"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, April 13, 2013

To Love, To Be Loved by Arie Zzuant - Part 2



To Love, To Be Loved - Part 2
Story by +Arie Zzuant 

Terkadang banyak orang mengalah demi sebuah perasaan yang mereka namai dengan cinta, mereka rela berubah menjadi orang lain, membuang pribadi aslinya, menjadi boneka yang patuh, menjadi tahanan dalam keegoisan yang terlarut-larut. Apakah yang seperti itu adalah cinta? Jika aku termasuk dalam bagian orang-orang yang menyebut dirinya pecinta lalu apa yang harus aku harapkan dari cinta?
           
Bukankah seharusnya cinta itu dapat menerima pribadi aslinya, tanpa harus berpura-pura dan menjadi orang lain demi untuk menjadi sempurna. Bukankah kesempurnaan hanya milik Tuhan? Untuk separuh jiwa yang belum kutemui, untuk dia yang dapat menerima pribadiku tanpa kepura-puraan, untuk dia yang menaikkan setinggi-tingginya dejaratku sebagai yang tercinta dan pencinta. Untuk dia yang mencari dan dicari, untuk kita yang mencoba dan mengerti demi sebuah keikhlasan bernama cinta dalam keagungan kasih sayang menuju satu tujuan keistimewaan sang maha cinta.


Rain city, Seattle,
Washington, USA.

*** Sharon POV ***
           
Aku menatap ke papan nama café milikku yang hari ini merupakan hari pertama calon pelangganku mulai dapat menikmati secangkir coffee di ruangan hangat dan damai, kunamai dengan nama White Melody disini bukan hanya dapat menikmati secangkir coffee, pelanggan juga dapat menikmati lukisan alam dari bentangan laut pasifik, membaca buku, berselancar di dunia maya, bermain alat-alat music, bernyanyi, bahkan berbelanja. Ku akui sebagian besar dana yang kudapat untuk mendirikan usaha ini kudapat dari warisan Kakek dan Nenekku, pasangan Mr. dan Mrs. White. Setelah mereka wafat, 60 % harta mereka diwarisi padaku, selebihnya disumbangkan ke Perpustakaan Suzzallo yang berada di Universitas Washington, salah satu universitas terbaik di dunia, dan beberapa tempat yang tidak kuingat dengan jelas.
           
Mereka memiliki beberapa resort di daerah Elliott Bay, Bukit Queen Anne, dan Danau Union, yang sekarang berada dalam pengawasanku, keuntungan pertahun dibagi berdasarkan keputusan dalam surat warisan mereka, aku tidak tahu harus menamai ini semua sebagai keberuntungan, anugrah atau sebuah beban.

Air mataku menetes saat kenangan menyakitkan itu tiba-tiba muncul dalam benakku, kenangan dimana aku mengganti namaku menjadi White dan mengubur nama Cha bersama kenangan cerita masa laluku.
           
“Sharon, kau harus memeriksa ini.” Mia, seorang wanita paruh baya sahabat Ayahku yang menjadi tangan kananku menyerahkan lembaran-lembaran dokumen dalam amplop berwarna coklat padaku.
           
Thank you Mia.” ucapku berusaha membuat semuanya menjadi mudah dan dia pergi kembali tenggelam dalam perkerjaannya.
           
Kembali kerumah White yang berada di pinggiran danau Washington yang tenang, setelah mengistirahatkan tubuhku yang seharian bekerja aku meraih lembaran dokumen yang tadi diserahkan Mia, proposal tentang rencana promosi café dan resort untuk musim panas tahun ini. Mia dan orang-orang bagian pemasaran akan bekerja sama dengan salah satu Agensi artis dari Korea Selatan. Aku tahu sekarang apapun yang berhubungan dengan Negara itu akan menarik perhatian khalayak mulai dari music, drama, kuliner, destinasi wisata hingga budaya.
           
Ingatan tentang Negara itu membawaku ke papilion kamarku, dengan secangkir caramel latte hangat, aku tercenung melihat kearah lampu warna-warni dari kapal-kapal di tengah danau kemudian mataku menangkap sepasang manusia tengah bercumbu di dek kapal putih dengan layar-layar kain putih yang berkibar tertiup angin, di sekeliling mereka lampu warna-warni berkedip bergantian, kusimpulkan mereka sedang menikmati bulan madu yang romantis. Tetesan air hujan mulai berjatuhan dan membuyarkan perhatianku akan pasangan itu.
           
Hawa dingin mulai memeluk udara disekelilingku, membuat kaca menjadi berembun, setelah meletakkan cangkir coffee di meja, kutadahkan wajahku ke langit dengan mata tertutup merasakan hujan diwajahku. Dengan kedua tangan terlentang aku seolah dapat memeluk hujan. Aroma hujan yang tajam, pemandangan dari celah curahan rintik hujan, membawaku mengingat sebuah ciuman yang panas di tengah hujan.
           
Lee Minhyuk! Nama itu dan cerita yang panas dalam hujan. Aku mendengus. Kesal. Setelah setahun berlalu hingga saat ini aku masih mengingatnya dengan jelas, dan aku tidak tahu apakah dia disana masih mengingatku? Mengingat cerita yang pernah kami lakoni bersama dalam hujan?
           
