"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, May 28, 2013

CERMIN 9 - KAWIN PAKSA SERIES - Serpihan Waktu oleh Hevi Puspitasari

Story by +vie puspitasari 


“Aku benci kamu!!” teriak seorang wanita tinggi di depanku, siapa? Siapa dia? Kenapa aku seolah seperti sedang berdiri di depan cermin?

 “Keluar!! Aku tidak mau melihat wajahmu itu!!” lanjutnya sambil melemparkan sesuatu ke arahku, tetapi aku tidak mampu bergerak, aku hanya diam dengan pasrah menerima apapun yang dilemparkan ke arahku.

“Aileen, awass!!!” suara itu, suara dari lelaki di belakangku membuatku terhenyak.

Aku langsung terduduk, ternyata hanya mimpi desahku lega dalam hati, ketika ku edarkan pandangan sekeliling, semua serba putih, tanganku terasa sedikit kaku, ternyata ada selang infus di tangan kiriku, dan lelaki di sebelahku tampak tak terganggu dengan mimpiku karena dia masih tertidur pulas dengan tangannya yang memeluk perutku, lelaki yang sama yang ada di mimpiku tadi, lelaki yang mengaku sebagai suamiku. Sudah 4 hari aku di rawat, mereka bilang aku amnesia karena tidak bisa mengingat apapun ketika ku terbangun, aku bahkan tak bisa mengingat namaku sendiri. Dan sudah 4 malam pula berbagai mimpi datang, sekelebat ingatan yang aku tak bisa mengingatnya hingga sekarang. Dokter mengatakan itu hal yang bagus, tetapi kepalaku selalu terasa sakit setelah aku mengalami itu semua.


Lelaki di sebelahku bergerak, tetapi tetap tidak membuka matanya, sepertinya dia sedang bermimpi. Aku perhatikan wajah tampannya, hidungnya yang sempurna, bibirnya yang merah merekah, jambangnya yang mulai tumbuh, rahangnya yang tegas, jakunnya yang naik turun, dadanya yang bidang, lengannya yang kekar, perutnya yang sempurna, dia seakan malaikat yang turun dari langit, bagaimana bisa aku menikah dengan lelaki sesempurna dia? Tetapi semua bukti yang dibawanya 1 hari setelah aku sadar dari koma selama 5 hari benar-benar membuktikan bahwa kami resmi menikah 2 bulan sebelum kecelakaan, apakah mungkin aku seberuntung itu? Aku memang tidak bisa mengingat apapun, tetapi aku bisa merasakan ada yang salah, ada sesuatu yang hilang dan mereka tidak menceritakannya kepadaku.

Sedangkan lelaki ini, lelaki yang bernama Damar Aditya Daniswara, selalu meyakinkanku bahwa tidak ada yang salah, kami menikah karena kami memutuskan untuk menikah, bukan karena alasan lain. Dia membuktikan semua ucapannya, dia selalu bersikap lembut kepadaku, bersabar menjawab semua pertanyaanku. Dia tak pernah meninggalkanku, dia selalu ada di sampingku, bahkan untuk mandi dan berganti pakaian dia selalu lakukan di kamar VVIP ini, melakukan pekerjaannya dari sini, memerintahkan seseorang melalui telepon, dan untuk tidurpun dia tidak mau tidur di ranjang yang telah disediakan di kamar ini, dia lebih memilih tidur di ranjangku, setelah dokter memastikan hal itu tidak akan mengganggu pemulihanku. Anehnya, aku bahkan merasa nyaman ada di pelukannya setiap malam, merasakan setiap debaran jantungnya, helaan nafasnya di pucuk kepalaku, seakan-akan itu semua lagu nina bobo untukku. Mungkin yang dikatakannya benar, mungkin memang itu satu-satunya pilihanku, bahwa aku memang harus percaya padanya.

Aku melepaskan pelukannya di perutku, mencoba untuk berdiri, namun ketika aku membalikkan badanku, aku merasa lenganku ditahan, dan aku mendapati dia sudah terbangun.

“Mau kemana, sayang?” tanya lelaki itu setengah mengantuk.

“Aku, aku mau ke kamar mandi,” jawabku tergagap karena masih belum terbiasa panggilan ‘sayang’nya kepadaku, dan dengan sigap dia bangun dan membantuku menuju kamar mandi. Setelah dia selesai menggantungkan infusku dia masih berada di sana, tidak beranjak, dan tidak ada keinginan untuk meninggalkanku sendirian di kamar mandi, lalu bagaimana aku bisa melakukan apa yang ingin ku lakukan jika dia tetap ada di sana? Kami mungkin sudah menikah, dan entah bagaimana kebiasaan-kebiasaan kami sebelum kecelakaan itu, tetapi aku yang sekarang jelas berbeda dengan aku yang dahulu, mengapa dia tetap bersikap seperti ini?

“Bisakah kau?” pintaku tanpa meneruskan kalimatku, tetapi dia tidak bergeming. Oke, siapa namanya kemarin? Oh, Damar, aku memanggilnya Damar.

“Damar, bisakah kau menutup pintunya dan menungguku di luar sana? Aku tidak bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan jika kau tetap berdiri di sana,” jelasku setengah marah.

“Maafkan aku, aku hanya takut kehilanganmu lagi,” jawabnya pasrah sambil melakukan apa yang kupinta.

Dia selalu begitu, dia selalu menunjukkan ketakutannya akan kehilanganku, apa kecelakaan ini benar-benar menjadi pukulan berat baginya? Suster memang pernah memberitahukan kepadaku, bahwa selama aku koma dia tidak pernah meninggalkanku, tidak pernah menyerah terhadapku, padahal jelas-jelas saat itu aku berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Terkadang aku menangkap tatapan kasihan para suster yang merawatku, entah karena hilangnya ingatanku atau karena kondisiku yang sangat memprihatinkan? Oke, aku mungkin terlalu berlebihan, aku memang mengalami beberapa memar, tetapi tidak separah yang mereka takutkan, di wajahku memang terdapat beberapa luka goresan, tetapi tidak sampai merubah bentuk wajahku. Tiba-tiba aku teringat mimpiku, wanita itu benar-benar mirip denganku, yang membedakan hanya beberapa luka goresan yang bertengger manis di wajahku, tetapi selebihnya sama, siapa dia?

“Aileen, kau baik-baik saja?” panggil Damar cemas sambil mengetuk pintu kamar mandi, dan dia menyadarkanku dari lamunanku.

“Ya, aku baik-baik saja,” dan langsung membuka pintu kamar mandi, dia langsung mengambil alih infusku dan menggiringku ke ranjang.

“Kau ingin makan sesuatu mungkin?” tawarnya setelah kami sampai di ranjang dengan dia membantuku naik ke ranjang.

“Tidak, aku hanya ingin tidur lagi,” jawabku sambil memandangi jam, masih tengah malam ternyata.

“Baiklah, ayo kita tidur lagi,” ajaknya dan tak lama aku langsung terlelap di pelukannya.
^.^
Aku terbangun karena ada dorongan kuat untuk muntah, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, Damar tidak ada. Seketika itu juga aku panik, karena aku yakin aku tidak akan mampu untuk menahan mualku, aku tidak akan sampai di kamar mandi tepat waktunya. Aku menutup mulutku dengan tangan, berharap itu bisa menahan muntahannya, dan dengan segera bersiap ke wastafel terdekat, di saat yang sama aku mendengar pintu terbuka dan aku melihat Damar setengah berlari ke arahku sambil membawa baskom aluminium dan segera mengarahkannya kepadaku.

“Muntahkan di sini,” perintah Damar dan tanpa harus disuruh dua kali aku langsung melakukannya, mengeluarkan semua persediaan makananku, perutku benar-benar bergejolak.

Tanpa perasaan jijik, dia dengan telaten membersihkan sisa-sisa muntahan di mulutku, membuang muntahanku di kamar mandi, dan kemudian membersihkan bajuku.

“Apa kau ingin di lap sekarang atau menunggu Mamah datang?” tanyanya setelah yakin aku telah bersih dari muntahan. Aku tentu ingin menjawab sekarang, aku merasa sangat bau, terlebih setelah menyadari dia sudah mandi dan wangi, tetapi itu tidak mungkin, karena jika aku menjawab sekarang, maka itu berarti aku mengizinkannya untuk melihatku secara keseluruhan, dan aku belum siap, terlepas dia adalah suami sahku.

“Nanti saja,” jawabku tanpa sadar mengelus perutku, ada yang hilang, aku merasakan kehampaan saat mengelus perutku, tetapi apa? Kenapa?

“Maafkan aku, aku tadi sedang berbicara dengan dokter, seharusnya aku tidak meninggalkanmu seorang diri,” jelasnya dengan nada penuh penyesalan membuyarkan lamunanku.

