"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, June 28, 2013

CERMIN 21 - POLYGAMI SERIES - Punishment Rage oleh Shin Haido


Punishment Rage by +Shin Haido






(warning : 18 tahun ke atas)

Pagi itu Pak Anton dan seorang gadis muda tengah berpeluk-pelukan di atas sebuah ranjang di sebuah kamar hotel berbintang lima di Kuta, Bali. Pak Anton pada istrinya dengan alasan hendak melakukan perjalanan bisnis ke Bali telah meminta izin untuk pergi selama tiga hari di akhir minggu. Tanpa sepengetahuan istrinya, sejatinya Pak Anton tidak melakukan perjalanan bisnis melainkan perjalanan asmara.

Pak Anton di depan istri, anak dan keluarganya adalah sosok seorang laki-laki, suami dan kepala keluarga yang menjadi panutan. Pak Anton dielu-elukan oleh keluarganya, dihormati oleh istri dan anak-anaknya namun rupanya itu tidak cukup bagi laki-laki berusia empat puluh sembilan tahun itu.

Pak Anton kerap menikmati daun muda dan tak jarang menginap beberapa hari di hotel atau rumah peristirahatan dengan wanita – wanita itu. Namun belakangan, Pak Anton mulai merubah modus operandinya, Pak Anton mulai memelihara seorang wanita yang usianya sedikit lebih tua dari usia anak perempuannya sendiri.

Anggie nama gadis yang sedang memeluk tubuh Pak Anton dengan manja, pasangan selingkuh ini masih bergelung dibawah selimut saling berpelukan dengan tubuh telanjang. Semalam sejak check in di hotel ini, Pak Anton dan Anggie telah melakukan ‘hal’ yang biasa mereka lakukan selama setengah tahun belakangan ini tak kurang dari tiga kali.

Meski usianya yang hampir kepala lima, Pak Anton termasuk laki-laki dengan stamina dan gairah yang tinggi. Tanpa obat apapun dia masih mampu meladeni seorang Anggie yang berusia tujuh belas tahun dengan gairah mudanya yang sedang menggebu-gebu.

Sejak anak pertama Pak Anton, yaitu Erlangga berusia sepuluh tahun, Pak Anton mulai memiliki hoby ‘jajan’ diluar. Saat itulah anak kedua Pak Anton lahir, Lani. Lani kini berusia lima belas tahun, murid kelas satu sebuah sekolah menengah umum swasta terkenal di Jakarta. Sedangkan Erlangga adalah laki-laki muda berusia dua puluh lima tahun yang lebih banyak menghabiskan waktunya mengurusi bisnis keluarganya.

Erlangga tidak pernah tahu kebiasaan ayahnya yang suka ‘bermain cinta’ karena dia sangat menghormati laki-laki itu. Tak pernah terpikir dalam benak Erlangga bila ayahnya adalah seorang Don Juan terlepas dari kemesraan yang ayahnya tunjukkan pada ibunya. Dalam pikiran Erlangga dan Lani, Pak Anton adalah sosok ayah terbaik di dunia.

Anggie menggeliat manja, mendekatkan wajahnya pada dada berbulu milik Pak Anton. Laki-laki yang memiliki keturunan Belanda dalam darahnya ini masih terlihat tampan dan gagah, tak heran seorang Anggie terkagum-kagum padanya –terlepas dari rentetan angka-angka yang dimiliki Pak Anton di dalam rekening Banknya-

Pak Anton adalah seorang pengusaha kaya raya, dia diwariskan perusahaan tekstil dan tembakau milik kakeknya yang telah dirintis sejak zaman kompeni berkuasa di Indonesia. Maka tak heran, Pak Anton yang bernama lengkap Anthony A. Suez kebingungan dengan aset yang dimilikinya dan bagaimana cara untuk menikmati kekayaan miliknya itu.

Pak Anton bukanlah laki-laki pelit, anak-anaknya dia berikan fasilitas mewah meski tak satupun dari anak-anaknya memiliki kegemaran yang sama dengan sang Ayah. Erlangga dan Lani mewarisi sifat sederhana milik ibunya, Ibu Ani, seorang wanita lokal dengan garis keturunan ningrat yang di depak dari keluarga karena menikahi seorang Anton yang memiliki darah kompeni.

Keluarga Ani dan keluarga Anton selama dua puluh enam tahun pernikahan Anton dan Ani tak pernah bertegur sapa, bila secara kebetulan mereka bertemu pada acara keluarga, mereka akan berpura-pura saling tak mengenal. Padahal Erlangga dan adiknya Lani secara diam-diam memiliki hubungan yang sangat baik dengan anak-anak pamannya, kakak dari ibu Ani. Namun demikian, anak-anak dan para orang tua memiliki pikiran yang berbeda dan ego yang berlainan. Generasi muda terkadang lebih mudah memaafkan dibandingkan dengan generasi lama.

“Om, Anggie pengen tamatin sekolah nih, Om... Habis tuh Anggie mau kuliah dulu boleh ‘ndak, Om?” tanya Anggie dengan nada merengek, nampaknya Pak Anton telah memiliki ide lain untuk masa depan hubungan mereka.

“Buat apa kuliah? Nanti lulus SMU langsung merid aja, om pengen punya bayi. Anak-anak om udah gede-gede, kamu takut apa? Masa depanmu terjamin kok, apalagi kalau kamu berhasil ngasi om anak laki-laki, setengah harta om nanti om wariskan ke anak itu,” bujuk Anton, sebelah tangannya telah mengelus paha dalam Anggie yang membuat si gadis menggelinjang.

“Emang kenapa dengan anak om yang cowok?”

“Ya, gak apa-apa, pengen aja om punya anak cowok lagi, gak boleh ya?”

“Boleh sih, Om... Heran aja kenapa musti cowok, emang cewek kenapa?”

“Kalau anak cewek, om takut nanti anak gadis om malah ketemu sama orang kayak om ini, ditidurin sama om-om mesum,” kata Anton sebelum menindih kembali tubuh mungil Anggie dan membuat gadis itu mengikik geli ketika kejantanan Anton telah menggesek bagian kewanitaannya.

Hingga minggu sore, Anton dan Anggie menghabiskan waktu mereka di dalam kamar hotel dan sesekali berjalan-jalan di pantai Kuta layaknya sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.

Sementara itu di Jakarta, Erlangga sedang disibukkan dengan pertemuan bisnis antara dua perusahaan besar se-Asia Tenggara, yang salah satunya adalah milik keluarganya dan satunya lagi milik seorang pengusaha asal China. Pertemuan itu berlangsung di sebuah hotel mewah di ibukota dan Erlangga mengemban misi penting agar kerjasama antara dua perusahaan itu berhasil. Maka tak heran Erlangga memasang wajah dingin sejak menginjakkan kakinya di loby hotel, kepalanya berputar keras mencari cara terbaik untuk dapat menangkap hati Mr. Ong Siu Kwat, CEO perusahaan dari China agar kerjasama bernilai Milyaran dolar Amerika ini bisa terjalin hari ini juga.

“Kau sudah menyiapkan semuanya?” tanya Erlangga pada anak buahnya.

“Siap, Pak. Dari pertama hingga sekarang, semuanya sudah masuk ke 99%. Saat Mr. Ong tiba, semuanya pasti sudah 100%. Anda jangan khawatir.”

“Kau tahu apa arti pertemuan ini, khan? Bila kita berhasil maka kita tidak akan memiliki tandingan lagi di seantero Asia Tenggara, tapi bila kita gagal, maka banyak dari kita terpaksa mencari pekerjaan lain dan itu akan dimulai dari dirimu, kau mengerti?”

“Me..mengerti, Pak,” jawab asisten Budi mendengar peringatan Erlangga. Dengan tergopoh-gopoh dia berlari untuk memastikan semuanya telah disiapkan sesuai rencana awal.

Pertemuan dengan Mr. Ong ternyata memakan waktu tiga jam lebih, namun waktu selama itu terbalas sudah dengan penerimaan Mr. Ong yang takjub dan puas. Bahkan Mr. Ong meyakinkan Erlangga bahwa dalam waktu satu minggu dari hari ini, seorang wakil dari perusahaannya akan membawa surat perjanjian yang telah disepakati ke Indonesia untuk di tanda tangani. Dengan bahasa Indonesianya yang cukup fasih, Mr. Ong menjabat tangan Erlangga dan mengucapkan terima kasih untuk kerja sama mereka yang saling menguntungkan itu.

Puas dengan hasil pertemuan itu, Erlangga menggeliat di kursi kerjanya. Sekilas dia melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya, sebuah senyum tersungging di bibirnya.

“Papa pasti sudah terbang, tak lama lagi dia akan mendarat. Aku akan memberikan kejutan ini padanya, Papa pasti senang!!” teriak Erlangga yang ingin membuat ayahnya bangga.

Ayahnya tak lain adalah Pak Anton yang saat ini sedang duduk di kursi kelas eksekutif pesawat dan akan mendarat sebentar lagi di bandara Soekarno – Hatta. Tanpa Pak Anton ketahui, Erlangga telah menunggunya dengan antusias. Pertemuan itu akankah terelakkan?

“Om, aku ke toilet dulu ya. Kebelet pipis....” rengek Anggie melingkarkan tangannya di gandengan Anton.

“Ya sudah, sana buruan. Temui om di luar ya.”

