"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, May 5, 2013

Kau Selalu Di Hatiku - Chapter 22



Pagi-pagi sekali Kenny sudah menghilang dari rumahnya, dia sibuk kesana-kemari menemui rekan-rekan kerjanya, berunding, menawar, bernegosiasi tanpa kenal lelah. Dia bahkan melewati sarapan pagi dan makan siangnya. Ketika dia duduk di ruang kerjanya dan menyesap rokoknya, sudah pukul lima sore dan tubuhnya serasa remuk dan kelelahan.

Handphonenya berbunyi, dari ayahnya.

“Ya...” jawab Kenny singkat.

“Kamu sudah makan? Papi sama Mami lagi di Imperial Cuisine, kesinilah.”


“...Setengah jam lagi aku sampai sana.” Kenny menghisap rokoknya untuk yang terakhir kalinya sebelum meremukkannya di dalam asbak. Puluhan batang rokok telah dia hisap hari ini hanya untuk menenangkan hatinya yang gundah. Kenny melangkah goyah saat keluar dari pintu kantornya dan mendapati Hesti sedang menaikkan kakinya ke paha, wanita itu telah menunggunya dengan senyum tersungging di wajah. Senyum culas yang dibenci Kenny.

“Aku tahu akan menemukanmu disini, Ken. Kau tidak mengangkat telephonemu, aku kira ada hal buruk terjadi padamu.” Desahnya manja di samping tubuh Kenny. Hesti telah menempel lagi di samping laki-laki itu dan Kenny merasa lelah untuk menghadapinya. Tanpa banyak bicara Kenny mencekal kedua pergelangan tangan Hesti dan mengurungnya di antara dinding dan tubuhnya.

Hesti menggeram, tawanya menggema di koridor kantor Kenny, tawa licik penuh gairah dan wanita itu menjilat bibirnya dengan gaya seduktif. “Pose yang seksi... rawrr...” katanya menirukan suara kucing.

Kenny menyipitkan matanya, tak percaya dia pernah mengenal wanita ini dan bahkan menidurinya. Hesti memang selalu panas di atas ranjang, dia memiliki libido seks yang tinggi bahkan Kenny sering memilih menghindar karena tak ingin memenuhi kebutuhan wanita itu. Kenny bukanlah maniak yang memerlukan seks sesering Hesti meski dia tidak pernah menolak ketika Hesti mulai merayunya dulu.

“Kau menjijikkan, Hesti. Mengapa tidak kau cari saja laki-laki lain yang bisa kau ganggu? Aku bisa mengenalkanmu pada laki-laki lain yang memiliki nafsu sama sepertimu. Karena aku menyerah, aku tidak ingin bersamamu lagi dan kau telah tahu hal itu. Jadi tolong jangan ganggu hidupku lagi.” kata Kenny setengah putus asa. Dia terlalu lelah untuk marah, kepalanya pusing berdenyut dan tubuhnya lemah karena perutnya kosong sejak kemarin sore.

“Tak ada laki-laki sehebat dirimu, Ken. Mereka tidak bisa menandingimu di atas ranjang, hanya kau yang mengerti aku, laki-laki lain hanya mementingkan kepuasan mereka, sementara kau... kau selalu mendahulukanku. Kau selalu memberikanku kepuasanku sebelum dirimu. Meski kau berusaha untuk tak perduli, tapi kau laki-laki baik, dan aku menginginkanmu untuk diriku. Aku menginginkanmu, Ken...” Hesti berusaha mencium bibir Kenny namun berakhir di rahang laki-laki itu.

Dia kemudian menjilatnya, ujung lidahnya berhasil mencecap rasa kulit Kenny dan Hesti tertawa senang melihatnya. Kenny mengetatkan rahangnya, dia sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun, tidak pula Hesti yang dirasanya memang pantas untuk dimaki dan dihujat. Sore itu Kenny tidak memutuskan apa-apa, dia membiarkan Hesti digiring oleh sekuriti-sekuritinya sebelum Kenny menghilang di jalan raya dengan mobilnya.

