"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, June 3, 2013

CERMIN 10 - ANGKOT SERIES - Kecantikan Bulan oleh Iliana Lin

Story by +Iliana Lin


Bulan, demikian orangorang rumah menamakanku. Wajahku memang seperti bulan yang cantik, kata mereka. Apalagi jika ditambah dengan keceriaan dan juga kemanjaan dari seorang putri bungsu, kesempurnaan bulan tampak lebih bersinar cemerlang. Yap, aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.

Aku merasa bahagia dinamakan dengan bulan, yang membuatku paling bahagia adalah karena kecantikannya. Aku merasa bangga! Sangat bangga bahkan. Dulu, sewaktu masih sangat kecil, aku selalu membanggakan kecantikanku. Maklum karena masih sangat kecil jadi belum tahu apa yang dikatakan orangorang sekarang dengan sebutan narsis. Tetapi pada hari ini, tibatiba saja aku merasa tidak bangga dengan kecantikanku dan ini untuk yang pertama kalinya.


Jam satu siang waktu bubaran sekolah akhirnya tiba juga. Temantemanku yang sedari tadi sudah sangat menantikan jam pulang sekolah ini, berbondongbondong keluar dari dalam kelas dan langsung berhamburan begitu sampai di luar. Ada yang menuju kantin, menuju lapangan, dan ada juga yang langsung bergegas pulang ke rumah.

Sementara aku masih sibuk menata semua buku untuk dimasukkan ke dalam tas, menghitung jumlahnya sesuai dengan jumlah ketika aku mengaturnya semalam berdasarkan dengan jadwal pelajaranku hari ini, mengecek dan memastikan semua bukuku lengkap dan tidak tertinggal satu buku pun di dalam laci.

“Vina…!” Seorang teman kelas datang dan berjalan ke arahku.

Aku membalikkan tubuhku walaupun tanpa berbalik aku sudah tahu siapa yang memanggilku itu. Dari cengklok khas suaranya yang sedikit kebaratbaratan sesuai dengan namanya. “Ada apa, Mark?” tanyaku.

Pemuda itu tampak sedikit gelagapan. “Tidak apaapa. Hanya…,” Mark tersenyum penuh arti. “… aku ingin menawarkan diri untuk pulang bersamamu…”

Aku tidak dapat menahan senyumku saat aku mendengar kalimat terakhirnya itu. Aku melirik ke arahnya sambil berusaha menyembunyikan tawaku. “Kau mau macammacam lagi, yaaa? Pake acara menawarkan diri lagi… Gimana kalau Nona sampai mengetahuinya?”

“Asal kamu tidak membuka mulutmu, aku jamin deh, dia gak bakalan tahu…,” ucapnya sangat yakin.

“Yaaa… Tapi kamu harusnya ingat kalau kalian kan selalu pulang bersama…”

“Tapi kalau sekalisekali tidak masalah, kan?! Aku ingin pulang bersamamu. Sungguh, Vin…!” ucapnya setengah memohon. Kedua tangannya diletakkan di depan dadanya.

Aku menatapnya sementara matanya masih terus memasang tatapan memohon. “Benarbenar…!” ucapku sambil menggeleng kecil. “Pulanglah. Sepertinya Nona sudah hampir habis kesabaran menunggumu…,” kataku padanya sambil menggerakkan mataku menunjuk ke arah pintu. “… dan sekarang gadis itu yang datang menjemputmu.”

Mark terkejut. Segera ia membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu. Di sana, berdiri di ambang pintu, ada gadis bernama Nona tengah mengawasinya dengan sinar mata tajam berkilat yang menandakan kegalakan. Ia hanya selintas menoleh padaku, melambaikan tangannya  dan kemudian bergegas menghampiri Nona.

Aku mengikutinya dengan pandangan mataku. Sungguh aku ingin melihat bagaimana reaksi Nona padanya. Kemudian, Nona yang terkenal karena kegalakannya, dengan begitu geramnya, mencubiti perut Mark yang membuncit itu hingga membuat pemuda itu setengah menjerit. Aku sangat ingin melihat wajahnya saat itu tapi sayangnya Mark sudah membelakangiku. Walau begitu, aku bisa membayangkan pasti akan lucu sekali bayangan wajah Mark yang meringis kesakitan. Hampir saja aku tertawa lepas karena tidak dapat menahan kegelianku.

