"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, June 5, 2013

CERMIN 12 - ANGKOT SERIES - Fighting Destiny by Shin Haido

Baca dengan wawasan terbuka, mengandung SARA. Bila tidak suka silahkan ditutup. Terima kasih ;) 


Aku tak menyangka hariku bisa begitu sial mulai dari mentari pagi menampakkan sinarnya lewat kisi-kisi tirai jendelaku hingga siang kini mobil kesayanganku yang telah menemaniku selama lima tahun lamanya harus mogok di tengah jalan raya. Mogok!! Dobel tanda seru!! Karena inilah pertama kalinya mobil ini memutuskan untuk membuatku menderita!

Aku harus menghadiri rapat dengan Direktur Utama dalam satu jam, tapi bila mobilku mogok dan tak ada satupun taksi yang bisa kutumpangi, apa yang harus aku lakukan? Di tengah-tengah jalan raya antar kota dengan bus-bus dan truk-truk besar lalu lalang, aku tak mungkin berharap mereka bersedia menghentikan kendaraan mereka hanya untuk memberi tumpangan padaku. Ck!!

Lelah menunggu sopir papa yang tak kunjung tiba, sebuah angkot buruk rupa membunyikan klaksonnya hingga membuatku terkejut setengah mampus! Dasar sopir kurang ajar, tidak tahu orang sedang stres?!! Bila aku melewati rapat kali ini maka Sang Direktur Utama alias Kakakku tersayang akan mencabik-cabik tubuhku karena ini adalah ke-empat kalinya aku tidak menghadiri rapat dengan dewan direksi. Dia bisa membunuhku! Kakakku memang sadis, bagaimana tidak, setelah rencana pernikahannya yang gagal, kakakku Grace selalu menggunakanku sebagai alat pelampiasan kekesalannya pada mantan calon suaminya Rey, hanya karena nama kami sama. Sshh... Sialnya nasibku...

“Mau naik, ngak? Kalau nunggu angkot lain bisa satu jam lagi!” teriak sopir angkot kurang ajar itu cengengesan. Dia tahu mobilku mogok dan sengaja membunyikan klaksonnya berkali-kali. Bahkan mobil klasik kesayanganku yang telah berusia dua puluh lima tahun ini tidak bisa mengalahkan mobil angkot tua reyot yang telah lapuk dimakan karatan. Belum lagi interiornya yang mengerikan, aku tak akan heran para penumpangnya adalah orang-orang kelas rendah yang senang meludah dan mengupil sembarangan. Jisss!! Aku tak akan menaiki angkot ini!! Never!!

“Gak usah!!” sahutku tak kalah keras. Lalu handphoneku berdering.

“Kamu dimana? Sudah hampir setengah jam aku menunggu tapi kamu belum tiba juga disini? Ngapain saja kamu Yanto?!!” teriakku kesal pada sopir papa.

“Ma..maaf Den... Ban mobil pecah... Sa..saya masih menunggu bengkel memperbaiki mobil dulu baru bisa menjemput Aden...”

“Apa???!!!”

Aku membanting handphoneku ke tanah kapur di bawahku, handphone malang itupun pecah menjadi dua. “Setan!! Kenapa sial sekali hari ini?!” bentakku marah.

Sopir angkot sialan itu masih saja membunyikan klaksonnya, dengan kesal akupun menyambar jas dan koper kerjaku. Setengah enggan namun terpaksa, akupun naik ke dalam angkot buruk rupa ini. Sungguh kenyataan yang sudah kusesali melihat bagaimana penampilan jok tempat duduknya yang telah terkoyak dan kotor dimana-mana. Mataku menyipit memandangi sampah-sampah makanan dan minuman yang berserakan di bawah jok belakang, pada sampah permen karet yang menempel di dinding dan entah apalagi yang menunggu. Aku bahkan tak ingin menyentuh satu jengkalpun ruangan di dalam angkot ini. Namun demikian aku bukanlah orang bodoh, meski aku akui aku sedikit naif. Aku harus duduk dan berpegangan bila tidak ingin muntah dan terjatuh memalukan di dalam angkot ini dan ditertawakan oleh para penumpang lainnya.

Kapasitas angkot ini sepuluh orang namun hanya setengahnya yang terisi, di pojok depan duduk seorang ibu-ibu dengan dua orang anaknya, di tengah duduk seorang wanita berkerudung putih yang tak dapat kulihat wajahnya, dia sedang sibuk membaca buku yang tak ingin kuketahui apapun judul buku yang begitu asyik diperhatikannya. Disampingnya duduk seorang wanita lain yang kutebak mungkin adalah ibunya.

