"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, June 19, 2013

CERMIN 17 - POLIGAMY SERIES - Wanita Biasa oleh ILiana Lin


Story by +ILiana Lin 


Laila mengatupkan bibirnya rapat. Tadinya ia ingin berteriak dan marah tapi ia mengurungkan niatnya dengan berlari masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, ia duduk di tepi ranjang sambil membenamkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya. Ia menangis sekeraskerasnya. Dari luar kamar, seorang pria bertubuh gempal terus menerus melayangkan tinjunya ke dinding. Suara pukulannya memecah keheningan malam.
***
Pagi hari yang biasanya terdengar suara canda dan tawa mendadak berubah menjadi sunyi sepi. Hanya suara menggerisik dari piring yang saling bersentuhan yang terdengar juga suara melumatkan makanan dengan gigi. Tanpa ada sepatah kata pun yang terdengar. Sesekali terjadi adu pandang antara sepasang suami istri yang sedang duduk di meja makan dan sementara menikmati sarapannya. Tatapan mereka yang tajam dan dalam menunjukkan dengan jelas kalau hubungan mereka sedang renggang.


Lima menit sudah berlalu dan itupun sudah terasa sangat lama. Harihari kemarin waktu lima menit hanya seperti waktu lima detik. Sangat cepat berlalu.

“Papa sudah yakin dengan keputusan Papa?” tanya Laila memecah suasana yang tidak mengenakkan.

Jerry meletakkan pisau pemotong rotinya juga garpunya di sisi piring dan membersihkan mulutnya dengan serbet yang diraihnya dari pangkuannya. “Apa Mama tidak setuju dengan keinginan Papa?”

Laila melotot dengan pisau yang masih ada di tangan kanannya. “Pa, mana ada sih perempuan yang rela dimadu? Papa juga mikir dong sebelum bertindak. Apa kata orangorang nanti? Bagaimana mereka akan melihat Papa, melihat Mama, dan melihat keluarga kecil kita? Apa Papa tidak pernah memikirkan semua itu?”

Jerry terdiam. Tangan kanannya meraih segelas susu coklat yang ada di atas meja dan langsung meneguknya hingga habis dalam sekali tegukan. Terdengar desahan napasnya yang berat saat akan meletakkan kembali gelas itu ke atas meja.

“Ma, Papa hanya ingin minta ijin dari Mama…,” ucapnya lirih.

“Mama tahu, Pa… Mama akan memberi ijin kalau Papa bisa memberikan alasan yang jelas sama Mama…”

“Alasan apa lagi yang Mama inginkan? Bukankah Papa sudah bilang kalau Papa hanya ingin merasakan memiliki dua orang istri…”

“Lalu kalau Papa sudah punya dua dan mau punya tiga, empat, bagaimana, Pa?”

“Itu tidak akan terjadi…”

“Apa Papa bisa menjamin hal itu?”

“Ma, Mama ini kenapa sih? Dibilang secara baikbaik juga gak bisa. Alasan apa yang tepat bagi Mama? Tidak ada, kan. Itu hanya alasan yang Mama cari agar Papa tidak menikah lagi, kan?! Yang Papa bilang itu benar, kan?!”

Jerry bangkit berdiri lalu meninggalkan meja makan. Sementara Laila tidak bergeming di tempatnya. Ia terus memandangi suaminya yang berjalan gontai keluar dari ruang makan itu. Matanya masih mengikuti tubuh gempal Jerry hingga menghilang di balik pintu.

Laila mendesah berat. Kepalanya mendadak terasa pening. Ia tahu apa yang ia takutkan pasti suatu hari akan terjadi dan ternyata hal itu benarbenar terjadi. Semenjak banyak kasus yang mencuat ke media tentang pernikahan poligami makin banyak saja para suami yang bertingkah untuk melakukan poligami.

Seminggu yang lalu, Tina, sahabatnya, baru saja menceritakan padanya tentang keinginan suaminya yang ingin menikah lagi. Kemarin, giliran Diana yang menceritakan keretakan rumah tangganya. Sekarang justru Laila sendiri yang harus menghadapi kenyataan itu.

Tanpa terasa air mata mengalir di ujung matanya. Dengan sigap Laila menyekanya lalu meneruskan kembali sarapannya. Tapi percuma. Air matanya masih tetap mengalir bahkan makin deras. Kunyahan roti panggang di dalam mulutnya mulai terasa hambar. Ia melumatnya hingga sangat halus tanpa ada rasa sedikit pun lagi.

Dipanjangkannya tangannya di atas meja lalu merebahkan kepalanya di lengannya.
“Apa salahku ya Tuhan?” teriaknya sebelum akhirnya ia jatuh tertidur.

***

Laila merasa ada yang membopong tubuhnya ketika ia membuka matanya perlahan. Ruangan tampak sangat gelap. Ia berusaha mengingat apa saja yang sudah terjadi. Ia teringat akan pertengkarannya pagi tadi dengan Jerry.

Jerry? Apakah lelaki itu sudah pulang sekarang? Jam berapa ini?

Laila terkesiap. Ia membuka matanya lebar walaupun tetap saja tidak ada yang bisa dilihatnya. Ruangan itu masih gelap gulita. Hanya derap langkah kaki yang terdengar tapi itupun terasa samar dan sedikit berat.

Apakah Laila sedang bermimpi?

Perlahan Laila menggerakkan kakinya di bawah. Ia sedang mengambang. Kakinya tidak lagi menginjak tanah. Apakah ia sudah mati? Tidak. Itu tidak mungkin. Ia memperkuat indra penciumannya.

Wangi parfum yang masuk melalui hidungnya menjalar hingga menyentuh paruparunya sampai membuatnya sedikit terasa sesak dan sulit bernapas. Otaknya lagilagi berpikir. Ini jelas bukan wangi parfum Jerry tapi ini wangi parfum siapa? Lalu tangan yang membopongnya tidak seperti tangan Jerry. Tangan ini terasa sedikit lebih kecil.

Pintu menghantam tembok dengan suara keras setelah mendapat satu tendangan yang kuat. Laila segera memejamkan matanya. Dengan pelan, tubuh Laila dibaringkan di tempat pembaringan. Suasana temaram dalam kamar sempat menyilaukan pandangannya ketika ia mencoba membuka matanya.

