"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, March 14, 2013

Surrender In Your Arms - Chapter 2



Elliot Webb memandang ngeri pada jumlah email yang masuk ke dalam kotak surat elektroniknya ketika membuka laptop di meja kantornya. Tak kurang dari seribu lima ratus email masuk dan masih terus bertambah hanya dalam waktu kurang dari sepuluh jam.

Dengan panik Elliot menghapus iklan yang dibuatnya dini hari tadi, namun masih perlu tiga jam yang panjang untuk menghentikan datangnya email-email yang hampir memacetkan sistem email miliknya.


Elliot terpekur di atas meja kerjanya sembari menyesap kopi yang mulai dingin di cangkirnya, diluar terdengar suara Derby sedang bermain dengan sekretarisnya. Memang saat dia bekerja Elliot membawa anak keduanya ikut serta dikantornya. Disini sekretarisnya Hannah, http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido seorang wanita paruh baya yang keibuan akan menjaga anaknya saat Elliot sibuk mengerjakan tugasnya dan mengawasi pasar bursa di internet.

Pintu kantornya diketuk pelan, kemudian masuk seorang petugas kurir dengan membawa dua buah kotak yang berisi surat-surat untuknya. Petugas itu memberitahukannya bahwa kotak surat miliknya telah penuh dengan surat-surat yang berdatangan sejak pagi. Hingga detik ini kurir itu membawa dua buah kotak itu ke kantornya, masih ada satu buah kotak lagi yang sedang menunggu penuh sebelum dibawa kembali padanya.

Setelah memberi sedikit uang jasa pada petugas kurir itu, Elliot menjengitkan dahinya memandang kekacauan yang dibuatnya. Dia tidak akan memiliki banyak waktu untuk memeriksa surat-surat dan email-email itu satu persatu, bahkan membayangkan banyaknya waktu yang dia perlukan untuk meneliti surat-surat itu membuat kepala Elliot berkedut-kedut menyakitkan.

“Ah.. What a mess. Sungguh kacau sekali. Aku tidak menyangka akan seperti ini hasilnya, bahkan pelamar babysitter tak sebanyak ini” keluh Elliot lesu. Hannah sekretarisnya masuk ke dalam kantornya dengan Derby dalam gendongannya tersenyum manja pada ayahnya.

“Daddy.. Daddy.. Aku ingin ais krim” rengek Derby pada ayahnya.

Elliot tersenyum pada anaknya, menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya dan mendudukannya di atas meja.

“Ais krim? Bukankah Hannah masih memiliki es krim rasa stroberimu sisa kemarin?” tanya Elliot pada anaknya.

“Um..Um.. Yes, aku ingin meminta persetujuanmu dulu sebelum makan ais krim itu”

Elliot mencium pipi anaknya, Derby adalah anak yang penurut, dia akan meminta izin ayahnya bila menginginkan sesuatu, bahkan untuk ke kamar kecilpun Derby akan bertanya pada ayahnya terlebih dahulu.

“Baiklah, Hannah akan memberikanmu satu gelas, ok? Jangan dihabiskan bila kau rasa tenggorokanmu sudah tidak kuat. Pergilah” Elliot menurunkan tubuh Derby lalu gadis kecil itu berlari menghampiri Hannah yang sedari tadi tersenyum melihat kelakuannya.

“Derby benar-benar gadis yang baik. Dia seperti ibunya, Mr. Webb” senyum haru Hannah menular pada Elliot. Derby memang mirip ibunya, Crystalnya yang baik, pengertian dan cantik.

“Baiklah, oh ya, Hannah, apakah setelah sore ini aku memiliki jadwal lagi?” tanya Elliot pada Hannah.

“Aku rasa tidak, Mr. Webb. Anda bebas setelah pukul tiga sore” lalu Hannah keluar dari kantor itu dengan Derby menggandeng tangannya.

Elliot Webb menggunakan kesempatan itu untuk membaca email demi email yang masuk ke dalam kotak surat elektroniknya. Terkadang bibirnya tersenyum membaca isi lamaran yang masuk atau berjengit saat melihat foto gadis remaja berusia dibawah enam belas tahun yang juga ikut mengirimkan lamaran untuk menjadi istrinya.

Elliot bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mendapati ada sekian ratus pengirim yang mengirimkan foto-foto telanjang mereka bahkan juga video yang langsung di hapusnya ketika pertama melihat tubuh telanjang wanita itu di dalam video.

Tapi karena banyaknya video dan foto yang masuk, Elliot kewalahan dan bosan. Akhirnya dia dengan setengah hati melihat foto-foto itu dan menonton sambil lalu video amatir yang membuat bibirnya berdecak dan kepalanya menggeleng.

