"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, June 18, 2013

A True Story - Cinta Di Ujung Jalan



~Cinta Di Ujung Jalan~

cerita ini dibuat berdasarkan kisah nyata seorang reader, namun nama-nama tokoh telah disamarkan dengan nama lain. inilah biography singkat yang saya buat sejak seminggu belakangan. pemilik kisahnya sendiri memutuskan mengizinkan saya untuk mempostingnya di myowndramastory agar readers lain bisa ikut membaca karya ini. ditunggu komen-komennya ya :)

Pelajaran di depan kelas tidak terlalu menarik untuk aku ikuti, guru biologi yang sedang menjelaskan tentang pelajaran anatomi tubuh manusia beserta organ-organ reproduksinya sama sekali tidak mampu menggugah perhatianku dari handphone yang sedang kugenggam erat di tangan.

Buku-buku tanganku memerah karena genggamanku yang kencang, mungkin kini air mukaku sepucat kapas. Darah seolah menghilang dari tubuhku tergantikan dengan cairan putih sedingin es yang membuat tubuhku merinding kedinginan.


Pacarku, sebut saja Irfan, seorang tentara Angkatan Laut republik ini, usianya berbeda sepuluh tahun dariku dan aku sendiri saat ini adalah murid sebuah sekolah menengah umum di kelas dua.

Enam belas tahun, itulah usiaku. Aku adalah anak bungsu dari enam bersaudara dan keluargaku sangat memanjakanku. Karena inilah aku menjadi sosok seorang wanita yang keras kepala dan boros, karena apa yang aku minta hampir selalu dituruti oleh keluargaku.

Aku sejatinya adalah gadis yang periang, nilai-nilai pelajaranku cukup memuaskan, supel, ‘sedikit’ cerewet sehingga tak ayal temanku cukup banyak. Mereka menyukaiku. Tapi bila berhubungan dengan masalah percintaan.. aku adalah gadis yang cengeng. Untungnya aku memiliki seorang sahabat yang selalu mendengar keluh kesah dan rahasia hatiku.

Efriyanti itulah nama sahabatku yang biasa kupanggil Efri. Efri saat ini duduk di sebelahku, kami bagai amplop dengan perangko. Kemanapun aku pergi, Efri akan selalu mengikutiku, begitu pula sebaliknya. Ke kantin, mall, bioskop, ataupun sekedar jalan-jalan di malam minggu, bahkan saat aku berpacaran dengan Irfan dia juga selalu mengikutiku. Aku tak pernah risih dengan kehadirannya meskipun karena keberadaan Efri aku tak pernah memiliki waktu spesial untukku dan Irfan. Aku terlalu baik dan tak ingin menyakiti hatinya bila tidak mengikutkannya dalam hubungan kami.

Irfan, dia berusia dua puluh enam tahun, kami sudah hampir setahun berpacaran. Awalnya aku berkenalan dengannya saat menemui salah seorang temanku yang tinggal di perumahan TNI AL, Irfan sedang duduk-duduk di depan rumahnya bersama beberapa orang tentara lainnya yang sedang tidak bertugas.

Hubunganku dengan Irfan mengalami masa pasang dan surut, kami kerap bertengkar karena masalah kepercayaan. Berulang kali sudah aku bersabar dan mencoba memaafkan kesalahan-kesalahan yang dia perbuat. Kami selalu bertengkar bila bertemu, begitu juga di dalam telephone. Dan puncaknya adalah pagi ini. Aku memergoki Irfan sedang menelphone seorang wanita lain dengan nada bicara yang sangat manis, aku bahkan mendengar kata cinta yang dia ucapkan pada wanita itu.

Namun seperti layaknya laki-laki berengsek lain, dimana dia yang melakukan, dia pulalah yang bersikeras sebaliknya. Dia menuduhku berselingkuh dan membenarkan perbuatannya. Irfan menuduhku tidak dewasa dan tidak mengerti keinginannya.

Demi Tuhan, apa yang dia harapkan dari seorang gadis berusia enam belas tahun sepertiku?!

Sejak itu kami selalu bertengkar, aku meminta penjelasan darinya yang tak pernah berhasil dia berikan. Dia selalu beralasan dan menghindar, telephonenya sering tak aktif, bahkan dia tidak membalas sms-smsku. Namun pagi ini, dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami...

Sungguh bagai petir di siang bolong bagiku, meski hubungan kami belum setahun tapi aku tahu aku mencintainya. Beberapa lama setelah ini aku merasa duniaku hancur, menangis sepanjang malam dan terlihat mengenaskan keesokan paginya di dalam kelas. Hanya Efri yang menghiburku karena hanya dia yang tahu dengan jelas apa yang sedang terjadi dengan hubunganku dengan Irfan.

Terakhir kudengar Irfan akhirnya menikah dengan wanita yang tak kukenal... mungkin selingkuhannya, entahlah... aku tak perduli lagi...

Pergi Irfan, datanglah Igo. Belakangan kuketahui Igo yang sering mendengar pertengkaranku dengan Irfan diam-diam mencuri nomerku dari handphone Irfan. Igo adalah junior Irfan di TNI AL, mereka berada di atas satu kapal perang yang sama saat bertugas. Dia menjadi tempatku mencurahkan segala kesedihanku, Igo adalah pendengar yang baik, dia laki-laki yang sempurna saat itu.

Tanpa perlu waktu lama, diapun menyatakan kesukaannya padaku. Igo datang disaat hatiku yang layu perlu penopang hidup, Igo menyirami kebun cintaku dengan air yang menyejukkan, pupuk yang menyuburkan.

Meski kami belum pernah bertemu muka, aku merasa yakin Igo adalah sosok laki-laki yang kudambakan. Saat itu aku sudah memantapkan diri, bagaimanapun wajah Igo.. aku akan tetap menerimanya.