Bulan pertama kami masih berhubungan melalui telepon dan email, bulan kedua komunikasi tidak sesering seperti diawal, bulan ketiga kami berdua makin sibuk ditambah dengan perbedaan waktu antara Amerika dan Korea, pada bulan keempat semua hilang. Tidak ada telepon, tidak ada email, tidak ada Lee Minhyuk.

            Taukah dia bahwa aku merindukannya?

Apgujeong, Gangnam-gu
Seoul, South Korea

*** Minhyuk POV ***
           
Pikiranku melayang pada sosok gadis berambut coklat beraroma manis yang kurindukan selama setahun belakangan saat melihat jadwal pekerjaanku, Aku dan grupku dikontrak oleh sebuah perusahan swasta di Amerika Serikat untuk membintangi beberapa iklan café dan resort disana. Sebuah keberuntungan sedang menghampiriku hingga aku berani berharap pada masa depan, memulai kembali cerita cinta yang sempat terhenti.
           
Karena kesibukanku sebagai trainee di salah satu agensi aku kehilangan waktu untuk diriku sendiri diantara jadwal latihan yang padat. Aku kehilangan tentang dia, komunikasi yang semula kami pertahankan perlahan memudar, setidaknya saat ini aku akan berada di benua yang sama dengannya, meskipun harus merelakan waktu istirahatku nanti, aku akan pergi mencari keberadaannya. Meskipun aku tidak yakin pada diriku sendiri setelah lamanya waktu berlalu akankah dia menerimaku lagi.

            Kuraih ponselku dan mengirimnya email.

To : White caffeine
Bagaimana jika kita meluangkan waktu untuk menikmati secangkir kopi hangat di akhir pekan? I still miss you :)

Kutaruh kembali ponselku ditempat semula, melihat keluar dari balik jendela kaca yang mulai berembun karena hawa dingin yang dibawa oleh tetesan hujan, angin mengajak dedaunan menari dalam iramanya.

Outside the window, the forgotten rain and wind blows, tonight, I hear familiar songs from the radio, It’s perfect for thinking about you, In this place without you, I fight with loneliness.

Aku selalu menikmati hujan dengan berjalan dibawah payung melewati jalanan Apgujeong melihat lampu-lampu dijalan, menghirup aroma hujan yang tajam sebelum aku tertidur membiarkan diriku istirahat setelah melewati hari yang panjang. Namun malam ini aku tidak dapat menutup mataku mengingat cerita saat hujan menyaksikan cerita cinta yang panas.

I walk alone on the streets, I lock even myself in the memories, how about you? This weather, this temperature, this passing wind, will I remember it? A person to be forgotten like a passing by black and white film, I still miss you as I fall asleep, But on this a rainy night, I cannot fall asleep.

Is this sound of the rain, your voice? Is this a sound that calls to me? Am I the only one thinking of you? Will this rain comfort me? Do you know how I feel? I keep thinking of you. A bright blue umbrella, Wet and drenched clothes and sneakers, I turn off and turn on the boiler. Whatever I do, it doesn’t dry is that how I feel or is it not? A confusing set of questions and answers.

On a rainy day, I fell for you,We used to love each other so much it didn’t seem like we had to do this. From the beginning, I held you in the left side of my heart and you thickly remainI think I lied when I said I could live without you. I throw away my feelings but I still miss you as I fall asleep. But on this a rainy night, I cannot fall asleep.

Lebih dari 3 jam aku menunggu balasan darinya, ratusan bahkan mungkin ribuan kali aku melihat kearah ponselku yang sama sekali tidak menunjukkan telah menerima sebuah email baru. Aku mengerang frustasi.

Outside the window, the sound of the rain rings, I remember the memories of us, I can’t live without you girl, On rainy days, I miss you and our kiss, on rainy day, I always run into you. Do you know how I feel Dear?

Rain city, Seattle,
Washington, USA.

Aku kembali lagi ke kota hujan setelah terakhir aku menginjakkan kakiku di Kota yang menyimpan banyak keunikan. Teluk-teluk tumpahan  dari Samudera Pasifik yang membelah kota, danau-danau indah di tengah kota, dan karena letaknya yang tidak jauh dari  Alaska, membuat kota ini  dikelilingi beberapa pegunungan dengan salju abadi di puncaknya. Intensitas hujan di kota ini juga sangat tinggi, karena itu selain dikenal sebagai The emerald city kota ini juga memiliki julukan Rain city, dan masih banyak nama julukan lainnya, tidak heran, karena kota ini benar-benar menarik.

Aku dan tim-ku mendarat di bandara internasional Tacoma Seattle tepat pukul delapan malam, disambut dengan udara sejuk khas Seattle seperti yang kuingat. Kami menuju ke sebuah café di kawasan Downtown Seattle dengan sebuah Van dari perusahaan yang mengontrak kami. Hawa dingin terasa menembus kaca mobil dibalik tetesan hujan, yang terlihat hanya jalanan yang basah dan lampu yang berkedip dari gedung-gedung di kejauhan.

