"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, April 13, 2013

First Drama - Chapter 14



Shin mendorong keluar kursi roda yang membawa Soo Hyun ke arah ruang makan. Mereka sedang bersiap-siap bersantap pagi. Shin Eun Nah, kakak Shin Jae Min dibantu oleh pelayan mereka menata makanan di atas meja.

Shin, ayahnya yang duduk dalam kursi rodanya, Soo Hyun yang juga duduk dalam kursi rodanya namun dia sedang tersenyum, senyum terindah yang pernah Shin lihat pada wajah cantik istrinya. Dia tidak bisa berharap hidup akan lebih baik dari ini. Menemani Soo Hyun, ayahnya dan makan pagi bersama mereka dalam suasana yang begitu nyaman dan riang. Meski ayahnya tak bisa berbicara lagi, laki-laki tua itu sibuk dengan dunianya sendiri, namun dia terlihat bahagia. Sesekali ayahnya akan menyentuh tangan Soo Hyun dan tersenyum padanya. Mungkin dia merasa mereka senasib karena sama-sama harus duduk di atas kursi roda.


Sudah dua bulan sejak Soo Hyun siuman, malam-malam setelah itu Shin selalu menemaninya. Menceritakan padanya kisah-kisah hidup mereka yang sebagian besarnya dia karang sendiri, terkecuali kisah tentang pertemuan mereka dan bagaimana Shin telah jatuh cinta padanya sejak mereka pertama kali bertemu di pameran itu dan mengikutinya kemanapun dia pergi.

Shin juga tidak menceritakan kisah saat dia meninggalkan Soo Hyun tanpa kabar dan menggantinya dengan kisah mereka mulai berpacaran karena Soo Hyun akhirnya luluh dan tak lama kemudian mereka bertunangan dan menikah. Namun malang bagi Soo Hyun, saat wanita itu sedang kembali dari kota sebelah, mobilnya terpelosok ke dalam jurang dan bagaimana kalapnya Shin mencari tubuh istrinya berminggu-minggu dan penantiannya selama ini.

Soo Hyun begitu terharu mendengar cerita yang dituturkan Shin. Bahkan Soo Hyun mulai merasa dejavu dengan perasaannya pada suaminya.

“Aku rasa aku memang pernah mencintaimu dulu, suamiku...” katanya suatu malam saat Shin sedang duduk di sampingnya di atas ranjang, membaca kertas-kertas pekerjaannya.

Laki-laki itu tersenyum miris, mengetahui dengan benar apa yang terjadi pada cinta mereka.


“Apakah kamu mengatakan kini kamu tidak memiliki perasaan itu padaku, Istriku?” Shin meletakkan kertas-kertas itu sembarangan. Memiringkan tubuhnya sehingga bisa menatap wajah istrinya dengan leluasa.

Mereka memang telah berbagi ranjang sejak beberapa minggu Soo Hyun melepaskan selang-selang dari tubuhnya. Shin tak ingin jauh dari Soo Hyun, dia tak ingin meninggalkan istrinya dengan tidur diruangan lain, meski malam-malam dingin begitu menyiksa jiwa dan raganya hanya dengan berdekatan dengan Soo Hyun. Tapi Shin mampu bertahan, untuk masa depannya bersama Soo Hyun.

Tiap malam dia akan berdoa agar wanita ini tak pernah menemukan jati dirinya lagi. Shin tak pernah bercerita mengenai keluarga terakhir yang Soo Hyun miliki, laki-laki ini berbohong sepenuhnya padanya. Shin mengatakan hanya dirinyalah keluarga satu-satunya yang dimiliki oleh Soo Hyun, sehingga dia tak akan mencoba mencari keluarganya lagi.

