"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, July 9, 2013

CERMIN 24 - IBU SERIES - Kenyataan oleh Hevi Puspitasari

Kenyataan 

Story by +vie puspitasari 


Dengan pasti aku memarkirkan mobilku tepat di sebelah mobil Jaguar XJ Luxury berwarna silver dengan kaca mobil yang hitam pekat, itu mobil Om Pandji, bukankah seharusnya Om Pandji menemani Tante Sandra di Singapura untuk pengobatan? Jangan-jangan Tante Sandra sudah … ? Aku menggelengkan kepalaku, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran yang sedang berkecamuk, aku memasuki rumah dan ternyata Om Pandji datang bersama Eyang Rahma. Mereka terlibat pembicaraan serius, terlihat dari raut wajah mereka yang sedikit tegang, namun perbincangan mereka terhenti karena Bunda yang menyadari kehadiranku, dan langsung memanggilku.


“Neila, sudah pulang sayang?” tanya Bunda seakan mengisyaratkan mereka untuk menghentikan pembicaraan mereka, apapun itu.
“Iyah, Bun,” aku langsung menghampiri mereka semua dan menciumi tangan mereka, “Neila naik dulu yah,” pamitku kepada semuanya.
Segera setelah menaiki tangga, aku mendengar samar-samar mereka melanjutkan pembicaraan mereka.
“Biar kami yang menjelaskan semuanya kepada Neila, kami akan berusaha membuat Neila mengerti dan segera ke Singapura.”
Itu suara Ayah, membicarakan apa? Dan kenapa aku harus ke Singapura?

“Tetapi Sandra tidak punya banyak waktu, akan ada banyak prosedur yang harus dilalui Neila, dan itu membutuhkan waktu tambahan lagi, sedangkan Sandra tidak bisa berteman dengan waktu saat ini.”
Jelas itu suara Om Pandji, aku menghentikan langkahku, mencoba mendengarkan lebih lanjut, tetapi yang ada di kepalaku saat ini adalah omongan Bunda beberapa waktu lalu,”Jangan menguping pembicaraan orang tua!” dengan enggan aku mempercepat langkahku menuju kamar, dan membunuh semua rasa penasaranku.


Setelah berendam cukup lama, kupikir aku sudah tidak akan penasaran lagi, tetapi ternyata sekarang dadaku justru berdegup tak karuan, aku mengambil nafas dalam-dalam, berharap akan meredakan degupannya, tetapi itu sama sekali tidak berpengaruh. Terakhir kali aku merasakan ini adalah ketika aku harus menerima kabar buruk bahwa aku dijodohkan dengan Ray Fabian Putranto, yang tidak lain adalah anak Om Pandji dan Tante Sandra, sepupuku yang sangat menyebalkan, beberapa hari lalu, tepat sebelum Tante Sandra berangkat ke Singapura untuk menjalani pengobatan. Berita ini mungkin akan jadi kabar baik jika yang menjadi kandidat calon suamiku adalah seseorang seperti Kak Adrian Daniswara, Kakakku, sukses, mapan, tampan, menyayangi keluarga, dewasa, dan yang paling penting dia tidak hobi menggangguku.

Sedangkan Ray, dia amat sangat bertolak belakang dengan Kakak, dia selalu saja menggangguku, memancing emosiku, seakan-akan dunia akan berhenti berputar jika dia tidak menggangguku setiap kami bertemu dalam acara apapun. Yang paling tidak masuk akal lagi, perjodohan ini diatur sendiri oleh Tante Sandra, Ayah serta Eyang Rahma! Aku paham kenapa Tante Sandra sampai mengkhawatirkan Ray yang di umur 31tahun belum juga mempunyai pacar-setidaknya itulah yang dipercaya Tante Sandra-ini pasti karena penyakitnya, Ginjal Kronis yang Tante Sandra derita, membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Sedangkan Ayah dan Eyang Rahma?! Apa Ayah bahkan tidak pernah melihat kami yang tidak pernah akur? Lalu Eyang Rahma? Ah, Eyang memang selalu bertindak sesukanya, di usia senjanya, Eyang bukannya menikmati masa tuanya, selalu ikut campur masalah anak-anaknya. Sebut aku durhaka terhadap Eyang sendiri, tetapi aku bersikap seperti ini karena sikapnya yang tak pernah baik terhadap Bunda, menyebabkan aku tidak pernah suka dengan Eyang.

Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku.
“Non, dipanggil Bapak di bawah,” panggil Bik Atun setelah aku menyahut dari dalam ketukannya.
“Iyah, Bik, Neila turun sebentar lagi,” jawabku sambil memakai kaos, ternyata aku masih memakai bathrobe dan belum juga berpakaian.

“Duduk sini, sayang,” panggil Bunda ketika aku memasuki ruang keluarga, mengabaikan perasaan tidak enakku, aku menuruti permintaan Bunda.
“Kamu pasti tahu kalau Tante Sandra mengidap Ginjal Kronis bukan, sayang?” tanya Ayah dan aku mengangguk, suasana tiba-tiba menjadi tegang, “Setelah melakukan pengobatan beberapa hari di Singapura, dokter menyarankan untuk melakukan Cangkok Ginjal,” Ayah berhenti ketika melihat ekspresi terkejutku.

“Sudah separah itukah, Ayah? Cuci darah yang rutin dilakukan Tante selama ini tidak berdampak pada penyakitnya?”
“Tidak, cuci darah tidak membuat penyakitnya serta merta sembuh, itu hanya bisa memperpanjang hidupnya,” Bunda menjawab sambil menggenggam tanganku.
“Maka dari itu, kita harus segera ke Singapura dan melakukan beberapa test untuk memastikan ginjal siapa yang paling cocok untuk Tante Sandra. Walaupun donor bisa dilakukan dengan orang yang tidak sedarah, tetapi untuk mendapatkan donor ginjal dalam waktu dekat ini sangatlah sulit, jadi kita sekeluarga akan berangkat ke Singapura besok pagi,” jelas Ayah.

“Jika ada salah satu dari kita yang cocok berarti dia harus rela hidup hanya dengan 1 ginjal di sisa hidupnya?” tanyaku ngeri.
“Ya, dan Ray berani menjamin bahwa manusia yang hidup hanya dengan 1 ginjal bisa hidup normal layaknya manusia yang hidup dengan 2 ginjal,” jelas Bunda.
Ah, Ray, aku lupa dia adalah seorang Nephorologist, Dokter Spesialist Ginjal-Hipertensi dan inilah alasan mereka berobat di Singapura, karena Ray praktik di Rumah Sakit elit dan terkenal di Singapura, padahal Om Pandji membuka Rumah Sakit di Jakarta yang tak kalah elitnya dengan Rumah Sakit Ray praktik. Alasannya klasik, karena peralatan serta SDM di sana jauh lebih kompeten dibanding di Jakarta.

