"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, June 25, 2013

CERMIN 20 - POLYGAMI SERIES - Tiga Hati oleh Hevi Puspitasari


Tiga Hati

Story by +vie puspitasari


“Apa?!” pekik Ros tak percaya mendengar penuturan putri semata wayangnya, “Apa kau sudah gila?! Bagaimana bisa ide itu keluar darimu!? Otakmu pasti sudah sakit!!” lanjutnya tanpa menurunkan suaranya di ruangan VVIP Rumah Sakit.

“Mah, otakku memang sudah sakit,” jawab Lisa miris mendengar pernyataan Mamahnya.

“Bukan itu maksud Mamah sayang,” jelas Ros sambil mendekati Lisa dan memegang tangannya, Ros tak bermaksud menyinggung penyakit anaknya.

“Iyah, Mah, Lisa ngerti,” sambil tersenyum Lisa melanjutkan, “Bisakah Mamah mengabulkan permintaan Lisa?”


“Tapi, Lis, bagaimana dengan keluarga Yoga nanti? Apa tanggapan keluarga suamimu itu?” Ros mencoba mengurungkan niat Lisa.

“Kak Yoga pasti akan setuju,” sahut Lisa yakin walau tatapan matanya menyiratkan kesedihan, dan hal itu tidak luput dari penglihatan Ros.

“Lis, tak bisakah kau mempertimbangkan lagi semuanya?” bujuk Ros tak menyerah.

“Enggak, Mah,” Lisa menggelengkan kepalanya, “Umur Lisa sudah tidak lama lagi, Lisa hanya ingin memberikan kebahagiaan yang seharusnya diterima Kak Yoga dari dulu, ini saatnya kita mengembalikan kebahagiaan mereka, Mah, dan Lisa ingin melihat semuanya sebelum Lisa pergi,” jelas Lisa meminta pengertian Mamahnya.

“Lisa,” bermaksud melanjutkan perkataannya, Ros membuka mulutnya tetapi langsung dipotong oleh Lisa.

“Tolong, Mah. Ini permintaan terakhir Lisa kepada Mamah,” sahut Lisa menahan tangis, dia tidak bermaksud memotong perkataan Mamahnya dengan kejam, tetapi Mamahnya tidak akan mau berhenti membujuknya jika Lisa tidak mengatakan itu semua.

“Baiklah, akan Mamah lakukan,” sahut Ros pasrah.

“Terimakasih Mah,” jawab Lisa tersenyum sambil menggenggam erat tangan Ros.

#####

“Yoga Mahardika Pratama!” seorang wanita paruh baya dengan yakinnya memasuki ruangan, dengan plang ‘Direktur Utama’ menempel di pintu besar itu, diikuti seorang wanita muda di belakangnya yang tergopoh-gopoh mengikuti dan hanya bisa berjengit mendengar nada suara yang keluar dari bibir wanita paruh baya nan elegan di depannya.

“Maafkan saya, Pak, Ibu memaksa masuk,” ujar wanita muda masih dengan posisi di belakang wanita tadi setelah mendapati atasannya memasang perhatian penuh ke arah mereka berdua.

“Tak apa, Siska, kau bisa kembali bekerja,” sahut lelaki yang dipanggil Yoga Mahardika Pratama dan tak lama wanita yang dipanggil Siska menutup pintu, menuruti permintaan atasannya, “Mom, ini kantorku, bukan kantor Dad, tak bisakah Mom mengecilkan suara Mom?” lanjut Yoga sambil berkutat kembali pada berkas-berkas di hadapannya, tak mempedulikan wajah garang Aline Pratama, Ibu kandungnya, di hadapannya.

“Yoga, Bagaimana bisa kau masih berada di sini sementara istrimu sedang menjalani terapi rutinnya di Rumah Sakit?”  seperti tak mempedulikan protes Yoga, Aline terus saja berucap tanpa mengecilkan volume suaranya.

“Lisa tidak sendirian, Mom, dia bersama dengan Mamahnya,” sahut Yoga cuek.

“Yoga, Mom tidak pernah mengajarkanmu menjadi suami yang tidak bertanggungjawab seperti ini! Kenapa kau tidak mau menemani istrimu menjalani terapinya?” tanya Aline sambil menaruh tas tangannya dengan sedikit kasar di meja, menghasilkan bunyi berisik karena gesekan meja dengan aksesoris tas tangannya, berusaha memberikan isyarat kepada anaknya bahwa dia ingin mendapatkan perhatian penuh.

Dengan malas Yoga mendongakkan kepalanya dan mendapati wajah sedih Aline, menghela nafas Yoga menaruh kembali berkas-berkas yang ada di tangannya sambil bersandar di kursinya.

“Mom, kalau Yoga tidak bertanggungjawab, Yoga tidak akan melaksanakan permintaan terakhir Om Darmawan, Papah Lisa, untuk menikahinya,” sahut Yoga sambil menatap mata Aline.

“Ya, kau memang menikahinya, tetapi kau tidak menjalankan kewajibanmu sebagai seorang suami sebagaimana mestinya, kau seharusnya mendampinginya di masa-masa sulitnya ini,” jelas Aline mencoba memberikan pengertian kepada anaknya.

“Tanggungjawab macam apalagi yang diinginkan Mom? Tak cukupkah Yoga menikahi Lisa dan membiayai semua pengobatannya seperti ini walau pada kenyataannya mereka telah berbuat tidak adil pada Yoga? Memisahkan Yoga dengan wanita yang sangat Yoga cintai dengan cara licik, menamengkan penyakit Tumor Otak yang diderita Lisa? Apa Mom lupa bagaimana dengan teganya mereka membohongi kita semua mengenai penyakit Lisa hanya untuk memastikan Yoga tidak lari dari janji Yoga kepada Om Darmawan?”

“Mereka melakukan itu semua karena takut kehilanganmu sa… ,” belum selesai Aline berbicara, Yoga langsung memotong ucapan Aline.

“Mereka takut kehilangan perusahaan Om Darmawan jika pernikahan tidak segera dilakukan, yang berarti mereka tidak akan bisa menikmati kehidupan mewah mereka serta memberikan pengobatan yang maksimal untuk Lisa tanpa adanya pernikahan ini, Mom,” potong Yoga sambil menatap tajam Aline, meminta pengertiannya untuk tidak memotong pembicaraannya, “Selama 2 tahun ini, Yoga tidak pernah memperhitungkan serta mengeluh berapa banyak biaya yang sudah Yoga keluarkan untuk pengobatan Lisa serta gaya hidup mereka, apakah itu tidak cukup untuk membuktikan Yoga telah menjalankan kewajiban Yoga sebagai seorang suami?”

Pembicaraan mereka terpotong karena ada suara intercom yang masuk,
“Maaf, Pak. Janji temu Bapak siang ini sudah datang, dimanakah Bapak ingin saya mempersilahkan tamu Bapak menunggu?” tanya Siska, sekertaris Yoga melalui intercom.

“Bawa Beliau ke ruangan Meeting, saya akan ada di sana 5 menit lagi,” jawab Yoga sambil memutuskan intercomnya, “Maaf, Mom, Yoga harus menemui klien penting ini, Yoga tidak mau kehilangan proyek milyaran dollar hanya untuk membahas masalah ini,” lanjut Yoga sambil membereskan berkas-berkas di hadapannya dan bersiap untuk pergi.

“Jadi, kau benar-benar belum memaafkan mereka? Bagaimanapun Lisa itu istrimu, dia berhak untuk mendapatkan perhatian juga cintamu,” tanya Aline ketika mendapati Yoga sudah menggapai gagang pintu hendak meninggalkannya.

“Sejak kapan seorang Yoga Mahardika Pratama mentolerir sebuah kebohongan, Mom?” Yoga menghentikan tangannya yang sudah akan membuka pintu, tanpa menoleh melanjutkan, “Ya, Lisa memang istri Yoga, hal yang tidak akan pernah bisa dipungkiri, tetapi Yoga tidak akan pernah bisa menganggap Lisa lebih dari seorang Adik, hati Yoga sudah diisi penuh oleh 1 nama” tanpa menunggu reaksi Aline, Yoga melangkah pasti menuju ruangan meeting.

#####

“Davina Indriani!” merasa namanya dipanggil, wanita cantik yang sedang berdiri di depan lift menoleh dan mendapati wanita paruh baya di belakangnya sedang mendekatinya dengan langkah tergopoh-gopoh membawakan sebuah tas kecil, “Bibi memanggil-manggil Non dari tadi, tapi Non ga dengar, terpaksa Bibi memanggil nama lengkap Non. Non Vina lupa bawa bekal makan siang,” lanjutnya sambil menyerahkan tas kecil yang dipegangnya.

