"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, May 15, 2013

CERMIN 3 - Cinta Tak Perlu Benar oleh Shin Haido


Story by +Shin Haido 


“Aku cuma cinta kamu, Yang... Tapi aku gak pingin kamu bilang kalau kita lagi pacaran sama Susi, aku takut persahabatan kalian putus karena Susi juga suka sama aku. Aku gak pingin jadi perusak hubungan persahabatan kalian... Kita pura-pura berteman aja ya di depan Susi.”

Deddy mencium lembut bibir kekasihnya Windy, mereka telah berpacaran selama tiga bulan lamanya dan diperlukan waktu setengah bulan bagi Deddy agar bisa membawa Windy ke atas ranjangnya.

Deddy adalah pria dewasa berusia dua puluh lima tahun, dia bekerja sebagai manajer pabrik pembuat suku cadang kendaraan bermotor dan mobil milik keluarganya. Dia sangat disayangi oleh keluarganya, selain karena Deddy adalah anak semata wayang keluarga Riyadi, dia juga memiliki keahlian untuk merayu klien dan pelanggan agar bekerja sama dengan perusahaan mereka. Keahlian yang sangat dikuasainya karena dengan keahliannya ini Deddy telah berhasil menakhlukan banyak gadis-gadis yang kemudian dia patahkan hatinya setelah bosan bermain-main dengan mereka.



Deddy tidak pernah memiliki perasaan spesial kepada wanita manapun, tidak juga pada Windy kekasihnya saat ini yang sedang bertelanjang bulat di sampingnya, terlelap setelah percintaannya dengan Deddy sejak semalam.


Deddy melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, diapun membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi kos Windy dan bergegas mengenakan kembali pakaiannya sebelum menutup pintu kamar kos Windy dan meninggalkan kompleks kos itu dengan mobilnya yang menderu pelan.

Deddy berkenalan dengan Windy saat mereka sama-sama menonton sebuah film laga di bioskop, saat itu Deddy berkenalan terlebih dahulu dengan Susi kemudian barulah Windy datang dan mengenalkan dirinya. Windy adalah tipikal wanita agresif, dia tidak akan segan-segan melemparkan tubuhnya pada laki-laki yang diminatinya meskipun dia tahu sahabatnya Susi juga memiliki perasaan yang sama pada laki-laki itu. Windy beranggapan karena usianya lebih muda daripada Susi, maka dia berhak mendapatkan apapun yang diinginkannya dan Susi harus mengalah padanya, setidaknya untuk hal satu ini.

“Tok..tok...” suara ketukan pintu terdengar.

Pemilik kamar itu mengerjap-ngerjapkan matanya, melirik ponsel di atas mejanya dan melihat jam yang telah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Dengan setengah menguap dia berjalan limbung menuju pintu kamarnya, membuka engsel pengaman dan memutar kunci pintu.

“Hai...” suara seorang laki-laki dengan senyum khasnya menyapa sosok yang masih menguap.

“Kamu baru pulang? Kok gak langsung ke rumah aja?” tanya suara yang setengah mengantuk pada laki-laki di depannya.

Laki-laki itu memeluk tubuh pemilik kamar itu dengan penuh kerinduan, dia menutup pintu di belakangnya sebelum melumat bibir wanita yang dipeluknya dengan bergairah. Wanita itu bernafas dengan tersengal-sengal sebelum berhasil melepaskan ciuman laki-laki itu dari bibirnya.

“Kenapa? Aku tidak boleh kesini?” tanya laki-laki itu.

“Bukan begitu...” jawab si wanita cemberut.

Laki-laki itu berdecak, “Kamu tidak merindukanku?”

“Aishh... Nanti kamu kecapekan. Gimana salesnya?” tanya wanita itu sembari memainkan kancing kemeja laki-laki itu.

Dia hanya tertawa sebelum mengangkat tubuh si wanita ke dalam pelukannya, kakinya melangkah ke arah ranjang. “Aku sudah disini dan kamu malah bertanya seperti itu?” laki-laki itu menggelitik perut wanita yang kini mengikik geli di atas ranjang.

“Kamu gak kangen aku ya, Sus?” tanya laki-laki itu dengan wajah sedih yang dibuat-buat, bibirnya dimonyongkan membentuk sebuah wajah bloon yang selalu mampu mencairkan suasana kaku di antara mereka.

“Kamu tahu aku selalu merindukanmu, bodoh...”

Wanita itu Susi, dia menarik kerah kemeja laki-laki di atasnya hingga wajah mereka berdekatan dan laki-laki itupun mengerti apa yang dia inginkan bahkan sebelum bibir Susi mendesiskan keinginannya.

“Cium aku, Ded... Aku merindukanmu...”

Deddy yang baru saja meninggalkan rumah kos Windy kini melabuhkan hatinya di dalam kamar kos Susi, dua orang sahabat lama yang memiliki hubungan hampir seperti saudara namun begitu jauh dan saling membohongi hanya karena seorang laki-laki bernama Deddy Kurniawan Riyadi yang masuk ke dalam hubungan mereka. Deddy dengan jiwa Don Juannya memacari kedua orang sahabat itu tanpa sepengetahuan mereka masing-masing.

Deddy menyapukan bibir tipisnya di atas bibir Susi yang telah basah, bibir mereka bergesekan sekilas sebelum Deddy membuka mulutnya dan mengecup pelan bibir bawah Susi. Bibir itu disentuhnya dengan lidahnya, membasahi seluruh permukaan bibir kekasihnya sebelum memagutnya dengan posesif.

“Kamu milikku, Sus...” geram Deddy. Susi pun membuka hati dan tubuhnya untuk Deddy yang telah menyatakan rasa cintanya padanya satu bulan yang lalu.

Setelah satu jam pergulatan yang panas, Deddy memeluk mesra tubuh Susi dan mencium lembut rambut kekasihnya. Mereka masih berpelukan dengan tubuh telanjang, bahkan tak ingin untuk turun dari ranjang meski sekedar untuk membersihkan tubuh mereka dari sisa-sisa percintaan pagi itu.

“Apakah... Kamu menyesal?” tanya Deddy sambil memainkan rambut Susi yang tergerai jatuh di atas dadanya.

Susi sedang bersandar di atas dada Deddy dan laki-laki itu duduk setengah bersandar pada kepala ranjang. Deddy masih menunggu jawaban Susi, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya hanya untuk menunggu jawaban dari wanita yang benar-benar dicintainya.

Saat pertemuan pertama mereka, Deddy telah tertarik pada Susi, namun Windy yang datang tiba-tiba menghancurkan segala rencana Deddy untuk mendekati Susi. Bahkan Deddy merasa gerah karena Susi dengan sengaja menjauhkan dirinya dari Deddy hanya karena Windy telah berikrar dia akan memiliki Deddy sebagai kekasihnya. Belakangan Deddy akhirnya mengetahui bila Susi juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya setelah Windy mengaku bahwa sahabatnya itu juga tertarik pada Deddy. Ironisnya hal itu diketahuinya setelah dia meniduri Windy untuk yang ke lima kalinya.

Windy beralasan bila Susi selalu mengalah padanya, maka kali inipun dia tidak akan keberatan bila Windy mengikuti kata hatinya dan mengejar Deddy karena dia menyukai laki-laki itu. Windy menggunakan segala cara agar Deddy terpikat padanya, dia masih ingat bagaimana Windy membujuknya untuk berhubungan badan saat mereka sedang berduaan di dalam kamar kos Windy yang sedang menunggu kedatangan Susi. Untungnya Susi tak pernah muncul saat itu karena dia harus memperpanjang shift kerjanya sehingga terpaksa mengambil lembur.

