"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, May 14, 2013

CERMIN 2 - Kopi Dan Anak Perempuan Itu oleh Rike Puspitasari


Story by +rike puspitasari 
website : Re's Imagination 
wattpad : acariba 


Siapa namanya?
Mandy? Lusi? Irina? Sialan, aku lupa! Dia tersenyum manja kepadaku dan memutar jarinya di atas cangkir kopi miliknya. Gambar hati itu pasti sudah meluluhkan hatinya. Dan sekali lagi sebutan Barista Penakluk Wanita terbukti dari diriku. Malam ini, kira-kira apa yang akan wanita itu berikan kepadaku.
“Anda mulai lagi, Pak!”
Aku melihat ke arah suara itu dan menemukan asistenku sedang membawa beberapa cangkir bersih dari arah dapur. Anak itu masih muda, tapi mulutnya sedikit menyebalkan untukku. Mungkin itu karena negara asalnya yang terbiasa untuk bicara terbuka, tapi tetap saja bagiku menyebalkan.
“Mike, sini!” perintahku memangil anak kurang ajar itu. Dia terlihat patuh dan segera mendatangiku. “Berapa umurmu? 18…19…”

“20 tahun, Pak!” jawabnya sedikit sebal.
Aku meraih wajahnya dengan satu tanganku dan dia terlihat sedikit ketakutan.
“Wajahmu tampan, terutama muka bule-mu itu bisa bikin banyak cewek suka, badanmu juga bagus…”
“Pak, saya masih normal…”
“Jangan besar kepala!” aku memukul kepalanya dengan tanganku yang masih bebas, sementara tanganku yang satunya masih memegang erat dagunya. “Dengan semua kelebihan itu, seharusnya kamu bisa menjadi pria yang jauh lebih hebat daripada aku dalam hal merayu wanita!”
“Saya tipe yang setia, Pak!”
“Jangan sombong!” sekali lagi aku memukul kepalanya. “Setia itu kata lain dari ketidak mampuan diri mengatasi hatimu!”
“Maka saya siap menerima sebutan itu, Pak!”
Aku mengernyitkan alisku, menatap heran anak di depanku ini. Seorang pria dengan bakat menggaet wanita, tapi lebih memilih untuk setia.
“Kamu…gay?”
“Apa? Tidak, Pak! Saya pria normal, saya…”
“Ya...ya…ya…, terserah kamu aja! Sekarang jaga konter ini sementara aku bertemu dengan wanita kesepian di sana!”
Aku mulai meninggalkan Mike yang terlihat sedikit marah dan menuju ke arah wanita yang sedari tadi menungguku di meja itu. Wanita itu tersenyum semakin lebar ketika aku mendekatinya. Akhirnya aku ingat namanya, Samantha.
“Hai cantik, bagaimana kopinya?” tanyaku sembari mencium pipinya. Nanti malam giliran bibirmu dan juga tubuhmu, sayang.
“Enak, seperti biasa!” jawabnya senang. Dia menggeser letak duduknya seakan memberikanku tempat untuk duduk di dekatnya.
Aku mengambil kursi lain yang jauh dari tempatnya. Itu taktik untuk membuatnya penasaran. Semakin penasaran dia, semakin garang tingkahnya di ranjang nanti. Api gejolak di dalam tubuhku mulai menggelegak. Hari ini, kejutan apa yang akan dia berikan untukku? Aku tak sabar menunggu itu semua.
“Jadi, kenapa baru menghubungiku?” tanyaku merayu. Tanganku mulai meraih jemarinya, membuatnya tertawa geli.
“Bukannya kamu yang terus sibuk? Aku beberapa kali mengubungimu dan anak yang sedang mengelap gelas di sana mengatakan kalau kamu masih ada urusan.”
Begitulah, aku sibuk.
Selain cafe ini, aku juga harus mengurus perkebunan kopi, juga tempat pengolahan kopi milikku. Belum lagi usaha ekspor biji kopi milikku yang sedang kujalani beberapa saat ini. Cafe ini hanya sebagian kecil usahaku, Bung. Para wanita memuja kekayaanku selain ketampananku.
“Kamu kesepian, Cantik?”
“Sangat…”
“Ini awal video porno?”
Aku dan Samantha terperanjat mendengar pertanyaan barusan. Di depan kami tiba-tiba muncul seorang wanita dengan kacamata hitam dan riasan lengkap. Wanita yang sepertinya tidak asing bagiku.
“Ya?” tanyaku berusaha ramah, bagaimanapun juga dia adalah pelangganku.
“Aku mencari papaku,” ujarnya.
“Baik, silahkan menunggu di meja kosong,” ujarku.
“Dia pemilik Cafe ini.”
Aku menoleh tajam ke arahnya. Sebuah seringai muncul di sudut bibirnya.
“Halo, Papa!”
****

