"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, June 4, 2013

CERMIN 11 - ANGKOT SERIES - Kau Curi Hatiku Di Angkot Itu oleh Hevi Puspitasari

Story by +vie puspitasari


Huaaaaaa!!!!! Aku kesiangaaan!!! Teriakku dalam hati begitu aku melihat angka pada jam wekerku. Arrgghh!! Dengan panik aku langsung ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat. Aku tidak mau rezeqi ku sudah terlanjur dipatok ayam karena kesiangan.

Hari ini Senin, dan aku sangat menyukai senin. Dengan pasrah aku melangkah menuju halte, berharap kesianganku tidak mempengaruhi rezeqi ku hari ini. Dan di sana sudah berdiri Bang John, teman seperjuangan serta orang yang sudah aku anggap sebagai Kakak, menungguku dengan sabar, kami memang tidak pernah terpisahkan. Ketika mendapati angkot yang harus aku naiki datang, dengan sigap aku naik, tetapi karena terburu-buru aku terpeleset sebelum berhasil menaiki angkot tersebut. Beruntung ada lelaki muda, berpakaian kemeja, membawa tas punggung menopangku sehingga aku tidak sampai terjatuh.


 Refleks aku langsung menoleh ke belakang, berniat melihat wajah penolongku, dan aku termangu sesaat melihat wajah tampannya, dengan bibir tipis kemerahan, berhidung mancung, berdagu sempurna tanpa kumis maupun janggut. Sadar aku menghalangi penumpang yang lainnya untuk masuk, aku menegakkan badanku, mencoba mengembalikan diriku sendiri ke alam nyata.

“Terima kasih,” ucapku sambil berdiri.

“Sama-sama,” jawabnya tegas sambil tersenyum.

Ketika aku sudah berada di dalam angkot, aku tidak fokus, diam-diam aku memperhatikan lelaki muda yang menyelamatkanku tadi, wajah tampan dan suara bassnya ketika mengucapkan kata-kata ‘sama-sama’ benar-benar menghipnotisku. Berkali-kali aku melihat kode yang diberikan Bang John kepadaku, mencoba mengingatkanku akan tugasku, tetapi aku gagal, aku benar-benar tidak bisa berfikir jernih. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Bang John yang telah berhasil melakukan tugasnya, sekarang tinggal aku, namun kosentrasiku buyar ketika aku mendengar suara bassnya.

“Kiri!” ucapnya lantang, dan dia langsung turun ketika angkot yang kami naiki sudah menepi, seketika itu juga aku merasa sedih.
*****
“Lin! Lo gimana sih tadi? Hampir ajja lo ngebuang rezeqi pertama kita tadi kalau gw ga ngingetin lo!” ingat John ketika kami berada di tempat biasa kami selesai melakukan kegiatan kami.

“Maaf, Bang,” jawabku pasrah, sampai sekarang aku masih belum bisa melupakan wajah lelaki muda itu.

“Lo ada masalah? Bilang ke gw, sapa tahu gw bisa bantu lo,” tawarnya sambil memperhatikan raut wajahku yang murung.

“Ga koq, Bang. Gw cuma masih belum fresh ajja karena kesiangan,” jelasku menunduk, tak berani memperlihatkan wajahku.

“Tumben-tumbenan lo kesiangan Lin, yakin lo ga ada apa-apa?” tanyanya mencoba meyakinkan.

“Iya, ga apa-apa koq, Bang,” jawabku mantap mencoba menutupi kegelisahan hatiku.
*****
Pagi ini aku sengaja berangkat lebih pagi ke halte, berharap bisa bertemu lelaki muda kemarin, dan melakukan rencanaku, rencana yang sudah aku pikirkan matang-matang semalam. Aku terlampau pagi, bahkan Bang John belum datang, padahal dia selalu datang lebih awal. Hampir 1 jam menunggu, akhirnya lelaki muda itu datang, dengan tergesa-gesa dia menuju halte yang mulai rame. Tanpa dia sadari, aku mensejajarkan diriku dengannya, mencoba keberuntunganku kali ini, berharap tidak ada yang melihat, karena aku tidak yakin apakah aku akan berhasil kali ini tanpa adanya Bang John yang biasanya selalu berada di belakangku.

