"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, April 20, 2013

Tenth Drama - Chapter 22



Chae Moon dan sahabatnya Mu Ri baru saja keluar dari sekolahnya, mereka berbincang-bincang ketika seorang pria dewasa menyapa dan menanyakan mereka.

“Siapa di antara kalian bernama Kim Chae Moon?” tanya laki-laki itu. Dari penampilannya, dapat dilihat bahwa dia berasal dari kalangan berada dan sangat tidak sesuai dengan lingkungan sekolah di pemukiman pinggiran kota. Pakaiannya yang tersetrika licin, dasi warna merah gelap dengan bros emas di tengahnya, sapu tangan merah gelap juga terpasang pada saku jasnya yang berwarna hijau gelap.


“S..siapa anda, Ajusshi?” tanya Mu Ri mewakili temannya.

“Aku Lim Dae Jong, ada yang ingin kubicarakan dengan nona Kim Chae Moon, apakah anda bernama Kim Chae Moon?” tanyanya.

“A..apa yang anda inginkan?” tanya Mu Ri lagi, dia merasa kurang nyaman dengan laki-laki di depannya terlebih di belakang laki-laki ini ada seorang laki-laki berpakaian serba hitam dengan kacamata hitam terpasang, mengawasi sekeliling seolah dia sedang bertugas melindungi orang yang sangat penting.

“Aku Chae Moon, apa yang anda inginkan?” tanya Chae Moon akhirnya. Dia tidak pernah melihat laki-laki di depannya dan merasa terusik dengan keingin tahuannya mengenai urusan apa yang membawa laki-laki itu mencarinya.

Lim Dae Jong memicingkan matanya dan mengamati Chae Moon seperti pelanggan sedang mengamati barang antik yang akan ditaksirnya di pelelangan, tatapan matanya yang mengejek memunculkan kemarahan dalam hati Chae Moon.

“Aku ingin berbicara denganmu, empat mata.” Kata Dae Jong tanpa kompromi.

Mu Ri maju ke depan sahabatnya, dia tidak ingin Chae Moon seenaknya dibawa pergi oleh orang asing tak dikenal yang mungkin saja ingin menculik temannya.

“Tidak bisa. Kami tidak mengenal anda, bagaimana bila anda orang jahat?!” tantang Mu Ri.

Lim Dae Jong mengelus belakang lehernya, dengan enggan mengeluarkan dompetnya dan memberikan sebuah kartu nama pada gadis itu.

“Ini kartu namaku, bila temanmu ini tidak kembali hingga malam ini, laporkan saja ke polisi agar mereka menangkapku.” Jawabnya sembari menarik tangan Chae Moon agar masuk ke dalam mobil miliknya.

Laki-laki yang berpakaian hitam dibelakangnya kemudian membukakan pintu untuk mereka sebelum masuk dan duduk di kursi depan, di samping pengemudi.

“Lepaskan, aku bisa jalan sendiri.” Ketus Chae Moon ketika Dae Jong menarik lengannya dengan tergesa-gesa. Laki-laki itu mengetatkan rahangnya, seolah apa yang dia lakukan siang ini diluar keinginannya dan dia sangat di sulitkan dengan hal ini.

Mereka tiba di sebuah cafe mewah di tengah kota, Dae Jong memesan minuman sementara Chae Moon tidak ingin memesan apapun, akhirnya Dae Jong memesankan sepoci teh untuknya.

“Langsung katakan apa yang anda inginkan, Lim Dae Jong ajusshi.” Kata Chae Moon tak sabar. Dia merasa tidak nyaman berada di samping laki-laki yang selalu menatapnya dengan pandangan menilai. Seolah membandingkannya dengan barang-barang di dalam mall.

Dae Jong menyesap kopinya sebelum menjawab permintaan Chae Moon.

“Apakah kamu tahu laki-laki bernama Park Jung Nam?” tanya Dae Jong tanpa basa-basi. Dia lalu mengeluarkan beberapa buah foto dan menyodorkannya ke arah Chae Moon.