Setelah dua jam lebih duduk di depan laptopnya, Elliot tak tahan lagi. Masih tersisa dua ribu lebih email yang belum dibukanya, matanya lelah dan badannya pegal. Elliot Webb memutuskan untuk membawa dua kotak surat yang dikirim kurir dari kantor pos kerumahnya dan melanjutkan memeriksa email-email itu di ruang kerja dirumahnya.

Namun tubuhnya merosot kembali di atas kursi kerjanya ketika seorang kurir pos datang lagi membawakan sebuah kotak lain penuh surat untuknya. Kurir itu hanya tersenyum meminta maaf dan mengangkat bahunya.

“Aku tidak akan pernah membuat iklan seperti ini lagi di internet” ketusnya lelah.

Elliot sedang menemani Derby bermain ketika anaknya Landon datang, dia baru saja pulang dari sekolahnya. Babysitter yang mengasuhnya berada di belakangnya, tersenyum hormat padanya.

“Hei, jagoan Daddy sudah datang” sambut Elliot pada Landon.

“Hai, Dad. Kapan kita akan pulang? Aku ingin bermain gameku” rengek Landon setelah mencium pipi ayahnya.

“Game? Kau harus mengerjakan PR mu dulu, kemudian kau bisa bermain game sepuasnya, deal?” tawar ayahnya pada Landon.

“DEAL” kekeh Landon sembari memberikan kepalan tinju mungilnya pada ayahnya yang disambut senang oleh Elliot.

“That’s my boy..” lalu Elliot berlalu dari kantornya bersama kedua buah hatinya, menyusul dibelakangnya dua orang pegawainya yang membawakan kotak-kotak berisi surat lamaran dan barang-barang miliknya.

Setelah anak-anaknya tidur, Elliot Webb mengurung diri dalam kamarnya. Membuka setiap email yang masuk hingga hanya tersisa beberapa puluh lagi. Dia telah memisahkan email-email yang masuk ke dalam kategori yang bisa dipertimbangkannya untuk menjadi calon istrinya, yang pada akhirnya ketika dilihatnya hanya berjumlah sepuluh orang dari ribuan pelamar yang mengirimkan email padanya.

“Fiuhh.. Aku tak tahu bila pekerjaan ini bisa menguras tenaga dan sangat membosankan. Tidak bisa hanya selesai dalam semalam saja. Tsk..” Elliot menggosok lehernya yang pegal menatap layar seharian. Matanya lelah dan dia ingin beristirahat.

“Argh.. tinggal lima puluh buah email lagi dan aku akan tidur” Elliot melirik jam tangannya, sudah pukul empat dini hari, matanya setengah terpejam dan terasa berat untuk dibuka. Namun dipaksakannya juga.

