"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Monday, July 1, 2013

CERMIN 22 - IBU SERIES - Padamu, Bu oleh Shin Haido

"Padamu, Bu..."


Ibu… Aku rindu padamu…

Tulisanku ini kudedikasikan padamu, Ibu... Wanita yang telah mengandungku selama sembilan bulan lebih lamanya di dalam tubuhmu.

Kau dengan segala pengorbananmu untukku dan kehidupanku. Tak bisa kuungkapkan betapa berterimakasihnya aku atas jasa-jasa dan kasih sayangmu padaku. Atas nasehat-nasehat yang telah kau berikan untukku sehingga aku bisa menghadapi hidup ini dengan kepala tegak, dada membusung bangga, mengakui dirimulah ibuku.


Masihkah kau ingat, Ibu, saat kita hanya berdua, waktu itu usiaku baru empat tahun. Kau dengan keranjang kue di atas kepalamu, berjalan dengan peluh menetes masih menggandeng lenganku agar aku tidak berkeliaran. Kita bersama berjalan berkilo-kilo meter jauhnya dalam sehari hanya untuk menjajakan kue-kue basah yang kau buat di rumah. Kue-kue yang kadang laris habis namun tak jarang kau harus bersedih pulang dengan setengah lebih kuemu yang belum terjual.

Kita tidak punya lemari pendingin saat itu, Ibu... Kau akan memberikanku kue-kue itu yang kumakan dengan riang. Perutku berteriak kelaparan saat itu, Ibu. Aku merengek setiap menit padamu, meminta makanan untuk menghilangkan rasa perih melilit pada perutku. Raut wajahmu sedih, pikiranmu pasti dipenuhi beban karena kaulah penopang kehidupan keluarga kita. Kau harus menghidupi anakmu yang tak berguna ini, membayar kontrakan rumah kecil yang sering kau tunggak pada pemilik kontrakan karena uang yang kau dapatkan dari menjual kue-kuemu tidak seberapa.

Ya... Ibu.. begitulah kita hidup...
Kita terluka, kita menangis...
Namun esok kita ‘kan tersenyum lagi...

Aku masih sangat kecil waktu itu, aku tidak mengerti tentang kesedihanmu, tentang beratnya bebanmu, tentang keletihanmu menghadapi hidup yang kian keras menentang kita. Sejak kematian ayah karena kecelakaan itu, otomatis kaulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Aku bahkan tidak mengingat dengan jelas wajah ayah, hanya dari foto usang yang terselip dalam dompet lusuhmu menjadi satu-satunya kenang-kenangan yang kumiliki tentang ayah.

Di dalam foto itu, aku masih bayi, ayah nampak begitu bahagia, kau tampak bahagia, kita semua tampak bahagia, tertawa riang dan tak ada kekhawatiran akan hari esok pada wajahmu dan ayah. Kalian sangat bahagia karena memiliki anak semata wayang yang akan menjadi tumpuan harapan kalian kelak. Anak yang bertanggung jawab untuk membalas segala jasa-jasa dan kasih sayangmu padaku, anakmu yang akan selalu berbakti padamu.

Suatu hari setelah setiap hari bosan dengan makanan seadanya, sepiring nasi putih dan sambal yang terkadang kau tambahkan garam sebagai peneman makan kita, akupun meraung-raung. Keegoisanku membuatmu gundah, kau tak berkata apapun, kau tak memarahiku. Kau tak tega melihatku menangis dan merengek akan makanan yang lebih layak untuk kita. Lalu kau melirik kedalam dompetmu, mencari recehan-recehan uang logam yang kemudian kau hitung dan timbang di dalam genggaman tanganmu. Wajah letihmu memandangku dengan penuh senyum kegetiran. Bahkan di usiamu yang ke tiga puluh, kau terlihat begitu tua dan kelelahan.

Ibu... kecantikanmu pun memudar karena jarangnya senyum menghinggapi wajahmu. Saat itu aku bersumpah dalam hati, akan kuhiasi wajahmu dengan senyum kebahagiaan, akan kuperlihatkan padamu segala kebahagiaan dunia yang bisa diberikan hidup ini.

Ibu... Aku bersumpah, aku akan selalu berbakti padamu.

Setelah menyeka tangisku dengan ujung sapu tangan putihmu, kau menggandeng tanganku, membantuku menaiki sepeda butut yang kau dapatkan dengan setengah harga dari seorang pemilik bengkel di dekat rumah. Dengan sepeda ini juga kau tidak perlu berjalan jauh di bawah teriknya panas mentari, kau bahkan bisa mengantarkan kue-kuemu lebih jauh lagi pada langgananmu yang lain.

