"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Saturday, July 6, 2013

Lust of Shadow 3


harap yang belum cukup umur atau yang tidak kuat membaca adegan 23 tahun ke atas jangan klik ini ya. ciyus deh... 

Tak seperti dugaanku, kedua orang tua dan adikku menyambut kepulanganku dengan suka cita. Mereka semua menangisi nasibku, mereka memang tak tahu apa yang aku alami di rumahmu, yang mengambilku dengan paksa dari hidup keluargaku. Namun aku rasa orang tuaku tahu apa yang ku alami, karena mereka tak bertanya. Mereka menatapku sedih, namun haru melingkupi kami, kami pun berpelukan dan masuk ke dalam rumah.


Sebulan lamanya aku di rumahku, berada di tengah-tengah keluargaku lagi. Gembira.. dan hampa.. sekeras apapun aku mencoba melupakan dirimu, sungguh terasa berat karena tubuhku terlalu terbiasa dengan kehadiranmu. Kau dengan kekasaranmu padaku, kau tanpa mengutarakan maksudmu mampu membuatku tak berkutik hanya dengan sorot mata dinginmu.

Pintu kamarku diketuk dari luar, kedua orang tuaku tersenyum lemah dan meminta masuk menemaniku. Mereka duduk di sampingku, menggenggam tanganku dan mengelus pundak dan rambutku. Ibuku meneteskan air mata sementara ayahku matanya berkaca-kaca. Aku tak tahu mengapa mereka menjadi gelisah dan sedih seperti ini, aku tak sanggup menunggu sehingga kutanyakan mengapa mereka begitu.

Satu jam lamanya mereka menceritakan sebuah kisah padaku, kisah yang awalnya membuatku mengerutkan dahi hingga jantung berdebar dan terakhir menusuk hatiku dan tangisan membanjiri pipiku. Semua alasan mengapa kau memperkosaku, melecehkanku, membenciku sedemikan rupa dan menolak berbicara denganku tak lain adalah karena perbuatan ayahku pada keluargamu.

Ya.. Kau.. Pengusaha dermawan dan disukai banyak orang, hidupmu berubah sejak ayahku yang baru saja keluar dari gedung perusahaanmu dengan pikiran kalut dan kacau secara tak sengaja menabrak dua orang yang paling berharga dalam hidupmu hingga tewas. Kau begitu ingin membunuh ayahku namun kau urungkan ketika melihatku saat kita pertama bertemu.

Kau menukar seumur hidup nyawaku dengan nyawa dua orang itu, nyawa istri dan anakmu yang berusia sepuluh tahun yang tewas tertabrak di lobi gedung oleh ayah kandungku.

Setelah ayah dan ibuku meninggalkan ku seorang diri dalam kamarku, semua perasaan yang telah kupendam dan kubur dalam-dalam kini terangkat lagi di permukaan. Aku tak ingin memaklumi semua perbuatanmu itu padaku, aku tak bisa mentolerir kekejamanmu, aku tak bisa menghadapi semua kekasaran dan pelecehanmu. Hatiku terlalu lemah untuk segala penghinaanmu, namun juga aku tak bisa membenarkan perbuatan ayahku.. Semuanya salah.. dan akulah penebus dosa-dosa ayahku.

Kuhabiskan air mataku hingga keesokan pagi. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, aku tak mungkin kembali kesana dan menyodorkan diriku padamu. Aku masih memiliki sedikit harga diri meskipun bagimu diriku tak berharga sama sekali. Aku hanyalah budak pemuas nafsumu setelah istrimu mati!

