"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, April 19, 2013

Kau Selalu Di Hatiku - Chapter 6



Sudah pukul sepuluh malam ketika Novi terkantuk-kantuk dibelakang tubuh Kenny. Sudah hampir dekat dengan hotel ketika Novi mulai memejamkan matanya, lalu Kenny memegang tubuh gadis itu agar tidak terjatuh dari motor. Saat mereka telah sampaipun Kenny membujuk Novi untuk beristirahat sejenak di kamar, dan Novi tak bisa membantah karena memang setengah jiwanya masih berkeliaran di alam mimpi.

Tanpa protes Novi membiarkan Kenny membaringkannya di atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya. Kenny lalu mengecup dahi Novi sebelum membuka pintu teras dan duduk disana seorang diri, menghisap rokoknya dengan dada telanjang. Udara malam yang dingin cukup menyegarkan tubuhnya yang panas, panas karena gairah dan berdekatan dengan wanita yang dicintainya.


Senyum kecil ironis tersungging di bibir Kenny, sebelumnya saat jauh dari Novi dia merasa tak mampu menahan keinginannya untuk tidak menyentuh wanita ini. Namun saat mereka berdekatan, Kenny merasa memiliki kewajiban untuk menjaga cinta mereka agar tetap suci hingga di hari pernikahan mereka kelak. Dan Kenny bangga pada dirinya karena mampu menjaga kehormatan hubungan mereka, karena bagi Kenny hubungan mereka lebih dari sekedar cinta monyet pada anak muda.

Kenny sudah dua puluh tiga tahun saat ini dan dia sudah bukan remaja lagi yang masih ingin bersenang-senang mempermainkan perasaan wanita yang menjadi pacarnya. Bagi Kenny, berpacaran dengan Novi telah mempengaruhi hidupnya sehari-hari menjadi lebih berwarna, lebih bersemangat dan dia memiliki alasan baru untuk semakin rajin bekerja dan menatap masa depan lebih optimis.

Kenny tertidur di kursi sofa di samping ranjang, lampu telah dimatikan, hanya sebuah lampu meja yang menyala, bersinar remang-remang menyinari dada telanjang Kenny. Novi berjalan pelan ke kamar mandi, tak lama kemudian dia mendekati Kenny yang masih mendengkur halus dengan posisi yang nyaman. Novi tidak tega membangunkannya, dengan pelan dia mencium bibir Kenny lalu keluar dari kamar itu. Sesampainya Novi dirumahnya dia mengirim sebuah pesan singkat pada Kenny yang menyatakan dia pulang tanpa memberitahukannya karena Kenny terlihat nyenyak tertidur.

Pagi harinya Novi datang ke hotel, menemui Kenny di kolam renang, dia sedang berenang menyegarkan diri dan mengundang Novi untuk berenang bersamanya.

“Ayolah.. Nanti aku ajarin. Masak pacaran sama aku gak bisa renang? Di rumahku ada kolam renangnya lho, Nov. Nanti kalau kamu main ke Jakarta, kan bisa renang disana. Ayo...” bujuk Kenny dari dalam kolam.

Novi tertawa dan menggeleng, dia tidak membawa pakaian ganti dan menenggelamkan dirinya di dalam air ketinggian dua meter bukanlah ide yang baik. Novi tidak bisa berenang dan bujukan Kenny tak mempan untuknya kali ini.

“Gak ah, Ken.. Ntar aku tenggelem, kalau aku mati gimana?” tanya Novi bergidik. Dia menjauh dari pinggiran kolam agar Kenny tidak bisa menariknya ke dalam yang sudah Kenny coba lakukan sebelumnya.

“Yah, kok mati? Gak, lah. Kan ada aku disini yang megangin.. Mumpung nginep di hotel yang ada kolam renangnya, kan?” bujuk Kenny sambil terkekeh. Dia masih belum menyerah meskipun Novi telah duduk begitu jauh darinya.

