"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, May 27, 2013

CERMIN 8 - KAWIN PAKSA SERIES - Tanya Hati oleh iLiana Lin

Story by +Iliana Lin



Luna menatap halaman yang lengang dengan putus asa. Kantuk yang membuat matanya bagai dibanduli batu sebesar gunung sungguh terasa sangat menyiksanya. Ia ingin serius mendengarkan pelajaran Manajemen Bisnis yang diterangkan oleh Ibu Yuli tapi tidak bisa. Rasa kantuk itu membuyarkan semua konsentrasinya yang dengan susah payah dibangunnya sejak permulaan jam kuliah tadi pagi. Lebih gilanya lagi karena ia tahu kalaupun ia tidur sekarang, itu pasti tidak akan membuatnya terlelap dengan nyenyak. Setidaknya, ia sungguh membutuhkan waktu yang lama untuk itu.

Dihembuskannya napas untuk mengusir rasa sesak yang menghimpit di dadanya. Tidak seperti biasanya, penyakit tidak jelas ini menerornya sampai seharian. Bayangan mata bintang itu mendadak menyergap, menatap lembut seraya mengernyitkan hidung yang seakan sengaja memamerkan kemancungannya.


Sayang, dia bukan Billy, keluhnya pahit dalam hati. Walau suaranya juga terbilang bagus tapi tetap saja masih tidak bisa mengalahkan karismatik dari seorang Billy yang selalu memukau hati dalam setiap penampilannya. Matanya terbilang cukup bersinar dan cemerlang jika dibandingkan dengan Billy yang memiliki mata kelam nyaris tak terbaca. Tapi kelebihan Billy adalah lelaki itu mampu membuat Luna merasa bagai di awan. Membuatnya gamang, takut untuk terhempas jatuh namun juga sangat menggetarkan.

Sementara di depan kelas, Ibu Yuli yang tak pernah mentolerir mahasiswanya yang tidak serius memperhatikan bahan ajarannya, sedang bersemangat menerangkan alur bisnis yang sekarang tengah marak diperbincangkan di Indonesia. Matanya yang setajam mata elang di balik kacamata minusnya juga tengah memperhatikan Luna. Tapi ia masih diam saja. Menunggu hingga gadis itu masuk dalam perangkapnya, lengah dan terpojok, lalu kemudian menyambar tanpa ampun. Itulah ciri khasnya.

Siska yang duduk di samping Luna mulai merasa cemas dan waswas dengan tatapan Ibu Yuli. Sambaran mata elang dari dosen itu hampir mencapai batas maksimumnya. Lalu disikutnya lengan Luna untuk yang kesekian kalinya.

“Sudah tiga kali Ibu Yuli memperhatikanmu,” desisnya tajam. “Jangan lupa kalau dosen kita yang satu itu nggak punya ampun sedikit pun!”

Luna melengak kaget. Secepat kilat ia memasang wajah serius dan berlagak sedang asyik menyimak apa yang dibicarakan oleh Ibu Yuli. Siska yang masih memperhatikannya itu hanya menarik napas perlahan.

Dalam pikirannya juga berekelebat perasaan yang aneh. Heran, semenjak liburan semester lalu, gadis di sampingnya ini mulai banyak berubah. Jauh lebih pendiam dan kebanyakan melamun di dalam kelas. Tatapan matanya yang sulit ditebak tampak murung dan sangat lelah. Yang paling membingungkan adalah setiap dalam keadaan yang tak bersemangat seperti itu, gadis itu akan meraih buku yang sudah dipersiapkannya khusus selalu di dalam tasnya dan mulai mencoretcoret. Membuat gambar garisgaris yang tak beraturan lalu membuat penggalan cerita yang tak jelas alurnya, atau jika tidak maka ia akan mulai menggambar wajah orang dengan ragam ekspresi.

Untuk mengusir rasa kantuk dan juga sekaligus bisa mengibuli dosen biar disangka lagi mencatat, eh, ternyata, ngerjain yang lain, katanya terkekeh ketika ditanyai.