Suatu hari akhirnya Igo kembali dari tugasnya dari laut, kami kemudian berjanji untuk bertemu. Tempat yang kujanjikan adalah di sebuah mall di kota kami. Hampir setengah jam lebih aku menunggu, Igo tak kunjung datang. Batang hidungnya pun tak terlihat sama sekali. Hatiku mulai gundah dan mengira Igo tak lebih baik dari Irfan.

Saat aku sampai di rumah, Igo menghubungiku, dia mengatakan ingin memiliki hubungan yang serius denganku, maka beberapa hari setelah itu dia mendatangi rumahku, untuk berkenalan dengan kedua orang tuaku.

Hari itu matahari bersinar cerah meski telah condong ke barat menandakan sebentar lagi sore akan menjelang. Igo datang dengan mobil Jeep berwarna hitamnya. Di jendela belakang mobil itu terdapat sebuah stiker yang bertuliskan “Persatuan Keluarga TNI AL”. Membuatku bangga karena mungkin akan menjadi bagian dari keluarga besar ini kelak.

Igo keluar dari dalam mobilnya, dari jendela kamarku yang dapat melihat dengan leluasa ke arah Igo, bisa kulihat bagaimana penampilan laki-laki itu. Satu hal yang membuatku terkejut, dia.... sangat hitam legam.

Tak heran, berada di atas kapal perang seharian penuh selama beberapa bulan tentu akan merubah warna pigmen kulit siapapun. Bisa kukatakan... Igo cukup.. gosong. Tapi selain itu, Igo adalah seorang laki-laki berusia dua puluh empat tahun yang cukup tampan. Dengan baju kaos putih tanpa kerah, celana pendek tentara, kalung angkatan laut, sebuah kacamata hitam armani, jam tangan entah merek apa yang jelas bisa kulihat cukup mahal, sepatu kets berwarna putih.

Igo... adalah bayangan laki-laki idamanku. Tampan, tegap, gagah, rambut plontos khas ABRI, gigi putihnya yang tersenyum cemerlang, itulah Igo... dan tentu saja kulitnya yang gosong.

Aku bergegas berlari turun dari kamarku yang di lantai dua, membenahi penampilanku agar cukup percaya diri menyambut kedatangan Igo. Aku berdeham sebelum membukakan pintu rumahku. Dan saat mata kami bertemu, bisa kurasakan keinginan yang sangat kuat untuk memeluk tubuh Igo...

Ah.. aku merindukan laki-laki ini. Kami hanya berhubungan melalui sms dan telephone.. inilah kali pertama kami bisa saling bertemu muka.

“Hai...” sapaku padanya. Igo telah membuka kacamata hitamnya, menyelipkannya di kerah baju kaos putihnya, menjulurkan tangan kanannya yang kokoh dan menyambut tanganku.

“Hai...” sahutnya mantap.

“Ehm... Kamu mau masuk?” tanyaku.

“Tidak usah, tidak sopan... Aku ingin berkenalan denganmu dulu sebelum bertemu dengan kedua orang tuamu...”

Kami pun duduk di kursi teras rumahku, berbicara sedikit kaku meski tak lama Igo mencairkan suasana dengan tawanya yang khas. Dari perhatiannya, bisa kurasakan Igo benar-benar memperdulikanku. Dia tidak berbohong dengan kata-kata sayangnya di sms atau telephone. Hingga...

“Damar... Aku ingin ngaku sesuatu ke kami..” Igo membuka percakapan yang langsung membuat detak jantungku melompat dua level lebih cepat.

“Apa..?” bisikku lemah. Apakah Igo akan mengaku kalau sebenarnya dia sudah menikah dan memiliki beberapa orang anak dan dia ingin mengakhiri hubungan kami??

“Err... Sebenarnya... Namaku bukan Igo.. Aku Matthew...” jawab Igo..err... Matthew membuatku terbelalak.

“Apa? Matthew?”

“Ya, aku Matthew...”

Awalnya hubungan kami memang tak banyak mengundang perhatian orang tuaku, terutama ayahku. Tapi setelah kedatangan Igo..aka Matthew ke rumahku, ayahku semakin memperketat jam keluarku. Aku tak sebebas dulu lagi...

Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa ayahku berbuat seperti itu... Alasannya tak lain dan tak bukan karena aku dan Matthew memiliki keyakinan yang berbeda.

Hal ini kuketahui sejak pertama kali dia berkunjung ke rumah. Sebagai seorang tentara, untuk membuktikan bila dia sesungguhnya adalah apa yang diakuinya, aku meminta Igo...er.. Matthew untuk memperlihatkan KTA nya, sejenis KTP untuk anggota tentara. Dari sana lah aku tahu bila Matthew memiliki keyakinan yang tak sama dengan keyakinanku.

Namun, saat itu tak ada pikiran lain di kepalaku, aku hanya menganggap hubunganku dengan Matthew adalah hubungan antara seorang pacar dengan kekasihnya, aku belum memikirkan jauh-jauh mengenai pernikahan, yang sayangnya lama-kelamaan akan kusesali, karena inilah awal mula permasalahan kehidupan asmaraku hingga dua tahun kemudian.

Selama dua tahun lebih kami berpacaran, Matthew menunjukkan dirinya adalah kekasih yang cukup baik. Matthew kerap memberikanku kejutan-kejutan spesial dalam hubungan kami. Membawakanku bunga kesukaanku, memberikan hadiah-hadiah yang tak pernah kupikirkan, perhatian dan beberapa hal yang mungkin tak pernah terpikir oleh seorang kekasih lain.