Windy yang membeberkan perasaan Susi pada Deddy hanya tertawa penuh kemenangan karena berhasil mendapatkan laki-laki itu untuk dirinya dan Susi terkalahkan sekali lagi. Saat itu juga muncul kebencian dalam hati Deddy dan dia begitu dendam pada Windy hingga seumur hidupnya. Maka Deddy tak pernah mengizinkan Windy untuk membeberkan hubungannya dengannya bila dia tidak ingin Deddy meninggalkannya. Windy sangat ampuh bila diancam seperti itu, dia terlalu takut diputuskan oleh Deddy, maka ketika sebulan kemudian dia positif hamil, Windy dengan suka cita memberitahukan Susi tentang kabar itu. Tanpa memperdulikan air muka Susi yang pucat setelah mengetahui kenyataan itu, dia pun menghilang bagai ditelan bumi dan Deddy setengah mati dengan putus asa mencarinya kemana-mana.

Tapi Deddy tak bisa berbuat banyak, kedua orangtuanya memaksanya untuk segera menikahi Windy agar tidak mencemari nama keluarga. Namun sejak itu, Deddy tak akan pernah sama lagi, keluarganya tak pernah dapat menasehatinya, Deddy tak pernah mau mendengarkan kata-kata istrinya yang usianya hanya berbeda empat tahun darinya, begitu juga usia Susi. Deddy tak dapat melupakan Susi, dia juga tak dapat menemukan kemana wanita itu pergi atau dimana dia berada saat ini. Deddy berubah, dia yang percaya bahwa cinta itu ada, kini tak mempercayainya lagi.

“Cinta? Aku bisa membeli cinta,” adalah kata-kata yang sering diucapkan Deddy sejak dia menerima bahwa Susi meninggalkannya tanpa seuntai kabarpun, meninggalkannya dengan luka di hati yang menganga dan tak akan pernah terobati hingga lima tahun setelah pernikahannya, Windy sekali lagi mengungkapkan kenyataan yang membuat Deddy murka. Kenyataan bahwa Susi telah mengetahui tentang kehamilannya dan hubungannya dengan Windy.

Sejak saat itu Deddy tak pernah menyentuh Windy lagi, dia mengabaikan istrinya. Meski mereka tinggal seatap dengan kedua orangtua Deddy, laki-laki itu tak pernah melakukan tugasnya sebagai seorang suami di atas ranjang. Orang tuanya tahu telah terjadi sesuatu dalam rumah tangga anak mereka, namun sejak kelahiran seorang bayi laki-laki dalam keluarga itu, kedua orangtua Deddy tak pernah mempermasalahkan kenakalan Deddy yang gemar bermain perempuan bahkan tak tanggung-tanggung. Mereka telah mendapatkan keinginan mereka, penerus keluarga Riyadi dan kedua orangtua Deddy seolah menutup mata pada apa yang dilakukan oleh Deddy diluaran, selama perusahaan mereka tetap berjalan sesuai harapan.

Deddy dan Windy hanya berbicara sambil lalu, mereka tak pernah bercerai, Deddy tak ingin menceraikan Windy demi anaknya. Dia mencintai anaknya, pemuda tampan yang mewarisi wajah dan sifatnya. Deddy hanya berdecak kagum saat anaknya membicarakan para wanita yang ditemuinya di sekolah.

Sudah delapan belas tahun terlewati ketika Deddy melirik ke jendela kantornya, mendapati sebuah mobil BMW berwarna putih bersih memasuki halaman parkir pabrik miliknya. Diapun berdiri menyambut seorang laki-laki berpakaian putih-abu yang baru saja keluar dari mobil itu dengan seringai lebar di wajahnya. Mereka berpelukan dengan hangat lalu masuk ke dalam, bersisian.

“Apa yang membawamu kesini?” tanya Deddy pada laki-laki itu.

“Aku cuma pengen lihat Daddy kok.”

Deddy berdecak, membuka dompetnya dan menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah pada laki-laki muda di depannya itu. Namun laki-laki itu menolaknya dengan halus.

“Apakah selama ini ketika aku kesini aku pasti meminta uang darimu, Dad?” tanyanya cemberut.

Deddy memasang wajah bingung, dia meneguk kopinya yang sudah dingin. “Terus?”

“Aku mau curhat. Kan Daddy ahlinya.”

Deddy tergelak, suara tawanya terdengar hingga ke ruangan pabrik pengolahan.

“Kamu? Ingin konsultasi sama Daddy?”

Deddy berdiri, memutari kursi anaknya yang sedang cemberut, mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya. Dia membersihkan tenggorokannya, menyadari betapa sensitif permasalahan anaknya.

“Katakan, Daddy akan mendengarnya. Tapi... apakah harus disini?” tanyanya lagi.

“Dad!!”

Deddy mengangkat tangannya menyerah, dia menyalakan rokoknya dengan pemantik api yang terbuat dari emas, melemparkan pemantik itu ke atas meja dan meniup asap putih ke udara. Dia menatap tajam pada anaknya yang berusia tujuh belas tahun. Anak laki-laki kebanggaannya.

Kenzo Avalon Riyadi, tujuh belas tahun. Seorang pemuda tampan yang mewarisi garis tegas rahang ayahnya, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, hingga ke dadanya yang bidang, meski Deddy mengakui dada Kenzo masih jauh dari bidang. Anak muda itu tidak pernah bermain ke gym, dia tidak secara khusus ingin membentuk otot-otot tubuhnya. Kenzo hanya puas dengan hoby memanjat dindingnya saat mengikuti ekstrakurikuler di sekolah.

Kenzo begitu dia dipanggil oleh keluarga dan teman-temannya, adalah seorang pengurus organisasi siswa di sekolahnya. Dia memiliki hubungan yang baik dengan guru-guru di sekolahnya, kepala sekolah hingga pada preman-preman yang biasa berkeliaran di depan pintu gerbang sekolahnya. Kenzo bukanlah anak kecil yang mudah dianiayai, bila dia mau, dialah yang menganiaya orang lain. Tapi Kenzo jauh dari itu, dia lebih memilih menyibukkan dirinya bermain komputer dan berkumpul dengan teman-temannya di Cafe.

What?? Kamu mau ngomong apa mau semedi?” tanya Deddy setelah lima menit lamanya Kenzo terdiam, larut dalam pikirannya.

Kenzo mendesah pelan, “Aku... menyukai seorang cewek, Dad...”

Deddy membuka mulutnya hendak mengomentari, namun melihat bagaimana depresinya Kenzo, Deddy mengurungkan niatnya itu.

“Lanjutkan.”

“Dia cantik... ramah, baik, pinter lagi. Selalu jadi juara umum di sekolah. Guru-guru juga senang dengannya. Murid laki-laki lain juga banyak yang mencoba untuk mendekatinya,” jawab Kenzo cemberut.

Deddy merasa gemas mendengar curahan hati anaknya, selama ini Deddy tak pernah memanjakan anaknya dengan harta atau perlindungan berlebih. Deddy membiarkan Kenzo mengalami sendiri kehidupannya dan memecahkan setiap permasalahannya tanpa bantuan siapapun. Maka, ketika Kenzo mendatanginya, Deddy yakin, Kenzo telah memikirkan segala cara agar dapat mendekati wanita yang dia maksud, namun tak ada yang berhasil.

“Apakah dia sudah berpacaran dengan murid itu?” tanya Deddy semakin penasaran. Kenzo membuatnya gemas karena hanya menceritakan sepotong informasi padanya.

Kenzo menggeleng, bagai prajurit kalah perang.


Deddy menggigit bibirnya, lalu handphonenya berdering. “Sebentar.”