“Apa ini?” tanya Chae Moon kebingungan.

“Lihatlah, maka kamu akan tahu.” Katanya lagi. Dia menghisap cerutunya tanpa menanyakan keberatan Chae Moon. Dae Jong sedang mengawasi reaksi Chae Moon saat melihat foto di tangannya.

Tangan Chae Moon bergetar, dia lalu meletakkan foto-foto itu kembali di atas meja. Debar jantungnya semakin memburu, dia memikirkan sebuah kemungkinan namun tak ingin cepat-cepat berasumsi, meskipun dia tahu kemungkinan itu sangat besar.

“Aku yakin kamu adalah orang pintar, Nona Chae Moon,” Dae Jong menghembuskan asapnya ke arah Chae Moon. “Atau... bisa kupanggil.. Butterfly... Kau Butterfly, kan?” sebuah seringai lebar terlihat di bibirnya.

“A..apa?? Bagaimana kamu bisa tahu?!” pekik Chae Moon terkejut.

Dae Jong tertawa terbahak-bahak penuh penghinaan. Matanya memang tak salah mengenali bekas pekerjanya.

“Klab malam tempat kamu bekerja terakhir adalah milikku, tak heran aku merasa seperti pernah melihatmu. Bahkan jauh dari sekedar melihat. Aku juga ingat pernah melihat tubuh telanjangmu saat melamar pekerjaan di klab, meski kamu tak tahu, karena aku melihat dari ruangan lain. Sejak saat itu aku memang sempat tertarik melihatmu, tapi sayang... Aku tahu... Kamu masih bau kencur dan herannya Park Jung Nam berengsek itu tidak menyadarinya. Dia bisa dipenjara bila polisi mengetahui dia telah meniduri seorang gadis dibawah umur.” Tawa Dae Jong tak berhenti sedikitpun. Dia sangat senang dapat mengetahui kelemahan Jung Nam, dia merasa berada di atas angin saat ini, dia memegang kartu truff yang akan dipakainya kelak, bila dia memerlukannya.

Chae Moon berdiri dan hendak pergi dari sana. Dia tidak ingin duduk diam dan mendengarkan Dae Jong melecehkan Jung Nam ataupun dirinya. Chae Moon ingin menampar mulut laki-laki di depannya namun dia yakin itu hanya akan memperburuk keadaan. Laki-laki di depannya ini mampu melakukan apapun untuk menghancurkan orang lain.

“Aku rasa aku tidak bersedia mengikutimu karena ingin mendengar hinaanmu padaku, Mr. Lim. Maka aku permisi.”

Chae Moon mengambil tas sekolahnya dan berlalu dari sana. Dae Jong mengisyaratkan pengawalnya untuk membawa kembali Chae Moon meskipun gadis itu meronta-ronta dan terpaksa duduk dengan patuh di depan Dae Jong.

“Aku belum selesai denganmu, Nona Butterfly...” cemoohnya lagi.

“Baiklah, kembali ke foto-foto itu. Aku rasa sedikitnya kamu pasti mengerti. Itu adalah foto dua tahun lalu, ketika pacarmu Park Jung Nam, laki-laki playboy dengan rekor wanita yang ditidurinya bahkan melebihi jumlah gunung yang ada di negara ini bersama dengan kekasihnya dan juga adalah ibu dari anaknya,” Dae Jong mengamati setiap ekspresi Chae Moon dan mendapati wajah itu pucat dan matanya menatap tanpa kedip ke arah depan, tanpa fokus pada suatu titik.

“Kamu mendengarkan? Ya... Park Jung Nam-mu itu telah punya anak, Miss Chae Moon... Dan kamu... Tidak punya sedikitpun kesempatan untuk memilikinya, karena mereka pasti akan menikah setelah Park Jung Nam mengetahui keberadaan anaknya. Dan dia telah mengetahuinya.