“Andre?!”

“Ma…! Mama kenapa bisa tertidur di meja makan? Papa kemana? Biasanya Papa sudah pulang jam segini, kan?!” Andre langsung memburu ibunya dengan berbagai pertanyaan.

Tanpa menghiraukan serentetan pertanyaan Andre, Laila melirik ke jam dinding yang ada di atas pintu kamarnya lalu kemudian matanya seperti mencaricari sosok di belakang Andre. “Putri dimana?”

“Putri sudah di kamar. Tadi Andre langsung minta Putri masuk ke kamar jadi Putri tidak tahu kalau Mama ketiduran di ruang makan…”

“O–Oh…” Raut wajah Laila berubah menjadi sedikit lebih lega. “Kamu juga istirahat di kamar, yaaa…”

Suara lirih Laila membuat Andre mengerutkan keningnya. Pemuda itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Tidak ada yang berubah. Masih sama seperti sebelum ia dan Putri meninggalkan rumah untuk kegiatan pramuka di sekolah. Rasa curiga mulai menyelimutinya. Dimana ayahnya?

Ia tidak merasa melihat sosok ayahnya sejak ia pulang tadi. Sementara jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. “Papa dimana, Ma…?” Andre mengulang satu pertanyaannya itu.

“Papa belum pulang… Tadi katanya ada rapat dadakan jadi hari ini Papa pulang terlambat…”

Bohong! Andre berteriak dalam hati. Ia mengepalkan kedua tangannya di samping. Berusaha agar tidak menampakkan kecurigaannya di depan mamanya. Ia tahu dengan jelas kalau mamanya sedang mencoba menyembunyikan sesuatu. Pemuda itu sangat yakin kalau ada yang tidak beres sudah terjadi di rumahnya.

Andre sangat yakin kalau Laila menyimpan rahasia yang tidak ingin dikatakan kepadanya. Bagaimana bisa tidak ada apaapa sementara Mamanya itu ketiduran di ruang makan. Belum lagi dengan mata sembap mamanya yang entah sudah menangis berapa lama hingga membuat mata itu tampak mengecil karena bengkak.

“Kamu tidak mau istirahat?”

Pertanyaan Laila menyentakkan lamunan Andre membuat pemuda itu mengangguk cepat.

“Andre udah mau masuk ke kamar, Ma…”

Andre hendak menutup pintu kamar tapi ia kembali membalikkan badannya lagi. Tadinya ia berniat untuk bertanya lagi pada ibunya tapi begitu berbalik, ia melihat ibunya juga sudah kembali tertidur di atas ranjang.

***

“Kakak belum tidur?”

Seorang gadis kecil tampak berdiri di luar pintu sambil melongokkan kepalanya masuk ke dalam kamar bernuansa remangremang yang semua dindingnya dipenuhi stiker bertuliskan monster dengan beragamragam warna.

“Udah hampir kok… Putri kenapa tidak langsung tidur? Kan tadi katanya sudah capek…”

Gadis kecil itu berjalan mendekat ke arah kakaknya yang duduk di tepi ranjang lalu duduk disampingnya. “Putri tidak bisa tidur,” ucapnya pelan seperti sedang mengeja setiap kalimatnya.

“Kenapa?”

Gadis kecil itu mengangkat bahunya. “Mungkin karena Putri sudah terbiasa tidur di dalam tenda jadi gak bisa lagi tidur di kasur empuk…”

Terdengar suara tawa ringan dari kedua anak yang sedang duduk bersama itu. Andre membelai lembut kepala adiknya. “Kalau gitu gimana kalau kamu tidur di luar aja…”

“Di luar?”

Andre mengangguk.

“Di luar mana?” ulang Putri yang masih tidak mengerti.

“Di teras…,” jawab Andre enteng.

“Kakak jahat… Masa’ Putri disuruh tidur di luar sih?” Putri mengerucutkan bibirnya sementara tangannya mencubit perut Andre.

“Kalau gitu sekarang kembali ke kamar dan tidur dong… Kamu gak mau kan kalau kakak seret kamu ke teras…”

“Putri ke kamar Mama aja… Kak Andre jahat sama Putri…”

Putri sudah hampir keluar dari kamar Andre tapi langkahnya tertahan karena Andre sudah berdiri di hadapannya.

“Kakak kenapa?”

“Putri tidur di kamar Putri saja, yaaa…,” bujuk Andre.

“Kenapa? Putri kan mau sama Mama…”

Andre meletakkan kedua tangannya di pundak adik kesayangannya itu. “Putri, Mama pasti sudah tidur… Putri tidak mau ganggu Mama, kan?! Besok pagi saja, yaaa…”

Putri melunakkan pundaknya hingga tangan Andre terlepas dengan sendirinya. Lalu gadis kecil itu melangkah lambat menuju kamarnya sendiri.

***

“Kenapa membawaku masuk ke dalam kamar?”

Pagi itu mereka berempat hendak sarapan bersama tapi tibatiba saja Jerry menarik lengan Laila dan membawanya masuk ke dalam kamar. Lalu memberi perintah kepada sopir untuk mengantar Andre dan Putri ke sekolah.

Dengan kasar Jerry melempar tubuh Laila ke tengah ranjang hingga membuat wanita itu meringis dan mengaduh kesakitan. Air matanya kembali mengalir dari ujung matanya.

“Apa kamu membenciku, Jerry?” tanyanya dengan terisak.

“Tidak…” ucap Jerry dengan lantang.

“Lalu kenapa kamu memperlakukanku seperti ini?”

“Apa yang sudah kamu katakan sama Andre?” bentak Jerry sambil memukul meja rias dengan telapak tangannya.

“Andre? Tidak ada. Aku tidak mengatakan apaapa padanya…”

“Jangan kamu sangkal lagi, Laila… Subuh tadi, Andre masuk ke ruang kerjaku dan marahmarah tidak jelas… Ini semua pasti ada hubungannya denganmu, kan?!”

“Tidak, Jerry. Aku tidak tahu… Aku bisa bersumpah sambil berlutut di hadapanmu kalau kamu tidak percaya padaku. Aku sungguh tidak menceritakan apaapa pada Andre…”

“Begitu?!” Jerry masih tidak percaya. Ia masih bersikeras kalau Laila sudah menceritakan semuanya pada Andre, putra tunggal mereka.

