"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, May 21, 2013

CERMIN 4 - (CLBK Series) - Cinta Kedua oleh Meyke AD.


Cinta Kedua

Story by +meyke AD


Prang…..suara piring pecah memantul ke seluruh penjuru rumah.  Mungkin suaranya sampai tedengar ke tetangga sebelah rumah. Karena udara malam yang tipis akan dengan mudah menjalarkan suara, berbeda dengan saat siang hari.

Mungkin saja suara berisik ini bisa memberi bahan bagi para tetanggaku untuk obrolan mereka esok pagi. Sering aku mendapati mereka tersenyum padaku untuk kemudian berbisik-bisik ketika aku membuka kaca mobilku saat mereka berkerumun di salah satu rumah tetanggaku. Jam berangkatku ke kantor sama dengan jam mereka bergosip sembari berbelanja pada abang sayur yang lalu lalang di kompleks perumahan kami. Kompleks perumahan menengah.


Biasanya aku menyempatkan diri menyapa mereka, beberapa kukenali sebagai tetangga dekat rumah. Biasanya mereka akan memujiku dengan tampilan rapiku. Maklum, hanya aku wanita karir di kompleks gang rumahku. Selebihnya, hanya ibu rumah tangga. Tapi setelahnya mereka akan berkerumun, mungkin membahas aku yang jarang berinteraksi dengan mereka.

Oya, kali ini piring antik hasil buruanku dua tahun lalu ketika kami berbulan madu. Bulan madu yang tinggal kenangan. Aku sengaja membantingnya, karena aku ingin tahu reaksi Satrio, suamiku. Apakah ia masih akan tetap seperti biasa, dengan kediamannya menghadapiku. Aku akan jauh lebih suka ketika dia meledak-ledak menghadapi emosiku ketimbang hanya diam.

Aku ingin dia meluapkan emosinya, sehingga aku tahu apa yang ada di dalam hatinya. Tidak seperti patung yang tak memiliki perasaan. Aku sengaja memancingnya, memecahkan barang yang bagiku memiliki memori tersendiri. Nyatanya dia hanya terdiam, malah pergi setelah aku terduduk dengan menahan emosi yang menyeruak di dada.

Tak ada sepatah katapun terucap darinya, ia meninggalkanku begitu saja, aku yang sedari tadi mengomelinya dengan rentetan kata-kata, yang entah ia dengar atau lewat begitu saja. Sebenarnya masalah kali ini bermula dari aku yang terlambat pulang dari kantor. Kebetulan aku baru saja naik jabatan, sehingga beban kerjaku semakin berat. Tanggung jawab yang aku pikul bertambah, apalagi biasanya posisi baru yang kutempati ini hanya diisi oleh laki-laki.

Aku baru saja menyelesaikan meeting terakhir dengan klien pada pukul 10 malam. Ini meeting terakhir dari serangkaian meeting yang telah aku lalui dalam rangka pengajuan penawaran kami untuk salah satu proyek. Kalau tender ini bisa diambil oleh perusahaanku, peluangku untuk menduduki posisi kepala cabang semakin terbuka lebar. Tapi, perlu diketahui, perusahaanku tak pernah bermain kotor. Kami selalu mengikuti aturan main yang bersih. Apalagi dengan ketatnya KPK sekarang, perusahaanku tak ingin kerja keras yang sudah dibangun bertahun-tahun hancur dalam sekejap. Tapi sepertinya usahaku kurang berhasil, sepertinya ada perusahaan lain yang bersedia memberikan harga jauh di bawah kami. Rasa kecewa campur marah bercampur di otakku. Seperti semua yang telah aku lakukan beberapa waktu ini menjadi sia-sia.

Aku sampai di rumah sekitar pukul 11 malam dalam keadaan lelah fisik dan otak. Aku mendapati Satrio sedang membaca komik, di ruang tamu. Di depannya ada secangkir kopi yang telah habis dan sepiring kentang goreng yang masih tersisa.

“Belum tidur, Mas?” sapaku sambil melewatinya, menuju ke rak sepatu. Sengaja kutinggikan nada suaraku. Kulepas sepatu hak tinggiku, biasanya aku jarang memakai sepatu hak tinggi. Hanya saja demi meeting ini aku mau mengenakannya. Aku lebih suka sepatu yang memudahkanku untuk bergerak.

“Nungguin kamu. Apa harus semalam ini pulangnya. Aku khawatir sama kamu.” Satrio meletakkan komiknya di meja, menoleh untuk memandangiku.

“Kalau khawatir kenapa ga jemput. Malah di rumah baca komik.” Aku bersungut-sungut. Kesal sekali dengan sikapnya. Kalau memang dia peduli, harusnya bukan bertanya tapi melakukan tindakan nyata.

Satrio menghampiriku, berusaha memelukku dari belakang. Seketika kutepiskan tangannya.

“Aku capek” aku menolaknya dengan kasar.

