"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, August 9, 2013

Volcano Erupts - Chapter FINALE - ANOTHER ENDING


Untuk merayakan ulang tahun myowndramastory ke-1 yang jatuh pada hari ini, maka saya spesial mempersembahkan Alternatif Ending untuk Volcano Erupts. Semoga berkenan. :)


Mereka diam membisu dalam ruangan itu, larut dalam pikiran mereka masing-masing. Piter tidak dapat berpikir, kepalanya kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan agar semua pihak bahagia tanpa harus menyakiti siapapun. Mengapa begitu sulit bagi ayahnya untuk menerima hubungan mereka? Cukup sembunyikan dari dunia, maka dia dan Liza akan hidup bahagia bersama anak mereka. Mengapa ayahnya bersikeras menepati janjinya sendiri sementara anak-anaknya hidup menderita dan tersiksa bathinnya. Dalam hatinya Piter merutuk ayahnya karena pria itulah yang egois.

“Piter...” bisik Liza memanggil Piter yang masih larut dalam pikirannya.

“Ya? Eliza? Ada apa? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Piter khawatir.


Sudah pukul dua sore dan Piter tidak tahu bila Liza sudah makan pagi atau tidak, karena beberapa hari ini Piter tak sanggup menelan makanan seperti biasa. Dan bila Liza seperti itu juga maka dia hanya akan mencelakakan Liza dengan menahannya lebih lama disini.

“Tidak, aku sedikit tidak enak badan. Bolehkah aku pulang?” tanyanya lemah.

Piter menoleh pada adiknya, mengisyaratkan agar remaja itu menjaga ayah mereka lalu Piter dan Liza meninggalkan rumah sakit itu untuk kembali ke apartemen. Dalam perjalanan Liza hanya memandang keluar jendela, dia tengah memikirkan sesuatu terlihat dari wajahnya yang sedih. Masalah-masalah yang datang beruntun untuk mereka hadapi terlalu berat baginya, Liza rindu kehidupannya yang dulu, kehidupan seorang Elizabeth Suteja sebelum ibunya meninggal, sebelum dia mengenal Piter.

“Apa yang akan terjadi bila kita tidak pernah bertabrakan di koridor itu, Pit? Mungkinkah kita akan duduk berdua seperti sekarang ini dalam mobilmu? Atau mungkin justru kita akan saling bermusuhan karena bisa saja setelah kau tahu aku adalah anak hasil dari hubungan gelap ayahmu dengan ibuku, kau akan membenciku dan ingin menghancurkanku,” ujar Liza pada Piter.

Piter memandang ke depan, memikirkan setiap perkataan Liza padanya, “Mungkin aku akan membencimu, tapi aku yakin.. Aku akan sekaligus tertarik padamu, Eliza,” jawab Piter pelan. Dia membayangkan dirinya menjadi seorang kakak yang kejam dan selalu mengganggu hidup adik sedarah lain ibu-nya lalu kemudian jatuh cinta pada Liza.

“Apapun kita, aku yakin aku akan selalu jatuh cinta padamu, Eliza. Aku yakin...” jawabnya dengan tersenyum. Untuk pertama kalinya Piter dapat tersenyum lagi setelah beberapa hari terlihat dengan mimik sedihnya.

Liza tersenyum miris mendengar pengakuan Piter, dia membayangkan hal yang sama. Mungkin bila mereka sama-sama mengetahui hubungan sedarah mereka dari awal, Piter akan mengganggunya dan keadaan akan menjerumuskan mereka dalam cinta terlarang namun telah mereka sadari. Orang tua mereka tidak akan pernah tahu bila mereka berhubungan dan Luther tidak akan terkena serangan jantung yang membahayakan jiwanya.

“Kau akan menjadi seorang kakak yang paling kejam di dunia, Piter,” ejek Liza padanya. Liza tertawa, tawanya dalam sedih namun cukup mengangkat sejumput beban dari dalam hati Piter. Dengan tangan kirinya yang bebas, Piter meremas lembut jemari tangan Liza dan melanjutkan kemudinya menuju apartemen mereka.

“Aku akan kembali nanti malam. Sekarang aku harus melihat Dad. Uncle Ludwig sedang menuju ke rumah sakit, malam nanti dia yang akan menjaga Dad sehingga aku bisa pulang menemanimu, Eliza.” Piter mencium bibir Liza dengan lembut, melepaskan kerinduannya tak bisa bertemu dengan Liza beberapa hari ini. Mereka berciuman dengan hangat dan panjang, Piter tidak ingin melepaskan bibirnya dari Liza.

“Aku ingin sekali menghabiskan hari ini bersamamu, Eliza...” Piter menyentuhkan dahinya pada kening Liza.

“Kau tahu itu tak mungkin, Piter. Herald akan bingung seorang diri di rumah sakit, bila keadaan memburuk dia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Kau harus kembali,” bisik Liza pada Piter.

