"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, April 26, 2013

Drizzle story by Arie Zzuant



Drizzle 
Story by +Arie Zzuant 


“ Drizzle “

_.Cinta dan Kerinduan adalah awal dan akhir dari hari ini._


Seperti yang berada di dalam cerita mimpiku tadi malam, udara yang memelukku saat ini terasa menyegarkan, lebih segar dari seteguk jus pome yang tiap hari kuminum.

Kurentangkan kedua tanganku lepas ke-udara, memeluk atmosfer yang menyambutku dengan damai, dengan memejamkan mata menikmati oksigen dari ketinggian 763 meter di atas permukaan laut tempatku berdiri sekarang.

Ada bisikan aneh yang menuntunku datang ke tempat ini, suara dalam mimpi itu. Menggelitikku dengan rasa penasaran yang membuncah. Sepanjang perjalanan aku sibuk menganalisis alasan yang masuk akal hingga menghabiskan waktu 3 jamku yang berharga untuk duduk dibelakang kemudi dan sampailah aku di tempat ini.

Dari bawah barisan bulu mataku, aku menangkap pemandangan yang membuatku berdecak kagum, tempat ini di tumbuhi pohon maple tua dengan kanopi teduh dan berdaun coklat kemerahan, desahan angin membuaiku dan seolah menuntunku berjalan menyusuri tempat ini dan mencari apa alasanku datang ke tempat ini.

Aku berjalan seolah-olah mengenali tempat ini sebelumnya, hingga langkah kakiku terhenti di ujung jalan kecil yang menuju ke sebuah ayunan kayu. Ada sekilas ingatan yang mengusik, tempat ini tidak asing bagiku. Aroma yang tercium, udara yang memelukku di tempat ini, entah kenapa rasanya aku menemukan tempat untuk melepaskan kerinduan yang lama terlelap dalam ingatan.

Ya, ini persis seperti apa yang ada dalam mimpiku.

Setetes air menyentuh dahiku, -gerimis- sepertinya hujan akan turun sebentar lagi, sekali lagi kuhirup dalam-dalam aroma tempat ini. Menusuk jauh kedalam diriku.

Ponselku bergetar, membuat pikiranku berhamburan. Panggilan telpon dari Adik perempuanku, Vynka. Aku yakin dia akan mengata-ngataiku dengan sumpah serapahnya karena lagi-lagi aku pergi tanpa pamit, meninggalkan banyak pekerjaan yang merengek minta kulayani.

“Ya...!!!” kujauhkan ponsel dari telingaku sebelum gendang telingaku pecah mendengar jeritannya di seberang sana.

Perlahan tetesan air dari langit turun seolah berlomba-lomba untuk tiba terlebih dulu ke bumi. Aku berlari menuju mobil, menghindari air langit yang akan membuat baju yang kukenakan basah. Saat itu juga aku menyesal kenapa aku memakai baju setelan kerja. Harusnya aku bisa menikmati nuansa gerimis disini. Sial!!!

Kuhidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas, beranjak meninggalkan tempat ini dengan terpaksa. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang melihat seorang gadis berdiri disisi jalan mengadahkan tangannya menangkap tetesan air langit di tangannya, gadis itu membiarkan tubuhnya basah, mengabaikan fungsi payung transparan yang bersandar dibahunya. “Gadis introvert” gumamku dan aku tersenyum sebelum rasa heran dan bingung mengusikku lebih jauh.


***

“Apa yang paling penting dalam hidupmu?“ Tanyaku pada gadis itu sambil menikmati gerak ayunan disebuah taman.

“Gerimis dan dirimu.“

“Bolehkah aku tahu alasannya ?“

“Hidup dengan menikmati nuansa saat gerimis bersamamu cukup dijadikan sebagai alasanku untuk hidup kembali dan bertemu denganmu lagi.”

“Setelah kehidupan ini berakhir apa kau masih mencintaiku?“

“Pasti.“

“Bagaimana jika aku tidak bisa menemukanmu?“

“Aku akan menunggumu dan saat gerimis turun saat itulah aku benar-benar merindukanmu, jadi kumohon, jangan membuatku terlalu lama menunggu.”