Tanganku bergetar memegang hasil tes itu. Selama hampir 2 minggu aku menunggu, akhirnya bukti ini muncul. Sebuah tes yang menyatakan bahwa anak perempuan di depanku ini benar-benar anak kandungku. Dia tersenyum puas seakan sudah membuktikan bahwa semua perkataannya 2 minggu lalu adalah sebuah kebenaran. Aku meringis mengusap pipiku ketika mengingat lagi kejadian dua minggu yang lalu.
Masih teringat jelas wajah Mike yang berusaha menahan tawa melihatku yang sibuk mengompres pipiku dengan air dingin. Sebuah tamparan keras mampir dari tangan Samantha ketika bocah keparat itu seenaknya mengaku sebagai anakku. Saat itu bocah ini duduk dengan tenangnya di hadapanku. Dia datang di saat yang cukup tepat untuknya, saat Cafe akan tutup dan wanita yang akan menghangatkan ranjangku datang.
“Dengar, aku tidak punya anak…”
“Tidak mau tahu siapa namaku?”
Bagus, sekarang dia memotong omonganku.
“Siapa namamu?” tanyaku sebal.
Dia membuka kacamata hitamnya dan terlihat mata lebar yang penuh riasan.
“Senia, Senia Pradipta,” ujarnya tenang.
“Aku tahu kamu! Kamu artis yang sering muncul di televisi itu!” serobot Mike tiba-tiba.
Aku memperhatikan lagi wajah gadis itu dan benar saja, aku merasa pernah melihatnya di televisi. Gadis itu tersenyum mendengar ucapan Mike.
“Kamu tahu, aku tidak…”
“Tidak mau tahu siapa nama ibuku?”
Sekali lagi dia memotong ucapanku. Mirip siapa anak ini? Aku mempersilahkannya bicara.
“Nadia Prameswari, masih ingat?”
Aku tercekat mendengar nama itu. Banyak nama wanita yang silih berganti datang dalam hidupku, tapi nama itu tidak akan kulupakan. Nama wanita yang meninggalkan bekas di hatiku.
“Nadia dan aku memang…”
“Tidak mau tahu berapa umurku?”
“Demi Tuhan, bisakah kamu berhenti memotong semua ucapanku?” sentakku sebal.
“15 Tahun! Ini akte lahirku yang tercatat nama Mama dan tanggal lahirku, dan kalau Papa butuh bukti lebih, aku siap melakukan tes DNA.”
Dan inilah yang terjadi ketika hasil tes DNA itu keluar. Semua ucapannya terbukti dan dia kembali muncul di hadapanku. Aku kembali teringat akan Nadia, pacarku saat kami masih duduk di awal bangku kuliah. Dia wanita pertama yang pernah menghangatkan ranjangku dan wanita terakhir yang kutiduri tanpa pengaman. Jadi kejadian ini sebenarnya bukan sebuah kejutan bagiku. Ini memang bisa saja terjadi, tapi kenapa setelah sekian lama?
“Jadi apa maumu sekarang?” tanyaku.
Dia menunjukkan kedua jarinya kepadaku, kemudian tersenyum.
“Dua bulan tinggal bersama Papa, itu saja! Setelah itu aku nggak akan pernah muncul lagi di hadapan Papa,” jawabnya tenang.
Apa?
Tinggal bersamaku selama 2 bulan?
“Itu tidak bisa! Dengar, pertama aku tinggal dengan Mike dan aku tidak bisa menerima orang lain di rumahku,”
“Termasuk anakmu sendiri, Pa?”
“Ya!” jawabku tegas.
Aku melihat bola matanya yang indah berkaca-kaca. Oh tolong, jangan menangis!
“Aku nggak minta sedikitpun uang ataupun pengakuan ke seluruh dunia. Aku hanya minta 2 bulan dari seluruh hidupku untuk bersamamu dan Papa menolaknya.”
Anak itu mulai menangis dan itu membuat dadaku terasa nyeri. Sialan!
“Baiklah! Cuma 2 bulan, setelah itu tinggalkan aku!”
Dia tersenyum bahagia dan berlari memelukku.
Perasaanku sama sekali tidak enak dengan semua keputusanku ini.
****

Suara pecahan piring menyadarkanku dari tidur. Setelah semalaman tersiksa dengan mimpi buruk, pagi ini aku terbangun dengan suara yang paling kubenci di sekitarku. Aku bergegas menuruni ranjang dan berteriak kepada sumber masalah ini semua.
“Mike, kalau kau masih memecahkan semua barangku, aku tak segan mengusirmu kembali ke Australia!”
Aku melihat pecahan piring masih di sekitar kaki Mike yang masih terpaku menatap satu sosok. Bagaimana bisa aku lupa kalau sekarang ada anak itu di rumahku. Senia, anak dari Nadia, anakku juga. Anak itu berdiri dengan rambut basah – selesai mandinya – dan masih memakai piyama tidur. Wajahnya yang tanpa riasan membuatnya jauh terlihat lebih muda, bahkan terlihat masih sangat ‘anak-anak’.
Sial!
Apa-apaan semburat merah di wajah Mike itu?