Ia mundur selangkah, mengamatiku. “Sini kubawain tasmu. Aku tadi udah siapin air panas, kamu mandi aja ya. Biar seger. Tinggal dipanasin sebentar”

“Mas, kenapa sih mas tuh ga kayak suami-suami lain. Setidaknya mas bisa kan jemput aku. Bukannya diem di rumah nungguin aku pulang. Iya kalau aku pulang, kalau aku kenapa-napa di jalan gimana?” Aku memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan pedas. Jujur aja aku sebal dengan tingkahnya. Kadang aku juga ingin diperhatikan.

“Loh, kok kamu jadi banding-bandingin aku sih. Udah ah, kamu mandi aja gih. Daripada marah-marah, serem ah.” Jawabnya sambil tertawa.

Dadaku bergemuruh, bisa-bisanya dia tertawa saat aku sedang benar-benar marah padanya. Apa dipikirnya aku ini becanda. Aku melangkahkan kakiku ke ruang makan, tempat yang paling dekat yang bisa kujangkau. Aku meraih piring antik yang ditempel di tembok sebagai pemanis ruang makan. Sekali bantingan, piring itu pun pecah berderai. Sementara itu, Satrio melangkah melewatiku. Ia menuju kamar, meninggalkanku dengan emosi yang masih membara.


Esoknya, aku terbangun dengan kepala pusing. Efek marah-marah dan beberapa hari begadang membuat tubuhku drop. Aku meraba kasur di sampingku, kosong. Kamar dalam keadaan gelap, aku meraih hape yang kuletakkan di meja samping kasur tadi malam. Jam 5 pagi, kemana Satrio sepagi ini. Apa dia tidak tidur di kamar malam ini. Tapi seingatku, aku naik ke atas ranjang setelahnya.

Aku berusaha bangun, untung hari ini hari Sabtu. Jadi, aku tak perlu memaksakan diri berangkat ke kantor. Aku tiba-tiba teringat ajakan Vera, sahabatku untuk menghadiri reuni nanti malam. Reuni teman-teman jaman SMA, kebetulan bulan depan Claris salah satu sahabat kami akhirnya menikah. Setelah penantian panjangnya menemukan jodoh, akhirnya pangeran impiannya pun muncul. Tak tanggung-tanggung, laki-laki asing berhasil menaklukkan hatinya. Setelah menikah, ia akan ikut suaminya ke London. Karena itu, kami bermaksud mengadakan pesta perpisahan untuknya, mumpung ia belum sibuk dengan persiapan kepindahannya.

“Kamu udah bangun?” Satrio yang baru saja masuk kamar bergegas menghampiriku. Ia meraih keningku dan memberiku kecupan ringan.

“Dari mana?” tanyaku ketus. Aku masih kesal padanya.

“Olahraga dong, memangnya kamu. Tukang tidur” Ia melemparkan handuk kecil yang dipakainya ke atas kasur.

Refleks aku membentaknya.

“Jorok banget sih!!! Simpen di mesin cuci sana.” Aku membentaknya lagi.

Ia meringis sambil meraih handuknya, dengan segera keluar dari kamar.

“Jorok tapi kamu cinta kan.” Lagi-lagi ia tertawa sambil mengedipkan matanya padaku saat ia mencapai pintu.

Cinta?....Apa iya aku punya cinta padanya, bisik hatiku.


“Shell,,,sebelah sini.” Kudengar teriakan Vera sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Sepertinya ia paham kebingunganku. Ada banyak resto berjajar di tempat ini. Resto yang dipilih untuk pertemuan kali ini memang belum pernah kudatangi. Tadinya aku sempat akan salah masuk, untung Vera yang memang bertugas menunggu di luar sadar akan kedatanganku.

Berbeda dengan resto-resto lainnya, resto ini bergaya rumahan. Papan namanya pun tak terlihat, tapi begitu masuk suasana ala rumahan begitu terasa. Aku pun langsung merasa betah.

“Selamat ya Ris. Ga nyangka deh gue.” Aku meraih Claris dalam pelukanku.

“Iya, ga nyangka ya Shell. Malah gue yang akhirnya kawin sama bule.” Ujarnya sambil terkekeh. Tak ayal guyonannya itu disambut tawa dari teman-temanku yang lain. Seketika tawa itu mengingatkanku akan seseorang. Seseorang dari masa laluku, masa 5 tahun lalu.


“Jadi, ini Mr. Frederick. Beliau yang akan menghandle semua pekerjaan ini. Anda bisa bertanya langsung padanya apabila ada yang masih belum jelas.” Pak Roni, site manager dari perusahaan asing yang saat ini sedang bekerja sama dengan kantorku memberikan instruksi padaku.

Ia mengenalkanku pada Mr. Frederick, engineering dari perusahaannya. Kantorku merupakan kontraktor yang rencananya akan mengerjakan pembangunan fasilitas untuk perusahaannya yang nantinya akan menambang batu bara di tempat ini.

