"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, August 30, 2013

Kau Selalu Di Hatiku - Chapter 29


Present Days, Jakarta.

Seorang laki-laki paruh baya dengan dua orang pengawal berbody tinggi besar dan tegap tengah berjalan dengan dada membusung tinggi melewati pabrik tekstil untuk sidak di dalam perusahaannya. Pagi itu Murdopo Sutoyo melakukan kegiatan rutinnya setiap bulan, memeriksa kesiapan mesin-mesin dan pegawai-pegawainya yang berjumlah ribuan seperti yang telah dia lakukan selama sepuluh tahun belakangan.


Murdopo, mantan preman yang kini telah menjadi pengusaha kaya raya dengan berbagai perusahaan, baik yang bergerak di dunia legal maupun ilegal. Hanya beberapa orang yang tahu apa sesungguhnya pekerjaan Murdopo dan segelintir orang itu adalah orang-orang sukses yang kini sebagain di antaranya berada di dalam pemerintahan sebagai pimpinan dari posisi-posisi strategis yang biasanya saling bantu-membantu bila salah satunya mendapat kesulitan. Namun demikian, sudah sepuluh tahun pula lamanya mereka jarang berkomunikasi dan lebih memilih untuk berjalan pada jalan mereka masing-masing tanpa ingin membuka kembali kenangan lama mereka yang cukup kelam. Mereka cuci tangan, mereka mencoba mencari uang dengan jalan legal, seperti pabrik tekstil milik Murdopo.

“Lapor, Boss, semua terkendali dan siap dipakai.”

Seorang laki-laki tua bertubuh gendut melapor semua temuannya pada atasan yang tak lain adalah Murdopo sendiri. Laki-laki berkumis itu tengah menghisap cerutunya dan mendengar tanpa minat ketika telephone genggamnya berbunyi. Dia mengerutkan alisnya karena nomer itu hanya diketahui oleh keluarganya dan orang-orang terdekatnya, nomer penelphone yang dilihatnya di layar pun baru pertama kali itu menghubunginya.

Dengan suara berat yang terkesan kasar, si penelphone tak gentar pada Murdopo.

“Siapa?!” tanya Murdopo sembari masuk ke dalam kantornya diikuti dua orang bodyguard-nya.

“Gw, Achin.”

Cerutu di bibir Murdopo terlepas dan terjatuh ke lantai, sekejap pengusaha tekstil, travel, hotel dan restoran itu terdiam tanpa mampu menyahut, bibirnya terbuka tanpa keluar suara sedikitpun.

“Lu masih disana, hah?” tanya suara itu lagi.

“I..iya, Koh...”

“Ha... Gw gak akan panjang lebar. Lu jaga ya lu orang punya anak, gw gak akan ngomong dua kali. Gw udah gak pengen hubungin lu lagi sebenarnya, tapi karena permintaan anak gw, gw terpaksa! Jadi, lu bawa anak lu jauh-jauh dari Indonesia dan kasi dia tahu supaya cari cowok lain buat dia ganggu, hah? Kalau dia berani macam-macam, gw gak akan segan-segan sama lu, Pong. Ngerti, lu?”

“I..iya, Koh. Maaf, Koh. A...akan aku kasi tahu AhLin, ha...”

