"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, May 23, 2013

CERMIN 5 - CLBK Series - Pilihan Papa oleh Rike Puspitasari


Pilihan Papa
Story by +rike puspitasari 
website : Re's Imagination
wattpad : acariba 


TRAPPED


“Tampan, teruskan!”
Bagus, terus mendesah cantik! Wanita di depanku terus menggeliat ketika aku menciumi lehernya yang jenjang. Dia terus menarik kepalaku dan membenamkannya ke jauh lebih dalam ke tubuhnya. Aku mulai menjalari leher wanita itu dengan bibirku hingga sampai ke dadanya. Tanganku juga mulai menjelajah ke semua tempat yang bisa membuatnya terus mendesah. Sesekali aku menggigit kulitnya dan wanita itu berteriak kegirangan. Tenang sayang, setelah ini aku akan mulai memberi apa yang kamu mau.
Aku mulai membuka kaos ketat wanita itu dan dua buah dada yang tertutup bra tampak menantang di balik kaosnya. Adik kecil di selangkanganku mulai melesak dan menginginkan bertemu dengan pasangannya. Sabar nak, sedikit lagi dan kita akan benar-benar menikmati malam ini.
“Sayang, jangan berhenti!”

Wanita itu terus menarikku untuk terus menjelajahi tubuhnya. Nafasnya semakin terengah dan dia mulai dengan brutal membuka pakaianku juga meciumi seluruh tubuhku. Saat kedua tanganku ingin menikmati ranumnya dada wanita itu, pintu kamarku terbanting keras. Itu membuat kami berdua terkejut dan Adik kecil di selangkanganku seperti menjelang pingsan melihat sosok gadis yang sedang marah yang terlihat di berdiri di depan pintu kamarku sambil membawa kopernya.
“Aku pulang, Pa!” geramnya marah dan itu membuatku sedikit ketakutan.
“Selamat datang, Senia sayang!” aku sedikit gemetar menjawab salamnya yang mengandung amukan itu.
“Aku tunggu Papa di kamar Mike!”
“Apa? Mau apa kamu ke kamar Mike? Tunggu Senia!”
Terlambat, dia sudah bergegas menuju kamar Mike sambil menyeret kopernya. Ketika aku hendak beranjak mengejarnya, lenganku ditarik kuat dan itu membuatku kembali terjatuh di ranjang. Wanita yang bersamaku menunjukkan wajah yang sangat marah dan juga bingung.
“Dia anakmu?” tanyanya geram.
Aku meringis menatapnya. Auw…kumohon jangan wajah dan terlambat lagi, sebuah tamparan keras sudah mendarat di pipiku. Wanita itu bergegas memakai semua pakaiannya kembali dan pergi meninggalkanku sendiri di kamar.
Sekali lagi, malam ini ranjangku terasa dingin dan pipiku terasa sakit.
****

“Aku cuma meninggalkan Papa 2 minggu dan sudah ada 3 wanita yang menemani Papa tidur! Papa benar-benar keterlaluan!”
Kepalaku masih pusing setelah semalaman mendengarkan omelan Senia, dan pagi ini dia kembali mengomel. Tunggu dulu, bagaimana dia bisa tahu sudah ada tiga wanita yang menemani malam-malamku saat Senia pergi? Aku melirik tajam ke arah Mike yang sedikit gugup sembari menyiapkan sarapan. Dasar bocah tengik pengkhianat!
“Senia, gimana kabar syutingmu? Sudah selesai sekarang?” tanyaku berusaha mengganti topik.
“Jangan mengganti arah pembicaraan seenaknya, Pa! Aku masih belum selesai membahas ini!”
Aku menelan ludah mendengar amukan Senia. Sudah setengah tahun semenjak pertemuan pertama kami dan sekarang dia sudah tinggal bersamaku. Itu semua akhirnya merubah sedikit demi sedikit semua kebiasaanku dan juga suhu ranjangku. Aku cuma bisa membuat ranjangku menjadi panas selama Senia pergi untuk syuting dan melakukan kegiatan artisnya. Selain saat itu, ranjangku jauh lebih dingin daripada suhu freezer. Itu sangat menyiksaku.
“Senia, Papa cuma menemani mereka.”
“Menemani di atas ranjang?” sergah Senia geram. Aku menelan ludah getir mendengar ucapannya. “Apa Papa bisa menerima, kalau nasibku mirip semua wanita itu? Berakhir di ranjang dengan pria playboy seperti Papa?”
“Apa? Kamu mau apa? Ranjang siapa? Jangan bilang kamu sama Mike…” aku mulai gerah mendengar pertanyaan terakhir Senia. “Mike…kubunuh kau!”
“Papa! Ini bukan soal Mike dan aku!”
“Lalu siapa? Kubunuh orang yang berani menyentuh anakku!”
“Pa, ini semua soal Papa! Bagaimana bisa Papa bilang semua hal itu sementara Papa adalah orang yang paling ingin dibunuh semua Ayah di dunia!”
Aku tercenung mendengar ucapan Senia, sementara Mike memilih untuk berdiri di pojok dapur setelah mendengar semua amarahku.
“Kenapa sih Papa harus putus sama Leni?”
Kenapa harus Leni yang disebut?
Leni, mantan asisten pribadiku yang sekitar tiga bulan ini statusnya berubah juga menjadi mantan pacar. Bukan salahku kami putus, karena dia yang meminta putus dariku, kemudian mengundurkan diri dari perusahaanku. Aku bisa apa? Kenapa juga dia harus selalu cemburu ketika mataku secara tidak sengaja berkelana liar melihat wanita yang lewat. Itu dorongan gairah, dan yang penting aku tidak berselingkuh.
“Tanyakan sama Leni, kenapa sama Papa? Dia yang mutusin Papa!” aku bisa apa kalau Leni lebih memilih mencari pria yang menurutnya hanya ingin melihatnya saja. Memangnya ada pria seperti itu di dunia ini? Aku tertawa sinis mengingat hal itu. Sial, kenapa tatapan Mike seperti pada Senia? Cari cewek lain Bocah kampret, jangan anakku!
“Papa selalu seperti itu! Jelas kalau Papa juga sayang sama Leni, kenapa Papa nggak mau pertahankan dia?”
“Untuk apa mempertahankan orang yang sudah nggak mau sama kita, Sen. Cinta bukan berarti harus menyekap seseorang untuk selalu di dekat kita!”
“Trus apa?”
“Cinta itu melindungi, Senia. Sama seperti Papa ke kamu. Melindungi terutama dari cowok-cowok yang mau memangsamu!”
Aku melirik tajam ke Mike kembali ketika mengatakan itu.
“Pa, berhenti main-main! Cari satu wanita yang bisa menerima Papa apa adanya. Berhenti tidur dengan semua wanita yang cuma mengincar tubuh atau harta Papa, dan ketika mereka tahu Papa punya anak, mereka langsung meninggalkan Papa. Kumohon Pa!” rengek Senia.
Mata besar yang indah itu tampak berkaca-kaca di hadapanku. Mata yang begitu mirip dengan mataku, dan itu membuatku tak mampu menolak semua permintaannya. Sama seperti ketika aku memberikan pandangan itu pada semua wanita dan mereka tdak mampu menolakku. Kenapa dia malah mewarisi kelebihanku yang itu?  
“Baik, terserah kamu aja!”
Senia tersenyum dan mencium pipiku cepat. Tak lama dia berlari ke dapur dan memeluk Mike yang masih berdiri di pojokan. Apa itu? Aku segera menarik Senia dan menendang Mike menjauh.
****

