"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, June 15, 2013

CERMIN 16 - CINTA MONYET SERIES - CiMon oleh Meyke A.D.

Story by +meyke AD 



"Zizi..... ada telepon tuh buat kamu." teriakan Mama dari lantai bawah membangunkan aku dari tidur-tidur ayamku. Dengan malas aku mengangkat tubuhku dari atas kasur. 

"Dari siapa Ma?"

"Kurang tahu, suara cowok sih. Tapi kan emang yang nyari kamu cowok semua yah." jawab Mama sambil terkikik. Mama sedang memegang adonan roti di tangannya. Kelihatannya sih mau bikin donat, makanan kesukaan anaknya yang cantik ini.


Aku meloncati dua anak tangga sekaligus. Kusambar telepon yang ditempel di dinding tangga. Aturan dari ayah, telepon ga boleh dibuat paralel. Memang jadi ribet sih, apalagi kamarku posisinya di atas. Cuma siapa yang berani ngebantah aturan dari bos besar. "Biarin aja telepon cukup satu di sini, jadi yang sering pakai telepon kan jadi ketauan tuh." kata beliau dulu. Sejak saat itu, sampai sekarang 4 tahun sudah ayah meninggal, aturan itu tetap berjalan. Ahh,,aku jadi inget ayah deh.

"Halo, sapa nih?" sapaku.

Lama tak terdengar suara, tadinya aku pikir udah ditutup. Tapi nadanya sih masih tersambung. Ah, dasar nih, telepon iseng, batinku.

"Sapa nih, hoiii, ngomong dong. Tutup juga nih!" bentakku.

"Hahahaha" 

Suara cowok, tawanya terdengar familiar di gendang telingaku. Hah...masa iyah, tapi bisa aja kan?

"Dion?"

"Hai jelek, galak banget sih. Ga berubah sama sekali."

Ya ampun, Dion,, Dion Jelek, CiMonn, alias Ci Monkeyyy, Musuh bebuyutanku.

"Aku kan bukan Baja Hitam, mana bisa berubah!" jawabku ketus, padahal aku sedang berusaha menormalkan debaran jantungku. 

"Iyah, iyah, kamu kan Gaban. Hahahaha" 

Eh sialan ni bocah, masih pinter ngelucu aja, batinku. 

"Di mana sekarang?"

"Di hatimu." 

Ha Ha ... ngelucu lagi nih dia. 

"Serius tauk"

"Dua rius"

"Udah ah, ditutup aja yah."

"Eits, jangan dong. Masih kangen." sambernya tiba-tiba.

"Kok beredar lagi, kirain udah nyangkut di mana?" tanyaku sebal. 3 tahun lalu, sejak keluarganya pindah ke kota lain, Dion menghilang. Tak pernah sekalipun menghubungiku. Sejak saat itu aku menghapusnya dari hidupku. Meski aku saat itu masih kelas 3 SMP, tapi cukup membekaskan luka di hatiku.

"Nyangkut di.....eh bukain pintu dong"

Bukain pintu, emang di mana tuh orang, batinku. Belum sempat aku berpikir lagi, bunyi bel pintu terdengar.

"Ting tong."

Dengan segera aku berlari menuju pintu depan. Aku sempat berhenti sejenak ketika tanganku bersiap membuka handel pintu. Aku baru sadar tampangku pasti berantakan banget sekarang.

Kupegang dadaku, gemuruhnya seolah-olah aku habis berlari ratusan meter. Kutarik kaosku ke bawah, menyadari aku cuma pakai kaos oblong kegedean dan celana jeans pendek di atas dengkul. Mau balik lagi ke atas udah ga sempat. 

Ya Ampun,,kenapa juga jadi grogi gini.

"Ting Tong"

Suara bel mengembalikanku ke alam sadar. Dengan gemetaran kutarik handel pintu ke arah dalam, dan aku pun seketika terpaku.

Berdiri di depanku, sosok cowok, hmm, bukan…bukan, laki-laki tinggi, dengan rambut dipotong rapi. Kaca mata bertengger di hidungnya, mengenakan kaos berkerah warna hitam dipadu celana jins hitam. Sosok itu tersenyum padaku, kyaaaaaaaaaa Mamaaaaaaaaaa.

Cowok yang sedari dulu mengisi mimpi-mimpiku, kini berdiri LAGI di depan pintu rumahku. 

Aku membeku, begitu pun dirinya. Kami terdiam. Tiba-tiba, dia menyapaku.

"Hai Zi,, Long time no see."

Entah apa yang ada di otakku, aku menghambur ke depan. Tanpa malu merangsek masuk ke pelukannya. 

"Dionnnnnnnnnnnnnnnnnnn" teriakku kegirangan.

***


3 Tahun Lalu

Aku memandangi rumah bercat putih di depanku. Rumah bertingkat dua yang asing buatku dan kini aku berdiri di depannya. Kubetulkan topiku yang terbiasa kupakai dalam posisi terbalik. Dengan segera aku turun dari sadel sepeda, setelah memastikan sepedaku tak akan jatuh aku bergegas mendekati pagar.

“Permisi Pak,” sapaku pada pak sekuriti.

“Ya Non, cari siapa ya?”

“Dion-nya ada Pak?” tanyaku.

“Dion?, Dion yang mana ya Non?” Pak sekuriti malah balik bertanya padaku.

“Yang punya rumah ini pak.”

Pak sekuriti terlihat kebingungan. Tiba-tiba seperti tersadar, dia mendekat ke arahku.

“Oh, mungkin itu penghuni yang baru pindah ya Non?, Kalau itu bapak kurang paham. Sepertinya sih pindah, tapi kurang tahu kemana.”

Aku menunduk lesu. Tak ada lagi petunjuk akan Dion. Setelah di sekolahnya pun aku tak menemukan jejaknya.

Dion, Monyet jelek, musuhku, temanku. Aku kenal anak itu karena kami kursus bahasa Inggris di tempat yang sama, sejak satu tahun lalu. Dia kelas 2 SMA sementara aku masih kelas 2 SMP. Sejak itu aku dan dia menjadi dekat. Aku panggil dia Monkey, dia panggil aku Zibra, pelesetan dari nama panggilanku, Zizi.