Shin juga telah memerintahkan orang untuk menghapus semua berkas-berkas ataupun bukti keberadaan Soo Hyun baik di media, internet ataupun sekolah-sekolahnya terdahulu, tempat kerjanya terdahulu dan dimanapun mungkin Soo Hyun pernah terdaftar. Shin sama sekali tak menginginkan Soo Hyun kembali menjadi Soo Hyun yang dulu. Shin hanya menginginkan Soo Hyun sebagai seorang Shin Soo Hyun, istrinya yang dinikahinya dan sangat dicintainya.

Memang Shin tidak pernah mengajak Soo Hyun keluar dari rumah mereka di pedesaan itu, Shin tidak ingin Soo Hyun mengingat mengenai masa lalunya bila dia melihat tempat atau orang-orang yang pernah dilihatnya. Shin menginginkan Soo Hyun seperti sekarang ini, lupa ingatan, lumpuh dan tak berdaya. Sehingga dia bisa memiliki wanita ini selamanya.

Dengan wajah merona merah, Soo Hyun mencoba menghindari tatapan mata suaminya. Namun tangan laki-laki itu mengunci dagunya, memaksanya untuk memandang wajah Shin.

“Kenapa? Apakah aku salah?” tanyanya menggoda.

“Shin.. Kamu menggodaku. Aku malu.” Soo Hyun mencoba untuk tidak terdengar manja, namun suaranya tak bisa dikontrolnya. Shin tersenyum senang mendengar nada suara istrinya. Dengan berani dia mendekatkan tubuh mereka. Dia telah merindukan saat-saat seperti ini bersama Soo Hyun.

“Kenapa harus malu? Aku kan suamimu...” godanya lagi, kini wajah mereka begitu dekat.

Soo Hyun masih menunduk malu. Shin menatapnya dengan wajah penuh kerinduan, menginginkan Soo Hyun meleleh dalam pelukannya.

“Soo Hyun-ah... Katakan kamu mencintaiku.. Aku..aku tak bisa hidup tanpamu...” bisiknya lirih, terdengar bagai seorang kekasih yang sangat merindukan hatinya, merindukannya hingga dia merasa tak sanggup lagi bertahan meski hanya sedetik. Mengharapkan sedikit saja belas kasihan Soo Hyun untuk mengobati hatinya yang berduka.

“..Shin.. Aku juga tak bisa hidup tanpamu.. Aku rasa aku mencintaimu..lagi.. suamiku...” tatapan mereka terpaut, mata mereka sendu, begitu banyak kerinduan yang menjalar dalam mata mereka.

Kerinduan yang tak mampu mereka ungkapkan saat mereka bertengkar dan dunia serasa di neraka, ketika Shin gelap mata. Namun kini, laki-laki itu telah berubah, meski dia masih seposesif sebelumnya. Kini, Shin tidak pernah ingin menyakiti Soo Hyun lagi, dia hanya ingin membahagiakan wanita ini. Membahagiakan istrinya, ibu dari anaknya yang telah gugur.

“Oh.. aku juga mencintaimu Soo Hyun-ku.. Cintailah aku Soo Hyun.. Aku membutuhkanmu..”


Shin mencium mesra bibir istrinya, perlahan dengan lembut membelai bibir manis Soo Hyun, merasakan betapa manisnya bibir itu saat dikecapnya. Penantian setahun ini terbayar sudah dengan sebuah kecupan hangat dan dalam. Satu kecupan yang membawa kecupan-kecupan lain untuk percumbuan mereka malam itu.

