"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, July 27, 2013

CERMIN 29 - LOVE THE TUTOR SERIES - KESEMPATAN oleh Novita Sembiring




KESEMPATAN
            Aku memasuki kawasan kampus baruku dengan rasa percaya diri. Dengan ransel yang menggantung di punggungku, kacamata “kutu buku modern” yang membingkai mataku, rambut kuncir kuda, kemeja kotak-kotak favoritku, jeans pudar kebanggaanku serta sepatu kets kesayanganku menemani langkah-langkahku. Yah...
di sinilah sekarang aku berada. Di sebuah kampus swasta yang tidak terlalu ternama. Kampus berlantai tiga dengan dominasi warna hijau dan putih ini menjadi pilihan terakhirku. Sebuah pilihan yang pada awalnya sungguh amat sangat tidak aku inginkan. Hanya karena di kampus ini terdapat jurusan yang WAJIB kupelajari, memaksakanku menerima keadaan ini. Sebuah jurusan hasil perdebatan sengit dengan kedua orangtuaku, yang mau tak mau harus aku pilih.

            Farmasi... itulah jurusanku, sebuah jurusan yang selalu diinginkan kedua orangtuaku, dengan alasan karena Farmasi merupakan jurusanku saat SMK dulu, maka aku wajib melanjutkan studi di Farmasi. Padahal seluruh hatiku sudah berpaling ke dunia sastra.

            Dengan percaya diri yang sudah mencapai batas minimal, kulangkahkan kakiku menuju lantai teratas gedung ini, memasuki kelasku. Beberapa teman baru yang ku kenal di masa-masa ospek tersenyum ramah padaku. Beberapa yang lain masih malu-malu memperlihatkan senyum manisnya. Aku memilih kursi di bagian belakang, karena aku masih malu untuk duduk di barisan depan. Cukup tahu diri dengan kondisi fisikku yang penuh dengan kelebihan. Yaa.. kelebihan lemak maksudnya. Satu-satunya kelebihan yang sangat mengganggu rutinitasku sehari-hari. Kelebihan yang selalu membuatku kehilangan percaya diri. Dan merupakan kelebihan yang mengajarkanku untuk menghargai setiap manusia bagaimanapun fisiknya.

            Dengan perlahan ku hela nafasku, memperhatikan sekelilingku, akhirnya aku menjadi mahasiswi. Suatu rasa bangga dan senang bercampur menjadi satu. Suatu keputusan yang cukup sulit untuk kuambil, setelah keasyikan bekerja tiga tahun lamanya. Ya.. cukup terlambat untuk kuliah. Tiga tahun yang lalu, merupakan tahun terburuk buatku. Kegagalanku masuk PTN favorit membuatku galau sepanjang masa. Hingga akhirnya keputusan merantau ke Pulau Jawa kuambil di tengah carut marut hatiku. Bekerja selama lebih dari dua tahun di sebuah apotek mulai membuatku jenuh dan akhirnya kuputuskan untuk berhenti bekerja dan melanjutkan jenjang pendidikanku.

            Aku bersyukur karena memiliki kedua orangtua yang mendukungku sepenuhnya untuk melanjutkan pendidikanku. Sehingga aku mempunyai kesempatan untuk membuat mereka bangga dengan keberhasilanku mencapai gelar sarjana.

            “Hai, namaku Lela, namamu siapa?” seorang gadis dengan logat Batak yang khas menegurku, membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum dan membalas uluran tangannya.

            “Sophia,” jawabku.

            Perkenalan kami pun berlanjut dengan obrolan seputar masa ospek kemarin dan masa-masa di SMA dulu. Obrolan tentu saja di dominasi olehnya. Aku orang yang pemalu di awal perkenalan, sehingga sulit bagiku untuk beradaptasi di sebuah lingkungan baru. Tetapi, setelah kalian mengenalku lebih dalam, kalian akan mengetahui bahwa aku adalah seorang yang bawel dan cerewet. Satu topik pembicaraan akan memakan waktu berjam-jam apabila kalian ajak aku untuk berargumen. Ehmm.. cukup aneh bukan? Pendiam diawal, bawel kemudian.

