"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, April 11, 2013

To Love, To Be Loved By Arie Zzuant - Part 1



To Love, To Be Loved

Story by +Arie Zzuant  
edited by +Shin Haido 


Apa yang harus kuharapkan dari sebuah emosi bernama cinta ?

Cinta yang kupelajari dari banyak pasangan sekarang ini hanyalah sebuah symbol keegoisan yang mengatasnamakan cinta. Bukan cinta yang akan membuatmu melihat keindahan dari alunan melodi cinta yang romantis, bukan pula cinta yang akan memberimu kebebasan dan penghargaan serta menaikkan derajatmu setinggi-tingginya sebagai yang terkasih. Jika aku berada dalam golongan orang-orang egois yang menamai keegoisan mereka dengan cinta,  pantaskah aku menyebut diriku adalah sang pencinta ?

Aku hidup dengan landasan cinta, cinta kedua orang tua-ku, dilahirkan dengan lantunan cinta dari mereka, dibesarkan dengan landasan cinta mereka yang merengkuh jiwa ragaku dengan hangat, karena mencintai untuk dicintai, untuk tidak pernah lupa mempersembahkan kembali cinta yang telah diterima, juga untuk mengejar keindahan cinta dari separuh jiwa yang belum kutemui, diatas itu semua aku melihat, mencoba dan memahami, untuk tidak pernah berpaling dan melupakan kehangatan cinta yang sebenarnya.


Gimpo International Airport
          Seoul, South Korea.

*** Minhyuk POV ***
           
Kuperhatikan sekelilingku, melihat dengan seksama apakah ada yang menjemputku ditempat ini, aku baru saja tiba dari Seattle, kota terbesar di wilayah Timur Laut Pasifik Amerika Serikat. Terletak di negara bagian Washington. Aku menjadikan kota yang memiliki julukan The Emerald City ini sebagai tujuan di liburanku selama 3 hari. Aku bukan tipe orang yang suka menghabiskan waktu dengan sia-sia dengan tidur seharian atau hanya sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga. Misi dari Golden week-ku kali ini adalah minum secangkir kopi di tempat leluhur  kedai kopi Starbucks. Terdengar gila ? Ya! Hanya karena ingin minum secangkir kopi aku menghabiskan puluhan lembar Won-ku yang berharga di Negeri Mr & Mrs. Grey itu.
           
Sambil berjalan aku menyeruput kopi dingin dari cup yang kupegang, dan tentu saja ini dari Starbucks di Seattle. Tanpa bisa kuhindari barang bawaanku terjatuh ke lantai dan tetesan – tetesan kopi yang berharga itu membasahi T-shirt putihku, aku menatap geram kearah orang yang dengan lancangnya telah menubrukku.
           
Mataku menangkap sosok gadis berambut kecoklatan memegang cup kopi yang sama denganku. Aroma tubuhnya mengusik indra penciumanku, tercium sangat familiar. Seperti cream yang sering kutambahkan ke dalam kopiku. Sejenak aku lupa bahwa aku marah karena gadis ini.
           
“Maaf, aku harus segera berada di Samsung Medical Center secepatnya, kopi itu akan kuganti, kalau kau tidak keberatan.” ucap gadis itu mengulurkan tangannya memberikanku cup kopi yang ditangan kanannya. Aku mengerutkan alisku tanpa kusadari aku telah menerima cup kopi itu dengan bodohnya. Belum sempat aku mengeluarkan amarahku yang baru saja kembali, gadis itu telah menghilang. Meninggalkan aroma manis yang mengusik hidungku. Sial.
           
“Ma Bro, bagaimana liburanmu?” Ji Yoon datang  sambil memukul pundakku. Aku mendengus dan menatapnya dengan kobaran api yang menjadi background-nya.
           
Setibanya di komplek rumahku yang berada di kawasan Apgujeong aku melihat kerumunan wartawan dari berbagai stasiun Tv. Seolah mengerti pikiranku Jiyoon menjelaskan bahwa Kakek Cha yang di sebelah rumahku telah wafat.
           
Mendengar namanya aku ingat beberapa belas tahun yang lalu aku pernah merebut kado ulang tahun cucu perempuannya. Hari itu hari ulang tahunku yang ke-8. Ayahku sedang berada di Kanada karena itu dia hanya mengirimiku kado sebagai penebus kesalahannya. Saat itu aku begitu bahagia karena orang dari jasa pengiriman paket kilat internasional masuk dan membawa bungkusan paket yang kupikir itu adalah kado-ku. Tanpa basa basi aku langsung membuka paket itu dan terheran-heran kenapa Ayah memberiku kado pakaian anak perempuan dan sebuah boneka Teddy bear berwarna biru. Aku kecewa dan membuang boneka itu ketanah, jelas saja boneka mungil itu jadi penuh lumpur.

