"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, August 14, 2013

CERMIN 30 - 5 TAHUN PENANTIAN - CHAPTER 5


Jantungku berdebar kencang saat Pak Archibald mengucapkan kalimat itu. Dia memintaku menjadi pacarnya??? Ya, Tuhan... Mas Ferdy... benarkah ini, Mas? Tapi kenapa dia tiba-tiba datang kesini dan berkata demikian? Bahkan tepat setelah apa yang baru saja terjadi kemarin. Benarkah dia menyukaiku?

“A..anda bicara apa, Pak Archibald? Jangan bercanda. Saya tak akan mempercayai anda,” jawabku gugup.


“Tak apa, aku tak akan memaksamu, aku hanya ingin kau tahu perasaanku. Sudah lima tahun aku memperhatikanmu, setelah aku yakin kau juga memiliki perasaan yang sama barulah aku berani mendekat. Aku memang pengecut, tapi kini aku ingin berubah, aku ingin menggapai apa yang aku inginkan.” Mata  Pak Archibald saat mengatakannya begitu penuh keyakinan, seketika perasaanku goyah. Benarkah? Perlukah aku percaya?

“Ayo.. terima saja...” suara pegawaiku yang berceletuk dan langsung menyembunyikan diri. Sungguh memalukan pemandangan ini, bagaimana mungkin Pak Archibald tak tahu malu dan mengungkapkan perasaannya di depan umum seperti ini? Wajahku merah menahan malu, bukan hanya malu pada orang-orang tapi juga pada Pak Archibald yang kini kuketahui menyukaiku. Ya, Tuhan... Dia menyukaiku sudah lima tahun? Artinya sejak kematian Mas Ferdy, tapi kenapa? Dimana dia pernah melihatku sebelumnya? Aku bahkan mengenalnya baru setahun yang lalu di sekolah Diana.

“Kita bicara di dalam saja,” kataku sembari berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruangan kantorku yang tertutup. Pak Archibald kemudian mengikuti dengan patuh.

Tubuh tinggi jangkungnya memenuhi ruangan kantor sempit ini. Kantor yang juga menjadi tempat penyimpanan beberapa barang dan tumpukan buku-buku laporan membuat ruangan enam kali tujuh meter ini seolah kecil. Wajah Pak Archibald masih datar, tanpa ekspresi yang bisa kutebak. Entah apa yang sedang dipikirkan laki-laki bermata hitam ini.

“Duduklah,” pintaku, “Anda tidak bisa datang ke toko saya dan langsung mengucapkan hal itu. Anda membuat saya malu di depan umum,” kataku, masih tak terima dengan pengungkapan cinta di depan umum. Sungguh sangat tidak romantis sama sekali.

Pak Archibald berdecak, lesung pipi kirinya ikut menampakkan diri. Mas Ferdy... Laki-laki ini benar-benar membuatku salah tingkah!

“Lalu, apakah akan lebih baik bila aku mengungkapkannya disini sekarang?” tanyanya. Lalu diapun berdiri dan melangkah ke arahku, menghampiriku dari samping dan meraih tangan kananku tanpa permisi. Tubuhnya sedikit menunduk, hanya agar mata kami sejajar meski aku masih harus mendongakkan kepalaku. Aroma aftershave laki-laki ini masih menyeruak hidungku, aku hampir lupa bagaimana aroma tubuh laki-laki, dan laki-laki di depanku ini membuatku lupa dengan semua laki-laki yang pernah kukagumi dalam hidup, bahkan Mas Ferdy sekalipun.

“Arnetta Joanita, memang banyak sekali hal yang belum kau ketahui mengenai diriku. Tapi yang pasti, aku tahu kau tahu bila aku menyukaimu. Dan kau tahu bila aku menginginkanmu menjadi kekasihmu. Aku memang bukan laki-laki romantis yang biasa merangkai kata untuk menggombali wanita, bahkan aku menunggu lima tahun untuk bisa mengucapkan kalimat ini padamu. Jadi apa jawabanmu? Bolehkah aku mendapatkan kesempatan untuk mendekatimu lebih dekat lagi?” tanyanya.

