"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, July 21, 2013

CERMIN 25 - LOVE THE TUTOR SERIES - Diam-diam Suka oleh Iliana Lin


Story by +ILiana Lin 




Tahun ajaran baru saja dimulai. Jadwal pelajaran masih banyak yang saling bertabrakan. Hal yang membuat siswa merasa senang karena ada mata pelajaran yang terlangkahi tapi hal yang membuat guru merasa kesal karena terkadang harus memasuki kelas yang sama selama dua kali dalam sehari untuk satu mata pelajaran.


Alvian, ketua kelas XI IPS, sampai nyinyir mulutnya hanya karena menerangkan pada temantemannya akan perubahan jadwal pelajaran yang masih berantakan. Sebenarnya bisa saja jika Alvian ingin menuliskannya di papan tulis tapi ia tidak ingin melakukannya karena itu sama saja membiarkan temantemannya untuk membuat keributan dan juga kegaduhan dalam kelas. Paling tidak dengan mendengar jadwal yang didiktekan oleh Alvian, kelas akan menjadi tenang meski sejenak.

Seperti hari ini misalnya, kemarin sudah diumumkan bahwa pada jam pelajaran kedua adalah pelajaran Bahasa Inggris tapi hari ini tibatiba berubah begitu saja menjadi pelajaran Sejarah tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Beberapa siswa tampak langsung mengeluh karena mereka merasa sebal jika harus menghafal pelajaran yang di dalamnya terkandung banyak angka yang berupa tahun walaupun Alvian sempat menyisipkan kalimat kalau guru yang akan mengajar untuk mata pelajaran Sejarah adalah guru baru yang masih muda.

“Din, apa kamu sudah tahu guru baru itu? Aku dengar katanya gurunya seorang perempuan.”

“Belum. Aku hanya baru mendengar saja katanya orangnya baik…”

“Baik apanya dulu nih, caranya mengajar atau malahan tampangnya…?” goda Aldi, teman sebangkunya.

“Semoga saja keduanya,” jawab Udin nyengir sambil mengedipkan sebelah matanya.

Alvian menarik napas dalam sambil tersenyum sinis. Ia mendengar semua percakapan Aldi dan Udin yang duduk tepat di belakangnya. Kurasa tidak akan keduanya. Mana ada orang yang masih muda dan cakep yang mau jadi guru Sejarah? Mata pelajaran paling tidak menyenangkan sedunia, batinnya. Sementara Udin dan Aldi yang duduk di belakangnya masih sibuk membicarakan dan menerkanerka bagaimana sosok guru baru yang belum pernah dikenal asal usulnya oleh seisi kelas itu.

Entah karena masih merasa malumalu atau karena memang sudah tradisi jam karet yang fanatik, bel sudah terdengar sejak lima belas menit yang lalu tapi guru baru yang gencar dibicarakan seisi kelas itu masih belum juga menampakkan diri.

Beberapa anak tampak makin ribut dengan obrolan mereka masingmasing. Para kaum hawa sibuk bercerita tentang film Korea lengkap dengan para pemainnya yang keren, tidak ketinggalan juga jika ada lagu baru dari boyband atau girlband kesukaan mereka. Semuanya pasti dikupas habis tanpa ketinggalan satu berita pun. Sedangkan kaum adam lebih senang bercerita tentang kemenangan yang diraih oleh Manchester United pada pertandingan sepak bola yang berlangsung tadi malam.

Alvian menyeret tangan Dano, teman sebangkunya, memberi isyarat untuk keluar dari kelas saja karena hanya mereka berdua yang tidak terlibat dengan obrolan dari temantemannya yang lain. Dano pun mengikutinya dari belakang.

Guru baru saja bisa datang terlambat, mengapa siswa tidak bisa masuk kelas terlambat? Kalaupun akan ditanyai oleh kepala sekolah, tinggal jawab saja, kan tidak ada guru di dalam kelas.