“Papa di Cafe aja ya?” pintaku pada Senia yang mengharuskanku mengantarkannya mengikuti rapat dengan agensinya.
“Cafe bisa dijaga Mike, Pa! Papa nolak bukan karena mau ketemu salah satu cewek ganjen kan?”
Aku menelan ludah mendengar pernyataan Senia. Darimana anak ini tahu semua rencana yang bahkan belum pernah kukatakan pada siapapun?
“Papa capek, Sen,” sekali lagi aku mencoba membuat alasan.
“Ya sudah kalau Papa capek. Aku minta tolong Mike aja yang nganterin.”
“Apa? Nggak usah pake Mike! Papa anter kamu sekarang!” jawabku gerah.
Kenapa harus pria lain yang mengantarkan anak gadisku? Dan kenapa harus Mike dari semua pria itu?
Dan semua akhirnya berakhir di ruang rapat agensi Senia. Aku duduk dengan bosan di ruang rapat yang sedikit dingin karena AC ini bersama Senia. Bagaimana tempat yang sepi seperti ini di sebut kantor?
“Ini semua gara-gara tempat ini cuma kantor cabang, Pa!” jawab Senia sebal karena aku terus menggerutu.
Suara pintu yang terbuka membuatku sedikit terkejut. Beberapa pria mulai masuk dan saling menyapa dengan Senia. Kemudian masuk juga beberapa wanita, hingga mataku tertuju pada seorang wanita yang terakhir memasuki ruangan. Seorang wanita dengan kemeja kerja yang membungkus lekuk tubuhnya dengan tepat dan sedikit ketat. Dan…wow…aku melihat bokong yang super seksi tertutup rok kain yang juga menempel ketat. Wajah wanita itu juga cukup cantik dengan pulasan make up yang cukup tipis. Seberkas senyum muncul di bibirnya yang merah ketika menatapku. Ini permulaan yang baik.
Sepanjang rapat aku hanya terdiam dan menyaksikan semua orang bicara membahas sesuatu yang aku tidak perlu tahu. Asal sebatas ciuman, atau pegangan tangan, aku masih bisa mentolerir. Tapi adegan ranjang bagi anak gadisku, berarti siap mati di hadapanku. Selain itu, semua pembicaraan akan terdengar membosankan. Akhirnya, kegiatanku hanya memeriksa ponselku dan memperhatikan wanita itu. Dia benar-benar sempurna bagiku. Tubuhnya, wajahnya, dan juga caranya bicara sudah menunjukkan kemampuan otaknya. Sempurna!
“Senia sama cowoknya?” suara yang super seksi meluncur keluar dari bibir wanita itu ketika rapat ini sudah berakhir dan hampir semua orang meninggalkan ruangan. Aku membayangkan suara yang terengah-engah di telingaku saat wanita itu memelukku di ranjang
“Bukan Miss Sandra, kenalkan ini Papaku. Papa, ini Miss Sandra rekanan tante Ira di agensi ini. Selama Tante Ira ke luar negeri dia yang gantiin dampingi aku,” jawab Senia.
Aku mengulurkan tanganku dan dia terlihat sangat bersemangat menerimanya. Tangan yang lembut, tapi kuat dan jari-jari yang lentik. Aku penasaran, apa yang bisa dilakukan tangan itu kepadaku.
“Hendrik Falevi,” ujarku menyebutkan namaku.
“Milena Sandra,” jawabnya.
“Jadi Miss Milena ini…”
“Sandra, just call me Sandra!”
“Oke, Miss Sandra ini sudah menikah?”
Senia menginjak kakiku keras dan itu membuatku meringis kesakitan. Sementara Sandra tertawa kecil melihat kami berdua.
“Tidak, saya single Mr. Hendrik. Sedikit memalukan untuk menjadi wanita jomblo di awal usia 30-an,” jawabnya.
No, tenang saja. Kamu cantik, menarik dan smart. Easy to find someone to fill your heart!” salah satunya diriku, cantik.
Senia mulai mencubit pinggangku dan aku meringis menahan sakit yang terjadi. Wanita itu tertawa lebar mendengar semua perkataanku.
“Papa-mu benar-benar baik, Senia. Sepertinya kita harus sering ngobrol Mr. Hendrik!”
“Saya dengan senang hati menerima kehadiran anda di Cafe saya. Segelas cappuccino juga bisa di pesan di sana.”
“Anda pemilik Cafe?”
“Sekaligus Barista di sana!”
“Dan juga playboy tulen…haep..”
Aku menutup mulut Senia yang tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraanku dengan Sandra. Anak ini benar-benar menyebalkan dalam hal seperti ini!
****

“Papa pacaran sama Miss Sandra? Kalian kan baru kenal seminggu?”tanya Senia heran.
Cafe kembali sepi siang ini karena aku memutuskan untuk menutup Cafe beberapa jam setiap siang. Semenjak Leni memutuskan berhenti, aku sedikit kewalahan mengatur semua berkas dan juga jadwalku. Itu membuatku harus mengorbankan salah satu pekerjaanku terlebih dahulu sampai aku menemukan peengganti Leni. Dan sialnya sampai sekarang belum ada yang mampu menggantikan Leni sebaik dia.
“Kamu harusnya senang, akhirnya Papa mutusin untuk pacaran sama satu orang wanita. Dia kaya, jadi nggak perlu ngincer harta Papa, dia juga tahu kamu anak Papa dan gak masalah sama itu semua,” jawabku sambil menanda tangani beberapa berkas.
“Aku lebih suka Papa sama Leni,” jawab Senia sedih. Dia menyandarkan kepalanya ke pundak Mike yang sudah duduk di sebelahnya.
Aku memberikan tatapan tajam pada Mike, supaya anak itu menyingkir, tapi bocah tengik itu malah berpura-pura tidak melihatku. Dia malah ikut menyandarkan kepalanya di kepala Senia. Kampret!
“Kenapa harus ngomongin Leni lagi sih? Dia sudah nggak ada! Pergi dari hidup Papa!” jawabku jengkel. Aku bersiap melempar Mike dengan bolpen yang kupegang.
“Jadi kamu mau aku bener-bener pergi dari hidupmu, Hen?”
Kami semua terkejut mendengar suara itu. Seorang wanita dengan tas besar di lengannya dan sebuah amplop coklat di tangan lainnya berdiri menatap sebal ke arahku.
“Leni!” teriak Senia gembira. Dia segera berlari ke arah Leni dan memberikannya sebuah pelukan. Saat Senia sibuk menyapa Leni, aku melepar keras Mike dengan bolpenku. Dia mengaduh dan segera menyingkir ke dapur Cafe.
“Hai Sayang, kamu sudah pulang syuting?” tanya Leni yang dijawab anggukan mantap Senia.
“Kenapa datang lagi? Kamu nyesel ninggalin aku? Sori, sekarang aku sudah punya pacar baru!” jawabku kesal.
“Papa!” sergah Senia, tapi aku tidak peduli.
Leni melihat sebal ke arahku. Matanya yang sipit terlihat semakin menyipit ketika menatapku. Terserah dia mau melakukan apa! Seharusnya aku yang sebal dengan semua sikapnya yang seenaknya datang dan pergi.
“Sayangnya aku juga sudah punya pasangan yang sesuai harapanku,” jawab Leni ketus.
Apa?
“Siapa cowok brengsek itu? Maksudku pria yang beruntung itu?” tanyaku penasaran. Leni tersenyum sinis
“Dengar, aku ke sini bukan untuk menjelaskan siapa pacarku sekarang. Aku ke sini untuk melamar kembali pekerjaanku kemarin sebagai asistenmu. Kamu masih mau menerimaku?”
Aku mendengus keras, sekali lagi Leni bertingkah seenaknya kepadaku.
“Kamu pikir bisa melamar pekerjaan semudah itu?”
“Papa! Leni, jangan dengerin Papa,” sekali lagi Senia berusaha membela Leni. Kenapa dia malah membela Leni, bukannya aku Papanya?
“Aku membawa surat lamaran beserta semua kelengkapannya!” ujarnya sambil menyerahkan amplop coklat yang dia bawa sebelumnya.
“Kamu sudah resign dan sekarang mau kembali seenaknya. Kamu pikir aku bisa menerimamu kembali?” tanyaku mengejek.
“Dengar Hen, dari semua pelamar yang mungkin menginginkan bekas posisiku, kamu paling tahu bahwa aku yang paling kompeten. Tidak ada yang tahu letak berkas-berkasmu mengalahkan aku, tidak ada yang tahu semua jadwal dan kebiasaanmu sedetil aku dan tidak ada yang bisa mengatasi masalahmu sebaik aku. Jadi kalau kamu masih mau menolakku maka aku akan pergi sekarang,” jawab Leni sembari mulai pergi meninggalkan aku.
Apa?
“Kamu diterima!” jawabku cepat sebelum dia semakin menjauh.
Sekali lagi aku terjebak dengannya, mantan pacaku yang kembali menjadi asisten pribadiku.
****