Piter menghela nafasnya, “Ya kau benar, Eliza. Ahh.. Aku sungguh merindukan ranjang kita, memelukmu dan tidur nyenyak sehari-semalam tanpa memikirkan beban apapun.” Piter memeluk erat tubuh Liza dan menghela nafasnya lagi.

Liza tersenyum lemah, mengecup pipi Piter dan mengantarkan laki-laki itu keluar pintu apartemen mereka. Piter melambaikan tangannya dan tersenyum manis pada Liza untuk yang terakhir kalinya. Tak lama kemudian bell pintu apartemen Liza berbunyi lagi, kali ini Liza terkejut karena Bianca lah yang sedang berdiri di depan pintu bersama seorang laki-laki warga negara asing dengan rambut pirang gelapnya.

“Bi..bianca?” tanya Liza kaget saat membuka pintu apartemennya.

“Boleh kami masuk, Liza? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” kata Bianca padanya. Laki-laki tinggi di belakangnya menatap Liza dengan penuh selidik dari ujung kaki hingga ujung rambutnya tanpa ekspresi.

“M..masuklah,” jawab Liza sembari membuka pintu dengan lebar untuk kedua tamunya.

Liza mempersilahkan Bianca dan temannya duduk di sofa ruang tamu sementara Liza duduk di sofa di depan mereka. Liza gugup dengan maksud kedatangan Bianca padanya, dalam hatinya Liza was-was dan khawatir apabila Bianca akan mengamuk dan melampiaskan kemarahannya pada Liza karena perselingkuhan Luther bersama ibunya.

“Liza.. Aku tahu kedatanganku pasti membuatmu bertanya-tanya, tapi kau harus tahu aku menyayangimu seperti anakku sendiri dan tak ada yang aku inginkan selain kebahagiaanmu. Kau tahu itu, kan?” tanya Bianca sopan, wajahnya menyunggingkan sedikit senyum, terlihat kesusahan menghinggapi wajahnya.

Liza mengangguk, tidak dapat menemukan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan ibu dari kekasihnya.

“Piter.. Kakakmu.. Aku tahu kalian adalah saudara sedarah dan.. aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan hal ini. Liza.. tolong pergilah dari hidup Piter.” Bianca tiba-tiba berlutut di hadapan Liza dan memohon padanya. Liza terkejut dan ikut duduk di lantai, dia membantu Bianca berdiri namun wanita itu tak bergeming, dia teguh dengan pendiriannya.

“Liza.. Aku tahu apa yang aku lakukan ini sangat memalukan, tapi kau harus mengerti. Aku adalah ibu Piter, aku hanya ingin dia hidup bahagia tanpa kesusahan pada hidupnya. Dan dia tidak akan mendapatkannya bila hidup bersamamu. Bila dia memilihmu, Piter harus kehilangan semua hartanya, warisannya, namanya.. Apakah itu yang kau inginkan, Liza? Piter kehilangan jati dirinya?” Bianca menangis terisak memikirkan anak sulungnya.

Liza mengerti kemana arah pembicaraan mereka, dadanya terasa sesak, Liza tidak sanggup menahan perasaannya. Air matanya menetes menyadari dia harus merelakan Piter demi masa depan laki-laki itu. Mungkin mereka memang tidak pernah ditakdirkan hidup bersama, kebersamaan mereka hanya menyakiti banyak orang, mereka berbahagia diatas penderitaan keluarga mereka.

Luther yang masih berbaring di atas meja operasi, Bianca yang bersimpuh memohon padanya, Herald yang mungkin tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan apa yang mungkin akan terjadi pada keluarganya bila Piter dan Liza bersikeras melanjutkan hubungan mereka, atau pada Piter.. yang bisa kehilangan semua kesempatannya bila mengikuti hatinya dan hidup bersama Liza, mereka semua adalah korban dari apa yang mungkin terjadi bila Liza tetap melanjutkan hubungannya dengan Piter.

Dan Bianca masih menangis terisak memohon padanya dengan wajah memelas yang tak mungkin bisa Liza tolak, bagaimana Liza bisa sampai hati menghancurkan harapan seorang ibu pada anak-anaknya. Liza tidak bisa egois dan hanya memikirkan dirinya, tapi apakah bila dia menerima permintaan Bianca lalu Piter akan memaafkannya? Apakah Piter akan sanggup menerima alasannya bila dia suatu saat nanti menemukannya kembali dan bukannya malah mereka akan menjadi musuh? Liza tidak ingin menjadi musuh Piter, dia hanya ingin bersama laki-laki itu, hidup sederhana bersama anak-anak mereka nanti yang sudah tidak mungkin lagi bisa terwujud.

“Liza.. Aku mohon kau memikirkan kembali permintaanku ini, ini semua demi kebaikan semua orang. Ini.. ada sedikit uang untukmu bila kau berubah pikiran. Kau bisa menggunakannya untuk membeli beberapa hektar tanah di desa dan memulai hidup baru atau dimanapun kau ingin, Liza.” Bianca menyodorkan sebuah koper yang berisi penuh uang pecahan seratus ribu rupiah, uang yang sangat banyak yang tak pernah dia lihat sebelumnya.