Sudah dua minggu ini dia ga masuk kursus. Tak kurang berapa puluh kali aku menelepon ke rumahnya. Pertama gak ada jawaban, hingga akhirnya ada yang mengangkat dan bilang dia sudah tidak ada di rumah itu. Percaya, tentu aja enggak. Berbekal alamat yang dulu pernah dia beri, aku menelusuri komplek rumahnya yang tak terlalu jauh dari rumahku.

Tak kupedulikan terik Matahari, kukayuh sepedaku secepat-cepatnya agar segera sampai ke rumahnya. Ternyata, dia memang sudah pergi.

“Non, Non kenapa?”

Pak sekuriti membuka pintu pagar, mendekatiku yang jongkok menahan rasa kesal.

Aku sebal, ya sebal sekali pada anak itu. Bisa-bisanya dia pergi tanpa pesan. Air mataku pun menetes.

“Non, jangan nangis.” Bapak itu terlihat kebingungan menghiburku.

Kuusap air mata yang mengalir di pipiku dengan punggung tangan. Aku segera bangkit berdiri.

“Makasih ya Pak, maaf merepotkan. Saya pulang dulu.” Pamitku.

Si Bapak terlihat ingin menahanku, tapi dia juga bingung harus bagaimana. Kukayuh sepedaku dengan kencang, sekali lagi aku menoleh. Seakan mengucap selamat tinggal, bukan pada rumah itu, tapi pada kenangan akan persahabatanku dengannya.

***

“Ma..... ada Dionnnnnn.” Teriakku kencang.

Dion mengamatiku dalam. Dia menarikku duduk ke teras. Kami duduk berdampingan di tempat yang dulu biasa kami duduki. Aku menarik tanganku darinya, merasa malu. Namun, dia seperti sengaja tak ingin melepaskan tanganku.

Mama lari tergopoh-gopoh dari dalam rumah.

“Dion?,,, Dion siapa Zi?” tanya Mama sambil mengelap tangannya yang basah pada celemek yang beliau pakai. Sepertinya beliau terburu-buru mencuci tangannya tadi.

Dengan segera aku menarik tanganku dari pegangan Dion. Aku tak ingin Mama melihatku. Beliau pasti akan meledekku habis-habisan nanti.

Dion seperti mengerti. Dia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Mama. Dengan sopan dia meraih tangan Mama dan membawanya ke bibirnya. Seperti dulu, dia selalu menyalami Mama setiap kali datang dan pulang dari rumah ini.

“Ya Ampun....Dion...Ini Dion, Dion yang itu....yang dulu suka manjat pohon belimbing di rumah sama Zizi? Dion yang tiba-tiba menghilang, yang bikin Zizi nangis berhari-hari?”

Wow...wow...Mama,, stop Ma. Kenapa jadi Mama yang heboh begini sih. Apa pula itu, bilang aku nangis berhari-hari. Haduhhhhh,, bisa jatuh pasaranku ketauan nangisin Monyet buluk ini.

“Maaaa....iya ini Dion yang dulu. Udah ah,” kataku sebal.

Aku merengut, sementara Dion terlihat menahan senyum.

“Iya Tante, saya Dion yang itu. Cuma saya ga nyangka bikin Zizi nangis berhari-hari.”

Dooooh, sialan ni bocah, pake diungkit lagi.

“Loh bener kok, Mama sampe bingung dulu. Nangis ga bren...”

Belum selesai Mama berbicara, aku segera menutup mulutnya. Bisa gawat kalau semua rahasiaku terbongkar. Aku segera mendorong Mama masuk ke dalam rumah, dan menutup pintunya ketika kupastikan Mama sudah aman di dalam.

Kutepukkan kedua tanganku, seolah-olah aku telah membereskan pekerjaan penting. Aku membalikkan badanku, untuk seketika terpaku.

Dion, duduk di ujung sofa, lagi-lagi menatapku dalam. Aku setengah menyeret kakiku untuk bisa menghampirinya.

Sialan ni bocah, bikin hatiku deg-degan aja.

“Jadi, ke mana aja selama ini?” Aku mendudukkan pantatku di sofa ujung, sengaja menjauhkan diriku darinya.

Dion masih mengamatiku, menyedekapkan lengannya. Tatapannya menusuk, membuatku salah tingkah.

“Aku mau minta maaf Zi. Aku dulu pergi ga pake pamitan sama kamu.” Tiba-tiba Dion mengubah arah pandangannya, tangannya diletakkan di paha. Tatapannya lurus ke arah meja. Gantian aku memandangnya lekat.

Aku menelan ludah dengan susah payah, menanti kenyataan apa yang akan dia sampaikan padaku. Menebak-nebak, apa aku bisa menerima penjelasannya.

“Mamaku meninggal. Papa depresi, akhirnya Nenek memaksa kami pindah kota. Semuanya begitu tiba-tiba Zi.” Suara Dion melemah, matanya menatap ke luar, ke pekarangan rumah. Seperti menerawang balik ke masa lalu.

Aku merasa trenyuh, ikut tertarik ke masa lalu. Tapi, tetap saja rasa kesalku padanya ada. Daripada ga tahan, terpaksa aku tanyakan juga. Penasaran juga ga bagus kan, bisa jadi bisul nantinya kalau ditahan-tahan.

Akhirnya kutanyakan juga hal yang mengganjal di pikiranku selama ini.

“Masa sampe ga sempet hubungin aku? Aku segitu ga pentingnya yah buat kamu.” Kataku tajam, mataku sama sepertinya, kuarahkan keluar. Aku tak berani menatap matanya, takut menemukan jawaban yang nantinya menyakitiku.

“Keadaan begitu kacau Zi. Aku harus adaptasi lagi, selain itu aku juga harus menenangkan dua orang. Papa dan Dira, adikku. Kamu ingat?”

Dira, ya adik Dion yang dulu sering ikut main ke rumah ini. Apa kabarnya sekarang.

“Cuma aku yang dipaksa menjadi kuat. Mama pergi begitu tiba-tiba, karena kecelakaan. Parahnya, Papa ngerasa kecelakaan itu karena kesalahannya.”

Aku menghela napas, menanti kelanjutan ceritanya.

“Mobil yang dikendarai Mama menabrak pohon. Papa ngerasa itu salahnya karena malem sebelumnya Mama pernah tanya mobil kenapa ga enak pas dibawa jalan. Tapi Papa ga sempet merhatiin pertanyaan Mama".

Aku masih mendengarkan, serius.