            Obrolanku dan Lela terhenti, saat seorang dosen memasuki kelas kami. Seorang wanita paruh baya, membawa sebuah buku tebal di tangannya. Dengan kacamata kuno bertengger di hidungnya, membuat dirinya terlihat sangat tua. Beliau memperkenalkan diri sebagai salah satu dosen di kampus ini. Tapi beliau belum mengajar kami, karena mata kuliah yang diasuhnya ada di semester kedua. Beliau juga merangkap sebagai kepala Tata Usaha di kampus ini. Ibu Siti namanya, sudah bergelar apoteker tentunya, beliau memberikan penjelasan tentang sistem perkuliahan di kampus ini. Memberikan motivasi dan masukan kepada kami. Dan setelah beliau selesai membagikan jadwal perkuliahan, KRS dan KHS, beliau mengadakan voting di kelas kami untuk menunjuk pengurus kelas. Jabatan Komting (Komisaris Penting) jatuh kepada lelaki kurus di ujung kanan barisan terdepan, Iwan namanya. Linda terpilih sebagai Sekretaris Kelas dan Evi terpilih sebagai Bendahara.

            Voting selesai dan Ibu Siti berpamitan untuk melanjutkan tugasnya di kelas sebelah. Ada tiga kelas mahasiswa baru untuk jurusan Farmasi ini. Salah satu jurusan favorit di kampus hijau ini.

            Hari pertama perkuliahan selesai tanpa materi perkuliahan. Mungkin besok semuanya akan dimulai, perjuangan meraih gelar sarjana. Perjuangan yang menguras tenaga, emosi, keringat dan air mata. Tapi, aku tahu semuanya akan terlewati dengan baik.

            Keesokan harinya perkuliahan dimulai. Untuk semester pertama, mata kuliah yang kami jalani belum sesulit yang di katakan orang-orang tentang Farmasi. Aku sendiri cukup menikmati perkuliahan ini. Hanya satu mata kuliah yang tidak bisa dinikmati, satu-satunya mata kuliah yang tak mampu kuselesaikan dengan baik. Biologi dasar, satu-satunya mata kuliah yang berhasil menghancurkan hati puluhan mahasiswa. Dengan rata-rata nilai E, membuat antrian mahasiswa dalam ujian perbaikan semakin memanjang. Bersyukur, aku masih bisa lulus dari cengkeraman Biologi, walaupun lulus dengan nilai pas-pasan. Setidaknya aku tidak harus mengulangnya di kemudian hari. Lega...

            Memasuki semester kedua, Farmasi mulai memperlihatkan taring-taringnya dalam mengoyak-ngoyak perasaan mahasiswa. Mulai padatnya jadwal yang berantakan, praktek yang tak kenal hati dan laporan serta jurnal yang selalu menanti. Berhasil membuat para mahasiswa seperti zombie, mata hitam seperti panda serta mulai menurunkan intensitas jadwal malam mingguan. Satu hal yang membuatku gembira, aku bisa mengurangi sedikit lemak-lemak yang ada di tubuh. Hahaha.. walaupun belum seberapa, setidaknya sudah mampu mendongkrak rasa percaya diriku, yang dulu ada di level minus, sekarang sudah ada di level satu. Masih cukup jauh untuk level sepuluh.

            Tahun pertama selesai di jalani tanpa hambatan berarti dan tentu saja tanpa tambatan hati. Tak ada yang mampu mengetuk pintu hati ini. Sampai... pangeran itu muncul di hadapanku. Seorang pangeran yang memasuki kelasku ini bukanlah pangeran berkuda putih, tapi ia adalah pangeran berkemeja putih, dengan dua buah pena di saku kiri kemejanya, dua buah spidol untuk menulis di whiteboard serta penghapusnya. That’s all.. itu saja. Tidak ada buku seperti dosen-dosen yang lain.

            “Selamat siang,” ujarnya dengan suara beratnya.