“Kamu tidak seharusnya mengagetkanku dan melemparkanku ke ranjang seperti ini…”

Jerry menajamkan tatapannya sambil menyingsingkan lengan bajunya agar lebih pendek hingga tangannya yang kekar dan berotot itu kelihatan. “Oh, itu sukasukaku…”

“Kamu jahat, Jerry… Kamu jahat…,” ucap Laila di tengah isakannya.

“Aku memang jahat. Kamu baru tahu?” bentak Jerry dengan keras.

“Hanya karena aku tidak memberimu ijin untuk menikah lagi bukan berarti kamu bisa memperlakukanku seperti ini, Jerry… Rasanya seperti…,”

Laila beringsut hingga ke tepi ranjang. Ia tidak mampu mengeluarkan katakatanya lagi. Rasanya terlalu menyakitkan. Mengingat perlakuan Jerry yang baik padanya sewaktu awal pernikahan hingga hari ini, rasanya sulit dipercaya lelaki itu bisa berubah dengan cepat hanya karena orang ketiga. Padahal mereka telah memiliki dua orang anak yang sedang menginjak usia remaja. Andre yang berumur empat belas tahun dan Laila yang berumur dua belas tahun.

Bahkan yang lebih parah dari semua itu adalah perubahan sikap Jerry padanya. Dulu, Jerry tidak akan membiarkannya melakukan apapun seorang diri. Lelaki itu selalu memberikan perhatian padanya.

Mulai dari membersihkan rumah sampai pada pekerjaan dapur. Mereka selalu mengerjakannya secara bersama. Setelah selesai barulah Jerry berangkat ke kantor dan itu selalu tepat pukul delapan.

Tapi sekarang jangankan membersihkan rumah, Jerry sudah tidak pernah memberinya perhatian lagi. Lelaki itu juga sering terlambat untuk bangun pagi. Tak jarang Jerry akan memarahi Laila jika ia sudah sangat terlambat tapi tidak dibangunkan. Mungkinkah semua itu sudah berlangsung lama tanpa ia sadari. Apakah itu sifat asli Jerry yang tidak pernah diketahuinya? Rasanya ia sungguh diperlakukan seperti binatang oleh suaminya sendiri.

Orang ketiga, Laila mendesah dan terus menerus mengulang kata itu dalam hati. Ia mencoba mengusir semua bayangan yang pernah terjadi dalam hubungan rumah tangganya.

“Siapa wanita itu, Jerry?”

“Dia seseorang yang baik…” Jerry merendahkan volume suaranya.

Laila mengerutkan dahinya hingga matanya memicing. Baru beberapa saat yang lalu dirinya dibentak dan dimarahi tapi begitu menyinggung soal wanita yang akan dinikah Jerry, suara lelaki itu langsung berubah menjadi lebih lunak dan lebih enak didengar.

“Oh, begitu… Apakah dia lebih pantas untukmu daripada aku?” Laila juga mengubah intonasi suaranya menjadi dasar alto.

Jerry menatapnya tajam. Apakah kali ini katakatanya telah menusuk hati lelaki itu?

“Tidak juga…” Jerry mengangkat bahu.

“Apakah kamu sudah menemukan alasan yang aku inginkan?”

Jerry menarik napas panjang. “Itu lagi… Itu lagi… Tidak bisakah kamu hanya menjawab dengan kata ‘YA’ atau ‘TIDAK’?” Jerry sengaja menekankan suaranya pada kata ‘ya’ dan ‘tidak’.

“Apakah jika aku menjawab kamu akan mengubah pemikiranmu? Aku tahu Jerry. Sekalipun aku melawan aku tahu aku tetap tidak akan menang tapi paling tidak aku sudah mencobanya. Aku sungguh ingin memperbaiki semua hubungan ini denganmu. Sangat ingin, Jerry. Bahkan rasanya lebih besar dibandingkan dengan perjuanganmu untuk meminta ijin dariku…”

Jerry menarik kursi dari meja rias dan duduk disana. Dengan kesal, ia mengacakacak rambutnya sendiri hingga membuatnya berantakan tak keruan. Laila menangis tersedansedan. Bayangan rumah tangga bahagia dalam benaknya kini pupus sudah.

“Apakah selama ini kamu tidak bahagia denganku?”

Pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiran Laila akhirnya ia tumpahkan juga. Selama ini yang ia ketahui, penyebab keretakan sebuah rumah tangga adalah karena ketidakbahagiaan dalam menjalani hubungan yang sebelumnya.

“Aku bahagia… Hanya saja aku ingin lebih berbahagia lagi…”

“Tapi kamu tahu kan kalau di dunia ini tidak ada seorang pun wanita yang rela dimadu?”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu melakukannya?”

“Aku hanya ingin merasakannya Laila… Kalau kamu cinta sama aku buktikan rasa cintamu itu dengan mengijinkanku untuk menikah lagi…”

“Kamu sudah gila, Pa…”

“Mungkin…” Pernyataan yang seharusnya tidak membutuhkan jawaban malah dijawab Jerry dengan enteng dan datar.

“Setidaknya terima kasih karena Papa sudah mau jujur sama Mama sebelum Papa menikah lagi…”

Laila beranjak keluar dari kamar membiarkan Jerry yang masih duduk sendirian dan terpaku disana. Lelaki itu mengamati wajahnya sendiri di cermin.

***

 “Ma, apa benar Papa mau nikah lagi?”

Laila yang sedang membuat irisan wortel terhenti dari kegiatannya dan menoleh sekilas menatap Andre yang masih mengenakan pakaian seragam sekolah.

“Kamu ganti baju dulu ya… Makan siang akan siap sebentar lagi…” Laila kemmbali melanjutkan pekerjaannya.

Andre yang masih terpaku di belakangnya mengulangi pertanyaannya sekali lagi.

“Ma, sebenarnya benar gak sih kalau Papa mau nikah lagi?”

“Kamu dengar itu darimana?” tanya Laila yang lagilagi menghentikan potong memotongnya tanpa menoleh ke belakang.

“Mama jawab dulu pertanyaan Andre baru Andre mau jawab pertanyaan Mama…”

“Tidak sopan kamu, Andre…”

Andre mendesah.

