"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Thursday, July 18, 2013

Shin Haido an Autobiography - Bab 1


Ini adalah sebuah autobiography yang saya tulis berdasarkan kisah nyata hidup saya sendiri, yang saya ceritakan menurut versi saya dan apa yang saya ketahui dari sudut pandang saya sendiri.

Mungkin cerita ini membosankan, karena kehidupan saya tak ada bedanya dengan kehidupan pembaca sekalian yang mungkin memiliki beberapa riak dalam hidup yang pastinya masing-masing dari kita pernah alami, yang kemudian membuat kita lebih dewasa dalam memandang hidup kedepan.


Atau mungkin juga cerita ini bisa memberikan sedikit ilham bagi pembaca yang mencari pencerahan atas peristiwa dibalik kisah hidup saya dan menangkap beberapa pesan kehidupan yang tersirat dalam autobiography ini, yang tentunya masing-masing dari kita menginterpretasikan berbeda-beda, sesuai kemampuan kita masing-masing menangkap pesan-pesan itu.

Bahkan cerita ini juga mungkin bisa menghibur bagi hati-hati yang gundah akan gosip yang bisa diceritakan bersama dengan orang lain bahwa inilah sebuah drama kehidupan yang hampir mirip dengan sinetron yang kita tonton di televisi, hanya saja sakitnya jelas terasa bila di antara kita ada yang pernah mengalami kejadian yang sama dalam hidupnya, kejadian menggembirakan, memilukan, bahkan mungkin yang mengenaskan sekalipun.

Ingin saya berpanjang lebar dalam pembukaan saya, namun saya bukanlah perangkai kata ahli. Saya hanya menuliskan kata-kata yang keluar dari pikiran saya, kata-kata yang biasa saya gunakan sehari-hari dengan teman, sahabat, keluarga maupun orang umum.

Cerita ini akan saya awali dari pertama saya menarik nafas di muka bumi, yaitu dua puluh delapan tahun yang lalu. Saat dimana tangisan keras terdengar dari mulut seorang bayi perempuan berkulit putih bersih yang begitu cantik dan menggemaskan. Namun kini siapa sangka kulit putih itu mencirikan bila dewasa nanti dia adalah seorang anak perempuan berkulit sawo matang khas orang Melayu.

Dialah saya, dengan nama pena Shin Haido, saya lebih senang anda memanggil saya seperti itu. Shin... Panggilah saya Shin.

Saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, saya anak bungsu dari ibu saya. Kakak pertama saya seorang perempuan, dia lahir kira-kira tujuh tahun lebih awal dari saya, sebut saja namanya Sari. Sari kini telah menikah dengan seorang laki-laki yang mungkin tidak akan pernah dia kira “ada” di dunia yang kejam ini. Meski tiada manusia yang sempurna, namun bisa saya katakan... Kisah hidup Sari paling dramatis namun berakhir bahagia dibandingkan kisah hidup kami, tiga bersaudara.

Sari memiliki dua orang anak perempuan, yang kini masih kecil. Mereka adalah keponakan-keponakan saya. Teringat dulu saat mereka lahir, saya selalu ada disana. Menjaga atau menunggui Sari sementara suaminya bekerja dan saya tak pernah mengharapkan imbalan dari itu, Sari dan suaminya sudah cukup baik kepada saya.

Tapi tidak... Sari bukanlah tipikal orang seperti itu, dia tidak senang berhutang budi, sehingga dia memberikan saya sejumlah imbalan yang sangat saya syukuri. Sebagai adik bungsu, saya sangat bersuka cita memiliki Sari sebagai kakak saya.

Teringat, sejak Sari menikah dengan suaminya, di bulan pertama dia menemui saya. Kala itu Sari menemui saya di kamar pribadi yang juga merupakan gua pribadi saya, karena memang tempat itu begitu berantakan, bisa dimaklumi, saat remaja saya adalan perempuan pemalas. Sampah bisa diam bertumpuk dalam plastik berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, kebiasaan yang sangat buruk, bukan?