“Ayah, bisakah Neila menyusul dengan penerbangan sore ke sana? Karena Neila ada meeting dengan klien.”
“Tidak, kau ikut dengan kami,” sergah Ayah tegas.
“Tapi, Yah, kita bisa kehilangan proyek jutaan Poundsterling jika aku tidak menemui mereka besok.”
“Ayah lebih rela kehilangan jutaan Poundsterling daripada kehilangan Adik Ayah, lagipula ada Adrian yang akan menjaga kantor selama kita pergi.”
“Kak Adrian ga ikut?” tanyaku tak percaya.
“Tidak, hanya kita bertiga, sayang. Sebaiknya kau bersiap-siap, besok kita akan pergi dengan penerbangan pertama,” jelas Bunda lembut, dengan enggan aku menuju kamarku.


Aku masih sibuk memasukkan baju dan peralatan lain ke koper dibantu Bik Atun, ketika Kak Adrian masuk ke kamar yang memang tidak aku tutup.
“La, koq kamu bawa barang sedikit banget?” tanya Kak Adrian ketika sudah mendekatiku dan melihat beberapa barang di atas ranjang.
“Emang harus banyak?” jawabku malas, “Bik, maaf, bisa tolong ambilin perlengkapan mandi La?” pintaku kepada Bik Atun.
“Dasar! Udah bawa barang sedikit masih aja minta bantuan ke Bik Atun,” ledek Kak Adrian sambil merebahkan badannya di ranjang.

Dengan kemeja yang sudah digulung, jas hitam yang disampirkan di lengannya serta dasi yang sudah di lepas, membuat Kak Adrian terlihat sempurna, inilah sosok yang pernah masuk ke dalam alam khayalku ketika memiliki suami nanti, beruntung sekali Kak Renna mendapatkan Kak Adrian sebagai calon suaminya. Tetapi alih-alih mendapatkan calon suami seperti Kak Adrian, aku malah disodorkan calon suami macam Ray, yang dalam mimpi pun aku tidak sanggup membayangkannya.
“Kakak jangan kayak Ray deh, udah cukup ada 1 orang macam Ray di dunia ini, jangan Kakak tambahin,” sungutku.
“Hahaha, kamu tuh yah,” jawab Kak Adrian yang tanpa aku sadari sudah duduk dan mengacak-acak rambutku, kebiasaannya setiap aku ngambek.

“Kenapa sih Ayah ga nyuruh Kak Adrian ikut juga?” tanyaku sambil menutup koperku dan mengizinkan Bik Atun pergi dari kamar dengan anggukanku.
“Mungkin Ayah tahu, ginjal Kakak udah ga sehat karena udah kena racun-racun nikotin rokok?” jawab Kak Adrian sambil menyeringai, Kakak memang merokok, dan yah, alasannya masuk akal.
“Tapi, kenapa ga Ray ajjah sih yang jadi donor ginjal buat Tante Sandra? Dia kan anaknya, masa iya ginjal mereka ga cocok?” gerutuku sambil menggiring koper ke kaki meja rias, dan aku bisa melihat perubahan raut wajah Kak Adrian melalui kaca meja rias, tapi aku tidak bisa mendeskripsikan dengan tepat raut wajah itu, sedih? Kesal? Marah?

Aku bisa melihat dengan jelas rahang Kak Adrian yang mengeras, seakan menahan amarah, tetapi apa? Kenapa? Dan seketika itu juga aku melihat tatapan kasihannya kepadaku, aku langsung berbalik dan ekspresi wajah Kak Adrian sudah tenang kembali.
“Bisa dikatakan ginjalnya tidak cocok, maka dari itu hanya kita harapan Tante Sandra.”
“Apa maksud Kakak ‘bisa dikatakan’?”
“Sudah, sudah, lebih baik kita abaikan pembicaraan ini, Kakak mau mandi.”
“Kak! Jangan kabur gitu dong!” larangku sambil menahan tangannya.
“Nanti juga kamu tahu kalau sudah di sana,” jawabnya sambil tersenyum dan memegang pipiku setelah melepaskan tangannya dariku, “Baik-baik di sana yah, La,” lanjutnya sambil mengacak-acak rambutku dan melenggang pergi.
“Kak Adrian nyebeliinnnn!!!” sungutku dan hanya dibalas dengan seringai khasnya di depan pintu sebelum menutup kamarku.


Sesampainya di bandara, kami ternyata dijemput oleh supir Ray, dan Ayah meminta langsung diantarkan ke Rumah Sakit tempat Tante Sandra dirawat. Keheningan selama perjalanan menemani kami, tidak ada yang berniat untuk memecahkan keheningan ini termasuk supir Ray. Ayah terlihat sangat tegang, dan baru kali ini aku melihat Ayah setegang ini, Bunda sesekali melirik ke arahku, melihat raut wajahku, dan ada kegelisahan di mata Bunda, aku menafsirkannya sebagai kekhawatirannya akan proses yang akan kami jalani, karena aku tidak menemukan alasan lain kenapa Bunda tak pernah melepaskan tatapannya sebelum aku tersenyum ke arahnya.

Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu, kami akhirnya diantar langsung ke kamar Tante Sandra, di sana ternyata ada Om Pandji dan Eyang Rahma. Mereka menghampiri kami, tetapi mataku terpaku kepada Tante Sandra yang sedang berbaring dengan berbagai macam alat kedokteran yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, ada rasa panas menyelimuti mataku ketika melihat pemandangan itu, aku mengerjap-ngerjap mataku, berusaha menghilngkan rasa tidak nyaman di mataku.

“Neila,” panggilan Bunda mengalihkan perhatianku, dan seperti mengerti arti panggilan itu, aku menciumi tangan Om Pandji dan Eyang Rahma sementara Ayah dan Bunda mendekati Tante Sandra yang terlelap dan mencium pipinya.
“Kenapa kalian tidak pulang dulu? Ray sudah menyiapkan kamar untuk kalian di rumahnya, alangkah baiknya jika kalian mengistirahatkan diri kalian dulu sebelum ke sini, kalian pasti capek,” Ujar Om Pandji setelah kami semua duduk di sofa tak jauh dari ranjang Tante Sandra.

“Tidak apa, kami hanya ingin melihat Sandra,” jawab Ayah sambil menatap nanar ke arah Tante Sandra.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Bunda.
“Tidak banyak berubah, sebelum pencangkokkan dilakukan, dia masih harus ditopang dengan alat-alat itu,” jelas Om Pandji.
Perbincangan terhenti karena pintu kamar yang terbuka dan aku melihat Ray masuk, sejenak aku terpana melihatnya, dengan potongan rambut casual, hidung mancungnya, rahang yang sempurna, klimis, professional, tegap dan-oh! Aku tidak percaya aku mengatakan ini!-macho dengan jas putihnya membuat dia bak model-model yang sedang memperagakan seragam dokter, sejak kapan dia jadi berubah seperti ini? Kami hanya 1 tahun tidak bertemu dan dia sudah berubah sedrastis ini??!!

Dia seakan sudah menduga aku ada, tidak menampakkan wajah terkejutnya sama sekali, berjalan dengan penuh yakin ke arah kami, sama sekali tidak mengalihkan pandangannya kepadaku, membuatku terpaksa harus membuang muka, tak berani melihat tatapannya yang seakan ingin memakanku bulat-bulat. Damn!! Bahkan aku tidak bisa mengontrol degupan jantungku yang berdegup tak karuan sejak melihat Ray tadi. Oke, salahkan tempat dimana aku melihat, jelas-jelas ini tempat praktiknya, dengan semua keadaan yang mendukung untuk membuatku harus mengakui bahwa inilah pertama kalinya aku melihatnya live dengan seragam kebanggaannya, membuatnya semakin ‘bersinar’ di mataku. Ray yang menyebalkan menjadi Ray yang patut untuk diperhitungkan. Aarrgghh!!! Kendalikan dirimu!!

