"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, June 11, 2013

CERMIN 15 - CINTA MONYET SERIES - Sahabat oleh Hevi Puspitasari

Story by +vie puspitasari 


“Bu Anin!” panggilan itu membuat Anin berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, seraya tersenyum Anin membalas panggilannya.

“Hei Lisa, mau makan siang juga?” ajak Anin sambil menunggu wanita yang dipanggil Lisa mendekati Anin sambil membawa sebuah undangan cantik berwarna pink.

“Iyah, sekalian mau ngasih Ibu ini,” Lisa pun menyodorkan undangan yang sedari tadi menjadi perhatian Anin.

“Undangan? Buat saya?” tanya Anin mencoba meyakinkan dirinya melihat nama yang tertera di undangan, Anindya Maharani, itu benar namanya, tetapi dia masih belum mengerti mengapa undangan itu untuknya, karena tidak ada yang tahu alamat lengkap kantor barunya ini, kecuali keluarganya.


Anin membuka undangan, dan terhenyak membaca isi undangan yang ternyata berisi undangan reuni sekaligus undangan pernikahan yang dijadikan satu, sebelum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya, Anin merasakan handphonenya bergetar, terdiam sejenak melihat Caller ID yang tertera di layar.

“Anin, lo udah terima undangan gue kan?” tanya seorang wanita di seberang sana tanpa mengucapkan kata ‘Halo’, Anin meringis mendengar suaranya, dia selalu bersemangat, masih saja sama.

“Hai, Fa,” sapa Anin pasrah dan memberikan tatapan maaf kepada Lisa karena harus menjawab telepon terlebih dahulu, dan Lisa pun meninggalkan Anin menuju kantin, “Iyah, udah gue terima.”

“Jahat lo yah, pindah kantor ga ngabar-ngabarin, klo ga karena gue ketemu sama Nyokap lo kemarin siang, undangan gue pasti bakalan balik lagi karena lo udah ga di kantor lama,” cerocosnya tanpa henti, aku hanya tersenyum membayangkan ekspresi wajahnya,”Dateng yah, harus dateng loh, gue ga peduli lo sekarang di Surabaya, pokoknya lo harus dateng,” perintahnya, selalu saja main perintah, Anin menggelengkan kepalanya.

“Tapi, Fa,” kata-kataku langsung terpotong.

“Ga ada tapi-tapian! Pokoknya sabtu depan lo harus ada di sini, gue bakalan urus tiket lo, semua pasti udah beres, yang jelas lo harus dateng. Gue sengaja bikin acara reuni sekalian di nikahan gue, biar semua pada dateng ga peduli si Dita yang juga lagi di luar negeri,” protesnya tanpa membiarkanku menjelaskan keadaanku, “Udah yah, kasihan Pandji nungguin gue kelamaan, lusa lo udah terima tiket lo, dan lo ga bisa menghindar lagi,” begitu mendengar nama Pandji disebut, Anin merasa hatinya teriris.

“Ya udah kalo gitu,” Anin pasrah mendengar semua perintah Hanifa Ardiyanti, sahabat sekaligus calon istri lelaki yang pernah dicintainya, cinta monyetnya, Pandji Ruspandji.

“Bagus, oke sampai ketemu minggu depan,” pamit Hanifa tanpa perlu repot-repot mendengar jawaban Anin, dia langsung menutup teleponnya, sedangkan Anin hanya bisa menghela nafas pasrah.

-------

“Oke, Anin dan Dita udah, sekarang tinggal kamu urus teman-teman kamu, aku ga mau pesta kita ga lengkap karena ketidakhadiran mereka, bagaimanapun mereka yang udah berjasa banyak di hubungan kita,” jelas Hanifa, yang biasa dipanggil Nifa, setelah menutup teleponnya kepada Pandji, tunangannya juga calon suaminya yang sedang merangkul mesra dirinya.

“Iya, sayang. Urusan mereka mah gampang, mereka pasti datang,” Pandji meyakinkan Nifa, mengetahui calon istrinya memang tipe perfeksionis, dia tidak mau ada satu hal kecilpun yang luput.

“Makasih, yah Sayang,”ucap Nifa sambil mencium pipi Pandji yang tersenyum.

“Sama-sama Sayang,” Pandji pun membalas ciuman Nifa, tetapi bukan di pipi, di bibir manis Nifa, bibir manis yang selama ini dia kecup tanpa bosan, hingga akhirnya Nifa setuju untuk menikah dengannya 8 bulan lalu setelah berpacaran selama 11 tahun.

-------

Sesampainya di Apartemen, Anin gamang, seraya memandang undangan yang tergeletak di meja dekat tas kerjanya, Anin merasa tersedot kembali ke masa lalu, masa-masa SMPnya.

“Anin! Lo ga apa-apa?” tanya Hanifa setelah Anin terkena lemparan bola basket yang tak sengaja mengenai kepalanya sambil membantu Anin berdiri.

“Ga apa-apa,” jawab Anin sambil meringis menahan sakit.

“Maaf, lo ga apa-apa khan?” suara bass lelaki menyadarkan Anin dan Nifa bahwa ada orang lain.

“Heh! Lo kalo maen basket yang bener dong! Sengaja lo yah ngenain temen gue?!” protes Nifa mengagetkan lelaki yang menyapa mereka.

“Ga, gue ga sengaja, beneran deh. Maaf, lo ga apa-apa khan?” tanya lelaki itu lagi sambil memperhatikan Anin lebih seksama, mencoba mencari bekas luka yang diakibatkan lemparan bola basketnya.

“Ga, gue ga apa-apa,” Anin sempat terkesima melihat lelaki di depannya, tinggi, putih, bersih, alis tebal, hidung mancung, dan senyum mautnya membuat Anin sempat merasa ini semua mimpi, dia Pandji Ruspandji, teman satu kelas Anin, tetapi baru kali ini mereka bisa berinteraksi sedekat ini dengan Pandji.