Kebiasaan buruk itu akan saya ceritakan di lain waktu, kini saya lanjutkan dengan kisah saya dengan Sari. Sejak pernikahannya, Sari dengan inisiatifnya sendiri memberikan saya uang saku yang tidak sedikit bagi saya, kira-kira tahun 2001, Sari memberikan dua ratus ribu rupiah tunai untuk saya gunakan sesuka hati saya, bersuka cita, bukan? Tentu, bahkan sangat.

Waktu itu saya hanyalah seorang murid SMU kelas dua. Ha.. masa-masa muda konsumtif... Komik, majalah, makanan.. hanya itu yang saya suka. Saya tidak suka mengoleksi cd, pakaian, sepatu, perhiasan, parfum, kosmetik dan sejenis yang biasa dikoleksi anak-anak muda zaman sekarang. Tidak.. saya kuno dan saya suka dengan cara hidup saya yang seperti itu.

Meski demikian, saya adalah orang yang gemar menabung (di dalam buku, dimana saya sangat senang menyelipkan lembaran-lembaran uang ratusan ribu itu di dalam buku pelajaran, buku novel, komik atau buku apapun yang saya rasa pantas sebagai tempat persembunyian uang) namun tidak di Bank. Saya belum tertarik menabung di Bank kala itu.

Sari masih memberikan saya uang saku hingga terakhir saat saya menikah, semua pasokan dana dari Sari akhirnya musnah. Ya, tentu saja, hidup saya adalah tanggungan suami saya semenjak saat itu. Mungkin anda para pembaca akan iri dengan saya karena memiliki seorang kakak perempuan yang begitu murah hati, bagaimana tidak? Setiap bulan Sari tidak hanya memberikan saya uang saku, dia memberikan saya handphonenya saat itu. Memang bukan handphone mahal, tapi saat itu, itu adalah handphone bagus.

T10s, merek Ericsson. Dan.. Sari mensuplai pulsa saya setiap bulannya, lima puluh ribu rupiah. Banyak bukan?

Selain itu, Sari sebelum memiliki anak, kerap mengajak saya keluar pulau. Pertama kalinya saya naik pesawat terbang, tujuan Surabaya, dengan pesawat Garuda Indonesia Airways, menginap di hotel J.W. Marriot (lantai sepuluh bila saya tidak salah ingat atau mungkin lebih tinggi) yang kini telah berubah nama menjadi The Westin. Sungguh, tidak pernah terbayang dalam kepala, bila saya akan memiliki kesempatan seperti itu. Sari mendapatkan seorang suami yang cukup mampu dan saya turut bahagia untuknya.

Setiap ulang tahun saya, Sari memberikan sebuah amplop... dengan jumlah uang yang membuat saya menitikan air mata bahagia. Dia juga mengajak saya makan malam untuk merayakan hari itu, padahal selama saya hidup, tak sekalipun orang tua kami merayakan hari ulang tahun anak-anaknya satupun...

Sari tak pernah mengharapkan saya membalas semua itu, Sari tidak pernah meminta apapun dari saya, kecuali mungkin rasa persaudaraan yang tulus ikhlas, karena hanya itulah yang bisa saya berikan untuknya, untuk kakak perempuan saya yang saya sayangi. Saya tidak tahu, apakah saya akan diizinkan oleh yang DIATAS untuk membalas semua hutang budi yang saya miliki kepada Sari, karena dari Sarilah saya mengenal istilah ini, “Kita tidak menunggu kaya untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Orang kaya belum tentu bersedia memberi, orang miskin belum tentu pelit. Sebesar atau sekecil apapun kamu memberi, keikhlasan yang tersirat dari sanalah yang akan diukur oleh orang lain. Jangan pernah berharap pahala, karena kamu tidak akan pernah tahu darimana rezeki mendatangimu.”

Sebuah kalimat dalam yang sesungguhnya saya susun sendiri namun begitulah intisari dari kata-kata yang diucapkan Sari kepada saya, kata-kata yang ingin saya terapkan juga dalam kehidupan saya. Bila Tuhan mengizinkan. Amin...





