"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, August 21, 2013

The Second Chance - Part 1 oleh Zia Zinia



The Second Chance by Zia Zinia


Dulu aku pernah mengenalmu, dekat dan berharap padamu bahwa engkaulah pelabuhan terakhir hatiku. Tapi seiring berjalan waktu, engkau mulai menjauh hingga akhirnya engkau menghilang.... 

"Hannah...."

"Hmmm..."

"Han, lo tuh kenapa sih diajak ngomong cuma ham hem ham hem aja daritadi. Lo bisu ya sekarang...." Orang yang duduk di depanku kini merasa jengkel karena aku gak menanggapi panggilannya sama sekali. Bukannya gak menanggapi sih sebenarnya tapi lebih karena ia datang di waktu yang salah, di jam kerja.


"Iiiih gak asyik banget sih lo, Han..." Serunya. "Dah ah gue balik aja." Lanjutnya dengan menghentakkan kakinya.

Aku mengangkat kepalaku perlahan gak lupa menyunggingkan sebuah senyum nan manis untuknya.

"Bye-bye Putri Zakiyah..." Ledekku gak lupa aku juga menggerakkan tangan kananku ke kanan dan ke kiri.

Putri memalingkan wajah kesalnya lalu menjulurkan lidahnya setelah itu ia pergi kembali ke ruangannya mungkin... Mungkin...
  
Ku keluarkan handphone dari laci meja kerjaku. 

Jangan ngambek gitu nti Farhan gak suka lagi loh :P
Bisa-bisa kalian gak jadi walimah piiissss cantik... Lope u my best friend^^ 

Send.... Ku kirim sms ke Putri, sahabat, kakak, adik, atau apapun sebutan terhadap hubungan kami.

Blip... Sms masuk, balasan dari Putri... 

Biar aja dia liat muka jelek gw, gak perduli... :P
Kalo dia gak mau masih ada tuh si abang gondrong mie ayam yang setia sama gue... :P

Aku tertawa kecil membaca balasan Putri. 

Hei nona cantik jangan ngomong sembarangan. Nti kalo diijabah sama Allah gimana?
Atau mang lo sebenernya naksir ama si abang gondrong ya? Kalo gitu sebaiknya gue bilang Farhan supaya ati-ati sama abang gondrong ^^

Send....
  
Blip.... 

Astaghfirullah,,,,, Ya Allah jangan KAU ijabah kata-kataku tadi. Aku bercanda, Ya ALLAH...
.___. Bilang aja sama dia, gue malah seneng jadi dia bisa ada di samping gue 24 jam penuh :P....
  
Aku tertawa lebih keras dari yang pertama sambil membayangkan raut wajah Putri sekarang.
  
Itu sih mau lo, Put... Gak jadilah kalo gitu. Mending gue bilang bang gondrong aja biar ada 24 jam buat lo, gimana? Lebih asyik loh, lo gak bakal nunggu dia jemput dah langsung ada di depan kantor, tiap siang juga lo bakal dapat makan siang gratis (gue juga bisa ikut numpang makan gratis)... Wkwkkkk

Send... 

Beberapa detik tak ada balasan dari Putri namun..... 

"Haaaannnnnnnaaaaaahhhhhh...." Melainkan teriakan darinya yang terdengar dari luar ruanganku dan...
  
BRUG!!!! 

Suara pintu dibuka dengan keras dan menampilkan wajah Putri yang menahan kesal akibat kejahillanku. Nafasnya memburu, terengah tak teratur... 

"Apa Putri sayang??" Tanyaku polos disertai dengan senyumku termanis untuknya. 

"Iiiissshhh lo tuh.... Lo...." Aku yakin Putri sekarang sedang menahan kesalnya. Gimana dia tak merasa kesal karena tak hanya hari ini aku menggodanya. Tapi hampir seminggu aku menggodanya. 

"Sini Putri sayang...." Wajah Putri makin memerah menahan kesal sementara aku makin senang menggodanya. 

Putri menghampiriku dengan wajah kesalnya. Lagi-lagi aku memasang wajah polosku tak berdosa. Dihempaskan tubuhnya di kursi depan mejaku dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. 

"Lo tuh kenapa sih udah seminggu ini bawaannya jahilin gue terus?" Rupanya Putri sadar selama seminggu ini aku menjahilinya dengan berbagai macam cara. Dari menyuruhnya bolak balik melihat design kebaya yang akan dikenakannya saat ijab kabul nanti sampai hal kecil seperti mengantarkanku membeli mie ayam depan kantorku atau hanya untuk bilang file yang ia kirim lewat email tak ku terima. Hingga ia harus mengirim berkali-kali. Tak hanya sekali kadang berkali-kali aku bisa mengerjainya dalam sehari.
  
"Huuuuahahahhaa.... Baru sadar lo, kemana aja Putri cantik." Aku tertawa sambil memegang perutku yang sakit karena menahan tawa. 

"Gue dah sadar dari kemaren tapi gue malas banget tanya-tanya ke lo." Ujar Putri masih dengan wajah kesalnya.
  
"Gak apa-apa Put... Gue cuma mau ngerjain lo, sebelom lo ambil cuti walimah plus bulan madu. Lumayan kan Put hampir sebulan lo gak bakal masuk kantor. Makanya gue isengin lo, gak lupa gue rekam semuanya." Jelasku dengan menunjuk ke sebuah kamera yang memang telah kusiapkan untuk merekam segala kejahilanku.
  
"Ya ampun, Hannah... Lo tuh kaya anak kecil deh." Teriak Putri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda ia gak menyangka atas semua kejahilanku. 