***

Gadis dalam mimpiku itu, memiliki aura yang tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata untuk menjelaskannya, meskipun aku mencoba mendefenisikan mengapa mataku terasa perih, mengapa jantungku berdetak lebih cepat dan berujung dengan rasa kosong yang menga-nga di uluhati, tiap kali aku bangun dari lelapku yang selalu memimpikannya. Susah payah aku menafsirkannya dengan segala kemampuanku mencari alasan mengapa jiwaku seperti tersesat, tapi tetap saja aku seperti dikelabui. Gadis dalam mimpiku itu menarik jiwaku yang tersesat masuk ke dalam labirin yang gelap.

Lagi, kujejakkan kakiku menelusuri jalan yang diselimuti daun coklat kemerahan yang berguguran, merasakan angin mengajak rambutku menari, menikmati atmosfer yang mengisyaratkan kerinduanku akan tempat ini. Entahlah. Ini seperti aku kembali pulang ke kampung halaman setelah ribuan tahun lamanya.

Langkahku terhenti, kutatap tingginya keagungan langit, mendung, sebentar lagi tetesan air langit –gerimis- akan datang menyambutku dengan lembut. Kurentangkan kedua tanganku memeluk udara dan menyesapi nuansa kerinduanku.

Tetesan pertama menyapaku, terdengar derap langkah kaki yang berlari, seorang gadis, suara tawanya yang disertai tawa seorang laki-laki dan suaranya yang memanggil sebuah nama. Qyand! Namaku ! Kutatap kearah dua orang itu seorang gadis dengan pakaian paduan warna biru dan seorang lagi, wajah yang ku kenal dengan baik. Itu wajahku.

Seperti sebuah film yang menceritakan tentang cerita dalam ingatanku yang tertidur. Seperti yang ada dalam mimpiku yang berbeda kali ini aku dapat dengan jelas menatap wajah gadis ini yang selama ini membuat jiwaku gelisah, tersesat dalam teka teki ingatan akan masa lalu. Ratusan atau mungkin ribuan tahun lalu.

“Vivian.“ Panggilku. Gadis itu berbalik, dan melihat kearahku sambil tersenyum.

“Bergegaslah…“ ucapnya sembari mengibaskan tangannya, dan tetesan air langit yang menyapaku telah menjadi rintik gerimis yang damai.

Gadis itu menghilang. Apakah ini ilusi?

Desahan angin mengajak daun-daun pada kanopi-kanopi teduh disekelilingku menari mengikuti irama hembusannya, percikan tetesan air langit membuat bulir-bulir kecil di rambutku.

Langkah kakiku membawaku ke sebuah jalan kecil menuju ayunan kayu yang berada disebuah taman, ada beberapa Tsutsuji yang sedang mekar. (Tsutsuji ; Azalea)

Jantungku berdetak lebih cepat, nafasku tertahan, kutepuk-tepuk kedua sisi pipiku, memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi, gadis dalam mimpiku itu dia…

Kutenangkan diriku sejenak dan memejamkan mata menghirup oksigen sebanyak yang dapat ditampung paru-paruku. Berusaha menuju jalan keluar untuk jiwaku yang tengah tersesat dalam lorong-lorong labirin yang gelap.

Matanya terpejam, tubuhnya telungkup dipermukaan aspal jalan yang basah, menggunakan tangannya sebagai bantal untuk menjaga posisi kepalanya. Dia membiarkan tetesan air dari langit membasahi tubuhnya. Membiarkan gerimis membuat rambut coklatnya menjadi basah. Dia terlihat sangat damai ditengah nuansa yang dijanjikan sang gerimis. Kupungut kelopak Tsutsuji yang bertengger di helai rambutnya.

Kutiru posisi tidurnya, berhadapan dengannya, pandangan mata kami bertemu bibirnya menarik garis senyuman, dan jiwaku yang tersesat menemukan jalan keluar dari labirin gelap, rasa kosong yang menusuk uluhatiku digantikan dengan perasaan yang lagi-lagi tidak dapat kujabarkan.