Tanpa sepengetahuan Anton, Erlangga yang sedang mengamati dari ruang tunggu memperhatikan ayahnya yang tampak begitu mesra dengan seorang wanita yang bahkan masih begitu belia.

“Siapa cewek yang digandeng Papa itu, Bud?” tanya Erlangga pada asistennya.

Dengan tergagap Budi yang telah mengetahui kebiasaan Pak Anton yang senang bermain dengan wanita diluaran mengusap keringat yang tiba-tiba menetes di pelipisnya dengan sapu tangan, “Eh... saya tidak tahu, Pak...” jawabnya berbohong.

Erlangga menatap tajam wajah Budi yang mencoba mengalihkan matanya ke arah lain, tanpa sepengetahuan ayahnya, Erlangga telah menyingkir ke sudut ruang tunggu, memperhatikan ayahnya dan Anggie berpelukan dengan begitu mesra, hatinya tercubit menemukan pemandangan yang menyakitkan ini.

“Ikuti mereka,” perintah Erlangga setelah berhasil membuntuti taksi yang membawa Pak Anton dan Anggie menuju sebuah rumah mewah di kawasan Kelapa Gading. Mereka kemudian masih dengan bergandengan tangan masuk ke dalam rumah dan tak keluar hingga malam menjelang.

Erlangga tak ingin pergi dari sana, bahkan ketika ayahnya menghubunginya melalui telephone yang mengatakan bila pesawatnya delay hanya tersenyum sinis saat menjawab setiap pertanyaan Anton mengenai perusahaan mereka dan transaksi bisnis dengan Mr. Ong siang tadi.

Saat Pak Anton telah pergi dari rumah itupun Erlangga masih mengawasi rumah itu, setelah mengusir Budi dan melarangnya untuk mengatakan apapun pada ayahnya, Erlangga menghampiri rumah itu dan mendapati di depannya wanita yang menjadi simpanan ayahnya menyambutnya dengan penuh kebingungan.

“Ada yang bisa dibantu, Om?” tanya Anggie.

Sekilas Erlangga menatap lekat-lekat wajah hingga tubuh Anggie dari atas ke bawah, mengira-ngira apa yang diminati oleh ayahnya pada tubuh mungil itu karena sedikitpun dia tak tertarik melihat wanita di depannya.

“Ah, saya diberitahu kalau rumah ini mau dijual ya, Dik? Orang tuanya ada?” tanya Erlangga mencoba mencari alasan untuk bisa berlama-lama disana.

“Enggak dijual kok, Om, ini rumah suami saya. Masak dijual sih?” tanya Anggie balik, dia tidak percaya sama sekali dengan perkataan Erlangga, Anton tak mungkin ingin menjual rumah yang telah diberikannya pada Anggie.

“Oh, salah ya? Apa mungkin rumah disebelah ya?” gumam Erlangga masih melihat ke sekelilingnya, dia bahkan dapat melihat sebuah mobil Honda Freed terparkir di dalam garasi rumah, kemewahan yang ayahnya berikan pada gundik mudanya ini menggores hati Erlangga lebih dalam.

“Iya, mungkin, Om. Yang jelas rumah ini gak dijual kok.”

Dengan anggukan kecil Erlangga pun meninggalkan rumah itu, di dalam mobilnya dia menghubungi sebuah nomer yang telah lama tersimpan rapat di dalam handphonenya.

“Markus? Aku punya pekerjaan untukmu, tempat biasa setengah jam lagi.”

Tanpa senyum Erlangga memerintahkan sopirnya untuk membawanya ke sebuah klab malam yang bahkan belum menerima tamu pada pukul enam sore, disana dia telah ditunggu oleh Markus, seorang pembunuh bayaran yang telah menjadi teman lama Erlangga sejak mereka kanak-kanak.

“Hei, kenapa wajahmu tertekuk seperti itu? Apa yang bisa aku bantu untukmu, Sahabat?” tanya Markus saat memeluk tubuh Erlangga sahabatnya.

Erlangga tidak menjawab pertanyaan Markus, dia menarik sebuah kursi untuk dirinya dan memesan segelas Brandy untuk menghangatkan badannya.

“Nampaknya cukup serius?” tanya Markus lagi. Dia menyalakan sebuah rokok untuk dirinya.

“Aku ingin kau menyelidiki seseorang, apapun yang dia lakukan, dengan siapa dia berdekatan, kemana  saja mereka pergi, informasi mengenai orang-orang yang ditemuinya, lengkap. Bahkan siapa saudara jauh mereka, dimana rumah asal mereka, semuanya. Aku beri kau satu minggu, berapapun yang kau perlukan, akan kusediakan.”

Erlangga menggertakkan gerahamnya, rasa dikhianati yang semakin berkobar dalam hatinya setelah mengetahui perbuatan ayahnya semakin menyiksanya. Seumur hidupnya Erlangga hanya mengetahui betapa sempurnanya Anton di matanya, di hadapan seluruh keluarga besarnya. Erlangga tidak menyadari betapa keburukan ayahnya dengan rapi dia sembunyikan sehingga tak terendus sama sekali. Erlangga geram karena bagi Anton sebuah keluarga sempurna dengan istri yang penyayang, penyabar dan penuh cinta, anak-anak yang baik, patuh dan penuh hormat tidaklah cukup.

Maka ketika Anton memulai apa yang paling dibenci oleh Erlangga, maka Erlangga pun bertekad untuk menghancurkan apapun yang telah dimulai ayahnya yang mungkin akan membuat keluarga mereka terpecah. Erlangga tidak akan mampu melihat hati ibunya patah dan harapan adiknya musnah. Keluarganya tidak akan seperti keluarga Pamannya yang berantakan karena perselingkuhan, dimana sepupunya terlibat narkoba dan mabuk-mabukkan, bahkan seorang sepupu perempuannya kini menjadi simpanan seorang laki-laki hidung belang dan Erlangga tak ingin hal itu menimpa adiknya, atau ibunya, atau dirinya. Dia akan mempertahankan keluarganya sekuat tenaga meski itu berarti dia harus melenyapkan seseorang.

“Siapa nama orang yang harus aku selidiki ini?” tanya Markus sembari menghembuskan asap rokoknya ke udara.

“Laki-laki itu... Anton A. Suez, ayahku.”

Markus mencoba membaca raut wajah Erlangga yang kaku, tapi dia tidak berbicara banyak. Dengan sebuah anggukan kecil Markus menepuk punggung Erlangga dan keluar dari klab malam itu bersama dua orang anak buahnya.

Markus memiliki firma pengawal pribadi namun dia juga memiliki pekerjaan sampingan melenyapkan orang-orang yang dianggap mengganggu bagi sebagian orang yang sanggup membayarnya. Dalam hidupnya, Markus tak pernah berharap akan mendapat perintah seperti itu dari sahabat karibnya.

Di dalam rumahnya, Erlangga yang pulang larut malam langsung menuju kamarnya. Dia tidak menemui ayahnya seperti biasa bilamana dia pulang dari kantor. Biasanya mereka akan membahas pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Erlangga setiap hari, mereka akan bertukar pikiran dan memutuskan beberapa pekerjaan yang tak mampu diputuskan oleh Erlangga seorang diri.

Anton membuka pintu kamar anaknya, namun Erlangga telah tertidur, atau pura-pura tertidur. Saat ayahnya melangkahkan kakinya dan duduk di sisi ranjangnya, Erlangga menggertakkan rahangnya, menahan emosinya yang masih terpendam karena begitu ingin mencekik mati leher sang ayah yang telah mengecewakannya.

“Kau pasti sangat kelelahan, Er. Maafkan Papa, ya. Bulan depan kita semua akan berlibur ke Eropa untuk merayakan ulang tahun Lani. Kita bisa bersantai disana,” bisik Anton pelan. Sebelum keluar dari kamar Erlangga, laki-laki berusia setengah abad itu menyelimuti tubuh anaknya dan menepuk pipinya pelan.

Setelah pintu kamar itu menutup, air mata Erlangga menetes, emosinya semakin berkecamuk. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan.

“Tuhan... Apa yang harus aku lakukan? Tolong tunjukkan jalanmu padaku.”

Meski Anton tidak memperlihatkan perubahan apapun di hadapan keluarganya, Erlangga tetap bersikap dingin pada sang ayah. Dia tak pernah membalas pertanyaan-pertanyaan Anton sesimpatik dulu, dia juga tidak ingin bermanja-manja lagi pada ayahnya seperti dulu. Jauh di dalam hatinya, perasaan dikhianati telah menguasainya, karena bagi Erlangga cinta keluarganya tak cukup untuk membuat seorang Anton untuk setia, sehingga dia tidak ingin menyusahkan dirinya dengan berpura-pura menyayangi ayahnya seperti dulu lagi.

“Ma, Erlangga kenapa? Kok seperti marah terus sama Papa? Apa dia baru putus dari pacarnya?” tanya Anton pada Ani, istrinya.

“Putus? Pacar saja dia belum punya, Pa. Papa ada-ada saja. Mungkin Erlangga lagi stres pekerjaan, kan Papa juga sibuk di luar kota, jadi Erlangga merasa kewalahan. Tapi sekarang Papa sudah disini, Papa pasti bisa bantu Erlangga,” jawab Ani seraya memperbaiki dasi suaminya yang bersiap-siap masuk ke dalam mobil.

Meski usia pernikahan mereka telah mencapai dua puluh lima tahun lebih, Anton masih kerap mencium bibir istrinya di depan umum, seperti kali ini.