Baru sampai di ambang pintu tibatiba langkah mereka berdua terhenti karena berhadapan dengan seorang wanita yang sedikit lebih tinggi dari mereka. Spontan Alvian tersenyum, mengangguk dan berlari kembali ke bangkunya.

Apa itu guru barunya?

Pertanyaan yang timbul dalam benak Alvian dalam perjalanan menuju ke tempat duduknya kembali. Sebelum duduk, Alvian kembali menoleh ke arah guru itu. Mengamati penampilannya dari atas sampai bawah dengan hatihati. Masih terasa hingga sekarang wangi parfum yang digunakan oleh guru itu, menusuk hingga ke dalam rongga hidungnya, wangi yang sempurna untuk seorang wanita yang anggun, cantik dan menawan. Begitulah deskripsi pertama dari Alvian saat berpapasan dengannya di depan pintu kelas tadi. Ia memegangi dadanya, degup jantungnya terasa berdebardebar.

“Selamat pagi, anakanak…”

Guru itu berdiri tepat di samping Alvian dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada. Mata Alvian langsung memperhatikan jarijarinya yang masih polos dari cincin. Wah, kenapa guru secantik dia belum ada yang punya, ya?! Atau, janganjangan dia sudah diperuntukkan untukku. Alvian tertawa sendiri dalam hati sambil membayangkan jika ia berdiri di samping guru itu sambil memegangi tangannya. Cepat Alvian memukul kepalanya dengan kepalan tangannya. Ia tidak boleh berpikir sejauh itu.

“Selamat pagi, Mbak Guru…” jawab segerombolan anak yang duduk di bangku belakang.

Siswa yang lain cekikikan mendengar penekanan terakhir dalam sapaan yang diucapkan oleh temantemannya itu. Jika dilihat dari wajahnya, guru itu memang masih terlalu muda, masih sangat muda bahkan untuk dipanggil “Ibu Guru”. Atau kemungkinan anakanak itu malahan sengaja ingin menguji kesabaran guru cantik itu dalam menghadapi anakanak didiknya.

Tapi ternyata guru cantik itu hanya tersenyum, mundur beberapa langkah sambil menunduk malumalu. Pandangannya menyebar ke seluruh penjuru ruangan. “Kalian memang pantas memanggil “Kakak” tapi hanya jika kita berada di luar kelas. Tapi kalau dalam kelas kalian harus tetap menghormati saya sebagai guru kalian…”

Seketika kelas menjadi gaduh.

“Kalau panggil Kakak, kita bisa dapat bonus nilai, yaaa?!” teriak Udin yang terkenal sebagai si penggoda wanita.

Guru cantik itu mengabaikan pertanyaan Udin dan malah mengambil spidol dari atas meja guru lalu mempermainkannya di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Hari ini saya tidak akan memberikan pelajaran kepada kalian…”

“Horeee…!” Seisi kelas bersorak riang sambil mengangkat tangan ke atas. Siapa yang tidak gembira jika pelajaran Sejarah tidak diajarkan? Apalagi jika guru itu kebanyakan mengobrol hingga melupakan mata pelajaran yang harusnya ia ajarkan, semua murid semakin gembira.

“Karena ini adalah pertemuan pertama kita maka mari kita memulainya dengan saling memperkenalkan diri…”

Nampaknya guru cantik ini gayanya santai dan cukup simpatik pada siswa, sayangnya ia mengajar mata pelajaran yang hampir dibenci oleh semua orang. Alvian mengeluh dalam hati. Hari ini ia memperhatikan guru cantik itu dengan baik karena kemungkinan ia tidak akan bisa memperhatikannya lagi besokbesok. Ia pasti akan lebih sibuk dengan pikirannya karena tidak ingin mendengarkan materi tentang Sejarah.