Shin melupakan pekerjaannya, kertas-kertas yang tadi dibacanya kini telah berantakan terjatuh dilantai dan tertindih tubuh mereka. Malam itu Soo Hyun terlelap dalam pelukan suaminya, untuk pertama kali dalam hidupnya, Shin mampu bernafas lega dan menyambut hari esok yang lebih cerah bersama dengan orang-orang yang dicintainya.

~~~~

“Jangan memasang wajah merengut begitu, aku tak akan lama. Seminggu lagi aku sudah kembali, ya?” Shin mengecup ringan bibir istrinya. Meski hatinya berat harus meninggalkan istrinya dirumah ini, Shin harus pergi. Pekerjaan yang telah ditundanya berbulan-bulan kini harus dihadapinya juga bila tidak ingin perusahaannya mengganti rugi kerugian yang tidak harus digantinya, bila dia bisa memperbaikinya.

Selama setahun lebih bekerja dengan setengah hati, perusahaan milik Shin mengalami kemunduran yang cukup signifikan sehingga mengharuskan Presiden Direktur Shin Jae Min kembali bekerja secara profesional bila tak ingin pemerintah melikuidasi perusahaannya dan memupuskan harapan hidup lima ribu orang pegawainya dan puluhan ribu pekerja pabrik yang berdiri dibawah perusahaannya.

Terlepas dari sifatnya yang pemarah dan gampang meledak-ledak, Shin tak pernah menunjukkan sifat itu lagi di depan keluarganya. Kehadiran Soo Hyun mampu mengekang amarahnya itu dan menghadirkan senyum cemerlang seorang Shin Jae Min yang sempat menghilang. Kini senyuman itu hadir lagi dan senyuman itu akan bertahan untuk waktu yang cukup lama.

Setidaknya sampai sosok Lee Han Jun muncul dihadapannya. Mereka bertemu di sebuah undangan pernikahan anak dari seorang pengusaha rekanan mereka, Lee Han sedang berdiri didampingi Yu Na, mantan tunangannya yang kini telah bersamanya selama setahun. Dalam waktu setahun itu, Shin meragukan tak ada yang terjadi di antara mereka, terlebih Shin mengetahui mereka tinggal satu apartemen. Bahkan harimau terjinak sekalipun bila sedang kelaparan akan memangsa anaknya, terlebih seorang Lee Han Jun, pria normal dengan kebutuhan seorang laki-laki dewasa berusia tiga puluh tiga tahun.

Namun demikian, Shin meringis memikirkan nasibnya sendiri. Setahun sudah dia menahan gairahnya pada tubuh mulus istrinya, hampir setengah tahun sudah dia hanya memuaskan diri dengan mencumbu istrinya tanpa melakukan apa yang paling diinginkannya, bersatu dengannya dalam sebuah cinta yang panas. Shin tak ingin menyakiti Soo Hyun, dia mengekang nafsunya hingga saat keinginan itu berdiri di level puncak, Shin akan berlari ke sebuah tempat latihan tinju dirumahnya dan menghantam sasak tinju itu hingga seluruh amarahnya habis. Amarah yang keluar karena nafsu yang tak terlampiaskan.

Begitulah cara Shin Jae Min mengatasi segala nafsu birahinya atas tubuh istrinya. Dia tidak tertarik sama sekali dengan wanita lain, membayangkannya pun dia tak bernafsu. Soo Hyun membuatnya impoten pada wanita lain, dan terangsang padanya hingga ke ubun-ubun meski hanya dengan memandanginya.

Lee Han menyapa Shin terlebih dahulu.

“Kemana istrimu, Presdir Shin? Aku dengar kalian sudah menikah namun aku tak pernah melihatnya mendampingimu.” nada suara penuh sarkasmenya tak mampu membuat Shin takut. Dia tertawa ringan menanggapi pertanyaan dan pernyataan Lee Han.

“Mendampingiku? Seperti yang dilakukan oleh pacarmu sekarang ini?” jawabnya sambil mengalihkan perhatiannya pada Yu Na yang berdiri tegang disamping Lee Han.

Wanita muda dalam usia pertengahan dua puluhnya ini terlihat menawan dalam balutan gaun hitam legamnya, rambutnya digelung terurai memperlihatkan pundaknya yang ramping dan seksi. Laki-laki manapun akan memperhatikan kulit mulus itu lebih dari sekedar melirik. Tubuhnya yang terbentuk sempurna akan menjadi fantasy laki-laki sehat lain saat berimajinasi dalam alam liar mereka. Namun itu tak berlaku untuk Shin, dia tak tertarik dengan itu semua.

Lee Han tak dapat menjawab, entah karena mereka memang berpacaran atau karena dia tak ingin menyakiti hati Yu Na dengan menyangkal hubungan mereka. Yu Na menjadi begitu posesif padanya, Yu Na tidak memberikannya waktu untuk memikirkan wanita lain, bahkan saat Lee Han sedang terpuruk memikirkan Soo Hyun karena tak juga menemukan keberadaannya.

Dan dalam pengaruh alkohol akhirnya Lee Han mencumbu tubuh Yu Na dan sejak saat itu dia menyerah pada nafsu laki-lakinya. Kini Yu Na dan dirinya telah tidur seranjang, namun perasaan bersalahnya pada Soo Hyun tak mampu ditepisnya, saat dia frustasi, Lee Han akan tidur di sofa dan menghiraukan Yu Na yang memohon padanya untuk kembali ke ranjang, mereka tak akan berbicara selama beberapa hari namun kemudian Lee Han akan kembali padanya saat Yu Na terisak diatas ranjangnya memikirkan Lee Han.

Mereka akan kembali berbaikan dan memadu cinta dan melupakan pertengkaran mereka yang lalu. Saat ini Shin tak perlu khawatir Lee Han sanggup merebut Soo Hyun darinya. Hanya dengan sedikit menggertak laki-laki itu, nyalinya akan ciut dan tak berani mendekati Soo Hyun karena merasa dirinya tak pantas lagi bagi wanita itu. Shin tahu perkiraannya benar, Lee Han telah tidur dengan wanita disampingnya. Diapun berlalu dengan tawa penuh kemenangan, meninggalkan Lee Han mengatupkan rahangnya dengan tatapan penuh kebencian.