Hesti berteriak-teriak histeris karena tidak terima dengan kepergian Kenny, dia mengeluarkan kata-kata vulgar yang mampu membuat merah telinga pegawai-pegawai Kenny yang senang menonton adegan skandal atasannya. Dalam perjalanan menuju Imperial Cuisine, Kenny mengamati jalan raya yang biasanya tak diperdulikannya. Ketika kepalanya dipenuhi dengan masalah, kemampuan untuk mencari solusi terbaik untuk hubungannya dengan Novi seolah menghilang, Kenny masih belum mendapatkan titik terang bagaimana cara untuk menyingkirkan Hesti selamanya, selain membunuhnya.

Kenny melangkah gontai memasuki Imperial Cuisine, tidak ada suara anaknya Kevin yang biasanya menyambutnya dengan riang. Tak ada pelukan laki-laki kecilnya yang selalu bisa mengangkat semangatnya lagi. Bahkan lirikan tajam mata Novi membuat hari-harinya berwarna. Kini semua kosong, sepi, seolah rumah makan ini kehilangan rohnya. Kenny kehilangan jiwanya.

Dia menatap hampa pada pemandangan yang terlalu sering dilihatnya, ruang makan yang selalu penuh dengan pengunjung, bahkan akhir-akhir ini untuk mendapatkan sebuah meja kosong begitu sulit saat jam makan. Kenny sering mengalah dan duduk di belakang meja kasir bersama dengan anaknya, terkadang dia akan membantu kasir menghitung nota yang harus dibayar oleh pelanggan selain menemani anaknya bermain.

Tak terlihat ada bekas Kevin di meja kasir seperti biasa. Mainan ataupun topi anak kecil itu akan selalu tergeletak dan berserakan di atas meja. Hari ini meja itu bersih dari mainan anak-anak. Hanya sebuah sesaji untuk upacara yang berisikan uang koin seribu rupiah, sekeping roti dan permen. Pelayan masih menutup mulut mereka setiap kali Kenny menanyakan dimana keberadaan Novi dan Kevin, tak ada yang tahu dimana mereka berada, tak ada yang berani menjawab pertanyaan Kenny.

Kenny putus asa, Kenny hampir gila memikirkan Novi menghilang lagi dari hidupnya. Setiap malam Kenny akan menangis terisak dalam tidurnya memikirkan mereka berdua, merindukan mereka dan dia merasa tak lama lagi air matanya akan habis dan digantikan oleh darah yang mengalir keluar langsung dari urat nadinya. Kenny membenci Novi karena perlakuannya yang kejam, namun dia mencintainya demi apapun juga.

“Duduklah, Ken. Makan dulu, Mami sudah pesankan makanan untukmu. Berusahalah untuk makan, pikirkan anakmu, bila kamu sakit, siapa yang akan mencarinya seperti dirimu?” bujuk Mami Liong dengan wajah penuh iba pada anak sulungnya.

Kenny menghela nafasnya, dia meminum teh hangat manis yang dibawakan oleh pelayan. Dia tak berselera sama sekali melihat makanan yang biasa digemarinya. Dia ingin muntah hanya dengan mencium aroma makanan itu. Dia terlalu sakit dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya kecuali bertemu dengan Novi dan Kevin.

“Aku tidak bisa, Mi. Aku tidak lapar.” Jawab Kenny berbohong.

Perutnya melilit perih karena tidak menyentuh secuil makanan pun sejak kemarin. Hanya air putih yang singgah dalam tenggorokannya dan asap dari berpuluh-puluh batang rokok yang telah dihirupnya. Kenny menyiksa dirinya dan dia terlihat kacau, sama seperti enam tahun yang lalu, ketika dia tidak berhasil menemukan Novi setelah memutuskan hubungan mereka.

Enam Setengah Tahun Yang Lalu...

