"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Tuesday, July 30, 2013

CERMIN 30 - LOVE THE TUTOR SERIES - 5 TAHUN PENANTIAN - CHAPTER 2

Story by +Shin Jeon 

Chapter 2

Rapat wali murid akhirnya selesai juga, setelah mengucapkan salam pada Bu Maria, aku mencari Diana ke dalam kelasnya. Hari ini tidak ada les untuknya, mungkin kami akan berbelanja ke swalayan untuk membeli keperluan-keperluan rumah tangga. Meskipun itu bisa dilakukan oleh Bik Imah, tapi rasanya aku perlu mengalihkan pikiranku dari patah hati ini dengan berbelanja dan masak. Ya, aku akan masak nanti malam. Mungkin membuat bakso kesukaan Diana, atau perkedel kentang yang sudah lama tak kubuatkan.

Meski Diana bukanlah pemilih dalam hal makanan, tapi rasanya tetap salah bila aku membiarkan dia makan masakan buatan Bik Imah saja, aku terlalu larut dengan pekerjaan dan pikiranku sendiri.


“Nanti malam Mama mau masak buat Dian, mau dimasakin apa, sayang?” tanyaku bersemangat. Kami telah berada di dalam mobil ketika Pak Archibald memotong jalan di depan.

“Ma awas!!” teriak Diana. Hampir saja laki-laki itu menjadi korban kecelakaan. Apa yang dia lakukan di depan mobilku??

Jantungku rasanya hampir copot menyadari ada orang yang mungkin saja bisa terluka bahkan mati karena keteledoranku, tapi rupanya Pak Archibald memang sengaja menyetop mobilku. Kuturunkan jendela mobil agar bisa berbicara padanya.

“Maaf, Pak. Anda gak apa-apa, kan?” tanyaku bersalah.

“Tak apa-apa, Bu. Saya yang minta maaf sudah mencegat mobil ibu,” ujarnya dengan killer smilenya. Ya, Tuhan... Mas kenapa laki-laki ini begitu tampan? Bahkan melebihimu... ah.. maaf, Mas... Bukan maksudku membandingkan kalian, meski aku yakin kamu pasti tertawa mendengar kepolosanku.

“Ada apa ya, Pak?” tanyaku setelah berhasil menguasai diri dari efek senyuman maut guru anakku ini.

“Ibu pulangnya lewat mana, ya?” tanya Pak Archibald.

“Hm... ke Jatinegara, Pak. Tapi mau singgah dulu ke swalayan, ada yang bisa dibantu?”

Jantungku mulai berdebar-debar tak karuan karena mengira akan terjadi sesuatu yang kuinginkan, dan benar saja, Pak Archibald menanyakan bila dia bisa menumpang yang tentu langsung ku iyakan.

“Boleh, Pak. Silahkan, toh lewat juga kok,” jawabku berusaha menyembunyikan kegembiraanku.

Pak Archibald kemudian masuk ke dalam ruang guru dan mengambil tas kerjanya, dengan cermin spion, aku mengecek kembali penampilanku.

“Mami ganjen, deh... Udah cantik kok, Pak Archibald pasti buta kalau dia tidak tertarik sama Mami,” celoteh Diana yang membuka pintu mobil.

“Eh..eh.. kemana?” tanyaku padanya.

“Aku duduk di belakang, gak enak gangguin kesempatan orang pacaran, lagian pasti obrolan kalian membosankan, aku mau baca-baca buku aja di belakang sini.”

Aku mengikik geli dengan kelakuan Diana, dia memang mengerti maksud hatiku. Bukannya aku ingin mempertontonkan keahlianku menggaet laki-laki idamanku di depan anak kecil, tapi kapan lagi bisa sedekat ini dengan Pak Archibald? Aku sangat bersemangat sekarang.

“Maaf lama menunggu,” ujar Pak Archibald dari sampingku. Tubuhnya berjalan dengan tegap menuju pintu mobil di sampingku, diapun masuk dan duduk di kursi depan. Ah... Mas... jantungku semakin berdebar kencang, hampir sama kencangnya saat dirimu melamarku dulu pada orang tuaku.

Tak seperti dugaanku, ternyata setelah orang yang kumaksud berada di sampingku, mulutku seolah terkunci dengan rapat. Aku sama sekali tak berkutik di samping Pak Archibald. Sesumbarku untuk merayunya –meskipun hanya dalam hati- ternyata hanya isapan jempol. Aku terlalu takut dan malu untuk merayu laki-laki jantan ini. Ah... mungkin memang aku bukan type penakhluk laki-laki, karena dari dulu pun Mas Ferdy pula yang mengejar-ngejar.

“Swalayannya di depan, Ibu gak ke swalayan saja langsung?” tanya Pak Archibald padaku memecah keheningan.