“Papa berangkat dulu ya, Ma. Sampai jumpa nanti malam,” tukas Anton pada istrinya. Merekapun saling melambaikan tangan sebelum Anton pergi dengan mobilnya.


“Panggilkan Bapak Erlangga ke kantor saya,” perintah Anton pada sekretarisnya. Dia merasa ada yang mengganjal pikirannya bila Erlangga bersikap dingin padanya. Erlangga adalah anak kesayangannya, Anton tak ingin hubungannya dengan anak laki-laki semata wayangnya rusak hanya karena masalah pekerjaan.

“Maaf, Pak. Pak Erlangganya sedang keluar bertemu dengan klien. Mungkin beliau akan kembali setelah makan siang.”

“Ya sudah, kabari saya kalau dia sudah kembali.”

Anton menghela nafasnya, sejak Erlangga berhasil mengerjakan pekerjaan yang lebih berat menggantikan dirinya, Anton merasa pekerjaannya menjadi lebih santai. Diapun menghubungi Anggie yang baru saja pulang dari sekolahnya.

“Kamu lagi dimana? Om kangen nih...”

“Kangen apa kangenn? Aku baru aja mau pulang nih, Om... Main ke rumah donk... Aku juga udah kangen ama ‘anu’ nya om...”

“Kangen ama ‘anu’nya om doank nih? Yang lain enggak?”

“Kangen donk, bibirnya om, tangannya om, semua deh... Tadi aja di kelas aku nonton video kita. Eh, langsung basah deh...”

“Hah... Kamu nakal ya, tunggu sepuluh menit lagi om sampai disana. Kamu sudah harus siap ya!”

Anton pun menutup handphonenya dan bergegas menyambar kunci mobilnya menuju rumah gundiknya Anggie.

Di depan rumah megah itu Anggie telah menunggu dengan pakaian minim yang sengaja dipakainya untuk menggoda Anton. Setelah memarkirkan mobil Mercedes Benz hitam miliknya di dalam garasi rumah, Anton dan Anggie pun masuk ke dalam.

“Kapan kamu haid?” tanya Anton pada Anggie yang sedang asyik mengulum kejantanan Anton di ruang tamu rumah.

“Ehm... Kan baru dua minggu lalu, Om. Kenapa emangnya?”

“Om pengen keluar di dalem,” ketus Anton sembari melepaskan seluruh pakaiannya. Mereka berdua telah bertelanjang bulat, dengan sekali angkat, Anton menggendong tubuh mungil Anggie dan mengarahkan kejantanannya ke dalam kemaluan wanita muda itu.

Tanpa sepengetahuan mereka, rumah itu telah dipasangi kamera tersembunyi yang merekam setiap sudut dalam rumah. Apa yang sedang Anton dan Anggie lakukan saat ini sedang ditonton dengan penuh emosi oleh Erlangga dari dalam mobilnya. Sebuah laptop dipangkuannya memperlihatkan setiap adegan yang dilakukan ayahnya. Rekaman video-video itu kemudian akan tersimpan di dalam hard disknya yang dapat dia lihat sewaktu-waktu atau dijadikannya barang bukti bila ayahnya mengelak dari perbuatannya.

“Aku tak menyangka kau laki-laki seperti ini, Pa!!”

Markus yang telah menyelidiki Anton selama seminggu belakangan kemudian melaporkan hasil temuannya kepada Erlangga di sebuah restoran tempat mereka biasa bertemu. Tanpa banyak bicara Markus meninggalkan Erlangga setelah menyerahkan sebuah map yang berisi segala temuannya selama ini. Erlangga kemudian pergi ke apartemen yang telah dibelinya untuk melihat informasi-informasi itu.

Dia meradang, penampilannya kacau membaca dan melihat hasil-hasil temuan Markus. Ingin rasanya dia menghancurkan semua foto-foto dan video lain yang berkasil dikumpulkan Markus. Diantaranya beberapa video antara ayahnya dengan wanita-wanita lain yang berusia gadis dan bahkan di antaranya adalah teman-teman sekolah Lani, adik Erlangga sendiri. Satu yang membuat Erlangga semakin berang adalah ayahnya ternyata memiliki hubungan spesial dengan mantan kekasih Erlangga, emosinya semakin memuncak, dia tak pernah tahu ayahnya memiliki libido laki-laki bagai binatang.

“Laki-laki macam apa kau, Pa?! Semua wanita kau tiduri, bahkan beberapa di antaranya telah bersuami, masih gadis, masih bau kencur?!”

Erlangga meremas rambutnya, mengacaknya dengan kesal. Dia tak dapat mempercayai hasil temuan Markus. Tapi dia tak bisa menampik kenyataan bila laporan-laporan itu benar adanya. Ayahnya adalah maniak seks, penjahat kelamin dan pemangsa anak gadis.

“Kau menjijikkan, Pa!! Bagaimana mungkin aku bisa memanggilmu Papa setelah mengetahui perbuatanmu. Arghh!!!”

Selama dua hari Erlangga tak pulang ke rumahnya, dia bahkan tak pergi ke kantor. Erlangga mengurung diri di dalam apartemennya yang tidak diketahui oleh keluarganya. Apartemen  ini dia beli sebagai tempatnya menyendiri, menyembunyikan kekalutan dan masalahnya saat dia tak ingin keluarganya mengetahui betapa tertekannya dia dengan segala pekerjaan yang menuntutnya terlihat sempurna di hadapan semua orang.

Selama ini Erlangga mampu menekan masalah-masalah dan rasa depresinya dengan menghabiskan waktu sepi seorang diri dalam apartemennya dengan mensyukuri diri karena memiliki sebuah keluarga yang mampu dibanggakannya.

Tapi saat semua kenyataan ini menusuknya, Erlangga tak yakin masih mampu memendam segala emosi dan frustasi dalam dirinya. Dia ingin melenyapkan seseorang, dia harus melakukan sesuatu.

“Aku yakin apa yang akan kulakukan ini sangat salah, tapi aku harus melakukannya. Demi keutuhan keluargaku, demi kebahagiaan ibu dan adikku!”

Erlangga menghisap kuat-kuat asap rokoknya, menghembuskannya dengan keras dan menyambar pakaiannya sebelum pergi meninggalkan apartemen miliknya.

Satu jam kemudian, Erlangga telah berada di dalam markas firma pengawal pribadi milik Markus. Disana dia berbincang-bincang dengan kawan lamanya itu.

“Bagaimana kalau kita melakukan sedikit tindak kriminalitas, Mark?” tanya Erlangga dengan senyum mencibir sinis di ujung bibirnya.

Markus hanya menatap kawannya dengan tatapan kosong, dia tahu apa yang sedang dialami oleh Erlangga saat ini. Dia juga tahu apa yang bisa dilakukan oleh sahabatnya itu bila dia tidak mengekangnya. Namun, Markus bukanlah orang yang ingin mengeluarkan kata-kata bijaksana dari mulutnya, itu bukan bagiannya. Bagian itu adalah milik orang lain yang sayangnya telah berada jauh dari mereka. Dia tak akan ada lagi untuk mengekang amarah dalam diri Erlangga, sedangkan Markus adalah seorang sahabat dengan kesetiakawanan tinggi. Dia akan mengikuti Erlangga kemanapun laki-laki itu pergi dan apapun yang laki-laki itu lakukan. Markus berhutang nyawa pada sahabatnya itu dan dia telah bersumpah, nyawanya rela dia korbankan demi laki-laki di hadapannya.

“Kau tahu aku akan selalu mendukungmu, Er. Baik buruk apapun yang kau lakukan, tapi tidakkah kau ingin berpikir sejenak dan menimbang baik-buruk hasil yang akan kau dapatkan? Bagaimana bila Mama-mu tahu? Lani tahu? Tidakkah menurutmu mereka akan kecewa?”

Markus menyesap rokoknya, hati nuraninya tak menginginkan kehidupan sahabatnya hancur, dia hanya akan menyakiti dirinya dan menumpuk kebencian dalam hati dengan melakukan apapun itu yang ingin dilakukannya. Bila Erlangga tidak memilih tindakan tepat, Anton akan tetap melakukan hal yang sama dan sebanyak itu pulalah Erlangga akan melakukan kejahatan yang pasti disesalinya kemudian.

“Huh... Apakah kau mengatakan kalau kau juga ingin menjadi seperti Leon? Menceramahiku dengan nasehat bijak?” Erlangga mencibir, mengucapkan nama sahabat mereka yang nampaknya sering memberikan nasehat untuk mereka.

“Tenangkan hatimu, apakah dengan semua ini Papamu berubah menjadi seorang yang jahat? Apakah dia menelantarkan kalian? Apakah dia bersikap tak adil?”

“Tapi bukan berarti dia bisa mengkhianati kepercayaan kami, MARK!! Dia telah menduakan ibuku! Tidak! Dia bahkan meniduri ratusan wanita. Meniduri mantanku!! Laki-laki apa itu??? Bagaimana dia bisa meniduri teman-teman adikku tanpa berpikir bila mungkin esoknya mereka akan bertemu dengan Lani dan dengan pikiran bahwa ‘ayahmu meniduriku kemarin’. Huh!! That’s not funny at all!!” Erlangga menggebrak meja kerja Markus dengan keras tapi Markus tak bergeming. Dia telah mengenal adat Erlangga bila laki-laki itu marah.