Umurku masih 25 tahun, dengan semangat menggebu, aku memilih bekerja di luar pulau Jawa. Bekerja sebagai engineering membawa kepuasan batin padaku, karena aku bisa menjadi apa yang kuinginkan. Aku bisa sejajar dengan para lelaki. Sebenarnya aku tidak ditempatkan di proyek, hanya saja hari ini ada site visit yang mana aku harus ikut. Karena nanti hasilnya akan menjadi acuan untukku menentukan perhitungan keseluruhan tender ini.

“Senang berkenalan dengan anda” Dia mengulurkan tangannya, aku membalas menjabat tangannya dengan erat. Sekilas kulihat ia mengamatiku dalam, mungkin karena aku lebih dulu menatapnya. Dia cukup fasih untuk mengucapkan kata dalam bahasa Indonesia.

“Saya cukup lama tinggal di Indonesia.” Dia sepertinya mengerti apa yang kupikirkan. Aku pun tersenyum malu-malu.

“Shella, anda bisa memanggil saya Shell.” Kataku.

“Saya tak akan memanggilmu “kerang”, Shella is better.” Ia bergurau dengan namaku. Aku pun tergelak, mendengar cara dia mengucapkan kata “kerang” yang terdengar lucu di telingaku. Aku pun kembali tertawa.

Tanpa kami sadari Pak Roni masih berdiri di antara kami. Ia tersenyum sebelum menggiring kami masuk ke ruangan. Meeting segera dimulai.


Hapeku berkedip, tanda sms masuk. Aku kaget, mungkinkah….

“Baby, are u okay?”

Aku tercenung mendapati isi sms yang baru saja masuk. Baby, dia masih mengingatku. Aku hanya iseng tadi, aku tak berniat menghubunginya lagi. Hanya saja, ingatan itu membawaku kembali padanya. Jika ternyata dia masih mengingatku, itu yang tak aku pikirkan sebelum aku memencet nomor teleponnya tadi.

“Erick?... Masih ingat aku?” Jari-jariku seperti bekerja dengan sendirinya. Sementara otak dan hatiku masih berdebat dengan apa yang harus aku lakukan.

Dalam hitungan detik setelah kukirim balasan, teleponku bordering. Nomor yang sama. Aku mengangkatnya dalam deringan ketiga, seperti kebiasaanku sejak dulu.

“Baby….” Tanyanya di ujung sana.

Hatiku berdesir hanya dengan mendengar suaranya. Bulu kudukku meremang, teringat suara lembutnya ketika memanggilku. Lagi-lagi, organ tubuhku bertindak di luar kesadaranku. Air mataku meleleh turun, menetes tanpa henti. Mulai hanya tetesan hingga menjadi isakan.

“Di mana kamu?” Sms darinya, ketika tanpa kata aku menutup sambungan telepon. Kuketik nama sebuah tempat, entah apa dia masih mengingatnya. Setelah itu aku pamit pada Vera yang merasa heran karena aku pamit pulang. Kukatakan padanya aku kurang enak badan. Dengan segera aku melajukan mobilku. Hatiku bergemuruh, perasaan yang sama seperti dulu ketika aku menuju tempat ini. Perasaan yang sama ketika aku akan menemuinya, laki-laki pertamaku.


“Shella…”

“Erick…”

Mata kami bertatapan, tangan kami saling terulur. Aku meraihnya, ia menerimaku, pelukan yang sama. Wangi yang sama, sorot mata yang sama, hangat dan penuh cinta. Ia masih seperti dulu.

Tak ada yang bergerak. Masing-masing tak ingin lepas. Rasanya seperti menemukan kembali tempat yang pernah hilang, kembali pulang. Beberapa menit kami terdiam, entah apa yang ada dalam pikirnya. Akhirnya ia menarikku, menuju kursi di sudut, tempat favorit kami. Rupanya ia masih ingat.

Ia duduk di depanku, matanya tak lepas menatapku. Tangannya menggenggam kedua tanganku erat.

“Akhirnya kamu mencariku.” Ia duluan yang membuka suara, sementara aku masih terpana menatap wajahnya. Wajah yang telah lama kuusir dari memoriku, yang kupaksa untuk pergi dari pikirku.

“Kamu keberatan?” tanyaku.

“Baby, kamu tahu apa arti kamu untuk aku.” Jawabnya. Ia meremas tanganku, dahinya mengernyit ketika jarinya menyentuh cincin di jari manisku. Aku menarik tanganku, kernyitannya seketika menyadarkanku. Namun, dengan cepat ia menariknya kembali. Ia menatapku dalam, seakan menyampaikan bahwa ia memakluminya.

“Aku akan selalu ada untuk kamu.”

Hatiku membuncah, perasaan itu hadir kembali. Perasaan yang tak boleh ada lagi di hatiku sejak aku memilih menikah dengan Satrio kini menyeruak hadir. Segala usaha yang kulakukan untuk mengenyahkannya selama ini ternyata tak berguna. Ia memang hilang, tapi tak pernah pergi. Ia tetap laki-laki yang kucintai sepenuh hati.