“Tak apa,” jawabku menenangkannya, dan perbincangan kami terhenti karena ada wanita paruh baya yang masuk dengan senyum khasnya, aku langsung merasa tenang dan nyaman hanya dengan melihat senyum penuh kasih sayang itu. Dia Mamahku bukan? Atau dia Ibu Mertuaku? Ah, aku benar-benar payah, aku belum bisa menghafal semua keluargaku.

“Pagi sayang, maaf Mamah terlambat,” sapanya sambil mengecup keningku, “Damar, kau sudah sarapan? Mamah bawa nasi goreng kesukaanmu,” lanjutnya.

“Iya, Mah. Terima kasih,” jawab Damar, seperti mengerti semua yang ku fikirkan, dia membisikkan sesuatu di telingaku.

“Dia Ira Wardhana, Mamahmu,” bisiknya saat wanita yang disebut Mamah masih asyik membereskan barang bawaannya, dan aku langsung mengangguk.

“Kau muntah, sayang?” tanya Mamah penuh prihatin ketika melihat baskom di kamar mandi. Aku dan Damar mengangguk bersamaan, “Baiklah, sekarang kita akan mengelap badanmu dan mengganti bajumu,” lanjutnya.
^.^
“Apa kau sudah menanyakan hal ini kepada Dokter? Apakah wajar dia mengalami muntah seperti itu, sementara,” tanya Ira kepada Damar tanpa mampu meneruskan kalimatnya, saat merasa yakin Aileen sudah tertidur karena pengaruh obat yang diberikan suster.

“Sudah Mah, dan Dokter mengatakan ini hal yang wajar, tubuhnya masih beradaptasi, kemungkinan besar dia masih akan merasakan hal ini selama beberapa hari ke depan karena pengobatan yang sedang dilakukannya,” potong Damar tanpa melepaskan pandangan sayangnya ke arah Aileen, istrinya, yang sedang tertidur pulas tanpa bisa mengingat apapun sebelum kecelakaan itu.

“Apa kau tidak perlu ke kantor? Kau sudah hampir 2 minggu meninggalkan kantor, pergilah jika memang kau harus pergi, biar Mamah yang menjaganya sementara kau pergi,” saran Ira kepada menantunya yang tak pernah mau meninggalkan anaknya, bukannya dia tidak senang, tetapi dia tidak mau melihat usaha yang sudah dirintis dari nol oleh keluarga menantunya harus hancur karena kecelakaan yang menimpa anaknya.
“Mamah tidak usah cemas, aku sudah mengurus semuanya,” jelas Damar sambil tersenyum, dia mengerti kecemasan Ibu Mertuanya, dia paham betul bagaimana keluarga istrinya, mereka selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu, terkecuali 1 orang itu.
^.^
“Ny. Aileen Maheswari Daniswara,” aku menoleh mendengar namaku dipanggil, “Bagaimana keadaan Anda hari ini?” tanya Dr. Dyah ramah sambil tersenyum simpul, yang masuk ke dalam kamarku diikuti suster ketika Damar membantuku merapikan rambutku.

“Baik, Dok,” jawabku.

“Sudah pasti, karena kau dirawat oleh orang yang sangat menyangi Anda,” ujar Dr. Dyah sambil melirik ke arah Damar, dan aku tahu arti lirikan itu, Damar memang sangat telaten merawatku, aku tidak meragukannya dan tiba-tiba saja aku merasa pipiku merona merah.

“Baiklah, baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi, bisakah kau tinggalkan kami, Tn.Damar?” pinta Dokter dan tak lama Damar meninggalkanku setelah mencium keningku.

“Suamimu itu benar-benar sosok suami sempurna, kau beruntung sekali Ny. Aileen,” goda Dokter Dyah, jika saja Dokter Dyah belum berumur, aku yakin dia pasti akan bertingkah seperti kebanyakan suster-suster muda yang merawatku, aku tidak menyalahkan mereka, Damar memang sangat tampan, dan aku hanya bisa tersenyum, “Baiklah, kita akan melihat perkembanganmu, apa kau masih suka merasakan sakit di kepalamu?” tanya Dokter sambil memperhatikan rekam medisku.

“Um, sudah tidak terlalu sakit, tetapi masih sedikit terasa ketika sekelebat bayangan itu datang, terutama ketika terbangun karena mimpi yang terasa sangat nyata” jawabku sambil meringis membayangkan rasa sakitnya.

“Dan apakah itu sering?” tanya Dokter Dyah sambil mengamati perubahan reaksiku.

“Mimpi itu masih terus datang, Dok, tetapi kalau sekelebat bayangan tidak terlalu sering.”

“Mimpi itu apa masih dengan wanita yang sama?” tanya Dokter Dyah penuh selidik.

“Ya, selalu dengan wanita yang sama, pagi ini aku memimpikan wanita itu dengan pakaian SMAnya melarangku keluar kamar, dia takut aku mengganggu acara dengan teman-temanya, sedangkan aku masih memakai seragam SMPku, dan matanya selalu menyorotkan kebencian terhadapku. Aneh bukan? Dia sudah SMA sedangkan aku masih SMP,” Jelasku sambil mengernyit tak mengerti, “Lalu kemarin siang aku bermimpi wanita itu menyuruhku untuk tetap bermain piano di ruang tengah dan melarangku bermain bersama dia dan teman-temannya di lantai atas, saat itulah pertama kalinya aku bertemu dengan Damar, setidaknya itu yang aku rasakan ketika mimpi itu datang,” lanjutku sambil mengingat kembali mimpiku.

“Jangan terlalu dipaksakan, ingatanmu pasti akan kembali jika waktunya telah tiba, untuk saat ini kita masih harus melakukan pemulihan terhadap luka-lukamu, dan jika perkembanganmu semakin membaik, beberapa hari ke depan kita akan memulai terapi kita,” jelas Dokter Dyah menutup pemeriksaannya pagi ini, tak lama aku melihat Damar masuk didampingi oleh sepasang suami istri paruh baya dan mereka tersenyum padaku. Oh, aku ingat, mereka Ayah dan Ibu Mertuaku.

“Hai, Sayang, bagaimana kabarmu?” sapa Ibu Mertuaku lembut sambil mengecup keningku, sedangkan Ayah Mertuaku tersenyum ramah tak jauh dari Damar berdiri.

“Baik,” jawabku ragu-ragu harus memanggilnya apa, aku lupa.

“Mom, kau biasa memanggilku dengan sebutan Mom seperti Damar, dan lelaki di samping suamimu adalah Suamiku, kau biasa memanggilnya Dad,” jelas Ibu Mertuaku sabar. Sekarang aku paham darimana ketampanan Damar itu berasal, karena Ayah dan Ibunya terlihat sempurna walaupun berada di usia senja mereka. Oh, konyol sekali, aku pasti sudah mengetahuinya dulu.

“Aku ke ruangan Dokter dulu sayang, sementara kau ditemani oleh Mom dan Dad,” pamit Damar setelah mencium keningku. Terkadang aku merasa mereka terlalu berlebihan memperlakukanku, hei, aku hanya lupa ingatan sementara –ku harap- bukan penderita kanker yang sudah di vonis meninggal oleh Dokter.
^.^
 “Jadi, wanita yang muncul di mimpi Ny. Aileen itu ada?” tanya Dr. Dyah saat Damar berada di ruangannya sesuai permintaan Dr. Dyah.

“Benar, Dok. Lalu apa yang harus kami lakukan selanjutnya?” jawab Damar gusar.

“Sebaiknya kita mulai memperkenalkan wanita itu kepada Ny.Aileen. Karena jika menurut Tn.Damar dia adalah orang yang terakhir terlihat bersamanya sebelum kecelakaan itu, dia bisa merangsang ingatannya kembali, ditambah lagi wanita ini selalu muncul dalam mimpi Ny.Aileen,” jelas Dr. Dyah yakin

“Baiklah, akan saya bicarakan kembali kepada keluarga saya, terimakasih penjelasannya Dok,” tak lama Damar meninggalkan ruangan Dr. Dyah dan langsung menuju kamar perawatan Aileen dengan hati gamang. “Apakah dia mau? Benarkah keputusan yang ku ambil ini?” tanya Damar dalam hati.
^.^
“Apa Dokter mengatakan seperti itu, Adit?” tanya Fani Daniswara cemas, Ibu Damar, saat Aileen sedang menjalani pemeriksaan CT-Scan, mereka terpaksa melakukan rapat keluarga dadakan hari ini.

“Iya, Mom. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” Damar tak kalah cemas memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

“Jika memang ini demi kesembuhan Aileen, saya akan berusaha keras membujuknya,” putus Ira Wardhana yakin.

“Ya, jika memang ini satu-satunya jalan, saya setuju,” dukung Putera Wardhana, Ayah Aileen.