Kemudian aku kembali membereskan semua bukuku ke dalam tas dan begitu selesai aku berjalan menapaki koridor panjang dengan langkah ringan namun mantap. Kata orang suara langkahku mirip seperti detak irama musik dalam ketenangan yang perlahan melenggang makanya siang ini aku mencoba untuk melangkah pelan agar dapat mendengar suara langkah kakiku sendiri. Tapi dengan samar, aku bisa mendengarkan ada suara langkah kaki lain yang sepertinya sedang memburuku.

“Hai, Vina…! Maaf jika aku mengagetkanmu.”

“Tidak apaapa…!” jawabku sekenanya. Aku sudah tahu akan kehadirannya dari derap langkah kakinya tadi jadi tentu saja aku sudah tidak terkejut lagi. Aku sedikit menggeser untuk menjauhinya karena melihatnya berjalan merendeng dengan agak merapat.

“Mau ku antar pulang?” tawarnya sangat menawarkan kebaikan. Tangannya mempermainkan kunci motornya, menimangnimangnya ke atas.

Aku menggeleng, menolak dengan halus. “Terima kasih, Rian… Tapi aku akan pulang dengan naik angkutan umum…”

“Baiklah! Bagaimana kalau aku bonceng sampai ke ujung jalan?”

“Terima kasih tapi aku lebih suka jika berjalan kaki saja…”

Rian tidak mencoba untuk menawarkannya padaku lagi. Ia juga tidak merajuk, membujuk agar aku mau ikut dengannya. Mungkin karena ia juga tahu kalau percuma saja membujukku karena aku tetap tidak akan mau untuk ikut dengannya.

Yah, dengan satu pertimbangan, aku harus bisa menjaga suatu hubungan agar jangan sampai melampaui garis, sebuah pendirian yang tidak akan pernah membiarkan angin untuk berharap lebih jauh lagi.

Pemuda itu lantas berbalik dan meninggalkanku menuju ke tempat parkiran. Lalu aku kembali mengayunkan langkahku, berjalan menempuh sisa jalan dan berhenti di ujung jalan. Tinggal beberapa langkah lagi tiba di ujung jalan, kendaraan Rian melaju disampingku. Pemuda itu sempat melambaikan tangannya padaku dan aku membalasnya dengan lambaian tanganku juga.

Suasana perlahan kembali sunyi dan sepi. Matahari garang yang semakin naik ketinggiannya, menggumpalkan bayangan gelapnya di belakang tubuh setiap orang yang berjalan di jalan itu.

Aku mengusap bintik keringat yang mengucur di wajahku dengan menggunakan sapu tangan yang selalu aku bawa kemanamana di dalam saku rok abuabuku, sementara langkah kakiku terus berayun pelan.

Setibaku di ujung jalan, mataku menangkap satu sosok disana. Sosok yang selalu saja mengikutiku kemanapun aku akan pergi. Terkadang aku bahkan merasa sangat kesal karena harus selalu merasa tidak tenang.

Tadinya aku berniat memilih untuk mencari jalan lainnya tapi jika aku mencari jalan lain lagi maka akan lebih jauh dari jalan yang seharusnya aku tempuh. Akhirnya aku memilih untuk melewatinya.

“Hai, Vina…!” sapanya. Bayangan itu langsung menyapaku.

“Hai juga…” sahutku malas. Aku hendak berjalan ke sebuah tempat duduk untuk beristirahat saat sosok itu muncul lagi di depanku dan menghadang jalanku. Dengan sangat terpaksa aku menghentikan langkahku.

“Kamu mau apa sebenarnya, Vino?” tanyaku dengan kesal. Bagaimana tidak, aku baru saja berencana untuk duduk di kursi panjang itu untuk bersandar dan menghilangkan segala kepenatanku setelah belajar seharian. Tapi dengan seenaknya, dia menghentikan langkahku.

