"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, June 29, 2013

Lust of Shadow 2


Bagi yang belum pernah membaca Lust of Shadow, silahkan dinikmati. 18tahun keatas ya 


Dua tahun lamanya tak bisa kupungkiri hatiku mulai menerimamu. Kau yang duduk di balik kursi dan menyesap rokok dan kopimu, sementara aku memperhatikanmu dengan seksama dibalik majalah fashion yang kau bawakan dari luar. Hanya seperti itu, kau dengan duniamu, tanpa bicara, tanpa berkata-kata dan aku yang mengamatimu, setiap gerakmu.


Sesekali kau akan memandang ke arahku, memberikan sorot mata dingin itu dan menatapku tanpa kedip. Aku akan mengalah dan memalingkan wajahku ke samping. Tatapanmu membuatku tak nyaman, jantungku berdebar kencang sejak setahun belakangan, sejak kubayangkan kau bercinta denganku malam itu. Sejak saat itu aku mulai menumbuhkan perasaan ini dihatiku untukmu, aku hanya tak ingin kau mengetahuinya, karena kau.. tak pantas untuk kucintai. Karena kau.. masih suka mengasariku hingga detik ini.

Kau tak pernah berubah, mungkin hanya mimpiku waktu itu bahwa kita bercinta. Bahwa mungkin itu adalah kau yang sedang mabuk dan menyetubuhiku dengan lembut, bahkan kau mencium bibirku mesra. Ahh.. mungkin itu hanya khayalanku saja, khayalan yang tercipta karena merindukan perhatianmu..

Hari ini kau memandangku lagi dengan intens, entah bagaimana caramu, tapi kau selalu dalam keadaan tegang saat menghampiriku. Kau tak pernah tertarik untuk mendekatiku dengan pendekatan halus. Kau akan memaksaku, meskipun aku pasrah dibawahmu, kau akan mencari cara agar itu terlihat menyakitkan. Kau akan mengasariku, melemparkan tubuhku di atas ranjang, mencekik leherku dengan keras hingga aku kehabisan nafas lalu kau melepaskannya.

Aku terlalu sering kau sakiti hingga semua kesakitan itu sudah menjadi kebiasaan dalam hidupku. Hanya satu yang tak bisa kuhadapi saat ini, rasa sakit dalam hatiku yang perlahan-lahan mulai menggerogotiku bagai ulat pada daun. Perlahan-lahan dihabiskan tak menyisakan sedikitpun ruang untukku hidup. Mungkin aku tak akan bisa bertahan lagi bila kau memperkosaku lagi kali ini.

Kau tak bisa membaca pikiranku, karena ketika kau melihatku menyiram tanaman bunga di kebun, kau langsung menyeret tubuhku masuk ke dalam kamar. Bahkan sebelum melemparkan tubuhku di atas ranjang, kau telah mengoyak pakaianku tanpa membiarkan sehelai benang pun melekat. Para pelayan sibuk memunguti bekas pakaianku yang kau hancurkan dari lantai.

Lalu kau membuka ikat pinggangmu, melepaskan celana panjang abu-abu yang kau kenakan, membuka celana dalammu dan memperlihatkan kejantananmu yang telah mengeras dan berurat panjang. Kau melemparkan jas mu begitu saja ke lantai, mengendurkan dasi birumu, membuka kancing kemeja atasmu. Lalu kau menahan kedua pahaku, tanpa kau ludahi kau hujami saja liangku. Kau suka melihat wajahku meringis kesakitan, kau menikmati setiap desakan dan gesekan yang melecetkan kemaluanku, dan juga kejantananmu.

Aku tak habis pikir kenapa kau senang menyakiti dirimu, karena aku yakin dirimu pun lecet dan kesakitan. Perlu beberapa lama sebelum kejantananmu mulai licin karena cairanku yang perlahan keluar. Lalu kau akan menghujam dengan kencang, menahan gerakanmu ketika melihatku hampir mendapat orgasme dan tertawa sinis mecibirku ketika orgasme itu tak jadi kuraih.

Kau akan menghujam lagi dan mengulanginya berkali-kali. Tangisku tak pernah mangkir tiap kali kau menyetubuhiku, dia seperti penemanku dalam setiap persetubuhan kita. Tangisku akan membasahi pipi dan seprai dibawahnya.