Siska menggelenggeleng pelan sambil sesekali melirik pada sahabatnya itu. Sekarang?  Apa yang sudah terjadi, Luna? pikir Siska dengan rasa tanya yang terpenjara. Ia tahu percuma saja jika ia menanyakan hal itu kepada gadis pendiam yang sebenarnya cukup lembut ini. Luna terlalu pandai menutup dirinya dan juga sangat pintar mengunci rapat hatinya. Namun begitu, banyak yang mempercayainya untuk sekedar berbagi rasa ataupun menjadikannya sebagai tempat untuk membuang uneguneg gak jelas dan mencari jalan keluar.

Ternyata Luna juga tidak bisa bertahan lama. Sebentar saja ia sudah kembali dengan segumpal rasa jenuh yang sangat nampak di wajahnya. Dikerjapkannya matanya agar terasa sedikit lebih ringan tapi siasia. Mata kuliah Manajemen Bisnis kini sudah tidak mampu lagi membuatnya bersemangat seperti hari sebelumnya.

Ditatapnya kertas buram dari buku yang selalu digunakannya untuk mencoretcoret itu hanya terisi dengan garis yang berbentuk tidak keruan. Kacau! Mendadak ia merasa ingin pulang untuk merebahkan diri di ranjang. Tapi tidak. Bukan rumah yang sekarang ditempatinya yang akan ia singgah tapi rumahnya yang dulu. Semalaman ia tidak bisa memejamkan matanya dan berharap agar pagi segera datang. Ia merasa sungguh putus asa sekarang.

“Luna…!” Elang yang tadinya masih di depan kelas itu sudah berada tepat di depannya menyambar lamunannya dengan tibatiba. Ganas. “Sedang melamun ya, manis?”

Luna langsung terlonjak kaget. Aliran darahnya terasa deras mengalir menuju jantung hingga membuatnya setengah menggigil. Pipinya yang putih mendadak mengeluarkan rona yang berwarna merah tapi kemudian dengan cepat berubah pasi. Menyadari ia kini telah tertangkap dan tidak mungkin melarikan diri lagi.

“Sepertinya akan lebih baik kalau kamu membiarkan imajinasimu itu bereksperimen dengan leluasa di luar saja, Nak…!”

Suara berwibawa itu terdengar sangat tenang tapi menyimpan perintah yang nyaris tak terbantah. “Akan lebih baik jika lain kali kamu mengusir semua yang mungkin akan mengganggu konsentrasimu selama belajar sebelum kamu masuk ke dalam kelas. Oke?!”

Luna menggigit bibir bawahnya. Lunglai, ia bangkit dari bangkunya tanpa memperhatikan tatapan geli yang mencemooh serta iba yang ditujukan kepadanya dari teman seisi kelasnya. Ia kini tidak punya pilihan lain. Ia harus keluar kalau tidak ingin terusir dari kelas dengan kasar dan sangat tidak hormat.

Di luar, ia terlongo sejenak. Selama masuk kuliah dari semester pertama, baru kali ini ia merasakan bagaimana rasanya terusir dari kelas. Jika saja kedua orang tuanya tahu…, Luna tidak berani melanjutkan pemikiran itu.

Kakinya melangkah dengan galau di koridor. Kelas demi kelas dilaluinya tanpa perasaan. Diam dan lengang tapi menyimpan badai yang tak teraba. Tanpa sadar, ia melangkah hingga tiba di depan perpustakaan, tempat dimana ia biasa menenggelamkan diri kalau sedang kacau. Tentu saja bukubuku dapat menenangkannya. Tapi sayangnya itu tidak berlaku untuk kali ini. Melihatnya saja sudah jenuh apalagi harus menekuni lembaranlembaran mati itu. Sepertinya sudah tidak ada lagi hal yang menarik di sekitarnya.

Luna melanjutkan langkahnya. Sebaiknya ia mencari segelas es kelapa muda saja yang mampu menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering. Ah, akan lebih baik jika ditambah dengan sepiring soto ayam untuk mengisi perutnya yang sejak semalam hanya diisi dengan segelas susu. Yaaah, segelas susu yang dibuatkan oleh Johan, lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya namun sudah menjadi suaminya selama hampir dua minggu ini. Sungguh Luna tidak ingin mengingat pria itu, setidaknya untuk saat ini tapi entah bagaimana nanti.

“Jam kuliahmu kosong?” Tiara yang sedang berduaan dengan Rio bertanya dengan mata yang melebar karena seingatnya semalam Siska mengatakan kalau jam kuliah mereka hari ini akan penuh.