“...Lalu apa yang ingin kau lakukan?” tanya Markus akhirnya. Dia tidak pintar bersilat lidah, mengikuti keinginan Erlangga adalah satu-satunya jalan. Sembari berbisik di dalam hati, Markus menghisap rokoknya lagi. “Andai kau disini, Leon. Kau pasti bisa menahan harimau yang terluka ini.”

“Aku akan membuat mereka menyesal karena telah mengikuti kemauan ayahku!!”

Markus menyipitkan matanya, “Dan bagaimana kau bisa tahu bila mereka mengikutinya dengan sukarela dan tanpa paksaan?”

Dengan senyum sinis, Erlangga menatap sahabatnya, “Maka dari itu aku membayarmu, Mark. Kaulah yang akan memberitahukannya padaku. Seminggu... dan semua wanita-wanita itu sudah harus kau kelompokkan. Keluarga mereka dan siapapun yang ikut menikmati pemberian Papa, mereka juga harus menikmati pemberianku.”

Markus menelan ludahnya, darahnya berdesir mendengarkan tawa sinis dan penuh kebencian Erlangga. Dia tak tahu harus berbuat apa selain menuruti permintaan sahabatnya itu.


Genap seminggu sudah penyelidikan kedua Markus, diapun dengan enggan menyerahkan sebuah amplop berisikan data-data orang-orang yang didekati oleh Anton serta ikut menikmati pemberian ataupun kemewahan harta Anton kepada Erlangga. Markus kemudian meninggalkan Erlangga seorang diri dan menunggu saat yang tepat dimana Erlangga akan menghubunginya untuk melancarkan rencananya.

Erlangga mencorat-coret di atas kertas, membuat daftar-daftar dan urutan siapa saja yang akan menjadi targetnya hingga ayahnya berhenti melakukan apa yang dilakukannya. Erlangga tidak ingin menanyakan ayahnya, dia terlalu takut mendengar jawaban Anton karena jawaban itu pasti akan sangat melukai hatinya. Erlangga tak sanggup mendengar dari mulut ayahnya sendiri bila dia memang tak sempurna.

Erlangga kemudian menulis lima nama wanita yang kini di dekati oleh ayahnya. Diapun berdecak karena menyadari bukan hanya Anggie yang saat ini menjadi gundiknya yang dikencani oleh ayahnya. Lima orang wanita dari berbagai usia itupun tersebar di seantero Jakarta yang selama seminggu dikunjungi oleh Anton secara bergiliran.

Wanita-wanita itu diberikan kemewahan seperti uang saku setiap minggu dengan jumlah yang membuat alis Erlangga meninggi, disewakan atau dibelikan rumah atau apartemen mahal, mobil dengan harga tak kurang dari dua ratus lima puluh juta rupiah, fasilitas-fasilitas pada perusahaan milik keluarga mereka yang tentunya tak pernah Erlangga sadari. Mereka bahkan diikut sertakan ke dalam member eksklusif yang memiliki saham beberapa persen dalam perusahaan keluarga. Erlangga meremukkan kertas kosong di tangannya dengan pandangan menatap bagai Elang yang ingin membunuh mangsanya.

“Akan kuberikan kalian pelajaran, wanita-wanita sundal penghancur rumah tangga orang. Kalian lebih rendah dari pelacur-pelacur murahan!”

Sebelum melancarkan rencananya, Erlangga pulang ke rumahnya setelah seminggu lebih tanpa kabar berita yang memuaskan. Erlangga beralasan ingin menenangkan pikirannya dan berlibur di luar negeri tanpa memberitahukan dimana tepatnya dia berlibur. Sikapnya biasa saja, Erlangga tidak menampakkan sifat bermusuhan pada ayahnya, mereka tertawa seperti biasa meskipun Erlangga belum sanggup berpelukan dengan ayahnya.

“Jadi yang baru pulang dari liburan, gak bawa oleh-oleh nih?” celetuk Lani pada kakaknya.

Erlangga tersenyum miris pada adiknya, “Memangnya hadiah yang kamu punya masih kurang?”

“Yah, kakak. Itu kan lain, kan tiap liburan harus bawa oleh-oleh donk?” rengek Lani manja, bocah yang beranjak remaja itu merengut pada kakaknya.

“Ya..ya... besok kakak kasi hadiahnya. Masih di dalam koper, belum sempat buka, ok?”

Lani pun mengangguk dan keluarga itu tertawa riang mendengarkan kemanjaan Lani saat mereka sekeluarga sedang menikmati makan malam. Malam pun mulai larut, dengan alasan ingin bertemu dengan teman lamanya, Anton berpamitan pada istrinya yang disaksikan Erlangga dengan cibiran penuh kebencian. Diapun menghubungi Markus dan menginstruksikan perintah yang telah mereka sepakati sebelumnya.

“Rencana 1, mulailah!” perintahnya.

Setelah menjawab perintah Erlangga, Markus dan beberapa anak buahnya kemudian berangkat dengan sebuah mobil Alphard hitam menuju sebuah rumah mewah dan menculik seorang wanita berusia dua puluh tahun yang telah satu tahun lamanya menjadi simpanan Anton. Keluarganya yang tinggal bersama dengan wanita itu tidak mengetahui sama sekali saat terjadinya penculikan.

Wanita yang bernama Janet ini kemudian di bawa ke sebuah rumah yang terletak jauh dari pemukiman warga, rumah luas yang memiliki sebuah kamar interogasi  tertutup dan kedap suara. Disana kemudian Janet diikat keempat alat geraknya di atas ranjang dengan tubuh bugil tanpa sehelai benang apapun. Mulutnya telah diikat dengan kain sehingga hanya rengekan yang terdengar dari mulutnya, rengekan yang juga tak mungkin terlepas dari ruangan kedap suara itu.

Keesokan harinya, tepat pukul sepuluh pagi, Erlangga membuka pintu kamar interogasi itu dengan tatapan sedingin es kutub selatan. Dengan kemeja dan jas hitam gelap mengkilap, rambut hitam kecoklatan dan mata biru kelabunya, Erlangga tak memancarkan belas kasihan sama sekali dari sorot matanya. Hanya ada kebencian dan rasa jijik menyaksikan tubuh wanita yang sedang berbaring tak berdaya di hadapannya. Dia kemudian membaca secarik kertas yang menjelaskan rincian hubungan Janet dengan Anton.

“Bertemu di sebuah acara penggalangan dana, saat itu wanita ini menjadi salah satu pekerja paruh waktu yang melayani katering dan secara kebetulan menumpahkan segelas air putih dingin ke atas pangkuan target. Sejak saat itu hubungan mereka semakin dekat hingga sebulan kemudian target membelikan sebuah rumah mewah beserta isinya dan wanita ini pindah kesana bersama kedua orang tuanya dan dua adiknya. Orang tuanya hanyalah pengusaha toko kelontong yang kini telah direnovasi dan menjadi sebuah mini market besar dengan keuntungan seribu kali lipat dari sebelumnya. Wanita ini saat ini sedang kuliah semester lima di sebuah universitas di Jakarta pada fakultas ekonomi. Enam bulan setelah berkenalan dengan target, akhirnya wanita ini dan target menikah dibawah tangan dengan saksi kedua orang tua wanita ini. Tiga bulan lalu dia keguguran setelah terjatuh dari tangga kampusnya karena menggunakan sepatu berhak tinggi dengan berjalan terburu-buru!”

Erlangga meremukkan kertas di tangannya dan melemparkannya ke arah Janet. Wanita itu bergidik ketakutan meskipun dia tidak mengerti apa kesalahannya. Erlangga memandang dengan sorot merendahkan dan matanya terpicing menatap pada perut Janet yang pernah mengandung ‘adik tirinya’, diapun meludah ke lantai demi membayangkan bagaimana ayahnya berhubungan intim dengan wanita itu.

“Buka tutup mulutnya!” perintah Erlangga pada Markus. Dengan patuh laki-laki bertubuh tegap itu kemudian melepaskan kain yang mengikat mulut Janet dimana wanita itu langsung berteriak histeris. Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya dari hantaman tangan Erlangga. Pipi Janet memerah dan wanita itupun diam seketika.

“Pelacur murahan!! Bangunkan dia!” perintah Erlangga lagi setelah menyadari Janet pingsan akibat tamparannya.

Seember air kemudian membasahi wajah Janet yang terbangun dengan penuh kekagetan. Dia mencoba berteriak namun Erlangga telah mencengkeram rambutnya yang tergerai panjang dan mengancam wanita itu bila berani berteriak sekali lagi.

“Aku akan langsung membunuhmu bila kau berani mengeluarkan sebuah suara saja tanpa seizinku!!” mata Erlangga menatap tajam pada wajah Janet, cengkeraman tangannya pada rambut wanita itu menyakitinya.

Janet pun mengangguk pasrah, Erlangga kemudian melepaskan cengkeramannya dan mengeringkan tangannya dengan sehelai handuk yang diberikan oleh anak buah Markus.

“Jadi, apa benar apa yang aku katakan tadi? Atau kau ingin membantahnya?” tanya Erlangga datar. Dalam hatinya amarah telah berkecamuk namun Erlangga masih belum memutuskan hukuman apa yang akan dia berikan pada Janet.

Dengan bibir bergetar Janet menjawab pertanyaan Erlangga, “Aku.. tidak mengerti maksudmu...”

Erlangga menarik nafasnya keras-keras, dia mencoba mengontrol emosinya yang semakin meluap. “Jangan main-main denganku wanita murahan!! Apa yang kau lakukan hingga Anton mengangkatmu sebagai gundiknya?!! Kau pasti menggodanya, khan?! Dasar wanita murahan!!”