“Andre dengar dari Putri, Ma…”

Laila akhirnya menoleh begitu nama anak keduanya itu disebut.

“Tadi pagi Putri gak berangkat ke sekolah karena perutnya tibatiba sakit. Lalu Putri mendengar semua pertengkaran Papa sama Mama… Tadinya dia berniat meminta obat untuk penghilang rasa sakit tapi karena Papa sama Mama berantem hebat, Putri meringkuk sendirian di kamar sambil menangis dan mendengarkan semua pertengkaran Papa sama Mama di kamar…”

Laila membalikkan tubuhnya 1800. Ia memejamkan matanya. “Mama akan bicara sama kalian saat makan siang nanti. Naik dan gantilah pakaianmu dulu!”

***

“Mama ingin kalian tahu sebelum kalian akhirnya mendengarkan dari mulut orang lain tapi Mama juga tidak menyangka kalau Putri sudah mendengar semuanya pagi tadi…” Laila menutup matanya rapat sambil menarik napas lalu membukanya perlahan. “Ayah kalian memutuskan untuk menikah lagi.”

Laila tidak melanjutkan kalimatnya lagi. Ia menatap wajah kedua anaknya silih berganti. Ada rona kecewa terpancar dari raut wajah Andre dan ada raut wajah bingung yang terpancar dari wajah Putri.

“Ma, ini gak bisa dibiarkan, Ma…” kata Andre tibatiba membuat pandangan Laila terfokus padanya.

“Kamu pikir Mama juga mau ada perempuan lain dalam kehidupan Papa kamu? Kalian masih terlalu kecil untuk bisa menerima semua ini, Andre, Putri… Mama tidak ingin kalian punya ibu tiri dalam rumah ini. jika saja Mama seperti perempuan lain yang akan langsung menggugat cerai atau meninggalkan rumah, kalian berdua pasti akan sengsara di rumah ini… Mama tidak ingin membiarkan itu terjadi. Selama masih ada Mama, kalian tidak akan pernah merasakan semua itu.”

Andre dan Putri menunduk. Ada selaput bening yang mengalir dalam matanya.

“Andre tahu pengorbanan Mama untuk kami sangat besar tapi apa Mama tidak bisa menggoyahkan keinginan Papa untuk menikah lagi?”

Laila menarik napas panjang.

“Jika saja Mama bisa melakukannya pasti sudah Mama lakukan, Nak…”

“Tapi kenapa Papa memutuskan untuk menikah lagi? Apa Papa tidak bahagia sama Mama?”

“Andre, semua orang punya hak untuk bahagia dan mencari kebahagiaan. Jika ternyata Papa kamu tidak bahagia sama Mama, biarlah Papa kamu mencari kebahagiannya tapi satu hal yang tidak akan pernah disadari oleh Papa kamu adalah posisi Mama tidak akan pernah terganti oleh siapapun itu… Baik itu di rumah ini, di hati Papa kamu, dan juga di hati kalian, anakanakku…”

Suara Laila melirih. Selaput bening di dalam matanya kini terjatuh butir demi butir membasahi pipinya.

“Ayo, Nak! Lanjutkan makan siang kalian. Kalian harus mengisi perut agar bisa mengerjakan tugas dari sekolah, kan?!” Laila mencoba menghibur Andre dan Putri tapi siasia.

“Andre akan bicara sama Papa… Andre tidak ingin Papa menikah lagi dan mengabaikan Mama…”

“Andre…!”

Tanpa menghiraukan panggilan Laila, Andre berlari keluar rumah dan mencegat sebuah taksi yang melesat tepat di depannya.

***

“Pa, Mama ingin bicara sama Papa…”

“Cepatlah! Papa sedang sibuk…”

Laila duduk di kursi sofa yang ada di ruang baca sambil mengamati wajah Jerry dari balik kacamata minusnya. Lelaki itulah yang pernah meluluhkan hatinya. Lelaki itulah yang pernah membuatnya bertekuk lutut. Lelaki itu jugalah yang pernah mengucapkan janji sehidup semati dengannya di tepi pantai saat matahari terbenam. Lelaki itu pula yang sekarang meyakiti hatinya dan mengirisnya hingga tercabikcabik.

Tatapan Jerry dari balik kacamatanya membuat Laila terkesiap dan kembali pada kenyataan hidupnya yang sekarang.

“Mama punya sebuah cerita dan Mama harap Papa mau mendengarkannya hingga Mama selesai menceritakannya.”

Laila menarik napas sambil memperhatikan ekspresi Jerry yang tidak berubah. Pandangannya masih tertuju pada sebuah buku yang ada di tangannya. Meski begitu, Laila tetap melanjutkan kalimatnya.

“Ada seorang kakek yang begitu mencintai istrinya walau sang istri itu sudah tidak mampu berbuat apaapa lagi karena terbaring di ranjang. Enam belas tahun yang lalu dokter memvonis istrinya itu akan lumpuh selama sisa hidupnya tapi sang kakek tidak menyerah. Ia masih menjaga, merawat, dan menemani istrinya itu. Namun suatu hari, justru istrinya itulah yang tidak tega melihat semua kebaikan suaminya. Lalu istrinya meminta suaminya untuk mengirimnya ke panti jompo dan mencari wanita lain untuk mendampingi sang kakek karena umur sang kakek belum mencapai 60 tahun sementara umur sang nenek sudah hampir masuk 88 tahun. Sang kakek awalnya terkejut tapi lalu tersenyum. Kemudian ia mengatakan pada istrinya begini, ‘Sayangku, seperti apapun diri kamu, aku tetap akan ada di sampingmu. Bukan karena sebuah keharusan tapi karena cintaku yang begitu dalam padamu. Keadaanmu seperti ini juga karena kesalahanku yang tidak merawatmu baikbaik. Aku malahan bersyukur karena Tuhan menjadikanmu seperti ini karena itu artinya aku bisa mengabdikan hidupku untuk melayani istri yang sudah lebih tiga puluh tahun menemani dan merawatku dengan sangat baik.’ Dari cerita ini, aku belajar untuk bisa lebih bersyukur. Sebenarnya yang juga kita butuhkan dalam hubungan kita adalah rasa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki. Saat kita mengucap syukur, kita pasti akan mengatakan cukup pada semua hal yang ada di depan kita. Seindah apapun itu…”

Laila menyusut air mata yang mengalir dari ujung matanya. Dalam hati ia berdoa agar setelah mendengar cerita itu, suaminya akan berubah pikiran dan mempertimbangkan kembali keputusannya. “Aku mengijinkanmu untuk menikah lagi, Pa… Besok malam kamu bisa bawa wanita itu ke rumah ini untuk diperkenalkan padaku dan juga pada anakanak.”