“Pak, kenapa ada anak perempuan ini di sini?” 
Aku lupa kalau semalam kami datang ketika Mike sudah tidur sehingga aku lupa tidak memberitahunya. Senia tersenyum memberi salam pada Mike kemudian mengulurkan tangannya. Aku melihat Mike menjengit terkejut seakan menghindar dari Senia dan itu membuat wajah Senia sedikit keheranan.
“Mike, dia Senia, anakku!” aku mengenalkan Senia dan wajah Mike berubah menjadi sangat terkejut.
“Jadi dia betul-betul anak anda, Pak? Artis itu? Tunggu jangan mendekat!” Mike berteriak kepada Senia, “Maaf, tapi di sini banyak pecahan kaca. Biar kubersihkan dulu.”
“Cepat bersihkan dan siapkan aku sarapan!” teriakku pada Mike. Aku mulai memasak air dan membuat kopi untukku sendiri.
“Biar aku yang membuat sarapan,” tawar Senia. “Kalian mau makan apa?”
“Tidak, kamu duduk saja. Sarapan itu bagianku!” sanggah Mike, sambil terus membersihkan pecahan kaca di lantai.
“Senia, tinggalkan dapur dan segera kemari. Ada yang mau kubicarakan,” panggilku. Anak itu berjalan gontai ke arahku dan duduk berhadapan denganku di meja makan.
“Ada apa, Pa?” tanyanya manis.
“Apa ibumu yang menyuruhmu untuk menemuiku?”
Dia terdiam sejenak, menunduk menatap kedua lututnya.
“Mama sudah meninggal semenjak aku berumur 10 tahun,” jawabnya sedih.
“APA?” jawabku dan Mike bersamaan.
Aku menoleh ke arah Mike yang sudah ada di sebelahku membawakan roti untuk sarapan. Mau apa dia ikut-ikut dalam pembicaraan ini?
“Mama meninggal karena sakit dan selama ini aku diasuh Tante Ira, yang saat ini juga mendampingiku sebagai manajerku,” jawabnya lagi.
Nadia meninggal?
“Kenapa? Apa yang membuat Nadia meninggal?” tanyaku cemas.
“Kenapa Papa mau tahu?” sebuah senyum tersungging di wajahnya.
Sialan! Ini bukan karena aku merasa bersalah atau karena aku memikirkan Nadia. Aku hanya penasaran!
“Lalu bagaimana kamu bisa tahu kalau aku ada di sini dan aku…,” aku menelan ludah getir sebelum melanjutkan perkataanku kembali, “…aku Papamu?”
Sekali lagi Senia terdiam mendengar pertanyaanku. Dia menggigit kuku ibu jarinya seenak kemudian menatapku kembali.
“Tante Ira yang kasih tahu!” dia sedikit gugup menjawab pertanyaanku
“Lalu darimana…”
“Mike, namamu Mike kan? Aku Senia Pradipta, kenalkan!” tiba-tiba dia memotong ucapanku dan menjulukan tangannya ke arah Mike.
Mike terlihat malu-malu dan menerima jabatan tangan Senia sembari mengucapkan namanya, “Mike Feas.”
“Kamu dari…?”
“Australia. Di sini aku belajar mengelola cafe dari Pak Hendrik.” jawab Mike senang. Dia terlihat bersemangat menghadapi Senia
“Kamu, memang kamu tidak sekolah? Kamu masih 15 tahun kan?” tanyaku mulai menyelidik lagi.
“Aku menunggu pengumuman kelulusan, Pa,” jawabnya.
“SMP?”
“SMA, Pa,” jawabnya sambil mulai mengambil roti untuk sarapan.
“Akselerasi…” gumam Mike dan sebuah anggukan dari Senia menyetujuinya.
Aku berdehem pelan berusaha menghentikan kegiatan saling memandang di antara mereka. Perasaanku memberi alarm bahwa Mike memiliki perasaan pada gadis kecil ini, dan itu tidak boleh. Semua kekacauan ini akan berhenti 2 bulan ke depan dan tidak boleh lagi ada hubungan setelah itu.
“Pa, aku akan membantu Papa di Cafe. Aku akan ikut ke semua kegiatan Papa,” ujarnya tiba-tiba.
“Apa? Tidak! Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” sanggahku.
“Aku mau terus besama Papa selama 2 bulan ini. Hanya 2 bulan, Pa!”
“Lalu bagaimana kegiatan ‘artis’mu? Bagaimana juga dengan gosip-gosip yang mungkin muncul kalau kamu ada di dekatku!”
“Selama aku nggak pakai make up, kita aman kok Pa!” rengeknya.
“Iya, kamu juga lebih cantik tanpa make up!” sergah Mike.
Senia terlihat tersipu malu mendengar perkataan Mike. Sialan anak ini, dari semua perempuan kenapa dia malah memilih Senia. Aku menyentak kepala Mike dengan telunjukku sembari melotot ke arahnya, dan itu membuat Mike bersungut-sungut sebal. 
Aku meminum kembali kopi buatanku dan menatap wajah Senia. Pengalaman bersama berbagai wanita selama beberapa tahun membuatku merasakan sesuatu dari anak ini. Ada sesuatu yang dia sembunyikan.
****