Luna menggeleng lemah. “Tidak. Ibu Yuli menyuruhku keluar,” sahutnya dengan sudut bibir yang terangkat pahit.

“Heh?! Kenapa?” Mata coklat Tiara melebar. Ia menarik kursi yang ada di seberang meja Luna dan langsung duduk disana. “Apa yang terjadi?”

“Badai di pagi hari yang cetar membahana!” Luna menggumam sambil melukis di udara dengan tangannya. “Tolong jangan ganggu aku, yaaa!” pintanya takut Tiara keburu tersinggung dengan jawabannya tadi.

“Ok. Baiklah!” Tiara tersenyum arif. “Sesuatu yang sedang dilandan badai memang tidak sebaiknya didekati dulu sebelum badai itu mereda. Bukan begitu, Rio?” Tiara menoleh ke Rio di sampingnya yang tengah menyeruput es jeruknya.

“Pikiran yang tepat!” Rio berusaha menahan senyumnya agar Luna tidak merasa tersinggung.

“Kalian berdua kenapa tidak masuk?!” tanya Luna seakan tidak mendengar ucapan mereka.

“Biasa…, kami terlambat!” Rio meringis. “Kamu disini hanya untuk duduk saja… tidak ingin memesan apaapa?”

Mendadak perut Luna serasa mual dan menolak untuk diisi. Akhirnya ia mengangkat bahunya dengan wajah yang tertekuk lesu. Sekejap Tiara terpana dengan apa yang baru saja terjadi di depannya. Ia sudah mengenal Luna sejak masa kanakkanak dan ia tahu pasti kalau selera makan gadis yang satu itu amatlah sehat hingga terkadang tidak memperdulikan perubahan pada berat badannya.

Tiara mengerjap dan langsung menangkap ada yang tidak beres. Apakah sahabatnya ini tengah jatuh cinta sampai selera makannya jadi berantakan? Disuruh Ibu Yuli meninggalkan kelas pun pasti karena asyik melamunkan pangeran barunya itu. Tapi pangeran mana lagi, yaaa? Tiara mencoba menerka siapa kirakira lakilaki yang kini tengah dekat dengan sahabatnya tapi tak satu pun dapat terlintas di pikirannya.

“Sudah, sepertinya kita jangan ganggu dia,” bisik Rio di telinga Tiara. “Aku rasa dia sedang jatuh cinta…”

“Pikiran yang sama denganku… Itulah sebabnya kita sangat berjodoh,” Tiara mendesis sambil terkekeh mengingat dirinya dan Rio selalu kompak untuk hal apapun. “Apa kamu tahu siapa orangnya?”

Rio mengangkat bahunya. “Kita tunggu saja sampai gadis ini membuat pengumuman kepada kita semua,” gumamnya sambil meraih lumpia dari atas meja. “Jika sudah saatnya dia pasti akan memberitahukan pada kita…”

“Kapan? Apakah suatu saat itu akan datang?” Tiara masih memburu dengan penasaran.

“Aku yakin itu. Asalkan kita percaya pada Luna dan menyerahkan semua yang terjadi pada Tuhan dan percaya semua pasti baikbaik saja, suatu saat itu pasti akan datang…”

“Kamu bijak baget sih…”

“Iyaaa dong…” Rio memainkan kerah bajunya dengan bangga.

“Tapi aku sungguh ingin tahu.” Tiara kembali mendesak sambil merengek. Berharap Rio mengijinkannya untuk bertanya pada Luna.

“Kepingin tahu banget sih?!” Dengan gemas Rio mencubit hidung Tiara.

“Auwh, sakit tau!” Tiara meringis dan melotot dengan kesal. Tapi dalam hati ia merasa sangat senang karena sangat diperhatikan oleh Rio.

Sementara itu, Luna memainkan bros bergambar bunga tulip yang terpasang di dadanya dengan perasaan galau. Apa yang terjadi dengan hatimu ini? tanyanya pada dirinya sendiri dalam hati dengan getir.

