"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, April 26, 2013

Cintaku, Dirimu - SHORT STORY



Kuputar setir mobilku sebelum memacu tarikan gas dan meluncur keluar dari parkiran pertokoan ini. Aku baru saja membeli seikat bunga mawar merah, sekotak kue tiramisu kesukaannya, sebotol minuman soda, juga kesukaannya. Senyumku tersungging membayangkan reaksinya melihatku membawa semua barang-barang ini. Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke dua puluh lima, lima tahun sudah kulewati bersamanya.

Hari demi hari dan segala rintangan serta cobaan telah kulalui, tiada satupun yang mampu menggoyahkan cintaku padanya. Dia.. adalah satu-satunya wanita yang kucintai, satu-satunya wanita yang mampu membuat hatiku terasa begitu hangat saat memikirkannya. Wanita yang akan kuserahkan hidupku padanya, seumur hidupku.


Aku pulang dari kantorku lebih awal, bekerja sebagai Asisten Manajer di sebuah perkantoran sibuk yang bergerak di bagian jasa konstruksi membuatku hampir tidak memiliki banyak waktu untuknya. Tapi dia tidak pernah mengeluh, dia selalu menyapa kedatanganku dengan senyumnya yang tulus, dia selalu tersenyum lembut padaku. Senyum yang mampu menyirnakan semua kemarahan dalam hatiku bila mendengar orang-orang menghujat hubungan kami, bahkan keluargaku yang mengaku akan selalu mendukung keputusanku... tidak setulus itu menerima hubungan kami. Ada saja telephone dari ibu atau ayahku, atau kakak-kakakku yang membujukku untuk mengakhiri hubunganku dengannya, dengan satu-satunya wanita yang pernah dikenal oleh hatiku.

Hubungan kami tidak mudah, tidak akan pernah mudah. Orang-orang di sekelilingku berkata aku terlalu banyak berkorban untuknya, aku menyia-nyiakan hidupku dengan menikahinya, aku menjerumuskan masa depanku dengan merawatnya. Bukan... justru sebaliknya. Dialah yang telah berkorban banyak untukku, dialah yang telah menyia-nyiakan kehidupannya dengan menerimaku, seorang laki-laki, pemuda berengsek yang telah menghancurkan hidupnya, dialah yang telah kehilangan masa depannya yang cerah karena berurusan denganku. Hanya cara inilah aku bisa menebus semua kesalahanku, keteledoranku, sekaligus rasa cintaku yang teramat dalam padanya.

Lima tahun kami menikah, tiada seharipun pertengkaran, dia selalu memahamiku, dia menerimaku apa adanya. Dia akan selalu menungguku di depan pintu, meski udara sore yang dingin akan membuat tubuhnya yang ringkih menggigil kedinginan. Dia tidak perduli, dia hanya ingin melihatku, dia hanya ingin memastikan bila aku akan pulang, pulang kepadanya.

Jalanan begitu ramai, hilir mudik kendaraan dengan kecepatan tinggi membuatku ngeri. Semua tergesa-gesa ingin segera tiba di rumah masing-masing. Di seberang jalan bisa kulihat baru saja terjadi sebuah kecelakaan hebat yang menjungkir balikkan sebuah mobil van dan beberapa kendaraan bermotor ringsek hingga tak berbentuk. Tubuhku menggigil kedinginan membayangkan apa yang terjadi di sana. Kecelakaan di jalan raya hampir tak mungkin bisa dihindari, meskipun aku berhati-hati, masih ada saja pengemudi lain yang tidak cukup sabar untuk menunggu giliran. Mereka-mereka inilah sumber dari kecelakaan yang tidak perlu di jalan raya.

Aku teringat suatu hari dulu pernah menghajar habis seorang pemuda karena keteledorannya dan mengakibatkan beberapa orang tewas dan lainnya luka berat. Dia dengan kekayaan milik keluarganya memang mampu mengganti rugi semua masalah dan nyawa yang dikiranya bisa digantinya. Tapi bagiku tidak, tidak akan pernah bisa. Berapapun harta kekayaan yang dia lemparkan pada korban-korban itu tidak akan mampu mengembalikan nyawa yang hilang dan masa depan yang hancur karenanya.