Jual Mukena Online, hubungi 32FDE75E atau 081246671304 untuk info lebih lanjut

29 comments:

  1. beruntung kak punya kakak kayak kak sari baik bener ya whahahaha #coba amplop nya nyiprat ke aku wkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah, bersyukur sist... gak bs bilang beruntung... sari dan abangku bedanya 180 derajat, mungkin nanti km akan bilang "gak beruntung punya abang seperti abangmu"

      apa yang sudah kita miliki gk bisa dibilang beruntung atau tidak beruntung.. cuma bs disyukuri krn msh punya :)

      Delete
  2. Huuuuaaaa setuju sama kata2nya sari... Orang kaya belom tentu memberi, orang miskin belom tentu pelit...

    Mba lanjut2... Pokoknya harus lanjut2....

    °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° mba shin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah ya pst dilanjut.. hehehe..tp kyknya bakal ngumbar aib keluargaku deh.. hee....

      Delete
  3. saya adalah anak pertama dari 4 bersaudara dan saya sangat menginginkan seorang kakak yg bisa menyayangi dan memanjakan saya. Tpi, karena saya adalah anak pertama mudah2an saya bisa menjadi seorg kakak seperti mba sari aminnn.
    seorang kakak yg bisa mengayomi adik2nya..

    ReplyDelete
  4. wuih sama dong kita anak ke tiga cuma saya 4 bersaudara semuanya perempuan, punya kakak kyk seperti sari asikk emang bener kita nggak harus kaya dulu buat menyenangkan orang lain tapi dengan tingkah laku yang baik dan kasih juga bisa buat orang senang dan berpahala nggak punya juga kita bisa bantu tenaga udah bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener sekali. :) dengan memberi secara ikhlas itu jg membuat kita kaya, kaya rohani karena telah memberikan orang lain dan bersukacita bisa berbagi, tentunya dengan tulus br pemberian itu akan bermakna

      Delete
  5. Whoaaaaa... hidup mba sari :D
    Kena banget dihati ku saat ini, IKHLAS itu intinya.
    Semoga bisa. Amin..

    ReplyDelete
  6. ngiri dehhh sama yg pada punya kk

    aku ank tunggaL, dengan keadaan keluarga yg pas-pasan
    ortu dh pada d ats 50thn, ibu sakit-sakitan (komplikasi gula,paru2,jantung)
    klu ibu lg kumat sakit'y, harus masuk rs tak ada biaya
    suka sedih banget gk punya kk yg bisa d ajak berbagi

    hahhhhhhhh alangkah senang'y klu punya kk kek kak sari :( :( :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga Tuhan memberikan lapangan rezeki dr tempat lain untukmu dan keluarga ya sist.

      kita tidak boleh ngiri dengan orang lain sesungguhnya. kenapa? karena setiap manusia diberikan bagiannya masing-masing antara kesengsaraan dan kebahagiaan.

      mungkin yang kamu baca ini adalah kebahagiaan yang telah aku rasakan, namun saatnya nanti... kamu juga akan melihat bagaimana hidup memberikan bagiannya yang lain pada saya.

      mungkin juga saat ini kamu diberikan bagian yang sengsara oleh NYA, tapi suatu hari nanti tanpa kenal menyerah dan putus asa, niscaya akan ada masa dimana bahagia menghampirimu. bersabar dan jangan putus asa. :) :hug:

      Delete
    2. setuju sama mbak shin
      aku juga anak tunggal dek
      papiku meninggal waktu aku kelas 3 sma,,pas banged keinginan menggebu untuk kuliah
      tanpa ayah, cuma ibu, gaji pas-pasan, alhamdulillah bisa kuliah, lulus, kerja, nikah

      setuju sama kata-kata mbak shin lagi-lagi, suatu hari nanti ada masa di mana bahagia menghampiri