“Ah, iyah aku lupa, Bi, maaf,” sahut Vina sambil menerima tas kecil, “Ya sudah, Vina jalan dulu, Bibi ga usah tunggu Vina malam ini, Vina akan berada seharian di galeri Tn.Lee sekalian menunggu hasil ujian tesis Vina,” jelas Vina dan tak lama memasuki Lift yang terbuka.

#####

Ros masih termenung memikirkan permintaan putrinya, bagaimana bisa dia membicarakan ini semua kepada keluarga besar Mahardika? Lalu bagaimana nasib putrinya kelak? Dia sadar betul apa yang dikatakan Lisa benar, sudah sepantasnya mereka memberikan kebahagiaan itu sedari dulu, tetapi sanggupkah? 1 hal yang tidak pernah Lisa tahu, bahwa dirinyalah yang membuat Yoga tidak bisa mendapatkan kebahagiaannya, menamengkan penyakit Lisa untuk mencapai tujuannya, membahagiakan Lisa di sisa hidupnya serta mengamankan posisinya di keluarga besar suaminya.

Ya, dia menyembunyikan fakta bahwa dia melahirkan anak kembar 26 tahun silam, Lisa memiliki saudara kembar, adiknya yang terlahir dengan sempurna itu langsung diungsikan beberapa jam setelah lahir ke dunia, diadopsi oleh sepasang suami istri yang telah lama tidak mempunyai anak. Semua sudah tersusun rapih jauh sebelum Ros melahirkan, sehingga ketika Ros melahirkan mereka tinggal mengeksekusi saja. Sedih? Pasti, Ibu mana yang tidak sedih ketika harus berpisah dengan anak yang dikandungnya selama 9 bulan, begitu juga Ros, dia sangat sedih ketika harus terpisah dari anak bungsunya, tetapi dia tidak punya pilihan lain, Ros sudah membekukan hatinya hari itu, dia tidak mau rumah tangganya hancur, diceraikan dan dibuang begitu saja karena dia melahirkan sepasang anak kembar, yang dalam mitos keluarga suaminya membawa petaka terhadap keluarga mereka.

Beruntung mereka kembar tidak identik, hingga tidak membuat kecurigaan orang lain bahkan dirinya sendiri ketika pada saat SMU Lisa memperkenalkannya sebagai sahabatnya, dan berteman hingga mereka lulus S1. Ros baru mengenali anak bungsunya ketika dia mendapati orang yang dia tugaskan untuk menjaga dan mengikuti saudara kembar Lisa apapun yang terjadi, bekerja menjadi pengasuh sahabat Lisa sejak dia bayi. Senang? Tidak, dia justru merasa kehancurannya akan datang jika mereka semakin dekat, terlebih ketika dia mendengar Yoga mencintai anak bungsunya, bukan Lisa, yang jelas-jelas sudah mencintainya sejak SMP, dan sudah dijodohkan dengannya sejak kecil.

Lamunan Ros terhenti karena mendengar rintihan anaknya di mimpinya, dia mendekati ranjang Lisa, memeriksa apakah Lisa terbangun, tetapi tidak. Dengan sayang dia mengelus kening Lisa yang masih mengerutkan keningnya, hati Ros terpilin melihat bahkan di mimpinya, Lisa masih merasakan sakitnya, jika saja dia bisa menggantikan Lisa, dia ikhlas.  Jika Tuhan ingin menghukumnya karena kesalahan terbesarnya memisahkan Lisa dari saudara kembarnya serta memisahkan anak dari ayahnya, seharusnya dia saja yang menanggung semuanya, bukan Lisa, karena ini semua kesalahannya bukan kesalahan Lisa.

#####

“Karena kalian semua sudah hadir di sini, Lisa mau memberitahukan sesuatu,” ucap Lisa ketika mereka sekeluarga sedang berkumpul untuk makan malam di rumah setelah Lisa pulang dari terapinya.

“Lis, apa tidak sebaiknya ini dibicarakan nanti saja? Kamu masih capek sayang,” Ros mencoba menahan Lisa, tetapi Lisa tidak bergeming.

“Lisa mau memberitahukan kepada Mom, Dad dan juga Kak Yoga kalau Lisa mengizinkan Kak Yoga menikah lagi,” sontak ketika Lisa menyelesaikan kalimatnya mereka bertiga menatap Lisa penuh tanda tanya.

“Apa maksud semua ini, Lis?” tanya Yoga penuh selidik.

“Seperti yang Kakak dengar, Lisa mengizinkan Kak Yoga menikah lagi,” ulangnya membuat Yoga terperangah.

“Lis, mungkin benar yang dikatakan Mamahmu, kamu masih capek habis terapi, kamu masih labil, kau seharusnya beristirahat di kamar sekarang,” jelas Aline.

“Tidak, Mom. Ini bukan karena capek habis terapi, Lisa sudah memikirkannya matang-matang,” ucap Lisa yakin kepada Ibu Mertuanya, “Kak, Lisa sudah tahu semuanya, Kakak hanya mencintai Vina seorang, tidak ada tempat lagi buat Lisa di hati Kakak, maafkan Lisa yang sudah menutup mata selama 3 tahun ini, kejarlah kebahagiaan Kakak, dan izinkan Lisa menyaksikannya selagi Lisa masih hidup,” lanjut Lisa sambil menggenggam tangan Yoga, suaminya, yang duduk di sebelahnya.

“Apa kau lupa kalau Vina sudah pergi? Dia pergi tanpa meninggalkan pesan kepada kita semua, bagaimana bisa Yoga menemuinya?” tanya Daniel Pratama, Ayah Mertua Lisa yang sedari tadi hanya bisa diam mengamati semuanya. Ya, dia tahu pasti siapa yang sangat dicintai anaknya, karena tidak ada rahasia diantara Ayah dan Anak ini, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak ketika Yoga pada akhirnya menikahi Lisa karena pesan terakhir Darmawan sebelum kematiannya, membuat Yoga terpaksa berjanji menikahi Lisa dan menepatinya tak lama setelah kematian Darmawan.

“Kak Yoga sudah menemukan Vina, Dad,” ucap Lisa yakin dan menghiraukan tatapan tak percaya Yoga, serta tatapan kaget yang lainnya, “Ya, selama 2 tahun belakangan Kak Yoga mencari semua informasi mengenai Vina hingga pada akhirnya dia sudah mengetahui keberadaan Vina, membantu Vina tanpa Vina tahu bahwa Kak Yogalah yang telah membantunya selama 1 tahun terakhir ini, mengamatinya dari kejauhan tetapi tidak pernah berani menunjukkan diri di hadapan Vina karena Lisa, benar begitu bukan Kak?” lanjut Vina sambil menatap Yoga tanpa berkedip.

“Jadi, selama ini kamu?” pertanyaan Aline menggantung, tak sanggup untuk melanjutkan sisanya. Inilah alasan kenapa Yoga selama 1 tahun terakhir kembali menjadi Yoga yang dia kenal setelah sebelumnya bersikap bagaikan beruang yang terluka, karena dia telah menemukan pengisi hatinya.

“Benar begitu, Yoga?” tanya Ros tak percaya.

“Ya, yang dikatakan Lisa benar, Yoga sudah menemukan Vina dan tak berani menemuinya,” Yoga berhenti sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat, “Tetapi alasan Yoga tidak berani menunjukkan diri Yoga bukan karena Lisa, karena Yoga tahu dengan pasti kenapa Vina pergi, dan dia tidak akan kembali kecuali orang yang telah menyuruhnya pergilah yang membawanya kembali,” jelas Yoga sambil menatap Ros dengan tatapan marah.

“Apa maksudnya, Kak? Apa maksud Kakak dengan ‘kecuali orang yang telah menyuruhnya pergilah yang membawanya kembali’?” tanya Vina tak mengerti arah pembicaraan Yoga.

“Coba kau tanyakan saja kepada Mamahmu, Lis,” jawab Yoga menantang Ros untuk memberitahukan semuanya.

Sementara Ros hanya bisa terdiam ketika semua mata menuju ke arahnya, menuntut penjelasannya.

#####

Vina masih terdiam di dalam ruangan lukis galeri yang disediakan khusus oleh Tn.Lee kepadanya setiap dia ingin melukis sejak 1 tahun silam, menatap ke luar jendela, melihat langit jernih nan cerah dengan awan putih bergulung-gulung menambah keindahan langit biru tanpa cela di matanya. Selama 3 tahun di Seoul, 1 tahun terakhir merupakan tahun termudahnya berada di sini,dia dapat menyelesaikan tesisnya tepat waktu, lukisan-lukisannya yang terjual dengan harga lumayan cukup untuk menutupi biaya hidup dan biaya kuliah S2, serta bisa bertemu dengan Tn.Lee yang dengan antsias menerima lukisan amatirnya untuk di jual di galeri besarnya ini dan bahkan menyediakan ruangan khusus untuknya melukis di sela-sela waktu luangnya.

