"Let's Cry And Laugh In The Name Of Drama. Here I Present Us The Drama From The Bottom Of My Heart. I Wish You An Enjoyment Journey Within The Drama-Story"

"karena tanpamu, aku tak bernyawa" VE


Friday, September 27, 2013

CERMIN 32 - MAKE YOU FEEL MY LOVE OLEH HEVI PUSPITASARI - PART 3




Make You Feel My Love by +vie puspitasari 


When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.


When the evening shadows and the stars appear,
And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)

Ya ampun!! Itu benar Mas Arre? Kenapa aku tidak memikirkan kenekatan Mas Arre seperti ini?! Aku tidak menyangka Mas Arre akan melakukan hal semacam ini-diluar kemampuannya untuk melakukan apapun yang dia inginkan-tetapi, menahan pesawat? Dia pasti benar-benar marah!! Haduh, bagaimana ini? Aku tidak mempersiapkan diriku menghadapi kemarahannya secara langsung seperti ini. Kupikir, aku sudah sampai di Baltimore dengan perbedaan waktu dan jarak yang terbentang ketika dia mengetahui semuanya.


Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menyeimbangkan kesadaranku-walau aku berharap semua ini hanya khayalan berlebihanku saja-dan ketika membuka mata, aku sadar, dia tidak juga bergerak dari tempatnya. Aku membersihkan kerongkongan mencoba menutupi kegugupanku, dan kemudian berdiri, memberanikan diri mendekati Mas Arre.
“Mas Arre,” sapaku ragu-ragu.

“Apa yang kau pikir kau lakukan?” dia tidak berteriak, tidak pula menekan suaranya, tetapi suaranya terdengar dingin, dan aku tahu aku sedang dalam masalah besar, amat sangat besar! Oh, Tuhan, bantu Val menahan amarahnya, jangan sampai dia meledak di sini.
“A-aku, aku berniat melanjutkan sekolahku, Mas,” jelasku tergagap tanpa berani menyentuhnya.
“Sekolah?!” dingin, dia masih menjaga intonasi suaranya.
“Ya, Mas, sekolah. Aku mendapatkan beasiswa di John Hopkins University.”
“Beasiswa?” ejeknya dengan dingin.

“Ya, Mas, Beasiswa,” ulangku sambil menunduk, memejamkan mata, tidak berani menatapnya. Mas Arre sudah lama tidak semarah ini membuat otakku tiba-tiba blank.
“Sejak kapan?”
“A-apa, Mas?” tanyaku sambil menatap wajahnya.
“Sejak kapan kamu merencanakan ini semua?”
“Beberapa bulan lalu,” tepat ketika Mas melamar Nika, aku melanjutkan dalam hati sambil menundukkan kembali kepalaku tak berani melihat tatapan marahnya.

“Kapan kau berniat untuk memberitahukanku?”
“Ketika Mas pulang dari bulan madu,” bisikku, sekuat tenaga menahan airmata, tak memperdulikan rasa malu karena jadi tontonan di dalam pesawat.
“Kenapa kau lakukan ini padaku, Val? Kau membenciku karena meninggalkanmu dan memilih Nika?” suaranya terdengar bergetar.

“Apa?! Tidak! Tentu saja tidak!” aku langsung mengangkat wajah dan menatap matanya. Seandainya aku sanggup membencimu Mas.
“Lantas kenapa kamu melakukan ini semua?” rahangnya terlihat mengeras menahan marah. Maafkan aku, Mas.
“Semua terjadi begitu saja dan bertepatan dengan persiapan pernikahan Mas. Di samping itu, ini cita-cita Val. Mas Arre tidak lupa bukan?” aku mencoba menenangkannya.
“Ya, tentu saja. Aku tidak akan lupa, Val. Tetapi kenapa kamu tidak mau berpamitan kepadaku, Val?” suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.

Karena aku tidak akan pernah sanggup!! Alih-alih aku meneriakkan semua itu, aku justru memeluknya, membenamkan wajahku di dadanya. Aku memejamkan mata, menghirup aromanya dalam-dalam, tak mempedulikan Nika di belakangnya. Hanya ini satu-satunya cara supaya dia tidak meledak di sini, aku tidak mungkin membiarkan itu terjadi, tidak dengan beberapa pasang mata yang melihat semua ini.

“Maafkan Val, Mas. Val tidak mau merusak kebahagiaan Mas,” isakku tetapi dia tetap bergeming.
“Apa arti kebahagiaanku tanpa kamu, Val? Kenapa kamu harus memisahkan diri dari kami? Kenapa tidak memilih Negara yang bisa dengan mudahnya kami kunjungi sewaktu-waktu di saat kami merindukanmu? Persetan dengan beasiswa!! Aku sanggup membiayaimu!” dia akhirnya membalas pelukanku setelah menyelesaikan ucapannya, membenamkan wajahnya di rambutku dan saat itu juga aku tahu, kemarahannya sudah hilang. Diam-diam aku tersenyum samar di pelukannya, rasa lega membanjiri hatiku.

Justru itu, Mas, karena alasan itulah aku memilih beasiswa ini.
“Oh, Valerie, kenapa kau lakukan ini padaku?” dia semakin mengencangkan pelukannya.
Oh, Mas Arre. Kenapa kau seperti ini? Aku hanya terdiam menikmati pelukannya.
“Tolong, batalkan semua ini, aku akan membayar semua biaya kerugian yang sudah mereka keluarkan, tetapi batalkan semua ini dan kembalilah, Val,” pintanya tanpa melepaskan pelukannya.

“Tidak bisa, Mas,” aku menggelengkan kepalaku tanpa membuka mataku, “Ini penting untukku, Mas, tolonglah.”
“Kita tidak pernah berjauhan, kamu tidak pernah pergi jauh sendirian seorang diri begini.”
“Aku akan baik-baik saja, Mas.”
“Bagaimana bisa kamu berfikir semudah itu?! Kamu akan berada di kota asing sendirian, Val! Aku tidak akan bisa sering-sering ke sana walau hanya untuk mengganggumu!” protesnya sambil melepaskan pelukannya.
“Mas, Val sudah dewasa!! Tak bisakah Mas melihat itu?! Lagipula sekarang Mas sudah punya Nika, Mas bisa mengganggunya semau Mas,” gerutuku.