Aku.. adalah salah satu korban yang selamat, hanya setelah tiga bulan lamanya terbujur lemas di atas ranjang rumah sakit, tak mampu bergerak dan tersiksa karena tulang-tulangku yang patah. Tapi saat aku sanggup berdiri lagi, saat tulang-tulangku berderak dan kembali kokoh, pemuda itu kuhajar hingga kedua orang tuanya berlutut di bawahku meminta ampun demi anaknya. Pemuda itu kritis di rumah sakit selama seminggu. Dia tidak sadarkan diri dan aku meringkuk dalam penjara. Meskipun bila dia tewas, aku tetap tak akan pernah puas. Kesalahan pemuda itu tak akan pernah bisa termaafkan.

Dia akhirnya siuman dan akupun bebas dari penjara setelah satu bulan lamanya. Mereka tidak menuntutku, mereka tidak ingin memperpanjang urusan itu. Aku tidak tahu bila harus bersyukur karena bisa keluar dari penjara atau merasa lebih baik berada di dalam sana, karena hanya di sana lah aku bisa merenung dan memikirkan kehidupanku yang telah kujalani selama sembilan belas tahun lamanya dulu. Pelajaran yang kudapatkan di dalam sana lebih berharga, jauh... daripada apa yang kudapatkan dari sebuah keluarga palsu yang hanya bisa menuntut tanpa pernah memberi.

Salahkan aku karena aku adalah kambing hitam dalam keluarga, karena aku adalah anak bungsu, si pemberontak. Kedua orang tuaku tidak pernah bisa mengaturku, mereka kewalahan dan selalu memaksakan kehendak yang tak pernah kuturuti. Satu-satunya perintah mereka yang kuturuti telah membuat hidupku hancur dan mengorbankan masa depanku.

Kutata kembali hidupku yang penuh warna, warna gelap pergaulan seorang pemuda dengan orang tua yang tidak perduli. Aku larut dalam minuman keras, narkotika pun pernah kuselami. Seks bebas hingga prostitusi... Aku... dulu kala adalah seorang pemuda nakal yang mencari sedikit uang dengan mengandalkan tubuhku, aku menjajakan cinta pada wanita-wanita kesepian yang mendekatiku.

Wajahku tidak buruk, dengan tubuh atletis yang dibentuk oleh hobyku bermain basket, berikan sedikit pakaian mahal dan riasan wajah, maka aku tak kalah tampan dari artis-artis yang bermain di layar perak. Aku mampu memuaskan wanita-wanita itu, mereka menyukaiku, mereka mencintaiku, membanjiriku dengan hadiah-hadiah, rekeningku di bank tidak pernah sepi dari kiriman uang yang selalu kuhabiskan bersama teman-temanku, bersenang-senang, berfoya-foya, dengan alkohol dan obat terlarang.

Aku meniduri hampir seluruh wanita yang mendekatiku, aku pemilih, aku hanya menerima wanita cantik dan seksi, wanita yang tidak banyak omong, tidak banyak maunya, wanita yang diam dan menuruti keinginanku. Bila mereka berulah, maka aku akan meninggalkannya. Mereka kebanyakan adalah anak-anak SMU, anak-anak seusiaku. Tak terhitung sudah berapa perawan kukoyak dengan kejam. Aku tak pernah memikirkan perasaan mereka saat kutiduri, aku pintar merayu, aku pintar memainkan lidahku dan menipu mereka agar bisa kuseret ke atas ranjang. Tak jarang aku bertaruh dengan teman-temanku untuk mendapatkan seorang wanita atau menebak bila wanita itu perawan atau tidak. Aku menang, aku kalah. Semua hanya untuk kesenangan belaka, tak ada satu wanitapun yang cukup menarik hatiku, hingga dia muncul di hadapanku.