"Biarin aja gue kaya anak kecil yang penting kantor gue gak bakal sepi nanti pas lo gak ada. Lagi lo cuti kok lama banget." 

"Yah mau gimana lagi, Han. Gue juga kan sekalian nemenin Farhan tugas di Swiss." 

Aku mendengus mendengar penjelasan Putri. Sebenarnya aku tahu Putri gak ingin berlama-lama berbulan madu tapi apa daya Farhan memintanya menemaninya di Swiss sambil berbulan madu.
  
"Bbbeeeuuuhhhh gue gak suka nih kalo lo pasang muka begini." Seru Putri ketika ia melihat wajahku cemberut plus mimik sedih. 

"Mau gimana lagi, Put.... Lo ke Swiss, Adlina di Jerman. Lah gue, di Jakarta sendirian." Kataku masih dengan memasang mimik wajah yang sama. 

"Makanya cepet lo cari orang biar gak kesepian, bisa anter jemput lo...." 

"Lah tuh ada Pak Karim yang tiap hari anter jemput gue." Potongku cepat. Aku gak mau membiarkan Putri menyelesaikan perkataannya karena aku tau pasti apa yang akan diucapkannya. 

"Han...." Putri lembut memanggilku. Aku hanya menunduk gak ingin rasanya aku menegakkan kepalaku sekarang ini. Karena aku tau pasti gak akan bisa berbohong di depan Putri dengan mengatakan jika aku baik-baik saja.
  
"Han,, lo gak bisa kaya gini terus. Lo harus lupain dia. Dia udah gak ada di sisi lo. Dia bukan buat lo, bukan jodoh lo. Lo harus bisa lupain semua kisah lo sama dia...." 

"Gak bisa, Put." Kataku lemah sambil menggeleng lemah. 

"Han... Lo bukannya gak bisa tapi gak mau. Han, dia emang baik, baik banget malah tapi dia bukan buat lo. Dia udah milih takdirnya sendiri, dia udah nentuin jodohnya. Gue yakin dia juga gak mau liat lo kaya sekarang." Putri menghampiri dan memelukku. Mencoba meredakan tangisku yang pecah.
  
"Gue tau lo trauma tapi mau sampe kapan sayang? Lo gak bisa terus-terusan begini, lo harus move on. Gak semua cowo kaya dia, banyak cowo yang jauh jauh jauh lebih baik dari dia dan mereka mau melamar lo. Apa perlu gue sebutin satu-satu...." Ujar Putri masih dengan posisi memelukku. Aku tersenyum mendengar perkataannya. 

Perlahan ku melepaskan pelukannya sambil menghapus airmataku. Cengeng, sentimentil, melankolis, lebay mungkin aku yang sekarang ini. Terserah apapun anggapan orang padaku, aku tak perduli....
  
"Put,,,," 

"Ya..."
  
"Lo ngundang dia??"
  
"Maafin gue, Han." 

"Gak apa-apa Put. Dia sahabat Farhan, gue ngerti. Gue malah gak enak kalo kalian gak ngundang dia cuma untuk jaga perasaan gue." Kataku dengan senyum kecut di bibirku.
  
"Lo cuma dateng bentar juga gak apa-apa, Han..."
  
"Hei lo gak suka gue berlama-lama di pernikahan lo...." Potongku berpura-pura tersinggung dengan ucapannya.
  
"Gak gitu Han cuma gue...." 

"Gue tau Put maksud lo. Gue gak apa-apa kok. Yah paling kalo gue mau nangis, gue tarik Farhan sebentar mau pinjem bahunya buat nangis." Godaku.
  
"Mau lama juga boleh kok." Kini Putri rupanya gak tertipu dengan ledekkanku. Aku tertawa mendengar perkataannya.
  
"Eeehhhmmm kalo gitu ampe acara lo selesai gimana?" Ledekku lagi.
  
"Boleh-boleh asal lo siap-siap aja pijetin gue seminggu tanpa berenti." Kali ini Putri balik meledekku. Aku tertawa mendengar ancamannya.
  
Begitulah persahabatanku dengan Putri Zakiyah dan Adlina Akma. Tak mengenal waktu, tak mengenal suku bangsa, tak mengenal harta, kedudukan. Bagi kami yang berarti hanya waktu saat kami bersama, tertawa, menangis, berbagi kebahagiaan, kesedihan. Persahabatan yang dibangun berdasarkan kesamaan watak, kegemaran. Persahabatan yang berawal dari ketiga orang laki-laki yang hadir dan pernah hadir dalam kehidupan kami.



6 comments:

  1. ceritanya lucu, kocak. meskipun hanya percakapan yang mengisi bab 1 ini tapi authornya mampu memberikan pandangan pada pembaca mengenai apa yang ingin dia sampaikan (latar belakang dari hubungan Hannah dengan tokoh pria). well done... :D

    ReplyDelete
  2. Xixixixi iya lucu
    ​​Ђм(.̮)Mmm˚°◦º puk2 hannah...
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba zia n mba cin
    *psstt..jgn2 lama2 bab 2 nya ya, *nyengir

    ReplyDelete
  3. @rin2 : aku juga mau dong di puk2... Hëhëhëhë 
    Eh mau komen ah nti diomelin lagi....


    °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° mba zia n mba shin dh di post (˘⌣˘)ε˘`)

    Ayo lanjutkan!!! *jargonnya SBY*

    ReplyDelete
  4. gni nih ce udah disakitin mash bza maafin tpi susah move on.
    :-(
    thanks mb shin
    thanks mb zia

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.