"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, May 13, 2013

CERMIN (CERPEN MINGGUAN) 1 - ELEGI KEHIDUPAN oleh HEVI PUSPITASARI



Story by +vie puspitasari

Suasana malam itu ramai, hingar bingar musik memenuhi seluruh ruangan, seluruh kursi telah terisi bahkan hingga di bagian VIP dan VVIP, padahal waktu baru menunjukkan pukul 8 malam. Tak ayal membuat seluruh karyawan club tersebut tertatih-tatih melayani seluruh tamu.

“Rifa!” aku menoleh merasa ada yang memanggil dan mulai mencari-cari asal suara, dan aku melihat seorang lelaki muda yang sangat aku kenal, pemilik club tempatku bekerja.
“Hei Bos! Kenapa?” jawabku sambil menata minuman di atas nampan bersiap untuk mengantarkan pesanan,
“Anton tidak masuk hari ini, aku harap kau tidak keberatan untuk lembur menggantikannya. Club sedang ramai, aku tidak bisa bayangkan pengunjung yang marah-marah karena terlalu lama dilayani. Kau tenang saja, aku akan membayar lemburanmu” jelasnya tersenyum sambil menghalangi jalanku,

“Oke,” aku berhenti sejenak, aku tahu apa yang harus aku katakan selanjutnya, ini saatnya “Seberapa besar?” tantangku sambil membalikkan badanku supaya sejajar dengannya dan mengeluarkan seringaian khasku,
“Oke, oke. Aku akan membayar lemburanmu sebesar aku membayar upah Anton hari ini,” jawabnya mengalah dan aku menyedekapkan tanganku dan melihat sinis ke arahnya, dia tahu pasti apa yang aku inginkan, bukan masalah upahnya, hingga dia melanjutkan, “Dan aku akan menyetujui pengajuan cutimu, bagaimana?” dan dia tersenyum penuh kemenangan merasa dengan pasti aku takkan menolak, dan dia benar, refleks aku langsung memeluknya karena terlalu senang
“Horeeeeee!! Kau bos paling baik yang pernah aku kenal Kak Dika” jawabku segera setelah melepaskan pelukanku dan segera mengantar minuman yang sudah aku rapihkan tadi dengan senyum mengembang.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
“Karena memang hanya aku, Rifa” Gumam Dika setengah tersenyum sambil memperhatikan Rifa mengantarkan pesanan,
“Apa itu tidak terlalu berlebihan Bos?” Tanya laki-laki bartender bertindik yang sedari tadi memperhatikan percakapan antara Rifa dan Dika, membuat Dika terpaksa mengalihkan perhatiannya dari malaikat kecilnya, dan menoleh pada Agi
“Tidak Gi, dia memang pantas mendapatkan itu semua” jelas Dika menerima minuman yang dibuat oleh Agi, Bartender sekaligus sahabat dekatnya,
“Sampai kapan kau akan menutupi semuanya Bos?” Tanya Agi prihatin,
“Sampai aku bisa mendapatkan hatinya” jawab Dika tanpa pernah mengalihkan perhatiannya pada Rifa,
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
“Hei, hei lihat siapa yang datang” ujar tamu wanita yang sedang aku antarkan pesanannya kepada temannya heboh,
“Apa aku tak salah lihat? Itukan Rico, sang penerus dinasti Angkara. Mau apa dia ke sini? Sudah bosan dengan club mewah di seberang sana?” jawab temannya tak kalah heboh,
“Ternyata benar gossip yang beredar, dia ingin membeli club yang sedang digandrungi anak-anak muda, tak terkecuali club ini” jelas wanita pertama, dan karena penasaran aku reflek menoleh dan melihat lelaki tinggi, tegap nan eksotis dengan wajah khas bule yang dikelilingi oleh beberapa orang berpakaian formal yang aku yakini mereka semua pengawal lelaki bernama Rico itu.
“Bahaya, jika club ini jadi dibelinya apa harga-harga di sini akan sama dengan club mewahnya di seberang sana?” Tanya perempuan kedua, dan aku memilih untuk menyingkir, karena tidak lama lagi mereka pasti akan bertanya padaku mengenai ini semua.
         Aku sudah mendengar mengenai kabar itu, Kak Dika memang berencana untuk menjual club ini, tetapi aku tidak menyangka secepat ini, lantas jika terjadi secepat ini kemana aku harus mencari pekerjaan lagi. Pemilik yang baru belum tentu mau menerima karyawan dengan status mahasiswa bekerja part time sepertiku.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
         Satu minggu berlalu dan lelaki bernama Rico itu terus saja datang lengkap dengan pengawalnya tiap malam di jam yang sama, melihat-lihat situasi dan perkembangan di club. Beruntung shiftku malam ini cepat berlalu, entah karena hujan yang tidak berhenti sejak siang tadi atau tidak, jalanan malam itu sepi, tidak banyak kendaraan yang lalu lalang dan aku terpaksa menunggu lebih lama angkutan yang aku tunggu. Tiba-tiba aku mendengar suara ban berdecit dan suara ramai-ramai, ketika aku menoleh, aku melihat beberapa sepeda motor racing mengelilingi dua mobil mewah dan baku hantam antara pengemudi dan penumpang sepeda motor racing yang berjumlah 12 orang, dan jelas mereka bukan berandalan melihat dari sepeda motor yang mereka gunakan, dengan orang-orang berseragam formal dari mobil mewah yang berjumlah 8 orang tersebut tak terelakkan. Perkelahian ini tak sepadan, karena aku melihat orang-orang dari mobil mewah sudah mulai jatuh, dan saat itu juga aku mengenali lelaki yang sedang berusaha melawan 4 orang pengendara sepeda motor racing yang mengepungnya, Rico! Refleks aku berlari ke arah mereka dan berteriak,
“Hei, hentikan!” sambil memasang kuda-kuda, seketika mereka semua melihat ke arahku, aku bisa melihat tatapan mencemooh mereka termasuk Rico,
“Cih! Bereskan dia!” suruh lelaki yang memegang pisau tepat di wajah Rico kepada temannya, dan itu memberikan Rico kesempatan untuk menghajar lelaki itu dan melempar jauh pisau itu, dan perkelahian itu pun berlanjut. Berbekal ilmu taekwondo yang aku miliki, aku mencoba melawan lelaki yang tadi di suruh untuk membereskan aku. Bak adegan-adegan action di film action, aku pun melawan dengan penuh tenaga hingga akhirnya aku dan Rico berada pada posisi terdesak, kami saling memunggungi, penampilan kami sudah tidak karuan, bahkan aku mungkin tidak akan mengenali wajahku sendiri di cermin saat ini, aku merasa nyeri di sekitar rahang, sedang Rico sudah tidak memakai jasnya, dasinya sudah tidak jelas ada di mana, kancing kemejanya sudah beberapa terlepas, memaksanya membuka kemeja dan hanya memakai kaos dalam. Suasana benar-benar sudah tidak terkendali lagi ditambah hujan yang masih menyisakan gerimis, membuat kami harus menjaga agar tidak terjatuh yang pastinya akan merugikan kami sendiri,
“Kenapa kau menyewa pengawal murahan yang tak bisa melindungimu?!” omelku sambil melihat sekeliling, semua pengawalnya telah limbung, tidak ada darah, ini berarti mereka semua hanya pingsan termasuk para penyerangnya, dan sekarang hanya tinggal kami berdua dan 4 orang penyerang.
“Bawel! Aku mana tahu akan diserang di saat aku tidak membawa pengawal andalanku” jawabnya tak kalah sewot,
“Gawat, aku sudah lama tidak sparing” gumamku
“Kau bereskan dua orang di depanku, dan aku akan membereskan dua orang di depanmu. Dalam hitungan ketiga kita akan berganti posisi, kau siap?” jelasnya dan aku mengangguk, “Tiga!” dia pun berteriak, seketika itu juga kami berganti posisi dan membereskan musuh kami masing-masing. Tepat saat kami berhasil membereskan semuanya, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan kami, cahaya lampunya membuat mata kami silau dan tak lama keluar 4 orang laki-laki dengan sigap menghampiri Rico dan membungkuk,
“Maafkan kami Tuan,” dan segera memayungi Rico dan berusaha memakaikan baju untuk Rico, membuatku terpaksa bergeser,
“Kemana saja kalian?!” bentaknya sambil membuka kaos dalamnya dan menerima baju yang diberikan pengawalnya,
“Maafkan saya Tuan,” ujar lelaki setengah baya yang berada di dekatnya,
“Cepat kau bereskan semuanya! Dan kau” menunjuk ke arahku, “Ayo ikut denganku” perintahnya, dan aku yang sedari tadi masih sibuk membereskan diri terkejut, karena tanpa aku sadari Rico memakaikan jaket padaku dan  menarik lenganku dan membawaku ke mobilnya, Apa?! Apaan ini?!! Aku mencoba melepaskan lenganku darinya tapi percuma, dia terlalu kuat, bahkan terlalu kuat dibanding para penyerang tadi.