Dengan mendesah kecil aku mencari tempat paling bersih yang bisa kutemukan, angkot itu panas, hanya ventilasi sempit yang terbuka yang mampu memberikan sedikit angin untuk menyejukkan tubuhku. Pakaianku sungguh kontras dengan penampilan angkot ini, meskipun aku tahu orang-orang yang bekerja sebagai sales mengenakan kemeja berdasi dan jas, namun aku bukanlah seorang sales, aku adalah Wakil Direktur Utama yang membawahi dua puluh anak perusahaan dengan omset trilyunan rupiah dan tak ada satu orangpun yang bisa membantuku saat mobilku mogok di jalan raya antah berantah hingga aku harus berakhir di dalam angkot mengerikan ini!!

“Fiuh!!” keluhku mendesah nafas. Handphoneku berbunyi lagi, dari Yanto. Persetan dengan dia, dia pasti mengabariku bahwa dia tidak bisa menjemputku lagi. Sopir tidak becus sama sekali.

“Cih!!” ketusku kemudian.

“Dilarang menyumpah anak muda,” kata ibu-ibu yang duduk di samping wanita berjilbab itu.

“Heh?” Apa perluku untuk menjawab pernyataan ibu ini? Aku bahkan tak ingin mengenalnya.

“Anak muda, apakah kau tidak pernah diajarkan sopan santun oleh orang tuamu? Bila ada seorang wanita tua menasehatimu, kau harus mendengar dan menjawabnya. Mengerti?” Ibu ini sungguh keras kepala. Apa dia pikir aku memerlukan untuk mendengar nasehatnya? Hei, Bu.. urus saja dirimu dan anakmu dan tak usah mengurusiku. Sial sekali nasibku, berada di dalam angkot mengenaskan dan dinasehati oleh ibu-ibu tua sementara penumpang lain memperhatikanku seolah aku telah melakukan sebuah kesalahan yang merugikan kepentingan umum.

“Iya, Bu... Saya sedang sial sekali hari ini. Bila saya tidak tiba dalam lima belas menit di kota, maka matilah saya.” Aku mendesah lagi, semoga ibu ini tidak menerorku dengan nasehat-nasehat lain karena jujur aku tidak ingin mendengar nasehat apapun lagi dari mulutnya. Kepalaku pusing dan berdenyut-denyut, bau angkot yang tidak biasa kuhirup membuatku mual.

“Kamu tidak apa-apa? Kamu terlihat kurang enak badan,” tanya wanita berjilbab itu. Dia telah menutup buku yang tadi dibacanya dan memasukkan ke dalam tas panggulnya.

“Hm... Tidak apa-apa. Aku hanya tidak terbiasa berada di dalam kendaraan seperti ini.” Aku mencoba tersenyum, meski mungkin aku tidak menyukai lingkungan dimana aku berada saat ini, tapi aku tidak boleh menunjukkannya, khan? Serendah-rendahnya aku sebagai seorang manusia, aku tidak boleh menunjukkan isi hatiku di depan orang lain apalagi di depan umum!

“Oh... Kamu dari kota?” tanya wanita itu lagi, aku bahkan tak ingin mengenal namanya hingga... aku melihat senyum di wajahnya. Wajah yang bersinar dengan senyum tulus yang memukau mataku... sampai aku tak ingin berkijap karena pemandangan di depanku.

“Ehem...” Ibu disamping wanita itu berdehem menyadarkanku dari lamunanku.

“Ah... Iya, saya dari kota. Saya Reynaldi, nona?” tanyaku sembari menjulurkan tanganku. Entah mengapa aku mulai melupakan keadaan disekelilingku dan terpaku pada wanita di depanku yang telah mencuri perhatianku sepenuhnya.

“Er... Saya Ratih,” jawabnya sembari menerima uluran tanganku. Tangan Ratih tidak bisa dikatakan halus atau kasar, tangannya biasa saja. Ada bagian-bagian di telapak tangannya yang kasar, aku rasa Ratih adalah wanita yang terbiasa bekerja keras, tak heran.. dunia memang keras. Orang yang tidak bisa mengikuti kerasnya zaman akan terseret arus dan tenggelam.

“Oh... Ratih... Darimana? Mau kemana? Dengan siapa?” tanyaku sungguh ingin tahu.

“Pertanyaannya banyak sekali anak muda,” sanggah ibu itu terkikik geli, rupanya dia dapat mengetahui bila aku tertarik pada Ratih. Hei... tidak salah, khan bila aku tertarik pada wanita dengan senyum manis ini? Wajahnya membuatku teringat pada kedamaian di pegunungan yang kusukai. Hei, apakah aku mengatakan ‘kusukai?’

“Ibu...” rengek Ratih pada ibunya, nampaknya wanita tua itu memang benar adalah ibunya.

“Er... Maafkan, rupanya saya terlalu ingin tahu,” jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.

“Tidak apa-apa, anak muda. Ibu maklum, kalian adalah anak muda, ibu juga dulu pernah muda. Lanjutkan saja, anggap ibu tidak ada,” kata ibu itu acuh meskipun aku tahu dia memasang telinganya tajam-tajam untuk menangkap percakapanku dengan Ratih.