“Kalian sudah datang, kenapa kalian tidak langsung ke rumah dulu untuk istirahat?” tanya Ray setelah mendekat ke arah kami dan menciumi tangan Ayah dan Bunda.
“Tak apa, perjalanan Jakarta-Singapura tidak lama, tidak sampai membuat badan kami rontok,” jelas Ayah.
“Tetapi kalian harus tetap beristirahat, karena jadwal pengambilan sample darah serta tes kecocokan lainnya akan dilakukan sore ini,” jelas Ray.
“Neila, kamu tidak menciumi tangan Ray?” tegur Eyang, membuatku membeku.
“Dia masih terpesona sama Ray kayaknya Eyang,” Goda Ray, dia mulai lagi!

Dengan malas aku berdiri dan menciumi tangannya, tetapi bukannya melepaskan tanganku setelah aku menciumi tangannya, dia malah menarikku mendekat, dan mencium pipiku.
“Ray!” pekikku spontan melotot padanya sambil menghapus bekas ciumannya di pipiku, dia malah menyeringai.
“Neila, pelankan sedikit suaramu,” lagi-lagi Eyang menegurku.
“Tapi,” sergahku dan langsung mendapat lirikan dari Bunda, tanda agar aku tidak melawan, sementara manusia paling menyebalkan ini malah menyeringai puas.
“Ray, berhenti menggoda Neila seperti itu,” tegur Om Pandji tetapi tetap tidak bisa membuat Ray berhenti menyeringai.
“Kalian memang sudah dijodohkan tetapi bukan berarti kamu bisa melakukan itu di depan kami, Ray,” kali ini Eyang yang menegur Ray langsung, tetapi anehnya itu tidak membuatnya menghilangkan seringainya.


Kami diantar ke rumah Ray yang berada tak jauh dari rumah sakit, dan aku terpaksa harus menahan keterkejutanku ketika melihat rumah yang konon dibelinya dengan uang hasil kerjanya di sini. Aku sangat penasaran sebenarnya berapa besar gajinya di sini sebagai seorang Nephorologist sampai mampu membeli rumah semewah dan secantik ini, benar-benar terlihat jelas gaya seorang Ray Fabian Putranto, pantas saja dia betah kerja di sini dibanding Rumah Sakit yang didirikan Ayahnya di Jakarta.

Untuk orang yang tinggal sendirian di rumah sebesar ini, Ray pantas merasa kesepian dan bahkan sampai memboyong supir, pekerja kebun serta pembantu dari rumah orangtuanya, tak peduli kesulitan pekerjanya di hari-hari awal untuk beradaptasi di sana. Aku diantar ke kamar yang sudah disediakan untukku, yang ternyata bersebelahan dengan, kamarnya. Mengabaikan perasaan jengkelku karena kejadian di rumah sakit tadi, aku membenamkan tubuhku langsung di ranjang ukuruan Queen itu, dan terlelap tak lama kemudian.


Hasil test darah sudah keluar, dan diantara kami bertiga hanya aku yang cocok, itu berarti aku harus menjalani tes selanjutnya, secara tidak sengaja aku melihat daftar tes yang harus aku jalani tadi, masih ada tes urine dan CT Scan ginjal. Ray dengan sabar mendampingiku, dan selama proses berlangsung, sikap menyebalkannya sama sekali tidak keluar, digantikan dengan sikap profesionalnya sebagai seorang dokter.

Sesekali aku melihat kedekatannya dengan beberapa suster asing, dan pengaruhnya terhadap mereka, membuatku sedikit merasa iri, mereka bisa melihat sisi lain seorang Ray sedangkan aku hanya bisa melihat sisi menyebalkan dari seorang Ray yang selalu ditunjukkannya kepadaku. Ah! Aku tak percaya aku mengatakan ini semua!! Ini pasti pengaruh suntikan-suntikan yang aku terima beberapa jam lalu! Itu pasti!!
“Kau tidak apa-apa?” tanya Ray saat aku telah selesai mengganti bajuku.
“Aku tidak apa-apa,” jawabku acuh mencoba menetralkan semua pikiran aneh di kepalaku.
Kami berjalan beriringan menuju Kamar VVIP tempat Tante Sandra dirawat tanpa banyak berbicara, hanya dia yang sesekali menyapa rekan kerjanya.

Di dalam kamar inap Tante Sandra, ternyata semua sudah berkumpul, mereka sedang berbicara santai dengan Tante Sandra yang sudah duduk di ranjangnya.
“Neila,” panggil Tante Sandra ketika melihatku, senyumannya entah kenapa membuatku merasa damai, merentangkan tangannya seraya memelukku, aku menghampirinya dan memeluknya, It feels like home, menghilangkan semua pikiran aneh yang sempat hinggap di kepalaku beberapa saat lalu.
“Maafin Tante yah Sayang, kamu jadi harus melakukan ini semua,” lirihnya sambil mengelus lenganku, tempat sample darah tadi diambil.

“Gak apa-apa koq, Tan,” jawabku sambil tersenyum, “Neila ikhlas,” lanjutku disambut dengan senyuman Tante Sandra yang mampu membuatku merasa hangat.
“Ray, praktikmu sudah selesai bukan? Lebih baik kamu pulang, mandi dan ganti baju, habis itu kamu ajak Neila makan malam, hanya kalian berdua yang belum makan malam,” saran Om Pandji yang disambut anggukan Ray dan tak lama dia langsung berpamitan.


Kami akhirnya makan di restoran pinggir pantai, suasananya sangat nyaman, membuat setiap orang yang datang pasti akan betah. Selama perjalanan dan makan malam, kami tidak banyak berbicara.
“Ray, kalau ginjalku tidak cocok untuk Tante Sandra bagaimana?” tanyaku memecah keheningan ketika kami sedang berjalan menyusuri pantai tanpa alas kaki.
“Kau merasa terbebani dengan ini semua?”
“Tidak, hanya saja, kalau kau yang anak kandung Tante Sandra saja tidak cocok, bagaimana denganku yang hanya keponakannya?”

Dari sudut mataku aku melihat Ray yang tidak nyaman dengan pembicaraan ini, apa dia juga merasa bersalah karena tidak mampu menolong Ibunya?
“Bagaimana jika ternyata aku bukanlah anak kandung Mami?” pertanyaannya membuatku menghentikan langkahku dan langsung menoleh ke arahnya.
“Apa maksudmu?! Kau begitu mirip dengan Om Pandji, bagaimana bisa kau berkata begitu?!”
“Aku tidak mengatakan aku bukan anak kandung Papi, aku hanya mengatakan aku bukan anak kandung Mami.”
“Jadi maksudmu?” aku masih tidak percaya ini, dia membalikkan badannya dan menatapku.
“Aku bukan anak kandung Mami, aku anak tiri Mami. Sebelum Papi menikah dengan Mami, Papi menikah dengan Almarhumah Ibuku, hingga akhirnya mereka bertemu dan menikah dengan Mami.”