Kujalani hidupku seolah tak ada yang pernah terjadi ketika usiaku delapan belas tahun, kulupakan semua mengenai dirimu, kau dengan bayang-bayang gelap yang kau tinggalkan padaku, kau dengan trauma yang kau berikan pada tidurku setiap malam. Aku akan selalu terbangun di tengah malam buta menyangka kau mendatangiku, mengira kau meminta penebusanmu. Namun kamarku kosong, hanya suara jangkrik berkumandang di udara subuh. Kau.. tak ada dimanapun. Mungkinkah aku akan bertemu denganmu lagi, bila iya.. seperti apakah itu? Akankah kau tetap memperlakukanku seperti layaknya binatang.. seperti yang biasa kau lakukan padaku dulu..

~~~~
Ivan De Finnegan

Menamati kuliahku dengan nilai yang cukup memuaskan, aku pun mengirimkan lamaran pekerjaanku dengan riang ke sepuluh perusahaan bonafid yang ada di Ibukota, aku optimis dari sepuluh perusahaan itu minimal lima akan menghubungiku. Dan benarlah dugaanku, tujuh perusahaan menelphoneku, mengatur jadwal interview dan berangkatlah aku pada pukul tujuh pagi dengan bus kota.

Kuperbaiki riasanku di cermin toilet gedung itu, sebuah gedung pencakar langit, kantor pusat sebuah perusahaan multi trading berbasis internasional yang bergerak di bidang eksport import dan expedisi barang. Aku melamar sebagai staf administrasi, namun karena lugasnya aku menjawab setiap pertanyaan, peng-interviewku menawarkan pekerjaan yang kuimpi-impikan, menjadi seorang sekretaris untuk salah satu kepala bagian.

Aku melupakan semua lamaranku di tempat lain, dengan latar belakang perusahaan yang sehat dan suasana kerja yang baik akhirnya aku menerima pekerjaan ini dua minggu kemudian setelah mereka menghubungiku lagi. Keesokan harinya aku telah bekerja, dengan setelan pakaian baru, rapi dan sopan, akupun menarik nafasku dalam-dalam sebelum menemui kepala bagian personalia yang akan mengantarkanku ke tempat kerjaku.

Mr. Hans membawaku naik ke lantai sepuluh, mengatakan padaku bahwa mejaku berada di dalam kantor atasan langsungku dan aku bertugas untuk memenuhi kebutuhan atasanku dan aku bisa menanyakannya langsung bila ada yang tak kumengerti. Namun hatiku sedikit gemetar ketika kubaca pada pintu yang dibukakan Mr. Hans untukku, aku tak menyangka akan dipekerjakan sebagai sekretaris langsung dari direktur utama. Sekretaris yang baru sedang cuti melahirkan, katanya. Dan dalam tiga bulan aku akan dikembalikan pada posku bila sekretaris yang lama telah kembali bekerja.

Kumantapkan langkahku, mendengar semua dikte tugas-tugas yang diberikan Mr. Hans, mengingat rangkaian jadwal untuk direktur utama dan memastikan semuanya tak tertinggal, setelah itu Mr. Hans meninggalkanku dalam ruangan itu seorang diri. Direktur utama belum datang, pukul sembilan pagi pintu itupun terbuka, tubuhku menegang was-was menghadapi pertemuan pertama dengan bosku. Lalu sesosok tubuh laki-laki muncul dengan wajah tersenyum, dia melihatku dan senyumnya semakin lebar.

Dia bisa menebak bila aku adalah sekretaris barunya dan akupun mengangguk, senang dengan keramahan laki-laki ini. Usianya mungkin sudah lima puluh tahun, dia begitu ramah, bisa kulihat dari senyumnya yang hangat. Dia menghampiriku dan aku bersiap-siap menyambut tangannya ketika pintu itu terbuka lagi. Tatapan mataku terkunci dengan sosok itu, sosok yang begitu kontras dengan sosok pertama yang masuk ke dalam kantor ini.

Tubuh kami menegang, seluruh indera penggerakku rasanya tak mampu diperintahkan lagi untuk bergerak. Aku ingin berlari dari sini, sejauh-jauhnya, secepat-cepatnya, namun kakiku kelu. Lidahku ikut kelu, tak mampu bersuara. Wajah itu.. wajah yang selalu terbayang dalam pelupuk mataku tiap kali terpejam, wajah yang sama dengan wajah yang empat tahun lalu kulihat saat kutinggalkan rumah pengurunganku dengan hati tercabik-cabik. Kau.. mengapa kau ada dihadapanku lagi?!?!