"Abis itu semua berubah. Aku ga inget nomor telepon kamu. Hapeku yang ada nomor kamu entah di mana, hilang waktu kami pindahan. Aku inget gara-gara nemuin buku diary Dira yang ditumpuk rapi di kardus sama Nenek."

Oowww, jadi kalo ga ketemu tuh buku, ga bakal dong dia nongol di depanku sekarang, batinku. Sabar sih sabar, tapi 3 tahun kan lama Tuhan.

"Jadi, gimana? Aku dimaafin kan?" Tanya Dion tiba-tiba.

Dia langsung berbalik, kali ini sambil meraih jemariku. Aku,,,ya makin salah tingkah lah.

Maafin engga...maafin engga...maafin engga... Aku seperti menghitung kancing. Kalau Tuhan akhirnya mempertemukan kami lagi, berarti ada rencana di baliknya. Masa iya udah dikasih kesempatan mau disia-siain.

Aku balas menarik jemarinya. Meski sambil malu, kurekatkan jemari kami. Kuberi dia senyuman termanisku, agar dia tahu.... Apapun yang terlewat tak lagi penting, yang aku ingin sekarang adalah masa depan dengannya.

***

"Dari mana?"

Pertanyaan Papa menyambutku yang sedang sumringah sepulang dari rumah Zizi. Gadis yang selama 3 tahun ini tak pernah lepas dari hatiku. Bodohnya aku, baru sekarang berani menampakkan diri padanya.

Aku takut dia marah padaku, ujungnya ga mau ketemu. Makanya, meski aku sudah menemukan nomor teleponnya sejak 6 bulan lalu, aku baru berani sekarang. Untungnya dia masih mau menerimaku.

Zizi, sekarang tumbuh menjadi gadis cantik. Tingginya semampai, rambut hitamnya panjang tergerai. Meski mengenakan kaos oblong kedodoran, tapi pandanganku tak bisa lepas darinya.

"Dion, Papa kan tanya sama kamu?" Papa menurunkan koran yang tadi dibacanya.

Aku semakin tersenyum lebar. Kumainkan kunci mobilku, kuputar-putar di telunjukku.

"Lagi bahagia nih kayaknya"

Tiba-tiba Dira ikutan berkomentar.

Emang keliat jelas banget ya kalau aku lagi senang. Apa tulisan bahagia terpampang jelas di keningku...

"Tadi, abis ketemu temen lama Pa. Trus...gitu deh" jawabku mengambang. Sengaja begitu, biar ga tambah ditanyain macem-macem.

Dira menyedekapkan lengannya, mengamatiku. Dia bergerak ke depan, meraih, dan memelukku erat.

"Wah...selamat ya Kak. Akhirnya berani juga. Ga kayak selama ini, jadi pemuja rahasia aja."
Aku tersenyum miris mengingat kelakuanku 1 bulan belakangan. Sejak pindah lagi ke kota ini, aku hanya bisa mengamati Zizi dari jauh.

Seperti orang bodoh, berkali-kali melewati kompleks rumahnya, berharap dia keluar. Ketika saat itu tiba, kakiku terasa kaku. Aku cuma bisa mengamatinya yang berlalu dari dalam mobilku.

Gadis itu ga banyak berubah, tetap aja tomboi persis ketika dia kelas 2 SMP, pertama aku mengenalnya. 3 tahun berlalu sejak kepindahanku, sekarang Zizi sudah kuliah tahun pertama di Universitas Negeri ternama di kota ini. Aku mengikutinya ke kampus dan mencari tahu tentangnya.

Benar dugaanku, jurusan yang isinya cowok semua yang dia pilih, yap, Teknik Mesin. Sementara aku, yang jelas laki-laki malah memilih jurusan Manajemen Bisnis. Semua karena Papa ingin aku meneruskan bisnisnya, yang sudah mulai kujalani setahun belakangan. Aku sengaja mengambil kuliah sambil bekerja agar bisa langsung terjun bekerja karena tenagaku sudah sangat ditunggu oleh Papa. Itupun kupilih yang masa kuliahnya singkat.

Papa yang sudah mulai sembuh dari kenangannya akan Mama memutuskan kembali ke kota ini. Beliau mengambil alih bisnisnya dulu yang selama ini dikelola Om Deni, adik Mama selama kami pindah. Bisnis itu juga yang akhirnya diserahkan padaku.

"Kok malah peluk-pelukan. Oh ya, Papa ada urusan sore ini. Kalian nanti makan malem aja berdua. Ga usah nungguin Papa." Kata Papa sambil melewati kami. Tak lupa mengelus rambut Dira, sembari lewat.

Sepeninggal Papa, Dira menarikku ke kursi.

"Eh, Kak. Tau ga sih. Papa kan akhir-akhir ini misterius. Tiap malem minggu,,beuhhhh rapi jali. Wanginya ke mana-mana dah. Punya pacar apa yak?"

Aku menoyor jidat Dira, tuh anak kalau ngomong suka seenak jidat. Tapi aku emang ga pernah merhatiin Papa sih, kerjaan di kantor cukup menyita waktuku. Belum lagi urusanku mengamati Zizi diam-diam.

"Tapi kan bagus juga Dek, kita punya Mama baru. Hehehe" jawabku sambil terkekeh.

"Ga papa sih Kak. Asal bisa bikin Papa senyum terus kayak sekarang."

Aku mengangguk, dalam hatiku mengiyakan. Apa pun asal itu bisa bikin Papa dan Adikku senang, bagaimana pun caranya akan kuusahakan.

***

Seorang wanita setengah baya terlihat berbicara dengan pelayan yang menyambutnya di depan pintu. Tak lama kemudian, pelayan itu mengantarnya pada seorang lelaki tampan berusia menjelang setengah abad yang sedang gelisah menunggu.

Namun, senyumnya segera terkembang begitu matanya melihat bahwa wanita yang sedari tadi ditunggunya telah tiba.

"Lama Mas? Maaf ya, tadi aku ada kerjaan di rumah. Baru bisa aku tinggalin." Sapa sang wanita.

"Ga papa, Nit. Aku ngerti kok. Harusnya aku yang jemput kamu, ini ngajak ketemuan melulu di luar."

Sang pria kembali ke kursinya setelah menarikkan kursinya untuk sang wanita, yang ternyata bernama Nita. Mereka duduk berhadap-hadapan kini.