Deddy melihat penelphonenya, “Bagaimana?” tanyanya langsung pada penelphonenya.

“Tidak bisa, nanti Om kesana. Ehm.. satu jam lagi deh, ok?”

Kenzo melirik ayahnya, dia tahu siapa penelphone itu dan wajahnya semakin kecut memikirkan apapun yang sedang direncanakan ayahnya dengan si penelephone.

“Aku pergi,” teriak Kenzo dengan sengaja. Dia sedikit geram dengan kelakuan ayahnya.

“Sebentar, aku akan menghubungimu lagi,” Deddy menutup telephonenya sebelum menghadapi anaknya lagi.

“Kenapa cepat? Ceritamu kan belum selesai.”

Kenzo menggertakkan rahangnya, “Tak apa, lain kali saja. Dad kelihatan cukup sibuk,” dengusnya sinis.

Deddy menangkap nada kebencian di dalam kalimat anaknya, “Kau akan mengalaminya nanti, Ken,” ujar Deddy sembari menghisap rokoknya lagi.

Kenzo berdiri dari kursinya, wajahnya merah padam. Dia nampak sedang menahan kemarahannya di dalam hati.

“...Semoga tidak, Dad. Aku tak akan pernah menyakiti orang-orang yang aku cintai.”

Deddy menatap wajah anaknya, mencari tanda bahwa dia mendengar dengan jelas kata-kata yang diucapkan padanya.

“Bagaimana kalau Dad tidak mencintai orang itu?”

Kenzo menatap mata ayahnya dengan dingin, kebencian yang telah lama disingkirkannya kini muncul ke permukaan. Kenzo menelan ludahnya dengan kesal.


“Itu berarti, Dad juga tidak mencintaiku,” senyum Kenzo muram, “aku pergi. Senang bisa berbicara denganmu.”


Deddy menatap tubuh anaknya perlahan-lahan menjauh darinya, dia tidak dapat membalas perkataan Kenzo meski dia sangat ingin.

Kenzo memutar tubuhnya saat tangannya memegangi gerendel pintu. “Wanita yang aku sukai itu... dia adalah teman dari pelacurmu.”

Kenzo meninggalkan kantor ayahnya dengan wajah terluka, bila tak mengingat dimana dia berada saat itu, Kenzo ingin melampiaskan segala kekesalannya bahkan bila perlu menghajar habis sang ayah karena telah melakukan perbuatan seperti itu. Bahkan sebelum dia mengenal ayahnya dengan baik, Deddy telah bermain-main dengan wanita-wanita yang dipeliharanya silih berganti sebelum Kenzo dapat membaca dan menulis. Dia hanya mengetahui kelakuan ayahnya dari cerocos ibunya yang sedang mabuk dan terhuyung-huyung keluar dari mobil yang baru saja menjemputnya dari klab malam atau tempat-tempat perkumpulan tante-tante kaya dengan hoby yang tak ingin diketahui Kenzo.

Hidup Kenzo bagai di neraka. Memiliki seorang ayah yang tak pernah memiliki cinta atau mengenal kata setia di hatinya dan memiliki seorang ibu yang tak pernah perduli padanya. Bahkan wanita yang dipanggilnya ibu tak pernah mengelus rambutnya lagi sejak Kenzo mengenakan seragam playgroupnya dan menyerahkan hasil menggambarnya yang pertama kali pada wanita itu. Ibunya hanya mendengus dan meninggalkannya mematung dengan hati terisak.

Kenzo memacu mobilnya dengan kencang ke arah pantai, melepaskan segala sesak di dadanya dan berlutut di atas pasir mengeluarkan segala sakit hatinya di udara. Teriakan dan tangisan menyayat hatinya mengejutkan seorang wanita yang sedang duduk-duduk di samping batu penghalang ombak dengan kaki-kakinya yang basah terkena air.

Mata mereka bertemu, mata cemerlang gadis itu dengan mata merah bekas tangisan milik Kenzo.

“Karina...?” bisik Kenzo yang masih berlutut, air ombak menyapu tubuhnya hingga dia terjatuh dan terguling ditelan ombak.

Wanita yang dipanggil Karina itu berlari pelan menghampiri Kenzo yang sedang mencoba berdiri dan membersihkan wajahnya dari air laut yang asin. Matanya perih terkena air pekat itu dan dia hampir tak dapat melihat.

“Sebentar, diam disini.”

Karina berlari menuju tempat dia semula duduk, mengambil sebuah botol yang berisi air mineral di dalamnya. Dia meminta Kenzo untuk membungkuk sebelum Karina menuangkan air minumannya itu ke atas kepala Kenzo dan laki-laki itupun membersihkan wajah dan matanya yang terkena air laut.

“Sudah baikan?” tanya Karina dengan mata bulatnya.

Kenzo terpesona sejenak hingga dia tak mampu menjawab pertanyaan Karina. Tangan wanita itu melayang-layang di udara mencoba mencari tahu pemilik tubuh yang sedang terpana itu bila dia masih menginjak bumi.

“Kamu gak apa-apa?” tanyanya lagi.

Kenzo tersadar dari lamunannya, dia bahkan sudah begitu jauh berkhayal sedang bergandengan tangan dengan wanita di depannya, menyusuri pantai dengan kaki telanjang.

“Ehem... Gak apa. Sudah baikan. Thanks...” Kenzo menunjuk pada botol air mineral yang telah kosong, “aku akan mengganti minumanmu.”

Karina tertawa kecil menyadari air minumnya telah habis. “Tak apa, tak usah dipikirkan.”

Kenzo menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia sangat ingin melanjutkan percakapan mereka, namun Karina telah berpamitan padanya, dia hendak pulang.

“Aku antarkan!” teriak Kenzo agak keras. Karina terkejut namun sebuah senyum simpul muncul di wajahnya.

“Tak usah, rumahku deket kok,” elaknya.

Kenzo tak habis pikir, dia menghampiri Karina dan mengangkat tas sekolah yang tersampir di punggung wanita itu.

“Aku memaksa,” senyumnya. “Aku ingin membalas pertolonganmu.”

Karina hanya tertawa lagi, dia sendiri heran mengapa dia banyak tertawa bersama dengan laki-laki yang tak begitu dikenalnya.

Karina mengenal laki-laki yang ditolongnya, mereka sering berpapasan di sekolah. Kenzo selalu berada dalam lingkungannya, dengan gerombolannya, anak-anak orang kaya yang memiliki otak cukup encer namun tak pernah digunakan untuk perbuatan baik. Mereka terkenal karena senang mengisengi siswi-siswi di sekolah mereka. Kenzo bahkan terkenal sering bergonta-ganti pacar meski belum ada yang mengaku pernah dihamili oleh laki-laki itu.

Karina terkadang mencuri pandang ke arah Kenzo saat laki-laki itu melintas di depan kelasnya, atau melewatinya di halaman sekolah, duduk di dekatnya di perpustakaan sekolah, namun tak lebih dari itu. Karina tak akan pernah berani memperkenalkan dirinya pada laki-laki tampan idola sekolah mereka. Kenzo adalah anak orang kaya, dia tak pantas berteman dengan Karina yang merasa dunia mereka begitu jauh berbeda.

Karina hanyalah seorang anak gadis dari seorang ibu yang bahkan tidak memiliki suami yang bisa dipanggilnya ayah. Seumur hidupnya, Karina tak pernah tahu siapa ayahnya, ibunya tak pernah memberitahukannya. Namun suatu hari ketika sang ibu sakit keras, wanita itu memanggilnya ke samping ranjangnya, membuatnya berjanji agar tidak mencari laki-laki itu dan mengakui dirinya adalah anaknya. Ibunya membuatnya berjanji agar tidak mengganggu kehidupan sebuah keluarga harmonis meski dia pantas mendapatkan haknya di dalam keluarga itu. Ibunya juga membuatnya berjanji untuk tegar menjalani hidupnya dan berusaha dengan rajin agar kelak menjadi orang yang sukses.