“Seri…!! Seri’ya…”

Aku menoleh ke arah suara berat seorang pria tua memanggil cucu perempuannya yang berlari kearah rumahku yang kebetulan hanya di batasi sebuah hamparan bunga warna warni. Gadis kecil itu berlari ke arahku seperti ingin mengatakan sesuatu. Kemudian matanya melihat ke arah bungkusan yang sudah kuhancurkan. Lalu dia meraih boneka kecil yang penuh lumpur itu, aku ingat matanya saat itu memerah, dia menahan air matanya.

***

Setelah istirahat sejenak aku meraih ransel-ku untuk mengambil kamera digitalku, berniat memberikan foto-foto dari tempat yang kudatangi di Seattle pada Jiyoon, tapi ini bukan tasku. Aku membongkar isinya sebuah dompet, notes, visa, kamera, ponsel dan pakaian dalam wanita!
           
“Minhyuk’ah…” Jiyoon membuka pintu kamarku dan mendapatiku tengah ternga-nga melihat benda yang berada di tanganku. Jiyoon menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal menurutku, wajahku memerah, aku malu setengah mati. Didapati oleh kakak sepupuku tengah memegang barang yang sebelumnya hanya kulihat dalam majalah-majalah.
           
“Jadi selama di Seattle kau membeli benda itu?” dengan sangat jelas aku mendengar suara penuh kegelian dari ucapan Jiyoon.
           
“Sepertinya tasku tertukar.” ucapku, menyadari kebodohanku.
           
Kubuka dompet yang ada dalam tas itu, sejumlah uang dollar, kartu identitas penduduk Seattle, kartu mahasiswa Universitas Washington, dan beberapa kartu lainnya. Aku menarik nafasku setelah memastikan pemilik tas ini, seorang gadis keturunan Korea yang berkewarganegaraan Amerika. Gadis yang menumbrukku di bandara tadi, Sharon White.
           
Jiyoon membawaku secangkir kopi, tadinya kami akan melihat-lihat kota Seattle yang kuabadikan dalam kameraku, kusesap kopi hangat itu sambil berjalan kearah jendela kamarku yang besar, ya mungkin ini terlihat lebih mirip dengan pintu.
           
“Sharon…” aku menoleh kearah suara wanita yang tengah memanggil seorang gadis yang sedang berjalan menjauhinya.
           
“Sharon!!!” wanita setengah baya itu berteriak, kurasa dia kesal gadis itu sama sekali tidak menghiraukannya.
           
“Cha Seri!!!” langkah gadis itu terhenti, sepertinya dia terkejut mendengar teriakan wanita itu.
           
“My name is Sharon White, ok!” Gadis itu berteriak dalam bahasa Inggris dengan aksen Amerikanya. Dan aku jamin pemilik tas itu dia, dan tas yang sedang dipegangnya itu adalah tasku, baju yang dikenakannya masih sama seperti saat di bandara tadi kurasa dia belum menyadarinya. Wanita itu mendekat kearah gadis itu.
           
“Kau terlahir sebagai seorang Cha, kau tahu itu? Kau Cha Seri”
           
“Whatever!” seru gadis itu, alisku berkerut menyadari kami punya satu kesamaan, aku tersenyum dan Jiyoon menyikut lenganku. Lalu Jiyoon mengalihkan pandangannya  kearah suara dari 2 wanita diluar sana.
           
“O! Gadis Amerika!” ujarnya takjub menyadari pemilik dari kartu identitas yang dipegangnya.
           
“Sttt.” aku mengacungkan telunjukku di tengah bibirku dan melanjutkan untuk mencuri dengar pembicaraan kedua orang itu. Entah sejak kapan aku peduli dengan urusan orang lain. Mungkin karena gadis dari Seattle ini lahir di hari yang sama denganku. Oh dear!
           
“Tidak bisakah kau tinggal lebih lama? Keluarga kita masih berkabung.” wanita separuh baya itu setengah memohon. Gadis itu mendengus, lalu memalingkan wajahnya dan akhirnya dia menemukanku mencuri percakapannya, mata kami bertemu. Matanya menahan tangis.
           
“Aku akan pulang ke Amerika.” Ucap gadis itu, matanya masih menatap sosokku. Dan kemudian dia beranjak.

“Seri’ya… Cha Seri…” wanita separuh baya itu berusaha mengejarnya, tapi tetap saja gadis itu melanjutkan langkah kakinya dengan terburu-buru tanpa menghiraukan panggilan yang memanggil namanya, hingga wanita itu terjatuh. Spontan aku menghampiri wanita itu dan membantunya berdiri.