“Nama saya Violeta tapi kalian bisa memanggil saya dengan nama Ibu Vio. Saya sudah pernah mengajar pelajaran Sejarah sebelumnya di Kota Surabaya dan bagi saya pelajaran Sejarah adalah mata pelajaran yang paling menyenangkan sepanjang hidup saya. Hobi saya adalah membaca. Apakah ada yang ingin kalian ketahui lagi tentang saya?”

“Kok pelajaran Sejarah bisa menyenangkan, Bu?” Tanpa sadar Alvian membuka suara hingga membuat guru cantik itu tertawa.

“Kalian semua pasti merasa heran, mengapa saya bisa mengatakan kalau pelajaran Sejarah itu menyenangkan… Sebenarnya pelajaran Sejarah itu akan terasa menyenangkan manakala kita menikmatinya sebagai liburan. Kita akan membahasnya lebih jauh saat kita belajar nanti. Masih ada pertanyaan yang lainnya?”

“Statusnya apa, Bu?” teriak Udin dengan cepat bak disambar petir.

“Kalau masih ada lowongan di dalam sana, Udin mau mendaftar tuh, Bu…,” sahut Aldi yang diiringi dengan gelak tawa dan cemooh seisi kelas.

“Status saya masih terdaftar dan saya juga adalah seorang warga negara yang taat akan pajak…”

Tidak ingin berlamalama lagi, guru cantik itu langsung mengalihkan kalimatnya.

“Sekarang, giliran kalian yang memperkenalkan diri. Silakan tulis nama, alamat, dan metode belajar yang paling kalian senangi dalam secarik kertas…” Ibu Vio melirik jam di pergelangan tangannya. “Saya akan memberikan kalian waktu sepuluh menit untuk menuliskannya…”

Alvian mengernyitkan keningnya. Apa hubungannya alamat rumah dengan mata pelajaran Sejarah? Ia mengarahkan pandangannya ke guru cantik yang sedang berjalan menuju kursinya itu. Guru itu kemudian duduk sambil mengedarkan pandangan ke setiap siswa yang bisa diamatinya dalam beberapa radius.

Hanya beberapa detik, mata mereka sudah saling beradu. Tapi dengan cepat pandangan guru itu tertuju pada mading yang terpasang di tembok di dekat pintu masuk kelas.

Alvian mendengus. Jelasjelas ia merasa yakin kalau guru cantik itu sempat memperhatikannya tapi mengapa sesaat setelah mata mereka saling beradu, guru itu malah melengos. Aku memang ketua kelas tapi bukan berarti nilaiku harus yang paling bagus, kan?! Toh, mata pelajaran Sejarah juga tidak akan membuatku tidak naik kelas nantinya…

Tibatiba Alvian seperti mendapatkan ide yang menarik. Setelah selesai menuliskan nama dan alamat, Alvian menarik napas kemudian menulis dengan huruf kapital. “Metode apapun yang akan Ibu gunakan tidak akan pernah membuat saya tertarik dengan yang namanya pelajaran Sejarah, apalagi untuk menghafal angkaangka tanggal, bulan, dan tahun.”

Ia sungguh sudah tidak peduli bagaimana reaksi guru cantik itu nanti ketika membacanya. Ia tertegun sejenak dan bertanya pada dirinya sendiri dalam hati. Apa yang kamu inginkan, Alvian? Apakah kamu sungguh membenci Ibu Vio? Guru yang bahkan belum kamu kenal sama sekali. Bukankah tulisan yang kamu tulis itu akan menarik perhatiannya? Atau mungkinkah itu yang kamu cari darinya, perhatiannya?

Semua pertanyaan itu saling beradu untuk menemukan jawaban paling cepat dalam kepalanya. Belum sempat menemukan jawaban atas semua pertanyaan itu, Dano sudah lebih dulu menarik kertas yang berada di bawah tangan Alvian untuk dikumpulkan.

Satu per satu dibacanya tulisan dari kertaskertas itu sambil sesekali diselingi dengan gurauan yang akan mengundang gelak tawa seisi ruangan. Tapi ketika sampai pada nama Alvian, tidak ada reaksi apaapa di wajahnya. Ekspresinya tampak datar. Hanya tertegun membaca sebentar lalu sedikit tersenyum.

