"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, April 16, 2013

To Love, To Be Loved by Arie Zzuant - Part 3 (END)



To Love, To Be Loved 

story by +Arie Zzuant 


Mencintai untuk dicintai, untuk tidak pernah meremehkan kekuatan cinta yang agung, untuk pernah terbiasa dengan kejutan dari cinta, untuk mencari kesenangan ditempat yang paling menyedihkan, untuk mencari keindahan liar diluar sana, untuk menyederhanakan kesulitan dan untuk mempersulit kemudahan, bersama sang terkasih pemilik separuh hati dan bagian dari jiwa, untuk melihat, mencoba dan memahami cinta, untuk tidak pernah berpaling dan akan terus berjalan bersama mencari kesempurnaan, untuk menyandarkan cinta dan bergandengan tangan hingga menuju keabadian yang hakiki.

Untukmu sang pemilik sebagian dari jiwaku, aku mencintaimu dengan nama Tuhan dan segala keAgungannya, sebagai pencinta dan tercinta.


          Seoul, South Korea.

*** Sharon POV ***
           
Aku menarik nafas lega karena berhasil menginjakkan kakiku lagi ke Negara ini, setelah 6 tahun berlalu sejak terakhir kali aku kembali, aku tidak akan menghindar lagi seperti pecundang tentang Ibuku, aku tidak membenci dirinya atas perlakuannya padaku dimasa lalu, hanya saja aku merasa sedih karena datang terlalu cepat dalam hidupnya.
           
Seburuk apapun perlakuan seorang Ibu dia tetaplah seorang Ibu, dan aku hanyalah seorang anak, dia pernah mempertaruhkan nyawanya demi aku agar aku dapat menghirup nafas kehidupan, lalu aku? Tidak pernah mengorbankan apapun untuknya, dan sekarang, akhirnya aku berada dititik dimana aku harus mengorbankan egoku untuk memaafkannya. Memaafkan dirinya yang telah membuatku menjalani hidup didalam biru yang dingin hingga aku dapat menemukan dan merasakan cinta yang sebenarnya.
           
Ya, aku akan mempersembahkan kembali cinta yang telah kudapat, memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mendaki keindahan dari cinta yang jauh lebih berharga daripada terus bersembunyi dalam ego dan berpijak sebagai pengecut.
           
Aku duduk didepan pusara Haraboeji, tempat jasadnya terbaring dalam kedamaian. Perlu waktu yang lama untukku sampai menemuinya disini, melewati segala kekacauan dalam diriku, kupejamkan mataku yang terasa perih akibat perasaan kecut yang merasukiku karena berjuang melawan diri sendiri untuk meminta maaf padanya atas keterlambatanku dan segala kebodohanku.

Bathinku mencoba menemuinya mengatakan semua tentang apa yang selama ini ingin kukatakan padanya, mengatakan kesakitanku, mengatakan kemarahanku, mengatakan keinginanku, mengatakan seluruh isi hatiku, saat ini, detik ini aku ingin mencium aroma tubuh Haraboeji dalam bungkusan lengannya yang memelukku di dadanya yang hangat, ingin merasakan usapan tangan besarnya yang lembut dirambutku. Ingin mendengar dia mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja, seperti dulu saat aku dan dirinya masih dalam waktu yang sama.

“Yeongwonhi Saranghamnida Haraboeji.”

***

Kupejamkan mataku untuk mengumpulkan keberanian saat langkah kaki mendekat kearahku, dia berjalan diarah belakangku dengan langkah ragu-ragu kemudian berhenti saat aku berbalik melihat kearahnya. Seorang wanita cantik dengan gayanya yang elegan berdiri dihadapanku, wajah yang terlatih untuk menyembunyikan segala ekspresi namun aku dapat melihat kedalam matanya, ada kegelisahan dan ketakutan disana. Aroma manis tercium memenuhi ruangan, aku memiliki aroma tubuh yang sama dengannya, dengan wanita yang melahirkanku, Ibuku.

Dia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum airmata keluar dari sudut matanya, dia menangis tanpa suara perlahan dia mendekatiku dengan tangan bergetar, dia meraih tanganku, saat kulit tangannya yang halus menyentuh permukaan kulit tanganku aku merasakan kedamaian yang tidak pernah kurasakan, Ya Tuhan, aku telah merindukan sentuhan tangan ini selama hidupku.