“Pagi, Hen!” sapa Leni ketika aku memasuki ruangan kantorku.
Aku menoleh melihat Leni dan memberinya senyuman. Ada yang sedikit aneh dari cara berpakaian Leni kali ini. Tidak biasa dia memakai lengan panjang untuk atasannya. Dulu dia pernah mengatakan kalau lengan panjang sedikit mengganggu pergerakannya. Tapi kupikir hak semua orang untuk menentukan pakaian yang menurutnya pantas.
“Jadi, apa yang harus kuperiksa dan kutanda tangani hari ini?” tanyaku senang karena merasa ruang kantorku dan kehidupanku kembali tekendali sedikit demi sedikit.
“Hari ini Senia tidak ikut?” tanya Leni mencari sosok Senia di luar kantor kecilku.
Sialan!
Bocah kampret itu pasti mulai mengambil kesempatan lagi. Karena harus membawa beberapa peralatan, aku meminta Mike untuk ikut. Dan sekarang dia pasti sedang berusaha berduaan dengan Senia di tempat yang jauh dari pengawasanku. Kalau sampai dia menyentuh anak gadisku, akan kuhajar habis anak kampret itu. Semua hubungan mereka itu membuat jantungku selalu berdetak kencang. Membayangkan Senia diperlakukan tidak senonoh oleh pria itu selalu membakar emosiku.
Aku berjalan gusar untuk mencari mereka dan hampir bertabrakan ketika mereka berdua memasuki kantor. Karena sedikit limbung aku menyenggol lengan Leni dan membuatnya menjerit kesakitan.
“Maaf, kamu nggak papa Len?” tanyaku terkeut mendengar teriakan Leni. Sepertinya aku cuma menyenggolnya dan reaksinya begitu mengejutkan.
Leni menggeleng sembari meringis kesakitan memegang lengannya. Dengan satu hembusan nafas dia kembali menguasai dirinya dan kembali bersikap seakan tidak terjadi apapun sebelumnya.
“Kenapa kalian lama sekali?” tanyaku sebal.
“Pa, kami harus menata semua peralatan di mobil yang sempat terjatuh gara-gara Papa tadi ngerem mendadak!” jawab Senia.
Aku melihat dingin ke arah Mike.
“Saya bersih, Pak! Benar-benar cuma menata peralatan kali ini,” jawabnya.
Leni terkekeh mendengar semua pembicaraan itu. Dia mengambil beberapa berkas dari mejaku dan akan membawanya keluar.
“Ternyata pria mesum sepertimu bisa juga was-was dengan semua pria di sekeliling putrimu ya!” ejek Leni kepadaku.
“Ha-ha-ha, tertawa aja terus. Rasakan sendiri kalau kamu punya anak!” tukasku sebal.
Leni terus terkekeh sembari keluar meninggalkan kami.
“Len,” aku berusaha menyusul Leni yang hendak menuju ruang karyawan untuk memberi beberapa perintah pada karyawanku, “Kamu beneran nggak apa-apa?”
Dia tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya kepadaku, kemudian berlalu meninggalkanku yang sedikit cemas. 
****

Semenjak Leni kembali bekerja denganku, ritme kehidupanku kembali berjalan normal. Entah bagaimana caranya, hanya dalam waktu semnggu, dia sudah membereskan semua kekacauan di kantor, memeriksa semua pembukuan keuangan, dan juga mengatur jadwal kencanku dengan Sandra.
Kencan dengan Sandra.
Apa benar kencan itu seperti ini?
Kencan pertama aku harus menemaninya men-casting artis baru, kencan kedua kami dilakukan bersamaan saat dia harus melihat take iklan modelnya, dan kencan paling parah adalah kencan kami yang ketiga. Kalau kami lebih muda 15 atau 20 tahun, tempat ini benar-benar tempat kencan yang benar. Tapi di umur kepala tiga dan kencan di taman bermain membuatku tidak habis pikir. Sekali lagi ada unsur pekerjaan di dalam kencan ini. Parahnya, akhir dari setiap kencan kami tidak pernah bermuara di ranjang. Bahkan tanpa ciuman.
“Bukannya sama Leni juga Bapak nggak pernah ngapa-ngapain?”
Aku melotot ke arah Mike. Kenapa Bocah Tengik ini terus mengungkit soal Leni. Untungnya saat ini Senia sedang tidak ada. Bisa-bisa anak gadisku kembali merengek supaya aku kembali kepada Leni. Padahal Leni sudah memiliki pria lain di hatinya kini.
“Bisa nggak kamu mendengarkan aja tanpa komentar?” tanyaku sebal.
Mike menaikkan kedua bahunya dan terus mengelap cangkir-cangkir kopi yang sudah dicuci. Aku kembali tertunduk sedih dan sesekali membenturkan kepalaku ke meja bar. Sampai kapan ranjangku akan sedingin kulkas? Semalam saja, biarkan dia menghangat, tak perlu sampai panas.
Wangi parfum wanita menggoda naluriku untuk mencari sumbernya. Tepat di sebelahku, seorang wanita cantik duduk dan memesan segelas kopi ke Mike. Dia memberian senyumannya yang manis saat menyadari kehadiranku yang menatapnya takjub.
“Sendiri?” tanyaku mulai melancarkan serangan.
Dia mengangguk dan meminum kopinya yang baru saja disuguhkan Mike.
“Hendrik,” aku mengulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya.
“Hendrik Falevi? Pemilik Cafe ini?” tanya wanita itu.
Wow, ini hebat. Aku terkenal bahkan sebelum berkenalan dengannya. Dia menerima jabatan tanganku dan menggenggamnya mantap. Tangan wanita ini halus dan lembut, tapi genggamannya begitu kuat.
“Diva Maharani!” ujanya mantap.
“Jadi aku terkenal?”
“Siapa yang tidak kenal ada? Pengusaha kopi terkenal dan cukup sukses,” jawabnya.
“Terimakasih. Menunggu pacar?” dia mengernyitkan alisnya mendengar pertanyaanku. Aku terbahak melihat ekspresinya. “Kupikir pacarmu akan cemburu kalau kamu duduk berdua denganku.”
“Aku memang menunggu, tapi bukan pacar. Sepupu, sudah puas?”
Puas. Itu berarti kamu wanita yang bisa menemani jiwa kesepianku saat ini. Tiba-tiba dia menyodorkan kartu namanya. Aku melihat nomer milik wanita itu dan juga jabatannya, seorang psikiater.
“Wow, pasti menyenangkan membantu kejiwaan seseorang,” ujarku.
Dia terkekeh, kembali meminum kopinya.
“Tidak seperti itu, hanya saja aku mencoba menolong seseorang dengan proses terapi. Kembali menerima dirinya sendiri sebagai contohnya.”
“Misalnya?”
Dia terlihat berpikir, “Misalnya seperti korban perkosaan atau juga kekerasan dalam rumah tangga.”
Aku mengangguk seolah mengerti. Wanita ini cerdas dan terlihat sangat percaya diri. Obrolan kami cukup menyenangkan hingga sebuah gebrakan meja mengejutkan kami semua. Sandra terlihat sangat marah dan hampir menangis melihat kami berdua.
“Sandra?” sapaku bingung.
“Sepertinya lebih baik aku pergi,” ujar Diva sembari menuju ke meja kasir, menemui Mike di sana.
“Siapa dia?” tanya Sandra marah.
Sialan! Aku juga membenci sikapnya yang begitu cemburuan, bahkan lebih parah dari Leni. Dia bisa melakukan hal-hal yang menurutku sangat memalukan. Sandra bisa berteriak histeris bahkan menangis hanya dengan melihatku bicara dengan seorang wanita. Bagaimanapun bentuknya!
“Pelanggan biasa,” jawabku santai dan memberikan senyuman bisnis ketika Diva selesai membayar di kasir.
Sandra menarik kasar wajahku supaya menatap wajah cantiknya yang sedang marah. Dia benar-benar terlihat kesal kepadaku saat ini. Dan Mike, seperti biasa selalu kabur di saat aku membutuhkan bantuannya. Mau kemana dia? Jangan bilang mau mengambil kesempatan untuk menemui Senia yang sedang tidur siang di kantor. Kubunuh dia! Tapi sekali lagi aku tidak bisa berkutik ketika Sandra menarik wajahku kembali untuk menatap matanya yang terlihat marah.
“Kenapa kamu tersenyum sama dia?” tanya Sandra marah.
“Itu senyum bisnis, Sayang. Apa menurutmu aku harus cemberut di hadapan pelanggan?”
“Aku nggak suka!”
Oh, tolong! Bagaimana caraku berbisnis kalau pacarku mengaturku seperti ini.
“Sayang, kamu berlebihan! Itu cuma bisnis, ramah tamah biasa!”
“Aku nggak suka! Jangan lihat cewek lain selain aku!”
Ya ampun, ini sudah keterlaluan, cewek ini sudah gila. Memangnya aku harus pakai kacamata kuda ketika berjalan supaya nggak lihat cewek lain? Atau aku harus memalingkan wajah di hadapan wanita lain? Bisa-bisa aku disangka gay! Kesohoranku sebagai seorang barista penakluk wanita bisa berubah menjadi Gay, itu nggak boleh terjadi.
“Kamu tahu itu nggak mungkin, San!”
“Aku nggak peduli! Kamu harus bisa atau kita putus!”
Fine, kalau itu mau kamu!” jawabku santai.
Masih banyak cewek lain yang mau menerimaku. Dia harus bisa menerima semua kenyataan itu kalau masih mau menjadi pasanganku. Aku bukanlah pria yang bisa diatur seenaknya. Aku menerima wanita ini menjadi kekasihku hanya karena ingin mencari sosok sempurna dan juga memenuhi persyaratan Senia. Kalau dia tidak bisa menerimaku apa adanya maka aku juga tak segan meninggalkannya. Aku meninggalkan Sandra sendiri di Cafe sementara aku harus menjauhkan Senia dari bocah kampret bernama Mike.
****
     