Gomaptta.” ucapnya, aku hanya tersenyum sebagai jawaban. Dan wanita itu masuk kedalam rumah duka yang terlihat masih ramai oleh pelayat.

Aku menggaruk belakang telingaku, geli dengan pikiranku sendiri yang entah kenapa aku merasa sangat ingin tau tentang gadis itu.

Perlahan tetesan air hujan mulai berjatuhan menyapa bumi, aroma saat hujan tercium menusuk hidungku, aroma tanah yang tajam.

« Hansungan feeli wasseo bon sungan ttak geollyeosseo, Eotteokhae nan eotteokhae? [In just one moment, I got the feeling. The moment I saw you, I was hooked, apa yang harus kulakukan?] Sumok deurama heunhadi heunhan juingongcheoreom Ppeonppeonhi dagagasseo [Sama seperti tipikal peran utama dalam sebuah drama] Geubi dalla namdalla Mwonga dalla,  neon dalla, taega dalla, Joahandda [Ada sesuatu yang berbeda dari dirimu, kau berberbeda, hawa disekelilingmu berbeda, dan aku menyukainya] »

Apgujeongstreet, Gangnam-gu
Seoul, South Korea

Jutaan kubik air langit jatuh ke permukaan bumi, sebelum aku sibuk dengan pekerjaanku yang sangat menyita waktuku aku memilih menghabiskan malamku untuk berjalan dibawah hujan di jalanan Apgujeong yang dipenuhi lampu warna-warni. Suara hujan dapat mengajak jiwaku untuk berada dalam kebahagiaan, seperti ketika aku  menyesapi kopi-ku.

Ponselku berdering, sebuah nomor dari telpon umum.

“Hello” sapa suara disebrang sana, kutebak, ini adalah suara gadis Amerika itu.

Ne, Yeoboseyo…” balasku, hening… hanya terdengar suara hujan.

“Dengan siapa aku berbicara?” ucapku lagi, masih saja hening dan kemudian terdengar suara tarikan nafas, kemudian gadis itu berkata “Mr. Lee?” alisku terangkat gadis ini terdengar sangat kikuk.

“Yup, ada yang bisa kubantu?”

“Errr, entah bagaimana bisa tasmu ada padaku, dan aku kehilangan tasku, dan aku akan mengembalikan tasmu, jadi aku menghubungimu.” ucapnya setelah berpikir sejenak.

Rasanya tawaku hampir saja berhamburan, bahasa dan tutur kata gadis ini terdengar aneh sekali. Mungkin karena terlalu lama di Amerika dia jadi kehilangan logat Koreanya, bisa jadi.

“Kau ada dimana biar aku yang kesana untuk mengambilnya.” tawarku.

“Entahlah, sepertinya aku tersesat.” gumamnya. Gadis ini benar-benar membuatku geli.

“Bisakah kau memberiku petunjuk? Seperti nama tempat atau apapun?” tanyaku yang mulai khawatir, bagaimana tidak, aku berani jamin gadis itu tidak memiliki uang yang cukup untuk berkeliaran di Seoul.

“Aku di telpon  umum dekat pemberhentian bus.” ucapnya ragu.

“Lebih detail…” ucapku sambil melihat-lihat sekitarku.

“Hyundai Department Store…” gumamnya dan telponnya terputus. Aku juga berada ditempat yang sama. Ku pertajam pandanganku mencari sosok gadis berambut coklat. Hujan makin deras, baju dan sepatuku basah.

Kudengar suara seorang gadis mengumpat dengan aksen Amerika dia berteriak pada laki-laki berbaju hitam, dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu-lalang meskipun begitu tidak ada satu orang pun yang berniat membantunya, walau sekedar bertanya apa yang terjadi.

Kulihat seorang wanita keluar dari sebuah mobil, wanita yang kulihat tadi siang. Keluarga Kakek Cha yang baru saja wafat. Wanita itu ingin meraih tangan gadis dihadapannya, tatapannya memohon, tapi wajah gadis itu mengeras dan menepis tangan wanita itu. Aku mendekat sambil memperhatikan apa yang terjadi.

Tiba-tiba wanita itu berlutut memeluk kaki Sharon, menangis disana, rasanya aku seperti menonton drama, mereka semakin menarik perhatian pengguna jalan. Aku makin mendekat, gadis itu hanya terdiam seperti patung wajahnya dingin. Tapi matanya merah, masih menahan airmatanya. Gadis yang rumit.

“God!!” teriak gadis itu, wanita yang menangis di kakinya terjatuh. Dengan sigap pria berbaju hitam tadi membopongnya masuk kedalam mobil dan membawanya pergi. Aku berlari mendekati gadis itu, matanya melebar, kali ini airmatanya benar-benar terjatuh. Tubuhnya bergetar. Dia terguncang.