“Hai Tampan, masih ingat aku?”
Suara manja itu menyadarkanku dari lamunan. Bibir merah, kulit putih dan dada yang besar sedikit menyembul di dalam kaos berwarna putih ketat yang tertutup cardigan tersaji di depanku. Dada sebesar itu, cukup melihatnya aku sudah bisa mengetahui siapa pemiliknya.
“Rowena, bagaimana kabarmu sayang?” aku memeluk dan mulai mengecup pipinya yang kemerahan. Sial, aku benci bau make up, itu selalu membuatku ingin bersin.
Setelah beberapa hari didera pkiran yang sempat membuatku stres, paling tidak malam ini aku bisa melepaskan semuanya. Rowena, si seksi yang manja ini akan siap menjadi pelepas rasa stres-ku. Aku sudah merasakan sesuatu di selangkanganku menegang membayangkan geliat Rowena di ranjangku. Menegang dan bergetar. Sial, itu ponselku yang bergetar!
“Sayang, tunggu dulu aku di meja. Setelah ini aku akan menemuimu,” pintaku sembari menerima panggilan dari seseorang di bagian pengeringan kopi.
Sembari berbicara aku melihat kaki Rowena yang indah dan jenjang karena hanya memakai rok mini. Dia duduk dan mulai menggodaku dengan pose seksinya di kursi. Sekali lagi si kecil di selangkanganku mulai membesar. Sabar nak, kita akan bersenang-senang nanti malam.
Tunggu dulu.
Mau apa Senia dengan nampan berisi jus jeruk itu? Perasaanku semakin tidak enak, apalagi setelah Senia semakin mendekat ke arah Rowena. Sial, aku bisa melihat seringai di wajahnya itu. Perasaanku mengatakan itu sangat buruk.
Sialan!
Dada Rowena yang begitu montok sekarang sudah basah dengan jus jeruk. Kaosnya yang berwarna putih sekarang berwarna kuning dan terlihat tetesan jeruk dari ujung kaosnya. Kulit wajah Rowena yang putih berubah merah padam menahan marah. Dia terlihat siap menerkam Senia dengan kukunya yang berwarna merah darah.
“Maaf...maaf saya benar-benar tidak sengaja!” teriak Senia panik.
“Kamu...!” Rowena menggeram kesal. Dia terlihat sangat marah.
“Astaga, dada anda basah, maafkan saya!” ujar Senia masih terlihat panik. Dia mengabil tisu dan berusaha membersihkan dada Rowena. “Ini keras, anda memakai silikon? Astaga maafkan saya!”
“Apa katamu? Lepaskan!” teriak Rowena berusaha menyingkirkan tangan Senia.
Aku berlari mendekati mereka berusaha menenangkan Rowena yang terus terlihat mengamuk dan hampir memukul Senia. Rowena terlihat sangat malu dan hampir mengamuk sedangkan Senia hampir menangis. Ketika Rowena hendak mendekatiku, Senia tiba-tiba berlari ke arahku dan memelukku.
“Kau kurang ajar! Lepaskan dia! Hendrik, anak itu…”
“Papa, maaf! Senia bener-bener nggak sengaja.”
Bagus!
Rowena melotot tak percaya mendengar ucapan Senia yang baru saja. Aku cuma bisa meringis melihat Rowena yang terlihat semakin marah. Bisa kurasakan si kecil yang tadinya membesar dan menegang mulai mengendur. Bayangan tentang betapa panasnya ranjangku mulai memudar dan semakin menghilang.
“Anakmu?” suara Rowena terdengar bergetar dan seakan tak percaya.
Aku kembali hanya bisa meringis, tak mampu bicara. Dengan cepat Rowena mengambil gelas yang masih terisi separuh jus yang tadi ditumpahkan Senia dan menyiramkannya kepadaku. Seluruh wajahku basah oleh jus, sementara Senia sudah terlebih dahulu menghindar sebelum Rowena menyiramkan jus itu.
“Dasar brengsek!” ujar Rowena sambil pergi meninggalkanku.
Untung saja Cafe masih belum terisi pelanggan sehingga kejadian memalukan itu tidak diketahui siapapun, kecuali Senia dan…
“Kupecat kau nanti!”
Aku menendang Mike yang berjongkok sambil menahan tawa. Hampir terguling, Mike terkejut melihatku yang sudah berada di belakangnya. Bocah tengik ini melihat semua kejadian itu dan cuma tertawa daripada menolongku. Aku bergegas menuju kantor dan mengambil baju ganti meninggalkan mereka berdua.
Kampret!
Malam ini ranjangku kembali terasa dingin.
****