“Ah... Terima kasih,” jawabku bingung. Apakah aku harus berterima kasih karena ibu ini mengizinkanku untuk berkenalan dengan anaknya? Sungguh dunia sudah berbeda. Zaman dulu bila ada seorang laki-laki tak dikenal ingin berkenalan dengan anak gadis mereka, ibu-ibu itu pasti menghalangi dengan segala daya upaya sebelum si laki-laki menunjukkan kegigihannya. Ibu ini sungguh unik.

“Jadi... Apa jawabanmu?” tanyaku kemudian.

Ratih nampak memperbaiki cara duduknya, apakah dia tidak nyaman dengan pertanyaanku. Err... atau aku terlalu... terburu-buru? Aku pun memandang dengan seksama sekali lagi wajah Ratih... Ya, Tuhan.. Dia berjilbab!! Tunggu!! Apakah itu ada artinya bagiku?? Sial!! Tentu saja ada!! Tapi mengapa aku harus berpikir sejauh itu? Whatever...!!

“Aku baru saja kembali dari desa, aku dan ibu akan menyusul ayah di Jakarta, ayah baru saja dipindah tugaskan ke kota sebagai dosen di salah satu universitas disana. Yah, bisa dikatakan kami akan tinggal di Jakarta mulai hari ini,” jawabnya penuh semangat, nampaknya Ratih sangat menyukai ide tinggal di Jakarta.

“Kamu suka Jakarta?”

Ratih mengangguk, dengan berbinar-binar dia bercerita tentang keinginannya untuk mengunjungi Monas dan Taman Mini Indonesia Indah. Hm... Apakah orang-orang dari desa hanya mengetahui bila di Jakarta hanya terdapat Monas dan Taman Mini Indonesia Indah? Jakarta luas dan lebar, Jakarta sudah berubah, sangat berubah. Bila bukan karena pekerjaan, aku mungkin tak ingin tinggal di kota ini lagi.

“Hubungi aku bila kamu ingin mengunjungi tempat-tempat lain di Jakarta, akan kutunjukkan padamu bahwa Jakarta bukan hanya Monas dan Taman Mini,” kataku sembari menyodorkan kartu namaku padanya. Disana tertera nama lengkapku, jabatan dan nomer telephoneku. Tapi kartu nama itu bukanlah kartu nama asliku, disana tertulis Reynaldi Abraham J. / Sales Marketing. Itu adalah jabatanku saat memulai langkah pertamaku di dalam perusahaan milik keluarga, yaitu lima tahun yang lalu saat usiaku baru menginjak dua puluh tiga tahun.

“Kau bekerja sebagai sales marketing? Produk apa?” tanya Ratih ingin tahu, bila kutebak dari wajahnya, rasa-rasanya Ratih baru berusia dua puluh dua tahun, dia terlihat masih muda... Hei, mengapa aku mulai menebak-nebak? Bukankah aku tak mungkin bisa bersama dengannya? Kami sungguh berbeda, orang tuaku pasti tak akan setuju meskipun kami hanya berpacaran. Dan mengapa aku telah berpikir ingin menjadikan Ratih sebagai pacarku? Aku tak mungkin merusak Ratih dengan caraku, tidak.. dia tidak boleh dikotori olehku. Kami hanya boleh berteman, ya hanya sebatas teman...

“Hm... produk apa saja... Ada mobil, obat-obatan, makanan ringan, pengolahan plastik, minuman... yah... seperti itu. Kalau kamu? Apa kesibukanmu saat ini?”

“Aku sedang kuliah semester akhir di fakultas ekonomi, tapi karena mengikuti ayahku, aku harus pindah kampus. Selain itu juga membantu usaha rumah tangga ibuku.”

“Oh ya? Ibu menjual apa?” tanyaku pada ibu Ratih yang pura-pura memandang ke luar angkot.

“Jual kue-kue kering dan kue basah kadang-kadang, tapi karena pindah ke Jakarta tidak tahu nanti dapat pelanggan atau tidak. Harus usaha dari nol lagi.”

“Oh... Bila ibu mau, saya bisa membantu mengenalkan pada pemilik supermarket di Jakarta, siapa tahu mereka tertarik untuk menjalin kerja sama dengan ibu.”

Percakapanku dengan ibu dari Ratih pun ditutup dengan anggukan singkatnya.