Erlangga mengetatkan tinjunya, tubuhnya bergetar karena menahan keinginan untuk menghajar habis tubuh wanita mungil di hadapannya. Dengan tubuh tegap dan tinggi seratus delapan puluh lima sentimeter, Erlangga lebih tinggi lima senti dari ayahnya, dibandingkan dengan Janet, wanita ini hanyalah anak kecil baginya, yang bisa diremukkannya dengan mudah.

“Ti..tidak!! Ayah yang mendekatiku...dia...” belum selesai Janet mengungkapkan pembelaannya, Erlangga telah memotong kata-katanya.

“AYAH?!!! Kau panggil dia apa?!! AYAH??!!” Erlangga tertawa dengan keras, tawa ironis penuh kesakitan dalam dadanya yang penuh sesak oleh kecemburuan dan rasa dikhianati.

“Tapi kau mau, khan? Bagaimana mungkin kau bisa menolak hidupmu yang miskin dan harus bersusah payah untuk mengais rupiah! Tiba-tiba diangkat derajatmu dan kau... kalian, keluargamu menikmati semua itu, hanya karena kau!! Menjadi gundik ayahku!!! Ayahku!!! Dia ayahku!! Kau tak berhak memanggilnya ayah!!” teriak Erlangga kesakitan.

Markus menundukkan kepalanya, dia merasa iba dengan sahabatnya itu. Markus beranggapan Erlangga hanya menyakiti dirinya dengan melakukan hal ini sementara ayahnya tidak akan pernah menyadari kesalahannya.

Erlangga menebah dadanya, sesak, sembilu menyayat-nyayat hatinya. Terbayang lagi di benaknya perkataan ayahnya saat menemuinya di kamar, terngiang kembali janji ayahnya yang akan mengajak mereka sekeluarga berlibur ke Eropa. Hati Erlangga semakin menangis menyadari semua itu hanyalah mimpi yang tak mungkin bisa dia nikmati lagi dengan tulus.

Janet meringkuk ketakutan, dia tidak mengerti sama sekali dengan kemarahan Erlangga. Namun dia mulai menyadari kenapa dia bisa berada disana, terpenjara dan diikat dengan tali yang menyakitkan, disaksikan oleh tak kurang dari enam pasang mata yang mengawasinya. Janet khawatir laki-laki dengan wajah garang itu akan memperkosanya bergiliran.

Erlangga menyalakan sebuah rokok untuk dirinya, dia mendesah pelan. “Bila aku memberikanmu pilihan, mana yang akan kau pilih? Kau hanya bisa memilih satu.” Erlangga duduk di samping ranjang Janet, menatap dengan perlahan wajah wanita itu hingga ke ujung kakinya. Pada wajah bulat telurnya yang sempurna, lehernya yang jenjang, buah dadanya yang besar dan menggiurkan, belahan pahanya dengan rambut pubis tercukur rapi, dia yakin di dalam sana wanita itupun pastilah menggiurkan. Erlangga menelan ludahnya sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Kau bawa semua harta yang kau miliki dan pergi dari Jakarta, jauh dan jangan sampai ayahku menemukanmu lagi atau keluargamu. Jangan pernah menghubunginya lagi dan kalian akan selamat.”

Janet menahan nafasnya, menunggu vonis lain yang akan dijatuhkan Erlangga padanya.

“Atau... Kau boleh tinggal bersamanya seperti yang biasa kalian lakukan, kau mungkin akan mengadukan hal ini padanya. Kau mungkin akan menghancurkan keluargaku, membuat aku dan ayahku saling bunuh, tapi yakinlah... tak satupun dari keluargamu akan selamat. Tidak... aku tak akan membunuh mereka, aku akan menyiksa mereka tepat dihadapanmu. Aku akan membuat kau melihat hasil dari perbuatanmu karena telah berani menjadi duri dalam daging keluargaku!”

Erlangga melemparkan puntung rokoknya ke lantai, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Janet, mengintimidasi wanita itu yang kini sedang terisak menangis dengan air mata bercucuran.

“Jadi? Apa jawabanmu?” tanya Erlangga tak sabar.

Janet mengangguk, dengan penuh ketakutan dia berbisik, “A...aku akan pergi dari Jakarta. Aku tak akan menghubungi Ayah... ah Pak Anton lagi..”

Erlangga mengetatkan rahangnya, “Dan kau akan menandatangi sebuah surat yang akan membuatmu tertimpa kemalangan yang sangat bila kau berani melanggar.”

Dengan itu Erlangga meninggalkan rumah itu dengan sebuah beban terangkat dari pundaknya, namun demikian dia tak merasa senang sama sekali akan apa yang telah dia lakukan. Erlangga juga tak ingin menatap mata Markus yang tertunduk dan tak berkomentar dengan perbuatannya.

Dalam mobilnya Erlangga memijat kepalanya yang berdenyut menyakitkan, persoalan ini telah menyita pikirannya hingga depresi yang telah ditekannya kembali muncul ke permukaan.

Setelah penculikan itu, Janet dan keluarganya menghilang dari Jakarta dengan meninggalkan seluruh kekayaan yang pernah diberikan oleh Anton kepadanya. Laki-laki itupun bertanya-tanya kemana gerangan salah satu istri diluar hukumnya. Dengan kehilangan Janet, Anton menampakkan sedikit perubahan emosi, dia menjadi kurang fokus terhadap pertanyaan-pertanyaan istrinya yang sah saat mereka sekeluarga berada di meja makan.

“Papa kenapa? Kok kayaknya lagi bingung? Papa sakit ya?” tanya Ani pada suaminya. Erlangga dan Lani hanya melirik ke arah ayahnya tanpa ingin ikut bertanya tentang kejanggalan sang ayah.

“Ah, enggak. Papa lagi kepikiran sesuatu aja.”

“Memang ada masalah apa, Pa?” tanya Ani lagi saat mengangkat piring-piring kotor dari atas meja.

“Ah... Cuma masalah kantor,” senyum Anton mencoba menutup pembicaraan. Akhirnya mereka pun masuk ke kamar masing-masing. Keesokan harinya Erlangga pergi ke kantornya seperti biasa, dia mengawasi tingkah ayahnya yang seharian hanya berkutat dengan handphone di tangan atau menelephone ke banyak orang. Anton sibuk dengan dunianya sendiri dan mengabaikan pekerjaannya.

Siangnya, Anton menemui seorang gundiknya lagi. Wanita bernama Zeza yang berprofesi sebagai model foto telanjang dan mereka menghabiskan tiga jam lamanya di dalam kamar apartemen mewah yang dibelikan Anton untuknya dua bulan yang lalu. Lima menit setelah Anton pergi, Markus dan anak buahnya telah menciduk Zeza dan membawanya ke rumah yang sama kemana dia membawa Janet sebelumnya. Erlangga pun telah menunggu disana dengan santai.

Zeza hanya dengan gaun tipis di tubuhnya, tanpa pakaian dalam, diapun diperlakukan tanpa kecuali, diikat di atas ranjang dan mulutnya disumpal dengan kain tebal.

Erlangga tak banyak bicara kali ini, dia meminta Markus untuk mengintimidasi dan membuat Zeza terpaksa memilih pilihan yang sama dengan Janet. Wanita itupun kemudian dikembalikan ke apartemennya dan menghilang lagi tanpa bekas seperti Janet. Anton yang belum mengetahui kabar ini tidak bereaksi apapun, dia sedang membeli sebuah gelang berlian untuk diberikan kepada Marcela, laki-laki tua itu akan menemui Marcela malam ini.

“Hai, cantik... Kau menungguku?” bisik Anton di telinga Marcela yang mendesah manja.

“Iya donk, Om... Sudah satu bulan om gak kesini. Bikin kangen aja.”

“Bagus donk... Om akan bayar semua kekangenan kamu itu...”

Anton merayu Marcela dan melepaskan seluruh pakaian mereka, Markus yang telah menunggui kawasan perumahan itu hanya menyesap rokoknya selama lima jam sebelum kemudian Anton pergi dari rumah yang dia sewakan untuk Marcela.

Markus kemudian beraksi dan menculik Marcela tanpa memberikan kesempatan pada wanita itu untuk berteriak. Marcela dibius dan diapun pingsan. Dengan mudah Markus membopongnya ke dalam mobil dan meluncur dari sana.

Keesokan paginya Erlangga datang dengan emosi labil, dia bertengkar dengan ayahnya mengenai kebiasaan ayahnya yang tak fokus pada pekerjaan belakangan ini dan keteledoran ayahnya yang membatalkan janji temu dengan klien secara sepihak sehingga perusahaan merugi miliaran rupiah.

Saat dia menemui Marcela pun, Erlangga tak dapat menahan kemarahannya. Dia pun mencengkeram rambut Marcela yang sedang terikat menunggu hukumannya.

“Aku tak tahu mengapa aku pernah merasa perduli padamu, mengetahui sikapmu yang bagai sundal. Aku tak menyangka kau juga menggoda ayahku!! Wanita sialan!!”

Marcela menangis ketakutan, hanya air matanya yang merembes saat Erlangga memerintahkan salah seorang anak buah Markus untuk menggagahi wanita itu dengan paksa. Saat sperma telah dimuntahkan dalam rahim Marcela, Erlangga kemudian menghampirinya lagi.