Vina sangat tak menyangka, mengingat apa yang telah dialaminya 3 tahun lalu, kematian kedua orangtuanya dalam kecelakaan pesawat tragis, perpisahannya dengan sahabat terbaiknya yang saat itu tengah menjalani prosesi pernikahan dengan orang yang sangat dicintainya tanpa ada kata perpisahan di antara mereka, membuat Vina sempat merasa dunia ini tidak adil, terlebih ketika dirinya mengetahui bahwa ternyata dia bukan anak kandung dari kedua orangtuanya saat pemakaman kedua orangtuanya.

Teringat kembali hari dimana dia masih dalam perasaan berkabung, masih mencoba menerima kenyataan bahwa dirinya bukanlah anak kandung kedua orangtuanya, mendapati tamu yang berkunjung ke rumahnya malam-malam bukannya meringankan kesedihannya justru menambah kesedihannya.

“Vin, Tante akan mengatakan langsung tujuan Tante datang ke rumahmu malam-malam begini,” ujar Ros saat dia diizinkan masuk ke dalam rumah, mengabaikan kenyataan bahwa Vina masih berkabung karena kematian orang tua angkatnya, yang dia ketahui sebagai orang tua kandungnya, “Tante ingin kau pergi secepatnya dari Indonesia, Tante sudah menyiapkan semuanya, di dalam amplop ini ada Paspor, Visa, dan segala keperluanmu untuk segera pergi ke luar negeri termasuk di dalamnya buku tabungan atas nama kamu di Bank Negara tujuanmu, dan berhubung kau hanya tinggal bersama Bik Ipah, kau bisa membawanya serta supaya kau tidak kesepian,” lanjutnya tanpa menghiraukan tatapan sedih Vina mendengar semua penuturannya.

“Kenapa Vina harus pergi? Apa salah Vina?” tanya Vina terluka.

“Maafkan Tante, Vin. Hari pernikahan Lisa dan  Yoga telah ditetapkan, Tante tidak ingin Yoga mengubah fikirannya karena kamu, kau tentu tahu pesan terakhir Papahnya Lisa bukan? Kau ada di sana saat itu, Vin, Tante tidak mau  ada bayang-bayang wanita lain di kehidupan pernikahan mereka kelak,” jelas Ros mengabaikan hati nuraninya yang berteriak untuk menghentikan semua tingkah gilanya ini.

“Apa maksud Tante?” tanya Vina mengabaikan tangis yang mendesak keluar, memahami dengan jelas semua maksud perkataan Ros.

“Tante tidak buta, Vin. Tante tahu semunya, kau mencintai Yoga, begitu juga Yoga mencintaimu. Selama ini kau mungkin sudah menahan perasaanmu karena memandang Lisa, sahabatmu yang sudah terlebih dahulu mencintai Yoga sejak kecil, dan Tante bersyukur karenanya. Tetapi ini tidak cukup menjamin bahwa setelah pernikahan, Yoga tidak aka menemuimu lagi serta akan menghapus semua tentang dirimu, Tante tidak mau rumah tangga anak Tante satu-satunya rusak karena kehadiranmu.” Ros tidak melihat tatapan terluka Vina karena terlalu sibuk mengeluarkan amplop coklat berukuran sedang ke hadapan Vina dan segera menyerahkannya kepada Vina yang masih termangu.

Bukan ini yang Vina harapkan ketika dia bertemu dengan Ros, dia mengharapkan dia bisa memeluk erat Ros dengan Ros berkata kepadanya bahwa semua akan baik-baik saja, bukan justru mengusirnya karena pernikahan Lisa dan Yoga yang sudah ditetapkan, terlebih ketika Ros mengatakan dengan penuh penekanan pada kata-kata ‘anak Tante satu-satunya’ membuat Vina kembali ke kenyataan bahwa dirinya sejak lahir pun tidak diinginkan Ros untuk ada bersamanya, menahan tangis yang semakin mendesak Vina memberanikan diri bertanya.

“Jadi, Tante ingin Vina pergi dari kehidupan kalian? Pernahkah Tante memikirkan perasaan Vina? Apa Tante tidak pernah percaya pada Vina sekalipun Vina berjanji untuk tidak mengganggu rumah tangga mereka asalkan Vina masih bisa bertemu dengan Tante?”

Ros tercengang mendengar pertanyaan Vina, ada makna tersirat di pertanyaannya, tetapi Ros mengabaikan makna itu, menyangka bahwa Vina belum mengetahui semuanya.

“Ini semua demi Lisa, tidak ada yang boleh tahu penyakitnya, tidak setelah dia resmi menikah dengan Yoga dan ini semua demi kebaikan kita bersama, anakku”, ucap Ros dalam hati sambil menutup matanya.

“Ya, Tante ingin kau pergi jauh dari kehidupan kami, bahkan kalau perlu kau tinggal di tempat yang tidak pernah terfikirkan oleh kami, yang perlu menempuh belasan jam untuk menemuimu, dan Tante tidak pernah mempercayaimu, tidak jika menyangkut pernikahan Lisa dan Yoga,” ujar Ros setelah membuka matanya dan memberikan tatapan tegas kepada Vina yang sedang berusaha keras menahan tangisnya.

“Baiklah, Vina akan melakukan semua permintaan Tante, Vina akan pergi, tetapi tidak dengan bantuan Tante. Beri Vina waktu untuk mempersiapkan semuanya, Vina akan pergi tepat di hari pernikahan Lisa dan Yoga, beri Vina kesempatan untuk menyaksikan hari bahagia mereka, maka Vina akan menghilang selamanya dari kehidupan kalian kecuali Tante menginginkan sebaliknya,” tekad Vina sudah bulat, jika memang ini yang diinginkan Ros, dia akan mengikutinya, melupakan semua rasa sakitnya, tak menghiraukan perasaannya yang hancur lebur.

“Oke, Tante memberikanmu waktu hingga hari itu tiba, dan jangan sekalipun kau memberitahukan kejadian malam ini kepada Lisa maupun Yoga, bersikaplah seperti biasa, jika mereka sampai tahu, Tante tidak akan pernah memaafkanmu!” ancam Ros.
“Vina berjanji,” sahutnya cepat.

#####

“Vin,” panggilan itu membuat Vina kembali ke masa sekarang, menoleh ke belakang, Vina melihat Tn.Lee, lelaki paruh baya yang selama ini sudah membantunya, sedang berdiri di depan pintu, enggan masuk karena Vina tidak pernah suka ada orang lain di dalam ruang lukisnya sementara dia melukis.

“Masuklah, Tn.Lee,” pinta Vina sambil meletakkan kembali alat lukisnya.

“Maaf, aku mengganggumu,” jawab Tn.lee menggunakan bahasa inggris dengan loga Koreanya yang kental, sudah 3 tahun di Seoul tetapi Vina masih belum fasih dengan bahasa Korea, dia hanya bisa mengerti maksudnya.

“Tidak, saya masih belum mulai melukis,” jelas Vina sambil melihat ke kanvasnya yang masih putih bersih.

“Akhir-akhir ini kau kehilangan ide melukismu, apa karena kau tegang menungu pengumuman ujian tesismu?” tanya Tn.Lee sambil duduk di sofa dekat Vina.

“Ya, sepertinya begitu,” jawab Vina sambil menghela nafas frustasi.

“Jangan dipaksakan, nanti kau kehilangan ciri khasmu,” jelas Tn.Lee sambil memperhatikan perubahan raut wajah Vina, “Oh, ya, selama ini kau melukis menggunakan warna-warna terang, tetapi saya dapat melihat kau menyimpan luka mendalam di setiap lukisanmu, seakan mencoba meminta pertolongan dari orang yang mengerti kode tersembunyi di setiap lukisanmu, ada apa?”

“Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Vina mengalihkan pandangannya.

“Tak bisakah kau mempercayai lelaki tua ini untuk mendengarkan semua kisah hidupmu? “ tanya Tn.Lee membuat Vina menatap wajah Tn.Lee.

“Saya lebih suka mendengarkan kisahmu dengan Ny.Lee dibanding menceritakan ceritaku yang tak penting,” kilah Vina mencoba mengalihkan perhatian Tn.Lee.

“Ya sudah kalau kau tidak mau bercerita,” sahut Tn.Lee bersiap meninggalkan Vina, “Kau tahu, kau memiliki bakat yang luar biasa jika kau terus mengasah kemampuanmu dalam melukis, mengapa kau tidak mengambil jurusan seni lukis bukannya master bisnis seperti sekarang ini?”

“Saya tidak berbakat, saya hanya melukis setiap saya ingin melukis,” jawabnya sambil menggelengkan kepalanya, “Melukis hanya hobi yang dapat menghasilkan uang tambahan, melukis bukan jenis mata pencaharian yang bisa saya gantungkan hidup saya di dalamnya, ketika tidak ada lagi orang yang mau membeli lukisan saya, maka saya akan terpuruk, bukan itu jenis kehidupan yang saya inginkan.”