“Papa marahan sama Miss Sandra?” tanya Senia sepulangnya dari rapat bersama agensinya. 
Dia kemudian duduk di sofa kantor pengolahan kopiku. Kali ini aku membiarkan Mike mengantarkan dan juga menjemput Senia karena berniat menghindari Sandra. Wanita itu hampir membuatku gila dengan semua terornya seperti menelponku, mendatangi Cafe dan berteriak memohon untuk kembali kepadaku. Itu semua benar-benar membuatku pusing. Karena itu kuputuskan untuk menghindarinya baik di Cafe maupun di kantor agensi Senia, agar dia tidak melakukan hal gila di hadapan Senia. Aku tidak siap seandainya dia berteriak histeris di hadapanku di depan Senia.
“Kami putus,” jawabku singkat sambil terus memeriksa laporan bulanan yang baru saja Leni berikan.
“Ooo…”
Aku melihat Senia heran, sementara Senia terlihat tidak peduli.
“Kamu nggak marah sama Papa?” tanyaku heran.
“Kenapa?”
“Putus sama Sandra.”
“Itu hak Papa.”
“Tapi waktu sama Leni…,” kata-kataku terhenti saat Leni memasuki ruanganku sembari membawakan berkas yang lain.
“Leni!” sapa Senia senang dan dia memeluk Leni manja. Leni tersenyum membalas pelukan Senia. Kenapa anak ini begitu manja pada Leni, tapi tidak semanja itu padaku?
“Make up-mu terlalu tebal, Len!” tukas Senia.
Leni segera memalingkan wajahnya dari hadapan Senia. Aku sebelumnya tidak terlalu memperhatikan, tapi saat ini kulihat memang make up Leni terlalu tebal. Tapi apa peduliku? Dia memakai make-up tebal atau malah sama sekali tidak memakai, bukanlah urusanku.
“Warna biru kehitaman itu…astaga…Leni, kenapa pipimu lebam?” teriak Senia tiba-tiba.
Aku terkejut dan segera menoleh kepada Leni.
“Ini bukan apa-apa!” jawabnya segera dan bergegas meletakkan berkas yang dia pegang di mejaku.
Saat dia hendak meninggalkan mejaku, aku menarik lengannya. Dia terkejut terutama saat aku menarik wajahnya lebih dekat untuk memastikan perkataan Senia. Memang benar, aku melihat warna biru kehitaman muncul samar-samar di pipi kanannya di balik make up tebalnya.
“Ini kenapa Len?” tanyaku penasaran.
Leni terlihat gugup dan segera menepiskan tanganku.
“Ini cuma gara-gara aku meleng aja!” jawabnya tanpa melihat mataku sama sekali.
Dia bergegas meninggalkanku dan Senia sendiri di kantor. Saat hendak keluar dia berpapasan dengan Mike dan Mike memberikan tepukan pelan di lengan Leni. Sepintas aku melihat raut kesakitan di wajah Leni.
“Pa, perasaan Senia nggak enak deh!”
“Papa juga…”
****

Dia pria yang sangat biasa. Kulit putih, tubuh lebih pendek dariku dan juga badan yang sedikit gemuk. Benar-benar selera yang buruk untuk penggantiku. Bagaimana bisa Leni pacaran dengan orang yang lebih jelek dariku. Apa dia sudah kehabisan stok pria tampan? Kuakui memang sulit mendapatkan pria yang lebih tampan dariku dan juga memiliki kesempurnaan baik secara fisik maupun materi.
“Papa sombong, narsis pula! Mike jauh lebih ganteng dari Papa!” tukas Senia saat aku mengajukan semua protes akan pilihan Leni, setelah aku mengintip pasangan Leni dari jendela kantorku.
Aku melirik kesal ke arah Mike. Cengiran lebar hadir di wajah Bocah kampret itu dan itu sangat mengesalkan! Anakku sendiri tidak memilih Papa-nya sebagai pria tertampan, tapi malah bocah kampret ini. Apa yang sudah dia lakukan pada Senia? Apa dia sudah mencuci otak gadis kecilku? Dan kenapa dia masih berusaha mengambil kesempatan untuk berdempetan dengan Senia?
“Minggir, Papa mau duduk!” aku segera menjauhkan mereka berdua dengan duduk di antara mereka.
“Papa, rese banget sih!”
Aku melirik tajam ke arah Mike dan untungnya bocah kampret itu masih tahu diri. Dia segera bergeser menjauh dan kembali berkutat dengan koran yang dia bawa. Kepalaku masih sedikit pusing dengan semua pertanyaan tentang alasan Leni memilih pria itu dibandingkan diriku. Memangnya apa kekuranganku? Aku tampan, kaya dan juga sangat cerdas. Kenapa Leni memilih untuk meninggalkanku dan lebih memilih pria jelek itu? Apa karena pria jelek itu hanya melihat dirinya saja? Bagaimana dia tidak melakukan itu? Dengan penampilan seperti itu, dia harus bersyukur dengan wanita yang menginginkannya. Sedangkan aku, dengan ketampananku, bisa menyakiti hati wanita lain apabila aku tidak membalas semua sapaan mereka dengan sangat baik. Aku menghela nafas keras dan itu segera menarik perhatian Senia.
“Papa bukan cuma membalas sapaan, tapi juga menggoda sama ambil kesempatan. Panteslah Leni marah!” jawabnya ketus saat dia berhasil membuatku mengatakan semua pikiranku.
“Sebenernya kamu anak siapa sih? Kenapa nggak ada mendukungnya sama sekali ke Papa!” jawabku sebal mendengar semua pendapatnya.
“Menurut hasil tes DNA, aku anak Papa. Ketepatannya 99,9% sangat tepat dan mirip, DNA kita,” balas Senia.
Suara tawa tertahan terdengar dari sisi lainku. Badan Mike berguncang pelan karena dia berusaha menahan tawanya. Bocah kampret ini berani menertawakan semua ejekan anakku kepadaku. Aku melayangkan sebuah tendangan yang berhasil membuatnya terjungkal hingga ke lantai. Senia mencubit pinggangku segera setelah aku melakukan itu dan beranjak menolong Mike yang berpura-pura kesakitan.
“Kuhajar kau Bocah Tengik!” teriakku kesal melihat semua ini.
“Miss Sandra?”
Hampir saja tendanganku yang lain mendarat di tubuh Mike kalau saja sapaan Senia pada seseorang menghentikanku. Aku menoleh ke pintu kantorku dan kulihat Sandra berdiri menatapku sedih di sana. Mau apa wanita ini ke kantorku? Apa belum cukup dia menggangguku di Cafe? Apa aku harus menghilang ke kutub Selatan bersama beruang kutub baru dia berhenti menemuiku? Dan darimana dia tahu alamat kantorku ini. Senia menelan ludah kemudian meringis saat aku menatapnya. Oh sial, dikhianati anak sendiri.
Ini benar-benar keterlaluan dan hei, mau kemana mereka berdua? Beraninya meninggalkanku sendiri dengan wanita ini. Bagaimana kalau wanita ini berubah menjadi manusia serigala dan berusaha menggigitku? Apa mereka tidak memikirkan semua kemungkinan itu?
“Hendrik, maaf aku memaksa Senia mengatakan keberadaanmu,” ujar Sandra sembari menutup pintu kantorku. Kenapa dia melakukan itu? Apa dia mau menghilangkan saksi kalau dia ingin meubahku menjadi manusia serigala?
“Kamu mau apa lagi?” tanyaku ketus.
“Aku mau kita balikan, Hen!” ujarnya kalut.
“Kamu yang minta putus, San! Aku nggak pernah mengatakan itu sebelumnya, dan aku nggak bisa kalau harus nuruti semua rasa cemburumu!”
“Aku minta maaf Hen, aku janji nggak akan lagi seperti itu. Please Honey!”
Sandra mulai menangis dan aku benci itu. Aku benci melihat perempuan menangis atau malah tersakiti. Itu membuatku seakan menjadi seorang pecundang dan juga mengurangi kejantananku. Prinsipku adalah membahagiakan wanita, bahkan kalau perlu semua wanita cantik di dunia.
“Oke.”
Sandra menatapku tak percaya setelah mendengar jawabanku barusan. Dia tersenyum dan berlari memelukku. Itu semua membuatku tidak siap dan membuat kami terjatuh di sofa di belakangku. Sandra mulai menciumku liar. Sebelumnya dia tidak pernah begini, tapi ini sungguh menyenangkan. Jari-jarinya merambat ke dadaku dan membuka satu persatu kancing bajuku.
Wow, lanjutkan seksi.
****

