"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, May 25, 2013

CERMIN 7 - CLBK SERIES - Over The Rainbow oleh Shin Haido

Sebelum membaca cermin ini, harap maklum... saya menulis cerita ini di saat saya sedang mengalami berbagai masalah kehidupan dimana pada akhirnya saya terpaksa meletakkan semua tulisan saya dan tidak bisa saya lanjutkan. Namun tulisan ini akhirnya saya lanjutkan meskipun hasil akhirnya mungkin agak berbeda dengan hasil akhir yang pertama saya bayangkan. Selamat membaca, semoga tidak membuat pembaca bosan, karena jujur... saya sungguh sulit untuk menulis di saat pikiran sedang kalut dan sudah tidak bisa bermimpi lagi. Love you all Dear Readers..

Story by +Shin Haido 



Kubuka lagi handphoneku, menunggu sms balasan darinya. Sudah tiga jam lamanya sms terakhirku kukirimkan pada nomer handphone suamiku, tapi hingga kini belum satupun dia jawab. Hatiku semakin gundah dan tak pasti, di usia perkawinan kami yang baru seumur jagung, kami telah dilanda permasalahan yang membuat hatiku menangis darah. Bukan karena dia berkhianat atau setidaknya itulah yang aku tahu.


Memang keadaan ekonomi keluarga kami tidak bisa dibilang baik, suamiku bekerja keras untuk mempertahankan tokonya, bekerja siang – malam, tiba di rumah hingga tengah malam. Awalnya aku tidak terbiasa dengan cara kerjanya yang seperti ini, kami kerap kali bertengkar masalah ini namun kemudian karena lelah bersilat lidah hampir setiap hari, akupun  mengalah, asalkan dia benar-benar serius bekerja, yang tentunya untuk kami sekeluarga.

Kami belum dikarunia keturunan, aku belum tertarik untuk itu. Kehidupan kami yang masih morat-marit, yang bahkan tak sanggup memenuhi kebutuhan bulanan apalagi menghidupi seorang anak manusia yang tentunya membutuhkan biaya dan tanggung jawab yang tak sedikit. Karena seburuk itulah keadaan kami. Aku berpikir, seandainya suatu saat nanti hubungan kami tiba di titik terendah, setidaknya... aku tak perlu memikirkan seorang anak yang harus kurawat bila kami berpisah nanti.

Memikirkan kami akan berpisah teramat sangat menyedihkan untukku. Apapun alasan kami menikah dulu dan apa yang telah kami alami hingga saat ini, rasa itu telah terkikis hingga yang tersisa hanyalah tanggung jawab yang mulai menipis. Hatiku tidak sanggup dilanda ombak badai yang sebenarnya datang dari ke tidak perdulian dia seorang, dari kebohongan-kebohongannya yang telah membuatku hilang kepercayaan padanya. Dari ketidak jujurannya yang berbuah kemarahanku yang dianggapnya angin lalu. Apa yang kukatakan, apa yang kuperintahkan tidak pernah bertahan lebih dari dua hari. Semua masuk ke dalam telinga kanannya, singgah di kepalanya dan keluar lagi melalui telinga kirinya. Aku merasa diriku hanya dianggap boneka olehnya, tidak dihargai sebagai manusia, sebagai seorang istri yang memerlukan penghormatan, teladan dan dorongan dari dirinya selaku kepala keluarga kami.

Aku berbaring lemah di atas ranjang yang dingin, sudah pukul satu dini hari dan air mataku turun kian deras tak bisa kutahan. Kuingat-ingat lagi kenangan-kenangan manis kami yang hanya membuatku semakin terisak, mataku sembab, hidungku bengkak, aku depresi, aku gundah dengan hubungan kami. Haruskah kuputuskan pernikahan ini demi kebaikanku? Tapi... statusku di masyarakat akan berubah dan banyak orang akan bergunjing padaku. Aku tak ingin hal itu terjadi, sungguh neraka bila hal itu harus kulalui juga.

Hingga mataku terpejam tak ada satupun balasan darinya lagi. Sebelumnya dia hanya mengirim sebuah pesan dengan jawaban yang tak bisa memuaskanku. “Tidak tahu,” begitu tulisnya.

Bila dia seorang laki-laki sejati, seharusnya bukan itu jawaban yang dia berikan padaku. Seharusnya dia tidak lari dari tanggung jawabnya, seharusnya pula dia berani menanggung semua akibat dari setiap perbuatannya dan bukannya bersembunyi dengan alasan-alasan yang membuat orang lain muak. Dia sungguh tebal muka, sungguh tak punya rasa malu dan rasa bersalah. Aku menanyakan diriku bagaimana mungkin aku pernah merasa ‘cinta’ pada laki-laki seperti ini dulu.

Aku terbangun dengan mata bengkak dan merah, hidungku juga tak kalah mengenaskannya saat kulihat wajahku di cermin. Dengan limbung aku membersihkan tubuhku di dalam kamar mandi, menyeka sisa-sisa air mata bekas semalam, menyegarkan tubuhku dengan harapan hariku akan lebih baik dari hari kemarin. Aku berdoa agar hidupku dimudahkan, bila memang benar doa itu berguna.

Dengan bedak tipis dan riasan secukupnya, aku mencoba menyembunyikan samar-samar bekas tangisanku. Menatap miris pada bayanganku di cermin, wajah wanita dewasa berusia dua puluh delapan tahun yang seharusnya ceria dan gembira dengan sebuah rumah tangga yang dinanti-nanti oleh orang banyak. Disini justru aku memandang sedih pada diriku, berharap banyak pada sebuah hubungan yang bernama pernikahan, namun sekarang... rasanya aku lebih memilih untuk menjadi seorang wanita karir singel, mandiri dan tentunya percaya diri karena tak ada satu laki-lakipun yang akan menyakitiku.

Dengan motor maticku, aku membelah jalanan pagi dengan perasaan campur aduk. Aku tidak bisa melepaskan masalahku karena begitulah aku, hatiku terlalu cepat merasakan kesakitan, kegembiraan dan semuanya itu mempengaruhiku dengan cepat. Kuperbaiki spion motorku, memeriksa standar motorku, setidaknya meskipun masalah dalam kepalaku belum terpecahkan, aku tidak perlu hilang konsentrasi mengenai keselamatanku berkendaraan.

Angin dingin udara pagi menerpa wajahku, meniup rambut panjangku yang sengaja kugerai, bila tiba di kantor, barulah akan kuperbaiki di toilet office. Aku bekerja di sebuah kantor firma hukum milik seorang pengacara handal di kotaku, sudah lima tahun lamanya aku bertahan disini dengan gaji yang sepadan dengan energi dan pikiran yang kuberikan sepenuhnya pada pekerjaan ini. Aku memang tidak banyak mengurusi masalah hukum seperti pekerja lain, aku lebih mengurusi administrasi dan keperluan kantor atau mempersiapkan apapun yang diperlukan oleh pengacara-pengacara kami sebelum pergi ke pertemuan atau pengadilan. Aku hanyalah seorang lulusan SMU, sejak dulu ingin menyambung studiku namun karena usia yang sudah terlalu ‘tua’ keinginan itu kusampingkan dan memilih menikah dengan suamiku sekarang setelah tiga tahun kami berpacaran.