Kenapa hari ini telah terjadi banyak hal luar biasa yang bahkan gak biasanya. Terusir dari kelas tanpa sedikit pun ada rasa penyesalan, padahal biasanya dipelototin dikit aja gentarnya minta ampun. Lalu, bukubuku yang dulunya selalu menjadi penghibur duka karena mampu meredakan badai kini tidak lagi berfungsi. Sekarang, ia kehilangan selera makan tanpa sebab. Sialan! Apakah aku benarbenar harus ke psikiater dulu? Luna memaki dirinya sendiri.

Apa yang terjadi padamu, Luna? batinnya kesal. Sekarang sudah tidak mungkin lagi kamu mengharapkan Billy datang dan menarikmu keluar dari lembah pernikahan yang sudah berlangsung hampir dua minggu itu. Semuanya sudah terjadi.

Bayangan mata secemerlang bintang itu kembali melintas lagi dan mengacaukan hatinya. Tidak, tidak, sanggahnya keras pada hatinya sendiri. Tidak ada yang namanya cinta lagi sekarang. Setelah orang tuanya menjadikannya sebagai imbalan atas sejumlah uang untuk mempertahankan perusahaan garmen milik ayahnya, Luna sudah tidak tahu lagi apa itu cinta. Apalagi saat Billy dengan tegas mengatakan padanya untuk berhenti menghubunginya lagi. Lengkaplah sudah!

Entah apa yang membawa angannya sampai terbayang wajah Johan yang dewasa dan penuh santun. Kebencian langsung menyerangnya dan dengan sekuat tenaga Luna meremas bros yang masih terpasang di bajunya itu dengan sekuat tenaga sampai jarum penitinya tidak sengaja menusuk telapak tangannya. Pikirannya semakin tidak keruan.

***

Luna duduk di kursi antik yang ada di beranda dengan jendela lebar itu tanpa menimbulkan suara. Ia ingin menghirup udara angin sore yang segar. Matanya menatap tajam pada lalu lintas di jalan raya. Mengamati setiap kendaraan yang berseliweran di sana. Ia mengerjap dan matanya terasa sangat perih. Kapan harihari sunyi seperti ini akan berakhir? tanyanya berbicara pada dirinya sendiri. Berharap ada yang mendengar dan memberinya jawaban. Tapi tidak ada jawaban. Sementara di luar gerimis masih saja turun. Dinginnya terasa hingga menusuk ke hati.

Siska yang memperhatikan tingkah Luna dari luar hanya menahan napas. Masuk diamdiam ke dalam café itu lalu melamun tanpa mempedulikannya. Oh my God! Apa lagi sih yang ada dalam benaknya?

“Luna…” sapanya setelah menghela napas. “Ada apa?”

Gadis bermata coklat kelam itu menoleh sekilas. Kesedihan tampak begitu pekat di matanya.

“Ada apa lagi?” ulangnya tidak sabar.

Luna menggigit bibir bawahnya dengan kuat sehingga sebagian wajahnya kelihatan bergetar. “Aku sudah gila…,” desisnya tersendat. “Benarbenar gila! Kamu dengar, kan?”

Siska melengak. Lurus, ditatapnya wajah Luna yang sudah sangat berbeda. Pasti ada masalah dengannya. Sesuatu telah terjadi, Siska langsung menyimpulkan. Apakah itu?

“Billy?” tebak Siska dengan yakin.

Luna tidak menjawab. Ia benci mendengar nama itu sekarang. Bibir pucatnya terkatup erat dengan mata yang menyimpan luka. Kembali Siska menghela napas. Billy kah? batinnya getas. Orang macam apakah dia sebenarnya?

“Luna…”

Siska menyentuh jemari pucat Luna dengan pelan. “Bukankah hubungan kalian selama ini baikbaik saja? Atau, apakah kalian sudah putus?” Siska menerka.

Tidak ada jawaban. Mata murung itu malah asyik dengan lamunannya sendiri.

“Aku tahu,” gumam Siska pahit.

“Tahu apa?”

Luna menoleh kesal.

Siska tersenyum getir. Perlahan ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Luna lalu menyentuh lembut pundak gadis itu. “Pertimbangan yang mengabaikan perasaan kan yang menjadi penyebabnya. Kamu melupakan bagaimana kabar hatimu itu karena keegoisan rasio. Bertingkah seperti camar yang terbang terus hingga ke tengah laut.”

“Aku sudah menikah, Siska…” ujarnya tak tahan lagi.

Siska yang baru akan meraih cangkir teh di meja langsung terperanjat. Apa dia tidak salah dengar?