Tak lama, angkot yang ingin dia naiki datang, dan ketika mendapati dia yang mulai bergerak maju menaiki angkot itu, aku memulai aksiku. Dengan lihai mengambil dompetnya serta menjatuhkannya ke bawah, kemudian dengan sigap memanggilnya, berharap aku tidak terlambat.

“Mas, maaf,” panggilku sambil menepuk bahunya, ketika berhasil mengambil dompetnya kembali, dia langsung menoleh menatapku dengan tatapan bingung.

“Ya?” jawabnya sambi mengernyitkan keningnya merasa terganggu karena kami terpaksa harus mundur dari antrian jika tidak ingin membuat kesal calon penumpang yang lain.

“Maaf, apa ini dompet Mas? Dari KTPnya sih bener ini punya Mas,” jelasku sambil menyodorkan dompetnya.

“Ah,” ujarnya ketika menyadari itu dompetnya sambil merogoh kantung celananya, mencoba memastikan, “Iya, ini punya saya, terima kasih yah,” lanjutnya sambil memamerkan giginya yang putih.

“Ah, ya, sama-sama,” jelasku mencoba setenang mungkin, padahal dadaku berdegup kencang, sangat.

“Bagaimana bisa sama Mba?” tanyanya heran setelah menaruh dompetnya kembali di dalam kantung celana hitamnya.

“Tadi terjatuh, jadi langsung saya kasih Mas sebelum Mas naik angkot, kalau sudah keburu naik nanti ga bisa bayar, kasihan,” mencoba menghilangkan gugup aku melanjutkan, “Ah, pantas saya seperti kenal sama Mas, Mas kan yang kemarin nolongin saya sebelum jatuh dari angkot?” dia memutar matanya, mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin.

“Ah, iya. Mba yang kemarin terpeleset itu yah?” jawabnya senang.

“Iyah, dan jangan panggil saya Mba, panggil Lina,” ujarku sambil mengulurkan tanganku.

“Oh, saya Adrian,” jelasnya sambil menerima uluran tanganku.

“Maaf, saya jadi menghambat Mas Adrian, silahkan Mas kalau mau pergi,” ucapku sekedar berbasa-basi, padahal setengah mati aku mengharapkan dia yang terus tinggal.

“Ga apa-apa, saya justru berterimakasih sama Lina. Mungkin Lina bisa panggil saya dengan sebutan Adri saja, jangan pakai kata ‘Mas’,” tolaknya sambil tersenyum.

“Oke, Adri,” ulangku sambil tersenyum lebar, senang atas hasil kenekatanku.

“Angkotnya sudah datang, bukankah Lina juga akan naik di angkot yang sama? Kenapa kita tidak berangkat bersama?” ajaknya ketika mendapati angkot yang sama dengan kemarin mulai mendekat ke halte.

“Ah, tidak. Adri duluan saja, Lina masih harus menunggu teman,” tolakku halus, padaal aku sangat mengharapkan bisa naik bersamanya.

“Oh, oke kalau begitu. Saya duluan yah, Lina,” pamitnya.

“Ngapain lo Lin bengong ga jelas gitu?” tanya Bang John sesaat setelah angkot yang dinaiki Adri pergi.

“Issh, Bang John ngagetin ajja!” protesku kesal.

“Nah, lo kenapa bengong? Ngelihatin apa sih?” tanyanya penasaran dan mengikuti arah pandanganku.

“Ah, udah, ayo, kita udah kesiangan,” ajakku sambil meninggalkan halte.
*****
“Hai, Lin,” sapa Adrian ketika kami bertemu keesokan harinya di halte, membuatku terlonjak kaget.

“Hai, Adri. Koq tumben jam segini udah di halte?” tanyaku setelah pulih dari kekagetanku sambil mencari-cari Bang John, berharap dia belum datang, aku tidak mau Bang John melihat kami bersama.

“Iyah, ada tugas dadakan, jadi terpaksa harus pagian berangkatnya,” jelasnya tanpa menyadari diriku yang tidak terlalu fokus pada dirinya, “Kamu juga pagian berangkatnya,” lanjutnya memaksaku menghentikan kegiatanku melihat kemungkinan adanya Bang John di sini.