"Jangan dulu Mas, aku belum enak sama yang di rumah."

"Malu...? Malu karena setua kita pacaran seperti anak remaja ya?" Tanyanya sambil terkekeh.

Sementara Nita menunduk malu,

"Aku sebenernya udah ga sabar ngenalin kamu sama anak-anakku. Mereka pasti senang karena Papanya punya pacar."

Sang wanita makin memerah pipinya. Dia makin menundukkan wajahnya. Untung saja pelayan yang datang memberinya sedikit waktu untuk menenangkan hatinya yang berdebar.

"Kamu mau makan apa?"

"Aku mau minum aja Mas. Mas sudah makan?"

"Belum, aku sengaja mau makan bareng kamu." Jawab sang lelaki sambil membolak-balik buku menu.

"Nasi goreng ada?" Tanyanya ke pelayan.

"Ada lagi pak?" Jawab pelayan setelah mengangguk dan mencatat di kertas.

"Kamu beneran ga mau makan?"

Nita mengangguk, yakin.

"Hmmmm, satu air mineral sama ice tea, gulanya sedikit aja."

Alis sang wanita terangkat. Sementara sang pelayan sibuk mencatat pesanan dan segera berlalu dari keduanya.

"Sekali-kali minum es. Bukannya itu minuman kesukaanmu dari dulu. Apa jangan-jangan udah ga kuat sekarang karena udah tua?"

"Aku sudah keliat tua banget ya Mas?" Dia malah balik bertanya.

"Ga tuh. Kamu masih secantik dulu, zaman kita SMA. Zaman kamu masih jadi idola, tapi takluk sama aku." Jawabnya.

"Tapi tadi katanya aku udah tua." Nita merengut.

Wajahnya terlihat manis, meski umurnya tak muda lagi. Namun, kecantikannya di masa muda masih jelas terpancar.

"Iyah..iyah..Aku minta maaf. Oh ya, terima kasih ya Nit."

"Untuk apa?" Tanyanya heran.

"Aku ga nyangka Tuhan mempertemukan kita lagi di saat kita sama-sama sudah sendiri."

"Lalu?" Tanyanya lagi.

"Kamu mau menjalin hubungan lagi sama aku, meski aku sekarang banyak berubah."

"Tapi hatimu tetap sama kan? Tulus dan apa adanya."

Suasana mendadak sunyi, mata menatap mata. Jari saling menggenggam.

"Aku mencintaimu Nit, " kata sang lelaki mantap.

"Aku tak bisa menjanjikan apa-apa Mas. Untukku sendiri aku yakin, kamu adalah lelaki baik. Tapi, kepergian Mas Handoko masih terasa sebentar buatku. Aku ga yakin apa keluargaku bisa menerima hubungan kita nantinya."

"Aku rela menunggu. Berapa lama pun itu." Balas sang lelaki lebih mantap.

"Oya Mas, dulu kan cinta kita cuma cinta anak SMA, bisa dibilang Cinta Monyet. Kenapa Mas masih saja ingat?"

Sang lelaki tertawa demi mendengar ungkapan cinta monyet.

"Kenapa ya, kan kamu dulu yang mutusin aku. Makanya sekarang aku harus dapetin kamu lagi. Kita ubah Cinta Monyet itu menjadi Cinta Gorila."

Mereka tertawa berbarengan tepat ketika pelayan datang mengantarkan pesanan.

Sepiring nasi goreng dan segelas es teh manis membawa mereka ke suasana berpuluh-puluh tahun lalu. Saat mereka masih berseragam abu-abu. Saat dunia terasa begitu mudah untuk sepasang sejoli. Saat cinta masih menaungi mereka. Namun, tak ada yang pernah menduga, takdir membawa cinta itu kembali kini.

"Oh ya, jadi siapa nama calon putriku?" Tanya sang lelaki, yang dijawab dengan senyuman malu-malu sang wanita.

"Fazia, Mas. Fazia Handoko."

***

Hubunganku dengan Dion semakin dekat. Sejak mengambil alih bisnis Papanya, Dion praktis menetap di kota ini lagi. Horeee...artinya aku ga akan pisah lagi sama dia.

Dulu, saat aku masih pakai seragam putih biru, aku menaruh hati padanya. Siapa sangka, takdir baru menyatukan kami sekarang. Rupanya Dion juga naksir aku, untungnya... Jadi, cintaku kan ga bertepuk sebelah tangan. Aishhhhh...bisa malu aku kalau ternyata aku yang ngebet.

Meski baru bertemu lagi, ikatan kami terasa kuat. Tak ada yang namanya jaga image, Dion masih sama seperti Dion yang kukenal dulu. Entah dia mikir apa sebaliknya tentang aku.

"Maaaaaaa.... Zizi, boleh ga malem ini jalan keluar sama Dion. Nanti sih Dion juga bakal minta izin sendiri ke Mama, kayak biasanya gituuuu. Cuma kan...kan...kalo bolehhh Zizi bisa siap-siap dari sekarang." Aku merajuk sambil memeluk Mama yang sedang memasukkan puding cokelat ke lemari es.

"Kalian pacaran ga sih sebenernya?"

"Hmmmmm...." Jawabku, sengaja menggoda Mama.

"Kasih tau Dion, awas aja kalau sampai bikin anak Mama nangis kayak dulu." Kata Mama berlagak galak.

Aku terbahak-bahak, bukannya serem malah lucu. Mama kan ga pernah sok galak gitu, Mamaku sayang yang lembut dan manis.

"Siap Bos!" Aku menjawab Mama seperti seorang anak buah yang mengerti perintah komandannya.

Aku segera bersiap, Dion bilang mau datang jam 7. Kami cuma akan nonton film yang jadi Box Office saat ini. Film-film action yang sama-sama kami sukai. Kalau dulu superhero zaman kanak-kanak, yah sekarang peningkatan lah filmnya, kata Dion waktu itu.

Pacaran, hmmmm, aku terpikir pertanyaan Mama tadi. Aku dan Dion bisa dibilang pacaran, tapi ga juga. Dion kan belum pernah nembak aku, meski kami udah jalan bareng setengah tahun belakangan.

Tiba-tiba bunyi bel menyadarkan aku untuk bergegas, tanda Dion sudah datang. Setelah menyambar cardigan warna biru muda, aku segera meluncur menyambut Dion.