Mungkin aku adalah wanita naif, dengan semua pertengkaran kami di masa lalu tidak juga membuatku membuka mata akan kemungkinan yang bisa kudapat setelah kami berumah tangga nanti. Suamiku adalah laki-laki yang mudah memutuskan namun tidak bisa bertanggung jawab dengan keputusannya. Dia lebih memilih menghindar dan melemparkan masalahnya pada orang lain atau mungkin... sesumbar untuk bunuh diri. Benar-benar laki-laki tak bertanggung jawab. Semakin kupikirkan tabiatnya, semakin besar pula kebencianku padanya. Aku ragu bila memang aku masih memiliki rasa cinta padanya selain rasa kasihan dan keinginanku untuk tidak merubah statusku menjadi janda.

Kupoles lagi tipis-tipis lipstick di bibirku, warna merah cerah yang membuat wajahku yang agak putih bersih terlihat bersinar. Aku harus menampilkan sinar percaya diri hari ini untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan tak penting dari rekan-rekan sejawatku di kantor. Mereka terkadang sangat senang mencampuri urusan orang lain meski kami tidak sedekat itu. Ya, aku juga tidak memiliki banyak teman, aku terlalu larut dalam hidup kesendirianku, aku lebih senang menyepi seorang diri, hidup dalam kesunyian dan kedamaian hati, meski kuakui sesungguhnya tiada kedamaian yang kudapatkan akhir-akhir ini dengan kesendirianku.

Kurapikan kembali blazer hijau muda yang kukenakan, melihat untuk yang terakhir kali penampilanku di cermin, mengangguk mantap karena puas dengan apa yang kulihat dan beranjak keluar dari toilet menuju kantorku untuk melaksanakan tugasku yang sudah menumpuk.

Ketika waktu makan siang tinggal setengah jam lagi, atasan langsungku, seorang pengacara yang mengurusi bagian keuangan beberapa buah perusahaan perbankan dan financial mengetuk pintuku, Pak Hartono nama beliau.

“Liska, makan siang sebentar lagi tolong temani saya ya, Andrea tidak masuk kerja jadi saya perlu seseorang untuk mencatat apa-apa saja yang akan saya bicarakan dengan klien. Kamu sudah biasa, khan?” tanya Pak Hartono.

Beliau adalah seorang laki-laki tua yang dermawan, tak jarang Pak Hartono memberikan upah lembur yang lebih untuk kami anak buahnya dan bonus bila beliau berhasil memenangkan sebuah kasus di pengadilan. Maka aku tidak punya alasan untuk menolak Pak Hartono dan dengan mantap menjawabnya.

“Baik, Pak. Akan saya siapkan apa-apa saja yang kita perlukan,” jawabku.