Karina bersyukur ibunya tidak meninggal, ibunya akhirnya sembuh dan mereka kembali menjalani hidup mereka yang sederhana dengan bahagia, meski hanya berdua.

Akhirnya Karina menerima ajakan Kenzo, mereka sedang berada di sebuah tempat makan yang biasa di datangi Karina sepulangnya dari sekolah. Tempat makan bakso langganannya. Kenzo bukanlah orang munafik atau anak-anak orang kaya yang anti bergaul dengan anak-anak dari golongan biasa saja. Dia telah terbiasa dengan kehidupan orang awam, maka dia tidak heran ketika Karina membawanya ke sebuah warung bakso kecil yang penuh sesak dengan pengunjung. Dia bahkan tak dapat menselonjorkan kakinya yang panjang untuk beristirahat.

“Kamu yakin cuma disini? Aku bisa ngajak kamu makan di tempat lain,” tawar Kenzo pelan, dia berbisik hingga hanya Karina saja yang mendengar suaranya.

Karina memperbaiki rambutnya yang tergerai jatuh menghalangi telinganya mendengarkan bisikan Kenzo. “Mengapa kamu berbisik?” tanyanya pada laki-laki itu.

“Kamu juga berbisik sekarang,” jawab Kenzo geli. Mereka masih saling berbisik-bisik menyahuti pertanyaan masing-masing.

Pesanan mereka tiba, dengan lahap mereka berdua menghabiskan semangkok bakso di hadapan mereka. “Enak gak?” tanya Karina pada Kenzo yang sedang menyedot teh botol dinginnya.

“Lumayan...” jawabnya cengengesan.

“Enak banget kok dibilang lumayan sih?” Karina ikut cengengesan.

Mereka kehabisan topik pembicaraan umum, akhirnya Kenzo memberanikan dirinya memulai topik lain yang telah ditahan-tahannya sedari tadi di dalam kepalanya.

“Dari dulu aku pengen ngobrol sama kamu.”

Karina yang sedang menunduk memainkan jari-jari tangannya terpaksa mengangkat wajahnya demi mendengar perkataan Kenzo barusan. Wajah laki-laki itu serius, tak menyiratkan sedikitpun kebohongan yang biasa dilihat Karina pada laki-laki yang dulu mendekatinya. Kebanyakan laki-laki itu telah memiliki pacar lain yang juga ingin memacarinya.

“Kenapa?” tanya Karina mencoba peruntungannya. Jantungnya berdebar-debar dan dia gelisah dalam duduknya. Dia telah memperhatikan Kenzo selama ini, duduk berduaan dengan laki-laki ini dengan jarak begitu dekat bagi Karina adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Mengetahui bahwa laki-laki idolanya ingin berbicara dengannya dari dulu membuat perasaan Karina berada di awang-awang.

Kenzo menggaruk kepalanya, dia tidak siap diberikan pertanyaan seperti itu. Dia mengira Karina akan menanyakannya hal lain, seperti “Pengen ngobrol apa?” atau “Kok gak ngobrol aja?”. Maka ketika pertanyaan itu terucap, Kenzo tak berkutik, dia akhirnya memilih menyerah dan menyatakan perasaan yang telah dipendamnya setahun belakangan.

“Karena.. Aku suka kamu.”

Karina menutup mulutnya, dia terkesiap, tak menyangka Kenzo akan mengatakan hal itu padanya. Dia sampai lupa bagaimana harus bersuara. Tak ada satupun kata yang mampu terucap dari bibirnya, hingga Kenzo menarik kedua tangannya yang sedang menutupi mulutnya. Laki-laki itu dengan lembut mengelus tangan Karina dan membawanya dalam genggamannya.

“Aku tahu.. Kamu belum kenal aku, tapi yakinlah... Aku sudah memperhatikanmu setahun belakangan ini. Aku tahu kebiasaanmu, aku tahu siapa-siapa saja temanmu, aku bahkan tahu keburukanmu, yang sayangnya tak ada. Aku juga tahu bagaimana kamu begitu ramah dan murah hati, baik... Aku terpesona, Karina.”

Kenzo membiarkan Karina mencerna kata-katanya sebelum menjatuhkan bom atom yang dia yakin tak akan sanggup dikatakannya lain kali, bila tidak sekarang.

“Aku... jadilah pacarku, Karina.”

Jantung Karina semakin berdebar kencang, dia panik, keringat dingin menyelimuti telapak tangannya yang sedang digenggam erat Kenzo. Karina gelisah, Karina kebingungan. Dia tak tahu kenyataan bisa begitu indah, laki-laki yang disukainya selama dua tahun dia bersekolah di SMU yang sama dengannya, juga menyukainya. Hati Karina bersorak girang, namun dia berusaha menampilkan wajah sedatar mungkin. Lalu pipinya mengkhianatinya, pipi itu bersemu merah dan membuatnya menunduk menahan malu.

Kenzo menyadari perubahan Karina, diapun tersenyum penuh kemenangan. “Jadi...? Kamu mau?” tanyanya lagi.

Tak lama, dengan malu-malu Karina mengangguk kecil. Anggukan yang tertangkap jelas oleh mata Kenzo dan dia bersorak hingga pelanggan di ruangan itu meliriknya penuh rasa ingin tahu.

“Yess!!!”

Kenzo dan Karina saling bertukar nomer handphone. Sejak saat itu hubungan mereka semakin membaik, bahkan Kenzo selalu menjemputnya di depan rumahnya. Kenzo cukup pintar, dia tidak pernah mengendarai mobilnya lagi, dia sengaja memakai motor Ninja kesayangannya untuk mengantar jemput Karina yang akan memeluk tubuhnya dengan erat sehingga dadanya yang lunak akan tertempel pada punggung Kenzo.

Sesungguhnya Kenzo tak pernah memikirkan hal itu, dia hanya ingin Karina memeluknya sepanjang hari, dada yang lunak adalah diluar kuasanya dan dia menganggapnya sebagai bonus yang tak terduga.

Sudah dua minggu mereka berpacaran, hampir setiap pulang sekolah Kenzo akan mengajak Karina menghabiskan sore bersama di pantai tempat mereka pertama bertemu. Suatu senja ketika matahari tenggelam di ufuk barat, Kenzo mencium mesra bibir Karina sebelum merengkuh pundaknya, membawa wanita itu bersandar pada bahunya.