“Lebih baik kau menurutiku, kau tidak ingin pulang dalam keadaan seperti itu bukan?!” jelasnya saat kami sudah memasuki mobil dengan dia berada di kursi pengemudi dan mengarahkan kaca spion ke arahku, dan aku terkesiap melihatnya, siapa orang itu? Rambut awut-awutan, dengan memar di bagian ujung mulut, pelipis, dan baju berantakan serta lepek karena basah. Dia benar, aku tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini, Ibu bisa memarahiku habis-habisan, dan melarang aku pergi selama 1 minggu, itu tidak boleh terjadi, karena aku ada ujian, dan aku sudah mengambil cuti untuk itu,
“Tapi kemana kau akan membawaku?” tuntutku saat dia menyalakan mobil,
“Aku tidak mungkin berbuat jahat pada orang yang telah menyelamatkanku” jelasnya dan kami meluncur di jalanan yang lengang, dan aku merasa lelah, teramat lelah, mungkin aku bisa mempercayainya dan memejamkan mataku sejenak.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
         Aku merasa nyaman, hangat, ringan, dan aku mencium wangi maskulin yang membuat hatiku berdebar, mimpi ini begitu indah, aku tak ingin bangun, tidak sekarang, dan akhirnya semuanya kosong, gelap.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
         Aku tersentak, tiba-tiba terbangun dan menyadari aku tidak berada di rumahku, bukan kamarku, jelas, karena kamar ini luasnya bahkan 3x rumahku, semuanya serba mahal, dan glamour, dimana aku? Aku berusaha untuk bangun, dan aku merasakan nyeri di sekujur tubuhku, dan pusing yang tak tertahankan sehingga aku terpaksa berbaring lagi. Mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, aku tertidur di mobilnya, gawat! Aku memeriksa diriku, lengkap, aku masih berpakain lengkap walau jelas sekali aku tidak memakai pakaianku, aku memakai kemeja lelaki yang kebesaran dengan celana yang juga kebesaran namun ada tali di bagian pinggang yang sudah diikat sesuai tubuhku, baju siapa ini?! Aku meraba wajahku, dan di sudut bibirku ada plester, di pelipisku aku juga merasakan ada perban, ada yang sudah merawat diriku, memar di jariku juga suda lebih baik. Tepat ketika aku melihat seorang pelayan wanita tertidur di samping tempat tidurku, aku mendengar seseorang mendekat, dan aku memaksa diriku untuk awas dan bersiap untuk segala kemungkinan. Dan ternyata itu Rico, tepat di belakangnya aku melihat pelayan yang membawakan nampan, ada rasa lega bahwa aku setidaknya berada di tempat yang aman.
“Kau sudah bangun?” tanyanya dengan ramah, dan memberikan isyarat para pelayannya untuk meninggalkan kami setelah pelayan yang tertidur di samping ranjangku terbangun,
“Iya, dimana aku?” tanyaku terus terang,
“Di tempatku, kau tertidur di mobil semalam, dan aku tidak tega membangunkanmu.” Jawabnya dan aku berusaha untuk bangun, Rico dengan sigap membantuku bangun dan menyandarkanku di kepala ranjang,
“Ibuku pasti panik karena aku tidak pulang semalam” dan aku langsung ngeri membayangkan kemarahan Ibu,
“Semalam Dika menelepon ke hp mu dan aku sudah menjelaskan semuanya,” jelasnya dan aku melotot melihatnya, dia pun melanjutkan, “Dika memaksa untuk menjemputmu semalam, tetapi sudah ku larang dan aku meminta dia untuk menghubungi keluargamu dan menyuruh mereka tidak usah panik karena aku akan mengantarkanmu siang ini saat kau sudah lebih baik”
“Terimakasih” sahutku pasrah,
“Justru aku yang seharusnya berterimakasih padamu, Rifa” ujarnya dan aku tersentak mendengar dia memanggil namaku, “Semalam Dika dengan panik menyebutkan namamu berkali-kali, jadi aku tahu namamu” jelasnya acuh,
“Oh” jawabku singkat
“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya sambil mendekat dan duduk di sampingku sambil memeriksa lukaku,
“Aku baik, hanya sedikit pusing” jelasku sambil menepis tangannya perlahan dari wajahnya,
“Lebih baik kau makan dan minum obat pereda sakitnya, itu membantu untuk menghilangkan pusingnya” jelasnya sambil menyerahkan nampan berisi roti lapis, nasi goreng, juice jeruk, teh manis hangat dan air putih, aku menatap tak percaya, dia menyuruhku memakan semua ini? “Makanlah yang kau suka, aku tidak tahu apa yang kau suka, jadi aku menyuruh pelayanku untuk menyediakan itu semua” lanjutnya dan duduk di kursi sebelah ranjangku, memberikanku jarak,
Aku merasa lapar, sangat, jadi aku memutuskan meminum teh hangat terlebih dahulu setelahnya aku memakan roti lapis dan nasi goreng, aku bisa melihat dia tersenyum, dan aku tak peduli, setelah kejadian semalam aku butuh asupan energi,
“Kau hebat semalam, aku tak menyangka kau bisa mengalahkan beberapa orang penyerang,” ucapnya di sela-sela kunyahanku dan aku memotong,
“Beberapa? Aku mengalahkan setengah dari jumlah keseluruhan penyerang,” jelasku sambil melotot ke arahnya, dan dia tersenyum geli,
“Baiklah, kau mengalahkan setengah dari keseluruhan penyerang, darimana kau belajar beladiri seperti itu?” tanyanya antusias,
“Aku juara 1 taekwondo tingkat SMA nasional,” balasku acuh sambil sibuk mengunyah nasi goreng, enak, sangat enak, aku curiga dia menyewa koki handal untuk memasak nasi goreng ini,
“Pantas, baiklah, aku akan memberikanmu waktu untuk beristirahat, aku akan kembali nanti. Jika butuh apa-apa, tekan intercom dan pelayan akan datang membantumu” jelasnya dan meninggalkanku setelah aku selesai menyelesaikan sarapan dan meminum obat yang dia berikan. Tak lama dia pergi, seorang pelayan wanita muda memasuki kamar dan menawarkan untuk mandi, dan aku merasa itu ide yang bagus.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
Tepat pukul 11 siang aku meninggalkan rumah Rico, memaksa lebih tepatnya, karena dia tidak mengizinkanku pergi sebelum dia menyelesaikan pekerjaannya, aku tidak peduli walaupun kenyataannya aku masih merasa lemas dan sedikit pusing,, karena aku tidak meminta dia mengantarkanku, aku meminta dia menyuruh para pengawalnya untuk berhenti mengikutiku kemanapun aku pergi termasuk melarangku meninggalkan rumahnya dengan alasan dia yang tidak mengizinkanku. Hingga akhirnya dia mengalah dan memilih meninggalkan pekerjaannya dan mengantarkanku, hal yang seharusnya tidak dilakukannya, tetapi dia tidak memperdulikan semua omonganku yang melarangnya untuk memaksa mengantarkanku dan meninggalkan pekerjaannya.
Aku meminta dia untuk menurunkanku jauh di sudut gang, aku tidak mau membuat kehebohan, sudah cukup mereka akan terkejut melihat wajahku penuh perban dan plester, aku tidak mau mereka berfikir yang tidak-tidak dengan melihatku diantar mobil mewah, dan tentu saja tidak semudah itu membuat Rico menyetujui keinginanku, terjadi perdebatan sengit di dalam mobil, yang disaksikan oleh supir dan pengawalnya, hingga akhirnya Rico setuju dengan syarat kami bertukar nomor telepon.
Aku kaget mendapati Kak Dika sudah berada di ruang tamu sedang ngobrol santai bersama dengan Ibu, tidak mungkin bukan Kak Dika mengatakan pada Ibu aku menginap di rumah lelaki yang tidak aku kenal karena habis menyelamatkannya?
“Hai, Kak” sapaku seolah tidak terjadi apa-apa, dan langsung memeluk manja Ibu dari belakang dan mencium pipinya, mencoba merayu Ibu supaya tidak marah “Rifa kangen Ibu” rayuku sambil duduk di samping Ibu dan tersenyum pada Kak Dika,
“Kemana saja kau Rifa? Semalam Ibu menelepon handphonemu berkali-kali tapi tidak diangkat, jika bukan karena Nak Dika ini yang menghubungi Ibu dan memberitahukan Ibu kau menginap di rumah teman wanita 1 shiftmu karena kau terlalu malam pulang, Ibu pasti sudah menghubungi polisi” omel Ibu panjang lebar, aku hanya tersenyum salah tingkah,
“Hehehe, maafkan Rifa Ibu, handphone Rifa silent jadi tidak mendengar telepon Ibu” jawabku sekenanya, berharap Ibu percaya,
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Kak Dika dan aku menoleh ke arahnya,
“Tidak apa-apa Kak, hanya luka lecet” jelasku