“Nampaknya kau terlalu berburuk sangka terhadap dirimu sendiri, apa ada yang sudah pernah menorehkan luka begitu dalamnya kepadamu sehingga membuat kau seperti ini?” tanya Tn.Lee, namun Vina hanya terdiam, “Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi, satu hal yang pasti, kau bisa menggantungkan hidupmu kepada orang yang sangat mencintaimu kelak jika sampai tidak ada lagi yang mau membeli lukisanmu, dan seperti itulah kodrat seorang wanita, menyerahkan sepenuhnya hidupnya kepada orang yang berhasil menaklukkan hatinya,” dan Tn.Lee pun meninggalkan Vina yang masih mencerna perkataannya.

#####

“Apa yang dimaksud Kak Yoga, Mah?” Lisa menuntut jawaban dari Ros yang masih terdiam, memandang kosong gelas di hadapannya, “Mah,” panggil Lisa.

“Maafkan Mamah Lisa,” pinta Ros sambil menatap Lisa dengan tatapan bersalah, “Mamah menemui Vina sesaat setelah hari pernikahanmu ditetapkan, memintanya untuk pergi jauh dan tidak akan kembali kecuali Mamah menginginkan sebaliknya,” Ros menatap Lisa, mengukur reaksi yang akan ditunjukkan Lisa.

“Apa? Saat itu Vina masih berkabung karena kematian kedua orang tuanya, dan Mamah dengan kejam menemuinya?!” ucap Lisa tak percaya menopang kepalanya dengan kedua tangannya di meja.

“Kau baik-baik saja, Lis?” tanya Aline khawatir.

“Aku baik, Mom. Tolong lanjutkan Mah,” pinta Lisa menguatkan hatinya.

“Vina menyanggupinya, dengan syarat dia diizinkan melihat pernikahan kalian, itulah alasannya mengapa kalian tidak menemukan Vina dimanapun saat resepsi dan setelahnya, karena dia hanya menghadiri akad kalian dan langsung pergi jauh dari sini tanpa mengucapkan perpisahan kepada kalian,” jelas Ros sambil menutup mata, tak berani melihat mata Lisa yang sedang memancarkan kebencian kepadanya.

“Mengapa Vina bisa begitu bodohnya menyetujui ini semua? Ini tidak seperti Vina yang ku kenal, apa yang telah Mamah lakukan kepadanya?!” tuntut Lisa.

“Apa kau sungguh ingin mengetahui alasannya, Lis?” tantang Yoga.
“Apa maksud Kakak?” tanya Lisa mengerutkan keningnya.

“Tidak, kau belum siap, Lis. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu setelah mngetahui ini semua,” tolak Yoga.

“Aku siap!” protes Lisa.

“Baiklah,” jawab Yoga pasrah, “Karena Vina beranggapan inilah yang diinginkan oleh Mamahmu, yang juga adalah Mamahnya,” jelas Yoga, tak mempedulikan tatapan shock Ros yang tak menyangka rahasia terbesarnya telah diketahui Yoga.

“Ba, bagaimana kau bisa tahu?!” pekik Ros tak percaya.

“Apa?!!” teriak Lisa di saat yang bersamaan, dan saat itu juga Lisa merasa kepalanya semakin sakit, bermaksud untuk berdiri, tetapi Lisa tidak sanggup dan langsung ambruk.

“Lisa!!” teriak Yoga, Ros, Aline dan Daniel bersamaan.

#####

Lisa merasa sakit di kepalanya berkurang, ketika membuka matanya, Lisa mendapati dirinya berada di kamar yang sudah tidak asing lagi, ini kamarnya, dan semuanya berada di kamar yang sama, menunggu dengan cemas.

“Lisa, kau sudah sadar?” tanya Ros memastikan sambil menggenggam tangan kanannya, sementara di kanannya ada Aline.

“Aku kenapa?” tanya Lisa mencoba mengingat kejadian sebelumnya, dan ketika dia sudah mengingatnya, reflek dia menarik tangannya dari genggaman Ros dan memaksa untuk duduk.

“Lisa,” panggil Ros yang tak digubris Lisa.

“Jadi, aku dan Vina bersaudara? Bagaimana bisa? Aku dan Vina seumur, bahkan tanggal lahir kami sama,” tanya Lisa, “Kecuali kami,” ucapannya terhenti dan dengan segera memandang Ros, menuntut penjelasan.

“Ya, kalian kembar,” jawab Ros pahit.

“Kembar? Tetapi kami,” Lisa masih berfikir.

“Ya, kalian kembar tidak identik, itu sebabnya wajah kalian tidak mirip satu sama lain, Vina diadopsi beberapa jam setelah kelahirannya, dan sejak saat itu Mamah tidak pernah mencari tahu lagi keberadaannya, bahkan ketika kau mengenalkannya sebagai sahabatmu pun Mamah masih tidak mengenalinya. Mamah baru mengenalinya ketika Mamah menjemputmu di rumahnya sepulang kalian mengerjakan tugas kuliah, Mamah bertemu dengan Bi Ipah, orang yang Mamah tugaskan untuk merawatnya, menjaganya, bekerja di rumah keluarga Indriani sebagai pengasuh Vina sejak kecil” jelas Ros.

“Bahkan kau tidak mengenali orang yang telah mengadopsi anakmu sendiri?” tanya Aline.

“Tidak, aku tidak pernah bertatap muka atau bahkan mencoba mencari tahu nama orang yang telah mengadopsi anak bungsuku, perhatianku terpusat pada Lisa dan keluarga besar Darmawan,” jawab Ros.

“Kenapa, Mah? Kenapa Mamah dengan tega melakukan ini semua kepada Vina?” tanya Lisa.

“Karena keluarga besar Papahmu menganggap kelahiran anak kembar di keluarga mereka akan membawa petaka terhadap keluarga mereka, Mamah tidak mau hidup Mamah hancur, karenanya Mamah melakukan ini semua,” terang Ros tanpa berani mengalihkan tatapannya dari Lisa.

“Bahkan Papah yang hingga kematiannya tidak pernah mengetahui ini semua?” tanya Lisa,
“Tidak, tidak ada yang tahu terkecuali Mamah, bahkan saat itu Vina tidak mengetahuinya sama sekali,” jelas Ros.

“Tidak, Vina sudah tahu semuanya, maka dari itu dia dengan pasrah menuruti semua permintaan Mamah,” ujar Yoga.

“Bagaimana bisa kau mengetahui semua ini Yoga?” tanya Daniel.

“Yoga menyewa seseorang untuk mencari keberadaan Vina, Dad. Dan ketika Yoga telah menemukannya, Yoga berencana untuk memaksanya pulang, tetapi Yoga justru bertemu dengan Bi Ipah ketika hendak bertemu dengan Vina, dari dialah akhirnya Yoga tahu semua ini, dia meminta Yoga untuk tidak memaksa Vina pulang, karena dia tidak akan mau pulang kecuali Mamah yang memintanya untuk pulang, sesuai dengan janjinya.”

“Itu berarti Mamah harus menemui Vina dan memintanya pulang saat ini juga untuk menikah dengan Kak Yoga, karena jika tidak, Lisa tidak akan pernah mau memaafkan Mamah!” ancam Lisa membuat Ros membeku di tempatnya.

“Tapi, Lis. Tak bisakah kau memikirkan semuanya lebih matang? Bagaimana jika isu poligami ini membuat sahan perusahaan akan hancur? Bagaimana Mamah bisa mengobatimu jika perusahaan hancur?” terang Ros.

“Saham perusahaan keluarga Mahardika tidak akan hancur, kau tidak perlu khawatir itu akan membuat perusahaanmu terkena imbasnya,” Aline menjelaskan dengan nada setengah marah.”

“Ada banyak pengusaha di luar sana yang berpoligami, namun tidak membuat perusahaannya hancur, itu karena dalam berbisnis kami mengutamakan profesionalitas, bukan karena perasaan. Lagipula, ini hidup kita, apa urusannya dengan mereka?” jelas Daniel mendukung pernyataan Aline, istrinya.

“Lisa lebih memilih untuk tidak sembuh daripada harus mengorbankan adik Vina sendiri,” tantang Lisa.

“Baiklah, Mamah akan menemui Vina dan membawanya pulang,” sahut Ros pasrah.

#####

Hasil ujian tesis Vina akhirnya keluar keesokan harinya, Vina lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, dengan riang dia menuju galeri Tn.Lee untuk memberitahukan kabar gembira ini, tetapi justru bukan dia saja yang memberikan kabar gembira, Tn.Lee mengabarkan bahwa lukisan  terakhirnya terjual dengan harga di atas harga biasa, melengkapi kebahagiaannya.