Kau memerintahkan orang itu untuk keluar dan meninggalkan kita berdua di dalam kantor ini, lalu kau mengunci pintu. Tatapan matamu tak pernah lepas dari tubuhku, bisa kurasakan panasnya tatapan matamu di sekujur tubuhku, seolah menelanjangiku dengan matamu. Kau masih sedingin dulu, kau yang dulunya begitu rapi dan bersih, kini telah menumbuhkan kumis dan cambangmu, dengan rapi, membuatmu terlihat lima tahun lebih tua dari usiamu yang seharusnya. Aku hampir lupa.. kini usiamu sudah hampir empat puluh lima tahun, hampir dua kali lipat usiaku.

Kau menghampiriku, tak memperdulikan ketakutan yang jelas terpancar dari mataku, kau semakin mempercepat langkahmu ketika melihat tubuhku gemetar karena lemas dan tenagaku terkuras oleh rasa cemas. Kau menangkap tubuhku yang hampir terjatuh karena lamanya nafasku tertahan, karena kekhawatiranku, aku bahkan tak ingat bagaimana caranya bernafas.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, kudengar kau memanggil namaku.. dengan lembut. Lalu kau cium bibirku... ahh.. kupejamkan mataku menerima ciuman bibirmu yang hangat, dalam.. kau menciumiku dengan lembut, ciuman yang kuingat pasti.. adalah ciuman yang sama ketika malam itu aku bermimpi kau menciumiku, mungkin itu bukanlah mimpi..

Bibirmu masih menguasai bibirku dengan posesif, tubuhmu memeluk tubuhku, mengunciku dalam tautan kedua lenganmu yang perkasa, kau mengelus punggungku, bisa kurasakan kerinduan di antara kita, tanganku pun ikut mengelus dadamu.. dada yang selalu kuimpikan untuk menjadi milikku namun tak pernah terwujud.

Lalu kau membawa tubuhku naik ke atas meja kerjaku, kau menyingkirkan semua barang-barang yang mengganggu, membuat gaduh dengan bunyi-bunyian alat-alat menulis dan komputer yang mencium lantai dengan kasar. Kau lalu menghujamiku dengan ciuman-ciuman bertubi-tubi, ciuman mendesak namun tak memaksa, tidak kasar seperti yang dulu biasa kau lakukan saat memperkosaku. Kini kau menciumi dengan posesif namun lembut, kau juga menciumi pipiku, keningku, hidungku, mataku.. cambang dan kumismu menggelitikku, membuatku geli dan terangsang.

Tanganmu mengelus payudaraku dari balik pakaian kerjaku, lalu tanganmu yang biasanya terlatih untuk mengoyak kini membukai kancing bajuku dengan pelan, sesekali kau akan mengelus kulit tubuhku, membelai dengan sayang hingga akhirnya semua kancing terlepas sudah. Kau tak banyak bicara seperti dulu, namun aku terbiasa dengan itu. Tanganmu membelai dan merangkum payudaraku, genggaman tanganmu sempurna pada pucuk payudaraku yang telah mengeras karena rangsanganmu pada tubuhku. Tak lama kait payudaraku pun terjatuh di atas lantai berkarpet.

Kini giliran pakaianku teronggok begitu saja, lalu jasmu, dasi, kemeja dalam, menyusul terbuang tak dihiraukan. Aku tak mengerti mengapa aku mau semudah ini jatuh dalam pelukanmu, kau bukan siapa-siapaku, aku tak wajib untuk memuaskanmu lagi. Namun perlakuanmu padaku kali ini membuatku tak sanggup menolak, aku merindukanmu, aku merindukan belaian tanganmu pada tubuhku, lebih lagi kau begitu lembut, sangat jauh berbeda dengan dirimu yang kukenal dulu.

Tanganmu telah bermain dalam liang vaginaku, memutar daerah yang telah basah akan cairanku, kau tersenyum puas, menyadari bagaimana kau telah berhasil menggoda dan merayuku hingga terangsang. Kau bahkan mendesakkan penismu yang telah membesar dan kuat, kau ingin mengenalkan penismu padaku, dan aku tak sabar ingin mengenalnya. Selama itu dulu kau hanya melakukannya untuk kepuasanmu, sekarang kau melakukannya untuk memuaskanku.