“Semua pasti akan baik-baik saja, Adit, kau tidak usah cemas,” ujar Sandhy Daniswara, Ayah Damar, menenangkan Damar sambil memegang bahu anaknya.
^.^
“Kau sudah siap?” tanya Damar sambil menggenggam erat tanganku dan “Ya, aku siap,” jawabku mantap, hari ini aku akan dipertemukan dengan seseorang yang selalu muncul di mimpiku, melakukan terapi pertamaku setelah hasil pemeriksaanku menunjukkan perkembangan yang positif. Aku juga sudah mulai bisa mengingat beberapa hal, perkembangan yang sangat bagus menurut Dr. Dyah, hingga akhirnya diputuskan bahwa hari ini aku akan menemui seseorang yang kemungkinan besar bisa menjadi kunci ingatanku kembali.

Tak lama pintu terbuka dan aku melihat seorang wanita tinggi semampai, berambut cokelat panjang sebahu, dengan wajah yang sangat mirip denganku, membuatku terkesiap sejenak, Damar yang menyadari perubahan sikapku langsung memeluk lenganku, sementara tangannya yang satunya semakin erat menggenggam tanganku. Kami sangat mirip, terlampau mirip, dan seketika itu juga sekelebat ingatan datang, menari-nari dengan tak wajarnya di hadapanku. Bagaimana dulunya kami bersikap layaknya sepasang anak kembar yang tak terpisahkan, kami selalu berada di kelas yang sama, mempunyai beragam benda yang sama, memiliki teman yang sama, kebiasaan-kebiasaan yang sama, tak pernah ada rahasia di antara kami, hanya 1 hal yang membedakan kami, aku tidak pernah bisa bermain seperti dirinya, tubuhku ringkih, aku tidak bisa terlalu lama berada di paparan sinar matahari, aku berpenyakitan sedangkan dia sehat.

Semua tiba-tiba berubah saat dia mengikuti kelas akselerasi di waktu SMP dan langsung masuk SMA sedangkan aku masih berada di SMP tanpa memberitahukanku sebelumnya. Aku marah, pasti, karena aku merasa di khianati, tetapi aku tidak pernah memusuhinya, aku selalu mendukungnya jika memang itu yang diinginkannya. Sejak saat itu dia tidak pernah menganggapku saudara kembarnya lagi, dia selalu memandang penuh kebencian kepadaku, dan melarangku mendekatinya apapun alasannya.

“Aku benci kamu!! Aku capek selalu menjagamu, kau beban bagiku!! Mamah dan Papah jahat!! Mereka membedakan kita, padahal jelas-jelas kita ini saudara kembar, tetapi mereka lebih menyayangimu dibanding aku!! Aku tidak pernah mengharapkan seorang adik yang lemah sepertimu!! Lebih baik kau tidak usah lahir sekalian!! Aku ini Kakak kembarmu, bukan pengasuhmu!! Mulai sekarang kau jaga dirimu sendiri!!” teriaknya kembali terngiang di kepalaku dan membuat kepalaku sangat nyeri, aku meringis dan dengan segera Damar memanggil Dr. Dyah yang berdiri tak jauh darinya, dan kemudian semuanya gelap.
^.^
“Tidak apa-apa, ini reaksi yang normal, dia akan siuman tak lama lagi,” jelas Dr. Dyah setelah selesai memeriksa Aileen yang pingsan begitu melihat saudara kembarnya, Anindhita Maheswari.

“Apakah kita terlalu memaksanya?” tanya Damar cemas tanpa mengalihkan pandangannya dari Aileen, mengelus tangannya dengan sayang.

“Saya paham perasaan Anda, tetapi berdasarkan pengalaman terhadap kasus serupa, keberanian pasien sangat dibutuhkan jika dia benar-benar menginginkan ingatannya kembali, karena terkadang, pasien takut jika dia diingatkan kembali pada kenangan yang tidak ingin dia ingat. Ny. Aileen mempunyai keberanian itu, saya yakin ingatannya akan kembali,” jelas Dr. Dyah.
^.^
“Kau, pergi dariku!! Menjauh dariku!! Aku benci kamu, aku tidak mau melihatmu lagi!!” teriaknya dan mulai melempar barang penuh emosi.

“Maafkan aku, Kak,” pintaku

“Berhenti memanggilku Kakak, aku bukan kakakmu atau aku akan menamparmu!!” ancamnya dan aku langsung terbangun, tersadar bahwa itu semua mimpi, menyadari bahwa tadi aku sempat pingsan setelah bertemu dengan Kak Dhita.

“Kau sudah sadar, sayang?” tanya Damar khawatir.

“Mana Kakak?” tanyaku begitu mendapati kami hanya tinggal berdua dan hari sudah menjelang malam.

“Mereka semua sudah pulang,” jawab Damar sambil mencium buku-buku tanganku.

“Damar, mengapa kau memilihku dan bukan memilih Kakak?” pertanyaanku membuat Damar langsung menegang, dan menatapku tanpa berkedip.

“Apa kau sudah ingat semuanya?” tanyanya senang.

“Tidak, aku belum mengingat semuanya, tetapi aku ingat kau selalu bersama Kakak, dan kakak selalu menatapmu dengan tatapan sayang, aku tahu, kakak sangat mencintaimu, tetapi kenapa kau memilihku? Aku lemah, tubuhku ringkih, tetapi Kakak sehat, dia mampu menemanimu dalam setiap kegiatanmu,” jelasku sambil memperhatikan raut wajah Damar, dia terlihat tidak senang,

“Aku memilihmu, karena hatiku yang memilihmu. Kalian memang memiliki wajah yang sama, tetapi hanya kamu yang mampu memiliki hatiku, hanya kamu yang dipilih oleh hatiku, dan aku sudah pernah menjelaskan semua ini kepadamu. Aku selalu senang jika Dhita mengajakku ke rumahnya, karena itu berarti aku bisa bertemu denganmu walaupun hanya bisa memandangimu dari taman saat kau bermain piano, aku selalu mencuri-curi pandang terhadapmu ketika aku melewatimu yang sedang asyik bermain sendiri di kamar tanpa menghiraukan keberadaan kami. Hanya kamu yang mampu membuat hatiku berdegup kencang ketika kita berdekatan, hanya kamu yang bisa membuat duniaku jungkir balik tak karuan, hanya kamu, Aileen Maheswari,” jelasnya mantap tanpa mengalihkan tatapannya terhadapku membuatku tak mampu merespon apapun, aku seperti melayang.

“Sekarang sebaiknya kau tidur, besok kau sudah boleh pulang, kita akan pulang ke rumah, dan jangan berpikir macam-macam,” perintahnya sambil mengelus keningku yang berkerut, “1 hal yang harus kau yakini, kau adalah Aileen Maheswari Daniswara, istri sah Damar Damar Daniswara, tak peduli akan terjadi apa esok hari, yang jelas kau adalah istriku, milikku,” lanjutnya sambil mencium keningku dan memelukku.
^.^
“Lakukan rutinitas seperti biasa, jangan memaksakan otak Anda bekerja terlalu keras, jika kepala terasa nyeri, sebaiknya Anda langsung memeriksakan diri, 1 minggu lagi kita akan bertemu dan melihat perkembangan Anda,” pesan Dr. Dyah sesaat sebelum aku meninggalkan rumah sakit. Seluruh keluarga datang, kecuali Kak Dhita, dan tanpa diberitahu pun aku tahu, dia tidak akan mau datang.

Kami berjalan beriringan menuju lobby, ketika melihat mobil sedan mewah hitam terparkir di depan lobby rumah sakit, seketika sekelebat bayangan itu datang lagi, aku melihat diriku berada di belakang kemudi, panik karena mendapati mobilku di dorong dari belakang, dan sebelum aku menyadari apa yang terjadi tubuhku sudah terpelanting ke luar, dan semuanya menjadi gelap.

“Sayang, kau baik-baik saja?” tanya Damar menghilangkan bayangan, setengah memelukku dia mencoba menahan berat badanku karena tiba-tiba kakiku terasa lemas.

“Tidak apa-apa, maafkan aku,” jawabku untuk menenangkan diriku sendiri dibanding Damar.

“Apa kau menginginkan kita menaiki mobil yang lain?” tanya Damar menyadari keenggananku memasuki mobil itu.

“Apakah boleh? Aku tidak ingin masuk ke mobil itu,” pintaku.

“Tak apa, itu memang bukan mobil kita, mobil kita ada di belakang mobil itu,” jelas Damar tanpa bermaksud menertawaiku yang salah melihat mobil, ketika aku melihat ke arah yang dimaksud Damar, aku melihat mobil sport modif keluaran terbaru terparkir rapih. Dan setelah berpamitan dengan seluruh keluarga, kami masuk ke dalam mobil.