Alvian mengernyit. Guru itu tidak membaca tulisannya dengan keras seperti kebanyakan temantemannya yang lain. Beberapa dari temantemannya itu menginginkan metode pembelajaran dengan metode mencatat kemudian ceramah atau menerangkan dengan gambargambar ilustrasi dan terkadang diselingi dengan diskusi, mencari referensi di sosial media dan kemudian menonton bersama bagaimana gambaran sejarah dulu.

Sebenarnya Alvian berharap bisa melihat wajah cantik itu berubah menjadi galak atau minimal wajah itu akan pucat dan memerah tapi yang ada sekarang justru Alvian yang keringat dingin.

***

Jika hari biasa Alvian berangkat ke sekolah dengan Dano, hari ini ia berangkat sendiri. Semalam Dano meneleponnya dan mengatakan tidak bisa menjemputnya hari ini karena harus mengantar adiknya dulu ke sekolah. Lagipula setelah itu, Dano masih harus mengantar Ibunya pergi ke kantor. Lebih tepatnya lagi bisa dipastikan hari itu Dano tidak akan pergi ke sekolah.

Dengan terpaksa, Alvian mesti bangun lebih awal dan berebutan tempat duduk dengan para penumpang lain dalam angkutan umum yang diperuntukkan khusus untuk anak sekolah dan tenaga pengajar.

Ia menghela napas lega saat mendapati angkutan umum yang akan dinaikinya itu masih dalam keadaan tidak penuh. Itu artinya ia tidak perlu berdesakan dengan penumpang yang lainnya. Baru saja ia duduk, jantungnya serasa langsung berhenti berdetak saat orang yang disampingnya itu mengeluarkan suaranya.

“Alvian Prasetya…!”

Ia menoleh dan mendapati guru cantik itu ada disana. Astaga! Kenapa ia tidak menyadarinya sedari tadi? Sekarang guru Sejarah itu sudah duduk tepat di sampingnya.

“Selamat pagi, Ibu Vio…,” sapa Alvian sambil berusaha menyembunyikan wajahnya. Takut dikira tidak tidur semalaman karena wajahnya yang mendadak menjadi putih saking pucatnya.

“Kamu biasa berangkat ke sekolah dengan angkutan umum, yaaa?!”

Alvian mengangguk tapi dalam hati sambil menggigit bagian dalam bibir bawahnya. Sebenarnya, ia merasa senang karena bisa duduk berdampingan dengan guru cantik itu. Ia juga berdoa dalam hati semoga saja guru cantik itu tidak mendengar degup jantungnya yang berdebar kencang.

“Kapan ulang tahunmu?”

Ia langsung tersentak ke belakang begitu mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang begitu sangat tibatiba dan tidak memiliki ujung pangkal. Kali ini ia tidak ingin menyembunyikan wajahnya lagi. Ia memberanikan diri untuk menatap wajah guru cantik itu. Ia bisa melihat ada raut wajah yang serius terpampang disana.

“Kalau kamu keberatan Ibu mengetahuinya, tidak apaapa. Ibu hanya ingin tahu saja apakah kamu sendiri masih ingat dengan tanggal ulang tahunmu?”

“Tentu saja masih, Bu…” jawab Alvian tegas. Ia masih menatap wajah guru cantik itu dengan setengah jengkel dan setengah terpesona. “Kenapa Ibu ingin tahu?” tanyanya hatihati.

“Apakah kamu menganggap itu sebagai hari yang penting?”

Lagilagi pertanyaan yang aneh. Sudah sangat jelas kalau hari ulang tahun merupakan hari yang penting bagi setiap orang tapi akhirnya ia mengangguk mengiyakan sebagai jawabannya.