Seorang siswa baru pindahan dari kota Surabaya. Dia mengikuti orang tuanya yang seorang pegawai negeri sipil untuk pindah ke ibukota. Dia adalah adik kelasku, usianya dua tahun lebih muda dariku. Aku bisa merasakan ketertarikan seksual saat pertama kali melihatnya, namun kusangka demikian. Ketertarikan seksual tak dapat menjelaskan mengapa aku selalu memikirkan dia. Senyumnya yang membalas tatapan mataku ketika kami berpapasan di sekolah, canda tawanya dengan teman-temannya, keramahannya pada guru dan siswa lain, hingga dia diangkat menjadi sekretaris OSIS yang kukepalai.

Mungkin kau akan heran orang sepertiku bisa mendapatkan kedudukan sebagai kepala OSIS, pemuda dengan jejak kelakuan buruk dan suka bermabuk-mabukan dan berpesta narkoba, aku sendiri heran mengapa guru pembimbing memaksaku menerima jabatan itu. Saat aku lulus barulah aku menyadari maksud guru itu, dia ingin menghabiskan waktuku di sekolah sehingga aku tidak terjerumus lebih dalam dengan kegilaanku. Dia cukup berhasil, karena adanya sekretaris baru itu, aku lebih rajin untuk pergi ke sekolah, aku mulai melupakan profesiku sebagai gigolo, aku mulai meninggalkan teman-teman dunia hitamku, aku mulai menjadi seorang murid yang rajin, meski nilaiku tak berubah banyak karena malasnya aku belajar.

Meski usia kami berbeda dua tahun, dia hanya satu kelas di bawahku. Aku kerap menyulitkannya, aku kerap memarahinya, aku tidak terbiasa menghadapi rasa seperti ini dalam hatiku. Aku tidak tahu apa cinta itu, aku tidak menyadari bila aku mencintainya sampai saat dimana aku hampir tak punya kesempatan lagi untuk mengungkapkan perasaanku itu padanya. Namun Tuhan masih cukup baik padaku yang buruk ini, aku masih diberikan kesempatan oleh-NYA untuk mengungkapkan perasaanku pada wanita yang kucintai ini.

Orang tua kadang bisa menyulitkan, pertama kalinya aku membawa wanita kerumahku adalah dimana orang tua ku sepakat untuk mengusirnya. Dia tidak cukup baik kata ayahku, dia tidak cukup kaya kata ibuku. Membuatku geram tak kepalang betapa piciknya hati kedua orang tuaku. Dia masih bisa tersenyum mendengar caci maki orang tuaku, dia masih meminta maaf di hadapan kedua orang tuaku sebelum melangkah pergi dari rumahku, dia bersamaku, dia memintaku untuk meninggalkannya, dia tidak ingin merusak hubunganku dengan keluargaku katanya. Dia perlahan-lahan menjauh dariku.

Hatiku sakit tak terkira menyadari dia menjauhiku, aku tidak terima dia berbuat seperti itu padaku. Aku memakinya, aku membentaknya, dia meringkuk ketakutan karena kemarahanku, aku tidak terima dia pergi dariku, bahkan sebelum aku sempat mengatakan aku cinta padanya. Dia semakin takut padaku, dia semakin menjauhiku, dia selalu menghindar bila aku mencarinya ke kelasnya. Dia selalu pergi terlebih dahulu sebelum aku sanggup menemukannya. Ketika suatu hari aku sengaja membolos dan menunggunya di depan gerbang sekolah, dia pun tak bisa lari menghindar lagi.

Kutarik lengannya dan membawa masuk dirinya ke dalam mobilku. “Jangan coba kabur!” teriakku marah. Dia meringkuk ketakutan dan menuruti perintahku.

Hatiku yang marah dan telah gelap mata membuatku membawa mobil yang kami naiki menuju sebuah hotel remang-remang yang terlindung di dalam sebuah gang sempit, hotel yang biasa ku datangi bila ingin melampiaskan nafsu bejatku pada wanita-wanita yang dulu kutiduri. Aku akan membuatnya menjadi milikku, dia tidak akan berani meninggalkanku lagi setelah aku merampas masa depannya, setelah aku merampas kehormatannya. Dia akan selalu mengikutiku dan itulah yang kuinginkan, aku ingin dia membuntutiku, mematuhi semua perintahku dan menjadi pelayanku.

