"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, May 29, 2013

Second With You - Short Story


Madeline Anastasia, dua puluh lima tahun, seorang koki kepala alias executif chef sebuah restoran mewah yang berada di ambang kebangkrutan memandang pusing pada tumpukan bill yang harus dilunasinya bulan ini bila dia tidak ingin restorannya terpaksa ditutup. Madeline, biasa dipanggil Aline oleh keluarganya dan Chef oleh anak buahnya, hanya bisa tertunduk lesu sembari meletakkan bill-bill itu kembali ke dalam kotak dimana tempatnya seharusnya berada, kotak hutang yang harus dibayar perusahaan.

Restoran ini telah menjadi satu-satunya penyemangat hidup Aline sejak kematian ayahnya karena sakit dua tahun yang lalu, tak lama menyusul ibunya yang tak bisa menghadapi kenyataan ditinggal mati oleh suaminya. Aline merana sejak saat itu, hanya pekerjaan sebagai koki dan menyalurkan hobynya memasak yang menjadi penghilang jenuh dan masalah yang dibawa oleh kematian kedua orang tuanya.


Aline memiliki hidup yang sempurna, orang tua yang menyayanginya meski dia tidak memiliki kakak atau adik yang bisa diajaknya berebut perhatian keluarga, pemenuhan kebutuhan yang tak perlu dipikirkannya karena ayahnya selalu menyediakan apa yang dibutuhkannya, ibunya yang penuh perhatian dan mengasihinya meski sesekali wanita itu akan begitu cerewet bila Aline pulang larut malam. Tapi Aline mencintai mereka.

Teman-temannya yang bisa dikatakan mendukungnya sepenuhnya namun perlahan pergi meninggalkannya saat mereka mengetahui seberapa besar hutang yang dimiliki Aline yang diwariskan oleh ayahnya padanya, yang tentunya harus segera dilunasinya bila tidak ingin seluruh harta kekayaannya yang masih tersisa –yang sayangnya jumlahnya tak banyak- disita oleh petugas bank.

Selama dua tahun menggantikan tampuk pimpinan restoran, Aline cukup mampu membangkitkan kembali restoran peninggalan ayahnya, sebuah restoran bergaya Italia yang menjual beraneka ragam Pizza dan pasta buatan sendiri. Dari saos, topping hingga keju yang digunakan restorannya adalah buatan rumah atau dipesan khusus untuk restoran miliknya. Namun sejak di samping restorannya berdiri sebuah restoran mewah lain yang telah memiliki nama besar dimana-mana, perlahan-lahan pelanggan restoran milik Aline beralih pada restoran itu karena mereka mampu menekan harga dan rasanya tak kalah dari makanan di restoran Aline.

Aline hanya tak ingin pegawainya merasa khawatir bila restoran itu akhirnya harus ditutup, Aline tak ingin pegawainya kehilangan pekerjaan, dia memikirkan mereka seperti memikirkan anggota keluarganya sendiri. Aline menghargai mereka seperti menghargai dirinya sendiri dan dia sangat mengerti bagaimana rasanya tidak memiliki uang dalam dompetnya sepeserpun, seperti kali ini.

Dengan langkah gontai Aline menutup pintu kantornya, restoran telah ditutup, hanya dia sendiri yang berada di dalam ruangan untuk mengecek pemasukan dan pengeluaran restoran selama sebulan belakangan. Sudah hampir pukul satu malam ketika Aline mendapati mobilnya menjadi tempat ajang minum-minum pegawai restoran saingannya. Bahkan kap mobil range rover miliknya –satu-satunya kekayaannya yang terakhir yang masih berharga yang belum digadaikan- menjadi tempat menyajikan berbotol-botol bir dan minuman kaleng lain, tak lupa sampah kulit kacang yang berserakan di atasnya.

Dengan geram Aline berteriak dan memaki orang-orang itu, tak ayal diapun membuang berbotol-botol minuman bir yang masih terisi penuh ke bawah, memunculkan bunyi kaca botol pecah dan minuman yang tersia-siakan.

Orang-orang itu berdiri dari duduk-duduk mereka dan dengan marah menghampiri Aline. Tak kurang dari enam orang laki-laki berperawakan sedang berada disana, empat diantaranya menghampiri Aline dengan wajah garang.

“Hei, wanita! Apa yang kau kira kau lakukan, hah? Itu adalah minuman kami. Kau harus mengganti rugi!!” bentak seorang pria dengan tato di lengannya.

Dua orang pria lagi berdiri di belakang Aline dan mereka berempat mengelilingi tubuh mungil Aline, namun demikian Aline tidak gentar sama sekali. Dia sedang murka, kesal, depresi dan frustasi karena masalah-masalahnya yang belum terselesaikan dan kini dia harus menghadapi enam orang laki-laki mabuk  yang bertindak seenaknya dengan mobilnya.

“Kalian yang harus mengganti rugi, kalian meletakkan minuman itu di atas kap mobilku, lagipula kalian minum-minum alkohol ditempat umum, apa kalian tidak takut bila aku melaporkan kalian?!!” bentak Aline tak kalah keras.

Pria dengan tato di lengannya mengumpat kesal, dia mencoba menarik lengan Aline dan membawanya mendekat ke arah dua orang yang sedang duduk memperhatikan dari jauh.

“Lepaskan!! Akan kulaporkan pada polisi kalian!! Lepas!!” teriak Aline namun suasana jalanan itu sepi, semua ruko telah tutup, pukul satu malam dan dia adalah satu-satunya wanita disana, dikelilingi enam orang laki-laki yang menghembuskan aroma alkohol dari mulut mereka.

