"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Sunday, July 28, 2013

CERMIN 30 - LOVE THE TUTOR SERIES - CERBUNG PENDEK - 5 Tahun Penantian oleh Shin Jeon


Story by +Shin Jeon 

Chapter 1 

“Mam... buruan dong ahh.... Aku kan sudah harus berangkat sekolah lima menit yang lalu... Gara-gara Mami harus make-up bikin aku terlambat, aku tidak akan mau nyampein salam Mami ke Pak Archibald!” teriak anak semata wayangku Diana dari pintu rumah.

Hari ini aku bersikeras mengantarkan Diana sekolah yang biasanya dilakukan Pak Karso karena aku harus menghadiri pertemuan wali murid dengan wali kelas. Dengan perhatian ekstra untuk wajahku di dalam cermin, maka kusapukan pemerah pipi untuk menambah kesan cerah pada kulit putihku. Kutepuk-tepuk pelan sebelum mengagumi betapa wajahku masih terlihat muda, bagai wanita di usianya yang ke dua puluh satu tahun, meskipun kini aku telah berusia kepala tiga. Sttt... tak usah katakan siapa-siapa, ok?


“Yak... Let’s go to school!! Mami siap, Sayang.....” teriakku bersemangat.

Diana hanya melengos malas dan masuk ke dalam mobil untuk duduk di kursi samping sopir. Kupastikan sabuk pengaman telah terpasang dengan baik pada tubuh anakku ini. Tahun ini, Diana sedang duduk di bangku kelas tiga SD, dia termasuk anak yang rajin di kelasnya, mungkin hanya akulah ibu yang tidak pernah meminta anakku untuk belajar dan ikut les, karena tanpa dimintapun Diana selalu mengikuti les-les itu dengan sukarela, dia memang senang belajar, rajin dan pintar, seperti Papanya, almarhum Papanya...

Mas Ferdy adalah suamiku, namun rupanya umur pernikahan kami tidak bisa seperti drama-drama di televisi, atau film-film kartun yang sering ditonton Diana yang menceritakan tentang kerajaan-kerajaan, pangeran dan putri raja. Happily ever after bukanlah kisahku dengan Mas Ferdy. Karena memiliki riwayat diabetes yang parah, akhirnya Mas Ferdy meregang nyawa setelah sempat koma selama satu minggu di rumah sakit. Mas Ferdy mengidap sakit jantung selain diabetes dan hypertensi, kuakui, dia memang bukan laki-laki tersehat di dunia. Bahkan almarhum Papa mertuaku juga meninggal di usia yang cukup muda dan kenyataan itu membuatku khawatir dengan masa depan Diana.

“Mam, jangan lewat lagi ya. Kalau Mama lewat lagi kali ini, aku benar-benar pasti dan jelas akan dipanggil oleh Kepala Sekolah karena sudah enam kali dalam sebulan aku telat. Bayangkan, Mam, enam kali!!” kata Diana sembari merengut, tangannya bersedekap di dada dan aku hanya bisa tersenyum masam.

Anak kecil ini pintar, dia tahu mengapa ibunya seperti ini. Diana dan aku... sejak kematian Mas Ferdy, bila orang lain melihat mungkin bagi mereka kami adalah sepasang kakak-adik yang berlawanan sifat dan karakter. Karena Diana di usianya yang ke delapan tahun, dia telah begitu dewasa dan mengerti apa yang ada dalam hatiku. Tanpa kukatakan pun, bocah menggemaskan ini telah mengerti apa motifku semakin rajin mengantarnya ke sekolah padahal pekerjaanku di toko begitu banyak.

Yah... sejak kepergian Mas Ferdy lima tahun yang lalu... aku... sungguh sangat kesepian. Tak ada satu laki-lakipun yang mampu masuk ke dalam hatiku. Banyak yang telah mencoba mendekatiku, melamarku, pria muda alias brondong, pria dewasa, bujang, lajang, duda hingga yang telah beristri bahkan nekat untuk menjalin hubungan denganku yang kesemuanya kutepis.

Beruntung aku bukanlah wanita miskin dan lemah yang bisa disetir keadaan. Mas Ferdy meninggalkan kami sebuah toko elektronik milik keluarganya yang diwariskan turun temurun. Toko ini telah memiliki cabang dimana-mana dan bergerak semakin besar hingga keluar kota. Maka bisa dikatakan, aku tak perlu laki-laki manapun untuk menopang kehidupanku karena aku bisa dan masih sanggup mengurus masa depanku dan masa depan anak kami, Diana.

