"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, May 24, 2013

CERMIN 6 - CLBK SERIES - Kesetiaan oleh Hevi Puspitasari

Kesetiaan

Story by +vie puspitasari 


Brukk!!
“Ah, Maaf, aku tak sengaja.” Ujar Divya sambil membereskan buku-bukunya yang berserakan.
“Divya! Ayo cepat, kita sudah terlambat!” panggil Gauri, sahabat Divya, sambil berlari menuju kelas dan tak menyadari bahwa Divya membutuhkan bantuan.
“Iya, aku segera menyusul” Jawab Divya.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya lelaki yang bertabrakan dengan Divya, sambil membantu Divya membereskan buku-bukunya.
“Tidak apa-apa, maafkan aku, aku terburu-buru.” jawab Diva sambil menerima buku yang diberikan oleh Aditya tanpa menoleh dan segera berlari menyusul Gauri tanpa sadar siapa yang telah membantunya.
!!!

“Hei, Ditya! Kenapa kau termenung di situ? Ayo, ibuku sudah menunggu di ruangannya,” Ajak Krishna, dan lelaki yang dipanggil Ditya masih takjub memandangi Divya yang berlari menuju kelasnya, “Aditya Sharma! Kau mendengarku tidak sih?” Panggil Krishna sambil menepuk bahu Aditya, sahabatnya sedari kecil.
“Hei, Krish, kau kenal dengan wanita tadi?” Tanya Aditya tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung Divya yang semakin mengecil.
“Siapa?” Tanya Krishna mengikuti arah pandang Aditya, “Oh, wanita yang kau tabrak tadi? Bukankah temannya tadi memanggilnya dengan nama Divya? Ayo, cepat, waktuku tidak banyak.” jelas Krishna.
“Divya” Gumam Aditya dan kemudian dengan enggan mengikuti Krishna yang tergesa menuju ruangan rektor.
!!!
Malam itu, Aditya, atau yang biasa dipanggil Ditya benar-benar tidak bisa tertidur nyenyak, dia terus saja terbayang wajah Divya, gadis yang tidak sengaja bertabrakan dengannya siang tadi saat menemani Krishna menemui Ibunya yang menjadi Rektor di universitas tersohor di kalangan keturunan India di Indonesia. Dia tidak pernah seperti ini, ini bukan dirinya, mereka bahkan baru pertama kali bertemu dan hanya sekedar bertabrakan kecil dan Ditya tidak pernah bisa menghilangkan bayangan Divya dalam otaknya.
Terbayang kulit halusnya saat tak sengaja bersentuhan ketika memberikan bukunya yang berserakan, terngiang suara merdunya saat mengucapkan maaf yang pada dasarnya dia juga bersalah karena tidak fokus pada jalan, dan bahkan dia sudah berani datang di mimpinya dan membangunkannya di tengah malam seperti ini, dan dia semakin frustasi dengan semua ini.. Tidak! Ini tidak boleh terus berlanjut, sambil mengacak-ngacak rambutnya dia bangun dari ranjangnya dan dengan cepat mengambil kunci mobil dan segera menuju ke tempat yang dipikirnya dapat membantu.