Ini menjelaskan semuanya, mengapa Ray tidak bisa menjadi donor untuk Tante Sandra.
“Jadi, hanya aku harapan satu-satunya Tante Sandra?”
“Ya, hanya kamu.”
“Dan bagaimana jika ternyata aku juga tidak cocok?”

“Mami sebenarnya sudah pasrah, dia tidak mau menjadi beban bagi siapapun, dia menolak rencana pencangkokkan ginjal ini, karena dengan atau tanpa pencangkokkan ini penyakitnya tidak akan sembuh, pencangkokkan ini hanya membebaskannya dari keharusan untuk cuci darah rutin. Dia tidak mau menyusahkan hidup orang lain karena telah mendonorkan ginjal untuknya, maka dari itu, Mami meminta Ayahmu dan Eyang Rahma agar menyetujui rencana perjodohan kita, supaya Mami tidak merasa bersalah karena telah menyusahkanmu sudah memberikan ginjalmu untuknya dan merasa tepat menyerahkan dirimu kepadaku, seorang ahli ginjal,” dia menutup penjelasannya dengan seringainya yang khas, untuk sesaat aku tidak memperhatikan seringainya, tetapi saat aku melihatnya, aku sadar, bagian terakhir itu tentu saja akal-akalannya saja!

“Kau ini!! Aku sedang serius kau masih sempat-sempatnya narsis seperti itu!!” gerutuku sambil memukul lengannya dengan sepatu flatku, dia menghindar dan tertawa terbahak-bahak.
“Aku tidak narsis, itu memang kenyataannya dan itu yang dikatakan Mami, kalau kau tidak percaya, kau bisa tanya pada Ayahmu,” sergahnya disela-sela pukulanku.
“Aku tidak percaya padamu! Bagaimana kalian bisa tahu ginjalku yang cocok? Aku bahkan baru tadi menjalani semua tes itu bukan?!” nafasku tersengal mengatakan itu, cape juga memukulnya dengan sepatu flat.
“Ehem, sebenarnya kami sudah melakukan tes darahmu 1 tahun lalu,” dia terdiam sejenak, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Kau tentu ingat saat kau mengidap dbd tahun lalu? Papi harus mengambil darahmu untuk kepastian mengenai penyakitmu, dan saat yang sama Mami sedang melakukan proses cuci darah bukan? Saat itulah aku melakukan sedikit tes terhadap darahmu, kami ‘sedikit’ mencuri darahmu untuk melakukan tes darah di awal, dan merasa lega setidaknya ada kau yang bisa kami andalkan jika harus melakukan pencangkokkan ginjal,”jelasnya dengan raut wajah meminta maaf.

“Oh, ya ampun!” aku menutup wajahku, frustasi mendengar semua penjelasannya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Ray khawatir.
“Sebaiknya kau segera mengantarkanku pulang,” pintaku tanpa menoleh ke arahnya.


“Kau sudah bangun?” tanya Ray ketika aku sedang menuruni tangga dan menuju ruang makan.
“Kemana yang lainnya?” tanyaku sambil menarik kursi dan duduk di seberangnya.
“Mereka sudah berangkat ke rumah sakit 1 jam yang lalu, kau dibangunkan susah sekali,” ledeknya.
“Kau lebih parah dibanding aku!” balasku acuh.
“Hahaha! Itu dulu, sekarang aku tidak sekebo dulu, aku bahkan bisa mendengar dengkuranmu dari kamarku.”
“Pembohong!”

“Kau tidak percaya? Atau perlu aku putar lagi kejadian terakhir kita sekeluaga menginap di Bandung? Suara rekaman jelas dengkuranmu,” jelasnya sambil merogoh hpnya.
“Ok, ok, terserah padamulah Ray! Aku tidak pernah bisa menang darimu soal ejek mengejek,” pasrahku, “Kau tidak praktik?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Tidak, hari ini sabtu dan aku tidak ada jadwal praktik.”
Selebihnya kami sarapan dalam diam, atau lebih tepatnya malas mengomentari lebih lanjut. Seandainya ada Kak Adrian di sini, mungkin aku bisa memintanya untuk jalan-jalan, jarang-jarang aku bisa ada di sini lebih dari 1 hari, tidak mungkin aku meminta Ray.

“Kau mau ku antar jalan-jalan?” ajaknya membuatku berhenti mengunyah roti di mulutku, ini tidak salah dengar? Dia menawariku?
“A-apa?” ucapku setelah berhasil menelen roti.
“Kau mau ku antar jalan-jalan tidak? Kata Bundamu, kau jarang bisa berada di sini lebih dari 1 hari seperti ini, apa kau mau ke Universal Studios? Terakhir rencana kamu ke sana batal bukan?” dia masih menatapku setelah mengucapkan itu semua, membuatku tak tahu harus berkata apa, ini masih Ray bukan?

“Apa kau tidak bisa membawa adikku ke tempat kencan yang lebih romantis selain Universal Studios, Ray?”
Itu suara Kak Adrian, dan ketika aku menoleh ke asal suara, aku benar-benar melihat Kak Adrian dengan Kak Renna di sebelahnya.
“Kakak!” aku langsung berlari menuju Kak Adrian dan langsung memeluknya.
“Hei, sadar umur, kamu itu sudah 26 tahun, bukan anak kecil lagi, masa sebegitunya hanya karena bertemu dengan Adrian?” ejek Ray dibelakangku aku hanya melet ke arahnya.
“Hahaha, kau cemburu Ray? Cemburu pada calon Kakak Iparmu ini? Ckck,” balas Adrian sambil mempererat pelukannya.

“Kapan Kakak datang?” tanyaku setelah melepas pelukan Kak Adrian dan memeluk Kak Renna.
“Semalam, tetapi kamu sudah tertidur pulas, jadi Kakak tidak membangunkanmu, dan ketika Kakak bangun, kamu belum bangun, jadi Kakak putuskan untuk menjemput Renna dari rumah tantenya, dan menengok sebentar ke rumah sakit,” jelas Kak Adrian.
“Kenapa Kak Renna tidak menginap di sini saja?” tanyaku
“Dan digorok Eyang Rahma? Tidak, terimakasih,” kami tertawa mendengar jawaban Kak Renna, walaupun mereka sudah berstatus bertunangan, tetapi Eyang Rahma masih memberlakukan aturan ‘ketat’nya.
“Ya, sudah, sebaiknya kamu bersiap, kita akan ke Universal Studios,” saran Kak Adrian dan aku langsung berlari menuju kamar.


“Kalau kau tidak terlalu lama berdandannya kita pasti sudah sampai daritadi,” gerutu Ray saat kami dalam perjalanan menuju Universal Studios menggunakan Lamborghininya, sedangkan Kak Adrian bersama Kak Renna menaiki Ascari A10 karena merasa lebih aman menaikinya dibanding Lamborghini milik Ray.
“Salahmu! Kenapa baru mengajakku siang tadi bukannya semalam?!” balasku sambil merengut.
Memilih diam, dia langsung menginjak pedal gas kuat-kuat membuatku harus memegang seatbealt kuat-kuat.