Vina baru kembali ke apartemen malam harinya karena dia terlalu asyik berbelanja bahan makanan yang akan dimasaknya malam ini bersama Bi Ipah, bermaksud merayakan kabar gembira yang diterimanya hari ini.

“Bibiiii, aku pulang, aku membawa kabar gembira dan membeli daging untuk merayakannya,” ujar Vina sambil menatap heran deretan sepatu yang tidak dikenalnya, “Bi, apa ada tamu? Aku tidak mengenali sepatu yang ada di depan,” lanjutnya sambil mengganti sandal perginya dengan sandal rumahnya tanpa melihat ke arah ruang tamunya, dan ketika dia melihat, dia mendapati Ros dan Yoga yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan berbeda.

Jika Yoga menatapnya dengan tatapan rindu, maka Ros menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat Vina mengerti, ada ketakutan bercampur dengan keraguan di dalamnya.

“Kalian?” Vina akhirnya bersuara lebih dulu, walau kenyataannya suaranya seperti tercekik.

“Mereka datang untuk menemui Non,” sahut Bi Ipah sambil mengambil alih belanjaan dari tangan Vina ke tangannya dan dengan bijaksana meninggalkan mereka bertiga.

“Lisa membutuhkanmu, Vin, pulanglah,” pinta Yoga setelah dia berhasil menguasai dirinya untuk tidak langsung merengkuh tubuh Vina ke dalam pelukannya.

“Apa maksudmu?” tanya Vina tak percaya.

“Lisa sakit tumor otak stadium 3 dan dia membutuhkanmu, Vin, pulanglah bersama kami sekarang juga,” pinta Ros membuang seluruh gengsinya demi menepati janjinya terhadap Lisa.

“Sakit? Tumor otak?” sahut Vina tak percaya, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan dari tatapan Ros dan Yoga, dan ketika tidak mendapatkannya, dia terduduk lemas di sofa di dekatnya.

“Ya, maka dari itu, ikutlah bersama kami pulang, Vin,” ajak Yoga tanpa melepaskan tatapannya kepada Vina, tatapan yang membuat Vina luluh.

“Aku akan pulang, tetapi dengan 1 syarat,” ucap Vina yakin.

#####

“Vina! Kau datang!” seru Lisa senang ketika mendapati Vina berada di samping ranjangnya saat bangun tidur keesokan harinya.

“Ya, aku datang, Lis,” sahut Vina senang sambil memeluk Lisa, pelukan seorang Adik yang merindukan Kakaknya.

“Vina, maafkan aku, maafkan Mamah,” pinta Lisa tanpa melepaskan pelukannya, membalas pelukan Vina dengan hangat.

“Tidak, tidak ada yang perlu dimaafkan, aku pergi karena keinginanku,” jelas vina sambil melepaskan pelukannya.

“Aku ingin meminta 1 hal darimu,” Lisa tak mau membuang-buang waktunya.

“Apa itu?” tanya Vina sambil mengerutkan keningnya.

“Aku ingin kau menikah dengan Kak Yoga,” jawab Lisa yakin.

“Apa?! Tidak!” pekik Vina.

“Kau harus menikahinya, ini permintaan terakhirku kepadamu, Vin,” pinta Lisa.

“Tidak, aku pulang bukan untuk mendengar omong kosong ini, Lis,” sergah Vina.

“Ini bukan omong kosong, aku sudah tahu semuanya, kau adalah adikku, adik kembarku,” ucapan Lisa terpotong karena terdengar suara terkesiap Vina, sambil memegang pipi Vina, Lisa melanjutkan, “Dan aku tahu dengan pasti bahwa adik kembarku ini sangat mencintai suamiku, bahkan rela membuang jauh perasaannya untuk merestui kami. Sudah cukup semua pengorbananmu, Vin. Seharusnya sudah dari dulu aku melakukan ini, tetapi aku tidak sanggup, aku tidak mampu membayangkan di sisa hidupku yang pendek ini, aku melihat orang yang sangat aku cintai menikah dengan sahabat baikku yang tak lain ternyata adalah adik kembarku.”

“Jangan jadikan aku madumu, Lis, jadikan aku adikmu, aku tidak mau menjadi orang ketiga di pernikahan kalian, aku mohon,” pinta Vina tanpa kuasa menahan tangis. Dia memang sangat mencintai Yoga, tetapi tidak pernah terfikirkan dia menjadi istri kedua Yoga, tidak, ini bertentangan dengan hatinya, tidak akan 1 wanita pun yang sanggup membagi cinta suaminya, tidak pula mereka yang notabene saudara kembar sekalipun.

Tangis pecah di antara mereka, untuk beberapa saat mereka terdiam.

“Tidak, kau tidak pernah menjadi orang ketiga, karena tidak pernah ada hubungan antara aku dan Kak Yoga, selama 3 tahun pernikahan kami, dia tidak pernah menganggapku istrinya, aku hanya seorang adik baginya, tidak lebih. Akulah yang sebenarnya menjadi orang ketiga di antara kalian, menamengkan penyakitku untuk menikahi Kak Yoga, memaksanya menikahiku karena janjinya kepada Almarhum Papah di saat-saat terakhirnya. Maafkan aku yang tidak sanggup berpisah dengan Kak Yoga dan terus mengekangnya dalam pernikahan semu ini, maafkan aku. Ku mohon, Vin, izinkan aku menebus dosaku, izinkan aku melihat kebahagiaan kalian selama aku masih bernafas. Kak Yoga hanya mencintaimu, di hatinya hanya ada namamu, bukan diriku,” pinta Lisa sambil menggenggam erat tangan Vina.

“Lisa,” rintih Vina sambil memeluk Lisa dengan erat, mencoba membagi rasa yang sedang dirasakan Lisa saat ini, hidup terlalu kejam terhadapnya, Vina tahu dengan pasti bagaimana hidup sebagai orang yang tidak diinginkan.

“Ku mohon, Vin, waktuku tidak banyak,” pinta Lisa sambil melepakan pelukan Vina.

“Baiklah,” jawab Vina pasrah.
#####
“Apa? Kau harus kembali jumat depan? Tetapi kau baru pulang, Vin, dan kau hanya ada di sini selama 6 hari saja?” ucap Lisa saat mereka sedang menikmati makan malam mereka, lengkap dengan Aline dan Daniel di antara mereka.

“Iya, Lis, ini syaratku ketika mereka menjemputku, aku akan pulang, tetapi jumat depan aku harus kembali untuk menyelesaikan semua urusanku di sana, aku harus menghadiri wisuda S2 ku,” jelas Vina meminta pengertian Lisa.

“Baiklah, kalau begitu kita harus cepat mempersiapkan pernikahan kalian, Mom, bagaimana jika kita melangsungkan pernikahan mereka hari Rabu?” jawab Lisa cepat.

“Rabu? Itu berarti kita hanya punya waktu 4 hari, apa mungkin, Lis?” jawab Aline ragu.
“Apa? Ini terlalu cepat, mengapa tidak setelah aku menyelesaikan semua urusanku di Seoul?” tawar Vina.

“Tidak, kau harus kembali ke sana dengan status sebagai istri Yoga Mahardika, jadi kau bisa menghadiri wisudamu bersama Kak Yoga,” tolak Lisa keras kepala.

“Aku bisa mengurus semuanya, tetapi kita tidak bisa melakukan semuanya dengan meriah, hanya sekedar akad saja, bagaimana?” tanya Daniel antusias.

“Baiklah, Dad. Untuk urusan surat-menyurat  Lisa menyerahkan kepada Dad, untuk urusan gaun biar Lisa, Mamah dan Mom yang mengatur, dan untuk urusan akomodasi, biaya serta tempat biar jadi urusan Kak Yoga, bagaimana?” Lisa memberikan idenya, dia benar-benar tidak mau membuang-buang waktu.

“Itu terdengar sebagai sebuah rencana,” jawab Yoga senang.

Vina hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya, dalam sekejap hidupnya berubah, seraya meminta pertolongan Bi Ipah yang sedang berdiri di dekatnya, Vina melihat ke arah Bi Ipah, tetapi Bi Ipah hanya tersenyum, menandakan dirinya menyetujui usulan Lisa.

“Oh Tidak, ini semakin gila!” pekik Vina dalam hati.

#####

Tak terasa esok adalah hari pernikahannya, dengan ragu Vina menatap ke ruang tamu yang telah di atur untuk acara akad esok hari.

“Apa yang sedang kau fikirkan, Vin?” tanya Lisa ketika mendapati Vina yang sedang menatap ruang tamu dari lantai 2.

“Apakah yang kita lakukan ini benar, Lis? Apa kata orang nanti? Tak takutkah kau mereka akan menghujat keluarga kita?” tanya Vina tanpa melepaskan pandangannya pada meja kecil yang sudah dilapisi taplak meja, besok, di meja itu akan ada berbagai surat-surat kelengkapan pernikahannya termasuk buku nikahnya.

