"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, July 23, 2013

CERMIN 26 - LOVE THE TUTOR SERIES - You Had Me When You Teach Me oleh Hevi Puspitasari

Story by : +vie puspitasari 


I'm just listening to the clock go ticking
I am waiting as the time goes by
I think of you with every breath
I take I need to feel your heartbeat next to mine
You're all I see in everything

I just wanna hold you

I just wanna kiss you
I just wanna love you all my life
I normally wouldn't say this but I just can't contain it
I want you here forever right here by my side
(By My Side-David Choi)

“Kamu yakin sayang ga perlu Mom anter ke dalam?” tanya Mom di sebelahku dengan tangan yang masih memegang stir mobil.


“Mom, Alex udah SMP,” aku mengingatkan Mom dengan nada memprotes, perlukah aku menjawab pertanyaan Mom itu padahal tadi Mom sudah sepakat denganku?

“Oke, Mom cuma mau memastikan,” sahut Mom  sambil mengangkat kedua tangannya ke arahku.

“Nanti siang Mom ga usah jemput, Alex bareng sama Pandji,” aku langsung keluar dari mobil dan menuju gerbang sekolah yang mulai padat.

Aku menghela nafas lega ketika melihat mobil Mom yang mulai mengarah ke jalan raya, karena itu artinya Mom benar-benar mengikuti keinginanku, hal yang amat sangat jarang terjadi mengingat sifat Mom. Aku menghentikan langkahku ketika merasakan ada yang menabrakku dari belakang dan bersamaan dengan itu aku mendengar suaranya.

“Aduh!” pekik anak perempuan berambut sebahu yang menabrakku, dan ketika aku hendak memarahi anak perempuan atau siapapun itu yang menabrakku, aku hanya bisa terpaku begitu melihat wajahnya.

Tidak ada yang salah di wajahnya, justru terbilang sangat ‘biasa’ di mataku, tetapi matanya, dia memiliki mata terjernih yang pernah aku lihat dan itu cukup untuk menghentikan mulutku mengeluarkan kata-kata sinis kepadanya -hal yang selalu aku katakan setiap berada di kejadian seperti ini- siapapun dia.

Belum sempat aku bereaksi, dia langsung membungkukkan badannya, “Maaf, Kak, saya ga sengaja,” dan tak lama anak perempuan tak bernama itu langsung berlari menjauhiku sambil memegangi tali ransel yang tersampir di bahunya.

“Kasihan deh Lo, Lex. Belum apa-apa udah dikira senior, makanya punya badan sama muka jangan bongsor-bongsor,” ledek Rifai yang entah sejak kapan dia sudah ada di sampingku.

“Kapan Lo nyampe Fai?” tanyaku datar.

“Baru aja, yah ga lama setelah Lo ditubruk tadi. Eh, ngomong-ngomong tumben banget ntuh cewek ga Lo semprot?” tanyanya sambil tersenyum geli, “Jangan bilang Lo suka sama ntuh cewek,” lanjut Rifai sambil menunjuk mukaku.

“Emang dia ntuh Lo Fai, yang suka sama hampir setiap cewek?!” sahut Pandji di belakang kami, membuat kami langsung menoleh ke belakang.

“Yeee, maksud Lo?!” jawab Rifai tak terima.

“Udah, udah, mendingan kita masuk sekarang, ga mau khan kita jadi kena hukuman ga penting karena telat di hari pertama MOS gini?” leraiku dan berhasil, kami akhirnya berjalan beriringan menuju kelas.
-------

“Eh, eh, lihat, ada bule di kelas kita,” dan tak lama aku melihat beberapa anak perempuan di kelasku langsung melirik-lirik ke arahku. Hhh, ini yang membuatku malas sekolah di sini, seharusnya aku mengikuti Kak Randhy sekolah di Australia dan bukan Jakarta.

“Cuekkin aja, Lex,” Pandji menepuk pundakku dan langsung menggiringku ke bangku di pojokan, mengabaikan tatapan-tatapan ‘aneh’ mereka.

Ya, aku memang berbeda dengan anak-anak di sini, dengan wajah khas ‘bule’ karena terlahir dari blasteran Inggris-Jawa membuatku sedikit ‘menonjol’ dibanding Pandji dan Rifai. Hal inilah yang membuat Mom ragu untuk membiarkanku masuk seorang diri, setidaknya kalau dia ikut masuk, Mom bisa bertemu langsung dengan wali kelasku dan memintanya untuk ‘menjaga’ku selama tahun pertamaku di sini, yah, tahu sendirilah kalau tahun pertama itu tahun yang cukup sulit beradaptasi, terlebih lagi kalau menyangkut masalah senior-junior. Kalau meminta perhatian ekstra lebih kepadaku bisa diartikan sebagai menjaga, mungkin itu istilah yang tepat, walau tentu saja aku tidak setuju dengan istilah ‘menjaga’ yang dipakai Mom, aku sudah 13 tahun, di usiaku, Kak Randhy dan Kak Rindhy bahkan sudah dilepas untuk tinggal di asrama.

Walaupun sekolah ini termasuk sekolah favorit di Jakarta dan tak sedikit anak-anak blasteran sepertiku bersekolah di sini, tetap saja tidak bisa meredam reaksi anak-anak perempuan -juga lelaki- yang cenderung norak. Aku mungkin tak masalah dengan reaksi konyol anak perempuan, aku paling malas meladeni sikap anak lelaki yang bersikap seolah-olah aku ini saingan mereka, terlebih para senior yang menggunakan berbagai macam alasan untuk ‘mengerjai’ku. Hmm, oke, itu mungkin reaksi wajar dari naluri lelaki mereka yang merasa bakalan kalah saingan klo harus melawanku menarik perhatian anak perempuan. Hei, jangan salahkan aku karena terlahir dengan wajah tampan seperti ini, salahkan ayah mereka yang tidak menikah dengan wanita Inggris seperti yang dilakukan oleh Ayahku.

Lamunanku buyar ketika melihat tiga anak perempuan yang baru saja masuk ke dalam kelas sambil tertawa. Bukan karena tawa salah seorang dari mereka yang membuatku harus menoleh, karena terlalu kencang tentunya, tetapi karena aku melihat anak perempuan yang bertubrukan denganku tadi. Dia terlihat jelas sedang mengingatkan temannya itu dengan matanya, menyadarkan mereka, dengan canggung masuk ke dalam kelas dan menduduki kursi pilihan mereka dalam diam. Ada sebersit rasa senang melihatnya, membuatku tanpa sadar menarik bibirku dan membentuk senyuman, senyum termanis yang pernah aku keluarkan.

“Lex, Lo ngelihatin apa sih?” tanya Rifai menyelidikiku membuatku terpaksa mengalihkan perhatianku dari anak perempuan tadi.

“Ga lihat apa-apa,” jawabku sambil mengikuti percakapan Rifai dan Pandji dengan malas.
-------

“Anindya Maharani,” aku mendengar guru memanggil sebuah nama dan tak lama aku melihat anak perempuan itu mengangkat tangannya. Oh, itu namanya, setelah menunggu hampir 15 menit sejak guru masuk ke dalam kelas dan mengabsen kami, akhirnya aku tahu namanya, Anindya Maharani, nama yang cantik. Terimakasih kepada Pandji yang memilih tempat duduk strategis ini, membuatku dengan mudahnya melihat semua gerak-gerik Anindya  tanpa membuatnya merasa curiga.

“Lex, Lo dipanggil,” Pandji menyenggol lenganku, membuatku menoleh ke arahnya dan dengan cepat dia memberikan kode kepadaku untuk melihat ke arah depan.