“Baiklah Bu, Dika pamit pulang dulu, biar Rifa bisa istirahat,” pamit Kak Dika dan aku bersyukur Kak Dika melakukan itu, karena aku masih merasa sedkit pusing,
“Terimakasih Nak Dika, hati-hati di jalan,” ucap Ibu dan aku mengantarkan Kak Dika menuju motornya,
“Hati-hati di jalan Kak,” ujarku saat semua perlengkapan motornya sudah dipakai, dan Kak Dika mengelus kepalaku lembut,
“Istirahat Fa,” ucapnya sambil tersenyum dan dia langsung mengendarai motornya menjauh dari rumahku, Kak Dika memang selalu bisa diandalkan, dia benar-benar seperti Kakak bagiku,
“Ibu tidak tahu kenapa kau sampai menyuruh Nak Dika berbohong kepada Ibu, kau pasti punya alasan yang tepat, tetapi yang pasti Ibu tahu kau berkelahi, lagi semalam” ujar Ibu saat aku menuju kamarku, aku menoleh dan mendekati Ibu yang sudah sibuk dengan jahitannya,
“Maafkan Rifa Ibu, tetapi Rifa berkelahi semalam untuk menolong seseorang, Ibu yang mengajarkan Rifa untuk menolong sesama yang kesulitan bukan?” jelasku sambil memeluk Ibu dari belakang
“Kau selalu saja begitu, kau tahu bukan hukuman untukmu?” Tanya Ibu sambil memegang tanganku,
“Iyah, Rifa tidak boleh keluar selama 1 minggu, tetapi Rifa ada ujian 1 minggu kedepan, Ibu tidak mungkin melarang Rifa ke kampus bukan? Rifa janji tidak main sepulang dari kampus, Rifa pasti akan langsung pulang, supaya Ibu tenang dan bisa menyelesaikan jahitan Ibu sesuai janji Ibu pada pelanggan” jawabku sambil mengangkat tanganku seraya berjanji, dan Ibu langsung menurunkan tanganku,
“Baiklah, Ibu pegang janjimu.” Dan Ibu tersenyum, “Tak bisakah kau berhenti dari pekerjaanmu? Ibu percaya pada Nak Dika yang menjagamu selama kau kerja, tetapi Ibu tidak bisa percaya pada pelanggan yang datang ke sana, sayang” lanjut Ibu dan membalikkan badannya menghadapku, aku tersenyum,
“Ibu, Rifa kan kerja buat kita juga, buat nambah-nambah biaya kuliah biar beban Ibu ga terlalu berat. Rifa capek Bu, Rifa boleh ke kamar?” tanyaku,
“Baiklah, istirahatlah” jawab Ibu dan aku langsung masuk kamar, membaringkan tubuhku di kasur dan seketika itu juga aku langsung terlelap.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
Ujianku berjalan dengan lancar, aku menjalani hukumanku dan memenuhi janjiku pada Ibu sambil sesekali membantu Ibu menyelesaikan jahitannya. Selama 1 minggu itu pula teleponku tidak berhenti berdering, yang pertama dari Kak Dika yang mulai jengah dengan Rico yang terus saja datang ke club, walaupun sekarang dia sudah tidak terlalu memaksa Kak Dika untuk menerima penawarannya, dan yang kedua adalah Rico yang terus menanyakan kabarku, hal yang seharusnya tidak perlu dia lakukan. Aku tahu dia melakukan ini karena balas budi atas kejadian malam itu, tetapi dia terlalu berlebihan, tanpa terasa ini menjadi kebiasaan rutinnya untuk terus meneleponku setiap hari, entah di pagi, siang ataupun malam hari, kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan, semua hal bisa jadi bahan perdebatan sengit, tapi tak jarang juga kami saling menceritakan pekerjaan masing-masing, saling mengeluarkan uneg-uneg, rahasia-rahasia dalam hidup kami dan aku baru mengetahui betapa berat menjadi seorang pebisnis seperti dirinya. Kebiasaannya untuk datang ke club pun tak pernah absen, dia selalu menyempatkan datang di jam dan hari yang sama, tetapi tidak hari ini. Tanpa terasa aku merasa ada yang hilang, dengan lesu aku menuju halte untuk menunggu angkutan, dan tiba-tiba sepeda motor racing modif keluaran terbaru berhenti tepat di depanku, aku langsung waspada, jangan-jangan orang-orang malam itu datang untuk balas dendam kepadaku, tetapi betapa leganya aku saat melihat Rico-lah yang ada di balik helm fullface itu.
“Kau! Mengagetkanku saja!” omelku, dan dia terkekeh,
“Hahaha, memang siapa yang kau kira? Begundal-begundal malam itu? Mereka sudah tidak akan berani lagi menyerang” jelasnya bangga, “Ayo kuantar pulang” ajaknya sambil menyerahkan helm dan jaket tebal untukku pakai,
“Apa? Kau pikir apa yang kau lakukan sekarang hah? Bagaiman jika kita diserang sepanjang jalan nanti?” tanyaku panik,
“Tidak akan, Ayo!” jawabnya, dan bagaikan terhinoptis aku mengikuti perintahnya, duduk manis di belakangnya dan pasrah saat tangannya mengambil tanganku dan melingkarkannya di pinggangnya, “Pegangan!” teriaknya, dan saat itu juga motor melaju dengan kencangnya membelah jalanan yang lengang.
“Kau mau membawaku kemana?” tanyaku saat menyadari arah ini bukan ke rumahku,
“Kau akan lihat nanti” jawabny singkat, dan akhirnya kami tiba di tujuan, sebuah taman bermain, dia tidak salah mengajakku kemari? Untuk apa? Tempat ini sudah tutup, untuk apa dia mengajakku kemari malam-malam begini?
“Untuk apa kau mengajakku kesini?” tanyaku setelah turun dari motornya, sambil membantuku melepaskan helm dia berkata,
“Kau pernah memberitahuku kalau kau selalu menginginkan pergi ke sini dan bermain sampai malam, dan sekarang aku mengajakmu kemari, memang tidak dari pagi, tetapi setidaknya kau merasakan suasana malam di taman bermain seperti yang kau inginkan” jelasnya setelah merapihkan peralatan kami dan menuntunku masuk ke dalam,
“Hei, kita tidak bisa masuk, mereka sudah tutup beberapa jam yang lalu, semua sudah gelap di dalam, lebih kita pulang” ajakku, aku tak menyangka dia masih mengingat semua perkataanku,
“Tidak, kau tidak usah khawatir” jelasnya dan tetap saja memaksaku masuk ke dalam, sambil menelepon seseorang, “Bisa kalian nyalakan sekarang” perintahnya, dan seketika itu juga taman bermain itu hidup kembali, semua musik, permainan, lampu menyala, dengan riang dia mengajakku menuju bianglala, “Kau siap?” tanyanya sambil tersenyum ke arahku,
“Apa kau yakin?” tanyaku setelah duduk di dalam bianglala dan merasa yakin sudah terkunci, dia menjawab,
“Apa kau percaya padaku” tanyanya dan aku mengangguk, “Maka kau tidak usah takut, semua berada dalam tangan yang tepat” ujarnya sombong sambil terkekeh.
         Kami terdiam selama beberapa saat sebelum bianglala berada di puncak, dia memberikanku waktu menikmati pemandangan kota malam hari, lampu-lampu dari rumah-rumah penduduk, penerangan jalan, serta kendaraan yang sedang melintas, semua terlihat kecil, indah, damai. Aku memang pernah bercerita ingin sekali naik bianglala malam hari, bersama Ayah, sosok yang tak pernah aku miliki, sosok yang hanya memberikan luka dan tangis kepada Ibu setiap aku menanyakan segala sesuatu tentang Ayah, bahkan namanya saja aku tak tahu. Dan aku berhenti menanyakan tentangnya sejak umurku 12 tahun, saat aku tahu bahwa dengan bertanya tentang Ayah akan membuat Ibu bersedih. Tanpa terasa air mataku mengalir, dan aku merasakan tangan lembut Rico menghapus airmataku, tepat saat Bianglala mencapai puncaknya dan memanggilku lembut,
“Rifa” panggilnya, dan dia memegang tanganku, aku menoleh ke arahnya, “Aku mencintaimu, maukah kau menjadi istriku, Ny Rico Angkara, dan juga kekasih hatiku? Satu-satunya wanita dalam hidupku? Dan calon Ibu dari anak-anakku?” tanyanya dan aku merasa pendengaranku salah, dia bilang apa tadi? Dan saat aku masih mencerna perkataa Rico, tiba-tiba lampu padam, dan aku refleks berteriak, “Tidak apa-apa, aku di sini, saat lampu nyala, lihat ke kananmu” jelasnya sambil tetap memegang tanganku dan benar saja, tak lama lampu perlahan-lahan menyala, aku menoleh ke kananku dan mendapati rangkaian lampu membentuk huruf ‘I’ besar, kemudian kata ‘LOVE’besar, terakhir ‘YOU’ besar dan setelah itu lampu menyala terang semua, belum sempurna keterkejutanku, dia melanjutkan, “Aku tahu ini terlalu cepat, tetapi aku menyukaimu sejak aku melihatmu di club, kau memperlakukanku sama dengan pelanggan yang lain, bagaimana kau  mengatasi pelanggan-pelanggan yang berniat nakal terhadapmu dan terlebih lagi saat kau datang menyelamatkanku, tetapi aku benar-benar mencintaimu, will you marry me?” tanyanya sambil mengeluarkan cincin dari sakunya dan berniat membungkuk di depanku,