~~~~

Soo Hyun sedang membantu kakak iparnya membuat roti dan jajanan untuk teman minum kopi ayah mereka dan para pengawal yang menjaga rumah itu sepanjang hari. Awalnya Soo Hyun bertanya-tanya mengapa rumah mereka perlu dijaga oleh sedemikian banyak pengawal, tapi setelah mendengar penjelasan kakak iparnya mengenai resiko Direktur Shin sebagai seorang pengusaha yang memiliki banyak saingan, maka dia perlu menyewa pengawal-pengawal itu untuk melindungi keluarganya. Soo Hyun pun manggut-manggut mengerti.

Setelah menyelesaikan tugasnya yang tak seberapa, Soo Hyun kembali ke kamarnya dan meminta untuk ditinggalkan sendirian tanpa pelayan. Biasanya dua orang pelayan akan membantunya naik ke atas ranjang untuk beristirahat, namun kali ini Soo Hyun memilih untuk duduk memandang keluar jendela, menghirup udara pedesaan yang menyegarkan.

Terpikir dalam benaknya bagaimana Soo Hyun ingin bisa berjalan lagi, dia ingin menjadi seorang istri yang berguna bagi suaminya. Soo Hyun menyadari bagaimana tersiksanya Direktur Shin berada di sampingnya tanpa tahu bagaimana harus melepaskan frustasi  gairahnya yang menumpuk.

Terkadang Soo Hyun ingin memberanikan dirinya bertanya, bila Direktur Shin ingin melakukannya dengannya, karena Soo Hyun sangat ingin membahagiakan suaminya, dia bersedia melayani Direktur Shin meskipun hatinya sedih karena harus berbaring diam seperti es tanpa sanggup membantu suaminya dalam percintaan mereka.

Soo Hyun akhirnya membulatkan tekadnya untuk belajar berjalan lagi diam-diam. Dia tidak ingin memberitahu siapapun dirumah itu, Soo Hyun takut bila dia diketahui belajar berdiri, Direktur Shin akan memarahinya lagi karena pernah suaminya itu terlihat cukup marah saat dia mengatakan ingin berjalan lagi. Direktur Shin menekankan dirinya tidak keberatan memiliki istri yang cacat seumur hidupnya.