“Are you Ok?” tanyaku hati-hati. Dia melihatku sejenak dan kemudian terjatuh didadaku. Dia tidak sadarkan diri. Ohh dear! What should I do?

La Casa Hotel’s,
Apgujeong, Gangnam-gu
Seoul, South Korea


Laki-laki gila, mungkin itu kata yang cocok untukku dengan apa yang terjadi saat ini, setelah membaringkan tubuh gadis itu, membersihkan tubuhnya, menggantikan pakaiannya yang basah, sekarang aku hanya dapat mengutuk diriku sendiri, kenapa aku tidak membawanya kerumah sakit? Dan kenapa pula sekarang aku terjebak di kamar hotel dengan gadis ini?

Kuhangatkan diriku dengan secangkir kopi instan yang tersedia di mini bar kamar ini, asapnya menggepul seirama dengan nafasku, aku berusaha menjernihkan pikiranku yang  sedikit ekstrim dengan aroma kopi yang hangat, tapi setelah beberapa menit pikiran itu masih saja mengusikku. Apa yang akan dipikirkan orang jika mendapatkan aku yang bertelanjang dada dan hanya memakai handuk dengan seorang gadis yang hanya berbalut selimut di dalam kamar hotel?

Menatap wajah gadis ini dalam tidurnya membuat pikiranku menjadi liar, mungkin setan sekarang sedang bersorak dengan riangnya karena jari-jariku tengah menyusuri bibir lembut gadis ini, hingga gadis itu mengerang. Jantungku berdebar dan pikiran liarku makin berfantasi nakal. Oh dear!

«Oneul bam yeogi neowa danduri[ Malam ini, disini, hanya kita berdua ] I like it, Something’s different about you dear, the air around you is different. oh Play, Don’t break Dear… Step dirty beat, trust your body to the rhythm. Groove it!I will meet you outside once more. Get it!  From your head to your toes, you are hot Honey, just us two. Follow me, inside, outside, I’m the center of all hot issues. Again tonight, my mouth can’t stay still dear… So I can make you lose your mind too. Your level is different, it’s different honey, wow !!»

*** Sharon POV ***

Oh my God!! Kutatap wajah laki-laki yang tengah tertidur lelap disampingku, menggerakkan tubuhku perlahan agar tidak mengusik tidurnya, mencoba mencerna apa yang terjadi disini? Setelah  melewati hampir seluruh hidupku di Seattle, negara barat yang pergaulannya sangat bebas, aku masih memiliki perawanku, tapi di negara timur yang kupikir pergaulannya belum sebebas di barat, disini, di kamar hotel ini bersama seorang laki-laki yang sama sekali belum kukenal aku kehilangan hal itu. Menggelikan! Setidaknya laki-laki ini berhasil membangunkan sesuatu yang panas dalam diriku yang tertidur pulas. Lee Minhyuk, nama dan tubuh yang bagus.

Lampu-lampu dari gedung pencakar langit tergantikan oleh sinar matahari pagi yang mengintip malu-malu, kuseduh kopi instan dari minibar disudut kamar ini, kemudian menyilangkan kakiku duduk menghadap ke matahari terbit dan laki-laki tampan yang sedang tertidur. Kuhirup aroma kopi dari cangkir sebelum aku meminumnya, rasanya berbeda dengan kopi yang biasa kuminum di Starbucks.

Laki-laki itu meraba-raba tempat tidur yang sudah lama kutinggali, matanya berkeliling mencari keberadaanku dan mendapatiku dengan secangkir kopi pagi hari.

Good morning, Mr. Lee.” sapaku sedatar mungkin.

“Hey, Good morning.” balasnya, kuselami ekspresinya yang terlihat gugup. Aku bukan tipe orang yang mudah mendapatkan topic pembicaraan, sehingga suasana kikuk menggelayut malas diantara kami. Kurasa dia juga merasakan kegelisahan yang sama denganku, melihat ketidaknyamanannya sekarang.

“Soal tadi malam…” mata kami bertemu dalam keheranan, kami mengeluarkan kata-kata yang sama, oh My, apa ini? Dia tertawa dan aku mengangkat bahuku dan tersenyum.

“Secangkir kopi?” Tawarku. Dia mengangguk menerima tawaranku.

Waktu berlalu dengan damai disekitarku, kehadirannya sama sekali tidak mengganggu, dia begitu tenang, asumsiku dia memiliki kepribadian yang mirip denganku, sejauh ini kami dapat mengisi waktu dengan obrolan ringan, masing-masing dari kami benar-benar penjunjung tinggi soal urusan pribadi, menyukai kebebasan, dan memiliki banyak kebiasaan yang bertolak belakang dengan kebanyakan orang.