Kian hari kue-kuemu semakin diminati orang-orang. Meski demikian, kau adalah ibu yang memperhitungkan masa depanku, masa depan kita. Ibu pun menabung, sedikit demi sedikit kau sisihkan hasil berjualanmu, kau ingin membuka sebuah kedai kecil katamu, kau ingin menjual beraneka jenis makanan lainnya yang selalu ingin kau masak bila keadaan kita lebih baik.

Kakimu mengayuh sepeda tua itu dengan bersemangat, kau sempat bercanda tawa denganku, mengatakan berat badanku bertambah karena kau merasa kayuhanmu semakin berat. Akupun ikut tertawa bersamamu, sungguh tak ada kebahagiaan lain yang bisa menggantikan masa-masa itu, Ibu... Masa itu akan selalu kukenang di dalam sudut hatiku dan kutuliskan kaulah sumber kebahagiaanku.

Kita berhenti di sebuah kedai mie ayam yang sering kita lewati bila menjajakan kue-kue. Kedai yang selalu kuintip dengan penuh minat, dengan perut selalu keroncongan tatkala wangi masakan mulai merayap di udara, menyentuh penciumanku namun hanya bisa kupandangi dari jauh.

Aku tak mungkin kesana, kita tidak punya uang meski hanya untuk membeli semangkok mie ayam sederhana yang tak lebih dari lima ribu perak.

Namun kau menempatkan sepedamu di tembok, di antara sepeda-sepeda lain yang terlihat lebih bagus, tapi kau tak perduli. Kau memanggilku, tersenyum penuh makna, senyum seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Kau gandeng tanganku menuju ke dalam kedai, pemilik kedai menyapamu, menanyakan pesananmu. Kita kemudian menuju sebuah meja dengan dua kursi, kau duduk di depanku, menanyakanku ingin meminum apa.

“Teh botol.” Itulah kataku dulu, aku sangat bersemangat. Kali ini kau akan membelikanku mie ayam yang telah lama kuimpi-impikan rasanya di lidahku, kutelan ke dalam tenggorokanku dan menyatu dalam tubuhku. Begitu pula teh botol dingin yang sering kulihat orang-orang meminumnya dengan nikmat sebagai penghilang dahaga mereka.

Kita terbiasa meminum air keran dingin yang kita peroleh dari warung tempat kau menjual kue-kuemu, kita akan meminta izin untuk menggunakan keran mereka. Disana kemudian kau dan aku meminum air dingin itu, air yang menyejukkan, air yang sanggup menghilangkan kepenatan dan kelelahan akan hari-hari panas dan jalan-jalan panjang yang masih harus ditempuh. Kau biasa mengusap keringatku, mencuil ujung hidungku dan tersenyum padaku.

Ibu... betapa aku sangat merindukan senyummu itu...

Semangkok mie ayam dan sebotol teh dingin dihidangkan di atas meja, kau menyiapkannya untukku, mengaduknya karena tanganku tak cukup lihai. Aku makan dengan lahap, rasanya sungguh nikmat. Tak pernah aku merasakan makanan senikmat ini, kuahnya yang segar, sayur-sayurnya yang menyehatkan, bahkan daging ayam yang jarang sekali bisa kita nikmati juga ada disana.

Kutanyakan padamu mengapa kau tidak makan, kau tak lapar katamu. Kau membujukku untuk melanjutkan makanku, memintaku untuk meminum teh botolku. Akupun tersenyum senang, Bu...

Tak kutahu apa artinya dulu.. saat aku kecil, dengan segala keegoisanku, dengan segala ketak-perdulianku... kau.. berkorban begitu banyak untukku.

Kau melihatku makan dengan lahap, kaupun tersenyum, setetes air mata menitik di ujung matamu, kau usap dengan sabar, senyummu semakin lebar. “Tak apa-apa,” katamu.

Hingga kuah terakhir kuteguk dari dalam mangkok mie ayamku, aku kenyang, sangat kenyang. Aku bisa tertawa lebar sepanjang hari. Terima kasih, Ibu... untuk makanan ternikmat yang pernah kumakan seumur hidupku.

Ya... Ibu... Dulu begitulah kita hidup...
Begitulah kita menyesalinya, begitulah kita menangisinya...
Memang pedih... namun esok kita pasti kan tersenyum lagi...

Seiring usiaku bertambah, usahamu pun semakin berkembang, kau berhasil mengumpulkan cukup uang untuk menyewa sebuah kios kecil. Akhirnya cita-citamu terwujud, Ibu...

Usiaku saat itu empat belas tahun, namun aku sudah duduk di kelas satu SMU karena otakku yang cukup jenius meski belum cukup jenius untuk mendapatkan beasiswa. Tapi kau tetap bangga padaku, aku adalah anakmu yang paling pintar, kau biasa membelikanku mie ayam bila aku mendapat ranking kelas satu, kau membuatku semakin bersemangat untuk belajar, menantikan setiap akhir semester, bergegas pulang setelah mendapatkan rapor-ku, hanya agar kau melihatnya, bahwa anakmu ini mendapatkan rangking satu di kelasnya.