Sesampainya di stasiun dimana aku bisa mencari taksi, akupun berpisah dengan Ratih dan ibunya. Aku tak tahu bila dia akan menghubungiku atau tidak, namun rasanya pertemuan dengan Ratih membuat hidupku sedikit lebih berwarna. Aku tidak berharap akan bertemu dengannya lagi walau aku tahu sedikit tidaknya aku telah tertarik padanya, gadis dengan jilbab putih dengan senyum tulusnya yang manis. Andai aku bisa lebih mengenalnya, akankah Tuhan mengizinkan kami bersama? Aku ragu...

~~~

“Telat lagi, telat lagi! Mau jadi apa kamu Rey? Bagaimana kamu bisa mewarisi kedudukan tertinggi perusahaan kita bila kamu selalu seperti ini?” sungut kakakku Grace setelah rapat dengan dewan direksi berakhir. Kami sedang duduk-duduk di dalam kantor Direktur Utama dan aku harus mendengarkan ceramah Grace dalam waktu sepanjang sepuluh menit, seperti biasa.

“Kalau kakak tidak suka nama Rey, kakak bisa memanggilku dengan Naldi, Aldi, Bram, J, apapun selain nama yang bisa membuatku menjadi bulan-bulanan.”

Bukannya mendengar nasehatku, Grace justru melemparku dengan bantal penyangga sofa. Kakakku memang gemas padaku namun dia sangat menyayangiku, kami dua bersaudara dan kedua orang tua kami kini sedang berbulan madu yang ke sekian kalinya meninggalkan kami berdua untuk mengurus perusahaan yang sayangnya tak lama lagi Grace akan melepaskan kedudukannya sebagai Direktur Utama untuk mengejar cita-citanya menjadi perancang busana, aku bahkan tak tahu bila dia memiliki cita-cita seperti itu.

“Dalam mimpimu!” ketusnya lagi setelah selesai mengomeliku.

“Kak, apakah kamu akan melajang seumur hidup? Bukankah ada Santiago yang selalu bersabar menunggumu? Dia kan bule... Lumayan donk nanti keponakanku,” cengengesku menggoda Grace. Santiago adalah penasehat keuangan perusahaan kami, dia memang telah menyukai Grace semenjak Grace masih berpacaran dengan mantan calon suaminya. Tapi rupanya Grace bermain sulit untuk di dapatkan dan aku heran Santiago masih begitu sabar untuk menunggu kakakku. What a gentleman!

“Apakah kamu ingin dijodohkan dengan Rebecca? Aku bisa meminta tante Leoni untuk segera menyiapkan pernikahanmu dengan Rebecca, bukankah gadis kecil itu selalu memujamu sejak dia kecil. Dia juga masih bersabar untuk dijadikan mempelai cilikmu.”

“Jiss... Kak!! Are you mad?? Becca baru lima belas tahun, for God’s sake!! Kau tak ingin menikahkanku dengan anak kecil, khan?” ucapku menggeleng-gelengkan kepala. Grace bila ingin balas dendam memang sangat mengerikan, aku masih bisa mengingat bagaimana pernikahan mantan calon suaminya berantakan setelah memutuskan pertunangannya dengan Grace. Grace mengirim seratus orang preman untuk menakut-nakuti para tamu undangan dan mengacau tempat dimana diadakannya resepsi. Alhasil pernikahan itu gagal total meskipun mereka tetap menikah resmi di mata hukum. Hah...

“Setahun lagi dia legal untuk kamu nikahi. Di negeri ini kamu boleh menikahi gadis berusia enam belas tahun, tidakkah kamu tahu itu?” tanya Grace mengernyitkan dahinya.

“Apakah aku terlihat semaniak itu? Seolah wanita cantik dan seksi lain sudah habis dari muka bumi?”

Aku tergelak, sungguh lucu berdebat dengan kakakku. Dia memang pintar dalam berbisnis, namun untuk urusan hati... Grace payah!! Dia mudah sekali dibohongi.

Aku teringat dengan Ratih.. Apa rasanya bila gadis itu menjadi pacarku? Bisakah aku menahan gairahku saat berada di dekatnya? Ah... tidak... aku tidak bisa. Sungguh sulit untuk tidak membayangkan Ratih berada dalam pelukanku, dia terlalu sayang untuk dilewatkan.

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Grace memecah lamunanku.

“Tidak ada.”

“Oh, come on... You silly. Bila kamu tidak berbicara, akan kusebarkan gosip lagi bila kamu suka mengintip pegawai wanita di toilet!”

“Hey! Itu fitnah. Apakah aku terlihat sebagai seorang laki-laki dengan kemampuan rendah seperti itu? Aku tak  perlu mengintip untuk mendapatkan pelampiasanku, kak!”

“Ya...ya.. katakanlah apa yang kamu pikirkan, jarang sekali aku bisa melihat wajahmu melamun seperti itu. Apakah kamu sedang jatuh cinta? Wajahmu seperti ini hanya sekali saja, dulu... saat kamu jatuh cinta pada Winda yang sayangnya dia meninggalkanmu. Ah... nasib kita sama, Dik.. Kita adalah orang-orang bodoh yang ditinggalkan oleh kekasih hati. Kamu mungkin berpikir kakakmu ini adalah wanita bodoh karena mau saja dibohongi oleh kekasihnya... tidak... Aku tahu dia membohongiku, namun sangat sulit menerima kenyataan bahwa laki-laki yang kamu cintai tega membohongimu, mengkhianatimu. Rasanya lebih baik pura-pura tak tahu agar hati kita tak terluka.”

“Tapi... in the end kita lah yang tetap terluka paling parah, kak...” desahku mengingat mantan tunanganku yang ‘juga’ hampir kunikahi. Mungkin ini adalah kutukan keluarga kami. Papa dan Mama ku dulu juga mengalami nasib yang sama. Hanya karena campur tangan Paman kami lah Papa dan Mama bisa menikah dan hidup bersama. Sungguh ironis kutukan itu menurun pada kami... begitukah?

“Hei... masih banyak bintang di langit. Bila kamu rasa wanita ini pantas untuk kamu kejar, kejarlah. Bila tidak, cari wanita lain. Bukankah setiap minggu kamu suka berganti-ganti wanita?” Grace mengetuk kepalaku dengan file ditangannya.

“Dia bukan wanita seperti itu, dia... tidak mungkin kusentuh kecuali... aku menikahinya,” jawabku meringis. Apakah di otakku hanya terdapat hal-hal mesum yang bisa kulakukan dengan pacarku?

“Wanita seperti apa yang harus dinikahi dulu untuk bisa kamu sentuh?”

“...Ya... wanita yang tak bisa disentuh!” aku sungguh tak tahu mengapa aku marah pada kakakku saat dia menanyakan wanita seperti apa yang tak bisa disentuh. Karena aku tak tahu jawaban pertanyaan itu. Itu bukanlah duniaku dan aku sungguh bingung dengan perasaanku. Sial!! Aku merindukan wanita itu dan aku tak tahu dimana harus menghubunginya, kecuali... universitas tempat ayahnya mengajar. Tapi siapa nama ayahnya??? Dobel sial!!