TingTong! TingTong!
Dengan geram, Krishna membukakan pintu apartemennya, dan baru saja ingin mengomeli orang yang datang dengan tak diundang itu, dia sudah terlebih dahulu dipotong.
“Kau sungguh harus membantuku, aku benar-benar membutuhkan bantuanmu kawan.” Pinta Ditya sambil memaksa masuk ke dalam apartemen dan segera ke arah dapur, membuka kulkas dan mengambil kaleng soda.
“Apa yang kau lakukan?! Jangan bilang kau menghamili perempuan dan dia sekarang meminta pertanggungjawabanmu!oh Man, kau baru beberapa bulan di Indonesia dan sudah berbuat ulah?!” Omel Krishna sambil menutup pintu apartemennya, dengan cepat menghampiri Ditya dan mengambil kaleng soda dari tangan Ditya.
“Hei! Apa arti persahabatan kita sedari kecil jika kau mengira aku akan melakukan semua itu?! Justru kau yang aku takutkan berbuat itu.” Sungut Ditya sambil menuju sofa.
“Hahaha, kau bercanda! Aku selalu menggunakan kondom kau tahu. Baiklah, kita kembali ke topikmu. Ada apa? Kenapa kau jadi sekacau ini? Menggangguku di tengah malam seperti ini, awas saja kalau hanya masalah sepele!” Ancam Krishna sambil duduk di sebelah Ditya.
“Aku butuh bantuanmu untuk mencari tahu tentang Divya, wanita yang bertabrakan denganku siang tadi.” Jelas Ditya mantap.
“Apa?! Kau bercanda! Kau membangunkanku hanya untuk masalah seperti ini?! Oh, kau sungguh sangat terlalu!” Omel Krishna dan seolah tersada akan sesuatu yang aneh, dia terdiam sejenak,
“Tunggu, apa kau bilang tadi? Kau ingin aku mencari tahu tentag wanita? Apa aku tidak salah dengar kawan?” Lanjut Krishna tak percaya, karena selama dia mengenal Ditya seumur hidupnya, Ditya tak pernah mengejar-ngejar wanita, justru wanitalah yang akan mengantri untuk menjadi pacar seorang Aditya Kanna, yang lebih terkenal sebagai Pangeran Property, karena bisnis property Ayahnya mampu dia kembangkan hingga ke seluruh dunia.
“Iya, Krishna, aku memintamu untuk mencari tahu segala sesuatu tentang Divya. Aku tidak melakukan ini seandainya Ibumu bukan rektor universitas dimana Divya sekarang sedang belajar.” Jelas Ditya kesal melihat reaksi sahabatnya. Dia memang sadar sepenuhnya apa yang dia minta kepada Krishna, karena seorang Aditya Kanna tidak pernah mempersoalkan wanita, dia terkenal dingin terhadap wanita. Bahkan hingga sekarang dia sempat dikira seorang gay karena jarang terlihat bersama seorang wanita disetiap kesempatan.
“Wow, wow, tenang kawan, aku tahu pasti apa yang kau fikirkan sekarang. Tetapi bukan itu yang aku fikirkan, aku tahu dengan pasti kau bukan gay, kau hanya menyembunyikan semua teman wanitamu dengan tidak membawa mereka di setiap acara-acara formal maupun memperkenalkan mereka ke keluargamu. Aku hanya masih tidak habis pikir, seorang Aditya Kanna yang terkenal dingin terhadap wanita akhirnya…” Krishna tidak meneruskan kalimatnya, dia terdiam sejenak dan mulai mengingat-ingat kembali wanita yang disebut Ditya.
“Kau ingin membantuku atau tidak?” Tanya Ditya kesal dan bersiap untuk meninggalkan apartemen Krishna. Dia menyesal telah datang kesini, dia merasa bodoh meminta bantuan sahabatnya untuk masalah sekecil ini.
“Aku akan membantumu kawan.” Jawab Krishna seraya menahan Ditya untuk pergi.
“Apa kau yakin?” Tanya Aditya tak percaya mendengar jawaban sahabatnya.
“Ya! Aku ingin mengetahui wanita seperti apa yang akhirnya bisa membuat sahabat terbaikku ini menjadi kacau seperti ini” Jelas Krishna tanpa melepaskan seringainya dari wajahnya.
“Terimakasih.” Jawab Ditya, walaupun pada awalnya dia sebal melihat seringai lebar di wajah sahabatnya, tetapi akhirnya dia tersenyum lebar, dan bergumam “Divya.”
!!!
“Divya, kau sudah mempertimbangkan semuanya? Apa kau yakin tidak akan memberitahukan Ayahmu mengenai hubunganmu dengan Raj? Kalian sudah 3 tahun berpacaran backstreet seperti ini.” Tanya Gauri ketika mereka berada di kantin untuk menunggu kelas berikutnya.
“Aku tak punya pilihan lain Gauri, kau tentu tahu Ayahku tak pernah mengizinkanku berpacaran, terlebih lagi saat ini Raja masih berstatus mahasiswa, Ayahku tentu tidak akan merestui hubungan kami setidaknya saat ini.” Jelas Divya sedih.
“Lalu sampai kapan kau akan membohongi Ayahmu? Jika bukan karena Ayahmu yang selalu bepergian, kau tentu akan sulit bertemu dengan Raja.” Tanya Gauri prihatin.
“Aku tidak tahu, mungkin setelah Raja lulus dan meneruskan usaha keluarganya.” Jawab Divya sambil mengangkat bahunya.
“Hei, apa kau mengenal lelaki tampan yang sedang mendekat ke sini?” Tanya Gauri tak percaya melihat sesosok lelaki dengan postur tubuh atletis, tegap, rambut yang tersisir rapi, hidung yang mancung, alis yang tebal, rahang yang sempurna, bibir yang indah, mata yang tajam, dengan setelan kemeja yang sangat pas di badannya seakan menambah kesempurnaan lelaki itu, seakan-akan dia sedang melihat artis bollywood kesayangannya, dengan yakin berjalan mendekati bangku mereka.
“Maaf, apa diantara kalian ada yang bernama Divya Kanna pemilik mobil Outlander merah yang diparkir di sana?” Tanya Aditya sambil menunjuk ke arah mobil yang dimaksud yang membuat Divya dan Gauri mengikuti arah tangan Divya.
“Iyah, itu mobil saya, ada apa yah?” Tanya Vidya setelah melihat mobil yang ditunjuk Aditya.
“Sebelumnya perkenalkan, nama saya Aditya. Saya mau meminta maaf karena supir saya tidak sengaja menabrak bemper mobil anda ketika ingin parkir di sebelah mobil anda, mungkin Anda ingin melihat seberapa besar kerusakan yang dibuat oleh supir saya dan berapa yang harus saya ganti.” Ajak Ditya.
            Mereka pun akhirnya menuju parkiran dan ternyata kerusakannya memang tidak parah, Divya tidak memasalahkan uang, tetapi Divya harus membawa mobilnya ke bengkel dan itu membutuhkan waktu. Seakan mengerti yang dipikirkan Divya, Aditya memberikan solusinya.
“Bagaimana jika mobil Divya, boleh saya panggil nama anda saja?” Tanya Ditya sopan.
“Panggil nama saja” Jawab Divya sambil mengangguk.
“Jadi, bagaimana jika mobil Divya sekarang kita bawa ke bengkel langganan Divya, segala biaya biar jadi tanggungan saya, dan selama mobil Divya masuk bengkel, Divya membawa mobil saya?” Jelas Ditya yang disambut dengan kekagetan Gauri sementara Divya masih mencoba berfikir tawaran Ditya.
“Saya menerima ajakan Anda,” Divya berhenti sejenak karena mencoba mengingat nama Ditya, “Aditya, untuk membawa mobil saya ke bengkel sekarang, tetapi saya tidak bisa menerima tawaran Anda mengenai mobil Anda.” Jelas Divya yang disambut dengan muka cemberut Gauri.
“Divya, lalu kau akan bagaimana selama mobilmu di bengkel? Kau tidak mungkin bukan memakai taksi terus-menerus?” Tanya Gauri yang membuat Divya jengkel. Divya tidak mungkin menerima ajakan Aditya, lelaki yang tak dikenalnya untuk memakai mobilnya, bagaimana jika dia malah merusak mobilnya nanti.
“Tidak masalah Gauri.” Jawab Divya sambil melotot ke arah Gauri.
“Baiklah, apa kita bisa berangkat sekarang? Aku akan mengikutimu dari belakang dengan menggunakan mobilku” Ajak Ditya.
“Bagaimana jika 2 jam lagi? Aku ada kelas 10 menit lagi.” Jelas Divya sambil melihat ke arah jam tangannya.
“Baiklah, aku akan menunggumu di kantin.” Jawab Aditya
!!!
“Kau benar-benar tidak membuang waktumu yah?” Tanya Krishna sesaat setelah Aditya berpisah dengan Divya dan Gauri.
“Kejadian tadi sebenarnya di luar dugaanku, aku hanya ingin menemuimu di sini sesuai janji kita, tetapi Tuhan berkehendak lain sepertinya.” Jelas Ditya tersenyum lebar.
“Hahaha, kau ini. Baiklah, ini, bacalah semuanya baik-baik. Aku akan menemui Ibuku sebentar.” Ujar Krishna tersenyum dan segera meninggalkan Ditya yang langsung sibuk dengan amplop coklat yang diberikan Krishna.
!!!
“Apa kau bodoh menolak tawaran, siapa nama laki-laki tadi, ah Aditya! Kau benar-benar bodoh menolak tawaran Aditya tadi. Apa kau tak menyadari mobil apa yang dibawanya? Mercedes keluaran terbaru, aku tahu dengan pasti karena aku baru saja melihat artikelnya di internet semalam!” Omel Gauri selama perjalanan ke kelas, Divya tahu dengan pasti maksud Gauri, dia memang penggila mobil, tetapi dia tidak pernah berani untuk membawa mobil seorang diri.
“Lalu apa hebatnya dengan mobil keluaran terbaru? Toh mobil itu bukan milik kita Gauri, kau lupa kalau dia hanya akan meminjamkan mobilnya selama outlander ku di bengkel?” Jelas Divya kesal.
“Kau ini Divya! Itu membuktikan bahwa dia dari keluarga kaya, dia bahkan memiliki wajah yang tampan. Apa kau tak meliat seluruh wanita di kampus tadi melihat dengan pandangan iri kepada kita karena berbicara dan bahkan berkenalan dengan dia?” Sungut Gauri.
“Kalau kau masih ingin memperdebatkan masalah ini lagi, lebih baik aku pindah ke bangku belakang dan kau akan mengerjakan ujianmu seorang diri!” Gertak Divya, dan gertakannya berhasil, Gauri langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan tak mengganggunya lagi. Divya tahu dengan pasti Gauri tidak terlalu menguasai mata kuliah hari ini, maka dari itu dia menggertak dengan cara ini.
!!!
“Ayo, aku antarkan kalian pulang.” Ajak Ditya setelah mengurus mobil Divya di bengkel, karena tidak mendapat jawaban dia melanjutkan, “Tenang, aku tidak akan berbuat macam-macam.” Jelasnya mencoba meyakinkan. Dia memang sengaja menyuruh supirnya pulang terlebih dahulu, karena mengharapkan mempunyai waktu lebih bersama Divya di dalam mobil.
“Ayolah Divya, aku sedang malas naik taksi.” Rengek Gauri membuat Divya terpojok dan menerima ajakan Ditya, karena tidak mungkin dia menghubungi Raj yang sedang sibuk.
            Setelah mengantarkan Gauri sampai di rumahnya, Ditya langsung mengantarkan Divya ke rumahnya, dan dia tidak melewatkan kesempatannya untuk berbincang-bincang dengan Divya yang hanya diam sedari tadi. Dia memulai dari hal-hal kecil, dan Divya menjawab dengan antusias, sehingga membuat Ditya nyaman untuk berbincang bersama Divya dan tak terasa mereka sudah sampai di rumah Divya.
“Apa kau yakin tidak mau menggunakan mobilku sementara mobilmu di bengkel?” Tanya Ditya sebelum Divya keluar dari mobil.
“Tidak, itu tidak perlu.” Tolak Divya sopan.
“Baiklah, jam berapa kau berangkat besok?” Tanya Ditya pantang menyerah sambil turun dari mobil dan membuka pintu mobil Divya, membuat Divya tertergun sejenak mendapati perlakuan manis dari laki-laki selain Raj, kekasihnya.
“Sekitar jam 9.” Jawab Divya sambil keluar dari mobil.
“Baiklah, aku akan menjemputmu,” Ucap Ditya sambil setengah berlari masuk ke dalam mobil, “Dan aku tidak menerima penolakan apapun.” Lanjutnya kemudian dia mengendari mobilnya menjauh, menghilang dari pandangan Divya. Divya hanya menghela nafas panjang, dia benar-benar kewalahan menghadapi keguguhan Ditya itu.
!!!
“Divya, maafkan aku, aku tidak bisa menemuimu hari ini, aku benar-benar sibuk menghadapi ujian hari ini.” Jelas Raj di telepon.
“Tak apa, oh ya, mobilku masuk bengkel, jadi selama 1 minggu ini aku tidak membawa mobil, bisakah kau mengantarkanku ke kampus?” Tanya Divya.
“Kenapa? Bukankah mobilmu baik-baik saja?” Tanya Raj bingung.
“Tadi siang ada yang menabrak bemper mobilku, tetapi dia bertanggungjawab dan langsung mengurus semuanya. Tetapi perbaikannya membutuhkan waktu, jadi aku tidak punya mobil 1minggu ini. Aku tidak berani memberitahu Ayah, bisa-bisa aku dilarang membawa mobil lagi, dan Bibi memaksaku memakai mobilnya, tetapi aku tidak mau, dia lebih membutuhkan mobil itu dibanding aku.” Jelas Divya sambil berbaring di ranjangnya.
“Aku mungkin tidak bisa mengantarmu selama 1 minggu ini, kau tahu jadwal kuliahku sangat sibuk menjelang skripsi.” Jelas Raj sedih, dia benar-benar dibuat tak berdaya dengan jadwal kuliahnya semester akhir ini menjelang skripsi.
“Baiklah kalau begitu, aku sudah mengantuk, Bye Raj.” Pamit Divya kesal.
“Baiklah, Selamat malam, sayang.” Ujar Raj menutup teleponya, menyadari dia membuat Divya kesal, dan dari pengalamannya, dia lebih baik membiarkan Divya sendiri dulu daripada malah memicu pertengkaran yang lebih hebat lagi.
!!!
           