“Mianhatta Seri’ya, Mianhae…” ucapnya, dia menangis terisak, menuturkan penyesalan yang teramat sangat. Diiringi oleh suara hujan diluar sana.

Tubuhnya perlahan merosot dan dia bersimpuh didepanku, mengepalkan tangannya diatas lututnya dilantai yang dingin.

“Aku tahu sekarang mengucapkan dan meminta maaf padamu akan terdengar seperti kata murahan yang hina, aku memerlukan keberanian yang besar untuk bisa berada dalam satu ruangan bersamamu seperti sekarang ini, tapi Seri, izinkan aku menebus kesalahanku padamu, izinkan aku meminta maaf atas dosaku selama ini, izinkan aku menggunakan gelar terhormat yang dulu kuabaikan sebagai Ibumu, izinkan aku membayar semua airmatamu yang telah terjatuh, izinkan aku menebus dosaku karena membiarkanmu sendiri dalam sepi, Seri, kumohon izinkan aku membayar semuanya, kumohon maafkan aku…”
Ya Tuhan, dosakah aku membuat Ibuku menangis? Aku memohon ampun demi tetesan-tetesan airmatanya yang jatuh karena diriku Tuhan.

Aku duduk dihadapannya, meraih jari-jari tangannya yang memutih.
“Maafkan aku yang terlalu cepat datang kedunia ini, Ibu.” ucapku.

Dia menatap mataku, seakan tidak percaya dengan yang kukatakan, tangannya memegang kedua sisi pipiku, mengusap airmata yang mengalir disana.

“Ya Tuhan, Putriku, aku yang salah, semua ini kesalahanku, kau tidak bersalah.” dia histeris, menangis sejadi-jadinya, mengatakan maaf ratusan bahkan ribuan kali, dia memeluk dan menciumku seolah-olah aku seperti seorang bayi yang baru lahir. Ya, rasanya aku memang seperti terlahir kembali dari rahim seorang Ibu yang mencintaiku dengan kasih sayang yang tak terhingga.

***

“Sup rumput laut yang hangat di hari yang dingin, selamat ulang tahun sayang.” ucap Ibu yang menghidangkan semangkuk besar sup rumput laut dengan taburan wijen yang terlihat sangat lezat diatas meja, kemudian dia mencium keningku sembari mengucapkan selamat.

“Gamsahamnida Eomma.” ucapku, Ibu menitikkan airmata lagi.

“Aku terlalu banyak menyia-nyiakan waktu berharga seperti ini, maafkan aku.”

“Geumanhaeyo Eomma, bukankah kita sepakat untuk melupakan masa lalu dan menjadikannya sebagai kenangan?” dia mengangguk, mengiyakan ucapanku.

“Harusnya aku yang menangis karena kau baru saja melahirkanku, Aku seorang bayi sekarang“ Ucapku, dia tertawa dan menghapus jejak airmata disudut matanya.

“Kau pasti lapar, biasanya bayi menangis karena kelaparan, makan yang bagus bayiku yang cantik.” serunya sambil menyuapiku sup rumput laut buatannya. Demi apapun ini adalah sarapan terenak yang pernah kunikmati.

Suami Ibu ikut bergabung dan memberiku ucapan selamat ulang tahun kemudian memberiku kecupan di keningku, terasa seperti sebuah keluarga yang seharusnya, alangkah baiknya jika Daddy berada disini, aku, Ibu dan Daddy, kami bertiga menjadi 1 keluarga kecil yang bahagia di akhir pekan menikmati waktu bersama kedua kakek dan nenekku.

Suara bell terdengar dipenjuru ruangan, tiba-tiba aku merasa gugup luar biasa, pagi ini Minhyuk dan keluarganya datang untuk menikmati sarapan bersama, Ibu melihat kearahku menyadari kegugupanku, dia tersenyum mengatakan semuanya akan baik baik saja.

Minhyuk berdiri dengan membawa 2 cup coffee berlabel hijau milik starbucks, dia menyeringai dan mengedipkan sebelah matanya padaku, menambahkan poin luar biasa di wajah tampannya yang tidak wajar itu. Oh My, aku terlihat seperti remaja yang tengah jatuh cinta, pipiku memerah.