“Aku tidak bisa menerima itu, Bianca, aku belum menyetujui apapun. Bagaimana dengan Piter? Dia akan marah dan mencariku bila aku pergi meninggalkannya...” bisik Liza sedih.

“Piter akan baik-baik saja, ada seseorang yang akan mengobatinya. Kalian akan saling melupakan bila telah lama berpisah,” bujuk Bianca lagi.

Liza terlihat bimbang dalam pikirannya, hingga Bianca berpamitan dari apartemen itu Liza masih terpaku dalam duduknya memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan. Bianca meninggalkan koper hitam itu di atas meja meskipun Liza tidak berniat untuk membukanya.

Hari telah petang saat Liza bangkit dari duduknya, dia merasa begitu lemah dan terkuras energinya memikirkan semua masalah yang mereka hadapi. Liza belum menyentuh makanan sedari pagi, hanya secangkir teh hangat yang sanggup masuk ke dalam perutnya, dan kini Liza limbung hampir terjatuh saat tubuhnya terantuk meja. Handphone Liza berbunyi, dia meletakannya di atas meja. Dengan bertumpu pada punggung sofa, Liza mengambil handphone namun matanya tertuju pada noda darah pada sofa. 

Liza menebah dadanya, matanya membelalak menyadari dari mana asal darah itu. Liza menyentuh gaun belakangnya dan menyadari gaun itu basah, tangan Liza basah dengan darah. Dia bahkan tidak menyadari gaunnya basah ketika duduk termenung saat larut dalam pikirannya.

Tubuh Liza merosot jatuh di atas lantai, badannya yang lemah hanya bisa bertumpu pada sofa di sampingnya, Liza meraung-raung menangisi kehilangan anaknya, anak yang dikandungnya selama dua bulan lebih. Perutnya mulas, Liza kesakitan dan keringat dingin menyerangnya. Badannya menggigil kedinginan, wajahnya pucat pasi dan giginya bergemurutuk.

“Piter.. Piter.. Maafkan aku, aku telah membunuh anak kita...” tangis Liza lirih. Dia berbaring di atas lantai yang dingin, meringkuk sambil memeluk tubuhnya yang kedinginan masih dalam pakaian yang sama. Long dress biru muda yang kini telah bersimbah darah, darah yang berbau amis dan mulai mengering dan lengket.

Piter menemukan Liza tak sadarkan diri meringkuk di atas lantai dengan pakaian penuh darah. Seluruh tubuh Piter lemas tak mampu bergerak, wajahnya pucat,  jantungnya berhenti seketika saat nafasnya tertahan. Piter memanggil kekasihnya dengan suara menyayat hati siapapun yang mendengarnya, tangisannya meraung-raung memanggil sang kekasih yang tak mampu menyahut.

Piter menggendong tubuh Liza masuk ke dalam ruang UGD, membaringkannya dengan pelan di atas ranjang. Para dokter dan perawat langsung mengerumuni dan memeriksa kondisi Liza sementara Piter berdiri lemas tak berdaya menyaksikan para pelayan kesehatan itu melakukan tugas mereka.

Piter duduk termenung seorang diri di ruang tunggu, Liza telah masuk ke ruang operasi dan sedang diperiksa organ reproduksinya. Piter tidak tahu apa yang sedang terjadi namun hatinya tahu, sesuatu hal buruk telah terjadi dan dia tidak berani memikirkannya. Piter duduk mematung, tatapannya kosong, dia terlihat sangat lelah. Wajahnya kusut sama seperti kemeja putihnya yang lusuh dan terpapar noda darah dari pakaian Liza. Kejadian beberapa hari ini telah menguras tenaga dan pikirannya dan kini hatinya. Piter merasa hampir tak sanggup lagi perpijak pada dunia, dia ingin melarikan diri dari semua masalah ini.

Saat dokter menghampiri Piter dan mengabarinya berita buruk itu, Piter sadar, setengah nyawanya telah pergi. Hidup tidak akan pernah sama lagi ketika harapan masa depan mereka telah sirna. Piter tidak yakin mampu menjadi penopang bagi Liza yang sedang terguncang karena kehilangan anak mereka, karena dia sendiri tidak yakin apabila dia akan sanggup melewati penderitaan ini seorang diri. Saat Liza-nya berbaring lemah di atas ranjang, saat ayahnya juga tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit, ibunya yang mengurung diri dalam kamar dan adiknya yang kebingungan. Piter sama dengan mereka, dia adalah korban yang juga bisa kalah oleh takdir..

Liza diperbolehkan pulang keesokan harinya, mereka tidak berbicara seperti bagaimana mereka selalu menyembunyikan perasaan mereka masing-masing. Mereka bersedih, mereka terluka, hanya Tuhan yang tahu bagaimana mereka saling memerlukan, saling membutuhkan agar bisa melewati cobaan ini.