“Dia pasti akan membuangmu setelah ini, lihat saja kataku. Dia akan memilih anaknya daripada dirimu, seorang penari telanjang di club malam? Apakah kamu kira keluarganya akan menerimamu bila mereka mengetahui latar belakangmu? Kau sungguh bodoh berharap sesuatu dari laki-laki seperti itu. Kamu tidak bisa mempercayai playboy, Nona. Tidak ada playboy bertobat, mereka akan kembali lagi pada wanita yang mereka cintai. Kamu? Hanyalah selingan baginya, bukankah dia menyukai dan mendekatimu karena kamu adalah Butterfly?

“Apakah kamu kira dia bisa mencintaimu sebagai seorang... Kim Chae Moon? Gadis pelajar SMU yang biasa-biasa saja? Katakan padaku berapa kali dalam seminggu dia meminta untuk menyetubuhimu? Bila hampir setiap minggu, berarti dia hanya memanfaatkanmu, kamu harus tahu posisimu di hati seorang pria. Kamu memang bodoh dan naif.” Dae Jong menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa menjadi manusia paling buruk sedunia dengan mengatakan hal itu pada Chae Moon. Dia mengemban misi penting dan harus berhasil melakukannya.

“Apa maumu sebenarnya, Mr. Lim?” tanya Chae Moon dengan gigi bergemeretak menahan amarah.

“Simpel. Aku ingin kamu merebut kembali Park Jung Nam mu itu, jangan biarkan dia bersama dengan wanita itu atau anaknya. Dia tidak berhak, dia tidak pantas setelah dua tahun tidak perduli sama sekali tentang mereka.” Dae Jong menghisap cerutunya dengan nikmat, menghembuskan asap putih mengepul itu ke udara, berkali-kali, menikmati keheningan yang ditimbulkannya pada gadis di depannya. Bibirnya mencibir penuh hinaan.

“Dan apa tepatnya maksudmu?” tanya Chae Moon dengan bibir berdesis. Dia sudah cukup mendengar semuanya dan dia merasa hatinya kacau, dia tidak akan merasa lebih sakit lagi mendengar rencana busuk Lim Dae Jong untuknya.

“Gampang. Bila Park Jung Nam mencintaimu, maka dia akan mencarimu. Dan kita akan membuatnya yakin, siapa sebenarnya wanita yang dicintainya, tentunya dengan sedikit kesalah-pahaman yang akan membuatnya meninggalkan wanita itu. Karena wanita itu adalah milikku dan anak itu adalah anakku.”

Chae Moon dapat melihat tatapan penuh kebencian dalam mata Dae Jong, dia bingung entah dendam apa yang disimpannya untuk Jung Nam sehingga dia terlihat begitu membencinya.

“Jadilah kekasihku, kita akan membuat Park Jung Nam cemburu, dan berusaha mendapatkanmu lagi. Tapi.. Kamu harus berubah menjadi Butterlfy lagi, menjadi apa yang dia obsesikan sejak pertama. Bila kamu setuju, aku akan membagi rencanaku padamu, tapi bila tidak... maka ini perjumpaan kita untuk yang terakhir kalinya.

“Aku tidak akan memaksamu, itu tergantung seberapa besar kamu ingin mendapatkan pacarmu itu kembali. Kamu bisa menghubungiku di nomer telephone kartu yang kuberikan pada temanmu. Maka.. Sampai berjumpa lagi, Miss Butterfly...”

Dae Jong mendekatkan wajahnya ke telinga Chae Moon, membisikkan kata-kata yang membuat telinga gadis itu merah oleh kata-kata vulgar itu.