Pak Hartono mendiktekan beberapa hal utama yang akan beliau bahas bersama klien dan apa saja yang aku perlu siapkan untuk pertemuan kali ini. Pak Hartono akan bertemu dengan kliennya di sebuah rumah makan mewah bergaya eksklusif di kota kami.

~~~~

Pak Hartono berjabat tangan dengan dua orang laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya, tentu saja, aku bukanlah pegawai yang biasa menemani para boss untuk bertemu dengan klien mereka, aku lebih banyak bekerja di belakang meja mengurusi kertas-kertas dan file-file yang perlu di rapikan.

“Maaf, Pak Hartono, bisa tunggu lima menit lagi? Direktur kami sedang terjebak macet di depan, ah... kita pesan makanan dulu untuk memulai, ya.” Salah satu klien menawarkan menu makanan untuk kami, dari penampilan mereka bisa kulihat perusahaan yang akan kami wakili ini di pengadilan bukanlah perusahaan kecil atau menengah. Mereka tampak rapi dengan jas dan dasi mahal yang bahkan tak ingin kusebutkan harganya.

Setelah memesan makanan untuk kami, waiter pun membawakan minuman yang telah kami pesan sebelumnya. Lalu klien yang tadi berbicara yang akhirnya kuketahui bernama Pak Christopher  berdiri dari kursinya menyambut kedatangan seseorang yang baru saja masuk ke dalam restoran ini. Karena pandanganku dihalangi oleh tubuh Pak Hartono, akupun tidak bisa melihat siapa gerangan yang tiba. Namun saat orang itu diperkenalkan pada kami, tubuhku membeku saat dia menjulurkan tangannya padaku.

Aku tak tahu seperti apa rupaku sekarang karena laki-laki itu tersenyum padaku dan menarik tangan kananku untuk dijabat.

“Brasco, senang bertemu dengan anda lagi, nona Liska,” ujarnya. Bisa kurasakan genggaman tangan orang ini begitu erat mencengkeram tanganku sebelum dia lepaskan. Dia kemudian memilih tempat duduk tepat di sampingku, dengan risih aku meringkuk di kursiku, hampir tak dapat mendengar percakapan mereka karena hatiku semakin carut marut melihat kedatangan orang ini... lagi.

Aku berusaha menampilkan wajah profesional saat mencatat hasil pertemuan Pak Hartono dengan klien-kliennya. Mereka nampak berbicara dengan serius sementara laki-laki yang mengenalkan dirinya bernama Brasco ini lebih banyak memperhatikanku daripada mengeluarkan pendapatnya mengenai apapun yang sedang mereka bicarakan. Bila dia adalah Direktur dari perusahaan ini, bukankah sewajarnya dia lebih banyak berbicara dan bukannya menggodaku dengan meremas tangan kiriku yang dibawanya ke bawah meja!!

Oh, bukannya aku tidak mengenalnya, aku sangat mengenal laki-laki ini. Kami pernah memiliki sebuah hubungan yang cukup panas...dulu.. meski panas yang kumaksud mungkin tak sama dengan panas yang kalian pikirkan. Hubunganku dengan Brasco, yang dulu masih kupanggil Dino –dari Aldino- tidak memiliki sebuah nama karena memang hubungan kami tanpa status. Dia tidak pernah benar-benar memacariku dan aku tak pernah benar-benar menanyakannya apakah nama hubungan kami ini.

Kami berteman ‘seperti itu’ selama lebih kurang enam bulan sebelum dia menghilang yang katanya untuk pergi kuliah ke Amerika. Dia tidak memberitahuku, tidak pula memerlukan untuk mengabariku setelahnya. Hubungan kami terputus, hubungan yang bahkan tak pernah kami nyatakan dimulai. Tapi kini, dia secara tak sengaja bertemu denganku lagi atau sebaliknya. Aku tak sengaja bertemu dengannya lagi dan disini dia... kembali menjadi dirinya dulu, menggodaku seperti ini. Dikiranya apa diriku?

Aku mendelik memelototinya saat orang-orang tidak memperhatikan kami, dia hanya tersenyum simpul dan tidak pernah membalas kekesalanku. Dia meremas tanganku dan menggenggamnya dengan erat, meletakannya di atas pahanya. Sial!! Apa mau laki-laki ini setelah selama ini dia menghilang? Selama sepuluh tahun dia tak berkabar dan dia seenaknya menyentuhku seperti ini. Bila tidak menghormati Pak Hartono, maka aku sudah berdiri dan meninggalkan restoran ini untuk kembali ke kantor. Tapi aku yakin setelah itu aku akan dipecat dan semakin hancurlah hidupku. Rumah tangga yang tak memiliki harapan lagi dan pekerjaan yang hilang? Mungkin tinggal bunuh dirilah pilihan yang kupunya, karena aku memang tak sekuat itu.

Akhirnya pertemuan itu berakhir sudah, Brasco yang akan kusebut Dino sejak saat ini juga telah melepaskan tanganku dari genggamannya. Dia bersalaman dengan Pak Hartono dan perkataannya berikutnya membuatku geram setengah mati.

“Ehm.. Pak Hartono bisa saya bicara dengan Nona Liska? Kami dulu teman dekat, saya ingin berbincang-bincang dengannya. Sudah lamaaa sekali kami tidak bertemu, sangat banyak yang ingin kami bicarakan,” ujarnya. Pak Hartono hanya mengangguk dan menyerahkan keputusan padaku.

“Tidak ada masalah dengan saya, waktu istirahat Liska juga saya gunakan untuk bekerja, maka tak apalah dia mendapat tambahan waktu beristirahat satu jam lagi. Jangan lupa antarkan Nona Liska kembali ke kantor, ya. Kita harus bertanggung jawab pada pekerjaan kita, begitu juga Nona Liska. Sampai bertemu nanti, Liska.” Pak Hartono mengangguk padaku dan berlalu keluar bersama dengan dua orang bawahan Dino.

“Apa yang kau inginkan? Lepaskan tanganku!” bentakku pada Dino yang berusaha menarik tanganku lagi setelah Pak Hartono pergi.

“Hei.. Hei... Mengapa kau marah? Duduklah, aku ingin berbicara padamu,” ujarnya.

“Kau yakin tidak tahu mengapa aku marah? Karena bila kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu maka tidak ada yang perlu dibicarakan disini. Permisi! Dan tolong lepaskan tanganku atau aku akan berteriak!” ancamku padanya.

Dino hanya tersenyum, sunggingan senyumnya yang mengingatkanku pada dirinya dulu, dengan sebuah lesung pipi di bagian kiri dan senyum semanis madu. Dia telah menangkap hatiku dulu sebelum dilepaskannya untuk terjatuh dan pecah di atas beton konsentrat.


“Shh.. Liska, please... Sekali ini saja, karena aku tidak tahu kapan bisa bertemu denganmu lagi,” jawabnya murung. Apa-apaan pula maksudnya dengan berbicara seperti ini. Apakah dia akan pergi lagi? Huh? Itu bukanlah urusanku.

Dengan enggan aku duduk kembali di kursiku, Dino memanggil pelayan untuk memesan minuman lagi untuk kami. Dia memesankanku minuman yang dulu biasa kuminum saat bersamanya, es jeruk asli, 100% murni. Dia sering menggodaku mengenai hal ini. Dulu aku lebih memilih es jeruk biasa, namun dia memaksaku untuk memesan es jeruk 100% murni. Kemanapun kami pergi dia bersikeras memesankan minuman itu untukku. Hingga saat ini kebiasaan 100% asli ini masih kulanjutkan, meski tidak setiap waktu aku ingin minum es jeruk.

“Apa yang ingin kau katakan?”

Dia mendesah pelan, “Kau sungguh galak, dulu kau tidak segalak ini, meski tetap secantik dulu.” Dia meremas tanganku lagi yang berusaha kutarik namun gagal.

“Tak usah berbasa-basi, apa yang ingin kau katakan? Aku tak punya waktu seharian untukmu,” keluhku sambil pura-pura melihat jam tanganku.

“Hm... Bagaimana kabarmu? Apakah kau... bahagia?” tanyanya.

Apapula pertanyaan itu? Dia tidak perlu mengunci tanganku untuk mengetahui jawaban itu, khan? “Aku baik dan bahagia,” jawabku ketus.

“Baguslah, karena aku tidak bahagia.”

Aku menatap wajahnya, dia terlihat sedih. Dino mengerti kebingungan di wajahku, dia memperlihatkan tangan kirinya dimana sebuah cincin emas melingkari jari manisnya. Dia sudah menikah dan dia masih berani memegang tanganku?? Dengan kasar kutarik tanganku darinya. Berhasil!!