“Ada lipstik di leher Papa!” ujar Senia ketika aku menjemputnya pulang dari syuting sebuah iklan.
Aku segera meraba leherku cepat dan menemukan bekas kemerahan di jariku. Ini pasti perbuatan Sandra tadi siang. Setelah seminggu kami kembali pacaran, wanita itu semakin sering menemuiku dan melancarkan semua serangannya yang menggairahkan. Tapi tidak dengan ranjang, apalagi seks. Bahkan seminggu yang lalu saat dia meminta kembali kepadaku.
Semuanya sangat sempurna, Senia yang mengirimkan pesan singkat akan berkencan sebentar dengan Mike, kantor yang sudah sepi hanya meninggalkan aku dan Sandra berdua, dan juga Sofa yang begitu empuk. Semuanya sangat mendukung, apalagi Sandra terlihat sangat bergairah. Kami benar-benar berciuman, menindih satu sama lain, saling memeluk, tapi tidak dengan seks. Aku menghentikan semua itu saat kami hampir melakukan seks. Tidak hanya saat itu, setelah berbaikan, kencanku dan Sandra berubah menjadi penuh gairah. Kami sering berciuman, meraba satu sama lain, menaiki ranjangku suatu waktu untuk saling memberikan kenyamanan, tapi kembali lagi tidak dengan seks. Sedikit lagi adik kecilku bisa mendapatkan kehangatan yang dia inginkan, tapi dia seakan tidak peduli. Apa-apaan ini? Bahkan tubuhku sendiri tidak mendukungku!
“Jangan bilang Papa sama Miss Sandra…”
“Nggak! Dia cuma cium Papa dan…selesai,” jawabku kesal.
“Maksud Papa selesai?”
Aku mendengus keras masih berusaha berkonsentrasi untuk menyetir, tapi pertanyaan Senia benar-benar mengganggu.
“Selesai, kami tidak melakukan apa-apa!”
Senia memekik perlahan dan itu membuatku kaget. Apa yang terjadi? Aku melirik cepat ke Senia kemudian kembali meihat ke jalan.
“Jangan bilang Papa berubah jadi Gay! Astaga, jangan bilang selama ini Papa cemburu karena Mike memilihku. Pa, tolong tinggalin Mike!”
“Ap..apa? Ngomong apa sih kamu? Papa normal, Sen! Papa masih tegang saat melihat wanita telanjang dan masih sangat ingin menghajar Mike kalau dia berani medekatimu atau bahkan menambil kesempatan darimu!” tukasku cepat.
“Papa, itu sedikit menjijikkan dan apa Papa lupa kalau itu tidak pantas untuk kudengarkan?” ujar Senia melihatku sedikit jijik. Aku menghela nafas keras.
“Maaf, tapi Papa bukan gay!” protesku.
“Leni?”
“Kenapa harus menyebut Leni lagi? Apa hubungannya sama Leni? Ya… mungkin Papa sedikit merasa bersalah sama Leni, tapi…”
“Papa ngomong apa sih? Itu Leni, Pa!” ujar Senia kesal sambil menunjuk ke pinggir trotoar.
Aku melihat ke arah trotoar dan melihat seorang wanita tertunduk di sana. Wanita itu menangis menutup wajahnya, tapi aku sangat yakin itu Leni. Tanpa banyak bicara, aku langsung membelokkan setirku dan memarkirkan mobilku di pinggir jalan. Begitu mesin mobilku mati, aku segera turun dan menghampiri Leni yang tertunduk menangis di pinggir jalan.
“Leni!” aku sedikit panik memanggil namanya. Senia mengikutiku di belakang dan berdiri menunggu reaksi Leni.
Sial! Apa yang terjadi?
Aku melihat lebam besar di pipi dan matanya. Hidungnya mengeluarkan darah dan wajahnya memerah seperti terkena tamparan. Bahkan pakaiannya masih tetap kemeja yang sama dengan pakaian yang dia kenakan tadi di kantor. Darahku tiba-tiba mendidih seketika menyaksikan keadaan Leni yang seperti itu. Senia terpekik tertahan melihat keadaan Leni
“Hendrik? Senia? Kalian kenapa di sini?” tanyanya sembari berusaha menghentikan isak tangisnya.
“Siapa yang melakukan ini! Bilang, siapa bajingan itu?” teriakku emosi melihat semua yang terjadi.
“Hendrik, ini nggak seperti yang kamu pikir!” sanggah Leni.
“Pa, mending kita ke Cafe dulu. Jangan di pinggir jalan seperti ini!” ujar Senia cemas.
Aku mengangguk dan membantu Leni berdiri. Dari dekat, lebam di wajahnya semakin terlihat. Senia memapah Leni hingga ke dalam mobil, sementara aku segera menghidupkan mesin mobil dan mengarahkan mobil menuju Cafe. Aku menyetir dengan sangat cemas. Sesekali aku melihat dari kaca keadaan Leni yang duduk di bangku belakang bersama Senia. Dia terlihat sangat kacau dan memeluk Senia pasrah. Sesampainya di Cafe, Senia langsung merawat semua luka Leni, sementara aku duduk menunggu semua penjelasan darinya. 
“Ini bukan urusanmu, Hen! Terimakasih sudah menolongku, tapi ini bukan urusanmu,” ujar Leni sembari meringis kesakitan saat Senia membasuh lebam di wajahnya.
“Ini gara-gara pacarmu?” tanyaku berusaha meredam amarah
“Hendrik, kubilang ini bukan urusanmu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan!”
“Baiklah kalau kamu nggak mau bilang, aku bakalan tanya sendiri sama dia!”
“Hendrik! Baiklah, ini semua tidak sengaja. Kami bertengkar dan dia tidak sengaja mendorongku kemudian aku terjatuh, itu saja!”
“Ini bukan cuma sebuah dorongan! Semua luka ini menunjukkan kalau kamu di hajar, Len!”
“Sudah kubilang dia tidak sengaja mendorongku dan aku terjatuh! Tolong Hen, jangan ikut campur urusanku dan Andik. Dia cinta sama aku dan aku juga cinta sama dia! Kita sudah selesai Hen, urusan kita cuma atasan dan bawahan. Kamu nggak berhak ikut campur sama urusan pribadikuku lagi,” ujar Leni.
“Cinta? Kamu sebut cowok banci yang menghajar kamu itu bentuk cinta? Kamu buta, Len!”
“Dia cinta sama aku dan gak pernah melirik wanita lain. Dia serius sama aku, Hen! Setelah aku kecewa sama kamu yang nggak pernah kasih ketenangan dalam hubungan kita, dia datang dan kasih aku semua yang nggak kamu kasih!”
“Termasuk semua pukulan itu?”
“Sudah kubilang ini nggak sengaja!” teriak Leni marah.
Suara ponsel milik Leni menghentikan perdebatan kami. Dia melihat nama yang muncul di ponsel itu dan mengangkatnya. Tak lama dia menyebutkan tempat dimana saat ini dia berada. Aku melihat raut kecemasan muncul kembali di wajahnya.
“Itu si brengsek kan?”
“Hendrik, tolong jangan pernah mengatakan itu lagi!”
“Tapi memang dia brengsek!”
“Hendrik, dia pacarku sekarang!”
“Dia gak lebih dari banci penyiksa wanita, Len!”
“Oh, tolong kalian berdua berhenti berteriak!” sergah Senia sebelum kami mulai bertengkar lagi.
Mike muncul membawakan segelas teh hangat untuk Leni kemudian duduk bersebelahan dengan Senia.
“Ini sangat buruk, Len. Apapun alasannya, seorang pria tidak boleh memukul wanita,” ujar Mike ketika melihat keadaan Leni.
“Ini semua nggak sengaja Mike, aku terjatuh saat kami bertengkar,” jawab Leni.
“Pembohong!” sergahku kasar.
Leni tidak membalasku sama sekali dan meminum teh yang diberikan Mike. Dia meminumnya perlahan dan itu membuat keheningan di antara kami semua. Suara ketukan di pintu Cafe mengehentikan semua keheningan itu. Seorang pria yang pernah kulihat menjemput Leni tampak tersenyum menyapa kami. Sementara itu, aku melihat cangkir teh yang dipegang Leni sedikit bergetar. Ini tidak bisa dibiarkan!
“Gawat, Pak Hendrik!”
Teriakan Mike mengejutkan Senia, tapi semua itu tidak kupedulikan. Pukulanku sudah lebih dulu bersarang di wajah jelek pria itu. dia tersungkur di lantai dan kesakitan memegang hidungnya yang mulai mengeluarkan darah. Suara teriakan wanita terdengar di belakangku, entah dari bibir Senia atau Leni. Aku tidak bisa menahan emosiku lebih lama lagi. Pria ini berani menghajar wanita dan dia akan mendapatkan balasannya. Aku mendekatinya cepat dan menendang keras badannya kembali. Sampai ketika Mike menahan tubuhku dan Leni mengalangiku untuk menghajar pria itu lagi.
“Minggir kalian! Biar kuhajar bajingan ini sampai mampus!”
Bajingan itu bersembunyi di balik tubuh Leni dan gemetar ketakutan di persembunyiannya. Sementara Leni mulai menangis dan memohon kepadaku untuk menghentikan semua perbuatanku.
“Hendrik, sudah kubilang ini tidak sengaja! Ini bukan urusanmu!” teriak Leni.
Aku terhenyak seakan tak percaya melihat semua kelakuan Leni. Bagaimana bisa dia melindungi bajingan tengik yang sudah membuatnya babak belur. Leni membantu pria itu untuk berdiri dan memapahnya meninggalkan kami. Aku melepaskan pegangan Mike dan merengkuh kasar kerah baju pria itu. dia tidak lebih tinggi dariku dan dia juga tidak lebih tampan dariku. Kenapa Leni mau membela bajingan ini?
“Dengar, kalau kau berani memukul dia lagi, akan kupastikan kau mendapatkan balasannya dua kali lebih menyakitkan!” ancamku kepada pria itu.
“Hendrik, lepaskan dia!” teriak Leni berusaha memisahkanku.
Aku mendorong pria itu kasar dan dia gemetar ketakutan melihatku. Leni kembali membantunya berdiri dan memapahnya memasuki mobilnya. Tak lama Leni menyusul masuk ke mobil itu dan mereka menjauh menghilang dari Cafe ini. Senia mendekatiku dan memelukku dari samping.
“Papa keren!” ujar Senia pelan sambil terus memelukku yang masih emosi.
Sudah takdirku untuk keren!
****

