"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, June 24, 2013

CERMIN 19 - POLYGAMI SERIES - Di Antara oleh Vinda Kananda

DIANTARA

Story By +vinda kananda 
website : 


“Aku berangkat dulu ya mas.”

“Hati-hati ya. Kalau sudah sampai disana telpon, dan jangan lupa oleh-olehnya ya.” Kekeh Tio.

“Ikh, yang diingetnya oleh-oleh melulu.” Rengut Amanda dnegan bibir mengerucut.

“Kapan lagi dapat oleh-oleh dari Pekanbaru? Pokoknya aku titip oleh-oleh yang paling mahal.”

“Emangnya oleh-oleh apa yang mahal? Mobil?”


“Kamu.” Ujar Tio sambil tersenyum lembut. “Soalnya kamu paling mahal yang aku dapetin.”

Amanda langsung mencubit pinggang suaminya dengan gemas. “Iiikkkhhh… Mas Tio gombal…”

Terdengar suara klakson mobil, menandakan bahwa mobil jemputan Amanda sudah datang menunggu.

“Aku pergi ya mas.”

Tio mencium kening istri tercintanya dengan sayang. “Iya sayang. Hati-hati ya.”

Amanda lalu melambaikan tangannya, tak lupa senyum terbaiknya ia tunjukkan kepada suami tercinta. Tio sempat menyaksikan mobil yang membawa istrinya itu pergi meninggalkan komplek perumahan. Ia lalu mendesah. Tiba-tiba saja merasa dadanya begitu sesak. ‘Sepertinya aku masuk angin.’ Gumam Tio dalam hati.

***

Tio sedang mengerjakan pekerjaannya di rumah ketika ponselnya berbunyi. Tio melirik jam dinding rumahnya. Sudah pukul 10 malam. Siapa yang menelpon semalam ini? Apakah Amanda?

“Halo?” ucap Tio ketika mengangkat panggilan tersebut.

“Tio…”

“Ibu?” ini suara ibu mertuanya. Tapi mengapa suara ibu mertuanya terdengar sedih?

“Amanda, Tio… Amanda…”

Tio mengernyit. “Memangnya ada apa dengan Amanda, bu?” tanya Tio tak mengerti.

“Pesawat Amanda mengalami kecelakaan di laut, sampai saat ini Amanda belum ditemukan Tio. Hiks…”

Seketika itu juga Tio merasa dunianya begitu gelap. Amanda? Istri tercintanya Amanda? Tewas??? Ia tidak memperdulikan ponselnya yang jatuh dan kini menjadi kepingan. Ia jatuh terduduk dengan tatapan mata kosong.

“Amanda???” gumam Tio memanggil nama istrinya. Butuh waktu sepersekian detik untuknya mencerna semua ini. Ketika otaknya sudah mampu memproses, akhirnya Tio pun menangis. Ia menangis sejadi-jadinya. Raungannya begitu menyakitkan. Tio berkali-kali memanggil-manggil nama Amanda. Istri tercintanya kini… sudah tiada.

****

Beberapa bulan kemudian


“Mas Tio? Kapan datengnya?” tanya Siska –adik Amanda- terkejut. Ia baru saja pulang dari kuliahnya dan menemukan Tio sedang duduk di ruang tamu.

“Baru aja. Kamu baru pulang kuliah, Sis?” tanya Tio dengan suara lembut.

Siska mengangguk. “Tumben kesini. Ada apa mas?” Siska menaruh tasnya dan duduk di sebrang Tio.

“Mas ada tugas di sini. Dari pada nginep di hotel, mas numpang nginep disini aja. Kemarin udah telpon ibu kok.”

Setelah kepergian Amanda yang begitu mengejutkan. Hubungan Tio dan keluarga Amanda masih terasa begitu hangat. Keluarga Amanda masih menganggap Tio menjadi bagian dari mereka. Sesekali Tio mengunjungi rumah mertuanya yang berada di luar kota, seperti sekarang ini.