“Tidak, itu tidak akan sama,” sahutnya sambil menghapus air mataku yang masih saja mengalir, “Tak adakah yang bisa aku lakukan untuk menahanmu tetap di sini?”
Oh, Mas Arre. Kenapa kau seperti ini? Aku menggelengkan kepala.
“Kenapa aku merasa kamu menghindariku, Val?” Mas Arre kembali memelukku.

Karena memang itu yang sedang aku coba lakukan, Mas.
“Kamu pasti tidak tahan sendirian di sana, tidak ada aku, tidak ada yang bisa kamu andalkan di sana, Val,” Mas Arre mempererat pelukannya selama mengucapkan itu semua.

Memang, tetapi justru ini yang terbaik, Mas. Ini yang terbaik. Aku menghirup nafas dalam-dalam, mencoba menahan airmata yang masih saja memaksa untuk keluar.

“Dia tidak sendirian, aku ikut bersamanya,” ucapan Mas Ega menginterupsi kami, membuat Mas Arre melepaskan pelukannya tetapi tidak membiarkanku jauh darinya.
“Ah! Dan aku juga marah kepadamu, Ega! Bisa-bisanya kau ikut merahasiakan semua ini dariku!” gerutu Mas Arre di sampingku sambil memukul pelan pundak Mas Ega.
“Kamu tahu aku tidak bisa menolak permintaan tuan puteri kesayangan kita ini, Arre,” jawab Mas Ega sambil tersenyum.

“Kau benar, dia bisa sangat keras kepala dengan kemauannya. Baiklah, waktu 10 menit yang diberikan kepadaku sepertinya sudah hampir habis,” Mas Arre menghadap ke arahku, “Val, aku masih marah padamu, sangat! Tetapi aku tidak akan tahan berlama-lama marah padamu sementara kamu tidak akan ada di sini untuk kumarahi dalam waktu yang lama.”

Mas Arre terdiam sejenak untuk membetulkan poni di wajahku, “Aku harap kamu tahu apa yang kamu lakukan ini, Val. Dan jangan harap karena jarak serta perbedaan waktu yang terbentang nantinya akan menghalangiku untuk mengganggumu, aku pasti akan datang dan merecokimu nanti!”

Jangan! Jangan datang, Mas. Bagaimana aku bisa menata hati ini jika kau masih terus saja datang?!! Oh, yeah, dia tidak akan bisa mendengar semua itu, Val, sekeras apapun kau berteriak di dalam hati.

Tanpa bisa aku duga, Mas Arre kembali memelukku, sangat erat.
“Jaga dirimu baik-baik, Val. Jangan pernah ragu dan sungkan untuk menghubungiku kalau kau butuh sesuatu, bahkan untuk hal konyol apapun itu, aku pasti akan datang.”
Tolong, Mas, jangan seperti ini, jangan buat aku menyesali keputusanku. Dan airmata mengalir lagi tanpa bisa ku tahan, aku menangis terisak di pelukannya.

Dia berhenti sebentar, melepaskan pelukannya dan kemudian menghapus airmataku dan melanjutkan, “Tidak peduli jarak atau perbedaan waktu menyebalkan itu, aku pasti akan ada di sana saat kau membutuhkanku, apa kau mengerti?!”
Aku tersenyum lemah mendengar semua ucapannya dan mengangguk, inilah Darrel Rafandra yang aku cintai, Darrel Rafandra yang akan segera aku tinggalkan. Tuhan, kuatkan aku.

At least ada Ega yang menjagamu, Val,” dia menatapku ketika mengatakan itu, dan kemudian mengalihkan kembali tatapannya ke arah Mas Ega, “Jaga Valerie baik-baik selama kau di sana Ega,” itu bukan permintaan, dengan nada setegas itu jelas mengisyaratkan sebuah perintah tak terucap, dan seraya mengerti arti nada itu, Mas Ega tersenyum.
“Kau tidak perlu khawatir, tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya.”

“Oke, sekarang aku bisa sedikit tenang,” sahutnya sambil memelukku lagi, kali ini dengan sangat erat, lebih erat dari sebelumnya, seakan mengisyaratkan ketidakrelaannya, dan setelah melepaskan pelukannya, dia berkata, “Jaga dirimu Val, aku menyayangimu,” ucapnya sambil mencium keningku sedikit lebih lama, dan aku menikmatinya, setidaknya mencoba untuk merekam semuanya di memori terdalamku.

“Jaga dia untukku, Ega,” ucap Mas Arre ke Mas Ega sambil menepuk bahunya.
“Kau sudah mengatakannya berulang kali, Re, dan aku tidak tuli,” ledek Mas Ega, membuat mereka larut dalam tawa sejenak.
“Hati-hati di sana, Val,” Nika mengucapkan itu ketika aku masih asyik memperhatikan Mas Arre dan juga Mas Ega. Aku lupa, ada Nika di sini, dan walaupun dia hanya memakai piyama yang dilapisi jaket, tanpa make up apapun di wajahnya dan dia masih saja terlihat cantik.

“Terimakasih, dan maaf karena sudah menganggu waktu kalian,” aku mengatakan itu sambil menerima pelukannya.
Aku bisa merasakan dia tersenyum di pelukanku dan berkata, “Entah kenapa aku merasa kau sengaja menghindari kami, Val, dan aku menghargai serta berterimakasih untuk itu.”
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya, dan berkata, “Jaga Mas Arre, Mba. Dia tidak sekuat kelihatannya.”
“Begitu juga dirimu,” sahutnya setelah melepaskan pelukan.

Aku tersenyum mendengar ucapannya dan dia seolah mengerti arti senyumanku, membalasnya dengan senyum penuh arti. Tak lama mereka turun dari pesawat, aku masih diam di tempatku ketika mereka turun tangga pesawat, memperhatikan punggung mereka yang semakin menghilang karena pintu pesawat yang sudah menutup.

I know you haven't made your mind up yet,
But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.


I'd go hungry; I'd go black and blue,
I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

4 Tahun Kemudian
“Valerie!” panggilan seseorang menghentikanku yang sedang berjalan di lorong rumah sakit menuju kantin.
“Mas Ega!” sahutku riang mendapati Mas Ega setengah berlari mendekatiku.
“Kapan Mas datang?”
“Semalam,” jawabnya sambil memelukku.