Kami tak butuh bicara, aku dan dia sama-sama tahu apa yang ada di hati kami. Aku pulang dengan perasaan bahagia. Dia belum menikah, hatinya masih untukku, meski aku telah termiliki. Kami berpisah, tapi kami tahu ini tak berakhir. Ia bertekad ingin memilikiku. Seharusnya aku takut, aku milik Satrio sekarang. Tapi setiap kali mengingat Satrio setiap kali pula hatiku lebih memilih untuk menuju padanya, lelaki dari masa laluku. Aku tahu ini salah, tapi kali ini aku akan memilih mengikuti hatiku.


“Shell, kita nonton yuk.” Sapaan pertama Satrio sepulangnya aku dari acara reuni Claris, dan acara bertemu dengan mantan pacarku. Aku menelan ludah, mengingat yang terakhir.

Aku menghempaskan badanku ke sofa, memandangi keadaan rumah yang hampir mirip seperti kapal pecah. Gelas minuman memenuhi meja, beberapa bungkusan cemilan tergeletak di karpet. Belum lagi cd game yang bertebaran. Tak perlu kaget, begitulah kebiasaannya menghabiskan waktu, main game sepuasnya seharian setiap hari libur.

“Kamu tuh bisa ga sih, sekali-kali ga usah maen game.” Aku bersungut-sungut.

“Kamu lagi PMS yah, marah-marah mulu dari kemaren?” jawab Satrio tanpa mengalihkan matanya dari layar TV plasma di depannya.

“Satrio!!! Aku serius” bentakku, menarik perhatiannya.

“Aku capek, kapan sih kamu bisa dewasa.” Aku mengambil tasku dan bergegas ke kamar. Aku tak ingin mendengar jawabannya, pasti jawaban yang sama setiap kali aku protes tentang hal itu padanya. Rasanya cukup sudah kesabaranku.

Aku mengunci pintu kamarku, sesuatu yang baru kali ini kulakukan. Aku naik ke atas ranjang dan bergulung ke dalam selimut. Aku menangisi nasibku.

Lima tahun lalu semua begitu indah, Erick laki-laki pertamaku. Darinya aku mengenal cinta. Pertemuan kami yang tidak begitu sering menjadi intens karena pekerjaan, meski hanya lewat email. Lama kelamaan kami menjadi dekat hingga akhirnya berpacaran. Aku begitu bahagia dengannya, merancang semua mimpi indah bersamanya.

Dengan penuh percaya diri, kukenalkan ia pada ayah dan ibu setelah kami 3 tahun berpacaran. Esoknya, tanpa persetujuanku, datang keluarga teman ayah yang katanya akan meminangku. Duniaku hancur, kuputuskan Erick secara sepihak. Masih jelas kuingat tatapan matanya ketika ia memintaku berjanji bahwa aku akan menghubunginya jika aku tak bahagia. Dengan janji itu, ia bisa meninggalkanku.

Satrio, umurnya sebaya denganku, tapi sifatnya jauh lebih di bawahku. Anak laki-laki tunggal, penerus dinasti keluarganya. Kekayaannya tak akan habis dimakan tujuh turunan. Bibit bebet dan bobotnya jauh lebih mumpuni dibanding pacar buleku, begitu panggilan ayah untuk Erick.

Tapi, andai saja ayah tahu kehidupan apa yang kulalui kini bersama laki-laki yang ia bangga-banggakan itu. Aku semakin menangis tergugu, tak lama aku pun terlelap.


“Kenapa kamu belum nikah?” tanyaku di pertemuan keduaku dengan Erick.

Erick menggenggam jemariku, ia melepaskan cincinku, meletakkannya di telapak tanganku. Matanya menyiratkanku untuk tak memakainya ketika aku bertemu dengannya.

“Aku masih menunggumu. Aku yakin kamu akan mencariku.”

“Seyakin itukah?” tanyaku.

“Ya, dan Tuhan mendengar doaku.”

“Memangnya apa doamu?” tanyaku lagi.

“Aku berharap Tuhan pada saatnya nanti mengembalikanmu padaku. Kini Tuhan mengembalikanmu.”

Ia tersenyum, senyum yang membuatku luluh sedari dulu.
Kami banyak bicara sore itu, obrolan kami begitu nyambung. Aku bisa bicara tentang pekerjaanku, tentang mimpi-mimpiku yang sedang aku raih. Seperti dulu, ia bisa menandingi bahasanku. Aku selalu tercengang dengan kemampuannya mengetahui segala sesuatu. Sangat berbeda dengan sosok itu, Satrio.

Pertemuan demi pertemuan dengannya semakin sering aku lakukan. Kami akan bertemu untuk mengobrol di tempat favorit kami dulu. Segalanya sama seperti dulu, meski kini statusku berbeda.

Aku melirik jam di tangan kiriku, jam 9 malam. Tak terasa 4 jam sudah aku dan Erick mengobrol bersama. Waktu selalu terasa begitu cepat ketika aku bersamanya. Setelah beberapa pertemuan dengannya, ia berani bertanya kenapa aku sampai akhirnya menghubunginya. Apa karena aku ingat janjiku dulu, tanyanya.

“Aku lelah, aku sadar seharusnya aku dulu memilih kata hatiku.” Jawabku.