“Ada apa ini?” tanya seorang laki-laki yang sedang duduk bersandar pada tembok, dia baru saja menutup handphonenya setelah berbicara selama tak kurang dari satu jam.

Aline menatap nanar pada laki-laki yang baru saja mengeluarkan suara berat seperti orang mengantuk, nyatanya suaranya memang demikian, serak dan basah.. bila tidak ingin disebut sensual.

Laki-laki itu mengenakan kemeja rapi dengan jas biru gelap tanpa dasi, penampilannya jauh berbeda dengan kelima pria lain yang lebih bertampang preman di mata Aline. Dengan cambang yang mengintip tipis dari rahang dan bawah hidungnya, wajah oriental klasik campuran bule dengan ras Asia Timur itu, laki-laki di depannya terlihat seperti aktor Korea keturunan bule dan dia tidak bisa dikategorikan tidak ‘menarik’ bahkan bila kata menarik cukup untuk mendeskripsikan paras wajahnya yang rupawan.

Dia berdiri dan Aline bisa melihat tubuhnya yang langsing menjulang tinggi bagai tiang, berbeda kontras dengan dirinya yang hanya setinggi seratus enam puluh lima centimeter. Dalam hati Aline merutuk laki-laki itu karena begitu sempurna untuk menjadi seorang preman, atau mungkin mafia, karena hanya mafia yang berpakaian necis dengan kacamata hitam tersampir di saku jasnya.

“Wanita ini memecahkan minuman-minuman yang bos kasi, Boss,” sergah pria bertato itu pada laki-laki tadi.

“Dan mengapa dia melakukannya?” tanyanya tak tertarik. Tempat itu gelap, sinar lampu penerang jalan tidak cukup kuat memancarkan cahayanya pada tempat itu. Dengan susah payah Aline mengumpulkan keberaniannya dan berpikir positif meski dia ragu apa yang akan terjadi padanya saat preman-preman ini mulai memutuskan nasibnya kemudian.

Pria bertato itu nampak gelisah, “Dia... dia bilang kami meletakkan botol bir di atas kap mobilnya,” jawabnya gugup.

Laki-laki tinggi itu menyipitkan matanya, dahinya berkerut sebelum menatap pada botol bir yang telah pecah dan kap mobil range rover yang kotor penuh dengan remah kulit kacang beserta sisa-sisa bir yang meleleh.

“Kalau begitu seharusnya kalian tidak memperlakukan wanita ini seperti itu, khan?” katanya tajam. Laki-laki tinggi itu mencoba mengamati sosok wanita di depannya dengan seksama, namun penerangan lampu tak membantunya sama sekali. Dia hanya dapat melihat samat-samar pandangan mata Aline yang bersinar penuh amarah dan ketakutan.

Pria bertato itu melepaskan cengkeramannya dari lengan Aline yang kini telah memerah, kulitnya yang putih membuat warna merah itu terlihat jelas meskipun cahaya tak terpantul cukup baik.

“Sekarang bersihkan mobil wanita ini dan kalian harus meminta maaf padanya, aku tidak akan mengizinkan kalian pulang sebelum membereskan masalah ini,” katanya lagi.

Ke empat pria yang mengelilingi Aline tadi kini tergopoh-gopoh masuk ke dalam restoran mewah yang telah tertutup dan keluar dengan membawa ember beserta kanebo basah untuk membersihkan kap mobil milik Aline. Sementara itu laki-laki tinggi tadi mengenalkan dirinya dengan sopan.

“Maafkan pegawai-pegawai saya, mereka adalah sekuriti yang menjaga restoran ini, maka bisa dimaklumi bila sifat mereka agak keras. Saya Brandon Joe, panggil saja Joe atau Brandon, saya Direktur restoran ini sekaligus pemilik, bila nona memerlukan ganti rugi jangan segan untuk menghubungi saya.” Brandon mengulurkan tangannya namun tak digubris oleh Aline, dia masih marah dengan kelakuan anak buah Brandon terlebih laki-laki di depannya ini adalah pemilik restoran saingannya yang telah membuat bisnisnya memburuk belakangan ini, Aline tidak akan berkenalan dengannya.

“Kita lihat saja nanti,” jawab Aline masih dengan nada kesal.

Brandon hanya tersenyum miris dan memasukkan tangannya kembali ke dalam saku celananya. Dia merasa terusik dengan keangkuhan wanita di depannya. Lampu mobil dari jalan raya sekilas menyorot wajah Aline, memberikan sebuah pemandangan lebih jelas akan wajah wanita di depannya bagi Brandon. Dia dengan wajah lancip, hidung yang sedikit mancung, mata bulat namun sipit, wanita oriental lain dan Brandon mendengus. Brandon tahu, bagi wanita seperti Aline bisnis adalah segalanya dan dia yakin wanita itu akan meminta ganti rugi padanya sebentar lagi atau minimal besok pagi. Terlebih dari itu, Brandon tertarik untuk melihat wanita di depannya tersenyum karena saat ini seolah seluruh beban dunia berada di atas pundaknya, dia terlihat sedih, tertekan dan tak berdaya. Seorang Brandon tergerak hatinya untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab seorang wanita semenarik dirinya tertekan.

