"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, May 3, 2013

Kau Selalu Di Hatiku - Chapter 21



Kenny dan Kevin sedang berenang di kolam renang, sedang Papi Liong membaca koran di kursi panjang. Mami Liong dan Novi sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Mami Liong yang lincah dan banyak bicara mencairkan suasana di antara mereka, dia banyak bercerita mengenai kebiasaan Kenny saat masih kanak-kanak, kejahilannya pada adiknya hingga kekeras-kepalaannya yang diwariskan oleh ayahnya kepadanya.

Mereka tertawa lepas dan bercakap-cakap dengan akrab. Saat para pria masuk ke dapur dan mendapati Mami Liong dan Novi telah berteman dekat, mereka pun senang dan berharap ke depannya hubungan dua orang wanita itu akan semakin baik.


Kenny, meski tak di tunjukkannya, merasakan Novi kembali menjaga jarak darinya. Novi mengurangi kontak fisik, bahkan dia tidak bersedia untuk membalas tatapan matanya. Novi tidak pernah memanggilnya lagi, tidak pernah mengikutkannya dalam pembicaraan mereka dan Novi tidak secara langsung menyerahkan piring sarapan kepadanya. Novi membagikan sarapan Kenny melalui Mami Liong yang kebetulan duduk di sampingnya. Setelah kemajuan mereka semalam, Kenny tak habis pikir mengapa Novi bisa berubah secepat itu. Dingin.. sama seperti saat mereka baru bertemu beberapa minggu yang lalu.

Sepanjang hari Novi hanya sibuk berjalan-jalan dan berbincang-bincang dengan Mami Liong dan Kevin, sesekali dia menjawab pertanyaan Papi Liong namun tak pernah menggubris perkataan Kenny. Novi bahkan menolak untuk duduk di samping Kenny di dalam mobil dengan alasan memberikan kursi terhormat itu untuk Papi Liong sebagai kepala rumah tangga Lee. Alasan yang Kenny rasa terlalu dibuat-buat karena Papi Liong telah menolak berkali-kali namun Novi bersikeras sehingga Papi Liong sungkan untuk menolaknya lagi. Maka ketika Novi permisi hendak ke toilet saat mereka sedang bersantap siang di sebuah rumah makan bergaya Italia di Kuta, Kenny mengikutinya dan masuk serta ke dalam ruang kamar mandi sempit, khusus toilet wanita.

“Apa yang kau lakukan? Keluar! Aku mau buang air kecil.” Desis Novi cemas. Dia tidak ingin ada yang melihat mereka berduaan di dalam toilet khusus wanita dan mengira yang bukan-bukan.

“Aku yang harus bertanya seperti itu, Nov. Sepanjang hari kau menghindariku, kau bahkan tak memandangku. Apa sebenarnya yang terjadi? Demi Tuhan, aku sungguh tak mengerti dengan dirimu.” Ujar Kenny setengah emosi. Dia berusaha menekan nada suaranya agar tak terdengar sampai keluar.

“Apa maksudmu, Ken? Tidak ada yang terjadi. Aku hanya ingin buang air kecil dan aku rasa kau menggangguku. Aku tidak bisa melakukannya bila kau ada di dalam sini. Keluarlah, please.. Aku sudah tidak kuat.” Pinta Novi sambil mendorong tubuh Kenny agar keluar dari sana.

“Ini belum selesai, Nov. Aku ingin mendengar penjelasanmu setelah ini. Kau tidak boleh menghindar lagi. Kita harus bicara.” Dan Kenny menutup pintu toilet itu sebelum melangkah keluar kembali ke meja mereka.