“Kenny, aku sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, apakah kamu bisa menjemputku?” tanya Novi yang baru saja mengambil kopernya dari antrian.

Sudah dua bulan sejak kunjungannya terakhir ke Ibukota, Novi dengan gelisah memeriksa kopernya, mencocokkan dengan nomer pada tiketnya.

“Apa maksudmu, Nov? Kamu di Jakarta? Bagaimana bisa? Kenapa kamu tidak mengatakannya? Aku... Aku sedang sibuk. Arghh!! Sial!! Seharusnya kamu bilang kalau mau kesini. Sebentar...” terdengar percakapan antara Kenny dengan seorang wanita yang tak dikenalnya, mereka berargumen pendek sebelum Kenny melanjutkan kata-katanya.

“Satu jam lagi aku sampai disana. Semoga tidak macet.” Lalu Kenny menutup handphonenya dan Novi menunggu dengan sabar kedatangan Kenny untuk menjemputnya.

Namun hingga dua jam kemudian laki-laki itu belum juga muncul di depannya, Novi semakin khawatir dan tak tahu harus berbuat apa. Kedatangannya ke Jakarta kali ini adalah untuk memberitahukan sesuatu kepada Kenny yang tidak bisa dia katakan di dalam telephone seperti biasanya mereka berbincang. Novi tidak ingin Kenny menghindar dari apa yang akan dia katakan padanya, Novi ingin melihat langsung ke dalam mata laki-laki itu bila dia adalah seperti apa yang di harapkannya.

Namun tiga jam telah berlalu akhirnya Novi menumpang taksi dan menuju hotel yang dulu pernah di tinggalinya selama kunjungannya di Jakarta dua bulan yang lalu. Pikirannya campur aduk, hatinya tak tenang. Hubungan mereka belakangan ini memang semakin memburuk, Kenny hampir jarang menghubunginya lagi. Bahkan dalam dua hari laki-laki itu pernah tidak menghubunginya sama sekali sebelum kemudian muncul dengan permintaan maaf yang membuat Novi semakin gundah dan tak yakin dengan hubungan mereka.

Semakin lama Novi dilanda keraguan akan masa depannya dengan Kenny. Mereka kerap bertengkar hanya karena masalah sepele, seperti misalnya Kenny menuduh Novi tidak mendengarkan kata-katanya hanya karena dia tidak dapat mendengar dengan jelas keluhan Kenny dari telephone. Suara laki-laki itu tercampur dengan suara kendaraan bermotor yang berisik di jalanan, hanya karena Novi tidak ingin bertengkar lebih lama maka dia mengalah padanya.

Setibanya di dalam kamarnya, Novi membuka kopernya dan mengganti pakaian dengan yang baru setelah membersihkan dirinya di kamar mandi. Novi menunggu kabar dari Kenny yang akhirnya menghubunginya lima jam setelah dia mengatakan akan menjemputnya.

Kenny meminta maaf karena tidak bisa menjemput Novi, dia kemudian menemui Novi di hotelnya. Mereka kemudian berbaikan dan makan malam bersama dalam diam. Kenny tidak banyak berbicara, dia nampak memikirkan banyak hal dan Novi tidak ingin memberitahukannya kabar yang dibawanya bila Kenny berada dalam kondisi emosi labil.

“Jadi... Mengapa kamu ke Jakarta, Nov? Kamu bahkan tidak mengabariku.” Tuduh Kenny, dia nampak tidak senang dengan kedatangan Novi.

Novi menghela nafasnya, hatinya terasa nyeri memikirkan penolakan Kenny namun ditahannya demi kebaikan hubungan mereka. “Aku ingin bertemu denganmu, aku ingin memberikan kejutan...” jawab Novi dengan tawa miris.