“Hyung, pemilik café ini mungkin adalah Fans kita.” Sungjae, magnae grup kami menyikutku dan menunjukkan nama café ini padaku, - White Melody – aku ikut tertawa bersama ke-6 orang lainnya. Setelah melewati makan malam dan menikmati secangkir kopi hangat, kami menuju ke sebuah resort di kawasan Washington lake lengkap dengan pasir putih buatan di daratan sekeliling resort.
Semua berpencar dengan urusannya masing-masing dan memasuki kamar yang sudah diatur sebelumnya, dan aku memiliki kamarku sendiri di lantai atas. Setelah melewati waktu setengah jam di jacuzi untuk berendam guna membunuh rasa dingin dan juga membersihkan diri, kami menggunakan waktu untuk menikmati suasana damai di resort ini, irama gesekan biola terdengar di seluruh ruangan, dan seorang wanita paruh baya datang menyapa kami, memperkenalkan diri dan menawarkan minuman pada kami.

Aku mengaktifkan ponselku, memeriksa beberapa email yang kuterima.
From : White caffeine
Jeongmalyo? Mideul georan saenggakhajima (Benarkah? Jangan berpikir aku akan percaya).

Aku membeku, ini bukan balasan yang kuinginkan sama sekali. Lalu aku mengaktifkan akun messenger milikku berharap dia ada disana. Dia ada! Dengan cepat aku melakukan panggilan video tapi diabaikan olehnya, kuulangi lagi, dia tetap mengabaikannya, aku mengerang frustasi dan dengan cepat mengirim pesan text.

Visual caffeine : (Kkeuthiran geol injeong mothae jukkesseo) Aku tak bisa mengakui bahwa ini telah berakhir.

White caffeine : (Cheoeum butheo, dattokgatheun geojitmal jinsimi itdan mareun hajido ma) Dari awal, semua itu kebohongan, Jangan katakan kau telah berkata jujur.

Visual caffeine : Ireojima Sharon (jangan seperti ini). I lock even myself in the memories, I still miss you as I fall asleep. Do you know how I feel?

White caffeine : Nareul geuman gajigo nora (Berhentilah mempermainkan aku)!

Visual caffeine : Mweoga jalmotdwaen geoji naega? (apakah ada yang salah denganku?) I sit by myself, Waiting and seeing if you’ll comeback, Tak bisakah kau memberiku kesempatan untuk memelukmu? Apakah hubungan sederhana ini akan berakhir dengan mudah?

White caffeine : Maldo andwaeneun sori haebwa, deureojulke (Terus katakan kata-kata konyol itu, aku akan mendengarnya)

Visual caffeine : Sharon :( I've gone mad now

White caffeine : Itu hukuman untukmu.

Visual caffeine : Do you ever hear me calling? Cause every night I'm talking to the moon still trying to get to you, In hopes you're on the other side talking to me too, or am I a fool? Who sits alone talking to the moon.

Putus asa aku mengetik lirik lagu milik Bruno Mars dan mengirimkannya sebelum Aku mengerang frustasi dan melempar ponselku hingga membuat semua diruangan itu terkejut dan melihat penuh tanda tanya kearahku. Aku mengabaikan tatapan mereka dengan mengambil gelas Vodka dihadapanku, meneguknya hingga habis, menuangkannya lagi meneguknya lagi hingga beberapa gelas.
           
“Berhenti minum, sebentar lagi kita akan bertemu Tuan rumah hyung.” Sungjae yang manis menarik gelas dari bibirku. Aku melihat kearahnya dan menyembunyikan wajahku di pundaknya, rasanya aku benar-benar akan gila. Kenapa dia sangat membingungkan, gadis itu, sebenarnya apa yang dia pikirkan tentang ini semua, tidak bisakah dia membuat ini menjadi mudah? Menerimaku kembali dan melanjutkan kembali cerita cinta ini?
           
Aroma manis mengusik hidungku, seperti aroma kopi, bukan lebih lembut dari aroma kopi. Aroma apa ini? Mengganggu sekali. Jujur aku tidak bisa berpikir sekarang. Sharon membuatku gila!
         
“Annyeong haseyo.” suara itu menyapa, aku memalingkan wajahku dan melihat gadis yang memakai kemeja putih yang kancingnya terbuka memperlihatkan sedikit belahan dadanya, memakai celana jins, rambut coklat yang diikat seperti ekor kuda dia terlihat seperti Sharonku. Aku sudah gila. Setelah membalas anggukan kepalanya aku kembli menyembunyikan kepalaku di pundak Sungjae.
         
Welcome to Seattle guys…” dia memperkenalkan diri dan entah apa yang diucapkan gadis itu lagi aku tidak terlalu menyimak perkataannya bahkan suaranya mirip dengan Sharonku. Hey aku benar-benar gila sekarang. Sharon, you’re bad to me, so bad to me oh oh girl you’re like caffeine… aku bahkan mulai bernyanyi seperti orang gila.
           
“Hyung…” panggil Sungjae berbisik, aku melihat kearahnya memegang kedua sisi pipinya hingga bibirnya mengkerucut.
           
“ Sharon, You’re bad to me, so bad to me, oh girl you’re like caffeine...” aku menyanyikan sedikit lirik lagu Caffeine milik Yoseob Sunbae yang kuingat.
           