“Berhenti! Kalau tidak kau akan menjatuhkan kita berdua!” larangku keras sambil menahannya tetap duduk di tempatnya, dia langsung membeku, dan aku menjelaskan “Kau tidak lupa kita berada di Bianglala dan sedang berada di belasan m dari tanah bukan?” jelasku sambil mengarahkan pandangan ngeri ke bawah, dan dia langsung tertawa lebar,
“Hahaha, maafkan aku, aku terbawa suasana” jelasnya,
“Bisakah kita turun dulu?” pintaku,
“Belum, ini belum selesai” jawabnya dan seketika itu juga lampu kerlap kerlip di dalam taman bermain membentuk kata ‘WILL YOU MARRY ME, RIFA?’ aku langsung terkesiap, dan menutup mulut dengan jemariku. “Will you marry Me?” tanyany lagi, air mataku mengalir tanpa bisa kubendung. Aku menyukainya, aku merindukannya saat dia terlambat meneleponku dan bahkan aku sangat merindukannya hari ini saat dia tidak datang ke club, tetapi cintakah aku? Sanggupkah aku menjalani sisa hariku tanpa dia di sampingku? Pantaskah aku menjadi Ny Rico Angkara? “Kita akan terus berada di sini sampai kau mengatakan Iya Rifa” ancamnya dengan wajah menahan senyum,
“Kau bermain sangat tidak adil, Rico” balasku
“Will You Marry Me?” tanyanya lagi, putus asa
“Yes I Do” jawabku dan seketika itu juga dia berusaha memelukku tetapi aku mengangkat tanganku dan melanjutkan, “Turunkan aku dulu sebelum kau melanjutkan apa yang ingin kau lakukan! Aku tidak ingin masuk koran dengan judul meninggal terjatuh dari bianglala!” pintaku setengah ketakutan, dan dia menyeringai,
“Siap laksanakan Ny Rico Angkara” ledeknya
“Calon, masih calon” sergahku dan dia langsung menelepon seseorang dan Bianglala yang kami naiki pun mulai turun, dan ketika sudah keluar dari Bianglala, dia memelukku antusias, menciumku mesra, ciuman pertamaku. Kami larut dalam ciuman itu beberapa saat, menyisakan rasa berkedut pada bibirku ketika kami melepaskan diri masing-masing, menyadari kami masih berada di area publik, pasti ada yang mengawasi kami di suatu tempat, para pengawalnya.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
         Pagi ini aku terbangun dengan perasaan bahagia, sangat, semua seperti mimpi, setelah itu Rico mengantarkanku pulang, sampai di depan rumah, karena itulah dia lebih memilih mengendarai motor dibanding mobil karena dia bersikeras mengantarkanku sampai di rumah, karena aku sudah resmi menerima lamarannya, setidaknya itulah yang dia katakan. Dan sepanjang malam kami masih menelepon hingga subuh, merencanakan berbagai rencana untuk dilakukan hari ini. Pertama kami sepakat untuk memperkenalkan Rico terlebih dahulu kepada Ibu dan setelah itu kami akan mengunjungi Ayahnya dan memberitahukan Beliau berita gembira ini. Aku gugup, sangat, bagaimana tanggapan Ayahnya nanti?
         Tepat jam 10 dia datang ke rumah dengan membawa motor yang semalam dia bawa, keputusan tepat, karena aku tidak mau Ibu terkejut melihat calon menantunya datang dengan beberapa pengawalnya,
“Ibu, ada yang ingin aku perkenalkan” ujarku saat Ibu sibuk dengan jahitannya
“Siapa?” Tanya Ibu antusias,
“Um,” jawabku malu-malu
“Pacarmu” Tanya Ibu membuat pipiku semakin merona
“Ayo Bu,” ajakku ke ruang tamu, dan ketika kami memasuki ruang tamu, Rico berdiri menyambut Ibu duduk,
“Ini Rico Bu” ujarku, dan Rico menyodorkan tangannya, Ibu menerima sodoran tangannya Rico, dan tanpa aku duga, Rico mencium tangan Ibu
“Rico Bu” ucap Rico setelah melepaskan tangan Ibu, dan aku melihat Ibu kagum dengan sikap Rico,
“Duduk Nak” pinta Ibu, “Kalian kenal dimana?” tanyanya langsung
“Dia orang yang Rifa tolong malam itu Bu,” jawabku cepat,
“Rifa, Ibu tanya pada Rico” potong Ibu, dan mereka tertawa melihat reaksiku,
“Saya orang yang ditolong Rifa Bu, yang membuat anak Ibu yang cantik ini memar di wajahnya, saya minta maaf” jawab Rico
“Oh, iyah tak apa. Memang dasarnya dia suka berkelahi, jadi Ibu sudah tidak kaget lagi melihat wajahnya seperti itu” ejek Ibu, dan aku merengut “Ada yang ingn Nak Rico bicarakan dengan Ibu?” Tanya Ibu terus terang, dan Rico membersihkan tenggorokkannya, berusaha menenangkan dirinya,
“Saya bermaksud meminta izin Ibu untuk menikahi Rifa setelah Rifa menyelesaikan kuliahnya, dan maaf jika saya kurang sopan, saya akan mengajak Ayah saya untuk datang melamar Rifa secepatnya secara formal, saat ini saya meminta izin Ibu terlebih dahulu” jelas Rico tanpa mengalihkan pandangannya dari Ibu
“Kalau Ibu terserah Rifa saja, karena yang akan menjalankan adalah Rifa” jawab Ibu sambil tersenyum dan memegang tanganku,
“Ibu, semalam Rico sudah melamar Rifa, dan Rifa sudah menjawab ‘iya’” jelasku sambil menunduk,
“Maka tidak ada lagi yang harus dipertanyakan, Ibu merestui kalian” jawab Ibu dan aku langsung memeluknya, dan Rico langsung bernafas lega.
         Tak lama setelah itu kami pamit kepada Ibu untuk datang ke rumah Ayahnya, mereka tinggal terpisah, karena Rico tidak tahan dengan istri baru Ayahnya serta adik-adik tiri mereka. Dan di sinilah kami, berada di rumah yang sangat amat megah, dengan semua perabotannya kelas dunia, kami masih berada di ruang tamu rumah itu saat Ayah Rico datang, ada perasaan aneh ketika aku melihat Ayahnya, dia memang masih terlihat muda di usianya yang masih 48 tahun, aku tak melihat sedikitpun kemiripan antara Rico dan Ayahnya, mungkin Rico lebih mirip dengan Ibunya.
“Pah, kenalkan, ini Rifa, calon menantu Papah” ucap Rico terang-terangan, seakan ingin menantang sang Ayah sambil memperkenalkanku terhadap Ayahnya, Bastian Angkara.
“Rifa, Om” ucapku dan aku menarik tanganku cepat-cepat karena merasa Beliau seperti ingin memakanku hidup-hidup.
“Oh, jadi ini calon menantu Mamah” Ucap Ibu Tiri Rico, Tarra, dengan logat manis yang dibuat-buat dan memaksaku memeluknya. Seketika itu juga aku tidak menyukai mereka, tetapi aku sudah mengatakan ‘ya’ dan aku harus berdamai dengan diriku sendiri mengenai mereka.
“Rifa Tante” ucapku setelah melepaskan pelukan kami
“Oh tidak, kamu tidak akan memanggilku dengan sebutan Tante, tetapi Mamah, karena kalian akan segera menikah” jelasnya.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
“Aku sudah bertemu dengan mereka, aku ingin kau membereskannya, aku menginginkannya lusa tepat sesuai dengan instruksiku semalam. Dan aku akan segera mengalihkan perhatian Rico sementara dengan memberikannya tugas luar kota” perintah Bastian Angkara di ruang kerjanya kepada pengawal kepercaayaannya, Arfan, pengawal yang sama yang datang saat Rifa dan Rico berkelahi dengan Penyerang Motor malam itu, sesaat setelah Rifa dan Rico meninggalkan rumah.
“Baik Tuan, segera saya laksanakan” jawab pengawal setengah baya itu dan melangkah pergi.
“Rifa” gumam Bastian penuh arti, “Aku pasti mendapatkanmu Rifa,” lanjutnya sambil mematikan rokoknya.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
“Rifa, aku harus pergi besok beberapa hari ke luar kota” ucap Rico saat mengantarkanku pulang esok malamnya,
“Kenapa mendadak sekali?” tanyaku sedih,
“Ada masalah di cabang luar kota, dan Papah menyuruhku membereskannya, dan aku harus menurutinya, karena sepulangnya dari luar kota Papah berjanji untuk melamarmu untukku” jelasnya meminta pengertianku,
“Tetapi Rico, aku punya firasat buruk, tolong tunda dulu kepergianmu” pintaku
“Tidak akan terjadi apa-apa, aku akan pulang tepat waktu dan kita akan segera menikah, kita akan merayakan pesta pernikahan dengan khidmat sesuai keinginanmu, bagaimana?” tawarnya,
“Tapi, Rico” aku mencoba menjelaskan, tetapi dia memotongku,
“Kumohon Rifa, ini satu-satunya cara supaya Papah mau mempercepat pernikahan kita. Buang jauh-jauh pikiran burukmu itu,” pintany tulus,
“Baiklah, akan ku coba” jawabku pasrah, dan aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