Seperti biasa, ia akan menjalinkan jemarinya padaku.

“Tinggalkan dia, tempatmu bersamaku.” Bisiknya sebelum menghelaku dalam pelukannya.


“Shell, buruan dong. Aku ada meeting penting nih.” Satrio menggedor-gedor pintu kamar mandi.

“Pakai aja kamar mandi lain kenapa sih!!!” aku balas berteriak.

Meeting penting, huh. Paling juga meeting bareng sama mama mertuaku. Satrio diwarisi perusahaan penerbitan milik keluarganya. Namun, selama ini dia belum menjalankannya sendiri, masih didampingi oleh ibunya.

“Tapi aku pengen mandi di kamar mandi sini Shell.” Rupanya ia belum menyerah.

“Kita mandi bareng deh….” Rayunya sambil tertawa.

Aku terdiam mendengar gurauannya, aku menghitung mundur. Sudah berapa lama aku tak melakukan tugasku sebagai istri. Sebelum pertemuanku kembali dengan Erick pun aku tak berminat, apalagi kini. Satrio sering kali memintanya secara halus, aku pun menggunakan segala cara untuk menolaknya. Dia tak pernah memaksaku. Salah satu hal yang tak kusuka darinya. Dia terlalu lembut sebagai laki-laki, tak ada ketegasan dalam dirinya, terlalu kekanak-kanakan. Berbeda sekali dengan Erick.

Erick, bahkan hanya mendesahkan namanya membuatku bergelenyar. Aku menelusupkan badanku ke dalam air lebih dalam, tanganku meraba daerah sensitifku, bergerak, membelai, membayangkan bahwa ini adalah tangan laki-laki yang kupuja. Gerakanku semakin intens hingga akhirnya aku mendapat pelepasan, yang begitu indah bahkan hanya dengan membayangkannya saja.


“Tinggalkan dia Baby, aku butuh kamu.”

Erick berbisik padaku, ia memelukku erat dari belakang. Kami memandang keluar, keadaan malam kota ini dari lantai 15 gedung apartemen Erick. Aku bahkan sudah berani masuk ke ruang pribadinya. Dulu aku sering kemari, tapi hubungan kami tak pernah terlalu jauh. Erick sangat menghargai kepercayaan dan budaya yang kuanut.

Ia mencium telingaku lembut. Tangannya mengelus perutku, menjalar ke atas. Perlahan ia naik ke atas, satu tangannya membalikkan tubuhku, hingga kini aku berhadapan dengannya. Bibirnya membuka bibirku, lidahnya merangsek masuk membelit lidahku. Bibir kami bercinta, ia mengangkatku dengan mudah, matanya mengikatku kuat ketika ia membawaku ke ranjangnya.

Dengan perlahan ia melepas semua yang melekat di tubuhku dan tubuhnya. Mataku tertutup gairah, ia naik ke atasku. Ia dengan lembut memasukiku, menyatukan dirinya ke dalam diriku yang telah basah menantinya. Gerakannya perlahan namun mampu membawaku ke langit ketujuh. Aku merasa ada yang akan meledak di kepalaku, ia pun begitu. Semakin dekat, kami semakin naik, naik, dan akhirnya…..aku berteriak ketika aku merasa kenikmatan menghantamku.

“MAS…….” Jeritku.


“Aku mau minta cerai mas.” Aku memberanikan diri menatap wajah Satrio. Kami duduk berseberangan di kafe. Sengaja aku mengajaknya keluar setelah jam pulang kantor.

“Karena laki-laki itu?” Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah balik bertanya padaku.
Aku membeku. Satrio mengeluarkan rokoknya, ia mengamati sekitar, tak lama menyelipkan sebatang rokok yang sudah menyala di mulutnya.

“Mas, tahu?” tanyaku kaget.

“Aku tahu kamu ga pernah cinta sama aku Shell. 2 tahun ini aku mencoba, jadi seseorang yang lebih baik. Tapi aku gagal.” Satrio mematikan rokok yang baru saja dihisapnya.

“Aku ga nyalahin kamu. Dia jauh lebih segalanya dari aku. Sementara aku, melebihi kamu pun aku ga bisa.”

Aku mengamatinya dalam, kaget dengan perubahannya. Aku tak pernah menyangka Satrio bisa seserius ini.

“Kamu tahu, kenapa aku selama ini keliatan ga peduli sama kamu? Aku tahu sifatmu, kamu itu wanita yang kuat, mandiri. Aku ga terbiasa menunjukkan perhatianku, aku takut kamu ga suka. Aku lebih suka ngajakin kamu ketawa, becanda ga jelas sama kamu. Itu caraku buat ngilangin stress kamu. Tapi yang ada malah tambah stress yah kamunya.” Satrio meringis sambil tertawa, sementara aku terdiam menyadari perkataannya.

“Aku lebih milih nungguin kamu pulang di rumah. Jadi pas kamu pulang aku udah nyiapin makanan bahkan air panas buat kamu mandi. Tapi tanpa setahu kamu, aku nyuruh Mang Udin buat ngikutin mobil kamu tiap kamu pulang malem. Karena aku khawatir sama kamu. Bodoh yah, coba aku ngikutin saran kamu buat jemput kamu. Mungkin aku bisa ngambil hati kamu ya.”