“Hey, lama tidak bertemu…“

“Umm, aku merindukanmu.“

“Aku juga.“


“Maaf membuatmu menunggu terlalu lama.“


Dia tersenyum sambil menunjukkan kelopak Tsutsuji yang berada dalam genggamanku.

“Bisakah kau menjelaskan apa yang sedang terjadi?”

“Yang terjadi saat ini seperti jawaban dari rentetan teka-teki yang selalu hadir mengusik tidurku, kau selalu ada dalam cerita mimpi-mimpiku, cerita tentang masa lalu yang menjadi misteri."

“Apa kau percaya pada mimpi-mimpimu?”

“Ya, aku percaya, karena mimpi telah menuntunku ketempat ini dan bertemu denganmu.”

“Lalu, apa kau percaya takdir?”

“Ya, aku percaya, karena takdir telah mempertemukan kita kembali.“

“Seperti dongeng yang terlalu indah, aku bahkan takut jika ini semua hanya mimpi,  bagaimana jika aku terbangun di ranjangku yang dingin tanpa dirimu?”

Aku menyelami matanya yang menatap lurus kedalam mataku, menyelami perasaan yang tidak tau harus kusebut apa. Kurapatkan tubuhku untuk mendekap tubuhnya, alam bawah sadarku merindukan dirinya, aura disekelilingnya, aroma tubuhnya, suaranya, lekuk tubuhnya, semua tentang dirinya. Tentang Tsutsuji yang berarti sabar dan syarat akan kesederhanaan. Jiwa kami terpaut dalam kemegahan cinta.

***

Gerimis ke-188 setelah aku bertemu kembali dengan dirinya di kehidupan ini, sehari setelah aku mengucapkan cintaku di hadapan Tuhan, dengan keluarga dan teman-temanku yang menjadi saksi sumpahku untuk seumur hidup.

Vivian merapatkan tubuh telanjangnya ketubuhku, karena udara pagi yang dingin dipegunungan, ide nakal terlintas dalam benakku, mengulangi kenikmatan saat bulan menggantikan matahari di keagungan langit. Kumulai dengan mengecup ujung kepalanya, keningnya yang menghormatiku, mata yang selalu menatap kearahku, pipi yang bersemu merah ketika berada di dekatku, lalu telinganya yang mendengar kata-kataku, kemudian bibirku mendarat di bibir manisnya, bibir yang selalu tersenyum manis padaku. Kujelajahi tiap inchi tubuhnya yang telah kukenal dengan baik di kehidupan ini juga di kehidupan sebelumnya, tangan lembutnya yang menggenggam tanganku, lengannya yang melingkar di tubuhku, leher lembutnya tempatku menghirup aroma tubuhnya yang manis, dadanya yang berdegup kencang karena diriku.

Lekuk tubuh terindah yang di ciptakan Tuhan untukku, pemilik dari tulang rusukku, wanita yang memiliki sebagian jiwaku, bibirnya mengeluarkan rintihan yang tertahan akibat tarian lidahku yang bermain di dadanya tanpa menyentuh putingnya yang mengeras sama sekali.

Kusibakkan selimut yang menyelimuti tubuh kami, jelas saja udara dingin membuat bulu-bulu halus bergidik.

“Apa kau percaya padaku?” tanyaku sembari mengusap-usap bagian tersensitifnya.

“Ya, lakukan apapun yang kau mau” jawabnya, oh Dear! Dia begitu siap untukku.

Aku memasangkan borgol pada kedua tangannya dan mengaitkannya pada sisi atas ranjangku, lalu menyelimutnya lagi sebelum meraih handuk dan menghilang di balik pintu kamar menuju dapur untuk mencairkan batangan coklat, kemudian kembali ke kamar.

“Buka kakimu.” ucapku.

“Seperti ini?” ucapnya ragu-ragu.