Karina melambaikan tangannya pada Kenzo yang sedang mengenakan kembali helmnya setelah membukanya hanya untuk mencium kening Karina, kebiasaan yang ingin dilakukannya semenjak hari itu. Kenzo pun meluncur dengan motornya membelah jalanan Ibukota dengan hati riang, dia melupakan kehidupan keluarganya yang dipenuhi polemik dan prahara, dia melupakan ayahnya yang senang bermain wanita, dia juga tak menghiraukan ibunya yang sedang entah berada dimana dengan laki-laki muda dan grup orgynya yang biasa memelihara beberapa orang gigolo muda yang bahkan tak ingin diketahuinya. Kenzo akan mencurahkan emosinya hanya pada Karina, kekasih hatinya yang kini dicintainya.

~~~~

Kenzo membuka helmnya, motornya terparkir di samping mobil hummer milik ayahnya yang nampaknya akan keluar sesaat lagi.

“Baru pulang, Ken?” tanya Deddy yang bersiap-siap masuk ke dalam mobilnya.

Kenzo hanya melirik sekilas pada ayahnya, hatinya sedang gembira dan dia tidak ingin kegembiraan hari ini dihancurkan oleh kebenciannya pada ayahnya yang diketahuinya akan menemui selingkuhannya.

“Ya,” jawabnya singkat.

Deddy menyadari keengganan anaknya, namun dia tak ingin hubungan mereka mendingin, Deddy menyayangi Kenzo, dialah masa depannya. Deddy tak ingin hubungan mereka membeku atau bahkan terpecah hanya karena masalah kecil. Maka Deddy memanggil Kenzo dan berbicara dengannya di garasi mobil mereka.

“Kenzo... Daddy gak akan bohong dengan berkata Daddy tidak memiliki pacar, Daddy hanya ingin kamu tahu, kadang dunia orang dewasa dan dunia anak muda tak seperti bayanganmu...”

“Aku tahu, Dad. Aku tahu seperti apa dunia orang dewasa itu. Apa Dad kira aku tak pernah meniduri wanita?? Apa Dad kira aku sebodoh itu???” tanya Kenzo dengan wajah merah padam. Dia jelas hampir tak bisa menguasai emosinya.

“Dad tidak berkata begitu, hanya saja pria dewasa mempunyai kebutuhan. Dad senang kamu juga sudah tahu hal itu.” ujar Deddy tersenyum masam.

“Huh!! Kau salah, Dad,” Kenzo mengepalkan tinjunya. “Aku memang bodoh, aku memang belum pernah meniduri wanita manapun. Hanya istriku yang akan melihat tubuh telanjangku dan aku bersumpah akan seperti itu selamanya.”

Kenzo berjalan masuk ke dalam rumah, seperti biasa, dia berhenti hanya untuk melemparkan sebuah bom pada ayahnya.

“Aku sudah punya pacar. Bila aku mau, aku akan menikahinya setelah lulus SMU!” tatap Kenzo berapi-api. “Aku akan menunjukkan pada kalian, bahwa sebuah keluarga bahagia juga bisa tumbuh dari dalam keluarga yang bobrok.”

Kenzo membanting pintu rumahnya, meninggalkan sang ayah terpekur mencerna perkataan anaknya. Deddy menghela nafasnya, dia hampir membatalkan pertemuannya dengan Thalia, wanita yang sudah dipacarinya selama tiga bulan belakangan. Thalia tak lain adalah sahabat karib Karina, namun mereka memiliki pandangan berbeda mengenai prinsip hidup dan Karina tak pernah ingin mencampuri urusan hidup Thalia. Karena itulah mereka tak pernah bersitegang dan mampu saling menghormati dengan cara mereka sendiri.

Deddy sedang berada di dalam mobilnya, disampingnya Thalia sedang mengoleskan gincu pada bibirnya.

“Kenzo bilang, dia suka sama seorang cewek di sekolah kalian, apa benar kalau cewek itu adalah sahabatmu?” tanya Deddy tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya di depan. Mereka akan bermalam di sebuah villa di kawasan puncak untuk semalam. Kebiasaan yang telah mereka lakoni sejak kali pertama mereka bertemu.

Deddy saat ini berusia empat puluh tiga tahun, sudah tiga belas tahun dia berganti-ganti teman kencan yang kebanyakan adalah anak-anak SMU atau mahasiswa yang dikenalkan padanya. Hanya sesekali dia memacari wanita berusia dua puluhan, Deddy tak ingin wanita-wanita itu memintanya menikahinya. Dengan gadis-gadis SMU dan mahasiswi itu, Deddy tak perlu bersusah payah menghalau mereka karena mereka tak mengharapkan pernikahan.

Thalia membedaki pipinya, “Ya, benar. Mereka malah sudah pacaran, Om.”

Deddy melirik Thalia, takjub dengan apa yang di dengarnya. “Jadi dia sudah mengatakan perasaannya?” tanya Deddy senang. Dia tak menyangka Kenzo akan mengungkapkan perasaannya secepat itu bila melihat betapa gelisahnya dia menceritakan siapa gadis itu sebenarnya pada ayahnya.

Thalia mengangguk, “Sudah, hm... dua minggu mereka pacaran. Oh, ya.. kebetulan. Aku mau mampir ke rumahnya Karina, Karina nama pacarnya Kenzo. Kali aja Om pengen lihat seperti apa Karina. Tapi jangan naksir ya, dia bukan cewek kayak aku, dia cewek baik-baik. Dia...hm.. baik deh pokoknya. Lagian dia pacarnya Kenzo.”

 “Baiklah, kalau begitu..,” Deddy kemudian mengemudikan mobilnya menuju rumah Karina.

Dengan mobil berkaca film gelap, Karina tidak dapat melihat ke dalam mobil yang dikemudikan Deddy, namun tidak demikian dengan laki-laki itu. Deddy dengan jelas dapat melihat seperti apa rupa Karina. Entah mengapa Deddy tertarik untuk melihat dan menatap Karina lebih lama dari seharusnya. Sesuatu dalam mata gadis itu mengingatkannya akan sesuatu, namun tak dapat diingatnya.

Maka ketika Thalia masuk kembali ke dalam mobil, Deddy menanyakan berbagai hal padanya.


“Tuh kan... Si Om.. Dibilang jangan tertarik sama Karina, malah tertarik. Kenapa, Om? Cantik ya?” kekeh Thalia. Thalia memang tidak memiliki rasa cemburu atau posesif pada Deddy, tak heran hubungan mereka bisa bertahan selama itu. Thalia murni mencari tambahan uang dan kenikmatan dengan menjadi cewek simpanan Deddy.


“Udah, jawab aja. Kalau dia mau menikah dengan Kenzo, aku harus tahu kan informasinya dia.”

Thalia mengerucutkan bibirnya, “Ciehh... Nikah.. Emang Kenzo udah mau nikah, Om? Nakal sekali, kayak bapaknya.”

Thalia mengelus selangkangan Deddy dan mengurutnya naik turun. “Enak gak, Om?” tanyanya sambil memperhatikan ekspresi wajah Deddy yang gelisah.

“Hentikan, aku hanya ingin mendengar jawabanmu. Cepatlah...” desak Deddy mulai kesal.

Thalia pun menyerah, dengan enggan dia pun menceritakan semua yang diketahuinya mengenai Karina.

“Karina itu hidup sama ibuknya aja, Om. Ibuknya itu kerja di kelurahan. Tapi denger-denger, Karina gak punya bapak. Ibuknya Karina gak pernah merid. Padahal ibuknya cantik lho, Om. Kalau dibandingin ama Karina.. sebelas dua belas lah...” kikik Thalia.

“Terus..?” tanya Deddy lagi.

“Terus.. nabrak donk, Om...” Thalia mengikik lagi namun segera memasang wajah serius ketika melihat rahang Deddy yang mengeras.

“Hm... mereka itu suka berpindah-pindah, baru dua tahun Karina tinggal di Jakarta lagi. Aku sama dia ketemu waktu ospek, jadinya akrab, soalnya Karina itu orangnya baik, suka nolong. Jadi... ya gitu deh... Gak tahu kenapa dia mau sahabatan sama cewek kayak aku,” jawab Thalia acuh.

“Hm.. apalagi, ya? Namanya... siapa sih nama lengkapnya. Ehmm... Nama ibuknya baru aku inget, Om. Gampang diinget soalnya, kayak nama pemain bulu tangkis kita. Susi Susanti. Eh... salah... Nama ibuknya Karina, Susi... Susi.. Mulyadi, apa Riyadi.. Eh Riyadi kan namanya Om. Sorry, Om...” cengenges Thalia lagi. “Ah!!! Susi Suwardi!! Namanya Karina itu, Karina Putri Suwardi.”

Deddy menghentikan mobilnya seketika di pinggir jalan, untung baginya tak ada satupun kendaraan lain yang mengikutinya di jalanan sepi itu.

“Kamu tadi bilang, nama ibunya siapa?”

Thalia memandang kebingungan pada Deddy, namun dijawabnya juga. “Susi Suwardi, Om.”