“Ah, iyah. Ada yang harus aku urus dulu sebelumnya,” jelasku singkat.

“Oh, oke, aku duluan yah,” pamit Adri ketika melihat bis yang akan dia naiki mendekat.

“Loh, kamu naik bus?” tanyaku heran.

“Iyah, kan ada tugas dadakan, jadi aku harus mampir ke suatu tempat dulu,” jelasnya, “Duluan yah,” lanjutnya sambil berlari mengejar bus, dan aku hanya tersenyum, merasa terselamatkan karena Bang John tidak memergoki kami.
*****
“Kenapa lo tiba-tiba mau mengganti daerah operasi kita? Lo kan tahu itu ga gampang, gw harus koordinir yang lainnya dulu. Belum tentu juga mereka mau,” protes Bang John ketika aku menyampaikan keinginanku.

“Ga apa-apa, Bang. Gw udah bosen ajja, lagian yang kita dapet juga segitu-gitu ajja, ya, kali ajja gitu kalo pindah tempat kita bisa dapet yang lebih baik,” jelasku meyakinkan.

“Iya, tapi kan belum tentu ada yang mau tukeran sama kita,” Bang John masih saja berat untuk mengabulkan keinginanku, tetapi aku tidak punya pilihan lain. Aku masih ingin berada 1 angkot dengan Adri tanpa dia mengetahui siapa aku sebenarnya.

“Gw udah tanya Maya sama Bonan, mereka bilang ga ada masalah Bang,” setengah berbisik aku mengatakan itu semua kepada Bang John tanpa berani menatapnya. Aku tahu dengan pasti, Bang John pasti marah, karena dia tidak suka segala sesuatu yang tidak difikirkan dengan matang, dia ingin semuanya terorganisir.

“Apa?” bentaknya tak percaya, dan aku hanya bisa menunduk, “Kenapa sih lo ngotot bangetz? Bukannya nanti jadi makin jauh dari tempat lo?” lanjutnya.

“Percaya deh, kita pasti bakalan berhasil di sana, bahkan kita bisa mengalahkan rekor Maya-Bonan,” aku berusaha meyakinkan Bang John.

“Lo tuh ya kalo udah ada maunya susah dilarang, ya udah coba buktiin omongan lo,” tantang Bang John.

“Pasti!” jawabku semangat.
*****
“Hai, Adri,” sapaku riang ketika melihatnya di halte, setelah 2 hari aku mencoba beradaptasi di tempat yang baru.

“Hai, kayaknya udah 2 harian ini aku ga lihat kamu. Aku pikir mungkin kamu sudah tidak lewat sini lagi,” jawabnya riang, kata-katanya membuatku salah tingkah, jadi, dia memperhatikanku?

“Eh, iya. 2 hari kemarin ada yang harus di urus, jadi ga lewat sini,” jelasku sekenanya.

“Oh, pantas” jawabnya sambil menganggukkan kepalany.

“Kamu selalu ada di sini setiap jam segini yah?” tanyaku mencoba memulai pembicaraan sambil menunggu angkot.

“Iya, aku selalu jam segini, yah kecuali kalau aku kesiangan,” kekehnya, membuat wajahnya semakin tampan, “kalau kamu?” lanjutnya

“Aku juga,” jawabku sambil tersenyum.

“Ah, itu dia angkotnya, ayo naik,” ajaknya sambil mempersilahkanku masuk lebih dulu.

Setelah kami berada di dalam angkot, kami tak henti-hentinya mengobrol. Dia sangat menyenangkan untuk teman bicara, selalu merespon kata-kataku dengan baik, membuatku semakin nyaman berada di dekatnya, dan yang ku lihat, dia merasakan hal yang sama denganku.
*****
Tak terasa sudah hampir 6 bulan aktivitas ini terus berlanjut, dan selama ini tidak sekalipun aku bertemu dengan Bang John ketika aku dan Adri sedang bersama, membuat semuanya menjadi semakin mudah. Kami menjadi lebih akrab, dan secara tidak langsung mengikrarkan diri sebagai teman, walaupun hanya sebatas teman ngobrol untuk membunuh kejenuhan di tengah kemacetan.