“Apakah mobil seperti itu yang aku bawa ketika kecelakaan?” tanyaku setelah kami meluncur menjauh dari rumah sakit, Damar menggenggam tanganku erat mencoba menguatkanku dan mengangguk.
^.^
“Apa ini rumah kita?” tanyaku takjub mendapati rumah yang kami tempati sedemikian mewah.

“Ya, ini rumah kita,” jawab Damar sambil tersenyum sambil membuka pintu mobil dan memutari mobil untuk membuka pintu mobilku, tetapi semua berjalan lambat, aku seakan tersedot ke kejadian lalu, mendapati diriku berada di mobil yang sama, dengan reaksi takjub yang sama, tetapi menggunakan baju yang berbeda, aku masih memakai gaun pengantinku, dan Damar dengan jas pengantinnya membuka pintu mobilku, sambil tersenyum bahagia menggendongku, dan berkata, “Selamat datang di rumah kita.”

“Apa kau mengingat sesuatu?” tanya Damar mengembalikanku ke waktu sekarang, dan ketika ingin menggendongku aku melarangnya.

“Izinkan aku berjalan,” pintaku dan dia mengangguk, membawaku masuk ke dalam rumah.

         Begitu pintu rumah terbuka, aku mencium bau khas pewangi ruangan yang bercampur dengan wangi segar bunga yang ada di vas. Semua masih sama, semua masih berada di tempatnya seperti saat aku pertama kali masuk ke dalam rumah ini saat itu. Dengan yakin aku melangkah ke tangga, menuju kamarku, dan ketika aku merasa yakin menemukan kamarku, aku menoleh ke arah Damar yang mengamatiku sedari tadi, meminta izinnya untuk membuka pintu dan dia mengangguk. Aku melihat kamar yang indah, elegan tetapi tetap tidak meninggalkan kesan maskulin di dalamnya, aku mengingat Damar yang membaringkanku di ranjang saat itu, mencumbuku, merayuku, memintaku melakukan kewajibanku sebagai seorang istri, dan adegan demi adegan yang berputar di kepalaku membuat pipiku merona merah.

         Ada yang salah di sini, saat itu aku tidak melakukannya dengan bahagia, saat itu aku merasa ini semua kesalahan, tetapi apa? Dengan yakin aku menuju ranjang, duduk di tepinya, meraba seprei satin itu, mencoba mengingat apa yang salah, dan kenangan lain menghantam kepalaku, saat itu, aku mengantarkan dia masuk ke dalam kamar ini dalam keadaan setengah mabuk setelah mereka merayakan keberhasilan Kak Dhita mendapatkan pekerjaan pertamanya. Aku mengantarkannya karena tidak mungkin aku membiarkan Damar menyetir malam-malam dalam keadaan setengah mabuk seperti itu setelah mengantarkan Kak Dhita yang mabuk berat, dengan bantuan Pak Min, supirku.

         Tetapi tepat ketika aku hendak meninggalkan kamarnya, dia menarikku hingga aku berada tepat di bawahnya, dia menindihku posesif, mencumbuku.

“Aku mencintaimu Aileen Maheswari, sangat mencintaimu, tidakkah kau tahu perasaanku selama ini?” ucap Damar di tengah-tengah cumbuannya, membuatku terhenyak, dia mencintaiku? Bagaimana bisa? Kami jarang berada dalam kesempatan yang sama, selalu ada Kak Dhita diantara kami.

“Sejak kapan?” tanyaku memberanikan diri, menyadari bahwa omongan orang yang sedang mabuk adalah kejujuran, kejujuran yang tak mampu dia ucapkan ketika dia dalam keadaan sadar.

“Sejak pertama kali aku melihatmu, kau sedang asyik bermain piano tanpa menyadari kehadiranku,” jawab Damar yakin dan kemudian menciumku penuh keyakinan, merayuku, memaksaku membuka sisi terliarku, hingga kemudian aku sadar, ini semua salah, ini semua tidak benar, dan aku memberontak, mencoba melepaskan diri darinya, tetapi tidak bisa, dia jauh lebih kuat, dalam keadaan setengah mabuk pun aku tidak bisa melawannya.
“Kau milikku, hanya milikku,” janji Damar di tengah-tengah penolakanku dan dia benar-benar melakukan janjinya, menjadikanku miliknya tanpa bisa melawan.
^.^

“Kau mengingat kejadian malam itu,” ujar Damar yakin, tanpa sadar dia telah berada di depanku, membungkuk, mencoba menghapus air mata yang mengalir tanpa bisa ku tahan.

“Kita menikah karena terpaksa, kita menikah karena kau telah menodaiku,” jelasku sambil memperhatikan perubahan reaksinya, dia meringis kesakitan, seolah aku menorehkan luka yang dalam padanya.

“Ya, kita menikah karena aku telah menodaimu, aku memaksamu dalam keadaanku yang setengah mabuk, tetapi kau harus tahu, aku mengingat semua kejadian malam itu, aku mengingat setiap patah kata yang aku ucapkan kepadamu, dan aku mengatakan kejujuran, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku bahkan mengingat setiap inci tubuhmu, bagaimana kau merespon setiap sentuhanku hinggan akhirnya kau menyerah di bawahku. Entah bagaimana kau mengartikan pernikahan ini, kau bisa menyebutnya pernikahan yang dipaksakan, atau apapun itu, tetapi bagiku, pernikahan ini adalah pernikahan yang ku inginkan, aku bersungguh-sungguh mengucapkan setiap kata janjiku padamu, dan aku akan membuktikan semuanya, kau milikku dan akan tetap seperti itu,” jelasnya tanpa mengalihkan tatapannya dariku.

“Kau membuatku kehilangan kakakku, kau membuatku semakin dibenci oleh kakak!” teriakku frustasi di tengah-tengah tangisanku tak percaya atas semua kenyataan ini.

“Kau memang sudah lama kehilangan Dhita, kau tak pernah memilikinya, karena yang dipikirkannya hanya dirinya sendiri dan dia tak pantas kau sebut Kakak!” ujarnya dengan nada tinggi membuatku tersentak, yang dikatakannya benar, tanpa kejadian ini pun aku sudah kehilangan Kakak, jauh sebelum kehadiran Damar.

Tangisku semakin menjadi, kepalaku terasa nyeri, dengan frustasi aku memegang kepalaku, Damar menyadari perubahanku dan langsung mendekatiku.

“Maafkan aku, Maafkan aku, sayang. Apa kau baik-baik saja? Apa kita perlu kembali ke rumah sakit?” tanya Damar khawatir, seketika itu juga hatiku perih melihat wajahnya penuh kesakitan seperti itu, mengingat kembali semua yang sudah dilakukannya, dia benar-benar datang ke rumah untuk melamarku, bertanggungjawab dengan perbutannya, dan itulah yang membuat Kakak tak terima dan semakin membenciku, mimpi-mimpi itu semua nyata, dan semua itu terjadi tepat setelah Damar datang melamarku. Aku langsung memeluknya, menangis di rangkulannya.

“Hei, jawab pertanyaanku, apa kau baik-baik saja? Apa kita harus kembali ke rumah sakit?” tanyanya cemas sambil melepaskan rangkulannya, menatapku tajam dan aku menggeleng.

“Maafkan aku,” pintaku di sela-sela tangisanku, “Aku lelah,” isakku, dan dia langsung membaringkanku, menempatkan kepalaku di dadanya, merasakan helaan nafasnya di pucuk kepalaku, memegang erat tanganku di dadanya.

“Tidurlah, jangan fikirkan apapun, aku mencintaimu, Aileen, selamanya,” perintahnya dan tak lama aku langsung terlelap, aku sangat lelah.
^.^
         Aku terbangun ketika matahari sudah menusuk ke dalam kamar, merasakan seluruh badanku sakit, mengedarkan pandangan ke sekeliling, ini bukan kamarku. Lalu terkesiap menyadari aku tidak sendirian, ada lengan kekar memelukku erat di balik selimut, bersentuhan langsung dengan kulitku, aku telanjang! Dengan panik aku mencoba melepaskan diri dari pelukannya, tetapi tidak bisa, pelukannya sangat kencang bahkan di dalam tidurnya, sedangkan kepalanya dengan nyaman berada di leherku, nafas teraturnya menunjukkan dia masih tertidur pulas, menggelitik leherku, menarik nafas dalam-dalam, aku mencoba menenangkan diriku sendiri atas sensasi yang kurasakan saat ini, dan mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Dalam sekejap aku merasakan duniaku hancur, semua impianku menguap begitu saja, aku tidak akan bisa menjalani hidupku seperti sebelumnya, tidak akan sama, lantas bagaimana aku bisa menampakkan diriku saat pulang nanti?