Karena tak ingin pacarnya pergi darinya akhirnya Kenny mengalah dan naik ke atas mengeringkan tubuhnya. Mereka lalu duduk-duduk di kursi panjang yang terletak di samping kolam.

“Besok kamu libur, mau ngajak aku jalan-jalan kemana, Nov? Masih tiga hari ini aku di Bali. Mumpung ada tour guide gratis.” Kekehnya lagi. Kenny menyeruput kopi susu yang dipesannya dari restoran hotel sedang Novi menikmati milk shake miliknya dan seporsi Banana Finger with Ice Cream and Chocolate syrup.

“Kamu mau kemana, Ken? Aku sih nggak tahu banyak tempat wisata di Bali. Aku jarang jalan-jalan.” Novi meringis, merasa malu karena tak mengetahui tujuan wisata di daerahnya sendiri.

Dahi Kenny merengut, dia memikirkan kemana ingin menghabiskan waktunya bersama sang kekasih hati.

“Memangnya tempat wisata yang kamu tahu apa aja?” tanya Kenny kemudian.

Novi memiringkan wajahnya, berpikir dan mengingat nama-nama tujuan wisata yang diketahuinya.

“Hm.. Kebun raya.. Itu tempat yang paling sering aku kunjungi, terus.. Pura Tanah Lot, gak jauh kok dari sini. Atau kalau kamu mau ke pantai yang bagus bisa ke pantai Dream Land, atau pantai apa sih namanya itu...errr..? Atau bisa ke Bali Zoo Park, ke Sangeh, ehm.. Kintamani liat gunung, ehm.. ke Singaraja lihat air terjun, tapi jauh... kalau naik motor bisa sampai dua jam, itupun kalau tidak hujan. Lumayan beresiko sih, soalnya jalannya naik turun. Rada ngeri juga.” Novi memperlihatkan gigi-giginya yang putih, meminta maaf karena keterbatasan pengetahuannya mengenai tempat wisata menyenangkan di Bali.

Kenny hanya manggut-manggut pura-pura mengerti, sejujurnya dia tidak memiliki sedikitpun bayangan mengenai apa yang baru saja dikatakan Novi. Dia ikut menyeringai dan meminta Novi mengantarkannya ke tempat wisata yang tidak terlalu jauh dari hotel, karena dia tidak ingin Novi kelelahan.

“Ehmm.. Yang deket-deket aja, Nov. Oh, ya.. Aku juga pengen mampir ke pabrik kata-kata Joger, bajunya disana bagus-bagus ya katanya?” tanya Kenny. Kopinya sudah habis dan dia mulai menghisap rokoknya lagi setelah meminta izin pada Novi.

“Ehm.. Boleh, habis ini aja, gimana? Deket kok.. Jadi besok kan bisa fokus jalan-jalan ke Tanah Lot, atau Dream land. Itu sih yang deket dari sini.” Jawab Novi.

“Boleh.. Boleh.. Tapi kita makan dulu ya, makan pagi tadi gak cukup. Kamu juga belum makan siang, kan? Aku pengen makan nasi babi guling.” Seringai Kenny lebar. Dia sudah mendengar cukup banyak rekomendasi nama-nama rumah makan yang menawarkan salah satu penganan khas Bali ini, namun tak satupun bisa diingatnya.

“Oke, boleh. Nanti mampir ke rumah makan yang di Seminyak aja ya, Pak Malen, enak kok disana. Agak mahal aja sih, tapi rasanya gak mengecewakan. Banyak kok bule dan pelancong lokal juga makan disana.” Jawab Novi sebelum mereka berdua bangkit dan masuk ke dalam kamar Kenny.

Setelah makan siang yang lezat, mereka kemudian beralih ke pabrik kata-kata Joger yang terletak di kawasan jalan raya Kuta. Disana Kenny memilih beberapa pakaian dan membelikan Novi pakaian yang sama dengannya. Mereka mengenakan baju yang sama keesokan harinya ketika berjalan-jalan di pantai Pura Tanah lot.