Aku dan dia sama-sama tidak mengungkit tentang apa yang terjadi tadi malam, dengan sendirinya membiarkan itu menjadi sepenggal cerita pendek yang manis di malam saat hujan turun di Apgujeong. Malam yang membuatku merasakan emosi bernama cinta untuk pertama kalinya.

“Bisakah kau berhenti memanggilku dengan nama keluargaku, Miss. White?” tanyanya membuatku terkekeh.

“Kalau begitu seharusnya kau berhenti juga memanggilku begitu.” dia mengangkat bahunya.

“Cha Seri.” ucapnya.

Cangkir kopi ditanganku terjatuh, mendengar nama itu dari mulutnya perasaanku kacau, aku mendengus kesal dan dia menggigit bibirnya menyadari ketidak sukaanku pada ucapannya.

“Kau cukup memanggilku dengan nama Sharon.” ucapku datar dan beranjak dari tempat dudukku. Dia mengikutiku “Sepertinya aku melakukan kesalahan, bagaimana kalau kita berkenalan secara resmi?” dia tersenyum tepat didepanku.

Dia mengulurkan tangannya dan berkata “Kenalkan, Aku Lee Minhyuk.” aku menyambut tangannya dan menjawab “Sharon white.”

“Kau boleh memanggilku Minhyuk, honey, baby, darling atau apa saja Sharon.” dia mengedipkan sebelah matanya padaku membuatku menarik sudut bibirku untuk tersenyum geli.

“Ini perkenalan yang aneh setelah…” kugantungkan kata-kataku dan melihat ke arah tempat tidur kemudian menggigit bibirku. Dia mengerang membuatku bersemu merah.

Banpo Bridge, Han River.
Seoul, South Korea


Aku mengagumi karya seni yang luar biasa didepanku saat ini, perpaduan air mancur yang dikombinasi dengan lighting warna-warni serta musik yang melantun merdu. Ditemani kopi hangat dan dirinya, ini adalah musim semi terbaik dalam hidupku.Aku beruntung memutuskan untuk terbang ke Seoul, mengalami tabrakan yang tidak disengaja dengannya di bandara, bertemu dengannya lagi di Apgujeong, di jalanan Apgujeong yang ramai saat hujan dan malam ini di  depan jembatan Banpo yang indah.Dia tersenyum dan merangkul pundakku, mengajakku bersama menikmati indahnya karya seni yang tengah mempertunjukkan kemegahannya.

Aku benar-benar lupa pada masalahku, aku sejenak melupakan tujuan utamaku untuk menginjakkan kakiku lagi di Negara ini, Negara yang memiliki kenangan buruk untukku. Tadi siang Minhyuk pulang kerumah orang tuanya, untuk mengganti pakaian dan mengambil tas milikku yang tertukar dengannya. Dan menemuiku lagi dikamar hotel itu, tadinya aku disini hanya untuk acara pemakaman Kakek dan setelah itu kembali ke Amerika, dan kembali meninggalkan kenangan-kenangan burukku di Negara ini lagi. Tapi setelah  bertemu dengannya aku bahkan tidak berani memikirkan bahwa aku harus meninggalkan Negara ini sebelum aku kehilangan kebebasanku.

Dan sekarang disinilah aku, menikmati waktu bersama dirinya yang memiliki banyak kesamaan denganku. Tanpa perlu waktu yang lama, tanpa perlu kata yang indah untuk aku mencintai dan dicintai olehnya.


*** Minhyuk POV ***

Kurasa aku dan dia menikmati dan merasakan keadaan saat ini, tanpa perlu kata-kata sebagai penjelasan kami hanya membutuhkan rasa saling percaya karena kami merasakan emosi yang bernama cinta. Ya Cinta. Kata-kata yang menggambarkan harmoni emosi kami saat ini.

Karena ku tahu Sharon hampir tidak pernah pulang ke Korea, jadi aku mengajaknya berkeliling Seoul, setelah melewati 1 malam hotel La Casa sekarang aku membawanya ke sisi lain di Gangnam, tepatnya di Hybrid Mall Times Square Shopping Center, menemaninya membeli beberapa pasang pakaian dan kemudian mengantarnya ke Marriott hotel, salah satu fasilitas penginapan di times square ini. Aku pulang setelah mengatakan besok akan menjemputnya jam 7 untuk sarapan bersama sebelum mengajaknya melewati musim semi di Jeju-do besok dan mengecup bibirnya.