Siang itu sepulang sekolah, tujuh tahun yang lalu, tepat pukul satu siang, aku menarik paksa tangannya untuk masuk ke dalam kamar yang telah ku pesan. Dia meronta dan berteriak ketakutan, meminta ampun dan agar aku melepaskannya. Aku tak tahu setan mana yang telah membutakan hatiku, aku tidak tahu setan mana pula yang membuatku tidak berperasaan saat merampas satu-satunya miliknya yang berharga, aku bahkan tak perduli saat kutanamkan benihku ke dalam rahimnya, aku tidak pernah memikirkan kehidupannya bila nanti benih itu bertumbuh dan berkembang dalam tubuhnya, benih dariku, darah dagingku.

Aku menghisap rokokku dengan nikmat, tubuh kami masih sama-sama telanjang, dia duduk meringkuk di sudut ranjang, memeluk selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, tangisnya jatuh terisak, berusaha mencari tempat terjauh dariku.

Kusandarkan punggungku di ranjang, secercah penyesalan selalu menghantuiku bila semua telah terjadi, namun kali ini penyesalan ini begitu hebat, mataku berkaca-kaca menyadari apa yang telah aku lakukan, akupun meminta maaf dalam hati.. hanya dalam hatiku.

Dua bulan lamanya kutunggu, diapun hamil, tak lama lagi aku lulus, aku ingin menikahinya. Dia telah kuancam agar tidak meninggalkanku, dia telah kuberi peringatan agar tidak coba-coba menjauh dariku lagi. Aku selalu menjemputnya dari rumah, aku selalu mengantarnya pulang ke rumahnya, aku bahkan menjadi pacar yang pencemburu bila dia dekat dengan laki-laki lain. Aku begitu posesif padanya, aku begitu kejam padanya. Meski demikian, sesekali bisa kulihat dia tersenyum saat kami berdua, saat tanpa di sadarinya dia menertawakan lelucon yang kubuat.

Aku... sejatinya bukanlah laki-laki sekejam itu, kehidupan ku yang keras membentukku menjadi seperti ini. Aku adalah pria yang mampu mencintai seseorang, meski dengan cara salah. Aku membuat wanita ini mencintaiku dengan terpaksa, dengan ancaman, dengan kata-kata kasar dan aku mulai meragukan rasa cintaku padanya bila lebih membuat kehidupan dia menjadi menyedihkan. Pernah kutanyakan padanya bila dia ingin meninggalkanku, dia tidak menjawabku. Dia hanya diam dan memunggungiku ketika kami duduk berdua di hamparan padang rumput di luar kota. Dia sibuk mencabuti rumput dan bunga-bungaan, dia diam membisu dan mencari pengalihan topik lain. Dia tidak ingin menjawabku, aku tidak akan pernah tahu bagaimana perasaannya padaku sesungguhnya. Tidak akan pernah....

Orang tuaku murka, mereka mengusirku karena telah menghamili kekasihku, mereka memerintahkanku untuk menggugurkan anakku, darah dagingku!! Mereka menghentikan semua sokongan uang yang biasanya mereka berikan padaku, uang yang tak pernah kusentuh, uang yang singgah dalam rekening bank ku yang kini telah bertumpuk dan cukup kupakai untuk memulai kehidupan baruku sendiri, tanpa bantuan mereka. Aku telah menabung cukup banyak untuk membangun sebuah rumah kecil bersama dia, aku tidak perlu takut akan mati kelaparan bila orang tua ku mengusirku.

Namun apa daya, orang tua wanita itu juga menginginkan hal yang sama seperti orang tuaku. Mereka menghujatku, mereka memakiku karena telah menghamili anak mereka. Aku bahkan diancam akan dilaporkan ke polisi karena telah menghamili anak di bawah umur. Kuakui... dia baru berusia lima belas tahun saat aku memaksanya di hotel itu. Aku memang laki-laki bajingan.

Aku menerima tamparan dari orang tua pacarku, aku menerima pukulan dari ayahnya yang marah. Dia berlari menjadi perisaiku, menerima pukulan ayahnya saat mataku terpejam. Dia pun terhenyak, dia pingsan oleh pukulan itu. Tubuhnya tak cukup kuat untuk menerima kesakitan yang tak pantas untuk dirasakannya.