Aline menutup pintu mobilnya dengan kasar, dia masih belum bisa memaafkan kearoganan Brandon dan anak buahnya meski dia tahu laki-laki itu tidak bersalah. Tapi bagi Aline, Brandon adalah seorang atasan yang tidak becus mengontrol pegawainya. Aline tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padanya bila Brandon tak ada disana malam ini, mungkin Aline telah habis diperlakukan tak senonoh oleh lima orang laki-laki kasar itu. Dengan sebuah tarikan kencang, Aline meninggalkan asap mobilnya untuk Brandon dan anak buahnya yang memandang kepergian Aline dengan hati meringis.

“Kalian... Jangan sampai terulang lagi, kalian telah merusak nama baik saya! Ck..” ketus Brandon marah. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan meninggalkan restoran miliknya itu dengan mobil mercy miliknya. Malam ini dia akan menemui tunangannya yang baru saja tiba di Jakarta, mereka telah bertunangan selama dua tahun dan tak lama lagi akan menikah.

~~~

“Disini tempatnya?” tanya Brandon pada asistennya, dibelakang mereka dua orang petugas dari kepolisian mengikuti mereka masuk ke dalam sebuah restoran masakan Italia.

“Iya, Pak. Hari ini jatuh tempo dan pemilik restoran tidak mampu memenuhi kewajibannya, maka sesuai dengan perjanjian dulu, restoran ini akan menjadi hak milik perusahaan,” jelas asistennya.

Brandon mengangguk mengerti, mereka kemudian masuk ke dalam restoran disambut oleh dua orang waiter yang membawa mereka langsung ke sebuah meja.

“Kami kesini tidak untuk makan, dimana pemilik restoran ini?” tanya asisten Brandon pada waiter.

“Ibu lagi di dapur, akan saya panggilkan, silahkan duduk dulu, Pak,” jawab waiter itu sopan. Para pegawai lain bertanya-tanya apa maksud kedatangan dua orang perlente dengan jas mahal dan dikawal oleh dua orang polisi yang menggamit map di lengan mereka kesana.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Aline bingung melihat asisten Brandon yang bernama Pak Puji, dia belum melihat Brandon yang duduk menghadap terbalik dari dirinya.

“Bisa kita bicara di tempat lain atau anda lebih ingin ini diketahui oleh orang banyak? Meski saya sendiri tidak masalah dengan hal itu, cepat atau lambat kita semua juga akan tahu apa yang sebenarnya terjadi disini.” Pak Puji tersenyum namun senyum itu bukanlah senyum ramah melainkan senyum licik yang membuat perut Aline mendadak mual dan melilit. Dia mulai mengerti kemana arah pembicaraan mereka.

“Ikuti saya,” ujar Aline membawa tamunya masuk ke dalam kantornya yang kecil.

Kedua orang polisi itu menuggu di luar kantor sementara Pak Puji dan Brandon mengikuti Aline masuk ke dalam kantornya. Mereka kemudian bersalaman saling mengenalkan diri. Brandon dan Aline sama-sama terkejut menyadari siapa yang sedang mereka ajak bersalaman.

“Kau?? Preman itu?” tanya Aline menjengitkan alisnya tidak senang.

“Kau wanita angkuh itu?” senyum kecut terbayang di sudut bibir Brandon.

“Aku bukan wanita angkuh,” balas Aline masam. Dia merasa tersinggung disebut angkuh oleh laki-laki di depannya.

“Dan aku bukan preman pastinya.” Brandon mengedipkan matanya pada Aline yang mencelos sebal.

Pak Puji membersihkan tenggorokannya demi untuk mengembalikan tujuan utama mereka kesana.

“Ehm... Jadi maksud kedatangan kami kesini, yang saya yakin telah anda ketahui, bahwa... mulai hari ini anda harus mengosongkan restoran ini karena restoran anda telah menjadi hak milik dari perusahaan kami. Ini dikarenakan anda tidak sanggup melunasi hutang yang telah anda tunggak selama lima tahun. Dan lima tahun adalah waktu yang sangat lama telah kami berikan bagi anda. Tidak ada kesempatan untuk berkelit lagi nona Aline.” Pak Puji memperbaiki kacamata putihnya, dia berbicara bisnis dan itulah tujuannya datang kesini.

Aline mendesahkan nafasnya, dia yakin hari seperti ini akan tiba, namun dia menolak untuk menyerahkan restorannya secepat ini. Sedang Brandon mencerna informasi baru yang diterimanya. Dia memang tidak pernah mengurusi siapa-siapa saja yang memiliki hutang pada perusahaan miliknya, namun sejak dia tertangkap basah mangkir dari pekerjaannya selama sebulan lebih, ayahnya menghukumnya dengan cara memberikannya pekerjaan sebagai debt collector ditemani oleh Pak Puji. Tapi tugasnya hanya duduk dan mendengar karena semua tugas sejatinya dikerjakan oleh Pak Puji dan beberapa polisi yang mengawal mereka.

“Tolong berikan saya satu bulan lagi, Pak. Saya berjanji akan melunasi semua hutang-hutang saya.” Aline memelas untuk yang kesekian kalinya.

“Darimana anda akan mendapat uang untuk membayar hutang-hutang anda nona? Dalam waktu sebulan? Apa anda kira uang sebesar dua milyar itu bisa anda dapatkan dalam waktu satu bulan?” tanya Pak Puji dengan nada merendahkan. Dia telah terbiasa menghadapi klien seperti Aline dan satu-satunya cara untuk mengalahkan klien seperti ini adalah menantangnya agar melihat kenyataan lebih jelas. Karena Aline tak mungkin mampu mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu sebulan.

“Saya akan menjual mobil saya, rumah saya atau apapun, saya akan mendapatkan uang itu, Pak. Atau biarkan saya mengelola restoran ini dulu setidaknya hingga saya mampu mengumpulkan uang untuk membayar anda.”

“Rumah yang mana lagi, nona Aline? Anda telah menggadaikan rumah yang anda tinggali sekarang. Itupun belum cukup untuk membayar setengah hutang anda di tempat lain. Saya sudah selesai berbicara dengan anda. Anda angkat kaki atau kami yang akan memaksa anda. Titik!” Pak Puji mengisyaratkan kedua polisi yang sedang menunggu untuk masuk ke dalam.

“Tunggu.. tunggu...” Brandon berdiri untuk mencegah polisi itu masuk ke dalam.

“Ada apa, Pak?” tanya Pak Puji pada atasannya.

“Apa tidak ada jalan lain? Maksudku.. restoran ini tidak buruk, kita masih bisa melakukan bisnis disini, kita bisa menggabungkan restoran ini dengan restoran di sebelah,” Brandon melirik mata Aline yang mendelik gusar, “Atau membiarkannya seperti sekarang ini hanya saja pengelolaannya bisa lebih diperketat, aku rasa dalam setahun mereka sudah bisa membayar hutang-hutang mereka. Benar kan, Nona.. Aline?” tanya Brandon dengan seringai tipis dibibirnya.

“Tapi, Pak... nanti Tuan besar akan marah kalau tahu kita membiarkan...”

“Sudahlah, aku yang bertanggung jawab. Lagipula aku berhutang ganti rugi pada nona yang satu ini. Namun... dia harus siap untuk diperintah, karena kali ini... bos disini bukan dia lagi. Tapi... aku...” Brandon melirik Aline, “Setuju, Nona?” tanyanya licik.

Aline mengetatkan rahangnya, mau tak mau dia harus menerima tawaran ini bila tidak ingin satu-satunya miliknya terlepas juga. “Baik, tapi aku memiliki syarat,” ungkap Aline.

“Katakan.”

“Semua pegawai tidak boleh dipecat, aku berhak mengatur menu dan kalian tidak bisa ikut campur dengan manajemen dapur.” Aline memutar otaknya bila dia akan mengajukan syarat lain pada Brandon.

“Ada lagi?”

“Untuk sementara itu dulu, lainnya akan menyusul.” Aline bersedekap agar tak terlihat terlalu lemah di hadapan musuhnya, rentenirnya.

Brandon tergelak yang membuat heran Pak Puji dan Aline. “Mengapa kau tertawa?” tanya Aline tersinggung.

“Tidak apa-apa... Hanya saja... Kau masih saja angkuh meskipun telah berada dalam posisi seperti ini. Dasar wanita... Baiklah, deal.” Brandon mengulurkan tangannya, dengan ragu Aline menjabat tangan itu mengunci perjanjian mereka.

“Tuan Brandon, saya tidak mau terlibat, ini...”

Brandon memotong kata-kata Pak Puji saat mereka telah berada di luar, Brandon menghembuskan asap rokoknya sebelum menjawab Pak Puji. “Jangan khawatir, aku yang bertanggung jawab bila kenapa-kenapa, ok?” Brandon menepuk punggung Pak Puji dan berlalu dari sana menuju kendaraannya.