“Jangan sampai kalian melakukan kesalahan!” perintah Arfan dari dalam mobil van, dan seketika itu juga para anak buahnya langsung menyergap Rifa di halte, sampai akhirnya anak buahnya kewalahan menghadapi Rifa yang bisa menjaga dirinya. Arfan sudah mengetahui jika Rifa yang menolong Rico saat dia menyuruh beberapa anak buahnya untuk menyerang Rico, tetapi tidak pernah melihat secara langsung kehebatan Rifa yang diceritakan anak buahnya. Dengan geram dia memakai toperng yang sama dengan anak buahnya dan keluar van setelah menyiapkan obat bius dalam saputangannya. Seperti yang dia duga, tidak mudah menjatuhkan Rifa, dia merasa sedikit kesulitan ‘melumpuhkan’ Rifa, hingga saat Rifa kehilangan konsentrasi mendengar suara klakson mobil di kejauhan sana, Arfan membekap Rifa dengan saputangannya dan tak lama kemudian berontakan Rifa melemah sampai akhirnya diam. Dengan cepat Arfan membopong Rifa ke dalam mobil diikuti para anak buahnya dan menuju tempat yang sudah disiapkan.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
“Bagus! Kerjamu bagus Arfan, bawa dia masuk ke kamarku dan ikat dia, aku tidak mau kesulitan menghadapinya nanti” perintah Bastian dan Arfan menuruti perintah Bastian dan mempersiapkan semuanya. Segera setelah Arfan menyelesaikan perintahnya, Bastian masuk ke dalam kamar. Dia memandangi wajah Rifa, wajah yang selama ini hanya dipandanginya lewat foto-foto laporan Arfan tentang perkembangan hubungan Rico dan Rifa.
“Rifa” gumamnya sambil mengelus wajah Rifa, wajahnya benar-benar mirip dengan Desti, wanita yang tak pernah dia lupakan hingga saat ini, wanita yang dengan kejam ditinggalkannya saat dia sedang mengandung anaknya, anak kandungnya hasil perbuatannya kepada wanita itu tanpa ikatan di usia  Bastian 27 tahun, ketika dia kesepian karena istrinya bahkan tidak mau melayaninya karena baru saja melahirkan Rico, anak hasil hubungan gelap istrinya dengan kekasihnya, dan dia lah yang harus bertanggungjawab demi harta, jabatan dan kekuasaan yang dijanjikan Ayah Mertuanya. Dan usia Rifa sama persis dengan usia anaknya jika memang dia masih hidup, tetapi Rifa bukan anaknya, atau seperti itulah anggapan Bastian. Dan seakan melupakan hati nuraninya yang memberontak entah kenapa, dia mulai menggerayangi tubuh Rifa yang terkulai pasrah di bawahnya pengaruh obat bius yang diterimanya, tertutup nafsu yang sudah mulai menguasai tubuhnya, tubuh yang masih bugar walaupun sudah berusia 48 tahun.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
         Aku merasakan seluruh tubuhku sakit, dan ketika ingin bangun, aku merasakan tangan dan kakiku diikat, dan tanpa ku perintahkan, otakku mengulang kembali kejadian terakhir aku berada di halte tadi, aku berkelahi dengan beberapa orang yang tiba-tiba saja keluar dari van di depanku, aku hampir saja berhasil mengalahkan mereka semua ketika ku dengar suara klakson di kejauhan dan semuanya menjadi gelap. Dan sekarang aku berada di sebuah kamar, kamar yang tidak aku kenal dan ketika aku mencoba melihat diriku, aku mendapati diriku telanjang tanpa ada sehelai pakaianpun yang menempel dengan tangan dan kaki terikat di masing-masing tiang ranjang. Apa yang terjadi??!! Dan aku semakin panik mendapati rasa ‘nyeri’ luar biasa yang kurasakan di bagian intiku, tubuhku lemas, sangat lemas menyadari apa yang baru saja terjadi, duniaku hancur seketika. Aku menangis sejadi-jadinya, meraung-raung tak mempedulikan dimana aku berada atau apa yang akan terjadi selanjutnya, aku sudah tidak peduli lagi. Tak lama aku mendengar suara pintu terbuka dan ternyata itu adalah pintu kamar mandi, dan aku terkesiap mengenali siapa yang keluar,
“Om Bastian?!” tanyaku tak percaya,
“Kau sudah bangun sayang? Sayang sekali kau melewatkan apa yang sudah kita lakukan semalam” ejekny santai sambil duduk di sampingku, mempermainkan bagian intiku yang masih terasa nyeri, “Masih sakit di sini sayang?” tanyanya mengejek,
“Jangan sentuh Aku! Lepaskan Aku! Dasar kau Bajingan! Brengsek!” entah kata-kata kasar apa lagi yang aku ucapkan, aku sudah tidak bisa berpikir panjang, tetapi Om Bastian malah membuka pakaian mandinya dan menyeringai,
“Oh, kau dan mulut manismu malah membuatku ingin mengulang kisah kita semalam” jelasnya dan sekuat tenaga aku melawan, mencoba melepaskan diri dari ikatan ini tetapi percuma, karena aku merasa lemas, aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, tetapi aku bahkan tak bisa mengangkat kepalaku.
“Lebih baik kau diam dan merasakan surga dunia yang akan aku berikan padamu sebentar lagi, karena percuma saja kau melawan, masih ada sisa-sisa obat bius dalam tubuhmu” ejeknya dan dia semakin menggencarkan aksinya.
         Aku berteriak, berteriak sekencang-kencangnya berharap ada yang menolongku, menyelamatkanku atau bahkan membangunkanku dari mimpi buruk ini. Ya, mungkin ini semua mimpi buruk, aku pasti bermimpi. Tetapi semua harapanku sia-sia, ini semua nyata, karena seketika itu juga aku merasakan sakit, teramat sangat, mimpi tidak akan merasakan sakit senyata ini, sesuatu memaksa masuk ke dalam intiku, dan aku menjerit kesakitan,
“Percuma kau berteriak, karena tidak akan ada yang menyelamatkanmu, kau malah membuatku semakin bernafsu terhadapmu” ancamnya dan dia mulai bergerak, semakin memaksa masuk, dan aku tak kuat dengan rasa asing ini, hingga semuanya gelap.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
         Aku tersentak, merasakan ada jemari-jemari dingin meraba seluruh tubuhku, dan saat itu juga tubuhku menegang dan waspada. Mencoba membuka mataku, aku mendapati Om Bastian sudah berpakaian lengkap dan sedang memandang takjub ke arahku,
“Kau tahu, aku tak menyangka kau masih perawan, aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya bercinta dengan perawan. Dan kau membangkitkan sisi gelapku lagi, membuatku tak pernah puas akan dirimu,” ucapnya saat menyadari aku yang sudah terbangun, dengan pandangan jijik aku menjawab,
“Dasar kau bajingan, brengsek, manusia laknat! Kau bahkan tega melakukan ini semua kepada calon menantumu! Apa kau lupa aku calon istri Rico, Anakmu!” teriakku dan dia tertawa,
“Hahaha, Rico bukanlah anak kandungku, dan dia sudah menyadari itu semua,” jawabnya licik, “Apa kau tahu alasan dia ingin cepat-cepat menikahimu agar semua harta warisan Ibunya bisa segera dia kuasai seorang diri?” tanyanya dan aku tak percaya, sama sekali tak percaya,
“Apa kau pikir aku akan percaya padamu dasar kau Laki-laki tak berguna! Sampah Masyarakat!” teriakku,
“Hahaha, kau bisa menanyakannya langsung saat dia pulang, dan tentu saja, saat dia masih mau menemuimu, perempuan yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri saat calon suaminya berjuang untuk segera pulang menemui calon istrinya” jawabnya dan aku langsung terkesiap. Dia benar, bagaimana bisa aku bertemu dengannya setelah kejadian ini? Aku kotor, aku bahkan sudah kotor tak peduli bahwa kenyataannya aku diperkosa,
“Aku akan memberitahukan semua kenyataannya,” gumamku kalah
“Apa kau pikir dia akan percaya padamu? Atau kepada Ayah tirinya yang sudah membesarkannya selama ini? Kau harus tahu, dia melakukan semua ini karena dia ingin menguasai harta ibunya seorang diri, karena sesuai dengan wasiat, yang bahkan tidak aku tahu, wanita bodoh yang sudah aku bereskan belasan tahun lalu itu, akan mewariskan seluruh hartanya kepada putra semata wayangnya saat dia berumur 22 tahun dan sudah menikah. Dan itu berarti 3 bulan mendatang tepat saat dia berulangtahun.” Jelasnya tanpa mengalihkan pandangannya pada bercak darah di sprei dan sekitar pahaku, menyeringai puas, “Aku berniat memberikanmu pelajaran kecil supaya kau menjauhi Rico, tetapi wajahmu mengingatkanku akan seseorang yang aku kenal dulu, mmbuatku tak bisa melepaskan pandanganku terhadapmu, bahkan aku sangat ingin menghajar Rico karena berani mencium kau di taman bermain, tetapi aku tahan, karena aku sudah bertekad untuk mendapatkanmu bagaimanapun caranya. Kau seakan magnet yang menarikku untuk mendekat, tak mengizinkanku untuk menjauh dan ternyata aku mendapatkan bonus atas semua kesabaranku” jelasnya sambil memainkan jarinya di bibirku. Aku muak! Sangat muak! Ingin rasanya aku menusuk jantungnya, mengeluarkan jantungnya dengan tanganku sendiri dan membiarkannya sekarat! “Aku akan memulangkanmu sekarang, dan jika kau sampai berani menceritakan ini semua kepada oranglain, kau tahu apa yang akan kulakukan? Aku akan menculikmu lagi, dan kau takkan pernah sanggup membayangkan apa yang akan aku lakukan terhadapmu!” Ancamnya dan dia memanggil beberapa pelayan wanita masuk ke dalam menyuruh pelayan itu memakaikanku pakaian, tetapi belum sempat aku memberontak aku sudah dibekap dan semuanya kembali gelap.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