“Apa?! Coba kamu ulangi lagi!”

“Aku merasa aku sudah gila karena aku sudah menikah di usiaku yang bahkan baru mau memasuki 20 tahun…” jelas Luna frustasi.

“Kapan dan bagaimana ceritanya, Luna?!”

Luna langsung terisak. Dalam pikirannya terlintas semua drama yang telah terjadi selama tiga minggu terakhir ini. Mulai dari datangnya kedua orang tua Johan secara tibatiba untuk melamarnya, prosesi tunangan, acara pernikahannya, dan juga malam pertamanya. Dengan terbata, ia menjelaskan semua peristiwa yang baru saja menimpanya dan Siska terdiam menyimak dengan baik.

“Apa itu artinya kalian belum bermalam pertama?!”

Luna mengangguk pelan.

“Bukankah itu kabar bagus…”

“Kabar bagus apa?”

“Kabar bagus karena itu artinya Johan memperhatikanmu, sayang. Dia tidak ingin kamu merasa terpaksa dengan pernikahan ini walaupun pada kenyataannya kalian memang menikah karena adanya paksaan dari orang tuamu yang membutuhkan uang tapi setidaknya pria itu tidak tahu apaapa, Luna. Pikirkan lagi!”

Luna menunduk dan mencerna semua yang dikatakan Siska barusan. Memang benar sejak menikah dnegan Johan, lelaki itu sama sekali belum menyentuhnya. Entah dengan alasan apa. Padahal bisa saja kalau dia mau, dia bisa memaksa Luna untuk melayaninya. Toh, Luna sudah menjadi istrinya yang sah. Tapi dia tidak melakukannya. Luna yakin jika saja itu pria lain, Luna sudah pasti akan disiksa sampai tidak bisa berjalan karena pernikahannya hanya karena uang. Tapi nyatanya, Johan sungguh menjaga kesantunannya di depan Luna.

“Dia menghormatiku, Siska. Sangat menghormatiku. Dia mengijinkanku melanjutkan kuliah dan dia juga tidak pernah melarangku untuk melakukan semua yang pernah aku lakukan sebelum aku menikah dengannya…”

“Itulah tipe pria idaman kita semua…”

“Aku masih tidak tahu dan aku sungguh tidak mengerti dengan semua yang sudah terjadi ini.” Luna menarik napas panjang dan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. “Aku merasa bisa gila jika aku memikirkannya lagi…,” keluhnya seraya menggelengkan kepalanya yang mendadak terasa pening.

Siska memegangi pundaknya. “Apa lagi yang kamu ragukan? Bukankah sudah jelas dari kesabarannya mendekatimu selama ini bahwa baginya pernikahan ini bukan karena suatu paksaan tapi dia sungguh membutuhkan pendamping, Luna…” Siska menatapnya dengan gusar. “Jangan berlagak tidak peduli lagi. Tidak ada salahnya kamu mencoba untuk bersikap lebih baik padanya… Bisa kan?”

“Aku tidak tahu…” Luna mengangkat bahunya.

“Apakah kamu masih berharap pada Billy?”

Luna tidak menjawab dan Siska yakin tebakannya tidak salah. Benar saja, tebakan Siska kali ini tepat pada sasarannya. Luna mengakui dalam hati. Yang ia cintai sesungguhnya adalah Billy dan bukan Johan. Kenapa bukan Billy saja yang menikahinya tapi malah Johan?

“Jangan pikirkan dia lagi. Di hadapanmu sekarang sudah tidak ada nama Billy lagi. Tidak ada gunanya kamu mempertaruhkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Seandainya, kamu meminta cerai dari Johan dan dia setuju maka bagaimana dengan usaha ayahmu?”

Luna menggeleng. Ia tidak sanggup untuk membayangkan apa yang akan terjadi nantinya jika saja ia meminta perceraian pada Johan.

“Kamu harus bisa mengubah sikapmu pada Johan. Aku yakin, dia tidak akan menyerah begitu saja untuk membuatmu bisa membuka hatimu untuknya…”

“Tapi kamu tidak mengenalnya, Siska… Kamu tidak tahu,” tukas Luna.

“Lalu apakah kamu sendiri mengenalnya dengan baik?”

Luna setengah menggeleng.