~~~

Seminggu sudah Aline menjalankan restorannya tanpa gangguan, Brandon yang menghubunginya berkali-kali saat awal mereka membuat perjanjian itu mengatakan akan datang dan langsung memimpin restoran milik Aline, namun hingga hari ketujuh dia tidak muncul disana maupun di restoran sebelah. Dia bagai hilang ditelan bumi. Namun Aline tidak perduli, dia hanya memfokuskan pikirannya pada pekerjaannya dan bagaimana mendapatkan uang sebesar dua milyar agar terbebas dari rentenir bernama Brandon Joe.

Malam telah larut, pukul sebelas malam dan pegawai terakhir telah keluar dari restoran. Aline mengunci pintu restoran miliknya kemudian tenggelam dalam tumpukan surat tagihan yang masih teronggok tak tersentuh di atas mejanya. Dia tidak siaga saat sebuah suara berat menyapanya.

“Kau belum pulang?”

Aline hampir berteriak karena terkejut mendapati ada sosok lain berada di depannya. Jantungnya berdebar kencang ketakutan.

“Apa yang kau lakukan disini? Dan bagaimana kau bisa masuk kesini???” tanya Aline kesal. Dia masih menenangkan debar jantungnya akibat laki-laki yang kini terkekeh menyadari akibat perbuatannya.

“Aku tak tahu bila kau memiliki jantung selemah itu,” jawabnya cengengesan. Dia menarik sebuah kursi dan duduk di depan meja Aline. “So? Mengapa belum pulang?”

“Masih banyak yang harus kukerjakan. Kau juga belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan disini dan bagaimana kau bisa masuk kesini?” tanya Aline kesal.

“Hei... easy, girl... apakah kau harus selalu marah-marah saat aku di dekatmu? Aku ingin sekali melihatmu tersenyum.” Seringai Brandon menggoda Aline. Dengan lampu remang dalam kantor Aline, Brandon menyadari wajah eksotik Aline dan tak dapat menghindar dari pesonanya. Dia mulai tertarik lebih dalam pada wanita di depannya.