Dari lima puluh email terakhir itu tak satupun yang masuk ke dalam kategori calon istri standar Elliot. Dengan letih Elliot berjalan ke atas ranjangnya, tubuhnya dilemparkannya begitu saja. Tak lama kemudian dengkuran halusnya telah terdengar seiring nafasnya yang berirama, pelan dan teratur.

~~~~

Akhirnya Elliot memutuskan meminta bantuan anak-anaknya untuk membuka amplop-amplop dari tiga kotak penuh surat yang dikirimkan untuknya. Awalnya Landon dan Derby begitu senang karena mendapat bahan mainan baru dari ayahnya, hari ini minggu, sehingga mereka tidak perlu ke sekolah atau bekerja.

Landon dan Derby dengan semangat menggunting pinggiran amplop dan melihat foto-foto wanita yang terdapat di dalamnya.

“Bila kalian suka dengan wanita itu, katakan pada Dad. Dad akan meminta persetujuan kalian juga nantinya, ok?” Elliot menanyakan kedua anaknya yang dijawab dengan serempak. Mereka memang sangat kompak.

“Ok.. Daddy..”

Elliot memisahkan surat yang tidak masuk kategori dengan yang masuk kategori. Kotak yang masuk kategori belum terisi satupun, bahkan anak-anaknya memiliki standar yang sama dalam mencarikan ayahnya istri. Lalu Landon menunjukan sebuah foto pada ayahnya dengan sebuah cengiran khasnya.

“Dad.. Lihat ini” katanya pada ayahnya.

Elliot yang sedang membaca riwayat hidup salah satu pelamar mengangkat matanya dari kertas ditangan, dia mengalihkan pandangannya pada foto yang disodorkan Landon padanya, matanya menyipit. Dengan sigap dia merebut foto itu dari tangan Landon yang tertawa terbahak-bahak melihat reaksi ayahnya.

“Relaks, Dad.. Aku sudah sering melihat di televisi dan aku tidak memiliki pikiran kotor saat melihatnya” jawab Landon polos, dia kembali melanjutkan permainan menggunting pinggiran amplopnya.

Jantung Elliot Webb berdebar kencang, dia mulai ragu bila harus mengikutkan anak-anaknya membuka amplop-amplop ini. Sambil melihat sekali lagi foto ditangannya, Elliot kemudian membuang foto itu ke dalam kotak yang tidak masuk ke dalam kategori. Nampak dalam foto itu gambar seorang wanita sedang bermain dengan sex toys dan Elliot bergidik melihat bagaimana dia telah mengotori pikiran anaknya.

“Ehm.. anak-anak. Dad rasa kita berhenti dulu, nanti kita lanjutkan lagi. Sekarang dad ingin mengajak kalian pergi ke restoran, kita akan makan siang diluar, ok? Jadi letakan amplop-amplop itu dan ganti pakaianmu, Landon. Derby, ikut nanny-mu, dia akan mengganti pakaianmu, ok? Cium daddy, aku akan menunggu kalian di mobil”

Elliot memberikan pipinya pada kedua anaknya yang menciumnya dengan sayang. Mereka kemudian pergi ke kamar masing-masing dan berganti pakaian seperti instruksi ayah mereka.

Seorang pengurus rumah tangga yang bernama Mrs. Rose keluar dengan Landon dan Derby yang telah berganti pakaian. Mrs. Rose telah bekerja selama enam bulan dirumah ini, dia lah pengurus rumah tangga pertama yang bisa bertahan selama itu, itupun karena Elliot telah berubah, dia bukan lagi pria dengan sifat menyulitkan, mungkin fakta bahwa Mrs. Rose adalah seorang ibu-ibu yang sebaya dengan usia ibu kandungnya sendiri membuat Elliot merasa nyaman dengan wanita ini.

“Hati-hati dijalan Mr. Webb. Landon dan Derby, jangan nakal ya, sayang” Mrs. Rose melambaikan tangannya pada keluarga majikannya.


Dia betah bekerja disini, Elliot memperlakukannya dengan hormat, http://myowndramastory.blogspot.com - ShinHaido laki-laki itu tak seperti rumor yang beredar, dia tidak segila itu. Meskipun Elliot senang mengurung diri dalam kamarnya, Mrs. Rose tidak merasa hal itu adalah kegilaan, Elliot Webb telah jauh berubah, kini dia siap mengurai benang kusut kehidupannya dan merangkainya lagi menjadi untaian benang yang akan dirajutnya menjadi kain kehidupannya yang baru. 


14 comments:

  1. Elliot laku amat, ampe banyak yg ngelamar.

    Thanks mba shin :*
    next part nya soon yg mba :D

    ReplyDelete
  2. unyu unyu anak ku.

    *eh.

    hehe
    makash mb shin

    ReplyDelete
  3. ikut nglamar ah....wakakaka*thanks mbk shin :)

    ReplyDelete
  4. kasihan eliot sini Q bantuin sortir pasti ga lama krn semua akan kuhapus dan buang kecuali email punyaku muahe.he *peace mb shin*

    ReplyDelete
  5. Kemaren aq Udah kirim email lom ya..? Hehee

    Makasih mbak shin :)

    ReplyDelete
  6. aku ngalamar juga aaahhh..
    kak shin mau tanya,calonnya elliot chapt brp ya munculnya?
    psti nungguin aq nglamar ya..
    ☺ "̮ ЂoºoЂoºoЂoºo "̮

    ReplyDelete
  7. wkwkwkwkwk klu q bantuin pasti aku buang tuh semua surat2x gk ada yg layak.
    Thanks mbak shin *lope*

    ReplyDelete
  8. hehe Om ganteng ini laku keras seperti kacang goreng. nga usah pusing Om. disini ada yang cantik nganggur *nunjuk diri sendiri
    kenapa mesti lihat yg lain wkwkwk :D

    Landon, Derby come to mommy hahaha :P
    bujukin daddy merit ama tante, ntar tante kasih ice cream sepabrik2nya.

    ngaco bgt aku yo mba san. tp aku suka dg Elliot dia daddy yang penuh kasih dan care sama anaknya.sesibuk apapun anaknya tetap no 1. keren dehk.

    btw Elliot ngingetin aku sama alm. ajie massaid waktu masih jadi duda keren dengan dua bidadari kecilnya :D

    ReplyDelete
  9. º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba shin

    ReplyDelete
  10. yey akhienya aku bisa baca n komen hha

    hha kasian duren ku yang satu ini.. musti baca surat lamaran yang bejibun sama email2 itu hhi... mana disertai sama video dan gambar yang tidak2 lagi hhi..

    HWAITING mr. webb

    ReplyDelete
  11. Elliot sich... Pke mcantumkn nma Perusahaan di kontak jodoh.. Gmna ga berebut cewek2... Heheh.

    ReplyDelete
  12. udeeehh,,si Mr. Webb ama mbak Fathy aja,,

    Aq ikhlas binti Rela koq..

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.