“ LeeMinhyuk…” aku mendengar suara Sharon memanggilku. Aku melepaskan pipi Sungjae yang kupegang dan meraba-raba sofa menemukan ponselku yang ternyata dalam keadaan mati, kupikir dia menelponku.
           
“Ya ima…” aku mengabaikan panggilan Eunkwang, Leader grup. Hanya melihatnya dengan malas. Kemudian ponselku bernyanyi, Sharon, dia menelponku.
           
Takut ini hanya khayalan spontan aku berdiri dan dengan cepat menjawabnya.
“Sharon!”

Seperti mendapatkan rohku kembali sebuah perasaan tiba-tiba merasuki jasadku yang kosong dan hampa, seperti prajurit yang meraih kemenangan dan kembali pulang dari peperangan yang pelik, seperti musafir yang mendapatkan air setelah tersesat di gurun pasir yang luas, seperti mendapatkan oksigen setelah diasingkan beberapa waktu di Mars, seperti mendapatkan selimut hangat setelah berlari-lari dikejar beruang di kutub utara, seperti berhasil mendarat dengan sempurna di tempat yang empuk setelah terombang ambing diudara karena diculik burung elang raksasa. Seperti mendapatkan cake lembut setelah memakan batu ribuan ton. Gadis yang mirip Sharonku itu  tersenyum geli melihat kearahku. Dan akhirnya dia tertawa dan semua orang tertawa karena melihat tingkahku.

“Kau mabuk.” gumamnya, ya ampun dia menggigit bibirnya, benar-benar mirip dengan Sharonku! Aku melihat kearah ponselku meyakinkan bahwa suara tadi bukan dari ponselku.

“Hey, aku disini.” gadis itu seolah-olah mengerti pikiranku, dia mendekatiku, Astaga bahkan aroma tubuhnya terasa sama!

“Jangan sentuh aku! Tubuhku milik Sharon!” aku berteriak dan mendekap kedua tanganku di dadaku.

“Maafkan tingkahnya Miss White, dia sedikit mabuk, kurasa aku harus menyadarkannya.” Ucap manager grup, kemudian dia menyeretku dengan kejam dan tubuhku berakhir di bath up yang penuh air dingin. Dan dia meninggalkanku.

Aku meringis merasakan tajamnya air dingin yang menyentuh kulitku. Sharon membuatku hilang kendali seperti ini, aku terpaksa menanggalkan pakaianku yang semua terlanjur basah. Aku merasa seperti anak kecil yang malang.
Aku menoleh saat pintu kamar mandi terbuka.

“Boleh aku masuk?” aku melihat Sharon yang berdiri diambang pintu.

“Aku benar-benar sudah gila.” gumamku putus asa, aku menarik nafas dan menenggelamkan diriku di bath up yang penuh dengan air dingin ini, untuk menghilangkan euphoria yang sejenak menguasaiku. Aku melihat bayangannya duduk di tepian bath up yang tipis, gadis itu masih saja dengan ekspresi datar yang sama. Menutup mata sejenak dan mengeluarkan kepalaku dari dalam air. Aku melihat kearah gadis itu, dia terlihat nyata.

“Sharon…” gumamku. Dia tersenyum.

“Aku merindukanmu.” ucapnya sebelum mendaratkan bibirnya kebibirku, karena terkejut aku menggigit bibirnya tanpa sengaja. Dia mendesis dan menarik bibirnya dariku. Oh Dear! Bibirnya berdarah.

“Ckk!!” dia berdecak dan melihat jengkel kearahku. Kemudian dia menarik tanganku dan menggigitnya. Aku berteriak karena gigitannya luar biasa sakit dengan cepat aku menarik tanganku.

“Sampai kapan kau berpikir aku disini hanya dalam khayalanmu hah?” dia membentakku, dan menyiramkan air kewajahku. Dear! Ini sungguhan.

“Andwae gajima! Sharon!“ ucapku menarik lengannya yang hampir saja pergi. Dia melihat kearahku, aku merasa bersalah melihat darah yang mengalir dibibirnya. Err apakah aku gila jika mengatakan bahwa dia terlihat menggairahkan dengan darah di bibirnya ?

“Mian.” ucapku mencari sebuah keyakinan melalui matanya yang terus menatapku.

“Kau terlihat kacau, Mr. Lee.” selorohnya dengan tatapan meremehkan kearahku.

“Kalau begitu bisakah kau membantuku merapikannya, Miss. White?” aku menyeringai, mengikuti arah tatapan matanya.

“Well, aku tuan rumah disini, diluar tamu-tamu sedang menunggu, bereskan dirimu sendiri, Mr. Lee” dia menyeringai jahat setelah memberiku sedikit harapan. Karena berniat meninggalkanku seperti ini aku menyiramkan air ke tubuhnya, ini akan membuatnya marah dan tetap tinggal bersamaku diruangan yang mulai terasa panas ini.

Dia mengeram melihat perbuatanku, kemeja putihnya yang basah dan menempel ketubuhnya membuat jiplakan misterius di tubuhnya terutama pada bagian dadanya, kutebak dia memakai Bra hitam Dear! Dengan wajah tanpa merasa bersalah aku tersenyum kearahnya dan mengangkat bahuku.