Berhari-hari mereka menangis dalam kesunyian kamar, dalam pelukan rapuh yang melingkari jiwa mereka yang mulai melemah. Dalam kehampaan hati yang mulai mengikis harapan akan kebahagiaan dan masa depan mereka, dalam keputus-asaan akan apa yang pertama kali ingin mereka perjuangkan. Dan hanya Tuhan yang tahu sampai kapan penderitaan ini akan mereka alami.

Piter mencium lembut kening Liza, membisikan kata cinta pada wanita itu dan tersenyum padanya dalam kebisuan.

“Aku selalu mencintaimu, Elizaku. Istriku..” lalu Piter mencium bibirnya sekali lagi. Liza melambaikan tangannya mengantar kepergian Piter, dia hendak pergi ke kantornya mengurus beberapa surat-surat.

Hatinya hampa saat udara pagi menerpa rambutnya yang melambai-lambai tertiup angin dari jendela mobilnya yang terbuka. Rokok di tangan yang dihisapnya dengan nikmat tak mampu mengembalikan keceriaannya yang dulu. Semua kenangan indah saat pertama bertemu dengan Liza, saat berkenalan dengan wanita itu, saat pertama kali mereka bermesraan dan memadu kasih, saat pertengkaran pertama mereka, bahkan saat tangisan pertama mereka begitu membekas dalam hati Piter dan akan selalu dia ingat dalam hidupnya.

Puntung rokok dibuangnya sembarang ke tengah jalan, menutup jendela kaca mobil lalu handphonenya berbunyi. Kekasih hatinya ingin berbicara padanya.

“Piter, tolong jangan sela kata-kataku... Aku... ingin meminta maaf atas apa yang akan aku lakukan setelah ini. Aku tidak ingin menjadi orang sok suci yang tidak pernah melakukan kesalahan, atau orang munafik yang berpura-pura tidak melakukan sesuatu yang justru dilakukannya. Aku mencintaimu, rasa itu akan selalu ada hingga aku mati nanti. Bahkan mungkin setelahnya, karena aku tahu kau adalah belahan jiwaku. Kau tak usah mencariku, kini aku telah berada di bandara, lima menit lagi pesawatku akan berangkat meninggalkan negeri ini. Kau tak usah susah-susah mencariku, aku menggunakan nama lain untuk membeli tiket. Aku tak ingin kau menemukanku lagi, Piter...

“Apa yang telah kita lewati bersama sangat besar artinya bagiku hingga apa yang kulakukan ini telah kupikirkan masak-masak meski tak pernah ada jalan keluar yang terbaik yang bisa aku pikirkan. Untuk semua rasa yang pernah kita kecap bersama, untuk segala suka duka, senang sedih, kesal dan bahagia kebersamaan kita... aku berterima kasih.”

“Untuk bayi kita yang tak sempat melihat dunia, untuk cinta yang pernah kita bina, aku berterima kasih. Dan aku... meminta maaf, karena aku tak sanggup menjalani hidup seperti ini lagi. Keberadaanku hanya membuatmu menderita, membuat kau kehilangan orang-orang yang kau cintai, membuatmu... memilih antara keluargamu dan aku... Aku tak pantas, Pit...

“Kau pernah berkata padaku dulu, bila aku bisa hidup tanpamu, maka aku harus melepasmu. Meski kubohongi hatiku, aku tetap tak bisa hidup tanpamu. Namun... Bila kebersamaan kita hanya akan membuat kita menderita, apalah artinya hidup bila terasa mati? Mengetahui kau hidup dan bernafas dengan udara yang sama denganku sudah cukup bagiku. Maka sekarang kukatakan padamu, Piter... Aku melepaskanmu... demi kebaikan semua orang. Maafkan aku karena menjadi orang yang menyakiti hatimu, orang yang melukai kepercayaanmu. Ini kulakukan karena tak ada pilihan lain, Piter.” Eliza menghela nafas lemah, dia bisa mendengar desah nafas Piter yang semakin  mengeras, menggambarkan betapa usaha laki-laki itu untuk menahan emosinya.

Piter telah memutar mobilnya menuju bandara, menembus jalan raya padat dengan adrenalin memacu tinggi. Dia tak ingin kehilangan Eliza, Piter tak ingin wanita itu pergi darinya.

“Selamat tinggal, Piter. Selamat tinggal, Cintaku. Aku selalu mencintaimu.” Dan sambungan telephone pun tertutup tanpa memberi kesempatan Piter untuk mengucapkan sepatah katapun.

Piter berusaha menghubungi nomer Eliza namun nomer yang dia tuju telah dinonaktifkan. Dengan geram Piter mengemudikan mobilnya seperti orang gila, membunyikan klakson setiap saat dan mengundang kekesalan orang lain. Setengah jam kemudian dia tiba di bandara dan mendapati Eliza telah pergi. Meski dia tak tahu kemana perginya wanita itu, hatinya tahu Eliza telah meninggalkannya.