“Kau tahu, kau sangat menyenangkan, aku benar-benar nyaman ngobrol sama kamu,” jelasnya sesaat sebelum dia turun dari angkot hari ini, membuatku salah tingkah, dan tidak tahu harus berkata apa, “hei, aku sedang berbicara denganmu,” lanjutnya sambil menyenggol lenganku.

“Ah, maaf,” pipiku merona merah, “Aku masih tidak percaya kau mengatakan itu,” lanjutku sambil menunduk.

“Kenapa?” tanyanya heran.

“Ya, kita hanya mengobrol seadanya, bahkan terkadang obrolan kita sangat tidak penting dan masuk akal,” jelasku masih tetap menunduk.

“Justru itu, kau benar-benar berbeda dengan wanita lainnya. Kau benar-benar apa adanya dan aku menyukai itu,” jelasnya membuat jantungku semakin tak karuan, aku masih terdiam, “Hei, kau tidak percaya padaku?” tanyanya murung.

“Tidak, bukan begitu,” jelasku sambil menatap wajahnya yang duduk di seberangku.

“Sebaiknya kau percaya padaku, karena aku bersungguh-sungguh mengatakan itu. Sampai bertemu besok yah, Lin,” pamitnya ketika angkot kami sudah berada di depan kantornya.
*****
“Wahh, tumben lo sumringah gitu seharian, Lin?” tanya Bang John penuh selidik ketika mendapati diriku yang tak pernah melepaskan senyumanku seharian ini.

“Hehehe, ga apa-apa koq Bang,” kilahku

“Jangan bohong sama gw, gw tahu lo, Lin. Ada apa? Bagi-bagi lah kesenangan lo ke Abang,” pintanya sambil menggoyang-goyangkan tanganku.

“Beneran Bang, ga ada apa-apa,” jawabku tetap pada pendirianku, tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya pada Bang John. Dia pasti akan menentangku, “Lina duluan yah, Bang.” Pamitku mencoba melarikan diri.

“Jahh, nih anak bisa banget langsung kabur gitu. Lin! Tunggu ceritain dulu!” larang Bang John, tetapi gerakannya kurang cepat, karena aku sudah berlari menaiki bus dan menjulurkan lidahku ke arahnya ketika sudah menaiki bus, dia hanya terkekeh melihatku.
*****
“Lin, di kantorku ada lowongan untuk bagian administrasi keuangan, kamu mau coba? Kamu ambil jurusan akuntansi kan?” tanya Adri mengagetkanku. Aku lupa, aku pernah mengatakan padanya kalau aku kuliah di jurusan itu.

“Ah, kerja di kantor kamu maksudnya, Adri?” tanyaku mencoba meyakinkan.

“Iya, kamu mau kan? Emang gajinya ga seberapa, tapi lumayan buat pengalaman kerja,” jelasnya mantap.

“Iyah, tapi apa kantor kamu mau nerima mahasiswa?” sanggahku.

“Mau koq, banyak yang kerja sambil kuliah, gimana? Kalo mau aku langsung ngabarin HRDnya hari ini juga,” jelasnya lugas. Kerja? Apa aku bisa? Apa aku sanggup?

“Aku pikirkan dulu yah,” jawabku ragu.

“Ini kesempatan langka, Lin, jangan kamu lewatin,” tegasnya sambil menatap tajam mataku.

“Iyah, kasih aku waktu,”jawabku gamang.

“Kabarin aku secepatnya yah,” putusnya riang.
*****
“Apa lo bilang?! Lo mau berhenti?! Jangan gila!” teriak Bang John saat aku mengemukakan keinginanku untuk berhenti.

“Iyah, Bang. Lina mau hidup normal, Lina cape begini terus, Lina mau kerja, dapat duit halal, dari kerja keras Lina sendiri,” gumamku setengah berbisik, aku sudah mengantisipasi semua reaksi Bang John, tetapi tetap saja aku terkejut melihat reaksinya.

“Duit halal? Dari kerja keras lo? Lin, emang selama ini kita nyari duit ga kerja keras?! Kita pontang panting kesana kemari buat nyari duit menurut lo itu bukan kerja keras?!”

“Bukan itu maksud Lina, Bang. Lina mau hidup normal, Lina mau kaya orang-orang lainnya yang kerja di kantoran, pake baju rapih, dapat gaji tetap tiap bulan. Abang kan tahu kalo itu cita-cita Lina sebelum,” aku tak mampu meneruskan kalimatku, mencoba menahan sesak di dadaku.