“Saengil cukkahae Seri’ya.” ucapnya dan menyerahkan 1 cup untukku.

“Apa ini coffee ulang tahun?” tanyaku menahan tawa.

“Yup.” ucapnya dan dia memutar bola matanya.

“Kau juga, selamat ulang tahun, Minhyuk’ah.”

“Jangan menggigit bibirmu seperti itu atau kita akan berakhir dengan adegan ekstrim disini.” bisiknya. Aku menahan nafasku, bisikannya membawa gelenyar aneh yang mengalir di aliran darahku dan berakhir diantara kedua kakiku.

Dimeja makan terhidang berbagai jenis makanan yang pas untuk sarapan, dengan suasana yang sama sekali belum pernah kurasakan, suasana dalam sebuah keluarga yang hangat, penuh cinta, Haraboeji, Grand, Daddy dan adik perempuan yang belum sempat kukenal, apakah kalian melihatku? Dapatkah kalian merasakan betapa bahagianya aku sekarang? Semua ini akan lebih baik jika kalian juga hadir disini melengkapi hari ulang tahun yang sempurna untukku.

*** Minhyuk POV ***

Aku tersenyum kecil memandangi wajah Sharon yang masih terlelap dalam tidurnya, tubuh telanjangnya hanya terbungkus selimut yang sama denganku, aku bertaruh Ayah pasti akan memarahiku habis-habisan jika kami tertangkap basah berada diatas tempat tidur dalam keadaan telanjang bersama, tapi aku penasaran dengan reaksi Ibu yang sangat mengidamkan seorang cucu mengingat Hyung-ku belum menunjukkan tanda-tanda akan menikah di umurnya yang hampir berkepala 3. Lalu bagaimana dengan orang tua Sharon? Memikirkan ini membuatku terkikik geli.

Apakah dia akan menerima lamaranku nanti? Tiba-tba aku merasa kecil hati dengan rencana yang kususun sejak lama. Aku mendengus, Sharon menggeliat karena nafasku tertiup di telinganya. Dia bergerak menggeliat tubuhnya menggesek tubuhku. Membangunkan ‘diriku’ yang sedang tertidur.

“Good Morning, Honey.” ucapku terkejut dengan suara serak yang kukeluarkan.

Dia menahan nafasnya, mengedipkan matanya 2 kali dan melihat sekeliling.
“Kita berada dikamarmu.” ucapku menyadari kebingungan pagi hari yang dialaminya.

“Oh, good morning.” ucapnya seperti telah sadar dari mabuknya.

“Kau melakukan kesalahan besar, Miss White.” bisikku.

“Benarkah?” jawabnya, tangannya lebih cepat daripada ucapannya, aku meringis saat tangannya menyentuh ‘diriku’ yang keras.

“Kau juga sudah siap untukku.” aku menyeringai melihat dia menggigit bibirnya menikmati jariku yang bermain padanya.

***

“Kau meninggalkanku lagi.” ucapku saat menemaninya menunggu waktu keberangkatannya di Bandara Gimpo.

“Minhyuk’ah, raga memang harus sering berpisah demi kepentingan dunia dan meneruskan hidup, sekalipun hidup itu sendiri kian menjauh akibat kepentingan itu sendiri, hanya saja jiwa kita yang tetap menyatukan dalam gairah cinta hingga sang maut berkunjung untuk meleburkan kita dalam buaian Tuhan #KG.” dia mengatakan kalimat itu dengan tersenyum dan menggenggam tanganku, memberikanku sebuah harapan didalam ciuman panas sebelum dia pergi, kembali ke Seattle.

Aku menatap geli layar tablet PC ku membaca sebuah artikel tentangku yang berciuman di bandara beberapa waktu lalu, berita ini keluar setelah issue aku berpacaran berhembus ke public. Wartawan mencari semua yang berkaitan denganku, ini semakin memanas setelah aku di wawancarai di sebuah variety show terkenal tentang wanita idamanku. Tentu saja aku menceritakan tentang Sharon. Bahkan ada yang mengatakan bahwa aku mencintai diriku sendiri, karena aku mengatakan gadis yang kusuka memiliki pribadi yang sama sepertiku.

