"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, June 10, 2013

CERMIN 14 - CINTA MONYET SERIES - Cintaku Bukan Cinta Monyet oleh ILiana Lin

Story by +ILiana Lin




“Angel, pulang sekolah nanti aku ikut ke rumah kamu lagi, yaaa…”

Gadis kecil itu menoleh dan mengangguk pelan. Senyum tipis terukir di wajahnya. “Emang boleh kalau kamu ke rumahku setiap hari?”

Pemuda kecil itu mengangguk cepat. Entah berapa anggukan sampai kemudian ia berhenti setelah merasakan kepalanya sedikit pening. “Kita kan mengerjakan PR, itukan tugas sekolah jadi dibolehin sama mama…”

Gadis kecil itu kembali tersenyum. Ada senyum dalam hatinya juga. Sudah sejak duduk di bangku kelas I Sekolah Dasar, ia duduk dengan pemuda kecil itu. Mereka juga sangat akrab hingga tak jarang jika mereka selalu terlihat pulang bersama. Sekarang mereka samasama sudah duduk di bangku kelas IV.

“Angel, aku suka deh sama nama kamu…”

“Kenapa dengan nama aku, Boy?”

Boy mengangkat bahu. “Bagus aja… Kan artinya malaikat dan kamu selalu menjadi malaikat aku dimanapun dan kapanpun itu…” Boy mengedipkan sebelah matanya membuat Angel tersipu malu.

“Apa aku seperti malaikat beneran? Aku kan gak punya sayap… Aku juga gak punya kekuatan…,” kata Angel.

“Kata siapa? Kamu punya semuanya itu karena namamu kan Angel…”

Tak terasa jam istirahat sudah usai. Para murid yang tadinya keluar kelas untuk jajan kembali duduk di tempat mereka masingmasing. Selepas jam istirahat ini, kelas Angel dan Boy memiliki tugas besar yaitu tata cara menanam bunga di dalam pot. Ibu Stela sebagai guru mata pelajaran IPA yang akan mengajarkan caranya.

Setelah Ibu Stela masuk ke dalam kelas, kelompok langsung dibagi. Untuk lebih memudahkan maka akan diambil teman kelompok yang sesuai dengan teman sebangku. Hati Angel kembali riang dan berbungabunga. Ia selalu menantikan saatsaat dimana ia bisa selalu berada dekat dengan Boy. Kali ini keinginannya itu terkabulkan lagi.

Beberapa minggu yang lalu, Angel dan Boy juga sempat satu kelompok sewaktu akan merangkai bunga hias. Angel selalu memanfaatkan waktunya dengan baik untuk menarik perhatian Boy dan pemuda kecil itu selalu saja terarah pada tingkah laku Angel yang selalu menggemaskan dan membuat orang ingin tertawa.

Kelompok sudah dibagi dan setiap siswa diwajibkan untuk mengambil tanah di luar. Ibu Stela telah mengarahkan mereka untuk mencari tanah yang masih bagus dan lunak agar bisa lebih mudah ditanami. Dengan sedikit petunjuk dari Ibu Stela itu, Boy mengajukan diri untuk mencari tanah sendirian.

“Angel, kamu disini saja, yaaa… Aku yang akan mengambil tanahnya…”

Dengan patuh Angel menunggui Boy di dalam kelas sementara temantemannya yang lain banyak yang sudah menuju taman belakang untuk mencari tanah.

Tidak lama setelah itu, Boy masuk ke dalam kelas dengan membawa tanah seukuran genggaman tangannya. Ia tersenyum sambil berlari kecil ke arah Angel.

“Ini…,” Boy menyerahkan tanah itu pada Angel.

Tepat di saat tangan Angel mau meraihnya, Boy menarik tangannya kembali hingga membuat Angel mengerucutkan bibirnya.

“Kenapa?! Kamu mau mengerjakannya sendiri yaaa?”

Boy tersenyum masam sembari memasukkan tanah itu ke dalam pot. “Nah, sekarang kamu tinggal memasukkan bunganya saja… Jadi tanganmu tidak akan kotor… Ayo…!!!”