“Ga apa-apa gimana!! Bunyinya aja keras gitu tadi, ayo kita ke UKS,” ajak Nifa menyadarkan Anin yang sempat terbengong-bengong, “Dan lo harusnya bantu gue bawa Anin ke UKS!” perintah Nifa dan mereka langsung membawa Anin ke UKS tanpa menyadari detak jantung Anin yang berdetak kencang.

“Untung hari ini hari terakhir kita masuk sebelum liburan kenaikan kelas, kalo enggak, gue ga yakin lo kuat masuk besok Nin,” Nifa berkata itu bermaksud menyindir Pandji yang sedari tadi hanya terdiam, tetapi Pandji tak mengerti maksud dari pernyataan Nifa sesaat setelah mereka meninggalkan UKS.

“Kuat gue, Fa. Ga usah lebay gitu deh,” ingat Anin sambil memperingatkan Nifa melalui matanya, Anin tahu pasti maksud pernyataan Nifa.

“Gue bener-bener minta maaf, gue ga ngeh lo ada di situ tadi,” jelas Pandji meminta maaf tulus.

“Iya, ga apa-apa ko. Udah duluan sana, lo pasti dicariin sama temen-temen lo,” perintah Anin sedikit memaksa, dan seperti menyadari sesuatu, Pandji pun segera pamit.

“Ya udah kalo gitu, gue duluan yah,” pamitnya sambil setengah berlari menjauhi mereka, sementara Anin masih memandangi punggung Pandji hingga menghilang di ujung lorong.

Suara dering telepon menyadarkan Anin, mengembalikannya kembali ke masa kini. Dengan malas Anin mengangkat telepon setelah sebelumnya membaca Caller ID yang tertera di teleponnya.

“Iya, Mah,” sapanya menggantikan kata ‘Hallo’.

“Kamu udah pulang, sayang?” tanya Rini, Ibu Anin, setiap hari Ibunya memang mengecek keberadaan Anin, mencoba menunjukkan rasa sayangnya walau terbentang jarak, yang terkadang membuat Anin merasa masih anak-anak, padahal jelas sekali dia sudah berumur 26 tahun.

“Udah, Mah,”jawab Anin sambil merebahkan badannya di ranjang.

“Pasti belum mandi,” tebak Mamahnya tepat.

“Iyah, baru aja sampe,” jelas Anin berkilah, malas berdebat dengan Mamahnya.

“Ya udah klo gitu, mandi dulu sana, nanti Mamah telepon lagi. Oh ya, hampir lupa, kemarin Mamah ketemu Hanifa, dia tanya kamu, jadi Mamah bilang kamu udah pindah ke Surabaya, dan langsung ngasih alamat kantor kamu, ga apa-apa khan?” tanya Rini, sedikit banyak dia tahu hubungan Anin dengan teman-temannya, termasuk alasan utamanya menerima tawaran pindah ke Surabaya 8 bulan lalu.

“Ga apa-apa koq, Mah,” belanya walau jelas sekali Anin merasa tak begitu senang akan keputusan Mamahnya yang tak meminta pendapatnya terlebih dahulu.

“Udah waktunya kamu berdamai dengan kenyataan sayang,” Rini mengucapkan itu dengan simpati, merasa sudah waktunya Anin menghadapi kenyataan.

“Iyah, Mah,” dengan pasrah Anin menutup teleponnya, merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan.

Berniat untuk mandi, Anin menuju kamar mandi, dan menyalakan shower, membiarkan air hangat mengalir ke setiap jengkal tubuhnya, menghangatkannya, membuatnya sedikit terlena, terbayang kembali kenangan masa SMPnya.

“Anin!” panggil lelaki di belakangnya, Anin pun menoleh dan mendapati Pandji yang mengeluarkan senyum khasnya ke arahnya, “Hei, udah lihat daftar kelasnya? Ga nyangka kita sekelas yah,” lanjutnya membuat Anin terkejut.

“Hah? Masa?” tanya Anin tak percaya sambil memperhatikan deretan nama di papan pengumuman yang penuh sesak anak-anak lain.

Hari ini hari pengumuman daftar kelas setelah liburan kenaikan kelas mereka, betapa terkejutnya Anin mendapati omongan Pandji benar, dia 1 kelas dengannya.

“Bagus deh, tadinya udah panik ajja ga ada yang 1 kelas, celoteh Pandji riang, “Kita duduk 1 bangku, ga apa-apa khan?”
“Hah? 1 bangku?” Anin merasa bodoh karena tidak mengerti arah pembicaraan Pandji, bagaimana bisa dia 1 bangku, dekat saja tidak selama 1 tahun belakangan kemarin.

“Iyah, 1 bangku. Atau lo 1 kelas sama teman lo yang lain?” tanya Pandji sedikit murung.

“Enggak, Nifa sama Dita masuk kelas 2-1,” jelas Anin sambil menggelengkan kepalanya.

“Jadi, lo mau duduk 1 bangku sama gue 1 tahun ke depan?” ajaknya tanpa melepaskan senyuman khasnya, senyuman yang membuat hati Anin meleleh, dan tanpa sadar Anin menganggukkan kepalanya, yang seketika itu juga disambut tawa riang Pandji.

Sejak saat itu, mereka semakin dekat, menjadi teman curhat satu sama lain, Pandji bahkan mengenalkan Alex dan Rifai, teman dekatnya ke Anin, Nifa dan Dita, mereka berenam semakin dekat, mereka selalu menyempatkan diri untuk pergi bersama-sama, membuat mereka semakin tak terpisahkan satu sama lain, hingga kelulusan mereka di SMP.
-------

Memutuskan untuk makan siang bersama para Personal Asistennya, Anin mengikuti mereka menuju sebuah rumah makan bergaya sunda, dengan mengusung tema lesehan di dekat kantornya. Setelah memesan makanan yang ingin mereka makan, Anin pamit ke toliet rumah makan tersebut, berniat untuk mencuci muka serta tangannya, ketika melihat ke cermin besar di depannya, Anin melihat wajahnya kuyu, dia tidak bisa tidur semalaman, terkenang kembali masa-masa bahagia mereka berenam saat masih SMP.