“Alexander Widjanarko,” aku mendengar guru memanggil namaku dan aku langsung mengangkat tanganku, mengabaikan tatapan seisi kelas -kecuali Pandji dan Rifai tentunya- aku mengeluarkan senyum terbaikku dan berharap Anindya melihat senyuman terbaikku ini.
-------

“Aneh banget yah, masa ekskul jadi wajib begini sih! Kita udah mau naik kelas 2 loh, telat banget deh baru dibikin wajib sekarang!” gerutu Rifai saat dalam perjalanan menuju mobil jemputan Pandji diparkir.

“Lo udah kepikiran mau ikut apa, Lex?” tanya Pandji mengabaikan Rifai.

“Udah, gue mau ikut Taekwondo,” jawabku mantap.

“Taekwondo?” tanya Pandji dan Rifai bersamaan, aku menganggukkan kepalaku.

“Pasti ini karena Kak Randhy yah?” tanya Rifai sambil memperhatikanku.

“Ya, gue ga mau aja pas dia balik dari Aussie nanti makin merajalela sama gue, setidaknya gue bisa ngebales dia lah dikit-dikit,” jawabku iseng.

“Iya, sih. Gue klo punya kakak macam Kak Randhy yang hobinya ngusilin gue, gue pasti bakalan ambil keputusan yang sama,” Pandji menyahutiku sambil menganggukkan kepalanya.

“Eh, tapi kebayang ga sih nanti Kak Randhy klo dah balik bakalan kayak gimana? Sekarang aja dia udah segesit itu, yakin Lo bisa menang klo Kak Randhy ngisengin Lo?” tanya Rifai dan aku hanya bisa mengangkat bahuku sebagai jawabannya.

Siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi nanti? Setidaknya aku sudah mengantisipasi kejahilan Kak Randhy yang terkadang melebihi batas, yah, dalam batas anak-anak tentunya. Dia tidak pernah berbuat hal yang hampir mencelakanku pastinya.

“Kalian sendiri mau ikut apa?” tanyaku dan membuat mereka menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.

“Masih harus yah ditanya lagi?” Rifai dan Pandji menjawab pertanyaanku bersamaan.

“Ups, sori, gue lupa klo kalian pecinta basket. Terus Lo kenapa ngeluh ekskul yang dijadiin wajib, Fai?”

Pandji dan Rifai memang tidak mengikuti ekskul sejak awal kami masuk SMP, sama sepertiku, hanya alasannya yang berbeda, kalau aku karena malas, tetapi mereka karena sudah mengikuti klub basket di daerah rumah mereka dan sudah beberapa kali memenangkan pertandingan dari klub basket yang cukup bergengsi itu.

“Karena, klo ekskul dijadiin wajib, berani taruhan, pasti bakalan banyak yang daftar jadi anggota basket cuma buat jadiin pelengkap nilai aja. Bukan karena mereka mau sungguh-sungguh menambah skill basketnya,” Rifai dan idealisnya, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku sementara Pandji tersenyum geli mendengar penjelasan Rifa.

“Fai, Lo sadar ga sih? Kata-kata Lo barusan ga cocok keluar dari mulut anak umur 12 tahun, gue curiga jangan-jangan Lo sebenarnya udah 21 tahun yang terperangkap di badan anak umur 12 tahun,” ledek Pandji, membuat Rifai langsung melayangkan kertas yang sedang dipegangnya ke arah Pandji.

“Heh!! Maksud Lo?” sahut Rifai dan kami tertawa bersama, dan ketika menoleh, aku melihat Anin yang sedang bercanda dengan dua temannya di gerbang sekolah.

Dengan seragam putih birunya yang masih rapih, rambut sebahunya yang tertiup angin, suara tawanya yang renyah, senyum serta lesung pipitnya yang mampu menghipnotis orang yang melihatnya untuk ikut tersenyum, Anin terlihat sangat sempurna, terlebih dengan mata jernihnya yang bahkan sampai sekarang aku tidak tahu berwarna hijau atau biru, membuatku ingin terus menatapnya dan tak akan pernah merasa bosan.

“Lex, Lo ngapain sih bengong di sini? Ayo!” ajak Pandji sambil setengah menyeretku masuk ke dalam mobil, dan aku terpaksa mengikutinya padahal aku masih ingin melihat Anin.
-------

Hari ini hari pertama latihan Taekwondo setelah liburan kenaikan kelas dan selama 1 tahun terakhir aku hanya bisa memandang Anin diam-diam serta mulai memperhatikan gerak-geriknya yang terkadang mencuri-curi untuk melirik ke arahku, Pandji dan Rifai, walaupun aku masih ragu sebenarnya dia melirikku atau Pandji, karena arah matanya lebih mengena ke arah kami berdua dibanding Rifai, dan akan membuat wajahnya memerah ketika kepergok olehku. Entah mengapa aku mempunyai firasat buruk tentang ini semua, tetapi segera aku tepis, aku tidak mau mengambil kesimpulan yang salah sementara aku hanya bisa memperhatikan dari jauh seperti ini.

Tidak, belum waktunya aku mendekatinya, bagaimanapun juga kami masih 12 tahun mungkin perasaan ini sebenarnya hanya perasaan kagum anak-anak biasa, tidak lebih. Jangan, belum saatnya, aku tidak boleh terlalu terbawa suasana! Aku harus belajar dari pengalaman Kak Rindhy yang ketakutan setengah mati karena dikejar-kejar oleh teman lelaki di kelasnya dan membuatnya pindah sekolah saat itu. Tenangkan dirimu Alex, ini semua pasti karena matanya! Yak itu pasti! Mata terjernih yang pernah aku lihat. Oke, tarik nafas, Alex, keluarkan, kamu di sini sekarang untuk latihan Taekwondo! Fokus! Lupakan Anin sejenak!

Dan semuanya harus sirna begitu aku lihat Anin, sebentar, dia benar Anin? Dengan seragam taekwondo dan sabuk birunya, Anin melangkah pasti memasuki Gym, ditambah rambutnya yang dikuncir kuda ke belakang begitu membuatnya semakin cantik. Alex! Kendalikan dirimu!

“Lo Alex bukan? Yang selalu bareng-bareng sama Pandji?” sapa Anin membuatku terkejut, sejak kapan dia sudah ada di depanku seperti ini? Bukannya dia tadi masih di pintu masuk Gym?

“Eh, iyah, gue Alex yang selalu bareng sama Pandji,” jawabku gugup, sebentar, kenapa dia membawa nama Pandji di belakang namaku?

“Wah ga nyangka yah, akhirnya ada anak laki-laki di kelas kita yang ikut Taekwondo, gue pikir semua bakalan masuk ekskul Basket aja,” jawabnya riang setelah mengedarkan pandangannya ke sekeliling Gym, dan ketika aku melakukan hal yang sama, aku setuju dengan ucapannya, karena ada segelintir anak dari kelasku yang ikut ekskul ini, sisanya aku tak bisa mengenali mereka, dan tiba-tiba aku mengingat satu hal.

“Anin, apa Lo ga salah pake sabuk?” tanyaku tiba-tiba membuatnya mengerutkan keningnya dan mencoba memahami pertanyaanku yang seolah-olah aku ajukan menggunakan bahasa planet, dia melihat ke arah sabuknya.

“Ga, emang kenapa, Lex?” jawabnya ketika menyadari pertanyaanku.

“Lo beneran udah sabuk biru?” tanyaku tak percaya, dan tak lama dia tertawa, mengeluarkan lesung pipitnya.

“Hahaha, gue pikir gue salah pake ikatannya, ternyata Alex, Alex,” jawabnya sambil menggelengkan kepalanya, “Kenapa? Emangnya Lo berharap gue masih sabuk apa?”