Jeju Island
South Korea


Ramahnya hamparan bunga Canola yang berwarna kuning menyambut kedatangan kami, yang dikombinasi oleh hamparan padang rumput yang hijau, perpaduan tanah merah serta formasi batuan di jurang yang menghadap kelautan. Udara yang segar melengkapi indahnya lantunan perasaan yang tengah aku rasakan sekarang, berjalan-jalan di sudut-sudut yang dipenuhi Canola bermekaran dengan bersepeda, Sharon tidak melewatkan saat ini untuk mengabadikan sebanyak mungkin moment indah yang bisa ditangkap oleh lensa kameranya, angin basah yang dingin mulai berhembus, sebentar lagi akan hujan aroma tanah mulai tercium, pemandangan Jeju yang serba kuning, aktivitas para wisatawan, gelak ria penduduk setempat adalah objek foto yang mengalihkan perhatian Sharon dariku, seolah-olah dia memasuki dunianya sendiri.

I know you fell for me at first sight, the person you talked about is me, I hear your heart beating, Don’t hide your heart, baby, I feel the same way, come here dear…  I will hug you now. I like you more than you like me, I love you more than you love me.

Listen to me Sharon… I like you, Wanna date me now? How about becoming my girlfriend?“ ucapku, Sharon berbalik melihat kearahku dan tertawa kecil. Tetesan hujan menjatuhi matanya yang spontan berkedip, aku mengecup bibirnya. Hujan mendukungku, turun kebumi untuk memberiku dukungan. Dear, ini ciuman yang panas dalam guyuran hujan.

Anyone can say that we look good together. Everyday my girl everything my girl. If it’s you, I’ll give you my everything, I like you When I look into your eyes, I know Fool, you can’t even lie, I see your trembling lips, You’re like a cute child don’t worry baby, I prepared everything without you knowing, close your eyes, I will kiss you first… I like you more than you like me, I love you more than you love me, A cup of coffee and biscuits on a happy afternoon, Has so many similarities with us – it goes so well with us. The clouds in the sky look like your face, I caress your hand that I’m holding, I softly kiss your reddened cheek. Listen to me girl … baby girl, I like you more than everything.
Dalam guyuran hujan yang harusnya terasa membekukan, tidak lagi sama, tangannya melingkar dileherku, bergelayut seolah mempercayakan seluruh dirinya dalam pelukanku, kulit yang bersentuhan menimbulkan gelombang listrik yang menyengat akal sehat.

It was a moment where time got slower, The beauty that I learned of, felt and believed in till now. The front of my eyes became as dark as dawn. Like a single ray of light, she finally found me. My girl, my destiny control my exploding breath. I stole thos lips, I had to. I want you, without an explanation or excuse, I stole your lips. It was a crazy thing to do but no matter what it is breathtaking and electrifying. I had to make a memory that the both of us can never forget. It doesn’t seem like reality, I can’t believe it, it seems like a dream. All of it, all of it baby…The sky that’s keeping the rain, will it shed tears? I can’t explain this with any word . All the moments have stopped as if it was a photo.

Seperti orang gila, hujan sama sekali tidak menghalangi apa yang terjadi sekarang, hanya menikmatinya dalam sensasi yang belum pernah terbayangkan, tanpa kata-kata untuk menegaskan irama debaran jantung ini. Rasanya seperti mimpi dan seperti cerita dalam sebuah foto.

Setelah menikmati hujan di tengah hamparan bunga Canola yang bermekaran, hujan reda meninggalkan aroma asing yang membuat aku mengeryitkan alis merasakan debaran jantung yang tidak lagi terasa hangat seperti tadi, warna senja mendominasi langit yang tadinya kelabu oleh hujan, mungkin karena perubahan ini membuat suasana kekhawatiran sedikit mengusikku. Sharon meremas tanganku yang menggenggam tangannya, bibirnya bergetar namun tetap tersenyum padaku.

***

Aku merasakan Sharon mengecup mataku yang perlahan terbuka, dia tersenyum, tangannya menyusuri pipiku, menyentuh rambutku dan mengecup sudut bibirku. Kami menginap di Jeju Grand Hotel, hotel terdekat yang bisa kami datangi setelah basah kuyup kemarin.

“Jam berapa sekarang?” tanyaku dengan malas, mengingat besok aku benar-benar harus bangun pagi, tidak ada lagi alasanku membolos dari kerjaan, atau Jiyoon akan memarahiku habis-habisan dan bahkan memecatku dari agensi orang tuanya.

“Jam  6 pagi.” jawab Sharon, nadanya terdengar enggan.

“Masih terlalu pagi untuk jalan-jalan keluar, dan diluar hujan sebaiknya pejamkan matamu kembali nona.” ucapku dan meraihnya dalam pelukanku. Aku mengintip keluar jendela yang tirainya telah terbuka, diluar hujan. Aku berterima kasih pada langit yang menurunkan hujan agar aku bisa lebih lama bersamanya, memeluknya, merasakan desahan nafasnya, mendengar detak jantungnya, merasakan kulitnya di kulitku dan mendengar suaranya yang memanggil namaku.