Setelah mengatakan itu, Laila meninggalkan ruangan itu. Sementara Jerry terpaku sambil memandangi tape recorder yang ada di tangannya. Tadi sewaktu Laila menceritakan kisah kakek dan nenek yang entah cerita siapa itu, Jerry sengaja merekamnya untuk didengarnya suatu hari nanti.

***

“Pa, Andre mau bicara sama Papa…,” ucap Andre di meja makan yang masih sepi. Laila sedang membangunkan Putri di kamarnya jadi Andre dan Jerry memiliki waktu untuk berbicara sebagai sesama lakilaki.

“Mau minta uang?”

“Ini soal Papa sama Mama…”

Jerry mulai tertarik dengan arah pembicaraan Andre. Ia memperbaiki letak kacamatanya sambil melipat koran yang ada di tangannya.

Andre yang melihat hal itu sebagai kesempatan, tidak membuangbuang waktu lagi.

“Andre sama Putri tidak ingin Papa menikah lagi…”

“Mamamu sudah memberi ijin.”

“Pa, apa Papa masih tidak mengerti juga?”

Jerry menoleh dengan tatapan tajam. “Jangan kurang ajar kamu sama orang tua…”

“Mama sudah berkorban banyak untuk kita, Pa…”

“Papa akan bawa Milka nanti malam untuk makan malam bersama kita…”

Jerry mengelap mulutnya dengan serbet yang ditaruh di pangkuannya dan langsung melemparkannya ke atas meja tanpa mengucapkan apaapa lagi.

***

“Sepertinya dia wanita yang baik…,” kata Laila sambil mengoleskan krim malam di lengan kanannya. Dalam kepalanya masih terbayang wajah Milka yang berasal dari campuran Belanda dan Indonesia. Rambut panjangnya tergerai dengan lembut.

Tapi Jerry tidak menanggapinya.

Acara makan malam bersama Milka baru saja selesai. Laila memutuskan untuk mengajak Jerry bicara tentang sosok Milka yang dikenalnya sampai membuatnya berhasil jatuh cinta itu.

“Kapan kamu akan menikah?!”

“Dua hari lagi…”

“Apa?!”
Laila tidak berhasil menyembunyikan keterkejutannya. Ia sedikit terperanjat. Kali ini ia benarbenar terkejut dan tidak punya pilihan lain lagi.

“Kamu dan anakanak tidak perlu hadir jika kalian tidak ingin hadir…”

“Dia akan tinggal dimana?”

“Aku sudah membeli sebuah rumah lagi untuk kami… Aku akan membagi waktuku tiga hari dalam seminggu untuk bersamamu dan tiga harinya lagi untuk bersamanya. Sisa satu harinya lagi akan aku gunakan untuk anakanak…”

“Kamu mengaturnya dengan baik…”

“Aku hanya tidak ingin ada yang merasa tidak adil karena pilihanku ini…”

Seperti sebuah tamparan bagi Laila saat Jerry menekankan intonasi suaranya pada kalimat terakhirnya. Tapi Laila sudah tidak peduli lagi. Ia hanya ingin hidup untuk kedua buah hatinya. Laila juga menyadari jika saja dirinya tidak ada maka kedua anaknya pasti akan tinggal bersama dengan Milka, ibu tiri mereka kelak. Laila tidak ingin hal itu sampai terjadi paling tidak untuk saat ini.

“Kami bertiga akan menghadiri pernikahanmu…”

***

Tiga bulan kemudian …

“Ma, Papa berencana mengajak Milka untuk pindah ke rumah ini…”

Laila yang sedang menuangkan susu ke gelas mendadak merasakan tangannya bergetar. Sebenarnya ia juga sudah bisa memprediksi hal ini akan terjadi karena sudah seminggu terakhir ini, Jerry sering membawa Milka datang ke rumah dan bermain bersama anakanaknya. Tapi Laila tidak tahu kalau hal itu akan terjadi secepat ini.

Laila mengingat kembali kejadian seminggu yang lalu. Dimana dirinya dan Milka bisa bercerita dan bercanda layaknya dua orang sahabat. Pembawaannya yang mudah berbaur dengan siapa saja tidak membuatnya kesulitan dalam menghadapi Milka. Lagipula Milka juga bukan wanita yang jahat. Wanita itu bahkan sudah bisa berbuat baik pada Andre dan Putri tanpa melihat mereka adalah anak dari Laila, istri pertama Jerry.

“Baiklah. Aku juga sudah siap…”