 Setelah kejadian itu, aku tidak pernah menemukan luka di wajah Leni lagi dan dia tidak pernah menyinggung apapun tentang keadaanya. Sesekali aku memanggilnya ke kantorku hanya untuk mengamati keadaanya dan berusaha menemukan bekas luka yang mungkin muncul. Selama beberapa hari aku terus mengamati Leni dan itu sepertinya membuatnya jengah. Leni mulai menunjukan ketidak nyamanannya setiap aku memanggilnya hanya untuk memeriksa keadaannya, tapi dia bersih. Aku bersyukur kalau akhirnya bajingan itu tidak pernah memukul Leni lagi.
“Hendrik!”
Suara sapaan yang manja itu muncul saat aku sedang memperhatikan Leni yang sibuk menjelaskan jadwalku. Sandra muncul didepan kantorku dan langsung berlari ke arahku kemudian menciumku dengan ganas. Sebuah tatapan jijik muncul dari wajah Leni dan aku segera mendorong Sandra menjauh.
“Aku sedang kerja, San!” bisikku sambil mendorongnya menjauhiku.
Sorry, aku kangen sama kamu, Hen! Beberapa hari ini kamu nggak pernah hubungi aku!” jawab Sandra manja dengan suara seksinya.
Beberapa hari ini pikiranku terlalu sibuk memperhatikan Leni dan itu membuatku melupakan semuanya. Termasuk mengalihkan perhatianku dari Sandra dan juga libidonya yang semakin tinggi. Suara berdehem menyadarkanku dan Sandra akan kehadiran Leni di ruangan ini.
“Nanti panggil aja kalau semua berkas itu sudah kamu periksa, Hen! Aku tunggu di mejaku,” ujar Leni sembari meninggalkan kami.
Sandra menatap kesal ke arah Leni yang akhirnya keluar dari ruanganku.
“Siapa sih dia? Kurang ajar banget!”
“Dia karyawanku, San!” jawabku malas karena masih harus kembali berkutat dengan pekerjaanku.
“Dia kurang ajar sama kamu, Hen. Kenapa nggak kamu pecat aja?”
“Aku nggak bisa nemuin yang jauh lebih baik dari dia, Sandra! Dan tolong berhenti menggerayangiku. Aku masih punya banyak pekerjaan di sini!”
Sandra berdiri kemudian menatapku kesal. Aku masih tidak peduli. Aku malas menghadapi semua sifat kekanakan Sandra yang selalu muncul. Apalagi setelah adik kecilku seakan tidak menginginkan kehangatan saat ini, itu membuatku semakin frustasi dengan semua lonjakan gairah Sandra. Sandra mengambil tasnya dan berjalan cepat keluar dari ruanganku. Bahkan dia memberikan bonus sebuah bantingan di pintu. Aku berjengit ketika suara pintu itu membuatku terkejut.
Tapi itu semua tidak membuat Sandra kapok. Dia masih sering datang saat aku masih harus berkutat dengan semua pekerjaanku di kantor pengolahan. Selalu datang dan menyerangku langsung dengan semua gairahnya. Suatu ketika bahkan Leni pernah menemukan kami saling menindih di kantor. Untungnya hanya Leni yang melihat hal itu bukan karyawanku yang lain atau malah Senia. Semua itu sedikit membuatku bersemangat, tapi yang terjadi selalu sama, tanpa seks. Kemudian yang terjadi setelahnya adalah kemarahan Sandra yang tak mampu membuatku bergairah. Aku bisa apa? Saat ini aku sedang tidak ingin melakukan seks atau apapun yang berhubungan dengannya. Sesuatu telah mengalihkan pikiranku.
“Mana pacarmu?” tanya Leni suatu ketika setelah dia mengetok pintu kantorku dan hanya menemukanku sendiri.
Setelah memergoki Sandra dan aku beberapa kali bermesraan di kantor, dia akhirnya selalu mengetuk pintu kantorku terlebih dahulu sebelum memasukinya. Benar-benar kebiasaan yang sudah lama tidak pernah dia lakukan lagi. Aku sempat melarangnya melakukan hal itu dulu karena menunggu aku mempersilahkannya masuk itu membuang waktuku.
“Kamu kangen?” tanyaku meledek.
Dia tersenyum kemudian memberikan beberapa surat dan juga pembukuan kepadaku. Semua itu sudah tertata rapi dan masing-masing halaman yang sekiranya perlu kuperiksa sudah memiliki tanda khusus darinya. Betapa aku tidak bisa menemukan asisten sebaik dan secekatan Leni. Sebetulnya juga penyesalan akan berakhirnya hubungan asmara kami.
Leni mampu menjadi asisten dan juga pacar yang baik. Dia sangat mengerti diriku luar dalam. Dia menatapku sebagai seorang Hendrik Falevi, bukan sebagai seorang pengusaha atau barista. Dia juga sangat menyayangi Senia dan mampu menjadi sosok yang sangat Senia idolakan. Hanya saja dia begitu cemburu. Mungkin sebenarnya itu juga salahku karena terlalu sering menggoda semua wanita yang berharap denganku. Sampai pada akhirnya dia memergoki seorang wanita berusaha bermesraan denganku dan memutuskan untuk meninggalkanku. Kenapa dia harus marah? Aku saat itu dipaksa! Dipaksa!
“Bisa berhenti melamun? Cepat koreksi dan tandatangani! Aku capek berdiri di sebelahmu menunggu koreksi darimu kalau misal ada kesalahan,” jawabnya bersungut-sungut.
“Ada sofa di sana, duduk aja kalau capek!” balasku.
“Terus berdiri lagi kalau ada ksalahan, duduk lagi, berdiri lagi begitu ada kesalahan lain, kemudian duduk lagi. Itu sama sekali nggak efisien. Jadi cepet koreksi dan jangan banyak melamun! Uang nggak aan datang kalau kamu melamun!”
Sebenarnya siapa yang bos dan siapa yang anak buah di sini? Kenapa dia berani mengatakan hal seperti itu kepadaku meskipun itu semua sebuah kebenaran. Dan kenapa aku sama sekali tidak bisa membantah semua kekrang ajaran itu? sudah kubilang kalau Leni sangat mampu menjebakku mengikuti semua kemauannya. Aku kembali memeriksa semua laporannya dan membubuhkan tanda tanganku di tempat yang sudah dia siapkan. Leni mengambil semua laporannya kembali dan berjalan melangah keluar kantor. Entah bagaimana caranya, Leni tiba-tiba terjatuh karena tersandung kabel power yang melintang di lantai.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku semari langsung berdiri berusaha membantunya.
Aku memegang salah satu lengannya dan dia menarik bagian kemejaku yang berada di pinggang. Dia terlihat sangat kesulitan bahkan untuk bangun dari posisinya saat ini. Ketika aku berusaha membantunya untuk bangun, pintu kantorku terbuka dan aku melihat sosok Sandra berdiri di sana.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Sandra terlihat marah.
“Leni jatuh jadi aku,,,hei Sandra berhenti!” teriakku saat melihat Sandra mendorong kasar Leni yang sudah hampir berdiri.
“Kamu, mau apa kamu pegang tangan Hendrik?!” teriak Sandra pada Leni yang kini jatuh tersungkur.
“Leni, dia jatuh dan aku cuma nolong!” aku berusaha menghalangi Sandra untuk mendorong Leni lagi.
“Nggak! Dia mau nggodain kamu! Dia ambil kesempatan sama kamu, Hen!” teriak Sandra histeris.
Sandra berhasil meloloskan diri dariku dan kembali berteriak histeris bahkan menyiksa Leni. Dia memukul dan menarik kemeja Leni sementara aku berusaha menariknya. Suara baju yang koyak mengagetkanku dan aku menarik Sandra sekuat tenaga menjauhi Leni.
“Kamu gila, San! Ini semua keterlaluan!” teriakku berusaha melindungi Leni yang kesakitan terduduk di lantai.
“Hendrik, dia berusaha merebut kamu dari aku. Dia menggoda kamu, Hen!”
“Nggak ada yang berpikiran gitu selain kamu! Aku nggak bisa lagi melanjutkan ini semua, San! Kita cukup sampai di sini!”
“Hendrik, aku minta maaf. Aku cemburu, itu semua gara-gara aku terlalu sayang kamu, Hen!”
“Cukup Sandra. Maaf, aku nggak bisa terima cinta dan sayang yang seperti ini. Tolong kamu pergi dan jangan pernah berharap lagi sama aku. Kamu cari pria lain yang lebih pantas dan  bisa terima semua cara menyayangimu, please,” ujarku pelan.
Mata indah Sandra berkaca-kaca dan itu hampir saja menggoyahkan keyakinanku lagi, tapi aku sudah tidak bisa lagi meerima semua kelauan Sandra. Kali ini dia cemburu dengan Leni, besok siapa lagi? Jangan-jangan suatu saat dia akan cemburu dengan Senia. Sandra berbalik dan pergi meninggalkanku berdua dengan Leni sendiri.
“Maaf Len, kamu baik-baik aja?”
Bodohnya aku, tentu saja dia tidak baik. Tapi Leni mengangguk berusaha menenangkanku. Aku melihat baju di bagian punggungnya terkoyak lebar dan…sialan apa itu!”
“Hendrik, berhenti!” teriak Leni ketika aku merobek kemejanya lebih lebar.
“Brengsek! Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku!” aku berteriak membentak Leni yang menangis berusaha menutupi dirinya.
****