Hari itu kita berada di kios seharian penuh, mempersiapkan kedai barumu, Bu. Kita sepakat menamai kedai itu dengan nama depanmu dan nama depanku. “Kedai Kim dan Jo”, itulah nama kedai makanan kita, Bu. Kedai yang akhirnya kita buka pada hari pertamanya dan semua teman, kerabat dan pengunjung tak hengkang hingga larut malam. Mereka semua datang ingin memberi selamat dan turut bersuka cita dengan dibukanya kedai kita, Bu.

Bisa kulihat kau tersenyum sepanjang malam, makanan habis terjual, kau sungguh senang. Bahkan keriputmu yang mulai terlihat dari ujung matamu tak kau perdulikan, kau hanya perduli dengan para pengunjung dan bagaimana membuat mereka senang dan ingin untuk datang kembali makan di kedai kita.

Saat semua telah usai, kita mulai membersihkan kedai, kau sangat kelelahan.. pasti, akupun memijat pundakmu, Bu.

Kau masih ingat? Kau hanya tertawa saat aku membujukmu untuk berbaring di kursi panjang, aku ingin memijat kaki dan lenganmu tapi kau menolak. Kau lalu tertawa saat aku menggelitiki pinggangmu dan kaupun terpaksa menyerah. Aku ingin membuatmu senang, Bu. Aku ingin kau tahu, bahwa aku adalah anakmu yang sangat menyayangimu.

Kita menaiki sepeda bututmu, kali ini, akulah yang mengayuh sepeda tua itu. Kau memeluk pinggangku dan tertidur dibalik punggungku. Aku memegangi tanganmu yang memelukku, saat kita telah sampai di depan rumah kontrakan yang telah lama kita huni, akupun membopongmu di gendonganku, seperti bagaimana engkau membopongku sewaktu aku kecil, kini... kini adalah giliranku, Ibu..

Saat aku berada di sekolah, kau akan membuka kedai seorang diri. Pagi-pagi sekali kau telah menyiapkan bekal makan siang untukku, bekal sederhana yang selalu kusyukuri, karena kita masih diperbolehkan untuk mengecap makanan tiga kali sehari meski dengan menu seadanya. Cita-citamu untukku setinggi langit dan aku berusaha untuk mewujudkannya untukmu, Bu, untuk kehidupan kita kelak. Aku akan membahagiakanmu, tak lama lagi.

Di sekolah, saat makan siang, kami para siswa mulai membuka bekal makanan kami di dalam kelas. Aku tidak terlalu suka bersosialisasi dengan teman sekelasku karena beberapa di antara mereka adalah anak-anak orang kaya yang sangat sombong. Selama ini aku berusaha berdiam diri, mengalah dan tidak menghiraukan mereka. Namun rupanya mereka penasaran dengan tingkahku, mungkin bagi mereka sikapku keterlaluan. Mereka beranggapan aku hanyalah seorang anak dari keluarga miskin, aku seharusnya menghormati mereka karena mereka lebih kaya.

Tidak, Bu. Aku bukanlah anak kecil naif seperti dulu. Aku telah mampu berpikir dengan lebih jernih, aku sanggup memilah mana yang baik, mana yang buruk untuk hidupku. Namun, bersikap baik belum tentu mendatangkan kebaikan pula. Aku telah berdiam diri selama hampir setahun penuh dan mereka kini mendatangiku dengan nada permusuhan.

Mereka bergerombol mengerumuni mejaku, seorang di antaranya bahkan menaikkan kakinya di atas kursi di depanku. Mereka menertawakan isi bekal makananku, Bu, bekal makanan yang kau buatkan dengan penuh kasih, untuk anakmu ini.

Salah satu dari mereka, yang terkaya, menguak kerumunan itu dan menghampiriku.

Dia memandang hina pada bekal makananku, seorang anak kecil yang tubuhnya bahkan tak lebih besar dariku, hanya karena gerombolan penjilatnya, mulai mengejek isi bekal makananku. Aku masih bertahan, Bu... Aku tidak ingin mencari gara-gara, karena aku tahu... itu akan menyulitkanmu.

Dia kemudian semakin berulah, dia meludahi bekalku, Bu... bekal yang kau masakkan dengan mengorbankan waktu tidurmu, hanya agar bisa menanak nasi lebih pagi, memasak lauk agar kemudian aku bisa membawa bekal ini dan tak kelaparan di sekolah. Tapi dia.. dengan kearogansiannya telah menghinamu.