Akhirnya kami pun tiba di parkiran sekolah, sebelum mengenakan tas sekolahnya, Diana mencium kedua pipiku dan berlalu masuk ke dalam kelas, rupanya lonceng baru saja berbunyi.

“Jangan lupa ya, Dian... Kamulah satu-satunya harapan Mami. Semangat!” ujarku setengah berteriak, masih dari dalam mobil.

Diana berhenti dan memutar tubuhnya, wajahnya merengut sebal.

“Mami lebay....” kemudian melanjutkan langkahnya ke dalam ruangan.

Aku tertawa kecil melihat tingkah anakku, anak gadis yang mewarisi kecantikanku dan sikap keras kepala ayahnya.

“Mas... Andai kamu masih hidup, kamu pasti bangga punya anak seperti Diana. Tapi kamu sudah pergi, Mas. Kamu sudah beristirahat diatas sana. Kami disini harus move on... Aku harus move on. Maafkan aku bila kini ternyata ada laki-laki lain yang mampu menembus benteng hatiku yang sebelumnya kukira hanyalah milikmu seorang. Kamu pasti ingin kami bahagia kan, Mas? Bila ternyata ini bukanlah untuk kebaikan kami, tunjukanlah sehingga aku bisa menghindarinya.”

Aku memandang jauh pada langit biru, pada awan berarak yang bergerak pelan di udara. Lalu, sebuah panggilan menyapa punggungku.

“Bu Arnetta?” suara itu memanggilku.

Aku menutup pintu mobil dan tersenyum menyambut pemilik suara dalam itu, begitu teduh wajahnya menatapku, menghangatkan hatiku seketika.

“Pak Archibald, panggil Netta aja,” ujarku malu-malu.

Laki-laki berkulit putih ini dengan senyumnya dan sebuah lesung pipi di bagian kiri telah mencuri hatiku saat pertama kali melihatnya di sekolah Diana. Dia adalah guru bahasa Inggris Diana, usianya tiga puluh lima, belum menikah dan belum terdeteksi bila memiliki pacar yang tentunya aku ketahui dari Diana.

Diana kutugaskan untuk mencari informasi mengenai Pak Archibald, dan dia tidak mengecewakanku. Bahkan beberapa kali Diana berhasil mengambil foto wajah Pak Archibald saat guru ini mengajar di kelas. Foto yang ironisnya juga ada di dalam handphoneku meski orang yang bersangkutan tak tahu menahu mengenai hal itu.

Pak Archibald tertawa kecil, “Bu Netta, Diana sudah masuk?” tanyanya kemudian.

Aku mengangguk, “Iya sudah tadi, buru-buru takut telat lagi katanya,” jawabku.

“Iya, bulan ini Diana sudah terlambat enam kali, untungnya dia anak yang pintar jadi tugas yang di dapatnya sebagai hukuman langsung dikerjakan dan semuanya benar. Anda pasti bangga memiliki anak seperti Diana, Bu.”

“Begitulah, Pak. Sejak kematian Papanya Diana, saya menggantungkan harapan dan masa depan saya padanya. Saya hanya sedih... Diana tidak cukup mengenal Papanya karena dia masih kecil sewaktu Papanya meninggal, saya khawatir Diana tidak memiliki figur seorang ayah dan saya tidak cukup memberinya kasih sayang yang bisa diberikan oleh seorang ayah,” tanpa kukehendaki air mataku menetes yang buru-buru kuseka. Air mata ini hanya membuatku malu di hadapan Pak Archibald.

“Apa-apaan ini...” pikirku dalam hati. Mengapa aku harus menangis? Sungguh memalukan...

Pak Archibald tanpa kusangka mengulurkan sapu tangannya untukku, “Ini... Pakailah. Pasti sangat berat menjadi single parent bagi Diana, Bu Netta adalah wanita tangguh. Diana pasti bahagia memiliki ibu seperti Bu Netta. Dia juga anak pintar dan berbakti, kalian ibu-anak yang sempurna,” senyumnya menenangkanku.

Ah... Pak Archibald... Bolehkah aku mengenalmu lebih dekat lagi? Meski kau adalah guru anakku... Apakah akan menjadi skandal bila kita bersama?

Aku menerima sapu tangan pemberian Pak Archibald, setelah berpamitan, diapun meninggalkanku lalu menuju ruang guru. Sedangkan aku, setelah merapikan penampilanku, akupun menuju aula utama tempat dimana pertemuan wali murid diadakan. Pasti sudah sangat ramai di dalam sana.