“Mas Ega lebay deh! Baru berapa bulan ga ketemu,” semburku sambil melepaskan pelukannya.
“Loh, memangnya kenapa? Kamu sudah punya pacar? Bukannya kamu baru beberapa bulan aku tinggal? Siapa? Spesialis apa dia? Apa aku mengenalnya?” cerocosnya tanpa henti.
“Apaaaa sihh Mas Ega!” elakku sambil memukul pundaknya.
“Loh, aku serius, Val. Dia harus melewati aku dulu,” protesnya.

“Udah, ah! Bagaimana kabar semuanya?” alihku.
“Mereka semua sehat dan menitipkan salam untukmu. Arine sebenarnya merengek ingin ikut, dia ingin sekali bertemu dengan Aunty Dokter-nya, tetapi Arre sedang sibuk dengan proyek baru, jadi mereka tidak bisa ikut.”

Aku tersenyum mendengar penjelasan Mas Ega.
Ah, Arine, Azarine Rafandra, putri Mas Arre dan Nika, anak itu memang sangat menggemaskan. Di usianya yang baru berusia 3 tahun, dia sudah sangat kritis terhadap informasi-informasi baru, selalu mencecarku dengan pertanyaan yang mampu mengerutkan keningku setiap mendengar pertanyaannya, membuatku harus memutar otak setiap menjawab semua karena tidak mungkin aku menjawab menggunakan bahasa orang dewasa yang sangat rumit.

Tanpa dikomando, otakku mengulang kembali kenangan akan Arine yang terlahir premature 3 tahun silam karena kondisi Nika yang tidak memungkinkan untuk meneruskan kehamilannya hingga 2 bulan ke depan. Teringat kembali reaksi Mas Arre yang panik dan memaksaku pulang saat itu juga. Sebenarnya, tanpa disuruhpun aku pasti akan pulang, tidak mungkin aku tidak pulang mendengar kepanikan Mas Arre di telepon kala itu, walau pada kenyataanya ketika aku sampai, keadaan Ibu dan Anak sudah stabil.

Tetapi semua kelelahan sepanjang perjalanan terbayarkan melihat wajah bahagia Mas Arre yang menarikku langsung ke ruang bayi dan memperkenalkan putrinya di incubator sesampainya aku di rumah sakit kala itu. Hanya dengan melihat wajah bahagia Mas Arre saat itu, badanku yang menjerit minta diistirahatkan secara layak, langsung segar kembali. Arine, dia cantik, secantik ibunya, dan walaupun wajahnya memiliki perpaduan mereka berdua, tetapi Arine jauh lebih mirip Nika dibanding Mas Arre dan tidak akan ada yang bisa menyangkalnya.

Karena itu pulalah Mas Arre sangat bahagia. Dia merasa punya 2 Nika di dalam hidupnya. Sedangkan aku, ada 1 Nika saja sudah membuatku kehilangan Mas Arre.
Yeah, itu memang sudah nasibmu, Val!
Aku harus menahan diriku kala itu ketika melihat interaksi keluarga baru tersebut, walau kenyataannya aku masih belum bisa mendamaikan hatiku, aku tetap tidak boleh menunjukkan semuanya. Di bulan-bulan awal kepergianku, Mas Arre masih rutin mengunjungiku, sendirian, karena Nika sedang hamil muda, tetapi ketika kehamilan Nika sudah mulai membesar, Mas Arre menguranginya.

Tentu saja, calon Ayah mana yang tahan berjauhan dengan calon anak dan istrinya yang sedang hamil? Aku memakluminya, dan mungkin itulah yang terbaik, bagaimana aku bisa mendamaikan hati ini jika masih rutin bertemu dengannya bukan? Setelah kelahiran Arine, Mas Arre semakin jarang mengunjungiku dan hanya sesekali dia datang membawa Arine serta Nika. Sepertinya dia sibuk dengan keluarga kecil barunya, dan begitu juga aku yang sibuk belajar supaya beasiswaku tidak dicabut.

Oh! Siapa yang kau coba bohongi, Val?!
Tetapi semua tidak berpengaruh, karena ternyata walaupun kami jarang sekali bertemu, aku masih saja belum bisa menghapuskan semua perasaan ini. Kami rutin berkomunikasi lewat skype dan juga telepon. Terlebih dengan kebiasaan Nika yang rajin mengupload kegiatan mereka di jejaring sosial, aku tidak ketinggalan berita apapun tentang mereka. Miris memang, dibanding bertemu langsung di dunia nyata, aku justru memilih menguntit mereka di dunia maya. Betapa menyedihkannya.

Hatiku masih saja berdenyut perih saat dia menyebutkan nama Nika di sela-sela teleponnya, amat sangat bodoh memang mengingat Nika adalah istrinya, tetapi itu yang terjadi. Dan entah sudah berapa kali serentetan kejadian yang seharusnya membuatku berhasil mengenyahkan bayangan Mas Arre dari hatiku terjadi, tetap saja aku tidak pernah berhasil.

Aku memang berhasil lulus, mendapatkan pekerjaan dengan mudah karena kelulusanku yang memuaskan-setidaknya itulah yang ada dalam pikiranku-dan itu saja seharusnya cukup mengenyahkan semua perasaan ini karena aku terlalu sibuk belajar dan beradaptasi di tempat baru, tetapi ternyata semua masih saja belum cukup. Hanya Tuhan yang tahu kenapa. Dan aku putus asa karenanya, hingga akhirnya aku memutuskan membiarkan perasaan ini, yang kian lama kian menguat seiring waktu.

“Val?” panggilan Mas Ega menyadarkanku.
“Ya, Mas? Kenapa?”
“Kamu sakit?” tanya Mas Ega terlihat khawatir sambil menyentuh keningku.
“Aku baik-baik saja,” jawabku sambil tersenyum.
“Baiklah, ayo kita cari sesuatu untuk dimakan, aku kelaparan!” ajak Mas Ega yang langsung aku sambut dengan tawa.
~~o00o~~

Mas Ega datang menjemput seusai dinas pagiku di hari kedua kedatangannya. Dia selalu saja menjemputku setiap dia datang, entah hanya untuk mengajakku makan di luar, atau hanya sekedar minta ditemani jalan-jalan sore, dan aku bersyukur karenanya. Setidaknya aku tidak merasa sendirian, tetapi kalau terus seperti ini aku merasa tidak enak. Dia kesini untuk berlibur, bukan untuk menjadi pengasuhku, kapan sih Mas Ega bisa terima kalau aku baik-baik saja?