Tanpa menghiraukan teriakan dan makian orang tuanya, aku membawa dia ke rumah sakit. Hanya satu yang ada dalam pikiranku saat itu, tiba di rumah sakit dan memberikan pacarku pada dokter, pada ahlinya. Aku khawatir dengan kesehatannya, bila goncangan itu akan melukai mereka, dia dan bayi kami.

Seperti hari ini, kala itu jalanan begitu ramai, begitu sesak dan kacau. Pikiranku kalut dipenuhi kekhawatiran karena dia belum kunjung siuman, kucoba untuk menyalip mobil di depanku, telah puluhan mobil berhasil kusalip tanpa masalah, hingga kemudian sebuah mobil di depanku ikut menyalip saat mobilku berada disampingnya.

Refleks akupun terpaksa memutar setir mobilku hingga mobil yang kutumpangi berputar-putar di jalan raya, menabrak beberapa kendaraan bermotor dibelakangku, menjungkirkan sebuah pick up dan membuat mobilku menabrak dinding jembatan layang dengan suara berdebum keras. Mobil yang kukemudikan ringsek, semuanya gelap, aku pingsan dan berakhir di ranjang rumah sakit dan menderita selama tiga bulan lebih.

Ketika semua telah kulewati, hatiku berdarah menyadari apa yang telah kuperbuat padanya, aku menghancurkan hidupnya, aku menghancurkan masa depannya. Anak kami tak bisa diselamatkan, hatiku semakin remuk oleh kenyataan itu. Aku tidak bisa memaafkan diriku dan bertekad untuk membalaskan dendamku. Aku menemui pemuda yang telah dengan seenaknya mencuri celahku di jalan raya, yang mengakibatkan orang-orang tewas dan terluka parah. Saat aku menuliskan cerita ini, mungkin pemuda itu kini masih berada di luar negeri dan tidak akan pernah kembali lagi kesini. Karena dia takut aku akan menghajarnya lagi.

Kuparkirkan mobilku di halaman, lampu-lampu telah dinyalakan, pengurus rumah tanggaku telah menyiapkan apa-apa yang kuperintahkan di telphone. Malam ini adalah malam spesial, aku akan merayakannya hanya bersamanya, bersama dengan dia, wanita yang kucintai.

Kubuka pintu kamar kami, dia tersenyum lemah, dia tahu aku telah pulang. Matanya berkaca-kaca menyambutku, dia tahu hari apa ini. Dia tahu karena dia selalu mengingatkanku dulu agar merayakan hari ulang tahunku, yang tak pernah dirayakan oleh orang tuaku. Kuletakkan kue dan minuman soda kesukaannya di atas meja, Bi Suti dibelakangku membawa seember es batu dan dua gelas putih bersih. Meletakkan dua buah piring dan sendok untuk kami. Dia lalu keluar meninggalkanku dengan istriku, Anita.

“Hari ini aku ulang tahun, aku ingin merayakannya denganmu. Bantu aku meniup lilin ya...” kataku padanya. Dia masih tersenyum ketika aku membantunya untuk duduk di sisi ranjang.

Kutarik sebuah meja di depannya, menyiapkan kue tiramisu dengan sebuah lilin kecil yang telah kunyalakan. Lalu akupun menyanyikan lagu yang selalu kunyanyikan sendiri selama lima tahun ini.

“Happy birthday to me... Happy birthday to me... Happy birthday.. happy birthday.. Happy birthday... to Bram...”

Akupun bertepuk tangan dan meniup lilinku seorang diri. Kukecup kening Anita, memeluk tubuhnya yang rapuh dan membisikkan kata cintaku padanya.

“Sekarang kita potong kue ya. Cinta mau yang besar? Ok.. ok.. Kakak potongkan yang besar ya buat Cinta.” Ujarku bersemangat.

Kuberikan sepotong besar kue tiramisu kesukaan Anita dan menyuapkan untuknya. Dia menggigitnya dengan senang, air matanya menetes bahagia, tak kalah deras dengan air mata yang turun membasahi pipiku. Kami lalu berpelukan lagi dalam kesunyian. Hari telah mulai gelap, kubuka pintu teras kamar kami, lalu dia melingkarkan kedua lengannya di leherku saat kuangkat tubuhnya yang ringan, membawanya duduk bersamaku di luar untuk menikmati udara malam dan pemandangan sinar rembulan di langit.