***

Sebuah ingatan melintas sekilas ketika aku melihat anak itu. Tatapan mata dan raut mukanya mengingatkan aku akan seseorang. Tapi entah benar entah tidak.

Zizi dan Dion baru saja pergi. Aku mengantar mereka sampai ke depan pintu. Aku segera melangkah masuk, aku sendiri juga ada janji malam ini.

Angga, seorang teman lama akan berkunjung. Tadi aku meneleponnya dan membatalkan janji pertemuan kami di luar. Kebetulan tadi aku masak sop buntut, makanan yang aku tahu merupakan kegemarannya, selain nasi goreng.
Baru sebentar saja Zizi pergi, tapi rumah sudah terasa sepi. Aku tak bisa membayangkan bagaimana nanti kalau dia sudah menikah. Untungnya Mbok Rum pernah berjanji, di saat almarhum Ayah Zizi meninggal. Dia akan terus tinggal bersamaku, menunaikan janjinya pada almarhum.

"Ting tong"

Belum juga sampai dapur, bel pintu berbunyi. Aku menebak-nebak. Apa Zizi dan Dion tertinggal sesuatu. Dengan setengah berlari aku menuju pintu.

Untuk sesaat aku tertegun, Angga, berdiri di depanku. Meski tak lagi muda, ia terlihat tampan dalam balutan kemeja lengan pendek dan celana kain berwarna hitam.
Ia tersenyum, melihatku yang sedang mengamatinya.

"Ayo masuk. Coba tadi agak cepat datangnya, bisa ketemu putriku dulu."

"Oh ya, memang sedang ke mana?"

"Baru saja keluar sama temannya." Jawabku sambil menunjuk sofa agar Angga duduk ke sana.

"Rumahmu terlihat nyaman." Kata Angga membuka obrolan setelah memilih duduk di sofa panjang.

Aku memilih duduk di sofa single. Angga terlihat mengamati setiap foto yang terpasang di figura. Aku sengaja memasang banyak foto di ruang tamu. Perintah almarhum Ayah Zizi, agar setiap tamu melihat keceriaan keluarga kami, tapi kalau kata Zizi itu sih namanya Narsis.

Angga yang kukenal tak jauh berubah. Hanya saja sekarang dia tampak lebih matang. Pipiku bersemu merah menanggapi candanya, membawaku ke kenangan masa lalu kami. Ya, Angga adalah mantan pacarku. Untung Zizi sedang keluar, kalau dia tahu aku pasti diledek habis-habisan.

Aku melirik jam di meja makan. Angga bersedia mencoba masakanku, tak tahunya dia malah memuji habis-habisan.

"Kapan-kapan undang aku lagi ya. Dijamin bobotku akan naik kalau sering-sering makan masakanmu." Kata Angga sambil berkelakar.

Sementara aku tersenyum menanggapinya. Sudah jam 9, waktunya Angga pulang. Loh, aku jadi teringat zaman kami sekolah dulu. Angga selalu tepat waktu setiap kali mengapeliku. Aku selalu meledeknya dengan panggilan cowok 79, ngapel jam 7 pulang jam 9.

"Aku rasa saatnya aku pamit. Sudah jam 9." Angga berpamitan padaku sambil menuju ruang tamu.

"Seperti zaman dulu, SMP, setelah makan pamit" godaku.

Angga tertawa terbahak-bahak. Tawanya tak berhenti hingga aku mengantarkannya ke depan pintu mobilnya.

"Terima kasih untuk malam ini. Nanti gantian aku yang mengundangmu ke rumahku. Oh ya, jangan lupa mimpikan aku ya" bisiknya sambil masuk ke mobil, meninggalkanku yang termangu terbawa ingatan masa lalu.

Deru mobilnya masih terdengar ketika sebuah mobil beberapa saat kemudian masuk ke halaman rumah. Lagi-lagi Angga belum berjodoh, baru saja dia pergi, Zizi pulang.

Seperti seorang gentleman, Dion memperlakukan Zizi bak putri. Setelah mematikan mobilnya, Dion segera mengitari bangku penumpang dan menarik tangan Zizi untuk turun.

Aku menyaksikan tingkah polah keduanya dengan tersenyum. Tiada yang lebih membahagiakan menyaksikan anak kita tertawa bahagia. Dion terlihat sangat mencintai Zizi. Tawanya begitu lepas. Senyum di wajah Dion tiba-tiba menyentakkan kesadaranku. Aku tahu siapa pemilik senyum itu. Ya Tuhan, seketika aku menutup mulutku.

***

Hubunganku dan Zizi semakin serius. Meski belum lama hubungan ini kami jalani, tapi aku sudah memantapkan niatku untuk menyatakan perasaanku kepada Zizi.

Aku tak ingin setengah-setengah. Aku ingin melamarnya menjadi istriku, meski dia masih kuliah. Aku tak ingin menunggu, kuliah kan juga bisa dilanjutkan setelah menikah, begitu pikirku. Maka itu aku harus segera minta izin dulu ke Papa.

"Pa, aku mau ngelamar cewek boleh ya?" Tanyaku pagi tadi ketika kami sarapan bersama.

"Hmmmmm....."

"Pa..aku kan udah besar."

"Hmmmmmm....boleh, tapi nanti ya. Ga boleh ngelangkahin orang tua." Jawab Papa sambil tersenyum simpul.

Dira yang paham seketika berteriak.

"Kak...papa mau nikah lagi!!! Yeayyyyyyy..." Teriak Dira kegirangan.

"Tenang..tenang...nanti Papa lamar dulu calon Mama kalian. Kalau udah itu baru giliran kamu Dion."

Aku dan Dira saling memandang, raut muka kami menunjukkan rasa kaget, tapi gembira secara bersamaan.

Dira menyebrangi meja, melangkah menuju kursi yang diduduki Papa.

"Papa serius?, Kakak serius juga?" Tanya Dira sambil memeluk leher Papa.

Kami mengangguk bersamaan. Dira makin tertawa melihat tingkahku dan Papa. Tak lama dia gantian menghampiriku mengucapkan selamat.

Izin dari papa sudah kudapat, meski aku harus menunggu. Tak apalah, aku juga sudah cukup lama bersabar menunggu hingga aku kembali pada Zizi. Menunggu sebentar lagi tak jadi masalah buatku.

Aku pun melanjutkan makanku dengan lahap pagi ini.