Tio sedang menyesap tehnya ketika Siska dengan terburu-buru berlari ke kamar mandi sembari menutup mulutnya. Sesampainya di kamar mandi terdengar suara orang muntah-muntah. Tio langsung menaruh cangkirnya dan menyusul Siska di kamar mandi.

“Kamu sakit, Sis?” tanya Tio ketika Siska keluar dari kamar mandi.

“Mungkin masuk angin mas. Akhir-akhir  ini tugas kuliah lagi banyak-banyaknya.” Ucap Siska dengan suara parau.

“Ya udah kamu istirahat aja dulu di kamar. Kasihan muka kamu sampai pucat begitu.”

Siska mengangguk. Mengambil tasnya yang masih di ruang tamu lalu membawanya masuk kedalam kamar.

****

Tio baru pulang dari tempat kerjanya ketika ia mendengar suara ribut-ribut dari dalam rumah mertuanya. Tio yang biasanya masuk dari pintu depan, lebih memilih masuk melalui pintu belakang yang memang jauh lebih dekat ke kamarnya.

Samar-samar terdengar suara Bapak yang sedang marah-marah. Terkadang Bapak melempar suatu atau memukul sesuatu. Tio tidak berani keluar kamar. Ini bukan masalahnya, wlaaupun sebagai menantu, tapi Tio tidak berhak untuk ikut campur.

“Bapak kecewa sama kamu, Siska. Kenapa bisa kamu sampai begini?! Bapak sebagai orang tua gagal mendidik kamu!” Bentak Bapak marah. “Siapa laki-laki itu, Siska? Siapa? Katakan pada Bapak?! Biar kita minta tanggung jawab sama dia?!”

“Dia… dia udah nggak ada pak. Beberapa hari yang lalu Hari meninggal karena kecelakaan…” terdengar suara Siska yang terisak menahan tangis.

Braaakkkk…..

“BAPAAAKKK!!!!”

Tio langsung keluar kamar ketika mendengar suara teriakkan ibu dan Siska. Ditemukannya Bapak pingsan di lantai sembari memegang dadanya.

“Kita bawa Bapak kerumah sakit.” Ujar Tio tegas. Tio di bantu dengan Mang Odang –pembantu tumah- membawa Bapak masuk kedalam mobil lalu membawanya ke rumah sakit.

Ibu dan Siska masih berpelukan ketika menunggu Bapak di rumah sakit. Tak henti-hentinya mereka menangis tersedu-sedu. Sedangkan Tio hanya berdiri bersender pada tembok sambil berpikir. Walaupun ia hanya mendengar sedikit perkataan Bapak tadi, tapi ia menangkap maksud yang terjadi. Siska hamil. Hamil di luar nikah. Dan sekarang laki-laki yang menghamilinya itu tidak bisa bertanggung jawab karena sudah meninggal akibat kecelakaan.

Tio melirik kepada Siska. Itu menjelaskan mengapa akhir-akhir ini Siska suka muntah-munta dan wajahnya begitu pucat. Kasihan Siska. Ia masih begitu muda

Dokter keluar dari kamar Bapak. Dokter mengatakan bahwa penyakit jantung Bapak kumat, membuat Bapak harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari.

****

“Tio…”

Tio menghentikkan langkah kakinya dan melihat ibu yang sedang memanggilnya. “Iya ada apa bu?”

“Ibu mau bicara sebentar.”

Tio menganggukan kepalanya lalu mengikuti ibu ke ruang tamu. Sepertinya ibu ingin membicarakan sesuatu yang penting karena wajah ibu terlihat sangat serius.

“Kehamilan Siska sudah semakin besar.” Ada jeda yang panjang dari ucapan Ibu. “Dan seperti yang Tio sendiri tahu. Laki-laki itu kini sudah tiada.” Tio mengangguk mengerti siapa ‘laki-laki itu’. “Ibu tidak ingin nanti bayi itu tidak jelas asal usulnya.” Ibu menghela nafas berat. “Ibu ingin Tio menikahi Siska.”

Mata Tio melebar. Apa? Menikahi Siska? menikahi adik iparnya?