“Bagaimana? Apa kau sudah membaca isi dari amplop coklat yang ku berikan tadi siang?” Tanya Krishna saat berkunjung ke rumah Ditya.
“Iya, aku sudah membaca semuanya. Kau benar-benar ahli dalam hal seperti ini, tak sia-sia aku meminta bantuanmu” Puji Ditya sambil menyerahkan minum ke sahabatnya itu.
“Kau yakin berniat meneruskan semua ini? Dia sudah punya pacar, mereka sudah berpacaran selama 3 tahun dan itu berita akurat, aku tidak main-main dengan informasi itu.” Jelas Krishna merasa harus membuka pikiran Ditya yang semakin lama semakin tidak dimengertinya.
“Dia baru berpacaran Krish, bukan menikah, lagipula disebutkan kalau mereka backstreet. Selama belum ada sindoor di belahan rambutnya, aku masih punya kesempatan.” Ucap Ditya kukuh, membuat Krishna akhirnya mengalah, karena dia tahu pasti bagaimana watak sahabatnya itu.
“Baiklah, setidaknya aku sudah memberitahukanmu.” Ujar Krishna sambil mengangkat bahunya.
!!!
Keesokan harinya, Ditya benar-benar menepati janjinya dan datang tepat jam 9 ke rumah Divya, dan ketika ingin keluar dari mobil, dia melihat Divya keluar dari pagar, sehingga dia langsung menghampiri Divya.
“Hai,” sapa Aditya saat DIvya hendak menutup pintu pagar.
“Kau?” Divya terkejut mendapati Ditya sudah berada di belakangnya.
“Iyah, ini aku. Ayo, aku antarkan kau ke kampus.” Ajak Ditya sambil tersenyum dan Divya menuruti Ditya.
            Dan kejadian ini berlangsung selama 1 minggu penuh selama mobil Divya masih dalam perbaikan, tanpa bisa Divya larang, Ditya seakan tahu semua jadwal Divya ditambah sikap Gauri yang seakan mendukung Ditya mengantar-jemput mereka membuat Divya tidak bisa berbuat banyak. Ketika ditanya apa dia tidak perlu bekerja, dia hanya menjawab dengan entengnya bahwa dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum menjemput Divya dan Gauri dan meminta mereka untuk tidak mengkhawatirkan pekerjaannya. Hingga saat Ditya mengantarkan Divya ke bengkel dan mengambil mobilnya yang telah selesai diperbaiki, Divya memberanikan diri berbicara pada Ditya.
“Ditya, ku rasa mulai besok kau tidak perlu lagi mengantar-jemputku dan Gauri, terima kasih banyak dan maaf selama 1 minggu ini kami telah merepotkanmu.” Jelas Divya sebelum memasuki mobilnya.
“Apakah aku masih diperbolehkan berkunjung ke rumahmu?” Tanya Ditya ragu, karena dia tahu dengan pasti apa yang akan dijawab oleh Divya.
“Mungkin sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi,” Jelas Divya sambil menggelengkan kepalanya, “Seharusnya aku memberitahukanmu sejak awal, aku sudah mempunyai pacar, Ditya. Aku harap kau mengerti maksudku.” Lanjut Divya dan setelah itu dia megendarai mobilnya menjauhi bengkel.
            Aditya masih termenung di tempatnya, dia tahu dengan pasti jawaban itu yang akan diucapkan oleh Divya, bahkan dia sudah menyiapkan hatinya menerima penolakan Divya, tetapi tetap saja dia masih merasa takjub dan terkejut. Belum pernah ada yang menolaknya, belum pernah ada yang mengacuhkannya, dan seakan mendapatkan kekuatan baru, dia bergumam penuh keyakinan,
 “Aku pasti akan mendapatkanmu, Divya Kanna.” Sambil memasuki mobilnya tanpa melepaskan senyuman dari wajahnya.
!!!
            Seakan tidak terjadi apa-apa, dan memang tidak berpengaruh bagi Divya, Aditya benar-benar menuruti keinginan Divya, dan itu membuat Divya dengan sekejap melupakan Aditya dan menjalani rutinitasnya kembali. Tanpa terasa, 6 bulan sudah berlalu, dan tibalah hari kelulusan, Divya merayakan kelulusannya bersama Gauri dan Raj serta beberapa teman mereka, karena mereka semua bisa lulus lebih cepat.
“Divya,” Panggil Mahesh Kanna Sharma, Ayah Divya, sepulangnya Divya dari perayaan kelulusannya, “Kemarilah.” Perintah Mahesh, Divya pun mendekati Ayahnya yang duduk di ruang keluarga, perasaannya tidak enak, karena melihat raut wajah serius Ayahnya.
 “Iya, Ayah.” Jawab Divya sambil mendekati Ayahnya dan duduk di samping Nandini, Bibinya dan juga istri dari Ayahnya.
“Kau sudah lulus S2, dan umurmu sudah 24 tahun ini, Ayah rasa sudah cukup umur bagimu untuk menikah.” Ucapan Mahesh terhenti sejenak karena melihat reaksi Divya yang terkesiap mendengar kata menikah. “Ayah sudah menerima pinangan untukmu, kalian akan bertunangan 3 bulan lagi, karena calon suamimu masih harus menyelesaikan semua pekerjaannya dan itu memberikanmu waktu untuk bersiap-siap. Pernikahan akan dilangsungkan 3 bulan berikutnya, tepat di hari ulangtahun calon suamimu.” Jelas Mahesh tanpa mengalihkan perhatiannya pada putrinya.
“Tidak Ayah!” Teriak Divya refleks setelah mencerna setiap kata-kata Ayahnya sambil berdiri, tetapi setelah menyadari nada suaranya yang terlalu tinggi, dia akhirnya duduk kembali, “Aku belum mau menikah Ayah, lagipula, lagipula aku…” Lanjut Divya tetapi terpotong oleh Ayahnya.
“Sudah mempunyai pacar.” Potong Ayahnya sambil memancangi Nandini, dan juga Divya bergantian.
“Bagaimana Ayah bisa tahu?” Tanya Divya tak percaya, dia merasa selama ini telah berhasil menutupi hubungannya dengan Raj, karena baik Ayah maupun Bibinya tak pernah ada yang mengungkit-ungkit masalah ini selama 3 tahun mereka berpacaran.
“Kami sudah tahu dari awal, kami menyadari kamu yang mulai berubah dan lebih senang berada di luar rumah dibanding di rumah, tetapi kami tidak melarangmu karena kami menyadari kamu berhak untuk merasakan semua itu, walau butuh kerja keras untuk membujuk Ayahmu supaya tidak melakukan hal yang tidak-tidak mengingat wataknya.” Jelas Nandini sambil mengelus lengan Mahesh, menjaga emosinya.
            Divya termenung, dia benar-benar tak menyangka yang diucapkan Bibinya. Jika Ayahnya sudah tahu, mengapa dia masih menerima pinangan itu.
“Ayah memang tahu hubunganmu, tetapi bukan berarti Ayah menyetujui hubungan kalian. Kau tahu pasti bagaimana Ayahmu ini, Ayah tidak mau mempunyai menantu yang hanya mengandalkan kekayaan keluarganya, dan Raj masuk dalam kategori itu. Nandini, sebaiknya kau membantu Divya mempersiapkan pertunangannya dalam waktu yang sedikit ini.” Perintah Ayahnya, dan Divya tidak bisa berkata apa-apa, dia langsung berlari memasuki kamarnya dan menguncinya rapat-rapat.
“Biarkan dia menenangkan dirinya dulu.” Saran Nandini saat dia melihat Mahesh yang bersiap berdiri untuk menyusul Divya, dia tahu betul watak suaminya.
“Baiklah, aku harap dia bisa menerima semua keputusanku, karena ini semua untuknya, dia tidak akan bisa bahagia jika bersama Raj.” Ucap Mahesh sambil melenggang pergi meninggalkan ruang keluarga. Nandini hanya bisa menghela nafas frustasi melihat Ayah dan Anak itu.
!!!
“Raj! Kita harus bertemu, sekarang juga!” Perintah Divya di telepon sambil terisak.
“Divya, ada apa? Tenanglah, jelaskan padaku semuanya.” Terang Raj dan Divya langsung menceritakan semuanya, tentang pinangan yang sudah diterima Ayahnya.
“Lalu kita harus bagaimana?” Tanya Divya mengakhiri penjelasannya sambil berbaring di ranjangnya yang sudah kusut.
“Baiklah, kita tidak punya pilihan lain, pergilah kau malam ini, aku akan menemuimu di ujung jalan, dan kita akan pergi dari kota ini, kebetulan sekali aku disuruh oleh Ayahku untuk menyelesaikan masalah di luar kota, kau bawa barang-barang seperlunya, supaya keluargamu tidak curiga.” Perintah Raj, dia tidak punya pilihan lain, karena dia tahu betul bagaimana watak Ayah Divya, hanya ini satu-satunya jalan, dia tidak mau kehilangan Divya, dia pasti bisa membujuk keluarganya untuk menerima Divya sepulangnya mereka dari luar kota.
“Apakah kita melakukan sesuatu yang benar?” Tanya Divya cemas, sadar betul akan konsekuensi yang akan diterimanya jika Ayahny mengetahui kepergiannya.