“Apaapa juga mau,” ucapnya dengan nada bergurau setelah menyadari kalau kehadirannya sungguh membuatku kesal dan jengkel. Tangannya menunjuk pada sebuah mobil, satusatunya kendaraaan yang terparkir di sudut gang yang ada di seberang jalan.

“Kebetulan siang ini aku dijemput jadi aku ingin agar kamu sekalian diantar pulang. Bisa diatur, kan?!”

“Menumpang gratis, begitu maksudmu? Terima kasih tapi tidak.”

“Tidak?!” ulangnya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Tidak…” Aku mengeraskan sedikit volume suaraku dan menguatkan jawabanku kemudian menggeleng.

“Nanti kamu akan menyesal, lho…”

“Begitu saja harus menyesal…,” kataku setengah mencibir.

“Ayolah, Vina…” Ia mencoba membujukku. “Daripada kamu pulang dengan angkutan umum yang hanya akan membuatmu semakin lelah tidak lebih baikkah jika kamu pulang bersamaku? Coba saja kamu bayangkan kalau kamu harus berjejalan dengan yang lainnya di dalam angkutan umum, turun dengan susah payah menyeruak dalam kesesakan, lalu berjalan kaki lagi untuk harus sampai di rumah. Bukankah lebih enak jika bersamaku?”

“Itu kan bagimu! Setiap hari saja kamu diantar pulang…”

Aku setengah mendorong tubuh Vino agar beringsut menjauh dan melangkah dengan cepat lalu meninggalkan pemuda itu sendirian disana. Memang yang dikatakannya, sedikit pun tidak salah. Pulang dengan angkutan umum sungguh hanya akan membuat semakin lelah. Tapi jika aku mengingatingat lagi kejadian kemarinkemarin sungguh membuatku semakin kesal.

Vino juga hanya sesekali dijemput. Biasanya ia akan berboncengan dengan temannya atau kalau tidak, ia juga akan menggunakan jasa transportasi umum. Bagaimana pula ia bisa mengatakan semuanya itu?

Aku berbalik sekilas dan melihat Vino masih mengawasi kepergianku. Aku bisa melihat raut wajahnya yang terpacak ragu apakah ingin mengejarku lagi atau tidak. Akhirnya, setelah melihatku duduk di kursi panjang itu, ia pun menuju kendaraan jemputannya. Kendaraan itu segera melaju tetapi begitu mobil itu sampai di dekatku, ia membuka kaca mobilnya dan lagilagi berusaha keras membujukku.

“Vina, ayolah ikut!” bujuknya lagi.

“Pulanglah cepat, anak mama,” tolakku. Sengaja aku menyindirnya agar besokbesok ia tidak berani lagi membujukku untuk diantar pulang.

“Ayolah…!”

“Pulanglah!” Aku mengibaskan tanganku, memberinya isyarat agar segera berlalu dan pulang. Ia masih memandangiku sesaat lagi dengan sinar mata yang memohon, kemudian wajahnya menghilang dari jendela dan kemudian ia memutuskan untuk pulang juga.

Dalam hati, aku menggumam sendiri. Kenapa aku harus terlahir dan hidup dengan wajah yang cantik? Setiap pemuda yang mendekatiku pasti akan mendatangiku karena ada maunya saja. Tampangku cantik sehingga tidak akan membuat mereka malu kalau jalan sama aku. Tentu saja. Yang ada justru setiap mata akan memandang cemburu padaku karena kecantikanku. Siapa yang tidak mau terlahir dengan wajah yang cantik rupawan dan tubuh yang tinggi bak seorang peragawati? Pasti semua wanita di dunia ini akan mau.

Beberapa orang yang tampaknya juga sedang menunggu kedatangan angkutan umum mulai berdatangan. Tidak ketinggalan sosok lelaki yang sudah beberapa hari ini menyita perhatianku setiap teringat padanya. Aku menghela napas, menyadari kebodohanku yang tidak mendengarkan namanya dengan baik sewaktu ia memperkenalkan dirinya. Sangat tidak mungkin kan kalau sekarang aku tibatiba mengatakan, ‘Hai, aku Vina yang kamu ajak kenalan tempo hari di dalam angkutan umum ini. Bolehkah aku tahu namamu?’. Apa yang akan ada dipikirannya nanti?