“Kenapa Mas tidak menghabiskan liburan kali ini dengan mengajak kencan seseorang tetapi justru sibuk menjemputku?” tanyaku ketika kami sudah berada di mobil.
“Kau tidak cemburu kalau aku melakukan itu semua, Val?” jawabnya acuh sambil mengarahkan mobil menuju apartemenku-dan apartemennya, karena dia menyewa apartemen tepat di sebelah apartemenku-yang terletak tidak jauh dari rumah sakit.
“Apa Mas mengharapkanku untuk cemburu?” ledekku, sudah terlampau sering wacana seperti ini dia lontarkan, dan Mas Ega sepertinya tidak pernah bosan.

“Kalau aku menjawab ‘ya’ apa kau akan melakukannya?” jawaban yang tidak aku harapkan, karena biasanya Mas Ega tidak menanggapinya seperti ini.
“Kenapa aku harus menjawab ‘ya’ Mas?”
“Karena kita mungkin pasangan yang cocok, dan apa salahnya jika kita mencobanya?”
“Hah?” hampir saja aku melompat mendengar ucapannya jika bukan karena seat bealt yang menyilang di tubuhku ini.

“Aku tahu kamu masih belum bisa melupakan Arre, aku akan sabar menunggumu, Val. Dan aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku, sampai kapanpun itu, tetapi setidaknya berikan kita kesempatan,” jelasnya setelah memarkirkan mobilnya di depan apartemen.

“Mas, jangan bertingkah konyol. Hanya karena kita sama-sama patah hati bukan berarti kita adalah pasangan yang cocok,” semburku.
Siapa yang menyangka kalau Mas Ega bisa patah hati? Ya, Mas Ega dan patah hati, sebenarnya bukan kombinasi yang wajar, karena biasanya justru Mas Ega-lah yang membuat wanita patah hati, bukan sebaliknya seperti ini.

Dan mungkin itu pulalah alasannya dia mengerti semua yang aku rasakan dan lakukan 4 tahun silam, karena kami sama-sama sedang-atau pernah-patah hati. Walaupun dalam kasus Mas Ega dia tidak jatuh cinta dengan sepupunya, tentu saja.

“Apa kau tidak pernah dengar ungkapan, ‘cara menghapuskan bayangan orang lama di hati kita adalah dengan menghadirkan orang baru’? Mungkin itu yang sama-sama kita butuhkan: orang baru, Val,” jelasnya sambil menatapku.

Jujur saja, sebenarnya hal ini pernah terfikirkan olehku, aku mencobanya, aku pernah menghadirkan ‘orang baru’ yang dimaksud Mas Ega, tetapi hanya beberapa saat karena kemudian aku sadar, semua hanya sia-sia. Atau lebih tepatnya, aku tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh, karena jauh di dalam hatiku, aku tidak rela mengenyahkan Mas Arre dari denyut nadi hatiku.

“Apa tidak ada orang lain yang bisa kau ajak untuk proyek ‘pemulihan patah hati’-mu Mas? Dengan lingkup pergaulan Mas di Jakarta ataupun di sini, seharusnya Mas tidak kesulitan menemukan salah satu dari mereka,” aku menyedekapkan tanganku di dada selama mengatakan itu semua, tetap mempertahankan kontak mata dengannya.

“Tidak ada sepertimu yang mengerti aku sepenuhnya, Val. Setidaknya dengan kamu aku tidak perlu memberitahukan semua kegiatanku, karena aku bisa gila dengan rentetan kewajiban menelepon dan rengekan meminta ditemani belanja dan hal-hal konyol semacam itu tentu saja! Aku membutuhkan pendamping yang dengan sabar menerima diriku serta pekerjaanku, dan hal ini bisa kita wujudkan karena kita memiliki latar belakang pekerjaan yang sama.”

“Apakah itu mungkin?” bisikku.
Apakah mungkin jika kita mencoba memulainya dengan seseorang yang sudah mengenal baik diri kita akan merubah semuanya? Tetapi, apa iya, aku dengan Mas Ega?
“Kita tidak akan tahu sebelum kita mencobanya, Val. Jujur saja, aku selalu ingin mencoba sesuatu untuk menjawab pertanyaan ini.”
“Apa Mas?” tanyaku tanpa bisa menutupi keingintahuanku.
Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia justru mendekatkan wajahnya ke arahku. Ya, Ampun! Aku tidak mungkin salah mengartikan gerakan badan ini, tetapi, Mas Ega?!
“Mas, jangan bodoh,” ingatku sambil menahan wajahnya.

“Hanya ini satu-satunya cara untuk membuktikan semuanya, Val.”
Aku terdiam mendengar ucapannya, dia benar, hanya ini satu-satunya cara. Jika ternyata tidak ada apa-apa diantara kami, kami tidak akan merasakan ‘chemistry’ yang seharusnya kami rasakan. Pengalamanku memang tidak banyak-yang kesemuanya baru aku rasakan sejak aku di sini, sebagai salah satu cara untuk melepaskan semua bayangan Mas Arre-tetapi aku pasti tahu ‘rasa yang seharusnya’ kurasakan jika bersama orang yang tepat bukan?

“Tetapi kau harus berjanji padaku Val, jika pada akhirnya nanti responnya positif, dan kau tentu tahu maksud dari kata ‘positif’ itu, kau harus memberikan kesempatan untuk kita,” jelasnya sambil menekankan kata ‘positif’.
“Dan jika sebaliknya?” tantangku.
“Jika sebaliknya,” dia terdiam menghela nafas sejenak, “Aku akan mundur dan tidak akan memaksamu,” jelasnya getir.

“Lalu bagaimana jika hanya salah satu dari kita yang merasakannya? Maksudku, apakah Mas Ega akan memaksaku menerima semuanya?”
“Tidak, Val. Aku tidak akan memaksamu,” jawabnya terdengar meyakinkan, dan Mas Ega memang tidak pernah melanggar janjinya.

“Baiklah,” sahutku pasrah. Tuhan, jika memang ini yang terbaik, berikan aku petunjukmu, “Tunggu dulu!” larangku ketika menyadari Mas Ega yang mulai mendekatkan kembali wajahnya.
“Demi Tuhan, Val! Apa lagi?!”
“Apa kita akan melakukannya di sini? Di mobil?” tanyaku tak percaya sambil melihat sekeliling dengan panik.
“Valerie!! Kita hanya berciuman!! Lagipula kita berada di Baltimore, bukan di Jakarta apa kau lupa??!!” sahutnya frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.
“Oke, oke. Maafkan aku, Mas.”