         Aku terbangun dan menyadari aku sudah berada di kamarku, bagaimana bisa? Aku langsung terduduk mencoba-coba mengingat apa yang sudah terjadi, dan aku langsung teringat pada Ibu dan aku langsung lega karena sejak kemarin pagi Ibu sedang berada di rumah nenek dan baru akan kembali sore ini. Dan aku langsung menangis, menangis sejadi-jadinya dan meraung-raung meratapi nasibku, akankah aku menikah? Sudikah Rico menerimaku yang sudah kotor ini? Bahkan rasa sakit itu masih bisa kurasakan, sekujur tubuhku linu, dengan jijik aku menggosok-gosokkan sekujur tubuhku mencoba menghilangkan jejak lelaki bajingan itu, tetapi tetap tidak bisa, aku bahkan masih bisa mencium parfumnya. Dengan langkah tergesa aku menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhku kalap, mengoleskan sabun sebanyak-banyaknya ke seluruh tubuhku, menggosok-gosok dengan kasar, dan aku baru menyadari sekujur tubuhku telah ditandai oleh laki-laki bajingan itu! Dan aku menangis semakin menjadi-jadi, hingga akhirnya aku lelah dan mencoba untuk bangkit, orang yang pertama kali aku hubungi adalah Kak Dika, aku akan mengajukan permohonan diriku dan pergi dari sini, pergi jauh dari kota ini bersama Ibu, uang yang aku kumpulkan pasti cukup untukku dan Ibuku memulai hidup kami yang baru di tempat yang baru. Dengan tekadku yang sudah bulat, aku bersiap bertemu dengan Kak Dika dan mengemukakan keinginanku.
         Tepat saat aku akan keluar rumah, Rico datang dengan wajah sumringahnya, memelukku dan memaksaku masuk ke dalam rumah.
“Hei, kau mau kemana sayang? Aku langsung begitu mendarat tadi,” Tanya Rico tanpa melepaskan pelukannya, aku hanya terdiam, hatiku tersayat melihat wajahnya, wajah yang sangat aku rindukan, dan tak terasa air matak mengalir deras, dengan wajah kebingungan dia menciumi seluruh wajahku, mencoba menenangkanku, memberikanku waktu, dan ketika aku sudah mulai lebih tenang aku melepaskan pelukannya,
“Rico, aku ingin putus,” ucapku sambil menunduk, tak berani melihat wajahnya yang kesakitan,
“Apa? Rifa bagaimana bisa?” tanyanya tak percaya,
“Aku mencintai oranglain, dan sekarang tolong pergilah” usirku sambil membuka pintu dengan lebar untuknya,
“Apa?! Tidak akan! Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kau menjawab pertanyaanku” ancamnya,
“Pergi atau aku berteriak sehingga tetangga akan datang dan memukulimu sampai kau tak berdaya” tantangku,
“Baiklah, aku akan pergi, tetapi aku akan kembali lagi” janjinya
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
         Aku harus mempersiapkan semuanya dengan cepat, karena aku tahu dengan pasti watak Rico, jika dia akan datang, dia pasti akan datang. Begitu Ibu datang, aku mengatakan bahwa aku akan membawa Ibu pergi jauh dari kota ini dan memulai hidup yang baru, tentu saja Ibu tidak mau pada awalnya, tetapi ketika aku bilang bahwa aku putus dengan Rico, dan dia termasuk laki-laki berwata keras, dia akan terus mengganggu kami, Ibu bersedia, dengan 1 syarat, Ibu menyuruh serta mengikhlaskan aku pergi seorang diri, dan Ibu berjanji akan menyusul setelah Ibu menyelesaikan semua jahitannya, karena Ibu sudah berjanji akan menyelesaikan semuanya. Tepat saat semuanya selesai dengan Ibu, aku mendengar suara motor Rico dan aku langsung pamit kepada Ibu,
“Aku pergi dulu Bu, aku janji akan kembali” pamitku sambil mencium tangan, pipi dan kening Ibu, serta memeluk erat Ibu seakan aku akan pergi dan tak akan kembali,
“Hati-hati sayang,” jawab Ibu setelah melepaskan pelukanku, dan menghapus airmatanya.
Dengan yakin aku membuka pintu dan Ricoterkejut melihatku dengan yakin duduk di belakangnya,
“Kita akan bicara di luar, tidak di sini” perintahku,
“Baiklah, kita akan ke tempatku” jelasnya
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
Semua berlangsung dengan cepat, saat kami berada di jalanan yang sepi, perjalanan kami langsung di hadang oleh 2 mobil van dan kami terjepit di tengah-tengahnya, Rico langsung santai saat melihat lelaki yang turun dari van,
“Om Arfan, ada apa ini?! Aku sedang terburu-buru!” ujar Rico gusar,
“Ada yang harus kita bicarakan, Rico” jawabnya dengan seringai lebarnya, dan seketika itu juga Rico langsung dipukul tepat di wajahnya membuatnya terlempar dari motor, dan aku reflek berteriak, dan ketika akan mencoba melawan, aku merasakan pukulan kencang di kepalaku dan semuanya gelap.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
“Bagus! Bawa mereka semua ke gudang!” perintah Arfan puas.
Tak lama, mereka semua sudah sampai di gudang dan segera melakukan tugas masing-masing. Setelah dirasa puas dengan hasil kerja anak buahnya, Arfan langsung menghubungi seseorang,
“Tinggal 1 orang lagi dan semua akan segera selesai, sayang.”
         Dan benar saja, tak lama dia mendengar suara ban berdecit dan langkah-langkah kaki berderap memasuki gudang,
“Arfan! Ada apa?! Mengapa kau memanggilku ke sini?!” Tanya Bastian marah, dia tidak terima disuruh datang jauh-jauh karena alasan yang tidak jelas.
“Tenanglah sebentar Bos” jawab Arfan dari lantai 2 dan dengan santai turun ke lantai 1 tempat di mana Bastian berdiri, “Kita tunggu mereka bangun dulu” jelasnya licik, dan mengarahkan pandangan ke tempat Rifa dan Rico di ikat
“Kenapa mereka berdua di sini? Apa yang kau rencanakan Arfan?!” tuntut Bastian murka, dan tak lama dia melihat seluruh anak buahnya dilucuti oleh anak buah Arfan dan tak sedikit anak buah yang dibawanya berbalik memusuhinya, menodongkan senjata ke arahnya dan anak buahnya, menyisakan hampir sebagian dari anak buah yang dibawanya, anak buah yang sangat setia terhadapnya.
“Apa yang ku rencanakan?” Tanya Arfan tak peduli, dia mengambil segelas air dan menyiramkannya kepada Rifa dan Rico, memaksa mereka bangun, “Aku merencanakan kalian semua berakhir di sini, sekali tepuk 3 lalat mati” seringainya,
“Apa maksudmu?!” tuntut Rico sambil mencoba melepaskan ikatannya dan menatap Rifa penuh maaf,
“Maksudku? Aku bermaksud membunuh kalian sekeluarga mati saat ini juga,” jelasnya sambil menatap Rico licik, “Ah, aku lupa, kau bukan anak Bastian Angkara,” dan berjalan menuju Rifa yang sudah menatapnya garang, “Tetapi justru dialah anak kandung dari Bastian Angkara” ujarnya penuh kemenangan.
“Apa?!!” Rifa, Rico dan Bastian berteriak berbarengan,
“Wow, wow, tenanglah. Ini sungguh menarik bukan? Hahaha!” tawa Arfan memenuhi seluruh ruangan, “Sang anak tiri mencintai anak kandung ayah tirinya, dan Sang Ayah kandung telah meniduri Anak kandungnya sendiri 2 kali, apa aku salah Bastian?” tanyanya penuh ejek ke Bastian yang membeku mendengar penjelasan Arfan,
“Apa?!” Tanya Rico tak percaya,
“Ya, Rico, tepat saat kau pergi ke luar kota, Ayah tirimu ini menyuruhku untuk menculik calon istrimu dan menggagahinya di rumahmu sendiri sebanyak 2 kali” jelasnya yang terhenti karena teriakan Rifa,
“Hentikan! Hentikan!!” pinta Rifa putus asa sambil menggelengkan kepalanya,