“Tapi bu…”

“Ibu mohon Tio. Ibu tidak tahu harus meminta tolong siapa lagi. Kondisi bapak belum ada perubahan, sekarang Siska tidak mau makan dan tubuhnya semakin kurus. Ibu bingung, Tio. Ibu sendirian menghadapi masalah ini. Bantulah ibu, Tio. Bantulah ibu.” Ibu menangis terisak di depan Tio, membuat Tio tidak tahu harus berbuat apa. “Ibu tidak mau kehilangan Siska. Sudah cukup ibu kehilangan Amanda. Ibu tidak kuat bila ibu harus kehilangan anak ibu lagi. Tolonglah ibu, Tio.”

“Tapi Tio ini masih suami Amanda bu.” Ucap Tio mengingatkan kembali statusnya yang masih sebagai suami Amanda.

“Ibu yakin Amanda disana pasti mengerti, Tio. Dia pasti setuju. Apalagi Amanda sayang sekali sama Siska. Pasti Amanda tidak keberatan.”

Tio memejamkan matanya. Tio tidak bisa membiarkan ibu menangis seperti ini, tapi disisi lain Tio seperti merasa mengkhianati Amanda bila menikahi Siska. Tio lalu menghembuskan nafasnya dalam-dalam. “Baik bu. Tio akan menikahi Siska.”

Ibu langsung memeluk Tio. “Terima kasih Tio. Terima kasih.” Ucap Ibu di sela-sela tangisnya.

Ya tuhan, semoga saja yang kulakukan ini benar.

****

Pernikahan itu berlangsung dengan amat sangat sederhana. Hanya ada ibu, Siska, Tio, pembantu rumah sebagai saksi, dan penghulu itu sendiri.

Tidak ada kesulitan bagi Tio untuk mengucapkan kata-kata sacral tersebut. Jauh berbeda ketika ia menikahi Amanda. Tidak ada rasa gugup atau pun keringat dingin. Mengapa? Karena Tio tidak mencintai Siska sama sekali. Jauh berbeda dengan Amanda. Hingga saat ini ia masih mencintai Amanda. Jantungnya berdebar hanya untuk Amanda. Satu-satunya wanita yang Tio cintai, sekarang dan selamanya.

Ibu meminta Tio membawa Siska ke rumah Tio sampai akhirnya Siska melahirkan. Menjauh dari lingkungan yang biasanya. Tio hanya menurut saja. Dilihatnya Siska kini. Perut Siska memang sudah mulai membesar, kontras sekali dengan tubuh Siska yang kurus dan pucat.

****

“Kamu langsung istirahat saja. Biar semuanya Mas yang bereskan.” Ucap Tio ketika mereka baru sampai di rumahnya.

Siska hanya duduk di pinggir ranjang sambil menunduk. “Maafkan Siska, Mas. Mas pasti melakukan ini karena terpaksa. Semuanya karena Siska. Karena Siska bapak masuk rumah sakit, karena Siska pula Mas harus menikahi Siska.” Siska menangis. Ia mendekap mulutnya sendiri untuk menahan tangis.

Tio duduk bersimpuh di depan Siska. Ia membelai kepala Siska dengan lembut. “Ini bukan salah Siska. Anggap saja ini ujian. Siska harus kuat. Apalagi ada adik bayi di perut Siska.”

Siska menatap Tio dengan matanya yang berkaca-kaca. Bayi. Ia hampir lupa bila sekarang di perutnya terbentuk janin bayi. Bagaimana ia bisa lupa?

“Nah, sekarang Siska tidur aja ya? Nanti biar Mas buatkan bubur.”

Siska mengangguk pelan. Lalu merebahkan dirinya di kasur. Tak lupa Tio menyelimuti Siska dan mengelus kepalanya dengan lembut.