Angel kembali tersenyum dengan manis. Boy jadi cekikikan tapi tangannya langsung meraih tangan Angel dan menuntunnya agar memasukkan bunga yang masih memiliki akar itu ke dalam tanah yang sudah diberi lubang ditengahnya. Setelah Angel selesai dengan tugasnya meletakkan bunga di dalam pot, Boy melepaskan tangan Angel dan merapatkan tanah yang ada di dalam pot dengan telapak tangannya.

“Waktu kalian sudah habis…,” teriak Ibu Stela.

Angel menatap Boy lalu berbisik di telinganya. “Ibu Stela seperti chefchef yang ada di Master Chef itu, yaaa…”

Boy mengangguk setuju.

“Ayo, naikkan tanaman kalian di atas meja dan Ibu akan berjalan untuk memberi nilai…”

Angel menyikut lengan Boy lalu membuka telapak tangannya di bawah meja. Boy menundukkan pandangannya dan menepuk telapak tangan Angel yang terbuka di bawah meja.

“Kita pasti yang akan mendapatkan nilai paling tinggi…,” kata Angel penuh keyakinan.

Ia yakin sekali bahkan sudah sangat yakin kalau tanamannya itu yang akan mendapat pujian tambahan dari Ibu Stela. Di samping mereka menanamnya dengan hatihati, tanaman itu juga ditanam dengan penuh rasa sayang yang besar. Angel sangat meyakininya.

Dalam hati gadis kecil itu tersenyum dan bersorak–sorai. Membayangkan jika ia berhasil mendapatkan nilai paling tinggi, apa yang akan dilakukannya dengan Boy.

Dua hari yang lalu, mereka pernah bertaruh untuk mendapatkan nilai yang paling tinggi. Alhasil, skor mereka waktu itu adalah seri. Padahal saat itu Boy berjanji akan membuatkan boneka dari kain untuk Angel jika gadis itu berhasil mendapatkan nilai tertinggi.

Angel merasa sangat kecewa. Seandainya saja dia bisa berusaha lebih keras, ia pasti akan mendapatkan nilai sempurna di pelajaran Matematika itu. tapi mau bagaimana lagi, kekurangan Angel adalah lemah pada yang namanya perhitungan dan tentu saja hal itu dimanfaatkan baik oleh Boy untuk memberinya dukungan agar gadis itu bisa menjadi gadis yang berprestasi.

***

Jam pulang sekolah sudah tiba. Mobil jemputan Angel sudah datang. Angel langsung berlari membuka pintu mobil untuk Boy dari sisi sebelah kiri dan dirinya sendiri masuk dari sisi sebelah kanan.

“Gimana sekolahmu hari ini, sayang?” tanya mamanya begitu putri kesayangannya itu menutup pintu mobil.

“Baik, Ma…” Angel menjawab pertanyaan ibunya tapi pandangan matanya malah mengarah pada Boy yang duduk di sampingnya. Pandangan pemuda kecil itu yang tadinya ke luar jendela langsung berbalik1800 begitu menyadari Angel memperhatikannya diamdiam.

“Kenapa?” tanyanya dengan berbisik.

Angel menggeleng dan tersenyum. Boy bisa menangkap aura merah di wajahnya yang malu karena tertangkap basah sedang memperhatikannya. Bukannya tidak suka tapi Boy masih merasa canggung jika ada orang yang memperhatikannya. Sejak kelas I SD, Boy lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan Angel.

Pergi ke sekolah, mereka berangkat bersama. Sampai di sekolah, mereka duduk sebangku. Jam istirahat, mereka menuju kantin lalu makan bersama, apa yang dimakan Boy pasti juga akan dimakan oleh Angel walaupun makanan itu adalah tipe makanan yang paling dibenci oleh gadis kecil itu tapi demi Boy ia rela memakannya sekalipun ia harus langsung menelan tanpa mengunyahnya terlebih dahulu.

Tidak hanya itu, setiap pulang sekolah mereka juga selalu bersama. Kalau pergi menggunakan mobil Boy, sewaktu pulang mereka akan menggunakan mobil Angel.