“Omong kosong! Udah hampir 2 tahun lo ngelupain semua impian lo, dan sekarang lo tiba-tiba ungkit itu lagi?! Ga, gw percaya sama lo!” dengan frustasi Bang John menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal, “Ini karena lelaki bernama Adri itu kan?” lanjutnya membuatku seketika itu juga membeku. Bagaimana bisa?

“Jadi, Abang udah tau semuanya?” suaraku seperti tercekik, menyadari bahwa Bang John sudah mengetahui semuanya.

“Ya, gw udah tahu semuanya, sejak lo minta pindah waktu itu! Jadi bener? Semua karena dia?” tanyanya tak percaya, dan mengangguk.

“Iya, Bang, karena dia. Lina suka sama dia Bang, Lina mau dia juga suka sama Lina.”

“Apa?! Lo sadar ga sih sama keinginan lo itu?! Lo sadar ga sih kalo dia tahu lo itu,” dengan cepat aku memotong pembicaraan Bang John.

“Bang!” potongku.

“Kenapa? Lo malu? Lo takut kalo dia tahu semuanya? Lo pikir dia bisa nerima lo kalau dia tahu semuanya?! Brengsek! Gw ga pernah nyangka lo bisa tumbang gitu ajja karena masalah cowo!” pekiknya tak percaya.

“Plis Bang, kabulin permintaan Lina. Lusa hari interview Lina, besok adalah hari terakhir Lina beroperasi,” pintaku setengah memaksa.

Ini kesempatanku, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Sudah sejak lama aku ingin pergi dari lingkaran setan ini, tetapi aku tidak bisa, aku tidak sanggup, sekaranglah saatnya. Karena Bang John ga pernah bisa menolak permintaanku, tidak akan pernah bisa.

“Lo pasti bakalan nyesel sama semua permintaan lo!” dengan berapi-api Bang John mengatakan itu semua dan kemudian meninggalkanku.
*****
Sesuai perjanjian, hari ini adalah hari terakhirku beroperasi, aku harus melakukan semuanya sebaik mungkin, karena hasil hari ini akan aku gunakan untuk membeli keperluan interview besok, dan aku tidak boleh melakukan kesalahan. Aku sangat senang, karena semua seakan dimudahkan, aku sudah mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Entah karena ini awal bulan, jadi hampir semua orang menyimpan uang cash di dompet mereka atau karena ini hari keberuntunganku, aku tidak tahu, tetapi yang jelas hari ini aku mendapatkan hasil yang banyak.

Bang John setelah kejadian semalam bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi, aku harap dia tidak melupakan perjanjian kami, dan aku belum sempat mengingatkannya kembali, karena selama beroperasi kami akan bersikap tidak pernah saling mengenal. Aku mungkin akan merindukan rutinitas yang sudah aku jalani sejak 2 tahun belakangan ini, tetapi aku sudah memutuskan, aku akan berubah, dan aku tidak akan mundur lagi.

Tepat ketika aku mendapat dompet yang terakhir, aku melihat ada lelaki yang memperhatikanku sejak tadi, melihat semua gerakanku, dan aku semakin aneh, karena Bang John tidak memberitahukanku akan adanya bahaya. Tugasnya adalah membuatku aman ketika kami sedang beroperasi, terdorong rasa ingin tahu, aku menoleh dan mendapati sepasang mata yang sangat aku kenal, itu Adrian! Dan ketika aku ingin mendekatinya, dia memaksa turun dari bis, setengah berlari mencoba menjauhiku ketika dia turund dari bus. Tanpa pikir panjang aku mengikutinya, mencoba memberikannya penjelasan atas apa yang sudah dia saksikan, tak memperdulikan Bang John yang masih berada di dalam.

“Adri! Tunggu!” panggilku, tetapi dia tetap tidak mau berhenti memaksaku berlari untuk mengejarnya, “Adri!” panggilku sambil menarik tangannya ketika aku berhasil mengejarnya.

“Lepaskan!” jawab Adri dengan ekspresi terluka, aku tahu, dia sudah melihat semuanya, dan dia pasti berfikir apa yang aku fikirkan.