“ Minhyuk’ah…”

“Emmm?” aku menjawab dengan mata terpejam. Aku senang dia memanggil namaku dalam aksen Korea yang benar.

“Aku harus kembali ke Seattle.”

Mataku masih terpejam, menyesapi tiap huruf dari kata-katanya, berusaha menolak maksud dari kata-kata itu.

“Penerbangan jam 10 pagi ini.”

Kali ini aku membuka mataku, menemukan matanya dan berusaha mencari sedikit harapan untukku, aku tahu dia tidak menginginkan ini sama sepertiku. Dia menggigit bibirnya yang terlihat bergetar matanya takut menyelami mataku.

Idaeron jeoldaero bonael sun eobseo (aku tidak bisa membiarkanmu pergi seperti ini) “ ucapku masih mencari-cari matanya.

Mianhae, Ireohke jeoldaero kkeutnaegin sirheo (Maafkan aku, aku sama sekali tidak menginginkan akhir seperti ini).” gumamnya.

Kkeutnaejaneun mal hamburohajima (Jangan katakan ini telah berakhir dengan begitu mudah).” Aku bangkit, dia mengikutiku untuk duduk berhadapan.

“Minhyuk’ah… aku harus bekerja, menghidupi diriku sendiri kembali menjalani hidup yang sama seperti saat aku belum bertemu denganmu.”

“Aku tahu, aku juga harus kembali menjalani hidupku seperti saat aku belum bertemu denganmu.” Aku menatap matanya, ada keengganan disana, tapi kemudian dia mengangguk dan menggenggam tanganku. Aku membawanya dalam pelukanku.

“Apa aku harus menunggumu untuk kembali?” tanyaku, sedikit menyuarakan harapanku yang pengecut.

“Apa kau bisa ikut bersamaku ke Seattle?” balasnya, dia terkekeh dan mengeratkan pelukannya padaku.

“Aku bukan seorang Casanova, aku hanya mengerti disini ada cinta untukmu yang begitu panas.” ucapku menunjuk dadaku, dia tersenyum mencium permukaan dadaku tepat didalam sana ada jantung yang berdetak untuknya. Dia ingin menjalani hidupnya seperti yang dia mau, aku tidak berhak mendominasi hidupnya, aku mengerti karena aku juga begitu.

Yang harus kulakukan sekarang adalah membiarkannya kembali pada kehidupannya seperti sebelum bertemu denganku, mengatakan bahwa cinta panas yang kumiliki ini tidak akan rusak meskipun waktu yang kami lewati berbeda, meskipun menginjak daratan yang berbeda, asalkan masih dibawah langit yang sama, aku tahu perasaanku padanya masih akan ada, seperti sungai Han yang terus mengalir, seperti angin yang terus berhembus, seperi oksigen yang terus kuhirup. Hanya butuh keyakinan bahwa aku mencintainya dan dia juga mencintaiku, hanya saling mencintai. Itu saja.


Jeju International Airport
          Jeju, South Korea

Masih hujan, musim semi tahun ini berbeda hujan turun lebih intens bila dibandingkan dengan tahun lalu. Juga karena seorang gadis yang sikapnya mirip denganku. Ya, aku belum terlalu mengenalnya tapi cukup membuatku untuk menghidupkan cinta dalam diriku.

“Aku masih belum bisa percaya kita berakhir secepat ini.” Ucapku, kusadari dia terkejut dan memandangku.

“Jadi menurutmu ini adalah perpisahan?” sergahnya dan menatapku penuh tanya. Aku tahu dia tidak akan mengatakan dengan mudah hal apa yang ingin kudengar. Dia pasti mengira aku berpikiran akan melupakannya setelah ini. Aku tersenyum.

“Sharon listen, aku menyukaimu sejak kau menabrakku di Gimpo, lalu kenyataannya kita memiliki banyak kesamaan dan sepertinya itu akan berjalan dengan baik, aku tahu kau bukan orang yang mudah percaya pada orang lain karena aku juga seperti itu, karena itu kau cukup mengetahui bahwa aku benar-benar menyukaimu, sama sepertimu, malam itu adalah yang pertama kali untukku.” aku memegang pundaknya, menangkap matanya agar dia dapat melihat kebenaran dalam mataku.

Me too, It was a crazy thing to do but no matter what it is breathtaking and electrifying, I want you, without an explanation or excuse.” ucapnya. Dan ya inilah yang ingin kudengar, mengetahui bahwa dia juga menginginkanku.

Ok, I like you more than you like me.” ucapku dan mengangkat bahuku, dia tertawa dan saatnya dia terbang, meninggalkanku.