Tanpa mengizinkan wanita itu berkata sepatah katapun, Erlangga mencengkeram rambutnya sekali lagi. “Bila aku masih mendengar atau melihat kau berhubungan dengan ayahku lagi, aku bersumpah demi nama ibuku, aku akan membuatmu menderita dan lebih memilih mati!!”

Erlangga kemudian pergi dari rumah itu dengan emosi mendidih, dia pergi ke apartemennya dan menghantam samsak yang disediakannya disana untuk melampiaskan kemarahannya. Erlangga berteriak seperti orang kerasukan, apartemennya yang kedap suara tak sanggup menahan kerasnya volume teriakannya hingga tetangganya mengetuk pintu apartemennya dan memintanya untuk lebih beradab.

Erlangga kemudian menghabiskan harinya dalam kamar gelap yang jendelanya tertutup tirai tebal hingga malam hari menjelang. Seharian itu dia tak menyentuh sesendok makanan pun, hanya minuman keras penemannya dan rokok pendampingnya.

“Kenapa.... Kenapa hidupku menjadi seperti ini??” desah Erlangga dalam ketidak-berdayaannya.


Wanita berikutnya yang di bawa Markus untuk di hukum adalah seorang ibu rumah tangga yang menjadi simpanan Anton selama lima tahun lebih. Dia juga adalah istri dari seorang pejabat pemerintahan yang didanai kampanye-nya oleh Anton. Tanpa sepengetahuan suaminya itu, wanita yang bernama Risma ini kerap kali mengundang Anton kerumah mereka. Bahkan mereka berselingkuh di atas ranjang utama di dalam rumah itu.

Wanita berusia tiga puluh lima tahun itu tak berdaya saat Erlangga membuatnya memilih, diapun mengangguk dan sebuah penghalang telah dipatahkan. Anton akhirnya gusar karena menyadari satu per satu wanitanya menghilang, namun dia tak tahu siapa dalang sebenarnya dibalik semua ini. Tak pernah terbersit dalam benaknya bila anak kandungnya sendirilah yang melakukan semua ini, hingga dia berkunjung ke rumah Anggie.

“Om, beberapa minggu lalu ada orang ke rumah, nanyain rumah ini mau dijual? Aku bilang enggak. Kan om sudah beliin ini untukku, khan? Biar aku gak perlu nge-kos lagi.” rengek manja Anggie. Mereka baru saja selesai berhubungan badan, bahkan cairan sperma Anton masih meleleh dari kemaluan wanita muda itu.

“Dijual? Ya enggak, donk! Kan sertifikatnya sudah nama kamu? Masak om jual, sih?” jawab Anton tak kalah manja. Dia merasakan gairahnya bangkit lagi saat payudara anak muda itu menempel pada dadanya.

“Anggie, naikin om donk... Vagina kamu enak deh...”

“Ih... Om... belum puas ya? Udah tiga kali jugaan.”

Meski merengut manja, Anggie tetap menaiki pangkuan Anton dan bergerak teratur di atasnya. Masih dengan gerakan lambat, Anggie dengan keahliannya memutar pinggulnya yang membuat Anton memejamkan matanya nikmat. Selama setengah tahun mereka berhubungan, Anton tak pernah bosan dengan wanita di atas tubuhnya ini. Dia mengingat saat pertama pertemuannya dengan Anggie di sebuah lomba cerdas cermat SMU dimana Anton menjadi salah satu sponsor yang memberikan beasiswa pada pemenang lomba.

Saat itu Anggie masih berusia enam belas tahun, murid kelas dua SMU yang supel dan banyak bicara. Mereka bertemu di parkiran mobil dimana Anggie sedang memperbaiki pakaiannya yang secara tak sengaja dilihat oleh Anton. Sejak saat itu lah Anton kerap mencari Anggie, merayu gadis muda itu hingga dua minggu kemudian dia berhasil membawanya ke sebuah rumah yang memang sengaja dibelinya untuk membawa wanita-wanita lain yang ingin ditidurinya.

“Tapi, Om... Anggie takut... Anggie kan belum pernah gituan...” rengek Anggie kala pertama mereka berada di atas ranjang. Anton telah melepaskan seluruh pakaiannya, begitu juga Anggie.

Dengan melihat payudara Anggie yang mungil, kemaluan yang memiliki sedikit rambut pubis, kejantanan Anton telah mengacung dengan tegak menandakan gairahnya yang telah berada di ujung tanduk. Anton tak perduli dengan rengekan manja Anggie, dia tahu gadis di depannya hanya mencoba mengulur waktu karena sebelumnya mereka telah sering bercumbu di dalam mobil milik Anton.

“Jangan takut... Om pelan-pelan kok... Ya?” bujuk Anton sembari membaringkan tubuh Anggie dibawahnya. Meski mencoba menahan tubuh Anton, perlawanan Anggie tak seberapa, dia telah membuka pahanya lebar-lebar terlebih saat bibir dan lidah Anton telah menjelajahi dan merayu daerah kewanitaannya. Gadis belia itupun dengan pasrah menyerahkan keperawanannya pada laki-laki yang seharusnya dipanggilnya ayah.

“Tahan, ya...” kata Anton saat mengarahkan kejantanannya pada kemaluan Anggie.

“Duh, Om... Anggie takut. Gede banget sih, Om? Muat gak sih?” tanya Anggie meringis. Dia telah merasakan liang vaginanya mulai dirobek dengan menyakitkan oleh batang kejantanan Anton yang besar.

“Muat donk, nanti juga muat...” Anton mendesakkan lagi kejantanannya, Anggie meringis dan mencengkeram seprai di bawahnya. Dia berteriak kesakitan saat setengah kejantanan Anton berhasil memasukinya

“Duh!! Sakit om!! Perih!!” teriak Anggie memelas. Air mata menitik di ujung matanya.

Anton tak menggubrisnya, dia menarik mundur dan memajukan tubuhnya, begitu seterusnya hingga kemudian dia mencium bibir Anggie dan membungkam mulut gadis belia itu dengan bibirnya. Sebuah hujaman dalam akhirnya mengoyak keperawanan Anggie, Anton tak membiarkan Anggie menghentikannya. Diapun menghujamkan lagi dan lagi kejantanannya keluar masuk kemaluan Anggie dengan cepat. Beberapa tetes darah menodai bed cover putih dibawahnya, kejantanan Anton pun diwarnai merahnya darah dan lendir-lendir putih yang keluar dari penyatuan tubuh mereka.

Saat Anton mengeluarkan cairan kenikmatannya dalam tubuh Anggie, wanita muda itu tak dapat merasakan kenikmatan apapun. Dia terisak dan meringis kesakitan, selama seminggu kedepan Anggie bolos sekolah dan beristirahat di rumah yang diberikan Anton padanya. Namun Anggie tidak beristirahat seperti yang diinginkannya, Anton mengunjunginya setiap hari dan setiap hari pula laki-laki itu ‘melebarkan’ liang kewanitaan Anggie hingga sang gadis kecil menjadi ketagihan dengan mainan barunya. Mereka seolah ditakdirkan menjadi sepasang kekasih mesum yang bercinta seharian penuh tiada henti.

Pulang dari Anggie, Anton bahkan masih sanggup memberikan jatah kenikmatan untuk istrinya. Kehidupan berumah tangga mereka tak pernah dingin, Anton selalu tahu bagaimana memanjakan Ani, tak akan pernah terbersit dalam benak ibu dari Erlangga dan Lani itu bila suaminya adalah laki-laki maniak seks yang tak cukup dengan satu liang.


Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu oleh Erlangga telah tiba. Wanita terakhir ayahnya telah menunggunya di dalam rumah penyekapan. Anggie yang diculik dari halaman sekolahnya kini bertelanjang bulat dan ketakutan dibawah tatatapan lapar anak buah Markus yang ingin menyantap tubuhnya. Terbersit dalam kepala Erlangga untuk membiarkan pengawal-pengawal itu untuk menggilir Anggie satu per satu atau bersamaan agar wanita muda itu jera agar tidak menggoda laki-laki yang sudah berkeluarga. Namun hati kecilnya menolak untuk berbuat demikian dan Erlangga pun bergejolak.

“Apakah kalian ingin menyentuhnya?” tanya Erlangga pada anak buah Markus. Markus menaikkan alisnya demi mendengar pertanyaan Erlangga.

“Apa yang kau inginkan, Er?” tanya Markus pada sahabatnya.

“Apa lagi? Tentu saja seperti yang kau pikirkan.”

“Demi Tuhan, Er. Dia masih anak-anak!!”

“Anak-anak yang sudah memiliki kemaluan yang lebar? Hah!! Anak-anak yang sudah mempersundal diri? Anak-anak yang sudah tahu apa kegunaan aset miliknya? Untuk menggaet laki-laki kaya raya, bermimpi menjadi istri laki-laki itu? Menjadi ibu dari anak laki-laki itu? Cih!! Jangan mengkotbahiku, Mark! Atau kau kuusir pergi dari sini!!” teriak Erlangga marah. Markus kemudian mundur dan bersandar kembali di dinding.

“Kalian!! Lakukan apa yang kalian inginkan dan rekam video itu. Video itu akan kujadikan alat untuk memberikannya pelajaran.”