“Percaya padaku, hanya ini satu-satunya cara.” Tegas Raj dan tak lama mereka menutup teleponnya. Yang tak disadari mereka adalah, bahwa percakapan mereka didengar sepenuhnya oleh Mahesh secara tidak sengaja melalui telepon parallel.
!!!
            Divya sudah mengepak semua barang-barang yang diperlunya, dan melihat untuk yang terakhir kali ke sekeliling kamarnya sambil menghela nafas frustasi. Setelah itu dia mengendap-ngendap keluar kamar dan ketika tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tiba-tiba lampunya menyala, Divya terkesiap dan langsung membalikkan badannya, dan betapa kagetnya dia melihat Ayahnya dan juga Bibinya duduk di ruang tamu keluarga mereka.
“Apa yang akan kau lakukan Divya? Meninggalkan Ayah dan berencana kawin lari dengan kekasihmu itu?” Tanya Mahesh sambil menatap tajam ke mata Divya, putrinya yang sangat disayanginya.
“Tidak, Ayah, Tidak seperti itu.” Kilah Divya sambil menaruh tasnya dan menunduk, dia tidak berani menatap mata Ayahnya.
“Kemarikan tanganmu,” Perintah Mahesh sambil menyerahkan dua buah benda di masing-masing tangan Divya.
“Apa ini Ayah?” Tanya Divya terkejut menyadari dua buah benda yang diberikan Ayahnya, di tangan kirinya ada sebilah pisau dapur, dan di tangan kanannya ada pistol yang sudah terisi dengn pelurunya. Dia menatap Ayahnya tak percaya, tak mengerti maksud pemberian Ayahnya, sementara itu Nandini hanya bisa mengamati dengan cemas.
“Ayah memberikanmu pilihan, kau bisa membunuh Ayah dengan salah satu benda itu. Ayah yakin kau bisa mengambil nyawa Ayah dengan cepat tanpa merasakan sakit sedikitpun dengan salah satu benda itu.” Jelas Mahesh sambil menatap benda yang diberikannya kepada putrinya, dia sudah memantapkan hatinya.
“Apa maksud Ayah? Divya tidak akan berani membunuh Ayah!” Tolak Divya setengah berteriak, bagaimana bisa Ayahnya melakukan ini semua? Tidak mungkin dia mampu membunuh Ayahnya.
“Kau bisa meninggalkan Ayah, tetapi kau tidak bisa membunuh Ayah saat ini juga? Apa bedanya Divya? Jika kau melangkah keluar dari rumah ini, kau membunuh Ayah perlahan-lahan karena tak kuat menahan malu, lebih baik kau membunuh Ayah sekarang juga, itu jauh lebih baik, dan yang pasti tidak akan ada yang akan melarangmu berhubungan dengan Raj lagi.” Jelas Mahesh, jelas sekali ada nada kesakitan di dalamnya, dia tidak pernah mengharapkan kejadian ini dan tak pernah menyangka putri yang sudah dibesarkannya penuh kasih sayang akan melakukan hal sememalukan ini dan ini semua karena pengaruh buruk Raj, Mahesh semakin yakin bahwa keputusannya menerima pinangan itu keputusan yang paling tepat.
            Divya terpekur tak berdaya, tidak terfikir di benak Divya semua perkataa Ayahnya, dia hanya memikirkan kepentingannya sendiri, dan seketika itu juga dia merasa sangat bersalah, tetapi segera ditepisnya, jika Ayahnya tidak bisa memikirkan dirinya, untuk apa dia memikirkan perasaan Ayahnya. Lalu apa yang harus dilakukannya? Dia tidak akan mampu membunuh Ayahnya.
“Divya, apa kau tahu mengapa kau tidak pernah memiliki seorang Adik seperti yang selalu kau rengekkan sewaktu kecil? Karena Ayah tidak akan bisa memberikanmu adik, Ayah telah melakukan vasektomi, dan kau tahu mengapa Ayah melakukan itu? Karena Ayah tidak mau kau merasa kehilangan kasih sayang Ayah jika Ayah memberikanmu adik.” Jelas Mahesh tanpa mengalihkan perhatiannya ke Divya yang sedang berusaha mencerna semua ucapannya, “Kau juga sudah tahu dengan pasti mengapa Ayah melarangmu memanggil Bibi sebagai Ibu, karena Ibumu hanya satu, Priya. Ayah tidak mau kau melupakan Priya, ibu kandungmu, bagaimana perjuangan Priya untuk menghadirkanmu ke dunia ini, menukarkan nyawanya sendiri. Hingga melupakan bagaimana tersiksanya perasaan Nandini selama 24 tahun ini karena keegoisan Ayah yang menomorsatukan dirimu di atas segalanya. Dan sekarang, semua terserah padamu, semua keputusan di tanganmu, akankah kau meninggalkan Ayah setelah semua yang telah Ayah lakukan padamu, ataukah kau akan menerima semua yang telah Ayah siapkan untukmu.” Jelas Mahesh.
 Nandini yang sedari tadi hanya bisa menyaksikan, memberanikan diri mendekati Divya dan menggiringnya duduk di sofa dan mencoba menghiburnya, menghapus airmatanya yang tak berhenti mengalir sejak Mahesh menjelaskan semuanya. Yang dikatakan Mahesh semuanya benar, dia bahkan sudah melupakan semua rasa sakitnya dan dengan ikhlas menjalankan tugasnya sebagai seorang istri tanpa bisa menjadi seorang Ibu sepenuhnya, hanya bisa menjadi seorang Bibi bagi Divya yang sudah diasuhnya sejak lahir.
            Sedang Divya masih termenung memikirkan apa yang harus dilakukannya, di satu pihak kekasihnya, di lain pihak keluarganya. Dia tidak mungkin meninggalkan keluarganya setelah mengetahui kebenaran ini, bagaimana pengorbanan Ayahnya hingga harus meninggalkan tanah kelahirannya, India, untuk membesarkannya, karena tidak kuat kehilangan Ibunya, dan bahkan Bibinya, yang melimpahkan kasih sayangnya bagaikan Ibu kandung. Tetapi di sisi lain, apakah dia bisa hidup tanpa Raj di sisa hidupnya? Jika dia menyetujui permintaan Ayahnya, itu berarti dia harus melupakan Raj seumur hidupnya, mampukah dia? Sanggupkah dia? Tetapi apakah dia masih punya pilihan lain?
“Maafkan aku, Ayah, maafkan aku karena berniat meninggalkanmu dan Bibi. Tetapi, izinkan aku untuk bertemu dengan Raj, untuk terakhir kalinya, dan aku akan menuruti semua keinginan Ayah.” Pinta Divya sambil memeluk Mahesh.
“Apakah Ayah bisa memegang janjimu?” Tanya Mahesh hati-hati.
“Iya, Ayah. Aku pasti kembali dan menepati janjiku.” Jawab Divya tegas berusaha menyembunyikan kesedihannya.
!!!
“Apa kau sudah gila?! Bagaimana bisa kau dengan mudahnya menyuruhku melupakanmu begitu saja?! Apa tidak ada artinya bagimu 3 tahun ini?!” Omel Raj tidak terima begitu Divya memberitahukan keputusannya.
“Aku tidak punya pilihan lain! Lagipula apa kau bisa memastikan apakah keluargamu akan menerimaku?” Desak Divya, dan itu membuat Raj terdiam, mereka sadar dengan posisi masing-masing. Raj juga belum memberitahukan hubungannya dengan Divya kepada keluarganya, karena dia pun dituntut untuk sukses terlebih dahulu sebelum menikah, dan dia baru saja lulus, masih jauh dari kata sukses yang dimaksud keluarganya.
“Lalu bagaimana aku bisa hidup tanpamu, Divya?! Aku tidak akan sanggup.” Rengek Raj, tetapi Divya tidak bergeming, keputusannya sudah tepat walau kenyataannya hatinya sama sakitnya seperti yang dirasakan Raj.
“Kau pasti bisa, kita pasti bisa melewati semua ini. Maafkan aku.” Pamit Divya, dan dia langsung berlari tanpa menoleh, dia tidak berani melihat wajah Raj yang penuh rasa sakit, dia takut tidak bisa menepati janjinya kepada Ayahnya jika dia menoleh lagi.
!!!
“Kau benar-benar melakukan semuanya, wow, aku tidak menyangka kau memakai cara itu, kawan!” Ucap Krsihna kepada Aditya yang sedang bersiap-siap, malam ini malam pertunangannya dengan Divya, dan malam ini untuk pertamakalinya dia akan bertemu kembali dengan Divya setelah sekian lama tidak bertemu.
“Ya, aku memang melakukannya, persis seperti informasi yang kau berikan padaku saat itu, kalau Ayahnya Divya, Mahesh Kanna, menginginkan menantu yang sukses dan tidak mengandalkan harta keluarganya saja, dan itulah aku, aku sukses dan aku tidak mengandalkan harta keluargaku, jadi aku merasa dengan sangat yakin bahwa pinanganku pasti akan diterimanya, terlebih lagi, ternyata kami sudah sering bekerja sama dan dia tahu pasti bagaimana diriku.” Jelas Ditya acuh sambil memperhatikan dirinya di cermin, setelah dirasa sempurna, dia akhirnya membalikkan badannya dan menghampiri Krishna yang sedang berdiri di pintu kamarnya, “Ayo, aku tidak ingin membuat calon tunanganku menunggu lama.” Lanjut Aditya tersenyum lebar sambil menggiring Krishna keluar.