Namun demikian, Matthew tanpa kekurangan. Dia over protektif, pencemburu berat, sehingga kami kerap bertengkar karena jarangnya kami bertemu dan menghabiskan waktu bersama.

Matthew lebih banyak bertugas di atas laut sedangkan aku menunggunya di daratan, berharap suatu hari dia akan datang pada hari yang telah dia janjikan namun terpaksa menelan kekecewaan karena dia harus melanjutkan tugas negara untuk kembali melaut tanpa bisa bertemu denganku terlebih dahulu.

Hubungan kami berjalan putus-sambung, aku tak pernah bisa berlama-lama jauh darinya. Bila bukan aku yang meminta kembali, maka Matthew-lah yang membujuk agar kami mencoba membangun kembali hubungan kami yang terpecah. Beberapa lama kami akan kembali menjadi mesra tapi itu hanyalah sesaat. Karena ada satu hal yang tak akan pernah sama di antara kami.

Tak sabar melihat hubungan kami yang seperti berjalan di tempat, akhirnya ayahku memanggil kami untuk ditanyakan mengenai keseriusan Matthew terhadap hubungan kami. Saat itu hatiku berdegup keras dan bimbang, bagaimana aku harus memberikan alasan pada ayah sehingga beliau akan mengizinkan hubungan kami. Aku yakin ayah akan menolak hubungan ini, selain karena kami memang berbeda keyakinan, ayahku juga adalah seorang pemuka agama yang terhormat di kota kami. Aku tak mungkin membuat malu ayahku.

Sore itu menjelang malam, Matthew baru saja beberapa hari berada di daratan. Dia baru saja pulang dari melapor ke markas besar TNI AL di kota dan langsung menuju rumahku. Aku telah memberitahukan Matthew mengenai apa yang ingin ditanyakan ayah sehingga dia akan bersiap dengan jawabannya. Aku hanya berdoa kepada Yang Kuasa agar memuluskan pertemuan ini tanpa ada pertengkaran yang tak perlu.

Matthew dengan seragam dinasnya tampak gagah saat turun dari mobilnya. Dia tidak mengenakan kacamata hitamnya lagi, kali ini Matthew dengan sedikit gelisah tak seperti biasanya menyapaku yang menunggunya di balik pagar rumah.

“Hai... Kau sudah siap?” tanyaku padanya.

Matthew mengecup pipiku, “Ya, aku usahakan,” senyumnya kecut.

Kami berdua kemudian masuk perlahan ke dalam rumah dimana ayah dan ibuku telah menunggu di ruang tamu. Mereka sedang menonton siaran berita di televisi saat Matthew baru saja tiba.

“Yah, Matthew sudah datang,” ujarku memberitahukan ayahku yang dibalas anggukan olehnya.

Matthew mengikutiku dan duduk di kursi yang terletak di samping ayah bersamaku. Ibu kemudian permisi ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk kami.

“Gimana, Nak Matthew? Kabarmu baik?” tanya ayah memulai percakapan. Beliau mematikan pipa rokok yang sedang dihisapnya.

“Baik, Pak.”

“Jadi gini, kita langsung saja ya. Saya tidak suka basa-basi. Rasanya hubungan kalian sudah cukup lama. Nah, bapak mau tanya, sebenarnya Nak Matthew ini apakah ada rencana untuk membuat hubungan kalian ini ke jenjang yang lebih serius? Kalian kan sudah dua tahunan ya pacaran?” tanya ayah lagi.

Matthew nampak gelisah di tempat duduknya, akupun mengelus punggung Matthew untuk menguatkannya.

“Saya serius Pak dengan Damar. Bila tidak ada halangan maka setelah Damar siap kami akan menikah. Kami juga sudah membicarakan masalah masa depan dan memikirkannya bersama,” jawab Matthew.

Selama kami berpacaran, dari awalnya yang hanya kuanggap pacaran biasa, hubungan kami berjalan seiring waktu menjadi lebih serius. Kami kerap membicarakan rencana masa depan kami bila kelak kami menikah, membangun rumah untuk keluarga kami, merencanakan berapa jumlah anak yang akan kami miliki, pendidikan mereka, kehidupan kami hingga di hari tua. Sudah sejauh itulah kami bermimpi. Bahkan kami setelah ini sempat menemui sebuah bridal house untuk mengukur pakaian pengantin kami. Harapanku untuk membangun rumah tangga dengan Matthew telah menjadi sebuah impian yang menghiasi setiap tidurku.

“Sebentar.. sebentar... Jangan bicara menikah dulu. Bapak mau tahu dulu, Nak Matthew ini keyakinannya Nasrani bukan?”

Matthew mengangguk dan menoleh ke arahku, aku hanya bisa menunduk mencoba meredakan debar jantung yang kian cepat. Inilah saatnya ayah akan meledak marah.

Ayah menghela nafasnya, dia menyalakan lagi pipa rokok yang telah dimatikannya sedari tadi. “Terus... Kalian mau nikah pakai keyakinan mana?” tanya ayah seketika.

Matthew tidak bisa menjawab pertanyaan itu, dia tahu dia tak mungkin bisa mendebat ayah bila beliau telah berkata. Melihat Matthew hanya diam tak berkutik, ayah kemudian menghembuskan asap rokoknya ke udara.

“Hanya ada dua pilihan untuk kalian. Satu... Kalian putus.. atau... Kamu, Matthew... harus berkeyakinan sama dengan Damar. Kalau tidak, hubungan kalian tidak akan berhasil. Bapak sudah banyak melihat rumah tangga yang gagal karena alasan ini. Selain itu bapak tidak mungkin menikahkan Damar dengan laki-laki yang tak seiman. Bapak adalah seorang pemuka agama, apa kata umat nanti bila anak bapak sendiri memilih untuk murtad?!”