“Kenapa sayang? Kau tidak ingin calon suamimu tahu kebenarannya?” ejek Arfan, dan dia melanjutkan, “Kau mau tahu kelanjutannya Rico? Kau ingat peristiwa penyerangan malam itu, dalang dari semuanya adalah Ayahmu! Ayah tirimu!” sambil menunjuk Bastian “dia menyuruhku membunuhmu saat itu, dan jika bukan karena wanita yang itu!” sambil menunjuk Rifa yang terkesiap, “kau sudah lama tamat, dan tadi sore dia menyuruhku lagi untuk membunuhmu dengan bayaran yang sedikit, tetapi aku punya ide yang jauh lebih baik. Aku akan membunuh kalian semua sehingga aku bisa menikmati harta dinasti Angkara seumur hidupku” jelasnya sambil mengeluarkan kertas dan pulpen, mulai mendekati Bastian,
“Jadi semua ini karena uang Arfan?” ejek Bastian,
“Uang? Tidak hanya uang, tetapi juga istrimu, dan kekuasaan. Aku muak menjadi budakmu selama ini! Segera setelah kematianmu, aku akan menikahi istrimu dan menguasai hartamu!” jelasny sambil memaksa Bastian menandatangani secarik kertas
“Apa kau yakin Tarra akan membiarkanmu menguasai harta ini seorang diri? Dia pasti akan menyingkirkanmu dan menikmatinya seorang diri!” jelas Bastian saat Arfan memaksanya,
“Tidak akan! Dan jangan kau mencoba mengalihkankaku! Tandatangan atau aku akan membunuh Rico, anak tirimu!” ancam Arfan sambil mengacungkan pistol ke arah Rico
“Bunuh saja, itu tidak akan berpengaruh terhadapku!” tantang Bastian
“Memang tidak, tetapi itu akan berpengaruh terhadap anak kandungmu!” ancam Arfan tak bergeming, dan Bastian tersentak, “Oh, aku lupa kau bahkan dengan tega meniduri anak kandungmu sendiri, kau pun pasti tidak berpengaruh jika aku membunuh anak kandungmu sekarang juga” lanjut Arfan, dan tanpa disadari Arfan, Bastian maju untuk memukul Arfan dan mengenai tepat wajahnya, membuat Bastian akhirnya dipukuli berkali-kali oleh anak buah Arfan,
“Aku bahkan tak tahu dia adalah anakku brengsek!” ucap Bastian setelah dipukul berkali-kali,
“Hahaha, memang itu rencananya, dan aku mendapati ide itu tepat saat ku lihat wajah Rifa yang begitu mirip dengan Desti di malam penyerangan itu. Pembalasan yang sangat manis bukan?” jelas Arfan memandang remeh Bastian yang terkulai di lantai.
Tak ada yang menyadari Rifa yang sudah berhasil melepaskan diri dari ikatan itu dan masih berpura-pura terikat, menunggu saat yang tepat untuk membebaskan Rico dan tak peduli apa yang terjadi terhadap Bastian, dia benar-benar berharap Bastian mati saat itu juga, tak menghiraukan kenyataan yang baru saja diketahuinya, bahwa orang yang telah memperkosanya adalah ayah kandungnya,
“Kau berbohong padaku, Arfan!” teriak Bastian
“Ya, aku membohongimu tentang jati diri Rifa, aku memang memberikanmu informasi palsu yang kau telan mentah-mentah! Dan sekarang cepat tandatangani surat ini!” paksa Arfan, dan ketika Bastian memegang pulpen yang diberikan Arfan, dari luar gudang terdengar rentetan tembakan menembus ke dalam gudang.
         Rifa tahu dengan pasti, sekaranglah saatnya dia harus melepaskan Rico dan pergi dari sini secepatnya, awalnya Rico terkejut melihat Rifa bisa melepaskan diri dari ikatan, tetapi akhirnya dia sadar apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ternyata di luar gudang sudah mengepung anak buah Bastian yang menerima pesan sos dari sinyal handphone Bastian, hal yang tak pernah diketahui oleh Arfan. Baku tembak tak terelakkan, banyak korban bergelimpangan, dan saat Rico akan mengambil pistol yang tergeletak di depannya, Rifa melihat anak buah Arfan yang sedang mengarahkan pistolnya ke arah Rico dan langsung memasang punggungnya untuk jadi sasaran tembak anak buah Arfan, mencoba melindungi Rico dari tembakan. Rico terkesiap mendapati dirinya telah ditindih oleh Rifa, dengan sigap, dia langsung menembak anak buah Arfan yang menembak Rifa, ketika dirasa aman, Rico mencoba untuk bangun dan membawa Rifa ke tempat yang lebih aman, Rico melihat darah segar dari punggung Rifa. Bastian yang melihat dari jauh menginstruksikan anak buahnya untuk melindungi Rifa dan Rico dan segera berlari ke arah mereka
“Apa yang terjadi dengan Rifa?” Tanya Bastian panik,
“Dia tertembak” jawab Rico panik, dan Bastian melihat ke arah punggung Rifa dan ketika ingin menyentuh luka Rifa, dia terhenti,
“Jangan sentuh aku! Aku jijik terhadapmu!” teriak Rifa sambil menahan sakit yang teramat sangat, dan Bastian langsung membeku mendapat perlakuan seperti itu dari anaknya, dan dia sadar sepenuhnya itu karena kesalahan terbesarnya,
“Rico, bawa dia pergi dari sini, dan selamatkan dia” pinta Bastian, saat itu juga ingin Rico menghajar sampai habis Bastian atas semua perlakuan yang sudah diterima Rifa karena dia, tetapi di saat segenting ini, demi nyawa Rifa wanita yang teramat sangat dia cintai, dia terpaksa berdamai dengan Bastian, dan Rico pun mengangguk, sesaat sebelum Rico menggendong Rifa keluar gudang, Bastian melanjutkan, “Percayalah, awalnya aku hanya ingin memberinya ‘pelajaran kecil’ karena menyangka dia hanya memanfaatkanmu karena kau penerus dinasti Angkara, aku tak menyangka semua akan menjadi seperti ini. Tolong maafkan aku, dan jagalah Rifa baik-baik, dia sama sekali tidak bersalah,”
“Urusan kita belum selesai!” ancam Rico dan dengan dilindungi oleh anak buah Bastian akhirnya Rico dan Rifa berhasil keluar gudang dan melaju dengan kencang menuju rumahsakit terdekat, Rico tak pernah sekalipun melepaskan Rifa sejak berada di dalam mobil, dia memangku Rifa karena posisi lukanya yang tidak memungkinkan untuknya dibaringkan di dalam mobil.
“Rico, maafkan aku” ucap Rifa setengah tersadar
“Ssst, kau tenanglah, kau pasti selamat, sebentar lagi kita sampai” ujar Rico menenangkan Rifa dan dirinya sendiri,
“Tidak, waktunya tidak cukup. Rico, tolong biarkan aku melihat wajahmu” pinta Rifa dan akhirnya Rico mengalah, membetulkan posisi Rifa hingga Rifa bisa melihat Rico sesuai permintaan Rifa, “Rico, aku titip Ibu, tolong jaga Ibu layaknya kau menjaganya seperti Ibu kandungmu sendiri, aku mohon” pinta Rifa tertatih sambil menahan sakit yang teramat sangat,
“Rifa, sayangku, kekasih hatiku, tolong bertahanlah, teruslah bernafas untukku. Aku tak peduli apa yang sudah terjadi, aku tetap akan menikahimu sesuai dengan janjiku, segera setelah kau sembuh, kita akan menikah dengan khidmat persis seperti keinginanmu. Aku mencintaimu, sangat, aku mohon bertahanlah untukku,” pinta Rico sambil meneteskan airmata, dan sambil tersenyum lemah,Rifa menghapus airmata Rico,
“Aku juga mencintaimu, segenap jiwa ragaku,” pinta Rifa dan terhenti sejenak karena Rifa mulai kehilangan kesadarannya, “Tolong maafkan aku dan jagalah Ibu, aku sudah menyiapkan sesuatu untuk Ibu, aku sudah mempersiapkan semuanya,” jelas Rifa lemah, “Semua ada di dalam kamarku, di lemariku, tolong beritahu Ibu, dan sampaikan maafku untuk Ibu, karena tidak bisa menepati janjiku untuk kembali hari ini” dan suara Rifa semakin lemah, membuat Rico semakin putus asa, “Kumohon Rico, jawab aku, berjanjilah demi aku, jaga Ibu untukku”
“Aku berjanji Rifa, aku berjanji sepenuh hatiku akan menjaga Ibu layaknya Ibu kandungku sendiri, dan akan menyampaikan pesanmu, dan sekarang diamlah, jangan banyak bicara, kau akan kehabisan tenaga jika terus  cerewet seperti ini,” jawab Rico pasrah dan tak kuasa menahan airmatanya lagi,
“Aku tidak cerewet” gurau Rifa lemah, “Maafkan aku Rico, Aku mencintaimu, sangat,” rintihnya sambil memegang wajah Rico, “Maafkan aku, Ibu” rintihnya dan seketika itu juga tangan Rifa terkulai lemas. Rico yang menyadari kekasih hatinya telah pergi berteriak sekencang-kencangnya, “RIFAAAAAAAA!!!!” dan menangis sejadi-jadinya di dalam mobil.
Description: D:\_Dokumen\My Pictures\animasi\454643y3tstc1b7q.gif
         Tuhan, aku memang bukan Hamba-Mu yang sempurna, tetapi aku meminta dengan segenap jiwa ragaku, tolong jagalah Ibu, sampaikanlah permohonan maafku karena tidak bisa menepati janjiku kepadanya, aku mohon Tuhan,
“Maafkan aku, Ibu,” dan semua menjadi gelap.