“Emmm, aku tidak tahu bagaimana cara mengucapkan selamat tinggal.” ucapnya. Dia mengigit bibirnya. Membuatku geli, dan meraih bibirnya, mengabaikan orang yang berlalu lalang dan berbisik-bisik. Kurasa aku pasti sangat merindukan ciuman dari bibir ini. Pasti.

Entahlah, apa alasan yang tepat kenapa semudah ini aku mencintainya, mungkin karena aku terlalu mencintai diri sendiri sehingga aku mencintai orang yang kepribadiannya mirip denganku.

Namun hingga sekarang aku masih belum mendapatkan jawaban dari pertanyaanku sendiri, tentang apa yang kuharapkan dari emosi bernama cinta ini? 

Part 2

19 comments:

  1. um... Thanx for penulis n editor yg cntik,. Kecup2 basah

    ReplyDelete
    Replies
    1. :kecup basah may: mayyyy... kerja may kerja.. main hp aja nih. iihihhih :peace:

      Delete
  2. Oh... Kayaknya seru dech ceritanya , mau donk next chapternya hehe wow bgt .

    Btw ngomongin Starbuck , aq jg punya gelas Starbuck dr YG gede, tanggung, kecil dan paling kecil n piring keciiillllnya jg haha.

    ThankZ sist Arie n sist Shin :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. keren kan sist. penulisannya smooth banget. ihihihih.. :jd malu sendiri aku kl liat tulisan2ku: hiks..

      Delete
    2. Iya cara penulisan bahasanya bagus, lembuuuttt nggak keburu-buru atau nge paksa , hehe

      Ah sist Shin ini, dirimu juga jago menulis gt low chinnn, keren , buktinya aq suka bgt MA ceritanya ji Joong -Jung IN , jungnam - butterfly, My name is Cong, oh ya ampek kelupa ayank pitter YG bikin para readers banjir air mata duka, dll, aq gaK Bisa nulis semuanya kan banyak hehe..

      Klo suatu hari ceritamu di bikin novel kasih kabar ya sist n andaikata aku masih disini kirim juga kesini ya haha...

      Sayang seribu sayang Im just a reader , aku hanya Bisa menikmati hasil karya orang lain.

      Semangat ya chiinn jangan pesimis, harus optimis OK ... I want hug you now ... :)

      Delete
    3. hahahha untuk membuatmu suka gak perlu karya bagus sist. yg kyk danof aja udah suka kamu.. eyaaa.... :kabur:

      Delete
    4. Gimana siy bedain nama cewe n cowo korea?

      Kl pake nama korea, kudu nunggu komplit plit dulu baru bisa baca. Kl ga, keburu lupa... :D *parah*

      Delete
    5. aku juga gak tau cin... wkkwkwk karena kadang nama cowok n cewek ada yang sama. kyk Kim Soo Hyun.. ada cewek, ada jg cowok. lol....

      Delete
    6. Aku setuju dengan Mba Ashia Shila. Iya Mba Shin, klo cerita Mba Shin sudah dijadikan novel tolong info aku juga ya
      *big hugh*

      Delete
    7. Huuuuaaaaa..... Enakan pake bahasa kita dongg... Jelass... Bambang n wati... Ga bakal ketuker... :D

      Delete
  3. Aku benar-benar merasa di korea saat membacanya... ^^ Menikmati nuansa kota seoul sampai keindahaan pulau jeju ;) apalagi kisah romantisnya...
    Thank u mbak Arie and mbak shin *lope*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya sist ya.. keren... penggambarannya kyk kita nonton tipi jadinya ^^

      Delete
    2. hahaha apa sich kakbahasanya kok "nonton tipi"wkwkwkwwk

      Delete
  4. Replies
    1. kayak ngerti Korea aja... :wkwkkwkwkw kabur sebelum ada yang ngamuk:

      Delete
  5. Kyaaaa..... foto yg bagus, aku sukaaa bangett....
    Eh melenceng dari jalur....
    Kabur...... *jitak*

    Serasa ikut menikmati suasana di Pulau Jeju
    Makasih Mba Shin dan Mba Arie

    ReplyDelete
  6. Bagus bagus bagus mb arie
    Lanjutkan yaaa ;)
    •⌣˚Ʈ♓ªƞƘ ♧ ƔoƱ˚⌣•‎​ mb arie :*
    •⌣˚Ʈ♓ªƞƘ ♧ ƔoƱ˚⌣•‎​ mb ciin muuuah muaaah

    ReplyDelete
  7. wuiiihh,,,settingnya di seatle berasa inget 50 shades trilogy,,,

    ReplyDelete
  8. Makasi ya Hyung udah dipublish ceritanya #Ahem #kecup

    Nuna2/kaka yang cantik, makasi juga udah baca cerita ini, #kecup

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.