Kenny masih cemberut dan memandang ke arah depan pada keramaian jalanan di depan mereka. Kenny dan Novi sedang duduk-duduk di sebuah pameran festival makanan, tak ada satupun dari mereka ingin melanjutkan malam yang melelahkan itu dengan bepergian ke tempat lain lagi. Maka mereka berbincang-bincang untuk menghabiskan waktu sebelum Kenny mengantarkan Novi kembali ke hotelnya.

“Aku sedang sibuk sekarang, Nov. Aku tidak bisa menemanimu sepanjang hari. Aku mulai menyusun skripsiku, aku harus pergi ke rumah tiga dosen setiap hari, belum lagi ke rumah teman-temanku untuk belajar bareng, ke perpustakaan mencari bahan. Pekerjaanku di swalayan juga terbengkalai, ayahku masih memarahiku, sudah beberapa hari aku menginap di rumah teman dan tidak pulang ke rumah. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi.” Kenny menghembuskan asap rokoknya, belakangan dia menjadi perokok berat karena frustasi dengan kehidupannya. Pertengkarannya dengan Novi akhir-akhir ini juga mempengaruhinya meski tidak di akuinya.

“...Iya.. Maafkan aku.” Jawab Novi dengan wajah tertunduk.

Kenny membuang puntung rokoknya, “Kalau kamu ingin berlibur, tunggu dua hari lagi. Mungkin aku bisa membereskan beberapa hal dan menemanimu menyusuri Jakarta, walau aku tak tahu kemana tempat yang cocok untuk membawamu jalan-jalan selain Mall dan tempat hiburan. Jakarta macet, demo setiap hari, rusuh, polusi, kamu tidak akan bisa melihat pantai yang cukup menarik disini seperti di Bali.” Jawab Kenny tak tertarik.

Novi terdiam memikirkan perkataan Kenny, dia mencoba menguatkan hatinya. Novi sudah tidak sanggup menyimpan rahasianya seorang diri. Saat Kenny mengantarkannya ke hotel, Novi akan memberitahukannya dan mengakhiri semua ketidak pastian dalam hidupnya. Apapun jawaban Kenny, Novi akan menerimanya, meski dia berharap laki-laki itu akan mampu berpikir dengan lebih jernih seperti dulu saat mereka baru pertama bertemu.

“Aku akan mengantarkanmu ke hotel. Aku ada janji malam ini dengan teman,” Kenny beranjak berdiri dan meninggalkan Novi termangu kebingungan. “kamu mau diam saja disana?” tanya Kenny lagi.

“Ah.. tidak. Maafkan aku.” Novi kemudian berlari kecil untuk menyusul Kenny yang menyimpan kedua tangannya di saku celana.


Novi menggamit lengannya dan Kenny akhirnya tersenyum simpul meski kabut masih membayangi mata laki-laki itu. Mata yang biasanya hangat kini begitu dingin dan menyeramkan meski dia tidak bermaksud seperti itu. Kenny hanya terlalu banyak menanggung beban dan masalah, dia belum cukup dewasa menyikapi setiap masalah yang menghantamnya dengan beruntun. 


23 comments:

  1. Haha pertamax kejutan di pagi buta, trima kasih mba Shin

    ReplyDelete
  2. Posting Πγª subuh ya Shin.. Kiraian ga ada. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Ya Shin. Rsa Πγª mmg myakitkn klo dposisi Novi lgi hamil Kenny terliat ga pduli.. Mlah di usir. Sakit bgt.. Mka Πγª Novi ga mau blg khamilan Πγª ya ..