Lalu sosok itu mendekat dan menghampiriku. Ya Tuhan, ternyata Engkau mendengar doaku, seruku kegirangan dalam hati.

“Selamat siang, Vina… Semoga di siang yang cerah ini kita bisa bersamasama lagi,” katanya mantap dan penuh percaya diri.

Aku tersenyum dan mengamatinya cepat. Kelihatannya ia seperti anak kuliahan. Ia sosok yang mantap, tenang, dan yang lebih pentingnya lagi karena ia memiliki poin utama yang aku cari. Ia memiliki rasa percaya diri yang kuat. Inilah hal pertama yang aku sukai dari cowok, percaya diri. Juga termasuk agresif.

Baru beberapa hari yang lalu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengannya. Sepulang sekolah siang itu, dalam angkutan umum yang sama ini, aku duduk tepat di sebelahnya. Begitu aku duduk dengan baik, ia menyapaku dan menawarkan perkenalan dengan segala kehangatannya yang bisa aku rasakan menggelenyar di sekujur tubuhku.

Aku pikir, tidak ada salahnya jika hanya sekedar berkenalan, kan?! Jadi aku menerima perkenalannya tapi tidak dengan uluran tangannya. Zaman sekarang kan banyak yang namanya hipnotis hanya dengan sentuhan. Itu sebabnya aku masih selalu menjaga untuk tidak membiarkan salah satu anggota tubuhku bersentuhan dengan orang yang tidak aku kenal. Tapi ternyata, agresifitasnya sungguh begitu menggebu.

Sepulang sekolah pada siang ini, terbukti ia menungguku untuk naik duluan dan kemudian mengikuti di belakang. Aku sempat tertegun karena tidak menyangka dan sama sekali tidak menduga kalau sosok ini akan muncul lagi disini.

“Aku sengaja menunggumu disini. Ku pikir kita pasti akan bertemu lagi. Kamu masih ingat denganku, kan? Aku Sam…” katanya memberikan penjelasan langsung tanpa ditanya, tanpa diminta seakan ia dapat menangkap pancaran wajah tidak mengerti dalam diriku.

Aku mengangguk dengan cepat. Tadinya aku sengaja memasang tampang bingung berharap ia mau menyebutkan namanya dan ternyata trikku berhasil. Ia menyebut namanya sekali lagi.

Tapi kemudian, ia berhenti sejenak, memperhatikanku, sebelum melanjutkan katakatanya, “Aku berharap kita dapat bertemu lagi…”

Ketika aku mendengar itu, aku langsung menyadari keagresifan lelaki yang baru saja menyebut namanya, Sam itu. Aku diamdiam menyurut, menciut meski hanya dalam hati. Agresitifitas yang berlebihan dan menggebugebu selalu saja membuat perasaanku berkerut. Aku menyukai orang yang percaya diri tapi aku tidak menyukai orang yang terlalu agresif. Percaya diri bukan berarti harus agresif, kan? Aku membatin tertahan.

Terkadang, agresifitas yang menggebu itu kerap bisa mengancam manusia untuk berbuat nekat bahkan tidak jarang ada yang sampai kalap.

“Kamu turun duluan saja…,” ucapku begitu angkutan umum ini berhenti karena seingatku beberapa waktu yang lalu, ia turun di sekitar sini.

“Lalu kamu?”

“Aku masih ingin duduk lebih lama lagi…”

“Baiklah! Kalau begitu aku juga…!” kata Sam cepat, dengan tegas sebelum aku memotong perkataannya. “Aku akan menemanimu dan aku harap kita bisa bersamasama selalu.”

Aku menarik napas. “Jangan begitu, Sam. Kamu justru membuat aku semakin merasa serba salah.”

“Dan kamu membuatku semakin tidak mengerti…”

Aku mengeluh dalam hati.

“Ayolah, Sam. Nanti kamu akan susah untuk kembali lagi kalau kamu tidak turun sekarang …”

“Kita bersamasama, yaaa… Aku tahu rumahmu juga ada di sekitar sini…”

“Itu bisa di lain kesempatan, Sam. Bukan sekarang…”

Sam terdiam tampak merenung sebentar. “Sungguh?!”