***

"Nit, ada yang mau aku bicarakan denganmu" kataku di telepon 2 jam yang lalu.

"Aku juga Mas, kapan kita bisa bertemu." Jawab Nita di ujung telepon.

"Siang ini, aku jemput kamu ya?"

"Jangan Mas, kita bertemu di tempat biasa saja." Nita menjawab dengan segera.

Aku memaklumi Nita. Aku mengingatkan diriku agar bersabar, tokh sebentar lagi aku akan memilikinya secara resmi.

Kaos berkerah sengaja kupilih, Nita suka sekali melihatku memakai kaos berkerah warna biru. Dulu, katanya aku terlihat dewasa. Rambutku sudah kurapikan kemarin. Aku mematut diriku di depan cermin. Segera kusambar cincin emas putih yang sengaja kubeli beberapa waktu lalu, sebelum aku pindah ke kota ini lagi.

Hubunganku dan Nita sudah terjalin sejak aku masih di kota lain. Dia yang membuatku ingin kembali ke kota ini. Kota yang penuh kenangan antara aku dan Nindi.

Kami sebelumnya hanya berkomunikasi lewat telepon. Aku bertemu dengannya lagi ketika kami sama-sama menghadiri reuni akbar SMA.

Satu tahun berlalu, Nita membantuku menerima kenyataan bahwa aku tak bisa terus-terusan terpuruk dalam perasaan bersalah. Selama ini aku terus dihantui perasaan bersalah. Yang tidak anak-anakku tahu adalah, malam sebelum Nindi kecelakaan kami baru saja bertengkar hebat. Nindi menuntut cerai dariku, karena menurutnya aku tak pernah benar-benar mencintainya. Aku menikahi Nindi dulu setelah aku diputuskan Nita. Meski kami menikah dan memiliki dua orang anak, tetap saja Nindi merasa aku tak pernah mencintainya. Padahal aku sudah dengan segala cara berusaha menjadi seorang Papa dan suami yang baik.

Karena itu, ketika Tuhan mempertemukan aku dan Nita kembali, aku kembali yakin. Jika dulu dia meninggalkanku, kini aku tak ingin lagi kehilangannya.

Dira memandangiku lekat, dia terlihat senang dengan perubahanku. Tadi dia memberi masukan agar aku penuh percaya diri nanti ketika bertemu calon mamanya.

"Cayyo Papa!" Teriak Dira.

Belakangan aku baru tahu bahwa itu artinya bersemangat. Semangat, pastinya. Maka dengan penuh tekad aku segera menemui pujaan hatiku.

Begitu sampai di restoran, aku tak menyangka Nita sudah ada di sana. Dia tersenyum manis menatapku, memakai baju putih, rambutnya ia biarkan terurai, bergelombang.

Matanya yang bulat yang dulu membuatku tertawan sedang mengamatiku. Aku segera menghampirinya. Dia memilih duduk di dekat taman dinding yang mengalirkan air. Suara gemericik air terasa begitu indah di telingaku yang sedang kasmaran ini.

"Kok kamu duluan?" Tanyaku begitu duduk di depannya.

"Memang ada larangan Mas?" Nita balas bertanya.

"Sudah pesan?"

Nita menggelengkan kepalanya. Setelah berhadapan aku baru menyadari, dia terlihat gelisah.

"Ada apa Nit?"

"Ada yang mau aku tanyakan Mas"

Pertanyaan?, ah sebelum itu mending aku duluan yang bertanya.

"Gimana kalau aku dulu?" Balasku.

Nita terlihat tidak setuju, tapi mungkin karena melihat semangatku maka ia mengangguk.

Kukeluarkan cincin dari saku celanaku, sengaja aku tidak menempatkannya dalam kotak perhiasan. Sedari tadi aku menggenggamnya, seolah aku memegang hatinya.

"Aku ingin melamarmu. Ini cincinnya, kurang romantis yah. Tapi beginilah aku. Anita, kekasih cinta monyetku, pacar terbaikku, maukah kamu menjadi belahan jiwaku. Melanjutkan cinta masa lalu kita, mengarungi sisa hidupmu berdua denganku" tanyaku sambil menatap matanya.

Aku sebenarnya gugup, tak menyangka. Berapa puluh tahun aku melewati hidupku tanpanya, dan kini aku memintanya menghabiskan sisa umurnya denganku. Kata-kata itu dulu pernah ada di otakku ketika kami masih SMA, aku akan melamarnya suatu hari nanti ketika kami sudah bekerja dengan mapan. Namun, siapa sangka aku akan mengucapkannya kini, berpuluh-puluh tahun kemudian.

Nita terlihat terkejut. Matanya berkaca-kaca. Sejurus kemudian, ia menatapku lekat.

"Boleh aku tahu nama anakmu, Mas?"

Kok malah jadi tanya nama anak, harusnya jawab dulu lamaranku. Nanti mau tanya apapun juga akan kujawab.

Aku mengernyit, tapi tak urung kujawab juga melihat tatapannya yang menusukku.

"Aku pernah cerita kan, anakku yang kecil perempuan. Namanya Aldira, sementara yang sulung laki-laki, namanya Aldion."

Tiba-tiba Nita terlihat menarik napas. Seperti ada beban di pundaknya.

"Boleh aku lihat fotonya, Mas?"

Pertanyaan aneh lagi. Aku jadi heran dengannya. Kalau saja bukan di saat aku melamarnya, aku akan dengan senang hati menjawabnya. Apa dia tidak tahu aku saat ini sedang berdebar menunggu jawabannya.

Dengan cepat kukeluarkan ponselku, setelah menyala kuangsurkan padanya. Wallpaperku adalah gambar foto kedua anakku.

Nita mengamatinya dengan seksama. Keherananku semakin bertambah saat ia menunduk dan tiba-tiba menangis tersedu.

***

Kecurigaanku terbukti, setelah kuamati dengan seksama foto di layar ponsel Angga. Anak itu memang Dion, Dion yang sama, Dion laki-laki yang dicintai Zizi. Tampilan fisik Dion mengingatkanku akan diri Angga ketika muda. Keduanya begitu mirip. Dulu ketika pertama mengenal anak itu, kemiripannya belum tampak. Mungkin karena ia masih kecil. Tapi kini, jika mengamati dengan seksama, akan sangat jelas terlihat.