“Kau memang mudah membuat orang lain agar membencimu,” ketus Aline masih tertunduk membaca surat-surat tagihan di atas meja.

Brandon berdiri dan menarik surat-surat dari tangan Aline, “Hei... bila kau berbicara denganku, tatap mataku. Agar aku tahu bahwa kau sedang berbicara denganku dan bukan dengan patung.”

Aline merasa tubuhnya menggigil mendengar nada ancaman dibalik suara khas Brandon. Tapi dia tidak takut karena mungkin akan dianiaya oleh laki-laki di depannya, Aline hanya takut akan terpesona pada musuh beratnya, rentenir tamak yang dihutangi oleh ayahnya lima tahun yang lalu.

“Anggap saja aku sedang menatapmu,” ketus Aline lagi. Dia memang keras kepala dan hanya itulah yang bisa membuatnya bertahan dalam dunia yang keras ini seorang diri. Aline yang manja telah mati saat kedua orang tuanya mati, kini yang tinggal hanyalah Aline yang berpendirian teguh dan memiliki keangkuhan dua orang sekaligus. Stok arogansinya tidak akan berkurang.

“Kau memang wanita yang menyusahkan.” Brandon tertawa dan tak dapat menyembunyikan seringai lebarnya. Aline hanya mendengus menyetujui perkataannya.

“Hei... Buatkan aku makanan, aku lapar.”

“Aku bukan hei dan aku tidak memasakkan makanan untukmu,” jawab Aline tak perduli.

“Ayolah... Aku sangat kelaparan.. aku hanya menyesap secangkir kopi dan sepotong roti tadi pagi. Apakah kau ingin melihatku pingsan disini? Seperti tikus mati di lumbung padi?” rengek Brandon manja.

“Ishh.. pengumpamaanmu menjijikkan. Dan berhentilah merajuk, aku bukan pacarmu jadi jangan seperti itu padaku. Aku hanya akan membuatkanmu sandwich, jadi jangan protes kalau kurang enak.” Novi berdiri diikuti Brandon, mereka berdua menuju dapur untuk mencari makanan.

“Aku tidak keberatan bila kau ingin menjadi pacarku, Aline...” rayu Brandon, tangannya menumpu kepalanya di atas meja alumunium dimana Aline sedang memotong roti dan menyiapkan isi sandwich untuk Brandon.

“Ham babi atau sapi?” tanya Aline.

“Apapun, aku pemakan segala. Kaupun akan kumakan.” Brandon menggigit bibirnya, bersiap mendengar omelan pedas dari mulut Aline. Namun wanita itu diam tidak menggubris leluconnya.

“Kau marah?” tanya Brandon setelah satu menit lebih Aline hanya diam asyik dengan ham ditangannya. Dia mengiris beberapa helai daging ham dari potongan besar ham yang diproduksi sendiri.

“Kenapa aku harus marah?”

Who knows... Kau terlihat sangat mudah untuk marah. Aku tak yakin bila kau bisa tersenyum.” Brandon menyeringai lagi, Aline hanya menjengitkan alisnya dan mendengus sebal.

“Untuk ukuran laki-laki, kau terlalu banyak bicara, Tuan Brandon,” protes Aline. Kini dia mengoleskan butter pada fresh bread yang baru saja dipotongnya.

“Dan kau.. terlalu pendiam untuk ukuran seorang wanita.” Brandon menyeringai lagi. Aline membelalakkan matanya padanya.


“Dan kau sungguh seram untuk ukuran wanita secantik dirimu,” lanjut Brandon lagi.

Aline menahan nafasnya, belum pernah dia mendengar seorang laki-laki mengatakan dia cantik. Sejak kematian orangtuanya, Aline tak pernah membiarkan dirinya berurusan dengan laki-laki, dia memiliki hal lain yang lebih perlu untuk dipikirkan, membayar hutang-hutang keluarganya.

“Aku menganggap itu sebagai pujian,” jawab Aline akhirnya.

“Tentu... Karena memang, kau cantik. Tahukah kau hal itu, Aline?” Brandon kini menggenggam tangan Aline dengan lembut, mengelus punggung tangan wanita itu yang masih menahan nafas. Aline mengingatkan dirinya bahwa Brandon adalah type laki-laki penggoda yang hanya akan mempermainkan hatinya dan meninggalkannya bila dia telah bosan dengannya. Namun kakinya tak kuasa untuk bergerak, karena sekian lamanya Aline tak pernah memiliki hubungan asmara dengan laki-laki manapun, hatinya merindukan sosok seseorang yang mampu membuatnya merasa seperti ini, dipuja, dipuji dan digoda...

Tak butuh waktu lama bagi Brandon untuk membawa Aline ke dalam pelukannya, bibirnya mencari bibir Aline dan menciumnya dengan pelan, mengecap setiap jengkal bibirnya lalu melumat mesra bibir bawah Aline, membawanya masuk ke dalam mulutnya.

“Kau terasa manis, Aline... Bibirmu... adalah bibir termanis di dunia,”

“Seolah kau telah mencicipi ribuan bibir lain,” ejek Aline.

Brandon tersenyum kecil, “Kau tak tahu apa yang kau katakan... Tak perlu ribuan bibir untuk kucium untuk mengetahui bibirmu lah yang termanis. Melihatmu saja aku sudah tahu, bibirmu semanis wajahmu.”

“Laki-laki buaya,” Aline mendesah pelan saat Brandon mengecup  lekukan di belakang telinganya.