Permainan tanganmu membuatku hampir kehabisan nafas, kau masih menciumiku dengan bernafsu, kau menghisap lidahku, memilin dan mengecup permukaan bibirku, habis.. Tanganmu mulai menusuk dengan cepat keluar masuk vaginaku, menimbulkan suara vulgar yang semakin merangsang gairah kita, aku tahu kau juga terangsang mendengarnya dari sorot matamu yang melebar pada pupil hijau kebiru-biruanmu itu.

Aku memekik ketika kau memberikanku orgasme itu, orgasme yang tak kalah nikmatnya dengan orgasme yang kuingat dulu saat kau bercinta denganku, tengah malam itu. Lalu kau menarik turun celana dalamku, dalam hati aku berteriak untuk menghentikan perbuatanmu, tapi aku tak kuasa. Tubuhku lemas menantikanmu, vaginaku menginginkan dimasuki oleh penismu, penis yang memenuhiku, penis yang telah menjadi tuan bagi vaginaku.

Kamu menurunkan celana panjangmu, membuka celah pada celana dalammu, mengeluarkan penismu yang seingatku tak sebesar ini dulu. Mungkin.. karena aku tak jelas melihatnya dulu, mungkin juga karena saat itu gelap dan aku tak dapat melihat dengan jelas. Lalu kau gesek-gesekkan penismu pada permukaan vaginaku yang telah basah, kau masih menatap mataku, kebiasaan yang kau miliki sejak dulu. Namun sorot mata dingin itu tak sedingin dulu, kini bisa kurasakan sinar dingin itu menantangku untuk menghentikannya. Entah apa yang akan kau lakukan bila aku menghentikanmu sekarang. Akankah kau memperkosaku? Sehingga kau akan kembali kasar dan menjadi dirimu yang dulu terhadapku?

Pikiranku tak sempat kuperhatikan lagi karena penismu telah mulai masuk ke dalam vaginaku, dengan mudah kau menembuskan kepala penismu masuk, kau membuka pahaku lebar, mengangkat kedua pahaku ke atas pundakmu, pantatku yang bertumpu pada kaca mejaku telah basah oleh cairan pelicinku yang meleleh turun. Lalu kau bergerak, keluar masuk seperti aku adalah tempat terakhirmu untuk hidup. Kau melakukannya seperti seabad tak pernah menyentuh tubuh wanita, apakah kau pernah meniduri wanita lain setelah aku meninggalkanmu?

Kau tak membiarkanku berlama-lama dalam lamunanku, hujaman penismu mengembalikan sensasi lama, kesakitan namun kali ini berisikan kenikmatan, karena vaginaku siap menerima besarnya penismu dan hujaman kerasmu yang diiringi desah nafas kita. Kita menikmati penyatuan ini, ya.. untuk pertama kalinya bisa kukatakan aku menikmati kau menyetubuhiku. Lalu kau pun mencium bibirku lagi, tubuhmu yang besar menindihku diatas meja, sementara pinggangmu masih bergerak dengan ritme yang konstan, menusuk dan mencabut dengan teratur dan kencang.

Tubuhmu bergerak semakin cepat tatkala kau menciumi leherku, lalu mata kita bertemu lagi, kau tak berkedip memandangku, membisikkan namaku disela-sela erangan nafasmu dan debar jantungmu. Keringat membasahi tubuhmu meskipun pendingin udara telah dinyalakan, kau terlalu panas dengan gairahmu padaku.

Aku bisa merasakan pelepasanku tak lama lagi, dan kau pun merasakannya. Karena ketika vaginaku menghisap dan berkedut-kedut mengunci penismu, kau pun menghentikan gerakan menghujammu, membiarkan penismu diam begitu saja menerima perasan dan hisapan berkedut dinding-dinding vaginaku. Lalu kau mengerang, mendesah kesakitan saat spermamu yang panas menyemburku berkali-kali, kau menindih tubuhku dan menciumi leherku saat spermamu masih muncrat di dalam vaginaku yang masih bergerak liar menghisap penismu itu.