“Pagi, Aileen. Kau tahu, sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini, terbangun di pelukanmu,” sapa Damar riang sambil mencium leherku, mengirimkan gelenyar aneh di tubuhku, tanpa menyadari aku yang menangis terisak, tak mampu menjawab apapun.

“Aileen, kau baik-baik saja? Kenapa nafasmu seperti tertahan?” tanyanya khawatir sambil menatapku dan ketika menyadari aku yang sedang terisak, dia langsung menciumi keningku, pipiku, menghapus airmataku, “Maafkan aku, maafkan aku memaksamu semalam, aku akan bertanggungjawab, aku tidak akan lari, kau tenanglah, kita akan segera menikah dalam waktu dekat ini,” jelas Damar menatapku lembut.

“Ini tidak benar, ini salah, aku tidak mungkin menikah denganmu, bagaimana dengan Kakak?” tanyaku khawatir setelah mampu menguasai diri.

“Aku yang salah, aku yang memaksamu, maafkan aku. Tetapi, aku tidak akan mundur, aku tidak akan lari, aku akan bertanggungjawab, dan kau tidak perlu cemas, kau tidak perlu mengkhawatirkan Dhita, dia pasti akan mengerti, aku tidak pernah menganggapnya lebih dari teman, aku mencintaimu, selalu,” jelas Damar sambil menciumiku, sementara tangisku semakin jadi.

         Hari itu, Damar langsung mengemukakan maksudnya ke keluargaku, membuat mereka semua terkejut, tak terkecuali di hadapan Kakak, dan reaksinya benar-benar tak terduga, dia langsung berlari ke kamar, aku mengikutinya, dia memakiku tak jelas,

“Aku benci kamu!!” teriak Kakak.

“Maafkan aku, Kak,” pintaku di depan pintu.

“Keluar!! Aku tidak mau melihat wajahmu itu!!” lanjutnya sambil melemparkan sesuatu ke arahku, tetapi aku tidak mampu bergerak, aku hanya diam dengan pasrah menerima apapun yang dilemparkan ke arahku.

“Aileen, awass!!!” teriak Damar di belakangku dan dengan cepat dia sudah berada di depanku, melindungiku dari lemparan vas bunga yang untungnya meleset, sehingga Damar hanya terkena percikan air yang keluar dari vas.

         Aku langsung terduduk, keringat mengucur dengan derasnya di seluruh tubuhku, semua mimpi, itu semua mimpi, tetapi mimpi itu nyata, aku mulai mengingat semuanya, aku mengingat setiap detik kejadian setelah itu. Kakak tak pernah bisa merestui kami, dia semakin membenciku, terlebih setelah diputuskan bahwa pernikahan kami akan dilangsungkan 1 bulan sejak keluarga Damar datang secara resmi melamarku ke rumah, Kakak menghilang, dan tiba-tiba muncul di hari pernikahanku dan menawariku sesuatu, sesuatu yang membuatku tak bisa menolak permintaannya, tetapi apa?

         Dengan gusar aku melepaskan pelukan Damar dan langsung menuju kamar mandi, menatap wajah kusutku di cermin dan sebuah kenangan lain mulai berputar di kepalaku, dengan reaksi yang sama, dengan perasaan yang lebih hancur sambil memegang testpack dengan tanda dua garis merah di tangan kananku dan bergumam,

“Sekarang bagaimana aku bisa menjalankan janjiku kepada Kakak? Apa aku sanggup mengorbankan perasaanku sendiri serta masa depan anakku?”

“Aileen, kau di dalam? Kau baik-baik saja?” tanya Damar sambil mengetuk pintu kamar mandi menyadarkanku, mengembalikanku ke masa sekarang, “Aileen, jawab aku!” perintah Damar panik, dan aku langsung membuka pintu.

“Aku hamil,” ucapku setelah membuka pintu sambil menunduk, tak berani menatap wajahnya, “Aku sedang hamil saat kecelakaan itu terjadi.”

“Oh, sayang,” Damar langsung memelukku, menenangkanku, membuat tangisanku semakin menjadi.

“Aku hamil karena kejadian malam itu, benar bukan? Kau memaksaku menikahimu karena kau yakin aku hamil karena kejadian malam itu, kau sudah mengatur semuanya supaya aku hamil dan dengan pasrah menerima pernikahan ini,” jelasku di sela-sela tangisanku.

“Maafkan aku, maafkan aku,” pintanya sambil mengelus rambutku.

“Aku pembunuh, aku membunuh anak kandungku sendiri, anak kita,” aku meracau tak jelas, aku menangis meraung-raung.

“Tidak Sayang, kau bukan pembunuh, itu semua kecelakaan,” jelas Damar sambil menangkup wajahku, menciumi seluruh wajahku, ketika ku buka mataku, aku melihat dia menitikkan air matanya, dia menangis?

“Maafkan aku, maafkan aku,” pintaku sambil menghapus airmatanya.

“Ssshh, tenanglah, semua sudah berlalu, kita akan melalui semua ini berdua, kita pasti kuat, dan aku membutuhkanmu untuk jauh lebih kuat, kau pasti bisa,” dukung Damar sambil memelukku erat.
^.^
“Jadi, kau sudah mulai mengingat semuanya sayang?” tanya Mamah, terpaksa malam itu Damar mengumpulkan seluruh keluarga di rumah Mamah dan memberitahukan perkembanganku.

“Iya Mah, aku mulai mengingat sedikit demi sedikit, tetapi aku masih merasa ada yang kurang, ada hal yang sangat penting yang justru belum aku ingat,” jawabku menunduk, tak berani menatap wajah-wajah yang mengharapkanku bisa mmengingat semuanya.

“Hei, tak apa, jangan kau paksakan, ingat pesan Dr. Dyah,” hibur Ibu Mertuaku sambil mengelus bahuku, aku hanya bisa menghela nafas pasrah.

“Baiklah, lebih baik kita makan sekarang, perutku sudah lapar,” ajak Papah memecah kesunyian dan langsung disambut tawa renyah semua keluarga.

“Pah, Kakak kemana? Apa dia tidak ikut makan bersama kita?” tanyaku dan membuat semua diam membeku.

“Tidak, sayang, Kakakmu tidak tinggal di sini lagi sejak kau menikah, dia tinggal di apartemen yang disediakan kantornya,” jelas Mamah sambil menggiringku ke meja makan, diikuti semua keluarga.
^.^
“Apa kau tahu dimana apartemen Kakak?” tanyaku kepada Damar saat kami dalam perjalanan pulang ke rumah.

“Aku tidak tahu, kami sudah lama tidak bertemu langsung sejak kita menikah,” jawabnya dan seperti teringat sesuatu dia melanjutkan, “Tunggu dulu, Mamah pernah menyebutkan kalau dia tinggal di sekitar Kuningan, ada apa?” tanyanya sambil melihat ke arahku walau sesekali dia melihat ke arah jalan.

“Kuningan? Apakah itu tempat dimana aku mengalami kecelakaan?” tanyaku penasaran.

“Ya, benar. Kenapa sayang? Apa kau mulai mengingat sesuatu?” tanya Damar cemas.

“Tidak, hanya saja, berarti benar dia orang terakhir yang ku temui sebelum kecelakaan itu,” jawabku dan dia mengangguk. Dadaku berdegup kencang, jadi, benar, ada sesuatu antara kami sebelum kecelakaan ini, sesuatu yang sangat penting yang tak mampu ku ingat.
^.^
         Aku sendirian di rumah ketika aku menerima paket dokumen siang itu, Damar sudah mulai normal bekerja, walau dia masih rutin meneleponku dan selalu menyempatkan waktunya untuk makan siang di rumah bersamaku. Kira-kira siapa yang mengirimiku paket ini? Dengan penasaran aku membuka dokumen itu dan tersentak melihat isinya, ini, ini surat perceraian! Dan jelas sekali di sini aku yang menggugat cerai Damar, belum sepenuhnya pulih dari keterkejutanku, teleponku berdering, dan tertera nama Kakak di Caller ID.

“Halo?” jawabku dengan tangan gemetar menahan kaget.

“Kau pasti sudah menerima paket yang aku kirimkan bukan? Dan aku sudah mendengar mengenai ingatanmu yang mulai kembali, ku harap kau akan mengingat semua janjimu kepadaku begitu membaca dokumen itu,” jelas Kakak, “Aku masih menunggumu menepati janjimu kepadaku tepat di hari pernikahanmu, dan itu tepat 1 minggu dari sekarang, manfaatkan waktumu sebaik mungkin,” lanjutnya dan tanpa menunggu jawabanku, Kakak sudah menutup teleponnya.
        
         Aku masih diam tak percaya dengan semua yang baru saja ku dengar, seketika itu juga kenangan itu kembali, berputar bagai adegan flashback di film-film.