“Pa, Senia minta maaf soal tadi!”
Anak itu sudah berada di sebelahku sembari tertunduk sedih. Aku berusaha tidak memperhatikan dan melanjutkan membersihkan mesin grinder. Aku cuma berdehem menjawabnya.
“Biar Senia bantu, Pa!”
“Jangan!” teriakku melarang.
Senia terlihat sangat terkejut dan ketakutan mendengarku barusan. Sialan! Bukan maksudku untuk membuatnya ketakutan, hanya saja perasaanku sedikit tidak enak setelah kejadian Rowena tadi. Tak lama Mike mendatangi Senia dan mengajaknya menyingkir dari hadapanku. Aku melihat mata Senia sedikit berkaca-kaca ketika Mike menariknya pergi.
Sebersit perasaan bersalah muncul di hatiku. Apa-apaan ini? Kenapa perasaan itu muncul? Bukan aku yang salah saat ini, tapi anak itu. Dia sudah membuat penyalur gairahku untuk malam ini menghilang. Aku meninggalkan mesin grinder di hadapanku dan berjalan menuju ke arah dispenser. Aku bisa melihat Mike dan Senia dari belakang dispenser. Senia terlihat membantu Mike mengelap gelas-gelas yang sudah dicuci. Sekali lagi aku melihat waah Mike yang memerah ketika menatap wajah Senia.
“Jangan marah, memang seperti itu Pak Hendrik.”
Aku terkejut mendengar namaku disebut Mike. Sedikit bersembunyi, aku menguping pembicaraan mereka.
“Aku cuma mau mengenal Papa lebih dekat. Aku selama ini cuma bisa membayangkan, seperti apa rasanya punya Papa,” jawab Senia.
“Lalu seperti apa?”
“Aku selalu membayangkan bisa bercanda dengan Papa, pergi jalan-jalan, atau membahas bagaimana hariku,” Senia mengambil nafas sejenak dan terlihat lebih murung,”Tapi entahlah, aku merasa hanya menjadi anak yang merepotkan baginya saja.”
Mike menepuk punggungnya pelan.
“Dia cuma butuh waktu untuk lebih terbiasa dengan keberadaanmu. Bagaimanapun juga kehadiranmu terlalu mendadak. Seseorang kadang butuh waktu 9 bulan untuk menerima kehadiran anak di dalam hidupnya, kadang ada juga yang sepertimu, dihadapkan dalam waktu singkat menerima kehadiran anaknya. Semua hanya butuh waktu,” jelas Mike.
Aku termenung mendengar semua perkataan Mike. Bocah tengik itu kadangkala terdengar bijaksana dalam setiap perkataannya. Padahal usianya baru 20 tahun dan aku adalah seorang pria yang 15 tahun lebih tua dari dirinya. Tunggu dulu, mau apa bocah tengik itu? Aku melihat Mike mendekatkan wajahnya ke arah Senia yang terlihat menunduk. Kampret, aku tahu modus itu.
“Jangan macam-macam!” ujarku sembari menarik kening Mike menjauhi Senia.
Senia menahan tawanya melihat wajah Mike yang terlihat bersungut-sungut. Aku menatap Senia kemudian menghela nafas pelan.
“Ayo kita makan malam di luar,” ujarku, “Tidak denganmu Mike!” ketika aku melihat wajah Mike berseri-seri.
Senia terlihat sangat senang dia mengangguk mantap dan mulai mengikutiku. Aku mengambil kunci mobil dan segera berjalan ke arah parkiran. Sekali lagi aku berharap ini adalah keputusan yang tepat.
****

“Jadi, kenapa artis?” tanyaku pada Senia yang terlihat sibuk memakan hidangan makan malamnya. Dia tersenyum dan terlihat berpikir.
“Karena di dalam akting aku bisa menemui sosok seseorang yang kuinginkan,” jawabnya.
“Oh ya? Selama ini kamu selalu menemui sosok itu?”
Dia mengangguk mantap.
“Sayangnya begitu film itu berakhir, kamera itu turun, aku kembali kehilangan sosok itu,” jawabnya sedih.
Aku meminum air milikku dan berusaha mencerna semua perkataannya.
“Baiklah, besok pagi aku akan ke kantor sebentar. Kamu mau ikut?” tanyaku menawarkan.
“Kantor Cafe?”
“Bukan, kantor pengolahan kopi milikku.”
Dia terlihat berseri-seri, dan kembali mengangguk.  
****

Sudah hampir sebulan ini, aku dan Senia semakin dekat satu sama lain dan selama beberapa minggu ini, banyak wanita yang selalu menemaniku menghilang satu persatu. Selalu menghilang karena alasan yang sama, tidak terima akan adanya Senia sebagai anakku. Sialnya mereka selalu bertemu dengan Senia tanpa bisa kutanggulangi terlebih dahulu. Seakan-akan Senia selalu hadir di mana saja saat mereka muncul, meskipun aku bersembunyi. Aku mengambil nafas dalam dan menghelanya keras-keras. Hanya tinggal beberapa minggu lagi, aku bisa kembali mendapatkan semua kebebasanku. Sampai saat itu tiba, aku akan menjadi sosok ayah bagi Senia.
“Leni!” sapa Senia ketika kami memasuki kantor pengolahan kopi milikku.
Wanita yang bernama Leni tersenyum ketika melihat Senia datang dan menyapanya. Leni, dia adalah sekretaris pribadiku yang mengurus semua pekerjaanku termasuk mengatur tes DNA bagiku dan Senia. Leni adalah satu-satunya wanita yang dekat denganku dan tidak pernah kutiduri sama sekali.
“Jadi, hari ini si cantik Senia ikut bersama Papa lagi?” sindir Leni sambil melihat ke arahku. Aku hanya tersenyum sambil memeriksa berkas-berkas yang diberikan Leni kepadaku.
“Dua bulan penuh!” jawab Senia bersemangat.
“Omong-omong kemarin aku melihat namamu d sebut di salah satu infotainmen. Sepertinya wartawan mulai mencarimu,” ujar Leni.
Aku sedikit terkejut mendengar hal itu, sementara Senia terlihat biasa saja.
“Mereka tidak akan menemukanku di sini,” jawabnya yakin. “Pa, aku mau ke kamar mandi sebentar!”
Aku mengangguk dan melihatnya berlari kecil menuju kamar mandi. Tiba-tiba aku teringat sesuatu dari percakapanku dengan Senia beberapa minggu yang lalu.
“Len, kamu pernah nonton film yang diperankan Senia?” tanyaku pada Leni yang masih menunggu tanda tanganku di atas berkas yang dia berikan kepadaku.
“Cuma film layar lebarnya saja. Setahuku dia main di tiga film layar lebar.”
“Apa yang dia perankan?”
Leni terdiam dan berusaha mengingat semua film itu.
“Setahuku dia memainkan berbagai peran, tapi yang jelas beberapa peran itu memiliki satu kesamaan.”
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Sebagai seorang anak.”
****