Kami akhirnya menghabiskan sepanjang hari di Universal Studios dan memutuskan untuk mampir ke rumah sakit ketika pulang. Aku berjalan terlebih dahulu menuju kamar Tante Sandra, Ray harus berbicara dengan seseorang yang diakunya sebagai dokter yang menangani hasil tesku kemarin, sedangkan Kak Adrian dan Kak Renna memutuskan untuk membeli sesuatu terlebih dahulu di kantin. Ketika baru membuka pintu sedikit, aku mendengar percakapan serius dari dalam kamar.

“Neila harus tahu yang sebenarnya sebelum operasi dilakukan, dia berhak tahu bahwa sebenarnya dia adalah anak kandung Sandra, bukan anak kandung kalian,” ucap Eyang Rahma, aku tersentak mendengar semuanya.
“Tapi, bagaimana jika dia menjadi histeris dan justru menolak operasi ini? Hanya dia satu-satunya harapan Sandra,” itu suara Om Pandji.
“Neila tidak akan bertindak seperti itu, tidakkah kalian melihat ikatan batin yang terjadi di antara mereka secara tidak langsung?” jelas Ayah, aku memberanikan diri masuk ke dalam tanpa melepaskan peganganku dari pintu, merasa hanya itu yang mampu menyanggah tubuhku saat ini.
“Neila,”Bunda dan Sandra terkejut melihat kedatanganku, membuat mereka semua melihat ke arahku dengan reaksi yang sama, hanya Bunda yang menuju ke arahku, mencoba memegang lenganku, tetapi aku tepis.

“Benar begitu, Bunda? Aku bukan anak kandung kalian? Kalian pasti bercanda bukan?! ini semua lelucon kan?!!” air mataku mengalir deras, tenggorokanku tercekat, membuatku hampir saja tidak bisa menyelesaikan kalimatku.
“Sayang,” Bunda berusaha menenangkanku.
“Bunda! Jawab aku!!” paksaku tak menghiraukan suaraku yang terlampau tinggi untuk digunakan di rumah sakit ini, tetapi Bunda hanya memalingkan wajahnya dan terisak, aku mengedarkan pandanganku, Tante Sandra sudah tersedu-sedu di pelukan Om Pandji, Ayah berusaha menggapaiku, sedangkan Eyang Rahma tak beranjak dari duduknya.

“Ayah, ini semua bohong kan? Ayah?!!”
“Maafkan, Ayah, Nak,” jawab Ayah sambil mencoba merengkuhku, tetapi aku menghindar, aku mundur, mencoba menyandarkan tubuhku ke pintu, tetapi ternyata aku menumbuk dada bidang di belakangku, aku membalikkan badanku, dan aku melihat Ray yang sedang menatapku dengan tatapan prihatin.
“Kau tahu!! Kau pasti sudah tahu semua ini!!” teriakku ke arah Ray, dan langsung membalikkan badanku lagi, dan menatap mereka satu persatu dan melanjutkan, “Kalian semua membohongiku!! Kalian jahat!!!” dan aku langsung berlari.

Ray sempat menangkap tanganku, tetapi aku menepis tangannya dengan kasar, meninggalkan rasa panas di pergelangan tanganku, berlari menjauh dan ketika di ujung lorong aku melihat Kak Adrian, aku langsung merebut kunci mobil yang selalu dia sangkutkan di saku kanan celananya.
“Neila! Apa yang kau lakukan?!” panggil Kak Adrian, tak percaya aku merebut kunci mobilnya dengan gesit, samar-samar aku mendengar Ray yang meminta Kak Adrian untuk menahanku, tetapi terlambat, aku sudah menuju pintu keluar.

Mengabaikan tatapan aneh semua orang yang melihatku, aku langsung menuju parkiran dan beruntung aku langsung mengenali mobil yang dibawa Kak Adrian, tidak sulit menemukan mobil berwarna kuning terang di area parkiran. Dengan cekatan, aku menginjal pedal gas dan langsung melarikan mobil menjauhi rumah sakit, dan menuju jalan raya. Jika bukan karena air mata yang terus saja mengalir mengangguku melihat jalanan dengan jelas, aku mungkin tidak akan terkejar Ray dengan Lamborghininya seperti ini.

Beruntung jalanan tidak sepadat tadi, sehingga aku bisa dengan leluasa mempersulit Ray yang hendak menyalipku, memberikan sinyal-sinyal agar aku menepi, mengabaikan panggilannya ketika mobil kami dalam keadaan sejajar. Aku tahu aku tidak akan bisa menang balap-balapan dengan Ray, dan tepat ketika aku tidak melihat celah lagi untuk terus maju karena mobil Ray sudah hampir sukses memojokkanku, aku menekan pedal rem kuat-kuat menunggu hingga ada jarak untuk mobilku, dan langsung memutarbalik mobilku-dan aku berterimakasih kepada jalanan Singapura yang tidak sepadat Jakarta- aku berhasil mengecoh Ray dan menjauhinya, dari spion aku bisa melihat wajah kesalnya karena tidak berhasil dan langsung masuk kembali ke dalam mobil. Tidak, untuk kali ini aku tidak akan membiarkanmu menang Ray, aku menekan pedal gas dalam-dalam, menghapus airmataku dan memandang mantap ke arah jalanan.


Setelah berputar-putar tak tentu arah, aku akhirnya benar-benar bisa lepas dari Ray, dan mendapati diriku ada di pinggir pantai. Menangis meraung-raung di dalam mobil dengan musik yang bisa membuat telingaku sakit jika keadaannya berbeda, menumpahkan semua perasaanku. Jadi inikah kenyataannya? Aku bukanlah anak kandung Ayah dan Bunda, tetapi mengapa di akte kelahiranku jelas-jelas tertera nama mereka di sana sebagai orangtuaku? Anak adopsikah aku? Kenapa Tante Sandra rela memberikanku kepada Ayah dan Bunda? Apakah aku anak yang tidak diharapkan?

Inikah alasannya mengapa aku selalu merasa tenang ketika melihat senyuman Tante Sandra, berada di pelukannya atau bahkan hanya mendengar suaranya di telepon? Seperti inikah arti ikatan batin antara anak dengan Ibu? Lantas bagaimana dengan Bunda? Haruskah aku membencinya karena telah merawatku, membesarkanku dengan sepenuh hatinya serta menoleransi semua kenakalanku? Menyayangiku yang sama sekali tidak ada ikatan darah dengannya?

Setelah merasa pusing karena menangis terlalu lama, aku mencoba mengambil hpku yang langsung aku matikan begitu aku lolos dari Ray, tetapi niat itu aku urungkan, aku lebih memerlukan udara segar, aku memutuskan turun dari mobil, melepas sepatuku, dan berjalan mendekati pantai, merasakan pasir yang menggelitik telapak kakiku sungguh mampu membuatku merasa hidup, memutuskan duduk di tepian, aku memandang ke arah laut lepas, gelap, hanya debur ombak yang bisa kudengarkan, dan suaranya bagaikan musik yang mampu menenangkan hatiku. Aku menutup mataku, mencoba mendengarkan hatiku yang terdalam, apa yang harus aku lakukan selanjutnya.