Aku tersenyum dan menarik napas lega. Tampaknya sebuah janji sudah cukup membuatnya merasa gembira dan puas. “Tapi kamu janji di lain kesempatan, yaaa!”

Aku mengangguk cepat takut kalau ia langsung berubah pikiran lagi. Sejenak aku meragu dan memutuskan untuk mengangguk berulangulang dengan kuat. Dengan begitu, aku yakin ia tidak akan memaksa lagi. tidak ada yang aku pikirkan lagi saat itu selain berharap lelaki itu segera turun sebelum kendaraan yang kami tumpangi ini kembali melaju.

Ketika kendaraan itu sudah hampir jalan, Sam melompat keluar dan sungguh aku merasa sangat lega. Seperti terlepas dari jeratan yang melilit dengan ketat hingga membuatku tidak bisa menarik napas walau hanya sekali.

Aku tahu ia menyukaiku tapi apakah aku bisa menyukainya? Bagaimana jika perasaanku itu hanya sekedar rasa kagum yang sedang membuncah?

***

Keesokan harinya adalah hari Minggu. Lusa bertepatan dengan hari libur nasional jadi sudah pasti masih libur. Begitu juga dengan hari Selasa yang sekalian merangkap cuti bersama. Tapi hari Rabu, untunglah guruguru di sekolahku mengadakan rapat dadakan sehingga kami pulang lebih awal dari biasa hari ini. Lagilagi tidak ada pertemuan dengan Sam. Aku bernapas sangat lega selama harihari itu. Aku bahkan tidak memikirkan bagaimana jika Sam sudah menungguku di depan sekolahku.

Hari Kamis siang, sudah tidak terhindarkan lagi. Sam menyambutku dari gerbang sekolahku dan sekarang ia berdiri berdampingan denganku. Bahkan dengan tatapannya, Sam berharap semoga di siang yang cerah itu kami bisa bersamasama.

Tapi lagilagi pengharapan itu tidak akan aku penuhi. Dengan satu pertimbangan, menjaga hubungan agar tidak sampai melampaui garis, sebuah pendirian yang tidak akan pernah membiarkan angin untuk berharap lebih jauh lagi. Apalagi untuk lelaki seperti Sam, yang jelasjelas sudah memancarkan sinyalnya dan yang paling tidak bisa ditolerir adalah agresifitasnya yang sangat menggebu.

Aku menatap langit dari kejauhan sejauh mana mataku bisa memandangnya. Aku sungguh tidak memberikan angin padanya. Meski kami pulang bersama, kami memang bersama dalam satu angkutan umum tapi itu juga dengan banyak orang, dia bukan mengantarkanku pulang, rasanya lelaki itu masih belum melampaui garisnya. Paling tidak, aku bisa bernapas karena aku tidak melanggar prinsipku.

Bagaimana aku harus menolaknya kali ini? Bagaimana caranya agar penolakan itu tidak terkesan seperti penolakan? Rasanya aku sungguh tidak sanggup jika harus menolaknya mentahmentah. Di samping tidak ada alasan khusus, aku juga tidak bisa membohongi perasaanku. Bagaimana ini? Aku selalu merasa senang berada di dekatnya. Mungkinkah karena sejak dulu aku merindukan sosok kakak lakilaki? Ataukah perasaan ini murni sebagai rasa sayangku padanya? Aku sungguh pusing memikirkannya.

Seandainya saja, Sam sama seperti Mark yang sudah memiliki teman pulang bersama, tentu aku tidak akan kerepotan jika harus menolaknya. Atau seperti temantemanku yang lainnya yang diantar jemput setiap kali mau kemanamana, rasanya pasti tidak akan sesulit ini. Tapi, ah, itu tidak mungkin. Sam tidak seperti mereka. Sam berbeda. Sam seperti dirinya sendiri. Senang pulang dan pergi menggunakan jasa transportasi umum dan karena itu pulalah maka kami bisa bertemu. Tapi jika seperti ini kenyataannya? Jasa transportasi angkutan umum adalah untuk umum. Semua orang diijinkan untuk menggunakannya. Semua orang bisa menumpang. Semua orang, termasuk dia, keluhku dalam hati. Tentu saja tidak ada orang yang mempunyai hak untuk melarang orang lain menggunakannya.