Novi menyeka air matanya yang menetes, hatinya sesak oleh rasa bersalah dan putus asa. Dia tidak ingin melakukan hal ini pada Kenny, namun ketidak jujuran laki-laki itu mengganggunya. Novi tidak bisa memberikan hatinya sementara Kenny masih menyimpan sesuatu dari hidupnya yang tidak ingin diketahui oleh Novi. Selama Kenny bersikeras untuk menyembunyikan apapun yang semestinya harus di ketahui Novi, maka dia tidak akan memberikan hatinya pada laki-laki itu. Cukup sekali saja Novi jatuh ke dalam perangkap cinta Kenny, sebelum telephone dari wanita itu mengganggu hubungan mereka semalam.

Novi memastikan tak ada bekas tangisan di wajahnya, dia kembali duduk di samping Kevin dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Sebelum Kenny sempat memutuskan apa yang akan dikatakannya pada Novi saat mereka bisa berbicara berdua, Novi telah dijemput oleh mobil restorannya dan meninggalkan Kenny dan orang tuanya setelah memisahkan Kevin yang menangis kencang dipisahkan dari ayah dan kakek-neneknya.

Kenny geram dan marah, dia tidak terima Novi mengambil Kevin dengan cara seperti itu. Dia menarik lengan Novi tapi sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Kenny tanpa dapat dihindarinya.

“Kau... Sebelum kau membereskan semua urusanmu, jangan dekati kami lagi. Aku tak sudi menjadi boneka yang kau permainkan. Dan jangan pernah sentuh aku atau hubungi aku lagi. Cukup sampai disini kau menemui kami.”

Novi menutup pintu mobil yang menjemputnya dan meninggalkan Kenny meneriakkan namanya sehingga memancing perhatian orang banyak. Di dalam mobilnya Novi memeluk anaknya yang menangis dan tidak rela dipisahkan dari keluarga barunya.

“Shh... Shh.. Kevin... Kita pulang dulu ya, Mama tidak kuat kalau harus berada disini terus. Maafkan Mama, Kevin...” Novi ikut menangis bersama anaknya, menyalahkan dirinya yang lemah dan pengecut karena tidak berani memperjuangkan apa yang dipercayainya. Novi terlalu takut untuk terluka, karena dia tahu, bila dia jatuh lagi, dia tidak akan bisa bangkit seperti dulu. Maka diapun pergi sebelum sayap-sayap patahnya tercabik-cabik dan meninggalkannya hanya dengan sepasang kaki yang telah letih untuk melangkah.

Mami dan Papi Liong menenangkan Kenny yang depresi dan mencoba untuk mengejar Novi dengan mobilnya. Kedua orang tuanya melarangnya mengemudi dalam kondisi seperti itu, maka Kenny tak bisa berbuat banyak selain meninju dinding restoran berkali-kali untuk melampiaskan frustasinya. Tangannya merah dan lebam, beberapa tulangnya retak karena hantamannya yang keras pada tembok yang kokoh. Mami Liong menangis melihat Kenny yang hancur sementara Papi Liong tidak bisa berbuat banyak untuk menghibur anaknya. Dia hanya menghembuskan nafasnya memikirkan betapa rumitnya hubungan Kenny dan Novi.

Kenny dan kedua orang tuanya akhirnya tiba di rumah kontrakan mereka setelah Papi Liong mengemudikan mobil mereka pulang. Kenny langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu, tubuhnya bergetar menahan tangis yang tak ingin dikeluarkannya. Hatinya tidak bisa menerima diperlakukan seperti itu oleh Novi, dia sakit hati, dia tidak kuat diperlakukan seperti itu terus. Tanpa mengeluarkan isak tangis, air mata Kenny meleleh menerima semua penderitaan yang ditinggalkan Novi di dadanya.