Kau lalu menekuk tubuhku lagi, mendekatkan wajah kita. Nafasmu tersengal-sengal menerpa wajahku, menerpa mataku, bibirku.. dan kau suka melakukannya. Bibirmu berada satu senti dari bibirku, ingin rasanya kupagut bibirmu itu namun kuurungkan, tak akan kujatuhkan martabatku dengan memohon belas kasihmu, dengan menerima kenikmatan yang mungkin ingin kau berikan bila kau tak sekejam itu.

Lalu kau menyemburkan spermamu lagi di dalamku setelah lenguhan kepuasanmu membahana di telingaku. Kau sengaja melakukannya, karena kau tahu selama dua tahun kau menyekapku, memperkosaku dan melecehkanku, kau tak pernah memberikanku rasa pelepasan itu sekalipun. Kau sungguh iblis jahanam!

Kau dengan seringai iblismu meninggalkanku di dalam kamar, dengan tubuh lunglai menahan derita dan siksa, menahan tangis dan kesakitan hati yang membusuk. Langkah sepatumu terdengar menjauh, kau akan meninggalkan rumah ini lagi seperti biasa. Kau dengan sifatmu yang kontras, manis diluar pada orang lain dan bisa begitu kejam dan sinis pada ku, pada budak seksmu yang tidak pernah memiliki pilihan lain selain menerima diperlakukan semena-mena dan rendah seperti ini!

Batas kemampuanku untuk mentolerir semua ini telah di ambang batas. Tak ada gunanya aku menjadi budakmu, tak akan pernah kudapatkan kepuasan darimu, apalagi cintamu. Apapun yang telah dilakukan keluargaku padamu hingga kau memutuskan untuk menghukumku sehina ini aku rasa telah dibayarkan dengan penderitaanku selama dua tahun ini. Hatiku dan tubuhku telah hancur kau nikmati, telah habis kau sesap hingga tak tersisa lagi.

Kini biarkan aku lepas dari semua penderitaan siksa bathin dan ragaku. Kau akan baik-baik saja dan mendapatkan semua budak seks yang kau inginkan. Lebih baru, lebih muda dan lebih bisa memuaskanmu. Bukan aku yang terdiam bagai gelondong kayu karena membencimu seumur hidupku.

Meski aku tak akan pernah tahu alasan mengapa kau membenciku hingga seperti ini, mengapa kau melecehkan dan memperlakukanku bagai binatang, aku tak perduli. Kali ini aku tak ingin tahu lagi. Uang lima milyar yang di hutangi oleh ayahku tak sebanding dengan nyawa seorang manusia, meskipun itu adalah nyawaku yang mungkin bagimu tak berharga. Tapi bila nyawaku bagimu tak berharga, mungkin mayatku akan lebih berharga untuk kau jadikan makanan hewan peliharaanmu.

Dengan tubuh telanjang aku berjalan ke sisi jendela, menarik kain yang telah kusiapkan dari robekan seprai bekas dan menalikannya membentuk untaian kain panjang yang cukup untuk kuikatkan pada balkoni jendela.

Kuucapkan selamat tinggal pada keluargaku meski mereka tak akan pernah mendengarnya, kuucapkan selamat tinggal pada dunia yang bukan milikku lagi, aku tak pernah melihat dunia sejak kau menghancurkan duniaku. Kuucapkan selamat tinggal padamu, pada penderitaan dan kesakitan yang kau berikan, pada cintaku yang bertepuk sebelah tangan untuk pria sadis dan kejam sepertimu. Mungkin aku memang sudah terlanjur mencintaimu, mencintai laki-laki menjijikkan dan hina sepertimu.

Lalu tubuhku melayang setelah kudorong jatuh kursi yang membantuku mengalungkan ikatan kain itu pada leherku. Seketika nafasku tercekat, kepalaku hampir meledak rasanya ketika seluruh nadi berdenyut memberontak. Nadi-nadi dan debaran jantung memacu darah ke kepalaku, tanganku meraih udara, kakiku menendang mencari pijakan. Aku tak dapat bersuara, leherku tercekik. Hal terakhir yang kudengar adalah suara teriakan pelayan yang melengking menemukanku tergantung dengan kain di leher. Lalu suara derap langkah kaki, panik. Banyak kaki, lalu suara seseorang yang tak pernah kudengar sebelumnya. Suara dalam yang memanggil namaku namun tak terdengar lagi. Semua berubah menjadi gelap, pekat dan aku tenggelam dalam lembah hitam tak berujung. Padam..