Aku menjawab dengan tergagap, sungguh berada sedekat ini dengannya menimbulkan efek yang menakjubkan padaku. Grogi dan gugup luar biasa yang tak pernah kurasakan saat bersama dengan laki-laki manapun di dunia.

“Ah iya, eh tapi Pak Archibald kan belum sampai rumahnya?” tanyaku bingung.

“Pak Archi ikut ke swalayan aja.” Suara Diana memecah kekakuan kami, nampaknya dia mulai bosan melihat kepasifan ibunya. Maafkan Mami, nak... Mamimu menyerah, mungkin Pak Archibald bukan jodoh Mami... Dan aku meringis dalam hati.

Dan akhirnya kami bertiga berjalan beriringan di dalam swalayan, Pak Archibald mendorong kereta belanja, Diana dan diriku berjalan di depan mengambil barang-barang yang ingin kami beli. Sungguh aku begitu salah tingkah berjalan di depan laki-laki menawan ini. Pak Archibald hanya tersenyum melihat tingkahku dan Diana yang memborong begitu banyak barang dan perlengkapan lain yang setengahnya benar-benar tak perlu untuk kubeli. Semoga Pak Archibald tak menyadari kegugupanku.

“Ma, aku mau beli puding dan jelly ya,” pinta Diana. Sebelum aku menjawab dia bahkan telah berlari dengan girang menuju tempat puding, sungguh anak ini sangat suka puding dan jelly. Dalam sehari Diana dapat menghabiskan 1 liter puding seorang diri.

“Jangan lari, nanti nabrak,” teriakku padanya sembari menggeleng-gelengkan kepala.

“Anak sekarang...” lanjutku.

“Diana anak yang menarik, dia mandiri,” kata Pak Archibald di belakangku, ya tepat di belakangku, aku bahkan bisa merasakan hangat nafasnya di belakang tengkukku. Ya, Tuhan... tubuhku merinding...

Refleks aku menjauh dari pak Archibald, dia menatapku masih dengan senyumnya. Decak simpul disunggingkannya, “Tapi ibunya lebih menarik,” lanjutnya lagi. Er... Apa maksud pak guru ini?

Aku memilih mendiamkan saja ucapan tak jelas Park Archibald, sebuah senyuman kusunggingkan untuk menghilangkan kegugupanku lagi.

“Pak Archibald gak beli apa-apa?” tanyaku mengalihkan topik yang sedang hangat. Aku yakin bila Diana berada di dekat sini, dia akan mencubit lenganku karena membuang kesempatan untuk mendekati Pak Archibald dengan sia-sia.

Pak Archibald menggigit bibir bawahnya dan aku bersumpah itu adalah pemandangan terseksi yang kulihat setelah lima tahun lamanya menjanda.

“Ehm... Saya hanya membutuhkan satu benda, tapi rupanya saya harus berusaha lebih keras lagi,” senyumnya padaku. What the meaning-kah?

“Oh, begitu?” tanyaku tanpa perlu jawaban. Diana kemudian telah kembali dan kamipun berjalan ke arah kasir.

Perjalanan ke arah rumah Pak Archibald semakin hening, Diana memutuskan tertidur di kursi belakang karena kelelahan. Ya, saat yang tepat anak kecil... Mami kira kamu akan membantu Mami dengan celotehanmu. Arghh...

“Kenapa? Bu Netta terlihat gelisah? Apa saya saja yang mengemudi?” tanya Pak Archibald.

“Ah, gak usah, Pak. Saya enggak gelisah kok,” jawabku buru-buru. Masak sih dia menangkap kegelisahanku?

Di sampingku Pak Archibald menghela nafasnya panjang, kenapa? Dia kelelahan?

“Kalau Pak Archibald mengantuk, tidur aja, Pak. Nanti saya bangunkan kalau kita sudah sampai,” kataku. Akan lebih baik bagi kami bila Pak Archibald tidur sehingga aku tak salah tingkah berlebihan di sampingnya. Sungguh aku bagai remaja SMU yang sedang gelisah karena pujaan hati berada di samping.

“Panggil saya Archi, agar saya bisa memanggil anda Netta...” ujarnya tanpa menoleh padaku.

Jari-jari tanganku semakin erat mencengkeram kemudi mobil, debar jantung bertalu-talu dan nafas sedikit tercekat. Oh My God... Did he tell me to call him by his name??

“A...archi? Tapi kan anda gurunya Diana, ti..tidak sopan kalau saya memanggil anda seperti itu,” jawabku tergagap.

Pak Archibald hendak menjawabku namun kami telah tiba di depan rumahnya. Aku melongok ke dalam, sebuah rumah dengan pagar tinggi dan gerbang kayu mengkilap, bahkan ada sebuah pos satpam di samping pintu masuknya. Apakah dia tinggal di kos-kosan? Tapi kawasan rumah ini nampaknya baru dibangun karena aku tak pernah melihat bangunan ini sebelumnya.