“Adri, dengarkan aku dulu,” pintaku tetap menggenggam tangannya.

“Dengarkan apa Lin? Mendengarkan pengakuanmu bahwa kau seorang pencopet?!” tepisnya dengan menekankan katanya pada kata ‘pencopet’, membuatku membeku, walau dengan suara serendah itu aku bisa mendengar setiap kata yang dia lontarkan, dan aku bersyukur, setidaknya di tengah kemarahannya dia masih mempedulikanku dengan tidak berteriak tak karuan dan membuatku dihajar massa.

“Adri, ini tidak seperti yang kau fikirkan,” bisikku menahan tangis, tak mempedulikan tatapan orang

“Tidak? Lalu kau mau memberitahukanku bahwa yang kau pegang sekarang adalah dompetmu?” tantangnya.

“Tidak, ini memang bukan dompetku. Tetapi dengarkan dulu penjelasanku,” pintaku setengah memohon.

“Menjelaskan apa? Menjelaskan bahwa kau terpaksa melakukan ini semua karena keadaan? Karena kau terpaksa?” ucapnya tajam, tanpa memberikanku kesempatan untuk bicara dia melanjutkan, “Itu alasan Klise, Lin! Kau masih mudah, kau seorang mahasiswa, kau masih mampu mencari pekerjaan yang jauh lebih layak dibanding menjadi seorang copet. Atau jangan-jangan kau pun berbohong kepadaku mengenai statusmu sebagai seorang mahasiswa?!”

“Aku tidak berbohong, aku memang mahasiswa, tetapi aku di DO karena kesalahan yang tidak aku lakukan!” belaku setengah berteriak, tetapi dia tidak bergeming, membuatku terpaksa mengatakan yang sebenarnya, hal yang selama ini aku tutup rapat, “Kau pikir aku tidak mau mencari pekerjaan lain? Aku mau, tetapi mereka semua selalu menolakku karena namaku, karena namaku Lina Burhanudddin putri dari Rizal Burhanuddin, terpidana kasus korupsi yang dihukum gantung 2 tahun lalu.”

“Aku tahu, aku menyadari dari awal kita bertemu bahwa kau adalah putri dari Rizal Burhanuddin, tetapi aku selalu meyakinkan diriku bahwa kau bukanlah ayahmu, aku justru salut kepadamu. Karena kau mampu bangkit dari keterpurukanmu, mencoba meraih masa depanmu, membuatku yakin untuk memberikanmu kesempatan bekerja di kantorku, tetapi ternyata aku salah, buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya,” gumamnya sedih, “Maafkan aku, Lin. Aku benar-benar tidak bisa berteman denganmu lagi. Jangan pernah menemuiku lagi, dan jika kita tak sengaja bertemu, lebih baik kita bersikap seolah-olah kau tidak mengenalku,” pamitnya dan dia langsung pergi, meninggalkanku yang masih tersentak karena semua omongannya.

“Lin,” tanpa sadar, Bang John sudah berada di sampingku, menepuk bahuku, menyadarkanku dari kekosonganku. Aku menoleh, dan mendapati matanya yang menatapku penuh kasih sayang, persis 2 tahun lalu ketika aku kehilangan Ayah, dan tanpa berfikir panjang aku langsung memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.

“Ssshh, tenanglah, Abang di sini. Jangan kau hiraukan omongannya, ayo kita pulang,” ajak Bang John menenangkanku.
*****
Sejak hari itu, aku selalu menunggunya, menanti Adri, berharap akan bertemu dengannya secara sengaja maupun tidak sengaja, tetapi sudah hampir 1 tahun aku tidak melihatnya, dia pasti melewati jalan yang lain, sengaja menghindariku. Hatiku sakit, tetapi aku bisa apa? Ini hidupku, ini keputusanku, ini jalanku, dan aku harus menanggung semuanya sendirian.

Satu hal yang pasti, pencopet tidak boleh jatuh cinta, pencopet tidak punya hak untuk hidup normal jika dia tidak berjuang untuk hidup normal, dan aku memilih untuk tidak hidup normal, karena memang ini adalah jalanku, ini hidupku. Jangan salahkanku yang memilih seperti ini, salahkan takdir yang membuatku seperti ini. Karena aku tidak munafik, tidak akan ada yang bisa menerimaku setelah mereka tahu semua masa laluku.