Tidak berhenti disana, dia melemparkan bekal makananku ke lantai, Bu... Bekal itupun terjatuh, tak mungkin kumakan lagi. Mereka dengan kejam meludahinya satu per satu, memaki dan menghina kemiskinanku, kearogansianku, keangkuhanku yang tak mau bergaul dengan mereka.

Aku tak perduli, Bu... Aku hanya memunguti kembali kotak bekal makananku. Memang di dalam hati, emosiku telah menggelegak sedemikian hebat, tapi aku mengingatmu, aku mengingat nasehat-nasehatmu. Kau selalu mengatakan, aku harus bersabar dan tidak mencari masalah. Kau mengingatkanku agar belajar dengan rajin dan tak membuat onar.

Aku masih sanggup bertahan, Bu... Namun saat dia mulai menghinamu, aku tak tahan lagi, Bu. Aku tak perduli bila mereka mengataiku, memakiku, mengumpat ataupun menjelek-jelekkanku, aku tak perduli. Tapi mereka mengataimu, mereka menghinamu. Aku tak terima, Bu. Kau adalah surgaku, kehidupanku, kau adalah orang yang paling kuhormati dan kusayangi dalam hidupku.

Bajingan kecil itu akhirnya tersungkur karena habis kuhajar, Bu. Teman-temannya tak ada yang berani menghalauku, diapun menjadi sasaran bogem mentahku berkali-kali.

Akhirnya kepala sekolah memanggilku ke ruangannya, aku hanya terdiam, Bu. Aku tidak mau mengakui kesalahanku, itu bukanlah kesalahanku, bajingan itu yang memulainya. Aku tak akan pernah meminta maaf padanya.

Namun sekolah memanggilmu, dengan memelas dan penuh tangisan kau meminta kepada kepala sekolah agar jangan mengeluarkanku, agar jangan menghukumku. Kau berkata bersedia meminta maaf pada orang tua bajingan kecil itu dan membayar biaya pengobatannya.

Ibu... saat itu aku marah padamu, mengapa kau harus mengaku salah pada bajingan kecil itu? Aku tidak bersalah, Bu... Dia menghinaku, dia menghinamu, Bu... Dia menghina kita!!

Namun kau tak menghiraukanku, kau hanya diam tak menggubrisku saat kita berjalan kaki menuju rumah bajingan kecil itu.

Disana  orang tua bajingan itu mencaci makimu lagi, mengataimu dengan segala bahasa kasar yang pernah aku dengar. Diapun membuatmu berlutut untuk mendapatkan maafnya. Aku menangis, Bu... bukan air mataku yang keluar, tapi hatiku... harga diriku diinjak-injak oleh manusia-manusia itu. Emosiku semakin berkobar-kobar, aku berjanji akan membuat perhitungan dengan bajingan kecil itu di lain waktu.

Di rumah, kau memarahiku, kau memukul lenganku, dengan penuh tangisan kau menceramahiku, mengatakan bahwa aku tidak boleh berbuat seperti itu lagi, bahwa hidupku tak boleh terjerumus ke dalam kegelapan, aku tidak boleh begini.. aku tidak boleh begitu.. dan sapu lidi yang kau pakai untuk memukulku menambah perih luka tubuhku.

Tapi aku tak menangis, Bu.. Hatiku yang bersedih.... Aku telah melukaimu, aku telah mengecewakanmu... Ibu... Maafkan aku...

Kau menghentikan pukulanmu, dengan mata bersimbah air mata, kau masih meraung-raung menangis sembari mengobati lenganku yang berdarah. Kau kemudian mengataiku bodoh, kau mengataiku tolol seperti ayahku.. kau berkata mengapa aku tak menghindari pukulanmu, kau berkata mengapa aku tidak melawanmu, kau berkata mengapa aku tidak menangis sehingga kau akan merasa lebih baik..

Tidak, Bu... Aku tidak ingin menghindar, aku tidak ingin melawan. Aku rela menerima segala pukulan dan siksaan demi dirimu. Aku rela terluka dan kesakitan untukmu. Tak akan kubiarkan kau menerima luka fisik yang bisa kutahan, tidak... Kau adalah Ibuku... Wanita yang kuhormati, wanita yang kusayangi.

Kau membuatku berjanji agar tidak mencari masalah dengan bajingan kecil itu lagi, kau memintaku untuk mengalah kali ini. Kau hanya ingin aku melewati sekolahku dengan baik agar kemudian aku bisa mencari pekerjaan di kota dan membantu usaha keluarga.

Di hari liburku aku kerap membantumu, meskipun pelanggan mulai berdatangan, tak jarang pula tak ada pembeli yang cukup dalam sehari, kadang kaupun merugi. Tapi kau selalu tersenyum untukku, senyummu yang getir membuatku menangis, Bu...