“Kakak? Kau datang? Kau merestui pernikahanku?” tanyaku riang ketika mendapati Kakak yang masuk ke dalam kamarku setelah aku selesai didandani.

“Merestui? Huh, kenapa kau bisa berfikir aku mau merestuimu? Aku datang ke sini untuk meminta satu hal kepadamu, adikku sayang,” jelasnya tanpa melepaskan senyum culasnya yang tak ku sadari.

“Meminta? Meminta apa, Kak?” tanyaku waspada, aku mempunya firasat buruk mengenai hal ini.

“Aku memintamu menyerahkan Damar kepadaku tepat di hari ulang tahun kita, aku ingin kau meninggalkan Damar dengan menceraikan Damar dengan kejam, tak peduli apapun yang akan kalian jalani setelah menikah.”

“Apa?”

“Ya, aku meminta kau meninggalkan suamimu, suami dari pernikahan yang tidak kau inginkan, bukankah itu yang kau katakan kepadaku? Kau menikah karena terpaksa, karena kalian sudah melakukan hal yang seharusnya belum kalian lakukan. Masalahmu terselesaikan karena kau menikah dengan lelaki yang telah menidurimu, dan ketika kalian bercerai, kau masih mampu untuk mencari pengganti Damar, masih ada lelaki yang mau menerima wanita janda tanpa anak sepertimu. Tetapi, Aku, hidupku tidak lama lagi, aku mengidap tumor otak dan waktuku tidak lama lagi, selama ini aku bertahan karena Damar, karena cintaku kepadanya, tetapi kau merebut hidupku. Sekarang, aku meminta kehidupanku, aku meminta kau mengembalikan cahaya hidupku,” ucap Kakak menantangku, aku masih terdiam, mencoba mencerna semua perkataan Kakak, jadi Kakak mengidap tumor otak? Lantas mengapa dia tidak pernah memberitahukannya kepadaku? Bagaimana bisa aku tidak merasakan kesakitannya? Kami kembar bukan? Ah, aku lupa, sejak dia dengan terang-terangan menunjukkan kebenciannya kepadaku kami tidak pernah terikat secara emosional lagi, tak pernah bisa merasakan satu sama lain layaknya anak kembar lainnya.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahukan kami?” Aku masih belum percaya dengan semua yang kudengar, tidak, tidak mungkin, itu semua pasti bohong.

“Kenapa? Untuk apa aku memberitahukan kalian semua, tidak akan ada yang berubah, kau selalu menjadi anak kesayangan Papah dan Mamah, selalu, tidak akan ada yang berubah walaupun aku menceritakan semua ini. Kau telah mengambil semuanya, dan sekarang kau pun mengambil cahaya hidupku, aku hanya meminta Damar untuk sisa hidupku dan kau tidak mau memberikannya?”

“Tidak, bukan begitu, hanya saja,”

“Lalu apa lagi yang kau fikirkan?” desaknya.

“Baiklah, aku akan menyerahkan Damar kepadamu tepat di hari ulang tahun kita,” putusku pasrah, walaupun aku tahu pasti konsekuensi dari keputusanku ini.

“Apa aku bisa memegang janjimu?” tanyanya sambil mengarahkan kelingkingnya kepadaku, ritual yang selalu kami lakukan jika berjanji, tetapi sudah lama kami tidak pernah melakukan ini, dia tidak pernah mengizinkanku mendekatinya.

Dengan pasrah aku menerima kelingkingnya dengan kelingkingku, dan menyatukan kelingking kami, bersama-sama berkata, “Kami berjanji,”

         Dering telepon mengingatkanku, menyadarkanku kembali dari kenangan masa itu, aku ingat sekarang, aku ingat semuanya, aku ingat saat-saat sebelum kecelakaan itu. Aku memang berkunjung ke apartemen Kakak, aku mendatanginya sesuai perintah Kakak, dia sudah menyiapkan skenario untukku meninggalkan Damar, perasaanku kacau balau, hancur tak karuan, karena aku tak mungkin meninggalkan Damar, saat itu aku hamil, bagaimana bisa aku meninggalkannya? Aku tidak akan sanggup, tidak akan mampu memisahkan Ayah dari anaknya, tetapi aku sudah berjanji, aku tidak mungkin mengingkarinya bukan? Hingga kemudian aku menyetir dengan gundah, tanpa sempat memakai sabuk pengaman, tak menyadari bahwa di depan ada truk yang berhenti tiba-tiba, dan dari belakang ada bis yang mendorong mobilku hingga aku terpelanting ke depan.

“Nyonya, maaf, ada telepon dari Tuan,” ucap Bibik sambil menggoyangkan bahuku, menyadarkanku dari lamunanku.

“Ah, iyah, maaf. Terima kasih, Bik,” jawabku sambil menghapus airmataku.

“Sayang? Kau tidak apa-apa? Aku menelepon handphonemu tetapi kau tidak mengangkatnya, kata Bibik kau sedang melamun, ada yang kau ingat?” tanya Damar di seberang telepon cemas.

“Tidak, aku tidak apa-apa, apakah kau sudah dalam perjalanan pulang untuk makan siang?” tanyaku mencoba menutupi kegusaranku.

“Iya, aku meneleponmu untuk memberitahukanmu bahwa aku sudah dalam perjalanan pulang, apa kau yakin tidak apa-apa?”

“Iya, aku tidak apa-apa, hati-hati di jalan,” dan tak lama kami menutup telepon.
^.^
“Damar, 1 minggu lagi ulang tahunku, bisakah aku meminta satu hal?” tanyaku hati-hati setelah kami menyelesaikan makan siang.

“Apa itu, Sayang?” jawabnya sambil mencium keningku.

“Bolehkah aku memberikan satu milikku yang berharga?” sambil mendongakkan kepalaku menatap matanya, matanya yang tajam tetapi mampu menghangatkan hatiku.

“Kau boleh memberikan semua yang kau miliki, Sayang. Semua milikku adalah milikmu dan kau berhak melakukan apapun terhadap semuanya. Memangnya apa yang ingin kau berikan dan kepada siapa?” jelasnya tanpa melepaskan senyuman sayangnya.

“Akan ku berikan kepada yang paling berhak, terimakasih, sayang” gumamku penuh arti.
^.^
“Kau yakin tidak ingin merayakan ulang tahunmu dan hanya memilih makan malam keluarga di rumah Mamah?” tanya Damar sesaat sebelum berangkat kerja.

“Ya, aku yakin, Sayang,” jawabku yakin sambil menatap wajahnya, merekam semua ekspresi sayangnya di kepalaku.

“Baiklah, jika memang itu keinginanmu,” jelasnya pasrah mengikuti keinginanku dan dia pergi setelah mencium keningku mesra, dengan sekuat tenaga aku menahan air mataku.

“Maafkan aku, Damar,” gumamku sambil melihat mobilnya yang semakin mengecil di kejauhan, “Kak, aku sudah siap,” sahutku begitu mendapati panggilanku sudah diangkat.

“Bagus, lakukan seperti perintahku,” jawab Kakak di seberang telepon tanpa mampu menutupi perasaan senangnya.

         Dengan gamang, aku masuk ke dalam kamar, mengambil semua yang diperlukan, aku hanya mengambil yang aku butuhkan, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Aku menatap pasrah ke arah cincin yang bertengger di jari manisku, merasa berat untuk melepaskan cincin ini, tetapi aku tidak punya pilihan lain, akhirnya aku melepaskan cincin kawinku, meletakkannya di meja rias. Untuk terakhir kalinya memandang sekeliling kamar dengan perasaan tak karuan, dan melangkah gontai keluar kamar.
^.^
“Damar, mana Aileen?” tanya Ira Wardhana bingung ketika mendapati Damar yang datang sendirian.

“Loh, bukannya Aileen sudah datang?” Damar kaget mendengar pertanyaan Ibu Mertuanya.

“Apa? Apa maksudmu?” Ira tak kala kaget mendengar jawaban menantunya.

“Bibik bilang Aileen pergi meninggalkan rumah sejak pagi-pagi sekali dan belum kembali, aku pikir Aileen datang kemari dan membantu Mamah menyiapkan makan malam,” jelas Damar panik.

“Tidak, dia tidak datang, dan belum datang hingga sekarang,” ucap Putera Wardhana.

“Handphonenya tidak aktif,” jelas Fani Daniswara, mereka semua bertambah panik.

“Dia tidak akan datang,” ucap Anindhita, biasa dipanggil Dhita, di depan pintu. Serempak mereka semua menoleh ke arah pintu.

“Dhita, apa maksudmu?!”

“Apa maumu?!” ujar Damar dan Ira bersamaan

“Aileen telah meninggalkan kalian semua, dia pergi mengejar impiannya yang sempat tertunda karena kau, Damar,” jelas Dhita tajam.