“Yah, bukan itu sih maksud gue,” sahutku dan ketika aku ingin melanjutkan, pembicaraan kami terpotong karena ada yang memanggil namanya.

“Anin! Dipanggil Beum Sofyan,” panggil anak perempuan dengan sabuk merah kepada Anin.

“Iyah, Kak Sari,” jawab Anin setelahnya Anin kembali melihat ke arahku, “Sori, gue ke sana dulu yah, bye Alex,” pamitnya dan dia langsung berlari menjauhiku.

-------

“Jadi, Lo udah ikut Taekwondo sejak SD? Wow,” tanyaku ketika kami sedang mengobrol di sela-sela waktu istirahat kami, yang sebenarnya belum perlu kami lakukan mengingat pertemuan pertama latihan tadi hanya dihabiskan untuk perkenalan secara menyeluruh mengenai Taekwondo.

“Ya, kalau bukan karena Papah yang nyuruh mungkin gue ga kepikiran,” jawabnya sambil mengangkat bahunya.

“Jadi, alasan utama Lo ikut karena Bokap Lo?”

“Ga juga sih, dari awal pas gue lihat olahraga ini di tv, gue udah langsung jatuh hati, cuma yah,” dia menggantungkan kalimatnya, “klo bukan karena Papah yang kepengen gue bisa ngebela diri kalau terjadi apa-apa, Mamah ga akan pernah setuju. Karena menurut Mamah, Taekwondo itu termasuk olahraga yang cukup kasar buat perempuan.”

Yak, dan aku setuju dengan pemikiran Mamahnya Anin.

Bagimana bisa seorang Anin yang berbadan kecil, yang dengan mudahnya aku sembunyikan di pelukanku itu, memiliki alasan yang sangat masuk akal dibandingkan aku, unbelievable, dan lebih parahnya lagi dia sudah bersabuk biru! Kalau benar-benar kami berada dalam posisi tidak menguntungkan dan harus memakai keahlian ini, aku yakin bukan aku yang seharusnya melindunginya, tetapi justru dia yang akan melindungiku, seorang Alexander Widjanarko, yang memiliki tinggi badan di atas rata-rata anak lelaki di sini. Sungguh amat sangat ironis.

“Apa Lo ga ngerasain kesulitan awalnya?” tanyaku.

“Awalnya iyah, dan Lo pasti bakalan ngerasain sendiri nanti, tapi lambat laun, ketika Lo udah nemu ‘feel’nya Lo justru bakalan kangen kLo udah ga latihan, badan bakalan pegel-pegel ga jelas,” jawabnya sambil tersenyum dan memberikanku lesung pipitnya.
Aku baru mau membuka mulutku ketika kami mendengar panggilan untuk memulai latihan yang sebenarnya.
-------

“Lo ga ada masalah gue yang jadi guru Lo, Lex?” tanya Anin saat kami berjalan beriringan sepulang latihan.

“Kenapa harus jadi masalah?”

“Gimanapun kita kan 1 angkatan, Lex. Masa gue yang ngajarin Lo, ntar coba gue omongin ke Beum Sofyan biar Lo diajarin sama Kak Sari mulai minggu depan.”

“Sebenarnya yang jadi masalah itu karena 1 angkatannya kita atau Lo nya yang ga mau ngajarin gue?” tanyaku sambil mengangkat alis menatapnya, bagaimana bisa dia berpikiran seperti itu?!

“Karena 1 angkatannya, Lex,”jawabnya datar.

“Tapi dari kata-kata Lo barusan gue justru mengartikan Lo yang ga mau ngajar gue.”

“Ga, ga mungkin gitu, Lex. Gue cuma takut Lo yang ga nyaman karena gue yang ngajar, kita 1 angkatan, kita dari 1 kelas yang sama waktu kelas 1 kemarin, yah, kali aja Lo lebih milih diajar sama Kak Sari yang udah sabuk merah dan yang jelas-jelas lebih competen ngajar dibanding gue.”

“Gue cuma mau Lo, Nin, dan kalo Lo sampai ngomong ke Beum Sofyan buat nyuruh Kak Sari atau yang lainnya buat ngajarin gue minggu depan, tepat saat itu juga gue bakalan keluar dan ga peduli nilai ekskul gue yang bakalan hancur,” jawabku sungguh-sungguh dan dia menghentikan langkahnya untuk menatap gue tak percaya.

“Mana boleh begitu, ga, nilai ekskul Lo ga boleh hancur,” sahutnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya udah, makanya Lo ga usah mikir yang macem-macem!”

“Oke, oke, gue ga bakal mikir yang macem-macem lagi.”

Good, Deal?” aku mengulurkan tanganku bermaksud mengajaknya bersalaman.

Deal” jawabnya sambil menyambut tanganku dan dengan tegas mengguncangnya sambil tersenyum dan memamerkan lesung pipitnya yang amat sangat aku suka.

-------

“Wah, curang nih, kalian 1 kelas, gue sendirian dong 1 tahun ke depan,” gerutu Pandji ketika kami melihat ke papan pengumuman pembagian kelas 2. Aku dan Rifai masih 1 kelas, tetapi ternyata Pandji tidak, entah berdasarkan apa pembagian kelas ini dilakukan, karena jelas-jelas kami melakukan daftar ulang di saat yang bersamaan.

“Ji, Lo bisa duduk sama Anin, dia juga sendirian,” usulku setelah melihat ke daftar nama di kelas Pandji.

“Anin?”

“Iyah, Anin, temen 1 kelas kita waktu kelas 1 kemarin,” aku berhenti sejenak, mencoba menerka reaksi yang dikeluarkan Pandji, arrghh dia ga inget apa yah?!! “Anak perempuan yang Lo timpuk pake bola basket waktu Lo latihan di hari terakhir kita masuk di kelas 1 kemarin! Ah, jangan pura-pura lupa deh!”

“Ah! Iya, inget gue, Anin iyah, Anin namanya, hahaha, sori deh, Lex lupa gue.”

“Kebiasaan deh Lo, Ji! Ga bisa apa yah Lo upgrade memory Lo itu? Susah bener Lo inget nama orang.”

“Yee Lo kata gue komputer apa?” jawabnya sambil menepuk lenganku, “Eh, Lex, gue ru inget si Fai mana? Tumben belum dateng.”

“Wah, iyah lupa gue, gue janjian sama dia di gerbang sekolah, gue ke sana dulu yah!”

“Ngatain gue, Lo sendiri lupa.”

“Iyah, iyah. Eh, seriusan gue Ji, Lo duduk aja sama Anin, ga ada ruginya koq Lo duduk sama dia, dia pinter matematika. Jadi Lo bisa nyontek sama dia kLo lagi ulangan matematika,” sahutku sebelum akhirnya membalikkan badan dan meninggalkannya.

“Maksud Lo?” protesnya tetapi aku tidak terpancing, hanya tertawa sambil mengangkat sebelah tanganku dan berjalan menuju gerbang sekolah.

-------

Metode pengajaran Anin sangat mudah aku ikuti, dia melarang kami untuk memanggilnya Beum ataupun Sabeum, dia hanya mau dipanggil nama atau minimal kakak oleh anak-anak kelas 1 itu kecuali aku tentunya. Aku selalu suka setiap dia memperagakan beberapa jurus-jurus baru yang selalu dengan cepat aku hafal, dan yah, aku jauh lebih suka ketika dia membetulkan posisi badanku yang salah ketika mempraktekkan jurus-jurus itu, yang terkadang dengan sengaja aku lakukan hanya untuk mendapatkan perhatiannya.