****

Tio baru saja merapihkan barang-barang Siska dan sekarang ia tampak lelah. Tio lalu kedapur dan mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas lalu meneguknya. Matanya terpaku pada foto pernikahannya bersama Amanda yang terpaku pada dinding ruang tamu. Ia menatap foto itu lama. Tio menghampiri foto pernikahan ukuran jumbo itu. Tidak ia rasa, senyum di bibirnya mengembang. Ingatannya kembali pada saat ia bersama dengan Amanda dulu. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi. Ia merindukan Amanda. Tangannya menyusuri wajah Amanda yang teramat cantik dengan gaun pengantin itu. Ia memejamkan matanya sebentar. Setelah membuka matanya kembali, Tio mengangkat foto itu dari dindingnya lalu membawanya masuk ke dalam gudang dan menutup pintu gudang tersebut.

“Maafkan aku Amanda.”

****

“Mas sarapan dulu sebelum berangkat.” Ujar Siska sambil mengangkat gagang penggorengan.

Tio yang baru keluar kamar langsung melihat ke arah Siska. Siska tampak lucu dan menggemaskan dengan apron dan perut menggembung.

“Tapi Mas udah hampir terlambat, sayang.”

Siska memasang tampang cemberut. Ia lalu melemparkan penggorengan ke tempat cucian lalu melepaskan apron dengan kesal. Siska berjalan masuk ke dalam kamar dengan langkah di hentak-hentakkan.

“Ehh ehhh ehh… iya deh… iya… Mas sarapan dulu. Jangan ngambek gitu dong.” Tio memegang tangan Siska dan menghentikan langkahnya.

“Ya udah makan aja sendiri.”

“Temenin dong. Mana enak makan sendiri.” Ucap Tio merajuk.

Siska lalu mengikuti langkah Tio menuju meja makan dan duduk di sampingnya.

“Kok diem aja? Suapin dong.”

“Ikhhh… kan udah gede. Masa di suapin?!” seru Siska masih kesal.

“Ikh kok ngambek sih? Jangan ngambek gitu dong. Nanti chubby-nya ilang.” Tio lalu mencubit pipi Siska dengan gemasnya.

“Ikhhhh…. Mas Tio apaan sih? Sakit tahu!” Siska meringis kesakitan dan mengelus pipinya yang merah.

Siska lalu mengambil piring berisikan nasi goreng, menyendoknya lalu membawanya ke depan mulut Tio. “Buka mulutnya.”

Dengan senang hati Tio membuka mulutnya dan mengunyahnya dengan perasaan gembira.

Entah apa yang dirasakan Tio sekarang. Dia merasa…. Nyaman. Ya, dia merasa nyaman ketika berdekatan dengan Siska. Apalagi sekarang kehamilan Siska sudah hampir mendekati kelahirannya. Membuatnya ingin selalu merasa melindungi Siska.

Siska yang sekarang juga bukan Siska yang dulu lagi. Siska yang sekarang terlihat lebih manja. Ia senang sekali membuat repot Tio, apalagi saat-saat masa ngidamnya. Tio ingat ketika ia sedang tidur dan Siska membangunkannya.

“Mas… banguuuunnnn….”

Tio menggeliyat karena merasa tidurnya terganggu. “Ada apa sayang?”

“Lapeeerrr….”

“Ya udah makan. kan di kulkas masih ada makanan.” Kata Tio dengan mata masih tertutup.

“Ikhhhh…. Nggak mau makan itu. Maunya makan siomay.”

“Ya udah besok pagi aku beliin siomay-nya.”

“Nggak mau besok. Maunya sekarang.” Siska masih menggoyang-goyangkan tubuh Tio. Yang akhirnya mau tak mau Tio harus terbangun dari tidurnya. Diliriknya jam di dinding. Jam 2 pagi.

“Mana ada tukang siomay yang buka jam 2 pagi, sayang?” tanya Tio bingung.

Siska mengangkat bahunya. “Nggak tahu. Yang aku tahu aku pengen makan siomay SEKARANG. Siomay-nya juga harus siomay buatan MANG SAPRI. Nggak mau yang lain.”

“Besok pagi aja ya? Janji deh besok pagi Mas beliin. Mas ngantuk. Mau tidur.” Tio lalu kembali merebahkan dirinya tidur di kasur.