Kedua orang tua mereka telah membuat kesepakatan itu sejak mereka berdua masih duduk di bangku Taman Kanak–Kanak. Saat itu, Boy dan orang tuanya baru saja pindah ke kompleks perumahan Angel. Kebetulan juga mereka saling bertetangga jadi akan terasa lebih mudah untuk membagi waktu mengantar dan menjemput anakanak. Usia Angel dan Boy samasama sepuluh tahun, itu sebabnya mereka selalu bisa bersamasama.

Angel dan Boy selalu menikmati waktu pergi dan pulang bersama. Sejak kedekatan mereka itulah tanpa sadar Angel membangun satu perasaan sendiri di dalam hatinya. Perasaan yang orang dewasa menyebutnya dengan rasa suka tapi Angel mengartikan perasaan itu sebagai cinta.

Lima belas menit dalam perjalanan dari sekolah untuk sampai ke kompleks perumahan. Angel turun dari mobil dan membuka sepatunya di depan rumah lalu masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Boy yang langsung masuk ke rumahnya sendiri.

Setelah selesai mengganti pakaian, Angel menuju ke ruang makan. Duduk dengan tenang dan menunggu kedatangan Boy. Anak lakilaki itu akan selalu datang ke rumah Angel untuk makan siang bersama karena kedua orangtua Boy sibuk bekerja di luar.

Pernah suatu hari Angel bertanya pada Boy tentang apa pekerjaan orang tuanya tapi saat itu Boy menggeleng dan mengangkat bahunya. Ia sendiri juga sebenarnya tidak tahu apa pekerjaan kedua orang tuanya. Boy hanya tahu kalau kedua orang tuanya adalah pengusaha yang sukses dalam satu bidang yang dia sendiri juga tidak begitu jelas.

***

Matahari masih menyemburatkan cahayanya siang itu. Jam menunjukkan pukul setengah dua lebih sedikit. Angel dan Boy sudah menyelesaikan makan siang dan sekarang mereka berdua sedang duduk di ruang tamu bersiap untuk mengerjakan PR bersama.

“Boy, ini bagaimana caranya?” tanya Angel yang kebingungan sambil menyodorkan buku PR ke hadapan Boy.

Boy yang sedang mengerjakan PR penjumlahan bilangan prima, membalikkan badannya ke arah Angel. Matanya sibuk melihat angkaangka yang ditulis dengan tidak keruan oleh Angel.

“Kok kamu kerjanya begini?”

Tampak kerutan di dahi Boy saat mencoba menjabarkan apa yang ditulis Angel pada selembar kertas yang lainnya. Tangannya mengikuti arah tulisan Angel dan langsung memperbaikinya begitu dia melihat adanya kesalahan.

“Iyaaa, aku juga gak tahu. makanya aku nanya sama kamu karena aku sendiri tidak mengerti, Boy…”

“Tulisanmu sih jelek banget…,” sindir Boy.

Kesal mendengar perkataan Boy, Angel langsung menarik buku PR miliknya dari tangan Boy dan langsung melemparnya ke atas meja.

“Lho?! Kamu marah, ya, sama katakata aku tadi?”

Angel melipat kedua tangannya di depan dada. Sebenarnya ia bukan sedang marah tapi ia mencoba untuk membuat Boy lebih perhatian padanya. Setidaknya itu yang diajarkan Kak Tiara, sepupunya, padanya.

Kata Kak Tiara, aku harus membuat Boy memperhatikan aku. Tapi gimana caranya? Selama ini kan dia sudah sering perhatian sama aku? Angel berpikir keras. Ia ingin mengatakan pada Boy kalau ia mencintai Boy tapi bagaimana caranya? Setiap waktu pemuda kecil itu selalu memberikan perhatian padanya. Akhirnya Angel mendapatkan ide dan langsung mempraktikkannya.

“Ya sudah deh… Kalau kamu marah, aku pulang saja…”

Boy yang tahu dengan akalakalan Angel langsung menutup bukunya dan memasukkan alat tulisnya ke kotak pensilnya. Ia hendak meraih tasnya tapi Angel menahannya.