Dia hanya bisa mendecak kesal setiap dia menyadari aku hanya melakukan dengan sengaja tetapi tidak berkomentar banyak, membuatku semakin menyukainya, semakin mencintainya. Ah, apa yang aku katakan barusan? Aku menyukainya? Suka dan cinta itu beda kan yah? Ga mungkin bukan anak kelas 2 SMP udah main cinta-cintaan? Gawat!! Ini pasti karena aku terlalu sering bermain dengan Anin dan teman-teman perempuannya semenjak Pandji 1 kelas dengannya. Ya, ini pasti karena itu! Kalau ga, gimana bisa aku jadi begini? Apa bahasa mereka kalau suka meledek Dita itu? Ah, galau! Aku ga mungkin galau kan saat ini?

“Lex!” aku menoleh dan melihat Anin berjalan mendekatiku di jam istirahat dengan wajah sumringahnya.

“Ya?” jawabku sambil memperhatikannya yang sudah memakai dobok (Seragam taekwondo) berkerah hitam, dia semakin cantik, membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya, haduh kenapa jadi deg-degan gini sih! Alex!! Sadar!! Aku mengedipkan mataku sekuat tenaga, berusaha mengembalikan diriku ke arah yang benar. Yeah, kayak bisa aja.

“Lo siap-siap yah, habis ini Lo bakalan Sparing, gue udah daftarin nama Lo ke Beum Sofyan dan dia setuju.”

“Hah? Maksud Lo?! Ah, becanda Lo! Ga mau ah, gue masih baru kali gimana bisa gue ikutan sparing,” pekikku tak percaya sementara dia hanya tersenyum geli dan memberikanku lesung pipitnya.

“Gue ga becanda, gue udah bilang ke Beum Sofyan dan dia setuju, dia bilang udah waktunya Lo sparing, jadi, ga ada masalah dong yah?” jelasnya tanpa menghilangkan lesung pipitnya itu membuatku menganggukkan kepalaku dan ketika menyadari  apa yang sudah aku lakukan, semua sudah terlambat dia langsung berlari ke arah tumpukan peralatan pelindung yang sudah disediakan.

“Eh, eh, tunggu, Nin!”

Ah, ya ampun, kenapa aku langsung ngangguk gitu!! Aarrggg!!!! Gila, gimana bisa aku sparing sementara aku baru aja naek ke sabuk kuning, ilmuku belum seberapa.

“Lex, nih pake dulu yah,” Anin menyodorkan pelingdung kepala, dada dan kaki kepadaku serta membantuku memakaikannya.

“Ini pasti akal-akalan Lo yah kan, Nin?”

“Akal-akalan gimana maksud Lo?” dia berhenti membantuku ketika mengatakan itu semua.

“Iyah, akal-akalan. Beum Sofyan ga pernah ngomong gitu kan?”

“Alex, Beum Sofyan emang ngomong gitu, Lo tahu kan klo Beum Sofyan itu mantan atlet pelatnas, dia udah bisa lihat kali mana yang potensial dan mana yang ga, dia udah lama bilang ke gue klo Lo itu ada bakat, bahkan dia udah ada niat buat masukin Lo ke list buat diajuin pas ada pertandingan antar club ataupun pertandingan antar sekolah bulan depan. Cuma gue nya yang belum kasih izin karena Lo masih sabuk putih waktu itu, sekarang kan Lo udah sabuk kuning, jadi udah waktunya Lo nunjukkin sejauh mana ilmu yang udah gue kasih ke Lo, anggap aja latihan sebelum Lo tanding secara langsung. Lo ga mau bikin gue malu kan cuma karena ketakutan Lo yang berlebihan gini? Lo ga mau bikin gue bangga karena salah satu anak yang gue ajar bisa dapat perhatian lebih dari Beum Sofyan kan?”

Aku tak bisa membalas perkataannya, otakku tiba-tiba blank. Gimana bisa gue nolak coba klo dia ngomong kayak gitu, Anin, kenapa sih Lo punya pengaruh hebat ke diri gue kayak begini???!!

“Oke, gue coba, tapi Lo jangan berharap terlalu banyak,” aku menutup mataku ketika mengatakan itu semua, tak berani melihat matanya yang jernih itu dan membuatku melakukan yang akan aku sesali nanti, memeluknya! Dan itu tidak akan sulit mengingat badannya yang tidak melebihi pundakku.

Gila, aku pasti sudah langsung dibanting kalo bener ngelakuin itu, jelas-jelas dia udah mau naek ke sabuk merah, makasih deh kalo aku harus keburu babak belur sebelum benar-benar melakukan sparing. Sebut aku lebay, tapi siapa yang ga luluh klo ngelihat wajahnya yang kayak gitu, wajah yang selalu hadir di setiap mimpiku belakangan ini. Oke, Alex, fokus!!

-------

“Anin, dia udah sabuk biru, apa ga ada yang lebih tinggi lagi buat jadi lawan sparing gue, hah?” protesku dengan nada sarkatis setelah melihat lawan sparingku yang sedang bersiap-siap, dan amat sangat jelas dia anak kelas 3, tetapiAnin hanya tertawa mendengarnya.

“Alex, Lo ga usah takutin sabuknya, sabuk ga berarti dia bisa hafal semua jurus yang udah dia punya, karena apa yang udah Lo hafal belum tentu bisa Lo ingat pas lagi tanding. Tanding Taekwondo itu sama kayak Lo lagi ulangan matematika, Lo tahu rumusnya, tapi Lo tetep harus improve di tengah-tengah ulangan klo ternyata jawabannya ga ada di antara pilihan jawaban. Semua butuh taktik, bukan hanya mengandalkan kekuatan sabuk Lo, untuk menakuti lawan.”

Aku terkejut mendengar penjelasannya, matematika sama taekwondo? Yakin dua jenis itu bisa dijadiin satu kayak gitu? Anin, Lo lupa kalau nilai matematika gue ga pernah bisa sebagus Lo? Ckckck.

“Lo tahu, gue pernah tanding sama anak sabuk merah strip hitam sementara gue masih sabuk biru waktu itu, dan ternyata gue bisa koq ngalahin dia dengan kekalahan telak. Lo pernah denger peribahasa, Don’t jugde the book …”

By its cover,” aku memotong ucapannya, “Ya, gue ngerti koq maksud Lo,” lanjutku sambil menganggukkan kepalaku.


“Nah, gitu dong,” sahutnya sambil setengah jinjit untuk mengacak-ngacak rambutku.

“Anin!” protesku dan dia langsung tertawa lebar, membuat perasaanku menghangat seketika.

“Oke, gue ga tahu ini bisa nambahin motovasi Lo apa ga, Beum Sofyan pernah ngasih tahu ini ke gue waktu sparing pertama gue, dan sebenarnya ga terlalu ngaruh juga ke gue, tapi siapa tahu ini pengaruh ke Lo.”

“Apaan?”

“Anggap aja orang yang di depan Lo itu orang yang udah ngerebut pacar Lo atau gebetan Lo atau cewek yang udah Lo taksir lama, incar bagian-bagian tubuhnya yang bisa nambah nilai Lo buat ngebales sakit hati Lo,” dia menjelaskan dengan raut wajah serius, dan mau tak mau kata-katanya membangkitkan semangatku, ga ada yang boleh ngambil Anin, ga ada!

-------

“Woww, klo tahu Lo bisa sebagus itu udah dari dulu gue izinin Beum Sofyan buat ajak Lo setiap tanding,” sahutnya antusias ketika aku selesai sparing dan walaupun hanya sparing biasa, tapi penilaian dilakukan seperti pertandingan Taekwondo pada umumnya.