“Kita laporin ke polisi ya, Len.”
Senia berusaha membujuk Leni yang masih menangis terduduk di sofa, sementara aku memilih untuk duduk di meja makan. Aku gusar dan sangat ingin menghajar pria brengsek yang mengaku pacar Leni itu. Setelah selama ini Leni membelanya, kukira dia sudah berubah dan tidak akan memukul Leni lagi. Tapi ternyata bajingan itu memukul Leni di tempat yang malah tak terlihat. Sekujur tubuh Leni dipenuhi beberapa luka lebam akibat pukulan benda tumpul. Aku segera membawa Leni ke rumahku dan meminta Senia merawatnya.
“Ini semua salahku. Dia cuma tak sengaja emosi karena kesalahanku,” jawab Leni ketakutan dan terus menangis.
Aku menggebrak meja keras karena semakin tidak sabar dengan semua pembelaan Leni.
“Sampai kapan kamu mau bilang semua kelakuan si brengsek itu cuma tidak sengaja?!” teriakku marah.
“Dia cinta sama aku, Hen! Dia melakukan ini semua karena cinta! Karena dia nggak mau kehilangan aku! Dia salah paham sama hubungan kita dan itu membuatnya cemburu.”
Bullshit sama semua alesan itu! Kamu sukses dia bohongi, Len! Dia melakukan ini semua cuma karena dia pengecut untuk menghadapi diriku langsung. Dia cuma cecurut dan kamu masih membela orang seperti itu!”
“Dia cinta aku Hendrik! Dia cuma melihat diriku!”
“Kamu goblok, Len! Kenapa kamu bisa jadi orang segoblok itu yang mudah ketipu sama semua alesan bullshit bedebah itu!”
“Kamu pikir gara-gara siapa?!” teriak Leni histeris.
Leni mulai menangis kembali dan Senia memeluknya erat. Aku terdiam menatap Leni yang menangis dan terlihat rapuh di hadapanku. Ini bukan seperti Leni yang kukenal. Ini bukan Leni yang tegar yang selalu berdiri di sebelahku. Wanita di hadapanku adalah wanita yang rapuh dan terluka jiwa dan raganya.
“Kamu membuat aku terluka, Hen. Aku tidak percaya diri menjalani cinta, tidak percaya diri dengan penampilanku, tidak percaya diri dengan pria yang mencintaiku. Kamu menghancurkan semua itu perlahan saat kamu mengatakan mencintaiku, tapi wajahmu masih terus berpaling ke wanita lain,” Leni terus berbicara sembari terisak di dalam pelukan Senia. “Dia datang dan hanya melihatku seorang. Membuatku kembali merasa pantas untuk di cintai dan menjadi satu-satunya di hati seorang pria. Meskipun dia menyiksaku, aku akan bertahan.”
Aku termangu mendengar semua penuturan Leni. Dia masih terisak di dalam pelukan Senia. Aku sama sekali tidak menyangka semua kelakuanku membuatnya ancur seperti itu. Aku sama sekali tak pernah berpikir untuk membagi cinta Leni saat itu, hanya saja memang kelakuanku sangat brengsek dengan menggoda wanita lain. Di dalam hatiku,aku merasakan sakit saat Leni menangis. Jauh di dalam hatiku aku sama sekali tidak terima dengan semua ini. Tidak terima saat Leni memutuskan hubungan kami, tidak terima saat Leni berhubungan dengan pria lain, tidak terima saat menemukan Leni dilukai tubuhnya oleh pria brengsek itu dan sangat terluka saat tahu bahwa akulah penyebab semua kebodohan yang Leni lakukan.
“Kamu tidak mencintai dia kan, Len? Kamu tenyata cuma butuh sebuah keyakinan saja kan?”
Leni terdiam tak menjawab. Dia menghabiskan isakannya sebelum mulai berkata dan hampir terdengar seperti berbisik.
“Itu semua bukan urusanmu, Hen!”
“Senia, masuk kamar dan tolong tinggalkan kami sebentar,” ujarku pada Senia.
Senia menurut dan melepas pelukan Leni. Leni seakan tak rela melepas pelukan Senia, tapi Senia sudah lebih dulu memasuki kamarnya. Aku menatap Leni yang terlihat sangat berantakan. Aku membuat wanita tegar ini menjadi sangat rapuh. Perlahan aku mendekati Leni dan menatap kedua matanya yang memerah dan penuh air mata.
“Maafkan aku, Len. Aku memang brengsek keparat,” ujarku lirih.
“Memang,” jawab Leni sembari memberi sedikit senyuman di wajahnya yang masih menangis.
“Tinggalkan dia Len. Dia nggak pantes buat kamu!”
“Dia cinta aku Hendrik!”
“Itu bukan cinta. Kalau dia mencintaimu, dia nggak akan melakukan semua ini!”
Leni tersenyum sinis, memalingkan wajahnya dariku.
“Kamu ngomong gitu seakan tahu siapa yang pantes buat aku!” ujar Leni sinis.
“Aku memang tahu, Len!” aku mengambil nafas sejenak, “Aku orangnya.”
Leni menatap tak percaya ke arahku. Wajahnya terlihat sangat bingung dengan semua omonganku barusan. Tapi aku benar-benar serius dengan semua ucapanku. Aku selama ini sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam hatiku, aku sangat mencintai wanita ini.
“Jangan mulai menggodaku, Hen! Ini sama sekali nggak lucu!” sentak Leni dan dia hendak menyingkir dariku.
Aku menarik lengan Leni dan mendudukkannya kembali di sofa.
“Aku serius!” jawabku tegas.
“Aku sudah punya pacar!”
“Putuskan dia!”
“Kamu pikir siapa kamu?”
“Putuskan dia atau kuhancurkan seluruh hidupnya sebelum mengirimnya ke penjara!”
“Kamu mengancamku, Hen? Kamu pikir aku mau sama cowok playboy kayak kamu?”
“Aku akan berubah!”
“Kamu pikir aku bakalan percaya?”
“Kamu harus percaya, karena kalau enggak aku bakalan terus ngejar kamu, Len! Aku bakalan hajar semua cowok yang mau deketin kamu. Aku bakalan bikin hidup kamu cuma berkutat di sekitarku tanpa bisa melihat pria lain. Aku serius dan bakalan ngelakuin semua itu kalau kamu nggak mau balik sama aku!”
“Kamu gila!” sergah Leni.
“Memang!”
Aku mengecup bibirnya yang tipis dan Leni tidak menolaknya. Malam ini akan jadi milik kami.
****
  