Kugenggam tangan istriku, hatiku dipenuhi oleh cinta, cinta yang paling sempurna yang bisa dimiliki oleh manusia. Cintaku tak mengenal pengkhianatan, cintaku tak mengenal rasa curiga, cintaku selalu percaya, cintaku selalu setia, cintaku selalu menunggu. Seperti aku menunggu keajaiban agar cintaku bisa berjalan kembali, agar cintaku bisa berbicara lagi, agar cintaku bisa mengatakan padaku betapa dia mencintaiku, dengan suaranya yang indah, dengan suaranya yang tak pernah kudengar lagi, setelah kecelakaan itu.

Sayangku... meskipun kau tak pernah berkata kau mencintaiku, tapi aku tahu.. kau mencintaiku, kau memaafkanku, kau... selalu memaafkanku. Terima kasih karena mau menghabiskan hidupmu bersamaku yang tak berguna ini, terima kasih karena mempercayakan hatimu padaku yang tak pantas ini, terima kasih karena memberiku kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahanku padamu. Seandainya bisa kuputar waktu, ingin kuperbaiki semua kesalahanku.

Namun demikian, akankah kita seperti sekarang ini? Akankah kita bersama-sama memandangi rembulan seperti malam ini? Karena aku yakin... aku tak akan pernah bertemu denganmu di sekolah itu bila aku hanya sibuk dengan kehidupan gelapku...