~~~~

Lima minggu sudah dan aku hampir melupakan Ratih. Aku bahkan tidak memikirkannya lagi. Karena bagaimana tidak? Saat ini ada dua orang wanita seksi sedang duduk di sampingku di sebuah klab malam remang-remang tempat dimana aku biasa mencari pelepasanku. Bila kau tak mengerti, disinilah tempatku mencari wanita untuk kutiduri, sebagai tempat pelampiasan birahiku. Dan aku rasa kini kau pasti sudah mengerti apa maksudku.

“Malam ini aku hanya ingin berdua dengan Cindy, minggu depan aku akan memakaimu Lin.” Aku menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah pada Lin dan diapun pergi meninggalkan kami. Tak lama kemudian Cindy mengikutiku menuju mobilku, mobil baru yang tak mungkin mogok lagi!!

Aku membawa Cindy ke sebuah hotel bintang lima di Jakarta Pusat, hotel yang tak akan menanyakan maksudku membawa wanita dan apa urusanku di dalam kamar hotel VIP yang kusewa untuk semalam.

Di dalam kamar kami membersihkan badan masing-masing, saat Cindy berada di dalam kamar mandi, aku memesan minuman penghangat badan, sebotol Red Wine yang kusiapkan untuk kami. Cindy keluar dengan tubuh telanjangnya dan handuk yang melilit di kakinya. Cindy menggodaku dengan tubuhnya lalu badanku bereaksi seketika.

“Kemarilah, kita bersulang sebelum memulai kenikmatan kita...”

Cindy meneguk winenya dengan perlahan, menyesap cairan merah yang mengalir di dalam kerongkongannya, terlihat samar warna gelap menuruni leher Cindy dengan kulitnya yang putih bersih. Sebelum minuman kami habis, aku telah membawa tubuh Cindy ke atas ranjang dan melepaskan pakaianku hingga telanjang bulat. Apa yang kami lakukan berikutnya tentu kalian sudah tahu, hanya desahan dan rintihan kami yang terdengar berkali-kali saat pencapaian klimaks kami rasakan berulang-ulang. Di atas ranjang, keringat dan cairan membasahi kain putih bersih yang kini tak sebersih sebelumnya. Akupun berguling ke samping, membiarkan Cindy beristirahat setelah beberapa kali kami berhubungan badan.

Aku memeriksa handphoneku, sebuah pesan singkat masuk, pada pukul sembilan malam dan hari ini adalah sabtu malam. Siapa gerangan? Aku tidak mengenal nomer ini.

“Halo, Reynaldy? Masih ingat aku? Aku gadis yang berkenalan denganmu di dalam angkot.”

Gadis di dalam angkot? Ratih? Akupun berdecak, dia mengirimiku sms semalam ini, apakah dia tidak memiliki pacar yang mengajaknya berkencan? Dia bahkan salah menulis namaku. Ahh... Kini aku kembali merindukannya, apakah Tuhan memberikanku jalan agar bisa bertemu dengan Ratih kembali?

Aku membersihkan tubuhku sebelum mengenakan celana panjangku kembali, duduk-duduk di ruang tamu dengan rokok yang kuhisap nikmat. Akupun membalas sms dari Ratih, saat ini pukul dua dini hari, aku tak berharap dia masih terjaga menunggu balasanku..