Dia berdecak, ya aku yakin sekarang dia makin kesal, ini hukuman balasan karena dia membuatku gila. Dear! Dia mulai membuka kancing kemejanya, membuatku menahan nafas dan membelalakan mata, seperti adegan dalam sebuah film romantic dia benar-benar menanggalkan kemejanya dan membiarkannya terjatuh dilantai kamar mandi. Nafasku yang sedari tadi berteriak minta dibebaskan kini merdeka, aku terengah-engah mencari oksigen.
Wajahnya tanpa ekpresi melihat kearahku yang terongok mematung dia melepas alas kakinya oh Dear! Jangan katakan sekarang dia akan melepas jinsnya! Aku menutup mataku sejenak, alam bawah sadarku menarik paksa kelopak mataku melihat Sharon yang sekarang sedang mengeluarkan kakinya dari jins yang dikenakannya. Aku menelan ludahku, menggeliat tidak nyaman karena desakan dari dalam boxerku.

“Sharon, Aku…” kata-kataku terputus karena panic melihatnya yang melenggang keluar dari ruangan ini, jika dia keluar seperti itu maka semua orang akan melihat tubuhnya, tidak boleh, itu milikku hanya aku yang akan melihatnya!!

“Sharon!!” jantungku mencelos. Aku melihatnya sedang menarik sebuah jubah mandi berwarna putih dari lemari, aku melihat sekeliling siapa-siapa, hanya aku dan dia, dan ini kamarku untuk beberapa waktu.

“Kamarku tepat di depan kamar ini, bereskan dirimu dan kembali bergabung 15 menit lagi.” ucapnya dingin dan keluar dari kamar ini. Aku tertegun setelah mendengar ucapannya yang terdengar sangat bossy!

*** Sharon POV ***


Oh My! Apa yang harus aku jelaskan pada Mia dan semua orang disana setelah melihatku menerobos masuk ke kamar Minhyuk yang sedang mabuk? Apakah aku akan terlihat konyol setelah keluar dari kamar ini?

Aku menatap malas ke cermin sambil menyisir rambutku yang terurai, setelah 1 tahun kami bertemu lagi dalam situasi aneh yang seharusnya berjalan sesuai dengan yang kurencanakan. Ck!

Aku membuka pintu kamarku dan menemukannya juga tengah melakukan hal yang sama denganku, sama-sama menyeringai geli karena memakai sweater berwarna kuning gading yang sama. Kebetulan yang aneh.Ya Tuhan, aku benar-benar merindukan orang ini.

“Kau mengikuti gayaku Miss. White.” ucapnya, aku memutar mataku berusaha terlihat kesal.

“Sharon… kami menunggumu.” Ucap Mia dari arah tangga, dia tersenyum lembut melihat anggukanku dan kemudian dia kembali keruangan utama di lantai bawah.

“Aku harus memakai keahlianku yang licin kali ini.” ucapnya dan mengecup bibirku secepat mataku berkedip dia berlari sambil tertawa dan menuruni tangga, berusaha untuk tiba lebih dulu.

Saat aku turun dan mendapati  mereka yang tengah tertawa lepas, aku merasa iri pada mereka yang bisa tertawa lepas tanpa beban. Aku mendengus dan mendapati Mia di belakangku, dia memperhatikanku kemudian dia tersenyum mengatakan padaku untuk bergabung dengan mereka.

Aku menundukkan kepalaku yang mungkin terlihat kaku, ini sangat jarang kulakukan mengingat selama ini aku selalu berada di Seattle. Minhyuk melihat kearahku memainkan matanya memberikan petunjuk agar aku duduk bersebelahan dengannya. Dengan senang hati aku melakukannya, aku merindukan aroma tubuhnya yang damai.

Mereka bertanya tentang diriku yang belum diketahui oleh Minhyuk. Aku mengatakan Ayahku adalah seorang guru besar di universitas Washington dan Ibuku adalah mahasiswi disana, setelah 8 tahun aku lahir Ayahku meninggal dunia dan Ibuku kembali ke Korea, sedangkan aku tetap di Seattle bersama Kakek dan Nenekku. Tentu saja aku melewatkan hal yang menurutku tidak harus kuceritakan pada mereka, well aku tidak sepenuhnya berbohong, hanya menyembunyikan beberapa fakta tentang kisah pilu hidupku.

Kemudian mereka mulai mempertanyakan kenapa aku dan Minhyuk bisa terlihat begitu akrab, Minhyuk mengelak dengan mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya, aku tahu bahwa dia tidak ingin membagi cerita kami dan aku juga seperti itu. Hingga akhirnya kami terpojok dan mau tidak mau harus mengatakannya sebelum mereka semakin gaduh.

“Lihat!” ucap Minhyuk dia menarik pundak kiriku dengan tangan kirinya yang berada di sandaran sofa dibelakang punggungku, aku menoleh kearahnya membuat wajah kami begitu dekat, dia mencium bibirku, tangan kanannya membungkus pinggangku mendominasi tubuhku hingga aku harus bersandar pada sofa, bibirnya menekan dan sedikit melumat lembut bibirku. Dia melepas bibirku sejenak mencari mataku dan kembali memberikan kecupan ringan pada bekas gigitannya saat dikamar mandi tadi.