“Lo sih, Nin, ga pernah ngasih gue izin, klo udah dari dulu kan kita mungkin bisa menang tanding kemarin. Lex, bulan depan Lo gue daftarin buat naik ke sabuk biru strip merah. Anin, ini jadi tugas Lo yah buat ngajarin dia biar lulus dan bisa langsung kita bawa tanding 2 bulan lagi,” jelas Beum Sofyan sambil tersenyum puas dan langsung meninggalkan kami yang masih terbengong-bengong.

“Gawat, Sabeum lagi ngigo kayaknya,” sahutku.

“Ga, Sabeum ga ngigo, gila! Keren! Wow, Alex, Lo bener-bener bikin gue bangga!” pekikknya sambil memegang tanganku dan Loncat-Loncar kegirangan.

“Eh, eh, tunggu,” sahutku sambil melepaskan tangannya, bukan karena aku ga suka dipegang tangannya sama Anin, tapi bentar, ini Anin ketularan ngigonya yah?

“Kenapa?”

“Anin, gimana bisa gue langsung naik ke sabuk biru strip merah sementara gue masih sabuk kuning,” jawabku dan dia malah terkikik geli mendengar jawabanku.

“Alex, sekolah resmi aja bisa ikut program Akselerasi, masa Taekwondo ga bisa?” jelasnya membuatku semakin bingung, akselerasi? Di Taekwondo ada gitu?

“Apa Sabeum ga salah lihat? Gue bisa ikutan percepatan kenaikan sabuk macam Akselerasi di sekolah-sekolah resmi gitu?”

“Ga, Lex, Sabeum ga salah lihat. Gue kan udah pernah kasih tahu, Sabeum itu mantan atlet, dan dia punya intuisi yang bagus untuk melihat mana yang berbakat dan mana yang tidak, dan Lo masuk ke kategori berbakat, sori yah gue ga bisa ngelihat itu di Lo selama ini,” dia langsung murung begitu menyelesaikan kalimatnya.

“Ga, gue ga nyalahin Lo, gue justru takut, apa kalian ga terlalu berlebihan nilai gue kayak gini? Gimana kalau ternyata gue ga sebagus yang kalian nilai?”

“Ya, anggap aja Sabeum lagi ga bagus feelingnya, hahaha.”

“Anin, gue serius,!” protesku.

“Hahaha santai aja, Lex. Ga ada ruginya juga buat Lo kan? Lo jadi menghemat waktu beberapa bulan bukan? Ga usah dijadiin beban,” jawabnya dan entah kenapa membuat hatiku sedikit lebih tenang.

“Oke, kalo begitu,” sahutku dan dia tersenyum.

-------

“Anin!” panggilku, bioskop hari ini penuh membuatku kesulitan untuk memanggilnya karena terlalu ramai, jika bukan karena Anin, Nifa dan Dita yang merengek memintaku, Pandji dan Rifai menemani mereka nonton film dengan alasan supaya diizinkan orangtuanya pergi di malam minggu seperti ini, aku tidak akan sudi.

“Lex, mana yang lain?” tanyanya kepadaku setelah aku mendekatinya.

“Belum pada dateng, dapet tiketnya?”

“Dapet!” jawabnya sumringah.

“Lo potong rambut?” tanyaku setelah menyadari ada yang berubah darinya, padahal siang tadi sewaktu di sekolah tidak ada yang berubah.

“Hah? Kelihatan banget yah? Jelek ga? Haduh, padahal gue cuma minta toLong dirapihin doang tadi, aneh ga sih, Lex? Pandji bakalan bilang apa yah? Ah, gue ke toilet dulu yah, ni tiketnya Lo pegang aja dulu, kLo anak-anak dateng bilang gue lagi di toilet yah,” cerocos Anin tanpa ada jeda sama sekali dengan wajah memerah dan langsung terburu-buru menuju toilet setelah memastikan aku menerima tiketnya.

Tunggu, tadi dia bilang apa? Dia nyebut Pandji? ‘Pandji bakalan bilang apa?’ Kenapa dia mikirin apa yang dibilang Pandji? Lalu kenapa wajahnya memerah ketika menyebut nama Pandji? Damn!! Jangan bilang dia naksir Pandji! Dari sekian banyak manusia kenapa dia harus naksir Pandji? Kenapa ga aku yang udah jelas-jelas suka sama dia?! Oh, oke, bukan salahnya dia juga, aku kan belum ngomong apa-apa ke dia, tapi masa iyah dia ga ngelihat aku?! Itukah alasannya dia hanya mengingatku sebagai orang yang selalu dekat dengan Pandji waktu pertama ketemu di Gym¸ dan bukan Pandji yang selalu ada di sekitarku?

Inikah artinya kenapa dia selalu melihat ke arah kami sewaktu kelas 1 dan ternyata dia sedang memperhatikan Pandji dan bukan aku? Sudah berapa lama dia memendam perasaannya ini? Sejak kapan? Kenapa aku bahkan ga bisa melihat semua ini lebih jelas? Tuhan, mengapa harus Pandji yang kau tuliskan di hati Anin? Kenapa bukan aku? Sakit, aku merasakan sakit yang teramat sangat di hatiku, bagaikan luka menganga yang disiram cuka, dan entah ada berapa rasa lagi yang sedang menggerogoti hati dan perasaanku saat ini, aku bahkan ga bisa menjabarkannya dengan benar. Ini pasti salah, ini ga mungkin benar, bisa jadi dia memerah karena udara yang panas, yeah, Alex cari alasan yang lebih masuk akal lainnya, panas? Di dalam bioskop full AC seperti ini?!

“Lex, mana Anin?” tanya Dita menyadarkanku dari lamunanku, dan tanpa sadar ternyata mereka sudah lengkap semua di belakangku.

“Ke Toilet,” jawabku dingin.

“Kenapa, Lo, Lex?” tanya Fai yang menyadari perubahan sikapku.

“Ga apa-apa,” seolah tahu mood ku yang sedang tidak enak, Fai tidak meneruskan pertanyaannya, karena dia tahu pasti aku yang tidak suka ada orang terlalu cerewet menanyai keadaanku.

“Hai semua,” sapa Anin, “Masuk yuk, filmnya udah mau mulai,” lanjutnya.

-------

Sepanjang film diputar aku benar-benar tidak ada di sana, di kepalaku berulang adegan demi adegan Anin yang terus memperhatikan Pandji di kelas 1 waktu itu, matanya yang selalu berbinar setiap menyebutkan nama Pandji di setiap obrolan kami waktu latihan, bahasa tubuhnya yang selalu nervous setiap di dekat Pandji dan bagaimana aku bisa melewatkan ini semua?! Sejak kapan? Bagaimana bisa?

Ah, mereka 1 kelas dan bahkan duduk di 1 bangku, dan terimakasih kepada ide brilianmu saat itu Alexander Widjanarko!! Look what you have done!! Kau sendiri yang menyodorkan Anin ke Pandji dan jangan salahkan Anin yang akhirnya memendam rasa ke Pandji, Pandji Ruspandji, sahabat dekatmu, orang yang selalu ada untukmu di saat kau sedang susah, Lex! Entah apa yang akan dikatakan Pandji setelah dia tahu kalau Anin suka sama dia, enggak! Pandji ga boleh tahu, dia ga boleh tahu Anin suka sama dia, ga ada yang boleh tahu!

Siapa tahu Anin cuma salah mengartikan rasa sukanya ke Pandji yang seharusnya cuma sebagai rasa kagum biasa, rasa kagum seorang teman kepada teman dan tidak lebih. Ya, pasti itu, dan sekarang tugasku untuk menyadarkan Anin dan mengarahkannya kepadaku! Cukup, sudah cukup aku menutupi perasaanku sendiri, aku menyukai Anin dan aku akan membuat Anin menyukaiku!