Erlangga tertawa sinis, dia menyaksikan dengan mata terbuka lebar bagaimana lima orang menggagahi Anggie dan memperkosanya meski tanpa kekerasan. Tubuh wanita itu bahkan tak melawan sama sekali, Erlangga dapat melihat beberapa kali tubuh Anggie mengejang pengaruh dari orgasme yang menyerangnya bertubi-tubi. Bahkan pelacur belia itu mengulum kejantanan pengawal-pengawal Markus dengan sukarela. Semakin jijiklah Erlangga padanya.

Pengawal-pengawal Markus bergiliran selama dua jam tanpa henti memasuki Anggie dan memuntahkan sperma mereka di dalam rahim Anggie. Erlangga tak perduli bila nanti seorang bayi akan lahir dari sana, itulah hukuman yang dia berikan pada Anggie. Bila anak yang lahir bermata sama dengan dirinya, maka anak itu adalah adiknya. Namun bila anak yang lahir seperti fisik pengawal-pengawal Markus, maka dapat dipastikan dia bukanlah anak ayahnya.

Tubuh Anggie penuh keringat, dari liang kewanitaannya menetes tanpa henti cairan putih milik pengawal-pengawal yang telah menyetubuhinya. Bahkan tubuh Anggie masih bergetar oleh orgasme yang bertubi-tubi, dia masih dalam keadaan trance setelah digilir lima laki-laki perkasa selama dua jam. Anggie dehidrasi dan diapun pingsan.

Selama seminggu ke depan Anggie masih di sekap di dalam rumah itu dan digilir tanpa henti oleh pengawal-pengawal Markus. Mereka menjadikannya model video porno dan telah mengkoleksi beberapa video yang diserahkan kepada Erlangga.

Dari tatapan mata Anggie, Erlangga dapat melihat Anggie menikmati setiap persetubuhan itu sama besarnya dengan saat dia menikmati persetubuhannya dengan Anton. Erlangga mendesah pelan, “Apa yang harus kulakukan pada wanita ini?” tanyanya pada Markus.

Markus terdiam, dia sama sekali tak tahu kemana arah pembicaraan Erlangga. Akhir-akhir ini Erlangga tak lagi se-emosi dulu. Dia telah kehilangan semangatnya yang dulu menggebu-gebu untuk balas dendam. Sebaliknya, Anton mulai cemas dan semakin terpuruk mendapati semua wanitanya menghilang.

“...Biarkan saja wanita ini disini melayani pengawal-pengawalku,” ketus Markus akhirnya karena tak tahu jawaban apa yang perlu dia berikan pada Erlangga.

“Menjadi pemuas nafsu mereka?” tanya Erlangga.

Markus mengangkat bahunya, “Entahlah... Mungkin saja... Dia nampaknya suka dengan apa yang mereka lakukan  padanya. Bukankah kau ingin menyingkirkan dia dari ayahmu?”

Erlangga berpikir sejenak, “Kuserahkan padamu. Aku hanya ingin dia pergi dari sisi ayahku. Dan semua telah selesai. Aku bisa kembali lagi ke keluargaku.”

Erlangga beranjak pergi dari rumah itu, rumah yang telah menjadi tempatnya menyekap, memperkosa dan menghukum wanita-wanita yang menjadi gundik ayahnya. Lalu Markus menghentikannya dengan sebuah pertanyaan.

“Kau tahu ayahmu tak mungkin berhenti, khan, Er?” tanya Markus dengan mata menyelidik.

Erlangga menahan langkahnya, tangannya dimasukkannya ke saku. “Selama aku masih hidup, Mark... Semua wanita itu akan mendapat hukumannya. Meski seluruh wanita di dunia ini ditiduri oleh ayahku, aku akan menghukum mereka. Tiada ampun bagi mereka yang berani-beraninya menjejakkan kakinya di dalam keluargaku.”

Dan Erlangga pun meninggalkan rumah itu dengan mobilnya.

Akankah setelah semua yang dilakukannya terhadap wanita-wanita yang menjadi gundik ayahnya sanggup membuat Anton jera dan menghentikan perbuatannya? Atau justru membuat sang maniak seks menjadi lebih parah dari sebelumnya? Karena dunia telah semakin membuka diri terhadap budaya polygami yang mungkin saja akan dianut Anton setelah ini.

Akankah Erlangga sanggup menghentikan setiap tindak tanduk ayahnya tanpa mengkonfrontasinya langsung pada sang terdakwa?