“Katanya kalau sepasang kekasih jalan-jalan kesini, nanti mereka bisa putus ya, Nov?” tanya Kenny sambil lalu ketika mereka sedang duduk berdua menikmati es kelapa muda dan menunggu matahari terbenam di ufuk barat.

Novi menghentikan sendokannya pada isi kelapa muda utuh, mencoba mencari tahu bila dia pernah mendengar ungkapan seperti itu.

“Kata siapa, Ken? Aku kok gak tahu ya?” jawabnya sambil tertawa kecil, dia sungguh merasa bukan orang Bali kali ini karena mengetahui begitu sedikit mengenai asal-usul daerah kelahirannya.

Kenny ikut tertawa mengerti bahwa Novi sama sekali tidak tahu mengenai ungkapan itu, dia pun tak mempermasalahkannya. Mereka bergenggaman tangan sambil menyaksikan matahari menghilang di balik lautan. Tak lama kemudian mereka kembali ke hotel dan Novi pulang ke rumahnya. Malam harinya mereka lalu makan malam berdua sebelum melanjutkan obrolan yang tertunda.

Seminggu di Bali, Kenny habiskan hanya berbincang-bincang dengan Novi, dia tidak pernah bosan meskipun hanya seperti itu dengan pacarnya. Bersama dengan Novi, Kenny merasa senang dan gembira. Semua masalahnya tak pernah singgah sekejap pun, seolah dia mampu tertawa hanya dengan berada didekat gadis ini.

“Aku mencintaimu, Nov. Aku tunggu kedatanganmu di Jakarta dua bulan lagi. Aku akan merindukanmu.” Lalu Kenny mencium lembut bibir Novi sebelum melambaikan tangannya pada gadis itu. Kenny kembali ke Jakarta membawa sekantong kerinduan yang menggumpal dalam dadanya. Pesawatnya belum meninggalkan pulau ini pun Kenny telah merasa kehilangan, tak terasa matanya berkaca-kaca menyadari harus berpisah lagi dengan Novi. Kenny menghela nafasnya sebelum menyerahkan tiketnya pada petugas bandara.

Novi dengan pelan mengendarai motornya di jalanan sibuk Kuta, air matanya meleleh di pipi namun sebuah senyum dicobanya untuk ditampilkan. Sebesar apapun kerinduannya karena berpisah dengan Kenny akan terobati dua bulan lagi saat mereka bertemu kembali di Jakarta. Novi telah menunggu-nunggu hari itu, hari dimana mereka bisa bertemu lagi. Dan motornya pun membelah padatnya jalanan Legian menuju ke rumahnya.

Masa Kini..

Mami Liong sedang menyendok nasi ke atas piring untuk Papi Liong ketika Kenny baru saja pulang dari tempatnya bekerja, kantor pusat perusahaan milik keluarganya. Perusahaan keluarga Lee yang dibangun dari nol oleh Papi Liong, dibantu oleh Kenny semenjak usianya muda kini telah berhasil berkembang dengan pesat dan telah memiliki cabang-cabang hampir diseluruh kota besar di Indonesia. Mereka kini bergerak selain di bidang swalayan, toko bahan bangunan, bengkel mobil dan showroom, toko peralatan berat untuk pertanian dan beberapa perkebunan kelapa sawit dan kayu di Kalimantan.

Kenny bekerja dua belas jam sehari, dari pukul delapan pagi hingga delapan malam, terkadang dia belum pulang hingga pukul sebelas malam bila banyak pekerjaan yang belum terselesaikan. Papi Liong telah menyerahkan segala urusan perusahaan padanya, dia mempercayai Kenny selain karena dia adalah anak kandungnya, Kenny juga memiliki keahlian yang diperlukan untuk mengatur perusahaan milik keluarga mereka dengan baik.

“Baru pulang, Ken? Ayo makan dulu.” Panggil Mami Liong pada Kenny. Kenny baru saja meletakkan beberapa file yang dibawanya dari kantor, dia ingin mengerjakan beberapa file itu dirumah sebelum tidur.