“Hai, Hendrik! Lama menunggu?”
Aku tersenyum pada Diva yang baru saja membuka pintu ruang prakteknya. Dia tampak anggun dengan rok dan kemeja yang dia pakai. Senyumnya yang manis menghiasi bibirnya yang seksi.
“Jadi, sudah selesai hari ini?” tanyaku memastikan.
Diva mengangguk mantap kemudian membuka pintu ruang prakteknya. Aku bisa melihat Leni duduk di sofa di dalam ruangan itu. Dia tersenyum melihatku datang menjemputnya.
“Jadi, apa dia menggodamu, Di?” tanya Leni menyelidik.
Diva terbahak, mendengar ucapan Leni.
“Masih nggak percaya sama aku?” tanyaku sebal.
Leni mulai memperbaiki kehidupannya. Aku meminta tolong kepada Diva untuk membantu Leni mendapakan kembali semua akal sehatnya setelah semua peristiwa penyiksaan itu. Jangan tanyakan nasib si brengsek itu, karena aku sudah membuatnya merasakan seperti yang Leni rasakan. Dan dia tidak akan pernah mengganggu Leni lagi.
Sementara itu Senia bersuka cita ketika dia tahu aku kembali menetapkan hatiku untuk Leni. Ketika aku ketakutan Sandra akan menyerang Senia, Senia memastikan bahwa itu tidak akan terjadi. Tante Ira-nya sudah kembali dan apapun yang terjadi saat ini, Senia akan aman karena dia adalah aset dari agensi. Tapi sekalipun Senia dipecat, dia tidak peduli karena aku akan memberikan apa yang dia mau. Bahkan aku sedikit bersukur bila hal itu terjadi, karena aku tidak perlu selalu was-was anakku disentuh pria!
 “Oh, jangan mulai bertengkar di sini. Menyebalkan mendengarnya,” tukas Diva, ”Jadi gimana hubungan kalian?”
“Si playboy ini masih tetap mengejarku tanpa memberiku kepastian,” jawab Leni.
 “Aku kan sudah bilang kalau aku pengen jadi pacar kamu! Sampai berapa kali sih, baru kamu ngerti?” ujarku sebal.
“Aku males pacaran sama kamu!”
“Tadi kamu minta kepastian?”
Leni melihatku sembari tersenyum. Ah, sialan! Dia menjebakku lagi dan kali ini benar-benar menjebakku lebih dalam dengan ‘kepastian’ itu. Sial! Dia memberiku senyuman menantang, seakan mengejek ketakutanku dan menantang aku mewujudkan semua maunya. Tapi baiklah!
Aku akan melakukan yang kamu mau, cantik!
**** 


32 comments:

  1. @jengrik : sorry covernya aku pake gitu, cover yg kamu kirim gak bisa kebaca. makasi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ocreee... gpp jeengg!!!
      muahkasihhh jeng shin sayaaanggg....
      muaahh.. muah...muaaahhh....
      lope-lope! wekekekekekekek

      Delete
  2. Pesen buat papa hendrik, klo mw uhuk2 kunci kamar pa,biar senia G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ bisa lsng msuk.wekwkwkwkwk
    Playboy abis ah papa hendrik g bsa liat yg bening2 dkit *jitak mba ike ehh
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin n mba ike

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rinrin faseh bener bagian kunci mengunci. wakakakakakakaka

      Delete
  3. ternyata si hendrik ttp aja jdi playboy kirain stlh kehadiran anaknya dia bakal tobat eh trnyata enggak
    kasian bgt leni disiksa sama pacarnya yg psiko itu
    ciyeeee leni gamau pacaran tp lgsg mau nikah aja ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. wekekekekekekkek
      nasib si papah Hendrik terlahir keren.wakakakakakak

      Delete
  4. Seruuuuu...sukaaaaa.....makasiih^_^

    ReplyDelete
  5. Aiiihhhhh,,,akhrnyaaaa seorang Hendrik bs takluk sm Leni.. Xixixixi...
    Undanganny dtggu looohhhh...
    Mksh Mba Rike n Mba Ciiiinnnnn....

    ReplyDelete
    Replies
    1. bole-bole... setor alamat yaaa...
      wakakakaka

      Delete
  6. mb chin kgen... Mksh Y bwt post siang2 ni.thanx mb ike

    ReplyDelete
  7. Papa hendrik, kalau mau ranjangnya ga sedingin kulkas, sini aku angetin pake api unggun.. #uuhhhuk

    kkkkkkkkkkkk, serunya papa hendrik disiksa sama tante sandra yang rada-rada error.. Seneng hatiku.

    Mike, tunjukkan taringmu, baby. Jangan cuma nyempil di pojokan aja.

    Aku kangen, mbak shin...
    Lama tak muncul,, ;(;(;(

    ReplyDelete
    Replies
    1. kebakaran dung kalo pake api unggun. wakakakakakakakk

      Delete
  8. apa kbr mbak shin, kangen beberapa minggu gak nongool

    trim mbk rieke, bisa buat hiburan di sore hari

    ReplyDelete
  9. Msi ada lanjutn Πγª kn mba Rike .... Pensaran kocak Πγª hub Papa Hendrik, Senia dan Mike. Heheh. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Shin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wekekekekekeke.... blom tau neh... ada lagi atau enggak.

      Delete
  10. selalu deh mba rike tu karya'y ada selipan komedi yg bkin cengar-cengir pas melototin hp bca crta'y :D

    Om 'tampan' Hendrik akhr'y insyaf jg tuh..
    Ntr g' bkal jd playboy lg kan Om?
    Udh om, ikhlasin ajh Senia ma Mike, msak d larang trus? Xixixixi
    Mba rike bgus crta'y.. Mksih
    Mba shin mksih jg..
    #huaaa udh lama g' ngomen2 :(

    ReplyDelete
  11. Watsehhhhhh... Keren booo'.... Lucu , nggemesin dll bgt wkwkk kisah uhuk2 YG selalu tertunda bikin jengah tapi ketawa cekikikan hahaha... Btw masih ada lanjutannya kan sist Rike .. Hemmm Gak aq sangka klo bab sebelumnya akan di lanjutin hehe ...

    maaksih sist Rike luph You :))

    MAKASIH MBAK SHIN , MISS YOU SO MUCH ,,,,, REALLY :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wekekekekekeekk...lom tau juga di lanjutin apa enggak.

      Delete
  12. mba rike n mba shin thanks,,,ceritanya seru ampe ktawa sndri...<3

    ReplyDelete
  13. thanks mbk ike....mbk cin semangattttt!!!!

    ReplyDelete
  14. top deh. suka......kyknya bisa dibikin lanjutannya ya

    ReplyDelete
  15. makasih buat semuanya, terutama buat Jeng Shin yang bersedia aplot cerita om-om galau ini. weekekekekekekekek... juga semua yang sudah baca, makasih sekali.
    *sujud sukur
    eke bahagiaaa.. eke terharu..
    wekekekekeekekk
    Cipok satu-satu terutama Jeng shin cipoknya muter bin basah

    ReplyDelete
  16. jengRiiiiiikkk... Kereeennn !!

    Lanjut kisahnya Mike ama Senia yaks..??
    Heheehehee

    ReplyDelete
  17. Cerita yg TOP BGT....
    Bikin ngakak terus....

    ReplyDelete
  18. Yaaah udah mbak? Kok ga ada bacaan end nya? Berarti belom ending dong, pasti ada lanjutannya? Iyakan? Ayolah lah mbak

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.