“Kamu senang?”
Senia masih berusaha mengatur nafasnya, tapi senyumnya masih terus terkembang. Sepertinya Roller Coster tadi membuat nafasnya sedikit tersengal-sengal karena terus berteriak. Hari ini kami memutuskan untuk bersenang-senang di Taman Bermain. Aku memutuskan menutup Cafe dan pergi bersama Senia juga Mike. Mike masih setengah pingsan di sebelahku karena efek permainan tadi. Mulutnya terus menyumpahi apa yang baru saja dia alami bahkan sembari terpejam.
“Aku beli minum dulu,” pamitku meninggalkan Mike dan Senia berdua.
Tiga gelas minuman dingin sudah terkumpul di dalam satu kantung plastik. Sesekali aku tersenyum mengingat kembali semua senyum Senia hari ini. Dia terlihat sangat senang dan tidak pernah melepaskan pegangan tanganku. Dan saat ini dia…
Sialan.
Sekali lagi aku melihat Mike mengambil kesempatan ketika aku tidak ada. Saat ini dia sedang tertidur di pangkuan Senia. Sialan! Beraninya dia menyentuh anakku. Apapun keadaannya, dia tidak berhak melakukan itu.
“Berdiri sana!” aku menendang kaki Mike yang sedang tertidur di paha Senia.
“Papa, dia pusing, kasihan!” bela Senia.
Itu membuatku semakin ingin berbuat kejam kepada Mike. Aku hampir menendang kaki Mike lagi kalau saja dan tidak segera bangun. Apanya yang sakit, apanya yang pusing? Bahkan wajahnya sudah tidak pucat lagi sama sekali. Bocah tengik, dia benar-benar pintar memanfaatkan kesempatan. Darimana dia belajar membuat semua kesempatan itu?
“Ayo pulang!” sentakku.
Selama perjalanan kami mengisi sebagian besar waktunya dengan diam. Terkadang aku melihat Mike yang sesekali melihat sosok Senia yang duduk di belakang melewati spion. Bocah tengik sialan, berani sekali dia melakukan itu di hadapanku. Benar-benar cari mati. Semua kekesalanku kulampiaskan saat kami sudah sampai di rumah. Ketika Senia memasuki rumah, aku menepuk keras punggung Mike.
“Jangan pernah mencari kesempatan lagi!” ancamku sembari berbisik.
Senia menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan menyandarkan kepalanya ke bahuku saat aku duduk di sebelahnya.
“Makasih buat hari ini, Pa!” ujarnya senang. Aku berdehem pelan.
“Cepat tidur sana!” perintahku.
Aku melihat Mike tersenyum kepada Senia sebelum dia memasuki kamarnya.
“Jangan lupa kunci kamarmu supaya kucing asing tidak bisa masuk!” teriakku pada Senia. Mike mendengus keras dan mengeong keras membalas sindiranku.
Aku sudah hampir tertidur saat bel pintu berbunyi. Siapa yang datang malam-malam begini? Aku sudah hampir tertidur dan saat ini harus kembali menerima tamu. Saat pintu rumahku terbuka, aku menemukan sosok seksi di depan sana. Seorang wanita yang memakai gaun ketat dengan rok mini dan belahan dada yang memperlihatkan belahan dadanya yang besar. Aku menelan ludahku ketika melihat sosok itu. Setelah sekian lama tertidur, si kecil yang tinggal di antara selangkanganku kembali menggeliat ketika melihat sosok itu.
“Liana?”
“Hai Hendrik, aku merindukanmu. Kupikir daripada menelponmu, lebih baik aku langsung menemuimu. Keberatan?”
“Tidak,” jawabku singkat.
Dia terkekeh kemudian mendorongku memasuki rumah. Dengan beringas mencium mulutku dan melumatnya di dalam bibirnya sambil terus meringsek mendorongku memasuki kamarku. Jari-jarinya yang lentik mulai membuka kancing bajuku satu persatu. Ketika kami sudah berada di atas ranjang, kemejaku sudah terlepas dan Liana sudah bersiap membuka bajunya. Si kecil di antara selangkanganku sudah begitu membesar dan meminta keluar menemui Liana. Sesaat sebelum tanganku membelai dada ranum Liana, pintu kamarku terbuka keras.
Liana terlihat begitu terkejut, dia terperanjat dan segera meloncat dari atas tubuhku. Senia terlihat begitu marah dan juga sedih secara bersamaan. Dia terlihat gemetar melihat Liana di dalam kamarku dan juga keadaan kami.
“Dia siapa, Hen?” tana Liana bingung.
“Aku anaknya, Perek!” teriak Senia sedih.
Dia berlari meninggalkanku dan Liana yang sangat marah karena seseorang menyebutnya perek.
“Kamu punya anak Hen? Kamu punya anak dan masih mau tidur denganku?” teriak Liana marah.
“Bukan aku yang memaksamu masuk ke dalam kamarku!” jawabku kasar.
Liana menamparku keras dan pergi meninggalkanku sendiri. Suara pintu yang dibanting membuatku yakin kalau dia sudah pergi dari rumahku. Setelah sekian lama, sekian malam penuh dengan kesepian dan si kecil yang selalu tertidur, kesempatan yang datang ini kembali hilang. Ini semua sudah tidak bisa di tolerir. Aku berjalan gusar ke kamar Senia dan menemukan anak itu terisak di ranjangnya.
“Apa maumu?!” teriakku marah.
Dia terkejut dan berbalik menatapku. Aku bisa melihat air mata di pelupuk matanya.
“Aku cuma mau Ayah yang sempurna!” balasnya.
“Aku berusaha menjadi seorang Ayah yang sempurna di matamu, berusaha mengisi 2 bulan yang kau inginkan dengan semua kebahagiaan. Apa kamu nggak bisa memberikanku ruang untuk bernafas sejenak?”
“Memang selama ini kamu tidak bisa bernafas? 15 tahun kamu meninggalkan aku sama Mama sendiri, tanpa ada kabar apapun! Selama 15 tahun itu apa pernah Papa memikirkan kami?”
“Dengar, aku yang ditinggalkan, Nadia yang pergi meninggalkanku!”
“Papa tidak pernah berpikir untuk mencari kami sama sekali! Papa meninggalkan kami sendiri, membiarkan Mama sengsara merawatku sendiri! Papa kejam!”
“Memang aku kejam, aku cuma mau meniduri Mamamu saja dan kehadiranmu cuma sebuah kesalahan. Kau puas?”
Aku tak sengaja menyenggol tasnya yang berada di meja dan membuat isinya berhamburan keluar. Beberapa kertas terbang melayang terjatuh dari tasnya. Aku mengenal semua kertas itu. Senia berhambur ke arahku dan berusaha merebut semua kertas itu dariku tapi aku berhasil menghalanginya dan membaca semua tulisan di kertas itu.
“Ini sertifikat perkebunanku! Apa yang kau lakukan? Kapan kau mengambil ini semua?”
“Bukan aku, Pa. Itu kutemukan saat kita di cafe,” jawab Senia gugup.
“Kamu mengambilnya saat kita ke kantor kan? Saat aku dan Leni tidak ada di tempat, kamu mengambil semua ini kan?”
“Papa, aku enggak…”
“Lalu bagaimana semua sertifikat ini ada padamu? Apa sertifkat ini masuk sendiri ke dalam tasmu?”
Senia terdiam, dia mulai menangis. Mike berlari menuju ke kamar Senia dan dia terkejut menemukanku membentak anak itu.
“Kamu memang mau menghancurkanku kan?”
“Apa?”
“Sekarang aku mengerti, pertama semua wanita, kemudian perkebunanku, selanjutnya apa? Apa ini semua balas dendammu atas semua perlakuanku terhadapmu dan Mamamu? Kamu mau menghancurkanku kan?”
“Pak, itu keterlaluan,” ujar Mike perlahan.
“Diam kamu Mike! Ini bukan urusanmu!” sentakku.
“Benar! Aku memang mau menghancurkanmu! Sekarang kamu puas? Setelah sekian lama kamu meninggalkanku dan Mama, ini wujud balas dendamku!
“Brengsek!”
Aku menggedor pintu kamar Senia keras dan meninggalkannya sendiri. Selama ini, itu semua cuma sandiwara untuk membalas dendam? Aku merasa menjadi kambing congek karena dengan mudahnya tertipu oleh semua perbuatan anak itu. Aku membanting semua berkas sertifikat di atas meja kamarku kemudian merebahkan diriku keras ke atas ranjang.
“Senia, ini sudah malam! Kamu mau kemana?”
Aku mendengar teriakan Mike yang terdengar panik. Sekarang apalagi? Dia mau pergi? Baguslah, dengan begitu semua kebebasanku kembali. Aku berusaha memejamkan mataku dan melupakan semua yang terjadi.
****
       