“Mas jahat. Hikss… hiks…”

“Loh kok jadi nangis?”

“Mas nggak sayang sama Siska.” Ucap Siska sambil merenggut. Lalu tangisnya menjadi tambah keras. Membuat Tio menjadi kalang kabut.

“Yah, kok jadi tambah keras nangisnya? Iya iya Mas beliin sekarang.”

“Horeeee… asyiiikkkk. Cepetan ya mas. Siska tunggu.”

Dengan masih menggunakan celana pendek dan kaos oblong. Tio mengendarai mobilnya menuju rumah Mang Sapri. Tukang siomay yang paling enak di komplek. Tio mengetuk pintu rumah Mang Sapri.

“Ada apa ya pak?” tanya Mang Sapri ketika menekuma Tio di depan rumahnya di pagi buta seperti ini.

“Eh. Anu pak. Istri saya. Lagi ngidam.” Tio gelagapan dan bingung harus bicara apa. “Istri saya ngidamnya makan siomay buatan Mang Sapri sekarang.”

Mang Sapri tergelak. Kemudian ia tersenyum, sepertinya memaklumi apa yang sedang di rasakan Tio. “Sebentar ya pak. Kebetulan tadi malam saya sudah buat siomaynya.”

Tio menunggu di luar rumah sambil sesekali menepuk nyamuk yang menggigiti dirinya.

“Ini pak. Siomaynya.”

“Aduh terima kasih pak. Berapa harganya?”

Mang Sapri tersenyum lembut. “Tidak usah pak. Ini gratis. Anggap saja sebagai hadiah untuk istri bapak yang lagi hamil. Saya terharu loh pak ada yang ngidam makan siomay buatan saya.”

Setelah mengucap beribu-ribu terima kasih. Tio lalu membawa bungkusan siomay itu kembali ke rumah. Di rumah Siska menunggunya dengan wajah sumringah. Ia langsung mengambil bungkusan dari tangan Tio lalu memindahkannya ke dalam piring. Tio mengamati Siska yang memakan siomay itu dengan lahapnya. Ia baru tahu kalau ibu hamil bisa makan selahap itu. Bahkan Tio tidak di tawarinya sama sekali.

“Udah kenyang?”

 Siska mengangguk puas. “Kenyang banget.” Ia lalu meregangkan otot-ototonya dan menguap. Menandakan kalau dia sudah mengantuk

“Ngantuk?” tanya Tio lagi.

Siska mengangguk.

“Ya udah tidur lagi yuk. Mas juga ngantuk.”

Ketika mereka sudah merebahkan diri di atas tempat tidur. Siska tiba-tiba mengecup pipi Tio, membuat Tio terkejut.

“Makasih ya mas.” Ucap Siska sambil tersenyum.

“Sama-sama sayang.” Balas Tio yang juga ikut tersenyum.

“Mas… kok ngelamun sih?” Tio seakan tersadar dari lamunannya. Ia melihat Siska yang kembali merenggut karena merasa terabaikan.

“Eh… maaf sayang.”

Siska lalu beranjak dari kursi berjalan menuju ke kamar. Tiba-tiba saja terdengar suara Siska yang mengerang kesakitan. Dengan sekejap, Tio berlari ke dalam kamar. Di temukannya Siska sedang memegang perutnya dan wajahnya menahan sakit.

“Kenapa sayang?” tanya Tio khawatir.

“Perutku… perutku sakit mas….”

Tio melihat ke bawah dan Astaga… sepertinya Siska akan melahirkan.

“Tunggu sebentar sayang. Aku ambil mobil dulu. Kamu yang kuat ya.”

“Cepetan mas… sakit….”

Tio mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Sesekali ia menekan klakson mobilnya untuk menghindari mobil yang menghalangi jalannya. Tio begitu panik. Ini baru pertama kalinya ia membawa seorang wanita yang mau melahirkan ke rumah sakit. Diliriknya Siska yang sesekali menghembuskan nafas.