Ketika masih sibuk dengan pikirannya sendiri, samat-samat Anin mendengar lagu yang sedang diputar di rumah makan tersebut.

Oh sobat, maafkan aku mencintainya
Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti
Oh sobat, maafkan aku mencintainya

Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti
( Padi - Sobat)

Anin tersentak, dia familiar dengan lagu ini, sangat, karena lagu inilah yang terdengar ketika dia mendapat telepon dari Pandji yang memberitahukan kenyataan pahit, kenyataan yang membuat angan-angannya hancur, dan bagai tersedot ke masa lalu, Anin terbayang kembali saat itu.

“Anin, gue suka sama Nifa,” ucap Pandji ditelepon setelah Pandji menanyakan apa yang sedang dilakukan Anin sebelum Pandji menelepon. Ucapan Pandji bagaikan sembilu yang menyayat tajam hatinya, menghancurkan jiwanya, memasukkan raganya ke dalam lubang gelap tak berdasar.

Sobat, aku sungguh tak mengerti
Semua ini bisa terjadi
Setelah perkenalan itu aku terhanyut
Aku seberat-beratnya tak kuasa
Dambakannya, rindukannya
Kutahu dia milikmu tercinta
Sebagai kembang yang kaupilih
Namun hatiku, hatinya, mengisyaratkan rasa
Ingin memetik, melangkah, menjadikan ikatan abadi oh...
Dambakannya, rindukannya


“Anin! Lo denger ga sih?” Pandji setengah berteriak ketika mendapati Anin yang terdiam di seberang sana.

“Hah? Apa? Maaf Ji, gue ga ngeh lo ngomong apa,” jawab Anin menutupi kehancurannya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia salah dengar.

“Gue suka sama Nifa, menurut lo klo gue tembak dia minggu depan pas perpisahan SMP dia nerima gue ga yah?” ulang Pandji sabar, membuat otak Anin blank, kosong.

Oh sobat, maafkan aku mencintainya
Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti
Oh sobat, maafkan aku mencintainya

Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti

“Anin!! Lo lagi ngapain sih? Gue serius ini!” protes Pandji menyadari Anin yang tidak mendengarkannya, mencoba mengembalikan fokus Anin ke dirinya.

“Dicoba dulu aja, jodoh ga kemana khan?” jawab Anin, pahit.

“Klo gue ditolak gimana?”

“Lo ga bakalan tahu sebelum lo mencoba khan?” dukung Anin walaupun kenyataannya dia sedang berusaha keras menahan tangisnya supaya tidak meledak.

Kucoba menahan himpitan rasa itu
Merajam keruhnya jiwaku
Ternyata hidupku dan dirinya terikat rasa tulus
Tak 'kan menyusutkan pelukku dan rindunya
Dambakannya, rindukannya

( Padi - Sobat)

“Bu Anin,” panggil Lisa, PA Anin, menyadarkannya, mengembalikannya ke masa kini, “Ibu ga apa-apa?” tanya Lisa sambil memperhatikan wajah atasannya itu lebih seksama.

“Iyah, ga apa-apa koq. Makanannya udah datang?” tanya Anin mencoba mengembalikan dirinya.

“Belum, Bu, padahal kita-kita udah lapar” jawab Lisa dengan wajah murung.

“Oh, ya sudah kalau gitu, saya duluan yah,” pamit Anin meninggalkan Lisa di toilet dan menuju mejanya, samat-samat dia masih mendengar lagu itu.

Oh sobat, maafkan aku mencintainya
Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti
Oh sobat, maafkan aku mencintainya
Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti
Dambakannya, rindukannya
Oh sobat, maafkan aku mencintainya
Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti
Oh sobat, maafkan aku mencintainya

 Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti
( Padi - Sobat)
-------

Pada akhirnya, Pandji menembak Nifa saat perpisahan SMP itu, Anin dibantu Alex merancang waktu yang pas untuk Pandji dan Nifa, membuat semuanya senyata mungkin, tak mau membuat Nifa kaget dan justru menghindar. Di sela-sela kegiatannya, Alex mencoba berbicara dengan Anin, dia tahu betul bagaimana perasaan Anin kepada Pandji walaupun yang lain tak memperhatikan, tetapi Alex tau, Anin menyukai Pandji dan sekarang dia harus mengubur jauh-jauh perasaannya demi kebahagiaan sahabatnya.

“Anin, lo ga apa-apa?” pertanyaan Alex membuat Anin menghentikan gerakannya, menoleh, menatap mata bening Alex dan mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang ada di benak Anin sekarang, kenapa Alex bertanya demikian? Apa perasaannya tertangkap jelas oleh Alex? Apa Alex tahu semuanya?

“Gue? Kenapa sama gue?” tanya Anin mencoba kuat dan berusaha keras terdengar acuh.

“Jangan bohong sama gue, gue tahu lo suka sama Pandji, bahkan sejak kalian duduk di kelas yang sama masa-masa orientasi dulu,” jelas Alex membuat Anin lupa untuk bernafas.

“Ngarang, jangan ngasal deh Lex, klo anak-anak yang lain denger nanti jadi salah paham,” kilah Anin sambil mengalihkan pandangannya dari mata bening Alex yang dirasanya mampu menelaah jauh ke dalam jiwanya.

“Gue ga ngasal, Nin. Gue tahu pasti gimana perasaan lo, gue selalu merhatiin lo selama ini, dan yang gue lihat ada binar-binar bahagia di mata lo setiap lo ngelihat Pandji. Temen lo yang laen mungkin ga tahu, tapi gue tahu, Nin. Gue yakin banget lo suka sama Pandji,” jelas Alex menahan langkah Anin, dengan pasrah Anin membalikkan tubuhnya dan tersenyum.