“Aku rasa ini telah menjawab sebagian rasa penasaran kalian.” dia menyeringai licik mengambil gelas minuman dan meneguknya, sedangkan aku menarik nafas menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan mengipasi pipiku yang memerah.

“Ya, setidaknya aku sudah berumur 20 tahun sekarang.” celetuk laki-laki tampan yang seingatku bernama Peniel.

“Aku juga.” sambung seorang lagi. Aku belum terlalu mengingat nama-nama mereka dengan baik, well aku bisa mengingatnya nanti.

“Promosi kalian sia-sia.” ucap Minhyuk santai, dan mereka mendengus kesal. Aku mengangkat alisku, tidak terlalu memahami percakapan mereka. Aku melirik jam di pergelangan tanganku, menunjukkan pukul 10 malam.

“Well, selamat menikmati waktu kalian disini, kurasa kalian memiliki istirahat yang cukup, kita akan bertemu di Café pukul 11 besok siang. Carrick akan selalu menemani kalian jadi katakan saja semua keperluan padanya, mohon kerja samanya semoga akan berjalan dengan lancar.” ucapku dan membungkukkan badanku disambut oleh mereka.

“Good night,  Miss. White.” ucap mereka.

“Err, kalian cukup memanggilku Sharon, oke, Goodnight.” ucapku dan mereka semua berpencar masuk kedalam kamar masing-masing mencari kedamaian dan meringkuk dalam selimut yang hangat.

“Aku tidak tahu tentang kehidupanmu.” kata Minhyuk disebelahku.

“Kau tidak bertanya, dan aku juga tidak tahu tentang kehidupanmu, mengejutkan bahwa kau adalah seorang idola.” ucapku smbil mengambil gelas minuman dan meneguknya.

“Kau juga tidak bertanya dan mengejutkan bahwa kau adalah seorang pemilik resort-resort mewah dinegara ini.” ucapnya. Dia memiliki sifat yang mirip denganku.

“Kau belum mengantuk?” tanyanya, aku menggeleng.

“Aku juga, kau tahu? Kau adalah caffeine.” ucapnya lagi, membuatku tertawa.

“Mau kutunjukkan tempat terbaik di rumah ini?” tawarku.

“Bawa aku kemanapun dalam genggaman tanganmu yang hangat Miss White.” jawabannya membuatku geli.

Grand, apa kau sedang melihatku? Haraboeji, bolehkah aku berharap pada emosi yang kurasakan sekarang emosi yang bernama cinta.

Melewati puluhan anak tangga sambil menggenggam erat tangannya yang hangat, melihatnya tersenyum padaku, mencium aroma tubuhnya yang damai dan merasakan keberadaannya disekitarku, Grand, aku mencintainya.

Aku membuka tirai pintu kaca yang menghubungkan kami dengan pavilion tempat favoritku dirumah ini, memperlihatkan landskap kota Seattle malam hari yang dihiasi pantulan ribuan cahaya lampu berasal dari gedung-gedung pencakar langit, hawa dingin oleh hujan membuat kaca-kaca pintu berembun, Minhyuk menarikku ke dalam pelukannya dan menyandarkan wajahnya di pundakku dari arah belakang, membuatku merasakan dada hangatnya.

“Saranghae…” bisiknya ditelingaku.

Grand, please help me… bolehkah aku berharap pada cinta?



*** Minhyuk POV ***

Dia tidak menjawab pengakuanku, hanya menundukkan kepalanya, apakah aku melewati batas kerasnya? Atau aku membuatnya takut? Aku tahu masing-masing dari kami tidak ingin terkurung dalam hubungan yang mengikat, berkomitmen dan kehilangan kebebasan. Tapi sampai kapan perasaan ini harus terombang ambing diantara ketidakpastian demi keegoisan jiwa?

“Apa aku melewati batas kerasmu?” tanyaku, dia menggeleng dan menghela nafasnya. Dia membutuhkan waktu untuk menjawab, dengan tetap diam aku membiarkannya hanyut dalam pikirannya sendiri, pintu kaca yang berembun memantulkan pandangan mata kami yang betemu disana.

“Minhyuk’ah apa yang kau harapkan dari cinta?” Sharon berbalik menangkapku di pandangannya. Pertanyaan yang sama dengan yang selama ini aku pikirkan, dan sampai saat ini aku belum mendapatkan jawabannya.

“Mencintai untuk dicintai.” ucapku ragu dan mengangkat bahuku.

“Apa kau akan mencoba dan memahaminya?” tanyanya lagi.

“Aku hidup dengan landasan cinta, cinta kedua orang tua-ku, dilahirkan dengan lantunan cinta dari mereka, dibesarkan dengan landasan cinta mereka yang merengkuh jiwa ragaku dengan hangat, karena mencintai untuk dicintai, untuk tidak pernah lupa mempersembahkan kembali cinta yang telah kuterima, mengejar keindahan dari separuh jiwa yang mengambil tulang rusukku untuk mencoba dan memahami serta memberi juga menerima cinta darinya.” jelasku. Sharon tersenyum dan berjalan menjauh dariku, membuka pintu membiarkan angin dingin merusak rambutnya.