“Dia sudah pergi semalam,” ujar Mike ketika aku membuka kamar Senia pagi ini.
Kamar itu terlihat masih sedikit berantakan dan semua pintu lemarinya terbuka lebar, tapi isinya kosong. Senia membawa pergi semua bajunya.
“Baguslah!” jawabku singkat.
Mike berdiri marah menantangku.
“Pak, anda tidak khawatir? Sekedar mau tahu bagaimana dia pulang?”
“Itu bukan urusanku lagi Mike. Aku tidak pernah berurusan lagi dengan pengkhianat,” jawabku singkat sambil meninggalkannya.
Aku memacu mobilku dengan tergesa menuju kantor. Beberapa kali hampir menabrak mobil lain dan menyumpahi orang-orang yang menghalangi jalanku. Sesampainya di kantor aku langsung berteriak memanggil nama Leni. Menghardik semua orang yang menghalangi jalanku atau melakukan kesalahan. Berteriak akan semua kesalahan meskipun itu cuma kesalahan kecil.
Sial!
****

“Ira?” aku terkejut melihat sosok wanita yang baru saja mengenalkan dirinya yang hadir di depan pintu Cafe-ku.
Cafe ini baru saja kubuka dan dia sudah berdiri di depan pintuku. Tubuhnya yang kecil terlihat cukup anggun dengan kemeja dan celana kain yang dia gunakan. Rambutnya yang panjang diikat tinggi hampir di atas kepala dan bibirnya yang tipis terlihat merah merona. Wajahnya terlihat sangat marah dan alisnya yang tipis terlihat saling bertautan.
“Bisa kita bicara sebentar?”
Aku mempersilahkan dia masuk dan duduk dimanapun dia suka. Dia memilih duduk di dekat pintu masuk. Aku meminta Mike membuatkan segelas kopi dan segera menemui Ira kembali. Sudah hampir seminggu aku tidak mendengar kabar Senia dan kali ini tiba-tiba muncul tante sekaligus manajernya di depan Cafe-ku.
“Sudah puas?”
Aku baru saja duduk dan dia sudah memberiku pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu apa maksudnya. Mike datang membawakan segelas kopi untuk Ira dan dia segera meninggalkan kami kembali.
“Puas maksudmu?”
“Anak itu hidup tanpa ada sosok ayah di sisinya. Selama bertahun-tahun dia hidup hanya memandang penuh harap setiap Ayah dari semua temannya. Ibunya meninggal 5 tahun lalu tanpa pernah mengatakan apapun tentang dirimu! Apa kamu bisa bayangkan betapa bahagianya dia ketika tahu kalau Ayahnya masih hidup?” 
“Dia sudah berbohong kepadaku! Dia berniat merampokku, menghancurkan hidupku! Apa kau tahu dia membawa sertifikat perkebunanku?” sanggahku.
“Dia seorang artis terkenal, Bodoh!” teriak Ira. Aku terkejut mendengarnya. “Dia bisa mendapatkan sendiri uang sebanyak yang dia mau! Dia mampu! Bagaimana bisa kau tidak mempercayai anakmu sendiri? Anak yang memiliki darah yang sama denganmu!”
Aku tercengang mendengar semua perkataannya.
“Aku…”
“Seharusnya kau membusuk sendiri di hari tuamu. Seharusnya dia tidak perlu tahu siapa ayahnya. Seharusnya aku membakar buku harian milik Nadia!”
“Apa? Buku harian apa?”
“Kau pria brengsek Hendrik! Nadia mengorbankan hidupnya demi dirimu. Mati sendiri dalam kesepiannya. Hidup dengan perjuangan keras dihina semua orang karena mengandung anakmu!”
“Mengorbankan apanya? Dia meninggalkanku, Ira! Aku yang ditinggalkan!” sanggahku lagi.
“Dia meninggalkanmu demi impianmu sebagai Barista! Dia mendukungmu dan lihat yang kau lakukan, kau meninggalkan dia! Kau sama sekali tak pernah mengejarnya atau mencarinya kembali. Sekarang kau melakukan hal yang sama kepada anaknya. Anakmu sendiri!”
Ira mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah buku jurnal yang terlihat sedikit kusam, buku harian Nadia. Buku itu dia letakkan di meja dan dia bersiap untuk pergi meninggalkanku.
“Aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan padamu. Sekarang semua terserah kepadamu.”
Ira meninggalkanku dan buku jurnal itu sendiri. Kopinya masih utuh dan asapnya terlihat mengepul.
“Mike, jaga cafe ini,” perintahku pada Mike yang akan membereskan meja di depanku.
Aku meraih buku harian milik Nadia dan membawanya masuk ke dalam kantorku. Kutarik kursi kerjaku dan mulai merebahkan tubuhku di atasnya. Membuka halaman demi halaman dari buku harian itu dan membacanya perlahan. Butuh waktu yang cukup lama untuk membaca semua halaman di buku itu. Untung saja Mike sudah cukup terlatih menjaga Cafe ini sendiri tanpa diriku.
Aku menghela nafas dalam, udara di sekitarku terasa berat dan mataku terasa perih. Buku harian itu hanya menceritakan semua kejadian Nadia semenjak dia mengetahui kehamilannya hingga Senia berusia 7 bulan. Menceritakan semua alasannya meninggalkanku yang terasa begitu egois. Menceritakan kehidupannya yang berat ketika semua orang mencaci kehamilannya dan juga harapannya akan diriku. Harapannya agar aku menemuinya kembali, tapi itu tidak pernah terwujud. Menceritakan pula kebahagiaannya ketika dia memiliki Senia. Memeluk bayinya yang tak pernah tahu siapa ayahnya hingga saat dia menemuiku siang itu.
Senia mengharapkan semua pertemuan itu. Daripada ibunya yang hanya menunggu, dia memilih mendatangiku sendiri. Mencari tahu keberadaanku dari semua cerita ibunya. Dan yang terjadi aku menolak kehadirannya. Menolak sosoknya yang memintaku untuk kembali tempat dimana aku seharusnya berada. Tapi kenapa?
Kenapa Senia harus membawa semua sertifikat itu?
Suara pintu yang terbuka membuatku tercekat dan menyadari sosok Leni yang muncul dari balik pintu. Dia terkejut melihatku yang terduduk lemas di kursi kerjaku. Sedikit bergegas dia mendatangiku dan menempelkan tangannya ke dahiku.
“Kamu sakit?”
Aku menggeleng lemah dan itu membuat kening Leni berkerut. Dia melihat seluruh tubuhku kemudian menemukan buku harian Nadia dan mengambilnya. Melihat halaman-halamannya sekilas dan kemudian menutupnya.
“Aku bersalah kepada Nadia,” ujarku lirih. Leni hanya menatapku sayu.
“Kau merindukan dia?” tanya Leni.
“Aku merindukan Senia. Kau tahu, dia memang menyebalkan, tapi dia anakku. Aku tidak bisa membohongi semua kedekatan yang terjadi di antara kami. Tapi kenapa dia melakukan itu semua?”
“Kau menyayangi Senia, tapi tidak percaya kepadanya?” tanya Leni lagi. Aku menunduk lemas. Pikiranku dipenuhi kekalutan, memilih hatiku yang menyayanginya atau logika berpikirku yang melihat Senia sebagai seorang pengkhianat.
“Terima dia atau tinggalkan dia sepenuhnya, Hendrik. Cuma itu pilihanmu! Kamu nggak bisa bertingkah lebih egois lagi kepada anak itu,” ujar Leni.
Aku menatap Leni dalam-dalam. Wanita itu selalu ada di sisiku dan memberikanku semua jawaban atas permasalahanku.
“Aku akan mempercayainya, Len. Dia anakku, dan aku harus selalu mendukungnya,” ujarku mantap.
“Kalau begitu, ini untukmu!” Leni memberikan beberapa lembar foto dari tasnya dan memberikannya padaku.
Terlihat gambar-gambar seorang wanita yang memasuki kantorku dan membawa berkas-berkas di tangannya. Walaupun samar aku tahu siapa wanita ini.
“Rowena?”
“Aku baru mendapatkan itu semua dari keamanan kantor. Kupikir itu bisa membuatmu semakin yakin akan semua keputusanmu.”
“Oh, wanita sialan. Thanks Len!” aku mengecup keningnya dan segera mengambil jasku yang tergantung di kursi.
“Kau mau kemana?” tanya Leni bingung.
“Tentu saja menemui anakku!” ujarku meninggalkan Leni yang wajahnya terlihat bersemu merah.
****