Kau biarkan tubuh kita terkunci lima menit lamanya setelah orgasme kita, kau hanya menatap mataku tanpa bersuara, akupun tak ingin melepaskan hubungan yang intim ini. Kau menyihirku dengan matamu, tanpa suarapun kau bisa mengikatku dengan sihir.. sihir yang dinamakan cinta.

Ketika penismu telah mengerut, kau mencabutnya dan desahanku keluar tak sengaja. Alismu naik sebelah, senyuman tersungging diwajahmu, bukan senyuman sinis seperti dulu, lalu kau menciumi bibirku mesra. Merangkum wajahku dan mengusap air mata yang menitik karena nikmatnya penyatuan tubuh kita.

Kau mengenakan celana panjangmu kembali, membantuku membersihkan vaginaku dari cairanmu.. Aku sungguh lupa.. Aku sudah tak pernah mengkonsumsi pil pencegah kehamilan yang dulu kau berikan, aku tak memikirkannya hingga pulang ke rumah bila aku bisa saja mengandung anakmu.

Kau membantuku mengenakan pakaianku kembali, lalu kau mengenakan pakaianmu berikutnya. Aku tak tahu apa yang kau pikirkan, karena setelah itu kau pergi ke arah meja direktur utama dan menelphone ke suatu tempat, kau mondar-mandir di sana, memeriksa beberapa berkas dan aku berdiri mematung tak tahu harus berbuat apa, bahkan bernafaspun aku coba agar tak terdengar olehmu.

Tak lama kemudian dua orang petugas maintenance mengetuk pintu kantor, mereka memberi salam padamu, dan mulutku menganga ketika mendengar mereka memanggilmu direktur utama. Jadi.. kaulah atasan langsungku dan bukan laki-laki tua ramah yang pertama kulihat sebelummu tadi. Mereka kemudian membereskan komputer dan kekacauan yang kau sebabkan di lantai. Mereka membersihkan meja itu dan meletakkan sebuah laptop di atas meja, laptop untukku bekerja. Lalu mereka pergi dan kau.. sekali lagi mengunci pintu kantor ini rapat-rapat. Dengan memasukkan kode pada kunci kau mengurungku lagi, mengurungku seperti yang telah kau lakukan selama dua tahun lamanya, pada empat tahun yang lalu.

Dengan kesal kubereskan barang-barangku, mendekatimu yang masih sibuk dengan permainan tanganmu pada kunci bersandi pintu kantor ini. Kudorong tubuhmu dan memaksamu untuk membukakan pintu untukku karena aku mengundurkan diri dan tak ingin lagi bekerja menjadi sekretarismu. Kau murka, seperti yang biasa kau lakukan dulu, padaku kau mudah sekali berkelakuan kasar. Kau mencekal lenganku menyakitkan, kau mengurungku dalam tembok, nampaknya kau masih menyimpan dendammu padaku. Lalu kau menciumiku lagi, bisa kurasakan ereksimu telah menempel, mendesak keras perutku. Kulepaskan bibirku dari bibirmu, bibirku bengkak dan panas, kau memang pencium lihai meskipun usiamu menjelang empat puluh lima tahun kau masih hebat seperti pria berusia tiga puluhan.

Kau mengatakan tak akan melepaskanku lagi, karena katamu apapun alasanmu mengurungku, aku adalah milikmu dan orang tuaku pun tak bisa menghalangimu. Akupun emosi, kubeberkan semua yang kuketahui dan memaksamu untuk mengambil nyawaku daripada menyiksaku seperti budak seks yang tak memiliki perasaan. Kau terguncang dengan ucapanku, kukatakan padamu betapa tersiksanya aku selama dua tahun kau memperkosaku, ya kukatakan padamu bagaimana kau memperkosaku, memperlakukanku bagai binatang yang kau setubuhi dan menyiksaku dengan orgasme palsu.

Kau mengacak rambutmu yang rapi, membuatmu terlihat seperti pria yang baru saja bangun dari tidurnya dengan rambut acak-acakan tak tersisir. Lalu sinar matamu buram, pupilmu melebar, kau mendekatiku. Tak pernah kulihat ekspresimu seperti ini, kau putus asa. Kau mengulang berkali-kali kata itu.. kau mengatakan kau tak ingin kehilanganku lagi, kau tak ingin kehilangan orang-orang yang kau cintai lagi. Kau berkata akan membawaku kembali ke rumah itu dan memperlakukanku dengan baik kini.