Sejenak aku mengambil nafas pelan-pelan, dan kulihat Mas Ega pun begitu. Hingga akhirnya wajahnya sudah mendekat, aku menutup mataku, dadaku berdegup kencang, tetapi ada yang salah dengan degupanku ini. Degupan ini berbeda dengan degupan yang diakibatkan ciuman di pipi maupun kening Mas Arre. Um, apa aku barusan menyebut nama Mas Arre?

Akhirnya bibir Mas Ega menyentuh bibirku, mencoba merayu, memagut, memilin, menelusupkan ciumannya lebih dalam dan entah apalagi yang dilakukan Mas Ega, karena kosakataku terbatas dalam hal ini. Aku hanya terdiam mencoba menyerap semua, dan dari pengalaman terbatasku, aku memang harus mengakui ciuman Mas Ega benar-benar lihai. Tak heran mengingat jejak pengalamannya bersama beberapa wanita, lalu apakah Mas Arre juga selihai ini?

Demi Tuhan, Val!! Dalam keadaan seperti ini pun kamu masih memikirkan Mas Arre?!
Aku membalas ciuman Mas Ega, mencoba melakukan beberapa hal yang bisa aku lakukan, mengikuti alur permainannya, dan itu membuat Mas Ega merespons. Kedua tangannya memegang kepalaku, memperdalam ciumannya dan sesaat kami terbawa suasana, tetapi tidak ada ‘rasa yang seharusnya’ aku rasakan, tetap saja aku merasa ada yang salah. Dan sepertinya begitu juga yang dirasakan Mas Ega, karena tak lama, perlahan dia menghentikan semua kegiatannya dan melepaskanku.

Dengan tangannya masih di kepalaku, Mas Ega memberikan kami jarak. Ketika dirasa jarak diantara kami cukup, dia justru tertawa, tertawa dengan lebar, seolah-olah dia sudah menonton acara komedi kesukaannya. Tiba-tiba aku mengerti apa yang dirasakanya, dan aku ikut tertawa.
“Ya, ampun, sepertinya itu ide yang sangat buruk,” ujar Mas Ega sambil mencoba menghapus jejak bibirnya di bibirku, seolah ada jejak nyata di bibirku atas kegiatan yang baru saja kami lakukan.

“Sangat!!” jawabku mengikutinya menggerakkan tangan bibirku.
“Aku merasa seperti mencium adikku sendiri. Itu tadi terasa,” dia mengatakan itu sambil membetulkan kembali posisi duduknya, dan seolah memikirkan kata yang tepat, “Incest, maafkan aku,” pintanya sambil menatapku penuh penyesalan.
“Aku juga minta maaf, Mas. Tetapi setidaknya tidak ada lagi yang akan penasaran,” sindirku dan suasana menjadi lumer kembali, seolah kejadian barusan tidak pernah terjadi.
“Oke, oke, cukup dengan sindiranmu itu, sebaiknya kita segera masuk ke dalam.”

Tepat ketika Mas Ega hendak membuka pintu mobil, ponselku berdering, aku mengernyitkan kening melihat Caller ID yang tertera, Mas Arre. Dengan perbedaan waktu 11 jam, seharusnya di Jakarta sudah jam 5 pagi, ada apa?
“Kenapa, Val?” tanya Mas Ega membuatku mendongak ke arahnya.
“Mas Arre telepon,” jawabku setengah linglung.
“Arre?” jawabnya sambil mengerutkan kening, dan dari tatapannya aku membaca perintahnya untuk mengangkat telepon, tanpa pikir panjang lagi aku langsung mengangkat telepon.

“Ya, Mas?” jawabku hati-hati mencoba mengendalikan nada suaraku, sementara hatiku berdegup tak karuan.
“Val, apa aku mengganggumu?” tanyanya dan terdengar jelas dia menangis di seberang sana, membuatku tanpa sadar menahan nafas, dadaku berdegup semakin tak karuan.
“Tidak, Mas, apa semua baik-baik saja?” tanyaku tanpa menyembunyikan kekhawatiranku.

“Nika, Val,” dia berhenti sejenak untuk mengambil nafas dalam-dalam, mencoba menguatkan dirinya, atau setidaknya itulah yang terdengar olehku, ini pasti bukan kabar baik, “Nika semalam mengalami kecelakaan, a-aku tidak berani menelepon semalam karena takut mengganggumu, tetapi aku tidak bisa tahan lagi, Val. Dia belum sadar sejak semalam, aku membutuhkanmu, Val, aku membutuhkanmu di sini,” tangisnya semakin terdengar jelas.

Dan begitu saja, hanya dengan mendengar tangisnya membuat airmataku mengalir tanpa bisa aku tahan, oh, Mas Arre.
“Mas, tenang dulu, semuanya pasti akan baik-baik saja. Val akan sampai di sana secepat Val bisa. Apa Mas sendirian di sana?” tanyaku mencoba sekuat tenaga untuk tidak bergetar.
“Tidak, semuanya di sini.”
“Apa semuanya baik-baik saja?”
“Ya, hanya Nika, dia memaksa menyetir sendirian semalam.”

“Oh! Mas jangan berpikir yang tidak-tidak, semua pasti baik-baik saja, Dokter pasti mengupayakan yang terbaik. Val akan segera sampai di sana,” aku menjaga nada suaraku supaya tidak terdengar panik, bukan kepanikan yang dibutuhkan Mas Arre saat ini, “Secepatnya,” lanjutku sambil menggigit jari telunjuk, mencoba menahan isakan yang keluar dari mulutku.
“Terimakasih banyak, Val. Aku akan menunggumu,” tak lama Mas Arre menutup teleponnya.

Secepat kilat aku langsung keluar dari mobil, dan setengah berlari masuk ke dalam apartemen, mengabaikan tatapan menyelidik beberapa orang yang berpapasan denganku.
“Val? Apa yang terjadi?!” tanya Mas Ega setengah berteriak di belakangku.
“Nika kecelakaan, Mas. Aku harus secepatnya ke Jakarta. Mas Arre membutuhkanku, aku harus ke Jakarta,” aku terus mengulang-ulang kata yang sama sambil terisak, dan dengan tangan gemetar memencet lift.
“Kecelakaan?! Ya Tuhan,” dia mengusap wajahnya dan dalam hitungan detik langsung memelukku, tetap berada di sampingku selama di lift, menopangku supaya tidak terjatuh karena tiba-tiba saja kakiku lemas seperti jelly.