“Tulisanku memang begitu…,” kata Angel mencoba membujuk Boy agar pemuda itu tidak pulang dan tetap menemaninya.

Kalau perlu, Angel ingin Boy menemaninya setiap saat tapi itu jelas tidak mungkin. Boy punya rumah sendiri. Boy juga punya keluarga tidak mungkin dia mau tinggal bersama Angel sementara dia sendiri memiliki semua itu.

“Tapi kamu bisa memperbaikinya agar kelihatan lebih rapi, kan?” Boy juga tidak mau kalah. Dia sudah hafal persis dengan setiap gerakan Angel dan dia juga tahu kalau Angel pasti akan melakukan apapun yang diinginkan oleh Boy.

Angel mengangguk dan menggeleng secara bersamaan membuat Boy membelalakkan matanya.

“Kamu bisa atau tidak?”

Boy menuntut jawaban dari Angel.

Lagilagi Angel mengangguk dan menggeleng secara bersamaan.

“Angel,” panggil Boy. Nada suaranya yang lembut seketika juga membuat Angel mengangguk dengan penuh keyakinan tanpa memikirkan apaapa.

“Gitu donk…”

Baru setelah Boy mengucapkan kalimat itu, Angel termenung. Ia tidak sengaja mengangguk tadi. Ia mengangguk karena Boy memanggil namanya bukan untuk menjawab pertanyaan Boy. Aduh!

Angel menggarukgaruk kepalanya. Ia tidak yakin bisa memenuhi keinginan Boy kali ini. Meskipun semua yang diinginkan Boy akan dilakukannya tapi kalau untuk mengubah tulisannya itu sedikit sulit. Mengapa? Karena Angel merasa malas untuk memgang pensil. Apalagi jika harus menggerakkannya hingga membentuk rangkaian tulisan yang indah. Ia merasa tidak akan sanggup melakukannya kali ini.

***

Hari Rabu…!

Langit tampak kurang bersahabat dengan penghuni bumi. Hujan deras diturunkan sejak dini hari pukul tiga. Angel seperti masih berada dalam mimpinya ketika ia merasa ada yang menggoyanggoyangkan tubuhnya.

Ia menggeliat dan membuka matanya dengan kecil untuk mengintip siapa yang membangunkannya dan langsung menutupnya rapatrapat setelah melihat wajah ibunya.

“Angel, bangun!”
Bukannya bangun Angel malah menarik selimut dan membungkus seluruh tubuhnya hingga kepalanya ikut tenggelam ke dalam selimut.

“Angel…!” panggil Ibunya sekali lagi.

Dengan kasar dibukanya selimut dari atas kepala dan mendongakkan wajahnya ke arah ibunya yang masih duduk di sampingnya.

“Angel masih mau tidur, Ma…,” rengeknya sambil merabaraba kasurnya mencari bantal guling yang entah sudah ditendangnya kemana.

“Kamu mau ke sekolah tidak?”

Angel terdiam. “Kalau Angel bilang nggak, apa Mama mau kasih?”

Anggukan kecil dari Ibunya sudah cukup memberi senyum lebar di wajah Angel. Ia hendak melanjutkan tidurnya lagi tapi langsung terperanjat dan duduk di tempat tidurnya.

“Tumben Mama mau kasi Angel bolos sekolah? Biasanya kan, Mama akan maksamaksa Angel buat ke sekolah…”

Angel menatap ibunya dengan tatapan penuh tanya. Ia memicingkan matanya saat mencoba membaca raut wajah Ibunya itu.

“Sudah ah… Angel masih ngantuk…”

Angel memperbaiki posisinya agar bisa kembali tidur tapi Ibunya menarik selimut dari tangannya.

“Kamu yakin gak mau ke sekolah?”

“Tuh kan, Angel udah tau pasti ada sesuatu…”

“Hari ini adalah hari terakhir kamu berangkat ke sekolah sama Boy…”

“Apa?! Mama bilang apa tadi?”