“Ya... terkadang mereka menyebutku demikian. Tapi aku yakin... buaya ini tidak akan menggigitmu,” bisik Brandon di telinga Aline yang kini digigitnya, berlawanan dengan apa yang dikatakannya barusan.

“Sudah, atau kau tak akan mendapatkan sandwichmu.”

“Uhm... Kau lebih menarik daripada sekedar sandwich, nona.. Tidakkah kau tahu itu? Sejak pertama melihatmu, aku tahu aku telah tertarik padamu. Hanya jodoh yang membuatku bisa melihatmu untuk yang kedua kalinya.”

Aline tertawa pelan, “Jodoh? Itu terlalu cepat, Tuan Brandon...”

“Brandon... Panggil aku Brandon, karena aku akan memangilmu Aline dan bukan nona Aline... atau Ibu Aline?” alis Brandon berkerut, wajah seriusnya membuat Aline tertawa tertahan.

“Ada yang lucu?” Brandon pura-pura marah.

Aline tertawa lagi, mencoba melepaskan pelukan erat Brandon dari tubuhnya. “Lepaskan aku, aku banyak pekerjaan. Lagipula ciuman itu ilegal, kau bisa dipenjara karena telah mencuri ciuman pertamaku,” sungut Aline pura-pura sebal.

“Oh, ya? Aku merasa tersanjung... Kau adalah wanita ke sekianku...”

Aline mencubit pinggang Brandon lalu laki-laki itu melepaskan pelukannya, meringis nyeri akibat cubitan tangan Aline.

“Buaya, menjauhlah dariku,” ketus Aline sebal. Dia membawa piring yang berisi dua potong sandwich untuk Brandon dan dirinya ke dalam kantornya. Brandon pun mengikuti dari belakang dengan seringai penuh kemenangan.

Aline dan Brandon menghabiskan dua jam lamanya berduaan di dalam kantor Aline yang kecil, mereka membahas perkembangan restoran dan topik-topik ringan lain. Saat semua pekerjaan Aline telah beres merekapun keluar berbarengan dari restoran.

“Aku akan mengantarmu,” ujar Brandon menawarkan diri.

“Oh, tidak usah. Bagaimana dengan mobilku? Aku tidak ingin meninggalkannya disini, bagaimana bila anak buahmu menggunakan mobilku sebagai meja tempat berpesta minuman keras dan mengotorinya lagi?” ketus Aline pura-pura marah.

“Kau tahu mereka tak akan melakukannya lagi, hei... aku bersungguh-sungguh, aku tidak ingin melihatmu pulang seorang diri... sudah pukul... dua pagi, bagaimana bila ada laki-laki yang mengikutimu dan menculikmu di jalan raya?”

“Aku rasa itu hanya khayalanmu Tuan Brandon, aku tak akan apa-apa. Dua tahun ini aku sudah terbiasa pulang sepagi ini. Kau tidak perlu mengkhawatirkan yang tidak-tidak.”

Brandon menggamit tangan Aline dan memaksanya masuk ke dalam mobil mercy miliknya sendiri. “Aku akan mengantarkanmu hingga kau masuk ke dalam pintu rumahmu, menguncinya dan memadamkan lampur kamarmu. Aku akan mengawasimu.” Dia mengerdipkan matanya.

Aline menahan nafasnya, kewalahan dengan kegigihan laki-laki dihadapannya. Tanpa dapat dibantahnya, Brandon telah mendudukannya di kursi samping pengemudi, memasangkan sabuk pengamannya dan laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan.

So... bolehkah aku mampir ke rumahmu? Sejujurnya aku tidak ingin pulang ke rumahku malam ini...”

“Tidak. Kau bisa menginap di hotel.”

“Ayolah... Aku tahu rumahmu memiliki empat buah kamar lain, oke.... aku akan membayar sewa per malamnya. Lumayan kan untuk pendapatan tambahan?” bujuk Brandon penuh harap Aline akan menyetujui permintaannya.

“Aku memasang tarif mahal, Tuan Brandon...” jawab Aline acuh.

“Berapapun... Asal masuk akal,” lanjut Brandon terkekeh.

“Oh.. kau tak tahu, kata masuk akal bukanlah kata yang ada dalam kamusku belakangan ini. Lagipula bukan aku yang perlu, kalau kau mau....”

“Ok... Ok.. aku menyerah... berapapun. Asalkan aku memiliki tempat untuk tidur malam ini,” jawab Brandon menyerah.

Senyum tersungging di sudut bibir Aline, dia senang memiliki seorang teman untuk pertama kalinya yang tinggal di rumahnya setelah kepergian kedua orang tuanya. Namun hati kecilnya menjerit penuh semangat dan was-was mengantisipasi hal-hal ‘menyenangkan’ yang mungkin akan terjadi saat Brandon berada di rumahnya.

Mereka tiba di rumah yang cukup mewah meskipun hanya sedikit furniture dan barang-barang mewah terdapat di dalamnya. Nampaknya Aline telah menjual hampir seluruh isi rumahnya untuk menutupi sedikit hutang peninggalan ayahnya yang sayangnya belum tertutupi sepenuhnya.

“Kau bisa menggunakan kamar ini, aku akan membersihkannya sedikit, pendingin ruangannya masih berfungsi, kamar mandi ada di dalam. Bila kau haus, kau bisa mengambil minuman di dapur. Dan... jangan coba-coba mendekati kamarku.” Aline mendelik memperingati Brandon yang melongo memandangi kamar barunya yang ditutupi kain putih seolah kamar berhantu.