Dengan wajah pucat pasi kelelahan, frustasi karena masalah beruntun yang menimpanya belakangan, kehilangan bayi mereka hingga kepergian Eliza membuat Piter hancur tak berperi, hatinya tak dapat dirasakannya lagi. Piter menangis namun tak ada air mata yang sanggup keluar, bibirnya bergetar, tenggorokannya tercekat sakit.

“Eliza...” hanya nama itu yang terbersit dari bibirnya setelah satu jam lamanya mencari-cari keberadaaan Eliza di bandara.

~*~*~*~*~

Tiga bulan berlalu, Piter masih tak menemukan kabar mengenai keberadaan Eliza. Luther Van Der Wilhem telah kembali ke rumahnya, Bianca pun masih setia menemani laki-laki tua itu meski dia dengan keadaannya sekarang hanya bisa bergerak dengan bantuan kursi roda. Sakit jantung yang dialaminya cukup fatal hingga membuatnya mengalami stroke dan lumpuh pada tubuh bagian bawahnya.


Herald yang dulunya begitu ceria, setelah kemuraman yang menimpa keluarga mereka, ikut-ikutan menjadi pendiam. Bahkan saat makan pagi di meja makan, tak ada satupun yang berbicara. Keadaan hening ini berlaku hingga hampir setengah tahun lamanya, ketika suatu pagi Piter memulai perbincangan dengan ayah dan ibunya, seolah dia mulai bisa melupakan permasalahan mereka dahulu. Lambat laun, hubungan keluarga itu mulai membaik meskipun tak akan pernah seindah dulu.

~*~*~*~

Dalam kantornya yang dingin, Piter memandang bisu pada jendela yang memperlihatkan langit oranye di angkasa, dengan awan berarak penuh dan burung-burung beterbangan. Tak lama pintu kantornya diketuk dari luar.

“Sore, Mr. Piter, Mr. Herald telah tiba,” ujar sekretarisnya yang memberitahukan kedatangan adiknya.

Piter berdiri dan menyambut kedatangan Herald dengan suka cita, meski senyumnya tak bisa dikatakan riang.

“Hai, Kak. Miss me?” celoteh Herald seperti biasa. Laki-laki muda ini baru saja kembali dari luar negeri, dimana dia menamatkan kuliahnya.

“Miss your ass, Brother.”

Piter dan Herald pun berpelukan erat, saling menepuk punggung sebelum duduk di kursi sofa ruang tamu kantor Piter.

“Jadi, kau sudah siap?” tanya Piter kemudian. Sudah empat tahun lamanya Herald menempuh ilmu di negeri jauh dan Piter sangat menantikan kedatangan adiknya ini. Herald akan ditugaskan membantu Piter untuk mengembangkan perusahaan mereka.

Anytime soon... Secepatnya, aku siap,” jawab Herald bersemangat, “Jadi... Kau akan mengambil cuti panjang?” tanya Herald dengan sebuah lirikan pada kakaknya.

Piter tersenyum namun wajahnya tak menampakkan kegembiraan orang yang akan berlibur. Pada usianya yang ke tiga puluh lima tahun, Piter masih belum sanggup melupakan Eliza, selama itu pula dia tak pernah berhenti untuk mencari wanita itu. Luther dan Bianca tak pernah mendesak Piter untuk menikah atau mencari pengganti Eliza, mereka tahu itu hanya akan melukai hati Piter dan membuat emosi Volcano yang telah mereda untuk meletup kembali.

Piter menatap wajah adiknya sekilas, dengan senyum penuh pengertian diapun bergumam pelan, “Ya, inilah saatnya. Sekaranglah saatnya,” jawabnya.

Herald meremas pundak kakaknya, menunjukkan dukungannya pada laki-laki itu, “Sampaikan salamku padanya bila kau bertemu dengannya, Kak.”

Piter tersenyum miris, “Andai aku bisa, Dik. Andai aku bisa...” Piter merebahkan tubuhnya di punggung sofa, pandangannya melayang kembali ke luar jendela, pada langit senja berwarna oranye di angkasa.

~*~*~*~*~

Good afternoon, Madame, seperti biasa?” tanya seorang butcher kepada pelanggan meatshop di pinggiran jalan Flamingo Road, Australia.

“Ya, seperti biasa, Mister,” jawabnya seraya tersenyum.

Sementara itu dari kejauhan seorang pria dengan kacamata hitam dan pakaian casual sedang menyesap kopinya yang telah dingin memperhatikan wanita itu masuk ke dalam sebuah toko bunga dan memilih beberapa bunga setelah menghirup wanginya.

Sebuah buket bunga mawar dan sedap malam, wanita itu kemudian keluar dari sana dengan senyum bahagia. Dia merogoh saku jaketnya, mencari sebuah kunci yang membawanya masuk ke dalam kompleks apartemen sederhana nan asri yang juga terletak tak jauh dari Cafe tempat pria itu berada.