“Mengapa kau begitu kejam, Nov?” rintih Kenny menutup matanya.

~~~~

“Kevin... tunggu Mama. Kevin...” teriak Novi memanggil anaknya yang berlari menuju kamar neneknya dengan tangis yang semakin keras.

Kevin mengeluarkan seluruh energinya untuk menangis, dia tidak ingin bertemu dengan ibunya. Kevin menutup pintu kamar neneknya dan meninggalkan Novi berdiri mematung di depan pintu. Hatinya sakit mendapat penolakan dari anaknya, Kevin telah menjadi korban dari keegoisannya. Dengan putus asa Novi bersandar pada dinding dan menangis meraung-raung memikirkan hidupnya yang tak pernah lepas dari masalah.

Ibu Made menenangkan Kevin yang masih menangis sesenggukan, bocah kecil itu akhirnya tertidur karena kelelahan dan matanya sembab karena tangisan. Ibu Made menghampiri Novi dan duduk di sebelahnya.

“Novi... Sudah... Bangun dulu yuk... Jangan seperti ini. Kamu istirahat dulu, tenangkan pikiranmu. Jangan mudah emosi dan jangan mengulang kesalahan yang sama. Pikirkan baik-baik dan jangan pernah membuat prasangka sendiri lagi. Kamu harus menghadapinya, tanyakan baik-baik ada apa sebenarnya. Ibuk yakin pasti ada alasan mengapa dia berbuat seperti itu. Kamu sebagai wanita harus lebih banyak bersabar, namanya wanita... Kita diberikan air mata untuk mengalah, bukannya untuk melarikan diri. Gak akan ada yang selesai kalau selalu menghindar,” Ibu Made mengelus sayang kepala Novi yang masih terduduk sesenggukan. “Sudah.. Sudah... Ayo... masuk kamar, istirahat. Kevin biar sama Ibuk dulu, nanti kalau dia sudah baikan, biar Ibuk yang ngomong sama Kevin. Jangan sampai masalah kalian mempengaruhi Kevin. Apapun keputusan kalian, jangan sampai menyakiti Kevin. Kasihan... Kevin masih kecil, dia belum mengerti apa-apa, belum sanggup menerima semua intrik orang dewasa.”

Ibu Made membantu Novi berdiri dan menghela tubuh anaknya untuk masuk ke kamarnya. Novi membasuh wajahnya di dalam kamar mandi, menatap pada cermin dan melihat bayangan wajahnya yang bengkak memerah. Hidungnya panas, matanya sembab, bibirnya seperti habis di sengat lebah karena lamanya dia menangis. Novi kembali menangis menyadari apa yang telah dilakukannya, seandainya dia bisa mengulang waktu, Novi tidak ingin bertemu Kenny untuk yang kedua kalinya.

“Semestinya kita tidak bertemu lagi, Ken. Aku dengan hidupku dan kau dengan hidupmu. Semua pasti bahagia, khan?” Novi kembali menangis saat memeluk bantal gulingnya di atas ranjang.

Jauh di dalam hatinya, Novi merasa hampa dan kehilangan. Namun dia telah memilih, memilih kehidupan aman tanpa gejolak dan rasa sakit hati. Novi tak ingin merasakan kesakitan lagi, hidupnya sudah cukup berwarna tanpa mendapat dilema percintaan yang telah memudar artinya baginya.

“Maafkan aku, Ken. Jangan cari aku lagi, please... Aku tidak bisa melihat wajahmu lagi. Maafkan aku...” bisiknya getir di sela-sela tangisnya.

~~~~

Kenny mengemudikan mobilnya tanpa arah malam itu, dia sangat ingin memutar arah mobilnya menuju Imperial Cuisine, menarik Novi, bila perlu menyeretnya dan menanyakan apa alasan dibalik sikap kejamnya pada mereka semua. Novi telah melukai Kevin, Novi juga melukai kedua orang tua Kenny. Kenny mampu menerima semua kesakitan yang Novi berikan pada dirinya, tapi Kenny tidak bisa memaafkan Novi karena telah membuat anak mereka menangis. Kenny tidak mampu memandang wajah kedua orang tua nya lagi tanpa merasa malu dengan apa yang tega dilakukan Novi pada mereka. Kenny putus asa dan dia sangat murka karena tidak memiliki kesempatan untuk menanyakan keinginan Novi.

“Apa maumu sebenarnya, Nov? Kenapa harus seperti itu?” rutuk Kenny lagi. Sedari tadi tiada habis dia berbicara pada dirinya sendiri, menanyakan alasan Novi berbuat demikian.