“Sejak kapan seorang Davina Indriani memikirkan perkataan orang lain?” jawab Lisa mengerti kemana arah pembicaraan Vina sambil tersenyum, “Sudah, jangan terlalu banyak berfikir, besok adalah hari besarmu, kau cukup beristirahat dan mempersiapkan dirimu, semua sudah kami atur dengan sempurna.”

#####

Semua sudah siap, Vina sudah selesai di dandani dan benar-benar membuat orang yang melihatnya terkesima, Vina tampak sempurna di balutan kebaya putih pilihan Lisa dan Aline, tampak elegan dengan dandanan Ros di wajahnya, tidak akan ada yang menyangka jika Vina adalah Vina yang sama sebelum Vina berdandan.

“Kau sudah menghubungi Yoga? Dimana dia? Penghulu sudah sampai,” tanya Ros panik mendapati Yoga belum juga sampai, padahal jarak dari rumah keluarga besar Mahardika ke rumah yang selama ini ditempati Yoga dan Lisa tidak terlalu jauh.

Demi pernikahan ini, Yoga langsung diungsikan ke rumah orangtuanya, supaya Vina bisa menjalani tradisi pingitannya, mengingat dia sudah menjual rumah orangtuanya untuk modal awalnya hidup di Seoul, sehingga dia harus tinggal di rumah Lisa dan Yoga karena Lisa tidak mengizinkannya tinggal di hotel ataupun rumah Ros.

“Sudah, Mah, dia akan sampai 5 menit lagi,” jawab Lisa tenang sambil memperhatikan riasan Vina.

Tak lama, keluarga Yoga datang, dan mereka memulai akad nikah dengan segera disaksikan keluarga serta kerabat terdekat. Acara akad berlangsung khidmat dan lancar, walaupun ini pernikahan keduanya, tetapi Yoga justru sangat gugup selama proses akad kali ini, karena hanya kali ini dia menggunakan seluruh perasaannya, tidak seperti pernikahan pertamanya yang bagaikan robot.

“Maafkan Mamah, Mamah tidak mengharapkanmu mampu memanggil Mamah dengan sebutan Mamah karena kesalahan yang sudah Mamah lakukan, tetapi Mamah bahagia bisa menyaksikan langsung kamu menikah, Vin. Sudah saatnya kamu bahagia, jaga selalu rumah tanggamu agar tetap rukun terutama dengan Kakakmu, biar bagaimanapun dia adalah istri pertama Yoga,” ucap Ros saat Vina melakukan prosesi sungkem setelah akad.

Vina memang masih memanggilnya dengan sebutan Tante karena merasa Ros masih belum mau mendengar nama itu dari mulutnya, dan ketika Ros mengatakannya langsung seperti ini, Vina merasa inilah kesempatannya, biar bagaimanapun, Ros adalah Ibu kandungnya sejahat apapun dia.

“Iyah, Mah,” jawab Vina ditengah tangisannya.

“Oh, Sayang,” sahut Ros sambil memeluk Vina kembali, tak peduli keluarga besar suaminya yang mulai melihatnya dengan tatapan aneh, dia tidak takut lagi jika pada akhirnya dirinya akan dibuang dari keluarga besar suaminya, karena kenyataan ini.

Setelah acara sungkem selesai, dan segala acara pelengkap selesai, tiba waktunya Yoga membawa Vina pergi, bermaksud merayakan pernikahannya berdua saja, Yoga membawa Vina ke sebuah tempat yang ternyata adalah rumah orangtua Vina.

“Mas? Ini?” tanya Vina tak percaya ketika dia mendapati Yoga membawanya ke rumah orangtuanya yang dengan sangat terpaksa dijualnya untuk kepergiannya waktu itu.

“Ya, ini adalah hadiah pernikahan dariku, ayo kita masuk,” ajak Yoga sambil mengulurkan tangannya, mengajak Vina masuk ke dalam.

“Kau membelinya? Untukku? Bagaimana bisa? Bukankah aku menjualnya kepada orang lain?” tanya Vina saat mereka berjalan memasuki rumah, dan Vina terkesiap begitu masuk ke dalam, semua masih sama persis seperti dia tinggalkan saat itu.

“Kau memang menjualnya kepada orang lain, dan aku yang membelinya lagi dengan mereka ketika aku mengetahui kau sudah menjual rumah ini, setiap malam aku datang ke sini berharap kau kembali walau hanya sekedar melihat, tetapi itu tidak terjadi,” jelas Yoga.

“Lukisan? Lukisan-lukisan ini bagaimana bisa ada di sini?” pekik Vina tak percaya melihat deretan lukisannya yang terpampang rapih di dinding belakangnya, “Jangan bilang kalau ..” Vina tidak melanjutkan ucapannya karena melihat Yoga yang menganggukkan kepalanya.

“Ya, aku yang membelinya, aku membeli semua lukisanmu dan memajangnya di sini. Lukisan-lukisan inilah yang menemaniku setiap aku berada di sini,” jelas Yoga sambil memeluk pinggang Vina posesif.

“Tapi, Oh, ya ampun, kau sudah lama mengetahui aku ada di Seoul dan diam-diam mengamatiku apa itu benar?” tanya Vina seraya melepaskan pelukan Yoga.

“Ya, aku sudah tahu kau di Seoul sejak 1 tahun lalu, dan selalu mengamatimu dari jauh, aku bahkan sudah akan menemuimu jika aku tidak diberitahu oleh Bi Ipah semua kebenarannnya,” jelas Yoga sambil menatap Vina penuh cinta.

“Itu sebabnya hidupku menjadi lebih mudah 1 tahun belakangan,” Vina mengucapkan dengan nada pernyataan bukan pertanyaan, namun dia tetap menuntut jawaban dari Yoga yang masih menatapnya dengan tatapan yang membuat lututnya lemas.

“Maafkan aku, aku tidak bisa membiarkanmu kesusahan di sana,” jawab Yoga sambil mencium pipi Vina mesra dan tidak membiarkan Vina berbicara lagi, Yoga mencium bibirnya mesra, menggendongnya dan membawanya ke kamar lama Vina yang sudah ditata menjadi kamar pengantin.

#####

“Apakah ini mimpi?” tanya Vina setelah mereka menghabiskan sepanjang hari dengan percintaan yang panas dan romantis, karena Yoga benar-benar memperlakukan Vina dengan lembut.

“Ini bukan mimpi, sayang, ini nyata,” jawab Yoga sambil menciumi pucuk kepala Vina dengan sayang, sementara tangannya memeluk Vina, menempatkan kepala Vina di atas dadanya yang bidang.

“Kita tidak bersikap adil terhadap Lisa, Mas. Dia juga istrimu, dia berhak mendapatkan perlakuan yang sama denganku,” ucap Vina sambil mendongakkan kepalanya.

“Tetapi aku tidak bisa, aku tidak akan pernah bisa sanggup melakukan itu. Apa kau pikir selama 3 tahun ini aku tidak pernah mencoba? Aku sudah mencobanya, namun aku tidak pernah sanggup, aku hanya mampu untuk mencium keningnya bukan bibirnya, bagaimana bisa aku melakukan ini semua dengan adikku?” jelas Yoga sambil menggelengkan kepalanya.

“Tapi, Mas,” sergah Vina

“Tak bisakah kita membicarakan hal lain? Ini hari bahagia kita,” pinta Yoga sambil membalikkan tubuhnya, dan menindih Vina dengan posesif.

#####

Hari ini Vina akan kembali ke Seoul bersama Yoga untuk menyelesaikan semua urusannya, mereka sedang berada di rumah Lisa, berniat untuk pamit kepada Lisa karena dia tidak bisa mengantar Yoga dan Vina ke bandara karena kesehatannya yang menurun.

“Kak, Kakak harus menjaga Vina dengan baik selama di sana, anggap saja ini sebagai honeymoon kalian, dan semoga kalian pulang membawa kabar gembira,” ucap Lisa sambil tersenyum.

“Iyah, kau juga harus menjaga kesehatanmu, minum obatmu tepat waktu, dan jalani terapimu dengan rutin,” jawab Yoga sambil mencium kening Lisa yang duduk dengan kepala ranjang sebagai sandarannya.

“Akan ku lakukan, Kak,” sahut Lisa sambil mengalihkan tatapannya ke Vina yang berdiri di samping Yoga, “Vin, apa kau sudah membawa semua keperluanmu? Ku harap kau tidak membawa terlalu banyak barang, Kak Yoga tidak menyukai antrian pada saat pengambilan barang walaupun ada di first class.”

“Iyah, Lis, aku masih ingat soal itu,” jawab Vina sambil tersenyum.