Aku bisa melihat urat nadi ayah berkedut menahan emosi, ibu yang muncul dari arah dapur dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi untuk ayah dan Matthew serta sepiring kecil jajanan kering tersenyum muram. Setelah meletakkan minuman di atas meja, ibu menepuk kecil bahu ayah, mencoba menenangkan emosi laki-laki yang menjadi panutan keluarga kami ini.

Lama kami  bercengkerama dan mendengar nasehat dari ayah dan ibu mengenai pernikahan, bagaimana sulitnya membina sebuah rumah tangga, terlebih dengan keyakinan yang berbeda. Orangtuaku tidak pernah memaksa Matthew untuk merubah keyakinannya, namun hanya itulah jalan satu-satunya yang bisa membuat kami tetap bersama.

Setelah wejangan dari kedua orang tuaku, kami pun duduk-duduk di teras dengan perasaan sedih. Matthew lebih banyak diam dan pikirannya terbang entah kemana. Dia bahkan sesekali tak mendengar dengan jelas pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan. Sungguh hatiku semakin sesak memikirkan hubungan kami yang tak jelas ini.

“Matthew, kamu pulang saja dulu ya... Nanti kita pikirkan baik-baik bagaimana kita ke depan. Saat ini tak ada gunanya membuat keputusan yang akan kita sesali nanti. Setelah kamu bisa berpikir dengan jernih, aku akan menerima apapun keputusan yang kamu buat untuk kita.”