Udara sejuk menerpa kulit pipiku, kurasakan tubuhku kaku dan kesakitan. Leherku yang berat menyakitkan tenggorokanku, ada perban melingkar disana. Aku tak dapat melihatnya namun bisa kurasakan perban itu melindungiku. Sejenak aku terlupa akan apa yang terjadi, lalu semua ingatanku kembali dengan sendirinya. Semestinya aku sudah mati, kan? Di neraka kah ini? Bila iya, mengapa rasa-rasanya aku masih bisa mengenali tempat ini? Mengenali kamar ini? Kamar yang setiap hari kulihat kala terbangun dari ranjang yang sama.

Hanya saja kali ini ada yang berbeda, sepasang tangan menggenggam tanganku dengan erat. Kau sedang tertidur disisi ranjangku, duduk lemas di lantai, kau tertidur, kaulah pemerkosaku!

Kutarik tanganku agar terlepas darimu, kau terbangun. Dengan wajah linglung kulihat wajahmu untuk yang pertama kalinya, wajah dingin itu tak ada lagi disana. Disana hanya ada ekspresi kekhawatiran, terluka, sedih, marah dan kecewa. Mengapa kau kecewa? Apakah karena aku tak jadi mati? Oh, akan kupastikan lain kali agar aku mati dengan cepat dan kau tidak akan bisa melihatnya.

Kau genggam lagi tanganku, namun kutepiskan, tak ingin kau menyentuhku lagi. Tak kuizinkan kau berbicara, kupaksa kau untuk melepaskanku, kukatakan padamu dua tahun cukup sudah aku menerima hukuman darimu, hukuman atas perbuatan ayahku, atau mungkin ibuku, tapi tak bisa lebih dari ini. Ku ancam dirimu bila berani mengurung dan melecehkanku lagi maka aku tak akan segan-segan untuk bunuh diri.

Kulihat mukamu berubah pucat, kau menahan nafasmu demi mendengarku. Aku tak akan berbelas kasihan padamu, kau sama sekali tak memikirkanku, tak ada gunanya aku memikirkan mu. Kau iblis jahat yang tak memiliki perasaan sama sekali. Dengan berat kau mengangguk dan melepaskan genggaman tanganmu dariku, langkahmu tertatih ketika keluar dari kamar ini.

Usiaku kini dua puluh tahun, beberapa bulan lagi aku akan menjadi wanita muda, dua puluh satu tahun. Usiaku ini masih cukup untuk mencoba menuntut ilmu, aku akan melanjutkan kuliahku, dengan demikian aku masih bisa mencari pekerjaan setidaknya untuk menopang hidupku kelak. Kukemasi pakaianku seadanya, aku tak tahu bila keluargaku masih akan menerimaku, mungkin mereka sudah terbiasa dengan kehilanganku, entahlah.. aku tak tahu. Aku hanya berharap ayah dan ibuku masih mau menerimaku, meskipun diriku telah rusak dan hancur oleh bajingan keparat ini.

Kau menyesap rokokmu dengan gelisah. Berjalan mondar-mandir menungguku keluar dari kamar. Aku tak mengucapkan selamat tinggal padamu, tak kubiarkan kau mendekatiku. Dari kejauhan bisa kulihat kesedihan di wajahmu, wajahmu yang biasanya dingin dengan wajah tampan dan bersih rapi, kini hanya tersirat betapa kacaunya dirimu, kau berantakan. Wajahmu kusut kusam dan cambang telah mengintip dipipi dan dagumu, mata hijau kebiru-biruanmu menyipit memandang kepergianku, aku.. yang menaiki taksi yang dipesankan olehmu karena mobil yang kau berikan kutolak. Aku tak ingin berhubungan dengan dirimu lagi, sama sekali. Akan ku rangkai hidupku dari awal, tanpa ada dirimu. Matilah kau bila mengganggu hidupku lagi.

Aku tak memberimu kepuasan itu, aku tidak melihatmu untuk yang terakhir kalinya meskipun aku tahu aku akan menyesalinya. Aku hanya tak ingin kau mendapat kesan bila aku menyesal meninggalkanmu. Ya.. tak sampai dua puluh meter dari gerbang rumah yang telah kutinggali selama dua tahun ini.. tangisku runtuh.. Aku sudah merindukan mu, aku merindukan rumah itu, aku merindukan semuanya mengenai dirimu.