Ingin kupeluk tubuhmu yang rapuh, ingin aku menjadi penopang punggungmu, ingin aku segera mengubah senyum getir itu menjadi senyum penuh suka cita. Tunggu aku, Bu.. tak lama lagi... akan kurubah masa depan kita.

Bajingan-bajingan kecil itu memang tak menggangguku lagi, namun tak ada seorang pun yang ingin berteman denganku. Bukannya aku berniat akrab dengan mereka, huh... tidak.. aku lebih suka menyendiri. Bila hatiku gundah dan segala sesak merasuki dadaku, melihat dirimu yang berjuang sepanjang hari hingga malam larut di kedai, tangisanku selalu membayang di pelupuk mata. Kemudian aku akan berlari, menuju tempat persembunyianku. Aku membuat tempat beristirahat yang nyaman di bawah pohon rindang di dekat jembatan.

Disana aku berbaring sambil bersandar pada batang pohon kokoh itu. Di tanganku sebuah harmonika yang dulu kau hadiahkan pada ulang tahunku yang ke delapan, yang kau beli dengan tabunganmu untuk menyenangkanku.

Oh, ibu... betapa aku telah menyusahkanmu selama ini, kapankah aku akan bisa menyenangkanmu... Ibu... apakah kau kesusahan karenaku?

Kutiup harmonikaku, suara yang dia hasilkan awalnya tak beraturan. Aku hanya meniup sembarang, aku tak tahu nada-nada apa yang dihasilkan oleh lubang yang mana. Tapi kemudian akupun berhasil menciptakan sebuah lagu pendek yang kunyanyikan lewat harmonikaku. Suara harmonika yang menyentuh kalbuku, menghiburku dari sesaknya kehidupan dan masalah yang mulai kusadari. Hidup tak semudah bayanganku sewaktu kecil...

Dulu... aku hanya tahu makan, tidur, bermain... Tapi kini, setelah menapaki usia yang semakin menua, aku mengerti.. aku semakin mengerti hidup bukan hanya sekedar makan dan tidur. Hidup juga dipenuhi intrik, rasa cemburu, iri dan dengki.

Aku tahu kedai makanan lain yang merasa disaingi oleh kedai kita mulai melancarkan kelicikan mereka. Menyebarkan gosip bila kita adalah keturunan orang rendahan, bahwa ayah adalah seorang napi dari penjara karena pernah membunuh, bahwa ibu adalah seorang janda yang menjadi simpanan laki-laki kaya dan aku adalah anak haramnya.

Oh, Ibu... bagaimana kau menghadapi hidup yang getir ini selama ini... Kau begitu kuat, kau begitu...perkasa. Dengan tubuhmu yang tak sekuat dulu, kau tak menghiraukan segala gosip murahan itu. Kau bekerja dengan giat, bekerja semakin keras. Kau mengatakan padaku, bekerjalah dengan giat, maka orang-orang akan melihatmu melalui apa yang kau lakukan, bukan apa yang kau katakan.

Ya, kau benar, Bu... Maka dari itu akupun tak banyak berkata, aku lebih banyak bekerja. Belajar, berkarya, tak banyak bicara hingga kadang orang-orang menganggapku bisu. Tapi tak apa, aku tak ingin berhubungan dengan mereka, aku cukup dengan duniaku dan Ibu.

Aku selalu mendapatkan rangking kelas, juara kelas. Tak terasa akhirnya akupun lulus dari sekolah menengah umum. Kau sungguh bangga saat kepala sekolah memanggil namaku untuk maju ke depan menerima penghargaan sebagai juara umum dan mendapat hadiah beasiswa yang bisa kugunakan untuk bersekolah di perguruan tinggi.

Tapi aku tak ingin pergi ke perguruan tinggi, Bu... Itu hanya akan membuatmu bekerja lebih keras, mengurangi waktu istirahatmu dan tubuhmu yang letih akan kelelahan dan mencapai titik dimana kau tak akan sanggup lagi untuk berdiri.

Tapi kau bersikeras, kau memarahiku lagi-lagi. Kau membuatku tak sanggup menolakmu. Kau inginkan masa depanku cerah, tak seperti dirimu yang hanya mengandalkan kemampuan memasakmu yang tak seberapa.

Tidak, Bu... Aku ingin berteriak, tapi kau tak mengizinkanku. Kau tak ingin berdebat denganku, katamu. Kau tak tahu bagaimana sesaknya dadaku, kau salah, Bu...

Kau adalah wanita terhebat di dunia, karena kau... dengan segala keterbatasanmu dan kegigihanmu telah menciptakan aku... anak miskin yang mampu bersekolah hingga ke perguruan tinggi, anak cengeng yang kini mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya. Anak egois yang kelak akan membahagiakanmu setelah aku sukses nanti. Anak bodoh yang akan membuatmu bangga...