“Ya sudah, sana berangkat, nanti kalian tertinggal pesawat,” saran Lisa sambil mendorong-dorong tubuh Vina agar segera menuju pintu.

“Baik, baik, kami berangkat. Jaga dirimu Lis, minggu depan kami pasti akan kembali,” jawab Vina sambil mencium pipi Lisa.

Tak lama mereka membalikkan badan dan menuju pintu, tanpa bermaksud menyakiti Lisa dan membuatnya iri, Yoga melingkarkan tangannya di pinggang Vina dengan posesif, dan seakan menyadari tatapan Lisa di belakangnya, Vina melepaskan tangan Yoga di pinggangnya dan menyuruhnya untuk jalan lebih dahulu tanpa menghiraukan tatapan protes Yoga, kemudian Yoga membukakan pintu kamar Lisa dan mempersilahkan Vina untuk keluar terlebih dahulu, dan menutup pintu tak lama setelah mereka keluar.

Lisa menyaksikan semua adegan itu tanpa ada yang terlewatkan, melihat tatapan penuh cinta Yoga kepada Vina, memperhatikan setiap gerak gerik penuh kepemilikan Yoga terhadap Vina, menangkap komunikasi non verbal mereka ketika Yoga memprotes Vina yang melepaskan tangan Yoga dari pinggangnya. Hatinya berdenyut perih, tetapi ini sudah menjadi keputusannya, ini resiko yang harus diterimanya karena memilih jalan ini, dan dia telah bertekad akan berusaha berdamai dengan kenyataan bahwa dirinya sudah mengizinkan suaminya berpoligami dan hidupnya yang tidak akan lama lagi. Lisa merasakan bebannya sudah berkurang, dia merasakan perasaan damai karenanya dan sudah siap jika Tuhan akan menjemputnya saat ini juga.


--TAMAT-- 



Jual Kimono tidur seksi. Berminat? Hubungi 32fde75e atau 081246671304 atau drama.story@yahoo.com atau lebih lengkapnya bisa di cek di http://bisnisonlineki.blogspot.com

46 comments:

  1. Aduh... poligami no way...

    1,Kalau Vina sayang saudara kenapa gak nunggu lisa meninggal.
    2,Dasar laki laki..huh.. kenapa di depan istri tua posesif gitu ke istri muda, walaupun gak cinta tapi gak gitu kali. D A S A R R R
    3,Pokoke gak setuju ada poligami. Poligami=selingkuh.

    Thanks all

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Rafa Sazkia : bner2! Stuju bgt sma statementmu! Wkwkwk
      Cwok dmna2 rta2 sma aj.. Gliran liat barang bgus aj, lsg deh "disco stick"-ny jlan n ga mkirin prasaan org lain.. Ckck

      Delete
    2. @ Mba Rafa :
      haiii Mba Rafa,,,
      ummm,,,
      1. klo nunggu Lisa meninggal dluan bkn poligami dungz, tp turun ranjang?? hehehe...
      2. udah tabiat kykny *eehh*
      3. Setujaahh,, Vie jg g setujuuu sm POligami...

      @Mba Mendy Jane
      waaww,, apa tuh disco stick?? mknn jnis baru yakz?? :p

      Delete
    3. saking snengny lp,,

      mksh Mba Rafa n Mba Mendy Jane udh bc n komen
      :D

      Delete
  2. Aku benci Yoga,,, walaupun Lisa salah tapi Lisa itu ƍäª pernah tau apa2. Yoga terlalu angkuh&sombong... ƍĪ semua itu kesalahan Lisa, itu juga salahnya dia. Yoga PENGECUT,,,,
    Kalo jadi Vina ogah deh sama Yoga lagi... ƍĪ bs hargain kakaknya gitu. Uang ƍäª bs beli semua'a bung Yoga...

    Vie maaf aku jadi marah2 :)
    Nice story non... °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° ya vie cantik + mba shin yg dh post...

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Fathy : ak jga stuju ama comment mu yg ini mbak.. Ckckck..

      Btw, mkasih smuany..:*

      Delete
    2. @Mba Thy :
      hahaha,,, Yoga kykny udh kburu ksel sm emaknya Lisa yg boong ttg pnykit Lisa n Yoga mkir emak sm anak sm,, hahaha (mncba brfkir dr sisi Yoga)
      untung Mba Thy bkn Vina yh,,xixixi *piisss*
      gpp koq Mba Thy,, mksh yaahhh..

      @Mba Mendy Jane :
      sama2 *eehh bkn bwt Vie yakz?? xixixi*

      Delete
  3. setuju banget ama komen sist2 di atas terutama sist fathy. aku wkt selesai baca cerita ini kesel setengah mampus ama si Yoga. kyk orang paling menderita di bumi aja. emang dia kira Lisa itu salah? itu kan bukan salahnya lisa, tp si Yoga sok banget seolah2 dia korbannya disana. padahal selama sekian tahun itu dia ngeliatin Vina jg n bantuin dia. kl ngeliat dr segi egoinisme, seharusnya si yoga gak ngeluarin duit sama sekali buat vina, toh vina bukan siapa-siapanya lalu kenapa dia gak keberatan? malah aku rasa si vina yg dapet duit lebih banyak dr yoga dengan yoga membeli lukisa2 dia yg pastinya dibeli dengan sangat mahal dan rumahnya jg. tu yoga lebih busuk drpd semua cowok2 yg ada di tokoh poligamy. menjijikkan, bersenang2 di atas penderitaan lisa. lisa itu sakit hey... tumorr.. bentar lagi mati... tega banget dia malah pergi bulan madu. gak ada rasa kasihan sama sekali. yg ada dia cuman ngerasa tanggung jawab dan beban. ngakuin lisa cuma sebatas adik tp gak ada nunjukin kasih sayang sama sekali, yang ada seolah2 nyalahin lisa karena lisa lah yang buat dia seperti itu. cowok cengeng, lembek, egois, gak pantesss...... aku tetep milih ALEX di CLBK... wkwkwkkwkw :p~~~

    maaf vie.. aku esmosssiiiiiii keseellll sumpeehhhhhhhh grrr....

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Mbak Shin : bner tu mbak komenmu.. Ckckck.. Ak wkt bca ni tu kselny ampun2an! Ckckck.. Pda ga pny hti smua ni karakter2 d crita ni.. Ckck.. Btw mbak, Alex yg d CLBK tu yg mna ya? Wkwkkw.. Lupa ak udahan..:P

      Maaf jdi mrah2 ya vie..x_x

      Delete
    2. setuju mba Shin si Yoga harus nya tidak dapat ke dua-duanya karena yoga tidak mengerti arti cinta yg sesungguhnya dg bersikap egoistis seperti itu.

      apapun kondisinya tetap si Lisa yg jadi korban karena dia yg tidak dianggap dan dihargai hati dan perasaan sama dua orang yg paling dekat dan dikasihinya.

      maaf buat Vie protes aku ya. piss :D

      Delete
    3. @Mba SHin :
      hhaahaha,,, g nygka Mba Shin bs seemosi ntuh,, xxiixixi
      umm,, mrk g bulan madu Mba,,tp bwt hadirin wisudanya Vina,,Lisa yg nyuruh Yoga ikt ksana sklian bulan madu *pembelaan* hahaha
      jaahhh,, ALex lg sneng2 dy jgn dpggil2,, xixixi

      @Mba Mendy Jane :
      hahaha,,, bner2 pd esmosiii smw,,xixixi
      yg di Cermin minggu lalu Mba Mendy.. :D

      @Mba LInda : hahaha, klo g dpt dua2nya g dpt crtanya dungz, xixixi


      tenang,,tenang smw dimaafn,,mmpung stok maaf msh brlimpah ruah mw puasa.. wakakakakak...
      *piss*

      Delete
    4. sakiing smgtnya mpe lupaa...

      mksh Mba Shin n Mba LInda..udh bc n komen :D
      (bwt mba Mendy Jane udh dsbut di atas,,gpp khn g dsbut lg?? :P )

      Delete
  4. vie ga suka pke bgt ma yoga.. Konyol bgt gtuin org yg notabene istri sndri kalaupun dianggap adek msak ampe skjam itu... Jd kbwa emosi hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. pk bgt May?? g pk ajjah yh?? hahaha...

      mksh May udh bc n komen
      :D

      Delete
  5. Hahhaaa pd esmosi smua
    Aturan yoga bulan madu ke laut trus d makan ikan hiu biar tau rasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangaannn Mamiiii...
      nnti jdulny bkn "Tiga Hati" lgi,, tp "Tiga Hiu" hahaha....
      mksh Mamiii udh bc n komen (akhrnyaaa Mamiii nongol juga,, xixixi)

      Delete
  6. aah mb vie g suka ma crita ini g suka.

    g suka sma yoga yg so paling mendrita
    g suka sama vina yg egois klo udah ikhlas dia pergi knp kmbli lg coba mau aj lg nikah disaat istri co it lg skarat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaahhh jgn gituuu Ekaaa.... T.T

      pan temany poligami,, klo g mw nikah nnti temanya bkn poligami Ekaa... *alasan*


      mksh Ekaa udh bc n komen
      :D

      Delete
  7. Baca komen'a mba shin di kamar sendirian ngakak abis... Sumpah deh mba shin emosi abis, mba nih aku pinjemin gada buat tempeleng kepalanya yoga...