“Lex, filmnya udah selesai, Lo masih mau di sini atau ikut kita nyari makan?” suara Anin menngembalikan kesadaranku, membuatku terhenyak dan menyadari bahwa lampu bioskop sudah menyala dan layar besar yang tadi menampilkan adegan demi adegan film sudah menampilkan tulisan-tulisan berjalan yang menandakan omongan Anin tadi benar, film sudah selesai.

“Gue ikut kalian,” sahutku tanpa banyak fikir lagi dan langsung mendahuluinya, mengabaikan tatapan aneh dari mereka berlima tak terkecuali Anin.

-------

Sepanjang kami makan, aku lebih banyak diam, aku mencoba memperhatikan Anin lebih dalam, dan yah, semua yang aku takutkan terbukti. Anin menyukai Pandji, tetapi apakah Pandji menyukai Anin juga? Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan perasaanku? Oh, inilah hukumanku karena tidak berani untuk mengakui perasaanku sendiri dengan alasan klasik, persahabatan, dan sekarang semuanya sudah terlambat! Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Alex??!!

“Lex, lo jadi pendiam gini hari ini,” tegur Rifai ketika kami sudah berada di mobil Pandji dalam perjalanan pulang

“Gw ga apa-apa,” sahutku datar.

Guys, Gue suka sama Nifa, menurut Lo Nifa suka ga yah sama gue?”  tanya Pandji tiba-tiba.

 “Serius Lo? Sejak kapan?” Rifai bertanya dengan antusias sedangkan aku hanya bisa terdiam, Anin suka Pandji, Pandji suka Nifa, kalau sampai Nifa suka juga sama Pandji, ini berarti bencana buat Anin.

“Sejak gue diomel-omelin dia pas bola basket gue kena ke Anin waktu itu.”

“Lo yakin Lo suka sama Nifa dan bukan Anin?” oke, bilang aku gila karena bertanya hal yang amat sangat tidak membuat diriku sendiri ga nyaman, tapi aku harus tahu kenyataannya.

“Kenapa Lo bisa ngomong gitu, Lex?” sahut Pandji kaget dengan pertanyaanku.

“Yah, kan kalian sekelas, kenapa Lo justru suka sama Nifa dan bukan Anin yang jelas-jelas 1 bangku sama Lo, sering ketemu lagi,” jelasku.

“Gue juga ga tahu, gue juga bingung, tapi klo gue ga ketemu dia sehari aja rasanya ada yang kurang, gue kangen diomelin dia,” jawab Pandji.

“Hahaha, itu mah Lo suka sama omelannya bukan orangnya,” timpal Rifai.

“Yee ga gitu juga kali!” Pandji membalas timpalan Rifai.

“Terus Lo kenapa malah tanya kita ga tanya Dita tau Anin gitu? Kita mana tahu Nifa suka sama Lo apa ga,” jelas Rifai yang langsung disambut Pandji dengan antusias.

“Ide bagus, gue bakalan tanya sama Anin berarti besok, eh, ga, malam ini,” dan tak lama Pandji langsung mengeluarkan ponselnya.

Buru-buru aku menahannya, ga, jangan, Pandji ga boleh tanya ke Anin.

“Jangan, gimana kalau Lo pedekate dulu ke Nifa sambil lihat-lihat reaksi Nifa?” apa yang sudah aku sarankan? Bukannya ini bagus? Semakin cepat Anin tahu Pandji ga suka sama dia semakin cepat aku bisa ngedapetin hatinya bukan? Tapi, ga, aku ga mau ngelihat dia sakit, cukup aku yang sakit.

“Hah? Yakin Lo, Lex?” Pandji menaroh ponselnya kembali sambil menatapku ketika mengatakan itu.

“Ya, mendingan Lo pedekate dulu terus lihat-lihat situasi ke depannya gimana, baru deh kita ambil kesimpulan lagi nanti. Lo ga mikir nanti kalau Anin bilang langsung ke Nifa kaLo Lo suka sama Nifa dan Nifa langsung menghindar dari Lo gimana? Inget cerita Kak Rindhy gak yang langsung minta pindah begitu dia dikejar-kejar sama cowok yang suka sama dia?” ingatku.

“Yee, gue ga se phsyco itu kali,” sahut Pandji.

“Ah, masa?” ledek Rifai yang langsung disambut dengan lemparan kotak tisu dari Pandji.

“Cocok banget sih kalian itu, kaLo marah senengnya ngelempar barang,” sahut Rifai mengkritik kebiasan Pandji dan Nifa yang mirip, dan yah Rifai benar, mau tak mau aku tertawa mendengarnya.

Oke, sudah aku putuskan, aku akan memendam perasaan ini, aku tidak akan menunjukkannya kepada siapapun. Cukup aku sendiri yang tahu, dan sekarang waktunya bagiku untuk berada di sisi Anin, menemaninya, membuatnya tertawa, melindunginya dan akan aku lakukan apapun untuknya, tetapi tidak untuk memberitahukannya perasaanku kepadanya. Hei, cinta tak harus memiliki bukan? For now, this is enough, this is enough.

-------

Entah aku harus senang atau justru sedih mendengar berita ini, baru saja Pandji meneleponku dan memberitahukan bahwa dia sudah memberitahukan Anin bahwa dia menyukai Nifa dan meminta pendapat untuk menembaknya saat perpisahan SMP 2 minggu lagi. Pandji benar-benar tidak mau kehilangan waktu, setelah hampir 1 tahun terakhir melakukan pedekate ke Nifa dan mendapat respon yang tidak bisa kami terjemahkan dengan baik, dia akhirnya nekat untuk menanyakan ini semua ke Anin.

Dan yang tak bisa kusangka adalah Anin justru mendukung Pandji untuk menembak Nifa 2 minggu lagi, apa yang kau fikirkan Anin??!!! Bagaimana bisa kau melakukan itu semua sementara hatimu pasti sedang terkoyak??!! Apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin bukan aku langsung ke rumahnya saat ini juga?

Oke, sabar, Alex, hal yang pertama harus kamu lakukan saat ini adalah memastikan bahwa Anin baik-baik saja. Oh, siapa yang kau bohongi Alex? Bagaimana bisa dia baik-baik saja setelah mengetahui kenyataan bahwa orang yang dia sukai ternyata menyukai sahabatnya sendiri? Apa kau baik-baik saja ketika mengetahui Anin yang menyukai Pandji, Lex? Ga bukan?!! Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?! Sendiri, dia butuh waktu sendiri saat ini, oke, berikan dia waktu sebanyak mungkin untuk mengumpulkan kepingan hatinya dan aku akan memastikan ada di sampingnya kapanpun dia membutuhkanku.

-------

“Apa itu tadi, Lex?” Beum Sofyan menanyaiku yang masih ngos-ngosan setelah pertandingan antar club sambil mengangkat alisnya.

“Maksudnya, Beum?” tanyaku sambil menstabilkan nafasku yang masih ngos-ngosan.

“Apa yang ada di pikiran Lo tadi? Lo hampir aja matahin kaki Lo sendiri tadi! Berapa kali gue bilang, pertandingan Taekwondo bukan hanya mengandalkan tekanan dalam setiap tendangan maupun tangkisan untuk menjatuhkan lawan, tapi juga taktik dan strategi untuk mendapatkan nilai, dan jangan pernah pake emosi setiap Lo tanding sekesel apapun Lo sama lawan Lo, tetap pakai otak jangan ikutin emosi!” jelasnya setengah emosi sambil memberikanku air mineral yang langsung aku habiskan.

“Maaf, Beum,” pintaku tulus, ini pasti karena masalah Pandji kemarin, aku jadi tidak bisa fokus sama sekali.