Bukan, bukan karena kecelakaan Nika yang membuatku seperti ini-dan aku tak peduli dianggap tidak peka atau apapun itu-hanya 1 yang membuatku seperti ini, itu karena Mas Arre. Mas Arre tidak pernah mengizinkan sisi rapuhnya terlihat secara gamblang, tidak selain diriku dan tidak sekalipun ketika Nika melahirkan saat itu. Tetapi di telepon tadi, dia mengabaikan semuanya. Dan jika hal ini terjadi, ini pasti sesuatu yang sangat gawat, dan aku tidak bisa berdiam diri berada di sini sementara Mas Arre membutuhkanku.

Ketika kami sampai di depan kamar pintu apartemenku, aku kesulitan membuka pintu, dengan sigap Mas Ega membantu membukakan pintu. Aku langsung berlari menuju kamar, mengambil serampangan semua perlengkapan yang aku butuhkan, meninggalkan Mas Ega yang sibuk menelepon. Setelah memastikan semua yang aku butuhkan sudah berada di dalam koper, aku langsung menuju ruang tengah.

“Aku sudah memesan tiket, kita ke apartemenku dulu untuk mengambil barang keperluanku, dan ku harap kau segera memberitahukan atasanmu untuk mengambil cuti dadakan. Aku sudah menelepon direktur rumah sakitmu secara langsung dan memintanya memberikanmu cuti, tetapi kau harus tetap menelepon atasanmu, sesuai prosedur,” perintahnya sambil menarikku ke apartemennya.

Aku lupa, keluarga Rafandra dan Wirasena sama-sama memiliki beberapa persen saham di rumah sakitku bekerja-yang baru aku ketahui beberapa bulan sebelumnya, padahal aku sudah bekerja di sana selama 1,5 tahun-dan aku curiga jangan-jangan mereka-lah yang membuatku diterima di sana, tetapi aku mengabaikannya, ada hal lain yang lebih penting yang harus aku lakukan.

The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.


I could make you happy, make your dreams come true.
Nothing that I wouldn't do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

“Istirahatlah, Val,” ucapan Mas Ega di sebelahku mengalihkan pandanganku melihat langit malam melalui jendela.
“Aku tidak mengantuk, Mas,” aku kembali melihat ke arah jendela.
“Setidaknya cobalah untuk beristirahat, tidak ada yang bisa kau lakukan selama di pesawat seperti ini.”
Aku mengabaikan ucapan Mas Ega dan melanjutkan melihat langit malam yang tampak begitu damai.

Memang tidak ada yang bisa aku lakukan selama di pesawat, tetapi aku tidak bisa memejamkan mata, setiap aku memejamkan mata, aku teringat kembali suara Mas Arre, teringat kembali kerapuhan di suaranya, membayangkan keadaannya saat ini membuat mataku tak mau terpejam.

Tuhan, mungkin ini pertama kalinya aku memohon padaMu-dan tak pernah sekalipun aku bermimpi melakukan hal ini-ku mohon, Tuhan, kuatkan Nika. Jangan sampai terjadi sesuatu kepadanya, jangan, Tuhan. Kasihanilah Arine dan juga Mas Arre, Tuhan. Aku menutup mulut, menahan isakan yang menggemuruh di tenggorokanku. Semua pasti akan baik-baik saja, Nika pasti selamat, dan Mas Arre akan tertawa begitu kau sampai di sana, Val.

When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.


When the evening shadows and the stars appear,
And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~

Sesampainya di Jakarta aku langsung menuju rumah sakit keluarga Wirasena, tempat aku dan Mas Ega praktek-sebelum kepergianku ke Baltimore tentu saja-mengabaikan peningnya kepalaku setelah perjalanan panjang.
“Val!” aku menoleh mendengar namaku dipanggil, dan mendapati Bude tengah berjalan ke arahku.
“Bude,” aku langsung memeluknya.
“Oh, Val, Ega, kalian datang, Nika sudah sadar 1 jam lalu, tetapi keadaannya belum membaik juga, dan dia memanggil namamu terus, Val,” jelas Bude sambil melepaskan pelukan kami.
“Namaku?” tanyaku sambil mengerutkan kening.
“Ya, dia terus memanggil namamu, ayo,” ajak Bude mengarahkan kami ke ruang ICCU.

Nika memanggil namaku? Kenapa? Sepanjang perjalanan aku tidak bisa menemukan petunjuk kenapa dia memanggil namaku, dan aku tidak suka ini. Bukan berarti aku membencinya, tetapi harus ku akui interaksi kami tidak banyak dan juga dekat. Aku melakukan semua itu semata-mata karena Mas Arre serta Bude dan Pakde, anehnya dia seperti mengerti keenggananku dan aku bersyukur karenanya.

Sesampainya di ruang tunggu ICCU, aku melihat beberapa orang dari keluarga besar Nika, yang juga hadir saat pernikahan Nika dan Mas Arre. Pakde segera berdiri menyambutku dan juga Mas Ega, tepat setelah Pakde mempersilahkanku duduk di sebelahnya, Mas Arre keluar dari ruang ICCU, dengan mata merah habis menangis dan kelelahan.

Dia berhenti sejenak ketika melihatku, seakan meyakinkan dirinya bahwa aku benar-benar ada di sana. Aku berdiri, bermaksud mendekatinya ketika dia tiba-tiba sudah berada tepat depanku, dia langsung menarik dan memelukku erat.  
“Val, kau di sini, akhirnya kau di sini,” ujarnya tanpa menyembunyikan nada lega di suaranya. Untuk beberapa saat aku masih kaget dan terdiam.
“Iya, Mas, aku di sini, maaf aku terlalu lama sampai,” jawabku sambil mengelus punggungnya setelah berhasil mengendalikan diriku.
“Terimakasih banyak, Val. Terimakasih,” aku merasakan pundak Mas Arre bergetar, samar-samar aku mendengar suara isakannya.

Oh, Tuhan.
Yang bisa aku lakukan hanya mempererat pelukannya, mencoba meringankan kesedihannya, dan untuk beberapa saat aku membiarkannya seperti itu.