“Apa?” jawab Damar tak percaya.

“Ya, dia pergi meninggalkanmu. Dia hanya meninggalkan ini,” jelas Dhita sambil menyerahkan paket dokumen yang sempat dia kirimkan ke Aileen siang itu.

         Damar terperangah, tak percaya dia akan menerima ini semua, surat perceraian, surat gugatan perceraian dari Aileen kepada dirinya, bahkan Aileen telah menandatangani surat tersebut.

“Tidak, ini tidak mungkin,” Damar tidak percaya, ini semua pasti telah diatur sedemikian rupa oleh Dhita, dan ketika dia hendak memberikan surat tersebut ke Dhita, jatuh sepucuk surat.
        
Damar, maafkan aku. Aku harus pergi mengejar impianku, aku lelah atas pernikahan ini, tolong jangan mencariku, izinkan aku bahagia.

“Kau masih tidak percaya?” tanya Dhita, dia sudah menduga bahwa Damar tidak akan mempercayainya, maka dari itu dia menyiapkan rencana cadangan, menyuruh Aileen membuat surat perpisahan untuk Damar.

“Dhita, apa yang kau lakukan?” tanya Ira tak percaya melihat Dhita, anak kandungny bersikap seperti ini.

“Aku tidak melakukan apa-apa, Mah, aku hanya menyampaikan amanat dari Aileen, adikku,” jelas Dhita jengah.

“Kau fikir Mamah tidak tahu apa-apa? Kau merencanakan sesuatu, aku tahu dengan pasti bagaimana kamu, anak yang ku bawa-bawa selama 9 bulan penuh. Kau apakan Aileen, Dhita?” desak Ira sambil mendekat ke arah Dhita dan melihat matanya, mata yang penuh kebohongan, dan Ira tahu pasti kebohongan itu.

“Kenapa Mamah tidak percaya padaku? Belum cukupkah penderitaanku karena perbedaan kasih sayang kalian kepadaku?!” Dhita semakin gusar, dia tak terima dirinya bahkan tidak mendapat tempat di hati Ibunya.

“Tidak, karena Mamah tahu bagaimana kau,” ucapan Ira terpotong.

“Cukup! Kalian memang tidak pernah memikirkanku!! Kalian selalu memikirkan Aileen penyakitan itu dibanding Dhita!!” teriak Dhita memotong.

“Dhita!” lerai Putera.

“Tak apa, Pah. Mungkin ini waktunya, sekarang waktunya dia mengetahui yang sebenarnya. Ya, Dhita, Aileen memang penyakitan, dan kau tahu karena siapa dia begitu? Karena kau!! Kami lebih memilih melahirkan kau terlebih dahulu karena kondisimu yang sangat kritis, mengabaikan Aileen yang juga membutuhkan bantuan. Tetapi keajaiban terjadi, Aileen bisa diselamatkan. Dan kau tahu mengapa Aileen jadi penyakitan seperti itu? Karena kau mendorongnya ketika kau berumur 1 tahun, mendorongnya sampai terjatuh dari box tidur kalian yang tinggi. Kau penyebab semua ini!! Bahkan jika aku disuruh memilih kembali siapa yang akan aku selamatkan, maka aku akan lebih memilih Aileen bukan kau!!” jelas Ira sambil terisak.

“Apa?” Dhita tak percaya yang telah di dengarnya.

“Ya, maka dari itu kami memintamu menjaganya, karena kau harus sadar, dia begitu karena dirimu, bukan kemauannya menjadi seperti itu. Dia sangat menyayangimu, dia bahkan rela hanya bisa melihatmu bermain di taman sementara dia hanya bisa duduk pasrah di bawah pohon,” jelas Putera sambil memeluk Ira, istrinya.

“Tidak, itu tidak mungkin,” gumam Dhita pasrah, seketika itu juga dia merasa pusing yang tak terkira, lalu semuanya menjadi gelap.
^.^
         Tak terasa sudah 1 tahun semua berlalu, dan aku sudah mulai kerasan tinggal di sini, India, negeri dengan sejuta pesona. Akhirnya impianku tercapai, aku bisa berada di sini, mempelajari sejarah-sejarah kerajaan di sini. Sesuai permintaan Kakak, aku meninggalkan Damar, serta seluruh keluargaku tanpa pesan apa-apa. Damar, apa kabarnya sekarang? Bagaimana dia? Sedang apakah dia? Masihkah dia mengingatku? Ah, aku bodoh, tidak mungkin dia masih mengingatku, aku sudah menyakitinya sedemikian rupa, dia mungkin sudah menikah dengan Kakak. Aku melihat jari manisku, kosong, aku meraba bekas cincin kawin di jari manisku, menghela nafas pasrah.

 Aku sangat merindukan rumah, aku tidak menghubungi mereka selama 1 tahun ini. Apa kabar mereka semua? Apa mereka sudah tahu bahwa aku sudah mendapatkan ingatanku kembali? Dering telepon membuyarkan lamunanku, siap yang meneleponku?

“Aileen, sudah waktunya kau pulang,” perintah Kakak mengganti kata ‘halo’.

“Apa kakak yakin?” tanyaku menutupi perasaan bahagiaku.

“Ya, waktuku tidak banyak, pulanglah hari ini juga, aku sudah menyiapkan semuanya,” perintah Kakak dan tak lama dia menutup teleponnya.

         Dengan riang aku membereskan pakaianku, merasa tak sabar untuk bertemu dengan mereka semua. Tetapi, tunggu dulu, apa yang harus aku katakan kepada mereka? Apa mereka mau memaafkanku? Tetapi aku tidak punya pilihan lain, Kakak berkata waktunya tidak banyak, apakah itu berarti? Aku menggelengkan kepalaku, menghilangkan semua pikiran buruk yang muncul di kepalaku.
^.^
         Aku diantar ke sebuah rumah sakit, apakah Kakak dirawat di sini? Dengan ragu aku mengkuti Pak Min, dan ketika sampai aku melihat semuanya ada di sana, Mamah, Papah, Mommy dan Daddy, tetapi aku tidak melihat Damar, kemana dia?

“Aileen,” panggil Mamah sambil setengah berlari ke arahku dan memelukku.

“Mamah, maafkan aku,” pintaku dan kami menangis bersama.

“Ssshh, tenanglah, kami sudah tahu semuanya, kau tidak salah,” jelas Mamah sambil menggiringku menuju ranjang, dan di sana aku melihat Kakak tak berdaya, dengan berbagai peralatan kedokteran yag aku tak tahu namanya.
        
         Secara bergantian, aku memeluk Papah, Mommy dan Daddy, setelah itu aku melihat ke arah Kakak, meminta persetujuannya untuk memeluknya, ketika aku melihat senyumnya, aku langsung memeluknya.

“Aileen, maafkan aku. Selama ini aku telah jahat kepadamu, aku berbohong padamu,” pinta Kakak lemah.

“Tidak, Kakak jangan banyak bicara, Kakak harus istirahat,” saranku sambil menghapus air matanya.

“Tidak, waktuku tidak banyak lagi,” ucap Kakak lemah dan berhenti sejenak, “Kakak berbohong padamu waktu mengatakan aku mengidap Tumor otak, aku membohongimu untuk mendapatkan Damar kembali. Aku sehat, setidaknya saat itu, tetapi Tuhan berkehendak lain, ini hukuman untukku karena telah berbuat tidak adil terhadap adik kembarku sendiri,” jelas kakak di sela tangisannya.

“Apa maksud kakak?” tanyaku tak percaya.

“Aku membohongimu, saat itu aku sehat, aku tidak sakit. Itu hanya akal-akalan ku saja untuk memisahkan kalian, tetapi akhirnya aku termakan omonganku sendiri, aku akhirnya mengidap penyakit ini,” ucapan Kakak membuatku seperti tersambar petir, jadi, aku selama ini dibohongi?

“Apa?” aku langsung berdiri, menutup mulutku tak percaya.

“Maafkan aku,” pinta Kakak tak berdaya.

“Mah?” tanyaku meminta kepastian, ini tidak mungkin bukan?

“Iya, sayang, Dhita telah mengakui semuanya kepada kami,” jelas Mamah sambil memelukku.

“Dan dia membutuhkan waktu 1 tahun untuk memberanikan dirinya memberitahu hal ini kepada kami,” aku membeku mendengar suara itu, suara yang sangat aku rindukan, dan aku langsung menoleh ke sumber suara.

“Damar?” gumamku pelan menyerupai bisikan, dia masuk ke dalam tanpa melihat ke arahku, hatiku sakit mendapat perlakuan ini, dia tidak sudi lagi melihatku.

“Damar, aku sudah meminta maaf, tak bisakah kau memaafkan orang yang sedang sekarat?” ujar Kakak sambil mencoba untuk tersenyum.