“Ibu tidak pernah memaksakan kepada siswa yang Ibu ajarkan untuk menghafalkan setiap tanggal, bulan dan tahun kecuali jika itu merupakan saat atau peristiwa yang sangat penting…”

Tanpa sadar Alvian membulatkan bibirnya hingga bibir bagian atasnya bertemu dengan bibir bagian bawahnya. Sekarang ia sudah menyadari arah pembicaraan guru cantik itu.

“Kamu jangan beranggapan bahwa pelajaran Sejarah itu hanya sekedar menghafalkan tanggal, bulan, dan tahun karena itu hanya merupakan bagian kecil saja dari materi pelajaran yang seharusnya kamu pelajari. Itu sama saja seperti dengan pelajaran Matematika, kamu harus menghafal setiap rumusnya. Sama dengan pelajaran Kimia, saat kamu harus menghafalkan setiap unsur periodik beserta perhitungannya. Sama juga dengan pelajaran Biologi saat kamu diminta untuk menghafalkan namanama ilmiah…”

Alvian terperangah. Meski seorang guru tapi sama sekali tidak ada nada menggurui dalam bicaranya.

“Apakah Ibu marah dengan tulisan saya yang tempo hari itu?”

Guru cantik itu tersenyum ramah. “Mengapa harus marah? Ibu hanya akan marah jika ternyata dalam ulangan nanti, kamu hanya mendapatkan nilai tujuh…,” ujarnya datar.

Alvian menelan ludah. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sulit dibaca. Ia teringat kembali dengan kesepakatan yang sudah dibuat di akhir jam pelajaran hari itu. Standar kelulusan untuk mata pelajaran Sejarah adalah tujuh. Tanpa sadar ia menepuk keningnya sendiri, menyadari kalau waktu itu yang mengesahkan nilai standar itu adalah dirinya selaku ketua kelas.

“Ada apa, Alvian?”

Dengan tegas ia menggeleng dan langsung melemparkan senyumannya. “Tidak apaapa, Bu…”

Perasaan kalut sekaligus lega bercampur dan menyeruak di dalam dadanya. Ia merasa ingin mengacungi jempol pada wanita yang ada di sampingnya itu. Sungguh hebat akibat dari katakata yang diucapkan dengan nada datar itu. Alvian merasa yang duduk di sampingnya bukanlah seorang guru, tapi sudah seperti ibunya… bahkan sekaligus merangkap sebagai kekasih…, mungkin.

***

“Alvian, sikap kamu kok berubah sama aku?”

“Maksud kamu?”

“Apa kamu punya cewek lain yang aku nggak tahu?”

Hening.

“Jangan purapura lagi, Alvian… Aku tahu dan aku sangat yakin kalau kamu sudah mulai main hati di belakang aku… Selama ini kamu selalu pergi dan pulang sekolah bareng sama Dano tapi beberapa minggu ini kamu lebih memilih untuk naik angkutan umum, kan?! Apa aku salah?”

Alvian tetap terdiam dan memikirkan semua yang dikatakan oleh Aya, kekasihnya itu. Tidak ada yang salah sedikit pun dari apa yang dikatakannya. Mungkinkah ia diamdiam sudah menaruh hati pada guru Sejarahnya yang cantik itu?

“Apakah kamu sudah mulai menaruh hati pada perawan tua?”

Perawan tua? Alvian tersentak dan mengulangi kata terakhir dari Aya. Ibu Vio masih muda dan lagi ia masih belum pantas jika harus menyandang status sebagai perawan tua.

“Kamu jangan mikir yang nggaknggak dong, Aya…” Alvian berusaha menenangkannya. “Bukankah kita masih sering jalan bersama setiap kamu minta aku untuk menemani kamu? Buktinya hari ini kamu minta aku datang ke rumah kamu, aku datang, kan…” Alvian berusaha mendapatkan pembelaan untuk dirinya sendiri. “Lagipula hubunganku dengan Ibu Vio hanya sebatas guru dan murid, nggak lebih.” Alvian menggelengkan kepalanya dan sengaja menyipitkan matanya, memberi penegasan kepada Aya.