Semua kemungkinan telah dia kemukakan namun Kenny tidak dapat menemukan satupun tindakannya yang dapat memicu kemarahan Novi hingga sanggup berbuat sejauh itu.

“Dia berubah setelah aku mencumbunya. Kenapa?? Apakah dia tidak suka? Apakah dia membencinya?” Kenny mengerutkan dahinya.

“Tidak... Bila dia membencinya, Novi akan menolakku semalam. Kami bahkan sudah telanjang, tidak mungkin. Dia sama sekali tidak menolakku, Novi menikmatinya sama seperti bagaimana aku menikmatinya. Tapi mengapa???!!” tanya Kenny frustasi sembari mengacak rambutnya yang kusut.

Penampilan Kenny kacau, dia belum menyentuh makan malamnya, hanya berbatang-batang rokok yang menemani dia mengelilingi jalanan kota Denpasar tanpa arah tujuan yang jelas. Lalu telephonenya berdering, dari wanita yang paling dibencinya.

Shit!! Kau lagi?!!” maki  Kenny sebelum mencabut batre handphonenya.

Lalu kenyataan pahit menusuknya, Kenny menginjak remnya dengan keras, beberapa pengemudi kendaraan di belakangnya mengumpat dengan kasar dan memakinya. Kenny tak mengindahkan kemarahan orang-orang itu, dia akhirnya menyadari apa pemicu kemarahan Novi. Semalam Kenny berbicara cukup lama dengan Hesti, dia tidak menyadari bila mungkin Novi menguping pembicaraan mereka. Kenny terlalu sibuk mengumpat dan memaki Hesti sehingga dia melupakan bahwa Novi dan Kevin menginap di rumahnya.

Kenny kemudian teringat pada kata-kata terakhir Novi yang membuatnya bingung siang tadi. Kini semuanya jelas, Novi menginginkan Kenny untuk membereskan masa lalunya sebelum mendekati mereka lagi, Novi ingin agar Kenny memutuskan hubungannya dengan Hesti untuk selamanya.

“Ah... Kenapa semua jadi begini??? Arghhh!!!”

Kenny memutar mobilnya menuju Imperial Cuisine, dia tidak ingin menganggu Novi, dia hanya ingin duduk disana, berharap Kevin akan berlari menyambut kedatangannya. Kenny berharap semuanya akan kembali seperti biasa, Kevin menyambutnya dengan senang, Novi meski mengacuhkannya namun selalu memasakkan makanan spesial untuknya saat dia berada disana. Kenny tidak pernah memesan makanan lagi disana bila berkunjung untuk menemui Kevin, para pelayan akan menghidangkan makanan yang khusus dimasak oleh Novi untuknya. Kenny berharap kejadian yang sama akan di dapatnya juga malam ini.

Tapi restoran itu ramai dengan pengunjung, tanpa terlihat orang-orang yang dicarinya. Tak ada Kevin yang biasa berceloteh dengan mainannya saat Kenny membuka pintu restoran, tak ada Novi yang biasa berlalu lalang di dalam dapur dan terlihat dari restoran. Para pelayan sibuk melayani pembeli dan Kenny duduk termangu memperhatikan restoran yang tak pernah sepi itu. Pikirannya kembali merenung memikirkan akibat yang dibawanya bagi kehidupan Novi dan kevin.

“Sejak aku datang dalam kehidupan mereka, apakah aku lebih banyak membuat Novi menderita daripada membuatnya bahagia? Ah.. Tuhan... Berikanlah aku jalanmu. Aku tak tahu harus berbuat apalagi, kukira semua telah berjalan baik, ternyata masa laluku yang busuk menghampiri lagi. Arghh!!”