“Sabar ya sayang. Sebentar lagi sampai.” Ucap Tio mencoba menenangkan istrinya, tapi sepertinya itu percuma karena dia juga begitu panik.

Sesampainya di rumah sakit. Siska langsung mendapat perawatan dari pihak rumah sakit. Tio lebih memilih menunggu di luar ruang operasi. Dia menunggu dengan gelisah. Tak berapa lama kemudian ibu dan bapak datang ke rumah sakit, menemani Tio yang gelisah.

Waktu berjalan begitu lambat bagi Tio, hingga akhirnya dokter keluar dari ruang operasi. Tio langsung menghampiri dokter yang masih mengenakan baju operasi.

“Bagaimana dok?” tanya Tio khawatir.

“Selamat ya pak. Bayi dan ibunya selamat. Bapak sekarang menjadi seorang ayah.”

Tio merasa seketika itu juga paru-parunya penuh dengan oksigen. Ia merasa lega. Siska dan bayinya selamat. Dan apa kata dokternya tadi? Ayah? Ia menjadi seorang ayah?

****

“Hai sayang.” Tio menyapa istrinya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

Siska membalasnya dengan tersenyum.

Dilihatnya box bayi yang berada di samping ranjang Siska. Seorang bayi perempuan yang sedang tertidur dengan manisnya. Tio menghampiri box bayi tersebut. Di usapnya pipi merah si kecil yang sedang tertidur itu. Begitu lembut. Begitu lemah.

“Kamu mau kasih nama dia siapa?” tanya Tio masih memandangi bayi mungil itu.

“Amanda Putri Satrio.”

Tio langsung menoleh ke arah Siska. Tio terkejut. “Amanda?” sudah lama ia tidak menyebut nama itu.

Siska tersenyum lembut. “Aku pengen anakku manis dan lembut seperti mba Amanda. Nggak apa-apa kan mas?”

Tio menggeleng. “Nggak kok. Nggak apa-apa.” Ia kembali memandangi wajah bayi itu. Amanda. Belum setahun kepergianmu, dan kini aku merindukanmu lagi.

****

“Selamat datang kembali ke rumah!” Tio membukakan pintu rumah dnegan perasaan bangga.

“Ikh mas. Kayak apaan aja. Suka berlebihan.” Siska langsung melenggang masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan suaminya. “Ayo, Manda kita masuk.” Ucap Siska yang menggendong Amanda.

Tio meletakkan tas di dalam kamar mereka dilihatnya Siska masih menimang-nimang Amanda.

“Taruh saja Amanda di dalam box. Kamu mandi saja.” Kata Tio.

Siska mengangguk kemudian mengambil handuknya dan pergi ke dalam kamar mandi. Tio memandangi Amanda yang tertidur pulas di dalam box. Sayang sekali ia tidak memiliki anak ketika bersama Amanda istrinya dulu. Apakah Amanda kecil ini sebagai penggantinya? Bisakah Rio menyayangi bayi kecil ini? Walau Tio bukan ayah kandung bayi mungil ini?

Tiba-tiba saja ponsel Tio berbunyi. Dilihatnya siapa yang menelpon. Nomor yang tidak di kenalnya.

“Halo?”

****

“Siapa yang nelpon mas?” tanya Siska yang baru keluar dari kamar mandi. Ia sedang membersihkan rambutnya yang basah dengan handuk.

Dilihatnya Tio yang terduduk di pinggir tempat tidur dengan kepala tertunduk.

“Kenapa mas?”

Siska duduk di samping Tio.

“Amanda…”gumam Tio pelan.

“Kenapa dengan Amanda mas?” Diliriknya box milik Amanda. Amanda masih tertidur dengan pulasnya.

“Bukan Amanda yang itu. Amanda istriku, Sis.” Tio menatap kedua mata Siska dengan dalam. “Amanda masih hidup.”