“Itu bukan urusanku, Dino. Kau menikah dan apapun yang terjadi dalam rumah tanggamu tak perlu kau katakan padaku. Kita tidak sedekat itu untuk berbagi masalah keluarga. Dan aku sudah cukup disini, aku tidak ada yang ingin kubicarakan denganmu lagi.” jawabku angkuh. Aku berdiri dari kursiku, menarik tas tanganku dan berlalu dari sana.

“Kau tak ingin tahu mengapa aku meninggalkanmu sepuluh tahun yang lalu? Tanpa mengabarimu, tanpa memberitahukan apapun padamu?” tanyanya dengan suara dingin menancap jantungku.

Aku menoleh sekilas ke samping dan berujar, “Itu juga bukan urusanku dan aku tidak perlu untuk tahu hal itu. Permisi!”

Aku meninggalkan Dino duduk termenung seorang diri di restoran itu, kutinggalkan dia dengan sakit hati yang menusuk di dadaku, bagaimana mungkin semua kesakitan ini menghujamku secara bersamaan? Suami yang tak bertanggung jawab dan mantan ‘kekasih’ yang memamerkan cincin pernikahannya dengan sesumbar di hadapanku mengatakan hidupnya tak bahagia? Dan apa perluku untuk tahu hal itu? Saat dimana dia telah meninggalkanku, saat dimana aku telah melupakanya dan dia mencoba kembali dan mengklaim tempatnya dulu di hatiku? Tidak!! Mengapa semua laki-laki begitu berengsek di dunia ini? Semua mengira dia berhak memilikiku? Sial!! Air mataku merembes tanpa tahu apa yang kutangisi.

Kuhentikan sebuah taksi di depan restoran, pintu telah kubuka namun kemudian sebuah tangan menutupnya. Tubuhku dibawa ke dalam pelukannya. Ah... aroma ini... mengapa? Mengapa dia masih menggunakan parfum ini? Aroma parfum yang sama yang kuhadiahkan padanya di saat hari ulang tahunnya yang ke sembilan belas...

“Berengsek kau, Dino!!” ketusku pelan.

“Ya, Liska.. Aku memang berengsek. Aku berengsek dan aku tidak akan meminta maaf karena itu. Aku tidak pantas untuk kau maafkan...” Dino masih memeluk tubuhku dengan erat, dia tidak ingin melepaskannya dalam waktu dekat. Dia membiarkanku menangis di atas jas hitamnya yang licin, jas hitam mahal yang tak akan pernah sanggup dibeli oleh suamiku. Ahh... mengapa... semua begitu rumit..

Dino mengantarkanku ke depan gerbang kantorku, sudah pukul tiga sore dan sebentar lagi waktunya pulang. Aku tak tahu bila suamiku telah pulang atau tidak, rasanya sangat berat untuk pulang kerumah dan mendapati dirinya belum ada disana. Harapanku untuk memperbaiki hubungan kami, akankah kandas di tengah jalan?

Aku menghela nafasku dan Dino memperhatikanku sedari tadi. “Bila ada yang ingin kau katakan, aku siap menjadi pendengarmu, Lis.” Dino menatapku penuh perhatian, dia terlihat tulus membuat hatiku terasa hangat. Sudah lama tak ada perhatian seperti ini kudapat dari suamiku. Kami lebih sering bertengkar dan saling menyakiti setiap harinya.

“Terima kasih, Dino. Aku rasa ini kali terakhir kita bertemu seperti ini. Aku tidak ingin membuka kenangan lama lagi, itu sudah berakhir dan kita sama-sama telah berkeluarga. Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang. Aku yakin kau juga sepertiku. Terima kasih untuk tumpanganmu, hati-hati di jalan.” Aku menutup pintu mobil Dino, dia menungguku hingga aku masuk ke dalam kantor sebelum melaju mobilnya dan menghilang dari sini.

Pukul lima sore, aku membereskan pekerjaan-pekerjaanku yang telah selesai dan mengumpulkan pekerjaan yang harus kukerjakan besok. Masih ada lima menit untuk merapikan kantor atasanku sebelum kantor di tutup. Handphoneku bergetar, sebuah pesan masuk, dari Dino. Aku tak tahu dia mendapatkan nomerku dari siapa, karena aku tahu hanya dialah yang mengirimiku sms seperti itu.

“Hai, Cantik.. Sudah mau pulang? Bagaimana kalau makan malam sekejap denganku? –teman lamamu.”

Suamiku tak pernah memanggilku ‘cantik’, bila dia mengirimkan sms untukku, dia memanggilku dengan ‘sayang’ meski belakangan kata sayang di antara kami telah berubah menjadi sebutan nama kami masing-masing.

Aku duduk di kursiku, mencoba memikirkan balasan apa yang akan aku kirimkan untuk Dino. Tawaran makan malam bersama sangat menarik, lebih menarik dari menunggu suamiku yang entah kapan akan pulang dan menjelaskan perbuatannya semalam. Ahh... Apakah kini aku mulai bermain di air keruh? Tapi... bagaimana bila Dino hanya ingin makan malam dan tak lebih? Bertemu kawan lama bukanlah sebuah kesalahan atau perbuatan berkhianat, khan?

“Makan malam dimana? Aku sudah mau pulang.” Jawabku.

Duapuluh detik kemudian sudah ada balasan darinya, “Aku di depan kantormu, keluarlah. Motormu biarlah disini, aku akan mengantarkanmu pulang.”

Aku berjalan ke dekat jendela di samping meja kerjaku, benar saja, mobil BMW hitam milik Dino telah terparkir dengan rapi di pinggir jalan. Hatiku berbunga-bunga menyadari seseorang menungguku, suamiku tak pernah menjemputku di tempat kerja atau di rumah orang tuaku, aku terbiasa mengendarai motorku sendiri kemana-mana karena dia lebih senang mengurusi pekerjaannya daripada disusahkan olehku meski hanya untuk mengantarkanku ke swalayan.

Aku membereskan pekerjaanku, memeriksa penampilanku di cermin bedakku, memperbaiki rambutku yang mungkin kusut, mengencangkan pakaianku. Dan akupun menarik nafas dalam-dalam. Jantungku berdebar lebih cepat seperti saat pertama memulai kencan dengan Dino sepuluh tahun yang lalu. Ahh.. begitu cepat waktu berlalu, kini aku bukan lagi anak remaja yang sedang di mabuk cinta, tapi mengapa rasanya aku bisa merasakan kembali ketertarikanku pada laki-laki itu? Apakah ini namanya? Cinta bersemi kembali? Ah.. entahlah.. aku wanita  yang sudah bersuami...

Meski demikian, kenyataan itu tidak membuatku menolak permintaan Dino, aku memerlukan sedikit refreshing dari segala kepenatan kerja dan urusan rumah tangga yang membuatku hampir gila. Bercengkerama dengan ‘kawan lama’ bukanlah suatu kejahatan dan banyak orang melakukannya.

“Hei, kau siap?” tanya Dino setelah aku duduk dengan nyaman di kursi penumpang di sampingnya.

“Ya, kita mau kemana?” tanyaku ingin tahu.

“Ada... Tempat makan favorit kita dulu.”

Aku menoleh pada Dino tapi dia dengan tenang memandang lurus ke depan, ketika mobil telah sampai di tempat yang di maksud, aku tahu.. Dino masih mencoba membangkitkan kembali kenangan-kenangan kami di masa lalu. Ahh.. Dino apa yang sebenarnya terjadi padamu sepuluh tahun yang lalu. Andai kau tidak pergi, akankah diriku dan dirimu bersama?

Setelah pengulangan makan malam yang hampir sama di masa lalu dengan di masa kini, Dino mengajakku mampir ke tempat biasa kami menghabiskan malam di malam minggu, dulu... Sudah pukul tujuh malam dan aku mulai gelisah.

“Dino, tolong antarkan aku pulang. Bila suamiku sudah pulang, dia akan marah bila tidak mendapatiku di rumah. Kami sedang dalam kondisi kurang baik, aku tidak ingin menambah masalah lagi bagi hubungan kami,” kataku memelas.

Dino nampak kecewa namun dia mengangguk dan mendahuluiku ke dalam mobilnya. Dalam diam dia mengantarkanku pulang ke rumahku, saat aku hendak berterima kasih padanya, dia menarik tubuhku hingga menempel di tubuhnya.

“Aku merindukanmu, Liska. Sepuluh tahun aku bersabar, kini aku tak ingin bersabar lagi. Pengorbananku sudah cukup banyak, aku tak ingin berkorban lagi. Aku ingin mencari kebahagiaanku. Aku tahu seperti apa rumah tanggamu sekarang, aku mengikutimu selama sepuluh tahun ini, memantau kabar rumah tanggamu, bagaimana kehidupanmu dengan suamimu... Kau tidak bahagia, Liska. Begitu juga aku, aku tidak bahagia. Kita akan bahagia bila kita bersama, karena aku mengerti bagaimana dirimu dan kau... mengerti bagaimana aku.”