Kaki Soo Hyun bukan mati rasa, dia dapat merasakan gatal, ngilu dan perih bila tak sengaja terantuk meja saat menggerakkan kursi rodanya melintasi koridor rumah yang sempit. Dia pun mencoba peruntungannya. Untuk langkah awal Soo Hyun belajar menggerakkan jari-jari kakinya, butuh waktu yang cukup lama baginya untuk dapat menggerakkan jari kakinya bersamaan. Ngilu dan nyeri menusuk bila Soo Hyun memaksakan kekuatannya untuk berlatih, diapun sering kelelahan karena tenaganya terkuras untuk menahan rasa sakit di kakinya.

Setelah seminggu berada di Seoul, Direktur Shin memenuhi janjinya untuk kembali ke desa, untuk beberapa hari dia akan menghabiskan waktu bersama istrinya, bermesra-mesraan, bermain ke kebun dan memetik buah-buahan, melihat pemandangan laut dari atas tebing, menyapa masyarakat sekitar hingga pergi ke pasar bersama Direktur Shin, mereka hidup gembira tanpa ada beban apapun. Akhirnya Direktur Shin bisa  menekan sedikit rasa bersalahnya atas apa yang telah terjadi pada Soo Hyun, namun demikian Direktur Shin harus kembali lagi ke Seoul untuk pekerjaannya.


Seminggu sekali dia akan kembali ke desa dan tak terasa sudah empat bulan Direktur Shin tanpa lelah pulang-pergi dari Seoul ke desa hanya untuk bertemu dengan keluarganya. Dia tak pernah mengeluh kelelahan sedikitpun, saat keluar dari mobilnya dan melihat istrinya menunggu kedatangannya, semua kelelahan Direktur Shin menghilang tergantikan dengan senyum dan semangat yang terobati. Dia pun berharap kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya.  


21 comments:

  1. wahhh akhirnya ini lanjut ini yg gw bacamain culik ke rumah kan ? hehehe

    ReplyDelete
  2. waa lama tak muncul..
    akhrnya dilanjut juga.

    makash mb shin

    ReplyDelete
  3. abis baca keren shinnn ya sanggup menahan sekian lama :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. hanya maniak yg gak bs bertahan say... :kebanyakan sih di novel bule2: wkwkkwkkw

      Delete
  4. Sist... Awalnya aq gak ngeh , ini sambungan dr bab mana gt, oh gaK taunya... Aq baru ngeh setelahnya aku baca.. Aku baca terus hehe... Terasa lama bgt ya.. Ampek aq LP AMA bab Ini hihihi sorry

    and tengkyuuuu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha.... Masih panjang nih ceritanya... Lol :SH, pake DDF:

      Delete
    2. Log loh.. AYank Danof ada disini? Wow ... Aq kaget + suueennnnenngggg hehehe, peyuuukkkkkk kangennnn hehe

      Delete
  5. lupa jalan cerita >_< baca dulu dari bab 1 kali ya??? hehehehehe oh ya mbak shin, kalau ada inspirasi second dramanya (jadi request????)


    Thank u mbak shin *lope*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya gimana sist? Aku kurang ngerti. :Shin Haido, minjem akunnya Danof:

      Delete
  6. Akhirna.... setelah ditunggu2 sekian lama ada lanjutanna juga.......
    Senangna.....aku suka dengan drama yang ini ^_^
    Makasih Mba Shin (^_^)
    *kiss*

    ReplyDelete
  7. Cinta Shin menghalalkn segala cara..

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukankah begitu seharusnya cinta? wkkwkwkkw :lebay:

      Delete
  8. Td sempet inget2 crita yg mna, aahh sudah lama tak bersua dg dir.cin eh shin :d
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba cin, muah

    ReplyDelete
  9. Belum pernah bc yg ini ntar deh mulai bc dr awal, thanks mb Shin;-)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.