Aku mendesah dan berpikir keras cara berbicara dengan Senia. Saat ini aku sudah berada tepat di depan kantor agensi milik Ira, tapi masih belum memasukinya sama sekali. Ini sangat memusingkan bagiku. Seorang perayu ulung, tapi sangat kebingungan bagaimana bicara dengan anaknya sendiri. Tepat di saat aku akan turun dari mobil, aku melihat sosok Senia yang berjalan dengan Ira. Wajahnya terlihat sayu dan keadaannya tampak kacau.
“Senia!” teriakku memanggil anak itu.
Senia terkejut melihat sosokku yang hadir di hadapannya, begitu juga Ira. Ira tampak akan segera melancarkan semua amarahnya kepadaku sementara Senia berlari segera memasuki kantor agensinya. Aku berusaha mengejarnya dan memanggil namanya, tapi dia terus berlari. Sampai di depan sebuah ruangan, dia bergegas memasukinya. Aku berusaha membuka pintu ruangan itu, tapi sepertinya pintu itu terkunci dari dalam.
“Senia, tolong buka pintunya. Maafkan Papa, Papa tahu semua kebenarannya. Maafkan aku yang tidak percaya!”
Pintu itu masih tertutup dan terkunci. Aku mencoba mengetuknya dan memanggil namanya, tapi Senia tetap tidak mau keluar.
“Dengar, aku tidak tahu bagaimana dengan ibumu, tapi aku dulu tidak yakin akan cintaku kepada ibumu. Aku selalu menganggap hubunganku dengan ibumu karena ada keinginan untuk selalu bersama. Aku sempat berharap bahwa hubungan kami akan berhasil, tapi kemudian dia menghilang. Meskipun ternyata itu semua dia lakukan untukku.
Tapi apa yang kurasakan denganmu beda. Denganmu, aku merasakan perasaan yang lain. Perasaan ingin selalu melihatmu tersenyum, perasaan ingin selalu menjagamu, perasaan ingin selalu memberimu seluruh duniaku. Aku tahu selama ini yang aku lakukan berbeda karena semua keegoisanku sendiri, tapi ternyata aku tidak bisa membohongi apa yang ada di dalam hatiku.”
Aku menghela nafas panjang berharap ada jawaban, tapi tetap terasa sunyi.
“Senia, Papa mencintaimu setulus hati Papa. Papa tidak pernah merasa sehancur ini ditinggalkan seseorang, tapi berbeda denganmu. Papa tahu, Papa sudah tidak berhak meminta ini, tapi Papa berharap, Papa ingin kita bersama lagi.”
Suara kunci yang terbuka menghentikan semua perkataanku. Senia terlihat membuka pintu perlahan. Aku bisa melihat wajahnya yang berantakan dan memerah. Matanya terlihat bengkak dan memerah begitu juga hidungnya. Sepertinya anak itu sudah menangis seharian.
“Aku cuma pengganggu bagi kehidupan bebasmu.” ujarnya sembari sedikit terisak.
“Begitulah…,” Senia melotot mendengar jawabanku, “…tapi aku lebih terganggu saat tidak ada dirimu.”
“Waktu 2 bulan kita sudah hampir selesai,” ujarnya lagi.
“Bolehkah aku meminta waktu selamanya kepada anakku sendiri?”
Aku merentangkan kedua tanganku berharap pelukan darinya. Senia terisak dan menutup wajahnya yang terlihat mulai berseri. Sebuah pelukan erat kemudian hadir darinya. Membuat hatiku kembali terasa hangat dan tenang.
“Aku akan mengusir semua perempuan ganjen yang mendekati Papa!” ujarnya dalam pelukanku sembari terisak.
“Sepertinya kamu sudah mengusir semuanya.”
“Aku bisa aja bikin Papa kewalahan sama semua fans-ku!”
“Siapa tahu ada fans-mu yang cukup cantik untuk Papa”
Senia mencubit pinggangku sebal mendengar semua ucapanku. Aku meringis kesakitan sambil tetap memeluknya erat.
“Aku mungkin menerima Mike jadi pacarku!”
“Ya kau bisa…apa?”
Senia terdiam sambil mempererat pelukannya.
“APA? Tidak akan kubiarkan anakku pacaran!”
Akan kubunuh Mike nanti.

****

  


19 comments:

  1. tengkiyuuuu jeeengggg dah di muaaattt....
    muaaaaahhhhhh
    *cipok basah jeng shin.

    ReplyDelete
  2. Huaaaa ad lucu ad sedih *cipok mba ike pke emot palu
    Suka suka suka
    Lanjutkn
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba cin n mba baskom :p

    ReplyDelete
  3. hwakakakakakakakak lucu nih lucu
    yah begitulah ...dimana2 sama .
    papa yg playboy akan takluk oleh anak perempuannya .
    pusing sendiri n panik sendiri begitu anak perempuannya pacaran
    hwakakakakakakakak

    ReplyDelete
  4. wahhh..
    kesian >.< untungnya ketauan salah faham coba mamah nya masih
    ada.hihi..
    nanti akyu mampir deh jeng ke blog ny, sediain kopi nya juga yaaa :D
    kadang aku juga pengen bikin cerita,ide cerita,plot, alur sering banget
    datengtapi ngerasa gak bisa bikin nya gak punya bakat T_T baru 2page gak
    jadi terus... *nangis dipelukan kenny

    ReplyDelete
  5. aku suka ceritayaaa
    walau akhir ceritanya kurang gereget gt tp secara keseluruhan ceritanya bagus..

    ReplyDelete
  6. Hahaha
    Kocaaak
    Hihihi
    Wowooooow
    Kereeen :)

    ReplyDelete
  7. Wakakakakakakakak,,Mba Ikeeeeeeeeeee... Udh nangis2,,udh sedih2 ujung2ny ttp ajja kocaaaakkkkkkk...khas Mba Ike buangeetttzzzz...xixixixi
    Keyen Mbaaa,,keyeeennnn...
    Mksh Mba Ike n Mba Ciiiinnnnn *peyukkkkk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Vie & Rike saudaraan y? Sama2 Puspitasari....

      Delete
    2. Iyaahhh,,qt saudaraan,, 1 rahim tp beda emak beda bapake (nah lohhh??) Xixixi
      G koq say,,nmny ajja yg kbtln sm,,yg psti sih Vie lbih imyuutt dbnding Mba Ike
      *siap2 kbur*

      Delete
  8. wakakakaka.....thanks mbk ike & mbk cin :)

    ReplyDelete
  9. bagus mbak rike, semua rasanya ada
    wkwkwkwkwkwk...

    ReplyDelete
  10. ceritanya komplit, ada konflik ada sedih ada lucunya juga
    awalnya mikir kl senia itu umurnya udah ga lama lagi soalnya cma minta waktu bersama selama 2 bulan sih
    tp bagus deh kl akhirnya bisa bersatu sama papa tercinta
    senia masih kecil ga boleh pacaran

    ReplyDelete
  11. Mba Rike mmg suka mbuat para readers senyum2 sndri.. Kocak kya Kawin Kontrak. Heheh. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Rike, ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Jga Shin.

    ReplyDelete
  12. hha lucu mba rike...
    walau yang pas ampir end nya agak2 melow tapi tetep lucu...

    makasih mba shin, mba rike

    ReplyDelete
  13. makasih semuanyaaa buat kesediaannya baca tulisan eke...makasih juga buat semua masukannya
    spesial makasih buat jeng shin yang bersedia aplot cerpen geje eke di sini. makasih jenggg...eke terharuuu
    *nangis terharu...
    **sebar-sebar bulu ketiak...

    ReplyDelete
  14. mba kau membuatku menangis tengah mlm

    ReplyDelete
  15. Keren!!! Baru baca aku dan sungguh bikin q ngakak, jengkel dan sedih juga.
    Adegan yg plg kusuka adalah saat celananya si papa bergetar. Ternyata itu HP nya,hehe...lucuuuu!!!

    ReplyDelete
  16. All in One, JengRik....

    Sorri, bru smpat baca eyke..heheheh

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.