Aku semakin terdiam, terhenyak. Mang Udin,,,,sopir mama mertuaku. Jadi selama ini Satrio tahu apa yang aku lakukan di belakangnya.

“Mang Udin ga tahu tentang laki-laki itu. Kebetulan aku sendiri waktu itu pengen ngagetin kamu, ngasih kejutan jemput kamu. Malah aku yang dapet kejutan.”

Pipiku memerah, aku serasa mendapat tamparan di wajahku.

“Malem itu waktu kamu di apartemennya, aku ada di sana. Aku udah berdiri di depan pintunya. Tapi saat itu aku menghargai kamu, aku menghargai pilihanmu untuk bersama laki-laki itu. Kalau sekarang kamu minta cerai pun, aku ga kaget Shell.”

Kepalaku berkunang-kunang, aku limbung. Jadi, selama ini Satrio tahu semuanya dan dia memilih diam, menghargai pilihanku. Aku merosot ke bawah, refleksku mengambil alih. Aku berlutut di kakinya, kupeluk erat kakinya. Air mataku menetes tanpa bisa kucegah.

“Maafkan aku Mas.”

Ketika tangisku semakin menjadi, tangannya terulur mengelus kepalaku. Seketika aku tahu aku telah dimaafkan.


“Mas…buruan, kalo masih lama aku ulang dari awal nih.” Teriakku.

Satrio, suamiku, si maniak game tadi lari ke kamar mandi di tengah-tengah pertarungannya denganku. Aku paling suka maen game berantem dengannya, karena hanya itu yang aku bisa. Nyawaku tinggal sedikit, dengan mengulang dari awal setidaknya aku dapat peluang mengalahkannya.

Sayangnya ia memencet tombol pause, dan aku hanya bisa manyun sambil menungguinya keluar.

Ia menaikkan celana kolornya, kostum andalannya setiap hari Sabtu. Aku mulai bisa mengikuti gaya hidupnya. Ternyata selama ini aku salah menilai, dia tak selamanya tak bisa dewasa. Aku menjadi malu karena selama menjadi istrinya aku tak cukup baik mengenalnya.

Urusanku dengan Erick selesai tepat di malam itu. Ketika aku meneriakkan nama suamiku, dan bukan namanya. Ia merelakanku pergi, kali ini ia melepaskanku. Bukan karena aku memintanya, tapi karena ia sendiri sadar, jauh di lubuk hatiku, aku tetaplah istri Satrio.

Jika kemudian aku meminta cerai, bukan karena aku ingin bersama Erick. Tapi aku merasa diriku kotor. Hanya saja, setelah aku tersadar, Satrio memaafkanku. Hingga akhirnya permintaan ceraiku pun luntur dengan sendirinya. Kami bercinta dengan kelembutan malamnya. Satrio akhirnya mengakui bahwa dia mencintaiku, sesuatu yang selama ini tak pernah secara jelas ia ungkapkan.

Setelahnya hingga kini setiap harinya adalah bulan madu bagi kami. Tadinya kami berniat berbulan madu ke luar negeri, tapi batal. Karena tampuk pimpinan perusahaan sekarang diserahkan ke Satrio, dia menjadi super sibuk. Suamiku, ya suamiku yang tak pernah kukira bisa serius adalah seorang direktur sekarang.

Kadang kala semut di seberang lautan tampak jelas, sementara gajah di pelupuk mata tak nampak. Mungkin peribahasa itu tepat untukku sebelumnya. Sama halnya, aku hanya menyadari hal-hal yang aku anggap buruk darinya, padahal sudah sangat jelas perhatiannya padaku. Satrio, suamiku, cinta keduaku.

“Mas, cium dongggg.” Rayuku.

“Wahhhh gamenya kudu di pause lebih lama kalau gitu.” Ia tergelak sambil berjalan ke arahku.

Beberapa langkah lagi ia mendekat, tiba-tiba aku merasa mual. Aku segera berlari ke kamar mandi.

Aku muntah di wastafel, mukaku pucat. Aku menghitung mundur, tanpa sadar aku sudah telat empat minggu dari periode menstruasiku. Wajahku memerah, apakah artinya aku……Hatiku membuncah dengan rasa bahagia jika memang sesuai dengan tebakanku. Dengan cepat aku mengambil alat tes kehamilan yang sejak dulu tersimpan di lemari cabinet di atas wastafel.

Aku berharap cemas. Aku sudah akan berteriak kegirangan memanggil Satrio saat kulihat dua garis nampak di sana, ketika tiba-tiba sebuah kesadaran menghempaskanku.

Erick….dia tak memakai pengaman ketika kami melakukannya malam itu, 5 minggu yang lalu.  