Apa????

~~~*~*~*~~~ 



Mau Beli Novel-Novel ini? Tunggu saja kemunculannya di toko-toko buku terdekat. (kalau sudah diterbitkan. wkwkkw :peace: just for kidding :wink:)



29 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayoo.... ngetik apa tadi nih??? :kedip-kedip:

      Delete
    2. apa ya? ummmmm.... saking senengnya di post aku tadi nulisnya kepanjangan. pas aku teken kok aku rasa kata-katanya terlalu lebay ya. jadi aku hapus aja hehehe :nyengir:

      Delete
    3. hahahah lho gpp lebay.. justru yg lebay melambai itu enak dibaca.. wkwkkw... kmrn kyk di neraka, gak bs buka inet sehari semaleman.. gk bs komen dah ckckkckc..

      Delete
    4. aku juga baru bisa buka sekarang mba. cuma bisa di pantengin lewat hape. melambai? serasa jadi bunga hahaha

      Delete
  2. ceritanya kentanggg... bikin penosoran...

    btw, kok aku jd malah gak suka sama Siska ya sist?? adiknya Amanda. Kesannya dia itu memanfaatkan suami kakaknya walaupun Amanda udah mati. hahahaha.....

    meskipun memang bisa saja selama setahun mereka nikah itu cinta perlahan-lahan tumbuh "Di Antara" mereka, tapi kayaknya gak suka aja liatnya. apalagi manjanya gak ketulungan. wkwkkwkw.....

    yg jelas kentanggg....

    tapi, makasi banyak lho udah ikut meramaikan ajang CERMIN ini dan ikut menyumbangkan karya2mu yang luar binasa *eh* yang luar biasa mksdnya :blush:

    hehehe... semoga ke depan semakin banyak dapat ilham dan moodnya segera kembali ya sist. mudah2an komen2 reader nanti bisa menjadi penambah semangat yang belum berkobar-kobar agar menjadi seperti Volcano yang Erupted alias Meletuss... ihihihihihi....

    ReplyDelete
  3. AAAA.... udah di post ternyata huakak...
    aku jadi malu.

    terima kasih juga udah di post ya mba. terima kasih atas komentarnya. ini karya aku yang aku rasanya bahasanya sedikit 'membumi' (soalnya cerita aku yang lainnya kata-katanya kebanyakan baku)

    semoga aku bisa berpartisipasi lagi untu cermin-cermin yang lainnya (ngaca)

    Gomawo... :bungkuk berkali-kali:
    note: aku udah beli embar loh mba shin hihihi :kabur:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bgus mbak.. Cma kok nanggung bgt..:(
      Lnjutin dong..
      Smangat ya nulisny..:D

      Delete
    2. ntar dilanjut di tema berikutnya.. ehhehehhee

      Delete
  4. iyaaa ko ky siska dah lama suka ma tio y??hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa... bener may.. gak terima kl siska semanja itu ama "bekas" kakak iparnya... ckckckkc

      Delete
    2. bekas? oh iya udah jadi suami ya? :author amnesia: pukul si author hahaha

      Delete
  5. Huaaaaaa,,kentaangggg,,kuraaangggg,,,kuraaangggggg hahahaha
    Ummmm,,Vie koq g sk sm Tio yh??koq bs dgn sgmpang ntuh mggil Siska dgn sbutan "sayang",,hukz,,kshn Amanda..
    Emg sih udh rsmi,,mw dpggil apa jg udh hak,,tapiiiiiii... Hadeehhhh,,ttp ajja nysek....
    Mksh Mba Vindaaaaaaaa...
    Mksh Mba Ciiiiiiinnnnnnnnnnnn....
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl kentangnya kurang jangan tereak2 disini vie.. malu ah.. sono noh teriak di Mc. D... pan mereka jualan wkkwkw :peace:

      hahaaa setubuh denganmu vie... "tetep gak terima sisca manja ama tio"

      Delete
  6. koqkentang bgt ya,,,
    pnsrn gmn jika amanda muncul...kan judulnya poligami,..gmn prsaaan amanda trima ato tdaknya....hehehe

    ReplyDelete
  7. koqkentang bgt ya,,,