Deddy berpikir sejenak sebelum memutar mobilnya dan kembali ke Jakarta, mereka telah hampir sampai namun Deddy tak menggubris rengekan Thalia yang keberatan karena liburan mereka di villa batal. Dia hanya berhenti merengek setelah Deddy mengumpat kesal padanya.

Setelah mengantarkan Thalia kembali ke rumahnya, Deddy memacu mobilnya dengan kencang ke arah rumah Karina, memperhatikan dari jauh halaman rumah itu saat matahari telah tenggelam dan sinar bulan purnama menyinari tanah dan memantulkan bayangan-bayangan yang diterpa oleh sinarnya.

Dari arah depan mobilnya terparkir, Deddy dapat melihat dengan jelas Susi dan Karina berjalan bersisian sambil bercanda, tertawa lepas sebelum masuk ke dalam rumah mereka yang mungil. Perasaan Deddy carut marut, hatinya kacau dan kepalanya mendadak tak mampu berpikir. Segala kenangannya bersama Susi kembali menyerangnya, bagaimana dia telah melukai hati wanita itu sehingga Susi pergi meninggalkannya tanpa jejak atas nama pesahabatan.

“Sahabat? Apakah manusia seperti itu yang kamu anggap sahabat, Sus?”

Deddy mencengkeram kemudi mobilnya, merasa geram karena teringat kembali pada Windy, istrinya yang telah menghancurkan segala rencana masa depannya bersama Susi. Namun dia mendesah pelan, dia tidak dapat menyalahkan Windy sepenuhnya atas kesalahannya. Seharusnya dia tidak meniduri Windy, seharusnya dia tidak bercinta dengan Susi. Sehingga tak akan seperti ini kejadiannya. Namun Deddy tak pernah menyesal memiliki Kenzo sebagai anaknya. Dan pemuda itu kini sedang berdiri di depan pintu pagar rumah Susi dengan senyum mengembang di bibir.

Deddy bahkan menjadi saksi bagaimana Kenzo mencuri sebuah ciuman dari bibir Karina yang tersipu malu sebelum mengajak Kenzo masuk ke dalam rumahnya. Kemungkinan gila merayapi pikiran Deddy, “Bagaimana bila dia adalah anakku? Bagaimana bila Karina adalah anakku dengan Susi? Sehingga... Kenzo dan Karina...???”

Deddy menahan nafasnya, tak mempercayai pemikirannya. Namun dia sangat terganggu dengan kenyataan itu, dia tidak mampu mengenyahkan pikiran itu. Dia harus berbicara dengan Susi mengenai Karina, sebelum semuanya terlambat. Maka Deddy menghubungi nomer ponsel Kenzo dan memintanya untuk segera pulang kerumah.

Kenzo tak ingin menuruti permintaan ayahnya, namun Karina memintanya pulang, seandainya ayahnya sangat memerlukannya.

“Pulanglah, gak apa-apa. Nanti kan masih bisa ngobrol di telphone...” ujar Karina sendu. Dia masih merindukan Kenzo, mereka hanya lima menit duduk berdua seperti itu di depan teras rumah Karina dan gangguan telah mengusik mereka.

Kenzo berpamitan pada Susi dan Karina, dia lalu menghilang dengan mobil BMW putihnya, tenggelam dalam jalanan gelap yang menyisakan asap dan debu yang berterbangan.

Deddy melangkahkan kakinya menuju pintu pagar rumah kecil itu, setelah memencet bel sebanyak dua kali, Karina muncul dari balik pintu untuk menyambutnya. Gadis itu bertanya-tanya siapa gerangan tamu yang datang setelah pukul delapan malam ini. Saat Karina melihat Deddy berdiri di depan pagar rumahnya, dia tahu, Deddy adalah ayah Kenzo, wajah mereka begitu mirip dan jantung Karina berdebar cepat. Dia tahu ayahnya telah meminta Kenzo untuk pulang, namun disinilah ayahnya, maka hanya satu kemungkinan mengapa Deddy berada di depan rumah mereka.

“Dia pasti ingin memisahkan kami...” bisik Karina dalam hatinya. Dan dia merasa hatinya sakit seperti di siram dengan air es.

Meski demikian, Karina tetap membukakan pintu pagar rumahnya untuk Deddy dan menanyakan keinginan laki-laki itu. Karina tidak mengatakan bila dia telah mengetahui siapa Deddy.

“Ada yang bisa dibantu, Pak?” tanya Karina was-was.

Deddy memandang dengan seksama setiap jengkal wajah Karina, dia yakin Karina adalah anaknya dan hatinya bagai diiris sembilu memikirkan kemungkinan itu. “Ibumu ada?” tanya Deddy.

Meski dia tidak tahu apa tujuan Deddy datang kesana, Karina dengan lugu mempersilahkan Deddy masuk ke dalam rumahnya dan memanggil ibunya yang sedang merapikan pakaian di lemari. Saat Susi keluar dan mendapati Deddy berdiri kaku di tengah ruang tamu rumahnya, hati Susi mencelos dan dia hendak kabur sebelum Deddy menangkapnya terlebih dahulu.

“Jangan pergi lagi, Sus. Tolong, jangan pergi lagi.”

Deddy memeluk erat tubuh Susi, semua perasaannya dikeluarkannya, hatinya yang dulu sakit, terlupakan, kini menyeruak kembali ke permukaan dan cintanya pada Susi kembali dirasakannya. Sedang Susi menangis dan meronta mencoba melepaskan diri dari Deddy.

“Lepaskan aku, Ded. Lepas! Kamu sudah punya keluarga, jangan ganggu aku!” teriak Susi kalap.

Karina memandangi Deddy dan Susi dengan bingung, diapun memanggil ibunya.

“Ma... Kenapa? Pak, tolong lepasin Mama saya, kalau tidak, saya akan teriak biar semua orang datang. Meskipun bapak adalah ayahnya Kenzo, saya tidak akan memaafkan bapak bila menyakiti Mama saya.”

Tubuh Susi menegang, mulutnya menganga lebar, wajahnya menatap ngeri pada wajah Deddy yang tak kalah pucat dengan wajahnya sendiri.

“Kenzo... anakmu dan Windy?” tanya Susi.

Deddy mengangguk, “Karina... a..anakku?” bisik Deddy pada Susi.

Susi memalingkan wajahnya, melepaskan pelukan Deddy yang tak mencegahnya sama sekali. Mereka berdua terduduk di atas sofa, Susi dengan air mata yang disekanya, Deddy menunduk dengan wajah keras, mencoba mencari jalan keluar dari segala kekacauan ini dan Karina yang mulai menangkap segala maksud kehebohan di depan matanya.

Karina menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum melangkah mundur mendekati pintu keluar. “Tidak.. Mama.. Katakan ini bohong. Kenzo... Kenzo tidak... Kami bukan saudara, khan??” teriak Karina lirih. Saat itulah ketika Karina mundur beberapa langkah lagi, tubuhnya terantuk oleh sesuatu yang menghalanginya mundur lebih jauh lagi.

Karina menoleh ke arah belakangnya, Kenzo sedang berdiri dengan wajah pucat dan sekeras karang. Mata mereka saling bertatapan, bibir mereka membisikkan nama yang terkasih.

“Kenzo....?” bisik Karina lebih keras. Deddy dan Susi pun mendengar dan melihat Kenzo sedang berdiri kaku memperhatikan mereka berdua.

“Kenzo?? Kamu seharusnya di rumah. Kenapa kamu bisa ada disini??” tanya Deddy tak percaya, dia telah berdiri meski kakinya masih lemas oleh kenyataan itu.

“Aku melihat mobimu terparkir saat menoleh kebelakang waktu aku pergi. Aku menyangka Dad akan memaki Karina karena perbedaan kami.. tapi rupanya... bahkan lebih buruk. Aku tak dapat membayangkannya... hah...”

Kenzo bersandar pada dinding di sampingnya, Karina mencoba untuk menyentuhnya namun Kenzo menghela tangan gadis itu. “Jangan sentuh aku,” umpatnya kesal.

Karina merasa hatinya teriris sekali lagi oleh penolakan Kenzo.

“Kalian... kau... Dad... kau sangat menjijikkan. Bagaimana mungkin kau lakukan ini padaku??? Tidakkah cukup wanita-wanita itu kau tiduri?? Mengapa harus... Karina??” bisik Kenzo lirih. “Aku mencintainya, Dad!! Aku mencintai Karina!! Now , what should I do???

Kenzo mencengkeram rambutnya, mengusap wajahnya frustasi, dia bahkan berteriak kesakitan, kesakitan dalam hati kecilnya. Hatinya yang baru saja berbunga kini hancur sudah. Dia tidak bisa memiliki Karina, dia tidak bisa menikahi Karina... Mereka adalah saudara kandung... dari ibu yang berbeda.

“Ken...” panggil Karina lirih.

Mereka berempat terdiam dalam ruang tamu itu hingga malam mulai larut. Tak ada yang bergerak, tak ada yang berusaha menjelaskan duduk perkara, tak ada yang berusaha meminta maaf ataupun memaafkan.