Aku mencoba tersenyum untuk Matthew, bisa kurasakan laki-laki yang mengisi hatiku ini meringis saat memeluk tubuhku. Matthew kemudian melambaikan tangannya saat melintas di depanku dengan mobilnya, pelan...

~~~

Seminggu telah berlalu hubungan kami masih berjalan di tempat, Matthew belum mampu memberikan jawaban tentang pertanyaan ayahku. Memang kuakui keputusan untuk mengubah keyakinan seseorang adalah sesuatu yang sangat berat. Matthew harus memikirkan tak hanya dirinya seorang tapi juga keluarga dan lingkungannya serta bagaimana tanggapan mereka dengan keputusan Matthew, banyak hal yang dia pertaruhkan disini.

Kerap kami bertengkar karena membahas masalah ini, desakan dari keluargaku yang semakin tak sabar menunggu jawaban Matthew membuatku semakin uring-uringan dan merasa bersalah. Matthew tidak membantuku dengan jawaban yang diberikannya, kami tidak pernah mendapat titik temu dari masalah kami ini.

Ayah melarangku untuk menemui Matthew lagi, membatasi jam keluarku, menanyai kemanapun aku ingin pergi, dengan siapa dan pulang jam berapa. Aku merasa tak bebas, hidupku semakin kalut dan kacau. Selama enam bulan lebih kami akhirnya memilih untuk berhubungan dengan sembunyi-sembunyi secara backstreet, kami tidak ingin orangtuaku mengetahui bila kami masih berhubungan.

Saat itu waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam, aku telah tertidur setelah menunggu telephone dari Matthew yang tak kunjung datang. Mungkin tak ada setengah jam kemudian, handphoneku pun berdering, dari Matthew.

“Hai, kamu sudah tidur?” tanyanya pelan. Suasana dibelakang suara Matthew sunyi, mungkin dia sedang menelphone dari ruangan lain dan bukan di mess tentara, Matthew sedang berada di atas kapal perang dan beberapa hari lagi akan pulang.

“Ehm... baru saja, kamu sudah selesai bertugas?”

“Ya...” Matthew menggantung suaranya, seolah dia sedang memikirkan sesuatu dengan keras. “Damar...” katanya lagi.

“Iya...” desahku pelan, hatiku mulai gelisah dengan apa yang ingin dikatakan Matthew padaku. Inikah saatnya Matthew akan melemparkan keputusan mengenai hubungan kami?

“Nanti... setelah aku berada di darat... aku ingin kamu jadi saksiku. Aku bersedia masuk ke agamamu. Aku sudah capek seperti ini, Mar... Aku ingin menikah dengan kamu, aku cinta kamu, sayang...”

Tangisku mengalir dengan deras, tangis penuh keharuan yang meluber keluar melalui kedua mataku. Dengan sukacita kuusap tangisku, “Iya, Matt... Aku juga mencintaimu. Terima kasih, Matthew... Terima kasih, sayang...” jawabku tulus.

Bisa kurasakan Matthew tersenyum kecil, aku tak tahu apa yang telah Matthew lewati sehingga bisa memutuskan hal besar seperti ini, tapi aku bersyukur karena akhirnya ada jalan untuk hubungan kami. Maka ketika kapal Matthew telah berlabuh, diapun pergi ke pemuka agama dan akhirnya menjadi seorang Mualaf. Ayah dan keluargaku menyambut keputusan Matthew dengan gembira, kami akhirnya diizinkan berpacaran kembali, bahkan ayah menjadi lebih hangat setelah ini.

Hubungan kami kembali bersemi, bunga-bunga cinta bermekaran lagi. Matthew kembali seperti dulu, menyayangiku dan memujaku. Kami akan keluar jalan-jalan bertiga, aku Matthew dan Efri temanku. Hubungan Efri dengan Matthew juga baik, mereka seperti kakak dan adik di depanku. Namun tanpa sepengetahuanku, sejak Matthew memeluk keyakinan yang sama denganku, dia kerap pergi berkunjung ke rumah Efri tanpa memberitahukanku.

Aku tak tahu apa yang Matthew lakukan disana, dia bahkan bisa mampir ke rumah Efri setelah mampir ke rumahku. Hal itu aku ketahui karena tak sengaja menemukan sms-sms di handphone mereka. Seperti misalnya Efri yang mengirimi Matthew sms dan mengatakan bahwa rokoknya tertinggal di rumah Efri.

Sungguh aku tak tahu apa yang kupikirkan saat itu, bagaimana mungkin teman baikku, sahabatku bisa melakukan hal itu dibelakangku, meski pengakuan mereka hanya hubungan sebatas kakak-adik. Aku tak bisa menerima mereka bertemu tanpa sepengetahuanku dan bahkan tanpa memberitahukan kepadaku.

Dari sms-sms antara Efri dan Matthew itu pula aku mengetahui bila sesungguhnya Matthew tidak benar-benar serius dengan keputusannya pindah ke agamaku, dia masih melakukan kebiasaannya yang dulu. Orangtuaku pun mulai menaruh curiga dengan keseriusan Matthew, tak ayal akupun mendapat cercaan pertanyaan dari ayah yang selalu berusaha kutangkis meskipun dalam hati aku merasa sangat bersalah karena membela Matthew dengan cara membohongi keluargaku.

Aku tak tahu darimana Matthew mendapat gosip murahan yang mengatakan bila aku memiliki hubungan dengan seorang anggota brimob, karena sejak saat itu hubunganku dengan Matthew menjadi berantakan. Tiada hari tanpa bertengkar, saling menyakiti, dia menuduhku seenaknya tanpa mencari tahu kebenarannya.

Aku yakin seseorang diluar sana sedang tertawa karena melihat hubunganku dengan Matthew menjadi seperti ini, penuh dengan gejolak dan tinggal menunggu waktu untuk hancur.

Hari-hariku dipenuhi dengan kesengsaraan, perasaan tertekan, depresi yang menggila. Aku mencintai Matthew, aku menyayanginya. Tak pernah sekalipun aku memiliki hubungan lain dengan laki-laki selain dia. Bagaimana Matthew bisa begitu kejam menuduhku berselingkuh?

Aku menangis tiada henti setiap pertengkaran kami usai, baik itu melalui telephone ataupun pada saat kami bertemu. Matthew berubah, dia begitu emosi dan menuduhku yang bukan-bukan, hatiku semakin sakit mendengarnya.

Belum usai masalah ini, telah datang masalah lain. Kudengar dari kawanku bila Matthew kerap mabuk-mabukan dan mendapat masalah di kantornya. Seolah semua masalah menumpuk di pundakku, tekanan dari orangtuaku, gosip dan kabar yang kudengar dari teman-teman lain yang mengatakan bahwa sahabatku ternyata telah menyimpan perasaan juga pada Matthew, tak heran dia tega bertemu dengan Matthew dibelakangku.

Pernah terpikir olehku untuk kabur bersama Matthew hanya agar semua masalah ini tidak menjadi beban lagi, aku tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti, aku tidak membayangkan bagaimana reaksi keluargaku terutama ayahku bila aku melarikan diri bersama Matthew. Aku takut kehilangan dia, dia begitu berarti dalam hidupku saat itu, tapi Matthew tak pernah tahu hal itu, dia telah dibutakan oleh kecemburuannya yang tak beralasan.

Saat-saat hubunganku yang buruk dengan Matthew ini memang aku berkenalan dengan seorang anggota brimob dimana kami berkenalan di lapangan asrama brimob yang tak jauh dari rumahku. Sore itu, aku seperti biasa berolahraga dengan berlari keliling lapangan, melatih ketangkasanku karena setelah lulus SMU aku bermaksud untuk melanjutkan kuliahku di sekolah Akademi Ilmu Pemasyarakatan. Maka fisik yang kuat adalah syarat mutlak untuk dapat diterima di sekolah ini.