Dino mengecup mesra bibirku, kecupan yang mengingatkanku pada kecupan pertama kami di dalam mobil Dino, kecupan dengan posisi yang sama, dimana aku jatuh cinta padanya. Tapi ini salah, aku adalah istri suamiku dan Dino adalah suami istrinya. Kami tidak boleh begini. Kuhela tubuh Dino, bagaimana pun juga, rasa tanggung jawabku menyeruak. Selama aku masih menjadi istri orang lain, aku tidak boleh melakukan hal seperti ini dengan laki-laki lain. Tidak.. ini namanya berselingkuh dan aku sangat membenci perselingkuhan.

“Tidak, Dino. Kau sudah memiliki keluargamu, begitupula aku. Kita hentikan disini. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Maafkan aku dan terima kasih untuk makan malam yang nikmat itu.” Aku mencoba lepas dari pelukan Dino, syukurnya dia tidak berusaha menahan tubuhku.

“Apakah kau ingat Marcello?” tanya Dino sebelum aku keluar dari mobilnya.


“Marcello? Kakakmu?”

“Almarhum kakakku...”

Aku menahan nafas, Marcello adalah kakak Dino yang biasa menggoda kami bila sedang bersama. Aku tidak pernah mendengar kabar tentangnya, apalagi sejak kepergian Dino, sama sekali aku tidak pernah mendengar kabar mengenai keluarga mereka lagi.

“Maafkan aku, aku turut berduka cita,” jawabku miris. Aku tidak tahu mengapa Marcello meninggal, kurasa hal itu sangat mempengaruhi Dino dari tatapan mata nya yang penuh kesakitan.

“...Marcello... Dia... meninggalkan seorang pacar yang sedang hamil tiga bulan... mereka akan menikah sebulan kemudian waktu itu ketika Marcello tewas dalam sebuah kecelakaan. Mobilnya jatuh ke jurang, keluargaku berduka. Keluarga pacar Marcello menuntut tanggung jawab, orang tuaku depresi karena kepergian Marcello, ditambah tuntutan itu... akhirnya... aku.. aku harus mengorbankan perasaanku, mengorbankan masa depanku dengan orang yang aku cintai. Aku dipaksa untuk menikahinya, Liska. Karena itulah aku menghilang darimu. Kami ke Amerika, aku melanjutkan kuliahku disana. Menenggelamkan hidupku dalam text book dan kembali lima tahun yang lalu. Kau sudah berpacaran dengan suamimu kala itu, aku membuntutimu hampir sepanjang hari sebelum kau akhirnya menikahinya. Aku berusaha untuk melupakanmu, demi anak kakakku. Aku tak pernah menyentuh istriku, aku tidak mencintainya. Kubiarkan dia dengan kehidupannya meski dia berharap hubungan kami bisa lebih dari sekedar suami istri di atas kertas. Tapi tidak, Liska. Aku mencintaimu, aku bahkan belum sempat mengatakan itu padamu dulu. Kukatakan padamu sekarang.. Aku... mencintaimu, Liska... Meski terlambat, aku ingin kau tahu, aku selalu mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu. Apapun yang terjadi, aku akan menunggumu.”

Dino menutup kalimatnya dengan sebuah desahan panjang. Dia mengucapkan selamat malam padaku, memintaku untuk memikirkan kata-kata yang baru saja dia ucapkan. Memintaku untuk memikirkan pantaskah dia untuk merebut cintaku lagi. Oh, Tuhan... mengapa aku harus berada dalam posisi sulit ini. Bila jalanku harus seperti ini, mengapa tak kau buka lebar mataku sedari dulu.

Aku menghela nafas lelah, membuka pintu pagar rumahku. Rumah sangat sepi, lampu pun belum dinyalakan. Aku rasa suamiku belum pulang sama sekali. Ahh... kesedihan lain dalam hatiku, kapankah akan berakhir?

Kubersihkan tubuhku di dalam kamar mandi, tanpa terasa air mataku meleleh lagi. Aku menangis menggerung-gerung di bawah aliran air dingin yang membasahi wajahku, tubuhku. Aku lelah Tuhan, bila selayaknya aku pantas mendapat kebahagiaan, mengapakah penderitaanku tiada akhir? Aku lelah seperti ini, apa yang harus kulakukan agar beban dalam hatiku bisa terangkat meski sedikit saja. Bila aku mengingkari dunia, aku hanya membohongi diriku sendiri karena aku tidak bisa melakukannya.

Ahh.. Aku duduk memeluk lututku, tubuhku bergetar menahan segala sedih, kecewa dan putus asa yang melingkupiku kini. Aku butuh seseorang memelukku sekarang. Bukan suamiku, dia tidak pernah menanyakanku mengapa aku menangis, dia tidak pernah bertanya mengapa mataku merah dan sembab di kala pagi hari melayani sarapannya di dapur. Dia tidak peka sama sekali atau memang dia tidak perduli, aku tak tahu.

Satu jam lamanya aku membasahi tubuhku di bawah shower, aku kedinginan. Bisa kurasakan suhu tubuhku meninggi, semoga aku tidak sakit. Aku tidak ingin sakit. Seorang diri dan sakit bukanlah perpaduan yang benar. Sakit, kesepian dan tak ada yang memperhatikan, hidupku akan semakin nestapa.

Kulirik jam di dinding, sudah pukul sepuluh malam, suamiku pun tidak mengabariku. Aku tidak tahu kemana dia, mengapa dia tidak pulang, dimanakah dia sekarang? Aku bingung, aku tidak ingin pulang ke rumah orang tuaku, aku hanya akan membuat ibuku sedih dengan kehidupan rumah tanggaku. Tubuhku menggigil kedinginan, aku sakit. Dengan menarik langkahku, aku pergi ke dapur, meminum parasetamol dan obat penghilang sakit kepala. Kukenakan sweater hangat dan bergelung dalam selimutku. Handphoneku bergetar saat hendak kumatikan. Dino...

“Halo?” tanyaku.

“Kau sudah tidur? Tebak aku ada dimana?”

“Aku tidak tahu, Dino. Aku sedang tidak bisa berpikir. Aku sakit kepala dan tubuhku meriang. Aku ingin istirahat,” jawabku lemas.

“Liska, buka pintu pagarmu. Aku di depan. Sekarang!” dia menutup telephonenya.

Aku kaget setengah mati, apa yang dia lakukan di depan rumahku pukul sepuluh malam? Apakah dia tidak pulang ke rumahnya?

Dengan menahan nafasku yang mulai berat, aku setengah berlari ke depan rumah, Dino berdiri disana dengan wajah cemas.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku khawatir. Aku tak ingin suamiku datang dan berpikir yang tidak-tidak mengenai keberadaan Dino disini.

“Aku mencemaskanmu. Aku hanya membawa martabak ini, aku... kau sakit...”

Aku menghela nafasku, tangan Dino telah berada di keningku, mengukur suhu tubuhku dengan badannya sendiri. Tangannya yang lain dia letakkan di atas keningnya.

“Ya, kau sakit. Kita ke dokter sekarang.”

“Tidak, apa yang kau lakukan? Ini sudah malam, aku sudah minum obat, aku akan sembuh.” Dino menghela lenganku, membawaku ke dalam mobil.

“Setidaknya biarkan dokter memeriksamu, Liska.”

“Tidak usah, ini hanya sakit biasa. Besok pagi pasti sembuh, aku terlalu lama di bawah shower,” kataku mengelak.

Dino berdiri diam memikirkan kata-kataku. “Bila kau menolak ke dokter, aku ingin ada di rumahmu, aku ingin menjagamu.”

“Dino! Kau tahu itu tidak mungkin. Bagaimana bila suamiku pulang dan melihatmu? Dia akan menuduh yang bukan-bukan.” Dino sungguh tidak masuk akal meminta hal itu dariku.

“Bila memang harus demikian, aku menerimanya. Tapi tidak, suamimu tidak akan pulang, dia tidak ada di kota ini. Dia pergi ke kota lain, anak buahku yang mengikutinya melaporkan hal itu padaku.”

Aku menatap nanar mata Dino yang menatapku tanpa kedip. Apa yang dia katakan? Suamiku keluar kota? Dia tidak mengatakan apapun padaku. Astaga... Mengapa seperti ini? Apakah aku tidak berarti lagi bagi suamiku?

Tubuhku limbung, kepalaku pusing dan mataku berkunang-kunang. Aku hampir saja terjatuh bila Dino tidak menahan tubuhku. “Kau harus ke dokter, Liska...” pinta Dino lagi.

“Tidak.. tidak.. aku ingin berbaring di kamarku saja. Pulanglah Dino, istrimu pasti mencemaskanmu.”