“Apakah di dalam sana ada hantu? Mengerikan.” Brandon merasakan tubuhnya bergidik ngeri.

“Ck... Aku heran kau menamai dirimu laki-laki bila takut pada hantu.” Aline meninggalkan Brandon berdiri di depan pintu kamarnya. Laki-laki itu kemudian mencoba meneliti kamar itu mencari hal-hal yang tidak sesuai pada tempatnya dan berharap tidak dikejutkan oleh sesuatu yang berasal dari ‘dunia lain’.

Di saat Aline mencoba memejamkan matanya karena kelelahan, pintu kamarnya diketuk dari luar dibarengi suara merengek seorang laki-laki. “Aline... Aku tidak bisa tidur disana. Aku rasa kamar itu berhantu. Kau temani aku, ok?”

Aline menutupi kepalanya dengan bantal, dia benar-benar kelelahan dan Brandon membuatnya harus terjaga semalaman. Aline telah menyesal menerima laki-laki itu di dalam rumahnya.

Dengan langkah limbung Aline membuka pintunya, bersiap-siap memasang wajah tersangarnya, namun apa yang dilihatnya di belakang tubuh Brandon membuatnya merinding. Dengan sekali tarikan Aline menarik tubuh Brandon dan mereka berakhir di dalam kamar itu berduaan.

Aline menenangkan nafasnya setelah mengunci pintunya dengan kunci dobel, menyalakan lampu kamar dan naik ke atas ranjang, meninggalkan Brandon kebingungan berdiri di samping pintu.

“Apa yang kau lihat?” tanya Brandon saat tiba di samping ranjang Aline dengan wajah pucat, rupanya dia curiga Aline telah melihat sesuatu yang membuat dia ketakutan setengah mati.
“....Selama ini aku tidak pernah melihat hal seperti itu, kau... kau pembawa sial. Aku yakin!!” rutuk Aline pada Brandon yang hanya menggaruk-garuk kepalanya.

Lalu tiba-tiba listrik padam dan kamar itupun gelap gulita, refleks Aline memeluk Brandon yang berdiri di sampingnya. “Kyaaaaa!!!!” teriak Aline histeris.

“Shh...” Brandon yang ikut ketakutan mendekap mulut Aline agar wanita itu terdiam. Tangannya perlahan-lahan membelai punggung Aline dan menenangkannya.

Brandon mengangkat tubuh Aline ke atas ranjang, menyelimuti tubuh mereka sementara dia memeluk tubuh Aline dengan erat. Aline sendiri tak ingin melepaskan tubuh Brandon, laki-laki itu menjadi gelisah dengan kedekatan mereka.

“Aku tahu saat ini tidak tepat untuk menanyakannya tapi kau mendesakku dibawah sana, apakah kau tidak bisa mengontrol dirimu?” tanya Aline jengah.

Brandon tertawa kecil, dia merutuk dirinya dalam hati, “Aku tidak bisa mengatur tubuhku bila dia memutuskan untuk membangkang dari perintahku.”

Aline terengah-engah menyadari desakan Brandon pada perutnya semakin keras, “Kau laki-laki mesum, Tuan Brandon!”

“Kuakui... Aku memang telah seperti ini sejak pertama mengenalmu,” senyum Brandon di dalam kegelapan.

“Setidaknya kau bisa menjauhkan tubuhmu itu agar tidak mendesakku!”

“Dan melepaskan pelukanku dari tubuhmu? Oh, tidak bisa... Kapan lagi kita bisa sedekat ini, Aline...?” Brandon mendesahkan nama Aline di samping telinganya, dia tahu pengaruh apa yang bisa dia berikan pada Aline dan setengah dari dirinya berharap Aline akan merespon tepat seperti keinginannya.

“Aku ingin menciummu, Aline...”

“Kau memang laki-laki mesum, kau mencari kesempatan dalam kesempitan. Bagaimana kau bisa begitu mesum saat di luar mungkin makhluk itu masih mengintai??”

Brandon tertawa kecil, masih mendekatkan wajahnya pada wajah Aline, “Gairahku tidak bisa sinkron dengan akal sehatku, kau telah mengaduk-aduk akal sehatku, Aline... Meski kau tidak menyadari hal itu,”

Brandon mengecup pucuk hidung Aline dengan lembut, wanita itu mendesah, melepaskan ketegangan gairah yang coba di kungkungnya. Tak lama kemudian kedua lengan Aline melingkar di balik leher Brandon, mereka berciuman dengan mesra penuh gairah yang berlanjut tanpa ada niat dari mereka untuk menghentikannya. Mereka sama-sama kesepian, sama-sama ketakutan.. Dan saat ketakutan itu dilingkupi oleh gairah, makhluk halus yang tak lain adalah arwah kedua orang tua Aline pun terlupakan. Aline dan Brandon memadu kasih terlarang yang tak pernah mereka rencanakan sebelumnya. Satu yang tak akan pernah Aline sangka bahwa keesokan harinya Brandon tak akan pernah dilihatnya lagi. Laki-laki itu menghilang dari atas ranjangnya, menyisakan noda merah darah perawan yang telah terkoyak malam sebelumnya.