Lebih tepatnya lagi, dia dan aku mempunyai hak yang sama untuk menggunakan jasa transportasi ini. Aku terus saja mengeluh dalam hati.

Aku terpaku, tidak bergerak dan juga tidak bersuara. Pikiranku sudah tidak mampu memikirkan apapun lagi. Tas sekolah yang semula tersandang di bahu sekarang aku pindahkan ke depan dada agar aku bisa mendekapnya. Secara perlahan aku merasakan ada kegelisahan yang mulai tumbuh dan menggalau di dalam hatiku yang tak tentu ini. Hingga kemudian kepalaku tertunduk dan pandanganku terjatuh.

“Kendaraannya sudah datang!” Samarsamar aku bisa mendengar seruan suara Sam. Kemudian lelaki itu menoleh dan raut wajahnya berubah menjadi sangat terkejut.

“Vina?! Kamu kenapa? Kamu kelihatannya sangat lesu dan tidak bersemangat. Apa kamu sakit?”

Aku menggeleng. “Tidak…” Aku langsung menyanggahnya tapi perasaanku setengah takut. Takut kalau lelaki itu memiliki keyakinan kalau kondisiku benarbenar tidak sehat dan menuntut untuk mengantarkanku pulang. Ya, aku takut dia mengantarku pulang. Bukan lagi takut bersamasama dengannya dalam satu kendaraan.

“Sungguh?” Ia bertanya sekali lagi. Terdengar nada kepanikan dalam suaranya.

Aku mendongak dan berusaha mengangkat wajahku. “Iya!” jawabku dengan anggukan cepat.

Hatiku terasa lega saat Sam tidak melanjutkan permasalahan ini. Tapi kegelisahan tetap melingkupiku. Aku bingung dan juga gundah karena tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya? Bagaimana menolak tawarannya? Bagaimana agar kami tidak pulang bersama lagi?

“Ayo, Vina…” katanya lembut mengajakku masuk dalam kendaraan. Tangannya langsung memegang tanganku.

Aku menarik napas pelan agar tidak sampai terdengar oleh Sam lalu menguatkan diriku dan menarik tanganku dari genggamannya pelan. “Kamu duluan saja” kataku dengan suara yang lemah nyaris tak terdengar.

Lelaki itu terkejut dan langsung menoleh. Pandangannya tibatiba menjadi tajam. Aku yang melihatnya jadi ketakutan, bergetar, dan langsung menundukkan kepalaku.

"Bukannya kita akan pulang bersama?" tanyanya.

Aku menggeleng hampir tak terlihat. "Aku ingin sendiri," ucapku lirih setengah berbisik. "Lain kali saja, Sam"

"Lain kali saja?!" Sam mengulangnya dan menghela napas. "Waktu itu kamu juga mengatakan hal yang sama, Vina"

Aku terdiam. Secara langsung perkataan Sam mengingatkanku pada beberapa hari yang lalu itu. Saat pertama kalinya Sam mengajakku untuk pulang bersama. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana aku menolaknya. Tepat di saat itu, aku baru menyadari kalau aku menolaknya dengan janji.

"Tidakkah kamu akan mengulang semuanya lagi dan mengatakan, 'di lain kesempatan saja', begitukah?"

Aku terdiam dan hanya bisa menggigit bibir.

"Katakanlah!"

"Tidak!" Aku mencoba mengangkat wajahku agar dapat bertatapan dengannya tetapi kekuatanku masih belum cukup untuk menyokongkan keberanian untuk memandang Sam. Aku hanya bisa menangkap bayangan kendaraan umum yang sudah berlabuh, melaju pelan meninggalkan kami.

"Lalu?!"

Aku menggeleng keras. "Aku hanya ingin sendiri. Tidak bisakah kamu membiarkanku sendirian?!"

Sam tampak diam. Mungkinkah ia merasa telah aku permainkan? Aku bisa mendengar suara rahangnya yang mengeras. Pandangannya tampak menatapku dengan tajam bahkan seperti ada nyala api disana. Menghujam dan seolah akan merobek diriku menjadi cabikancabikan kecil yang tak berarti. Lama. Setelah itu, sinar matanya perlahan melemah dan aku mendengar ia menarik napas panjang.