!!!
            Divya masih sibuk menghapus riasannya dan berfikir keras, dia tidak menikmati pesta pertunangan tadi, tetapi bukan itu yang sedang dia fikirkan, dia tidak menyangka jika calon suaminya adalah Aditya Sharma, Aditya yang sama yang menabrak bemper depan mobilnya, dia bahkan sudah tidak pernah memikirkan dia, dan tak benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa Ayahnya menerima pinangan dari keluarga Sharma, apakah mereka sempat bekerjasama sehingga dengan yakin Ayahnya menerima pinangan mereka? Lamunan Divya terhenti karena Bibinya meminta izin masuk ke dalam kamarnya,
“Divya, apakah Bibi boleh masuk?” Tanya Nandini di depan pintu.
“Masuk, Bi.” Jawab Divya sambil meneruskan kegiatannya.
“Bagaimana? Apa kau menyukai calon suamimu?” Tanya Nandini setelah mendekati Divya dan memperhatikan raut wajah Divya.
“Apa aku masih punya pilihan, Bi?” Jawab Divya sedih sambil menghentikan kegiatannya.
“Maafkan Bibi sayang, Bibi tidak bermaksud seperti itu.” Jelas Nandini prihatin dan langsung memeluk Divya.
“Divya mengerti, Bi.” Jawab Divya sambil tersenyum, mencoba menenangkan Nandini.
“Kau tahu, Ayahmu tidak mungkin menjerumuskanmu, dia pasti punya pertimbangan khusus mengapa menerima pinangan mereka. Yang Bibi dengar, Aditya sangat bertanggungjawab, dia benar-benar menyayangi keluarganya, dan yang pasti dia mampu untuk membahagiakanmu. Cobalah berdamai dengan hatimu, kau pasti bisa melewati semua ini, maafkan Bibi yang tidak mampu berbuat apa-apa.” Jelas Nandini tanpa melepaskan pelukannya.
“Akan ku coba, Bi.” Jawab Divya pasrah, menyadari dengan pasti hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
“Ngomong-ngomong kenapa Gauri tidak datang tadi?” Tanya Nandini setelah melepaskan pelukannya.
“Aku juga tidak tahu, Bi, aku sudah menghubunginya berkali-kali tetapi teleponnya tidak aktif.” Jawab Divya murung, dia tidak menyangka Gauri meninggalkannya di saat dia sangat membutuhkannya.
!!!
            Hari pernikahan pun tiba, setelah kedua keluarga sepakat untuk mempercepat hari pernikahan anak-anak mereka karena Aditya yang harus segera ke New York sebelum akhir tahun ini, yang itu berarti mereka hanya punya waktu 1 bulan penuh menyiapkan pernikahan yang diinginkan kedua keluarga.
“Hei, warna mehendi mu sangat bagus, kau tahu artinya ini? Ini berarti pernikahan kalian akan bahagia, karena calon suamimu itu sangat mencintaimu.” Ujar Gauri saat melihat mehendi di tanganku.
“Aku pikir kau tidak akan datang, Gauri. Persis seperti 1 bulan lalu di hari pertunanganku.” Sindirku, dan ketika aku melihat wajahnya, aku melihat ada yang aneh darinya, dia agak pucat, apa dia sakit?
“Hei, aku kan sudah meminta maaf padamu.” Elak Gauri mendekatiku.
“Iya, dan kau baru melakukannya 1 minggu setelah pertunanganku, apa saja yang kau lakukan selama itu?” Tuntutku sambil melotot ke arah Gauri, dan dia terlihat sedikit gemuk, apa yang terjadi?
“Aku, aku kan sudah menjelaskannya kepadamu.” Rengek Gauri sambil membantuku memakaikan gelang, dan dia tiba-tiba saja terlihat seperti ingin muntah.
“Kenapa? Apa kau baik-baik saja Gauri?” Tanyaku panik.
“Tidak, aku tidak apa-apa.” Elaknya dan dia langsung berlari ke kamar mandi.
“Divya, ayo waktunya sudah tiba.” Ajak Nandini saat memasuki kamar Divya, dan dia langsung takjub setelah melihat Divya dalam pakaian pengantinnya. “Ya Tuhan, Divya, kau sangat cantik, kau benar-benar mirip dengan Priya.” Lanjutnya dan tak terasa air mata menetes, dia hampir melupakan bagaimana wajah cantik Priya saat dia menikah dengan Mahesh dulu, dan sekarang dia seperti kembali ke masa itu, melihat dengan persis kecantikan Priya di wajah Divya saat ini.
“Bibi, jangan menangis, nanti aku akan menangis juga.” Bujuk Divya sambil menghapus airmata Nandini.
“Oh, sayang, maafkan Bibi, tetapi ini airmata bahagia. Bibi senang, sayang.” Jelas Nandini sambil memeluk Divya, “Ayo, rombongan pengantin pria sudah datang.”
            Dengan pasrah Divya mengikuti Nandini, merasa kakinya sangat berat, ingin rasanya dia berlari jauh, tetapi itu tidak mungkin, dan dia tidak punya pilihan lain, selain mengikuti semua prosesi pernikahan hari ini dan dengan teguh memasang wajah datar, mencoba menahan airmatanya yang sudah tidak kuat lagi dia bendung. Dengan enggan, dia mengikuti semua yang diperintahkan kepadanya, termasuk saat dia harus mengalungkan bunga ke pengantin pria ataupun sebaliknya, bersama-sama menuangkan air suci, menerima dengan lapang dada saat sindoor ditorehkan di belahan rambutnya, menegakkan lehernya saat Manggalsutra dipasangkan di lehernya, hingga tiba saatnya mengelilingi api, Divya tidak bisa lagi menahan airmatanya, dengan berat hati, dia mengikuti Aidtya yang sekarang sudah resmi sebagai suaminya mengelilingi api dan prosesi ditutup dengan meminta restu dari kedua keluarga.
            Hingga saat Divya harus memasuki mobil pengantinnya dan menuju rumah barunya, rumahnya bersama Aditya, suaminya, Divya tidak bisa membendung airmatanya lagi, dia bahkan tidak mau melepaskan pelukan Ayahnya, sampai di dalam mobil pun dia masih terus menangis memandangi Ayahnya yang semakin mengecil, karena dia sudah menjauhi rumah Ayahnya, rumah yang telah menaunginya selama 24 tahun hidupnya dan menuju rumah untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama orang yang belum dikenalnya dengan baik, serta keluarga baru asingnya.
!!!
            Divya sudah duduk dengan wajah yang ditutupi oleh selendangnya di tengah-tengah ranjang pengantinnya, menunggu dengan cemas Aditya datang dan membuka selendangnya. Lalu, apakah dia akan menyerahkan semuanya dengan pasrah malam ini? Ataukah dia akan mempertahankan prinsipnya? Dia terus saja memikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang akan dia lakukan, Aditya tahu dengan pasti, bahwa dia sudah mempunyai pacar, dan seharusnya dia akan mengerti apa yang akan dia lakukan nanti, dia tidak mungkin memaksanya bukan? Dan lamunannya terhenti, karena Aditya masuk dan dengan mantap dia mendekati Divya di tengah ranjang, sementara itu, jantung Divya berdegup dengan kerasnya, dia gugup, dan menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat.
            Tanpa disadari Divya, Aditya ternyata sudah membuka selendangnya dan seketika itu juga dia melihat dengan jelas warna mata Aditya, biru terang, seterang langit cerah, mereka bertatapan sejenak, Divya tersentak saat merasakan tangan Aditya yang mencoba melepaskan genggaman tangan Divya, entah darimana datangnya, Divya merasakan seperti tersengat listrik, dan seakan tersihir, Divya tak bisa berbuat apa-apa, Divya lalu mendengar suara lembut di telinganya, “Kau cantik sekali, Nyonya Aditya Sharma.” Setelah itu merasakan kecupan lembut di keningnya, dan seketika itu juga dia seperti tersadar dari mimpinya, dia langsung bergeser, menjauhi Aditya, tetapi Aditya hanya tersenyum mengerti.
“Kau tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu selama kau belum siap, kita masih punya ribuan malam selama kita hidup, dan aku akan sabar menunggu.” Jelas Aditya lembut tanpa melepaskan pandangannya dari Divya.
“Terimakasih.” Jawab Divya sambil menunduk, merasa malu karena diperlakukan seperti itu.
“Tidurlah, kau pasti lelah, besok kita akan langsung berangkat ke New York.” Perintah Ditya dan langsung menuju kamar mandi.
!!!