“Lalu, apa yang kau harapkan dari cinta?” tanyaku sambil berjalan menyusulnya. Dia tertawa dingin, seperti menertawakan dirinya sendiri.

“Aku lahir tanpa cinta, hanya nafsu.” ucap Sharon, dia menahan nafasnya aku merasakan kesakitan dalam ucapannya, kesakitan yang pilu.

“Nafsu dua manusia telanjang  yang mencari euphoria kenikmatan seks.” sambungnya, aku dapat merasakan kesakitan dalam ucapannya, aku mendekat dan melihat tubuhnya bergetar, kuraih pundaknya membawanya dapat pelukanku.

“Kalau terlalu sakit, berhentilah.” ucapku.

“Aku sudah memulainya, biarkan aku menyelesaikannya sebelum aku menguburnya lagi.” tegasnya.

“Kau bisa berhenti kapanpun, aku masih punya banyak waktu untuk mendengarnya dilain hari.”

“Tidak ada lain hari lagi setelah ini.” dia melepaskan pelukanku. Berbalik kearah lampu-lampu gedung yang terlihat di kejauhan.

“Ayahku Mr. White dan Ibuku anak dari Mr. Cha mereka bertemu dalam nafsu remaja, Ayahku seorang guru besar diusianya yang terbilang muda di tempat Ibuku berkuliah, mereka terlibat dalam situasi yang tidak dapat kumengerti, karena hamil diluar nikah Haraboeji membawa Ibuku pulang ke Korea, kemudian aku terlahir dengan nama Cha Seri nama yang diberikan oleh Haraboeji, saat melahirkanku Ibu masih berumur 21 tahun, aku tidak pernah merasakan hangatnya sentuhan seorang Ibu hanya ada Haraboeji yang bersedia memberikan pelukan hangat untukku, hanya dia yang menyayangiku dirumah itu.” Sharon menghentikan ucapannya, airmata mulai menetes di pelupuk matanya. Dia terlihat begitu rapuh, berbeda dengan Sharon yang selama ini kuketahui, dibalik sikapnya selama ini ternyata dia menyimpan cerita ini sendiri, aku meremas pundaknya memberikannya kekuatan.

“Suatu hari Ibu membawa seorang pria asing yang baik hati, dengan bahasa yang tidak kumengerti  dia terus mengajakku berbicara menanyaiku berbagai hal dan melakukan segala cara hingga akhirnya untuk pertama kalinya aku berbicara dan tertawa di depan orang selain Haraboeji, dia menyuruhku memanggilnya Daddy.” Sharon terisak, tubuhnya goyah dan aku membawanya lagi dalam pelukkanku. Banyak kata yang ingin kutanyakan padanya, banyak kata yang ingin kuucapkan untuk menenangkannya tapi entah kenapa semuanya tertahan karena melihat airmatanya, melihatnya serapuh ini membuatku ingin menjadi sesuatu yang membuatnya melupakan segala kesakitan.

“Sejak saat itu Daddy datang dan mengajakku bermain setiap libur musim panas tiba setiap hari ulang tahunku dia juga mengirimkanku hadiah ulang tahun.”

“Hari ulang tahun yang sama denganku.” gumamku, dia mengangguk.

“Kau juga merusak salah satu hadiah istimewaku.” ucapnya, Oh Dear, gadis berumur 8 tahun itu benar-benar dirinya.

“Maafkan aku.”  ucapku penuh rasa bersalah. Saat itu aku juga masih terlalu kecil.

“Tidak apa-apa, setelah kejadian itu aku hidup dengan Daddy dan keluarganya.” sambungnya. Suasana hatinya sedikit berubah. Dia berusaha terlihat dingin gambaran dari kebencian.

“Ceritakan “ pintaku.

“Well, Ibuku menikah dengan seorang pria dan memiliki keluarga baru. Awalnya aku bertanya-tanya kenapa aku harus memanggilnya Eonni dihadapan orang-orang, waktu terus berjalan dia melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik, semua orang menyambutnya dengan suka cita membuat mereka sibuk, aku menceritakan kelahiran bayi itu pada Daddy saat dia menelponku. Malam itu banyak orang dirumah Haraboeji, mungkin sebuah pesta dan semua orang mendekati box bayi yang ditiduri bayi kecil itu, aku penasaran ingin melihat wajahnya juga, saat aku mendekatinya aku tidak dapat melihatnya dan berusaha memanjat box itu dan aku terjatuh tanpa sadar aku berteriak memanggil Ibu, dia terkejut dan gelas ditangannya jatuh pecahannya merobek kulit dilengan kananku, semua orang melihat kearah kami, Ibu berusaha menyembunyikanku dibalik kain yang menutupi box itu dengan tapak sepatunya yang tajam…” Sharon menarik nafasnya dan menutup matanya, tidak ada air mata lagi, hanya sorot mata kebencian dari sudut matanya, astaga, Sharon gadisku yang dingin ternyata memiliki masa lalu yang merusaknya hingga seperti ini, dia tersenyum kecut kearahku saat aku mengeratkan genggaman tanganku.