Aku menahan nafasku, rasanya sungguh sesak dan susah bernafas. Pengakuan Pak Archibald jujur, tak ada satukata gombal pun yang kudengar, meski kuakui sesekali ingin rasanya digombali oleh laki-laki yang kau suka. Tapi Pak Archibald... Perlukah digombali olehnya bila hanya dengan melihat wajahnya saja aku sudah merasa tergila-gila?

“...A...anda bicara sembarangan. Apa yang membuat anda mengira saya pasti menerima permintaan anda?” jawabku masih berusaha ‘jual mahal’ padahal dalam hati aku bersorak riang dan berteriak “Aku mau...aku mau..aku mau....!!” sungguh memalukan bila dia mendengarnya, bagai remaja kasmaran yang baru saja ditembak oleh pujaan hatinya.

“Instingku berkata demikian,” jawabnya dengan senyum yang mampu membuat wanita manapun menebah dada dan pingsan, bahkan aku... harus menelan ludahku karenanya.

“Anda terlalu percaya diri!” ujarku galak. Err... kata-kata yang salah, karena tangannya yang bebas kini menarik daguku mendekati wajahnya. Glekk... Mas Ferdy... What’s gonna happening???

“Aku percaya diri bila hanya aku tahu jawabannya benar, Netta,” bisiknya perlahan di depan wajahku. Nafas hangatnya membuat nafasku tercekat, wajah kami semakin dekat, akupun menahan nafas menunggu dan mengantisipasi yang akan terjadi selanjutnya. Tak sadar mataku terpejam, menunggu yang kutunggu. Tapi rupanya tak ada yang terjadi, karena ketika mataku membuka, senyum jahil tersungging pada wajah tampan Pak Archibald. Sial laki-laki ini membuatku salah tingkah, aku kira dia akan menciumku. Ugh!!

Pak Archibald memutar langkahnya, kini dia di belakangku, menepuk kedua pundakku, menahan dan meremas pelan, bahkan pijatan tangannya membuatku merasa rileks entah dia sengaja atau tidak. Bahu dan punggungku memang lelah karena bekerja seharian di depan meja mengurusi surat-surat dan orderan, tak pelak perhatian kecil ini membuatku merasa nyaman, meski seharusnya tidak, kan?

“Kau memerlukan seseorang di sisimu, Netta. Seorang pria tangguh yang akan menjagamu, melindungimu, mendukungmu, mencintaimu.... dengan segenap hatinya...” pijatan tangan Pak Archibald berhenti, dia menunduk dan bisa kurasakan desahan nafasnya di samping telinga kananku, lalu dia berbisik pelan, “Seorang pria sepertiku,” lanjutnya penuh percaya diri.

Aku terpaksa menelan ludahku lagi, bisakah ini dikatakan sebagai manuver bertubi-tubi dari guru bahasa Inggris anakku? Aku tak tahu bila Pak Archibald yang selama ini selalu kuperhatikan di sekolah Diana ternyata bisa seagresif ini bila dia memiliki keinginan.

“Apa yang membuatmu mengira kau adalah orang yang tepat?” tantangku lagi. Dia harus menunjukkan kelebihan-kelebihannya yang bisa membuatku memilih dia di atas laki-laki lain yang lebih kaya, lebih tampan, lebih muda, lebih segalanya... walau aku tahu ini hanyalah alasanku untuk memperpanjang kesempatanku untuk berdekatan dengan laki-laki ini, untuk mendengarkan mengapa dia mencintaiku, untuk mengetahui apa sebenarnya perasaannya padaku dan seberapa besar keinginannya untuk memilikiku. Ya, memilikiku... rasanya telah begitu lama ketika terakhir kali seorang pria berkata bahwa aku adalah miliknya.... Sekarang aku bukan milik siapa-siapa... aku butuh pemilik, pemilik hati, jiwa dan ragaku...

Pak Archibald memutar kursi kerjanya hingga menghadap ke arahnya, dia lalu berjongkok di hadapanku. Begitu pas, mata kami saling bertemu, senyumnya masih tersungging, seolah tak akan pernah habis, sedang kedua tangannya berada pada lengan kursiku, mengurungku dengan tubuhnya. aku benar-benar tak bisa melarikan diri dari laki-laki ini.