“Lis... Tolonglah.. Kau tahu bagaimana hatiku padamu, kau tahu apa yang kurasakan selama sepuluh tahun ini. Aku menderita, biarkanlah aku bersamamu, meski hanya malam ini saja. Aku berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang tidak kau inginkan. Aku hanya ingin menjagamu. Aku tidak ingin melihatmu sakit, please...”

Aku tidak punya tenaga untuk berdebat dengan Dino, tanpa memberikan jawaban padanya, kubiarkan Dino mengikutiku dari belakang. Dia mengunci pintu rumahku dan menuntunku masuk ke dalam kamarku.

“Tidurlah yang nyenyak. Aku disampingmu,” ujarnya lalu mengecup keningku.

Perhatian yang diberikan Dino padaku membuatku hampir menangis, mengapa suamiku tidak bisa seperti Dino? Mengapa dia tak pernah mengungkapkan perasaannya? Memberikan perhatiannya? Apakah rasa cinta yang dia rasakan padaku telah habis? Atau dari awal memang tak pernah ada rasa cinta? Diam-diam aku menangis tanpa sepengetahuan Dino.

Sesekali Dino akan memeriksa suhu tubuhku, dia mengambilkan kompres hangat untukku agar suhuku menurun. Lampu kamarku redup, tapi masih bisa kulihat Dino duduk di kursi di samping ranjang, matanya terpejam, jas hitamnya telah dia sampirkan di punggung kursi, dasinya dilonggarkan, lengan kemejanya pun telah dia lipat ke atas. Beberapa kancing kemejanya dia lepaskan, dia... terlihat begitu tampan dan gagah. Tak heran aku jatuh cinta padanya dulu. Dia dengan sifatnya yang santai dan tidak suka tergesa-gesa... ahh... masa lalu memang selalu lebih indah dibandingkan masa sekarang.

Kupejamkan mataku, mencoba untuk terlelap, apapun yang terjadi besok.. akan kuhadapi besok. Saat ini aku hanya ingin sembuh dari sakit kepala dan demam ini.

Dino telah menghilang, dia tidak ada dimana-mana, mungkin aku akan mengira kedatangan Dino hanyalah mimpi dan angan-anganku saja. Tapi tidak, dia meninggalkan sepucuk surat yang dilipat dan ditindih dengan jam digital di atas meja. Surat yang dia tulis berbunyi :

“Lis, aku pulang dulu. Suhu tubuhmu sudah menurun, aku senang. Semoga kau cepat sembuh, istirahatlah, izin kerja untuk hari ini. Aku yakin atasanmu akan mengerti.

Always loving you, Aldino...”

Hatiku bergetar membaca kalimat terakhir yang ditulisnya. Hatiku seakan berkata “Aku juga, Dino... Aku juga...”

Kulipat kertas itu dan kusimpan di dalam tasku di lemari. Aku tak ingin suamiku melihatnya. Aku tak yakin mengapa aku masih menyimpan kertas ini, apakah aku ingin menjadikan kertas pernyataan cinta Dino kepadaku sebagai totem pemujaan atau peringatan bahwa dia memang mencintaiku? Lalu apakah ada gunanya untuk hidupku? Bukankah hubungan kami sudah tak mungkin? Atau mungkinkah?

Hari ini aku tetap masuk kerja, entah bagaimana caranya, motor maticku telah terparkir di depan garasiku. Apakah Dino yang melakukannya? Karena semalam setelah makan malam kami, Dino langsung mengantarkanku ke rumah. Ah.. mengapa kau datang di saat-saat hidupku sedang gundah, Dino? Tidakkah kau memikirkan istri dan anakmu? Anak Marcello? Karena anak itu pasti telah menganggap kaulah ayah kandungnya. Tegakah kau membuat anak kecil itu terluka? Tegakah aku merebut keluarga itu atas nama cinta? Cinta? Lalu bagaimana dengan cintaku pada suamiku? Tegakah aku mengkhianatinya?

Karena Andrea, sekretaris Pak Hartono ternyata harus di opname akibat sakitnya yang parah, maka aku bertugas untuk menemani Pak Hartono menemui klien-klien dan menggantikan tugas Andrea. Maka setiap hari aku dan Dino semakin sering bertemu. Kami semakin banyak menghabiskan waktu bersama, terutama saat Pak Hartono memintaku mengambil beberapa berkas yang diperlukan untuk proses peradilan perbankan milik perusahaan Dino. Dia mengajakku berbincang-bincang di dalam kantornya, mengenang kembali masa lampau, tapi tak lebih dari itu. Dino hanya menciumku sekali di dalam mobil beberapa hari yang lalu, dia tidak memaksaku meskipun dia memiliki kesempatan itu berulang kali.

Aku semakin nyaman berada di sampingnya, mendengar nasehat-nasehatnya tentang kehidupan dan makin kusadari hidupku begitu terpuruk akan ketidak pastian hubunganku dengan suamiku. Suamiku.. dia akhirnya menghubungiku, dia mengatakan dirinya saat ini sedang berada di rumah orang tuanya, merenung katanya. Dia ingin memikirkan kehidupannya disana, entah apa yang dia katakan benar atau tidak aku tak tahu. Terlalu banyak kebohongan yang telah dia lontarkan padaku hingga aku tak yakin mana kata-kata yang benar dan kapan dia berbohong.

Semakin hari hubunganku dengan Dino semakin dekat, kami bahkan menghabiskan makan malam bersama di hari libur, dia bermain ke rumahku meski aku melarangnya. Aku tak ingin tetanggaku melihat Dino lalu lalang di rumahku meski rumah ini ditemboki pagar setinggi tiga meter. Tapi mobil BMW milik Dino selalu terparkir di depan dan itu bisa menimbulkan kecurigaan meskipun kami tidak melakukan hal-hal maksiat.

Suatu sore, Dino sedang duduk di kursi teras rumahku, mengamatiku sedang mencabut rumput-rumput liar di halaman, dia kemudian berjongkok di sampingku, mengikutiku mencabut sisa-sisa rumput yang mulai tumbuh.

“Lis...”

“Apa? Kalau kau capek, duduk saja. Aku tidak memintamu untuk membantuku,” ujarku.

“Bukan itu yang ingin kukatakan.”

Aku menghentikan kegiatanku mencabuti rumput, Dino nampak serius ingin mengucapkan sesuatu padaku. “Terus? Mau bilang apa?” tanyaku.

“Aku ingin menikah denganmu,” katanya tanpa basa-basi.

Aku menahan nafasku demi mendengar pernyataan Dino, dia mengatakannya tanpa menanyakan kesedianku atau perasaanku. Tapi tentu saja aku bisa menolaknya bila aku mau, tapi... apakah aku ingin menolak Dino? Dengan kehidupan rumah tanggaku yang sudah tak memiliki harapan lagi? Suami yang lebih memilih melarikan diri dan tak berkabar padaku? Tapi tepatkah ini? Aku belum bercerai dan Dino telah melamarku? Ah.. rasanya ini sungguh tak benar.

“Kau tahu kau tak boleh menginginkan hal itu, Dino. Itu tidak benar, kau hanya akan melukai keluargamu.”

“Aku telah mengajukan cerai dari istriku, aku ingin bersamamu Liska. Aku tidak ingin menderita lagi, aku ingin memiliki anakku sendiri bersamamu. Bukan dengan wanita lain.” Dino tetap kukuh dengan pendiriannya.

“Maaf, Dino.. Aku tidak bisa menerima lamaranmu. Aku masih berstatus istri orang dan aku tak akan mengotori diriku dengan berbuat serendah itu.”

“Apakah kotor namanya bila itu cinta, Lis? Apakah dalam hatimu tak ada sama sekali tempat untukku?” Dino bertanya seperti harimau yang terluka, wajahnya menyiratkan kesakitan yang sangat.

“Maaf... Aku belum bisa, Dino...” aku menundukkan wajahku, tak ingin Dino melihat air muka menyesalku. Sebesar apapun keinginanku untuk menikah dengan Dino, saat ini tanggung jawabku lebih unggul. Aku tak ingin gairah sesaat merusak kehidupanku, aku sudah lelah dengan kejutan-kejutan hidup berumah tangga, rasanya akan lebih tenang bila aku menghabiskan hidupku seorang diri tanpa laki-laki yang mungkin akan menyakitiku lagi.

Dino lama menatap wajahku yang tak bergeming dari rumput di halaman, mencabuti dengan telaten tanpa memberikan sekalipun kesempatan untuk Dino berbicara padaku. Lalu dia mendesah berat, Dino berdiri dan berlalu dari rumahku. Bisa kurasakan tubuh Dino berjalan gontai menuju mobilnya, dia seperti prajurit kalah sebelum berperang, dia tidak frustasi, Dino kalah tanpa sanggup untuk melontarkan kemarahannya.

Setetes air mata terjatuh dari mataku yang kuusap dengan gemas, “Selamat tinggal, Dino. Mungkin kita memang tak akan pernah berjodoh.”

