah yang kurasakan sekarang. Dua hari lagi aku sudah harus kembali, ternyata perlu tiga minggu yang panjang untuk membereskan semua urusanku disini, semoga tak ada urusan lain lagi yang membuat kunjunganku ke Jakarta lebih lama dari yang kuinginkan. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Acara makan siang berjalan cukup lambat, dilanjutkan dengan minum kopi dan sambutan-sambutan dan hiburan dari panitia, waktu yang luang ini dipakai rekan-rekan dokter untuk mendekatiku, untungnya mereka ikut duduk disampingku dan bukan memintaku untuk berdiri, rasanya sudah cukup kakiku berdiri sejak pagi.

“Dok, kenalkan dokter Ardian, anak dari Prof. Suherman dan istrinya” ketua panitia memanggilku ditengah-tengah pembicaraanku dengan seorang dokter kenalan lamaku. Dokter Ardian? Aku belum pernah mendengarnya, namun ayahnya adalah bekas guru besar yang mengetesku saat mencari gelar Doktorku dulu.

Dokter Ardian, kira-kira usianya empat puluh tahun, bila melihat kecemerlangan ayahnya, semestinya dia sudah menjadi seorang dokter spesialis sekarang, namun aku tak bisa memakai ukuran hal itu untuk menilai seseorang tentunya, dirimu adalah dirimu, bukan cerminan orang tuamu atau orang lain.

Dokter Ardian menjabat tanganku dengan hormat, bahkan kulihat punggungnya sedikit membungkuk, ahh.. memang awal-awal mendapat perlakuan seperti ini membuatku tak enak pada rekan sejawat, namun karena sudah lima tahun lebih menekuni profesi ini akhirnya aku terbiasa juga. Dibelakangnya berdiri istrinya yang kemudian mengulurkan tangannya padaku.

Meskipun aku kaget setengah mati, namun aku mencoba memasang wajah datar agar orang-orang disampingku tak mengetahui isi hatiku sekarang. Rahangku mengeras demi melihat siapa wanita yang menjadi istri dokter Ardian ini, Clara, mantan cinta pertamaku yang telah menghancurkan pandanganku akan cinta. Shit!!

Aku tak berbicara menyambut jabatan tangan mereka, hanya senyum netral yang coba kuberikan, ahhh.. di saat-saat aku harus kembali kenapa justru harus bertemu dengan orang yang paling tak ingin kutemui? Kenangan masa lalu akan hubungan kami kembali terngiang di kepalaku, meski aku tak tahu alasan sesungguhnya mengapa Clara meninggalkanku, namun rasanya bila dia tak mencintaiku terlalu mengecilkan arti hubungan kami selama empat tahun itu.

Kami memiliki masa empat tahun yang manis, jarang sekali pertengkaran yang terjadi, aku memang tak suka mengumbar kemarahanku, aku lebih banyak mengalah dan tak mempermasalahkan segala rengekan Clara, kepalaku sudah hampir penuh dengan masalah pekerjaan dan kuliah, apapun yang dia inginkan, selalu kuturuti. Tapi mengetahui dengan itu semua bahkan tak mampu untuk membuatnya setia padaku, aku harus memeras otakku, berpikir apa alasan dia meninggalkanku dengan begitu kejam, di saat-saat kelulusanku.

Argh... rasanya masih menyakitkan melihat dia duduk disana, disamping suaminya yang bahkan tak memiliki setengah karismaku, setengah ketampananku, entah kekayaannya, aku yakin dia adalah orang kaya, aku tak pernah menyelidiki kekayaan orang-orang tertentu. Tapi aku yakin, aku kalah disana.

“Saya dengar dokter sekarang sudah membuka rumah sakit paling besar di kota A ya, dok? Wah.. selamat ya, papa menitipkan salam sewaktu beliau mendengar anda akan memberikan seminar disini hari ini, beliau sangat bangga memiliki bekas anak didik sehebat anda” dokter Ardian ini memang pintar bermanis-manis dengan lidahnya, aku hanya tersenyum dan mengangguk-angguk, sedangkan Clara istrinya sedari tadi menunduk atau membuang wajahnya ke tempat lain, berusaha menghindari tatapan mataku.

“Ah, anda terlalu memuji saya, dokter Ardian. Anda sendiri juga nanti akan mewarisi rumah sakit besar milik keluarga, masa depan anda jauh lebih cemerlang dari saya yang hanya anak bawang di dunia kedokteran kita” hah.. aku juga bisa sesekali mengeluarkan kata-kata isapan jempol, yang sekarang ku ucapkan namun bisa kulupakan sedetik kemudian. Dan dokter Ardian ini terlihat sungguh senang dengan pujianku. Hmm.. baguslah, aku sungguh sedang tak ingin berbasa-basi lagi, maka aku pun bangkit dari kursiku.