Aya menunduk sambil menahan air matanya. Orang yang pendiam sepertinya memang sulit untuk mengungkapkan apa yang dirasakan melalui katakata. Ia hanya akan menunduk dan menangis.

Setelah saling diam cukup lama, Alvian memutuskan untuk pamit pulang. “Aku akan pulang dulu…”

Ia merenggut tangan Aya sambil menggoyanggoyangkannya di udara, berusaha membuat Aya mau mengucapkan sepatah dua patah kata walau gadis itu tetap tak bergeming. Akhirnya Alvian melepaskan tangan Aya dan dengan langkah panjang menuju ke tempat ia memarkirkan motornya.

“Alvian…! Sebenarnya apa yang kurang dari diri aku. Tolong kamu kasih tahu aku biar aku bisa mengubahnya. Aku yakin aku pasti akan bisa melakukannya untukmu. Kamu percaya sama aku, kan?!”

Alvian menghentikan langkahnya. Menatap lurus ke depan tanpa ekspresi yang berarti lalu menoleh menatap Aya dengan penuh penyesalan.

“Nggak ada yang harus berubah, Aya. Kamu tidak perlu berubah demi aku. Jika kamu berubah hanya karena ingin menyenangkanku maka kamu salah. Aku menyukaimu dengan apa adanya. Aku tidak mengharapkan perubahan apapun dari dirimu…”

“Lalu kenapa kamu melakukan ini padaku, Alvian? Kenapa?”

“Kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara yang baik lagi, Aya. Mungkin sebaiknya kita mengakhiri hubungan kita sampai disini saja…” Alvian membalikkan tubuhnya.

“Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Alvian…”

Tanpa mempedulikan teriakan Aya lagi, Alvian langsung menyalakan mesin motornya dan segera berlalu dari sana. Sementara Aya dengan mata yang masih berair tetap memandangi punggung Alvian hingga ia menghilang di sudut jalan.

***

Pagi ini Alvian bangun terlambat. Dengan terburuburu ia mengenakan pakaian seragam sekolahnya sambil menuruni anak tangga dengan melompati beberapa anak tangga sekaligus.

“Ma, Alvian langsung ke sekolah saja,” ucapnya tanpa melihat ibunya.

“Tidak sarapan?”

“Tidak. Nanti jajan di sekolah.”

Hari itu sudah seperti hari kiamat bagi Alvian. Ia naik angkutan umum yang ternyata sudah penuh sambil matanya terus mencari sosok guru cantik itu namun sayangnya guru cantik itu tidak ditemukan duduk di salah satu bangku penumpang. Selama dalam perjalanan, ia duduk dengan gelisah. Bahkan ia sampai mengutuk dirinya sendiri yang bangun terlambat sehingga tidak bisa bertemu dengan guru cantik itu.

Setibanya di sekolah, jam dimulainya pelajaran pertama sudah berdentang. Tidak ada kesempatan baginya untuk mencari dimana keberadaan guru cantik itu. Ia mendesah kecewa.

Pelajaran dimulai seperti biasa dan akhirnya pergantian mata pelajaran. Senyum mengembang di wajahnya saat menyadari yang akan masuk itu adalah guru cantik yang sudah ditunggunya itu dari pagi tadi.

Alvian terhenyak. Ternyata bukan guru cantik itu yang masuk melainkan guru cowok dengan postur tubuh tinggi dan tegap. Kulitnya yang hitam dan tatapan matanya yang tajam bisa menambah daftar kegalakannya. Seketika itu juga perutnya terasa mual. Di belakang guru itu, ada Ibu Sani, wali kelasnya yang sudah pasti akan memperkenalkan guru baru dengan kumis tipis itu.