~~~~

Dua bulan kemudian...

“Mahesa Munandar.”

“Saya, Pak.”

Mahesa pun tertawa senang membaca isi rapor sekolahnya yang baru diserahkan oleh wali kelasnya.

“Christoper Aditya, mana? Gak masuk lagi? Tsk...” wali kelas itu menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum meletakkan rapor di tangannya kedalam sebuah arsip lain untuk disisihkan.

“Kenzo Avalon Riyadi.”

“Ya...” dengan malas Kenzo maju ke depan kelas untuk menerima rapornya.

Sementara di ruangan kelas lain, Karina dan Thalia menunggu giliran mendapatkan pembagian rapor. Karina sedang memandangi teman-temannya yang sudah mendapatkan rapor sebelum dirinya, sedang Thalia masih asyik membalas BBM dari pacar barunya. Seseorang yang bernama ‘Om Purnomo’.

Thalia dan Deddy telah memutuskan hubungan mereka sejak hari dimana Deddy menemukan kenyataan baru tentang Karina dan Susi. Sejak saat itu Deddy tak pernah menemui wanita manapun selain Windy dan Susi. Hubungan mereka memang belum membaik, Deddy masih berusaha dengan segala daya upayanya untuk mengembalikan keutuhan keluarganya dan memperbaiki dirinya agar bisa menjadi seorang ayah yang bisa dibanggakan oleh anak-anaknya, meski dia tahu akan sangat sulit. Kenzo belum bersedia berbicara dengannya, hubungan Deddy dengan Karina pun tidak berjalan seperti keinginannya, Deddy hanya bisa menghela nafas panjang, setidaknya Tuhan masih mempertemukannya dengan wanita yang dicintainya dan anak yang baru diketahuinya ada.

“Karina Putri Riyadi,” panggil wali murid pada Karina yang langsung berdiri.

Teman-temannya memperhatikan perubahan nama Karina dan berbisik-bisik di belakangnya. Saat Karina telah kembali ke bangkunya, Thalia berbisik padanya.

“Ehm... Kita lupakan masa lalu ya, anggap saja tak pernah terjadi apa-apa antara aku dan ayahmu. Toh sekarang juga Om Deddy sudah tobat dan bersedia bertanggung jawab.”

Karina hanya mendengus mendengar ucapan sahabatnya.

Setelah pembagian rapor selesai, Karina dan Thalia berpisah di gerbang sekolah sementara Karina menunggu dengan sabar sambil mendekap rapornya.

Sebuah mobil BMW putih berhenti mendadak dengan suara ban berdecit melengking di samping tempat Karina menunggu. Kaca jendela mobil itu bergerak turun, memperlihatkan Kenzo dengan kaca mata hitamnya, tanpa menoleh, memerintahkan Karina untuk masuk ke dalam mobilnya.

“Masuk!”

Dengan enggan Karina masuk ke dalam mobil itu, tubuhnya menabrak jok kursi ketika Kenzo tanpa belas kasihan menginjak pedal gas mobilnya dan membawa mereka pergi dari sekolah itu secepatnya. Tak lama kemudian mereka telah tiba di rumah kediaman Riyadi, dimana Deddy dan kedua istrinya, Windy dan Susi telah menunggu kedatangan mereka di ruang tamu.

Kenzo bahkan tak ingin menyapa orangtuanya dan masuk tanpa berkata apa-apa ke dalam kamarnya. Terdengar suara pintu terbanting keras, kebiasaan yang dilakoni Kenzo selama dua bulan belakangan sejak Karina dan Ibunya tinggal di rumah itu.

Deddy telah menikahi Susi secara resmi di pengadilan, Windy dengan sedikit ancaman dari Deddy akhirnya menyetujui pernikahan kedua suaminya. Dia juga tidak berkomentar banyak mengenai hidup mereka dalam satu atap yang sama. Windy telah memiliki hoby baru yang mampu mengalihkan pikirannya dari Deddy dan diapun tak mempermasalahkan meski Deddy tak pernah masuk ke dalam kamar tidurnya. Deddy hanya melewati malamnya di dalam kamar istri keduanya, Susi, Ibu dari Karina.

Saat malam tiba, Deddy dan kedua istrinya meninggalkan anak mereka di rumah, Deddy dan istri-istrinya telah meyakini Kenzo dan Karina telah mengerti arti darah yang mengalir dalam tubuh mereka sehingga cinta yang mungkin pernah mereka rasakan telah sirna dan tak berbekas. Tanpa mereka ketahui, dua insan ini begitu terluka dengan kenyataan yang tak bisa mereka terima, terutama pada Kenzo.

Dia membenci orang tuanya, dia membenci Susi, dia bahkan lebih membenci Karina. Maka ketika para orang tua telah pergi, Kenzo mengendap-endap masuk ke dalam kamar Karina dan mengamati wajah kekasih hatinya dengan wajah terluka.

Selama dua bulan ini Kenzo telah menyakiti hati maupun fisik Karina dengan sengaja. Dia tidak pernah mau berbicara pada gadis itu, dia tak pernah mau menatap matanya lagi. Sekalinya Kenzo membuka suaranya, hanya makian dan hinaan kasar yang dia berikan pada Karina. Diam-diam gadis itu akan menghabiskan malamnya dengan tangisan yang membasahi bantalnya. Kenzo juga seringkali mencekal kedua lengan Karina dengan kuat hingga pergelangan tangan gadis itu memerah dan perih bahkan membengkak.

Kenzo juga acapkali menciumi bibir Karina dengan paksa, dia menatap dingin wajah Karina dan mengeluarkan hinaan yang hanya semakin menambah luka dalam hati mereka.

Saat Kenzo mengamati wajah Karina kali ini, gadis itu baru saja terlelap setelah menangis seharian sejak kepulangan mereka. Dia belum menyentuh makan siangnya, belum juga makan malamnya. Karina hanya menangis hingga matanya sembab, merah dan bengkak.