“Tidak, aku tidak akan memaafkanmu, sebelum kau menepati janjimu,” ketus Damar.

“Aileen, kemarilah,” pinta Kakak sambil mengulurkan tangannya, aku menerima ulurannya, “Aku sudah memisahkan kalian, dan sekarang waktunya aku menyatukan kalian lagi,” ucap Kakak lemah sambil memberikan tanganku kepada Damar yang berdiri di sampingnya.

“Kakak,” sergahku sambil mencoba melepaskan tanganku, tetapi Damar justru menggenggamnya semakin erat, sehingga aku tidak bisa melepaskan tanganku.

“Tidak, Aileen, ini sudah waktunya. Perceraian kalian tidak pernah aku daftarkan ke pengadilan, sehingga sampai saat ini kalian masih berstatus sebagai suami dan istri,” jelas Kakak semakin lemah, “Berbahagialah, maafkan aku,” pinta kakak dan seketika itu juga suara detak jantung Kakak melemah, dan dengan sigap Papah menekan tombol emergency dan tak lama dokter datang.

         Semua terjadi begitu cepat, dokter telah berusaha semampunya, tetapi Kakak tidak tertolong, aku hampir saja ambruk jika bukan karena Damar yang masih merangkulku, dan ketika air mataku semakin menjadi, dia membawaku ke pelukannya, menciumi pucuk kepalaku, dan menenangkanku.
^.^
“Aileen, ayo masuk, ingat kau sedang hamil,” pinta Damar sambil mengecup mesra pucuk kepalaku, malam ini 2 tahun tepat sejak kepergian Kakak, dan kami baru saja pulang mengunjungi makam Kakak, ritual yang selalu kami lakukan semenjak kepergian Kakak.

         Setelah kejadian itu, Damar menceritakan semuanya, bahwa dia tidak pernah menyerah mencariku, dia tak pernah berhenti memaksa Kakak untuk memberitahukan keberadaanku. Hingga akhirnya dia mendapatkan informasi akurat dimana aku berada, dia langsung menyusulku, dia bahkan berencana untuk memaksaku pulang, tetapi begitu melihat wajahku yang berseri-seri di setiap kunjunganku ke tempat-tempat bersejarah di India, dia mengurungkan niatnya, dan menyadari, bahwa aku telah kehilangan kesempatanku mengejar impianku karena pernikahan itu. Dia bahkan rela hanya bisa memandangiku dari jauh, mengamatiku, membantuku selama di sana bahkan tanpa aku ketahui dia ternyata yang membiayai semua keperluanku yang tadinya aku pikir itu semua dari Kakak.

“Iya, aku masuk,” jawabku sambil tersenyum, dia tidak berubah, selama 2 tahun ini dia selalu memperlakukanku lembut, penuh kasih sayang, dan diam-diam dia telah mencuri hatiku, entah sejak kapan. Membuatku dengan ikhlas menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Maafkan aku, Kak, karena telah mengambil cahaya hidupmu dan menjadikannya cahaya hidupku.

---TAMAT--- 


25 comments:

  1. Huaaaa,,udh tayaaanggg,,udh tayaanggg... *tutup muka*
    Met bacaa..smg pd sukaa..
    Mksh Mba Ciiiinnnnnnn ..
    :D
    (Narsis komeng pertamax,, xixixixi )

    ReplyDelete
    Replies
    1. @mbak vie : Huuuwaa, ksian bgt si Aileen-ny.. Ckckc

      Jhat tu si Dhita! Kapok tu dpt blsanny! Huh!

      Smangat trus yah mbak nulisny..:D

      Delete
    2. Huaaa,,iyh Mba Mendy...
      Kshn Aileen,,akhrny si Dhita dpt blsnnya.. Kshn jg sihh *eehhh*
      Makasiiihhhhh.. Mbaaa ;D
      Mksh udh baca n komen...
      :D

      Delete
  2. Terimakasih..terimakash terimakasih iliana Lin,terima kasih hevi puspitasari,terimakasih mbak Shin. #tersenyum lebaaaaar .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kembaliiiii Mba Aifree..
      Mksh udh baca n komen...
      :D

      Delete
  3. kakaknya jahat bgt ya
    sukurin akhirnya kena azab juga kan jd beneran sakit parah
    damar ini suami idaman sekali ya
    sabar bgt jdi orang
    untung aja happy ending ya cerita mereka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah emang,,tp dy khn bgtu krn keadaan *pembelaan* xixixixi
      Ummm,,tdny mw dbkin sad ending Mba Erna,,tp pan syaratny happy ending.. Hehehe
      Mksh Mba udh baca n komen
      :D

      Delete
  4. Mbak vie, keren ceritanya. Kirain kawin paksa kenapa, eh ternyata....

    Duuuh, kakaknya kok jahat gitu sih, tapi kasian juga dia meninggal. Tapi aku bingung kakaknya meninggal kenapa ya, mbak. Aku kok ga mudeng ya....

    Akkkh, aku suka yang happy ending gini...
    Makasih buat semua, buat mbak vie dan ceritanya, juga yang punya rumah, mbak shin... #berpelukan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe,,trllu maksa yah kawinnya?? Xixixi
      Umm,,di "Tetapi, Aku, hidupku tidak lama
      lagi, aku mengidap tumor otak dan waktuku
      tidak lama lagi, selama ini aku bertahan
      karena Damar, karena cintaku kepadanya,
      tetapi kau merebut hidupku."
      Di situ kakakny blg kena tumor otak Mba Joe,,di bwh lp g djlasn lg,, hehehe maap yah *nunduk*
      Makasiihhh Mba Joe...
      Mksh Mba udh baca n komen
      :D

      Delete
  5. nyesek bnget sih ceritanya...
    kasian aileen tpi, maksih mba vie endingnya bahagia..
    emang kalo perbuatan jahat selalu ada blasannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nysek yah??maap yah,,g nygka byk yg blg nyesek... *nunduk*
      Sama2 Mba Haeli
      Mksh Mba udh baca n komen
      :D

      Delete
  6. comment2....
    heeemm sedih tapi kerenn mba vie...?
    sukses trus ya buat ceritanya...
    mbg vie blognya ada gk....??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiikkkk,,asyiikkk di komen.. Hehehe
      Makasiihhh Mba Amandaaa....
      Ummm,,g pny,,Vie gaptek.. Hehehe
      Mksh udh bc n komen..
      :D

      Delete
  7. ye~ye~ye......mbk pie semangattt trs ya nulisnya ;) thanks mbk cin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lalaala,,yeye,,lalala... Xixixi duasaarrr Nooonggg...
      Mksh Nooonggg..
      Mksh udh bc n komen
      :D

      Delete
  8. Whoaaaaaaa... Vieeee...
    Nama2nya keyeenn..
    Jadi ingat dlu prnh diskusi soal nama..hehehhee
    Dan satu hal..ga bisa jauh2 dari India things..wkwkwkwkw

    Keep Writing sayang..mmuuuaacchhh

    Cyiiinn..makasiih yaaa.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Umm,,sbnrny nm2 dsni awalny mw dpke di crta yg 1 lg,,tp akhrny 'dpnjem' dl bwt dsni.. Xixixi
      Hehehe,,iyaaahh Mba Riiiss nm ntuh msh dsmpen.. Xixixi
      Hehehe,,ketauaannn *nunduk*
      Mksh Mbaa Riiiiissss..
      Mksh udh bc n komen..
      :D

      Delete
  9. *Toyor pala kakaknya,xixixi
    Sodara kembar kok kejam amat yak....
    Untung si damar msih setia
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea vie

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emg brani Mba Ndong?? Xiixxi
      Iyh,,untung ada Damar,,untung Damar cnta mati sm Aileen...
      Mksh Mba Ndooonggg
      Mksh udh bc n komen..
      :D

      Delete
  10. Bagus banget mb vie, ga nyangka alieen msh tetep sayang ma saudaranya itu. panteslah kalo akhirnya damar milih dia, thanks mb vie & mb shin;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasihhh Mba Rereeee...
      Iyh,,Aileen baek bgtz,,klo Vie lumz tntu mw bgtu *curcol*
      Mksh udh bc n komen...
      :D

      Delete
  11. menyentuh banget pas baca bagian dikasih tau klo aileen skait gara2 ditha,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiihhhhh.. Hehehe,,
      Mksh udh bc n komen..
      :D

      Delete
  12. Huaa.... Bacana sampe lupa napas... :)
    Bener2 bagus ceritana....
    (ง"`O´)ง semangat....... Mba Vie...
    Ku tunggu karyamu selanjutna ;)

    ReplyDelete
  13. Hah??koq bs mpe lp nafas Mba Merry??
    Makasiiihhhhhh Mba Merryyyy.. Hehehe
    Mksh udh bc n komen..
    :D

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.