    ReplyDelete
  3. Thanks mb shin, kenny kurang tegas suruh david aja yg ngadepin hesti pasti bakal sukses:-)

    ReplyDelete
  4. Wow... Pagi2 udah dapat setoran haha...

    makasih sist ... :D

    kirain gaK posting coz hari Minggu ,,,, holiday :D

    sampai jumpa hari Senin ... Muach Muach ... ;)

    ReplyDelete
  5. huwaaaaaaa mba shin akhirnya ppsting jg....
    aku tungguon dr semalem mbaaaa
    hehe

    ya ampun kasian dah sumpah si kenny gk tega dah.... tuh bdan isinya pnyakit mulu dah....
    ayo ken selesaikan masalah si hesti....
    trus kejar dah novi n kevin

    mkasih mba shin

    ReplyDelete
  6. Lahhh pagi amat mba shin postingnya,,,,istirahat mba minum vit ntar sakit,,,puk2 mba shin

    Ga suka ken2 disini yg sekarang lg delima ditinggal novi yg lalu lg jahat ma novi,,,,

    Mmmm fenasaran,,,

    ReplyDelete
  7. kasian kennya.
    dimana kau nov???

    ReplyDelete
  8. Putuskan hubungan kerja dengan hesti, lapor polisi, masukkan hesti ke rumah sakit jiwa... :nohope:

    Terulang lg deh, kenny nyakitin novi...kabur lg deh novi...hestinya msh ngejar2, kl novi setuju ama kenny yo bakal sakit hati...ga tw diri jg si hesti ngejernya...

    Kasian kevin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eniwey "̮° Ł‎​ђąηk ўσυ °"̮ yo mbak postingannya...

      Delete
  9. ya ampun, c'hesti emang bener2 ga tau malu bnget si jadi cewek...
    part berikutnya bkalan ngungkapin kejadian novi, jadi nutup hati ke kenny yah mba? Walaupun udah pernah diceritain sama ibu made tpi, tetep penasaran.. :D

    ReplyDelete
  10. kasian kenny, novi kok tega bgt sih sama kenny
    ini juga si hesti ngeganggu mulu -.-

    ReplyDelete
  11. dasar hesty!!! dy cewek baik2 apa bkn ce? ngebet banget dapetin kenny????

    ReplyDelete
  12. °•(>̯┌┐<)•°!!! Lnjut mbak shin!!!
    Ini knapa sih si kenny bnerny ninggalin novi???
    Bkanny si kenny tu hilang kontak jdiny ptus???
    Trus ad ap sbenerny?!
    Gmesin bgt sih nih -"-
    -Mendy-

    ReplyDelete
  13. Akhirnya dijelaskan kejadian enAm tahun lalu

    ReplyDelete
  14. Whooaaa.........Tanggung Mba Shin, pengen tahu kelanjutan ceritanya.......
    Bikin tambah penasaran bacanya.....
    Makasih Mba Shin ^_^

    ReplyDelete
  15. Kasian novi dtg d cuekin,puk2 novi,
    Skrg nyesel dh tuh si ken2
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba cin

    ReplyDelete
  16. Kemarin mondar-mandir depan mbak shin tapi ga dipublis juga,, eh tahunya tadi pagi toh bonusnya.. Hihihihihi, makasih ya mbak..

    Duuuh, kesian banget koko ken,, novi tega ya, harusnya kan dengerin dulu kenny jangan ambil keputusan sendiri. *jadi inget my lovely darren white*

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sist, kemarin sibuk seharian bikin blog baru. hehehhee... kapan2 mampir ke sana ya, tapi itu blog buat jualan online ;ahak..ahak..: promosi..

      hahahha novi gt karena trauma masa lalu aja sist.. nanti jg ketahuan kenapa novi bisa begitu :D

      Delete
  17. akh aku penasaran dengan kata2 penolakan kenny waktu mutusin novi flashback nya kurang panjang kak
    maksih kak lajut heheheehe#sebelum pulsa modem habis (curhat);poor me

    ReplyDelete
  18. Ishhh si hesti minta dijorokin ke jurang aj... novi pk ngambek, ngilang segala... cupcup kenny darling... yg tabahhh yahhh brooo... cemumuttt...

    Thanks mba shin *blowakiss :*

    ReplyDelete
  19. Komen lagi boleh?

    aku ikut sedih ...

    Novi MA Kevin Kemana chhiinnnn ?!.. Kasian Kenny , menggalau :'(

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.