Ini jadi menggelikan dan sedikit mengganggu, aku tidak suka kehidupan pribadiku menjadi perbincangan orang banyak dan aku yakin Sharon juga merasa terusik dengan ini, semoga kesibukan membuatnya tidak akan membaca berita ini, atau aku harus menerima hukumanku lagi. Oh Dear!

Kupandangi rintik hujan dalam kesunyian, ujung jentik-jentik yang lembut mengetuk kaca jendela, ketukan itu merupakan sebuah nyanyian dengan irama romantic, seperti desah lautan, sang tangisan langit yang tersenyum diladang hijau. Seperti cinta, cinta adalah desahan dari lautan perasaan, airmata dari langit renungan dan senyum dari ladang sukma sang pecinta. Dirinya yang memberiku harapan dalam sebuah ciuman, ciuman dari bibir orang yang kucintai. Bagiku cinta tidak memiliki dan tidak dimiliki, karena cintaku akan memenuhi kebutuhannya sendiri.

“Bro, hantu perawan akan memperkosamu segera!!!” teriak managerku. Aku mengernyitkan kedua alisku kearahnya, dia mengangkat bahunya dan menghempaskan tubuhnya di kursi kebanggaan miliknya.

“Aku melihatmu melamun, hantu perawan akan bergairah melihatmu seperti itu.” ucapnya dengan suara tawanya menggema kepenjuru ruangan.

“Kali ini aku serius, ini naskah drama terakhirmu.” dia memberiku lembaran kertas yang terjilid rapi, ini akan menjadi drama terakhir yang kuperankan sebelum aku menjadi produser, aku akan bekerja dibalik panggung memimpin sebuah perusahan yang sahamnya kubeli setelah beberapa tahun aku berdiri diatas panggung.

Setelah drama ini selesai, aku akan mengukuhkan cintaku pada Sharon dihadapan Tuhan dan menjalankan harapanku akan cinta. Oh Dear, aku merindukannya.

Call me late at night, it’s okay if you bother me, If you say “Where are you? Come to me,” I’ll fly over, I’ll give my golden Friday night to you, I can’t say it any other way, I will just show it all to you.

Oh girl, you’re my ideal type, I’m totally ready. To give you everything girl because the fact that you showed up in my life, Is the greatest happening girl, you’ are my favorite accident. Please know that you’re my focus, whenever, wherever.

I can’t live because of you, I can’t live because of you, I’ve fallen so deeply for you, who makes fireworks erupt in my heart – do you know?

Even if you get mad, angry and irritated, you are pretty, whatever you do, you’re pretty. I love you because you’re you. Give me you, give me your heart if I beg for it.

“What? I can’t hear you” – you pretend not to hear me, You pretend to ignore it and pretend you don’t know, But then in my ears, you whisper “I love you,” you’re so pretty.

You pretended not to know but I think you read my eyes,Which were earnestly saying ‘Answer Me,” because of you, my heart feels anxious, Because of you, I melt like the March snow.

Everywhere I go, I see your face, I really can’t live because of you, Oh my god, I can’t live because of you, Even your scrunched up face is so loveable, what do I do? I want to hug you, all of you. You’re pretty because you’re you, I only have you because you’re you, You are my love.

I live because of you, I live because of you, The reason why I love you is just you – will you promise me?, That you will stay by my side just like you are doing now so that I can love you? One more time, I love you, love you.

Seattle,
Washington, USA.

Dibantu oleh Mia dan semua kenalanku yang terbatas di Seattle dan tentu saja tanpa sepengetahuan Sharon, aku mempersiapkan segala sesuatunya menurut seleraku, harus tampak lebih sempurna dari yang biasanya, dari jauh hari aku telah mempersiapkan scenario untuk hari ini. Ku pejamkan mataku, menuturkan doa memohon kepada Tuhan untuk menguatkan percaya diriku demi mengukuhkan cintaku dalam keagunganNYA.

Matahari terbenam diufuk barat diiringi kepakan sayap burung-burung camar di pantai Seattle, kembali ke peraduannya bersama lukisan langit berwarna jingga. Di café milik Sharon, kami mengubah ruangan ini dipenuhi ribuan lilin dan kelopak bunga yang melambangkan keabadian, aroma caffeine mendominasi ruangan menguatkan kesan dramatis yang sengaja kuatur.