Hanya waktu yang akan menjawabnya, waktu dimana hidup berderu dengan debar jantung manusia dan gairah yang tak akan pernah padam bila nafsu tetap diutamakan.


~~~Fin~~~ 




49 comments:

  1. keren mba shin... wow... nggak nyangka. dari tadi bacanya sampe nggak kedip loh. kereeeennnn :acungin 4 jempol:

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga suka covernya hahaha
      itu paha sama paha ya? hehe :vinda minta dijitak:

      Delete
    2. iya, paha ayam.. wkwkkwkw... makasi ya sista :D

      Delete
    3. Btw, itu cover-ny hot beuddzzz.. Wkwkwkwk

      Delete
  2. ☀•“WēēW“•☀ si anton ya sgh TERLALU,,,crtny bagus bgt mba shin.bapakny penganut,,anakny penghancur.poligami versi mba shin diluar dugaan bgt,,kereen tenan mba...
    Sepertinya memang ada ya anton2 lain yg bkn tokoh fiksi diluaran sana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, makasi banyak say dah dibilang bagus pake banget lg. jadi tersandung.. eh tersanjung...

      hehehe.. iya, Erlangga itu perwujudan anak-anak yang menjadi korban broken home, dimana dia gak bisa mewujudkannya di dunia nyata, maka Erlanggalah menjadi sosoknya di dalam cerita. ahahhaha....

      Delete
    2. wah, makasi banyak say dah dibilang bagus pake banget lg. jadi tersandung.. eh tersanjung...

      hehehe.. iya, Erlangga itu perwujudan anak-anak yang menjadi korban broken home, dimana dia gak bisa mewujudkannya di dunia nyata, maka Erlanggalah menjadi sosoknya di dalam cerita. ahahhaha....

      Delete
  3. Ew mbak...ak penasaran gimana tanggapan si anton stlh gundik2nya ilang :-s

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahha udah... ceritanya dah selesai.... wkkwkwkwkwkw imajinasiin aja sendiri... lol :biasanya sekuel gak sebagus prekuelnya:

      Delete
  4. Woooowwww kereeenn niech critanya mbak shiinn,,, sblomnya q kpikiran erlangga bakal ngebunuh anton lwat jasanya markus, gk taunya wanita2nya yg dihukum,,, klo wanita2nya yg dihukum tapi sumbernya alias si anton gk dihukum gk akan pernah klar tuh punishment nya erlangga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe makasi banyak sist... bisa aja dirimuh :kedip-kedip: wkekeke... artinya kl lg bosen bisa ada kelanjutannya sist, tp itupun kl ada moodnya buat ngetik. tp biasanya sekuel selalu jelekan kl aku yg ngetik :S

      Delete
    2. @sulis_imout : emg iy.. Klo dalangny ga d ubah ya ga kelar2 tu mainanny.. Ckckk

      Delete
  5. keren mbak shin,, tapi masih gantung endingnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha udah ending kok say... endingnya Anton gak punya cewek lg (sampe saat itu) dan Erlangga berhasil "menyingkirkan" cewek2 ayahnya. hahahahaha

      Delete
  6. Sumpah! Ni keren bgt!!!
    Gilak tu org! Ckckck
    Maniak! Ih! Hebat kmu mbak bwt critany..=D
    Mskipun gntung akhirny..-_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. oit... tengkyu cin :jd sumringah: suka ya?? wkkwkwkw suka apanya neh?? yg geblek kena hukuman? lol... oh ebat donk...... :ndak ada recehhh ehem...:
      nah... barusan muji ujung2nya ngomong ending gantung: grrr...

      Delete
    2. @mbak shin : ;;).. Kn klo mau mnta tmbah kn hrus pke modus operandi dlu.. Spa tw modusny nyantol..=))

      Delete
  7. Replies
    1. apa? topless??? mau mau mau... :masang emoti mupeng: :ehhh:

      Delete
  8. Kalau om om kyk om anton yg maniak seks gini,berhilangan gundik,msh bisa cari lagi.
    Lebih baik 'burung' nya dipotong supaya gak bebas keluar masuk 'sarang'.
    Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. @maria silalahi : sadis bgt uiii.. Tpi klo mau spy brenti ya emg hrus gtu.. Spy brenti tu kluar masuk "sarang burung" =))

      Delete
    2. Hahaha iya sadis tapi itu resiko buat pria yg gk bisa handle 'burung'nya.
      Jd kebayang kl "coba didunia ini gada 'burung'."
      :D

      Delete
  9. wow aku dibuat tercengang dengan sikap Erlangga dalam mengatasi rasa sakit hati dan kecewa terhadap ayahnya. asli aku dibuat takjub dengan otak Mafia Erlangga yang punya ide lumayan sadis dalam menghalau perempuan2 pengganggu yang tidak tahu malu.
    saat baca cerita ini aku ngebayangin diri dalam posisi seorang Erlangga. menempatkan diri sbg seorg anak yg kecewa kpdnya yg sangat dipercaya. ternyata otakku sendiri bisa bekerja dengan lebih sadis daripada Erlangga.karena dalam bayanganku aku malah menghajar perempuan2 itu dg caraku sendiri. Aku bisa ngebayangin gimana perasaan Erlangga waktu menyiksa perempuan sundal itu.
    aku sangat terperangah dengan karakter Angie. gadis muda yang ntah seperti apa. disiksa dengan diperkosa secara bergilir bukannya ketakutan atau gimana. ini malah menikmati dan suka cita. padahal usianya masih muda.

    tapi untuk keseluruhan cerita ini sangat keren dan menarik. cukup bisa menjadi cerminan kita tentang arti sebuah keluarga dengan ikatan yang kuat. apa yg terlihat dengan indah ternyata bisa busuk didalamnya.
    emosi yang ada didalamnya bisa begitu hidup sehingga pembaca sepertiku bisa menikmati dengan pemikiran yang bisa lebih menarik dan baik.
    senang sekali mba shin mau menulis cerita yg rada2 DARK seperti ini. kapan2 boleh dicoba lagi ya mba.

    makasih mba SHIN :D

    ReplyDelete
  10. keren,,,, auranya ERLANGGA makk jang,,, SEDEP bener dah,,, begitu terasa merasuk jiwa,,, berasa banget jadi ERLANGGAnya,, sakit hati,, kekaguman yang dipupuk selama ini hancur begitu saja.... Entahlah,,, mungkin erlangga cuma mau mmpertahankan keluarganya yg utuh,, apapun itu,,, huaaaaaa aku gk bisa ngebayangin,,,,,

    ReplyDelete
  11. Wow keren nih cerita. Ikutan ngerasa emosi nya erlangga. Hebat Shin. Makin kagum aku :D , Erlangga msh kebaikan ksh hukumannya kayak gitu. Kalo aku dah aku ancurin beneran tuh cew2 gak tau malu itu. Jd ingat tetangga ku ada yg anak2 nya nyamperin simpenan bapaknya dan dianiaya tuh cew nya. Anton ini sih positif hiper kali ya persis si tiger wood dia kan gundiknya banyak tuh. si angie juga sm kalo cew normal bakal edan dah kalo digagahin sm beberapa cow dan berkali2 pula. Dasar anton dia itu harus kena penyakit dulu biar nyaho sekalian, jd org bukannya mensyukuri apa yg udah dia punya. Istri yg setia dan baik, anak2 yg sehat, pintar, dan patuh. Musti kena hukuman dr tuhan dulu br dia sadar. Geram bgt sm si anton dan cew2 nda punya harga diri itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha makasi banyak say.... tengkyu tengkyu tengkyu.... memang kita perlu banyak Erlangga2 seperti ini agar tidak ada lagi laki2 seperti Anton di dunia... muwahahhahaha...

      Delete
  12. ( '́⌣'̀)/(´._.`) erlangga kalo ketemu aku nikah yuk biar trauma'a ilang hihihii piss mba...
    Sumpah aku disini paling kshn sama erlangga, dia nyimpen semua'a sendirian pasti nyesek bgt. Aku kl jadi erlangga ntah apa yg bs ku perbuat....

    Anton (⌣˛⌣")ƪ(˘-˘) thuk!!! Kakek2 gak tau diri. Remember ya Nton harta gak bakal bawa kebahagiaan yg lama, seks hanya sementara gak akan bawa kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan sesungguhnya itu hanya diperoleh dari keluarga yg mencintai kita tanpa memandang apapun...

    Angie (⌣˛⌣")ƪ(˘-˘) thuk!!! Hyper seks, cm mandang kebahagiaan lwt seks aja. Msh bocah dh di gagahn bbrp pria bkn trauma malah seneng, bodoh...

    (ˇ▼ˇ)-c<ˇ_ˇ) mba shin gemes ini aku krna crta'a bagus hihihi....

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh eh erlangga mau dinikahin buat apa? ntr diselingkuhin lg dia.. wkwkkww.. :D

      tapi banyak kok sist laki2 kyk Anton di dunia ini, serius deh. aku jg gak ngerti gmn otaknya laki2 kyk gt. apakah menurut mereka fine2 aja kl mereka sowan ke lobang lain. mgkn menurut mereka itu wajar, "toh ini milikku, aku bebas ngapain aja dengan milikku"

      ini adalah salah satu contoh keegoisan laki2 yg gak bs ngontrol diri dan nafsunya. sbnrnya bukan laki2 kaya aja sih yg gt, bedanya hanya kemana mereka melampiaskannya. mungkin kl yg kayak Anton gini lampiasin ke cewek2 cantik, yg bs mereka beli. kl yg gak punya duit/emang nafsunya gak ketulungan ya jd kriminal, anak sendiri, tetangga sendiri. aku gak ngomong mengada2 lho, krn beginilah fakta dilapangan.

      skrg dunia semakin mudah mengakses informasi, semakin mudah bertemu dengan orang dibelahan indonesia lain karena transportasi dan komunikasi yg membaik, semakin buruklah manusianya krn mereka gak mampu mengontrol diri serta kurangnya rasa simpati terhadap manusia lain. itu sih menurutku ya. miris nonton berita2 di tipi. skrg berita cuman diisi kasus pembunuhan, pemerkosaan, perampokan dengan pembunuhan, bunuh diri, etc. kl dulu... meski boring, tapi beritanya tentang pohon pisang yg berbuah dua, babi beranak sapi, pesta HUT RI, etc. tapi otak kita gak terkontaminasi. ckkcckckkc

      Delete
    2. hahahaha itu mba shin, emng ada yak babi beranak sapi? xD kacau kacau xD

      Delete
    3. lho.. ada donk... :dalam khayalan: ahhahaha

      Delete
  13. Waaaawww,,gbrnyaaaa *slh fokus*
    Ajiiiibbbbbbb komennya pd pjg2,,xixixii

    Mba Ciiiiiiinnnnnnnn,,,knp hkumannya cm sgtu doangz??hrsny Bpkny jg diapain gt,,ksh lht putu2nya mgkn,,aaahhhhhhhhh g relaaa klo bpkny msh hdp nymn gt,,ckckckck
    Kesiaaaannnn Erlanggaaa....

    Mksh Mba Ciiiiiiinnnnnnnnn.... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl kesadisan ntr gk ada yg berani baca vie.. haahaha.... sama2 vie.. :D ayo semangat utuk tema berikutnya :D

      Delete
  14. wow..
    mb shin erlangga keren ey...

    ReplyDelete
  15. Busyeeettttttt that's cover make me pengen meeting (mijitin yg penting2) wkwkwkkkk

    ReplyDelete
  16. Iiihh covernya bkin ngiler *eehh
    Iiiissshh bpk bejat tu, ntah apa lg yg d cari d luar sna, istri n anak yg baik gtu msh aj d khianati,...tuh kn esmoni jdinya mba
    Thks mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh ndong.. covernya diperhatiin wkwkkw....

      Delete
  17. Kerennnn Mba Shin,.....
    Aku sukaaaa dgn ceritana.......
    Bagus Erlangga, n lanjut ceritana dunk Mba Shin, biar ayah yg bejat itu
    Mendapatkan HUKUMANNA.........
    Geram aku ma ayah yg spt itu...
    Makasih Mba Shin *peluk*

    ReplyDelete
  18. Kerennnn Mba Shin,.....
    Aku sukaaaa dgn ceritana.......
    Bagus Erlangga, n lanjut ceritana dunk Mba Shin, biar ayah yg bejat itu
    Mendapatkan HUKUMANNA.........
    Geram aku ma ayah yg spt itu...
    Makasih Mba Shin *peluk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha okeh.. kl ada waktu nanti aku lanjutin :D

      Delete
  19. cm satu kata mbk shin "WOW"
    hehehe,...makasih y ats crtnya

    ReplyDelete
  20. Met dini hari mbak shin...wakssss kok aku bs kelewatan ini cerpen yah?apa disimpen lama en baru di posting hehheehe.asyikkk ada bacaan di saat peng kalogisasi Halah!apikkkkk mbak shin,suer keweer2 temanya poligami dibuat jadi sesuatu yang berbeda...puk puk erlangga kasian dirimu nak,sini come to mommy eaaaaa...udah ah segitu dulu aja,makin gag jelas ntar komennya hahaha

    ReplyDelete
  21. udah lama banget ga mampir ke blognya mba shin hhe..
    dan tarangggg ada ceritanya bang angga.. udah pernah baca yg inj tapi lupa di watty apa dimana gitu hhi..

    pa anton tuh beneran maniak sex ampe anggie juga ketularan jadi maniak hhe.. kayaknya pa anton ga bakalan berenti sampe situ.. dia orgnya lihai kecuali di depan bang angga.. bang angga itu ibarat gunung merapi, kalo sampe kemarahannya udah ha kebendung lagi bisa meletus ngeluarin laharnya dan siap2lah buat pa anton buat terguncang hhi * deuh bahsaku*
    pa anton tuh ga inget apa punya lani gimana kalo anak ceweknya digituin sama org lain ihhhh seremmmmm amit2 deh..

    ReplyDelete
  22. aaaaaa keraaaan banget ini mbaaaaaa
    pukpuk erlangga #ciumErlangga

    anton anton ckckckckckckck

    ReplyDelete
  23. ooooh ternyata begitu ya kemurkaan Erlangga....MANTAAP..sayang gak liat si penjahat kelamin tau perbuatan putranya...hihihihi


    Mba Shin,kisah Markus ada gak?


    Erlangga bakal punya cewek yg 'komplit paket' gak ya...yg gak tertarik ma si anton,hanya setia ke Erlangga..kebal ama godaan si anton...

    ReplyDelete
  24. Kasiaan Erlangga, cup cup nak :'( si Anton bapakmu itu memang kurang ajar!

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.