-THE END-




40 comments:

  1. mb vie jd penulis nich ye... Eh mb ada yg typo rifa jd fira... Thanx bwt mb chin jg y

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaa,,Maayyyy...*tutup muka*
      Blm jd penulis,,msh bljr utk jd penulis... *nunduk*
      iyh May,,nnti Vie ksh tw Komandan dl,,yg bs edit pan Komandan MyOwn.. Xixixi
      Makasihh Maaayyyyyy...
      :D

      Delete
  2. hidupnya rifa kok sedih bgt sih
    diperkosa sama bapaknya sendiri trs malah berakhir tragis gini hidupnya
    harusnya bastian aja yg ketembak, kenapa harus rifa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah Mba erna,, kshn yah Rifa hukz..
      *nangis*
      Makasih udh bacaa n Komen.. :D

      Delete
  3. hua mb pie keren critanya.
    tpi sad endiing hik hiks.


    mb shin thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. hukz,,hukz,, *pukpuk Eka*
      Makasih Ekaaaaa udh baca n Komeng..
      :D

      Delete
  4. Huaaaa,,udh tayang,,udh tayang
    *panikkkk*
    Ummm,,prtama2 Vie mw ngucapin makasiiiihhhhhh yg sebesar2nya bwt Mba Shin yg tlah brkenan menayangkan cerpen prtama dlm hdp Vie bwt tayang di Blog Tersohor ni..
    Lalu yg kedua,,smg para reader setia Blog Kesayangan nan Tersohor qt ni berkenan atas crta Vie yg msh semrawut ini,,
    Lalu yg ketiga,,terimakasih byk atas smw support yg sdh dbrikan sahabat2 sejati Vie smw, yg tdk bs dsbutkan satu persatu, slama ni hgga akhrny Vie bs mnylesaikan cerita Vie
    Lalu yg terakhir,,maafkan atas jln crta yg mgkn tllu sedih,,maklumz kmrn bkinnya pas hti lg galau *curcol*
    (Berasa lg bc pidato,,tllu trbawa suasana)
    Selamat membacaaaa
    *membungkuk dalam2*

    ReplyDelete
  5. Vieeeeeeee....
    akhirnya kluar jg critanya vie,:D•*(y)°˚♏åΩτ媪Þ$˚°(y)*• :D
    Huaaaaa knp hrs sad ending sih,bkn mewek aj *cubit2 vie
    Whatsapp eke eror, udh d hapus mw dunlut ulang G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ bsa mulu (pesen buat nong aj ni,pasti dy kangen am eke, :p)
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba cin n vie

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduuuhhh,, sakit Mba Ndoongggg dcubit *merengut*
      hahaha,, kangeennnn nehh crtanya sm Nong??(berita besaaarrr,,) wakakakak
      Makasih Mba Ndoooong udh Baca n Komen
      :D

      @May : Wah iyah May, Vie mlh g ngeh Mba Ndong g d, dpkir krn udh molor dluan,, xixxii

      Delete
  6. Ya ampun, mbak. Aku rasa ga ikhlas kalau ceritanya sad ending gini. Kenapa ga bastian sama arfan aja sih yang mati. Kasian banget kan rifa, masih dalam kandungan udah ditinggal bastian demi harta, terus diperkosa juga agar hartanya ga direbut. Errrrggg, emosi, mbak..
    Eh, mas dika perannya sedikit ya di sini. Kirain dia bakal lumayan eksis.
    Makasih buat mbak shin, makasih juga mbak vie.. Tetep semangat menulis dan berbagi tulisan ya, mbak. #kecuuuuuup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang,,tenang Mba Joe Lee,, sabar,, sabar...
      Hehehe,,
      Terlalu sadis yah? *nunduk*
      Umm,, sebenernya mw dpanjangn lagi, tapi krn ini cerpen jd trpaksa cm sdkt munculnya, hehehe
      Makasiiiiih Mba Joe Lee udh Baca n Komen
      :D
      *kecup balik* (Ehh, kecupny bkn bwt Vie yakz?? #Geer)

      Delete
  7. bagus mbak vie....
    walau sad ending tapi aku suka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiiih All Fill (Umm,, Vie bngung manggil Mba or Mas,, jd manggil nm ajja, gpp khn? ;D ) udh Baca n Komen
      :D

      Delete
  8. yeaaaaaaa.....akhirnya cermin tayang juga :)wow.....keren mbk pie cerpennya.ditunggu karya selanjutnya ya, semangatttttt....:) thanks mbk cin*muahhh
    ndong....pesan diterima dg selamat wakakakaka :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Noooongggg,,, makasiiihhhhh udah baca n komen hehehe...
      Akhrnyaaa bisa bkin cerpen jugaaaa... xixixixi

      btw,, emg pesan apaahh?? Koq Vie g diajak2??
      *Merengut*

      Delete
  9. Wah.. Jdi mau nangis. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Vie

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaahhh,, koq nangiiisss??? T_T
      (siapin tissuu bwt Mba Nira)
      Makasih Mba Nira udh Baca n Komen
      :D

      Delete
  10. Bgus critany..:D
    Sdih bgt.. Mengenaskan!
    Si b****s** Arfan!!!>=o
    Ckckck

    Trus brkarya mbak..:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduuhhh jadii maluuu *tutup muka*
      Makasiiihhhh Mba Mendyyyy udah baca n komen
      :D

      Delete
  11. Bagus bgt mba ceritanya,,tapi sedih bgt,,,sroooootttttt apus ingus abis tisu bergulung2,,ditunggu karya2 selanjutnya,,makasih mb shin makasih mba vie,,loop u all#tium tium basah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduhhhh,, jadiii maluuuu *lari2 geje*
      Cupp,,cupp,,*Pukpuk Mba Dian*... hehehe
      Makasiihhh Mba Dian udah baca n komen
      *tium tium basah balik*
      :D

      Delete
  12. Siap2 mau baca :)

    makasih sist Vie & sist Shin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiihhh udah baca n komen Mba Ashia..
      :D

      Delete
  13. ceritanya bkin aq mewek... pling nggak tega kw sad ending gitu...
    but bgus bnget nich :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduhh,, maap Mba Zhentika jd bkin mewek.. *nunduk*
      Makasiihhhh udah baca n komen Mba Zhentika..
      :D

      Delete
  14. Komen dulu, baru baca... -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ ™ @>-- ({}) Vie dan mb Shin. Especially for Vie, sengajaan ​​Ϋªª buat langkah awal posting tulisannya bertepatan ama B-Day si abang? Hehehe, great job Vie. Ditunggu tulisan berikutnya *smoga bikin mewek haPpy ​​Ϋªª

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe,, Mba Aini tw ajjaaahh jadiii maluuuu *tutup muka*
      Akibt g bs dtg bwt ngsh kado gr2 Abang nun jauh di belahan bumi sana, jd dksh kado crta ini ajjaahh *modus* xixixi
      met Bacaaaa Mba Ainiii,,, tapiii kykny akhrny g bkin mewek happy deh.. *nunduk*

      Makasih udah mau baca n Komen..
      :D

      Delete
  15. Komen dulu, baru baca... -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ ™ @>-- ({}) Vie dan mb Shin. Especially for Vie, sengajaan ​​Ϋªª buat langkah awal posting tulisannya bertepatan ama B-Day si abang? Hehehe, great job Vie. Ditunggu tulisan berikutnya *smoga bikin mewek haPpy ​​Ϋªª

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh,, komennya byk,, blzny iktn byk aahhh (iseng) xixixi
      Hehehe,, Mba Aini tw ajjaaahh jadiii maluuuu *tutup muka*
      Akibt g bs dtg bwt ngsh kado gr2 Abang nun jauh di belahan bumi sana, jd dksh kado crta ini ajjaahh *modus* xixixi
      met Bacaaaa Mba Ainiii,,, tapiii kykny akhrny g bkin mewek happy deh.. *nunduk*

      Makasih udah mau baca n Komen..
      :D

      Delete
  16. Komen dulu, baru baca... -̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ ™ @>-- ({}) Vie dan mb Shin. Especially for Vie, sengajaan ​​Ϋªª buat langkah awal posting tulisannya bertepatan ama B-Day si abang? Hehehe, great job Vie. Ditunggu tulisan berikutnya *smoga bikin mewek haPpy ​​Ϋªª

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh,, komennya byk,, blzny iktn byk aahhh (iseng) xixixi
      Hehehe,, Mba Aini tw ajjaaahh jadiii maluuuu *tutup muka*
      Akibt g bs dtg bwt ngsh kado gr2 Abang nun jauh di belahan bumi sana, jd dksh kado crta ini ajjaahh *modus* xixixi
      met Bacaaaa Mba Ainiii,,, tapiii kykny akhrny g bkin mewek happy deh.. *nunduk*

      Makasih udah mau baca n Komen..
      :D

      Delete
  17. bercucuran air mata...
    sedih melihat perjalanan hidup rifa, aku turut berduka cita atas kepergian rifa....
    vie makasih ceritanya keren..

    ReplyDelete
  18. Waduhhh,, *buru2 siapn tissue*
    Vie juga *eehh*
    Makasiiihhh Mba Amanda udah baca n komen
    :D

    ReplyDelete
  19. huaaa mba vie..
    Sad ending hiks hiks.. :(
    Keren2..

    ReplyDelete
  20. Haiiiiii Ciloooooooooo....
    *pukpuk Cilo*
    Mksh udh bca n komen Ciloooo..
    :D

    ReplyDelete
  21. nice job, Hevi Puspitasari..
    Keep writing, hon !!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiihhh Mba Riiisss....
      Mksh udh mw baca n komen...
      :D

      Delete
  22. Gk tau knapa ya mbak., aku ngrasa LEGA bget RIFAnya meninggal...
    Soale beban mentalnya pasti berat bget. Gk kbyang aja dy bkalan ngerasain itu..
    Diperkosa aja udah ngeri apalagi dprkosa ayah sndri. Huaaa gk kuat aku ngbyanginnya... Dalem bget ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa.... orang meninggal kok lega sist?? hihihii....

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.