“Papa merasa bahagia karena kalian berdua bisa rukun dengan sangat cepat… Papa sungguh tidak menyangkanya… Terima kasih, Ma…”


~~~*~~~





iklan lingerie seksi untuk anda wanita yang ingin memanjakan suami/pasangan. Atau bagi  anda pria yang ingin menghadiahkan something spesial pada istri/pasangan? Selengkapnya bisa cek di http://bisnisonlineki.blogspot.com atau add PIN 32FDE75E

55 comments:

  1. Great story..
    Hmm..
    Gmna pun jga, ak ttep ga stuju bgt sma yg nmany poligami.. Ckckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl Poliandri setuju gak say?? ahhahahah

      Delete
    2. Iyaaa ... Sebagai wanita mana ada sih yang setuju sama yg namanya poLigami ??? Tapi yaaa aQ mencoba menghadirkan sisi yang berbeda dari cerita poLigami ...

      Delete
  2. biar pun aku blm pernah married tp aku nggak setuju yg namanya POLYGAMI kenapa? krn manusia itu tdk pernah adil kl sdh polygami adil itu hanya milik tuhan manusia tidak akan pernah. wanita baik2 dia nggak akan mau jd istri kedua.Lebih baik bercerai dr pd di madu deh.Laki laki itu kan mau enaknya sendiri mengatas namakan agama buat kawin lagi itu hanya alasan untuk pembenaran buat mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setujuhhhhhh..... hihih.. makasi banyak sist komennya.. eike suka gaya loeh... :kecup:

      Delete
  3. gak suka ama yg namanya poligami -___-
    haha
    trims untuk ceritanya mbak Iliana,
    dan makasih untuk mbak shin, apa kabar mbak ? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tidak ada satu wanitapun yang suka di poligamy, kecuali dia memiliki tujuan tertentu dengan menyetujui hal itu. entah karena memang budayanya dia seperti itu atau ingin mendapatkan sesuatu/imbalan dari hal itu. terkadang nalar sehat kita tidak bisa menerima wanita-wanita yang sanggup hidup dipoligamy oleh suaminya, yang entah bagaimana caranya membujuk/mengancam sang istri agar mau di madu. tapi kebanyakan sih menurutku itu karena si wanita tidak bisa berbuat apa dalam artian dia tidak bisa melawan, dia tidak memiliki suara dalam kehidupan rumah tangganya dengan suami. ironis, tapi bukankah di negara ini hal seperti itu masih banyak.

      dan bahkan poligamy ini bukan hanya mengatasnamakan agama kok, tidak juga mengatasnamakan kekayaan, karena orang miskin pun melakukannya, entah ngasi makan istrinya pakai apa. ahhahaha....

      makasi kembali sist, kabar biasa aja, lg galau... lol

      Delete
  4. aihhhh.. nyesek.. betapa aku benci poligambreng..
    thanks ya iliana dan mbak shin.. ceritanya menarik, tapi ngambang.. aku bahkan bingung pesan moral apa yang ingin disampaikan.. -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa.... ciri khas author kita nih sist... ayo dikasi masukan biar lebih baik lagi tulisannya :)

      n makasi banyak dah mampir n komen ya hehe.. :kiss:

      Delete
    2. Hahahaha ... Iyaaa ,,, semua wanita pasti benci yg namanya poLigami ...Agak ngambang yaaa ... ??? Pesan moraL yang pengen aQ sampaikan disini adaLah semua orang itu hanya manusia biasa yang terkadang juga bisa berbuat saLah bahkan tak jarang juga ada yang sering banget buat saLah tapi yang terpenting dari semua itu Qt bisa beLajar mensyukuri apa yang Qt miLiki ... Dengan begitu setidaknya Qt gak akan sirik dengan orang Lain ato apa Lah ...

      Makasih buat komennya yaaa ... Kritik dan saran senantiasa ditunggu ...

      Delete
  5. aku gak pernah setuju sama poligami.....
    kl aku yg jd Laila, mungkin gak akan seikhlas itu... aku bakal milih diceraiin daripada dimadu... huhuhu.

    thanks mbak Shin.... nyesek bgt bacanya.... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama sist... aku jg gak akan setuju, tp kl kita berada dalam kondisi seperti itu mungkin akan susah juga, soalnya musti mikir anak2 jg... ckckck.. semoga gak kejadian diantara kita ya :)

      iya nih, nyesek bgt... pengen nonjok si bapaknya, siapa sih namanya td? Jerry ya?? ahhahaa

      Delete
    2. iya ya mbak... kita gak boleh egois jg...
      huaaa tp aku gak mauuu.....
      amin... semoga kisah cinta kita seperti Habbie-Ainun... hehehehe.

      kl mau nonjok, aku ikutan donk... wkwkwkwkwk

      Delete
    3. SebeLum kaLian pada nonjok mungkin penuLis udah nonjok dLuan ... Hahahaha ...

      Delete
  6. Mbaaaaa iliana please dilanjutkan...
    Ya ampun kalo aku jadi laila mungkin dh nangis, dh gak tau harus ngapain&gimana??
    Hatinya sabar&ikhlas bgt... Istri ky gini msh juga dimadu?? Dsr suami gak tau diri!!!!

    Btw aku suka suka ampe nangis ini gak berenti2... ƪ‎​​‎​(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ʃ

    °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° mba iliana n mba shin...

    ReplyDelete
  7. Sangat gak suka poligami, tapi ya itu, semenjak org2 terkenal dll sibuk berpoligami dgn pembenaran agama...dan alasan mampu dlm hal materi...pdhl belum tentu mampu adil dlm hal lainnya...cm ga suka nih ama karakter org2 disini, jerry seenaknya sendiri, milka yg sesama perempuan tp mau jd istri kedua, laila yg lebih milih dimadu walaupun di hati berdarah2...
    Mungkin krn si laila ga kerja x ya? Jd ketergantungan ekonomi kl mw cerai, slh satu alasan lain kenapa skrg wanita hrs bekerja...
    Sumpah ni jerry laki2 ga punya perasaan x ya??? Ckckck manis di depan, kasar kl ga kesampean maunya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iyaaaa ,,, aQ Lupa nambahin kLo LaiLa udah pernah bersumpah akan mengabdi seLamanya pada suaminya ... Itu sebabnya demi kedua buah hatinya ia reLa meski suaminya itu akan meLakukan poLigami ...

      Delete
    2. Mengabdi tapi balasannya begitu :p nggak banged...tapi ya mungkin pengorbanannya bakal terbalaskan dgn tidak indahnya buktinya bakal pindah k dlm rumah :p ihh tetep org ketiga dlm sebuah rumah tangga tetap menorehkan luka :D yah...pertimbangan tiap org berbeda2 sih, but for me better big NO NO...terlihat kl sudah mengijinkan y bakal seterusnya diinjak2 hatinya ama si suami...*mengucapkan selamat k laila #eh