Ibu... kau adalah guruku, teladanku, pemimpinku, idolaku... Kau menghiburku saatku sedih, kau mendukungku saat ku hampir menyerah, kau menopangku saat aku kelelahan, kau memujiku saat tak ada yang melihatku. Kau... kau adalah segalanya bagiku, Bu...

Akhirnya aku mulai masuk ke perguruan tinggi. Kau sedikit kecewa karena aku tidak mau pergi ke universitas di ibukota. Tidak.. Aku tak ingin jauh darimu, Bu... Aku tidak ingin meninggalkanmu, membayangkan kau seorang diri bekerja dengan keras tanpa kenal waktu dan tak ada yang membantumu? Bagaimana aku bisa tega, Bu...? Lebih baik aku melepaskan semua pendidikanku untuk menemanimu, meskipun kau akan marah.

Dan kaupun setuju, kau tak bisa memaksaku bila aku menolak. Maka akupun memulai hariku membantumu membuka kedai, membersihkan, menyiapkan bahan-bahan, menemanimu berbelanja. Kini sepeda bututmu telah digantikan oleh skuter matic dengan sebuah keranjang yang cukup untuk membawa beberapa pesanan makanan ke pembeli yang terkadang meminta pesanan mereka di antar.

Bila hari libur atau tanggal merah, aku akan mendampingimu, menjadi pengirim pesanan dan tukang pijat spesialmu. Kau selalu suka bila aku memijat pundakmu. Kau akan memberikanku beberapa lembar ribuan won untuk uang jajanku.

Terima kasih, Bu... uang-uang itu aku simpan untuk menutupi kekurangan uang kuliah atau untuk membeli buku yang tak pernah kuceritakan padamu.

Tanpa sepengetahuanmu, akupun telah mengambil beberapa pekerjaan agar kuliahku bisa kulanjutkan. Aku tak ingin mematahkan harapanmu, tapi tak usah khawatir, Bu... pekerjaan yang kuambil legal... tidak melawan hukum. Aku membantu anak-anak sekolah dasar dan menengah pertama dengan pelajaran mereka. Dari sana aku mendapat uang yang cukup untuk memenuhi biaya buku-buku kuliahku. Aku tak ingin membebanimu dengan sangat, Bu... aku belum cukup berbakti padamu...

Memasuki akhir semester ke-empat, akupun mendapat kabar yang sangat menggembirakan. Kampusku menerima usulan beasiswaku.

Ibu... akhirnya aku mendapatkan beasiswaku juga... Beban biaya kuliahku akan berkurang dan mungkin aku masih bisa menyisihkan uang itu untuk kebutuhan kita yang lain. Aku yakin kau pasti akan suka, Bu...

Aku bergegas mencarimu ke kedai, tapi kau telah tutup lebih awal. Aku tahu, kau pasti menyiapkan kejutan untukku karena besok adalah hari ulang tahunku yang ke sembilan belas. Kau pasti tengah menyiapkan sup rumput laut untukku, sup yang memperlambangkan umur panjang yang katamu harus selalu disediakan saat kita berulang tahun.

Ibu... Aku rindu padamu...

Dengan penuh semangat aku berlari dari stasiun kereta, menuju rumah kontrakan yang telah menjadi tempat tinggalku selama hampir sembilan belas tahun hidupku.

Ibu... tunggu aku... Aku akhirnya mendapatkan beasiswa, sesuai keinginanmu...

Orang-orang berlalu lalang di depan rumah, ramai dan wajah mereka semua bersedih. Salah seorang di antaranya kukenal sebagai pemilik kontrakan kita. Dia menarik lenganku, dengan wajah muram dia mengabariku berita kepergianmu.

Ibu... Apakah kau benci padaku?
Mengapa kau pergi secepat itu??
Tidakkah kau tahu aku masih ingin hidup bersamamu...??
Tidakkah kau ingin melihatku mengenakan toga kelulusan itu??
Tidakkah kau ingin berfoto bersamaku saat kelulusanku??
Tidakkah kau mengasihaniku dan meninggalkanku seorang diri di dunia???

Ibuu....

Kau sungguh kejam...

Aku berlutut di samping tubuhmu yang mulai dingin, bibirku bergetar, tak satu katapun sanggup kuucapkan demi melihat wajahmu yang kian memutih.

Kau.. terlihat begitu cantik...
Senyummu terpasang, bukan senyum getir yang dulu biasa kau miliki...
Itu adalah senyum bahagia... seolah kau sedang tertidur dengan pulas dan mimpimu membuatmu tersenyum seperti itu...

Ibu... Kugenggam tanganmu, kusentuhkan pada hatiku...