Entah berapa lama aku seperti ini, tetapi aku bisa merasakan ada seseorang di belakangku, dan tanpa menoleh pun aku tahu, itu Ray. Seakan mengetahui aku yang sudah mengetahui kehadirannya, dia mendekat dan menyampirkan jaket yang dipakainya dan duduk di sebelahku.
“Tak bisakah kau berfikir jernih sebelum bertindak?! Ini Singapura! Bukan Jakarta, tempat yang kau hafal setiap jengkalnya!! Seharusnya kau pikirkan itu semua sebelum kabur!!” omelnya.
“Sejak kapan kau tahu?” aku mengabaikan omelannya, dia terkejut mendapati diriku yang tak terpancing omelannya, dia langsung memperhatikan raut wajahku, dan menjawab pertanyaanku.
“Sejak aku diam-diam memperhatikanmu, setiap aku melihatmu, aku seperti melihat Mami tetapi versi lincahnya, dan semua makin diperkuat ketika kami melakukan tes darahmu saat kau DBD 1 tahun lalu, seperti yang aku ceritakan sebelumnya, yang tidak aku ceritakan adalah aku mencentang Tes DNA di formulir yang diisi oleh Papi, dan tentu saja hasilnya sangat mengejutkanku.”

“Itu sebabnya kau tidak pulang selama 1 tahun belakangan.”
“Ya, aku tidak tahu harus bagaimana bersikap kepadamu, aku merasa sudah mencampuri urusan pribadimu.”
“Mengapa kau tidak langsung memberitahukannya kepadaku?”
“Dan apakah kau akan mempercayaiku? Tidak akan! Kau pasti mengira aku mengerjaimu, dan selanjutnya kau akan membenciku habis-habisan.”
“Kau benar,” pasrahku.

“Apakah kita bisa pulang sekarang? Semuanya pasti sedang mengkhawatirkanmu,”ajak Ray dan aku menggeleng.
“Aku masih belum bisa bertemu dengan mereka semua, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana,” jelasku dan airmataku mengalir lagi, tanpa ku sangka dia merengkuhku ke pelukannya, membuatku semakin meraung-raung.
“Tidak akan ada yang berubah, kami selalu menyayangimu, La,” ujarnya sambil mengusap lembut rambutku.
“Kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan, La! Itu hanya untukku dan Kak Adrian!” protesku sambil melepaskan pelukannya, mengelap airmata dengan punggung tanganku.
“Oke, oke. Kau tahu, kau semakin cantik jika kau sedang marah-marah seperti ini,” rayunya sambil membantuku menghapus airmataku dengan tangannya.

“Hentikan tingkah menyebalkanmu itu!” tepisku.
“Kau tahu, Neila. Kau beruntung punya 2 ibu yang sangat menyayangimu, sedangkan aku, aku hanya punya 1 ibu dan itu hanya Mami, aku bahkan tidak bisa mengingat wajah Ibu kandungku yang meninggal ketika aku berumur 4 tahun.”
“Maafkan aku.”
“Tak apa, aku sudah menganggap Mami sebagai ibu kandungku.”
“Tetapi tetap saja aku masih belum terbiasa memanggil Tante dengan sebutan Mami sepertimu itu, bagaimana perasaan Bunda ketika aku menyebut nama Mami dari mulutku ini? Aku masih berharap ini semua hanya mimpi,” jelasku sambil menggigit bibir bawahku.

“Kau tidak perlu langsung memanggil Mami dengan sebutan Mami jika kau masih belum siap, Mami pasti mengerti. Selama 26 tahun ini bukankah dia sudah terbiasa mendengarmu memanggilnya dengan sebutan Tante? Lagipula, kau masih punya waktu 1 tahun untuk memanggilnya seperti itu,” jelasnya sambil tersenyum, membuatku mengerutkan kening melihat tingkahnya.
“Apa maksudmu?”
“Ya, karena 1 tahun lagi kau akan menjadi Ny Ray Fabian Putranto, dan saat itu mau tidak mau kau harus memanggil Mami dengan sebutan Mami, kau tidak mau dicap sebagai menantu durhaka karena memanggil mertuanya sendiri dengan sebutan Tante bukan?”
“Itu tidak akan terjadi!! Aku tidak mau menikah denganmu!!”

“Apa kau lupa kalau kita sudah dijodohkan? Dan kau tentu ingat bagaimana kerasnya Eyang Rahma akan keinginannya bukan? Ini bisa menjadi solusi dari masalah mu tadi, kau tidak akan risih lagi memanggil Mami bukan? Tentu saja Bunda tidak akan merasa tidak enak karena kau memanggil Mami, kau tentu menyadari itu semua. Masalah selesai, lalu apalagi yang membuatmu pusing?” tantangnya, semua ucapannya benar, tetapi menikah? Dengan seorang Ray? Oh ya ampun!!
“Sudahlah, percuma aku mengatakan ini semua padamu!!” cegahku dan aku langsung berdiri, tetapi tanganku ditahan Ray, dan dengan sekali tarik, aku sudah duduk di atas pangkuannya, “Apa yang kau lakukan??!!”
“Aku mencintaimu, Neila Daniswara,” ucapnya dan sebelum aku menyadari semuanya, dia sudah mencium bibirku, membelai lembut, merayuku membuka mulutku untuknya, sejenak aku terlena dalam buaiannya, tanpa sadar membuka mulutku, dan membuatnya dengan mudah mengakses keseluruhan mulutku.

Aku mulai merasakan diriku melayang, kehabisan nafas, mengikuti alur lidahnya di dalam mulutku, dan setengah protes saat dia melepaskan pagutannya, dia tersenyum, menempelkan dahinya di dahiku, setelah berhasil menyelaraskan nafasnya dia berbisik, “Menikahlah denganku, Neila Daniswara.”
Ucapannya membawaku kembali ke dunia nyata, meraba bibirku yang panas dan bengkak karena ciumannya, aku mencoba menenangkan degupan jantungku, apa yang terjadi barusan?!!
“Kau gila, Ray!” teriakku sambil mendorongnya, mencoba bangkit, namun dia menahanku.
“Ya, aku gila, aku sudah lama gila karena mencintaimu sejak lama! Aku hampir saja gila ketika aku menyadari perasaanku kepadamu, aku tidak mungkin memelihara perasaanku kepadamu yang notabene adalah sepupuku, dan aku benar-benar gila saking senangnya ketika mendapati kita bahkan tidak sedarah, serta mendengar kabar bahwa Eyang Rahma dan Ayahmu menyetujui perjodohan yang dipelopori oleh Mami.”