“Ya, aku masih ingat. Ratih.. Kenapa kamu baru menghubungiku. Apakah kamu tidak merindukanku?”

Aku menutup handphoneku tapi semenit kemudian sebuah pesan singkat masuk, dari Ratih lagi.

“Wah... Kamu membalas sms ku. Kamu belum tidur? Ya, aku ragu untuk menghubungimu. Aku tidak ingin mengganggumu, tapi ya akhirnya aku mengganggumu. Maaf bila aku mengganggumu..”

Aku menyesap rokokku lagi, apa yang Ratih harapkan dari pertanyaannya? Aku tak mungkin menjawab bila aku baru saja meniduri seorang wanita penghibur yang kukenal dari sebuah klab malam terkenal sebagai penyedia jasa seperti ini, khan?

“Belum, aku baru saja pulang dari kantor. Kamu kenapa belum tidur? Apakah menunggu balasanku?”

“Jujur... ya, aku menunggu balasanmu. Apa kabarmu?”

“Kabarku... baik. Sedikit merindukanmu, namun karena kamu tak kunjung menghubungiku aku perlahan-lahan melupakanmu. Maaf, tapi kini kamu sudah menghubungiku... Bisa kita bertemu? Aku berjanji mengantarkanmu melihat-lihat Jakarta, khan?” jawabku lagi. Kami berkirim-kirim sms hingga dini hari pukul lima pagi sampai Cindy terbangun dan memeluk tubuhku dari belakang. Dia mengambil handphoneku dan membawaku kembali ke ranjang. Kamipun mengakhiri malam ini dengan dua buah sesi lagi di atas ranjang, malam ini aku cukup puas... Tubuh dan hatiku... Sial!! Aku bahkan membayangkan Cindy sebagai Ratih pada kedua sesi terakhir kami!! Maafkan aku Tuhan, aku sungguh berdosa!!

~~~

Minggu sore dan aku telah berjanji untuk bertemu dengan Ratih. Dia dengan ibunya menemuiku di sebuah mall tempat kami berjanji, dari sana kami kemudian meluncur ke obyek-obyek wisata kota dan tempat-tempat belanja rakyat yang cocok dengan kehidupan Ratih. Aku bahkan mengganti mobil BMW silverku dengan mobil milik sopir Papa agar Ratih tidak menyadari kebohonganku sebelumnya. Entah mengapa aku berpura-pura menjadi seorang sales di hadapan Ratih, aku tahu akan sangat sulit untuk menjelaskan kebenarannya di kemudian hari. Hanya saja... aku tak ingin Ratih merasa kami berbeda dan dia tak ingin berteman denganku lagi. Shit!! Aku memang tak ingin berteman dengannya, aku ingin menidurinya!! Tidak!! Aku ingin menjadikan Ratih kekasihku!!

Ibu Sukotjo, ibunda Ratih bertemu dengan saudaranya di rumah makan tempat kami makan dan diapun meninggalkan kami berdua sementara Ibu Sukotjo sibuk dengan reuni keluarga lamanya. Tak lama Ibu Sukotjo pun menitahkan kepercayaannya padaku untuk mengantarkan Ratih ke rumah sebelum pukul sembilan malam. Wow!! Sungguh kemajuan yang sangat pesat, bu! Tidakkah ibu takut aku akan membawa Ratih ketempat-tempat yang aku inginkan? Hotel misalnya?

Hah!! Aku tidak sebejat itu!! Aku mengantarkan Ratih ke rumahnya tepat pukul delapan malam. Aku tak ingin Ratih mendapat masalah dan ditanyai yang bukan-bukan. Dia adalah seorang gadis dan Ratih akan tetap menjadi seorang gadis hingga hari dimana dia menyerahkan kegadisannya pada suaminya, yang pastinya bukan aku. Dan mengapa aku menjadi sangat cemburu memikirkan laki-laki lainlah yang akan menjadi suami Ratih?!

Sesampaiku dirumahku, Grace menanyaiku macam-macam. Dia heran dengan perubahan sikapku karena aku terlihat frustasi.

“Kamu kenapa? Tidak ada wanita yang bisa kamu tiduri?” tanyanya tanpa basa basi.

“Shh... Aku tidak bisa meniduri wanita yang ingin kutiduri! Puas??!” sungutku marah saat melemparkan pantatku di atas sofa disamping kakakku.

“Hey, why are you angry? Bukankah bisa seperti biasa... Kamu rayu dan kamu bawa ke hotel. Apa yang susah?”

“Susah, sulit. Karena dia berjilbab!!” bentakku kesal.

Grace menahan nafasnya, berdiri dan menepuk bahuku. Diapun menghilang dan meninggalkanku dengan masalah hatiku ini. “Useless sister!!” sungutku marah.

Ratih mengirimiku pesan yang kubalas acuh, aku sengaja membuat balasan yang bisa menyakiti hati Ratih. Aku benci pada diriku karena menginginkan dia, aku benci karena harus memiliki perasaan ini pada Ratih, aku benci mengapa kami harus berbeda agama??!!

“Arghhh!!!!! SIAALLLANNNN!!!!”