“Well, saya rasa sudah saatnya saya berpamitan. Dua hari lagi saya sudah harus kembali, banyak sekali yang masih harus saya kerjakan. Jadi, sampai jumpa di lain kesempatan. Mari..” akupun berlalu dari sana diikuti oleh ketua panitia dan beberapa dokter yang tadi berkenalan denganku. Tak sekalipun ingin kulayangkan pandanganku pada Clara lagi, biarlah dia menjadi sebuah masa lalu yang tak terusik lagi.

Atau begitulah yang kukira, karena pukul tujuh malam ketika aku sedang bersiap-siap berangkat ke pesta undangan makan malam dokter, pembantuku mengatakan ada seorang tamu sedang menungguku. Perasaanku mulai tak enak, karena Clara sedang duduk dengan gelisah di sofa ruang tamuku. Entah apa yang dia inginkan sekarang, setelah sekian tahun tak ada kabar dan sekarang dia ingin merusak hidupku lagi dengan apapun yang akan dia katakan?

“Apa yang kau inginkan?” kata-kata inilah yang menjadi kata-kata awal yang pantas kuucapkan untuknya, bagaimanapun juga aku masih menyimpan sedikit kekesalan untuknya.

Dia berdiri dari duduknya dan hendak mendekatiku, refleks kumundurkan langkah, seolah dia adalah penyakit menular yang tak pantas untuk berdekatan denganku.

“Aku tahu kau marah padaku setelah aku meninggalkanmu dulu. Aku punya alasan mengapa aku meninggalkanmu, Liam dengarkanlah aku dulu” dia hampir terisak mencoba membujukku untuk mendengarkan apapun yang ingin dia katakan padaku sekarang.

“Tak ada yang perlu di dengarkan lagi, aku sudah melupakannya dan itu sudah tak berarti lagi. Jadi lebih baik kau pergi dari sini. Aku tak ingin melihatmu lagi” balasku dingin.

Kuputar tubuhku, aku benar-benar muak dengan air mata wanita ini, sedikitpun rasa iba tak tersisa untuknya, aku kira masalahku dengan wanita ini sudah berakhir, mengapa dia harus muncul disini, dan demi Tuhan dari mana dia tahu alamat rumahku!

Clara memeluk pinggangku dan mulai menangis sesenggukan dipunggungku. Arghh.. dengan terpaksa kubiarkan dia begitu saja, kubiarkan dia menangis sepuas hatinya, namun aku tak berkata apa-apa. Pikiranku berkecamuk lagi, tinjuku mengepal, mengapa terasa begitu sulit untuk berhubungan dengan manusia? Mengapa perasaan manusia itu begitu kompleks dan sulit untuk dimengerti apa maunya? Aku tak akan pernah mengerti hal itu.

“Sudah cukup, pergilah. Aku masih punya kesibukan lain yang harus kulakukan, kau hanya menggangguku” kubuka kuncian tangan Clara pada pinggangku, sentuhan tanganku pada kulitnya membuka kembali kenangan lama saat kami berpelukan. Ahh.. Setan!!

“Aku dipaksa menikah dengan sepupuku waktu itu, sehingga aku terpaksa meninggalkanmu!!” kudengar suara teriakan Clara yang membuat langkahku terhenti seketika.

Jantungku berdebar semakin kencang, perasaanku bimbang dengan fakta baru ini. Jadi dia dipaksa menikah? Maka dari itu dia meninggalkanku? Tapi.. mengapa dia tak memberitahukanku? Setidaknya agar semua ini tak berlarut-larut seperti ini? Dan mengapa pula dia harus memberitahukanku sekarang? Di saat hidupku mulai membaik dan sudah melupakannya? Mengapa dia datang lagi, apa maunya dengan mengusikku dengan fakta ini?

“Apa maumu, Clara?” tanyaku dingin. Aku tak bisa bertoleransi padanya sekarang, meskipun dia telah membuktikan bahwa anggapanku selama ini salah, tapi dia bisa menentang keluarganya bila dia ingin. Atau mungkin dia takut, bila dia menentang keluarganya, dia akan terpaksa hidup dengan seorang calon dokter yang bahkan belum memiliki masa depan pasti!! Bukanlah gaya hidup yang pantas untuknya.

“Aku tak ingin apa-apa, Liam. Aku hanya ingin kau tahu, agar bila kita bertemu lagi kau tak akan memandangku dengan rendah seolah aku mengkhianatimu, seolah aku adalah wanita pelacur yang meniduri semua laki-laki seperti anggapanmu selama ini!!!” dia berteriak di sela-sela tangisannya yang menggerung. Ahh.. apalah artinya bila kau pelacur atau bukan, tetap saja aku tak bisa memaafkanmu, Clara.. Hatiku sudah terlanjur membusuk olehmu, tak ada tersedia kata maaf bagimu lagi. Biarlah kusimpan kemarahanku padamu, sebagai pengingat bahwa kau bukanlah milikku lagi.