“Ray, cukup,” pintaku.
“Tidak, ini tidak akan cukup. Kau pikir kenapa aku selalu mengganggumu? Itu semua kulakukan untuk menarik perhatianmu, untuk membuatmu terus memikirkanku. Tolong, Neila, izinkan aku membuktikannya kepadamu, aku benar-benar mencintaimu, berikan aku 1 kesempatan untuk membuktikan perasaanku kepadamu.”
Tidak, ini terlalu banyak, aku tidak bisa menampung semuanya saat ini, ada hal lain yang harus aku lakukan.
“Berikan aku waktu,” pintaku dan dia mengangguk.

~~~


Malam itu juga kami pulang, dan aku hanya bisa pasrah mengikutinya ketika dia menggiringku masuk ke dalam Lamborghininya, dan meyakinkanku akan menyuruh orang untuk mengambil mobil yang kupakai tadi. Sepanjang jalan aku sudah memikirkan masak-masak dan aku telah mantap mengambil keputusan, aku tidak boleh melupakan semua kasih sayang yang sudah aku terima, aku akan mencoba berdamai dengan kenyataan.

 Sesampainya di rumah Bunda langsung memelukku, dan kami menangis sesenggukan bersama. Setelah meminta maaf kepada semuanya, aku memutuskan untuk masuk ke kamar, Bunda tidak pernah melepaskanku sejak kedatanganku, setelah aku mandipun, Bunda masih sabar menungguiku, takut aku akan melakukan hal yang sama lagi, pergi darinya.
“Bun, apakah Bunda menyesal sudah membesarkan Neila?” tanyaku ketika Bunda sedang membereskan tempat tidurku.
“Tidak pernah sayang, Bunda tidak pernah menyesal sudah membesarkanmu, kenapa kau berkata begitu, sayang?”
“Neila takut kalau Bunda justru menyesal telah membesarkan Neila dengan semua kenakalan Neila. Neila bukan anak yang baik.”
“Kau anak baik, sayang,” jawabnya sambil memelukku.
“Kalau aku anak baik, kenapa Tante Sandra tidak mau merawat Neila?”

“Oh, Sayang. Sandra bukannya tidak mau merawatmu, Nak. Tetapi saat itu tidak memungkinkan untuknya merawatmu, malam saat kau dilahirkan, Sandra dan Andre, Ayah kandungmu, mengalami kecelakaan. Andre meninggal di tempat sementara Sandra pingsan tak sadarkan diri, hingga dokter harus terpaksa mengeluarkanmu dengan jalan Cesar, ketika Sandra sadar, amnesia disosiatif yang dideritanya membuatnya tidak bisa mengingat apapun, dan Dokter mengatakan bahwa dia tidak boleh diingatkan tentang masa lalunya, karena akan membahayakan dirinya sendiri, dan amnesia ini tidak ada jaminan apakah akan sembuh atau tidak,” Bunda terdiam sejenak.

Aku masih mendengarkan, dan Bunda melanjutkan.
“Kami mengikuti saran dokter, Eyang Kakung langsung membawa Sandra pergi keluar negeri, memberikan Sandra kehidupan baru, menghindar dari semua orang yang mengenal kami, karena takut akan ada yang memberitakukan kepada Sandra kenyataannya dan akan membahayakan kesehatannya, dan di sanalah Sandra bertemu dengan Pandji, mereka akhirnya menikah, setelah sebelumnya Pandji diberitahu oleh Eyang Kakung. Berkat kesepakatan keluarga, akhirnya kamu Ayah dan Bunda adopsi, demi masa depanmu.”

“Ketika akhirnya Sandra tahu yang sebenarnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mau mengganggu perkembanganmu, dia mengalah dan menyerah, mencoba berdamai denan kenyataan. Dia bahagia hidup dengan Pandji, dan kau bisa lihat sendiri bagaimana Pandji memperlakukannya bagai ratu, tetapi Sandra selalu merasa bersalah karena tidak bisa memberikan Pandji anak, rahimnya harus di angkat ketika kecelakaan itu terjadi. Tetapi dia menahan semua kepiluannya seorang diri, dan tak lama dia divonis mengidap Ginjal Kronis tahap 1,” Bunda menyelesaikan ceritanya dan aku memeluknya.
“Maafkan, Neila Bun.”

“Tidak, sayang, Bunda yang harusnya meminta maaf, Bunda seharusnya mengatakan yang sebenarnya kepadamu dari dulu, tetapi Bunda tidak sanggup jika harus kehilanganmu, kamu mungkin bukan anak kandungku, bukan hak Bunda untuk melarangmu mengetahui semuanya, kau berhak tahu kenyataannya, tetapi Bunda benar-benar tidak mampu.”
“Bisakah kita berpura-pura ini semua tidak terjadi dan biarkan Neila menganggap Neila anak Bunda?” tanyaku takut-takut.
“Kau anakku, kau akan selalu jadi anakku,” jelas Bunda sambil memelukku dan aku merasa bebanku sedikit terangkat.


Aku sedang menikmati hujan di teras belakang ketika Kak Adrian datang dan membawakanku segelas cokelat hangat.
“Kenapa kamu ga duduk di bangku aja, La?” ucapnya ketika mendapati diriku yang lebih memilih duduk di lantai teras belakang daripada bangku teras.
“Enakan di sini, kak.”
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Kak Adrian ketika sudah duduk di sebelahku, mengikutiku yang mengabaikan bangku teras.
“Sedikit lebih tenang.”
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Kak Adrian membuatku menoleh ke arahnya, “Kau mungkin bukan adik kandungku, tetapi aku sudah mengenalmu sejak bayi, jadi aku tahu kau pasti sedang memikirkan sesuatu,” jelasnya sambil mengacak-acak rambutku.

“Aku sedang memikirkan operasiku nanti, bagaimana jika aku tidak bisa membuka mataku lagi?” belum selesai aku mengucapkan kalimatku, ucapanku langsung terpotong.
“Itu tidak akan terjadi! Aku yang memimpin langsung operasimu dan juga Mami, hal itu tidak akan terjadi!” potong Ray yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang kami, “Hei, kalian memang bukan kakak adik kandung, tetapi kalian masih ada ikatan sepupu dari pihak Ayah, jadi kalian tidak akan bisa menikah! Geser sedikit Adrian!” perintahnya memaksa duduk di antara kak Adrian dan aku, sementara Kak Adrian hanya tersenyum geli melihat tingkah Ray.

“Apa sih yang kau lakukan Ray?!” protesku setelah dia berhasil duduk di tepat di sebelahku.
“Aku hanya ingin menjamin bahwa calon istriku tidak direbut oleh calon Kakak iparku!” jawabnya keras kepala.
“Hahaha, kau dan khayalan tinggimu,” jawab Kak Adrian sambil menggelengkan kepalanya dan meninggalkan kami.
“Bagaimana keadaan Mami?” tanyaku setelah Kak Adrian pergi.
“Masih sama, lusa adalah jadwal operasi kalian, dan kau harus masuk rumah sakit besok sore,” jelas Ray.
“Baiklah, dan apakah aku harus puasa sebelum operasi?”