“Ya sudah, jadikan pelajaran,” Beum Sofyan mengakhiri ucapannya tepat ketika dia mendengar ada suara langkah kaki mendekat, dan ketika ruang ganti dibuka, aku melihat Anin dengan wajah kuyu yang dipaksakan untuk terlihat tidak apa-apa memasuki ruang ganti dan mendekati kami.

“Beum, dipanggil Kak Sari,” Anin hanya memandang Beum Sofyan yang menuju pintu keluar ruang ganti setelah mengatakan itu, dan langsung duduk di sampingku tanpa ada minat untuk membuka percakapan.

“Habis ini bukannya Lo yang tanding?” tanyaku memecah keheningan yang terasa sangat aneh ini.

“Iya,” jawabnya sambil menghela nafas, “Lex, gue ga tahu apa yang merasuki Lo, tapi Lo yang tadi bukan Alex yang gue kenal, Lo kayak kesetanan,” lanjut Anin, oh ya? Dan seberapa dalam kamu kenal aku Anin sampai-sampai kamu ga pernah sadar ada aku yang selalu ada di samping kamu, bukan Pandji?

Seandainya aku bisa mengatakan ini dengan kencangnya biar Lo sadar, Nin, ‘iyah gue kesetanan karena Lo, Anin, karena Lo yang masih bisa bersikap biasa aja sementara hati Lo hancur remuk ga berbentuk selama 1 minggu terakhir ini.’

“Dan entah kenapa gue bisa ngerasain apa yang Lo rasain tadi, Lex, rasa putus asa Lo, emosi tak terbendung Lo, dan gue ga nyalahin Lo atas apa yang udah terjadi nanti, ga peduli walau kenyataannya Lo kalah, tapi setidaknya Lo bisa menang karena bisa sedikit melampiaskan sakit hati Lo yang entah Lo tujukan kepada siapa,” jelas Anin sambil menatap mataku, dan ya, Anin.

‘Ya, gue ngelakuin itu semua untuk membalaskan saki hati gue atas apa yang sudah Pandji lakukan ke Lo, ke gue, ke kita. Lo ga tahu betapa tersiksanya gue melihat sakit yang tertera jelas di mata jernih Lo itu, betapa frustasinya gue tidak bisa melakukan apa-apa untuk membalaskan rasa sakit Lo itu, gue cuma bisa jadi sandaran di belakang Lo’ seandainya aku bisa mengatakan itu dengan lantangnya ketika dia menatap wajahku seperti ini.

All the fears you feel inside
And all the tears you've cried
They're ending right here
I'll heal your heart and soul I'll keep you oh so close
Don't worry; I'll never let you go
You're all I need  You're everything

I just wanna hold you

I just wanna kiss you
I just wanna love you all my life
I normally wouldn't say this but I just can't contain it
I want you here forever right here by my side
(By My Side – David Choi)


Ga, ga boleh, ga sekarang, ga di saat-saat 1 minggu terakhirku sebelum berangkat ke Australia dan di saat aku bisa ada di dekatnya seperti ini, aku ga boleh bikin dia justru benci sama aku.

“Gue ke depan dulu, Lex. Doakan gue bisa menang yah, jangan sampe Sabeum ngamuk karena ga ada yang menang di pertandingan kali ini,” pamitnya sambil mengedipkan matanya dan tersenyum, atau lebih tepatnya memaksa untuk tersenyum, hal yang selalu dia tunjukkan selama 1 minggu terakhir, 1 minggu setelah Pandji mengatakan kebenaran perasaannya kepada Anin.

‘Kenapa lo ga melampiaskannya sih, Nin? Kenapa lo harus memendam semua ini sendirian? Ga bisa yah lo ceritain semuanya ke gw, Nin? Mau sampai kapan lo harus berpura-pura kuat sementara hati lo ancur kayak gitu?’ Seandainya aku bisa mengatakan itu semua kepadanya, seandainya aku bisa dengan mudah menghilangkan sakit hatinya dan merelakannya bahagia dengan orang lain. Akan jauh lebih mudah kalau aku melihatnya menangis meraung-meraung dibanding melihatnya berpura-pura tegar seperti ini. Aku mencintaimu, Anindya Maharani.

-------

Aku langsung duduk di samping Kak Sari yang heboh memberikan dukungannya kepada Anin diikuti oleh beberapa anak yang lain.

“Gimana, Kak?” tanyaku mengalihkan perhatiannya dari Anin yang masih berusaha keras membuat lawannya membuka pertahanannya dan memberikannya nilai.

“Anin udah mulai goyah, dia sudah mulai mengikuti emosinya dibanding taktiknya, entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini,” jelas Kak Sari tanpa mengalihkan tatapannya dari Anin yang sedang menerima serangan bertubi-tubi.

“Dia cuma lagi ngikutin cara menyerang lawannya, dia ga bakalan ngebiarin emosinya yang menang, dia pasti bisa ngendaliin dirinya,” sahut Beum Sofyan yang sedang duduk tegang memperhatikan Anin mencoba lepas dari serangan lawannya.

Ya, dia memang bisa ngendaliin dirinya, dia ga pernah bertindak berdasarkan emosinya, hal yang amat sangat aku kagumi darinya, tak peduli seberapa besar masalah yang sedang dihadapinya, dia masih bisa menunjukkan wajah tersenyumnya, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, walau pada kenyataannya sesuatu sedang terjadi di dalam hatinya. Anin, tak peduli seberapa besar jarak yang akan membentang di antara kita nanti, aku akan tetap menjaga perasaan ini kepadamu, tidak akan pernah aku biarkan perasaan ini padam, tidak akan pernah! Dan aku tak peduli orang akan menganggap ini hanya cinta monyet atau apalah itu, karena bagiku, cinta itu adalah kamu, Anindya Maharani.

No one else would ever do
I've got a stubborn heart for you
Call me crazy but it's true I love you
I didn't think that it would be you who made it clear to me
You're all I need

I just wanna hold you

I just wanna kiss you
I just wanna love you all my life
I normally wouldn't say this but I just can't contain it
I want you here forever right here by my side
(By My Side – David Choi)

-------

Suasana Gym malam itu sangat ramai karena hari ini akan diadakan pertandingan club taekwondo antar Negara bagian. Aku menarik nafasku, mencoba menghilangkan kegugupan betapa pentingnya pertandingan kali ini,bukan hanya mempertaruhkan nama club Taekwondo yang sedang aku naungi, tetapi juga masa depanku, masa depan bersama Anin di sisa hidupku, oh yeah sok yakin gitu lo, Lex!

“Alex, are you ready?” tanya Beum Jacobson, instrukturku di club, aku menganggukkan kepalaku dan dia kemudian memberikan beberapa instruksinya, memberitahukanku beberapa teknik yang bisa aku pakai malam ini mengingat betapa tangguhnya lawanku kali ini.

Dan ketika suara wasit memanggilku untu segera memasuki arena tanding, aku menutup mataku, mencoba memutar kembali ingatanku, menajamkannya dan membuatnya kembali memutar suara orang yang amat sangat aku cintai, suara yang selalu hadir di setiap aku hendak bertanding.

“Anggap aja orang yang di depan Lo itu orang yang udah ngerebut pacar Lo atau gebetan Lo atau cewek yang udah Lo taksir lama, incar bagian-bagian tubuhnya yang bisa nambah nilai Lo buat ngebales sakit hati Lo.”

Aku tersenyum mendengar suaranya bergema dengan amat sangat jelas di kepalaku, dan ketika membuka mata, aku merasakan semangatku sudah terpompa hingga ke seluruh darahku, membuatku merasa sudah tidak sabar lagi untuk merebut trophy kebanggaan dan menemuimu, Anindya Maharani.