Ibu... Sudah bahagiakah kau kini? Aku belum cukup berbakti padamu, Bu... Mengapa kau sudah pergi? Apakah kau sudah tak sanggup lagi menghadapi kejamnya dunia ini, Bu?

Aku belum membahagiakanmu, Bu... Aku belum membalas semua jasa-jasamu... Aku belum mampu menghiasi wajahmu dengan senyum suka cita, aku belum sanggup membuatmu bangga...

Ibu... Relakah kau meninggalkanku sebatang kara di dunia? Tanpa ayah... kini tanpa ibu??
Ibu... apalah artinya hidupku tanpamu, Ibu...?

Mereka mengatakan kau kelelahan, kau kemudian beristirahat karena mengeluh dadamu sakit. Saat seorang pelanggan membangunkanmu... kau tak menjawab lagi... kau telah pergi, Bu... kau pergi dalam tidurmu... dengan senyum yang selalu ingin kulihat pada wajahmu.

Ibu... sore itu kutebar abumu di atas danau... Aku berdoa agar kau tenang disana, aku berdoa agar kau menjagaku dari atas sana, agar kau menyampaikan pesan kerinduanku pada ayah, bila kau bertemu dengannya di sana.

Tuntunlah hidupku, Ibu... agar mampu meneruskan cita-cita yang kau idam-idamkan untukku. Berkatilah hidupku, Ibu... Aku ingin menjadi anak yang berbakti padamu, meski dirimu telah jauh meninggalkanku.

Ibu... Sepuluh tahun sudah aku tak menginjakkan kakiku disini, pada danau yang kini kusinggahi. Danau tempat peristirahatan terakhirmu, tempat peristirahatan terakhir ayah.

Ibu... Aku kini telah dewasa, aku telah menyelesaikan kuliahku, Bu... Aku juga telah memiliki sebuah pekerjaan yang cukup baik. Maafkan aku karena tak pernah mengunjungimu lagi setelah kepergianmu. Bukan aku tak ingin, Bu...

Aku... hanya belum sanggup menerima kehilanganmu...

Aku selalu menganggap kau masih ada, kau masih sibuk dengan kedaimu... Kedai yang kini telah berganti menjadi sebuah pusat perbelanjaan besar dan menggilas semua kenangan kebersamaan kita dulu.

Kini... aku sudah mampu mengikhlaskan kepergianmu, Bu...

Ibu... sudah tenangkah kau disana? Adakah kau mengingatku, anakmu ini?

Ibu... Aku menyayangimu, aku mencintaimu... meski tak sekalipun pernah kukatakan padamu.

Aku menyayangimu, Bu... Beristirahatlah dengan tenang di dalam dunia tanpa diriku..

Ibu... suatu saat nanti, aku akan menyusulmu. Tunggulah aku, Ibu...

Saranghaeyo, Eomeoni..






*iklan*Temukan kisah-kisah keluarga De Finnegan di "The Finnegan Shadows", caranya cukup menjadi member di blog Finnegan Shadows. info lebih lanjut bisa email ke danofdefinnegan@yahoo.com atau cek di http://www.finnegancenter.blogspot.com

31 comments:

  1. cerita ini dibuat berdasarkan lagu dan video klip dari sebuah band korea G.O.D dengan judul "Eomeoni kke", yang berarti "To Mother"

    ReplyDelete
  2. Mamiiiiiii... Weleh ane jadi kangen ama masakannya sist Shin hiks hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masakan ibuku sist... Hiks hiks

      Delete
    2. ntr mudik pulang lah... jgn kelamaan di luar jd TKI... ntr kecantol pria lokal sana br dehh... wkkwkwkww

      Delete
  3. Replies
    1. tak apa.. gak sampe nangis kan? :D :nyengir:

      Delete
  4. OH YA AMPUNNN...
    Mba Chiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnn....
    Sediiihhhhhhhhhhh bgtz...
    Bnr2 sdih bgtz,, huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....
    *ngelap ingus*
    Keyeennnn,,keyeennnn bgtz....
    Masya Allah,,,prjuangn Ibunya.... *speachless*....

    ReplyDelete
  5. OH YA AMPUNNN...
    Mba Chiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnn....
    Sediiihhhhhhhhhhh bgtz...
    Bnr2 sdih bgtz,, huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....
    *ngelap ingus*
    Keyeennnn,,keyeennnn bgtz....
    Masya Allah,,,prjuangn Ibunya.... *speachless*....

    ReplyDelete
    Replies
    1. speechless vie... hahaha... perasaan td aku dah komen dhe, kok gk muncul ya? jangan2 masuk spam? grr.... masak dikira spam diblog sendiri...