            “Siang, Pak,” teriak seisi kelas.

            “Kita mulai mata kuliah Morfologi dan Sistematika Tumbuhan ini,” dan beliau langsung memulai perkuliahan tanpa memperkenalkan dirinya. Wow.. luar biasa. Tanpa basa-basi, langsung ke topik kuliah. Kecerdasan yang dimilikinya, kemampuan menyampaikan materi yang sempurna, serta candaan yang pas komposisinya. Membuatnya menjadi dosen terfavorit di kelas kami. Tapi, bagiku dia bukan sekedar dosen. Dialah pangeranku, yang mampu mengobrak-abrik isi hatiku. Yang mampu menghipnotisku, hingga tak kusadari beliau telah selesai memberikan materi.

            “Baiklah, kita cukupkan sampai disini,” ucapan penutupnya dan langsung keluar kelas dengan langkah pastinya, dan tatapan mataku yang mengiringi kepergiannya.

            Setelah kepergiannya, seluruh kelas menjadi heboh. Khususnya para wanitanya.

            “Eh, Soph.. luar biasa bapak tuh ya. Baru kali ni loh, aku ketemu dosen kayak bapak tuh. Tanpa buku, berhasil ngisi empat papan tulis. Wow.. makan apalah bapak tuh, kok otaknya bisa encer kayak gitu ya?” Lela teman terdekatku tak henti-hentinya menyerocos menggambarkan sosok beliau.

            “Le, sepertinya aku udah jatuh cinta,” ucapku tanpa tersaring pikiranku.

            “Ha?? Serius Soph? Sama siapa? Senior kita tuh ya? Atau dengan bang Edo, asisten Kimia Fisika tuh ya? Aissh.. ceritalah fren..

            “Bukan, bukan dengan senior kita, tapi dengan bapak itu. Siapa namanya ya?” tanyaku padanya.

            “Bah, gila kau kawan. Masak jatuh cinta ama dosen. Udah tua lagi. Yang udah keseleonya syaraf-syarafmu itu? Mana bisa kau sama dia. Pasti udah ada anaknya tuh, bisa jadi anaknya seumuran sama kita. Aku tahu kau suka pria yang matang, tapi bukan juga yang hampir busuk kayak bapak itu kan? Macam tak ada cowok lain aja di kampus ini,” omelnya tak henti-henti.

            “Entahlah, Le. Ada perasaan aneh saat ku lihat bapak tuh pas masuk tadi. Perasaan yang ga pernah ada sebelumnya.”

            “Perasaanmu aja lah itu. Udahlah besok juga udah lupa kau itu. Ayo..pulang kita, laporanku belum siap. Besok diusir aku kalau ga siap itu laporan,” ajaknya.

            Langkah kakiku mengikuti Lela pulang, tapi pikiranku tetap padanya. Mungkin yang dikatakan Lela benar. Beliau terlalu tua buatku. Usianya mungkin seperti ayahku. Tapi otakku seperti tak mau tahu. Ia tak perduli. Yang ada disana hanyalah rasa cinta itu.

            Tiba-tiba aku teringat hal yang terpenting.

            “Lela, siapa nama bapak tuh?” tanyaku.

            “Bah, tak tahu kau nama bapak itu? Yang kelewatanlah kau Soph. Bapak tuh lah dekan kita. Pak Doddy Nasution. Itu aja kau tak tahu. Udah lebih setahun kau di kampus ini. Benar-benar udah miringlah syarafmu itu,” omelnya lagi.

            “Maklumlah kawan, kan baru tadi bapak itu masuk kelas kita. Kau pun tahu bapak itu karna beliau Dosen PA mu kan? Banyak kali gayamu,” cibirku.

            Dan dia pun menyeringai sambil menggandengku. “Sutralah, pulang kita.”