“Malam ini Boy akan berangkat ke Jepang bersama kedua orang tuanya…”

Angel menunduk. Bahunya yang semula berdiri tegak mendadak menjadi tak bertenaga. Air mata mengalir dari pelupuk matanya.

“Mama sudah bilang berulang kali sama kamu. Jangan pernah mendengarkan Tiara. Ini kan akibatnya…”

“Mama tahu apa?”

“Kamu suka sama Boy, kan?!”

Angel terisak.

“Sudah Angel. Jangan menangis lagi… Pergunakan waktumu baikbaik hari ini tapi ingat jangan ungkit masalah ini di depan Boy atau kamu juga akan kehilangan dia sebagai teman kamu… Jangan katakan padanya juga kalau kamu sudah tahu dia akan berangkat malam ini. Bangun, bersihkan tempat tidur, mandi dan cepatlah berpakaian. Boy pasti sudah menunggumu di bawah…”

Angel memandang ke luar jendela. Kenapa cuaca hari ini juga tidak bisa diajak kompromi? Kenapa hatiku juga terasa sakit saat mendengar semua itu dari Mama? Mama tahu kalau aku mencintai Boy tapi kenapa Mama melarangku untuk mencintai Boy?

***

“Hai…” sapa Boy saat Angel menuruni anak tangga.

Angel tidak menjawabnya. Tidak juga tersenyum padanya. Bagaimana ia akan tersenyum sementara dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam ia akan kehilangan sosok itu? Angel tidak bisa melakukannya.

“Kamu sudah siap berangkat sekolah, kan?!”

Angel mengangguk pelan. Sangat pelan hingga membuat Boy kembali melayangkan pertanyaan padanya.

“Apa kamu sakit?”

Angel menggeleng.

“Wajahmu pucat dan matamu kelihatan bengkak. Apa kamu habis menangis? Siapa yang mengganggumu? Ayo, katakan padaku. Aku akan menghajarnya dengan tinjuku ini…,” ucap Boy sambil melayangkan kepalan tangannya ke udara. Kepalanya yang tidak ditumbuhi rambut sehelasi pun ikut bergoyang.

Tanpa mempedulikan pertanyaan Boy, Angel berjalan ke luar dan langsung naik ke mobil. Ia bahkan tidak menghiraukan teguran Tante Lina, Ibu Boy yang menyapanya begitu ia membuka pintu mobil.

Sepanjang perjalanan mereka berdua lebih banyak diam. Tidak sama dengan harihari biasanya. Harihari kemarin Angel akan berceloteh panjang lebar tentang pelajarannya di sekolah dan juga tentang temantemannya yang suka mengusilinya. Berbeda dengan hari ini, tidak ada sedikit ocehan pun yang keluar.

Jika Tante Lina mengajukan pertanyaan, Angel hanya menjawab seadanya. Padahal biasanya, Angel akan banyak bicara. Mengunkit soal ini, soal itu, bahkan sekalipun obrolan itu tidak nyambung, Angel seakan tidak mempedulikannya yang penting ia bisa melihat senyum di wajah Boy. Bagaimana sekarang?

Angel terpaku dan menatap langit hitam dari kaca jendela. Suasana hatinya sama buruknya dengan cuaca hari ini. Apalagi yang bisa diharapkannya? Sudah tidak ada.

Mobil yang dikendarai Tante Lina memasuki area parkir sekolah. Angel dan Boy turun bersamaan. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Tante Lina, Angel berjalan masuk ke dalam kelas dan Boy mengikutinya dari belakang.

“Kalau kamu sakit harusnya gak usah dipaksakan masuk sekolah…”

Sakit? Mungkin Boy benar. Ia sedang sakit. Tapi bukan jiwanya yang sakit melainkan hatinya. Kenyataan bahwa tinggal beberapa jam lagi Boy akan meninggalkannya dan terbang ke Negeri Sakura sungguh meresahkan pikirannya.

Angel mempercepat langkahnya berusaha tidak mengindahkan panggilan Boy di belakangnya. Beruntung di belakang mereka ada Ibu Stela jadi Boy tidak memanggilnya lagi.