      Delete
    3. intinya sih memang kalau istri gak mapan, alias masih bergantung ama suami, gak punya pendapatan mandiri, maka dia akan mudah digoyahkan oleh suami, krn pilihannya "Setuju" atau "cerai"

      nah, kalau cerai, kembali lagi... si istri mau kerja apa? anak2nya gmn? dan apakah setelah cerai akan lebih baik kehidupannya?

      maka sebenarnya suami yang sebagai kepala keluarga mikir.... apa tega dia kayak gt? Kalau tega ya udah.. kita sudah tahu sejauh mana artinya rasa simpatinya dia sebagai manusia.

      1x lolos, 2,3,4 bahkan 10x pun pst suami akan selalu punya alasan untuk berpoligamy. dan... 1 yang bisa dinikmati oleh istri tertua, yakni : istri kedua yang dulu membuat rumah tangga dia dan si suami berantakan juga menerima sakit hati bagaimana di madu. muwahahahahha..... cucian dehhh loee....

      Delete
  8. Thankzzz buat Mbak Shin yang seLaLu setia membantu membaLas komentar" yg masuk ke sini ... Juga yang udah bersedia memasukkan naskah"Q waLau terkadang suka gak jeLas juga ... wkwkwkwk ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi kembali sist.

      aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat dirimu karena mau menyumbangkan karya2nya yang cetar membahana untuk diposting disini.

      semoga besok lusa tetap gak bosan ya nulis untuk myowndramastory :)

      Delete
    2. Hehehee ... Cetar membahana yaaa ... aQ maLah ngerasa gak ada apa" nyaaa Lho karena aQ juga masih dLam proses tahap Latihan nuLis jadi kadang bagus kadang nggak ... Tapi dengan banyaknya komentar dari para reader aQ jadi seLaLu punya masukan yang bau setiap saat ... Jadi hausnya aQ yang ngucapin makasih buat kaLian semua yang udah setia membaca dan memberi komentar ataupun juga saran" nyaaa ... Jangan pernah bosan yaaa baca tuLisan Q waLau terkadang banyak gak jeLasnya juga ...

      Hehehehe ...

      Delete
    3. hahahhaa.... siap... jangan bosen2 aja, btw ada ide untuk tema minggu depan??

      Delete
    4. Siiip ...

      Maaf aQ baru buka bLog nih ...

      Delete
  9. Paling benci dengan poligami...... rasanya tuh nyesek dan gak banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku jg benci sist... nampaknya sebagai seorang istri, kita harus kuat dan mandiri, biar gak bergantung dr suami 100%.

      tapi... kadang ada juga suami berengsek, gak mau dilangkahi ama istri, gak mau istrinya lebih sukses dr dia.

      serba salah jd istri... hahahaa....

      Delete
  10. Pdhl udh nyiapin hati sm tema cermin x ni,,ttp ajjah nyeseeeekkkkkkkkk bgtz sm crtany....
    Mksh Mba Iliana n Mba Ciiiinnnnn....
    Smpe kpnpun g stuju sm Poligami...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahha... vie cerminmu kapan???????? :aku aja belum selesai ngetiknya :s

      Delete
    2. huaaaaa,,lumz kelaarrr Mbaaa... (G dpt tmpt semedi kmrn)
      *nunduk*

      Delete
    3. Hehehehe ... Makasih Mba' Vie dan Mba' Shin ...

      Delete
  11. Ah,benci sama yg POLIGAMIan!!
    Janji sehidup semati,tp uda ada wanita lain lg yg dijanjin kyk gt.
    Berbagi suami dgn istri 2,3,4 dst, OH TIDAK...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah... ya mending kalau seranjang 1 suami 4 istri gpp kali ya??? tp kl 1 suami giliran datengin tiap2 rumah kyknya membuat cemburu deh (wkwkwkwk... komentar sableng ndak usah dibaca)

      Delete
    2. Aduh mbak,gak bisa terbayangkan kalau kyk gitu.
      Parah seranjang 1 suami 4 istri.
      Tp kl 1 laki 4 wanita tnpa ikatan pernikahan mgkn bisalah, fivesome.
      Ahahaha aku 'omes' *plaaak*

      Delete
    3. wkwkkwkwkkww....... omes apaan sih sist?

      Delete
  12. Saya tidak setuju dengan poligami,,
    Lebih baik diceraikan drpd di madu.
    Sepertinya harus melakukan janji pra nilah dulu sebelum di kawin,,
    Yang isinya tidak akan pernah menerima alasan apapun untuk si suami berpoligami. Wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan kalau dia berpoligamy, burungnya harus dipotong dulu br dikasi izin. setujuuu?????? wkkwkwkwkw

      Delete
  13. huaaaaaa....... Jahat bener sih suaminyaaa,,,,
    gak rela banget sama yg namanya poligami ataupun poliandri.... apalagi dengan alasan cuma pengen memiliki 2 istri,,, helehh,,,,,
    Demi apapun itu tetap ajah namanya selingkuh,,, kwowkowkkk walopun selingkuhnya terang2ann,,,
    itu cew yg jadi istri ke2 mau2nya lagiiii,,,, huaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. demi tuhaannn....
      demi Nunnaa...
      demi oppaa....

      *ehh...*

      hihihi... makasi ya sist komen2nya.. :D

      Delete
  14. minta izinnya itu loh? Kayaknya si om ngebet bnget ya pengen nikah lagi.. Kalo ga diizinin nikah lagi gmn?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya gak nikah say... wkkwkwkw....

      Delete
    2. Ketimbang nikah diam" ,,, Lebih sakit mana ???

      Delete
    3. lebih sakit mana? menurutku sih lebih sakit terang2an. karena apa? dia jelas2 memperlihatkan kemesraannya di depan istri sah. pengalamanku dari punya bapak yang punya wanita lain n ada baby pun, kyknya aku lebih sakit hati kl ternyata wanita yang di"nikahin" ama bapakku itu hidup serumah dengan ibuku, ngeliat langsung kemesraannya dia ama wanita itu n anak mereka. karena kalau ngeliat tiap hari?? udah kyk punya borok di kaki yang musti dihadapi tiap hari.

      menurutku aja sih. tapi ini jg kembali pada sifat dr si suami, tergantung dianya bagaimana. kl dia sembunyi2 tp bisa nyembunyiin dengan baik, kan gak ada yang tahu, nah kl gak ada yang tahu, kan gak ada yang tersakiti? katakanlah meski dia tetep nikah siri/istilahnya memalsukan tanda tangan istri pertama agar bisa nikah dengan istri kedua, tp istri pertama gak tahu, apakah dia akan sakit hati? tentu saja tidak... jadi... lebih baik gak tahu biar gak sakit. ahhahahahaa...