--TAMAT-- 



Mau beli Mukena khas Bali dan parfume bermerek kwalitas kw 1 dan kw super? Kontak aja nomer 081246671304 atau pin BB 32fde75e (whatsapp dan blackberry user preferable, biar lebih mudah untuk mengirimkan foto-foto stock ready Mukena terbaru setiap hari) Happy Shopping ;)

16 comments:

  1. huaa.
    mb vie knp slalu bkin cerita sad ending siiih..



    thanks mb shin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaaaa,,Maap Ekaaaaaa....
      Soalny yg kpkrn pas awal2 ngtik endingnya yg bgni,,maap yaahh *nunduk*
      Mksh Ekaaa udh bc n komen...

      Delete
    2. @eka : sama2 ka...

      @vie : hahhaha... mgkn perlu bikin cerita SMP/SMA vie biar lucu n heppi ending ihihihi

      Delete
    3. Hrs happy ending yakz Mba Cin??(Ktauan g bs bkin happy ending yg cetarrr,,xixixi)
      Hehehehe

      Delete
  2. kenapa di tema ini sad ending semua sih??
    kenapa adri harus marah bgt ya, smpe gamau ketemu lagi pdhl tiap hari lina selalu nungguin dia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaa,,Maap Mba Ernaaa..
      Pdhl kami g jnjian lohhh,,g nygka trnyt pkiran kami sm.. Hehehehe

      Umm,,krn Adri ngrsa dbhongin Mba,,dy jg ngrsa kcewa udh brhrp tllu byk sm Lina.. Hehehe (jubir Adri)
      Mksh Mba Erna udh bc n komen,,
      :D

      Delete
    2. @erna : soalnya kl adrinya nerima... ceritanya jd panjang sist. ahhahaha

      @vie : hahaha... mungkin nanti bs dibuat adri ternyata diam2 ngikutin Lina n siapa tahu suatu saat nanti adri akan melapangkan dadanya dan mau mengerti kesusahan Lina. ;)

      Delete
    3. Hahaha,,semoga yah Mba Ciiinnnn....
      :D

      Delete
  3. Mksh Mba Ciiinnnn udh ditayangin...
    Mksh udh mw baca,,met bacaaa smwnya (geer yg bc byk)...
    *clingak clinguk* g ada oraangg.. Hukz.. Hukz...
    T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaaa udah 500 views kok vie... ;)

      tp memang untuk minggu ini viewsnya dikit, gk kyk sebelumnya sampe seribuan... tp tetep semangat!! meskipun yg komen dikit, gak boleh patah arang. yg penting yg baca banyak... hehehee...

      Delete
    2. Hehehe,,iyh Mba Ciinnn... Maap yah,, xixixixi....

      Delete
  4. nyanyi aahhh...

    "Pencopet jugaa manusiaa...punyaaa rasaaa punyaa hatiii..
    Jangan samakan dengan pisau belatiiii.....*

    Hevi Puspitasari Diyantoro Nelwan !
    Dapat inspirasi drmn nulis kisah nie??
    Aq baru bisa baca gegara hectic ma dunia nyata..

    Cuaantiiikkk.... !!

    Anw,,cyiinn danke yaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha,, Mba Riiiisssss *buru2 pasang mic buat Mba Ris*
      wieetttzzz lengkap beeuuddd nulis namanya,, xixixi
      Dapet darimana? umm, yang jelas bukan dari kisah nyata Vie Mba,, xixixxi
      iyh, gpp Mba Riisss.. smg smw urusan dunia nyatanya cepet kelar yaakkzz,, :p
      mksh udah baca n komen.
      :D

      Delete
    2. @riska : sama2 cin... lumayan nih dangdutan gratis.. ihihihihi

      @vie : ayo vie.. yg cinta monet dah bikin? ihihihi... mumpung semangatmu masih menggebu2. ihihihih

      Delete
    3. Udh Mba,,udh bkin tggl edit2 lg,,smg ntr mlm bs dkrm,, hehehehe...

      Delete
  5. Cerita bikin aku sedih nh...hmmm tp jd ingn baca lg nhh..

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.