“Kelebihan kau bilang? Aku punya banyak, Netta. Aku tampan, kutahu kau tahu itu,” senyum arogannya membuatku ingin mencubit pipinya gemas, dia tak perlu sesumbar seperti itu di depanku, “Aku juga pintar, bahasa Inggrisku bagus, bila tidak, aku tak akan diterima sebagai guru Bahasa Inggris, kan?” Dia menghentikan penjelasannya, menggigit bibir bawahnya lalu memiringkan wajahnya, seolah sedang menimbang sesuatu, “Aku memiliki cinta yang tak akan pernah habis, aku laki-laki setia, buktinya lima tahun lamanya aku menanti dan cintaku justru semakin besar untukmu.” Kini wajahnya sendu, aku menjadi bingung dengan perubahan wajahnya yang begitu cepat. Dia membuat tubuhku merinding karena ekspresi wajahnya yang sayu dan penuh cinta. Penuh cintakah itu? Karena sekarang tanganku sangat ingin mengelus pipi yang memperlihatkan cambang samar itu, ingin membagi perasaan yang dia rasakan, baik cinta, ataupun kesedihan.

“...Tapi aku tak ingin menunggu lagi, Netta. Aku ingin diberikan kesempatan untuk menunjukkan bila cintaku cukup untukmu,” lanjutnya lagi.

Lama aku tak menjawab pernyataan cintanya, kepalaku masih berpikir meski sesungguhnya tak ada yang benar-benar bisa kupikirkan. Otakku dipenuhi pernyataan-pernyataan Pak Archibald dan berputar-putar, melayang tanpa bisa kucerna, tanpa bisa kurangkai antara untung dan ruginya bila menerima pernyataan cintanya. Aku tak ingin menjadi malu bila kuakui perasaanku padanya, tapi pasti sungguh naif bila aku menolaknya, karena bukankan ini yang kuinginkan? Mendapat perhatian Pak Archibald, bahkan apa yang kudapatkan sekarang melebihi khayalanku. Pak Archibald mencintaiku, bukankah itu sudah cukup?

“Saya bukan remaja lagi, Pak. Saya tidak biasa berpacaran,” jawabku malu dan memalingkan wajah ke samping. Bisa kurasakan wajahku panas dan pipiku merona merah.

“Siapa bilang kita akan berpacaran? Aku akan menikahimu.”

Aku tersentak, kutatap wajah di hadapanku yang tak bergeming sedikitpun. Wajahnya yang tegas begitu yakin dengan apa yang baru saja dia ungkapkan, tak sedikitpun penyesalan di wajahnya berkata seperti itu.

“Anda bercanda, anda bahkan belum mengenal saya, kehidupan saya, siapa saya. Bagaimana anda bisa berkata demikian?” tanyaku bingung. Apakah Pak Archibald bisa menikahi seorang janda? Bagaimana dengan keluarganya? Apakah mereka bisa menerima statusku sebagai janda dengan seorang anak?

“Aku mengenalmu dengan cukup baik, Netta. Aku telah memperhatikanmu selama lima tahun, apakah kau kira aku tidak mencari tahu tentang dirimu selama lima tahun ini? Tentang siapa-siapa saja laki-laki yang berusaha mendekatimu dan sebagainya?” tanyanya masih tanpa kedip.


Aku memalingkan wajahku lagi, semua begitu cepat bagiku. Membuatku khawatir dan cemas bila ini tak akan berjalan baik. Maka dengan terpaksa aku akhirnya memberikan jawabanku padanya. 


6 comments:

  1. Wa pnasaran lnjutnnya
    terima aj, qn atas dsar suka sma suka.... Hihihi
    Bsk posting lg mbk*kedip-kedip pnuh harap*
    Rncanannya mau di buat brp chapter mbk?

    ReplyDelete
  2. Loh bukannya ini udh ya mba??
    Apa eke yg slah ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh iya eke kn bacanya d FB, hahahaa luping
      Komeng lg ah
      Bu etta udh trima aj,jgn byk mkir.klo G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ pak archinya buat aq nih...xixixixi
      º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin

      Delete
  3. 2chapter di bikin penasaran sama jawaban netta
    di terima gak ya ????
    tq mbak shin

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.