    Btw kalo yoga ngelimpahin kesalahan sama emaknya lisa juga gak pantes. Dia kan nikmatin juga hasil jerih payah bokap'a lisa. Hellooo lo tuh dh enak dksh perusahaan msh juga nyalahin bokap, lisa n emanya lisa. Lo pkr lo bisa apa...


    Maaf ya vie makin emosi sama yoga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha,, gada paan Mba Thy??
      umm,, sbnrnya Yoga g nkmatin hsil jerih payah bokapny,,soalny jstru Yoga-lah yg nyuntikkin dana segar trz k perusahaan bokapnya Lisa yg dipimpin lgsg sm Emaknya Lisa,,cm Vie g nerangin ituh di atas *pembelaan* hahahaha...\
      iyh,, gpp Mba Thy..
      mksh yh Mba Thy udh bc n komen
      :D

      Delete
  8. sangat tidak puas dengan sikap Yoga dan Vina, secara tidak langsung mereka telah bersikap egois terhadap Lisa. terutama buat Yoga. walaupun tidak cinta apa tidak bisa sedikit nunjukkin kasih sayang sama Lisa, walaupun sedikit sandiwara. toh Lisa juga istrinya. Lisa sudah menderita dengan menahan semua rasa sakit ditubuhnya ditahan rasa sakit hati karena harus berbagi suami, bukannya itu akan lebih memperpendek hidupnya. yah mungkin buat yoga dan vina adalah sebuah harapan terbesar krn seorang penghalang seperti lisa segera lenyap. tapi akan sangat tidak adil buat Lisa disisa2 hidupnya. agak miris jadinya.

    makasih mba Hevi dan Mba Shin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku setuju bngt sist sm comment mu gak bisa apa si yoga itu nunjukin sedikit aja kasih sayangnya buat lisa walaupun sandiwara doang....yooogaaaa keeejjjaaammm. *buang yoga kelaut...

      Delete
    2. ummmm,, Mba Linda n Mba Amanda,,
      sbnrnya Yoga udh nyoba tp pan di atas di jelasn klo dy g prnh bs, soalny dy bwt nyium Lisa di Bibirnya g bs,, cm bs brhenti di keningnya ajjah
      hehehe,,,

      jangan dibuang Mba Amandaaaaa... nnti Lisa sm Vina gmn?? xixixi

      mksh Mba Amanda udh bc n komen..
      :D
      (Bwt Mba Linda, krn di atas dh dsbut, dsni g dsbut lg gpp khn :P )

      Delete
  9. Ada apa dengan yoga? Kok pda ngamuk? OK Ane ikutan baca Dech ...
    Makasih sist Vie ... Mbak shin jgn ngamuk / marah ntr cepet keriput loh hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe,,,
      mksh Mba Ashiaaa udh bc n komen..
      :D

      Delete
  10. Btw yg dari California siapa sist shin? Ia sering msk blog ini kan? Benderanya bekibaran terus tuh hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. SPAM kyknya say... hahahaha... dia ngecek2 yang bisa digangguin. entah deh, kurang ngertos diriku. bisa aja dr blogspotnya, ngeliat postingan porno, kl ada langsung di delete nih blog. wkkwwkww

      Delete
  11. ikutan marah juga ahhhhhhhh,,,,, huaaaaaaaaa kasian banget dirimu LISA,,,,,huaaaa,,,,
    jahat banget lah si YOGA ini mbakeee,,
    Pengennya VINA jangan mau gituh nerima pernikahan itu,,, huhuuuu,,, pokoke gk rela banget LISA disakiti begituh,,,
    NO Poligami FOREVER,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju!! no poligamy forever, no selingkuh juga. no main hati. mending gak usah nikah n gak usah punya anak kl mau main cewek/cowok.. wkkkekekkee

      Delete
    2. @Mba Nunna :
      huaa,,,jangaannn Mba Nunnaaa...
      klo Vina g nerima pernikahan ntuh nnti gmn sm Lisa?? pan dy yg nyruh Vina bwt nkh sm Yoga bwt nebus kslhnny dy.. hehehe

      @Mba Shin :
      setujuuuuhhhh Mba Ciinnn...

      Delete
  12. Q setujuuu ama komen mbak shin & mbak fathy *salam kenal sblomnya mbak fathy* yoga egoisnya gk ketulungan gk liat lisa sakit parah disisa2 umurnya mreka malah pergi bulan madu, Arrgghh sebeeelll ma yoga ( ˘˘̯)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener sekaliiii demo yoga!! turunkan yoga!!!!

      Delete
    2. @Mba Sulis :
      Haiii Mba Suliiiss...
      hehehe,, mrk g bulan madu koq,, cm ngbsin wktu brdua smbil ngehadirin wisudanya Vinna,, hehehe

      @Mba Shin : apanya yg dtrunin Mba?? xixixi

      Delete
    3. lupaaa (lagiii)
      hehehe

      mksh Mba Sulis udh bc n komen..
      :D

      Delete
  13. baca comment2 sist2 diatas aku jd ikutan esmonii....
    semoga yoga mati karena kecelakaan pesawat....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hashahahaha.... sadiss..... tp aku setujuhhh ;lol;

      Delete
    2. huaaaa,, jangaaannn ...
      hukz,,hukz,,hukz...

      Delete
  14. Setuju sama komen2 sista semua....yoga emang yg paling nyebelin pake banget diantara smua tokoh poligami. Ga pny hati,egois,katanya sayang kyk ke ade tp nyakitin gt. Walopun ga cinta stidakny hargai lah lisanya kok mesra2an didpn lisa tega bgt. Vina jg sama aja,,tega...

    ReplyDelete
    Replies
    1. benul benulll benulll setujuhhhhh

      Delete
    2. @Mba Juwi :
      hehehe,,, paling nyebelin yakz?? maap yah... *nunduk*
      mksh Mba Juwi udh bc n komen
      :D

      @Mba SHin :
      hukz.. hukz.. g d yg bela Vie *lebay* hahaha

      Delete
  15. ya ampun... koment-komet mba-mba di atas syerem-yerem semua.... meleper ke pelukan tio akh... :tio mana tio: hahaha :plaaakkk:
    sabar ya mba vie :peluk erat mba vie:

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkkwkwkwkw... ah tio dikasi 2 jg mau tuhhh........ taruhan dehhh


      ngemeng2 tio dah ngerasain amanda belum say? :wink:

      Delete
    2. udah donggg... kan cinta sejatinya tio sama amanda. sama siska cuma 'keterpaksaan' aja hihihi

      Delete
    3. @Mba Vinda :
      hahaha,, Tio nya bknnya lg sbk sm Amanda n Siska Mba Vin?? xixixi
      huaaa, akhrnya ada yg belain Vie,, xixixi
      *peluk balik Mba Vinda*
      mksh udh bc n komen Mba Vindaa..
      :D

      @Mba Shin : tebaliikkkk,, Amanda pan istri prtamany, psti udh dirasain,, Siska mgkn mksdnya Mba Shin.. hahaha
      *piss*

      Delete
  16. Haiii,, Haiiiii smw.. akhrnya Vie mampiiirr jg *dadah2* (baca : memberanikan diri mncul stlh ykin g d yg bkln nmpukkin lgsg :p )

    Sblmny Vie mw mnta maap, beribur-ribu maap atas smw emosi yg sdh dirskn tman2 stlh bc crta Vie ini,,*membungkuk dalam2*
    Sbnrnya crita ni Vie bkin saat feelg ga enak, perasaan g keruan, kacau balau, gundah gulana serta galau meracau, shg mgshlkn crta yg sesadis inih (okeh, okeh,, Vie ngku,, sbnrny udh d niat mw bkin crta sadis, tp g nygka bkln ssadis ini).

    Niat awal sih Vie mw ngegambrn seorang Yoga yg ‘konsisten’ mnjga cntanya bwt Vina seorang tnp d mksud nykitin Lisa, tetapiiii hsil akhr di lpngan berkata lain,, *nunduk*

    Terimaaaakasiiihhh byk ats smw respon yg sdh dbrikan tmn2, wlwpun awalny siyookk krn g nygka bkln dpt respon sbgus ini, tp Vie seneeengg bgtz krn udh brhsil ngbwt teman2 smw gregetan… hehehe..
    *kabur dluan*

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.