~~~~

Empat minggu tanpa kabar dari suamiku ataupun Dino, lalu suatu siang di hari minggu, seorang pengacara keluarga mendatangiku bersama dengan sebuah surat cerai yang dititipkan suamiku untukku. Saat mencantumkan tanda tanganku disana tak sedikitpun amarah atau benci yang tersisa pada suamiku. Hanya sedikit rasa kecewa dan penasaran atas apa yang membuat suamiku menceraikanku. Memang kehidupan kami tidaklah sempurna, namun setidaknya aku masih memiliki hak untuk mengetahui alasan dibalik kepengecutannya meninggalkanku seperti ini.

Pengacara itupun tak banyak bicara, dia hanya duduk selama setengah jam di dalam rumahku yang diberikan oleh suamiku kepadaku. Suamiku juga meninggalkan sejumlah uang di dalam brankas yang tak ingin disentuhnya, semuanya untukku. Memang jumlahnya tidak banyak, namun itu adalah tabungan suamiku selama ini, entah bila dia memiliki tabungan di tempat lain.

Setelah kepergian pengacara itu, hatiku hampa, beban dunia mulai merayapiku. Bukan kebebasan yang kurasakan saat mengetahui diriku saat ini berstatus janda, bukan pula kebahagiaan karena menyadari aku kini hidup dan berjuang seorang diri... tanpa teman, tanpa kawan yang akan mendukungku di saat aku terjatuh atau menyokongku bila aku memerlukan pundaknya.

Tak terasa air mataku meleleh dengan deras, aku berlari masuk ke dalam kamarku, menangis sejadi-jadinya, melepaskan semua sesak di dada dan berharap esok pagi semua ini hanyalah mimpi. Andai benar ini mimpi...

Tapi keesokan harinya aku terbangun dengan mata sembab dan merah, seperti wajahku belakangan ini. Selalu ditemani tangisan dan ratap doa yang tak pernah terkabul. Aku hanya perlu teman untuk berbicara, untuk menumpahkan keluh kesah dan beban hatiku, teman yang berkata bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa semua akan kembali seperti semula, bahwa senyum akan kembali menghiasi bibirku.

Setelah dua minggu lebih aku mengambil cuti untuk menenangkan hatiku, berkunjung ke rumah bude ku di desa pegunungan nan hijau, menghabiskan banyak waktu dengan sepupu-sepupu dan keponakan-keponakanku, bersenda gurau, bercanda tawa melupakan segala beban dan permasalahan yang pernah kualami, kini aku telah kembali menjadi seorang Liska yang mampu tersenyum, meski aku tahu senyumku sekarang tak akan pernah sama lagi. Senyumku tak akan secermelang dulu namun aku tahu satu hal.. bahwa pelangi masih ada di atas sana, bersembunyi dan siap untuk menunjukkan dirinya padaku lagi. Seperti siang ini... Secara kebetulan aku bertemu dengan Dino lagi...