“Lebih lebar, tekukkan lututmu keatas.” ucapku lagi. Setelah merasa pas aku menarik selimutnya tanpa peringatan sebelumnya, dia terkejut dan merapatkan kembali kedua pahanya. Aku menggeleng dan meminta untuk kembali membukanya.

“Percaya padaku sayang, ini akan terasa menyenangkan.” ucapku, matanya memperlihatkan kebingungan tentang apa yang kuperintahkan, aku duduk diantara kedua pahanya yang lembut dan basah, aku menunduk untuk mencium aroma hangat dari sana, aroma ragawi dari dirinya yang kini mendesah menyebutkan namaku, pahanya bergerak gelisah karena tarian lidahku.

“Qyand, please ...”

“Tahan, kau akan merasakan yang lebih nanti.”

Aku melepaskan mulutku dari sana dan mengoleskan krim pada mons pubisnya yang ditumbuhi rambut-rambut halus, dia terlihat kebingungan dan ingin melihat apa yang tengah dilakukan oleh tanganku.

“Sttt, diam dan nikmati ini, Vivian.” Gumamku, sambil mengusap lembut tepian labia minoranya, mengusir kebingungannya dengan sedikit rangsangan.

Kuraih pisau cukur dilaci meja kecil disisi ranjang, aku akan mencukur sedikit rumput diladang canduku, agar pekerjaanku disana terasa lebih menggairahkan. Vivian mulai menikmati permainan ini, meskipun awalnya dia merasa risih. Sesekali dia menjerit nikmat saat aku tanpa sengaja menyentuh klitoris dan uretranya. Aku yakin kantung kemihnya sudah terisi penuh, oh wow! Ini terasa sangat panas ketika aku membayangkannya.

“Wow...” gumamku, kagum pada hasil karyaku sendiri setelah 5 menit aku memangkas rumput yang kuanggap terlalu panjang diladang canduku.

“Qyand... “ Vivian merintih.

“Tahan sayang, aku punya sesuatu untukmu.“ ujarku dan keluar untuk mengambil semangkuk es krim vanilla dan coklat cair yang hangat dari dapur.

“Berapa lama lagi aku harus menahannya?” Tanya Vivian saat aku kembali dan mendekatinya, meraih bibirnya yang menerimaku dengan suka cita.

“Selama yang kau bisa, Vivian” gumamku di sela-sela lumatan bibirku hingga aku berbaring disisi kanannya.

“Tarik aku dalam euphoria itu lagi.” ucapnya, menggodaku.

“Dengan senang hati!” Tanpa perlu berlama-lama aku menuangkan lelehan coklat tadi di kedua dadanya, putingnya kembali mengeras, seolah berteriak meminta penghormatan yang akan kuberikan, aku membersihkan kedua putingnya dengan bibirku sebelum coklat mengeras, kemudian menuangkan es krim vanilla  pada labia majoranya yang tengah berkedut, Vivian mendesis saat es krim meleleh melewati klitoris dan uretranya.

“Please...” teriaknya frustasi saat dingin menyerang liangnya, kunikmati es krimku didalam dirinya yang terus saja memanggil namaku dengan keagungan cinta, membuat  ereksiku bertambah keras dan meminta kemerdekaannya.

Jujur saja, desahan bibirnya yang memanggil namaku membuatku kehilangan kontrol dan menemui dirinya yang tengah menungguku didalam sana, disambut oleh lenguhan yang mengisyaratkan syair cinta atas kedalaman kasih.

Lantunan irama mengiriku menancapkan cangkulku diladang candu, suara gemericik air menyegarkan ayunan cangkulku yang terus menggali pada kedalaman, sambil menikmati coklat yang tersaji dihadapanku hingga aku sampai dititik terdalam untuk menghantarkan benih didalam sana, untuk menyemaikannya pada media tanam terbaik, hingga dia dapat tumbuh, mengeluarkan akar, batang, daun. Agar aku dapat menjaganya saat dia berkembang menghasilkan bunga dan akhirnya akan berbuah.

“Aku mencintaimu Vivian...”