~~~~

Dua hari lamanya sudah Ratih tidak mengirimiku sms lagi setelah balasan terakhirku yang kejam. Aku membentak Ratih, aku mengatakan aku tak ingin dia menggangguku lagi, aku katakan padanya bahwa aku tak ingin berteman dengannya lagi!! Ya!! Aku tidak ingin berteman denganmu Ratih!! Aku ingin berpacaran denganmu!! Tapi akan percuma untuk melanjutkan hubungan yang tak mungkin ini. Hanya akan menyia-nyiakan waktu dan hati kita. Bila hati ini telah begitu dalam terjatuh padamu... bagaimana aku bisa bangkit lagi untuk yang kedua kalinya oleh karena cinta? Tidak.. aku tidak sanggup!! Tapi mengapa rasanya begitu nyeri dadaku bila mengingat perkataanku padamu? Mengetahui kamu tersakiti oleh perkataanku... aku sama sakitnya denganmu, Ratih... Aku... aku mencintaimu!! Sial!! Aku mencintai wanita yang tak boleh aku cintai!! Dan akupun meninju tembok kamarku hingga tulang tanganku berderak. Shit!! Beberapa tulangku pasti retak dan aku kesakitan!! Sial!!

Tapi rasa sakit ini tak bisa dibandingkan dengan sesaknya hatiku memikirkan Ratih, memikirkan bagaimana dia menghadapi semua sms-smsku. Apakah dia sama hancurnya denganku? Apakah dia membenciku? Atau dia tidak perduli? Atau dia biasa saja? Tidak... Aku tahu Ratih perduli padaku, aku tahu... dia menyukaiku juga. Bisa kulihat dari sorot matanya... Aku bisa melihat kedalam mata Ratih bagaimana dia dengan jujur memperlihatkan cintanya padaku dari sikapnya, dari perhatiannya. Oh, Tuhan... mengapa kau memberikan cobaan ini padaku. Tidakkah ada cinta sejati untukku??

Setelah mengompres tanganku yang bengkak akibat kesombonganku menghantam tembok beton, aku memberanikan diri memencet nomer Ratih. Sudah pukul tiga dini hari saat dia mengangkatnya. Dengan suara serak karena tangisan, Ratih menjawab telephoneku.

“Ha..lo?”

“Aku... bukanlah sales marketing. Aku.. wakil direktur perusahaanku. Aku dua puluh delapan tahun, aku telah meniduri puluhan wanita yang kutemui pertama kali. Aku pernah patah hati karena cinta, tapi kini... Aku mencintaimu... tapi... aku tak boleh mencintaimu. Kita berbeda...”

Akupun menutup telephoneku, mencabut baterai ponsel itu dan berbaring di atas ranjangku. Mataku tak sanggup kupejamkan. Aku sungguh pengecut, aku membeberkan semua perasaanku pada Ratih dan pergi sebelum mendengar jawabannya. Aku pengecut... tapi kemudian kuputuskan.. aku akan mendengarkan apapun jawaban Ratih. Aku tak perduli lagi apa yang akan terjadi.. Bila dia menolakku, maka aku bisa melangkah lagi... Bila dia menerimaku? Hah... tak mungkin dia menerimaku!!

Handphoneku langsung berdering setelah kunyalakan lagi, Ratih...

“Kau laki-laki pengecut. Awalnya aku ingin memberikan hatiku padamu, tapi melihat kepengecutanmu, aku meragukan lagi perasaanku. Bila hanya ini yang bisa kau lakukan untuk rasa cintamu, maka aku memang tak pantas untukmu!!”

“...I love you, Ratih... Aku tersiksa karena mencintaimu. Aku menyakiti diriku karena menyakitimu. Aku... ingin bersamamu. Maafkanlah aku karena mencintaimu.”

“Temui aku di depan rumahku, sekarang!! Bila kau benar-benar mencintaiku, maka dalam waktu sepuluh menit kau akan tiba disini!!” dan diapun mematikan handphonenya.

Sesaat aku terdiam, tak dapat mencerna pikiranku sendiri. Lalu dengan gerakan cepat kusambar kunci mobilku yang asli, mengenakan kemejaku dengan sembarangan, mengancingkan dengan susah payah dan seadanya, lalu mobilkupun meluncur membelah jalanan sepi dan dalam sepuluh menit aku telah tiba di depan rumah Ratih dimana dia telah menungguku dengan wajah sembab bekas tangisannya.