Sudah seminggu lebih pria itu memperhatikan apa yang dilakukan si wanita, mengamati dengan penuh kerinduan, sesekali dia menoleh ke arah lain saat hatinya tak kuasa membendung sakit dan sesak di dada bila memikirkan mengapa dia tidak boleh menghampirinya. Hanya dari kejauhan pria itu mendamba, tanpa berani untuk mendekat, tanpa khawatir untuk membuat Si Wanita pergi lagi dan dia kehilangan jejaknya.

“Biarlah seperti ini, asal bisa melihat dan mendengar kabarmu... aku sudah bahagia, Eliza...” Piter tersenyum miris, memandangi rerumputan hijau Clasio Park yang terhampar luas di depan jalan Flamingo Road. Menunggu selama dua jam lagi hingga Eliza akan keluar untuk membeli keperluannya, menunggu agar dia selalu bisa melihat wanita itu, mengingatnya dalam kepalanya, berbahagia karena Elizanya bahagia, meski mereka tak akan pernah bisa bersama.




~*~*~*~ The End ~*~*~*~



55 comments:

  1. aaaaaihhhhhh, sedih banget jadi mereka..
    T_T
    daaaaaaaaaaannn, Selamat ulang tahun yaaaaaaaaaa myowndramastory..
    semogaa...
    semakin dicintai readernya..
    semakin banyak cerita menarik, dan cerita-cerita sebelumnya bisa dilanjutkan lagi.. hehe

    dilanjutin yaa mba shin, ya kan ?? heheh *reader banyak maunya*
    >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi banyak chi... terima kasih jg buat dukungannya selama ini hingga hari2 terakhir myowndramastory ulang tahun.. semoga masih setia hingga akhir myowndramastory melanglang dunia maya ini ya :D ;Hug:

      Delete
  2. yeay....mksh mba.suka ma ending yg g meninggal ini... Happy bday myown

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. makasi banyak may... :D tp tetep nyesek jg menurutku wkt nulis. lol

      Delete
  3. Balik2 truz siapa tau ada postingan baru,,eh pas buka ada piter n eliza,,,sedih banget endingnya tp lebih baik,,,met ultah myowndrama,,,semoga tambah banyak yang suka dengan myowndrama n dilanjutin cerita2 yang blm selesAi,,,

    ReplyDelete
  4. aih tetep aja sedih hiks..
    mending ending mereka yg pertama mba, sakitnya langsung ilang. Kalo yg ini mah masih harus ngerasain sakit seumur hidup..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhahaa..... lol.... ehem.. nanti deh kl dapat ilham lg bikin ending spesial lain. kan banyak tuh ide2 reader yg bisa ditulis untuk dijadiin endingnya VE -ending alternatif- lol

      Delete
    2. hha ampun deh mba.. jangan bikin daku galau teyusss donkssss hhi

      eh iya lupa belum ngucapin Happy Birthday buat myowndramastory. met ultah ya mba.. moga makin banyak kisah2 yang mba tulis. idenya ngalir terusss, dan mudah2an suatu hari nanti bisa ketemu mba shin hhe

      Delete
    3. amin.. amin... makasi banyak ya sist ehhehehe...... gpp donk.. sekali2 biar cuci mata lol.... biar belekan yg nyangkut berbulan-bulan lepas. lol :joyok:

      Delete
  5. mba shin... kok sedih lagi???? hiks hiks ;(
    happy birthday ya baby myowndramastory. semoga semakin gede, bisa jalan, bisa makan hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahhahaa kan gak mati.... jd gk sedih2 amat donk harusnya? ehhehee....

      ho'oh.. makasi banyak ya 'ante..... bial cepet bica jalan-jalan....

      Delete
  6. Another ending tp ttp nyesek,,kasian piter n elizany :(
    Dilanjutin crtnya mba,,nanti piterny kecelakaan gt n kekurangan bnyk darah tp keluargany ga bs nyumbangin darahny krn gada yg cocok,,setelah diselidiki ternyata piter anak org lain yg tertukar di RS swkt bayi,,kan tar eliza ma piter jdny bs hepi end gt ...wkwkwkwk#ngarang bebas
    #abisny kasian bgt mereka,,saling cinta smp sgt dalemnya ternyata terlarang :(
    Btw happy bday buat myowndramastory smg blogny makin besar n crita2ny mkn banyak n bs terselesaikan smua,,,:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kwkkwkwkkwkw..... ehem... cerita yg menarik lol.... makasi lho pencerahannya. biarlah VE menjadi salah satu karya yang akan aku kenang selalu bahwa cinta itu tak akan pernah mati meski semua cobaan mendera. :D

      makasi banyak ya sist ;) amin amin....

