"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Wednesday, September 4, 2013

CERMIN 30 - 5 TAHUN PENANTIAN - CHAPTER 6


Aku sedang berada di dalam mobil yang membawaku kembali ke rumah. Hari ini aku tidak bisa menghadiri pembukaan kantor cabang perusahaanku. Hatiku terlalu sedih untuk melaksanakan tugas pekerjaan itu, biarlah Chindy yang melakukannya. Royce bisa membantu bila dia kewalahan.

Aku sungguh tak menyangka Arnetta akan menolak tawaranku, meski bisa kumaklumi, namun rasanya masih tetap menyakitkan bila harapan yang telah aku himpun tak sebesar peluang hasil yang kudapat. Arnetta menolakku tanpa memberikan alasan yang bisa kuterima. Andai saja dia bersedia, perlahan-lahan ingin kujelaskan padanya dan kutunjukkan siapa diriku sebenarnya.


Apakah hanya aku yang bersedih? Karena dia tidak terlihat terbebani dengan keputusannya. Apakah hanya aku yang menangis darah akibat penolakan ini?

Bisa jadi, Arnetta hanya tertarik padaku, mungkin karena paras wajahku. Sama seperti wanita-wanita yang dulu hinggap dalam hidupku, hanya menyukai bentuk luarku, kekayaanku, milikku, tapi bukan diriku. Apakah Arnetta seperti itu juga? Rasanya hatiku tak bisa menerimanya.

Arnetta... berbeda, kan?

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang, Mami yang menyapa kepulanganku tidak bertanya banyak demi melihat wajah muramku. Mungkin Mami tahu apa yang sedang terjadi padaku, aku ditolak, Mi. Dan rasanya sangat menyakitkan.

“Ah... Ferdy... Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan Arnetta? Ketika terakhir kalinya kita bertemu, aku menolak keinginanmu ini. Tapi setelah aku tahu seperti apa dia, aku tak bisa mengenyahkan perasaanku darinya. Kau tidak membenciku karena mencintai istrimu, kan? Karena bukankah itu yang kau inginkan? Agar aku menjaga Arnetta dan Diana... seperti wasiatmu padaku yang kucemooh karena kau cepat menyerah pada takdir.

“Lalu... dua bulan kemudian kau pergi, aku bahkan belum memberikan jawabanku, aku bahkan belum menyatakan kesediaanku. Mengapa kau sudah pergi, kawan?”

Aku menghela nafas berat, yang awalnya hanya sebuah tanggung jawab kini sudah seperti candu. Aku harus bisa membuat Arnetta percaya padaku, tapi aku tidak akan pernah bisa mengatakan bila Ferdy memintaku untuk menjaga mereka, aku tak ingin Arnetta menganggap cintaku padanya hanya karena tanggung jawab.

Tidak... Ini lebih dari tanggung jawab, ini adalah takdirku, Arnetta. Ketika pertama bertemu denganmu memang kau belum menjadi istri Ferdy, tapi ironisnya sedikitpun aku tak tertarik padamu, pada gadis manja anak orang kaya yang hanya bisa menghabiskan uang orang tuamu, tapi ternyata kau lebih dari sekedar remaja labil yang kutahu dulu. Kau sekarang telah berubah, kau adalah wanita mandiri, bahkan batu karang bisa kau belah karena kekeras kepalaanmu. Semoga kepalamu tak sekeras kepalaku, karena aku tak akan menyerah untuk mendapatkanmu!!

Kusambar handphone di meja dan memencet nomer seseorang, “Royce, I need your help.”

~*~*~*~

Mama pulang dengan ekspresi yang bisa membuat dahiku berkerut, dia terlihat lelah. “Mama capek ya?” tanyaku, “Mau dipijit sama Diana?”

Mama hanya tersenyum kecil, dia menggeleng dan mengecup keningku. Mama lalu memelukku erat, begitu erat hingga aku kira Mama menangis, “Mam... Mama gak apa-apa?” tanyaku lagi.

“Mama gak apa-apa, cuma kangen sama Diana. Gimana di sekolah tadi?” tanya Mama setelah mengambil segelas air minum di kulkas.

“Di sekolah seperti biasa, banyak PR. Mama gimana di toko?” tanyaku.