Kubiarkan dia pergi begitu saja, membuka pintu mobilnya dan menabrak pintu pagar rumahku dengan keras. Apa yang dia pikirkan!!

“Clara, hentikan mobil ini. Buka pintunya!! Cepat!!” kugedor  kaca jendela mobilnya namun Clara tak mendengarkanku, dia masih sibuk memutar tuas persenelingnya dengan kikuk, kurasa dia tak tahu bagaimana mengemudikan mobil ini. Dengan kesal kupecahkan kaca jendela itu dengan batu bata yang terlihat oleh mataku, merebut kendali mobil dan menghentikan mobil yang bergerak dengan liar itu. Dia bisa membunuh banyak orang dan dirinya bila mengemudi dengan keadaan seperti ini.

“Kau gila?? Kau akan membunuh orang lain bila mengemudikan mobil seperti ini!!” teriakku padanya, kunci mobilnya telah kukantongi, dia tak akan bisa mengendarai mobilnya.

“Liam.. Aku mencintaimu, aku hanya mencintaimu, aku menyesal telah pergi, aku menyesal...” bisiknya lirih di antara tangisnya yang masih keluar dengan deras.

Ahh.. Mengapa harus ada drama seperti ini lagi dalam hidupku, tak cukupkah kisah hidupku yang begitu berwarna? Haruskah ditambah dengan cinta pertama yang datang lagi?

Tubuh Clara kuangkat keluar dari kursi pengemudi, dia mengalungkan kedua lengannya pada leherku. Tangisannya membasahi kemejaku namun tak kuperdulikan. Aku sungguh tak bisa berpikir sekarang, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi Clara. Kubaringkan tubuh Clara di atas ranjang kamarku, menyelimutinya, entah mengapa aku melakukan hal ini, dia terlihat begitu rapuh, aku tak tega melihatnya seperti ini. http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido

Aku tahu dia, aku tahu bagaimana rapuhnya dia bila sedang bersedih. Aku tahu apa yang bisa dia lakukan bila dia bersedih, pernah dulu ketika kami bertengkar, pertengkaran paling hebat yang pernah kami miliki, dia menoreskan kata “maaf” pada lengan kirinya, lalu mengirimkan foto itu pada emailku. Membuat darahku bergidik dan segera mencarinya saat itu juga.


Bahkan bekas torehan benda tajam itu masih berbekas pada lengannya, dan disana telah ada kata lain yang belum pernah kulihat sebelumnya. “i love u Liam” 


27 comments:

  1. yaampun liam mantannya aneh2 ih.

    yg ini mah pshyco.



    makash mb shin

    ReplyDelete
  2. Haiss si clara, udh lh liam tak mencintaimu pgi aj sn
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
  3. Itu Clara lagi latihan debus kali ya pake nyayat tangan segala hahaha :v

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. kenapa tuw si clara ganggu2 liam segala#sewot ni critanya
    hahah gomawo kak

    ReplyDelete
  6. Kok nyeremin ya si clara, yg jd pertanyaan masa suaminya ga ngeh atau ga liat?kekna punya kecenderungan bunuh diri deh :o

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ak nulis di paha jg, tapi pake pulpen :d ga berani booo pake benda tajam... #seyemmm

      Delete
  7. liam awas lo kegoda!!! trms mba...dtnggu klnjutnx

    ReplyDelete
  8. Berat juga nih godaan. Hufff.

    ReplyDelete
  9. wessss manta pacarnya bang liam yang audrey sama clara nyeremin yah apalagi clara.. terobsesi banget sama bang liam kali yah.. iiiiiiiiiii

    makasih mba shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg Lidya kan juga punya kelainan.. kl ML pengen dihajar aja biar kyk korban pemerkosaan ahahahha

      Delete
  10. hadewh...
    ada aja masalah...
    dah nikah sama orang laen tetep aj masi ngejar Liamku...
    *getok kepala clara

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Serem amat si Clara ini
    Iissh~
    Makasih mb shin *peyuk*

    ReplyDelete
  13. ya ampun clara ngeri bgt ama cewek satu ini, posesif banget sih.masa buat minta maaf taruanya dengan darah, untung liam perduli dan bisa diselamatkan. kalo nga bisa tinggal nama.

    makin penasaran sama rahasia2 liam lainnya. kisah cintanya yg banyak sudah terbuka. apakah ada hal lain yang bakal lebih mengejutkan.

    semoga masih ada. dan liam lebih mau jujur kepada diri sendiri dan orang lain khususnya neng

    makasih ya mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhaha kyknya ndak ada deh.. lol :belum ngetik sih:

      sama2 sist :D

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.