~~*~~


45 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. astaga naga.. shella.. makin lengkap deh rasa bersalahmu dan dosamu pada satrio.. udah selingkuh.. terus hamil anaknya erik pula.. ckckck.. >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum ketauan Mel,,anaknya sapa,,
      hahahaha
      tar nunggu lahir aja dilihat muka bule apa lokal
      tenkiu Mel

      Delete
  3. Endingnya gantung!!!!!!! :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaaa
      maap yahh ngegantungin
      makasiii ya udah baca

      Delete
  4. Replies
    1. wadoww juga,,
      makasi mbakk, udah bacaa :)

      Delete
  5. Duuuuuh, co cuit deg satrio. Tadi sempet kurang sreg gitu bacanya karena istrinya selingkuh. Tapi pas nyampe bagian satrio yang jelasin cara dia mencintai istrinya jadi suka. Endingnya gantung,, ini lanjut lagi ya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. stop mbak, soalnya kalo dipanjangin lagi takut kemana-mana ceritanya,,hehehe
      makasiih ya

      Delete
  6. Replies
    1. bisanya bikin yg gantung aja mbak
      hehehe
      eniwei makasi ya uda baca

      Delete
  7. setelah denger semuanya dr satrio baru kan si shella nyesel
    pdhl suaminya tu bener2 perhatian tp dia tau kl shella kaya gimana gt sama dia makanya dia ga brni terus terang
    ya ampun......stlh selingkuh malah hamil anaknya orang -.-
    kasian suaminya ih

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau peluk suaminya ga mbak?,,kasian iya dia,,puk puk puk
      cuma emang dasarnya doi cinta sama istrinya,,hehehe

      Delete
  8. Replies
    1. tanda tanya dan tanda-tanda yah
      hehehehe
      makasiii mbaak udah baca

      Delete
  9. Lnjut mbak Mey!!! :'(
    Shella.. Ank spakah itu? Ckckck
    Ank Erick kah?
    Maukah Satrio anggep itu ankny klo emg bner itu ankny Erick?:'(
    Sbar yah Satrio..:'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lanjut mbak Mendy!!!
      untuk cp Satrio bisa hubungi no di bawah ini mbak
      eh di pm aja,,
      kalau mau tanya seputar perasaan Satrio tentang anak itu
      LOL

      Delete
    2. tadi udah reply ini kok ga muncul ya,,
      sinyal oh sinyal
      ada cp Satrio nih Mbak Mendy
      biar bisa tanya langsung ke doi
      LOL

      makasiii ya uda baca

      Delete
  10. @Babilu aka mei2 ƍäªk mau tau pokok'a harus dilanjutin, ƍäªk rela kl cm ampe sini doang щ(゚Д゚щ) (˘̯˘ )
    Btw cerita Чªήğ bagus babilu kiss2 babilu...
    º°˚˚°º♏:)ª:)K:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º mba shin dh posting...
    ♏ùάçĥº°:*<3<3 º°º♏ùάçĥ:*<3<3 untuk kalian berdua (ʃƪ´з`)(´ε`ʃƪ)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduhh babihiuuuu,,,kalo lanjut nanti jadi kayak sinetron,,
      siapa bapakku,,siapa,,siapa??
      hahaha
      LOL

      Delete
  11. wow.....penuh kejutan, anak cpa itu mbk mey*kepo
    awalnya ngk suka sama satrio eh ternyata satrio baik bgt :'( thanks mbk mey di tunggu karya2 mbk selanjutnya :) mbk cin semangatttttt....:-*

    ReplyDelete
  12. tanggung,,, dilanjutin lagi dong mba,,,
    iatu anaknya eric bukan ya? wahhh tambah lagi rasa bersalah mu shella,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita tunggu 9 bulan ke depan yah,,
      LOL
      makasii mbak udah baca

      Delete
  13. dear All

    makasih banget udah baca dan komen cerita saya
    bikin saya pede dan semangat

    *membungkuk dalam-dalam

    spesial, pake telor 2, telornya bebek (martabak kaleee),,,buat mbak Shin tersayang,,yg punya blog ini
    kiss kiss

    ReplyDelete
  14. Oh tidaaaakkkkkkk!!!! Kentaaaangggg goyeeeeengggggggg,,,Mba Meeeyyyyyyy mw lagiiiii,,,lagiiiiiii... Pnjangn lagiiiiiiiii.. *maksa*
    Mksh Mba Mey
    Mba Ciiiiiiiiiiiinnnnnnn,,kangeeeeeeeennnnnnnn....
    *peluk2*

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah mbak viee,,soalnya enak,,kentang goreng kan,,dibanding kentang rebus
      hehehehe
      makasih yaaa udah baca
      mbak viee,,,mana cermin lainnya?