“Iyah, gue suka sama Pandji, Lex. Tapi, gue sadar siapa gue, gue ga semenarik Nifa, gue ga sepintar Nifa, dan yang pasti gue ga secantik Nifa, cuma ini yang bisa gue lakuin demi orang-orang tersayang gue, gue ikhlas Lex,” jelas Anin tanpa melepaskan senyumnya, mencoba ikhlas dengan keadaan.

“Lo yakin?” tanya Alex lagi.

“Yup! Gue yakin,” Anin menjawab dengan seriang mungkin padahal hatinya menjerit, menangis meraung-raung.

“Nin,” panggil Alex sambil memegang bahu Anin dengan kedua tangannya, “Ini hari terakhir kita ketemu, gue mau ngomong sesuatu,” Alex meminta izin Anin, mencoba membuang semua pikiran-pikiran aneh setelah dia mengatakan semuanya pada Anin.

“Kenap Lex?” jawab Anin bingung mendapati tangan Alex yang mencengkram bahunya sedikit gemetar dan mendongak menatap Alex yang lebih tinggi darinya, bahkan lebih tinggi dari Pandji, mencoba menghilangkan semua pikiran anehnya, Anin memfokuskan diri kepada Alex.

“Gue suka sama lo,” akhirnya Alex mengatakan semuanya, seraya menghela nafas lega, Alex melepaskan pegangannya pada bahu Anin,

“Jangan bercanda, Lex. Lo ngelakuin ini karena kasihan sama gue khan? Ga usah repot-repot Lex,” Anin merasa sedih, dia tidak menyangka Alex akan melakukan ini semua. Dia sudah mendengar semuanya, dia tahu Alex memang akan melanjutkan SMAnya di Australia karena Ayahnya dipindahtugaskan di sana, mungkin ini reaksi spontannya karena tidak mau berpisah dengan sahabatnya di sini, setidaknya itulah yang dipikirkan Anin.

“Ga, gue ga bohong dan gue ga ngelakuin ini karena kasihan sama lo. Ini hari terakhir gue di sini, gue bener-bener serius suka sama lo, gue ga mengharapkan lo ngebalas perasaan gue, gue cuma mau lo tahu, walaupun kita bakalan terbentang jarak, gue tetep bakalan jaga perasaan gue ke lo. Gue ga peduli orang bilang ini cinta monyet atau apapun itu, tetapi gue bakalan jaga dengan sepenuh hati gue, cinta gue ke lo,” jelas Alex tanpa melepaskan tatapannya dari Anin.

-------

“Anin! Dita! Gw ga mimpi khan? Ini semua nyata khan? Pandji beneran nembak gw khan tadi?” tanya Nifa di toilet sekolah sesaat setelah pernyataan cinta Pandji diterima Nifa.

“Iyah, lo ga mimpi Fa, lo beneran ditembak sama Pandji,” jelas Anin sabar menekan rasa sakitnya.

“Dan sekarang lo resmi jadi pacar Pandji!” dukung Dita sangat bersemangat sambil memeluk erat Nifa, senyum dan tawa riang tak lepas dari wajah mereka. Anin mencoba kuat menyaksikan itu semua walaupun dadanya terasa sesak, sakit, sangat.

“Anin, makasih yah,” ucap Nifa tulus setelah melepaskan pelukan Dita.

“Hah? Koq terimakasih sama gw?” tanya Anin bingung.

“Iya, kata Alex lo yang ngebantu dia bikin acara penembakan ini, makasih lo udah jadi sahabat baik gw,” jelas Nifa sambil memeluk Anin, dan Anin membalas pelukannya dengan canggung.

“Iyah, Fa,” jawab Anin menahan tangis, merasa tidak boleh menunjukkan kesedihannya, Anin menghapus tangisnya diam-diam.

“Gue sayang kalian berdua,” jelas Nifa setelah melepaskan pelukannya dari Anin.

“Berpelukaannn!!” teriak Dita sambil memeluk mereka berdua, dan mereka tertawa bersama, tanpa ada yang menyadari Anin yang berjuang keras menahan tangis.

Oh sobat, maafkan aku mencintainya
Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti
Oh sobat, maafkan aku mencintainya
Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti
Dambakannya, rindukannya
Oh sobat, maafkan aku mencintainya
Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti
Oh sobat, maafkan aku mencintainya

 Aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti
( Padi - Sobat)
-------

Anin terbangun dari mimpinya, tapi, itu bukan mimpi, itu benar-benar kejadian nyata yang tidak pernah bisa Anin lupakan, karena tepat di hari itu, dua orang yang sangat dia sayangi akhirnya resmi berpacaran, perlahan rasa sakit yang dia rasakan di hari itu memudar, menyamarkan rasa bahagia yang dia rasakan karena kebahagiaan Nifa dan Pandji. Tetapi, dia mengutuk dirinya sendiri hingga membuat Alex bisa mengatakan itu semua. Dia merasa sangat bersalah, karena sejak kejadian itu Alex benar-benar menghilang, hanya Pandji dan Rifai yang bisa berhubungan dengannya, tidak dengan dirinya, Dita ataupun Nifa sekalipun yang notabene berstatus pacar Pandji.

Hal itu membuat Dita bertanya-tanya, hingga akhirnya dia memberanikan diri bertanya pada Anin. Pada awalnya Anin ragu, tetapi akhirnya dia mengatakan semuanya kepada Dita, mengenai perasaannya kepada Pandji, perasaan Alex kepadanya, dan perasaan bersalahnya kepada Alex. Dita memaklumi Anin, tidak pernah sekalipun Dita menyalahkan Anin, dia justru menjadi kekuatan Anin ketika mereka berlima bertemu setiap minggunya, karena mereka masuk SMA yang berbeda kecuali Pandji dan Nifa, yang tanpa bisa dipungkiri, Anin akan terus melihat kemesraan demi kemesraan yang diperlihatkan Pandji dan Nifa ketika mereka bertemu, tanpa menyadari ada hati yang terluka. Walaupun Anin sudah mencoba sekuat tenaga untuk menghilangkan rasa sayangnya kepada Pandji demi Nifa, tetapi ternyata dia gagal, dan dia hanya bisa pasrah menerima kenyataan pahit itu.