Kenny menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang makan, Mami Liong kemudian menyiapkan nasi untuk anaknya itu. Kenny mencium pipi kedua orang tuanya sebelum duduk di sisi kanan ayahnya, sementara Mami Liong duduk di sisi kiri Papi Liong.

“Jangan bekerja terlalu keras, Ken. Nanti kamu kecapekan, sakit pula. Buat apa duit banyak kalau kamu tidak bisa nikmatin.” Sela Mami Liong setelah duduk di kursinya.

Kenny hanya mengangguk, dia sedang asyik menikmati masakan buatan ibunya dan sedang tak ingin mendebat wanita itu. Pekerjaan bagi Kenny adalah satu-satunya cara untuk mengalihkan pikirannya dari perbuatan-perbuatan negatif yang mungkin dilakukannya bila sedang gundah. Enam tahun belakangan hampir tiada hari tanpa diwarnai kegundahan hati Kenny. Penyesalannya tiada habis dan semakin menggunung seiring waktu berjalan.

“Iya, Mi. Kan kalau aku cuti juga ngambilnya panjang-panjang, jadi sebanding lah sama capeknya.” Jawab Kenny santai. Dia menyendok sesuap nasi lagi ke mulutnya.

Mami Liong kemudian menyenggol tubuh suaminya yang sedang menyuap makanan ke mulut. Papi Liong terlihat kesal namun merengut setelah melihat ekspresi wajah istrinya yang menyeramkan. Mami Liong kemudian menggerakkan bibirnya, mengisyaratkan pada Papi Liong agar melakukan apa yang dia suruh.

Papi Liong mengelap bibirnya dengan sapu tangan setelah meminum air putih, dia membersihkan tenggorokannya dan memandang wajah Kenny yang kebingungan dengan perubahan sikap ayahnya.

“Ehem.. Ken. Papi mau sambil ngobrol ya, Papi ada rencana buka cabang di Bali. Gimana menurutmu?” tanya Papi Liong pada Kenny.

Dahi Kenny berkerut, dia tidak tahu bila ayahnya tertarik untuk membuka cabang perusahaan mereka disana. Kepalanya kemudian berpikir usaha apa yang cocok untuk dibangun di provinsi dengan pendapatan terbesar yang diperoleh dari pariwisata.

“Memang mau buka usaha apa Pi disana?” tanya Kenny bingung.

“Ya, apalah. Kamu yang mikir donk, masak Papi lagi yang mikir, kan sudah kamu yang mimpin perusahaan. Modal juga udah ada, tenaga kerja tinggal di cari, bawa aja yang di Jakarta atau kota lain yang sudah pengalaman buat mimpin disana. Untuk awalnya kan kamu bisa tinggal dulu disana beberapa lama sampai bisnis membaik dan memperlihatkan hasil.” Jawab Papi Liong enteng. Istrinya memuji kehebatan suaminya berakting.

“Tapi, Pi, pekerjaanku di Jakarta lagi banyak banget. Aku gak mungkin ngurus cabang baru, boro-boro di Bali, yang deket di Bandung aja jarang aku kunjungin. Lagipula kalau sudah ada yang mimpin disana ngapain aku yang harus terjun? Kan dari sini bisa ngatur juga, Pi.” Protes Kenny. Selain kenyataan pekerjaannya memang menumpuk, Kenny enggan berada di Bali karena tempat itu menyisakan begitu banyak kenangan manis yang membuatnya sedih, Kenny tak sanggup berlama-lama disana dengan kenyataan bahwa dia tidak mungkin bertemu dengan wanita itu lagi, atau mungkin?

Kenny berpikir untuk mencari wanitanya, namun hati nuraninya ketakutan bila wanita itu tak akan mau memaafkannya. Kenny terlalu takut menghadapi penolakan wanita itu, meski telah enam tahun sudah kejadian itu terjadi.