Dia tersenyum menerima rasa terima kasih dan cintaku. Aku melepaskan  borgol dan membersihkan tubuhnya sebelum aku rebahkan tubuhku disampingnya.

Cinta dapat menaklukkan segala batas termasuk kematian, seperti manusia yang mememiliki perputaran waktu, meski ratusan bahkan ribuan tahun telah berlalu, sejatinya jiwa yang tulus mencintai akan kembali bertemu untuk memenuhi kebutuhannya.

“Aku senang bertemu denganmu lagi dalam kehidupan ini, kehidupan selanjutnya dan seterusnya hingga dunia ini berhenti berputar, kemudian pada akhirnya kita akan bertemu lagi dalam keabadian.“


FIN

Ingin ceritamu tampil di myowndramastory? Jangan ragu, kirimkan saja ke drama.story@yahoo.com. Genre bebas, asal tidak sadis dan menjijikan (soalnya yang ngedit gak doyan cerita begituan. wkkwkwkw.) Dan tentunya cerita akan di saring dulu, kalau ancur banget, mohon maaf mungkin gak bisa dipasang disini. Adegannya gak usah panas (kl misal isi adegan), kalau mau kirim cerita panas kirim ke danofdefinnegan@yahoo.com saja, nanti berurusan dengan Mr. Danof. Ok? Good luck and Keep trying. Lumayan bantu-bantu eike biar blog gak sepi... maklum lagi males ngetik nih sekarang... -short story atau berchapter no problemo, yang penting bukan fanfic aja. hak..hak..hak...-

Salam 

Shin Haido

16 comments:

  1. ceritanya semacan reinkarnasi gitu ya
    cwenya setia bgt selalu nunggu disaat hujan
    adegan ranjang lumayan hot tuh ahahahaha
    qyand usil juga ya ngerjain vivian sampe mohon2 kaya gt

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebelumnya aku mau ngucapin.
      "Qyand Hyung yg kini entah berada dialam mana, Mianhamnida. "
      :p

      sejujurnya karakter dlm cerita ini mirip dgn aslinya.
      Thanks Shin hyung, Thanks Erna dear. :)

      Delete
    2. based on true story? hm... interesting... ;)

      Delete
    3. mirip nama sama keanehan Qyand hyung. lol

      Delete
  2. Makasih mba shin dan arrie z,,,,,

    Saat gerimis dan hujan bikin galau, dan saat dimana kita sebaiknya mengeluarkan idd dan isi hati,,,,nah lhoh jd ikut galau,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah yo... disini lagi panas, gak bsa bergalau ria dah...

      Delete
    2. ayo kita lomba siapa paling galau :D

      Delete
  3. Udah lama gak mampir kemari, udah banyak ketinggalan.


    Agak ngebingungin, saya jadi ga terlalu ngerti ini kejadian nya kapan aja, apa masa lalu, sekarang, ato masa depan.
    Eniwey, good story.
    Shin Hyung?
    Maybe you have to call her, Shin Noona.

    Thanks Mba Shin :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha it's ok honey... i'm actually a man... a pretty handsome man. you can see my profile picture, i'm handsome, right?? -ya, aku dipanggil hyung sama Arie Gun, sist. karena aku meminta demikian. mau panggil aku hyung juga boleh ;mimpi ditengah hari:

      Delete
    2. pembaca frustasi karena yang nulis lagi kena gangguan pencernaan
      --a #nahloh

      Shin hyung #tos

      Delete
  4. Mumpung LG jam dinner sekalian mampir ke blog ini...

    MAKASIH SIST Arie n sist Shin :)

    ReplyDelete
  5. Manis banget ceritanya~
    Jadi pengen gerimis2an
    Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. manis-manis gula aren.
      gerimisnya udah kemaren.
      =.=v

      Delete
  6. Waduh... Seolah2 aku ikut berperan didalamnya... Eh..ehe... Eh... .? Hhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo begitu knalin, aku Qyand :D
      whahaha

      Delete
  7. Aq kira ini foto eh gaK taunya gambar bergerak haha :D lol

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.