            Tak terasa 4 tahun sudah berlalu, dan Divya mengikuti Aditya menetap di New York, hingga saat ini hubungan mereka baik-baik saja, Divya sudah mulai menerima Aditya sebagai suaminya, menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang istri, terkecuali masalah ranjang. Aditya benar-benar menepati janjinya, dan hingga saat ini dia belum disentuh oleh Aditya, mereka memang tidur di kamar yang sama, tetapi di ranjang yang berbeda, Aditya selalu tidur di sofa sedangkan dirinya di ranjang, dan Dvya tersentuh karenanya. Mereka selalu memperlihatkan kebahagiaan sepasang suami istri di hadapan keluarga, tetapi mereka tetaplah sebagai seorang sahabat jika hanya ada mereka, hubungan yang sudah mereka mulai sejak mereka menikah.
            Lalu, apa dalam 4 tahun ini dia tidak merasa berdebar saat di dekat Aditya? Selalu, Divya tidak pernah bisa mengendalikan debaran jantungnya setiap mereka berdekatan, walaupun mereka melakukan itu hanya di depan orang-orang, tetapi terkadang hati kecilnya mengharapkan hubungan mereka bisa senyata hubungan suami istri yang lainnya. Apa Aditya tidak pernah mencintainya? Tidak, masalahnya bukan itu, Aditya sudah berulangkali memberitahukan bahwa dia sangat mencintainya, selalu memperlakukannya dengan lembut, dan Divya bersyukur karenanya, lalu mengapa dia tidak bisa membalas perasaan Aditya? Apakah karena Raj? Karena dia masih mencintai Raj atau karena dia masih merasa bersalah dengan Raj? Ataukah sebenarnya dia sudah mulai mencintai Ditya tetapi tidak berani menyatakannya dengan baik?
“Divya, apa semua sudah kau siapkan?” Tanya Devi, Ibu Mertua Divya membuyarkan lamunannya.
“Sudah, Bu. Semua sudah Divya siapkan.” Jawab Divya sambil menyibukkan diri kembali membereskan baju-baju.
“Kalian akan meninggalkan Ibu selama beberapa minggu, Ibu sedih.” Ucap Devi, setelah mendekati Divya.
“Ibu, kami hanya akan pergi beberapa minggu, kenapa Ibu bersikap seolah-olah kami akan meninggalkan Ibu bertahun-tahun?” Jelas Divya menahan tawa.
“Divya, apa Ibu bisa meminta sesuatu darimu?” Tanya Devi hati-hati.
“Apa itu, Ibu?” Jawab Divya penasaran.
“Ibu ingin sepulangnya kau dari Indonesia, kau membawakan berita bahagia untuk Ibu.” Jelas Devi sambil menatap wajah menantunya yang disayanginya.
“Akan Divya usahakan yah, Bu.” Jawab Divya sambil tersenyum, dan tak lama Devi meninggalkan Divya sendirian di kamarnya setelah sebelumnya mencium kening DIvya. Divya sudah kebal dengan semua omongan jelek tentang dirinya yang menahan mempunyai anak, tetapi dia tidak pernah bisa kuat melihat raut wajah Ibu mertuanya yang menahan sedih setiap kali ada omongan seperti itu, dan apakah sekarang saatnya dia mengizinkan Aditya untuk memilikinya sepenuh hatinya?
Tak terasa, air mata Divya jatuh dan tangis pun pecah, dia menyadari siapa yang paling terluka dari keegoisannya, dan dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada Aditya, karena dia yang telah memulai semua ini.
“Maafkan aku, Ibu. Aditya, apa yang harus aku lakukan?” Gumam Divya dan langsung berlari ke kamar mandi dan tak menyadari Aditya yang mendengar semuanya.
!!!
“Krishna, aku butuh bantuanmu.” Ucap Aditya di telepon.
“Apa yang bisa aku bantu kawan?” Tanya Krishna di seberang telepon.
“Tolong kau hias kamarku seperti layaknya kamar pengantin.” Pinta Aditya mantap.
“Apa sekarang saatnya?” Tanya Krishna meyakinkan.
“Ya, sekarang saatnya. Aku tidak tahan dengan semua omongan jelek tentang Divya, aku mampu bertahan 4 tahun ini menepati janjiku, tetapi tidak tahan melihat airmata Divya, akan ku pastikan Divya mengandung anakku dan membungkam semua omongan orang-orang.” Geram Aditya.
“Baiklah, akan aku lakukan.” Jawab Krishna mengerti.
“Terimakasih banyak, kawan.” Pamit Ditya dan dia langsung menutup teleponnya.
!!!
“Hei, apa yang kau lakukan?!” Tanya Divya setengah protes saat Aditya menggendongnya keluar dari mobil, “Turunkan aku, aku masih bisa berjalan sendiri.” Lanjutnya sambil menghentak-hentakkan kakinya.
“Tidak akan, aku akan menurunkanmu saat kita sudah sampai.” Goda Aditya sambil menyeringai.
“Apa maksudmu?” Tanya Divya tanpa mau menuruti permintaan Aditya.
“Kau diam saja dan lihatlah.” Jawab Aditya jahil.
            Divya akhirnya terdiam ketika melihat ke dalam rumah, semua dihiasi bunga, seperti ada pernikahan, persis seperti dia pertamakali menginjakkan kakinya ke dalam rumah ini, dan semakin terkejut begitu memasuki kamarnya, persisi seperti kamar pengantin.
“Ditya?” Tanya Divya takjub melihat ke sekeliling kamarnya.
“Divya, aku rasa ini sudah waktunya, apakah kau mengizinkanku?” Tanya Divya setelah membaringkan Divya di ranjang penuh bunga, Divya bimbang, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, sampai akhirnya dia terngiang kembali perkataannya Ibu Mertuanya.
“Aku mengizinkanmu, Aditya.” Jawab Divya pasrah, dan seketika itu juga jantungnya berdegub dengan kencang, tak tahu harus berbuat apa, Divya pun  pasrah menerima semua perlakuan Aditya.
“Aku mencintaimu, Divya Sharma.” Ucap Ditya lembut di telinga Divya sambil mengecup kening Divya dan mulai mencumbunya.
!!!
            Divya terbangun dalam dekapan Ditya, merasakan debaran jantung Aditya, mengingat kembali apa yang sudah terjadi semalam, dan seketika itu juga Divya merasa malu, dia langsung duduk, mencari-cari pakaiannya yang sudah tersebar entah kemana, dan hendak berlari ke kamar mandi, dia merasakan tangannya di tahan, ketika menoleh, dia mendapati Aditya yang sedang tersenyum melihatnya.
“Mau kemana, Nyonya Aditya Sharma?” Ledek Aditya.
“Lepaskan tanganku, aku ingin ke kamar mandi.” Jawab Divya dengan pipi yang merona merah, dan ketika dia mau bangkit, tiba-tiba saja dia sudah ditindih oleh Aditya, “Hei, apa yang kau..?” belum selesai Divya bicara, Aditya sudah menciumnya.
“Aku masih ingin melanjutkan apa yang sudah kita lakukan semalam.” Jelas Aditya, dan seakan tidak mengizinkan Divya untuk berfikir, Aditya sudah merayu Divya kembali hingga pasrah di bawahnya.
!!!
“Divya!” Divya menoleh merasa ada yang memanggilnya, dan dia langsung terkejut menyadari siapa yang memanggilnya, Raj? Sudah 1 bulan dia di sini dan kenapa dia harus bertemu dengan Raj?
“Raj?” jawab Divya meyakinkan dirinya sendiri.
“Ternyata benar kau. Aku tak menyangka kita akhirnya bertemu di sini, ku dengar kau menetap di New York?” Tanya Raj lega.
“Iyah, aku memang menetap di sana, aku kemari untuk menemani Aditya selama dia menyelesaikan pekerjaannya di sini.” Jelas Divya tak nyaman, dari sekian banyak orang di mall ini kenapa dia harus bertemu dengan Raj? “Apa kita bisa berbincang-bincang? Aku tidak akan melakukan apapun, hanya mengobrol.” ajak Raj meyakinkan Divya yang terlihat bimbang.
“Baiklah.” Jawab Divya pasrah.
!!!
            Sejak kejadian itu, Divya dan Raj jadi rutin bertemu setiap makan siang, setiap perbincangan mereka secara tak sadar membangkitkan kembali perasaan mereka masing-masing, atau setidaknya begitulah yang dirasakan Raj. Hingga akhirnya Raj memberanikan diri datang ke rumah Divya setelah Raj yakin bahwa Aditya sedang tidak berada di kota ini, mencoba memanfaatkan kesempatan. Dia tidak akan melepaskan Divya lagi.
“Raj? Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Divya setelah menyuruh Raj masuk, dan langsung menyesal, karena dia baru menyadari dia sendirian di rumah, Daijjan, pembantunya, sedang menemui keluarganya.
“Aku merindukanmu, Divya, sangat.” Raj pun langsung mencium Divya, tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara ataupun menolak apa yang akan dilakukannya.