Kami sering bertemu bila aku kembali berolahraga di lapangan ini karena memang dia bekerja disana, kami menjadi teman baik. Dia bersedia menjadi pendengarku yang baik, menghiburku dengan semua masalah dan kebimbangan yang sedang kuhadapi saat itu, namun tak terpikir sedikitpun untuk mengkhianati Matthew.

Mungkin inilah yang dikira Matthew, bahwa aku dan temanku anggota brimob ini sedang menjalin hubungan, yang pastinya diberitahukan oleh Efri. Aku sempat berpikir sebenarnya Efri melakukannya dengan sengaja untuk memisahkanku dengan Matthew atau dia memang terlalu baik dan tak ingin Matthew kekurangan informasi apapun mengenai apa yang kulakukan diluaran.

Namun tidak, hubunganku dengan anggota brimob ini hanyalah sekedar teman, aku menyayangi Matthew dan dialah satu-satunya laki-laki yang ada dalam hatiku saat itu.

Di suatu siang yang terik, aku sedang duduk termenung di dalam kamarku, handphoneku pun berbunyi, sebuah sms masuk dari nomer yang tak kukenal.

“Dasar wanita jalang, berengsek kau!! Seenaknya kau rebut laki-laki orang ya?! Dasar wanita murahan!! Wanita gak laku! Masih suka rebut laki orang kau, ya??? Jangan temui Matthew lagi, dia adalah tunanganku, kami akan menikah sebentar lagi dan jangan ganggu dia lagi. Dasar wanita tak tahu diri! Pelacur!!”

Hatiku runtuh seketika membaca isi sms yang kasar itu. Belum pulih dari rasa shock-ku, handphoneku telah berbunyi, dari nomer yang sama. Wanita yang menelphoneku memakiku habis-habisan, kata-kata yang dia lontarkan tak kurang kasarnya dari kalimat sms yang dia kirimkan sebelumnya padaku.

Saat dia menutup telephonenya disana, air mataku telah mengalir dengan deras, membasahi sekujur wajahku, kemejaku basah oleh air mata dan hatiku sesak, hancur dan terluka. Bagaimana Matthew bisa setega itu padaku, apa yang telah aku lakukan padanya sehingga dia dengan kejam berbuat seperti ini padaku. Bila memang dia memiliki wanita lain diluar sana, mengapa dia harus menyembunyikannya dariku? Bukankah lebih baik dia memutuskan hubungan kami dan bukannya membuatku terluka hingga seperti ini.

Apakah Matthew sama saja dengan Irfan, mantan pacarku dulu? Dimana dia yang berbuat, maka dia yang menuduhku berbuat. Ah... laki-laki semua dimana saja.

Seharian aku mengurung diri di dalam kamar, kepalaku tak bisa berpikir, aku hanya menangis, menutup wajahku dengan bantal, dengan sesenggukan aku berusaha menyembunyikan suara tangisku agar tak terdengar oleh keluargaku.

Semua rencana masa depan yang telah kubangun bersama Matthew buyar sudah, serpihan-serpihan mimpi itu telah menghilang menjadi abu dan tak mungkin dirakit kembali seperti semula. Karena hal ini, pernah terpikir untukku mengakhiri hidupku, aku sangat tak tahan dengan semua ini. Bahkan rasanya lebih baik tak ada di dunia ini daripada menjalani kehidupan dengan masalah yang tak bisa aku hadapi. Aku sungguh tak kuat, aku menyerah dengan keadaanku.

Namun demikian aku masih berusaha untuk tersenyum meski terasa begitu getir. Aku mencoba untuk bangkit lagi, aku terlalu takut kehilangan Matthew, aku juga ingin membuktikan padanya bahwa aku bisa bertahan, bahwa tuduhannya padaku salah, aku tidak pernah berselingkuh, justru dialah yang berselingkuh dariku.

Mungkin aku tak pernah tahu sejauh mana aku mampu bertahan, yang sayangnya akhirnya harus berakhir juga. Tak sengaja aku menemukan sebuah sms di handphone Matthew dari seorang wanita lain, wanita yang berbeda dari yang menelphone dan mencaci makiku kapan hari. Wanita ini mungkin adalah wanita yang kemudian dinikahinya.

Karena hal inipula lah aku tak sanggup untuk menerima semua kebohongan Matthew lagi, aku juga tak ingin tenggelam dalam hubungan yang tak berarti ini lagi. Matthew terlalu banyak melukaiku, dia tidak serius dengan hubungan kami dan mencari berbagai alasan agar bisa membenarkan tindakannya padaku. Dia beralasan karena aku berselingkuh maka diapun melakukannya dan tak ingin serius memeluk agamaku karena Matthew merasa itu semua sia-sia adanya.

Maka saat itu juga hubungan kami berakhir. Beberapa bulan setelah kami berpisah, aku dengar Matthew akhirnya menikah dengan seorang wanita yang berasal dari Solo, mungkin wanita pengirim sms terakhir yang tak sengaja kubaca itu. Dengan mencoba tersenyum meski teramat sangat terpaksa, aku menghadapi Matthew yang menghubungiku dan mengabariku tentang rencana pernikahannya.

Apa yang kau harapkan dariku, Matthew? Apakah kau ingin aku menyembah dan mengemis cintamu? Agar aku menghalangimu untuk menikah saat itu?

Tidak!! Kau tak pantas! Kau hanyalah laki-laki pengecut dan munafik yang bersembunyi dari kesalahanmu. Laki-laki yang mencoba membenarkan kesalahanmu sendiri, laki-laki yang tak sanggup bertanggung jawab dengan kata-kata yang telah kau ucapkan. Kau tak pantas untuk diperjuangkan!

Kini aku telah membangun keluargaku sendiri, aku menikah dengan seorang laki-laki yang kucintai dan dia mencintaiku pula. Kami bahkan telah memiliki buah hati yang saat ini telah berusia dua tahun empat bulan. Mereka berdua adalah orang-orang yang aku cintai, orang-orang yang aku kasihi. Mereka duniaku, mereka kehidupanku.

Matthew sendiri aku ketahui dari sahabatku bila setelah dia menikah, dia masih mencari tahu mengenai kabarku. Matthew masih menanyakanku pada sahabatku itu, sahabat yang dulu pernah mengkhianatiku, sahabat yang akhirnya kuputuskan hubungan dengannya, sahabat yang akhirnya kini telah berbaikan lagi denganku.

Efri juga memberitahukanku bila Matthew mengatakan dia menikah hanya untuk mengobati luka hatinya. Matthew menikah agar bisa melupakanku secepatnya. Secepat angin laut bertiup ke daratan.

Lalu mengapa kini dia kembali mengusikku? Setelah lima tahun kami berpisah, setelah kami sama-sama memiliki keluarga. Aku tak pernah menggubris bila dia menghubungiku, baik melalui telephone, sms, facebook, bbm, twitter ataupun media lain dimana dia mencoba menemukanku.

Aku tidak mengerti apa yang dia inginkan, apa dia mengira dengan semua masa lalu menyakitkan yang dia berikan aku masih ingin bertemu dengannya?

Mendengarnya saja aku muak. Aku telah hidup berbahagia dengan keluargaku, aku tak ingin dia menggangguku lagi. Bila dia memang benar-benar menginginkan kebahagiaanku, maka dia sebaiknya meninggalkanku seperti ini, karena aku sangat bahagia sekarang ini. Dan dia... hanyalah kerikil kecil yang bahkan tak ingin kusentuh dengan kakiku.

Cinta yang telah lewat, biarkanlah berlalu...
Cinta bukanlah sesuatu yang tak bisa dilupakan...

Kita hidup di masa kini, bukan di masa lalu...
Aku bahagia untuk masa kiniku dan bukan masa laluku...

Masa depanku adalah masa kiniku, bukan masa laluku..

Maka yang berlalu biarkanlah tetap berlalu dan kan kukenang sepanjang masa,
Namun yang kini akan kugenggam sepanjang nafasku berhembus.