Aku tak percaya padamu, aku masih memikirkan perkataanmu sebelumnya, bahwa kau tak ingin kehilangan orang-orang yang kau cintai lagi. Cintakah kau padaku? Atau itu hanya nafsu? Karena cintamu hanya menyakitiku.

Kutanyakan padamu dan kau terdiam, kau tak ingin menjawabnya. Lalu kumaki kau dengan semua umpatan yang telah kupendam selama dua tahun itu, makian yang menggambarkan bagaimana hancur dan sakitnya perasaanku padamu dulu, dan kukatakan aku tak ingin menjadi pengganti istrimu, aku tak ingin menjadi pengganti orang mati!!

Kau terdiam, lama kau seperti itu, tak bergerak dengan wajah pucat kuyu, lalu kau membuka pintu kantormu dengan sandi yang tak ingin kuhafal. Kau membiarkanku pergi begitu saja kali ini, kau masih diam saat pintu kantormu tertutup, dan akupun pergi dari sini, dari gedungmu, dari kehidupanmu lagi. Bagaimana pun juga, aku tak ingin menjadi budak seks pengganti istrimu yang mati, meskipun dia mati karena ayahku!! 



*iklan*Temukan kisah-kisah keluarga De Finnegan lainnya di "The Finnegan Shadows", caranya cukup menjadi member di blog Finnegan Shadows. info lebih lanjut bisa email ke danofdefinnegan@yahoo.com atau cek di http://www.finnegancenter.blogspot.com

17 comments:

  1. Woooah
    Nahan napas bacanya mb shin
    *fiuuh~

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha skrg tarik nafas lagi.. tahan lagi... lama2 ada bunyi "puuuutttt..."

      hihihih... :kabuurrr: peace say...

      Delete
  2. hebat ya tulisan dlm sudut pandang seperti ini, tanpa nama... Hanya aku dan kami dan kita... Keren... Ditunggu mbk shin part 4nya... Ceritanya juga keren... Hosh hosh.. Panas pula

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, makasi banyak sist pujianmu :)

      iya, aku pengen nyoba ngetik dngan style seperti ini. setelah dibaca ulang masih banyak sekali kekurangannya (padahal wkt ngetik dl kyknya udah bagus ahahahha :PD:)

      hihih sipp... ditunggu ya chapt 4 nya ;)

      Delete
  3. Makasih banyak ceritanya mbak shin... Seru nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 sista :D makasi kembali udah baca n komen :)

      Delete
  4. Blog sebelah Emang knp mbak shiinnn? Lust oF shadow kok pindah rumah disini hee

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya, biar fokus ke myowndramastory aja. kebanyakan blog pusing jg. VE mgkn jg masih di pos dsini aja, VR dijadiin tempat koleksi dia aja :D biar pembaca gak kepecah2 (kecuali FS yang memang dimaksudkan untuk ngasilin duit) ahhahahaa

      Delete
  5. Mantaaaaap lanjutkaaaaan...
    Ga sabar nunggu kelanjutannya ><

    ReplyDelete
  6. W.O.W.... jadi ikut emosi bacanya, . , sampe tahan napas...
    makasih mba shin.,.,

    ReplyDelete
  7. Komentar pertama kali di blog ini..
    Kmrn2 gk brni komentar :D

    Mbak ak suka bgt crtanya..
    Di tunggu kelanjutannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. asik... makasih sist akhirnya komen jg hehehe... met baca2 aja ya. siap.. mdh2an ada lanjutannya yg ini ;)

      Delete
  8. makasih mbak shin.. ceritanya bagus..
    aku mau baca dari awal ah.. ^_^

    ReplyDelete
  9. cerita bikin penasaran.... Mba Shin... Mohon undangannya untuk gabung di finnegancenter.blogspot.com donk plisss.... Apa syarat2nya??? Harus bayar kah??? Aku penasaran bangeett pengen baca semua cerpen disitu... Makasih :)

    ReplyDelete
  10. cerita bikin penasaran.... Mba Shin... Mohon undangannya untuk gabung di finnegancenter.blogspot.com donk plisss.... Apa syarat2nya??? Harus bayar kah??? Aku penasaran bangeett pengen baca semua cerpen disitu... Makasih :)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.