“Raj…” Erang Divya tanpa sadar karena sudah dikuasai nafsunya, menikmati setiap sentuhan yang diberikan Raj, tetapi jauh di dalam, nuraninya memberontak, mencoba mengingatkan bahwa ini salah, ini tidak boleh dilanjutkan, tetapi dia tidak kuasa menahannya, Raj terlalu ahli menggodanya.
“Ya, Divya, sebut namaku, aku mencintaimu, selalu. Selama 4 tahun ini aku tidak pernah melupakanmu, kau selalu hadir dalam mimpiku, bahkan namamu yang selalu kusebut dalam setiap orgasmeku bersama Gauri.” Jelas Raj di sela-sela cumbuannya, dan seketika itu juga Divya seakan tersadar, tersadar dari kesalahan besar yang hampir saja dilakukannya.
Apa yang menguasainya tadi?! Tidak mungkin dia mengkhianati Aditya, suaminya, tidak mungkin dia dengan tega melakukan itu semua setelah semua yang telah dilakukan Aditya. Dan apa yang dikatakannya tadi? Gauri? Dia menyebut nama Gauri? Saat itu juga dia mendorong Raj keras, sangat keras sampai Raj akhirnya terduduk di sofa dan melihat ke arah Divya tak percaya, apa yang salah? Mengapa Divya mendorongnya?
“Apa yang kau lakukan?!” teriak Divya frustasi sambil membetulkan bajunya.
“Apa yang salah Divya? Apa aku melakukan kesalahan?” Tanya Raj tak percaya dan mulai mendekati Divya.
“Hentikan! Atau aku akan berteriak dan menelepon polisi untuk menangkapmu!” Ancam Divya ketika melihat Raj mendekat dan segera menjaga jarak, mencari sesuatu yang bisa menjaganya, dan dia frustasi karena tidak melihat apapun yang bisa dia pegang.
“Kenapa Divya? Kenapa kau melakukan ini padaku?” Tanya Raj.
“Kenapa katamu?! Aku sudah menikah! Dan kau juga! Apa yang kau fikir akan kau lakukan?! Kau sudah menikah dengan Gauri! Sahabatku!” Teriak Divya tak habis fikir.
“Bagaimana kau bisa tahu aku menikah dengan Gauri?” Raj tak percaya yang di dengarnya.
Bagaimana bisa Divya tahu semua itu? Selama ini dia tidak pernah mengatakan dengan siapa dia menikah, dia hanya mengatakan jika dia sudah menikah
“Itu terjadi tidak sengaja, Divya. Tepat di malam pertunanganmu, aku mabuk, dan aku bertemu dengan Gauri yang sudah rapih untuk menghadiri pertunanganmu. Aku bahkan membayangkan kau selama itu terjadi, aku tidak tahu kalau itu bisa membuat Gauri hamil sehingga kami terpaksa menikah 2 bulan setelah pernikahanmu dan aku mengancamnya, jika dia berani memberitahukanmu tentang pernikahan kami, maka aku akan meninggalkannya, menjadikannya seorang janda! Itu semua tidak sengaja Divya” Jelas Raj setengah memohon.
“Pergi! Cepat pergi dari sini!” usir Divya sambil mendorong Raj sekuat tenaganya, dia langsung mengunci pintunya rapat-rapat, dan langsung berlari ke kamarnya, menangisi apa yang baru saja terjadi, apa yang hampir saja akan dia lakukan, dia menyesal, sangat menyesal. Dan akhirnya semua pertanyaannya terjawab, mengapa Gauri tidak datang saat pertunangannya, mengapa di hari pernikahannya Gauri pucat dan selalu ke kamar mandi untuk muntah karena alasan yang tak jelas. Tetapi, sakitkah dia mendengar kenyataan tadi? Tidak, anehnya dia tidak merasakan sakit sama sekali, tetapi justru perasaan lega, lega yang teramat sangat. Rasa bersalahnya meninggalkan Raj tiba-tiba menguap begitu saja setelah mendengar semua itu.
!!!
“Tinggalkan aku, Raj! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, kejadian kemarin adalah kesalahan terbesar yang tidak akan aku ulangi lagi.” Ucap Divya dingin di café saat Raj terus saja mengganggunya dan memintanya untuk bertemu.
“Tidak, dengarkan aku dulu, Divya. Aku benar-benar minta maaf, tetapi saat itu aku melakukannya karena mabuk, aku bahkan tidak menyangka jika Gauri bisa hamil hanya dengan hubungan 1x itu.” Jelas Raj dengan nada memelas.
“Kau tidak mengerti, aku tidak menyalahkanmu karena kejadian itu, itu urusanmu, urusan kalian, dan aku tidak mau lagi mencampuri urusan kalian. Jadi, tinggalkan aku, lupakan aku, dan berbahagialah dengan Gauri dan anakmu.” Divya mengucapkannya sambil bersiap untu pergi, tetapi terhenti karena tangannya ditahan oleh Raj.
“Kumohon, Divya, maafkan aku. Aku mencintaimu.” Pinta Raj.
“Cinta? Kau bahkan tidak tahu apa arti cinta, karena jika kau tahu, kau tidak akan berada di sini.” Jawab Divya tanpa menoleh lagi.
“Kau salah, Divya. Aku tahu pasti apa itu Cinta. Cintaku adalah kamu, dan aku akan memastikan, jika aku tidak bisa mendapatkan cintaku, maka orang lain pun tidak.” Gumam Raj penuh arti.
!!!
“Apa?! Itu tidak mungkin!” Teriak Divya histeris saat mendengar kabar dari polisi yang datang ke rumahnya bahwa mobil yang dikendarai Aditya mengalami kecelakaan dan jatuh ke jurang, dan sampai saat ini Aditya dan supirnya belum diketahui keberadaannya. Dia merasa lemas, samar-samar dia mendengar pembantunya berteriak.
“Nyonya!” Teriak Daijjan, dan semua menjadi gelap.
!!!
Ketika membuka mata, Divya menyadari ini bukan rumahnya, semua serba putih, dia merasakan ada selang oksigen yang menempel di hidungnya, dan mulai mengingat kembali apa yang sudah terjadi, dia langsung menangis.
“Divya?” panggil seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu, nafasnya terengah-engah habis berlari, dan Divya langsung menoleh.
“Ditya?! Aditya?! Kaukah itu? Apa aku bermimpi?” Tanya Divya sambil mencoba untuk bangun, dan langsung tertahan karena ternyata Aditya sudah langsung memeluknya.
“Iya, sayang, ini aku. Kau tidak bermimpi.” Jelas Aditya tanpa melepaskan pelukannya.
“Tapi, tapi, kata polisi…” Divya masih tidak percaya, tetapi dia bersyukur, sangat bersyukur, dan Divya pun menangis, menangis bahagia.
“Iya, mobilku memang masuk jurang, tetapi aku selamat, dan langsung pulang, ketika aku sampai di rumah, aku mendapatimu pingsan, dan langsung membawamu kemari. Aku baik-baik saja, kau tenanglah.” Jelas Ditya sambil menghapus airmata Divya dan memeluknya kembali.
“Oh, Aditya… Aku pikir, aku pikir…” sahut Divya tenang.
“Sssh, tenanglah Divya, jangan berfikir macam-macam. Ada yang harus aku beritahukan kepadamu.” Jelas Ditya sambil melepaskan pelukannya.
“Tidak, tidak, aku dulu, ada yang harus aku beritahukan kepadamu. Saat kau pergi, aku hampir melakukan suatu kesalahan, Raj, Raj datang ke rumah lalu…” penjelasan Divya terpotong karena Ditya mencium Divya bermaksud untuk menenangkan Divya.
“Aku tahu, percayalah, aku tahu semuanya. Dan kau bertindak dengan tepat,” potong DItya.
“Bagaimana bisa?” Tanya Divya tak percaya.
“Sebenarnya malam itu, aku kembali ke rumah karena ada yang tertinggal, dan aku melihat serta mendengar semuanya, kau tidak usah takut, aku tidak menyalahkanmu.” Jelas Ditya menenangkan Divya.
“Maafkan aku, Ditya.” Pinta Divya dan Ditya langsung tersenyum serta mencium keningnya.
“Lalu, sekarang giliranku. Terimakasih banyak, Divya.” Ucapnya sambil mengelus perut Divya.
“Terimakasih? Untuk apa?” Tanya Divya bingung.
“Terimakasih karena kau telah mengandung anakku.” Jawab Ditya, dan Divya langsung terkesiap.
“Apa? Apa maksudmu?” ujar Divya tak percaya apa yang didengarnya.
“Iya, kau hamil, sayang. Kau hamil!” jelas Ditya bahagia dan langsung memeluk Divya.
“Hamil? Aku hamil?” Tanya Divya tak percaya.
“Ya!” Jawab Ditya antusias, dan mereka tertawa, bahkan tanpa sadar mereka menangis bahagia, untuk sesaat mereka saling menghapus airmata kebahagiaan masing-masing.
“Ditya, bisakah kita kembali ke New York? Aku lelah, aku ingin kita kembali ke New York secepatnya.” Pinta Divya.
“Kembali? Baiklah, kita akan kembali. Tetapi sebelumnya kita harus membicarakan mengenai hal ini dahulu ke dokter, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu maupun bayi kita. Kita akan memulai hidup kita yang baru di sana.” Jelas Ditya sambil mencium kening Divya.
“Ya, hidup baru kita.” Ulang Divya penuh arti sambil tersenyum dan memegang wajah Ditya.