Lamunan Anin terhenti karena dering telepon, sambil merutuk kesal karena masih dini hari dan sudah ada yang menganggunya, Anin meraih teleponnya dan langsung sumringah melihat Caller ID yang tertera di layar.

“Dita! Gue kangen sama lo!” cerocos Anin senang.

“Hei, pelan-pelan klo ngomong, di sana masih dini hari khan?” Dita mengingatkan Anin yang terlampau senang.

“Hehehe, maaf,” pinta Anin senang, “Gimana kabar lo?” lanjut Anin sambil duduk.

“Baik, gue ganggu lo yah? Beda berapa jam sih kita? Apa gue telepon nanti aja?” tanya Dita terdengar ragu.

“Ga, ga apa-apa. Kenapa Ta? Lo udah lama ga nelpon gue.”

“Iyah, maaf, gue agak sibuk minggu-minggu kemarin. Umm, lo udah terima undangan Nifa?” tanya Dita hati-hati.

“Udah, Ta,” jawab Anin parau, mencoba menenangkan hatinya, dia tahu persis apa yang bakalan Dita omongin, bahkan hingga 11tahun berlalu, rasa sukanya kepada Pandji, atau mungkin lebih tepat disebut cinta pertamanya tidak pernah berkurang. Hal yang selalu dia sesali karena dia merasa sangat bersalah pada Nifa, sahabat baiknya.

“Apa lo bakalan dateng?”

“Apa gue punya pilihan lain, Ta? Lo tahu persis gimana Nifa, dia bakalan ngelakuin apapun untuk memastikan semuanya sesuai keinginannya, tak peduli harus menggeret gue ke Jakarta sekalipun,” jawaban Anin membuat mereka berdua terkekeh, ya, mereka tahu pasti bagaimana perfeksionisnya seorang Nifa, “Padahal, jumat malam ada penyambutan kepemilikan perusahaan yang baru,” lanjutnya murung.

“Wah, terus gimana?” tanya Dita prihatin.

“Gue udah coba ajuin cuti pas Nifa telepon gue, yah, klo dari track record gue selama 8 bulan ini seharusnya ga ada masalah, lagian gue bukan jajaran direksi yang harus datang, gue juga cuma bantu-bantu dikit palingan di acara itu,” jelas Anin.

“Oh, semoga ga ada apa-apa yah. Tapi, pasti bakalan ada Alex nanti,” Dita mengingatkan Anin, “Lo yakin lo kuat, Nin?”

“Gue coba Ta,” jawab Anin pasrah, perasaan bersalah itu datang lagi ketika Dita menyebutkan nama Alex.

“Ya udah, lo ga usah khawatir, lo ga sendirian,” jelas Dita membuat Anin sedikit lega.

“Makasih yah, Ta.”

“Sama-sama, Nin,” tak lama mereka mengalihkan pembicaraan, tidak sekalipun menyinggung masalah ini lagi hingga menutup teleponnya.

-------

Tak terasa hari pernikahan Hanifa dan Pandji tinggal 1 hari lagi, besok mereka akan menikah. Tak henti-hentinya Nifa meneleponnya untuk mengingatkan jadwal pesawat yang harus dinaikinya, dan mengancam tidak akan memulai akad nikah sebelum semuanya lengkap, yang untungnya Anin mendapatkan cuti yang diajukannya, sehingga Anin bisa sampai di Jakarta jumat sore.

“Nin, udah kamu siapin semuanya buat besok? Kita berangkat pagi-pagi kan besok?” tanya Rini ketika Anin sudah bersiap untuk tidur cepat malam itu.

“Udah, Mah,” jawab Anin tersenyum.

“Mamah tahu, mungkin ini terlalu menyakitkan untuk kamu, tetapi kamu harus kuat, kamu benar-benar harus membuang perasaan kamu ke Pandji, besok dia udah jadi suami Nifa, sahabat kamu sendiri,” ingat Rini sambil memeluk Anin di pinggir ranjang.

“Iyah, Mah. Anin paham, bantu Anin Mah,” pinta Anin sambil terisak. Sungguh ironis, bahkan sudah 11 tahun berlalu namun rasa sayangnya kepada Pandji tidak berkurang sama sekali, Anin bahkan sengaja menerima tawaran kerja di Surabaya demi menghilangkan perasaan ini sejak dia mengetahui rencana pernikahan Pandji dan Nifa 8 bulan lalu.

“Kamu masih muda sayang, kamu pasti bisa mendapatkan cinta yang sempurna untukmu, jodoh sudah ada yang mengatur, sayang. Ikhlaskan mereka, jangan sampai kebahagiaan mereka berkurang karena kesedihanmu ini, kasihan Nifa jika dia mengetahui ini semua,” Rini memeluk anaknya penuh kasih, mencoba menenangkan putrinya yang semakin terisak di pelukannya.

-------

Pagi harinya, Anin sudah mempersiapkan hatinya, mencoba dengan ikhlas memberikan restu untuk kedua orang yang sangat disayanginya. Dengan hati mantap dia keluar dari mobil dan memasuki perlataran hotel mewah yang telah disewa Nifa menjadi tempat akad dan resepsi pernikahannya hari ini.

“Anin!” panggil Dita yang sudah menunggunya di lobi hotel sambil menuju Anin dan Ibunya.

“Dita! Ya ampun, lo gemukkan sekarang, makmur lo ternyata di Negeri orang, hahaha,” canda Anin sambil memeluk Dita, “Koq jauh banget dari terakhir kita skype-an sih?” protes Anin yang langsung mendapat cubitan gemas Dita di perut Anin, Aninpun meringis.