~~~Fin~~~



Mau punya parfum bermerek tapi takut mahal?

Tenang... Ada parfum bermerek dengan kwalitas tak kalah dari yang original. Parfum bermerek kwalitas KW 1 @85.000 (bisa tahan hingga 1 hari) dan parfum bermerek kwalitas KW Super @200.000 (bisa tahan hingga +- 7 hari)

Mau?

Pesan saja di : 081-246-671-304 atau add PIN Blackberry 32FDE75E atau via email : drama.story@yahoo.com atau bisnisonlinekita@yahoo.com

Mau tampil beda di depan pasangan? Biar lebih PD dengan parfum wewangian yang lembut dan tidak menusuk hidung? Inilah solusinya, wangi dan harganya terjangkau. :wink:

38 comments:

  1. huahuaaaa bener bgt nich.... Mattew usir jauh2 aja. Thanx mb cin

    ReplyDelete
    Replies
    1. may.. kamu ketawa apa nangis sih nih?? ragu aku.. wkwkkwkw :peace:

      Delete
  2. Thanks mba shin buat bacaannya.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2... enjoy ya, dijadikan pelajaran untuk reader2 lain, bahwa ya beginilah hidup :lagi gak ada stok nasehat: wkkwkwk :peace:

      Delete
  3. Er.. perhatian, bagi yang pengen komen tapi gak bisa komen? klik aja kolom komen dibawah (kalau dari Handphone biasanya ada tulisan "POST A COMMENT" nah, klik itu keluar deh boxnya. atau klik "REPLY" komentar orang lain, nanti keluar deh Boxnya. nanti dibagian "COMMENT AS" pilih aja pilihan "PALING BAWAH" yaitu "ANONYMOUS" nah... yang gak punya akun G+ pun udah bisa komen... jangan lupa tinggalkan nama ya (gak usah ninggalin nomer KTP gpp.. wkkwkw ehem...) dan jangan lupa, sebelum klik "PUBLISH" komennya di copy dulu, untuk jaga2 kalau koneksinya "EROR" jadi komen yang udah diketik dengan penuh perasaan gak ilang percuma... ahhahahaha...

    dan terima kasih banyak buat yang udah baca dan komen. ;)

    happy reading ya :)

    ReplyDelete
  4. Keren bgt ni critany!
    Spa pun mbak yg d critakn dsni ni.. Ak salut bgt.. Krn bsa lupain masa lalu bgitu cepat.. Emg hal yg sulit utk mlupakan masa lalu, trutama ttg org yg prnah kita cintai spenuh hati..:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. asik... pengalaman pribadi nih kyknya?? cuit..cuit....

      Delete
  5. err gila kali ya mattew, pindah agama kok main2..
    tpi,salut sama mba nya bisa move on dari keterpurukannya n dapetin belahan jiwa nya..
    mattew nya ga tau malu bnget udah punya istri msh aja ngejer istri orang hadeuh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa... itu namanya cowok munafik sist...

      Delete
  6. sebel..gemes sama matthew pindah agama tp setengah hati gitu...

    ReplyDelete
  7. penyesalan memang selalu belakangan ,,,,


    pokoknya untuk kisahnya itu,aku salut banget,,,mampu bertahan,,,walau sudah banyak yg menghianati

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sist atas komennya :hug:

      Delete
  8. Woooowwww,,,speachless...
    Jht yah,,isshhh tegaaaa bgtz,, ms pgar mkn tnmn gt...
    Sedih,,hukz,,hukz....
    Tp syukur yh akhrny udh bs nemuin org yg bnr2 bs nerima apa adany,,
    Cuekkn ajjah si Matthew ituuuhhh,,g ush pduliiiinnnnn.. Cueekkkkknnn ajjahhh,, klo prlu g ush aggp d,,pan gosong jd g klhtn.. *emosi*
    Mksh Mba Ciiiinnnn n sang "Damar" hehehehe...
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhahaha viee.... gosongg... kayak pantatnya panci ya vie? lol

      Delete
  9. Laki2 kaya Matthew harusnya di tendang aja ke kutub utara
    Mehehehe
    Keren mb shin ceritanya
    Pelajaran banget ini
    Hihihih

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha kutub selatan aja sist, biar ada temennya, pinguin n ikan paus. lol... hehehe makasi ya sist atas komennya :hug:

      Delete
  10. Mbak, damar.
    Jujur ceritanya bener2 hampir mirip denganku.
    Dulu aku juga terpuruk dan sempet pernah berfikir mencoba bunuh diri, bener2 putus asa banget buat jalanin hidup yg pada akhirnya ga akan prnah ada titik temu.
    Apalagi dia juga pegang nama marga,,
    Ntah bagaimana dulu aku bisa nerima dia jadi pacarku,, hingga berjalan hmpr 5tahun lamanya. Mgkin saat itu krna aku masih SMA yg taunya cuma cinta monyet. Hihihihi,, dan g terpikir hingga pacaran selama itu.
    Walaupun pd akhirnya kita ga bersatu,,
    Memang hidup itu harus tetep berjalan.
    Yang lalu biarlah berlalu, walau harus melalui proses yg panjang.
    Buat mbak damar makasi ud berbagi cerita ama kami.
    Ternyata kisah ini bukan hanya aku saja yang mengalami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi banyak sist udah berbagi jg kisahmu buat kita2 disini. mari kita resapi dan renungkan lagu dari D'Masiv : Jangan Menyerah..