-THE END- 


25 comments:

  1. keereenn...!!! ><b
    suka deh sma ditya nya.. co cuuiittt..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mba Adeliaaaa.... hehehe (mewakili Ditya)
      mksh udah mw baca cerita Vie yang ancurr ini n komen
      :D *membungkuk dalam2*

      Delete
  2. keren,,,ditya,,,your hero

    ReplyDelete
    Replies
    1. mksh udah mw baca cerita Vie yang ancurr ini n komen
      :D *membungkuk dalam2*

      Delete
  3. Kereeennnn bgtttttt
    :'(
    Dityyaaa... Love u..:*:*:*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiiiihh Mba Mendy,, btw koq nangis?? khan Happy Ending... *pukpuk Mba Mendy*
      mksh udah mw baca cerita Vie yang ancurr ini n komen
      :D *membungkuk dalam2*

      Delete
  4. suka deh sama ditya
    ttp sabar nunggu divya buka hatinya buat ditya
    untung aja si divya ga kebablasan sama raj ya
    bisa bahaya tu ntar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mba Ernaaaa... *mewakili Ditya*
      iya yah, bahaya ntuh..
      mksh udah mw baca cerita Vie yang ancurr ini n komen
      :D *membungkuk dalam2*

      Delete
  5. Keder bacanya... Paragraf nya terlalu rapeettt.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. waahh,, iyaahh,,, Maap Mba Sandra.. *nunduk*

      Delete
  6. keren mb pie ceritanya
    thanks mb vie thanks mb shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aiihh ada Ekaaaa....
      Makasiiihhh Ekaaaaa...
      mksh udah mw baca cerita Vie yang ancurr ini n komen
      :D *membungkuk dalam2*

      Delete
  7. unik tema indiahe.....hbs baca langsung joged india hahahah thank mbk pie & mbk cin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe,, *langsung nyetel lagu india bwt Nong*
      xixixixi
      mksh udah mw baca cerita Vie yang ancurr ini n komen
      :D *membungkuk dalam2*

      Delete
  8. Nehi2 ketumbar jahe, eh ad indiahe,wakakakka
    Ikutan joget indiahe sama nong :p
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea vie,mba cin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Ndong jualan Bumbu dapur sekarang?? xixixi
      mksh udah mw baca cerita Vie yang ancurr ini n komen
      :D *membungkuk dalam2*

      Delete
  9. huaaa,,, udah tayang.....
    *nutup muka*
    makasiiiihhhh Mba Ciinn udh ngizinin cerita Vie yang ancur ni tayang di sini, *membungkuk dalam2*

    ReplyDelete
  10. Xixixi nuansa indiahe ini. Jangan2 suka hindi yah. Sama dong. Suka sm si aditya ini sabar banget, and tulus. Seandainya cow kayak gini banyak dan mudah dicari ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alloooowww,,nama qt hmpir sm yah,,salaaammmm kenaalllll... Hehehhe
      Iyah,,Vie sukaaaa (pake bgt) sm Indiahe,,*tooosss*
      Mau Vie psenin?? Xixixi
      Mksh udh bc crta Vie yg ancurr ni n komen..
      :D

      Delete
  11. Vie..agak binun aq ama margany si Adit, Is it Aditya Sharma atw Aditya Kanna??

    Suka ama tema ceritanya..thankies sweetie..
    Keep writing yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaaa,,iyaahhhh trnyt d typooooo *nunduk*
      Makasiiihhh Mba Riiisss,,hrsny Aidtya Sharma,,bkn Kanna (ktauan galau sm margany)

      Sama2 Mba Riiisss,,
      Mksh udh bc n komen...
      :D

      Delete
  12. mba vie keren critanya...suka bangett..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiihhhh Mba Liaaa...
      Mksh udh bc n komen..
      :D

      Delete
  13. Jrang2 dpat tema india bgni..... Huhuhu keren jga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. authornya penggemar berat film India soalny sist. wkwkkwkwkw :peace vie:

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.