“Ehm... Toko lumayan rame tadi, Mama belum sempet istirahat. Ntar mau makan banyak, temenin Mama ya. Sekarang Mama mau mandi dulu, habis itu kita makan, ok, honey?” Aku mengangguk dan Mama pun masuk ke dalam kamarnya.

Aku duduk di depan televisi ketika suara bel berbunyi, Bik Imah setengah berlari membuka pintu gerbang dan masuk bersama seorang tamu.

“Pak Archie!!” teriakku senang. Entah mengapa aku senang, tapi aku senang melihatnya di sini malam ini.

“Hai, Diana. Mamamu ada?” tanyanya sembari melongok ke dalam rumah.

“Masuk dulu, Pak. Mama lagi mandi, Pak Archie udah makan? Makan bareng kita aja yuk?” pintaku padanya. Ini adalah kesempatan emas untuk Mama. Menghabiskan lebih banyak waktu bersama Pak Archibald sehingga mereka akan saling jatuh cinta, dan aku... bisa punya Papa!! Asyik!!

“Wah, kebetulan, Bapak belum makan,” jawab Pak Archie cengengesan. Yes!! Tuhan pun ikut campur biar Mama dan Pak Archie bisa ngobrol bareng.

“Duduk, Pak. Diana panggilin Mama dulu, ya.”

Akupun berlari menuju kamar Mama, tepat saat pintu itu terbuka, “Kenapa teriak-teriak kayak orang kesurupan?” tanya Mama dengan mata mendelik, khas Mama kalau lagi pura-pura marah.

“Ada Pak Archie, Ma!” teriakku lagi menunjuk ke arah ruang tamu tempat Pak Archie duduk. Mama ikut mengarahkan pandangannya ke ruang tamu, tapi ekspresinya tidak berubah sama sekali. Kenapa sih Mama?

~*~*~*~

Tubuhku menegang saat melihat Pak Archibald berada di dalam ruang tamu rumahku, bahkan dengan seikat bunga mawar berwarna merah muda di tangan. Ehem... Apakah aku harus salah tingkah atau senang karena bunga itu “mungkin” akan diberikan padaku.

Tapi mengapa dia kesini –dan membawa bunga mawar itu- sementara aku telah menolak tawarannya. Apakah dia tidak tahu arti kata-kata yang kuucapkan tadi siang di kantorku? Laki-laki ini rumit.

“Malam, ada yang bisa dibantu, Pak? Tumben mampir kesini,” sapaku saat menghampirinya, basa-basi busuk kurasa.

Tapi demikian, aku masih saja bersikap salah tingkah di depan laki-laki dewasa ini. Bahkan senyumnya tak pernah lekang dari bibir, padahal aku tahu pasti bagaimana terguncangnya wajah Pak Archibald tadi siang, yang membuatku menyesali keputusanku saat itu. Andai Pak Archibald lebih memaksaku tadi, mungkin kini aku sudah menjadi pacarnya, er...maksudku kekasihnya. Aku kan harus jual mahal sedikit....

“Malam, Ibu Netta. Iya, mudah-mudahan tidak mengganggu, tadi kebetulan lewat dan di depan ada yang jual bunga mawar, jadi saya belikan agar ada ditaruh di dalam vas bunga,” jawabnya lalu menyerahkan bunga mawar itu pada Diana. Gadis kecilku itu menerimanya dengan senang hati, membawa bunga indah tersebut ke dalam dapur untuk ditaruh di dalam vas.

“Di depan mana? Memangnya ada dagang bunga? Saya baru tahu,” jawabku tak yakin. Sejak kapan ada dagang bunga depan rumah?

“Di depan pos kamling itu, mungkin baru jualan. Karena saya lihat masih ada papan-papan ucapan selamat,” jawabnya tersenyum. Aku tak tahu harus menjawab apa, selama delapan tahun lebih hidup di rumah ini, tak ada satupun dagang bunga yang kuketahui ada yang berjualan dekat sini. Atau mungkin benar kata Pak Archibald, mungkin memang baru saja dibuka.

“Oh iya...” sahutku bingung. Diana lalu datang membawa vas bunga yang telah berisikan bunga mawar pemberian Pak Archibald lalu meletakkannya di atas meja makan kami. Diana lalu memanggilku dan Pak Archibald untuk ikut kesana.