Situasi di restoran berjalan seperti biasa, tak ada rentenir yang datang lagi menagih, bahkan rumah mewah satu-satunya peninggalan orang tua Aline telah dilepaskan oleh Bank. Semua hutang-hutang Aline dan keluarganya telah terhapuskan, Aline bertanya-tanya siapa gerangan yang melunasi seluruh hutangnya. Dia bahkan memiliki sertifikat penuh atas restoran miliknya, Brandon diwakili tukang tagihnya telah menyerahkan hak kepemilikan restoran itu padanya seminggu setelah laki-laki itu menghilang.

Hingga detik inipun Aline masih bertanya-tanya kemana perginya Brandon, tanpa kabar, tanpa pesan, bahkan tanpa kecupan selamat tinggal. Bagi Aline... Brandon akan selalu menjadi cinta pertama dan laki-laki pertamanya... Sampai mereka bertemu lagi, bila jodoh mempersatukan mereka lagi...

~Fin~ 


Jual Mukena Khas Bali. Add pin bb 32fde75e atau whatsapp 081246671304



24 comments:

  1. Ada typo mba Shin....
    Aline jadi Novi???????
    Jd inget novi ama kenny nich

    thanks.....^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih typo, hehe bntr deh dibenerin. makasi ya sist :D

      Delete
  2. Fin? Final? End? Tamat? Habis?
    Hueeeeeeeeee, opo iki, mbak?
    Kok endingnya cuma gitu doang.. Akkkkk, kentang banget, mbak..
    Buat sekuelnya ya, mbak..

    Aku ngebayangin cowoknya wajah oriental keturunan bule yang mirip aktor daniel oh, cakep. Tapi langsung datar pas mukanya disamain aline sama kertas hutang. Kkkkkkkkkkkkk
    brandon joe, nama belakangnya sama kayak nama panggilan aku, joe. Kkikikiki, kita jodoh nih.

    Makasih mbak shin..
    :)

    ReplyDelete
  3. yey brandon kejam amat.. Abis dapet perawannya aline terus nikah sama tunangannya gitu? Sequel dong mba... Hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kentangg bgt!! Lanjut lagi dong mbak shin :(

      Delete
  4. Aaaaakkkkkkk...
    Mba Ciiiiinnnnnn,,,lagiiiii mw lagiiiiiii...knp Brandon ninggalin Aline gt ajjaaaaaaa???hukz,,hukz,,hukz....
    Brandon jahaattttt....

    ReplyDelete
  5. yah~yah.....brandon habis uhuk2 knp ngilang?? ihh jahat amat. thanks mbk cin :)

    ReplyDelete
  6. kentaaaaangggg.

    Thanks mbak shin

    ReplyDelete
  7. Nah lo kmna si brandon
    Apakah d blog sblah *eehh itu braden ya,xixixix
    Kentaaaaaannngg goyeeeeennng mba cin

    ReplyDelete
  8. KENTAAAAAAAAAAAAAAAANG !!!

    Ga SUDI aq nie ending..
    *marah ama mbak Shin..

    Upss..iyaa.da typo di atas.. Aline become Novi..heehhehe

    ReplyDelete
  9. kentang mba shin,,,,
    knp brandon lgsung ngilang aja,,, seakan-akan aline byr utang sama badannya,,,,

    ReplyDelete
  10. M Shin.., lanjut dong... Hehehe...

    ReplyDelete
  11. Suka BGT maka.x komen lebih dari 1... Hihihi ;))

    ReplyDelete
  12. Whhhaaattttttttt??????

    Gk slh neh?????

    Segitu doang?

    Fin????

    Refresh halamannya terus. Mana tau ada sambungannya...

    ReplyDelete
  13. Mbak shin,ini dilanjutin dongggg! Gantung bgt endingngya

    ReplyDelete
  14. Telak banget kentangnya
    Lanjut mbakkkkk
    Selalu terbawa kalo baca tulisanmu

    ReplyDelete
  15. nanggung bgt ceritanya
    si brandon sialan bgt sih habis merawanin aline malah pergi gitu aja tanpa ada kabar yg jelas
    jangan bilang kl dia nikah sama tunangannya
    kasiam bgt aline ketipu playboy macam brandon
    ini harus ada sekuelnya mba shin, gamau tau *maksa*

    ReplyDelete
  16. Huaaa...... tanggung banget ceritana Mba Shin.....T_T
    Lanjut lagi dunk....please.......

    ReplyDelete
  17. Tidaaakkk... Tidaaakkk... Hrs ada lanjutannya... HARUSSSSS!!!!! *maksa*

    ReplyDelete
  18. Mba shin kenapa harus ending yah gitu doang ????
    Lanjutin mba shin ????

    ReplyDelete
  19. kakkkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!! lanjutin dong >.<

    ReplyDelete
  20. lo Fin tamat ya kok gitu abis nananina si brandonnya ilang lanjutannya mana dong ngga rela bener kalo cuman sedikit ya Plz....plz sis buat lanjutanya ya#maksa#

    ReplyDelete
  21. Hah!
    Ceritanya tamat mba shin?
    Haaa kenapa gantung.
    Kenapa gak sampe mereka nikah aja.
    Panjangin lg dong mbaa critanya hehe

    ReplyDelete
  22. ya belum ada lanjutannya karena cerita ini masih diproses, yang cewek masih nunggu kejelasan yg cowok gimana karena yg cowok memang menghilang tanpa kabar. jd belum tahu deh lanjutannya gmn. kisah ini diambil berdasarkan kisah nyata tapi dirubah secukupnya hehehehhe. nanti kl ada lanjutannya br deh aku lanjutin ya. lagipula cerita cinta tak selalu bs berakhir bahagia kan? :wink:

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.