      Delete
    3. amiennn

      thanx kak shin, kak meyke

      krn terlahir jd ank tunggal dan terbiasa dri bayi jauh dri ortu
      aku bisa belajar mandiri dan hidup prihatin

      setiap kesedihan tuhan juga menyelipkan kebahagiaan

      Delete
  7. Wuaaahhhh, bikin iri ja Mba Shin :D
    Beruntung punya kakak sebaik Sari.....
    Aku sendiri anak pertama dr 2 sodara....
    Sejak dulu pengen punya kakak, tapi pa boleh buat ("-_-).......
    Bagus Mba Shin ceritana, ada kelanjutanna gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah ada... tp msh mikir apa pantas aku mosting ini ke publik.. buka aib sndr soalnya nih

      Delete
  8. ceritanya gak ngebosanin kok mbak.. mbak shin bahkan bisa membuat cerita yang biasa menjadi sangat menarik. em, novel ini pasti didedikaskan untuk mbak sari ya mbak?. mbak sari pasti terharu deh kalo baca ni cerita.. v_v

    ReplyDelete
    Replies
    1. untuk bab 1 memang didedikasikan untuk Mbak Sari, tp nanti lambat laun semuanya mengulas tentang kehidupanku kok sist. ;) jd kl membosankan ya artinya hidupku membosankan. wkwkkwkw....

      mbak sari bukan type yg gampang terharu di depan umum, dia jarang bahkan gak pernah nangis aku liat, paling dia cuman menepis pujian untuknya entah dlm hatinya mikir apa gak tau jg ;)

      Mbak Sari diajarkan banyak oleh suaminya, mungkin dia mendapat teladan yg tepat, sehingga hidupnya berubah menjadi baik. syukur alhamdulilah :)

      Delete
    2. ayo diposting bab selanjutnya mbak.. kami kan kepingin tau cerita2 tentang kisah hidup mbak shin yang lainnya.. :)

      Delete
  9. Whoaaaaaa, speachlous ^_^
    antara ikutan senang, ngerasa ngenes, or must've been proud??
    tp, saya seperti teman2 yg lain.. Setuju bgt ma mba Sari, kalo pertama baca mungkin aq agak shock, buzet enak bgt dipasok dana sebegitunya yak, (aq biasa dp didikan keras ma parents, pg segala sesuatu kudu usaha, nabung,, pdhl anak tggal. Cuman, kalo lg jauh ma mereka, ky pas kursus ma kuliah, sering morotin jg, xixixi. Secara mhsi cuma dp dana 300rb/bln 2004-2006 trus naik per tahun 50rb, itu dah nett, pokokx segala doit makan lah, transport, kosmetik, cemilan, mpe tugas2 ngerental plus ngewarnet. Sedih, tp that's how them TEACH me).
    belajar memberi emang SUSAH, engga juga tuh, tp BERAT. Nah, cz ALASANx bujubuneng.. Byk bgt yak :-)..
    salute 4 u sist,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.... ya emang enak kok sist... mgkn saat itu diantara teman2 sekolah sepermainan saya, mgkn sayalah yg uang jajannya paling banyak. karena keadaan keluarga saya seperti "itu" saya mendapat uang dr bapak, ibu, kakak dan abang saya. enaknya jadi anak bungsu :berbuih:

      Delete
  10. Mbak shiiiinnnn curhat lagi donkkkk aku mau dengeriinnnnn

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. huaaa suka bgt ama kata2 kak sari yang nie orang kaya belum tentu memberi, orang miskin belum tentu pelit. <3_<3

    btw setau q dulu namanya hotel The Westin skrg berubah jadi JW. Marriot say *cz si om krja disitu dri q jaman Sma mpek skrg hehe* maaf klo saya yg salah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya ta sist?? wkwkkwwk jd malu.... maklum wkt itu udah 11 tahun yg lalu... mgkn aku ketuker informasinya hahaha.... tengkyu, nanti aku koreksi ;)

      Delete
  13. Luv to hv sister like her!

    Its great story! Maaf bru bisa koment lagi..

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.