      Delete
  7. tetep aja endingnya g enaaak.

    huuuaaa
    :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha eko..... kasiin royco ko biar enak :D

      Delete
  8. happy bday myown..
    mga panjang umur n membuat cerita yg makin OK punya.


    thanks mb shin
    *peyuk n cium

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin.. makasi banyak ya ekoo :muwah muwah: hug:

      Delete
  9. Happy b'day myown!!!!
    Smkga tmbah Ok! N sllu mnyajikan kisah yg menggugah hati para pmbca sperti kita ;)
    Btw, ni spertiny ending yg ad d novel kn?:P
    Sdih juga sih.. Ga rela bgt rsany klo mreka pisah gtu.. Hiks :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan, ini ending alternatif. ending di novel seperti cerita awal.

      tengkyu ye ucapannya. mdh2an bisa seperti harapanmu :D :meski kyknya susah: ckckkckc....

      Delete
  10. Hemmmm pertama aku ucapin happy birthday Myowndramastory sayang :)

    ending pertama sueddihhh bgt ampek skrg aq masih terasa tp ttp suka. Bukan berarti aq gaK suka sama ending Yg ini sih. Hanya saja .. Apa sih aq kok bingung sendiri mau ngomong haha :D . Yah ini antara happy & sad endinglah. Mungkin ini lebih baik drpd nyawa yg terenggut, aq masih inget bgt gmn Eliza gantung diri, gmn Pitter kecelakaan, gimana nuansa pemakan masal. Seolah semua warga negara menaikkan bendera putih setengah tiang

    sist Shin aq suka endingnya. Daripada karya bebasku Yg dulu apa? Hemmm mereka hangout ke Paris dan melakukan vasektomi hahaha *ending vulcano dr sisi readers :))

    kira2 inikah ending mas Pitter Yg di cetak?

    hug & kiss :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahha makasi banyak sist atas ucapannya. :D

      wah, jd terharu kl sampe ada reader yg msh begitu ingat dengan scene2 di dalam cerita :D karena terkadang ada yg membaca sambil lalu, cukup tahu awalan dan ending aja trus lupa. ehhehe...

      karya bebasmu bagus kok sist, cuman kl vasektomi kasian aja. toh gk ada bedanya kan dengan pakai pelindung. lol.... sama2 incest...

      ndak, ending VE yang dicetak yg original kemarin. cuman ditambahin sedikit cerita aja, tp belum fix pst apa akan ditambahin atau enggak soalnya kurang sreg aja perasaanku buat nambahin ;)

      hehehe... hug n kiss balik.... :smooch:

      Delete
    2. Yesssssss aq jg suka bgt ending kamren. Untung sist Shin nggak ada rencana ngerubahnya buat di cetak. thanks. Coz seriusan seolah kisah nyata meskipun itu hanyalah karya fiksimu. but really relly i love it.

      Aq mau beli serius. Tunggu aq mudik hehe.

      Delete
    3. jiahahhaha... orang mudik udah lewat ni kapan mudiknya? ehhehe... VE adalah salah satu karyaku yg ingin kupajang di dalam rak lemariku sist. krn itu adalah salah satu karya yg aku buat sepenuh hati :D :mudah2an VR jg bisa seperti itu: amin...

      Delete
  11. Huaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,huaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa mw dbkin ky gmn jg akhrnya sllu bs bkiiiinnnnn nangiiiissss...
    Piteeerrrrrrr...piteeeerrrrrrr.... T.T
    Hukz,, keyeeeennnnnn,,Mba Ciiiinnnn keyeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnn....

    ReplyDelete
    Replies
    1. asik... senangnya hatiku bisa bikin vie nangis lg. gk difoto kan vie fto yg nangis kali ini? coba difoto kan lebih teringat jdnya. ehehhehe....

      makasi banyak ya vie pujiannya :D

      Delete
    2. Waahhh,,iyaaa yaahh..
      Hrsny diputuu,,di save dl smntra
      Ntr klo bkuny dh jd,,dcetak taro deh dblkg dkt epilog...
      Haaaaa,,, telaattt mikirnya si Vie ini *toyor*
      Xixixixi sm2 Mba Ciinn
      Ttp cemumuuuuuuuuddddddddd....
      (′▽`)ง

      Delete
    3. wkwkwkwkwk... sana ntn indiahe dl biar bs nangis. lol....

      Delete
  12. huaa klo ini yg jd ending bwt dicetak g akan ada VR doong.
    :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. tenang ka... bukan yg ini kok yg dicetak, tp yg asli :D yg tragis itu lhoh... wkwkwwwww

      Delete
  13. *sigh* i can't say anything, mb shin
    but this one better, dr pd ending sebelom nya. VR msh tetap lanjut kan???

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahah asik... better lah ya, setidaknya masih ada yg bahagia dengan cara melihat atau dengan cara "ckup tahu" bila mereka hidup dalam dunia yg sama dan menghirup udara yg sama ;)

      VR lanjut... doakan ya bisa dilanjut:)

      Delete
  14. kirain another endingnya bakal happy ending trnyata ttp aja sad ending
    tp seenggaknya mrka ga berakhir tragis kaya yg disatunya

    btw selamat ulang tahun buat blognya
    semoga makin banyak menghasilkan karya2 yg bagus ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha slowly... diginiin dulu... nanti kl dapat ilham biar happy ending br dibikin lg yg hapend. wkwkkwkww....


      iyaa.. makasi banyak ya sist :D amin amin... mudah2an :D

      Delete
  15. 1 year.