“Mama, Pak Archie, sini...” panggilnya dengan tangannya. Dengan sigap Diana menyiapkan piring makan untuk tiga orang. Aku, Diana dan... Pak Archibald??

Tanpa mengurangi kesopanan sebagai tuan rumah, mau tak mau aku menawarkan makan malam padanya. Sungguh tak lucu kan bila kemudian aku mengusir Pak Archibald di depan Diana? Anak semata wayangku itu bisa membenciku seumur hidup karena berbuat seperti itu pada guru favoritnya.

“Ayo Pak, duduk. Mama, kita ajak Pak Archie makan malam ya. Kan katanya Mama mau ditemenin makan? Biar lebih rame bertiga. Ya.... ya...?” pinta Diana dengan wajah penuh harap. Bagaimana mungkin aku menolak keinginan Diana? Dan akan sangat memalukan bila aku menolak setelah jelas-jelas Diana mengundangnya.

“Iya, gak apa-apa,” jawabku pada Diana. “Mari, Pak, silahkan duduk,” kataku pada Pak Archibald. Tanpa mengucapkan banyak kata, Pak Archibald pun duduk di kursi yang ditarikkan oleh Diana untuknya.

“Terima kasih,” senyumnya padaku. Aku tersenyum kecil untuk menyembuyikan kegugupanku karena berada sedekat itu dengannya. Padahal seharusnya malam ini aku makan banyak untuk menghilangkan frustasiku setelah menolak Pak Archibald, tapi bila orangnya ada di sini, bagaimana mungkin aku makan banyak? Dia bisa menganggapku rakus, dan pasti akan sangat memalukan. Aku harus bersikap seperti seorang wanita terhormat, kan?

Suasana makan malam ini terasa baru bagiku, Diana terlihat sangat senang sepanjang makan malam. Pak Archibald dan Diana saling bertukar lelucon, mereka tampak sangat cocok satu sama lain. Sedikit harapan dalam hatiku tumbuh, apakah seharusnya ini yang menjadi pemandangan setiap harinya dalam rumah ini? Diana dengan sosok seorang ayah yang mengayominya? Mendukungnya? Melindunginya? Menghiburnya? Menyayanginya?

Aku menumpu daguku dengan kedua tangan, melihat betapa asyiknya mereka bercengkerama, hatiku terasa hangat. Andai Mas Ferdy masih hidup, Diana pasti juga akan mendapatkan sosok seorang ayah yang hangat seperti Pak Archibald.

Teringat sesuatu yang menyentak pikiranku, akupun bangkit dengan tergesa-gesa menuju kamarku.

“Permisi sebentar, ada yang harus saya ambil,” tukasku sembari menyembunyikan emosiku yang hampir menggunung.

Dengan langkah panjang aku menuju kamarku, menutup pintu kamar rapat-rapat dan mengingat kembali kata-kata Mas Ferdy sebelum meninggalkan kami...

“Netta sayang...” Mas Ferdy dengan selang infus yang melintang masuk ke dalam nadinya masih berusaha tersenyum kendatipun aku tahu sesungguhnya dia mati-matian menahan rasa sakit pada organ dalamnya.

“Iya, Mas...” jawabku sambil mengelus tangannya yang dingin.

Wajah Mas Ferdy terlihat pucat dan kurus. Begitu layu tak bertenaga. Hatiku sedih melihat orang yang kucintai berbaring lemas tak berdaya dan sekarat di atas ranjang pesakitan. Setiap hari sudah aku berdoda dan memohon pada-NYA agar mas Ferdy disembuhkan, tapi rupanya doaku tak pernah terkabulkan hingga dua minggu kemudian Mas Ferdy menghembuskan nafas terakhirnya di meja operasi.

Saat itu aku hancur, dengan seorang anak berusia tiga tahun yang masih sangat memerlukan ayah dan ibunya, aku terpuruk dan hampir saja jatuh bila kedua orang tuaku tidak ada. Mereka lah yang membantuku untuk bisa bangkit lagi dengan harapan akan masa depanku dan Diana yang akan lebih baik meski tanpa Mas Ferdy.