***

            Setelah munculnya sang pangeran kemeja putih, hari-hari perkuliahan tentu saja semakin happy. Semuanya berjalan seolah-olah tiada masalah yang terjadi. Walaupun letih selalu menghampiri, tak membuat niatku surut untuk menerima perkuliahan dari pujaan hati. Menunggu kehadirannya selalu menjadi penantian terindah buatku. Melihat wajahnya selalu mampu meneduhkan hatiku. Mendengar suaranya selalu bisa melambungkan anganku. Angan untuk bersamanya,  angan untuk memilikinya.

            Tak jauh beda dengan minggu-minggu sebelumnya. Hari ini pun menjadi hari penantian akan dosen teristimewa ini.

            “Udahlah Soph, ga datangnya bapak tuh. Biasanya kan kalau udah jam segini, ga datang lagi dia.”

            Lela adalah salah satu dari puluhan mahasiswa yang selalu mengeluh apabila menantikan dosen yang seorang ini. Mungkin bisa dipastikan hanya aku satu-satunya mahasiswi yang tak pernah mengeluh dalam menantikan dosen ini.

            “Yak, ampun Lela, sabarlah bentar lagi. Udah lama kita nunggu kan. Sayang kalilah kalau nanti bapak tuh datang.”

            “Isshh.. kau inilah. Cuman berapa orang lagi lah ini. Mana mau dia ngajar kita,” keluhnya lagi.

            “Eh, kemaren tuh pernah cuman 5 orang kita kan? Tetap mau bapak itu ngajar kan. Tenanglah kau, bentar lagi datangnya bapak tuh.”

            “Kalau lima menit lagi ga datang bapak tuh, pulanglah aku. Kau aja disini, bosan aku nunggunya. Entah apalah mau bapak itu. Dia-dia aja yang ditunggu pun. Macam tak punya kerjaan lain aja aku dibuatnya. Terus menunggu,” kicaunya tak henti-henti.

            Tak sampai lima menit. Pangeranku akhirnya muncul. Dari jarak dua ratus meter pun aku bisa mengenali mobil yang dikendarainya.

            Dengan perlahan, mobil Avanza biru metalik itu memasuki pekarangan kampus. Sebuah mobil yang selalu kutunggu. Mobil itu tidak terlalu mewah jika dibandingkan dengan mobil dosen lain di kampusku. Walaupun mobil itu biasa saja, tetapi mobil itu sangat istimewa buatku. Karena seseorang yang mengendarainya. Seseorang yang mampu membuatku tersenyum sendiri di depan cermin kamarku. Seseorang yang sanggup mengubah rasa malasku menjadi semangat yang membara. Seseorang yang bisa mengendalikan emosiku tanpa disadarinya. Seseorang yang membuatku rela menunggunya berjam-jam lamanya, tanpa sedikit pun keluhan dari bibirku, karena bibirku hanya mampu tersenyum padanya. Seperti sekarang ini, sudah lebih dua jam kami menantikannya. Seharusnya beliau mengajar kami jam tiga sore tadi, tetapi baru muncul sekarang, setelah separuh mahasiswanya kabur tak betah menanti lebih lama lagi.

            Mobil itu pun berhenti di pekarangan parkir di depan pintu kantin. Dengan gaya khasnya, beliau turun dari mobil, mengeluarkan sisir dari saku belakang celana panjang keper hitamnya. Dengan gerakan elegan yang selalu bisa menghipnotisku, beliau mulai merapikan rambutnya yang mulai memutih. Tanpa disadarinya, beberapa fans-nya tersenyum malu-malu melihat ritual turun mobilnya itu. Ya, kamilah para pengagumnya. Pengagum sosok sederhana nan istimewa itu.

            Setelah beliau selesai dengan ritual turun mobilnya, dengan langkah gagahnya beliau mulai berjalan menuju lobi kampus untuk selanjutnya menuju lantai tiga. Dan seperti hari-hari biasanya, kami mengekor di belakangnya. Hal ini kami lakukan, karena kami takut kehilangan beliau. Karena kesibukannya beliau terkadang lupa akan tugasnya mengajar kami. Sehingga kami harus terus mengikutinya dan memberitahukannya bahwa beliau ada kuliah bersama kami.