I know you haven't made your mind up yet,
But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.


I'd go hungry; I'd go black and blue,
I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.
(Adele – Make You Feel My Love)
~~o00o~~
“Nika baru saja pulang dari acara kumpul-kumpul dengan teman SMAnya saat itu, dan berniat menjemput Arine yang dititipkan di rumah Mamah. Aku sudah memaksa untuk membawa Pak Min bersamanya, melarangnya untuk menyetir malam itu, tetapi dia dia bersikeras, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa jika dia sudah bersikeras,” Mas Arre menceritakan semua di dalam ruang ICCU sambil duduk di samping ranjang, dan aku berdiri di belakangnya sementara Nika sedang tertidur karena pengaruh obat.

“Dia sudah dalam perjalanan ke rumah Mamah ketika tiba-tiba mobil dari seberang jalan tol terbalik, dan menuju ke arahnya,” dia terdiam sejenak untuk mengambil nafas, mencoba menahan airmatanya lagi, “Nika tidak bisa menghindar, dan hanya Tuhan yang tahu kejadian selanjutnya karena tiba-tiba saja mobil itu menimpa mobil Nika, dia terjepit di dalam mobil.”

Aku memegang pundak Mas Arre dan meremasnya perlahan, dia meremas tanganku kembali, tetapi tatapannya tetap ke arah Nika yang terbaring dengan beberapa luka di wajah dan tubuhnya.
“Pengendara mobil terbalik itu meninggal di tempat, sesuai konfirmasi saksi mata serta pihak kepolisian semalam. Nika berhasil bertahan saat kejadian hingga dilarikan ke Rumah Sakit, tetapi dia masih belum sadarkan diri sejak semalam. Ini semua salahku, kalau saja aku bisa menjemputnya, dia tidak akan bersikeras menyetir sendiri.”
“Tidak, Mas, jangan salahkan diri Mas, ini semua kecelakaan. Lalu bagaimana Arine?” aku mencoba mengalihkannya dari pikiran aneh semacam itu.
“Dia di rumah bersama Bik Asih dan juga Mamah, dia sedang rewel dan terus saja memanggil Nika, terpaksa kami tidak mengizinkannya berlama-lama di sini.”

Tak lama Mas Arre menciumi tangan Nika dengan sayang, membuat hatiku lagi-lagi berdenyut perih. Ya, Tuhan, Val!! Ini bukan waktunya untuk itu!! Aku bermaksud memberikannya waktu berdua dengan Nika ketika aku merasakan lenganku ditahan. Aku menoleh dan melihat Mas Arre menahan lenganku.

“Aku tahu ini akan terdengar egois karena kau baru saja mendarat setelah perjalanan panjang, tetapi maukah kau menemaniku di sini?” tanyanya sambil menatapku penuh harap, “Aku takut, Val. Aku takut kalau ternyata dia tidak membuka matanya lagi. Kumohon, Val, temani aku.”
Bagaimana bisa aku menolak keinginan dari orang yang sangat aku cintai ini?

The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.


I could make you happy, make your dreams come true.
Nothing that I wouldn't do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love
(Adele – Make You Feel My Love)

~~o00o~~
When the rain is blowing in your face,
And the whole world is on your case,
I could offer you a warm embrace
To make you feel my love.


When the evening shadows and the stars appear,
And there is no one there to dry your tears,
I could hold you for a million years
To make you feel my love.


I know you haven't made your mind up yet,
But I would never do you wrong.
I've known it from the moment that we met,
No doubt in my mind where you belong.


I'd go hungry; I'd go black and blue,
I'd go crawling down the avenue.
No, there's nothing that I wouldn't do
To make you feel my love.


The storms are raging on the rolling sea
And on the highway of regret.
Though winds of change are blowing wild and free,
You ain't seen nothing like me yet.


I could make you happy, make your dreams come true.
Nothing that I wouldn't do.
Go to the ends of the Earth for you,
To make you feel my love
To make you feel my love
(Adele – Make You Feel My Love)

~~o00o~~
To Be Continue





43 comments:

  1. Vieeeee...Nie makin lama makin gemes aq bacanyaa..
    aku benci deh ama org yg muna ama perasaannyaa...

    Pengen q bejek2 deh...>,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. wwwkkwkw setujuhhhhhhh!!!! bejeekkkk vieee!! #ehhhh.... :kabur:

      Delete
    2. Mbaaa Riiiissss......
      siapa yang munaaa??
      aakkk,, jangaannn... *buru2 ngumpet*

      Mba Ciiiiinnn... jangaannn... aakkk....

      Delete
  2. Ooppss..sorry..
    Thanks so mucho ya darl'...Vie..
    *peluksmuanyaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiihh jugaa Mba Riiss udh bc n komen
      :D

      iktn Mba Cin cium n pelukk...

      Delete
  3. Makin penasaran ma kelanjutanya,,,,bikin gemes bgt ini ceritanya,,btw kapan kelanjutanya diposting?udah gak sabar nie,,hihihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. tunggu selesai diketik dulu lah say, minimal 1 minggu. kan penulisnya jg kerja full 1 hari, belum ngurusin les, kuliah, urusan pribadi, belum nulis, belum yg lain. ;) hihiih.. kemana aja? lama gak keliatan :hmmp:

      Delete
    2. ummm,,scptnyaaa yah Mba Dian. hehehee smg sbr menantiii..
      mksh Mba Dian udh bc n komen...
      :D

      hehehe,, Mba Ciiinn akuuhh padamuuuhh,, makasih udh bntu jelasin.. hehehe

      Delete
  4. ​​(⌣́_⌣̀) ​Haâdéèêhh (⌣́_⌣̀) msh nyesek aj bacanya....
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea vie,mba cin

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau sesek, pake kolor babe ndong. biar gk sesek #ehhh

      Delete
    2. *kipas2 Mba Ndong biar g nysek*
      mksh Mba Ndong udh bc n komen...
      :D

      hahaha Mba Ciin bw2 kolor ;p

      Delete
  5. Apaaa??? jadinya gantiin Nika gitu? Arghhh... galau!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahhahaha kita tunggu penampakan part berikutnya. hihihihi

      Delete
    2. hehehe.... *kedip2*
      mksh Mba Yuyun udh bc n komen...
      :D