-------

“Bener-bener yah gue ga nyangka ada orang senekat Lo yang mempertaruhkan kehidupan percintaannya di ajang pertandingan Taekwondo cuma buat mastiin apa keputusannya pulang ke Indonesia untuk selamanya itu bukan keputusan yang salah,” gerutu Kak Randhy setelah aku berada di rumah.

“Gue ga mempertaruhkan kehidupan percintaan gue, Kak. Apapun hasil pertandingan tadi, gue bakalan tetep balik ke Indonesia, gue cuma mau meyakinkan hati gue sendiri kalau semuanya bukan mimpi, kalau gue akhirnya bisa dan sanggup ketemu sama dia setelah 11 tahun lost contact dan akhirnya bakalan muncul sebagai bos baru di perusahaannya nanti. Ga ada salahnya nostalgia sebentar, gimanapun dia yang udah nyetak gue jadi sesukses ini di Taekwondo, sekalian kasih kenang-kenangan ke club sebelum gue cabut dari sana,” jelasku.

“Yeah, Look who’s talking! Setelah 11 tahun terpuruk dari cinta monyetnya, akhirnya manusia satu ini bisa juga memperjuangkan keinginannya,” ledek Kak Randhy sambil membuka botol minum yang diambilnya dari kulkas.

“Gue ga terpuruk, Kak, gw cuma mau kasih dia waktu, gw ga mau terburu-buru, dia harus bisa berdamai sama kenyataan dulu sebelum akhirnya bisa menerima gw di sampingnya. Dan gue harus sukses dulu sebelum ketemu sama dia, gue bakalan buktiin ke dia, kalo gue juga patut untuk diperhitungkan sebagai calon suami, dan bukan hanya sebagai seorang rebound guy.”

“Ya, ya, whatever! Tapi Lo nekat banget gimana kalo ternyata dia justru nemuin itu di cowok lain selama 11 tahun Lo ga ada kasih kabar ke dia?”

“Ga, dia bukan seperti itu, dan gw bisa jamin soal itu. Udah ah, capek ngomong sama Lo, Kak,” sahutku dan aku langsung ngeloyor pergi.

“Yeee, kalo udah kalah omongan kabur dia!” timpal Kak Randhy ketika melihatku berjalan ke arah tangga dan menuju kamarku.

“Kalo Kakak ga mau jadi babak belur, mendingan Kakak diam deh, jangan sampai muka Kakak gue bikin bonyok dan ga ada lagi yang mau pacaran sama Kakak. Harusnya kakak sadar umur, udah 30 tahun tapi tingkah masih kayak anak umur 13 tahun, yang senengnya ngeledekin gue,” ancamku sambil terus ngeloyor ke kamar.

“Lo ga adil bawa-bawa umur! Tau deh yang udah sabuk hitam tingkat 5,” gerutunya pelan, tapi aku bisa mendengar semuanya dengan jelas, dan aku hanya tersenyum mendengarnya.

-------

Dengan yakin aku memasuki hotel mewah tempat berlangsungnya pernikahan Nifa dan Pandji, aku memang sudah mengabari mereka bahwa aku terlambat, walaupun kenyataannya aku bisa hadir tepat waktu tetapi tidak aku lakukan, dan aku melakukan itu untuk membuat Anin bisa berkonsentrasi penuh pada perasaannya kepada Pandji yang harus di akhiri hari ini juga. Tidak mungkin bukan dia masih harus memendam perasaannya kepada suami dari teman baiknya? Bagaimanapun, dia harus berdamai dengan kenyataan.

Aku hampir lupa caranya bernafas ketika melihatnya dalam balutan kebaya modern yang diubahnya menjadi gaun unik, berwarna senada dengan kebaya yang dipakai Dita dan juga Nifa. Dia terlihat amat sangat cantik, bahkan jauh lebih cantik dari foto yang dikirimkan Rifai beberapa waktu lalu. Betapa aku ingin merengkuhnya dalam pelukanku, menyembunyikannya dari dunia yang terlalu kejam kepadanya, berkata di telinganya bahwa semua akan baik-baik saja, karena aku ada di sini. Oh Tuhan, betapa aku sangat merindukannya, perasaan cinta yang semakin meletup-letup di dadaku ini semoga menjadi pertanda baik bagiku.

Oke, bernafas, Alex! Inilah saatnya, saat dimana aku harus memperjuangkan apa yang sudah aku tinggalkan 11 tahun lalu.

“Hai, Lex! Sini!” panggil Pandji sambil mengangkat tangannya.

Dengan yakin aku berjalan mendekati mereka yang sedang berkumpul, aku tidak akan mundur lagi, Aku tidak akan menyerah dan aku tidak akan menghindar lagi, kau adalah milikku, Anindya Maharani, tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, aku akan membuatmu mencintaiku seperti aku mencintaimu dan tidak akan pernah aku lepaskan, tidak akan pernah.

All the fears you feel inside, And all the tears you've cried
They're ending right here,
I'll heal your heart and soul I'll keep you oh so close
Don't worry, I'll never let you go
You're all I need , You're everything

I just wanna hold you, I just wanna kiss you

I just wanna love you all my life
I normally wouldn't say this but I just can't contain it
I want you here forever right here by my side

No one else would ever do, I've got a stubborn heart for you

Call me crazy but it's true I love you
I didn't think that it would be you who made it clear to me
You're all I need

I just wanna hold you, I just wanna kiss you

I just wanna love you all my life
I normally wouldn't say this but I just can't contain it
I want you here forever right here by my side
(By My Side – David Choi)


---TAMAT---




*iklan*Jual Mukena Bali Online, hubungi : 32FDE75E atau 081246671304

12 comments:

  1. waah mb vie ini jd pov nya alex yaaa..
    kereen

    makash mb vie
    makash mb shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah Eka,, hehehe
      Mksh Ekaaaa udh bc n komen.. :D

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Mba vie......
    Huffhhh jatuh cintrong sama alex.... :*

    Mba vie bagus crtnya..lanjutin atuh mba vie...makasih y mba vie.. :D

    Wat mba kece,mba shin ({})Ʈƕǎƞƙƴǒǘ({}) y dah post crt mba vie ni...

    Hayuuu lanjutkan mba vie.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaaaa,,,mksh Mba Donaaaaa.. Mksh byk...
      Emmm,,lanjutin??umm,,lnjutin g yh??? *kedip2*
      #iseng
      mksh Mba Donaaaa udh bc n komen...
      :D

      Delete
    2. Lanjutin dong mba.. :D
      Nnt dona ksh ketupat deh..ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮‎​​

      Seneng bgd ma tokoh alex,smp kebawa mimpi...•◦°:pχii°◦•:Dχii•◦°:pχii°◦•

      Cermin2 karya mba vie jd favorit slain pstnya kisah2 dr mba kece.. :*

      Pkknya lanjutin ya mba vie... *ngacungin coklat*

      Delete
    3. Heee??ms ngrayuny pk ktupat duangz??sayurny g?? Hahaha
      Mksh Mba Donaaaaa,,mksh byk...
      peluk2*
      Doain yh si 'mood' msh btah di Vie biar bs lnjt.. ;D
      Waduh,,coklat sp tuh yg diacungin?? Xixixixi *kabuuurrr*

      Delete
  3. mbk pie makin keyennn aja tulisanya semangat trs ya mbk....thsnks mbk pie & mbk cin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaa,,mksh Nooonggg
      Mksh udh bc n komen Noongg..
      :D

      Delete
  4. Vie, minta d lanjutin boleh kn ya, xixixixixi
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea vie n mba cin
    Cemumut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh g yh??lnjutn g yh?? *kedip2*
      Xixixixi
      Mksh Mba Ndooong udh bc n komen
      :D

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.