Aku menghubungi Sharon setelah semua keluargaku juga keluarga Sharon berkumpul untuk menjadi saksi saat aku melamar Sharon. Suasana café hening, saat Sharon memasuki ruangan, yang terdengar hanya suara petikan gitarku, dengan mengenakan kemeja putih dan jins favoritnya dia berdiri dengan dikelilingi ribuan cahaya lilin, menatap kearahku dengan raut wajah kagum kearahku.

Kupetik gitar dan kunyanyikan lagu yang bercerita bahwa dia terlahir untuk menyempurnakan diriku, menyempurnakan jiwaku, menyatukan hati yang merindukan keagungan sang cinta dihadapan Sang Maha Cinta.

Your hand fits in mine
Like it's made just for me
But bear this in mind
It was meant to be
And I'm joining up the dots
With the freckles on your cheeks
And it all makes sense to me
I know you've never loved
The crinkles by your eyes
When you smile,
You've never loved
Your stomach or your thighs
The dimples in your back
At the bottom of your spine
But I'll love them endlessly

Sharon tersenyum malu-malu sambil menggeleng-gelangkan kepalanya…

I won't let these little things
Slip out of my mouth
But if I do
It's you… Oh it's you
They add up to
I'm in love with you
And all these little things

Kemudian memutar bola matanya, sudut bibirnya tetap membentuk sebuah senyuman kecil…

You can't go to bed
Without a cup of Coffee
And maybe that's the reason
That you talk in your sleep
And all those conversations
Are the secrets that I keep
Though it makes no sense to me

Lalu Dia mendengus geli dan melangkahkan kakinya yang perlahan mendekat padaku saat aku mengubah sedikit lirik di lagu yang kunyanyikan.

I know you've never loved
The sound of your voice on tape
You never want to know how much you weigh
You still have to squeeze into your jeans
But you're perfect to me

Sharon memecingkan matanya sambil menahan senyumnya, berusaha terlihat kesal. Dan berhenti 2 langkah didepanku.

You'll never love yourself
Half as much as I love you
You'll never treat yourself right darlin'
But I want you to
If I let you know
I'm here for you
Maybe you'll love yourself like I love you Oh..
I've just let these little things
Slip out of my mouth
'Cause it's you… Oh it's you… It's you
They add up to
And I'm in love with you
And all these little things

Dan Sharon, gadisku tersenyum, pipinya bersemu merah… menatap dengan penuh cinta untukku. Kuletakkan gitarku dan berdiri mendekat kearahnya, sambil merogoh kantongku, mencari benda bulat berwarna putih dengan potongan berlian kecil diatasnya.

“Tuhan menganugrahkan cinta padaku, hingga mempertemukan kita, mengenalkan jiwa-jiwa kita pada cinta menjadikan kita sebagai pencinta dan yang dicinta, melihat, mencobanya dan kemudian memahami cinta dan kini aku memintamu untuk bersama mencari kesempurnaan dan tidak akan pernah berpaling dari cinta, memintamu mengizinkanku menjadi sandaranmu, tempatmu kembali pulang, hal pertama yang kau lihat saat kau terbangun dari tidurmu, izinkan aku menjadikan dirimu sebagai prioritas tertinggi dari hidupku, memintamu menjadi istriku, maukah kau menikah denganku?”

Sharon menatap ku, mencari kesungguhan dari mataku, dia menggigit bibirnya dan mengangguk kemudian berkata “Ya.” cukup satu kata yang keluar dari mulutnya, jiwaku berteriak menyerukan terimakasih kepada Tuhan, aku memeluknya mengisyaratkan kelegaan yang luar biasa.

Satu persatu lampu diruangan mulai menyala, suara gemuruh tepuk tangan menggema, Sharon meloloskan tubuhnya dari dekapanku, wajahnya yang bersemu merah kini bertambah dengan aliran airmata haru kedua disisi pipinya, dia terlihat sangat cantik, oh dear! Aku benar-benar mencintai gadis ini. Canduku…

Dia menutup mulutnya, menahan isakannya. Aku meraih tangan kirinya dan memasangkan cincin di jari manisnya. Terimakasih Tuhan, cincin ini begitu sempurna untuknya. Aku dan Sharon menerima banyak pelukan dan kecupan selamat dari semua yang hadir, ini merupakan salah satu hari terbaik dalam hidupku.