“Isshh Anin, ketemu teman lama itu harusnya menghibur bukannya malah menjatuhkan gitu,” protes Dita sambil merungut.

“Sudah, sudah, kalian ini. Ayo kita masuk, nanti kita tertinggal akadnya,” ajak Rini mengingatkan Anin dan Rini.

Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam yang ternyata sudah mulai penuh dengan anggota keluarga Nifa, mereka segera menghampiri Nifa di ruang ganti, setelah sebelumnya Nifa menelepon Anin dan mengarahkan mereka ke ruang ganti.

“Hei, kalian datang juga akhirnya,” sapa Nifa ketika mendapati sahabatnya masuk dan menghampirinya yang sudah selesai di make up.

“Lo cantik Nif,” puji Dita sambil terkagum-kagum.

“Gue emang selalu cantik bukannya dari dulu?” jawab Nifa dengan logat khasnya yang membuat Anin dan Dita terkekeh-kekeh mendengarnya.

“Iya, iya,” sahut Anin.

“Ayo, ayo. Keluarga pengantin pria sudah datang,” ucap Bude Nifa saat masuk.

“Oh, iyah Bude. Kalian duduknya di kursi depan yah, gue udah siapin kursi khusus buat kalian,” jelas Nifa sambil mengedipkan matanya.

Mereka akhirnya keluar dan duduk di kursi yang dimaksud Nifa, tak lama prosesi akad dimulai setelah sebelumnya diadakan penyambutan adat kedua belah pihak. Sesaat Anin terkesima melihat Pandji yang memakai jas warna sepadan dengan kebaya Nifa, sangat gagah, namun dia segera mengendalikan dirinya, menyadari janji yang sudah dibuatnya kepada Ibunya. Sejak keluarga Pandji memasuki ruangan akad diselenggarakan, Dita menggenggam erat tangan Anin, mencoba memberikannya kekuatan tak terlihat kepada sahabat tercintanya sambil tersenyum penuh kasih ketika Anin menatapnya.

Akad berlangsung dengan khidmat dan sakral, Anin melihat tatapan penuh cinta Pandji kepada Nifa, seakan mencari kekuatan sesaat sebelum dia mengucapkan ijab Kabul dengan sekali ucap. Seketika itu juga Anin merasa sedikit nyeri di hatinya, tetapi dia mencoba menguasai hatinya, mencoba memantapkan hatinya.

“Selamat tinggal cinta monyetku, cinta pertamaku,” gumamnya dalam hati, dan seketika itu juga dia merasa kedamaian di hatinya, kedamaian yang tak pernah dirasakannya 11 tahun belakangan ini.
-------

“Hei, kalian selalu saja berdua tidak pernah terpisahkan,” ucap Rifai sesaat setelah akad selesai dan kedua pengantin sedang bersiap-siap untuk resepsi yang akan diselenggarakan siang ini juga.

“Hei, lo dateng juga toh,” sahut Dita sambil mencium pipi Rifai, rupanya kebiasaannya di luar negeri terbawa hingga kembali ke Jakarta.

“Hahaha, kelamaan di luar negeri lo jadi lupa cara bersalaman, Ta?” sindir Rifai sambil menyeringai.

“Isshh, reflek gue Rif,” kilah Dita dengan muka merona merah.

“Udah, udah, kebiasaan jelek lo ga pernah ilang yah, Rif,” ucap Anin mencoba melerai Dita dan Rifai.

“Hai, Nin. Apa kabar?” sahut Rifai sambil menyodorkan tangannya seraya bersalaman dengan Anin.

“Baek, lo gimana?” jawab Anin sambil menyambut tangan Rifai.

“Ya, seperti yang lo lihat, gue makin ganteng aja,” jawab Rifai cengengesan.

“Ga pernah berubah,” protes Dita yang langsung terpotong karena kedatangan Nifa dan Pandji yang tiba-tiba.

“Kalian di sini ternyata,”ujar Nifa sumringah sambil menggandeng mesra Pandji.

“Hei, happy wedding yah, akhirnya kalian nikah juga setelah drama putus nyambung kalian yang terakhir,” ledek Rifai sambil menghampiri Pandji dan Nifa.

“Issh, lo tuh yah, bikin gue malu kan,” rengek Nifa ke Rifai sambil mencubit perutnya.
 “Aduh, duh, sakit Fa! Lo tuh sama Dita seneng banget cubit perut gue? Gue tahu perut gue sixpack tapi ga gini juga kalii,” protes Rifai membuat mereka semua tertawa, “Btw, Alex kirim pesan ke gue, dia minta maaf ga bisa dateng ke akad lo, tapi dia pasti dateng di resepsi, soalnya dia ga bisa ninggalin acara yang dibuat anak buahnya di perusahaan barunya,” jelas Rifai sambil melepaskan pelukannya pada Pandji.

“Iyah, dia udah telepon gue semalam,” jawab Pandji sambil tersenyum.

“Wah, ga adil lo Fa, kita kudu dateng pas akad lo mpe ngancem mau ga mau mulai akad kalo kita berdua belum dateng,” protes Dita sambil cemberut.

“Hahaha, sori, Ta. Gue cuma mau kalian menyaksikan langsung kejadian paling bersejarah seumur hidup gue, secara lo berdua khan sahabat baik gue sebelum kita dekat sama mereka,” jelas Nifa sambil memasang wajah meminta maafnya.

“Lo tuh ya, paling bisa,” sahut Dita setengah cemberut sambil mencubit gemas lengan Nifa.

“Lagian khan klo Alex punya alasan kuat, dia baru aja menyelesaikan semua urusan kepemilikannya di perusahaan barunya, ga mungkin dia ga dateng,” jelas Nifa sambil meringis, “Oh, ya Nin. Gue baru inget, Alex khan pemilik perusahaan tempat lo kerja yang baru, pantesan gue kemarin agak familiar sama nama perusahaan yang disebutkan Alex, ternyata itu perusahaan tempat lo kerja.”