“Aku duduk di pinggiran kebun bunga, kemudian aku mendengar suara Daddy, dia berlari kearahku, dia melihatku dengan linangan airmata saat aku membersihkan darah di lenganku, dia memelukku dan meminta maaf padaku kemudian dia menggendongku hingga pakaiannya berlumuran darah,  kami menuju kedalam, aku memperingatkan Daddy untuk tidak masuk dan membuat keributan aku takut Ibu akan memarahiku, tapi Daddy mengabaikannya dia terus berjalan dengan hentakan kaki terburu-buru. Dia menemui Ibu, kemudian menurunkan aku dari gendongannya sebelum kekacauan terjadi, aku berlari ke arah Haraboeji dia menutup telingaku dan memelukku dengan erat, aku tidak bisa bernafas, aku tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar lagi, dan setelah aku sadar aku berada dirumah ini bersama keluarga Daddy dengan nama baru Sharon White dan disinilah aku, beberapa tahun kemudian kudengar bayi perempuan itu meninggal…“ Sharon mengangkat bahunya dan tersenyum masam, dia kembali mengambil  langkah dan menjauh dariku.

“Sharon…” gumamku.

“Setelah mengetahui seberapa rusaknya aku dimasa lalu, apa kau masih mencintaiku? Apakah kau masih mempertanyakan harapanku pada cinta?” tanyanya.

“Aku mencintaimu Sharon, tidak peduli tentang apa yang terjadi dimasa lalumu.” ya, ceritanya sama sekali tidak merusak perasaanku, aku justru semakin ingin meraihnya dalam pelukanku memberinya tempat bersandar yang nyaman dan hangat.

“Tapi aku tidak percaya pada cinta.” ucapnya.

“Bisakah kau menjadikan masa lalumu sebagai kenangan? Melewati hari ini sebagai kenyataan dan menjadikan masa depan sebagai harapan dimana ada aku didalam kenyataan dan harapanmu, jika kau tidak percaya pada cinta, kita bisa memulai untuk mencoba dan memahaminya, aku hanya ingin memperjelas perasaanku  tanpa bermaksud melewati batas kerasmu, aku mencintaimu dan ingin kau juga mengakui bahwa kau mencintaiku…”

Sharon mencium tepian bibirku mengatakan bahwa dia juga mencintaiku, menekan intonasi kata perkata dengan mendaratkan ciuman di bibirku. Oh Dear! Sharon adalah caffeine yang membawaku ke dalam euporia yang menggairahkan, menarikku dalam kenikmatan cinta, terikat dalam kebutuhan dan gairah yang melampaui batas-batas kegilaan ke tepian ego yang manis… matanya menyala dengan kebutuhan menatapku dalam diam, aku meraih bibirnya memberikan penghormatan yang sama.


Dia memanggil namaku, kata-katanya, suaranya adalah sumber segala euphoriaku, pusat dari cintaku hingga akhirnya aku menjalankan jariku di kedua sisi pipinya, sampai kerambutnya yang basah, dia bergetar dalam pelukanku, kunyatakan cintaku yang kini terlampir dalam doa. Kurasa aku mulai mengerti tentang apa yang kuharapkan dari cinta. 


10 comments:

  1. ya ampun mamanya sharon kejam amat sih untung ada mr.white, daddy nya sharon yg baik.

    ReplyDelete
  2. Aq komen dulu hon ...
    baru baca haha
    tengkyu mbak Arie n mbak Shin :))

    ReplyDelete
  3. Kasian bgt msa kecil Sharon jdi ga percaya Cinta... Tpi Cinta jga bsa berakhir indah.

    ReplyDelete
  4. ibu kandung memecahkan rekor muri sbg ibu t'rkjam..untung dady nya baik hati.."

    nasibmu sharon sabar ya dear skrag kn udh ad minhyuk yg slalu menemani dirimu n mncintai tanpa memandag masalalumu..:')

    gomawo mb ary n mb shin..^^

    ReplyDelete
  5. Astaga....... bener2 tega tuh ibunya Sharon, dasar gak punya perasaan >_<
    Rasanya pengen pites ja tuh ibunya huh.... :(

    ReplyDelete
  6. Thanks Hyung :)
    Thanks kaka" yang cantik :)
    salam Caffeine :D

    ReplyDelete
  7. ceritanya keren...ditunggu part selanjutna...thx

    ReplyDelete
  8. Tega bgt ibuny!!!****
    Ya Tuhan..:'(
    Ksian bgt si Sharon..:'(
    Daddy-ny Sharon baik bgt.. Mau brtnggung jwab.. Salut deh.. Jarang bgt org bule gtu mau tnggung jwab..
    Ckckck

    ReplyDelete
  9. Ich....ibu Ɣªήğ tdk brprikeibuan bgd c...
    Untung daddy nya baik bgd...
    Masuk bab 2 ni Ɑ̤̈̊K̶̲̥̅̊Ʋ suka,bab 1 nya Ɑ̤̈̊K̶̲̥̅̊Ʋ blm paham n tdnya smpt ƍäª suka...hehe


    ({})Ʈƕǎƞƙƴǒǘ({}) mba shin..ditunggu lanjutannya.. *peluk erat

    ReplyDelete
  10. mba shin ini minhyuk BTOB kan... ,
    sungjae jga mncul... ,

    aku ska cas nya minhyuk.. , aku lgi ska2ny ma dia.. ,

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.