Dalam kelas, Angel tetap masih tidak ingin berbicara dengan Boy. Ia tahu yang dikatakan oleh Ibunya itu benar. Ia harus memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaikbaiknya atau kalau tidak ia akan kehilangan kesempatan itu, mungkin untuk selamanya.

***

Boy memegang bibirnya yang masih terasa hangat. Angel baru saja menciumnya tepat di bibirnya. Gadis yang selalu dianggapnya sebagai gadis kecil itu telah memberikan ciuman pertamanya pada Boy dan ciuman pertama Boy juga telah terenggut oleh gadis kecil dengan nama Angelia itu. Lebih parahnya lagi, gadis itu menciumnya di taman sekolah saat jam istirahat.

“Apa yang kau lakukan?!” tanya Boy dengan wajah yang memerah dan suara yang tertahan.

“Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku mencintaimu, Boy… Aku tidak ingin kehilanganmu…”

“Kau sudah gila, Angel. Apa kau sadar kalau kita baru berumur sepuluh tahun?”

“Apakah cinta mengenal usia?”

Angel sedikit terkejut sesaat setelah ia mengucapkan pertanyaan itu. Sebelumnya ia hanya mendengar kalimat seperti itu dari sinetron yang selalu ditontonnya di televisi dan sekarang dengan penuh keyakinan, ia menanyakan hal itu pada Boy.

Boy tidak menjawab. Ia mengulang pertanyaan Angel kembali dalam hatinya.

“Kita samasama belum dewasa, Angel. Ini adalah kesalahan… Tidak mungkin kamu mencintaiku…,” bantah Boy dengan tegas.

“Kenapa? Kenapa kamu bilang ini bukan cinta?”

Angel menangis dengan kencang membuat beberapa pasang mata yang duduk di taman itu menoleh. Seakan tidak peduli dengan banyaknya tatapan mata yang memperhatikannya, Angel mengulangi pertanyaannya lagi.

“Kenapa aku tidak boleh mencintaimu?”

Boy mengacakacak rambutnya. “Kita masih terlalu kecil untuk tahu apa itu cinta, Angel…”

“Aku tahu apa itu cinta. Aku sering menonton di televisi dan perasaan yang aku rasakan padamu ini, betulbetul cinta, Boy. Ini sungguhan bukan mainan…”

Angel setengah berteriak.

“Kita juga tidak akan bisa bersama…,” kata Boy.

“Nggak bisa karena kamu akan berangkat ke Jepang, begitukah?! Kamu bahkan tidak memberitahukan apaapa padaku dan akan meninggalkanku begitu saja. Apa bagimu aku ini orang yang tidak penting?”

“Bukan begitu, Angel… Aku … aku …”

Boy tidak bisa mengeluarkan katakatanya lagi. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan suara yang keras. “Cinta yang kamu rasakan ini hanya cinta monyet, Angel…”

“Bukan… Cintaku ini bukan cinta monyet…”

Angel menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ia tidak ingin mendengar apapun yang dikatakan oleh Boy lagi tapi kemudian pemuda itu malah mendekat padanya dan memegang kedua tangannya yang masih menempel di telinganya.

“Aku berencana mengajakmu makan siang untuk memberitahukan keberangkatanku ke Jepang tapi ternyata kamu sudah lebih dulu mengetahuinya, Angel…  Aku menganggapmu sebagai sahabatku dan itu tidak lebih…”

Boy mencoba bersikap dewasa untuk menenangkan hati Angel tapi sepertinya gadis kecil itu sudah tidak ingin mendengarkan lagi. Angel lari masuk ke dalam kelas.