    pnsrn gmn jika amanda muncul...kan judulnya poligami,..gmn prsaaan amanda trima ato tdaknya....hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... kita tunggu sekuelnya :wink:wink:

      Delete
    2. hahaha kyknya pada nggak suka siska manja-manjaan sama tio ya? tio sih jadi laki-laki lemah benget :pukul kepala tio:
      ntar deh aku coba bikin lanjutannya. udah ada gambaran sih mau kyk gmn. nunggu si mood nulis datang lagi aja.
      hayo.... nanti seperti apa ya kisahnya? apakah amanda akan nerima siska adiknya menjadi istri kedua suaminya atau malah......
      tunggu saja di blog-blog terdekat :wink: :author minta di jitak:

      Delete
  8. Kentaaangggg,,,, lanjutin dong author kasian nasibnya amanda gmn pas tau adiknya nikah ma suaminya nyesek bgt pasti T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. pasti... apalagi di ambil sama adiknya sendiri. pasti nyeseknya ganda :emangnya maen bulutangis pake ganda:
      jangan nangis gitu dong aku sebagai author jadi terenyuh :peluk sulis:

      Delete
  9. Bingung mau komen apa klo ttg poligami,,uda nyesek duluan sblm bacanya.tadiny ga mau baca yg tema ini tapi penasaran jg,dan ternyata ya nyelekit to d heart bgt,ngebayangin klo kejadian nyata.apa lg ini si siska manjany uda kyk ke suami sendiri(eh tp emang suaminy ya?),maksudny suami yg dinikahin krn saling cinta.tio jg cpt bgt sayang2ny,sptny dia tipe co yg mdh berpaling.padahal amandanya jg kan blm jls mninggal ato tdkny secara jasadny blm ketemu.blm jg smp stahun tionya uda seakan2 lupa ma amanda n sayang2an ma siska,,ga suka bgt sama tio.
    Btw klo amandanya msh hidup berarti hrs dicere salah satunya kan?secara katanya poligami diperbolehkan tp tidak boleh adik kaka gt. jadi penasaran kelanjutannya gmn....

    ReplyDelete
  10. ☀•“WēēW“•☀ ini knp curhatny panjang gini?katany bingung komen tp panjang gini?:D
    Maafkan ya mba shin n mba vinda kananda

    ReplyDelete
    Replies
    1. rada gmn d panggil mba. pdhl aku masih muda loh :wink:
      ehm.... aku juga rada kesel sama tio, karena jadi laki-laki yang lemah dan mudah jatuh cinta. tapi dia disini mengemban tanggung jawab yang besar. jadi suami. yang mau nggak mau harus memperlakukan 'istrinya' dengan sebaik-baiknya.
      kelanjutannya baru berjalam 10% huakakak... tunggu aja.
      gak apa-apa ko mba. aku malah seneng di koment. berarti karya aku ada yang baca hihihi

      Delete
  11. kalo amanda memang msh hidup berarti salah satu nya harus diceraikan. Krn kalo dlm hukum agama islam poligami diperbolehkan tp tidak boleh kakak adik. Kecuali si kakak ato adiknya memang udah meninggal jd bisa dibilang naik/turun ranjang. Dasar cow yah gini ini model tio. Bilang gak cinta alesan cuma tanggung jwb dan segala omong kosong lain. Tp namanya kucing diksh ikan mana nolak. Kan berdsrkan penelitian cow itu memang terlahir punya sifat dsr poligami. Tp mrk cenderung monogami kalo intelektualitas mrk jalan. Jd semakin cerdas logika seorg cow mrk lebih cenderung nganut monogami.

    ReplyDelete
  12. Tio lucu yee, kmaren2 manggil sayang ke siska. Pas tau amanda msh hidup malah balik manggil nama *bhihihi galau tuh diee *kabur

    ReplyDelete
  13. kentangggggggggg.... tio ababilllllll..... labil banget jd laki,,mudah banget bilang sayang ama siska,,mana g ada usaha buat nyari amanda yg ilang... sebel banget ama cerita poligami gini
    ...

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.