Informasi itu membuat Dita dan Anin saling berpandangan, dan kegiatan mereka berhenti ketika Pandji memanggil seseorang.

“Hai, Lex! Sini!” panggil Pandji sambil mengangkat tangannya, dan lelaki yang dipanggil Alex itupun mendekat. Anin sempat terkejut melihat perubahan penampilan Alex, dia semakin tinggi, putih, dengan dadanya yang bidang, wajahnya yang semakin menunjukkan kedewasaannya, gaya jalannya yang semakin menunjukkan kharismanya, sungguh sangat berbeda dengan Alex yang dia kenal 11tahun lalu, padahal umurnya saat ini masih 26 tahun.

“Hei, Ji! Happy wedding yah,” sapanya sambil memeluk Pandji yang tingginya tidak melebihi telinganya.

“Woow, tinggal di luar bikin badan lo semakin tinggi aja yah,” ucap Pandji setelah Alex melepaskan pelukannya.

“Hahaha, bisa aja lo yah. Hei Nyonya Pandji Ruspandji, happy wedding yah,” sapa Alex sambil menjabat tangan Nifa.

“Hei, Lex. Mana calonnya? Katanya lo kesini mau ngasih tahu kita siapa cewek yang udah jadi motivasi lo sampai sesukses sekarang,” ucapan Nifa membuat Anin tersentak.

“Fa, make up kamu dibenerin dulu, sebentar lagi acaranya kita mulai,” ucap Bude Nifa selaku pemimpin wedding organizer yang dipakai Nifa di acara ini mengingatkannya.

“Oh, iyah, Bude. Kalian jangan pulang dulu sebelum acara ini selesai yah,” ucap Nifa dengan nada mengancam sambil menggandeng Pandji dan meninggalkan mereka menuju ruang ganti.

“So, lo udah sukses sekarang, Lex? Sampai lupa ngasih kabar ke gue dan Anin,” sindir Dita yang disambut tawa renyah Alex.

“Sori, sori. Maaf 11 tahun ini gue ga ngasih kabar ke kalian, tapi gue udah menetap di sini sekarang, kalian boleh deh menghukum gue sesuka kalian biar kalian ga marah lagi sama gue, gimana?” tawar Alex sambil menahan senyum dan menangkupkan kedua tangannya di wajahnya.

“Lo bener udah beli perusahaan tempat Anin kerja, Lex? Dan lo beli perusahaan itu buat bikin cewe misterius lo itu semakin dekat sama lo?” tanya Rifai mencoba mengalihkan perhatian Dita, dan niatnya sukses, Dita serta Anin memperhatikan Alex tanpa berkedip, menunggu jawaban yang akan dilontarkan ALex.

“Iyah,” jawab Alex sambil menatap Anin penuh arti, seakan mengatakan dengan tatapannya bahwa cewek yang dimaksud adalah Anin, membuat Anin salah tingkah, “Gue pasti bisa bikin cewe itu nerima gue sepenuhnya,” lanjut Alex yakin sambil mengalihkan perhatiannya kepada Rifai yang berdiri di depannya.

“Wow, gue makin penasaran,” sahut Rifai.

Perbincangan mereka berhenti karena tiba-tiba suasana ballroom hening, perlahan lampu-lampu besar dimatikan, dan hanya ada lampu-lampu kecil yang menyala di sepanjang jalan menuju pelaminan, membuat suasana menjadi romantis, menandakan acara penyambutan kedua mempelai menuju pelaminan akan dimulai. Mereka maju perlahan, bermaksud mencari tempat strategis untuk melihat acara penyambutan tersebut. Tetapi langkah Anin terhenti karena merasakan ada tangan yang menahan dirinya untuk melangkah, tepat di saat kembang api panggung pelaminan menyala, Anin bisa melihat pemilik tangan yang menahan dirinya adalah Alex.

Belum hilang keterkejutannya, Anin merasa lengan itu menarik dirinya, sehingga dia berdiri dengan punggungnya yang menempel di dada bidang Alex, wangi maskulin Alex dapat dengan jelas tercium oleh Anin, membuat nyaman hatinya secara tidak sadar. Anin bergidik ketika merasakan helaan nafas di belakang telinganya, dan ketika dia bermaksud menoleh untuk memarahi Alex, tepat di saat itu dia mendengar Alex berbisik.

“Aku tidak akan menyerah dan aku tidak akan menghindar lagi, akan ku pastikan kau akan mencintaiku seperti aku mencintaimu, Anin, cinta monyetku, cinta pertamaku,” ucap Alex penuh janji.

Anin bisa merasakan seluruh tubuhnya merinding mendengar janji yang diucapkan Alex. Ketika telah sadar dari keterkejutannya, Anin bermaksud menjauh dari Alex, tetapi lagi-lagi dia merasakan lengannya di tahan. Tepat ketika Anin menoleh ke arah Alex, lampu ballroom kembali menyala dan dengan jelas Anin bisa melihat wajah penuh tekad Alex dan berkata,

“Aku mencintaimu sepenuh jiwaku, Anindya Maharani, aku tidak akan melepaskanmu, dan aku bersedia menunggumu menyerahkan cintamu untukku seumur hidupku,” kata-kata itu membuat Anin tak bisa menggerakkan badannya.

Sobat, aku sungguh tak mengerti
Semua ini bisa terjadi
Setelah perkenalan itu aku terhanyut
Aku seberat-beratnya tak kuasa
Dambakannya, rindukannya
( Padi - Sobat)



--TAMAT-- 




Mukena Khas Bali dengan bahan Rayon, adem dan nyaman di badan, ibadah menjadi lebih khusyuk dan bisa digunakan untuk sehari-hari.
Tersedia motif dan warna yang beraneka ragam.