Murdopo menunggu jawaban yang tak kunjung di dengarnya, si penelphone telah menutup panggilannya. Sebuah tarikan nafas panjang dari hidungnya membawa Murdopo kembali sadar ke dunia. “Hesti ganggu siapa lagi?!” tanya Murdopo pada pengawalnya. Kedua orang bodyguard itu saling toleh tanpa bisa menjawab pertanyaan bosnya.

~~~

“Papi keren, deh. Mami gak nyangka Papi masih bisa seperti dulu,” rajuk Mami Liong di samping suaminya. Mereka tengah duduk-duduk di sofa ruang tamu saat Papi Liong menutup handphone dan memasukkannya ke saku.

“Kalau Papi gak keren, emang Mami mau sama Papi dulu?” tanya Papi Liong sombong.

Mami Liong mencubit pinggang suaminya hingga pria berambut kelabu itu meringis kesakitan, namun senyumnya masih terpasang tatkala meraup pinggang istrinya yang telah dinikahinya selama tiga puluh lima tahun kehidupan berumah tangga yang bahagia.

“Mami jangan marah, ha... Papi cuman bercanda... Kan dulu yang ngejar-ngejar Mami itu Papi... Papi cuman preman gak jelas di pasar minggu. Kalau gak ketemu anaknya Engkoh Liaw, mana bisa Papi punya istri secantik ini,” rayu Papi Liong sembari mengecup mesra pipi istrinya.

“Ah.. Papi apa sih? Nanti Kenny dateng? Malu!” Mami Liong tak dapat menahan semburat merah yang mewarnai pipi keriputnya, jantungnya berdebar lebih cepat karena bersyukur cinta masih mewarnai kisah mereka, cinta yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Hatinya hangat menyadari betapa beruntungnya dirinya memiliki suami seperti Papi Liong. Dia adalah pria yang bisa berubah menjadi sekejam macan namun dilain pihak sikapnya begitu lembut pada Mami Liong.

“Ah.. kok malu? Kenny gak ada, Kenny nginep di rumah Novi. Ayolah, Mi... Sekali-sekali...” bujuk Papi Liong setengah bercanda pada istrinya.

“Ish.. Apa sih, Papi? Sstt...”

Kenny yang tak sengaja lewat di belakang punggung kedua orangtuanya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha masuk ke dalam kamarnya tanpa menimbulkan suara apapun. Dia bersyukur tidak menemukan kedua orang tuanya dalam keadaan yang memalukan setengah jam kemudian setelah dia selesai membersihkan badan dan mengganti pakaiannya. Namun Kenny yakin telah terjadi sesuatu antara ayah dan ibunya.

“Ehem... Ada yang sedang happy kayaknya, nih?” Kenny mengecup pipi ibu dan ayahnya, merasa iri bagaimana pasangan itu masih bisa memelihara rasa cinta mereka meski telah menikah lebih lama dari usia Kenny sendiri.

“Kapan kamu pulang, Ken?” tanya Papi Liong curiga, dia melirik istrinya yang sengaja membuang wajah ke samping, khawatir Kenny akan menyadari apa yang telah terjadi beberapa menit yang lalu.

“Ehm... Baru aja,” jawab Kenny kikuk, dia mulai menyesali keputusannya pulang lebih awal, tapi dia harus bertemu dengan seseorang, atau mungkin dua orang untuk menyelesaikan masalahnya.

“Oh, ya, Papi sudah ngomong sama Murdopo. Sekarang kamu urus masalahmu, nanti Kevin dan Novi biar Pa-Mi yang urus, kalau memang perlu travel dijual, ya jual sajalah,” saran Papi Liong.

Wajah Kenny semakin muram karena nama Novi disebut, “Kenapa, Ken?” tanya Mami Liong.

“...Novi... Dia pergi, Mi.”

Mami Liong mendesah, menyadari bagaimana Kenny terlihat begitu lemas dan tak bertenaga, anak laki-laki satu-satunya itu sedang berduka dan dirundung masalah yang tak mampu diselesaikannya sendiri.

“Kalau ada yang bisa Mami dan Papimu tolong, katakan saja, Ken. Jangan kamu simpan sendiri, ya?” pinta Mami Liong sambil memeluk leher anaknya, Kenny hanya terdiam membiarkan sang ibu menopang kepalanya yang berat sesaat.

“Makasi, Mi, Pi... Mungkin ini adalah hukumanku atas apa yang aku lakukan pada Novi dulu, pada Kevin... Aku pantas mendapatkan semua kesakitan ini. Sekarang, aku akan membereskan semua masalahku, mohon doa restu kalian dan tolong lihat Kevin untukku ya.”

Mereka saling berpelukan sebelum Pa-Mi Liong melepas Kenny pergi dengan mobil Mercedesnya.