“Eh... Bu Netta, udah dateng? Sini..sini... Duduk sini...” panggil Bu Maria yang sudah aku kenal sejak Diana kelas satu SD dulu. Sejak saat itu kami menjadi teman baik, bergosip bersama hingga mengomentari penampilan setiap guru yang ada di sekolah ini. Bu Maria juga tahu mengenai perasaanku pada Pak Archibald, dia jugalah yang menyemangatiku untuk memulai lembaran baru lagi bagi hidupku.

“Bu Maria sudah dari tadi?” tanyaku setelah menjatuhkan pantatku di atas kursi kayu yang berderet rapi, setengahnya telah penuh oleh orang tua siswa.

“Baru aja, tadi nganterin bapaknya Ian ke bandara dulu, makanya buru-buru. Eh.. Bu Netta sudah lihat Pak Archie belum? Tadi aku lihat lho... Dia turun dari sebuah mobil Mercedes Benz merah yang dikemudikan oleh seorang wanita muda, jangan-jangan pacarnya, ya?” tanya Bu Maria entah pada siapa.

Meski Bu Maria tahu bagaimana perasaanku pada Pak Archibald, namun dia adalah wanita yang jujur dan ceplas-ceplos, maka tak heran dia menutupi mulutnya setelah mengatakan hal tadi.

“Ups... Maaf... Aku tak sengaja... Tapi aku benar-benar melihatnya, mereka bahkan berpelukan sebelum wanita itu pergi dengan mobilnya,” lanjut Bu Maria dengan wajah cemberut yang mengingatkanku pada Diana.

Dalam hati memang aku terluka, sedih dan kecewa. Tapi apa daya... Mungkin memang dia bukan jodohku, mungkin memang aku harus menjanda seumur hidup. Apa yang aku harapkan? Laki-laki setampan dan segagah Pak Archibald pasti sudah ada yang memiliki, usianya pun telah dewasa. Bagaimana mungkin orang sekeren dirinya belum memiliki kekasih hati. Ah... Aku hanya bermimpi menjadi kekasihnya. Meski demikian, mungkin seperti ini saja cukup... Aku cukup mengagumi Pak Archibald dari jauh, bukankah katanya “Asal dia bahagia, aku turut bahagia?”

Aku meringis mendengar permintaan maaf Bu Maria, “Tak apa, Bu... Saya juga sudah berkurang kok demennya. Sudah ada yang baru...” jawabku berusaha tertawa cekikikan.

Bu Maria langsung menyambar umpanku meski dia terlihat hanya setengah percaya. “Oh, ya? Siapa memang yang baru?” tanyanya penasaran.

“Itu tuh... Yang jadi Superman di Man of Steel, Henry Cavill.”

Bu Maria ikut terkikik geli dan mencubit lenganku, “Ah kalau yang itu saya juga doyan, Bu Netta... Bisa aja deh...”

Obrolan kami kemudian terhenti setelah ruangan itu penuh dan Kepala Sekolah mulai membacakan sambutannya. Dari sudut mataku, bisa kulihat Pak Archibald dengan kemeja putih lengan pendek dan dasi hitam bergaris abu-abu sedang tersenyum ke arahku, atau mungkin itu hanyalah khayalanku saja. Mengetahui laki-laki yang telah kutaksir selama setahun belakangan ini sudah memiliki pacar, hatiku melengos, aku menyerah seketika dan mendesah pelan.

“Mas... Mungkin dia memang bukan jodohku...” bisikku dalam hati pada Mas Ferdy. 


~TBC~



18 comments:

  1. Hla kok endingnya nggantung *penasaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. horeee ada yg penasarann... ihihihihi

      Delete
  2. Aseekkk cerbung baru...d tggu kisahnya
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin

    ReplyDelete
  3. Aahhh!!! Kok nanggung bgt???
    Gmna jdiny tu si Arnetta n Archibald???
    Double A!
    Ciayou!!!

    ReplyDelete
  4. Aaakkkkkkkk,,,,mauuuu lagiiiiiiiiiiiii
    Pak Archieeeeeeeeeeeeee...
    Mksh Mba Ciiiiinnnnnn

    ReplyDelete
  5. Penasaran nih sama lanjutannya.. Jangan lama2 ya.. Thanks mba shin..

    ReplyDelete
  6. Ini kenapa?? Kenapa ini?? Ini menggantung... Menggantung ini... Knp harus digantung? Digantung kenapa?? Kapan dilanjut?? Dilanjut kapan??

    Pokoknya secepatnya ya dilanjut...
    Semangat untuk penulis n mba shin...

    °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° 4 the story (˘⌣˘)ε˘`)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini namanya Certung.. cerita digantung.. ehhehe... sama2...

      Delete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.