“...Saya rasa kita memiliki pembicaraan yang belum tuntas, saya akan menghubungi anda nanti, Netta...” ujarnya sambil tersenyum, dan akupun menahan nafas. Dia memanggilku Netta, NETTA for GOD Shake!! Haruskah aku berteriak girang bagai remaja dimabuk cinta atau membeku dalam ekspresi datar nan kaku?

Pak Archibald tersenyum lagi tatkala tak mendapat jawaban dariku, bukan karena aku tak ingin, namun lidahku kelu sehingga tak satu katapun sanggup terucap.

“Ya sudah, terima kasih banyak atas tumpangannya. Saya cukup senang bisa bersama kalian hari ini. Hati-hati di jalan, Bu Netta.”

Setelah berpamitan, terbayang kembali senyum Pak Archibald saat berterima kasih padaku. Dia nampak sedih, sedihkah dia karena aku tak memberikan dia tanggapan semestinya? Tapi tanggapan seperti apa yang dia inginkan? Bukankah dia sudah memiliki tunangan? Atau pacar? Yang jelas mereka adalah kekasih, kan? Fiuhh...

“Mami payah...” tiba-tiba Diana terbangun dan mengomeliku.

“Lho, kok payah?” tanyaku tak terima.

“Pokoknya payah. Kalau gini aku gak bakal bisa punya Papi dalam waktu dekat,” katanya sebelum melanjutkan tidurnya.

“Eh... maksudnya apa? Diana??” karena dia tak menjawabnya akupun hanya bisa mengomel tanpa henti sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Ah.. aku sungguh bimbang...

~*~*~*~ 



29 comments:

  1. Diana msh kelas 3 SD? God! ko berasa feelnya udah anak SMA yah em..#garuk2 dagu sendiri :D
    mksh mba sin ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.... ehem...

      sama2 sista.. :D makasi ya udah mampir kesini mudah2an betah

      Delete
    2. iya nih mba shin, bru diksh tau sm temen hehehehe #senyum2 malu :D
      pasti betah deh, daftar jd penggemar setia mba shin #thumb hahahahahah :v

      Delete
    3. hahaha asik....punya penggemar baru... makasi ya sist.. :hug: jangan segan2 kasi kritik, saran dan komentar ya. ;)

      Delete
    4. sssiiiiiiaaappppp mba shin yg cantik dan unyu2 #senyum2 :3

      Delete
  2. teruskan mb shin... Thanx mb chin

    ReplyDelete
  3. Terpesona ama cerita ini...lanjutannyaaa mbaakk...skali lagi maturnuwun ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. asik.. kl udah astrid yg bilang terpesona artinya beneran.. wkekekeke... ehem...

      Delete
  4. Lanjoooott...º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin

    ReplyDelete
  5. Gosh! Ank kls 3 SD udh ngerti cinta??? Ckckck x_x
    Top mbak critany..:p
    Lnjuttt :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. lho udah donk... kl tiap hari direcokin ama Maminya buat nitip salam ke gurunya gmn gk ngerti? lol

      Delete
  6. Lanjuuuuut dong Mba, penasaran hehe :D

    ReplyDelete
  7. (ˇ▼ˇ)-c<ˇ_ˇ) Archibald
    (ˇ▼ˇ)-c<ˇ_ˇ) Netta...

    Pada payah... Kalah sama Diana...

    Diana (˘⌣˘)ε˘`) ....

    ReplyDelete
  8. Huaaaaa,,komeeennn dr pg g msk2.. Hukz
    Mba Ciiiinnnnn,,keyeeennnn..
    Lagiiii,,mw lagiiiiii.. Hahahaha,,,
    Mksh Mba Ciinnn..

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi viee.e. hehe sabar ya... pst diposting... :D

      Delete
  9. huaaaa kentangggg mbak shinnn,,,,

    ahh kayaknya diana yg lebih agresif bwt dptin papa baru niech hihi *tapi cocok kok mbak shin tipe ank kecil skrg pada sok tua smua klo ngomong #tengokkeponakanndiri* xixi :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa... iya donk, secara kan belum pernah ngerasain gmn punya Papa hehee....

      Delete
  10. hahahaha....diana emang hebat....

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Makasi Kakak..." kata Diana senang.

      Delete
  11. nah tuh bu netta pa archibald *bener ga tuh tulisannya hhe* udah ngasih sinyal2.. kenapa ga langsung di tangkep aja...

    kasian ntar diana lama lagi dapet papi barunya... *pisssss

    ReplyDelete
  12. Cek cek...blom Ada lanjutannya...*ngacir lagiii

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.