“Hai... Kau tidak membuntutiku, khan?” senyum khasnya menular padaku. Mau tak mau akupun ikut menyunggingkan senyum.

“Apakah aku mengenalmu?” tanyaku sengaja.

Seolah memikirkan sesuatu, Dino menatap wajahku sesaat. Matanya pun bersinar sebelum menjulurkan tangannya untuk berkenalan denganku.. lagi...

“Tidak, anda tidak mengenal saya. Perkenalkan, nama saya Aldino Brasco. Duda.. Dan saya sedang mencari istri... gadis boleh, janda diutamakan.” Senyumnya penuh makna.

Aku hanya bisa tertawa kecil dan menerima jabatan tangan Dino, setelah membersihkan tenggorokanku, akupun mengucapkan kata-kata yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya akan kukatakan.

“Liska Larasati, janda... ehm... mungkin mau nyari pacar...” bisa kurasakan Dino meremas tanganku mesra...


~~~ 


19 comments:

  1. Iya kerennnn. Pas banget mba shin sm judul nya.

    ReplyDelete
  2. Ahhh...riak kehidupan yang mana hanya tuhan yang tahu.

    Thanks mbak shin

    ReplyDelete
  3. *peluk Mbak shin* apapun masalah mbak, semoga cepet selesai dengan baik ya, mbak. Maaf kalau hanya bisa kasih semangat buat mbak lewat coment box.
    Mbak tahu kita sayang sama mbak.

    *peluk lagi*
    :D :D :D

    ReplyDelete
  4. keren mba chin. aku dapet banget feel-nya :)

    ReplyDelete
  5. Huaaaaaaa,,,sediiiihhhhh..sediiiiihhhhhhh... Hukz..hukz.... (Nangis beneran)
    Mba Ciiiinnnnnn,,,jgn prnh nyerah yah,,psti bkln d pelangis stelah hujan,,persis spt crta Mba Cin skrg... Tuhan pasti kasih jalan yg trbaik bwt Mba..
    Semangaaaatttttttttt....!!!

    ReplyDelete
  6. Cerpen ini penuh emosi sekali.. Hingga nangis bacanya.. Berasa ikut tersakiti karena suaminya is liska :(
    KEREN !!!

    ReplyDelete
  7. sweet banget mbak ceritanya semangaaat ya

    ReplyDelete
  8. Sedihhhhh hiks hiks

    apapun YG terjadi semoga kita Bisa mengambil hikmahnya. Suatu hal YG negative tak selamanya berakibat negative.

    kembali pada kata " semua kan indah pada saatnya "

    aq ketawa perkenalan ulang Dino & liska hehe .. Apalagi pada kalimat Liska Larasati, janda... ehm... mungkin mau nyari pacar...”

    makasih mbak Shin ...

    semangat yach ... Aq hanya Bisa mensuport semoga semua masalah YG mbak Shin hadapi cepat teratasi dan senyuman kan segera menghiasi wajah maniezmu OK sist... Luph YU (masih punya serbetnya kan? Hahaha) pinjam bntr... Wkwkwkk

    ReplyDelete
  9. Ρ̥̥ε̲̣̣̣̥Lυ̲̣̥к̲̣̣̥ ({}) :* ρ̥̥ε̲̣̣̣̥Lυ̲̣̥к̲̣̣̥ ({}) :*" mba cin
    Bagus bgt critanya,akhirnya liska kembali pada cinta sejatinya
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin :*

    ReplyDelete
  10. thanks mbk cin.....semangatttt!!! mbk cin :)

    ReplyDelete
  11. hai mba shin apa kabar? lagi sedih ya.

    maaf lama nga komen diblog, coz kmrn2 nga bisa buka akun gmail.nga tau keblokir krn apa.

    cerita diatas kok ceweknya nelangsa sekali ya. suaminya kenapa sih, bisa cuek bgt sama istrinya. samapai2 perasaan istrinya jadi hambar krn kelakuan suaminya.
    untung ada cinta lamanya datang kembali. cukup jd pelipur hati yang duka lara.
    btw aku sempet dibuat termenung waktu baca bagian cewek itu dicerai sama suaminya tanpa tahu kesalahan dirinya.
    trus boleh kasih kritik sedikit nga mb, menurutku alur ceritanya loncat2 di bbrp scene dan sedikit kurang jelas. maaf ya mba kalo kritiknya tak berkenan. makasih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhaha gpp sist.. seperti yg aku bilang di paragraph awal cerpen ini.. aku mengetik cerita ini bersamaan di saat aku sedang dilanda musibah aka masalah yang sangat mempengaruhiku sampai2 aku belum bisa menulis hingga saat ini... aku sedikit memaksakan menulis agar yah... tidak mengurangi antusiasme teman2 lain yang sudah bersusah payah membuat cerpen mereka untuk dipasang di blog. namun rasanya aku sendiri belum siap menulis lagi karena saking shockednya dengan kenyataan hidup yang aku alami sekarang. mohon maaf ya kl kurang berkenan :) dan terima kasih atas masukannya :hug:

      Delete
  12. Holy molly sweetie.. its Damn Gorgeous !!
    I LOVE IT SO MUCH !!

    I can feel ur soul in here, hon.. I mean it ! You know I do, rite?

    THANKIES for this LOVELY and BEAUTIFUL story..

    ReplyDelete
  13. -,- lagi gundah aja bikin cerita begini,,,
    lanjutkan deh,,, hohohoho

    ReplyDelete
  14. Kerennn...... N fresh.......
    Sukaaa bangeettt.....
    Happy ending ^_^

    ReplyDelete
  15. Mba Shin, walau aku ga bisa bantu, tapi aku hanya bisa memberi (ง"`O´)ง semangat....... N support buat Mba Shin. Walaupun sedang kalut, karyamu yg satu ini bener2 ((y)ˆ ³ˆ)(y)mantap......
    *peluk*

    ReplyDelete
  16. Huaa mbak aku mewek bneran ini... Hiks..hiks...
    Feel jd istri yg dabaikan dpat bnget...
    Huaaa salut ama liska yg tguh dgn tanggungjawabnya... Suka bner statmennya yg anti slingkuh itu...
    Pokoke TOP dah mbak.. Ikut mrasakan apa yg drasakan tokohnya.
    Lg galau aja bgni hasilnya palagi kalo gk... Waduh pasti amazing hehe

    ReplyDelete
  17. Ngalir enaak gitu kalo baca tulisan kamu shin... feel nya dapeet bikin aku nyesek gitu...

    Baguus banget...peluk shin

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.