"Sesungguhnya, tidak akan ada kesempatan lain, bukan?!" Sam berucap untuk ditunjukkan pada dirinya sendiri.

Aku ingin menjawabnya tapi aku berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suaraku. Aku rasa jika aku bersuara pasti akan ada keributan yang tak mungkin terhindar lagi.

"Tidak apaapa. Aku sudah mengerti sekarang Mestinya aku sudah menyadarinya sejak semula, harusnya aku langsung mengerti pada saat itu."

Aku masih diam saja di tempatku dan tidak menanggapinya. Sam pun ikut terdiam. Mungkin ia merasa sudah cukup atau ia menyadari apa yang dikatakannya tidak akan mendapat jawaban apaapa dariku. Semua sudah jelas. Suasana menjadi sunyi. Hanya terdengar kebisingan lalu lintas yang masih sibuk di jalan raya.

Tidak lama, sebuah mobil taksi melaju di depan kami dan dengan cepat Sam menghentikannya dan langsung menghilang. Ia tidak mengucapkan apaapa lagi. Bahkan salam perpisahan seperti yang biasa diucapkannya juga tidak ada. Seolah hanya dia yang berdiri menunggu kendaraan melintas disini tanpa hadirku. Bahkan saat akan menutup pintu, ia juga tidak menoleh sedikit pun.

Taksi sudah melaju kurang lebih setengah jam yang lalu tapi aku masih tak bergeming di tempatku. Aku merasa kakiku seakan berakar di dalam tanah tempatku menginjakkan kaki sekarang. Seperti yang aku harapkan, ia sudah pergi meninggalkanku. Sekarang aku merasa terbebas tapi apakah benar rasa bebas ini yang aku harapkan menjadi akhir dari pertemuan kami? Apakah aku harus merasa senang sekarang?

Aku tahu dan yakin, Sam pasti sangat kecewa, terpukul dan mungkin juga sangat terluka karena apa yang aku lakukan padanya hari ini.

Seperti tebaran mendung yang tibatiba menggumpal denga tebal lalu menutupi cahaya matahari, wajahku diselimuti dengan kemuraman yang aku tidak tahu persis bagaimana rupanya. Jauh di dalam hati ini, ada rasa tertekan. Ini adalah kali pertama aku menyakiti orang lain. Membuatnya terluka. Ternyata sebuah penolakan yang sehalus atau sesamar bagaimanapun juga pasti akan menghasilkan luka. Semua itu sekarang akan berarak mengikutiku terus hingga aku tiba di rumah. Bahkan mungkin rasa itu masih akan tertinggal sampai beberapa minggu.

Setibaku di rumah, aku langsung menuju ke dalam kamar. Meringkuk ke dalam pelukan bantal guling dan memeluknya dengan erat. Gambaran wajah Sam masih terbayang. Ini adalah hasil akhir dari pertemuan kami. Sejak semula aku memang tidak memberikan harapan apaapa padanya. Itu sebabnya aku tidak meneteskan air mataku.

- TAMAT -




Mau beli Mukena khas Bali? Kontak aja nomer 081246671304 atau pin BB 32fde75e (whatsapp dan blackberry user preferable, biar lebih mudah untuk mengirimkan foto-foto stock ready Mukena terbaru setiap hari) Happy Shopping ;)

5 comments:

  1. si bulan kenapa sih kok kayanya anti banget sama cwo
    semua ditolak
    tp si sam emang yg paling kasian deh
    kayanya dia bener2 suka tp si bulan malah semacam ngephp-in gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ... kan stiap kisah gak harus berakhir dengan happy ending ... ^

      Delete
  2. namanya bulan pa vina y?? Puk2 sam. Mksh mbak2 cntk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya Vina ... Tapi dia Lebih seneng dengan nama yang diberikan oLeh orang rumahnya yaitu BuLan ...

      Delete
  3. Kasiihaaan sam,,menunggu bulan yg tak kunjung dtng..sprti pepatah."bagai pungguk merindukn Bulan...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.