      Delete
  11. Ini lah hidup. Aku tepok tangan buat mba damar buat ketegarannya sm ketabahannya. Juga pikiran cerdas mba dlm mandang masa lalu. Setuju banget mba jgn dihirauin lagi itu si matthew dia dah kasih liat kualitas dia dulu dia gimana. Syukuri dan hargai apa yg sudah kita miliki skrg. Mudah2an mba damar rukun selalu sm suami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin.... makasi banyak doa dan komentarnya say.. :D

      Delete
  12. semua akan indah pada waktunya.
    so sesusah apapun kta.
    se2dih apapun kta jangan pernah menyerah.
    ingat ad tuhan yg selalu ada bwt kta.

    thanks mb shin

    ReplyDelete
  13. Baca komen dr tmn2 jd terharu.. :')

    Butuh 2th buat bangkit lg menjalani hidup,slama 2th jga sy harus perang melawan hati sy dan slama 2th jga c "metthew" itu mengganggu sy stp sy mjlani hub.dgn org lain. :'( *ups jd curhat*

    Smg kisah sy ini ada hikmahnya buat Ɣªήğ membaca..

    Buat mba Regatra : *peluk mba* semoga Tuhan kasih Ɣªήğ trbaik buat mba skrg y..aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat mba shin : makasih banyak mba syang sdh mau menyempatkan wkt membuat kisah qu ini dlm bentuk tulisan..
      Sahabat2 n klrg qu suka dgn karya mba ini..
      Thanks mba.. *peluk kecup mba shin*

      Delete
    2. makasi kembali sista... semoga ceritanya cukup mampu mewakilkan kisahmu ya. meski sebenarnya aku sendiri juga masih berada dalam fase peralihan dari masalah ke masalah lain... hahaha.. ehem...

      dan makasi juga karena dirimu sudah bersedia berbagi juga dengan kita disini mengenai kisahmu. masalah-masalah inilah yang kemudian membuat kita menjadi lebih mengerti tentang arti kehidupan dan semoga mampu membuat kita menjadi lebih dewasa dalam mengahadapi setiap masalah dan cobaan yang pst akan menghampiri kita lagi di suatu masa yang akan datang. tetap tegar dan tabah menghadapi, karena bagaimanapun juga cobaan itu pst akan datang...

      Delete
    3. Mba bnr2 wanita yang hebat..klo aq jd mba aq blm tntu bsa brthan

      semoga allah slalu membrikan kbhagiaan buat keluarga mva

      Delete
  14. sedih banget sih.....
    tp untunglah akhirnya dia bahagia jg ya sama cinta terakhirnya...
    suaminya itu yg Brimob bukan?? *kepooo deehh* hahahha.

    dr cerita ini aku bs ambil hikmahnya... bahwasannya jgn terlalu percaya dengan laki2 yang br aja dikenal....
    terus soal keyakinan, kl aku jd Damar dulu, aku gak mau menikah sama orang pindah agama karena aku, bukan karena hatinya memang percaya sama Tuhan dan agama yg aku anut... Berdasarkan apa yang aku lihat di sekitar, orang yang pindah agama hanya karena ingin menikah sama pacarnya, pada akhirnya malah jd kayak orang yang "gak beragama"... agama cuma tercantum di KTP... gak diterapkan di kehidupannya...
    sekian..

    thanks mbak Shin.... muah muah buat dirimu

    ReplyDelete
  15. sedih banget sih.....
    tp untunglah akhirnya dia bahagia jg ya sama cinta terakhirnya...
    suaminya itu yg Brimob bukan?? *kepooo deehh* hahahha.

    dr cerita ini aku bs ambil hikmahnya... bahwasannya jgn terlalu percaya dengan laki2 yang br aja dikenal....
    terus soal keyakinan, kl aku jd Damar dulu, aku gak mau menikah sama orang pindah agama karena aku, bukan karena hatinya memang percaya sama Tuhan dan agama yg aku anut... Berdasarkan apa yang aku lihat di sekitar, orang yang pindah agama hanya karena ingin menikah sama pacarnya, pada akhirnya malah jd kayak orang yang "gak beragama"... agama cuma tercantum di KTP... gak diterapkan di kehidupannya...
    sekian..

    thanks mbak Shin.... muah muah buat dirimu

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi kembali sista.... :hug: kiss kiss...

      Delete
  16. kasian ya untuk menemukan cinta sejati harua bersusah payah dan tersakiti dulu
    si matthew kok gt sih masa pindah agama cma dijadiin mainan
    ceritanya dalem bgt ya

    ReplyDelete
  17. Ahh yg pnting happy ending, sesakit n sepahit apapun prosesnya *wink *kabur

    ReplyDelete
  18. Bener2 kisah nyata yg sangat sedih n happy ending dgn pilihan terakhir.
    Tinggalin aja tuh si Matthew.... pacaran ja selingkuh, pa lagi jadi suami....
    Iiiihhh ga kebayang deh :(. Buang ja ke laut....
    Pilihan Mba Damar sdh tepat dgn suami sekarang....
    Pengen rasana nendang bokong Matthew n Efri *saking emosi bacana....
    Makasih Mba Shin telah memuat cerita ini ^_^
    *peluk erat Mba Shin* (^_^)♡

    ReplyDelete
  19. crt bgs bgt,iya yg lalu birlah berlalu, bt apa melihat masa lalu

    ReplyDelete
  20. Hoho, laki2 baik itu 1:2 ternyata atau 1:infinity y wkwk ?? ckck benar2 sarang penyamun dunia ini haha :D

    ReplyDelete
  21. Memiliki pacar seorang TNI memang harus strong,begitu banyak godaan,dan memang kebanyakan mesti pd memiliki banyak wanita hooooooo

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.