            Seperti hari ini, Komting kelas kami harus menunggui beliau di depan pintu kantor jurusan, agar setelah urusan beliau di kantor selesai beliau langsung menuju kelas kami. Karena apabila beliau tidak ditunggu seperti itu, beliau akan langsung pulang tanpa memberikan mata kuliah. Banyak yang mengidolakannya, tapi tak sedikit juga yang kurang simpatik terhadapnya. Banyak yang menganggap beliau sosok yang angkuh dan egois. Dan terkenal pula dengan pelitnya beliau dalam memberikan nilai pada mahasiswa.

            Tapi, bagiku dialah sosok sempurna. Tinggi semampai, bahunya bidang dan lebar, pinggang yang ramping, dan tak ada buncit di perutnya meskipun usianya lebih setengah abad. Wajahnya masih menyisakan ketampanan masa mudanya, rahang kuat khas pria Batak, hidung bangir yang terpahat sempurna. Mata indah yang menawan. Alis tebalnya yang mulai berwarna kelabu, selalu mampu membatku terpana. Dialah dosenku, dialah pengisi relung hatiku yang telah hampa sekian lama. Dialah ayang-ayangku, aku memberinya nama Mr. D. Singkatan dari nama beliau. Sungguh rasa kagumku telah berubah lama terhadapmu. Kini yang ada hanyalah rasa sayang tak wajar, rasa cinta yang ambigu. Rasa kasih yang tak mungkin terbagi.

            Rasa ini tumbuh tanpa bisa kuhalangi. Rasa itu semakin hari semakin menjadi. Semakin menjadikan aku makhluk yang tak tahu diri. Rasa yang bertepuk sebelah tangan tentunya, karena beliau tak kan mungkin membalas rasa ini. Dengan ketidakpeduliannya terhadap nama-nama mahasiswanya, cukup memberi tahu bahwa tak kan ada kesempatan itu. Kesempatan untuk ku bersanding dengannya. Kesempatan untuk memilikinya.


Aku tak mengerti
Apa yang kurasa
Rindu yang tak pernah
Begitu hebatnya
aku mencintaimu
lebih dari yang kau tahu
meski kau takkan pernah tahu
Aku persembahkan
Hidupku untukmu
Telah ku relakan
Hatiku padamu
namun kau masih bisu
diam seribu bahasa
dan hati kecilku bicara
Reff : Baru kusadari
cintaku bertepuk sebelah tangan
kau buat remuk sluruh hatiku
Semoga aku akan memahami
Sisi hatimu yang beku
Semoga akan datang keajaiban
Hingga akhirnya kaupun mau
Pupus -- Dewa
***




2 comments:

  1. keren ceritanya. kyknya diambil berdasarkan kisah nyata deh. ehhehe... tulisannya juga udah mantab, bahasanya kyk syair tapi mudah diikuti. udah gitu penulisannya juga cakep, tanda baca dsbnya pas...

    awal baca cermin ini jd senyum2 sendiri, trus udah pas ketemu endingnya rasa kasian sih ama si Sophia.... udah deh Soph... cari cowok lain aja.. yg masih muda... wkekekee......

    makasi ya sist Novi.. semangat selalu buat nulisnya, udah cakep kok. tinggal dikembangkan lagi untuk ide-ide cerita lain biar lebih tahu gmn caramu menceritakan suatu kisah. biar keliatan "oh... ini tulisannya Novita seperti ini stylenya..."

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mbak Shin buat kesempatannya,,,
      jadi malu saya..lol..
      sedikit kisah nyata yang dicampur dgn khayalan..
      ntar eike sampaikan pesan mbak buat Sophia..haha

      oke deh,,thanks buat pujian dan masukannya mbak,,(lonjak-lonjak bahagia)
      semoga bisa menyusul cermin2 berikutnya..aminnn,,,
      *beneran ga nyangka bisa buat cerpen ini,,,^_^

      gomawo..arigato,,bujur..muliate..sukriya,,trima kasih mbak Shin ,,, *big hug n kiss...

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.