Siska menggeleng kuatkuat. “Jangan mengulur waktu lagi, Luna… Kamu yang akan menyesal nanti karena telah menyianyiakan lelaki seperti Johan…! Paling tidak kamu bisa menggunakan waktu yang sudah berjalan setengah ini untuk lebih mengenalnya, lebih memahaminya, dan belajarlah untuk mencintainya…”

Luna menyambar tatapan Siska dengan tajam. Namun perlahan mata yang mulai memerah itu menyuram. “Dia tidak seperi Billy dan aku hanya mencintai Billy seorang…,” gumamnya pasrah.

“Billy? Jadi dia lagi yang ada di pikiranmu?” Siska nyaris terloncat dari duduknya. “Oh Tuhan! Jadi dia masih mengharapkan Billy camar itu?” seru Siska memandang langit.

“Tidak!” sahut Luna cepat. Jika saja ia mengakuinya di depan Siska, sahabatnya itu akan memakinya lebih dalam lagi.

“Lalu apa?” Siska menatapnya dengan kehilangan akal. “Bukankah tadi kamu bilang setelah tahu kamu akan menikah, dia langsung menggandeng Winda lagipula bukankah itu artinya dia sudah berubah? Kamu sendiri kan yang bilang kalau dia sudah bukan lagi Billy–mu yang sederhana, keras tak terbantah, serta menyukai warna laut!” Ditatapnya Luna luruslurus. “Percaya sama aku, Luna…,” pintanya dengan penuh harap.

Luna menunduk. Kepalanya terasa sangat pening. Ia mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah.

“Kamu hanya menyukai Billy karena untuk beberapa hal dia nyaris menyerupai ayahmu dan itu kamu sangka dengan cinta. Tidak, Luna! Itu hanya persepsimu semata, kamu menganggapnya sebagai gambaran dari sosok ayahmu yang amat kamu kagumi. Kalau kamu sungguh mencintainya, pasti kamu sudah patah hati saat dia berpacaran dengan Winda. Memang, dia sempat membuatmu uringuringan tidak jelas juga, tapi itu hanya karena kamu merasa sedih sebab kehilangan orang yang tanpa sadar sudah kamu anggap sebagai kembaran dari ayahmu…”

“Aku sendiri tidak jelas dengan perasaanku itu…”

“Tinggalkan perasaan lamamu dan bukalah lembaran baru bersama Johan. Kelihatannya dia lelaki yang benarbenar baik… Apakah kamu masih tidak bisa melihat ketulusannya padamu?”

“Tapi mereka jauh berbeda, bagai langit dan bumi. Billy seperti ayahku, dia keras, nyaris tak terselami, tapi dia memiliki sisi kasih yang tak bertepi hanya saja caranya dalam mengungkapkan kasih sayang terkadang tak terpahami oleh orang lain. Berbeda dengan Johan, dia lebih mirip dengan ayahmu. Lembut, ramah, sopan dan santun, dan juga matanya selalu memancarkan kasih tanpa harus kehilangan sikap kelelakiannya yang sesungguhnya. Aku yakin kamu juga masih ingat saat aku mengatakan, sejak dulu idolaku adalah lelaki yang seperti dengan ayahku!”

“Ya?!” Siska menatap dengan mata yang mencemooh. “Tapi Johan telah berhasil menjerat perasaanmu, kan?!”

“Apa yang kamu katakan?” sentak Luna dengan mata terbelalak.

“Kamu tidak bisa menipuku. Aku tahu dari tatapan dan cara berbicaramu setiap kamu menyebut nama Johan. Tanyakan pada hatimu, apa yang diinginkannya saat ini.” Siska mengusap pipi Luna dengan genit. “Aku ini memang lebih muda dua tahun darimu tapi aku ini kan calon psikolog. Jadi otomatis aku bisa melihat gerak–gerik yang aneh belakangan ini karena jatuh cinta kah atau karena makan hati akibat pernikahan yang terpaksa ini…”

“Aku takut jika saja ternyata semua kebaikannya hanya untuk di depanku tapi di belakangku dia seorang playboy, bagaimana?”