CERMIN LAIN 


Kimono tidur seksi, cocok untuk yang sudah berkeluarga maupun yang belum.  Bisa untuk hadiah pasangan (pacar, istri maupun selingkuhan :gasp: lingerie ada juga lho :shy-shy cat:) @Rp. 120.000/pcs belum ongkir :wink:
-rahasia terjamin-)
Hub : 081246671304 atau Pin 32FDE75E atau di drama.story@yahoo.com a/n Shin Haido



32 comments:

  1. sist ILiana Lin... ceritanya nanggung......... endingnya masih dipertanyakan.... hm.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa yaaa ... Jadi gimana dong ??? Sambungannya di bLog aQ aja seperti kemaren ato aQ kirim ke kamu Lagi buat dipost disini ???

      Delete
    2. Thanks yaaa udah dipost ceritanyaaa ... Bagi yang mau memberikan komentar ,,, siLakan aja ... Ditunggu juga komen"nya disini yaaa ...

      Delete
    3. ya lain kali dicoba aja bikin cerpen yang ada endingnya. karena kalau nanggung lama2 pembaca dari kepo jadi kebo ntr.. ahhahaha.. peace.... btw tema berikutnya poligamy nih... :kedip-kedip: kyk fatonah itu lhoh... wkkwkwkwk

      Delete
    4. Sebenarnya bukan nanggung tapi aQ emang mau pembaca mikir akhirnya sendiri ... kLo ada yg minta diLanjutkan versi aQ baru aQ Lanjutkan kLo nggak yaaa gak aQ Lanjutin ... Kayak fiLm City Hunter itu Lho ... ^

      Tapi sepertinya reader Lebih seneng baca yang Langsung ada endingnyaaa yaaa ... KLo gitu yg berikut"nyaaa akan ada endingnya deh ...

      Hahahaha ... Ada" aja deh Mbak Shin ... Ok !!! Thanks buat masukannya dan siap ide buat tema berikutnyaaa ...

      Delete
    5. Mungkin endingnya jangan dibuat pas seperti ini, bagaimana kalau dibuat endingnya si Angel ngeliatin Boy pergi untuk yang terakhir kalinya dari rumahnya lewat jendela kamarnya. seolah memperlihatkan perpisahan mereka seperti itu dan bukannya digantung gak jelas, krn kalau menurutku itu seperti memotong bagian ending, seperti dia belum ending.

      kalau endingnya seperti yang aku bilang diatas, ceritanya pun masih bisa dilanjutkan dengan membuat chapter baru hidup mereka. pembaca pun masih akan menerka-nerka bagaimana kehidupan mereka di masa depan, apakah mereka akan bertemu lagi dan apakah cinta monyet ini akan menjadi cinta gorila.

      kl km membuat endingnya seperti ini, pertanyaan yg ada di kepala pembaca menurutku adalah :

      1. jadi gak tuh si boy pergi ke Jepang?
      2. masih temenan gak tuh Angel n Boy
      3. bisa baikan gak mereka atau setidaknya ada kabar sampai sekolah terakhir mereka bersama terceritakan. begitu...

      dan semangat ya sist untuk membuat cerpen tema selanjutnya. Hwaiting!!

      oh ya, terima kasih banyak jg udah ikut menyumbangkan hasil karya pikiranmu disini ya. semoga selalu diberikan kesehatan dan semangat yg tinggi untuk selalu berkarya. amin!!

      Delete
    6. Iyaaa nih ... Lagi dibuat Lanjutannya ... Thanks buat masukannya ...

      Delete
  2. Iya.. Sis Iliana ni klo bwt crita sring nanggung..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan nanggung sebenarnya sis tapi aQ ingin reader berpikir akhirnya kayak gimana seperti fiLm City Hunter itu ... Hehehe ... Mianhae yaaa ... Sepertinya banyak yang suka kLo ada endingnya yaaa ... Cerita berikutnya janji deh ada endingnyaaa ... Thanks Mendy ...

      Delete
  3. ayo yang lain pada komen donk. tunjukkan apresiasi kalian pada penulis. biar makin semangat nulis dan kritikannya agar karya2 kami bisa menjadi lebih baik lagi.

    kalau misal gak bisa mosting disini karena mungkin eror dan komen gak masuk, bisa kirimkan komennya ke drama.story@yahoo.com nanti biar saya yang posting disini. okeh??? :kedip-kedip:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditunggu untuk komen" seLanjutnyaaa yaaa ... Terima kasih semua ...