      Delete
    2. lah,,aku juga bales ini,,knp ga nongol yakk
      kentang goyeng lebih enak dari kentang rebus mbak Vie
      hahaha
      makasih ya udah baca
      tinggal nunggu cermin mbak vie lagi nihh,,,

      Delete
  15. Ydh G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ usah d sambung, cm mw tanya aj anak erick ato satrio mba mei?wakakakkaka
    ◦°˚•̤̣̈̇◦°˚•̤̣̈̇◦°˚◦°˚•̤̣̈̇◦°˚•̤̣̈̇◦°˚huhuhu◦°˚•̤̣̈̇◦°˚•̤̣̈̇◦°˚◦°˚•̤̣̈̇◦°˚•̤̣̈̇◦°˚ smpet mengeluarkan air mata pas satrio ngomong :'(
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin n mba meike
    Mba cinn missss uuuu :* kpn nongol lgi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kasih tau ga yaaaaaa
      plak plak plak
      ala2 syahrini

      iya aku juga nih,,kok ya iseng bikin cowok kayak Satria yah,,bikin sedih aja
      pelukan yuk mbakk Rin

      Delete
  16. naaahhh lhooo.....anak sapa itu. makasih jeng shiiinnn, makasihhh mbak meyyy..... jeng shiiinnnn micuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaaa,,ada mbak Rike,,,jadi maluuuu
      anak buapaknya mbakkkk
      hihihihi

      Delete
  17. Alamaaakkkkkk endingnya edaaannnn bgt. Kok bisa2nya Gak pake keamanan sih kan banyak di tokoh wadawwww.... Td aq udah seneng2 naik.. Naik.. Naik... Ceritanya loh.. Kok anjlokkkk ke bawah ... Kaki koe berasa jelly.

    keyyeeennnn bgt sist meyke , sekali2 baca cerita kayak gn lumayan jg hahaa

    thankz bgt mbak meyke & mbak Shin :)) Love You All

    sorry baru baca, maklum baru sempet hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. suka suka suka sama komennya
      bagi Jelly-nya donggggggg
      makasiii udah baca sist

      Delete
  18. Jdi deg-deg kn nunggu 9 bln bayi Πγª blasteran tau Lokal.. Heheh. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Meyke

    ReplyDelete
    Replies
    1. nanti mbak NIra diundang deh kalo udah lahir
      LOL

      makasii ya udah baca :)

      Delete
  19. Mantab sist Mey.. Selamat ya ;) berkarya terus.. Dan terima kasih karena sudah ikut berpartisipasi dalam cermin di myowndramastory... Mohon maaf mgkn aku belum bisa komen banyak tentang ceritanya disini. Tp kyknya dl udah pernah komen ya lgsg di email. Keren dah pokoknya :) -Shin Haido-

    ReplyDelete
  20. *tengok kiri kanan, mumpung ga ada yg liat...

    Baca lagi ahhhhhhhhh......

    Hiks hiks... padahal udah baca ke tiga kalinya.....kenapa endingnya masih berasa. AJIBBBBBBBBBBBB!!!!

    I do like the way you write mey!
    And the unpredictable ending is so great!

    Hoshhoshosh! Jadi semangat! Keep writing mey!

    Salam,
    KY

    ReplyDelete
    Replies
    1. whoaaaaaaaaaaaaa
      author jagoan nongol dimariiiii

      kan berguru padamyuuuu
      hosh hoss hoshhhh
      aku juga jadi semangat

      tiga kali??aku kudu ngasi gelas cantik nih???

      Delete
  21. Meeeeyyy, superb story!!! I LOVE, LOVE, LOVE ur story so damn much... Tapi KENTANG pake BGT, hadeeeeuuuhhh!!!! Pokoknya ga mau tau hrs ada lanjutannya... Seperti kata sang suhu author di komen sebelumnya a k a mba KY, YOU HAVE TO KEEP WRITING!!! Am one of ur biggest fans #smooch

    ReplyDelete
    Replies
    1. seperti kata aku mbak,,
      KENTANG emang enak,,apalagi digoreng
      ahhahaa
      kalo diterusin aku binunnnn,,anaknya bule apa lokal
      ciyusan deh

      Delete
  22. sakit ati aq ma Shella! wanita g' setia itu bkin sebel..
    Hehehe maap mba Mey, aq sbelnya ama Shella, bkan sma mba mey..
    Satrio tabah bgt jd suami -,-
    ending gantung bkin greget but it's great!

    Mksih mba mey n mba shin :)

    ReplyDelete
  23. mbaaak Meeeeeeyyyy... AWESOME !!!

    Bingung mw nulis apa, but anw.. Big Thankies for you and mbak Shin-Novi..

    ReplyDelete
  24. Kentang goreng lebih nikmat pake saos sambal plg pedes... Kereen! Superb Mey!!! Dapet gregetnya tp kepo 9 bulan lagi bakal lahir anak bule ato anak lokal ​​Ϋªª ? Wkwkwkwk.
    Pokoknya keren deh,Mey. SupercooL

    ReplyDelete
  25. Buset dah... Ajib... Dri awal aku udah respek bget sama aryo... Gk tau deh knapa? Hehehe
    huaaa pling sbel yg namanya prselingkuhan... Beneran deh aku mewek pas aryo ngungkapin isi hatinya... Huaaa mau dong punya suami kyak Aryo., sabar bner dah...
    Huaaa mencak2 mbake... Anaknya siape itu..? Bneran kgak ada lnjutanya nih.. Wedew...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.