“Anakanak, mulai hari ini dan seterusnya, Ibu Vio tidak akan mengajar lagi di sekolah ini. Kehadiran Ibu Vio disini bersama kalian selama beberapa waktu ini hanya sebagai guru honorer yang bisa dipindahkan kapan saja. Ibu Vio mendapat tugas dinas ke luar Pulau Kalimantan, sehingga sekolah juga tidak bisa menahannya lagi untuk berada disini. Ibu Vio juga berpesan pada kalian agar belajar dengan rajin dan maaf karena tidak sempat berpamitan pada kalian. Tapi baginya kalian semua adalah anakanak yang sangat menyenangkan…”

Setelah memberi pembukaan di awal, Ibu Sani meninggalkan kelas. Guru dengan kumis tipis itu langsung memperkenalkan diri. Beberapa anak cewek tampak antusias saat menyadari ternyata guru itu tak sesangar penampilannya. Bahkan ada yang sudah berbisikbisik di belakang ingin mengajak guru itu untuk makan siang bersama dengan alibi mengundangnya sebagai guru pribadi.

Sementara Alvian duduk dengan tenang di tempatnya dengan wajah yang tertekuk. Tidak ada semangat dalam dirinya sama sekali  saat melihat guru baru itu. yang diinginkannya hanya Ibu Vio. Kemana guru yang satu itu? Ia mulai merindukannya.

***

Alvian membanting tasnya di depan teras hingga isinya semua keluar dan berserakan dimanamana lalu menghempaskan tubuhnya di lantai berbahan dasar keramik itu. Ia menangis. Menangis seperti anak berusia 4 tahun yang merengek untuk dibelikan permen.

Selang beberapa saat, ia berlari ke kamar dan berdiri di depan kaca. Melihat bayangan dirinya yang terpantul disana. Ia tertawa geli melihat bayangan dirinya yang tampak lebih tua dua puluh bahkan mungkin tiga puluh tahun dari usianya hanya karena ia sudah menangis berjamjam.

Ia menantang bayangan dirinya dan menuding matanya dalam cermin. “Apakah itu adalah dirimu Alvian? Seorang cowok yang sangat mudah mendapatkan gadis manapun sekarang terkalahkan oleh seorang guru yang datang dan pergi sesuka hatinya?”

Tidak lama air matanya menetes. Ia mendesah dalam hati. Inilah akhir dari rasa sukanya yang selama ini hanya dipendamnya saja tanpa pernah berniat untuk mengungkapkannya. Kini ia telah kehilangan orang yang pernah dicintainya dan juga orang yang baru saja mulai akan dicintainya.


-       END





*iklan*PO Novel "Lu Tu Musuh GW Cong!" cukup kirimkan email dengan format : Nama, Alamat, No.telphone, Jumlah buku yang dibeli ke drama.story@yahoo.com @45.000/buku (belum ongkir)

9 comments:

  1. Komen dl,,komen dl,,komen dl sblm bc *sok sibuk*
    Mksh Mba Ciiiinnnn,,Mba Iliana Lin
    :D

    ReplyDelete
  2. bagus kok ceritanya......semangat terus*angkattangan

    ReplyDelete
  3. makasi banyak sista..... semangat menulis ya. :D meskipun yg komen dikit, yg baca ratusan kok. mungkin skrg banyak yg lg males komen, hahahaha..... semoga gak patah arang :) jangan menyerah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf yaaa kLo baru dibaLas ... Iyaaa ,,, makasih banyak yaaa udah dbantu mengepost kan tuLisan"Q ... Pasti gak akan mneyerah ... Hehehe ... Ada event nuLis Lagi gak ?!

      Delete
    2. skrg sih belum kepikiran sist, tp kl kamu ada tulisan yg mau diposting disini, dengan senang hati aku terima. kirimin aja ke email seperti biasa, ok? ;)

      nanti kita pikirkan cara membuat cerita yg lbih menarik lg selain melalui tema. ehehehe

      Delete
  4. Replies
    1. ayokk.. silahkan, skrg temanya bebas. km mau nulis apa aja boleh. kirim ke emailku ya di drama.story@yahoo.com

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.