“Pokoknya Papi gak mau tahu, minggu depan kamu harus sudah nyiapin pembangunan cabang baru di Bali, Denpasar tepatnya. Sekalian buat rumah lah disana, jadi kalau kita liburan gak usah nginep di hotel lagi. Rumah yang bagus, besar, isi kolam renang, taman bermain anak-anak. Ehm.. siapa tahu Kristin mampir nanti kan dia juga punya anak, itu kalau kamu belum mau punya anak.” Lanjut Papi Liong. Dia bertekad harus berhasil membujuk Kenny untuk pergi ke Bali, karena bila tidak Mami Liong akan merecokinya semalaman hingga seminggu ke depan.


Kenny menghela nafasnya, topik yang tidak ingin dibahasnya akhirnya dikeluarkan oleh ayahnya. Papi Liong jarang sekali menyinggung masalah Kenny dan anak yang bisa dia berikan pada keluarganya, namun saat ayahnya telah bersabda, maka Kenny tak mungkin melawan sejauh dia tidak dirugikan. Maka Kenny pun menelphone beberapa orang agar segera menjalankan rencana bisnis ayahnya. Minggu depan dia akan terbang kembali ke Bali, memulai usaha baru mereka, sebuah travel agent dan showroom mobil import dari Eropa. 


22 comments:

  1. wah kenny bkal tinggal dibali.
    makin ok nh.
    thanks mb shin

    ReplyDelete
  2. makin penasaraaaannnn.... kevin anak siapa? kenny bikin salah apa yang bikin novi sampe ngamuk?

    ReplyDelete
  3. Makasih cin... Sambil Tarik selimuuuttttt... Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah ngapain tuh pagi2 tarik selimut? huahauaa...

      Delete
  4. Mba shin thanks update nya. Duh makin nagih yah nih crt, bikin penasaran aja. Btw mba shin kangen david nih kpn bs ketemu david yah
    ^^

    ReplyDelete
  5. Kereeen bgt nih mami papi liong
    Hahaaa
    Kenny d bali, aseeeekk
    •⌣˚Ʈ♓ªƞƘ ♧ ƔoƱ˚⌣•‎​mb ciin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha asekkk.... sama2 cin... mwah

      Delete
  6. kenny aq ikut ya ke bali biar ktmu mba chin

    ReplyDelete
    Replies
    1. kkwkwkkwkw may.... nanti bulan madunya ke bali ya may...

      Delete
  7. yuhuuuu di bali boooo mantab dah noh ortunya si kenny wkwk
    mkasih mba shin....

    ReplyDelete
  8. hhi kasian kenny... mami liong emnag punya pengaruh kuat sama papi liong. dan papi liong berpengaruh kuat sama kenny...

    yah mba bersambung lagi flash backnya??? nanggung.... *ngerengek sama mba shin*

    ReplyDelete
  9. masih penasaran nih sama kesalahannya kenny sampe si novi jd marah bgt sama dia
    jangan2 kenny maksa novi ngelakuin yg iya2 nih makanya novi marah bgt
    mamanya kenny ttp kekeuh ya sama feelingnya smpe maksa2 papanya kenny buat nyuruh kenny bangun usaha di bali

    ReplyDelete
  10. Mba Ciiinnnnn,,Mba Ciiinnnnn... Prsaan mpe bab 6 Kenny sm Novi lumz tmpur2,,trz Kevin jadnya gmn?? *slh fokus*
    Smg bnr2 bs baekan Kenny sm Novi.. Kshn Kevin...hukz

    ReplyDelete
  11. Mami liong kocak..mudah"an kenny n novi cpt ktm

    ReplyDelete
  12. Penasaran dgn bab selanjutna Mba Shin.........
    Ga sabar menunggu pertemuan Kenny dan Novi lagi.....

    ReplyDelete
  13. Naluri seorang Ibu mmg tajam skali.. Smoga usaha mami Liong sukses mpertemukn Kenny dn Novi ..

    ReplyDelete
  14. tes 123 eemmm.... nyoba komen >.<
    kaaaaaaaaaaaaa aku galau gragara nunggu part 7 nya u,u penasaran ....

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.