Kenny termenung sepanjang restoran itu beroperasi, hingga pukul sebelas malam dia terpaksa keluar dari ruangan itu dan kembali ke dalam mobilnya. Menunggui pintu gerbang rumah Novi tanpa berani untuk mengganggunya. Novi butuh waktu untuk dirinya, Kenny tak ingin mendekati Novi lagi bila dia belum membereskan Hesti, Kenny tak ingin mendapat lebih banyak kebencian lagi dari Novi meski hatinya begitu merindukan wanita itu dan anak mereka.


Kenny menghela nafasnya sebelum meninggalkan tempat itu pukul dua pagi dan kembali ke rumah kontrakannya. 


20 comments:

  1. mewekkkkkk...... mba shin kenapa begini??????
    hiks hiks....

    ReplyDelete
  2. akh kenapa mereka belum bersatu jg kak
    huhuhuh galau nie bacanya rada nyesek2 tp jengkel jg
    makasih kak

    ReplyDelete
  3. Arghhhghhhhh!!!!!! Hestiiiiiiiiii.
    Dukasih ke buaya aj nih buar dicabik2.

    Thanks mba shin, 1 ch lg donks :P

    ReplyDelete
  4. Kalau lihat sifat ragu-ragunya novi, jadi inget darren white ya, mbak..

    Ken, ayo semangat lagi. Yang novi butuhkan hanya penjelasan..

    ReplyDelete
  5. Nah lo pada nangis smua cup.cup dek kevin...hari ini jungnam plus kenny lagi galau bin pusing:p

    ReplyDelete
  6. kenny fighting...
    go.. go.. go...
    mbak shin tengkiyu muach muach...

    ReplyDelete
  7. huaaaaaaa........kpn mereka bersatu?? thanks mbk cin :)

    ReplyDelete
  8. Aahhhh ikutan nyeseekk bacanya :(

    ReplyDelete
  9. tuhhh kannn benerrrr si hesti kudunya dilempar aja ke timbuktu !!!
    ( mba shin , timbuktu tuh nama kota nun jauh di afrika sono ...wekekekek )

    ReplyDelete
  10. novi kayanya terlalu berpikiran negatif deh pdhl kan blm tentu kl dia bakal sakit hati lagi toh kenny skrg udah berubah kan
    kenapa sih mrka masih susah untuk bersatu??
    ayo dong mba shin, persatukan mrka

    ReplyDelete
  11. huaaaaaaa........kpn mereka bersatu?? thanks mbk cin :)

    ReplyDelete
  12. Huaa gini deh klo slah faham
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba cin

    ReplyDelete
  13. Ah akhirnya kenny sadar kalo novi ngamuk tu gara2 si nenek lampir hesti
    Ayo kennn perjuangkan novi, singkirin si hesti
    Ggrrrrr
    Makasih mb shiin ;))

    ReplyDelete
  14. :'(.. Ksian bgt kenny n kevinny.. Novi.. Jgn bgitu.. Ksian kenny n kevin..:'(:'(:'(

    -Mendy-

    ReplyDelete
  15. Sabar Kenny... Hrs penuh prjuangn mdptkn Novi..

    ReplyDelete
  16. Hahaha kemarin mbak shin lagi galau ya, ceritanya galau semua nih...

    Jungnam bikin mangkel, skrg kenny jg ikut2 bikin mangkel dgn ketidaksensitif-annya...

    Kasian ama novi, sebagai sesama wanita yg pernah disakiti *ceileh* susah untuk percaya ke orang yg sama, apalagi si hesti telp terus...

    Pria kalau lg ada maunya terkadang suka perhatiannya 1500%, toh dl si kenny sweet bgt tapi endingnya begono...

    Tapi emg kasian ke kevin, krn yg kena dampaknya...so, mau ga mau deh si kenny hrs semangat menyelesaikan mslh dengan hesti...

    ReplyDelete
  17. Ahhh kenapa sich novi egois banget,,,kapan mba mereka bisa bersatu,,,hesti juga gangguin mereka truz,,,kasih tokoh co lagi aja mba buat hesti biar Ъќ>:/ deket sama kenny lg

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.