Kenzo bukan tidak mengerti apa penyebab semua kesedihan Karina, dia sendiri tak mengerti mengapa dia melakukan hal-hal menyedihkan itu pada Karina.

“Karina... Aku mencintaimu... sangat mencintaimu hingga rasanya aku ingin membunuhmu dan membunuh diriku setelah itu...”

Kenzo meninggalkan kamar Karina setelah membisikkan kalimat itu dengan penuh amarah. Dia membanting pintu kamarnya lagi dengan kencang. Di dalam kamar itu terdengar suara barang-barang jatuh dan teriakan frustasi Kenzo yang memenuhi rumah. Selama sisa hidupnya, Kenzo akan melewati hari-harinya bersama Karina, frustasi dan depresi yang akan merubahnya menjadi sebuah pribadi yang berbeda dari yang pertama dikenal Karina. Hanya waktu dan Karinalah yang mampu membuat Kenzo berubah, itupun bila laki-laki itu bersedia membuka hati dan jiwanya untuk Karina...lagi...


The End...




47 comments:

  1. pertamax.......hihihihi thanks mbk cin :)

    ReplyDelete
  2. ya ampun kenzo please yah minta penjelasan dulu sebelum judge orang,,,, kasihan kan karina...
    sebel sama kenzo, windy and deddy... disangkanya mereka bertiga doang kali yang harus nernahagia...
    huuuuuuuuuuuuuuuu seeebbbbbbbbbbbeeeeeeeellllll!!!

    oh ya ampe lupa terimakasih mba shin muacchhhhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehhehe.. jangan sebel2 sist, nanti cepet keriput lhoh... :gak nyambung:

      Delete
  3. Jd ingat piter dan eliza :(

    ReplyDelete
  4. hiks..hiks.......hampir ke inget sama si piter. kenapaaa....kenapaaaa harus sodaraan...huuwaaaa....
    *hampir nangis darah

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya biar ada cerita jeng.. ihihihihi

      Delete
  5. Jangan lagi!!!Aku uda nangis bombay gara-gara si peter dan elisa. Masak skrg mewek lagi gara2 kenzo dan karina? Mbak Shin bikin q mewek mulu nih...huwaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahhahaha sini tak bantu ngusap air matanya.. ehem....

      Delete
  6. Kerennn kasihan kenzo,,,

    Org2 kayak deddy tuh emg harus dikebiri ato steril hiar ga ninggalin benih dimana2 eehh

    Makasih mba shin,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha benerrr sekali... sekalian aja dipotong biar gk bs berdiri lagi sist. hahahhaha

      Delete
  7. Kasian kenzo... sini tante peluk.... wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah tante suka yang brondong ya tan? hihihihihih

      Delete
  8. klo yg onoh udh keburu kejadian , pas tau kk adik , cuman angkat bahu & berkata " yah waktu itu kan kita ga tau ... "

    ReplyDelete
  9. Huaaaa..,nangis guling2
    Lgi2 cinta terlarang
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba cin

    ReplyDelete
    Replies
    1. guling2nya dimana tu ndong? hehhehehe

      Delete
  10. ukh... kayak VE mbak shinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha mustinya aku masukin VE nih biar gk ngetik lg wkkwkwkwkw :untung bukan dibilang plagiat: lol

      Delete
  11. jadi inget kisah piter-elisa
    kasian bgt ya pdhl kenzo-karina saling cinta tapi trnyata mrka sodaraan
    untungnya sih mrka blm ngapa2in ya cma sebatas ciuman doang
    benci bgt sama deddy, dia ga bisa tegas ih
    malah poligami -.-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa.... kl piter-eliza udah lebih dari ciuman ya sist? bahkan sampe hamil... :jd miris kl inget:

      Delete
  12. Please,, lanjut dong kak.
    Nanggung nie kenzonyaa.
    Sumpah ya ayahnya itu bener2 egois.
    Ayahnya bahagia bersama si susi
    Lha si kenzo menderita karena kebahagiaan ayahnya.
    Malangny nasibmu nak kenzo, punya ayah yang ga tau diri, ga tau perasaan kaya gtu,, terlebih kau sedarah lagi dg si dedy itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kl dilanjutin yg ada makin tragis sist.. hihihihi... makasi ya udah membaca dan ngasi kesan pesannya, means a lot for me :D

      Delete
  13. Huaaaaaaa,,,,Mba Ciiiiinnnnnnnnnnnn.... Hukz.. Hukz.... Kshn Kenzoooo....
    Kenaapaaahhhh??kenapaaahhh Mba Ciiinnn?? *lebayy*
    Keyeennn,,mksh Mba Ciiinnnn....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa.. makasi banyak vie... :D

      Delete
  14. wah ini toh yg dimaksud mbak shin dg tema yg sama tp ditulis dg rasa n gaya yg berbeda oleh 3 trio cetar n hasilnya ceritanya2 keren abis mbak seru...tema minggu ini berarti ttg anak yg tdk diketahui keradaannya di dunia oleh si bapak ya mbak...pokonya salut buat mbak bertiga. aku suka...aku suka...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha makasi sista :D iya temanya begitulah.. minggu depan temanya beda lagi, clbk. mudah2an banyak temen2 yang berpartisipasi biar makin rame aja blog ini hahahahaa

      Delete
  15. sukaaaaa... Thanx mb chin. Nitip pesen dunk hp error jd lum bs gabung k grup y.slam muach bwt smua

    ReplyDelete
  16. Ceritana mirip2 VE (^_^).......
    Tapi semuana cerita CERMIN bagus2 Mba Shin *mantap (^_^)6
    Please dilanjutin lg dunk cerita Kenzo n Karinna Mba Shin....please......
    Makasih Mba Shin *peluk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah gmn lanjutinnya? gak ada ide.. yg ada mah karina dibully mulu ama kenzo malah menjurus ke pemerkosaan. kasian ntr dia. :D kwkkwkwkw...

      ayo sist, ikutan nulis, temanya clbk buat minggu depan D:

      Delete
  17. mbak shinnnn... endingnya kok gitu sich....
    bkin happy ending gitu hehehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahhahaha... gak kepikir bikin happy ending. lol...

      Delete
    2. aq penyuka happy ending sich kw sad endinggni bkin nyesek ma kpikiran hahaha.... but suka sich critanya...

      Delete
  18. Replies
    1. hehehe.... beda kok, kan ini Kenzonya kejam. kl Piter kan baik. :D

      Delete
  19. Mbak Shiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnn ........

    ReplyDelete
  20. Gyaaaa... knp cerita ny hrs sdraan lg... *cakartembok.... nangis di pelukan danoff....
    Duhhh si dedy itu anuny dibikin pepes aj gimn... plaaak*

    Thanks mba shin...

    ReplyDelete
  21. Mbak shin aku mau nyumbang tema nih,kawin paksa ,yg happy ending Чα"̮ certanya,,hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aifree@ wah dengan senang hati sist nggak usah sungkan2 kirim email aja ya (?) plaaakkkk di gampar mbak Shin hehe sorry Ane cuma canda sist Shin :D

      aifree @ ayo sist ntr KLO udah di posting aq ikutan bacaya hehe

      Delete
  22. cinta terlarang.. Ah past sungguh sangat menyakitkan bagi Kenzo dan Kiran..
    Puk puk both of them -,-"

    Mba shin untung ending ne g' se"tragis" PitZa tp ckup sngt menyayat hati..

    ReplyDelete
    Replies
    1. lho koq Kiran sih?
      Karina.
      #maap typo mba shin :(

      Delete
  23. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. SuKA !!! Even sad-end..but it's great..

    Thankies darl'..

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.