Setelah kematian Mas Ferdy, perusahaan yang dikelola oleh keluarga kami terpaksa harus gulung tikar karena beban bunga hutang yang semakin membengkak. Hanya sebuah toko elektronik kecil yang tersisa, itupun adalah warisan dari pamannya Mas Ferdy yang tadinya tidak pernah dikelola dengan serius olehnya.

Tapi sekarang, toko inilah satu-satunya sumber pendapatan keluarga kami, sumber mata pencaharianku untuk menghidupi kami sekeluarga. Memang pada awalnya begitu sulit untuk membangun usaha yang terlanjur tak terurus, tapi sekali lagi aku bersyukur, ada perusahaan dan bank-bank yang bersedia membantu dengan memberikan kredit berbunga ringan hingga akhirnya toko elektronik milikku memiliki beberapa cabang di kota kami.

Meskipun kedua orang tuaku selalu membantu, tapi aku segan meminta tolong terus menerus. Mas Ferdy telah mengajarkanku bagaimana menjadi seorang wanita yang mandiri, seorang wanita yang tidak perlu menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain, meskipun itu adalah keluargaku sendiri.

Tapi tetap saja, Papa dan Mama selalu membantuku dan aku bersyukur karena memiliki dua orang tua sebaik mereka. Mama dan Papa tinggal bersama kakak laki-lakiku yang sudah menikah dan memiliki dua orang cucu darinya. Sebulan sekali kami biasa berkunjung kesana dan melepas kangen. Kakakku Leo sering memintaku untuk menikah lagi untuk meredam gunjingan tak sedap akibat banyaknya laki-laki yang mendekatiku. Tapi aku tak menggubrisnya, hidupku baik-baik saja dengan Diana, hidupku bahagia meskipun tak ada sosok seorang laki-laki di dalam rumahku ini.

“..Netta... Bila nanti Mas pergi... Kamu jangan berduka terlalu lama, ya? Suatu hari nanti pasti ada seseorang yang sangat baik yang akan mencarimu, yang akan melindungimu karena Mas sudah tidak bisa lagi menjadi pelindungmu,” ujar Mas Ferdy lemah. Matanya berkaca-kaca yang hanya menambah beban hatiku menjadi semakin berat.

Mengapa mas Ferdy harus berkata seperti itu? Dia sudah menyerah bahkan sebelum dokter memberikan vonis mati untuknya. Bila Mas Ferdy telah menyerah, lalu bagaimana denganku yang selama ini bergantung dari dia, pada suamiku yang begitu menyayangiku, memanjakanku dan mencintaiku?

“Mas... Mas bilang apa? Jangan begitu... Aku hanya ingin Mas sebagai pendampingku, sebagai suamiku. Mas akan sembuh, Mas akan kembali ke rumah, nanti kita jalan-jalan ke luar negeri bareng Diana, Mas sudah janji kan mau ngajak Diana ke Disney Land? Nanti Diana nyariin Mas kemana kalau Mas gak ada...” kataku terisak. Ingin kusembunyikan tangisan yang mendesak tenggorokanku, tapi aku tak kuasa. Sudah berhari-hari lamanya aku menahan segala penderitaan dan keputus-asaan ini seorang diri. Melihat Mas Ferdy meringkuk seperti ini, hati istri mana yang tak akan sedih dan berduka?

“Shh... Diana pasti mengerti, karena dia adalah anakku. Dia akan menemanimu, Netta... Tapi... Diana tidak akan bisa mendampingimu. Ingatlah, aku selalu mencintaimu, apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu. Aku tak akan pernah meninggalkanmu, Netta. Meskipun mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini, aku akan selalu menjagamu dari sana.” Mas Ferdy membuka lengannya, dia ingin aku masuk ke dalam pelukannya. Dan tangiskupun pecah di atas dadanya yang lemah.

Mas Ferdy mengelus punggungku dengan penuh kasih sayang, sebuah kecupan di keningku diberikannya, kecupan terakhir yang bisa diberikan oleh Mas Ferdy padaku. Ya... Setelah itu Mas Ferdy pingsan dan lama tak sadarkan diri, hingga akhirnya komplikasi organ dalam membuatnya terpaksa di operasi dan menutup mata untuk selama-lamanya....