Malam itu aku tak menyangka jika Angga akan melamarku. Aku berniat menanyakannya langsung padanya mengenai kemiripannya dengan Dion. Jika memang benar yang aku pikirkan, maka aku akan mengakhiri hubungan kami.

Siapa sangka, malam itu dia melamarku. Aku menangis di depannya. Aku bertanya pada Tuhan, kenapa kami harus dipertemukan kembali dalam keadaan seperti ini.

Angga, bukanlah sekedar cinta monyet. Dia adalah cinta pertamaku. Selepas SMA, kami melanjutkan kuliah di kota yang berbeda. Karena kesalahpahaman, kami putus hubungan. Aku pikir dia akan tetap mencariku. Nyatanya dia tak pernah menghubungiku, meski aku sabar menunggunya. Sepertinya sifatku yang penyabar ini menurun pada Zizi yang setia menunggu Dion.

Pada akhirnya aku menikah dengan Ayah Zizi, pria yang dijodohkan oleh orang tuaku. Aku pun mulai menerima kehadirannya dan melanjutkan hidupku. Sementara Angga, tersimpan di sudut hati. Kukubur rapi, tapi tak pernah pergi.

Setelah aku bertemu dengannya, perasaanku padanya tumbuh kembali. Aku tahu, sungguh tak pantas untuk wanita seumurku berpikir mengenai cinta. Namun, aku tak kuasa menolak. Apalagi setelah aku tahu alasannya. Ternyata dia pikir aku yang dulu meninggalkannya. Sejak itu kami seperti pasangan kekasih yang baru saja menjalin hubungan kembali, meski kami tinggal berjauhan.

Tapi setelah kenyataan ini terungkap, aku tak bisa lagi.

Aku masih ingat kemarahannya di malam itu.

"Aku ga peduli Nit. Aku berhak bahagia."

"Tapi Mas, mereka anak-anak kita. Mereka sangat bahagia dengan hubungan yang mereka jalani."

"Mereka masih muda. Bisa saja cinta mereka hanya sekedar cinta-cintaan. Belum serius seperti kita."

"Mas!" Aku membentaknya.

"Bukannya cinta Mas ke aku juga bermula ketika kita belum dewasa." Tanyaku.

Angga terlihat menunduk.

"Maafkan aku Nit, hanya saja aku bingung. Aku ingin hidup bahagia bersamamu. Aku...aku...mereka bisa mengalah."

Aku terhempas kaget dengan kata-katanya. Mengalah....

"Aku lebih memilih kebahagiaan mereka Mas."

Angga menatapku tajam.

"Tidak denganku. Aku mencintaimu, aku ingin bahagia di sisa umurku. Kumohon mengerti aku, Nit."

"Tapi Mas.."

Angga memotong ucapanku.

"Cukup. Aku akan bicara dengan Dion. Kupastikan ia akan mengalah. Aku akan menikahimu." Katanya sebelum berlalu meninggalkanku.

Aku terlalu kaget, hingga tak mencegahnya pergi. Sejak malam itu hingga kini, aku tak bisa menghubunginya.

Teleponku tak pernah diangkatnya, smsku pun tak berbalas.

Aku takut dengan rencananya. Aku tak bisa membiarkan putriku menangis, terlebih karena aku. Beberapa kali aku bertanya pada Zizi mengenai hubungannya dengan Dion, tapi dia terlihat biasa saja dan bahagia.

Namun, tetap saja aku khawatir. Bagaimana kalau Angga benar-benar melaksanakan niatnya.

Sejak pagi aku gelisah, Zizi bilang Dion akan datang hari ini dengan papanya. Katanya ada urusan penting yang akan dibahas.

Aku mondar-mandir di ruang tamu, menunggu. Kata Zizi mereka akan datang pukul 3 sore. Jarum jam terasa begitu lambat berjalan.

"Ma...kok malah Mama yang gelisah. Harusnya kan Zizi. Mau ngapain coba Dion bawa Papanya ke rumah. Zizi kan grogi Ma.

Aku menghampiri Zizi yang merasakan keteganganku. Aku mendekatinya, memberinya kekuatan. Padahal aku sendiri yang perlu diberi kekuatan.

Suara bel pintu menyentakkan kami. Refleks kami menoleh ke jam yang menunjukkan tepat pukul 3.

Zizi dengan segera membukakan pintu. Berdiri di depan pintu, Dion dan Angga. Dua generasi yang terlihat begitu mirip. Aku membeku ketika melihat pancaran di mata Angga. Dia terlihat begitu marah dan keras.

Dengan sopan Zizi menyalami dan mencium tangannya. Aku membeku di samping sofa. Zizi menyenggolku hingga aku tersadar dan duduk di sampingnya.

Aku berusaha menatap mata Angga. Kucoba mengirimkan permintaan untuk menghentikan niatnya. Aku tak ingin melukai anak-anak kami. Angga hanya sekali menatapku, tapi tatapannya semakin mengeras.

Aku tahu, aku hanya bisa pasrah dan berdoa. Aku pun bersiap ketika aku mendengar Angga akhirnya membuka suara.

Bagaikan terdakwa hukuman mati yang menunggu eksekusi, aku hanya sanggup menunduk.

"Kedatangan saya ke sini adalah ....."

Tak kudengar lagi perkataan Angga, aku terlalu takut.

"Untuk melamar Fazia, putri Ibu."

Seketika aku mendongak. Mataku bersitatap dengan matanya. Mata yang terlihat terluka. Setelah mencerna kata-katanya, aku mengunci matanya. Tanpa kata, kukirimkan ucapan terima kasihku atas pengertiannya.

"Perkenalkan, saya Papanya Dion. Angga, Anggara Wibisono."

Aku menyambut uluran tangannya dan menggenggamnya erat.

"Saya Mamanya Fazia. Anita, Anita Wulandari."

***


Cinta sejati tak pernah pergi

Terpatri di dalam hati

Meski tak termiliki.. 