~~~

“Tumben kau mau bertemu denganku, Ken? Apakah kau sudah berubah keputusan dan mulai menerima perasaanku padamu?” tanya Hesti manja. Kenny dan Hesti sedang berada di sebuah cafe untuk membicarakan masalah mereka.

“Dalam mimpimu, Hes,” decak Kenny. Dia tidak memiliki tenaga lagi untuk marah-marah pada wanita di depannya. Hanya keinginan untuk menyelesaikan semua ini tanpa masalah baru yang mungkin timbul.

Kenny menyesap kopinya, seharian dia belum menyentuh secuil rotipun untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Kenny tak dapat memaksa dirinya menelan sedikitpun makanan karena pikirannya dibebani akan keberadaan Novi yang tak ada kabar.

“Lalu apa maumu mengajakku berbicara disini?” tanya Hesti yang tak menyangka Kenny akan bersikap ramah padanya.

“Apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti menggangguku?” Kenny menatap kedua bola mata Hesti, mencari jawaban jujur akan keinginan wanita itu darinya.

“...Apa maksudmu?”

“Hentikan semua omong kosong ini, aku tahu kau tak menginginkanku sebesar yang coba kau tunjukkan, jadi mengapa kau lakukan ini padaku? Apa motifmu?” tanya Kenny lagi, suaranya masih sama, bertanya dengan sungguh-sungguh tanpa ingin membuat Hesti marah.

“Kau tahu aku sungguh-sungguh menginginkanmu, jadi jangan katakan aku tidak menginginkanmu.”

“Ya, mungkin... Aku cukup hebat di atas ranjang, tapi tak lebih. Aku rasa di luar sana masih banyak laki-laki lain yang mampu membuatmu puas bahkan melebihi apa yang bisa kuberikan.”

Hesti berdecak sinis, “Kau rasa begitu? Kau tak tahu bagaimana rasanya menjadi anak ayahku, semua laki-laki potensial mengenal ayahku, mereka melarikan diri jauh sebelum aku tahu nama mereka. Seolah ayahku akan membunuh mereka. Tapi kau... Kau tak pernah perduli aku anak siapa, meski kau selalu menganggapku sebagai tempat pelampiasan hasratmu. Tapi tak apa, aku tak keberatan, aku bukan anak bawang yang baru tahu seks kemarin sore. Aku juga memanfaatkanmu untuk memuaskan kebutuhanku. Tapi lebih dari itu, kau memperlakukanku seperti manusia. Aku perlu laki-laki seperti itu, Ken, bukan laki-laki lembek yang takut oleh gertakan ayahku,” Hesti menarik sebatang rokok dari tangan Kenny, menyalakan untuk dirinya sendiri dan bagai perokok tahunan, Hesti meniup asap putih itu ke udara.

“Kau tahu aku memiliki seseorang yang kucintai, Hes. Kami memiliki anak yang bahkan baru aku ketahui ada. Aku orang yang tak bertanggung jawab, Hes. Aku mencoba membangun kembali kepercayaan wanita itu, aku ingin memperbaiki semua kesalahanku padanya, mengulang kembali kisah kami, membuat dia jatuh cinta lagi padaku. Hanya itu keinginanku, Hes. Sungguh, aku tak ingin melukai siapapun, aku sudah tua, aku tak ingin bermain-main lagi. Aku punya keluarga yang harus aku lindungi, yang harus aku perhatikan. Keluarga yang aku cintai.”

“...Aku tak tahu harus berkata apa padamu, Ken...”