Aku menarik sebuah album dari dalam lemari gudang, lemari tempat aku menyimpan barang-barang peninggalan Mas Ferdy yang masih kusimpan dengan rapi. Terkadang aku dan Diana akan kembali ke sini untuk sekedar bernostalgia dan mengingat sosok Mas Ferdy, membuka-buka halaman album foto kami dan terharu bersama.

Pada sudut paling atas, tempat dimana Mas Ferdy menyimpan album foto masa kuliahnya dulu, aku menarik album dengan sampul berwarna hijau gelap. Pak Archibald telah pulang ke rumahnya, Diana telah masuk ke dalam kamarnya, dan aku menggunakan waktuku untuk mencari tahu apa yang tadi tiba-tiba menyeruak dalam ingatanku.

Album foto itu aku buka, tertulis di bawahnya, “Bersama teman-teman Fakultas Ekonomi Management dalam Karya Wisata di Bali”

Kuperhatikan satu per satu wajah-wajah yang terlihat di sana. Memang foto itu sudah berumur lama, kurang lebih sepuluhan tahun yang lalu, ketika Mas Ferdy masih kuliah dan aku masih SMU.

Kutemukan apa yang kucari, sebentuk wajah yang akhirnya bisa kukenali meskipun dia terlihat masih sangat muda dan wajah tampannya terlihat tanpa dosa. Tapi senyum dengan lesung pipinya itu tidak bisa menipuku, Pak Archibald... dia adalah teman kuliah Mas Ferdy!! 


14 comments:

  1. Hhhhhuuuuaaaaaa diposting juga disini ASYIK... Nari2 pake goyang koprol :D"̮ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ"̮:D

    Ayo pak archi buktiin sama netta kalo dirimu pantas dicintai... Semangat ya pak archi

    °·♡·♥τнänkчöü♥·♡·° mba shin (˘⌣˘)ε˘`)

    ReplyDelete
  2. Ahhhh!!!
    Sdarlah Arnetta!!
    Archibald itu takdirmu!
    :'(:'(:'(
    Smpe nngis bca yg part nih..:'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. lah kok bisa nangis? tp td pas ngetik jg sedikit berkaca2 sih :p wkkwkwkwkkw

      Delete
  3. yaampuun makin rumit aj nih kyna.
    pasti arnetha nganggep pak archi g bener2 cinta nh sama dia.
    :'(:'(:'(:'(

    thanks mb shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi kembali eka... :D seneng deh msh ada yg komen n baca disini. kyknya lebih seru dah mosting di blog aja, wkkwkwkwkw...

      Delete
  4. Akhirnyaaa dipostiiingg (ʃƪ´▽`) (•ˆʃƪˆ•) (´▽`ʃƪ) τнäиκ чöü say

    hmmm sptnya yg bkin rumit pemikiran netta yak? Knp gk coba jujur aja ama prsaan ndiri ahh suka2 authornya lah yg bkin crita asal jgn lama2 aja lanjutannya hahaha

    ReplyDelete
  5. Awalnya sedih, tengah2 lucu, akhir sedih, kacau bacanya, hikss2 buk netta cpt trima kasian pak archi tu
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba cin :D

    ReplyDelete
  6. Akhirnya nongol lagi...mbakkk shinn,,,ak suka banged cerita ini...lanjutannya donk ah...muakaasiiihh

    ReplyDelete
  7. Omigod aku dipanggil tante sama mba shin... Ĝΰья*ª@ªKŝ...‎​​◦(")◦ *pengsan deh aku...

    Uhuk2nya jadi dong... Sama pak archi malam ni. Besok malam sama bren *plak... ​(>ˆ▽ˆ)>ωªªκªªkaakaa<(ˆ▽ˆ<)

    ReplyDelete
  8. Mbakkk...posting lagi memohon kelanjutannya...hiks...
    Mau pak archie lagiii dan lagiii...

    ReplyDelete
  9. Mba..lanjutanya dong...ayo semangat demi mr.archie..

    ReplyDelete
  10. mbak SHIN lanjutannya mana nich???? kan kasian mr. Archie nya kelamaan nunggu cintanya disambut mrs. Netta. please...next chapter donk....

    ReplyDelete
  11. Wah pas banget nich ma judulnya mbak shin "5tahun penantian" nungguin next chapter diposting lagu ma mbak shin... Salam kenal mbak shin,,,

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.