Jadi tunggu apalagi? Per pcs hanya Rp. 110.000 (ukuran Standar)
Rp. 130.000 (ukuran Jumbo)
Rp. 130.000 (Jenis Rempel)


(belum termasuk ongkos kirim) (1kg bisa muat 2 mukena standar, 2kg bisa muat 3 mukena jumbo)

Hubungi :

*PIN BB : 32FDE75E

*sms : 081-246-671-304

*email : drama.story@yahoo.com atau bisnisonlinekita@yahoo.com

Cara Pemesanan :

* bisa melalui email, sms atau BBM dengan menyertakan kode barang yang ingin dipesan untuk menanyakan stock availability

* transfer sejumlah uang yang sudah disepakati (no rekening akan diberikan setelahnya -BCA atau Permata Bank)

* konfirmasi ke nomer di atas beserta Nama, Alamat dan Nomer telephone yang bisa dihubungi.

* Pesanan dikirim dan tinggal menunggu +- 2-4 hari via TIKI.





























28 comments:

  1. ceritanya keren.. sumpeh deh... awalnya kirain endingnya bakal sedih karena Anin kasian banget... eh gak nyangka ada sesosok Ksatria Putih yang Ksatria banget.... mau donk sosok kyk gitu.. hehehe... Vie... sering-sering aja bikin cerita kayak gini.. dijamin... meleleh deh hati para wanita membacanya.. wkkwkwkw... ehem... makasi ya atas ceritanya yang sangat menarik. kayaknya cerita Anin n Alex bisa dibuat side storynya tuh... ehem...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha,, awalnya sih emg mw dbkin sad ending Mba,, *piiss*
      Aiihhh,,,, Vie ajjah meleleh pas nulis, hahaha...
      mksh Mba Ciiinnnnnn.... *peluk2*
      haaaa??? Side Story Mba?? *berpikir keras*

      Delete
  2. wooow aleeexx...*teriak pake toa# aku padamu lah pokoke...meleleh dengar pernyataan cinta alex...ayo anin terimalah alex...makasih mbak vie ceritanya keren suka banget deh...makasih jg mbak shin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh tidak bisa... alex untukku seorang... wkkekekeke.....

      Delete
    2. @Mba Vera : hahaha, kasihan Alex kupingnya pengang Mba.. xixixi
      mksh Mba Veraaa udah bc n komen...
      :D

      @Mba Cin : xixixi, di tag dluan yakz Mba?? :p

      Delete
  3. Ohh alex,kau membuat ku gregetan #rawrrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. anonym gak dapet jatah tanda tangan alex.. kecuali sebutin nama dl baru dapet :D

      Delete
    2. @Anonymous : waduh,, *jauh2n Alex biar g lecet* xixixi.. mksh udh bc n komen..
      :D

      @Mba Cin : hahaha,, ide baguuss Mba Ciinn :D

      Delete
  4. Replies
    1. makasiihhh Mba Sheraaa..
      makasih udh bc n komen..
      :D

      Delete
  5. Vie msh ad lanjutannya kn,mauuuu lgi
    Xixixixi
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin n vie

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada g yh?? *garuk2 kepala*
      mksh Mba Ndoongg...
      makasih udh bc n komen..
      :D

      Delete
  6. kya kya... hha
    anin beruntung banget sih...

    mba hevi kelanjutannya dong hhe ditunggu ya.... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe,,,
      ummm... dtggu yah,, smg Alex msh mw mampir,, xixixi
      mksh Mba Haeli Lee..
      makasih udh bc n komen..
      :D

      Delete
  7. Bikin side story alex anin dooonnggg aaaaaa mauuuu cowo kaya aleeexxx <3 <3
    -fina

    ReplyDelete
    Replies
    1. haii Mba Finaaaa (beneran khn yh?)
      ummm,, dtggu yah,, smoga Alex msh mw mmpir n g tllu sbk sm Anin yakz,, hehehe
      mksh Mba Fina,,
      makasih udh bc n komen..
      :D

      Delete
  8. Woooaa kereeen
    Romantis banget yaampun Alex
    Suka banget deh
    Hihihih

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe,,
      mksh Mba Herlina..
      makasih udh bc n komen..
      :D

      Delete
  9. Wowww.. Alex so sweetttt..<3<3
    Ak pngen pny ksatria kuda putih gtuu..-__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Mendy mauu?? mw di delivery kemana (berasa ngmgn mknn)
      hehee
      mksh Mba Mendyy...
      makasih udh bc n komen..
      :D

      Delete
  10. kenapa susah komen disini dr semalem

    ternyata nasibnya anin ga ngenes2 bgt ya kan ada alex yg bener2 cinta dia dr dulu sampe skrg
    trnyata pisah jauh bertahun2 ga bikin hilang cintanya alex
    anin mending buka hati buat alex aja toh si pandji udah bahagia sama nifa kan
    buat sekuel ttg anin-alex dong mba shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, maaf Mba Erna, mungkin snyal lg jln2 smlm, hehehe...
      iyah,, kshn klo nsibnya ngenes, untunng ada Alex, smg Anin mw yah nerima Alex..
      mksh Mba Ernaaaa..
      makasih udh bc n komen..
      :D

      Delete
  11. HEVI PUSPITASARI !

    ITU LAGU GW !
    Ya Ampyuuunnn..... Aku Padamu, Padi !


    CERITANYAAAAAAAAA KEEEEEEEEEEEEEREEEEEEEEEEENNN,....
    AWEEESOOOMEEEEEE !!!

    As usual..their name always GREAT !

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaa.... tenang,, tenang Mba Riiissss..... Padi g kmn2 koq,, xixixi
      mksh Mba Riiiisssss...
      makasih udh bc n komen..
      :D

      btw, ru ngeh putunya gnti2 gt,, xixixi

      Delete
  12. boleh minta squel heheheheeheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. ummm,,, boleh g yah... heheheh *piisss*

      mksh Mba Dyas udah baca n komen..:D

      Delete
  13. Aahhh keyeeennnnnn *brb bawa alex pulang *eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaaahhh,, jgn dbw pulang duluuuu...... hahaha
      mksh yh...
      mksh udah bc n komen..
      :D

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.