      Delete
  4. mba,endingnya nanggung..
    ada lanjutannya ga mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada di blognya sits ILiana Lin kyknya. nanti coba dicek kesana :D

      Delete
    2. Iyaaa ... Lanjutannya akan segera seLesai koQ ... Nih masih sementara dijaLanin ... Sabar aja yaaa ... Pasti aQ kasi tahu koQ kLo udah ada Lanjutannya ...

      Delete
  5. Hahahaha,,,aseeekkkkkkk Mba Ciiiinnnnnnn,,,
    Ummmm,,Vie udh bc,,udh bc n sklias dr jdul smpt mkir mgkn si cwe yg bkln brjuang bwt ykinin org2 n ngsh tw klo cntany bkn cnta monyet,,trnyt dy ngmg gt k Boy,, hahahaha trkecoohhhh sm jdul,,, xixixixi

    Ummm,,iyh jg yah,,dinget2 sm crta Mba Lin nanggung,,xixixi tp keyen jg sih ideny mw dbkin nanggung,,soalny kdg crta nanggung seru jg,,*pembelaan*
    Hahahaha (soalny Vie jg sneng bkin crta nanggung :p )

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa... belum kelar artinya cerita ini vie... yah, kadang buat bikin cerita 20 page itu melelahkan... aku aja belum bikin. ahahahaha......

      Delete
    2. Hehehee ... Tapi kLo aQ sepertinya udah keseringan deh buat nanggun ... Tengok aja coba di bLog aQ rata" ngegantung gitu ... Bukannya kehabisan ide sih penuLis buat cerita nanggung tapi pengen Lebh buat reader penasaran aja ...

      Delete
  6. Replies
    1. ditunggu aja may, siapa tahu sist ILiana mau bikin endingnya spesial ;)

      Delete
    2. Pasti koQ ... Ditunggu aja yaaa ... PaLing Lambat hari Kamis deh ...

      Delete
  7. Sebetulnya bagus2 sih mbak, tapi kl reader disuruh mikir, mmmmm?!? soalnya putus di adegan paling seru jd bukannya kepikiran malah jd ga mood buat mikir...kl kaya gini kan jd nebak sana sini... :D

    Peace ya :o

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha putusnya dibagian klimaksnya ya sist? ihihihi.. apa coba...

      Delete
    2. Oh gitu yaaa ... Berarti Lain kaLi aQ sebeLum buat cerita harus mikir kLo aQ ada di posisi reader jua kaLi yaaa ... Hehehehe ... ^

      Thanks buat masukannya yaaa ... Makasih buat Mbak Shin yang udah bantu ngejawab komen" nyaaa nih ..

      Delete
  8. Waaaah
    Lanjutin donk pliiisss
    Kentang nihh
    Ahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... ayo mana nih authornya.. ada yg minta lanjut... bikin bab 2 aja sist +Iliana Lin

      Delete
    2. Iyaaa ... PaLing Lambat hari Kamis yaaa ...

      Delete
  9. Setuju......lanjut please....
    penasaran pas gedhenya...hehee..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduwh ,,, mau sampeee yg gedenyaaa yaaa ... Ok deh ntar diusahakan ... Thanks yaaa buat komennyaaa ...

      Delete
  10. endingnya gantung bgt ah
    ebuset si angel msh kecil main nyosor2 aja
    jdi dewasa sblm waktunya kan gara2 kebanyakan nonton sinetron hihi
    jdi gimana hubungan mrka selanjutnya?
    boy cma nganggep temen tp angelnya nganggep cinta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa tuh ... Gara" kebanyakan nonton sinetron sama pengaruh dari sepupunya Tiara juga ... Hehehehe ...

      Tunggu keLanjutannya yaaa ... Thanks buat komentarnyaaa juga ...

      Delete
  11. Ini Link untuk Lanjutannya yaaa ...

    http://iliana-lin.blogspot.com/2013/06/cintaku-bukan-cinta-monyet-part-2.html

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.