Siska tertawa terbahakbahak. “Kamu pikir ada playboy yang mau menerima jika dia dijodohkan? Gak ada, sayang… Mereka dengan cepat akan memilih satu dari gadisgadis yang pernah mereka kencani lalu membawanya ke hadapan orang tuanya. Kamu terlalu cepat mengambil keputusan tanpa berpikir panjang,” tukas Siska dengan nada menuduh. “Belum tentu dia seburuk apa yang kamu bayangkan.”

Siska menyentuh tangan Luna dengan lembut. “Kamu bilang dia adalah orang yang sopan dan santun, kan. Bisa saja itu memang pembawaannya tapi bukan berarti kamu harus langsung curiga pada pembawaannya yang sangat positif itu, kan?!”

Luna tersenyum kecil tapi masih diam. Sementara Siska masih memandanginya dengan penuh harap. Menunggu jawaban dari Luna untuk mengambil keputusan dalam hidupnya. Bagaimanapun sulitnya menghadapi Luna, Siska sudah menganggapnya seperti kakaknya sendiri, sekaligus teman berbagi rasa. Tidak pernah ada hal yang tersembunyi antara mereka. Jarak serta usia yang memisahkan, tidak pernah menjadi penghalang. Bahagia dan duka adalah milik bersama. Sekarang, orang yang dikasihinya dengan setulus jiwa kini tengah dirudung masalah. Apa yang bisa dia lakukan?

“Cinta itu membutuhkan pengorbanan. Walau bukan pengorbanan yang besar tapi paling tidak dalam pengorbanan itu terselip rasa saling percaya, rasa saling memahami, dan juga rasa saling menyayangi yang besar.”

Luna tersenyum mendengar ucapan penuh arti dari Siska dan melirik pada sahabatnya yang setia itu.

Tibatiba, sebuah lengan besar merangkul pundak Luna hingga membuatnya sedikit terperanjat. Dengan senyumnya yang hangat, Johan berdiri di sampingnya lalu mengecup keningnya.

“Kita pulang sekarang, ya?!” ajaknya langsung tapi matanya melirik ke Siska. “Sekarang aku sudah bisa membawanya pulang, kan?!”

Tanpa basabasi Siska langsung mengangguk dan melirik Luna dengan tatapan curiga. Luna yang menyadarinya langsung tersenyum dan berbisik pada Siska. “Tadi aku menghubunginya untuk menjemputku…”

Siska mengangguk mengerti dan membiarkan mereka berdua berlalu.


19 comments:

  1. sukaaa makanya aku comment nih meski yang namanya johan nongol paling akhir ^o^//

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehee ... Makasih ... visit bLog aQ juga yaaa http://iliana-lin.blogspot.com/

      Delete
  2. Kok ptusny gni sih?
    Tpi bgus sih plotny..
    Trus brkarya yah..:d

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tadinya mau dsambung tuh tapi takut maLah kepanjangan ... kLo mau versi panjangnya Liat di bLog dLam beberapa minggu ke depan Lagi yaaa ... Terima kasih ... http://iliana-lin.blogspot.com/

      Delete
  3. tanggung akhirnya,,,,tapi baguss suka,,,

    ReplyDelete
  4. , bgus .. tp np ending.a spintas doank ma johan ..
    #lanjut.lanjut.lanjut ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa yaaa ntar versi panjangnya Liat di bLog aQ yaaa ... Terima kasih ...

      http://iliana-lin.blogspot.com/

      Delete
  5. suka...suka..sukaa...
    buruan lanjutin aku gk rela klw endingnya cuma gini doang...

    ReplyDelete
  6. Thanks Amanda ... tapi ntar bacanya dari bLog aQ yaaa ...

    ReplyDelete
  7. suka ama sikapnya Siska..
    She's good !!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks ,,, Riska ... Lanjutannya udah ada di bLog ,,, happy reading yaaa ...

      Delete
    2. boleh tau judulnya yng di blognya g?

      Delete
  8. padahal ceritanya seru loh tp kok endingnya gitu aja
    kan blm tau akhirnya luna mau nerima suaminya apa enggak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada lanjutannya di bLog aQ ...

      http://iliana-lin.blogspot.com/

      Delete
  9. judulnya apa aku cari kok nggak ada?

    ReplyDelete
  10. Replies
    1. Thanks Mega ... Baca yang Lainnya juga yaaa ... Kritik dan saran ditunggu dari semuanya ...

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.