“Tenang, aku tidak akan menyetubuhimu bila kamu menjadi kekasihku, aku tidak tertarik dengan anak ingusan.” Bisiknya culas. Dae Jong tertawa terbahak-bahak lalu keluar dari cafe itu bersama pengawalnya, meninggalkan Chae Moon terhenyak mendengar kenyataan baru mengenai Jung Nam. Dia menyentuh foto-foto yang masih tergeletak di atas meja, foto sepasang anak manusia yang sedang bermesraan dan terlihat begitu bahagia bersama, foto mereka sedang berciuman dan bercengkerama. Beserta sebuah foto bayi mungil berusia satu tahun yang memiliki wajah menyerupai laki-laki yang begitu dicintainya.

“A..apa yang telah aku lakukan??” bisik Chae Moon pada dirinya sendiri. Tak terasa air mata pun menitik dan dia menangis terisak di cafe itu seorang diri. 


24 comments:

  1. Ga suka sm caranya lim sp tuh namanya, tendang dlu aah belagu sih
    Hahhaaaa
    •⌣˚Ʈ♓ªƞƘ ♧ ƔoƱ˚⌣•‎​ mb ciin :*

    ReplyDelete
  2. Ah kacau kacau kacau
    "Mondar mandir
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba cin

    ReplyDelete
  3. nah kan jadi bingung sekarang. Pengen jung nam sama siapa? Kasian sama mrk. Udah mba nikahin aja mrk bertiga *tetep kekeh poligami hha*
    errrrr dae jong rese *tendang pantat dae jong*

    ReplyDelete
  4. dae jo bwt mknan ikan hiu aja.
    Thanx mb chin

    ReplyDelete
  5. Cupcupcup..chae moon jgn nangis trus ya.."
    Maci maci mb shin.^^

    ReplyDelete
  6. mbak shin tega nian dirimu pernah menyarankan dae jong dgn cemumun.... Hiks3x


    ditunggu episode selanjutx mbak shin *mumu*

    ReplyDelete
  7. Kasihan chae moon, bingung pasti dia & dae jong kog caranya kaya gitu yach. Thanks mb shin;-)

    ReplyDelete
  8. Ini si dae jong rasanya pengen aku silet, trus kasi jeruk nipis ama garam...huh...kejam bgt, tau ga bisa main fair trus lewat jalan blkg...

    ReplyDelete
  9. dae jong jahat banget sich,,,,makasih mba shin,,,,,penasaran lanjutannya

    ReplyDelete
  10. akh nyesek aku bacanya kasian chae moon jung nam tega banget

    ReplyDelete
  11. kasihan chae moon, dia jadi korban dari semua masalah ini..
    hiks.. :'(

    ReplyDelete
  12. Ce mumun semangaddd,,makasih mba shin

    ReplyDelete
  13. jung nam... gembel !!!!!!!!!
    beneran ga tega liat chae moon digituin..... tp ga tega juga liat rossy dan anaknya sengsara.....

    ReplyDelete
  14. Aduh...aduh... Aduh...
    Mendadak galau...:(

    Makasih mb shin..

    ReplyDelete
  15. Aduh...aduh... Aduh...
    Mendadak galau...:(

    Makasih mb shin..

    ReplyDelete
  16. Lim Dae Jong hatinya kok kayak bau comberan ya... Busszzzuuuxxxxxx sekaleeeee... Huh aq gregetttaaannnn

    chae moon .... Ayo rebut jungnam !! Aq doain Dari xini hohoho

    THANKZ sist Shin ... :)

    ReplyDelete
  17. Cup..cup.. Chae Moon sabar ya. Lbh baik buat Dae Jong jatuh cinta jdi ga ada Ɣªήğ sakit hati.. Heheh.

    ReplyDelete
  18. konfliknya menarik.... Penasaran tingkat akut!!!! lanjutkan mba... aku padamulah

    ReplyDelete
  19. waduh makin rumit aja....thanks mbk cin :)

    ReplyDelete
  20. Yah cemong.. Kasian bgt sih.. :'(

    makasih mba sin

    ReplyDelete
  21. hadehhhhh ini apalagi yang dateng, si jojong.. mbak shiiiiinnnnn aku ngarep masih rossy -jungnam garis keras. titik.

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.