      Delete
  6. Hiks...hiks...
    Mbak shin, minta tissue dong.
    Sedihnya jadi sampe nangis. Baca sambil inget2 mama jadi hiks...hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. sini :sodorin tissue:

      puk..puk..puk... makasi komennya ya sista :hug:

      Delete
  7. Ibu. Tak ada yg bs menandingi ksh dan pengorbanannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. love you my mom... :) berbahagialah kita yang masih diberikan kesempatan untuk membuat ibu tersenyum bahagia. jangan sia2kan waktu yg ada. peluklah ibumu bila dia dekat dan katakan bahwa "ibu... aku sayang padamu" :pdhl aku sendiri belum pernah bilang gt hiks.. malu...:

      Delete
  8. Me too, aku sendiri blm prnh blg gt krn masi suka kesel ama mama sendiri...
    Baca ini trenyuh bget sama ibunya. Btw td aku kira itu indonesia (soalnya jualan kue basah), tp trus aku nyadar itu korea pas dia pny skuter matic berkeranjang dpn (d indo jrg liat), trus dia d pukulin mamanya diem aja eh mamanya nangis meraung" blg knp km gak nangis kesakitan (itu persis adegan d banyak sekali film" korea), n akhirnya blg uang jajannya pake 'won'... Hehehe. Btw mbak shin, crtnya TOPBGT duehhh ;;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi banyak sist :D hehehehehe.... tengkyu komennya ya yg panjang ;seneng dah baca yg panjang2 kwekekke:

      Delete
  9. mba chiin TOP BGT deh,. Ingt bgt ma mama n ibuq(nenekq) dulu ibu sllu aja brusha bwt jgain aq n sodara2q sdg mama giat krja bwt qt jg hiks3x

    ReplyDelete
  10. pagi2 dah dibikin nangis sama mba shin....
    keinget dulu pas zaman2 aku masih kecil, keluargaku masih susah, tinggalpun masih numpah dirumah nenek dengan semua perbedaan perlakuan mereka pada kami...
    meski begitu aku bersyukur dengan kehidupan kami dulu, jika tak ada kehidupan yang dulu mungkin kami tidak akan bisa menjalani kehidupan kami yang sekarang..
    karena orang tuaku lah akhirnya sekarang aku bisa menjadi orang yang lebih baik makasih mamah, bapak love u *malah curhat hhe*
    makasih mba shin muuuuuuuuaaaaah

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha sini sini pelukan...

      wah, syukur alhamdulilah ya sist skrg hidupmu udah lebih baik.. pasti jd semakin sayang ya ama orang tua setelah membaca ini. ayo sana sungkeman dulu sama bapak ibu... semumpung masih diberi kesempatan, tak usah muluk2 untuk bahagiakan ortu, cukup patuhi perintah2 dan hindari larangan2 mereka, mereka pst sudah seneng :)

      sama2 ya sist, makasi jg udah mau sharing kisah hidupmu... GBU always

      Delete
  11. Replies
    1. "kenapa dik kok nangis disini? bapak nya kemana? ditinggal ya?" tanya seorang laki-laki tak dikenal pada Bleu yang baru saja ditelantarkan di jalan semak-belukar oleh Pangeran Harry..

      kwkwkwkwkw... :peace:

      Delete
  12. :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º

    Mba shin tanggung jawab, airmataku ƍäª mau berenti... Ibu'a kaya ma2ku nda mau liat anak2'a susah even tau beban'a banyak bgt tpi ma2 sll bs menghadiahkan sebuah senyum, sll mw ksh yg terbaik u anak2&suami'a, ƍäª pernah ngeluh... Lari ke pelukan ma2...

    Mba shin °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° ya... Crta'a bagus bgt... :*

    ReplyDelete
  13. :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º :'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º:'(нΰά˚°º

    Mba shin tanggung jawab, airmataku ƍäª mau berenti... Ibu'a kaya ma2ku nda mau liat anak2'a susah even tau beban'a banyak bgt tpi ma2 sll bs menghadiahkan sebuah senyum, sll mw ksh yg terbaik u anak2&suami'a, ƍäª pernah ngeluh... Lari ke pelukan ma2...

    Mba shin °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° ya... Crta'a bagus bgt... :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin... semoga dirimu bs balas budi dan semua kebaikan mamamu ya sist :)

      terima kasih kembali udah mau baca n komen ;hug;

      Delete
  14. Mba shin sedih, inget sama ibu,,hikshikshiks belum bisa buat ibu bahagia,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah2an dalam wkt dekat bisa buat ibu bahagia ya sist :)

      Delete
  15. Mba shin kau membuatq berurai air mata....hiiiikkksss

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehee puk..puk puk... sini pelukan ala teletubles.

      Delete
  16. mbk shin,...crtnya bnr2 menguras air mata,hiikkksss

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi banyak say... syukurlah kl bisa menguras air mata krn tujuannya memang demikian ehheheheheh

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.