      Delete
    4. sesempurna apa pun itu disembunyiin pasti akan ketauan juga... dan akhirnya sakit hati.. mending udah punya satu istri aja... amannnnn hhe

      Delete
    5. hahahahha mending kayak danof aja say... gak nikah.. jd msh gak ada yg marah kl dia mau 2,3,4,5,67, wkkwkwkwk

      Delete
  15. Ini bukan masalah poligaminya tp cerita ini menurut gw "gaje" bgt.... masa sich konflik sepelik poligami yg bagi mayoritas perempuan di muka bumi ini bak kiamat bisa dengan mudah "mereda" hanya dalam itungan bulan, bisa memaafkan dan damai2 aja hanya karena sang "madu" wanita yg nggak jahat What???? Bener2 si laila malaikat apa bodoh gak ngerti.. mungkin kl damainya setelah badai yg bertubi-tubi is OK, tp ini? Wauwww cerita nggak logis bgt....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... makasih masukannya sist, nanti biar dijawab oleh penulisnya langsung. :kedip:

      Delete
    2. Iyaaa ... aQ hadir disini sekarang ... Nggak semuanya cerita poLigami itu berakhir dengan gak baik ... Tapi ada juga yang bisa berhasiL ... Sebagian tuLisan di atas adaLah pengaLaman seseorang yang aQ tuangkan kembaLi agar setiap wanita bisa meLihat sisi Lain dari "POLIGAMI" ...

      Delete
    3. sory ikut nimbrung... tetanggaku ada koq yg poligami dan mereka baik2 aja...
      aku juga sering lihat wanita yang menikah karena Allah, mencintai suaminya karena Allah, biasanya modelnya macam Laila gitu...
      demi kebahagiaan orang yang dicintai, dia rela berkorban apa saja... tapi banyak juga yang langsung minta cerai atau menolak di madu.
      ya tp setiap orang berbeda2 pandangannya ya... jd gak bs dibilang salah atau bener...
      ini kan cuma cerita, buat di ambil hikmahnya... bahwa gak semua sesuatu yg buruk berakhir buruk jg... dan menurutku, cinta gak ada yg logis... hehehe

      sekali lagi maaf mbak Iliana dan mbak Shin, aku banyak omong dan sok tau... heheheheh

      Delete
    4. hahah gpp sista... bagus kok, silahkan dikeluarkan unek2nya, hidup memang gak sekedar hitam dan putih. aku dengan dirimu pun belum tentu memiliki sudut pandang yang sama dengan 1 hal tp bisa saja di lain hal kita memiliki selera yang sama. begitulah, manusia diciptakan dengan cipta, rasa dan karsa yang berbeda. bisa dilihat dr hasil penulisan karya2 cerita yang kita nikmati setiap minggu disini melalui CERMIN kita. hehe... kadang kehidupan memang begitu, baik tidak selalu mendatangkan baik, buruk tidak selalu mendatangkan keburukan, tergantung bagaimana kita memandangnya. contoh : kenaikan BBM mungkin dipandang buruk oleh sebagian kalangan masyarakat, namun bagi pemerintah dan kalangan masyarakat yang lain, kenaikan BBM sangat baik dengan alasan2 mereka masing-masing. jadi, kita disini sebagai penonton, kita bisa memilih sendiri manakah menurut kita yang baik bagi diri kita sendiri. untuk masalah poligamy (apa poligami sih?) pasti akan selalu ada pro dan kontra, namun sebagai manusia biasa, kita pasti akan mencari yang terbaik untuk kita sendiri dan tentunya dengan beragam alasan2 pembenaran kita mengapa kita memilih pilihan kita itu. semoga kita semua yang ada disini, apapun yang menjadi pilihan hidup kita agar dimudahkan dan selalu dituntun oleh Yang Kuasa sehingga kita mampu menjalaninya dengan berlapang dada dan rendah hati. :)

      Delete
    5. Sorry miss december rain, saya bukan orang anti poligami, sayangnya saya tidak tahu cerita ini diambil dari sudut pandang mana, karena kalo poligami yang di identikan dengan muslim bukanlah yg seperti yang di gambarkan di cerita ini, karena tidaklah mngkin orang yang benar menikah lebih dari 1 "karena Robb-nya" memperlakukan istri pertamanya (note: ibu dari anak2 nya demikian kasar) perkara istri tidak ikhlas di madu itu perkara lain, tapi swami yang takut akan Robb-nya tidak akan berkata kasar atau bertindak kasar. Mohon maaf sebelumnya hanya meluruskan....

      Delete
    6. hehe iya Mbak Shin... makasih yaa... :*
      setjuuu... btw BBM naik ya? -_-"


      Mbak Anisa, maaf, saya bilangnya wanita yang menikah karena Allah, mencintai suaminya karena Allah...
      kl suami hanya menganggap dirinya mencintai istrinya karena Allah, ya jadinya macam Jerry gitu... memperlakukan istrinya demikian kasar...
      memang dalam konteks Islam, poligami yg seperti di cerita ini tidak betul...
      teorinya, suami juga harus adil dengan istri pertama... dan tidak boleh melakukan tindakan seperti Jerry....
      tapi sayangnya, pada kehidupan nyata, di Indonesia bahkan di Saudi sekalipun, hal seperti ini sering terjadi.... bahkan di Arab Saudi lebih parah... perempuan seperti tidak ada harganya... tapi banyak perempuan Saudi yang "nerimo" saja... karena itu adalah bentuk cinta kepada keluarganya...
      sudah pernah baca "Princess: Kisah Tragis Putri Kerajaan Saudi" karya Jean P. Sasson? ceritanya memang tidak sama dengan cerita ini, tp saya mau menekankan bagian: mungkin saja laki-laki yang menikah lebih dari satu "karena Allah-nya" berlaku buruk pada istri pertamanya... karena menurut mereka, hal yang mereka lakukan sudah benar...
      intinya, menurut saya, cerita ini hanya CERMIN-an kehidupan di masyarakat kita...
      saya bukannya menyalahkan pendapat Mbak Annisa lho... saya hanya memberi gambaran bahwa tidak ada yang tidak mungkin suami berlaku buruk pada istrinya, padahal mereka menikah dan mencintai karena Allah.... tp secepat kilat istrinya memaafkan suaminya...

      Delete
    7. contoh kasus suami kasar ke istri dan dia jg berpoligamy seperti kasus wakil walikota apa tuh kmrn? yg kasusnya dia mukul istri pertamanya pake sendalnya. hahahaha... hadehh.... indonesia.. indonesia....

      Delete
    8. This comment has been removed by the author.

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.