Tapi kubulatkan tekadku, aku tak ingin terus-terusan hidup dalam teror dan pemerkosaan. Aku ingin bebas dan bahagia, aku ingin mencintai tanpa paksaan, aku ingin mencintai dan cintaku dibalas. Ahh.. beginikah rasanya akan mengecap kebebasanku? Bahagiakah aku nanti bila sudah terlepas dari cengkeraman tangan iblis sepertimu? Aku tak tahu.. karena hatiku terasa begitu berat karena meninggalkanmu.. 



Temukan kisah-kisah keluarga De Finnegan lainnya di "The Finnegan Shadows", caranya cukup menjadi member di blog Finnegan Shadows. info lebih lanjut bisa email ke danofdefinnegan@yahoo.com atau cek di http://www.finnegancenter.blogspot.com 

29 comments:

  1. yeyeye. . . .lalala. . .
    yeyeyeye. . .lalalaa. . . ♥♡♥♡

    ReplyDelete
  2. huwaaa...akhirnya di update lagi,
    ini aku setiap hari bolak-balik buka blog loh mbak,
    eh ternyata ada update an,
    makasih ya mbak ...

    *big hug ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah... bilang donk say kl ditungguin... aku kira gak ada yg nungguin jd gak aku post :D. kan sayang kl dipost gak ada yg komen... kyk buka jualan gak ada yg beli, mending jual yg lain aja ahahha.... makasi ya udah menunggu :) nanti aku post lagi deh

      Delete
  3. Aku juga tiap hari buka web ini.. Tapi ga berani comment.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kenapa gak berani? adminnya gak galak kok... gak gigit.. cuman ngisep aja.. eh... ciyus.... aku gak gigit. malah seneng ada reader baru. apa karena aku pake pp guguk ya?? er.... nanti pake pp cowok cakep deh biar banyak yg komen.. ehem... hihihih btw makasi ya say akhirnya mau muncul... mau hadiah apa nih? :kyk punya hadiah aja:

      Delete
    2. Takut salah komen mba.. Hadiahnya cerita yg banyak aja :D

      Delete
    3. hahahaa... kl takut salah kan bisa di delete... oke... ceritanya banyak kl dikumpulin dalam setahun. ihihihihi

      Delete
  4. Makasih mba shin... Tambah lagi dong hehehe.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. pasti.... ditunggu aja hehehe... ini ceritanya jg udah kelar kok, tingaal diposting aja ;)

      Delete
  5. Ini bkn critanya kakak si bleu ya mba?

    ReplyDelete
  6. lust of shadow 1 nya mana mbak?. gak ada ya?.. :(
    mbak shin.. myowndramastory pasang 'Blog Archive' nya donk mbak, supaya bisa lihat daftar postingannya.. hehe.. makasih sebelumnya mbak.. :)

    ReplyDelete
  7. aish.. ternyata 'blog archive' nya ada di bawah.. hadueh.. malu nya.. (//_\\)

    ReplyDelete
  8. Aku reader baru di sini, salam kenal...
    ditunggu ya lanjutannya,

    ReplyDelete
  9. Mbaa shiiinnnnn.... Hahahaiii lama anee tak nongooolll
    Mana lagii nih mbaa kok ƍäª dilanjutin hihhihihi :P

    ReplyDelete
  10. setelah lama jadi SR, inilah kemunculan perdanaku 'eng,,,,ing,,,eng,,,' :P hhh gk sabar pengen baca lanjutannya >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. asik... ada yg muncul perdana :v

      met datang n berkomen aja sist :D

      lanjutannya kyknya gak akan diposting di sini deh, adanya di akun wattpadku, coba mampir ke http://wattpad.com/user/myowndramastory

      Delete
  11. Kak kalo mau baca lanjutannya dimana ya?

    ReplyDelete
  12. Permisi mau tanya, kalo mau jadi membernya gmna yaa mbak ??
    Thx infonya :)

    ReplyDelete
  13. Sis mohon undangannya donk msk k blog.
    Pliz
    Penasaran tingkat tinggi nih....

    ReplyDelete
  14. mau dong dpt undangan msk ke blognya...msh terima member barukan mbak?...

    ReplyDelete
  15. Baru mulai baca blog nya mbak shin,weekend ini. Dan 2 hari 2 malam tanpa makan tidur,ngabisin cerita2nya. Mata bengkak sesudah baca si volcano erupts 😭😭

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.