Mukena Khas Bali, dengan bahan katun adem, nyaman dibadan. Mari dipesan untuk persediaan Lebaran sebelum stok habis dimana-mana lho.. Tersedia berbagai motif dan warna.
@110.000/pcs belum ongkir)

Hub : 32fde75e atau 081-246-671-304


40 comments:

  1. Aaaakkkkkkkk,,,,
    Akhrny yg nglh org tuany,,dpkir tdny Papahny Dion g mw ngalah...
    Keyeennnn... Mksh Mba Meeyyyyyyyyyy,,,mksh Mba Ciiinnnnnnnnn....
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. vieeeeeeeeee,,,
      kok bisa yah ni komen aku menghilang,,apa ga ke publish
      hadoooh

      kemaren aku bilang,,,makaciii makaciiii
      yg tua harus ngalahhhh
      hihihi
      tinggal nunggu poligaminya darimuuu

      Delete
    2. Aahhhh,,,udh kbru ngmbeekkkk
      Sediiihhhhh,,,yg laen dblz Vie g.. Hukz....
      T.T

      Delete
  2. duh dpkir td bkal ketauan klo ortu mrka pcrn tyta ga.keyeen mba meyke... Thanx mb chin

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasiiie mba shimaa,,nanti kalo ketaun jd panjang soalnya
      nanti aku ga dibolehin nongol kalo lebih 20 halaman
      *sssttt,,,celingukan,,yg punya blog lagi bobok kannn

      Delete
  3. duh dpkir td bkal ketauan klo ortu mrka pcrn tyta ga.keyeen mba meyke... Thanx mb chin

    ReplyDelete
  4. Mey.......
    Aku padamu deh...
    Muach...

    Shin.. Jgn lupa bayar royalti... :)

    ReplyDelete
  5. Mey.......
    Aku padamu deh...
    Muach...

    Shin.. Jgn lupa bayar royalti... :)

    ReplyDelete
  6. Mey.......
    Aku padamu deh...
    Muach...

    Shin.. Jgn lupa bayar royalti... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa??? Roti??? wkkwwkwkkw....

      Delete
    2. hahahahha,,maafkan aku menyatut namamuuuu mbaa'ku sayangg

      mba shin,,bagi rotinya,,
      lohhhh

      Delete
  7. wah endingnya beda dr yg aku kira
    keren mba meyke
    eh eh makasi ya mba shin atas postingannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. asik asikkkk,,,LOH,,,
      makasiii mbak chi rhi shaa
      eh manggilnya sapa nihhh

      Delete
  8. Kirain bpk dion datang minta mereka putus,tak taunya mau melamar.
    *elus dada*

    ReplyDelete
    Replies
    1. dada Dion apa dada Papanya?
      LOL
      makasiiii mbak mariaaa
      :D

      Delete
  9. Y udh biar adil 22nya aj nikah, xixixixixi
    Ya yg tua hrus ngalah am yg muda..hohohoo
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin n mba meyke

    ReplyDelete
    Replies
    1. sstttt,,,tar kudu dobel dong bayar penghulunya,,
      yang muda aja yang bercinta,,
      hihihihi
      makasiiii mbak Riniiiii

      Delete
  10. selalu suka tulisan mbk mey....dg ending yg mengejutkan ditunggu karya selanjutnya mbk mey semangatttt!!!! thanks mbk cin :-*:-*

    ReplyDelete
  11. Huaaaah
    Bernapas legaaa
    Kirain ortunya bakal ngotot
    Ga tega kalo musti dion ama zizi yg pisah
    Ihihihihi

    ReplyDelete
  12. jadinya mereka ngalah ya sama anak2nya?
    kupikir tadi ada pertentangan gt... hohohoho.
    oh.... so hurt.... sekaligus so sweet....

    ReplyDelete
    Replies
    1. di balik sedih ada tawa
      atau di balik tawa ada duka?
      makassiii mbakkkk

      Delete
  13. jadinya mereka ngalah ya sama anak2nya?
    kupikir tadi ada pertentangan gt... hohohoho.
    oh.... so hurt.... sekaligus so sweet....

    ReplyDelete
  14. Babyyyylllluuuuu aku sakit hati, ƍäª terima ma semua'a....
    Pokok'a aku sakit hati ti ti ti ti...


    4mba shin : °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° ya muaaaaccchhhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduhhh babyhuiii
      kan cuciannya juga cuma daleman,,ga berat2,,
      kok masih aja sakit hatiii
      sini sini
      puk pukkkk

      Delete
  15. Babyyyylllluuuuu aku sakit hati, ƍäª terima ma semua'a....
    Pokok'a aku sakit hati ti ti ti ti...


    4mba shin : °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° ya muaaaaccchhhhh

    ReplyDelete
  16. Sempet emosi ama bokapnya :p tapi bapak ama anak sama ya :p sama2 suka ngilang...nice story ;) ditunggu cerita2 lainnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. soalnya bergurunya di padepokan yg sama
      jadi sama2 pinter ngilang
      :D
      makasiiii mbak astrid

      Delete
  17. kyaaa kirain ortu mrk yg bkalan nikah?
    untung2 zizi sama dion yg nikah. Sbr ya ayahnya dion.. Kan kalo ayahnya dion mah udah pengalaman kalo dion sama zizi kan blm pengalaman #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. #ehhh
      pengalaman apa nih
      #kasih tau donggggggg
      makasiiiii mbakkkk

      Delete
  18. kereeeeeeeen
    kiraian papanya dion bakal ttp ngotot nikah sama mamanya zizi kan kasian anaknya tp trnyata ngalah juga ya
    mgkn papa mamanya emang blm jodoh kali ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyahhh,,jadi jaman muda ga jodoh,,tua apalagi
      hihihihi
      makasi mbak erna

      Delete
  19. Kirain x om mw ngotot trnyt engga

    mksh mba shni.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. takut kalah sama anaknya kalo si om ngotot
      makasiii mbak Sheraaa

      Delete
  20. Xixixiixixii neng Meyke muncul Lagi wkwkwk

    makasih sist Meyke & sist Shin ... Miss you ::))

    ReplyDelete
    Replies
    1. SIST
      kan mau ngajak kamu maen bola lagi
      hihihihi

      makasiiii yahhhh

      Delete
  21. Meikeeeee...I Love it, Keep up the spirit to write, muah,muah,muah

    ReplyDelete
    Replies
    1. SEJUTA MUACH buat Ninaaaaaaaaaaaaaaaaaa

      Delete
  22. Takdir emang kejam om *pukpuk om angga

    ReplyDelete
    Replies
    1. untung takdir yang disalahin bukan yg nulis
      hihihihi
      makasiih mbak DyaFieeee

      Delete
  23. Klo menurut aku 2-2na ja jadian gt wkwkwk.......:D
    Bagus ceritana Mba Meyke..
    Makasih Mba Shin ^_^

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.