“Ya. Kau tenang saja, operasi ini pasti berhasil, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada kalian,” jelas Ray, melihatku yang masih asyik dengan pikiranku, Ray menghela nafasnya, “Baiklah, aku mandi dulu,” pamitnya sambil mencium pucuk kepalaku dan berdiri meninggalkanku.

Sepeninggal Ray, aku teringat kembali kejadian pagi tadi, ketika aku menemui Mami di rumah sakit, kami berbicara banyak, dari hati ke hati, dan semuanya menjadi semakin mudah. Benar kata Ray, Mami tidak pernah mempersoalkan panggilanku terhadapnya, tetapi aku merasa tidak enak masih harus memanggilnya Tante sementara aku sudah tahu semuanya. Dan aku sudah bertekad untuk menerima kenyataan ini, mempunyai 2 orang Ibu tidak buruk-buruk amat kok, aku hanya perlu membagi kasih sayang yang sama besar di antara keduanya.  Aku tersenyum ketika melihat pelangi yang tampak setelah hujan lebat sore ini, sungguh pemandangan yang sangat indah, membuat hati semua orang yang melihatnya damai, sedamai hatiku saat ini.


--TAMAT-- 



27 comments:

  1. keren.. penulisannya udah bagus... hehehe... Vie banyak berubah ya, jauh lebih baik. cara menceritakannya juga udah jauh lebih bagus. perlahan-lahan VIe bisa nyari nih seleranya Vie kyk gmn dalam membuat cerpen lainnya. jadi orang2 tahu vie stylenya kyk gmn. coba deh vie bikin2 cerpen sendiri dengan tema yang vie ingin, nanti kita bisa lihat vie stylenya gmn. semangat ya vie, semoga selalu belajar dan menjadi lebih baik lagi. :) jgn lupa ikut game myowndramastory juga ya :D

    ReplyDelete
  2. Waahhh,,udh tayaaangggg...
    Mksh Mba Ciiiiinnnnnn... Alhamdulillah klo trnyt dblg bagus,,soalny pas nulis ngrsa ky anak ababil... Hehehhee
    Iyh Mba,,smg bs keciri 'style'ny Vie gmn,,soalny jelekny Vie smw trgntung mood,, :(
    Siaappp,,sbnrny udh d crta yg lg di godok,,tp lumz brani share,, hehehe...
    Mksh Mba Ciiiiinnn atas smw support,,masukan,,dkungan,,plus ksmptn yg dh Mba Cin ksh k Vie(brasa pidato)

    Siappppp,,ni lg galau mw mlih crta yg mn bwt iktn gameny,, xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha sip sip..... aku senang kl vie mau trus nulis. tp kl udah mentok, gk usah dipaksa. ada kalanya kita memang bosan menulis dan merasa beban. semoga vie gak dapet feeling seperti itu ya. ;)

      Delete
    2. Mba Vie. Buat sambunganya dong. Jdin cerita versi pendek. Relation Ray ama La blm ckp "menggugah"

      Delete
    3. ayo... dibuat bentuk cerbungnya vie.. keren tuh si Ray sifatnya badboy banget, mobilnya keren2 pula. wkwkkwkwk

      Delete
    4. @Mba Delyse : mksh Mbaaaa...
      Uummmm,, d niat mw lnjut sih,,trz brusn d yg ngsh ide tmbhn bwt jd 'intrik'ny.. Tp tggu si 'mood' dtg dl yakz..(Sbr mnunggu khn?) Hehehe
      Blm mggugah soalny temany pan "Ibu",, xixixi
      Mksh udh bc n komen Mba..
      :D

      @Mba Cin : siaaapppp Mba Ciiiinnn,,tggu 'mood' dtg dl yh,,mw bkin crta yg 'hot' tp bln puasa,,wakakakak
      Iyaahhhh,,msh kbyg2 fast n furious 6 kmrn(pdhl nntnny udh lm) maklum,,Dr. Jd dwtny byk *alibi*
      Btw,,Alex udh dgnti sm Ray Mba?? Hahaha (buru2 smpen Alex)

      Delete
  3. Suka ma ceritanya..
    Pas bagian neila n bunda lg bcra,ƍäª tau knp,rsnya sedih bgd,pngen nangis jdnya... :'( *naluri seorg ibu..hehee*

    Lanjutkan cerita2 nya mba vie...
    Semangat y... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mksh Mba Donaaaa...
      Sbnrny Vie bkin adegan ntuh smbl nangis jg,, xixixi *curcol*
      Mksh udh bc n komen Mbaaaa..
      :D
      (Smg g d yg bc pas adegan kissny,,lp klo tayang pas puasa,,hehehe maap yh..)

      Delete
    2. hahahah... aku baca.. aku bacaaa..... cuit cuit.. cieh.. cieh.... vie........ kirr..... cuit cuit.....

      Delete
  4. waw,,bagus mbak vie,,pas adegan kebut2an jadi ikutan ngebayangin aku yang lagi kebut-kebutan...ahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mksh Mba Nitaaaa..
      Iyaahhh,,Vie jg,,berkat Ayang Vin Diesel di Fast n Furious 6,,jd msh kbyg2,, xixixi
      Mksh udh bc n komen Mbaa..
      :D

      Delete
    2. hahaha aku malah belum nonton fast and furious 6.. bagus katanya ya vie? semua tokoh keluar.. malah John stathon bakal jd penjahatnya berikutnya katanya "kata suamikku"

      Delete
    3. Keyeeeeeennnnnnn pake buangeeeettttt...
      Mobilnyaa yg bkin ngecess.. Xixixixi
      Abang Vin Diesel sllu bkin meleleeehhh...
      John Statham bkn Mba??yg maen di Transporter pan yh??(Bner g tuh jdulny,,yg ngnter2 brg pk mbilny)
      Dy ada di fast n furious 7 nnti(smg dlnjut bnern)

      Delete
  5. Semangat ya mbak Vie nuklirnya eh... Nulisnya maksute hehe... Ane cuma bisa sbg pembaca Aja Wkwkkwkwk , met puasa, met berbuka, met tarawih dkk ...

    mbak shiiinnnnnn ... Ayo lanjouuuttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mksh Mba Ashiaaaaaaa....
      Iyh,,Mba met puasa,,met berbuka,,met trawih n met sahur jg :p
      Mksh udh bc n komen Mbaa..
      :D

      Delete
    2. hahaha nuklir... bisa aja dirimu sist... mari kita lanjott... lanjot ngapain nih sist?/

      Delete
  6. vie baguuuus bgt ... Keep spirit y

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaaaaaayyyyyyyyyy... Apa kabaaarrr??kangeeeeeennnnn...
      Mksh Maaayyyyyy..
      Mksh udh bc n komen May..
      :D

      Delete
    2. apa may? sprite? hihihi :peace:

      Delete
  7. mbk vie makin bagus aja tulisannya......semangat trs ya mbk :-* makasih mbk cin :-* mbk yg drama seriesnya kpn dilanjut hehehe :)

    ReplyDelete
  8. Makasiihhhh Noooonggggg...
    Mksh udh bc n komen Noong..
    :D

    Iyh,,iyh,,Vie jg kgn,,smlm kpkrn Jung Nam n Jung Min ms.. ""‎=))""
    <<3> ªќªќªќª =D ªќªќªќª
    0^^0...

    ReplyDelete
    Replies
    1. eit..eit...eit... :siap-siap ambil langkah seribu: kabuurrrr sebelum ditagih... wkekkeke....

      Delete
    2. Cm seribu Mba??kekejarr lohh,,Vie seratus ribu.. XD

      Delete
  9. kece badai,,,,,, hohoho lama tak mampir dimari,,,, banyak ketinggalann deh,,,,, kisahnya menyentuh sekali,,,,,

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.