Aku turun dengan perlahan dari mobilku, menyembunyikan perban yang membalut tangan kananku. Lalu tanpa kusangka, Ratih memelukku, memeluk dengan erat. Dia menyentuhku... dan hatikupun penuh oleh kasih, oleh cinta... Aku tahu cinta telah datang padaku meskipun hatiku harus menangis darah akan kemungkinan cinta kami yang tak akan pernah bersatu. Tapi kini.. biarkanlah kurasakan moment kami, moment dimana kami berlaku jujur pada perasaan kami.

“Aku mencintaimu, Rey... Aku tahu ini mustahil, tapi aku telah jatuh cinta padamu sewaktu di dalam angkot itu. Aku berusaha melupakanmu karena aku tahu... kita berbeda.. tapi... Aku tidak bisa.. Aku merindukanmu dengan sangat. Terkutuklah aku karena memilihmu, tapi aku rasa hatiku tak bisa hidup tanpamu, setidaknya itulah yang kurasakan sekarang. Mungkin... imanku goyah karena cintaku padamu, mungkin... hatiku dibutakan oleh nafsuku untukmu... Tapi... cinta yang kurasakan ini nyata dan aku tak tahu harus berbuat apalagi untuk melupakanmu. Aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti hatiku, karena hati dan rasa inipun adalah anugerahNYA... Aku tak ingin menampik anugerah ini... Aku... ingin bersamamu...”


Kupeluk erat tubuh Ratih, kukecup puncak kepalanya. Aku tahu jalan kami akan berat... Aku tahu cobaan apa yang akan kami hadapi dan rintangan apa yang mungkin menghalangi kami... Tapi... tidak ada salahnya kami mencoba, bila memang cinta ini akan menemui akhirnya, maka biarlah dia berakhir setelah kami berusaha untuk memperjuangkannya. Setidaknya kami tidak akan menyesal karena cinta ini telah kami rasakan dan kami usahakan... Hanya kuasa-NYA lah yang mampu memisahkan kami.. begitupula.. menyatukan kami... Amin...   



Mau beli Mukena khas Bali dan parfume bermerek kwalitas kw 1 dan kw super? Kontak aja nomer 081246671304 atau pin BB 32fde75e (whatsapp dan blackberry user preferable, biar lebih mudah untuk mengirimkan foto-foto stock ready Mukena terbaru setiap hari) Happy Shopping ;) 



28 comments:

  1. Keren mbak..:D
    Cma krg ggit n hot..=))

    ReplyDelete
    Replies
    1. sini aku gigit + bakar di tungku biar menggigit dan hot. wkwkkwkw... topiknya gak cocok di HOT-in... lol...

      Delete
  2. Makasih mbak shin! :*

    ReplyDelete
  3. Bagus Mba Shin, tp msh penasaran dgn Grace.....
    Apakah mantan calon suamina itu menyesal n balik lagi ke Grace, ato Grace bertemu dgn pria 100x lbh baik :D
    Ngomong2 KSDH kapan ada lanjutanna lagi ya?
    Makasih Mba Shin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha itu cerita yg laen... ihihihi... ksdh... belum kepikiran sist, mgkn nanti.. kl msh inget :)

      Delete
  4. Bc warningnya udh nyiapn hati dluan,,tp untungny g d apa2 yg bs bkin hati nysek,, xixixixi
    Keyeenn Mba Ciinnnn...
    Stdkny d yg Happy Ending,, :D
    Mksh Mba Ciiiinnnnnnn...
    Cemumuuuuddhhhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah cukup endingnya segini aja, kl dipanjangin pst jd tragedy. lol, makasi ya vie ;)

      Delete
  5. nyesek bnget bcanya.. Sequelnya dong mba.. Hhe tpi, yg happy ending *request maksa* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha... belum ketemu jalan ceritanya sist;)

      Delete
  6. Mbaj shin.. Kentang nie....
    Huwawawawaaaaa :(

    ReplyDelete
  7. ah mba shin nanggung bgt ceritanya
    gimana nasib mereka tuh?
    sekuel dong penasaran bgt sama nasib hubungan mrka
    semoga bisa bersatu kan saling cinta

    ReplyDelete
    Replies
    1. hanya tuhan yg tau gmn nasib mereka :D

      Delete
  8. Awal q baca nyeseek tapi seneng klo akhirnya mreka bersatu,,, nice story mbak shin :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D makasi sist.... masih bersambung nih... tp gak aku tulis lg.. ehhehee

      Delete
  9. Cinta beda agama.
    Hiks jadi sedih :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya memang kebanyakan berakhir sedih...

      Delete
  10. Replies
    1. iya may, refreshing biar gk sumpek :D

      Delete
  11. Cyiiinn...u bring d' old record..huhuhuuhuuu
    *mulai lebay..

    Ini cakep..cakep sangadh !
    Thankies so much darl'..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... i dont know urs honey.. i just ngorek-ngorek... hihihihih...

      Delete
  12. Hiks hiks
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.