    365 days.

    It seems a short time but ur works are more than short.

    Happy Birthday... Keep writing. Keep creating and dun forget David Steele...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaaha... akhirannya menohok sempurna di tempat tersensitif. lol.. makasi banyak ya sist. tp koreksi dikit, bukan David Steele, tapi David Steel. David gak ada hubungan apa2 ama anastasia stelle... lol...

      Delete
  16. +*****+HAPPY BIRTHDAY MYOWNDRAMASTORY +******+ Terima kasih telah menemani hari2ku disela2 kesibukan dan memberi mood booster di setiap harinya dengan cerita2mu.

    Hmm...nyesek bacanya mbak shin tapi terima kasih yah .

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih kembali sista.... senang deh bacanya kl myown bs jd temen sehari2.

      hehee... iya nih, tp setidaknya mereka msih hidup dan move on kan? hehee... :D

      Delete
  17. Happy anniversary myown,,, semoga makin seru& crta2nya bukan berarti selama ini gak bagus ya crta2nya, makin jaya, makin banyak pembacanya, mba shin makin rajin nulis #plak heheheehe...

    Mw ending yg manapun, aku te2p nyesek...
    Kenapa gak dibikin ternyata bianca selingkuh #plak hahahaha

    °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° ya mba (˘⌣˘)ε˘`)

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin... makasi banyak sist fathy. terima kasih udah setia ama blog ini dr awal sampe skrg ehehhe...

      amin mdh2an bs makin rajin nulis, meski gk janji...

      :D kl bianca selingkuh kan dia artinya munafik donk? masak dia nyelidikin suaminya selingkuh, tp dia sendiri selingkuh... banyak yg harus diulang kl gt. lol....

      makasi kembali sist... alias sama2... :smooch:

      Delete
  18. Aigooo...
    Saya telat sangat..
    Maapken mbak shin..

    Happy b'day to myowndramastory..
    Panjang umur,,sehat selalu..Lol..Smakin jaya,,smakin memberi inspirasi..
    Maapken..tak bisa memberi kado T__T..hiks..hikss..
    Padahal pengen banget ikutan gamenya..T__T..
    Tapi apalah daya,,hati dan pikiran tak sejalan..lol..#plakplak apaan sih curhatnya ya??

    Thanks mbak shin udah memberi saya inspirasi & kesempatan ikutan tampil di myowndrama,,love u.. :hug:kisses:
    Sekali lagi happy b'day mbak shin..

    ReplyDelete
  19. Another endingnya masih buat nyesekk..tapi tak segalau yg kemaren..lol..
    Walaupun hati kecil eike pengen mereka bersatu..hihihi..
    VR nya dinanti ya mbak shin..
    Tak sabar membaca mereka happy ending forever n ever..
    Hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha pelan2 sist, skrg kan br diangkat dr kematin, habis ini dipersatukan dengan cara lain. wkwkkwkww.... sip sip... makasi ya :D

      Delete
  20. happy b'day myown
    ending lain VE..... no happy or sad... okelah

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... no happy nor sad... xie xie xie xie...

      Delete
  21. aisssh, mbak shin.. kirain ini happy endingnya VE.. :-(
    em, tapi aku lebih suka ending yang pertama mbak. berasa banget.. berasa nyeseknya.. sedihnya, sakit hatinya, mata bengkak, hidung meler, gak bisa tidur semalaman, kepala jadi migran, dll

    hehe.. ^_^V

    ReplyDelete
  22. errr,,,tetep galaunya mbaak....
    cuman yg ending pertama galaunya lebih hebat, sampe nangis langsung dikantor... -,-
    yang ini galau tak berujung deh ya...apalagi buat piter,,,hadeeh piter, coba kamu ketemu sama aku,,gak galau lagi deh...
    hihihihhii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa... masak sih sampe nangis sist? ihihihi :jd senneg: #ehhh

      hahaha... iya tuh, cb piter ketemu km ya sist, galaunya pst ilang :D

      Delete
  23. ini another ending mba shin? duh duh..sama2 nyesek #sambil ngelus2 dada

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya.... yah, biar gak mati kan?? ya udah, gini dah jadinya lol

      Delete
  24. Mba shin, mending mati dah mereka.drod nyesek bgni... ahhh sama ajaa pkonyaa, saya sedih :(( maaaff telat bgt but hbd myowndramastory.sukses sll

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahaha.... rena.a..... kok malah seneng mereka mati sih? lol......

      makasi ya ren... gpp telat :D

      Delete
  25. mau gimana juga tetep aja endingnya mereka gak bakalan bisa bersatu... Huhuuuu sediiihh.... Makasih Mba Shin udah bikin cerita sebagus ini... Semangat mba Shin....

    ReplyDelete
  26. Siapa yg iris bawang ni??
    Gak terasa netes

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.