Ahh... sungguh berat cobaanmu, Tuhan...

~~~The End~~~


51 comments:

  1. mba shin, sakit hati bcanya.. Sedih bnget ceritanya, T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe makasi sista...aku anggap itu sebagai pujian ya. ehehehe

      Delete
    2. Ehehe
      mba shin
      aku padamu selalu :D

      Delete
  2. Cerita yang menyentuh... Katanya lagi ga mood ngetik mbak shin hehehehe
    Thank u *lope*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... dini hari tadi dapet ide.... sepasang suami istri, dengan istri yang cacat dan tidak bisa bicara... kemudian pengen nulisnya menggebu-gebu... gmn donk?? kalau gk ditulis, gak bisa tidur... wkwkkwkwk... setelah dibaca ulang, nangis sendere... lol... but i love this story.. so much. semoga yg lain juga suka ya :). karena cinta tak selamanya indah, hanya pelakunya yang bisa merasakan betapa sempurnanya cinta di antara mereka. ;)

      Delete
    2. Gila.. Nyesek + sdih bgt mbak critany.. Hiks..:'(

      Delete
  3. yaampuun.
    sediih bnget..
    inilah cinta.
    hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak shin, perasaan si eka bobo melulu deh, mang si eka umur berapa? nahloh nahloh #lirikkanankiri kaaaabuuuuurrrrr#

      Delete
  4. ceritanya sedih
    kl aja cwonya ga kalap(?) pasti hidup mrka ga bakal kaya gini deh pasti bakal hidup bahagia brg anak2nya juga kan

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl cowoknya gak kalap, kita gak punya judul seperti ini sist, judulnya jadinya "cintaku, diriku" wkkwkwkw

      Delete
  5. Sedihhhh... meski krna khilafnya tu co tapi dia cinta mati dan buktiin hidup bersama saat susah ataupun senang....

    ReplyDelete
  6. Penyesalan kadang datangnya terlambat. Manusia Чªήğ tangguh akan belajar dari penyesalan bukan menyesalinya. Suka sama cerita ini mba hiksss (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

    Cinta memang tak selalu indah namun ketika kita ikhlas dengan semuanya akan terasa indah dan manis. Tuhan pun akan memberi kita hadiah terindah jika kita menjalaninya dg penuh keikhlasan, kesabaran, ketabahan dan penuh tanggung jawab. Pengen banget Anita'a dpt keajaiban bs ngmng and jalan lagi walau dengan terbata dan tertatih....

    Mba shin º°˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º Ɣª... ♏ùάçĥº°:*<3<3 º°º♏ùάçĥ:*<3<3

    PS : jadiin ini cerbung bs nda?? Nangis ini (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

    ReplyDelete
    Replies
    1. nice saying nice saying....

      kl jadiin cerbung males ah...

      Delete
  7. sedih n nyesek bacanya mbak shin tp salut sama kesetiaan suaminya punya istri cacat walaupun itu akibat kesalahan dia padahal banyak diluar sana istri gak bisa punya anak kawin lagi suaminya. Yah emang penyesalan datangnya belakangan kalo didepan namanya pendaftaran wkwkwk

    ReplyDelete
  8. :'( :'( :'(
    Sediiiih~
    Mb shiiin yaampun sedih banget
    Tapi keren
    Huhuhuhu
    Perjuangan cinta yg keren :'(

    ReplyDelete
  9. Replies
    1. ngapain dipojokan nangis? sini sini... duh kasian anaknya siapa ini?

      Delete
  10. Ah, kisah yang sangat mengharukan Mba Shin, benar2 tersentuh.....
    Dijaman sekarang ini mana ada pria semacam itu. Kebanyakan mereka egois
    Dan mementingkan nafsu mereka ja T_T hiks......
    Mba Shin memang paling pintar bikin hati pembacanya ngilu n terenyuh ^_^'

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha aih sista bisa aja. makasi banyak ya :)

      Delete
  11. Sepertinya aq paling suka dexh baca cerita YG menyentuh sedih mengharukan menguras air mata hehee ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhaha.. lebih mengena di hati ya sist???

      Delete
    2. Sepertinya sih begitu :D haha

      Delete
  12. Woww,,wktu bc dr awal mpe akhr krain ni crta krmn dr reader,,eh trnyt Mba Shin sndri yg nulis...
    Keyen Mba,,bnr2 bda gaya pnulisannya jd 'pangling'
    Tggungjwb,,jd nangis khn skrg.. Hukz...
    Keyeennnnn,,keyeeennnnnnnnnn.... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah vie bisa aja.... :cubit nehh:

      emang bedanya sebelah mana vie? :D

      Delete
  13. wow, Hyung...
    "hatiku berdarah menyadari apa yang telah kuperbuat padanya"
    sampe sekarang darahnya belum juga kering. lukanya masih basah.
    :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkkwkwkw nyindir nehhh??? grr...gr.... betadinenya gak manjur artinya, musti pake serbuk nebacetin lol

      Delete
    2. ini beneran sakit hyung, darahnya gk mau berhenti.
      huks #nebah2 dada
      #drama

      Delete
  14. KSDH ntar ada gak mbak?

    ReplyDelete
  15. Mbak shin pijem bajunya *srooooot* #elapingus

    aku patah hati, mbak. Ini kenapa sedih banget ya. Duuuuuh, menyayat hati. Huhuhuhuhu....

    ReplyDelete
  16. Udah lama g mampir... Eh langsung berurai air mata daku :'( hiks...
    M Shin Tq :*

    ReplyDelete
  17. jadi terharu bacanya... kw sudah namanya cinta apapun akan qt lakuin buat orang tersayang ...

    ReplyDelete
  18. mbak, nangis bacanya...apalgi wktu bacanya kbetulan lgi denger lagu endless love makin nangis bombay deh.kira2 kpan y dpet cow keg githu??hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa... amin... mdh2an dapet yg kyk gini deh kl emang maunya yg begini :D

      Delete
  19. Banjirrr T_T
    Ngenes banget udah lumpuh bisu pula
    Kejam banget authornya -_-

    ReplyDelete
  20. entah untuk keberapakalinya aq baca crta ne.. tpi blum smpet di komen sangking speachlessnya..
    hiks hiks hiks.. mba bnran deh, udh sering bca yg ini, selalu berakhir dg air mata.. bagus bgt.. sedih bgt jg :(
    *HugPiter #eh :D

    mba shiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin thanks a lot for this perfect story..

    ReplyDelete
  21. dan aku pun membaca kembali crta ini.. dan berurai air mata lgi :-(

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.