***
           
Aku mendapatkan banyak jawaban dari satu pertanyaan paling sulit dari segala yang ada hidupku. Tentang apa yang kuharapkan dari cinta.
           
“Apa yang kau harapkan dari cinta?” tanya Sharon menyandarkan kepalanya padaku di malam pertama kami sebagai suami istri.
           
“Demi keagungan cinta yang telah menyatukan jiwa kita, demi semua yang mengasihimu dalam hidup ini, demi misteri-misteri hatimu, demi cinta yang telah menyentuh dan menyalakan jiwa kita, untuk mencair dan menjelma bagai aliran sungai yang melantunkan nyanyian bagi malam.”
           
Kuciumi pundaknya yang lembut, harapan dari cinta adalah untuk memahami nyerinya luapan kelembutan, untuk dilukai oleh pemahamanmu sendiri tentang cinta, rela dan senang terluka hingga mengeluarkan darah, untuk terjaga dini hari dengan hati bersayap dan menyampaikan terimakasih bagi hari cinta selanjutnya, untuk istirahat tengah hari dan merenungi kenikmatan cinta, untuk kembali pulang senja kala penuh terima kasih dan kemudian tidur dengan doa bagi kekasih hatimu dan nyanyian pujian dari bibirmu.
           
Kuciumi bibirnya yang merekah menyanyikan gairah cinta, ciuman itu mencerahkanku akan suatu ajaran bahwa bibir yang bermahkotakan gairah cinta mampu menguak misteri langit yang tak terkatakan oleh gemulai lidah. Ciuman itu mengakrabkanku pada bisikan agung yang menyerupai nafas Maha Kuasa yang telah memasukkan nyawa kepada segumpal tanah hingga menjadi manusia. Nafas itu telah menghantarkan kita memasuki gerbang spiritual, menghanturkan keagungan jiwaku. #KG 


13 comments:

  1. Whoooaaaaaa
    Happy ending...
    Great job & great story..<3<3

    ReplyDelete
  2. ceritax bgs!!! plg sk cerita happy ending. ;-)

    ReplyDelete
  3. thanx for the nice story. Thanx mba chin

    ReplyDelete
  4. So sweet......
    i love happy ending
    thanks mba Shin
    mmmmmmuaaaccccchhhhh....

    ReplyDelete
  5. Sweet bgd endingnya...memaafkan org Ɣªήğ tlah menyia-nyiakan qta wlu itu org tua adl hal Ɣªήğ slit,tp sharoon hebat bs dgn brbesar hati memaafkan ibunya.. :D

    ({})Ʈƕǎƞƙƴǒǘ({})

    ReplyDelete
  6. Paling suka ama yang namanya happy ending. Ditunggu karya selanjutnya, mbak :)

    ReplyDelete
  7. Yeai happy ending hihihi
    Bahasa nya keren banget mb arie
    Sweet story, happy ending , love it
    Makasih mb shin :))

    ReplyDelete
  8. So sweet bängét éndingnyä bikin pengén cépét 2 dìlamar, Thanks mb Arie & mb Shin;-)

    ReplyDelete
  9. Makasih mbak Arie n mabk Shin

    akhirnya happy ending jg, thankZ :))

    ReplyDelete
  10. so sweet bgt ending nya... ,
    mba shin aku byangin minhyuk yg baca cofee smbil ngedipin maata..
    psti ganteng bgt, kya d MV BTOB wow... ,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha gak ngerti. aku gak kenal ama Min Hyuk. jd gak bs bayanginnya. wkwkwkwkw.... ini yg bikin Zzuan Gun. +arie zzuant namanya

      Delete
  11. Aseli ini keren bingit. Biasanya aku bosen baca tulisan yg gayanya pake perumpaan begini. Mikirnya itu lebai. Males mikir yg berbelit2.

    Tp tulisan ini. Keren bingit. Walau ada jg G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ ngertinya, ada yg di skip bacanya НīĬ:DнīĬ:DнīĬ:D НīĬ:DнīĬ:D tp msh bs dimengerti...

    Dan yg G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ dipercaya adl yg bikin ini namja. Jongmalyo? Daebak!

    Itu yg di foto jd cwenya ya? Pdhl dia udh tua. Tp mukanya msh bs nyeimbangin minhyuk. Ajib deh baby face...

    Keren. Terus berkarya ya ari (y)

    Yani

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.