“Kau tahu, Hes. Kau bisa katakan ‘Aku tak akan mengganggumu lagi, aku akan pergi dari hidupmu.’ Kau bisa berkata seperti itu dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh kata-katamu itu,” kata Kenny.

“Apakah kau sebegitunya ingin aku pergi dari hadapanmu, Ken?” tanya Hesti, pandangannya menerawang ke depan, pada dua orang pengawal ayahnya yang baru saja turun dari sebuah mobil van berwarna hitam. ###########DISENSOR#######Kabar terakhir mengatakan dia berada di Amerika Serikat untuk menekuni kuliah Manajemen Bisnisnya, Kenny tak akan pernah tahu masa depan seperti apa, dia tak akan pernah bisa menebak bila di kemudian hari mereka mungkin akan bertemu lagi.

“Semoga itu tidak terjadi,” bisik Kenny pada dirinya sendiri.

Setelah satu orang beres, Kenny menekan nomer-nomer yang dibacanya dari secarik kertas kecil berisikan sebuah nomer telephone. Dalam dua kali nada sambung, si penerima telah menjawab panggilan Kenny.

“Disini Hendhy.”

“Hilton Plaza, dua jam lagi.”

Kenny menyesap kopinya untuk yang terakhir kali sebelum meninggalkan dua lembar uang ratusan ribu rupiah dan berlalu dari sana dengan mobilnya. Di bandara, seorang pegawainya telah menyiapkan tiket penerbangan untuknya ke Jakarta, Kenny akan membereskan masa lalunya yang belum terbereskan juga hingga hari ini. Masa lalu yang membayanginya dan menggangu semua rencana-rencana yang telah dia susun dalam kepalanya bersama Novi.

Kenny tak dapat menyembunyikan kegugupannya, tangannya berkeringat dan terasa dingin. Tak lama lagi dia akan bertemu dengan musuh bebuyutannya, laki-laki yang pernah dihajarnya hingga masuk rumah sakit dan menyerah kalah dalam sebuah pertarungan demi merebut kesempatan untuk mendapatkan hati seorang wanita yang sama-sama mereka cintai.

“Tunggu aku, H. Aku akan membuat perhitungan denganmu lagi!” 



15 comments:

  1. Wwwwwiiiihhhh papo liong makin keren jadi makin jatuh cintrong sama papi liong, kiss papi liong dulu ah (˘⌣˘)ε˘`)


    Kenny plis ya jgn bikin mslh lagi. Selesein baik2 sama hendy.

    Yiha akhirnya "nelam" hesti dah dibawa pergi. Husst... Husst... Hussttttt...


    °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° ya mba shin, akhirnya di post lagi lanjutannya tpi kenapa ada bagian sensornya, hiks hiks... Tpi gimanapun °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° ya mba (˘⌣˘)ε˘`)

    Can't wait 4 the next chapt :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. "ok tante..." kata Kenny wkwkwkwkkw

      apaan tuh "nelam"? oh, nenek lampir? lol

      Delete
  2. Ye..... Hesti udah menyingkir... Xixixixii thaks sist Shin *kecup basah

    ReplyDelete
  3. ya ampun mba shin makin bikin penasaran aja nihhhhhhh...

    pengen versi full nyaaaaaaaaaa

    ReplyDelete
  4. aduh kak bikin kepo kapan nie novel nya keluar ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. err... nanti aku kabarin ya kl novelnya jd diterbitin ahahha :Peace:

      Delete
  5. Aduh mba jd tambah penasaran bgt,,novelny kpn kluar ini mba??

    ReplyDelete
    Replies
    1. novelnya keluar pada saatnya nanti ya sist. wkwkwkkww.... :lg males ngetik nih:kyknya males ngetikku dah hampir setengah tahun lebih deh.. parah...

      Delete
  6. makiiiiiiiiin kepo aja ih sama full version yg dinovel
    semangat buat kenny untuk mengejar novi lagi
    si nenek sihir udah beres tgl si kakek sihir(?)

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.