      Mba Ciinn koq kayak hantu penampakan bhsnya,,,
      hiiiiii

      Delete
  6. ArrrgggHhhhh tubikontinyu lagi *galauuuuu
    Mbak vie jangan lama2 galaunya ya *eh
    Diriku menanti dirimu dan ceritamu :p
    Makasih ya udh posting...makasih buat mbak shin jg

    ReplyDelete
    Replies
    1. asikkk ada yg galauuu... hihihihi

      Delete
    2. hehehee.. smg sbr menantiiii yahhh Mba Astrid.... xixixxi
      mksh udh mw menanti diriku serta cerita galauu beud ini..
      mksh Mba Astrid udh bc n komen...
      :D

      jaahhh Mba Ciin girang bgtz ada yg galau... xixixix

      Delete
  7. Huffhhh knp gak sma mas ega az c,knp gtu...
    *klo gtu ega buat aq deh..hehee

    Mba vie....antara kasian n gregetan sma val c,tp...tau ah..sedihhh... :'(

    Eh jgn2 kecelakaan val krn ulah AQJ ya?hahaa *tp aqj kan selamat..

    Udh ah,drpd mkn ngaco..makasih mba vie n mba shin.. :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkkwkwkw.... ada2 aja.. AQJ gitu lhoh

      Delete
    2. Umm,, kenaapaa yahh... *garuk2 kepala* kita tnya Val ajjah gmn?? ;D
      eerr,,, sbrnya terinspirasi dr sna sih,, hehehe ktauan yakz *nunduk*
      mksh Mba Dona udh bc n komen...
      :D

      kesian yak AQJ Mba Cin... hukz..

      Delete
    3. kasian korbannya vie. aku mah gak kasian tuh ama AQJ, anak orkay, sombong. kl dia punya hati, depresi tuh harusnya dia krn udah matiin orang banyak. gak simpati aku ama orang kek gt.

      Delete
  8. pagi2 udh dibikin galau ama mbg vie,,,,huhuhu
    tisuue mana tissue,,,,,,
    #nangis di pojokan
    thx mbg vie+mbg shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaa,,maap *nunduk*
      Mksh udh bc n komen
      :D (bgung mw pggil Mba or Mas,,g klhtn soalny,, maap yakz.. Hehehe)

      Koq bkas Mba Ciiinnn?? Hahaha *g iktn*

      Delete
  9. Iihhhhh!!!!! Gemes sma org yg muna bgt sma prasaanny! Tpi ksian Val, Arre, Nika :'(
    Ak rsa, Nika tu manggil nma Val krn dia udh ga bsa than lgi + mnta Val bwt jgain Arre +Arine!:'(:'(:'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduhh,, gemes sm sp Mba Mendy??bkn sm Vie khn?? Hahahaha ;p
      Hah??nahloh Nika g thn mw kmn??
      Mksh Mba Mendy udh bc n komen
      :D

      Mba Ciinn ktw ajjah ;p

      Delete
  10. Nikany mau mninggal kah??makany manggil2 val,,jgn2 minta jagain arre ma anakny,,,errrggg keenakan arreny itu mah dpt 22ny#getok arre
    Makasiy ya mba vie...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkkkwkw... kasian ega ya. satupun gak dapet. lol...

      Delete
    2. Rakus yah Arre dpt 22nyaa... Hahahaha
      Kesiaann jgn dgtok *ungsiin Arre*
      Mksh Mba Juwi udh bc n komen
      :D

      Dpt koq Mba Ciiinnn dpt Vie nnti.. Wakakakaak

      Delete
  11. Replies
    1. sip... viee... lanjutin vieee... :D

      Delete
    2. Pastiiiiii....
      Smg sbr menantiiii yah Mba Melissa..
      Mksh Mba Melissa udh bc n komen
      :D

      Siaapppp lksnakan Mba Ciiinnn...

      Delete
  12. mb viee huaa mash galau inimah critanya.
    thanks mb vie n mb shin

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 eko.. makasi ya udah mampir n komen :D

      Delete
    2. Hehehe,,iyh trnyt msh galauuu... *nunduk*
      Mksh Ekaa udh bc n komen :D

      Mksh Mba Ciiinn udh dbntu jwb2n smntra :D

      Delete
  13. Nika mau pergi ?
    hati-hati di surga ya semoga di sana bahagia selalu
    masalah keluarga biar val yang ngurus

    *kaburrrrrrr *

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hah??Nika mw k surga??yakin g belok dl k neraka *eehhhhh* (clingak clinguk tkt d Nika) hahahaa
      Mba Aniiiikkkkk.. *cubit2* xixixixi
      Mksh Mba Anik udh bc n komen
      :D

      Delete
  14. Haaiiiiii smwnyaaa *srooottt*
    Maap baru smpt mmpir *srooooottt*
    Trimakasih smwnya msh sbr mnantiiiii kljntan crta galauuuuuuu nan meracauu macam ni... *srooott*
    Errr,,sprtny Vie g bs pjg2,,efek pileknisasi yg sdang mengkudeta pribadi.. *sroott*
    Aarrggghh,, okaaayyyyy smw smg sabaaarrrrr menantiiiii klnjutan part ni (ga,,blm meler koq ingusny *eehh ) daannn smg part slnjtny bnr2 part akhr crta ni.. (Mariiii brdoa mood iniihhh tdakk mmbuat hati,,jiwa n pkiran brubah ;P )
    Skli lagiiii trimakasih byk bwt smwnya

    Pluuusss trimakasih bwt Mba Ciiiiinn yg sdh dgn setia mnunggu email dr Vie dan mmblz komen2 dsni smntra Vie msh bergulat dgn khdpn nyata *srooott*
    Oke,,okee,, g d lg kt *sroot* #abaikan

    :D :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. vie jorokkk!! :sodorin tissue bekas, bekasnya sist Iix Jutex: hihihihih

      sama2 vie.. makasi jg udah bantu meramaikan blog ini lagi. :) semangat ya ;)

      Delete
  15. hahaha
    @mbg vie jenis kelamin masih saya pertanyakan nie,kalo siang cowok,kalo malem cewek,,,(berasa bunglon malem). eh mbg vie,ini nanti storynya sad or happy ending

    @mbg shin,,,,jualan tissue bekas ya?

    ReplyDelete
  16. Blom ada lanjutannya ya :malu:

    ReplyDelete

Silahkan Tinggalkan Komentarmu.